Yang sudah menyempatkan diri mereview chapter lalu, arigatou! Cerita selanjutnya adalah flashback dari prolog-nya yah... happy reading!
--
Chapter 1 : Kabur
Oto City...
Semua orang tahu bahwa Oto adalah kawasan yang ramai, terutama di pusat kota. Deretan toko-toko selalu dijejali orang-orang yang berbelanja atau yang hanya sekedar mencuci mata. Jalanan penuh sesak oleh para pejalan kaki nyaris sepanjang waktu. Suasana hiruk pikuk seperti itu sudah biasa terjadi, terutama di tengah hari seperti sekarang ini. Suara sirine mobil polisi yang meraung-raung atau teriakan "Copet!" terkadang menjadi pemeriah suasana. Bahkan sepasang kekasih yang bertengkarpun bisa dijumpai dengan mudah dan sudah biasa menjadi tontonan gratis bagi orang-orang seperti layaknya opera sabun di televisi.
Tapi rupanya bukan pencopet ataupun pasangan kekasih yang tengah bertengkar yang menjadi penyemarak suasana di siang hari yang panas itu.
"LEPASKAN AKU, BRENGSEK!!"
Suara teriakan itu kontan saja membuat kepala orang-orang yang berada dalam radius lima meter tertoleh. Beberapa menutup telinganya, merasa terganggu. Beberapa melempar pandang mencela sementara sebagian yang lain menatap penuh ingin tahu pada dua orang yang tengah berkutat di tengah keramaian itu. Seorang pria muda berambut hitam berkucir mencengkeram erat lengan pria yang lebih muda, setengah menyeretnya menerobos kerumunan.
"TIDAK! KAU HARUS IKUT AKU SEKARANG!" raung pria yang lebih tua.
"TIDAK MAU! LEPASKAN AKU!" pemuda yang diseretnya balas berteriak seraya mencoba melepaskan cengkeramannya.
"Berhentilah bersikap kekanakan, Sasuke Uchiha!" geram si pria berkucir, masih tetap mempertahankan cengkeramannya. Ia menggumamkan maaf pada wanita tua yang tak sengaja ditabraknya.
"Persetan!" pemuda yang dipanggil Sasuke mendesis, memandang pria itu dengan benci. "Aku tidak mau pulang ke rumah! Itachi, lepaskan aku!!" dia meronta lagi.
"Tingkahmu ini seperti anak perempuan saja!" bentak Itachi tak sabar. "Aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus ikut aku!"
"Sudah kubilang aku tidak mau!" kata Sasuke keras kepala.
"Mau jadi apa kau di jalanan? Gelandangan?" Itachi membeliak pada Sasuke.
"Peduli apa kau?!" akhirnya Sasuke berhasil menyentak lepas tangan Itachi. Sekarang dia sedang balas memelototi pria itu. "Memangnya kakakku-tersayang ini peduli padaku, ya?" desisnya sinis.
"Tentu saja aku peduli padamu, Idiot! Kalau tidak untuk apa aku repot-repot pulang ke Oto hanya untuk mencari adik-tersayangku yang kabur dari rumah, eh?" Itachi menukas. Belum pernah ia merasa semarah itu pada Sasuke. Tindakan-menuruti-emosi-sesaat yang dilakukan adiknya itu jelas membuatnya gusar luar biasa.
Mereka saling membeliak beberapa saat sebelum akhirnya Itachi menghela napas, mengalah. Mendesak adiknya yang keras kepala ini lebih jauh hanya akan memperburuk keadaan. "Baik. Aku tidak akan membawamu pulang ke rumah. Tapi kau harus ikut aku."
"Apa jaminannya kau tidak akan membawaku pulang ke rumah keparat itu?!" tantang Sasuke.
Ingin sekali rasanya Itachi menampar mulut lancang adiknya itu, tapi dia menahan diri. "Rumah kep—astaga, Sasuke. Siapa yang mengajarimu bicara kurang ajar seperti itu?!"
Sasuke membuang muka, tidak menjawab.
"Baik. Aku berjanji tidak akan membawamu pulang ke rumah, oke? Kau dengar aku, Sasuke?"
Pemuda itu menoleh menatap kakaknya dengan mata dipicingkan, memastikan kalau Itachi serius dengan ucapannya. Sebenarnya tidak perlu karena dia tahu pasti kakaknya itu tidak pernah berdusta padanya. Sampai akhirnya dia mengangguk.
"Oke. Aku percaya padamu," sahutnya angkuh.
