haikyuu! © haruichi furudate.
tidak ada keuntungan komersial yang diambil penulis dalam pembuatan karya ini. karya dibuat semata-mata untuk keperluan hiburan.
.
.
Hitoka mencoret tiga daftar sekaligus dalam catatan di ponselnya, sembari mempertimbangkan apakah ia sebaiknya memesan tiket ke Tokyo saja? Ia berpikir sebentar, tetapi kemudian menjadi gelisah lagi, lalu melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
Ia menarik napas, mengembuskannya pelan-pelan. Mengatasi kecemasan mirip dengan cara mengatasi emosi yang meledak-ledak; relaksasi dahulu, berpikir kemudian. Mengatur napas membantu menjernihkan pikiran dan membiarkan otak bekerja lebih tenang.
.
Kei selalu merasa dirinya benar.
Seringkali.
Egonya begitu tinggi, butuh orang-orang seperti Akiteru atau Hitoka untuk menariknya kembali ke bumi dan mengatakan bahwa tempatnya di sini, bukan jauh tinggi di sana. Tidak akan ada yang menemanimu di atas sana, begitu kata Akiteru pada suatu waktu, saat mereka bertemu di Tokyo dan Kei baru saja pergi dari apartemen Hitoka setelah mereka berdua bertengkar untuk pertama kalinya.
Dan kau akan sendirian, begitu yang Hitoka katakan setelah mereka berbaikan. Kei masih ingat cokelat hangat yang dibuatkan Hitoka waktu itu, setelah dia mendorong dirinya untuk mengatakan maaf lebih dulu. Malamnya dia menginap di apartemen Hitoka, dan besok harinya mereka berjanji untuk tidak lagi mengulangi ini.
Namun ego tetaplah ego, ego tidak bisa mengikat janji.
Dan aku melakukannya lagi, Kei menghela napas.
.
"Oh Kei, kau memang masih anak-anak."
"Keluar dari kamarku." Kei melepaskan kacamatanya, dan Akiteru semakin menjengkelkan saja—pria itu malah tersenyum lagi padanya.
"Hubungan jarak jauh tidak akan sesulit itu. Kalian tidak dipisahkan benua."
Kei tidak butuh dinasihati seperti itu. Dia tahu apa yang dia lakukan. Apa yang Hitoka lakukan.
"Lagipula, Hitoka-chan juga berjanji, kan? Dia akan mengusahakannya, kau yang paling tahu seberapa besar kemauannya untuk melakukan itu."
Kei tidak bicara apa-apa lagi, dia berbalik dan mendorong Akiteru keluar, lalu menutup pintu tepat di hadapannya.
Sebelum pintu berdebam, Kei masih sempat mendengar Akiteru bicara, bukan kalian saja yang menjalani itu dan orang-orang di luar sana baik-baik saja!
Diamlah, kau bukan kami.
Namun mungkin lebih tepatnya,
Akiteru, kau bukan aku, aku ingin melihatnya setiap hari.
Secara kebetulan Kei melihat refleksinya di cermin. Oh, kau lagi. Kau lagi yang berbuat begitu?
.
Hitoka sudah terbiasa dengan ibunya yang bekerja siang-malam nyaris tanpa jeda, bahkan sering mengorbankan hari-hari libur atau memotong cutinya.
Namun yang lebih parah, sekarang ibunya juga mengambil pekerjaan akhir tahun di luar negeri—dan memotong libur tahun barunya? Semakin sedikit alasan Hitoka harus menghabiskan hari libur akhir tahunnya di Sendai.
Untuk apalagi? Kei mungkin juga tidak akan bicara padanya. Tahun baru di Tokyo akan lebih semarak. Ia akan mendapatkan suasana yang menyenangkan, sekaligus membuat pikirannya lebih jernih, dan akan membuat sebuah awal yang baru untuk ia dan Kei menyelesaikan masalah mereka.
