Yuuri Katsuki tidak pernah menyadari betapa menawannya Victor Nikiforov jika dilihat dari dekat; bulu matanya lentik, alisnya tebal namun rapi, matanya indah seperti langit biru yang cerah. Kalau terlalu bergembira, bibirnya akan membentuk hati tanpa ia sadari sama sekali. Jika saja ada alpha sempurna yang diciptakan oleh Tuhan, mungkin Victor adalah juaranya.
Dan jujur saja, mengawali hari dengan memandangi karya terindah Tuhan bukanlah hal buruk.
Tunggu.
Bangun… pagi?
Kedua iris Yuuri membulat sempurna sebelum terlonjak dari tempatnya berbaring. Membuat jemari lentik Victor yang tengah mengelusi pipi gembilnya ditarik oleh sang pemilik tubuh. Tatapan bingung Victor menjadi pemandangan selanjutnya.
"Ada apa, Yuuri? Apa perutmu sakit?"
"K-Kenapa kau tidur di sini, Victor?!"
A Victor Nikiforov/Yuuri Katsuki fanfiction
AU, omegaverse
-#-
Heartbeat
[Lima: tentang kita]
-#-
Yuri on Ice! © Mitsurō Kubo
I don't gain anything from this fanfiction
Bagi Yuuri, semua yang terjadi terasa begitu cepat setelah Victor mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya adalah bayinya. Ia masih ingat bahwa Victor bilang bahwa ia akan kembali ke Rusia, menjadi seorang figure skater dan melupakan impiannya untuk menjadi pelatih Yuuri. Hanya berselang dua belas jam kemudian, ketika Yuuri akan mengantarnya ke bandara, Victor menghambur dari ruangan menuju ke pelukannya.
Begitu erat, begitu hangat.
Pada hari itu juga, Victor menelepon Yakov, memberitahukan bahwa ia akan menjadikan Ice Castle sebagai home rink-nya. Tentu saja, tanpa perlu mendekat, Yuuri bisa mendengar suara marah Yakov yang begitu kencang dari seberang telepon. Bukan hanya tentang dasar pembangkang, ia harus fokus, atau ia telah mengecewakan pelatihnya. Tapi juga teriakan Vitya dan cepat kembali berkali-kali diucapkan. Sedikit banyak ia bersyukur memilih Celestino sebagai pelatihnya; karena selama beberapa tahun berada di bawah asuhannya, tak pernah sekalipun Celestino membentaknya ataupun bicara dengan nada tinggi.
"Yuuri, apa kau siap untuk hari ini?"
Yuuri mengerjap, lamunannya buyar ketika suara bariton Victor mengisi indera pendengarannya. Sang omega lantas menggigit bibir, memindahkan tangan menuju ke perutnya, berusaha untuk tidak menangis.
Meski Victor mengatakan berkali-kali bahwa tidak akan terjadi apa-apa, tetap saja ia khawatir akan bagaimana dunia menerima keberadaannya sebagai seorang omega. Omega yang merebut Victor Nikiforov, sang legenda hidup, dari dunia.
Sentuhan pada perut berubah menjadi remasan. Lembut, Victor mengelus punggung tangan Yuuri dan tersenyum, "Kali ini bukan Yuuri yang sendirian, tapi aku. Apa kau mau membantuku, Yuuri?"
Gemetar, Yuuri Katsuki meremas bajunya semakin erat, malah jadi ingin menangis mendengar suara lembut yang seperti mimpi itu. Belum lagi sentuhan Victor pada punggung tangannya yang begitu hangat dan menenangkan. Yuuri rasanya ingin berteriak kesenangan sekarang.
"Yuuri."
"V-Victor… apakah aku pantas?"
Bibir melengkungkan senyum, Victor bangkit dari posisinya dan duduk di atas tempat tidur; melingkarkan lengan pada tubuh Yuuri untuk mendekap sang omega dengan lembut, "Tentu saja. Aku tidak akan menganggap malam itu adalah kecelakaan, Yuuri. Anak ini bukanlah sebuah kecelakaan."
Tidakkah Victor tahu bahwa omega yang tengah mengandung, hatinya jauh lebih rapuh?
Yuuri membenamkan wajahnya pada dada Victor dan berusaha untuk menenangkan diri. Aroma mint yang menenangkan segera saja memenuhi indera penciumannya. Perlahan sekali, Yuuri menganggukkan kepalanya, membuat Victor bisa bernafas lega.