"Begitu lebih mudah. Ikut aku," Itachi beranjak dari sana sementara orang-orang yang menonton—baik yang diam-diam maupun terang-terangan—mulai membubarkan diri dan melanjutkan kegiatannya masing-masing.
"Ada masalah?!" Sasuke menghardik pemuda berperawakan kecil yang membelalak menatapnya sebelum mengikuti kakaknya. Pemuda itu berjengit dan buru-buru kabur dari sana.
"Aku tidak percaya kau melakukan ini!" Itachi berkata gusar pada adiknya seraya membanting pintu mobilnya menutup. Sasuke sudah duduk di bangku penumpang di sampingnya, memasang sabuk pengaman dengan marah.
"Bukan salahku!" sergahnya tak kalah gusar dari sang kakak. "Ayah yang mulai duluan!"
"Tapi kan bisa dibicarakan baik-baik. Dan kau tidak perlu minggat dan membuat semua orang cemas!"
Sasuke mendengus. "Cemas? Jangan bikin aku tertawa, Itachi," gerutunya.
"Tentu saja mereka cemas, dasar bodoh! Ayah dan ibu sangat mengkhawatirkanmu."
"Yang benar saja. Ibu mungkin, tapi ayah, aku tidak yakin. Kalau dia mengkhawatirkanku, mengapa dia mengirim tukang-tukang pukul itu untuk menangkapku?"
"Ayah hanya ingin kau pulang," sahut Itachi sambil menyalakan mesin mobilnya. Sedan hitam itu melaju pelan, menggabungkan diri dengan lalu lintas yang macet. "Beliau sampai stress memikirkanmu, tahu. Terlebih ibu."
Sasuke memalingkan wajah, menatap jalanan yang penuh.
"Tentu saja ayah tidak memaksudkan orang-orang itu untuk memukulimu."
Sasuke mendengus. Ia tidak menanggapi.
Itachi menghela napas. "Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku dulu juga pernah sepertimu, merasa paling benar, keinginan yang besar untuk memberontak..."
"Tapi ayah memang benar-benar otoriter," sergah Sasuke gusar.
"Ayah memang keras, aku tahu, tapi bukan berarti tidak bisa diajak bicara," lanjut Itachi sabar. "Suatu saat nanti kau akan tahu apa yang dilakukan ayah semata-mata untuk kebaikanmu. Dia menyayangimu, Sasuke."
"Omong kosong," cemooh Sasuke. "Aku tidak peduli."
Itachi berdecak, kemudian menggelengkan kepala tak habis pikir. "Terserah kau sajalah.."
Keheningan meliputi kedua kakak beradik itu sementara mobil yang mereka tumpangi mulai keluar dari kemacetan dan memasuki kawasan yang lebih lengang.
"Aku ingin ayah memperlakukanku seperti dia memperlakukanmu," kata Sasuke tiba-tiba tanpa memandang kakaknya. "Seperti orang dewasa."
Itachi mengangguk. Mengerti. "Kalau begitu bertindaklah seperti orang dewasa. Berpikir dengan kepala dingin. Bicara dari hati ke hati dengan ayah."
Sasuke terdiam. Hal-hal seperti itu rasanya terlampau sulit baginya yang terbiasa bersikap menuruti egonya sendiri.
"Sulit, ya?" ujar Itachi seakan bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya. "Tapi kau akan belajar. Biasanya kau akan banyak belajar dari lingkungan pergaulanmu. Apa kau punya teman dekat, Sasuke?"
Lagi-lagi pemuda itu terdiam. Banyak orang-orang di sekitarnya yang mengaku sebagai temannya, hanya saja hatinya merasa tidak yakin. Mereka yang selalu mengelilinginya karena dia anak orang kaya dan berasal dari keluarga terpandang, mereka yang mengagumi kecerdasan dan rupanya yang tampan. Orang-orang yang selalu membuatnya merasa di atas angin. Apakah mereka sungguh-sungguh temannya, atau... Kedewasaan macam apa yang bisa dipelajari dari orang-orang seperti itu?
Sebenarnya teman itu yang seperti apa?
"Aku tidak tahu," jawab Sasuke akhirnya.
"Sudah kuduga..." kata Itachi seraya membelokkan mobilnya ke wilayah pemukiman.
"KATAMU KAU TIDAK AKAN MEMBAWAKU PULANG KE RUMAH!!" dengking Sasuke tiba-tiba, membuat Itachi terlonjak kaget. Mobil oleng sedikit, nyaris menabrak bus umum yang sedang menepi.
