REASON

Busujima Mason Riou x Aohitsugi Samatoki

Slight!: Jyuto x Doppo x Hifumi, Hitoya x Jakurai

©King Records, IDEA FACTORY, Otomate. Saya hanya meminjam karakternya.

WARNING! It's just BL-fiction, no-beta reader, OC-included, typo(s)? No, you didn't see that /sobs

Enjoy^^~

000

Chapter 1


"Piercing baru, Samatoki?!"

"Berani sentuh, kubunuh!" ancam Aohitsugi Samatoki menepis sebuah tangan yang memegang daun telinganya yang tersemati oleh anting-anting baru.

Iruma Jyuto menghela napas, jari tengahnya mendorong bingkai kacamata agar presisi. Pemimpin organisasi siswa dengan rambut selalu rapi ini tengah mengomentari penampilan Samatoki di perpustakaan. Angin bertiup pelan diiringi gugur daun yang tidak sengaja mendarat di halaman bangunan. Sinar matahari sore berubah hangat, berbeda dengan siang tadi yang terasa seperti ruang sauna. Kegiatan tambahan siswa akan selesai sekitar satu jam lagi.

Penampilan Samatoki sedikit berbeda dengan siswa lainnya, rambut yang dibiarkan lebih panjang beberapa senti, gelang di tangan kanan-kiri, serta kancing kemeja yang sengaja dibuka dari atas, persis dua jari. Kali ini apa? Anting-anting baru berwarna hitam? Jelas Jyuto menjadi cerewet.

"Kau sadar ini masih di lingkungan sekolah, 'kan?"

Samatoki memutar kedua bola mata, "Aku sadar kalau jam pelajaran sudah selesai. Jadi, apa yang membuatmu memanggilku, Yang Mulia?" tanyanya kemudian.

Jyuto tampak ingat sesuatu, tubuhnya bergeser ke meja pertama dengan tumpukan buku yang belum disampuli. Laki-laki ini membawa dua buah buku cukup tebal dan langsung diberikan pada Samatoki.

"Aku tidak pinjam buku." Kata Samatoki sambil menerima buku tersebut.

"Memang tidak, tapi aku ingin kau mengantar buku ini."

Samatoki memandang Jyuto, "Namanya ada kartu, sepertinya dia lupa membawa buku pinjamannya." Sambungnya.

Orang bodoh mana yang lupa dengan barang sepele kaya gini, batin Samatoki.

"Bagaimana aku bisa tahu keberadaannya, Yang Mulia?" mendengar itu, Jyuto memukul lengan Samatoki cukup keras hingga membuatnya meringis. Telingannya mulai panas mendengar embel-embel Yang Mulia.

Kembali normal, Jyuto lalu mengambil kartu peminjaman yang ada di halaman terakhir. Kepalanya mengangguk dua kali, sebagai siswa teladan ia hafal banyak nama siswa di sekolah khusus laki-laki ini. Jyuto melirik jam tangannya, kemudian menatap Samatoki.

"Dia harusnya ada di ruang olah raga. Oh iya, selamat atas peringkat keduamu tahun ini. Kau pantas mendapatkannya." puji Jyuto menepuk bahu Samatoki mengakrabkan diri. Samatoki menyipitkan mata, ia tahu Jyuto hanya ingin memberitahu bahwa peringkat pertamanya tidak akan direbut orang lain. Namun, Jyuto sadar jika kemampuan Samatoki perlu diwaspadai.

"Pertanyaan, kenapa harus aku?"

Jyuto tersenyum, "Karena aku sibuk, dan kau tidak." Tunjuknya dengan kedua tangan.

"Sibuk?! Kau bahkan hanya keluar-masuk perpustakaan tanpa membawa apapun?!" protes Samatoki mengibaskan kedua buku itu.

"Aku sedang mengatur ulang penempatan ensiklopedi dari blok A sampai Z, SEN-DI-RI-AN." Jelasnya dengan pemenggalan kata sendirian.

Samatoki mengangguk singkat, kemudian pelan-pelan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai.

"Sendiri, huh? Lalu siapa laki-laki yang gemetaran itu?" tanya Samatoki menunjuk lurus belakang Jyuto.

