Last Letter
Summary: Based from VanaN'Ice song, Last Letter
Disclaimer: Vocaloid or VanaN'Ice is not mine. But their mine in my heart ...^^
Author's note: Cuma bisa ngucap... haaahh...
Author: *pundung*
Len: Napa thor?
Author: Entah kenapa gua ngerasa bersalah banget gara2 salah nulis nama grup kalian (Vana'nIce-VanaN'Ice)*nangis air terjun*
Gakupo: Fans apaan gitu aja kagak tau?*mancing emosi*
Kaito: Kebanyakan khilaf ampe korslet lu thor. Kasian amat
Author: *deathglare* Udah gua bela-belain lajut setelah bangkit dari kematian, nyari mati lu pada?! Gak tau gua stress belakangan ini gara2 mikirin... *ceramah seabad ampe KaiGaku sujud ampun*
Len: Nungguin author kita gak bakalan ada kelarnya. Yuk, kita lanjut aja... #dengan senyumanmalaikat
Happy reading! enjoy... (*KOK MALAH LU YANG BUKA LEN?!-author)
Last Letter
By: Yume-chan27
Gaku sedikit tersentak mendengar apa yang diucapkan juniornya itu. Lalu terkekeh dan kembali melemparkan pandangan pada lapangan hijau yang penuh bau keringat.
"Lain kali ceritakan padaku lebih banyak, ya!"
Chapter 3
"Haaah... hari ini melelahkan sekali..." Kaito mendesah sembari berjalan pelan di jalanan yang sepi sore ini. Gaku dan Len sedari tadi terus diam di sampingnya, sehingga membuat naluri cerianya bergetar mencoba membuat kedua orang itu bicara. Mungkin terlalu terpesona dengan kilauan sinar yang terpancar memantul pada aspal hitam yang tampak kekar, mejinakkannya perlahan dengan kelembutannya.
Tatapan itu jelas terlihat di mata Len yang berkilau dengan senyuman yang tak henti terkembang, sama sekali tidak menghiraukan perkataan pemuda itu di bawah sadarnya. Pemandangan tak ternilai bisa melihat seorang gadis manis di terpa sinar matahari sore yang hangat, indah sekali.
"Aah!" suara teriakan Kaito tiba-tiba memecah suasana tenang disekitarnya. Len dan Gaku yang terbawa dunianya masing-masing seketika tertarik pada kenyataan dan memandangi pemuda berambut biru itu dengan tatapan bercampur aduk.
"Perhatikan jalanmu, Kaito!" Gaku menghela napas panjang melihat tingkah kekanakan sahabatnya yang bagai anak kecil, terjatuh karena tersandung sesuatu ketika berjalan. Di samping itu, Len yang keheranan seketika menyemburkan tawanya, "Pemandangannya terlalu cantik mencuri seluruh perhatianmu, ya? Kaito-senpai." ucapnya sembari mengulurkan tangan. Kaito terdiam sebentar, lalu ikut tertawa dan menerima uluran tangan itu.
Setelah peristiwa memalukan itu, entah bagaimana suasananya berubah drastis, mereka mulai saling bicara dan tertawa di hadapan sang matahari yang mulai bersembunyi di balik pepohonan. Satu lagi hari menyenangkan dalam hidup Len ketika dua orang itu mulai masuk ke dalam dunianya. Ia selalu berharap, bahwa waktu bisa berhenti dan membiarkan semuanya tetap seperti ini selamanya. Namun, ia pasti tahu, sekeras apa pun ia memohon, itu adalah permohonan paling mustahil yang tak akan bisa terkabul dengan usaha paling keras manusia mana pun.
"Aku boleh bertanya?" suara lembut Len menggetarkan gendang telinga Gaku. Pemuda itu hanya menoleh dengan tatapan balas bertanya. "Senpai, setelah ini, apa yang akan senpai lakukan?" gadis itu menundukkan kepala ketika mengatakan itu.
Gaku menatap langit malam penuh bintang. Keputusannya mengajak Len menemuinya malam ini seperti terbalik setelah ia sadar bahwa gadis itulah yang memulai semuanya. Pertemuan yang awalnya ia ragu untuk memutuskannya. Tapi, dengan alasan akhir pekan mungkin bisa membuat gadis itu mengerti.
"Aku... sejak awal ingin menjadi seorang musisi. Tapi, sekarang sudah tidak lagi." ia menjawab kemudian. "Kenapa?" tanpa berkomentar terlebih dahulu, Len melanjutkan pertanyaannya. "Setelah mengetahui bahwa kenyataan tidaklah semudah ketika memikirkannya, aku mulai kehilangan harapan dan pada akhirnya menutup jalanku sendiri. Mimpi yang kosong, ya." pemuda itu terkekeh pelan.
Tatapan yang terus melekat itu semakin membulatkan kedua matanya. Len yang berpenampilan berbeda –tidak mengenakan seragam sekolah seperti biasanya –masih terlihat sederhana dengan gaya rambutnya yang khas –rambut pendek yang diikat setengah membentuk kuncir kecil –menunggu jawaban dari senpai di sampingnya.
"Menurutku kata-kata yang senpai ucapkan barusanlah yang kosong."
Kali ini ganti Gaku yang memandangi gadis itu dengan rasa ingin tahu. "Aku sudah membuktikannya sejak bertemu senpai untuk pertama kalinya. Permainan gitar dan suaramu yang lembut itu sungguh luar biasa dan mampu membuatku terdiam takjub. Aku rasa alasan seperti itu saja sudah bisa membuktikan bahwa senpai bisa menjadi apa pun yang senpai inginkan." Len menatap langit seolah ingin menghitung bintang yang tampak memperhatikan pembicaraan mereka dari jauh, membuatnya cemas.