"Jangan berteriak tiba-tiba begitu! Kita bisa celaka, Idiot!" omel Itachi.
"Tapi ini jalan menuju Distrik Uchiha!" balas Sasuke marah.
"Astaga, Sasuke! Jalan ini bukan hanya menuju Distrik Uchiha!" geram Itachi. "Kita cari hotel. Kau... um... harus membersihkan diri dulu. Ya ampun... sudah berapa hari kau tidak mandi?" Dia mengibas-ibaskan tangan di depan hidungnya sambil mengernyit.
"Dan aku juga perlu makan," kata Sasuke, wajahnya agak memerah saat menyadari kalau dia kelaparan. Perutnya berkeriuk keras.
"Dan kau juga perlu makan," Itachi mengangguk setuju sambil menahan tawa. "Dasar Tuan Besar. Tinggal di jalanan beberapa hari rupanya tidak juga menghilangkan sifatmu yang satu itu, ya."
"Tutup mulutmu!" tukas Sasuke.
--
"Ayah setuju kau ikut aku ke Konoha," Itachi memberitahu adiknya malam harinya. Dia baru saja menelepon keluarganya untuk memberitahukan bahwa Sasuke sudah ditemukan dan sekarang aman bersamanya (Sasuke yang keras kepala tentu saja menolak bicara pada orangtuanya).
"Hn," Sasuke menanggapi dingin sambil mengganti-ganti channel televisi.
"Harusnya kau bicara dengan ayah tadi," kata Itachi sambil duduk di samping adiknya di sofa.
"Tidak, terimakasih," pemuda itu menggerutu.
"Setidaknya kau mau bicara pada ibu," kata Itachi lagi.
"Aku tidak tahan mendengarnya menangis," sahut Sasuke, masih tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Haaah... dasar kau ini!"
"Hn," Sasuke melempar remote ke meja di depannya dan menegak softdrink banyak-banyak.
Itachi gemas juga mendengar tanggapan dingin Sasuke, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sedikit banyak sifat adiknya itu mirip dengannya waktu seusia Sasuke. Memikirkan itu membuatnya berpikir betapa merepotkannya dirinya dulu. Dia jadi tidak enak sendiri pada mendiang kakak sepupunya, Sishui Uchiha, yang dulu sering mengurusnya.
"Besok pagi akan ada yang membawa baju-bajumu kemari, setelah itu kita langsung berangkat ke Konoha," kata Itachi lagi sambil mengambil kaleng cola di meja dan membukanya.
"Aa..." kuap Sasuke.
"Kau nanti akan kudaftarkan di Konoha High dan kira-kira seminggu lagi kau akan masuk di kelas... um... satu?"
"Dua. Aku kelas dua," Sasuke mengoreksi kakaknya.
"Kelas dua," Itachi mengangguk. "Itu High School terbaik di Konoha. Kenalanku ada yang mengajar di sana dan..."
"Ya ya ya... kau atur sajalah. Aku mau tidur," Sasuke beranjak dari sofa menuju tempat tidur di sudut kamar.
Itachi yang sudah benar-benar gemas mengambil bantal sandaran kursi dan melemparnya ke arah sang adik. Lemparannya tepat mengenai belakang kepala Sasuke, membuat pemuda itu sedikit terhuyung.
"Aduh! Apa-apaan sih kau?!" hardik Sasuke sambil mengusap-usap belakang kepalanya.
"Ooops! Tanganku tergelincir!" Itachi menyeringai. "Bagaimana kau bisa mendapatkan teman kalau tidak bisa menghargai orang seperti itu?" tambahnya sambil menggelengkan kepala.
Sasuke memutar matanya. "Bilang saja kalau kau ingin dihargai," gerutunya sambil mengambil bantal itu dari lantai dan melemparnya kembali pada sang kakak yang langsung menangkapnya dengan tangkas. Lalu kembali menuju tempat tidur, menyusup ke bawah selimutnya dan tidur.
Astaga, batin Itachi, kemana perginya Sasuke yang dulu manis? Bocah laki-laki dengan antusiasme tinggi dan menggemaskan itu telah bertransformasi menjadi remaja pemberontak rupanya.
"Kak," suara Sasuke terdengar pelan.
Itachi menoleh dan mendapati adiknya itu mengintip dari balik selimut. "Ada apa?"
"Terimakasih..."
Ah, rupanya sisi 'itu' belum sepenuhnya hilang.
"Hn.." Itachi tersenyum tipis, menghirup colanya dan mulai menonton berita malam.
--
TBC...
--
Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Halah!
