Last Letter
Summary: Based from Vana'nIce song, Last Letter
Disclaimer: Vocaloid or Vana'nIce is not mine. But their mine in my heart ...^^
Author's note: Chapter 2 jalan juga akhirnya... setelah mengalami masa2 sulit akhirnya aku bisa ngelanjutin kisah ini#alay
Len: Haah... ngapa juga gua harus ketemu dia lagi
Gaku: Baru chap 2 udah ditolak aja nih?!#nangissambilngemutterong
Kaito: Dah biasa digituin, gak sih lo... makanya jadi cowok yg normal
Author: Kayak lu nggak aja...
Kaito: ...#meratapihidup
Author: Oke! daripada ngurusin para jomblo abadi, mari kita nikmati fanfic author otaku, wibu, fujoshi penggila cogan anime ini!
Len: Julukan lu kebanyakan thor
Happy reading! enjoy...
Last Letter
By: Yume-chan27
Rasanya Len tidak bisa mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini. Mimpi? tapi ia yakin merasakan jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Namun tatapan itu selalu dapat membuatnya merasa tenang. Sosoknya yang diterpa cahaya hangat dari sang matahari yang menembus jendela, sungguh menakjubkan.
Chapter 2
"Sopanlah sedikit! aku ini seniormu." kata-kata yang teruncur dari bibir yang tampak selalu tertutup itu menyadarkan Len dari khayalan sesaatnya. "Hm? apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pemuda itu langsung pada Len, membuat yang dituju langsung gelagapan mencari jawaban, "Ah! b-belum. A-aku, Len Kagamine. Senang bertemu dengan senpai." Len memperkenalkan diri dengan terbata-bata, sempat memikirkan etika mengingat teguran yang diberikan pemuda itu pada Kaito beberapa saat yang lalu.
"Dia ini anak yang aku ceritakan waktu itu." Kaito menambahkan.
Eehh?! dia pernah menceritakan tentangku pada senpai?!
Gaku memperhatikan Len yang terus menundukkan kepalanya. "Ohh... kau Len itu, ya? aku baru pertama kali melihatmu. Aku Gakupo, kelas tiga." Gaku memperkenalkan dirinya dengan tenang. "Tolong maafkan si bodoh ini yang sudah melukaimu, ya. Dia memang seperti ini sejak dulu." sambungnya. "Hei!" Kaito menyela. Mereka tampak beradu mulut kecil. Sementara Len yang berada di tengah-tengah itu diam dengan wajah yang entah bagaimana memerah dengan sendirinya, lalu semburan tawa kecil pun keluar dari bibir mungil itu.
Suasana beriring semakin tenang dan nyaman. Kaito beralih melepas Len dan meraih gitar yang ia letakkan di sudut ruangan. Len berpikir sejenak mengingat tujuan Kaito mengajaknya kemari.
"Ngomong-ngomong, klub yang Kaito-senpai katakan itu..."
Kaito terkejut ketika Len mengungkit perkataannya saat di lorong. "Ahh... sebenarnya ini bukan klub, sih. Lebih tepatnya mengisi waktu luang. Kami berdua yang jarang menghadiri klub sering datang ke sini dan menghabiskan waktu dengan bermain musik." Kaito menjelaskan sembari memetikkan senar gitarnya dengan lembut, membuat susananya mengalir semakin hangat.
"Eh, bukannya Kaito-senpai ikut klub sepak bola, ya?"
"Dia cuma datang kalau ada mengajaknya pergi. Kalau tidak, dia pasti akan ke sini." Gaku mengambil alih jawaban dari pertanyaan itu. Len mengangguk mengerti, diam-diam melirik Kaito yang sudah asyik sendiri dengan gitarnya. "Kalau Gaku-senpai, ikut klub apa?" tanyanya lagi.
Gaku tidak langsung menjawab, ia memandang langit-langit seakan mencari jawabannya di sana. "Aku tidak ikut apa pun."ia menyahut kemudian. "Awalnya aku ingin ikut klub musik. Tapi di tengah-tengah, aku merasa kalau yang kuinginkan hanyalah bermain musik untuk diriku sendiri."
