Hari di mana Naruto menjadi Nanadaime Hokage

Disc. by MK

Fanfic ini dibuat karena author nggak cukup puas sama episode di mana Naruto dilantik menjadi Hokage, maka author membuat versi author sendiri.


...Hashirama Senju...

...Tobirama Senju...

...Hiruzen Sarutobi...

...Minato Namikaze...

...Tsunade Senju...

...Kakashi Hatake...

...Naruto Uzumaki...

Pada zaman dahulu... shinobi yang terkuatlah yang terpilih menjadi seorang pemimpin. Dan ada banyak orang yang bermimpi menjadi salah satunya. Mimpi yang diinginkan oleh orang-orang, tekad api pun diturunkan pada generasi selanjutnya.

Tekad api itu dapat-

BOINK!!

Baru saja menjelaskan tentang tekad api, sang calon Hokage selanjutnya malah masih asyik tidur di sofa pada pagi hari yang cerah ini, yang mana tak mencerminkan tekad api sama sekali. Seorang Uzumaki Naruto yang telah menjadi ayah itu menggeliat nyaman sambil menggeram, "Hmmg..." Kemudian lanjut ngiler lagi.

Sinar mentari pada pagi hari yang damai ini memberikan kehangatannya untuk desa Konoha, dan juga sebuah rumah besar nan mewah yang sekarang menjadi tempat tinggal Naruto sekeluarga.

Seorang anak perempuan berambut mirip sang ibu dan bola mata yang sewarna ayahnya, dengan hati-hati meletakkan mangkuk berisi air panas ke atas meja. Setelah itu dia tersenyum ceria.

"Kalian berdua, tolong bangunkan ayah, ya," kata seorang wanita Hyuuga yang kini telah bermarga Uzumaki. Beliau sedang sibuk mengurus dapur dengan memakai celemek merah muda.

"Haaaai!" jawab Himawari senang. Gadis kecil yang manis itu langsung berlari ke menuju ruang kerja si ayah.

Sedangkan sang kakak laki-laki tak mengikutinya. Dia hanya mencibir, "Ayah masih saja tidur, ya?"

Sambil mencuci peralatan masak, Hinata sang ibu bertanya, "Tahu kan kamu ini hari apa?"

Ceklek, pintu ruang kerja dibuka pelan. Tampak banyak berkas dan peralatan kantor lainnya berserakan di atas meja kerja, dengan si pemilik yang sedang pulas di atas sofa ruang kerja tersebut. Himawari memanggilnya dengan suara keras.

"Ayah, bangun!"

Kemudian dia mendekati Naruto. "Ayah?"

"Sarapan sudah siap...," kata Himawari yang sedikit berbisik di dekat telinga Naruto, lalu mencolek-colek badannya.

"Bangun... bangun..."

"Huh, masih belum bangun rupanya," ucap Boruto yang barusan menyusul ke dalam ruangan kerja Naruto. "Kayak kamu bisa membangunkan ayah dengan cara 'kawaii' seperti itu saja."

Kemudian dia pun berseru sambil melompat tinggi-tinggi. "Baiklah! Bangun...-ttebasa!"

Dengan segenap kekuatannya dia pun menghantam perut sang ayah agar bangun.

Naruto yang baru saja membuka mata karena terganggu suara berisik, tak sempat bereaksi dan hanya bisa membelalak ngilu ketika perutnya dihantam anak laki-lakinya.

"Oorghh!!"

Sedangkan si pelaku penghantam, tersenyum puas. "Nah, begitu!" katanya pada Himawari dalam keadaan masih menduduki Naruto.

"Heee..."


"Ittadakimasu!" seru kedua anak itu senang.

Berbanding terbalik dengan sang ayah yang mukanya menyedihkan dan masih lemas di meja makan, dia hanya meminum obat.

"Hari ini adalah pelantikan Hokage, hari yang sangat penting. Bisakah ayah setidaknya bangun sendiri?" tanya Boruto sambil menikmati sarapannya bersama Himawari.