Oh, itu jika Kei memang ingin menyelesaikannya.
Hitoka menekan keningnya dengan putus asa. Bagaimana jika Kei tidak ingin menyelesaikannya, dan memilih pergi?
.
"Undanglah dia di malam tahun baru, Kei. Ayolah."
Kei berusaha keras untuk tetap berkonsentrasi pada makanannya. Anggap saja Akiteru angin yang berlalu, anggap saja Akiteru angin yang berlalu, anggap saja—
"Dia pasti kesepian. Teman-temannya di Tokyo, dan ibunya adalah orang yang selalu sibuk. Benar begitu, kan?"
Kei menghela napas. Akiteru tidak perlu menekannya seperti ini. Seolah-olah Kei yang bersalah membuat Hitoka kesepian di malam tahun baru nanti. "Dia bisa—"
Akiteru meletakkan sumpitnya, dan mendadak terlihat serius di hadapannya. Kei merasa ingin mendorongnya keluar dari ruang makan saat ini juga. "Kau tidak sayang lagi padanya, hm? Kalau begitu kenapa masih menggantungnya? Ya atau tidak, Kei. Pertahankan atau tidak sama sekali. Bukan begitu semestinya kau memperlakukan seorang manusia, terlebih yang spesial untukmu."
Kei membuka mulutnya, tetapi dia kehilangan kata-katanya. Dalam sekejap kalimat Akiteru terasa sangat benar dan dia tidak punya argumen sama sekali. Pertahankan atau tidak sama sekali. Sekarang dia bertanya pada hatinya, apa yang sesungguhnya membuatnya melancarkan aksi perang dingin pada Hitoka?
"Kau sayang pada Hitoka-chan?"
"Kenapa kau harus menanyakannya?" Kei masih berusaha defensif.
"Kau masih ingin bersamanya apapun yang terjadi?"
Kei diam. Tentu saja iya.
Dia merunut kembali apa yang membuat mereka berdua seperti ini. Pembicaraan tentang masa depan; yang kemudian berujung pada Hitoka yang belum bisa kembali ke Sendai jika mereka menikah nanti. Mungkin mereka harus menjalani hubungan jarak jauh sementara Hitoka mengusahakan untuk pindah ke Sendai atau mencari pekerjaan baru di sana. Kei ingin mereka tinggal bersama, Kei ingin mengubah kebiasaan perjalanan shinkansen dua jam setiap akhir minggu menjadi pertemuan yang hangat di tiap malam di rumah sendiri.
Itu hanya pembicaraan biasa, tetapi mereka punya ego dan ketakutan akan masa depan yang tidak pasti.
"Kei, kau belum menjawab."
Kei menggumam, "Tentu saja iya."
"Bilang maaf padanya." Akiteru tersenyum lebar, seakan-akan yang tadi tak pernah ada. "Hitoka-chan cuma ada satu di dunia, jangan sampai kau lepaskan yang seperti dia."
Kei benci sekali mengakui bahwa Akiteru benar.
.
Hitoka, maaf.
Ayo kita bertemu di malam tahun baru.
Hitoka memandangi pesan itu setengah tidak percaya.
Untung saja ia belum memesan tiket kereta ke Tokyo.
Aku juga minta maaf.
Baik. Di mana aku harus menunggu?
.
Mereka—lebih tepatnya Kei—membiarkan Akiteru pulang lebih dulu. Akiteru hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah mereka berdua. Sang kakak kemudian melebur di antara para pejalan kaki yang turun dari bukit, langkahnya cepat dan membuatnya lekas sekali menghilang dari pandangan Kei dan Hitoka.
Hitoka melonggarkan syalnya, mengembuskan napas dalam kepulan uap dan ia menggosokkan tangannya di depan mulutnya. Sarung tangannya tipis, yang lebih bagus ia tinggalkan di Tokyo dan ia tak punya banyak lagi barang yang tertinggal di Sendai.
