Chapter 5


"Sasara jawabanmu berubah-ubah tiap kali aku bertanya." keluh Jyuto berhenti pada anak tangga ketujuh saat membicarakan keberadaan Samatoki, pintu besar bangunan bergaya eropa klasik sudah di depan mata. Satu per satu siswa berkumpul di ruang utama sembari menunggu pengarahan selanjutnya. Bangunan bersejarah itu laksana benteng gagah yang berdiri depan jalan raya, di bagian dalam terdapat pilar-pilar pembentuk cerita awal Yokohama hingga abad modern.

Kembali pada bibir Sasara yang bergerak-gerak ingin mengatakan alasan terkuat bagi sang pemimpin dewan siswa.

"Jadi?"

"Jangan marah."

"Aku tidak akan marah kalau kau jujur."

"Samatoki salah naik bus, dan aku yakin dia sekarang sedang ikut training camp bersama klub basket." Tutur Sasara sambil menunjukkan pesan singkat di ponsel pintarnya. Sasara sedikit takut dengan reaksi siswa berkacamata itu.

Jyuto menunduk sambil memijat pangkal hidungnya, melihat itu Sasara segera menyela, "Aku tahu ini salahnya bermain game sampai larut malam, dan-"

Jyuto mengangkat tangan tanda berhenti, "Aku mengerti. Itu lebih dari cukup, Sasara." Setidaknya ia tahu apa yang harus dikatakan kepada guru pembimbing. Selanjutnya terserah mereka, tugas mandiri mungkin menjadi satu-satunya pilihan.

"Kau tidak akan menghukumnya 'kan?" tanya Sasara sembari mengajak Jyuto masuk.

Ia menggeleng, "Aku tidak punya hak untuk itu, lagi pula aku 'kan bukan guru. Oh, terima kasih atas informasinya."

"Aku tidak akan pernah terbiasa dengan gaya bicaramu yang sangat formal –dan tidak keren itu."

"Kau tidak perlu memaksakan diri."

Tiba-tiba ia mengangkat tangan, "Habis ini kita mau ke mana? Red Brick Warehouse? Oh! Oh! Atau mungkin Museum Seni?" tanya Sasara dengan alis naik turun penuh antusias.

Jyuto tersenyum hangat,

"Langsung pulang." Jawaban Jyuto membawanya pada perasaan kecewa.


-0-

Rasanya tidak adil jika hanya bisa melihat sekumpulan laki-laki berlari dari sisi lapangan menuju sisi lain untuk mencetak angka sedangkan kau hanya berdiri di sebelah keranjang bola, dan mengenakan kaus nomor punggung 11 yang berbau apek. Raut kecemburuan bercampur menyesal tidak bisa Samatoki sembunyikan melihat dua tim saling menghajar tanpa meninju. Suara decit sepatu beradu dengan lantai menggema di ruangan tersebut, perolehan skor sementara adalah 39-40 dengan keunggulan tim lawan. Samatoki melirik penanggung jawab klub basket –sekaligus semua klub, Rei yang terlihat berpikir. Alisnya sesekali menukik mengomentari performa anak didiknya, dia bahkan tidak segan untuk berteriak.

Suara teriakannya persis pada saat Rei memintanya untuk masuk dalam pertandingan. Tentu dia terkejut tetapi ternyata itu bukan ide buruk, Samatoki sedikit senang bisa menyumbang dua angka. Benar adanya, ketegangan akan dirasakan ketika kita terjun langsung dalam situasi tersebut. Namun ketegangan itu tak berselang lama berubah menjadi nuansa bosan dengan aroma keringat bercampur kaus pemain pengganti lagi.

Rei berdiri, tangannya mengayun ke arah zona lawan dengan cepat, Samatoki mengalihkan pandangannya menuju seseorang pemegang permainan. Dentuman bola karet beradu dengan lantai mengarahkan fokusnya kepada seorang laki-laki bernomor punggung tiga. Telinganya kembali berdengung, hal itu seolah menjadi sesuatu yang kultural akan peristiwa masa depan. Waktu menjadi lebih lama, dan gerakan dinamis manusia di sana terasa lebih lambat.

Ah, itu dia.

Si nomor punggung tiga; penjaga sekaligus pemeran utama, Riou Mason Busujima. Riou melompat tepat melewati zona tembak, Samatoki -mungkin bahkan semua orang di sana menegang menyaksikan gerakannya. Genggaman Samatoki pada keranjang bola mengejan, bulir keringat jatuh dari ujung dagunya, degup jantungnya terdengar hingga telinga.

Kedua matanya terkunci, terkesima. Kagum tanpa suara.

Bola berhasil masuk dengan Riou yang masih bergelantungan di ring untuk beberapa detik. Kedudukan berubah menjadi 42-41, kemenangan tipis bagi tim basket sekolahnya. Genggaman Samatoki merenggang seiring dengan bunyi panjang peluit.

"Hey!"

"Hey! Kau!"

"AOHITSUGI SAMATOKI!" panggilan ketiga menyadarkan Samatoki. Rei menunjuk beberapa botol minum dalam kotak pendingin yang harus segera dibagikan kepada anggota tim.

"Ya Sensei!" jawab Samatoki mulai bergegas.

Kegiatan penutup latih-tanding adalah makan malam bersama. Banyak orang yang mondar-mandir menyiapkan makanan. Begitu berhadapan dengan bahan makanan, para siswa dan panitia penyelenggara bergerak secepat robot. Sama seperti Samatoki. Menu kali ini kari dan daging barbeque. Tangan Samatoki memotong wortel secara presisi, di depannya masih ada bawang bombay dan kentang yang menunggu. Meski dikelilingi anggota divisi penyedia makanan yang sebagian besar wanita, Samatoki tidak terganggu sama sekali. Memasak sudah ia tekuni sejak sang ibu meninggal dunia. Tak mau bergantung kepada ayahnya, Samatoki memilih hidup terpisah bersama Nemu. Mereka memang sering bertengkar, akan tetapi sang ayah setiap bulan selalu menyisipkan amplop berisi lembaran uang di bawah pintu unit sewaan Samatoki.