"Hah? Apa maksud—"

Seseorang datang memotong pembicaraan, "Jyuto-san, sepertinya aku tidak sengaja menumpahkan minuman di beberapa buku baru, aku minta maaf..." kata Kannonzaka Doppo membiarkan tetesan air membentuk genangan di lantai.

Jyuto diam, dia bergerak tidak nyaman; mengubah suasana menjadi canggung; hanya terdengar samar-samar suara angin dan tetesan air. Samatoki tetap berdiri menunggu alasan Jyuto selanjutnya.

Ia berdehem menahan malu, "Kannonzaka-kun, sudah aku bilang dilarang membawa minuman dan makanan."

Doppo menatap heran ke arahnya, "Ta-tapi kau sendiri yang membelinya, untukku." Katanya mengklarifikasi.

Samatoki menahan tawa, mencemooh Jyuto secara tidak langsung. Yang bersangkutan gelagapan, ia lantas memutar tubuh menghindari tatapan Samatoki.

"Sudah sana! Aku punya urusan lain!" usir Jyuto mengibaskan telapak tangan, lagi-lagi enggan melihat Samatoki.

"Oi, Doppo, aku turut berduka atas pantatmu yang malang…" pamit Samatoki sebelum Jyuto berbalik dan memelototinya.

"TUTUP MULUTMU!" dia bisa mendengar bentakan Jyuto saat menutup pintu perpustakaan.

Samatoki menaruh tas di bahu dengan asal, kedua matanya melihat halaman terakhir buku dan mengambil kartu peminjaman. Kakinya berjalan lurus menyusuri koridor yang hanya terisi beberapa siswa. Letak ruang olahraga berada tidak jauh dari tempat parkir, mungkin tidak ada ruginya juga, setelah menyerahkan buku dia bisa langsung pulang. Ngomong-ngomong buku apa itu?

Buku metode perhitungan dasar matematika SMA.

Kedua, Buku tentang jenis-jenis serangga air tawar.

Samatoki menaikkan sebelah alisnya, terheran-heran dengan jenis buku tersebut. Kemudian, pandangannya teralihkan pada nama yang tertera pada kartu.

"Busujima… Mayson, MasionMason Riou?" ejanya tidak sadar sudah dekat pada lokasi yang dituju. Samatoki mengendikkan bahu tidak peduli, sekarang kau hanya perlu masuk dan memberikan buku aneh itu pada siswa bernama Riou.

Ruang olahraga begitu sepi, Samatoki masuk lalu melihat sisi kanan kiri. Tidak ada siapa-siapa, apa dia sudah pulang? Atau Jyuto hanya mengerjainya? Tidak, jelas-jelas ada nama peminjamnya. Samatoki putuskan untuk melihat sekitar sekali lagi.

Baru lima langkah, telinga Samatoki mulai berdengung, waktu melambat bersamaan dengan sesuatu yang mendekat; tepat di samping wajahnya. Samatoki tidak sempat menebak benda apa itu, yang pasti hantaman benda tersebut mampu menumbangkannya.

DHUAGH! Suaranya amat keras dan menggema. Samatoki tersungkur dengan posisi wajah jatuh mencium lantai lapangan.

Isi kepalanya berputar, adrenalinnya tertekan persis seperti turbulensi pesawat untuk pertama kali. Dalam sisa-sisa kesadarannya, Samatoki dapat merasakan uluran tangan yang merengkuh tubuhnya, entah hendak dibawa ke mana. Ingin sekali laki-laki ini terus membuka mata, tetapi pandangannya mulai menghitam.

Sialan. Umpatnya sebelum tidak sadarkan diri.

000


Rasanya, dingin.

Sebuah erangan terdengar di ruang kesehatan. Seorang dokter sekaligus menjadi penanggungjawab bidang kesehatan lingkungan sekolah bergegas membuka tirai berwarna biru muda. Jinguji Jakurai tersenyum kecil melihat Samatoki mulai sadar. Pria berusia 29 tahun ini mendekat, tangannya mengambil kompres es di sisi kanan wajah Samatoki pelan-pelan. Sensasi dingin itu hilang, tergantikan dengan linu dan perih yang menyerangnya secara bersamaan.