Naruto yang mendengar itu hanya tertawa miris.

"Aku akan pergi dan mengambil Haori Hokage untukmu," kata Hinata.

Naruto menaikkan alisnya. "Belum jadi, ya?"

"Belum. Kelihatannya rumah sang seniman bordir terlalu teliti terhadap pekerjaannya..."

Sebuah rumah yang menyediakan jasa bordir pakaian itu terlihat banyak orang, namun hanya satu orang yang duduk di tengah dan mengerjakan bordir tulisan pada jubah Hokage untuk Naruto. Yang lainnya cuma berdiri sambil menonton, karena si nenek seniman itu berkata, "Hanya aku saja yang boleh mengerjakannya. Ini tugasku sebagai sesepuh..."

"Ternyata, beliau juga yang mengerjakan bordiran pada jubah Hokage sebelumnya, karena beliau ingin hasilnya sangat sempurna tepat pada saat hari pelantikan Hokage," jelas Hinata.

Mendengar itu Naruto langsung mengernyit masam. "Jadi itu alasannya kenapa jubah Kakasi-sensei tidak kelihatan bagus..."

Dia seketika teringat jubah sang Hokage ke-6 yang huruf "6"-nya seperti ditambal asal-asalan.

"Oh, jadi memang pekerjaan itu butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, ya," tambah Naruto.

"Tapi kau jangan sampai telat ke upacara jadi langsung saja datang ke acaranya dulu," pesan Hinata. "Biarkan aku yang mengambil Haori-nya. Datanglah bersama anak-anak, ya!"

"Oke," jawab Naruto singkat, lalu mengingatkan kedua anaknya. "Cepat habiskan."

"Haaaaai!" jawab mereka berdua bersamaan.

Naruto menghela napas.


Pintu rumah bordir pakaian itu digeser, lalu tampaklah sebuah jubah yang sudah terlipat rapi di dalam bungkusan plastik menampilkan huruf "δΈƒ" yang sangat sempurna. Hinata pun senang melihatnya. Wanita cantik itu pun membungkuk dalam-dalam kepada sang seniman bordir. "Terima kasih banyak." Yang dibalas ramah oleh sang seniman lanjut usia.

"Kurasa aku sudah mendapatkannya pada waktu yang tepat, aku berharap Naruto-kun akan terlihat tampan memakai ini...," batin Hinata.


"Enggghhh... aku saja yang membawanya, kau tidak usah..." Boruto yang telah rapi berseragam upacara putih berusaha menarik sebuah boneka dari cengkeraman tangan Himawari.

Sang adik pun tidak mau kalah. Dia menarik lebih kuat boneka tersebut. "Tidak mau... ambil boneka lain saja, aku membawa ini..."

Kedua kakak beradik itu sedang saling berebut sebuah boneka berwarna merah muda. Keduanya sama-sama ingin membawa boneka itu dan terjadilah perebutan. Naruto yang mendapati kedua anaknya membuang-buang waktu pun geram.

"Cepatlah kalian, jangan buang-buang waktu." Naruto yang juga sudah berbusana rapi berkata sambil duduk di depan pintu, bersiap memakai sepatu.

Tapi anak-anaknya tak mendengar. Mereka terus sibuk merebutkan boneka itu.

"Ch," decih Naruto frustasi. Dia tidak jadi memakai sepatu dan dengan kesal berjalan menjemput putra-putrinya.

"Hoi, ayo cepat kita berang-EH?!" Naruto seketika terkejut melihat kedua anak tengah saling menarik boneka. Dia pun mendengus kesal lalu mendekati mereka.

"Kenapa kalian berebut? Bawa saja bersama-sama!"

"Tidak mau! Ini bonekaku!"

"Tidak! Ini punyaku!"

Naruto menghela napas lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Dia pun keluar sebentar lalu...

"Henge!"

Boff!

Kemudian masuk lagi dengan membawa boneka tiruan hasil henge no jutsu. "Himawari, kau bawa ini!"