"Aohitsugi-kun, tolong tata piring di sebelah sana. Nasi dan karinya sudah siap. Terima kasih atas bantuanmu." Kata seorang wanita dua puluh tahunan berambut hitam lurus sebahu. Jari lentiknya menunjuk panci besar berisi kari batch pertama.

Samatoki mengangguk, "Baiklah. Mohon bantuannya."

Bergegaslah Samatoki untuk menata piring di atas meja. Kemudian perlahan menuang nasi diteruskan kari yang sama-sama panas. Beberapa siswa pun mulai mengantri.

Samatoki harus cekatan, hanya beberapa detik kesempatannya untuk mengistirahatkan bahu. Piring berkurang, antrian juga satu per satu hilang. Samatoki sempat menyeka peluh di dahi sambil menunggu isi ulang kari dan nasi. Dalam waktu singkat ini Samatoki melayangkan pandangan ke arah para siswa yang melahap makanan.

Jauh, jauh sekali Samatoki mendapati Riou yang duduk bersama rekan setimnya. Mata Samatoki harus menyipit untuk memperjelas pandangannya.

"Ah, harusnya aku lebih cepat saat mengoper padamu, Kapten." Keluh seorang laki-laki berambut biru cobalt sebelum memasukkan makanan ke mulut.

"Ya, itu jadi salah satu dari sekian banyak evaluasi untuk hari ini." balas kapten tim kemudian.

Mereka melanjutkan aktivitas makan dengan tenang. Tak berselang lama, dentingan sendok piring Riou tiba-tiba berhenti, hal itu membuat teman-teman sebangkunya menaruh perhatian. Ada tanda-tanda puas serta tersirat setitik rasa takjub di raut wajahnya.

"Ada apa, Riou?" tanya salah seorang teman penasaran.

Riou mengusap ujung bibirnya dengan ibu jari, "Karinya….benar-benar enak." Kemudian tersenyum tipis.


-0-

Tenggorokan Samatoki kering.

Laki-laki itu menghabiskan lebih kurang 10 menit mengamati deretan minuman mineral hingga berkarbonasi. Suasana lorong terbuka sekolah itu bisa dibilang sepi. Semua siswa bersiap untuk istirahat di ruang kelas yang diubah menjadi lautan futon. Mereka akan bangun di sepertiga malam untuk mulai latihan dasar. Sungguh gila.

Setelah menetapkan pilihan, jari telunjuk Samatoki menekan minuman bersoda dua kali, berharap segarnya air dengan pemanis buatan itu bisa menjadi terapi bagi tenggorokan.

Uang Samatoki ternyata pas, ia tidak perlu menunggu gemerincing kembalian yang akan keluar dari mulut vending machine. Saatnya untuk menikmati minuman.

Ketika berbalik, Samatoki mendapati sosok tinggi yang tengah berdiri.

"Astaga, aku bersyukur tidak kena serangan jantung." Lirih Samatoki pada si jangkung nomor punggung tiga.

Mereka seperti sandwich, Samatoki diapit oleh Riou dan mesin minuman. Terlalu dekat, tiada ruang bagi Samatoki untuk bergerak. Kedua tangannya sedikit bergetar akibat dinginnya permukaan minuman, bukan karena mata biru Riou yang sedang memandangnya. Samatoki bisa memastikan itu.

Pertama kalinya Samatoki merasakan gaduh dalam dada, dan sejauh ini hanya laki-laki berdarah Amerika ini yang bisa membuat Samatoki tidak berkutik. Dia gugup. Tidak, dia lebih dari gugup. Bagaimana tidak? Ekor mata Samatoki dari tadi melirik was-was tangan Riou yang merangkak naik hingga sejajar dengan pelipisnya. Wajah itu mendekat, bahkan dahi mereka nyaris bersentuhan.

Apa-apaan ini? Rutuk Samatoki.

Tiba-tiba terdengar bunyi, Piip! pertanda bahwa Riou sudah menjatuhkan pilihannya. Satu minuman jatuh menunggu diambil, akan tetapi dia memilih untuk mengamati wajah Samatoki dalam jarak sedekat ini untuk beberapa saat.

"Bukannya serakah, tapi aku terbiasa minum dua kaleng soda sebelum tidur." Ucap Samatoki memecah keheningan.

"Kau akan diare kalau terlalu banyak minum soda."

"Itu mitos." Jawab Samatoki mendorong dada laki-laki itu menjauh.

"Kau akan lari ke kamar mandi menjelang pagi." Balasnya merogoh minuman air mineral.

Samatoki lalu mendengus, "Sedang apa kau di sini? Harusnya kau sudah tidur bersama teman-temanmu." Katanya mengalihkan topik pembicaraan.

"Aku haus, habis jogging."

"Jogging? Jam segini?!" Riou mengangkat dua alis sambil meneguk minumannya.

"Kau melakukannya setiap hari?" tanya Samatoki menjaga jarak.

Riou menggeleng, "Tidak, aku hanya menyeimbangkan kalori."

"Oh, lagi program diet ternyata."

Riou memandang Samatoki beberapa saat sebelum berkata, "Nggak juga. Kari buatanmu sangat enak, aku tidak sadar makan terlalu banyak. Jadi aku membakar beberapa kalori sebagai gantinya."

"Kalau kau bilang begitu hanya untuk menyanjungku, percuma, tidak akan berhasil."