Hening sejenak di antara keduanya. Entah kenapa Len merasa ada yang salah dengan dirinya, ada sesuatu yang bergejolak di dalam hati yang sedari tadi menjinak.
"Kagamine-san. Anu, apa boleh kalau aku memanggilmu 'Len'?"
"Eh?"
Hanya satu kata singkat yang keluar dari mulutnya ketika pertanyaan itu selesai diutarakan, dan anehnya ia merasa cuaca hari ini jadi lebih panas dan membuat wajahnya seperti kepiting rebus sekarang.
"Mm... tidak boleh juga tidak apa-apa, kok..."
"Boleh!" tanpa sadar Len berteriak. Menyentak kedua pemuda itu seketika. Bahkan Kaito yang sedang mendalami lagunya mendadak berhenti dan menoleh padanya dengan tatapan ingin tahu. Untungnya gadis itu cepat tersadar dan kembali mengontrol suaranya sambil menunduk canggung.
"Panggil 'Len' saja."
Gaku tersenyum melihat sisi tak terduga milik gadis itu. Sepertinya mereka bertiga akan jadi teman akrab setelah ini. Menghabiskan waktu bersama sebagai orang-orang dengan waktu luang yang panjang.
Sejak hari itu, Len semakin sering pergi ke gedung di halaman belakang sepulang sekolah. Sebenarnya tidak banyak yang bisa mereka lakukan di sana, tapi rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama seperti itu setiap hari. Berkat kedua senpainya yang baik hati itu juga Len bisa belajar cara memainkan gitar dan mempraktekkannya bersama.
Sore ini Len berniat melihat latihan klub sepak bola yang diikuti Kaito. Ia duduk di tempat yang sama ketika ia terkena lemparan bola waktu itu. Namun kali ini ia merasa tenang karena tidak ada pikiran yang membebani sehingga membuanya lengah dan melamun.
"Hari ini dia latihan, ya?" sebuah suara terdengar berbicara dari arah belakangnya. Len yang terkejut langsung menoleh refleks. "Gaku-senpai..." Gaku yang memandang ke arah lapangan beralih duduk di samping gadis itu. Len tersenyum, "Sepertinya ada yang mengajaknya latihan lagi hari ini." katanya.
"Iya."
Kaito begitu bersemangat, sangat berbeda dengan dirinya ketika sedang berada di dalam ruangan itu. Tidak ada yang menyangka kalau pemuda berseragam biru itu sebenarnya adalah sosok yang malas hadir dalam latihan harian jika hanya melihatnya sekali seperti ini.
Melihat perbedaan sifat itu, membuat Len ingin mengenal kedua senpainya semakin dekat. "Anu... Gaku-senpai dan Kaito-senpai sudah lama dekat, ya?" tanyanya pada Gaku yang masih memfokuskan pandangannya.
"Um. Kami saling kenal sejak SMP. Tapi dia sangat berbeda denganku. Dia periang, bersemangat, berisik, kadang bodoh. Berbanding terbalik denganku. Bukankah menurutmu juga begitu?" Len terkekeh mendengar pendeskripsian Kaito oleh Gaku. Rasanya ia seperti menyelam ke dalam album lama milik pemuda itu.
"Gaku-senpai juga baik, kok. Meskipun tidak banyak bicara, tapi senpai sangat populer di kalangan siswa sekolah karena pandai membuat orang lain merasa nyaman saat berada di sisi senpai. Aku sangat suka senpai yang seperti itu." tanpa sadar bibir mungil Len meracau dengan sendirinya. Gaku sedikit tersentak mendengar apa yang diucapkan juniornya itu. Lalu terkekeh dan kembali melemparkan pandangan pada lapangan hijau yang penuh bau keringat.
"Lain kali ceritakan padaku lebih banyak, ya!"
TBC
Author: Hii... Gaku-chan PDKT...
Gakupo: Yg bikin cerita alay kayak gitu sapa?
Len: Gak papa thor, diterima juga ga bakalan
Gakupo: Len, lu dendam apa ama gua sih?
Kaito: Bukan, dia cuma ngelampiasin kesel gara2 selalu dibikin jadi cewek sama Author
Oke, chap 2 kelar... ditunggu reviewnya yaa... Babay!