"Samatoki-kun, apa kau bisa mendengarku?" tanya Jakurai memandangi telinga kanan Samatoki yang terbalut perban.

"Sangat jelas Senseiakh!" Samatoki mengerang lagi saat tangannya mencoba memegang daun telinganya. Samatoki bingung, ada bercak darah yang memenuhi kerah seragamnya.

Jakurai memamerkan jari telunjuknya tepat di hadapan Samatoki, "Ikuti jariku, Samatoki-kun." Perintahnya yang langsung dituruti Samatoki. Kedua matanya mengikuti irama jari tersebut dengan baik.

"Bagus." Jakurai bersyukur anak ini tidak gegar otak. Berikutnya, pria berambut lavender ini sibuk mencatat informasi.

Dia bertanya lagi, "Apa kau merasa mual?" Samatoki mendesis sambil menggeleng. Senyuman Jakurai entah bagaimana bisa membuat Samatoki sedikit lebih tenang.

Jakurai menyudahi kesibukannya dengan kertas dan bolpoin. Ia beralih pada persediaan obat-obatan di dekat meja kerja. Samatoki melirik satu-satunya jam ruang kesehatan, sekarang menunjukkan pukul 05.30 sore. Ia pingsan hampir satu setengah jam, dia akan pulang terlambat dan otomatis adik perempuannya akan mengomel –karena khawatir.

"Aku kehabisan stok obat luar dan perban jadi akan mengambilnya di meja kantor. Tunggu di sini Samatoki-kun. Jangan kabur." Kata Jakurai mulai keluar dari ruangan tersebut.

Samatoki mengubah posisi menjadi duduk, ia seperti merenungkan semua hal yang baru saja terjadi. Pertama, karena Jyuto si keparat itu seenak udelnya menyuruh untuk memberikan buku aneh pada orang yang bahkan Samatoki tidak tahu. Kedua, benda sialan yang dengan tidak sopan menyapa wajahnya hingga jadi bonyok begini. Apa ya istilahnya?

Oh iya, sudah jatuh ditimpa tangga pula.

"Sensei, apa aku boleh- huh?" awalnya Samatoki mengira jika Jakurai sudah kembali. Namun penglihatannya dihadapkan pada seorang laki-laki jangkung berambut ginger yang melangkah semakin dekat.

Laki-laki itu bertubuh besar dan tegap, rahang tegas membingkai wajahnya. Samatoki langsung menaruh atensi pada sorot mata biru yang tajam.

Tiba-tiba, "Aku minta maaf." Ucap siswa tersebut sambil dogeza.

Ah, Samatoki paham. Tidak salah lagi, dia Busujima Mason Riou, siswa yang harusnya ditemui. Satu-satunya alasan paling masuk akal yaitu Riou merupakan orang di balik insiden ini.

"Oh, jadi ini ulahmu?!" pertanyaan retoris muncul seraya Samatoki melipat tangannya di dada. Memandang rendah Riou dari atas ranjang.

Kepala Riou semakin tenggelam, "Aku tidak sengaja. Aku minta maaf." Suara baritone itu membuat Samatoki terdiam, suara itu sungguh cocok dengan karakternya; datar sekaligus membosankan.

"Tidak sengaja!? Jelas-jelas bola sialan itu mengarah tepat ke wajahku!" bentak Samatoki sambil meraba-raba hidungnya yang masih mengeluarkan darah.

"Aku sungguh minta maaf."

Samatoki menghela napas berat, ia sedikit jengah karena tidak mendapatkan perlawanan dari Riou. Benar-benar membosankan, tebakannya tepat. Samatoki melirik kedua sisi, mencari dua buku aneh yang dibawa dari tadi. Buku itu tertumpuk rapi di atas meja.

"Ini." Riou mendongak saat tangan Samatoki terulur memberikan dua buku sekaligus.

"Di otakmu cuma ada bola basket ya? Sampai lupa dengan barang sepele seperti itu?" cibir Samatoki mulai turun dari ranjang, mencari cermin untuk melihat keadaannya.

