Suara spatula beradu dengan sebuah panci anti lengket terdengar dengan lembut; bergesekan selagi isi sayuran tumis di dalamnya mulai matang dan berubah warna menjadi lebih pekat. Yuuri Katsuki bersenandung kecil, hendak mematikan kompor ketika tangannya disambar oleh jemari lentik Victor, disusul dengan bahunya yang disandari oleh dagu sang alpha.

"Mm—hayou," gumam Victor sambil mengecupi leher Yuuri, tangannya memutar tuas kompor untuk mematikannya dan segera beralih melingkari tubuh Yuuri, memeluk omeganya dengan erat.

"Selamat pagi, Victor," Yuuri berbisik dengan lembut; membersihkan tangannya dengan sembarang menggunakan apron, lantas mengelus pipi Victor dan mengecupnya dengan lembut, "Sebentar lagi aku selesai memasak, mau kutemani berlatih hari ini?"

"Tentu saja! Kenapa bertanya? Aku sangat sangat ingin Yuuri menemaniku," Victor merajuk, bibirnya maju beberapa mili dengan begitu menggemaskan, membuat Yuuri tertawa.

"Baik, baik, bisakah aku minta waktu untuk menyelesaikan bekal alphaku lebih dulu?"

Victor bisa melihat rona di pipi Yuuri saat ia mengatakan 'alphaku'. Senyum tipis terpatri di bibirnya sebelum ia eratkan pelukan pada sang omega. Tangannya lantas mengelus-elus perut Yuuri yang masih rata dan lagi-lagi memberikan kecupan di leher Yuuri sebelum ia longgarkan pelukannya.

Setidaknya memberikan beberapa detik untuk Yuuri menghela nafas lega dan menuangkan sayuran tumisnya ke atas piring.

"Kutunggu di ruang tengah…" Victor melepaskan pelukannya kali ini, "…omegaku."

Jujur saja Victor tidak begitu romantis—tapi kejutan darinya tidak pernah habis.


A Victor Nikiforov/Yuuri Katsuki fanfiction
AU, omegaverse

-#-

Heartbeat
[Enam: tentang buah hati]

-#-

Yuri on Ice! © Mitsurō Kubo
I don't gain anything from this fanfiction


"Sebelum kita mengakhiri latihan hari ini, aku ingin kau mendengar lagu ini terlebih dahulu."

Victor berseluncur menuju ke CD player yang berada di pinggir ice rink, menekan tombol play untuk mulai memperdengarkan lagu In Regards to Love: Agape yang begitu menenangkan hati. Alunannya begitu lembut, teratur, dan juga murni; menggambarkan sebuah cinta yang begitu suci dari seseorang. Victor menatap ke arah Yuri Plisetsky yang tengah berdiri di tengah ice rink, mendengarkan lagu itu sambil menjulurkan lidah dan menggerakkan jempolnya ke arah bawah.

Remaja berambut blonde itu seolah terang-terangan bilang bahwa lagu itu sama sekali tidak mencerminkan dirinya dan ia tidak akan pernah cocok dengan cinta semacam itu.

Sang Living Legend lagi-lagi tersenyum, kali ini bahkan lebih lebar hingga bibirnya membentuk hati. Ia mematikan lagu yang baru saja separuh mengalun dan menggantinya dengan lagu lain. In Regards to Love: Eros mengalun setelahnya dan mulai menyapa telinga tiga pria yang ada di sana: Victor, Yuuri, dan Yuri. Lagu ini jauh lebih nakal daripada yang pertama, penuh dengan godaan, menggambarkan cinta yang begitu dipenuhi dengan gairah dan nafsu.

"Aku akan menggunakan lagu ini!" Yurio menepuk tangannya dan menunjukkan wajah sumringah.

Victor mematikan lagu tadi dan berseluncur ke arah Yurio, menyentuh bahunya sebelum mulai membuka suara, "Terlalu dini, anak muda. Sudah kuduga kau akan lebih menyukai lagu kedua. Namun… penampilanmu yang biasa-biasa saja itu tidak akan memukau jika penonton sudah bisa menebak lagu seperti apa yang akan mengiringi penampilanmu."

"HAAAAH?"

"Pelajari lagu Agape dan aku akan memberikan koreografi dasarnya besok pagi."

"HAAAAH?! OI VICTOR! JANGAN BERCANDA!"

"Sama-sama~ sampai jumpa besok pagi, Yurio!"

Seolah tidak mengindahkan ucapan dari Yuri Plisetsky, Victor Nikiforov meluncur bebas ke pinggir ice rink, mengambil sebuah botol yang berada di atas tangan Yuuri dan menenggak isinya.