Riou terkekeh pelan, "Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kau sulit percaya padaku, Samatoki?"

"Aku tidak pernah mempercayai seseorang yang sudah melewati batas." senyum Riou lenyap begitu mendengar jawaban Samatoki. Keduanya teringat kejadian beberapa minggu lalu yang sukses meregangkan hubungan mereka.

Malam semakin dingin dengan dua orang yang membisu. Rasa haus sudah bukan menjadi prioritas, mereka sibuk menata pecahan kata-kata yang tersebar di udara. Riou duduk di satu-satunya bangku koridor terbuka, Samatoki enggan menyusul; ia mengantisipasi sesuatu yang lebih buruk terjadi. Astaga, betapa kakunya situasi ini.

"Aku sadar sudah melewatinya."

"Melewati? Kau sengaja menerjangnya." ralat Samatoki masih menggenggam kaleng, permukaan tangannya sudah sedikit membeku.

Riou menghela napas, "Kau benar. Aku terlalu memaksamu, Samatoki." sahutnya murung.

"Waktu itu, aku hanya berpikir jika kita punya perasaan yang sama dan… kau terlihat tidak keberatan sama sekali." sambungnya dengan wajah ditekuk.

Alis Samatoki menaut, membenarkan pepatah yang berbunyi semakin malam gaya bicara seseorang akan semakin ngelantur-ngalor-ngidul. Ya, itu terbukti sekarang.

"Tapi sekarang aku tahu di mana seharusnya aku berdiri."

Mason bangkit, "Mungkin kau sudah lelah mendengarnya, tapi aku minta maaf sudah lancang. Aku tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu, kecuali kau yang minta." Nadanya melirih pada empat kata terakhir.

"Ya, lakukan lagi dan kau akan berakhir di rumah sakit. Aku serius. Aku tidak peduli dengan reputasimu, Riou." ujar Samatoki dengan nada dingin mengancam.

Laki-laki berambut ginger ini terdiam mengerti.

Saat Samatoki bersiap pergi Riou berkata, "Tapi ada satu hal yang membuatku bingung."

Samatoki berhenti, Riou melanjutkan, "Kenapa kau bisa di sini, Samatoki?"

Laki-laki bermata ruby ini menggeram sambil menaruh dua kaleng dingin tersebut di masing-masing pipi, "Kau tuli ya? Aku salah naik bus. Seharusnya aku ikut kunjungan museum, melihat sejarah, dapat tugas kelompok… dan jika para guru sedang baik hati mungkin kami akan mampir ke kebun binatang atau akuarium untuk melihat alligator bermata tiga." Jelas Samatoki dengan nada meninggi.

"-terlebih… memangnya aku mau menghabiskan dua hari hanya untuk mengisi air minum dan mengelap bola? Yang benar saja!"

"Kau terlihat frustrasi."

"Frustrasi? Aku tertekan!"

"Ya, aku bisa melihatnya dari keringat yang ada di atas bibirmu."

Samatoki tersinggung, "Mendekatlah agar aku bisa menghajarmu."

Sabar Samatoki, masih ada dua hari yang harus kau lewati di neraka training camp ini.


-0-

"Sepertinya aku harus mulai menggunakan kacamata." Ucap Hitoya pada dirinya sendiri saat berhenti di bibir tangga. Ia sempat menyipit, memperhitungkan langkah untuk mencapai lantai dasar. Sebenarnya bukan masalah besar, hanya saja pandangan Hitoya terhalangi dua kotak besar berisi keperluan stationery dari ruang penyimpanan barang.

"Baiklah… semoga aku tidak mematahkan pinggangku." Ia mulai melangkah turun satu anak tangga.

Sejauh ini, baik-baik saja. Hitoya menengok ke depan, lalu mengambil derap kaki selanjutnya.

Penuh keyakinan Hitoya menambah kecepatan, karena setelah ini ia harus kembali ke ruang guru untuk menyelesaikan rekapan nilai akhir. Baginya, waktu itu lebih berharga daripada emas jadi jangan sampai disia-siakan.

Namun, pada turunan berikutnya pria ini sedikit gegabah.

"Sial!" outsole aus Hitoya tergelincir. Badannya terhuyung ke depan dan ke belakang menjaga keseimbangan. Cengkraman pada dua kotak merenggang, beberapa buku di atas permukaan kardus siap untuk terjun bebas.

Beruntungnya, insiden itu berhasil dicegah saat satu tangan terulur untuk menggapai barang yang hampir jatuh.

"Nyaris saja." Tutur Jakurai menangkap buku dan menahan tubuh Hitoya dari belakang.

Hitoya memandang Jakurai sejenak, lalu sadar, "Lepaskan tanganmu sebelum ada yang lihat." Katanya membebaskan diri.

"Eh? Aku 'kan hanya membantu."

"Mereka akan berpikir macam-macam!" desis Hitoya penuh penekanan. Akhirnya Jakurai melepas dekapan, ia memilih mengambil satu kotak dari tangan Hitoya.

"Tidak akan, kalaupun iya … biarkan saja." Sahut Jakurai menyamakan laju kaki.

"Tidak usah berlagak cuek. Kemarin dipegang tangannya saja sudah panik." cibir Hitoya diam-diam menyadari badan Jakurai yang kian hari kian tinggi.

Jakurai cemberut, "Waktu itu 'kan memang ada anak-anak di UKS. Kamu itu yang susah dibilangin."

"Iya, iya. Aku yang salah." Hitoya memilih mengalah.

Akhirnya mereka sampai di dasar tangga, tinggal menyusuri satu koridor lagi dan Hitoya akan sampai ke perpustakaan. Pria hampir kepala tiga ini memberi isyarat untuk menumpuk kotak kembali. Namun Jakurai tetap gigih membantu.