Pandangan Riou mengikuti langkah Samatoki, "Uwahbonyok begini." Lirih Samatoki melihat pantulan dirinya.

Setengah wajahnya memerah, bengkak di sekitar pelipis dan pipi. Di tambah telinga kanan yang sedang diperban, telinga yang baru saja Samatoki tindik, dan tidak lupa jejak darah kering mengalir kedua lubang hidungnya. Rasa sakit dari bengkak tidak seberapa, tapi sensasi menusuk dari luka telinganya sungguh mengganggu. Samatoki menghadapi hari yang berat.

Kalau dipikir lagi, kapan Samatoki bebas dari hari yang berat? Masa lalu yang kelam masih bertahan dalam bayang-bayang. Ini bukan waktu yang tepat untuk menengok ke belakang, terlalu banyak hal yang pahit sudah berhasil ia telan, untuk apa diingat lagi?

"Dua minggu."

"Hah?!" perkataan Riou membawanya ke dunia nyata. Samatoki mendapati Riou sudah berada di sampingnya.

"Butuh dua minggu untuk pemulihan telingamu."

"Ha-ha. Omong kosong." ucap Samatoki menyembunyikan kepanikan setengah mati.

"Jakurai Sensei bilang kalau telingamu infeksi. Itu akan sembuh setidaknya dua minggu… Atau mungkin lebih." Jelas Riou datar. Samatoki heran, orang ini begitu tenang.

"Sempurna." Samatoki mengacak rambutnya frutrasi. Langkahnya gontai kembali ke ranjang, dia sudah membayangkan bagaimana adik perempuannya berusaha menahan tangis sambil bertanya, berantem sama siapa lagi? Namun tangannya terus mengobati luka-luka Samatoki. Laki-laki ini tidak mau membuat adiknya sedih untuk kesekian kali.

Ini semua gara-gara dia.

Samatoki memicingkan mata, memberi tatapan membunuh ke arah Riou.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?" tanya Samatoki dengan alis menukik, marah sekaligus penasaran.

Riou duduk di sampingnya, kalau dari dekat Samatoki bisa melihat perbedaan tubuh mereka. Tidak heran jika Riou menjadi salah satu pemain tetap tim basket sekolah. Dia berpenampilan hampir sama dengan Samatoki, kaus hitam dibalut seragam lengan pendek.

"Aku cuma latihan passing. Aku tidak menyangka kalau terlalu keras." Jelasnya. Samatoki hanya memandangi cekungan mata laki-laki ini, begitu dalam seperti nada suaranya. Apakah dia salah satu anggota program pertukaran pelajar?

Samatoki masih memandang sinis, "Siapa bajingan yang mengajarimu teknik passing bar-bar seperti itu?"

Riou menunduk, "Belum lama ini aku menonton anime-" sebelum menyelesaikan jawaban, Samatoki menghadiahi bogem mentah tepat di kepala Riou, membuat pemiliknya mengerang kesakitan.

"JANGAN SAMAKAN DUNIA NYATA DENGAN ANIME, GOBLOK!" geram Samatoki gagal menampung luapan emosi. Tangannya sampai bergetar menahan amarah, awalnya Samatoki ingin mencari tahu orang itu, tapi karena hal tersebut Riou pelajari dari anime, Samatoki tidak bisa apa-apa selain menghajarnya. Tak habis pikir, itu merupakan alasan paling bodoh yang pernah ia dengar selama hidup di dunia.

Riou mengusap belakang kepalanya yang masih terasa panas, salah satu matanya menyipit, "Aku hanya ingin mencobanya." katanya membela diri.

"Ya, dan berakhir seperti ini." Samatoki menunjuk dirinya sendiri.

"Berpikirlah sebelum bertindak. Bodoh." Sambungnya.

Helaan napas kembali terdengar, "Jadi, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku?" tanya Riou menyerah karena permintaan maafnya tidak ditanggapi.