"Woahh..." Himawari yang terpana melihat itu langsung melepaskan cengkeramannya pada boneka asli, mengakibatkan sang kakak terjungkang ke belakang.

"Argh, ittai!" Boruto mengusap bokongnya.

"Terima kasih, tou-chan!" seru Himawari lalu memeluk bonekanya.

"Ayo! Jangan sampai telat!" ajak Naruto lagi. Dia membantu menarik Boruto berdiri lalu mereka pun memakai sepatu.


Langit biru yang cerah menghiasi suasana ramai lapangan kantor hokage yang telah dipenuhi oleh warga Konoha. Mereka semua memakai pakaian yang sama berwarna putih, dan berkumpul bersama keluarga mereka menantikan acara pelantikan Hokage Ketujuh. Mulai dari orang tua, lanjut usia, hingga anak-anak terlihat antusias menghadiri acara yang sangat penting ini.

Di atas atap Kantor tersebut diisi oleh orang-orang penting. Di antaranya Kakashi, Shikamaru dan Konohamaru.

Kakashi, Sang Hokage ke-6 yang hari ini terlihat sangat bersahaja berjubah Hokage lengkap dengan topi merah memandang ke lapangan di bawah yang penuh oleh warga desa. Dia berkata pelan, "Hari ini akan jadi hari terakhir masa jabatanku..."

Shikamaru baru saja menyalakan rokoknya tapi langsung ditegur oleh Konohamaru.

"Dilarang merokok di sini."

Hinata tergesa-gesa menuju atas atap Kantor Hokage menemui mereka bertiga hingga terengah-engah.

"Maaf, terlambat!"

"Ah, tidak kok, baru saja acaranya akan mulai," kata Shikamaru menghembuskan asap rokoknya ke arah lain.

"Di mana Naruto-nii?" tanya Konohamaru.

"Ah, dia belum sampai ke sini?"

Panjang umur, baru saja orang yang dimaksud sedang dibicarakan, suara jauh di belakang mereka langsung terdengar.

"Hoi!"

Mereka semua menoleh.

"Hoi, Naruto!" sapa Shikamaru senang. Naruto dan Shikamaru pun ber-highfive, dengan wajah Naruto yang nyengir lebar. "Maaf terlambat." Lalu dia menggaruk kepalanya.

"Syukurlah kau tepat waktu, Naruto-nii." Konohamaru mengajaknya salaman, lalu memeluknya lembut.

"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai acaranya," kata Kakashi. "Pakai jubahmu, Naruto."

Hinata pun membuka bungkusan jubah itu dan memakaikannya pada Naruto. Naruto tersenyum lembut melihat wajah istrinya yang bersemu saat memakaikannya padanya. Tapi kemudian Hinata terlihat semakin menunduk.

Naruto menaikkan alisnya, lalu mengangkat wajah sang istri. "Kau menangis?"

"Ah, tidak. Aku hanya terharu...," jawab Hinata sambil mengusap matanya.

Naruto nyengir lebar lagi sambil ikut mengusap air mata wanita cantik di hadapannya.


Suara petasan meledak-ledak, mengejutkan semua orang dan sebegai pertanda bahwa acara sakral ini telah dimulai.

Semu orang di lapangan pun menghentikan obrolannya dan melihat ke atas.

"Hadirin yang berhagia." Kakashi bersuara lantang kepada seluruh warga yang hadir. "Pada pagi yang cerah ini, mari kita lantik Hokage Ketujuh. Ini dia pemimpin baru kita!"

Tepuk tangan dan sorakan riuh pun menyambut seiring langkah sang Hokage Ketujuh berjalan mendekati pagar pembatas agar orang-orang di bawah bisa melihatnya. Langkahnya sangat tegap dan percaya diri, seolah keluar menuju cahaya kemenangan dari gelapnya perjuangan dan tumpah darahnya selama ini. Hinata yang menyaksikan jubah Nanadaime-nya berkibar tertiup angin semakin tak dapat menahan air mata harunya. Kini kedua pipi merah itu telah sepenuhnya teraliri air mata.