"Jinguji-Sensei. Tolong kembalikan, aku harus segera mengantarnya karena masih ada tiga dokumen yang menunggu." Kata Hitoya untuk terakhir kali.

Jakurai menghembuskan napas menyerah, "Terima kasihnya?" tanya pria ini kemudian.

"Te-ri-ma ka-sih Jinguji-Sensei. Sudah 'kan?" jawabnya malas.

"Oh iya, nanti makan malam di luar saja ya?" sambung Hitoya.

"Ide bagus, Amaguni-Sensei. Mengingat, aku tidak tahu kapan kita akan makan malam bersama, lagi." ucap Jakurai masih berusaha tersenyum.

Ah, tiba-tiba saja pinggang Hitoya pegal. Ia meletakkan barang bawaan ke lantai sebelum menanggapi ucapan Jakurai.

Mulai lagi deh, desah Hitoya dalam hati.

"Dengar, aku hanya mutasi bukan migrasi, Jakurai. Nadamu terdengar seolah aku akan pergi ke tempat antah berantah dan tidak kembali."

"Tolong jangan memanggilku dengan nama itu, kita masih di sekolah." Jakurai menginterupsi cepat.

Hitoya melipat kedua tangan di dada, "Kau sendiri, kenapa selalu membahas hal ini? Kau sengaja menyindir?"

"Apa salah kalau aku peduli padamu?" timpal Jakurai tak mau kalah.

"Apa susahnya untuk menerimanya?" tanya Hitoya menautkan alis.

"Apa susahnya untuk menolaknya?" tuntut Jakurai.

Lalu, mereka saling bungkam.

Surat pemberitahuan tentang mutasi Hitoya ke sebuah sekolah yang jauh dari peradaban kota sudah datang empat hari lalu. Di sana memang minim tenaga pengajar, dan sesuai dengan keputusan rapat besar sekolah bahwa mereka berinisiatif untuk turut mengirim beberapa orang. Hitoya menjadi salah satu dari lima guru. Jakurai sempat mencari informasi tentang sekolah yang terletak di seberang lautan tersebut. Selain minim tenaga pengajar, akses juga menjadi masalah yang signifikan. Bukan masalah infrastruktur, melainkan jarak tempuh darat ke laut cukup menguras waktu dan tenaga. Mau tidak mau Hitoya serta para guru harus menetap untuk sementara. Belum dengan perkara lain.

Hal itu juga tidak menjamin komunikasi akan berjalan lancar, karena Hitoya hanya memiliki dua hari libur dan ia tidak yakin jika pria itu sempat kembali ke rumah. Ia tidak bisa berbuat banyak. Jakurai hanya bisa berharap Hitoya bisa menjaga dirinya dengan baik.

Jakurai mencoba meredam tegangan emosi sesaatnya, pun Hitoya. Keduanya kini saling memandang dengan air wajah yang melunak.

"Kalau kau berubah pikiran, segera kembali. Kau mengerti, Amaguni-Sensei?"

"Tenang, aku pasti kembali. Aku akan baik-baik saja, aku janji." Katanya menenangkan Jakurai.

"Tapi kau juga harus janji." Sambung Hitoya sebelum melakukan peregangan pinggang seperti senam aerobik.

Jakurai memandang heran, "Janji?"

"Jangan mengancam putus lagi cuma gara-gara ini, okay? Kau harus ingat jika ada satu orang yang selalu menunggu hari libur untuk pulang."

Wajah Jakurai bersemu mendengar perkataan Hitoya, ia mengurangi jarak lalu bertanya, "Memangnya ada ya? Siapa?"

Hitoya tidak menyangka jika Jakurai akan menggodanya di saat seperti ini. Dengan wajah yang sama merahnya ia berseru, "AKU!"

Jakurai menahan tawa. Pria bertubuh jangkung itu mengangkat satu kotak lagi, melalaikan ucapan Hitoya. Sudah terhitung berapa kali Hitoya harus –wajib mengalah untuk pacarnya. Namun dalam urusan pekerjaan, tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu gugat –termasuk Jakurai. Dedikasi menjadi pengajar sudah mengakar dalam dirinya. Tegas dan keras menjadi ciri khas Hitoya, kendati dalam waktu dekat ia perlu mengganti metode bimbingan menjadi lebih adaptif.

Selagi berada di depan Hitoya, ia sempat mengulas senyum. Jakurai lega. Berkat Hitoya ia tidak tenggelam dalam egonya. Hitoya membawanya kembali ada alasan mengapa ia menjadi seorang medikus. Jika ia di posisi Hitoya, Jakurai pasti akan bersedia melakukannya. Di mana, kapan, dan bagaimanapun risikonya. Dua atau lima pasien yang datang bukan menjadi perkara, melainkan tentang hak mereka sebagai manusia.

Hitoya pernah bilang, jika seseorang sudah menjadi guru, bukan berarti dia akan berhenti belajar. Burung pun tidak akan selamanya mengudara, ia harus turun untuk bertemu hewan lain, entah itu musuh atau mangsa.

Dia pikir itu tidak ada bedanya dengan seorang penjaga unit kesehatan sekolah. Jujur, kau bisa mengganti kata guru menjadi subjek lainnya.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Hitoya berhasil menyusul Jakurai.

"Ah, tidak apa-apa."


-0-

Sepasang ruby Samatoki menangkap kedatangan Hitoya dan Jakurai di perpustakaan. Mereka terlihat kecil karena jarak pandang dan Samatoki hanya sebatas melihat melalui celah kolom etalase buku, ia nyaris menyatu sebagai latar belakang. Di sampingnya, Sasara tengah mencari buku tentang teori peradaban manusia, sudah ada tiga buku terkumpul tapi rasanya belum cukup.