"Hitoka—"
"Kei—"
Hitoka mendongak dan tersenyum canggung. "Kau duluan."
"Kau saja."
Hitoka menggeleng. Kei pun mengalihkan pandangannya. Pipi Hitoka merah karena cuaca yang mendingin, membuatnya benar-benar kehilangan fokus. Tidak mungkin dia mencium Hitoka begitu saja di tempat seperti ini karena perempuan ini terlalu menggemaskan.
"Maaf." Dia membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Egonya terjun bebas, tapi tak mengapa. Selalu ada yang pertama untuk berbagai hal.
"Kei-kun, kita sudah bicara tentang hal ini, kan?" Hitoka tertawa kecil, Kei masih belum ingin melihat wajahnya. Hitoka tertawa dengan pipi merah seperti stroberi, dan wajahnya pasti semanis kue strawberry shortcake—Kei tidak mengerti kenapa neuron-neuron otaknya justru menyamakan Hitoka dengan kue favoritnya sekarang. Rasanya agak menyebalkan, masih jatuh cinta seperti anak SMA saat mereka bukan lagi remaja.
"Yang lalu, biarlah berlalu. Sekarang tahun baru, mari kita pikirkan hal-hal yang lain." Langkah Hitoka ringan, ia seperti ingin melompat-lompat sambil berjalan. "Tadi kau mengucapkan permohonan apa, hm?"
Kei berhenti berjalan. Hitoka menelengkan kepala, matanya mengerjap jenaka. "Kei-kun?"
"Aku berharap ...," dia setengah berbisik, membuat Hitoka mundur sedikit dan mendekatinya, "... kau."
"Aku?" Hitoka menunjuk dirinya. "Kenapa dengan aku?"
"Kau menerimaku."
"Oh Kei-kun, kita sedang berpacaran. Jelas aku menerimamu."
"Sebagaisuamimu," gumam Kei dalam satu tarikan napas.
"Apa?" Hitoka melangkah lebih dekat lagi, bahkan berjinjit di depan Kei. "Apa, apa? Maaf, aku tidak mendengarmu."
Kei meletakkan tangannya di kepala Hitoka, mengucek rambutnya karena merah di wajahnya itu benar-benar membuatnya tidak tahan lagi. Bolehkah mencium perempuan ini sekarang?
"Aku ..." Kei mengembuskan napas, yakin bahwa tidak ada jalan mundur lagi dan dia tak mungkin menarik kata-katanya kembali. "Ayo kita menikah."
Hitoka tersentak dan menutup mulutnya. Matanya membulat tanpa berkedip.
"Aku tahu aku sudah menjebakmu dalam suasana sulit dengan memiliki hubungan denganku," tangan Kei turun untuk menggenggam kedua tangan Hitoka, "dan mungkin akan lebih sulit lagi karena kita akan hidup bersama, lalu lebih sulit lagi karena aku tidak bisa menemanimu di Tokyo—"
Mulut Kei tertutup karena Hitoka segera mengalungkan tangan di lehernya, memeluknya erat sambil bicara, "Lamaran konyol macam apa ini, Tsukishima Kei?"
Kei mendengkus sambil membalas pelukan Hitoka. "Tidak penting seperti apa lamaranya, yang terpenting adalah jawabannya."
"Tentu saja, mana mungkin jawabannya tidak, huh?" ia tersenyum saat menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kei. "Aku dengan sukarela menjebak diriku dan tidak ingin pergi."
Kei memeluknya semakin erat seakan-akan tahun yang baru tidak akan dimulai jika dia tidak melakukannya.
"Kita pikirkan soal tempat tinggal nanti, ya, Kei-kun," bisik Hitoka. "Kita akan baik-baik saja."
"Ya, kita akan baik-baik saja," Kei mengulanginya, lebih untuk memberi keyakinan akhir pada dirinya sendiri.
end.
.
.
a/n: intinya cowo yang satu ini takut sama ldr (yha)