Konohamaru yang menoleh ke arahnya pun menepuk bahu Hinata untuk menenangkannya. Meskipun sebenarnya dia sendiri juga belum tentu bisa menahan haru, terbukti dengan sedetik kemudian air matanya menetes juga.

Setelah semua orang bisa melihatnya, Naruto pun mengangkat salah satu tangan tinggi-tinggi dan melambaikannya untuk menyambut para warga. Senyuman cerah terukir di wajahnya.

"Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!" Naruto berusaha menelan air matanya mati-matian. "Terima kasih bagi warga sekalian yang telah mempercayaiku sebagai Nanadaime Hokage..."

Tepuk tangan terdengar semakin keras.

"Naruto...," panggil Kakashi dari samping kanan.

Naruto pun berbalik, lalu berlutut di hadapan Sensei-nya itu.

Mata Kakashi menyipit karena tersenyum, setelah itu melepas topi Hokage dari kepalanya untuk dipakaikan pada Naruto.

Naruto berdiri lagi dan memeluk Kakashi erat.

"Terima kasih, sensei..."

"Aku bangga padamu, Naruto," balas Kakashi.

Setelah itu Naruto menghadap warga Konoha lagi.

"Orang-orang yang kucintai, izinkanlah Uzumaki Naruto mengemban tugas untuk memimpin Konoha. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, dan aku tak akan mengecewakan semuanya!" Kali ini kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. "Aku, Uzumaki Naruto, adalah Hokage Ketujuh!!"

Kembali sorak-sorai menyambut kata-katanya. Naruto sangat menikmatinya, terlebih lagi dengan petasan yang sekali lagi diluncurkan ke udara, kali ini jauh lebih banyak. Dia memejamkan matanya sambil mendongak. Menikmati sinar matahari hangat menerpa aliran air mata di kedua pipinya, dan kedua tangan yang teracung tinggi. Senyum lebarnya sudah hilang, tapi air matanya masih deras mengalir.

Setelah dirasa cukup, barulah dia mengusap air mata itu dengan jari, sebelum memandang para warga lagi yang masih antusias memberikan sorakan bahagia.

"Tou-chan, Kaa-chan... aku berhasil," batin Naruto.

"Tou-chan!" seru seorang anak perempuan di bawah sana yang sedang memeluk boneka.

"Himawari!" Naruto langsung tersentak dari lamunannya lalu langsung nekad turun ke lapangan dengan cara melompati pagar pembatas atap.

Semua orang terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu termasuk Hinata. Dia pun berlari menuju pagar pembatas dan melihat Naruto mendarat.

Tapi Naruto tak menghiraukan keterkejutan orang-orang. Dia hanya tertawa melihatnya, dan langsung berlutut untuk menyambut anak-anak kecil yang berlarian ke arahnya.

Naruto memeluk dan mencium anak-anak warga Konoha satu per satu. Kemudian berdiri lagi untuk memeluk orang dewasa.

Bahkan ada salah satu ibu menggendong bayi yang meminta bayinya digendong Naruto. Naruto dengan riang menyambutnya dan merasakan tangan bayi itu menyentuh wajahnya saat dia gendong.

"Tou-chan!!" dua orang anak berlari di antara orang-orang ke arahnya. Itu Himawari dan Boruto. Segera saja Naruto mencium mereka berdua.

Setelah itu seorang pria dewasa mendekat ke arahnya. Iruka-sensei. Matanya telah terlihat sembab.

Naruto pun memeluknya. "Sensei... aku berhasil."

Iruka tak tahan untuk terisak. Pelukan mereka semakin erat.

"Minato dan Kushina bangga padamu, Naruto."

Setelah pelukan mereka terlepas, Naruto pun berbalik dan mendongak ke arah patung wajah Hokage.

"Tou-chan... wajahku akan segera menyusul di atas sana..."

.

.

.

.

Fin.