"Menurutmu, aku harus membaca ensiklopedia atau biografi juga?" tanya Sasara sambil menyodorkan dua buku berbeda.

"Bagaimana jika kau membaca keduanya supaya aku tidak peduli?" timpalnya.

Sasara berdecak kesal sambil mengembalikan satu buku yang lebih tebal. Ia mengakhiri pencarian dan ingin segera meminjam. Sebelum berpaling, Sasara mendapati Samatoki yang berdiri dengan tidak nyaman, kuku-kukunya memukul etalase seperti menunggu sesuatu, tatapannya gelisah tak menentu.

"Kamu kenapa? Kebelet poop?" tanya Sasara.

Samatoki menggeleng, "Apa kau sudah selesai?"

"Yap."

Mereka pun keluar usai Sasara mengurus peminjaman buku. Tepat di depan deretan loker Samatoki tiba-tiba berhenti berjalan. Hal itu membuat alis Sasara menaut heran.

"Sasara." Panggil Samatoki dengan nada menggantung.

"Ada apa?"

Samatoki melirik sisi lain sambil menggigit bibir bawah. Ia berdebat dengan diri sendiri, menimbang-nimbang apakah hal ini perlu dibahas atau tidak. Akan tetapi di lain sisi, Samatoki penasaran sekali. Hal ini sudah menggangunya selama tiga hari.

"Nggak enak badan? Mau ke UKS?" tawar Sasara mencoba menggandeng Samatoki.

Lagi-lagi Samatoki menggeleng, kali ini dengan raut wajah muram.

"Sasara aku mau tanya sesuatu, tapi jangan tertawa." Ucap Samatoki kemudian.

Sasara tertegun, ekspresi Samatoki itu seperti anak lima tahun yang menahan buang air besar tapi malu untuk mengatakannya. Dia bingung harus khawatir atau tertawa.

Ia tergelak, "Tergantung, kalau pertanyaanmu lucu ya aku ketawa dong!"

Samatoki memandang kesal temannya, "Kalau gitu nggak jadi." Ia melengos melewati Sasara.

"Heee… bercanda-bercanda. Tapi aku serius Samatoki, kalau kamu kebelet poop aku bisa menunggumu."

Samatoki mengerang, "Lupakan soal poop!"

Sasara mulai mundur, "Okay, okay. Lalu apa?"

Samatoki didera kebimbangan lagi, tapi rasa penasarannya sudah tidak bisa terbendung. Bibir tipis itu mulai terbuka, "Apa jantungmu pernah seperti diremas dari dalam?"

Sasara terlonjak kaget dengan pertanyaan abstrak sekaligus mengerikan milik Samatoki, mata sipitnya membulat sempurna.

"Astaga Samatoki, apa kau baik-baik saja? Di mana yang sakit?" tanya Sasara memegang kepala-pundak-lutut-kaki Samatoki secara bergantian dengan satu tangannya yang bebas.

Samatoki menepuk dahi, "Aku ganti pertanyaannya. Apa kau pernah bertemu seseorang yang bisa membuat dadamu sakit? Maksudku seperti … bunyinya keras.. dan..uh—" tangan laki-laki itu membuat gerakan seperti meremas cucian basah. Sasara tahu jika Samatoki adalah orang paling payah dalam menjelaskan sesuatu, akan tetapi seingatnya tidak separah ini.

"Ngilu?"

"Bukan!"

Sasara menebak lagi, "Uh.. gugup?"

"Mendekati!"

"Oh maksudnya deg-deg -an?" tebak Sasara asal.

"Nah! Itu." balasnya secepat kilat.

Sasara sempat berpikir, lalu menjawab pertanyaan awal, "Aku selalu deg-deg-an kalau ketemu Amaguni-Sensei."

Sasara melanjutkan, "Aku pernah hampir ngompol saat dia memarahiku gara-gara tidak membawa buku Ekonomi." bisiknya.

Sasara menarik kesimpulan, "Jadi… jawabannya adalah Ya, pernah. Aku deg-deg-an setiap melihat Amaguni-Sensei karena dia menakutkan." Entah kenapa wajah Samatoki terlihat tidak puas pada jawaban Sasara, seakan bukan itu yang ia cari.

"Ah begitu." Kata Samatoki kecewa.

"Memangnya kenapa sih?"

Samatoki mengusap belakang leher, "Aku belum lama ini bertemu dengan seseorang. Setiap aku melihat dia, rasanya seperti…" Samatoki menepuk-nepuk dadanya sendiri, Sasara yang melihatnya hanya mampu menahan tawa karena gerakan Samatoki mirip seekor gorilla.

"Seperti yang kukatakan tadi, jantungmu diremas dari dalam sampai-sampai mau copot keluar!" terangnya begitu antusias saking penasaran.

"Apa dia bertampang seram?" sela Sasara.

Samatoki menggeleng cepat, "Tidak. Dia tidak bertampang seram, dia biasa saja. Tapi setiap kali kami bertemu, aku sadar jika aku mulai memperhatikannya. Mulai dari nada ketika berbicara, caranya berjalan bahkan saat dia mencetak angka—kau harus lihat saat dia melakukan slam dunk— dan masih banyak lagi. Selalu, dia selalu memenuhi pikiranku, meskipun berkali-kali aku mencoba melupakannya, tapi tidak bisa! Dia datang lagi dan lagi. Bukankah itu aneh?" papar Samatoki panjang lebar.

"Uh…" Kepala Sasara miring beberapa derajat, mencoba mencerna fenomena luar biasa yang dialami temannya satu ini. Melihat ekspresi bingung Sasara, cepat-cepat Samatoki meraih tangannya dan meletakkannya di dada untuk mendukung keluhan.

"Apa kau bisa merasakannya?"