"Jangan terlalu keras pada Yurio," ucap Yuuri dengan lembut.

Victor menggelengkan kepala, ia lantas menunduk untuk mengecup perut Yuuri sebelum meletakkan botol air minum yang tadi ditenggaknya ke atas bangku panjang. Ia meraih handuk dan langsung menarik pelan tubuh Yuuri, mendudukkannya di atas bangku itu. Figure skater asalRusia itu lantas duduk di samping Yuuri dan mulai menyeka keringatnya yang bercucuran usai berlatih hampir setengah hari.

"Victor, aku tidak selemah itu… kau terlalu memanjakan aku."

"Setelah ini, aku tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama dengan Yuuri. Ada beberapa pertandingan yang harus kuikuti sebelum akhirnya nanti mempertahankan titel juaraku di podium, Yuuri."

Yuuri tertegun. Betul juga.

Bahkan ia tidak tahu apakah Victor punya waktu untuk menemaninya bersalin nantinya. Atau ia hanya akan sendirian lagi? Bersama ayah dan ibunya yang sudah begitu banyak berpengaruh dan membantunya; ditambah nantinya kebisingan di rumah akan semakin menyiksa karena ditambah suara bayi? Yuuri tanpa sadar meremas bajunya membayangkan hal itu.

Jemari Victor yang menyentuh tangannya ditambah senyum tipis sang alpha beberapa detik setelahnya membuyarkan lamunan Yuuri. Sang omega menghela nafas dan menatap Victor dengan lekat, seolah meminta jawaban untuk tanya yang belum ia ucap.

"Akan kuusahakan untuk berada di sisimu saat waktu kelahiran dekat nanti. Oke?"

Ucapan Victor sederhana, hanya sebuah kalimat tanpa garansi apapun di dalamnya. Pun kalau Victor berbohong hanya untuk melegakan hatinya, Yuuri tidak akan tahu. Tapi sang omega merasa ada beban lain di dadanya yang terangkat dan membuatnya lebih bisa bernapas.

Menyandarkan kepala ke bahu Victor, Yuuri memejamkan mata.

"Oi, kalau punya waktu untuk pacaran, lebih baik kautunjukkan koreografiku sekarang."

Yuuri nyaris terlonjak dari kursi saat Yurio tiba-tiba sudah berada di pinggir ice rink, meneguk minuman dari botolnya sendiri sambil menaikkan satu kakinya ke atas.


"Agape… cinta tanpa syarat," Victor memulai gerakannya dengan melebarkan kedua tangan di tubuhnya, seolah baru saja merapikan sayap tak terlihat yang berada di belakang tubuhnya. Selanjutnya pria itu bergerak mengelilingi ice rink, memadukan dengan beberapa lompatan dan juga step yang sangat ringan, seolah-olah ia tidak sedang meluncur di atas es, namun melayang, "Sebuah cinta yang datang dari Tuhan… tak terbatas, tak berbalas, penuh pengorbanan, dan tak terhitung."

Victor berputar di atas ice rink, menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan, melompatkan triple axel, quadruple salchow, triple toe loop dengan sempurna tanpa hambatan. Rambut abu-abunya beberapa kali bergerak mengikuti angin dan gaya gravitasi yang seolah lupa untuk berada di sekitar manusia sempurna ini.

Yuuri memandangi setiap gerakan Victor dengan wajah berseri-seri. Satu tangannya mengusap-usap perutnya dan mulai berbisik dengan lembut, "Lihat ayahmu yang sangat hebat itu, anakku."

Yurio memberikan lirikan tidak percaya ketika mendengar Yuuri mengatakan itu. Padahal dulu ia sampai memohon-mohon pada Yurio untuk tidak mengatakan apapun pada Victor, sekarang malah berseri-seri memandangi si alpha tengik itu sambil mengatakan bahwa ia ayah yang hebat. Idih. Sudah pelupa dan ubanan begitu bisa-bisanya dibilang hebat.

Clap. Clap. Clap.

Suara tepuk tangan mengisi keheningan usai lagu Agape berhenti mengalun. Nishigori Yuuko dengan bersemangat menepuk tangannya dan mengatakan 'hebat' berulang kali sambil melihat Victor yang baru saja mengambil napas usai menyelesaikan penampilan pertamanya untuk dicontohkan bagi Yurio.

"Oi, siapa kau?" Yurio mengernyit tidak suka, seolah-olah Yuuko adalah orang asing di situ.