"Apa yang akan kau katakan kepada dunia tentangku?"
Sekali lagi senyum terpatri, Victor menangkup kedua belah pipi Yuuri, "Bahwa kau adalah rink mate-ku di masa depan? Mmm… tunggu, mungkin lebih baik jika mengatakan bahwa kau adalah mate-ku sekarang dan selamanya?"
Entah kenapa perasaan seperti ribuan kupu-kupu terbang di dalam perut kembali menyeruak.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Suara kamera dan blitz saling bersahutan di ruangan kecil yang penuh sesak saat ini. Keluarga Nishigori tengah menata front office mereka menjadi sebuah tempat untuk melakukan konferensi pers. Dua buah bangku disiapkan di belakang meja panjang sementara beberapa wartawan berdiri dengan tidak sabar menunggu sang bintang untuk keluar dan menjelaskan tentang kabar burung yang mereka dengar.
Victor Nikiforov akan melakukan perpindahan home-rink.
Suara kamera semakin agresif tatkala Victor keluar dengan paduan jas tuxedonya bersama dengan seorang figure skatter lainnya yang saat ini juga sama-sama mencuri perhatian dunia. Seorang omega yang gagal menunjukkan penampilan prima pada Grand Prix Final Figure Skating di Sochi.
"Victor! Victor! Apa benar kau akan pindah home rink?"
"Victor, bagaimana dengan pertandingan di tahun ini?"
"Victor, apa kau yakin akan bisa mempertahankan posisi juaramu?"
"Victor, siapa Yuuri Katsuki?"
Victor tidak bereaksi pada pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya; namun begitu ia mendengar nama Yuuri, seulas senyum tidak bisa ia sembunyikan. Entah sihir apa yang dimiliki oleh sang omega, tetapi nyatanya, saat ini Victor tidak bisa berhenti tersenyum saat namanya dikaitkan dengan nama Yuuri. Apalagi kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan memiliki versi mini dari dirinya.
Menyambar sebuah mikrofon, Victor mulai membuka suara, "Yuuri Katsuki adalah mate-ku dan saat ini kami sedang menanti buah hati kami."
Hening sejenak sebelum para wartawan mengeluarkan suara 'HEEE?!' serempak di dalam ruangan itu, seperti koor yang senada. Yuuri buru-buru mengambil botol air mineral dari atas mejanya dan meneguknya secepat yang ia bisa.
Victor mengatakan tentang hubungan mereka semudah bernapas.
"Apa benar bahwa kau dijebak?"
"Victor, sejak kapan kalian berhubungan?"
Helaan nafas, Victor menggenggam mikrofon lebih erat, raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan meski ia paham mengapa banyak orang yang berpikir demikian. Nyatanya, dua hari yang lalu pun, ia belum bisa menerima bahwa bayi yang dikandung Yuuri adalah anaknya. Dan bahkan berpikir bahwa Yuuri tengah berusaha untuk memerasnya.
"Yuuri tidak—"
Ucapan Victor terhenti saat Yuuri menggenggam tangannya erat-erat dari posisinya sekarang. Menggeleng dan tersenyum dengan lembut ke arah Victor, seolah berusaha menguatkan sang alpha.
Victor mengangguk dan kembali memandang ke barisan para wartawan, "Yuuri dan aku berhubungan sejak pertandingan di Sochi, kami menyembunyikan hubungan kami. Namun, aku tidak tahan dan menyusulnya ke Jepang."
Suara 'wuuuu' yang sekarang memenuhi ruangan membuat Yuuri ingin pulang saja dan membenamkan wajahnya di bantal karena begitu malu. Sekali lagi, Victor 'berbohong' dan berusaha melindunginya dengan begitu mudah, seperti bernafas saja.
"Dan untuk menjaga mate-ku, kuumumkan bahwa mulai hari ini, Victor Nikiforov akan mulai berlatih di Ice Castle dan menjadikan tempat ini sebagai—"
"TUNGGU DULU!"
Suara khas milik seorang pemuda dengan tingkat kesabaran terendah di dunia—menurut Victor—memecahkan keheningan dari para wartawan yang tengah khusyuk mendengarkan jawaban Victor. Beberapa yang datang dengan kamera memastikan bahwa mereka mengambil gambar yang bagus.
"VICTOR, HEI KAU, PAK TUA BRENGSEK! LUPA KALAU KAU PUNYA JANJI DENGANKU?"