Sasara mengangguk, "Ya, dadamu mengembang lima sentimeter." Sambil memencet kepalan otot itu seperti adonan roti.

"Aku serius, bajingan."

"Kau ingin aku merasakan apa? Yang ada cuma bunyi detak jantungmu dag-dug-dag-dug, goblok!"

Samatoki lalu menghempaskan tangan Sasara, "Tuh! Normal 'kan? Tapi kalau sama dia.." tiba-tiba ia berangsur lesu. Samatoki ganti menatap lorong lengang di depan mereka.

Ia kalut dalam kebingungan.

Sakelar dalam otak Sasara menyala, lampu bohlam imajiner muncul di atas kepalanya. Dia paham betul sekarang.

"Samatoki." panggil Sasara mengubah raut wajahnya menjadi bijak.

"Apa?!" Samatoki menyahut tidak sabaran. Ia masih mencari solusi tentang fenomena langka perasaannya.

Laki-laki bermanik emas itu memegang bahu Samatoki seraya berkata, "Hanya ada satu jawaban."

"Satu jawaban?"

Sasara tersenyum kecil, "Kau menyukainya."

Kau menyukainya.

Dua kata itu membuat Samatoki terpelanting hingga ke luar angkasa, pijakannya lepas seperti asteroid yang luntang-lantung di ruang hampa. Samatoki membisu tapi bibirnya membentuk huruf O sempurna. Sirkuit penalarannya ada yang putus, tidak heran jika Samatoki sekarang sedang mengalami fase korslet.

"Aku benar 'kan?" tanya Sasara sangat bangga. Ia sudah seperti Sherlock Holmes yang berhasil memecahkan teka-teki Keluarga Musgrave.

Samatoki terkesiap, akhirnya berhasil menginjak bumi, "Tidak mungkin." Sanggahnya menolak asumsi Sasara.

"Menyukainya katamu? Ha-ha-ha, mustahil." Kata Samatoki sambil tertawa gugup.

Senyuman Sasara makin mengembang, wajahnya mirip kucing sekarang, "Tidak perlu menyangkal Sama-chan, lagian… aku tahu kok orang yang kamu maksud."

Samatoki mulai panik, dia mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri mencari sosok yang ditebak Sasara.

"Tuh orangnya!" tunjuk Sasara menggunakan dagu.

Belum sempat Samatoki menoleh ke belakang, Sasara langsung berseru, "HEY RIOU! SAMATOKI MAU NGOMONG SESUATU!"

"Sasara—kau! Brengsek! Diam!" sergah Samatoki gelagapan. Ia berusaha meninju wajah Sasara tetapi sanggup menghindar.

Sosok yang dipanggil itu mendekat. Oh tidak, Samatoki hafal betul suara langkah kaki yang santai namun tegas itu, rasanya ia enggan memutar badan.

"Mau ngomong apa, Samatoki?" suara baritone membujuk Samatoki untuk membalik punggung.

Mereka kini bertemu pandang, sialan, dada Samatoki bukan hanya diremas-remas melainkan sudah menjelma menjadi lava yang meletup-letup. Rasa panas malu menjalar dari kaki hingga ujung kepala. Aneh, Samatoki tidak biasanya gagap dan gugup seperti ini.

Menyadari ada jeda cukup lama, akhirnya Sasara membuka mulut, "Samatoki tadi bilang mau mengajakmu untuk membeli gitar.. itupun kalau kamu lagi nggak repot. Hehe.." ucapnya menyikut lengan Samatoki memberi kode.

"Ka-kalau kau sedang sibuk tidak apa-apa, aku tidak memaksa." tambah Samatoki.

Riou menggeleng, "Tidak kok. Kapan?" tanyanya ringkas.

"Sabtu sore!" usul Sasara yang mendapat lirikan maut dari Samatoki.

"Oh. Okay, tidak masalah." Jawab Riou enteng.

"Apa kubilang Samatoki? Riou mau pasti mau." goda Sasara sebelum tertawa ringan.

"Diam!" perintah Samatoki masih jengkel.

Riou memasukkan kedua tangan di saku, "Ada lagi?"

Samatoki dan Sasara menggeleng serentak, Riou lantas permisi untuk melanjutkan perjalanan menuju kelas.

Samatoki menghela napas gusar, "Sekarang puas?" sementara Sasara hanya nyengir tak berdosa.

"Kau lolos kali ini, tapi kalau kau berani mencampuri urusanku lagi, aku akan mengirimmu ke tempat peristirahatan terakhir."

"Semua ancamanmu itu omong kosong, Samatoki. Aku tidak pernah takut, lagi pula tidak bisakah kamu berterima kasih atas salah satu kejeniusanku ini? Sepertinya aku harus mencatat ini sebagai salah satu kisah suksesku di masa depan." ujar Sasara mendekap buku teori rapat-rapat.

"Pergilah ke neraka, Sasara."

Sasara kembali tergelak, "Oh tentu saja, sampai bertemu di neraka, Samatoki-sama."

Kendati masih merasa kesal, Samatoki rasa jika Sasara hanya bermaksud untuk membantu mencari validasi. Maksudku, lagi-lagi, bagaimana kau bisa tahu tanpa menjalaninya sendiri? Untung saja tabungannya sudah cukup untuk membeli gitar elektrik baru.

Namun yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah..

Apakah Samatoki siap dengan hasil atas proses validasinya?


-0-

Hoodie putih, ripped jeans, dan sneakers putih menjadi pilihan Samatoki untuk menunggu kedatangan Riou. Sabtu sore yang diusulkan Sasara tidak sepenuhnya buruk, hanya saja Samatoki bisa melihat gulungan awan hitam yang perlahan mendekat menuju tempatnya berdiri. Tolong jangan hujan, sepatu Samatoki baru dipakai dua kali dalam sebulan ini. Ia juga tidak mau naik kereta lebih dari pukul tujuh, karena jam segitu pasti dipenuhi orang yang pulang kerja.