Samatoki terdiam sejenak. Biasanya ia akan mengajak siapa pun untuk duel, tapi kali ini karena dia tidak melihat potensi Riou dalam bela diri jalanan, Samatoki harus memikirkan solusi lain yang setimpal. Ia bisa membayangkan bagaimana bosannya menghajar seseorang yang nyaris tidak memiliki motivasi seperti Riou –lebih kurang seperti itu dalam persepsi Samatoki.

Oh, Samatoki dapat ide.

"Makan siang." Katanya memecah kecanggungan yang sempat tercipta.

Riou menoleh, "Makan siang?" ulangnya sedikit mencondongkan badan.

"Kau harus menraktir makan siang untukku, selama dua minggu… atau lebih." Jelas Samatoki dengan seringai andalannya. Jika dia bisa menghemat pengeluaran dengan tidak membeli makan siang, maka ia juga dapat membeli gitar elektrik sebelum hilang dari etalase. Sempurna, rencana yang sempurna.

"Itu saja?"

Samatoki melanjutkan, "Kau juga harus mengerjakan piket harian kelasku lalu menggantikanku sebagai relawan perpustakaan. Makan siang tadi kalau tidak ada daging, TIDAK AKAN DIHITUNG. Itu belum termasuk kegiatan mendadak lain. Dan terakhir kau harus menuruti semua perintahku, apapun itu."

"Tidak masalah." Ucap Riou enteng.

"Heeeh…" Samatoki tersenyum mengejek. Punya nyali juga, dia.

Jika Riou tidak bisa melakukan permintaannya yang –sungguh demi Tuhan- sangat payah ini, tidak ada pilihan selain menghajarnya habis-habisan. Jujur, Samatoki ingin sekali merontokkan deretan gigi rapi Riou.

"Kita sudah sepakat, Riou." Kata Samatoki.

"Ya. Samatoki."

Sudah kesekian kali Samatoki dibuat kaget oleh laki-laki ini, "Dari mana kau tahu namaku?"

Riou bangkit dari duduknya, "Jakurai Sensei memberitahuku."

Terdengar kegaduhan dari luar. Suara itu semakin jelas berada di balik pintu ruang kesehatan. Kedua siswa itu yakin kalau Jakurai sedang bicara dengan orang lain.

Pintu terbuka dengan keras, disusul dua orang masuk secara bersamaan. Samatoki dan Riou melihat tangan Jakurai dalam genggaman salah satu guru mereka; Amaguni Hitoya pemegang mata pelajaran Ekonomi yang terkenal tegas dan berpenampilan edgy. Samatoki selalu penasaran bagaimana dia menggulung rambutnya hingga tampak seperti angin puyuh.

Suasana menjadi sangat kaku, Samatoki dan Riou saling pandang, sama-sama tidak nyaman.

"Sudah aku bilang masih ada anak-anak!" bisik Jakurai tampak marah.

Hitoya lantas melepas genggamannya, merapikan kemeja yang kusut. Dia harus bertingkah senormal mungkin untuk menghindari pemikiran aneh oleh anak didiknya.

"Ji-Jinguji Sensei, kau melupakan ini." Ucap Hitoya gugup sembari melempar perban baru ke atas meja. Kemudian keluar seakan mengabaikan kehadiran dua siswa di sana.

Jakurai menggeleng kesal, di sisi lain semburat merah muda muncul pada permukaan pipinya. Ia sangat malu.

Riou berkedip dua kali menelaah apa yang sedang terjadi.

Namun Samatoki sibuk menatap Riou.

Ia tersenyum, Samatoki akhirnya memiliki peliharaan baru.


To be continued.


Uh.. hai HEHE

/wiping sweat/ akhirnya bisa bikin RiouSama lagi.

Ini kali pertama saia bikin ff series, semoga bisa selalu konsisten dan selesai. Kali ini entah kenapa pengen bikin yang school life biar lebih unyu/? gitu tapi kayaknya gagal/HEH

THANK YOU FOR THE VERY BEAUTIFUL COVER made by: We-Ichi on Pixiv. Go follow and support them! ^w^b

Semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak yas~ biar semangat ngupdatenya HAHAHA.

Sampai jumpa di chapter berikutnya, arigatou gozaimasuuu~~