Alih-alih marah karena dipanggil pak tua brengsek, Victor malah tersenyum dengan sangat lebar. Tentu saja, ia lupa lagi, padahal baru dua hari lalu ia dimarahi oleh Yuri karena melupakan hal penting.
"YURI PLISETSKY?!" trio kembar Nishigori buru-buru sibuk dengan gadget mereka dan mengambil foto figure skater yang tidak hanya terkenal seantero Rusia, namun juga dunia.
Bak seorang pengganggu di sebuah acara pernikahan, Yuri menghentak-hentakkan langkahnya sambil menyeret sebuah koper dan berjalan menuju ke arah Victor. Tanpa ragu, ia menarik dasi yang pria itu gunakan agar saling berhadapan dengan sang senior dengan jarak begitu dekat. Alih-alih merasa terintimidasi, senyum Victor malah jauh lebih lebar daripada beberapa detik lalu.
"Apa maksudmu menjadikan tempat ini sebagai tempat berlatihmu? Kau sudah berjanji akan kembali ke Rusia, bukan? Cepat segera kembali dan jangan macam-macam!"
"Tentu saja… aku tidak bisa," Victor memegang tangan Yuri, melonggarkan tenaga sang pemuda dari lehernya sebelum terbelah dua.
"Apa maksudmu tidak bisa?"
"Yuuri mengandung anakku dan tentu saja aku harus ada di sini?"
Hening.
Hening.
Jeda beberapa detik.
"HAAAAAAH?" daripada suara koor para wartawan tadi, kali ini Yuri berteriak di depan sebuah mikrofon dan sukses membuat orang-orang di sana menutup telinga mereka.
Victor mengangguk tanpa dosa dan memundurkan tubuh, "Aku akan jadi Papa sebentar lagi."
Wajah Yuri merah padam, ingatan mengenai malam itu kembali terlintas di benaknya. Bak menjadi saksi perjalanan dari sang jabang bayi dari benih, ia tak ubahnya seperti kepiting rebus sekarang. Tangannya buru-buru menaikkan kerudung dari hoodie yang digunakannya.
"S-Selamat kalau begitu… aku… pamit," Yuri menarik kopernya sedikit menjauh sebelum menghentakkan kaki dan berbalik, menarik dasi Victor lagi.
Yuuri mulai agak gusar sekarang, takut sang ayah dari anaknya pendek umur karena perbuatan Yuri Plisetsky saat ini.
"KAU PIKIR AKU AKAN BILANG BEGITU? JANJI ADALAH JANJI! KAU BILANG AKAN MEMBUATKAN PROGRAM UNTUKKU, JADI AKU TAKKAN PULANG SAMPAI MENERIMA PROGRAM ITU!"
Sekali lagi Victor melonggarkan cengkeraman Yuri dan mengangguk dengan santai, "Tentu saja, aku adalah pria yang memegang janji. Beristirahatlah beberapa hari di sini. Apa kau sudah hubungi Yakov?"
"Uh? Yah… belum, tunggu."
Suara dering ponsel kali ini yang memecah hening, bahkan tak ada seorang pun yang berani melepaskan arah kamera mereka dari meja konferensi pers. Yuri Plisetsky mengambil ponsel dari saku dan langsung menjauhkan benda itu dari telinganya.
"YURI PLISETSKY! BERANDAL, BERANINYA KAU MENYELINAP DAN MENYUSUL VICTOR KE JEPANG?!"
BREAKING NEWS!
VICTOR NIKIFOROV UMUMKAN KEPINDAHANNYA KE JEPANG
VICTOR NIKIFOROV & YUURI KATSUKI: ROMANSA ANTAR FIGURE SKATER
VICTOR UMUMKAN HOME RINK DAN MATE BARUNYA!
EKSKLUSIF! VICTOR NIKIFOROV TINGGALKAN RUSIA DEMI OMEGA
Yuuri membiarkan ibu jarinya menelusuri berita mengenai Victor selagi mendengarkan Yuri Plisetsky yang tak henti-hentinya memuji kenikmatan katsudon buatan ibunya. Jika ia tidak salah hitung, ini adalah mangkuk keduanya.
Menggigit bibirnya, ia melihat bagaimana kebanyakan sudut pandang berita kini menyudutkannya dan bahkan beberapa media menyebutkan bahwa ia telah mencuri Victor dari perhatian dunia. Terparah, Yuuri membaca berita bahwa Victor akan meredup karena mengutamakan hubungannya daripada karirnya.