"Ah, dia adalah pemilik tempat ini, Yurio. Namanya Yuuko Nishigori, dia seniorku," Yuuri buru-buru memperkenalkan selagi menunggu Victor menghampirinya di pinggir ice rink, memberikannya minuman dan menyeka keringatnya dengan handuk kecil. Victor dengan jahil menutup istirahatnya dengan memberi kecup kecil pada bibir Yuuri.

Belum ada satu minggu ia mengumumkan statusnya sebagai alpha dari Yuuri, Victor tak ragu menunjukkan bahasa cintanya dengan sentuhan. Mulai dari pelukan, kecupan, dan… tentu saja, ciuman kecil sebelum tidur, saat bangun pagi, atau sesempatnya alpha dengan tinggi 180 sentimeter itu memberikan pada Yuuri.

"Terima kasih atas pujiannya, Nona. Dan… Yurio, apa kau bisa mengerti gerakannya tadi?"

"Yah… kurang lebih, aku dapat gambarannya."

"HE?"

Yuuri baru tahu bahwa Yurio adalah anak remaja yang sangat cepat tangkap. Pantas saja ia terus-terusan digadang menjadi pengganti Victor di masa depan apabila sang Living Legend memutuskan untuk menggantungkan sepatu skatenya.

"Bagus! Kalau begitu, selanjutnya, agar kau tidak penasaran, akan kuperlihatkan bagaimana gerakan Eros yang akan menjadi programku di musim ini," Victor menyerahkan handuk dan botol minum kepada Yuuri, lantas kembali meluncur ke pemutar musik untuk merubah lagu yang akan mengalun.

Hanya butuh beberapa detik untuk Victor kembali ke tengah ice rink dan mulai bergerak saat musik Eros terputar sebagai pengiring. Victor menggerakkan tangan ke seluruh tubuhnya seolah ia berperan sebagai penggoda, sang casanova yang siap mengambil hati siapapun yang berada di dekatnya.

"Eros… cinta seksual," Victor mulai menjelaskan, ia menunjukkan beberapa step di atas ice rink, tidak jauh berbeda dari Agape tadi, gerakan Eros ini sangatlah penuh dengan teknik yang perlu diperhatikan, serta sangat amat sulit untuk dipelajari, "Kenikmatan yang diikuti dengan kenikmatan… membuat seseorang tenggelam di dalamnya."

Victor mengangkat kepala, tersenyum dengan begitu menggoda ke arah Yuuri, Yurio, dan Yuuko yang langsung tercengang dan berdebar-debar karena begitu sexy-nya sang alpha di atas ice rink. Menggerakkan tubuhnya, meliuk-liuk di atas es lagi dan tidak lupa, lompatan-lompatan yang butuh latihan profesional untuk melakukannya. Axel, loop, lutz, dan salchow. Victor memadukannya dengan baik dalam programnya, seolah ia adalah burung jantan yang tengah menarik perhatian lawan jenisnya.

Sungguh… eros!

Victor mengakhiri penampilannya dengan melakukan combination spin dan melakukan gerakan seolah memeluk tubuhnya sendiri. Ia mengatur nafasnya yang tak beraturan sebelum meluncur ke pinggir ice rink, lagi-lagi dihujani tepuk tangan dari Yuuko Nishigori dan ditambah dengan kilau mata Yuuri yang begitu berbinar melihat alphanya.

Victor begitu menakjubkan dan Yuuri yakin tidak akan ada yang bisa menyangkal itu.

"Kalau begitu, Yurio, kau bisa melatih dasar dari lompatan yang kutunjukkan tadi… setelah itu kita akan lanjutkan besok pagi. Siang ini, aku ingin memanjakan omega dan calon bayiku! Ayo, belanja, Yuuri? Kamu mau apa? Baby crib? Stroller? Oh, atau kau butuh daster?"

"E-Eh? Victor… terlalu cepat…"

"Ayo, Yuuri! Nanti keburu sore," Victor seolah tidak ingin mendengar apa yang Yuuri ucapkan. Ia melingkarkan lengan di sekitar pinggang Yuuri dan langsung berjalan keluar dari Ice Castle. Meninggalkan Yurio yang lagi-lagi sudah hendak melemparkan protes; namun melihat bagaimana Victor berusaha menjadi 'ayah yang baik' siang itu, pemuda berusia lima belas tahun itu mengurungkan niatnya.


"Yuuri! Lihat, lihat, ini kostum berbentuk lebah! Kalau anak kita memiliki pipi yang chubby sepertimu, pastilah lucu pakai kostum ini," Victor mengangkat sebuah kostum bergaris-garis kuning-hitam dengan penutup kepala yang menyerupai sungut lebah. Yuuri hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum, membayangkan akan ada versi mini dari dirinya yang memakai kostum itu. Gemas.