Ponsel Samatoki bergetar, ada satu pesan masuk.

[Ajak dia ke pantai, Samatoki. Di sana aman, kalau ciuman nggak akan ketahuan sama orang-orang hahahah. XD]

Genggaman pada ponselnya semakin erat, alis Samatoki berkedut menanggapi satu pesan keparat dari temannya. Lagi pula siapa yang mau ke pantai? Tujuan awal Samatoki adalah membeli gitar elektrik. Soal mencari validasi setelah dipikir tidak lagi menjadi maksud utama, dia bisa melakukannya kapan-kapan, pun kalau ingat. Jantungnya berdenyut lugas, memantapkan diri bahwa ia harus melalui sore ini dengan perasaan tenang, dan santai.

"Tenang, dan santa—"

"Hey, Samatoki. Sudah lama menunggu?" gumaman Samatoki terhenti kala Riou datang dengan sedikit berlari. Denim dan jeans hitam melekat pas di tubuh tegapnya. Tak lupa Riou melempar senyum yang sanggup membuat Samatoki berantakan.

Cepat-cepat ia memasukkan ponselnya ke saku, "Tidak. Aku baru sampai."

"Jadi.. kita langsung saja?" tanya Samatoki mengkonfirmasi.

Riou mengangguk, "Ya, kapanpun kau siap."

Mereka pun akhirnya memulai perjalanan –yang tidak jelas ini.

Demi kesehatan dan kelangsungan hidup jantung Samatoki, ia putuskan untuk menyusun pembicaraan dalam pikirannya. Celah yang tercipta saat mereka melangkah Samatoki manfaatkan untuk berpikir. Ia melirik sisi-sisi jalanan, tidak ada objek yang menarik untuk dijadikan topik bahasan.

Lau tiba-tiba, "Samatoki, apa yang membuatmu tertarik pada klub band?" satu pertanyaan lolos dari bibir Riou.

Samatoki terkejut akan dua hal. Pertama, ia tidak menyangka jika laki-laki dingin nan cuek itu bisa membuka dialog. Kedua, selama mereka menjadi 'teman' ini kali pertama Riou menanyakan alasannya untuk bergabung di klub favoritnya.

Ia perlahan tersenyum, "Kau mungkin tidak percaya. Aku akan cerita dari awal. Jadi aku sebenarnya 'tidak sengaja' masuk klub band. Kalau saja Sasara tidak mengambil formulir yang salah, aku pasti sudah berada di klub atletik / baseball sekarang."

"Awalnya memang sangat membosankan. Kehadiranku juga bisa dihitung jari, tapi lama-kelamaan klub itu menjadi.. sedikit menyenangkan. Itu juga menjadi alasan kami membuka pendaftaran anggota baru di tahun selanjutnya. Lalu, Ichiro muncul. Dia datang sambil menyerahkan formulir pendaftaran sambil gemetar. Wajahnya sangat lucu.. dia terlihat bodoh." Ujarnya dengan tawa di akhir kalimat.

Riou tidak berkedip saat mendengar Samatoki menjawab pertanyaannya dengan panjang lebar.

Namun, ini hanya permulaan.

"Kami selalu nongkrong di sana, Ichiro sangat suka dengan roti isinya. Kau harus coba kapan-kapan."

"Oh ya?" Sahut Riou.

"Ada semacam peraturan tidak tertulis di band kami, siapapun yang datang terlambat dia harus mentraktir semua anggota minimal ramen instan. Dan kau tahu siapa yang selalu kena? Ichiro, haha."

"Oh." tanggap Riou sekali lagi.

"Aku dan Ichiro pernah menunggu di studio hampir tiga jam tanpa anggota lainnya, ternyata kita berdua datang ke studio yang salah."

"Hmm." –Riou.

Riou menjaga derap langkahnya agar tetap tenang, karena jika ia menghentakkan kaki Samatoki akan dengan gampang menyadarinya. Dia menjaga agar seseorang-bukan semua orang di sana tidak tahu perubahan sikapnya. Terbesit secuil penyesalan, kenapa Riou membuka pembicaraan mengenai klub band Samatoki. Ia hanya berpikir sederhana, well, terlalu sederhana.

"Dan…. kita sudah sampai." Ucap Samatoki menghentikan ayunan kaki.

Mereka berdua berdiri di depan bangunan lantai dua berpintu kaca. Bangunan itu terlihat kecil karena berada di antara perusahaan properti dan showroom mobil. Tulisan Stella langsung menarik perhatiannya.

"Aku kira ini butik." Bisik Riou tepat di telinga Samatoki.

"Tidak apa. Awalnya aku juga salah sangka. Aku rasa nama itu lebih cocok untuk toko parfum."

Dua orang itu pun mulai masuk.

Sekitar dua jam kemudian Samatoki dan Riou keluar dengan tangan kosong. Samatoki masih bersungut-sungut atas kejadian di dalam. Singkat cerita, mereka menghabiskan waktu satu jam pertama untuk menelisik sudut-sudut ruangan mencari semi-hollow body berwarna merah yang sudah diincar Samatoki sejak lama. Kemudian satu jam berikutnya Samatoki sibuk berdebat dengan pemilik lapak alat musik secara intens. Riou mencoba menengahi, tetapi Samatoki buru-buru angkat kaki.

"Samatoki, apa tidak bisa kau mencari gitar yang lain?" tanya Riou mencoba memberi pandangan berbeda.

Samatoki memandang nyalang, "Aku memilih gitar itu sesuai dengan posisiku, Riou. Sudah lama aku menginginkannya. Apa kau paham? Tentu saja tidak, karena kepalamu cuma terisi dengan bola karet sialan." Maki Samatoki masih terbalut emosi.