Layar berubah menjadi hitam ketika Victor dengan sengaja menekan tombol power dari ponsel pintar yang berada di tangan sang omega. Ia tersenyum setelahnya dan dengan mudah merebut benda itu dari tangan Yuuri.
"Tidak usah dipikirkan. Sekarang, kau harus bahagia, bukan? Banyak pikiran begitu tidak baik untuk kandunganmu."
"Mmm, dia benar, Katsudon. Berita remeh seperti itu tidak usah dipikirkan, nanti juga hilang," Yuri menimpali selagi menghabiskan katsudonnya dengan lahap.
Masalahnya, meski nanti akan hilang pun, tidak mudah untuk Yuuri mengabaikan apalagi melupakan berita seperti itu. Untuk bisa pulih dari kesedihannya akan heat pertamanya di ice rink yang menjadi perhatian dunia saja, setidaknya Yuuri butuh waktu hampir satu tahun.
Meletakkan ponsel Yuuri di atas tempat tidur, tangan Victor terulur untuk menyelipkan beberapa anak rambut Yuuri ke belakang telinga dan tersenyum. Ia dengan santai mendekat ke arah Yuuri, kalau saja Yuri tidak segera menghantamkan mangkuk ke atas meja.
"Terima kasih makanannya! Aku mau mandi!" ucapnya keras-keras dengan wajah memerah canggung.
"Yuuri, apa kau punya tamu lagi?" suara Mari menyusul tidak lama setelah Yuri bangkit dari posisi duduknya di sebuah ruangan dalam Yu-topia.
"Woah! Keren sekali kau seperti gitaris dari band rock! Siapa namamu?"
"A-Ah, Nee-chan, ini Yuri Plisetsky."
"Yuri? Ah, merepotkan, masa ada dua Yuuri di sini. Mulai sekarang kau akan kupanggil Yurio," Mari menunjuk ke arah Yuri tanpa dosa.
"HAH? KENAPA HARUS AKU? KENAPA BUKAN DIA?" Yuri tidak terima, menunjuk ke arah Yuuri dengan emosi.
"Loh, kan Yuuri duluan yang berada di sini, kau hanya pendatang. Jadi namamu Yurio."
Victor terbahak mendengar itu, ia mengangguk-angguk, "Benar, Yuri. Nama yang tidak buruk."
"DIAM KAU!"
Yuuri ikut tertawa, ia kemudian membenarkan kacamatanya, membiarkan Yurio keluar dari ruangan itu dan membanting pintu geser dengan kasar. Helaan nafas terdengar sebelum Victor tiba-tiba merebahkan kepala di pangkuannya. Tanpa ragu membenamkan wajah ke perutnya dan memberikan kecupan di sana, disusul dengan elusan lembut pada perut Yuuri.
"Menurutmu dia laki-laki atau perempuan, Yuuri?"
Yuuri mengerjap, berusaha berpikir, "Mana yang lebih kau inginkan?"
"Mmm… perempuan?"
Terkekeh, Yuuri perlahan mengelus rambut perak Victor, "Kenapa perempuan?"
"Apa kamu tahan melihat anak laki-laki setampan aku nantinya?"
Yuuri tidak membalas, hanya tersenyum saja sebelum meremas lembut helaian rambut Victor.
"Yuuri, maaf tapi… rambutku mudah rontok."
"A-AH! MAAF!" Yuuri melepaskan cengkeramannya dan mengelus-elus rambut Victor dengan cepat, merapikannya sebelum ia menjauhkan tangannya dari helai rambut itu.
"Apa yang kau pikirkan tadi? Mau bercerita?"
Yuuri tidak langsung menjawab, ia hanya menghela nafas sejenak dan menggelengkan kepala. Victor mulai mengerti bahwa menghadapi Yuuri haruslah dengan tingkat kesabaran yang lebih dalam daripada biasanya. Ia mengangkat kepalanya dan duduk di samping Yuuri, menatap sepasang iris kecoklatan itu lamat-lamat sebelum tangannya terulur, menyentuh pipi Yuuri.
"Kalau laki-laki juga tidak apa-apa, kok."
"Bu-Bukan itu, Victor," Yuuri makin panik ketika Victor salah paham soal apa yang melintas di pikirannya tadi. Pada akhirnya ia mengalah, membuka suaranya lagi, "Aku… hanya berpikir, apa yang membuatmu melunak dan akhirnya memilih untuk percaya?"