"Makanya, aku terus berharap bisa mendengarkannya lebih lama lagi." lagi-lagi bibir itu meracau sendiri, mengutarakan apa yang tersimpan dalam pikirannya tanpa meminta izin dari sang diri.
Gaku yakin benar itu adalah kata-kata yang keluar secara jujur dari dalam diri gadis itu. Hanya saja ia masih ingin mengetahui maksud lebih dalam dari kalimat itu. Entah kenapa ia merasa itu bukanlah hanya sekedar kalimat penyemangat bagi dirinya yang sudah putus asa akan mimpinya. Sesuatu yang lebih besar mungkin tersembunyi di balik sana.
Inilah hari ketika ia memutuskan untuk menyampaikan perasaan sebenar yang ia simpan untuk pemuda itu. Ia merasa akan lebih baik jika menyampaikannya secara tidak langsung. Yah, pada dasarnya ia hanya terlalu malu dan tak sanggup bersuara ketika menatap wajah senpainya.
Sepucuk surat berisi pesan singkat yang ia tulis untuknya. Terlalu kuno untuk hal semacam itu. Tapi apa boleh buat, inilah yang ingin ia lakukan. Mungkin tidak akan datang lagi kesempatan yang membuatnya ingin melakukan hal seperti itu.
Surat terakhirku untukmu.
Di depan loker sepatu itu, ia menyampaikan perasaannya. Panas di wajah hampir membuatnya kehilangan kontrol untuk membuat keputusan kedua. Tapi ia sudah sampai sejauh ini. Hanya akan datang penyesalan jika ia berhenti begitu saja.
Secepat kilat kakinya ingin berlari dari sana. Surat itu sudah tak lagi berada di tangannya. Lebih baik menghilang saja, semua orang pasti berpikir demikian.
"Len-chan!" sebuah suara memanggilnya. Ada Kaito-senpai di sana, mungkin sudah sadar akan apa yang ia lakukan sejak tadi. Melihat itu, Len bagai pasrah namun tak ingin menghentikan apa yang sudah ia lakukan.
"Apa yang kau lakukan di depan loker kelas tiga?"
Ruang kosong di halaman belakang sekolahlah yang menjadi tempat yang ia pilih untuk berbicara lebih lanjut. Selagi Gaku berada di dalam kelas, mengikuti pelajaran tambahan bagi kelas tiga yang akan segera lulus sebentar lagi. Kini hanya ada dia dan Kaito-senpai, saling diam dengan canggung.
"Jadi, ada yang ingin kau bicarakan denganku?" Kaito membuka pertemuan itu dengan bersikap santai sebisa mungkin. Len tampak ragu meskipun ialah yang memulai semua ini. Tapi bayang-bayang akan kejadian-kejadian menyenangkan yang ia habiskan di ruangan ini bersama kedua orang itu tiba-tiba saja terlintas ketika ia melemparkan pandangan pada langit-langit yang putih. Bayangan itu memenuhi pikirannya sehingga membuat senyumnya merekah.
"Sebelumnya, hanya senpai berdua yang mengisi ruangan ini, kan?"
Kaito ikut memandang putih itu, bagai sama-sama melihat apa yang ada di pikirannya. "Ya... waktu itu, semuanya berjalan dengan tenang. Tanpa hal yang begitu berarti. Benar-benar seperti air yang mengalir." lamat-lamat dirinya terbawa alur hangat yang dibawa yang matahari yang kini menemani mereka dengan siluet jingganya. Gadis bersurai keemasan itu diam-diam memunculkan senyum tipisnya.
"Lalu, bagaimana setelah aku ada?" tanya sang gadis hati-hati.
Kaito tak langsung menjawab, ia mengerutkan bibirnya bagai sedang memikirkan cara untuk menjawab dengan benar.
"Semuanya tampak lebih berwarna." jawaban itu membuat Len tersentak, namun masih menahan diri sehingga Kaito melanjutkan perkataannya, "Kau seperti jembatan penghubung antara aku dan Gaku. Kau tahu, meskipun teman lama dan sering bersama, Gaku adalah orang yang tak banyak bicara. Berbeda dengan ketika kau mulai datang ke ruangan ini. Rasanya kaulah yang telah merubah semua itu. Seperti sihir."
Len Kagamine senang sekali ketika mendengar itu dari mulut senpainya. Tapi entah kenapa, meskipun ia merasa demikian, bola mata bundarnya kini bergetar pelan seiring ia menahan tawanya lebih lagi.
"Senpai, tolong jangan berkata seperti itu. Meskipun senang, tapi kata-kata senpai hanya akan menjadi beban bagiku."
Perubahan ekspresi jelas terlihat di raut wajah Kaito yang mudah berubah. Ia terkejut dengan pernyataan itu. "Apa maksudmu, Len-chan?"
Diam. Gadis itu hanya terdiam. Di dalam dirinya sedang berkecamuk berbagai perasaan sehingga menyulitkan bibirnya untuk bersuara. Ada sepenggal rasa bahagia menyadari pada akhirnya ada yang menganggap dirinya begitu berarti. Tapi ia juga merasa sedih karena merasa pernyataan itu hanya akan membuat dirinya tak mampu menatap dua wajah itu lagi.
"Aku akan pindah."
Satu kalimat itu menjelaskan semuanya.
TBC
Yak, begitulah
Pikiran author emang lagi kacau oleh tekanan dari luar dalam makanya chap 3 kali ini agak telat dari biasanya... Maka dari itu *sok kuat* review dari pembaca akan sangat membantu sampai kisah-kisahan ini kelar pada waktunya
Len: *ngelirik* Napa akhirannya sok iya banget sih