"Ichiro juga bilang kalau gitar itu cocok untukku." Entah sadar atau tidak Samatoki sudah mengulang nama yang mampu membuat Riou jemu.

"Oh. Apa aku juga harus memanggil Ichiro agar kau tenang?" Samatoki mengangkat wajah seketika. Ia tercengang dengan pertanyaan Riou.

"Ichiro tidak ada hubungannya. Kenapa kau bertanya begitu?"

Riou mendengus ke arah lain, "Tidak ada hubungannya? Aku bahkan tidak tahu sudah berapa kali kau menyebut namanya. Sebenarnya kau sedang bersama Ichiro atau Riou?"

"Aku mencoba—"

"Kau mencoba untuk mengingat semua hal yang menyenangkan bersama klub band-mu. Terutama Ichiro, apa aku salah?" potong Riou.

Langit menggelap, samar-samar terdengar gemuruh dari seberang jalan utama. Sebentar lagi hujan akan turun.

"Padahal kau sendiri yang bertanya tentang band!?" timpal Samatoki tak kalah kesal.

"Karena hanya itu yang kutahu, Samatoki. Kau tidak pernah bercerita apapun, setiap kita bertemu kau selalu membahas makan siang, mata pelajaran, kopi pinggir jalan dan kesepakatan. Tidak lebih. Aku hanya ingin membicarakan hal yang kau suka, tapi sepertinya aku mengambil keputusan yang salah." Jelas Riou yang mungkin menjadi kalimat terpanjang selama pertemuan mereka.

"Semua yang kau sebutkan mulai dari makan siang sampai kopi pinggir jalan sialan itu adalah hal yang aku suka. Apa kau tidak menyadarinya?"

Samatoki menambahkan, "Termasuk hari ini. Kalaupun Sasara tidak memanggilmu waktu itu, aku akan tetap mencari dan menyeretmu untuk ikut. Jangan tanya kenapa, aku bahkan tidak tahu." Pada akhirnya Samatoki menggiring dirinya dalam arus pencarian validasi.

Menghembuskan napas dalam, "Dengar, aku tahu bagaimana sulitnya untuk memulai kembali. Jadi aku mencoba untuk ikut memperbaiki. Maaf kalau aku sering menyebut Ichiro tapi aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu kesal. Maksudku, kenapa juga kau harus kesal? Apa kau membenci Ichiro?" kata Samatoki penuh tanda tanya.

Sedikit mengerang, "Aku tidak membenci Ichiro, tapi caramu menceritakannya membuatku iri." Jawab Riou usai mengakui perasaannya secara frontal. Yang Riou rasakan hanya rasa sesak saat melihat Samatoki tersenyum bukan untuknya.

"Kau bercanda?"

"Apa aku kelihatan bercanda?"

"Tak bisakah kita akhiri perdebatan bodoh ini?" sergah Samatoki nyaris melepas amarah.

Riou memejamkan mata sejenak, lalu membukanya seolah melihat sosok yang berbeda, padahal Samatoki masih berdiri di hadapannya.

"Kau benar, Samatoki. Mungkin ada baiknya kalau kita akhiri semua—"

"Hentikan omong kosongmu, brengsek!"

"Apapun namanya ini." tutur Riou bak prajurit yang memohon gencatan senjata selamanya.

Perkataan Riou membuktikan bahwa ia benar-benar tidak mendengar penjelasan. Samatoki tersulut emosi, darahnya berdesir cepat, tangannya mengepal di udara.

"Kau mau tahu tentang bagian terlucu? Aku tidak menyangka kalau menyukai seseorang bisa semerepotkan ini."

Ia menatap kosong ke arah Samatoki, "Bisa pulang sendiri, 'kan?" tanya Riou dengan napas tertahan.

Samatoki memutar arah, berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. Samatoki menarik kata-katanya, Sabtu akan menjadi salah satu hari yang paling ia benci. Ralat, Sabtu sore dan hujan. Sensasi sesak dalam dadanya datang lagi, kali ini terasa lebih sakit dan menyiksa. Tidak ada ruang kesenangan di sana.

Lupakan semuanya. Kesepakatan, peliharaan, dan validasi. Samatoki sudah tidak memerlukannya lagi.

Toh Samatoki masih bisa bangun tidur setiap pagi.

Samatoki tidak tahu sudah berapa jauh melangkah, yang pasti suara gerimis hujan sudah memenuhi pendengarannya. Meskipun begitu, Samatoki masih menyempatkan diri untuk merogoh sakunya. Mengeluarkan ponsel pintar dan mengetik sebuah pesan.

Itu untuk Sasara.

[Fuck everything, we're done.]

Beberapa detik kemudian pesan lain menyusul.

[I messed up.]


To be continued.


Notes:

Seharusnya saya update chapter lebih cepet but i caught a troublesome cold almost 2 weeks.. so i tried to keep writing with a bigass blanket hahahah. Maaf udah menunggu agak lama~

Saya mau berterima kasih pada semua yang ngikutin ff riosama sampe sejauh ini... jujur masih nggak nyangka kalau ternyata ada peminat kapal rapuh ini /slap

kita satu nasib ya TwT /cryinginjapanese

THANK YOU for appreciating this ff … I love you so muchhh \(ΦзΦ)/ ❤️ ~~~

Saya hanya mengingatkan, ini hanya fiksi. Terima kasih atas pengertian dan kebijaksanaannya ^o^

Terakhir, sekali lagi saya usahakan bakalan kelar.. tapi belum bisa nentuin kapan mau update lagi. Semoga ngga molor lagi /menghilang

Silakan tinggalkan jejak~ Sampai jumpai di chapter berikutnya!