Victor diam, tahu bahwa Yuuri belum selesai bertanya.
"Semuanya terasa begitu cepat, seolah-olah malam itu dewa datang dan membisikkanmu kebenaran. Aku… tidak mengerti, kenapa kau bisa menerimaku dan… anak ini?"
"Kemarilah," Victor menarik Yuuri mendekat, membiarkan sang omega bersandar pada dada bidangnya. Ia mengelus-elus perut Yuuri dan membuka kacamata yang dikenakannya, membiarkan Yuuri menindih tubuhnya dengan nyaman.
"Victor, berat badanku sudah naik drastis."
"Mm, aku tahu. Kau berat," goda Victor sebelum mencubit pipi Yuuri agar tidak bicara lagi dan mulai membuka mulutnya untuk bercerita, "Sejak kau bilang bahwa anak ini adalah anakku, aku berusaha untuk menyangkal, tapi rasanya begitu berat, seolah ada yang mengganjal. Aku ingin mencari bukti bahwa kau berdusta."
"..." Yuuri menggigit bibirnya.
"Tapi yang kutemukan malah kebenaran bahwa anak ini adalah anakku. Malam itu, kuhubungi Yakov, Yurio, serta hotel di Sochi untuk mendapatkan rekaman CCTV pada malam itu."
"Apa… yang kautemukan? Apa Yakov dan Yurio menceritakannya?"
Yuuri bisa merasakan Victor menggeleng dari dagunya yang menempel di rambut hitam Yuuri. Sang alpha lantas menyentuh jemari tangan Yuuri dan menariknya menuju ke bibirnya, mengecupi punggung tangan sang omega.
"CCTV itu yang akhirnya mengatakan segalanya. Yakov dan Yurio menjaganya dengan sangat rapat jika kau ingin tahu."
Entah kenapa Yuuri merasa lega karena telah percaya pada kedua orang itu. Bahkan sampai sang living legend dengan gilanya mendatangi Jepang hanya untuk bertemu Yuuri, tidak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh mereka kepada Victor.
"File CCTVnya sampai ketika pagi, jelas sekali aku melihatnya, kau yang sudah acak-acakan, aku yang mabuk, dan Yurio yang berusaha menyeretku ke kamar."
Lagi, Yuuri menggigit bibir, ia meremas jemari Victor yang tengah saling bertaut dengan jemarinya.
"Aku tidak tahu kenapa kau berusaha menutupinya. Tapi… malam itu, jelas hanya akulah alpha yang bisa menandaimu."
"Apa kau menyesal karena itu terjadi tanpa kau sadari?"
Dengusan, Victor lagi-lagi menggeleng, "Sudah kubilang, ia bukan kecelakaan, Yuuri. Anak ini, hadiah dari Tuhan yang datang dengan tiba-tiba," bisik sang alpha lagi sebelum mengelus perut Yuuri dengan ibu jarinya.
"Victor…" wajah Yuuri merah padam, ia ikut menyentuh jemari Victor di perutnya dan membiarkan kantuk merajainya sesaat.
Elusan Victor pada perut dan jemarinya membuat Yuuri tenang, perlahan menutup matanya. Entah sudah berapa lama rasanya ia tidak pernah merasa seaman ini, seolah membagi bebannya dengan orang lain. Entah sudah berapa lama rasanya…. ia tidak pernah merasa… begitu dicintai.
Pintu digeser lagi, Yurio mengintip sementara Victor perlahan menarik tangannya dan meletakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Yurio untuk tidak berisik.
"Selamat tidur, Yuuri."
Suara bisikan Victor adalah yang terakhir Yuuri dengar sebelum ia bermimpi indah malam itu.
-tsuzuku-
[2376 words, 03/07/2021 00:41 © ararancha]
A/N: Singkat saja kali ini, saya kaget masih ada orang yang membaca karya saya ini dan memberikan komentar. Hahaha. Karena sudah 4 tahun berlalu sejak pertama kali saya menulis ini dan kebetulan saya agak struggling selama pandemi. So… here we go!
Sudah lama saya tidak menulis dan semoga tidak mengecewakan ya. Untuk chapter selanjutnya sepertinya tidak akan lama karena saya sudah setengah jalan menulis. Namun untuk chapter 7, well, who knows? Doakan saya tidak kehabisan ide, ya. Hehe.
Nee, mind to RnR, readers?