Perhatian Victor segera teralih dengan sebuah baby crib yang tertutupi dengan kelambu. Ia menyentuh pinggir tempat tidur itu, memeriksa bahannya seolah ia sangat familiar dengan benda itu. Memperhatikan warna putih yang mendominasi ranjang mungil itu dan menyentuh bantal yang ada di atasnya, membayangkan ada bayi mungil di sana yang sedang terlelap dengan tenang.

"Victor?"

Victor mengangkat kepalanya, menatap ke arah Yuuri sebelum ia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Sebagai seorang anak tunggal dari keluarga Nikiforov, Victor tidak pernah kekurangan apapun; pun ia tidak pernah dikekang atas apapun keinginannya. Namun ide dan definisi menjadi orang tua yang baik tidak pernah terlintas dalam benaknya meski sekali.

"Yuuri, bagaimana menurutmu baby crib ini? Kita bisa menempatkannya di kamarmu untuk sementara sebelum nanti aku membawamu pulang ke Saint Petersburg."

Pulang… ke Rusia?

Gantian Yuuri yang memandangi Victor lekat-lekat sekarang, mencari apakah Victor sedang becanda atau sedang bicara serius padanya tentang ide untuk membawa Yuuri ke kampung halamannya? Hamil dan terpisah dari keluarganya tidak pernah menjadi jangka pendek Yuuri; meski berada di dekat Victor juga sama pentingnya.

"Ah, tapi kalau Yuuri merasa lebih nyaman di Jepang, tidak masalah. Lagipula aku sudah bilang akan menjadikan Ice Castle di Hasetsu sebagai home rink-ku, bukan?"

Ekspresi Yuuri berubah melunak, ia memindahkan tangannya ke atas kelambu di baby crib yang tengah Victor lihat, memeriksa bahannya sebelum bergumam, "Ide bagus, Victor. Sepertinya baby crib ini bisa digunakan sampai baby berumur dua atau tiga tahun."

Victor mengangguk setuju. Mempelajari tentang omeganya ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan. Yuuri sangatlah ekspresif; apa yang ia suka, apa yang ia tidak suka, terpatri jelas di wajahnya hingga Victor sama sekali tak perlu memastikannya.

"Victor," Yuuri menggerakkan sebuah mainan bayi di depan wajah Victor untuk menggodanya, lalu tertawa.

"Hey, aku bukan bayinya!"

"Tapi kau seperti bayi besar saat baru bangun tidur."

"Oh ya? Kalau begitu kau harus menyusuiku tiap pagi, bayi besar juga butuh nutrisi, 'kan?"

"Victor!"

Victor tertawa renyah, ia mengambil mainan bayi di tangan Yuuri dan memasukkannya ke dalam keranjang belanja. Setelahnya ia berjalan menuju ke bagian perlengkapan bayi dan memperhatikan satu persatu kebutuhan bayi di sana seperti sarung tangan, celemek, kain, serta deretan dot dan botol susu. Harganya tidak semahal yang ia pikirkan, bahkan kalau Yuuri mau memborong satu toko ini, Victor rasa… ia masih sanggup mengabulkannya.

"Victor apa setelah ini kita boleh istirahat dulu? Aku lelah," Yuuri memijat batang hidungnya sebelum memeluk lengan Victor, memilih-milih beberapa dot yang ada di atas rak.

"Ah, tentu saja, Yuuri, ayo duduk dul—" mata Victor membelalak saat melihat wajah Yuuri yang tiba-tiba berubah menjadi pucat. Ia segera membantu Yuuri untuk duduk di atas sebuah kursi yang ada dalam toko, "Yuuri mau minum? Apa terasa sakit?"

Yuuri menggeleng cepat, ia menyentuh perutnya dan berbisik lirih, "Keras, perutku terasa keras…"


-tsuzuku-
[2055 words, 09/04/2022 18:25 © ararancha]


A/N: Kirain pindah kerja bakal lebih punya waktu senggang, ternyata salah. Jadi ceritanya, saya baru sempat untuk lanjutin lagi setelah saya kena demam tinggi yang kemudian diketahui bahwa saya positive Covid. Rasanya nano-nano banget di hari pertama sampai ketiga, lalu hari keempat sampai enam itu sisa batuk pileknya aja, sehingga saya bisa menulis untuk mengisi waktu senggang.

Stay safe and stay healthy, everyone!

Nee, mind to RnR, readers?