Akhirnya mudik juga...

--

Chapter 2 : Tahun Ajaran Baru

--

Seminggu kemudian di Konoha High.

"Pagi, Pak Guru Hatake!"

Pria muda berambut keperakan itu tersenyum kecil saat mendengar suara yang sudah sangat akrab di telinganya. Ia mendongak dari berkas-berkas yang sedang dikerjakannya dan mendapati salah satu muridnya mengintip dari pintu ruang guru, nyengir.

"Ah! Pagi, Nona Sakura Haruno," balasnya sambil meletakkan penanya. "Masuklah..."

Gadis yang bernama Sakura Haruno itu mendorong pintu lebih lebar sebelum melompat masuk. Gadis itu berlari kecil menuju meja gurunya yang memang terletak di sudut suangan sambil membawa kotak yang dibungkus kain merah di tangannya. "Titipan dari ibu, Pak Hatake! Makan siangmu!" beritahunya cerah seraya meletakkan kotaknya di atas meja sang guru.

"Terimakasih, Haruno," sahut pria yang rambutnya sudah berwarna keperakan meskipun masih muda itu. "Bukankah ini masih terlalu pagi? Rajin sekali..." katanya setelah Sakura menarik kursi kosong dan duduk di depan mejanya.

"Anda juga rajin sekali. Tumben pagi-pagi sudah datang. Biasanya kan telat," balas Sakura sambil nyengir jahil.

Pria itu terkekeh kecil. "Kau ini semakin pintar saja bicara," ia menghela napas, lalu meregangkan kedua lengannya. "Sengaja datang pagi-pagi untuk menyalin beberapa dokumen untuk semester ini," jelasnya.

"Sebentar sebentar..." Sakura menyela. Matanya menyipit curiga. "Biar kutebak. Um... dokumen ini pasti harusnya dikerjakan jauh-jauh hari, kan?"

Tawa yang keluar dari mulut gurunya itu jelas mengindikasikan kalau apa yang dibilangnya barusan benar adanya. "Dasar! Selalu saja mengerjakan segala sesuatunya di saat-saat terakhir," celanya namun dengan nada bercanda. Dan sepertinya gurunya itu tidak keberatan.

"Jadi, Haruno," pria itu berkata sambil mengatupkan kedua tangannya di atas meja. "Apa yang membuatmu datang ke sekolah sepagi ini?"

Sakura menghela napas. "Tenten menginginkan semua anak teater datang pagi-pagi hari ini untuk ngumpul-ngumpul. Ya ampun, padahal ini kan hari pertama sekolah..." gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. Rambut merah mudanya yang dibuntut kuda panjang berayun di belakang kepalanya. "Dan tahu tidak? Dia hanya ingin memberitahu kalau dia punya proyek besar untuk pensi nanti. Yang benar saja. Maksudku, itu kan masih lama. Dia bisa mengumumkannya nanti. Hhh... anak-anak kalau sudah naik ke kelas tiga memang kadang suka berbuat yang aneh-aneh ya..."

Kakashi Hatake membiarkan saja muridnya itu menyerocos panjang lebar selama beberapa saat. Merasa heran sendiri dengan perubahan nama sapaannya, Pak Hatake. Dia sudah terbiasa mendengar gadis itu memanggilnya 'Kakashi' saja selama liburan musim panas.

"...aku sudah mendapat jadwalku untuk semester ini. Aljabar III di hari pertama sekolah! Dan Sains! Ya ampun... Mereka pasti bercanda!" Sakura mengakhiri celotehannya dengan helaan napas dramatis.

"Aku yang mengajar Aljabar III, Nona Haruno," kata Kakashi.

"Justru di situlah masalahnya, Pak Hatake. Rasanya aku sudah bosan bertemu Anda terus sepanjang musim panas," seloroh Sakura sambil nyengir. "Bercanda, Pak!" kekehnya.

Kakashi ikut terkekeh-kekeh. "Tahu tidak? Aneh sekali rasanya mendengarmu memanggilku dengan 'Pak Hatake'."

"Sama anehnya mendengar Anda memanggilku 'Nona Haruno', kan? Lagipula..." mata hijau lebar itu berkilat jahil. "Kalau anak-anak lain mendengarku memanggil Anda 'Kakashi' mereka akan mengira kita ada affair. Aku tidak mau digossipkan dengan pria yang jauh lebih tua, terlebih yang sudah beruban." Gadis itu tertawa.

"Dasar, kamu!" Kakashi menimpuk pelan dahi lebar Sakura dengan pulpennya sambil tertawa kecil. Gadis satu ini memang senang sekali mengungkit-ungkit soal warna rambutnya yang tidak biasa itu. Padahal warna rambutnya sendiri juga sama tidak biasanya.

"Kudengar dari anak-anak, katanya akan ada murid pindahan ya?" tanya Sakura setelah tawa mereka mereda.

"Ya, ada dua," jawab Kakashi. "Satu dari Oto dan satunya lagi pindahan dari Konoha Art Academy. Ini aku sedang memeriksa kembali data-data mereka."

Mata hijau Sakura membulat. "Dari KAA? Wow! Cewek atau cowok?"

"Dua-duanya laki-laki," Kakashi membiarkan Sakura mengintip data kedua murid baru di mejanya, menunjuk pas foto mereka. Keduanya sama-sama berambut hitam. Dan sama-sama...

"Cakeeeeep..." seru Sakura, mengagumi paras rupawan kedua murid baru itu.

"Tapi masih lebih tampan Hyuuga, kan?" goda Kakashi, kontan membuat pipi gadis itu bersemu merah.

"Idih! Apaan sih, Pak Hatake!" katanya malu-malu.

"Kamu sudah bertemu 'dia' belum?" tanya Kakashi, membuat rona di wajah muridnya itu bertambah merah.

"Belum," jawab Sakura tersipu-sipu.

"Kalau Naruto Uzumaki?"

Ekspresi malu-malu Sakura langsung berubah drastis mejadi ekspresi sebal luarbiasa. "Belum!" tukasnya langsung. Kakashi terkekeh. "Omong-omong soal si Uzumaki, bisa tidak sih lokerku dipindah ke tempat lain? Sial benar harus bersebelahan dengan lokernya!"

"Kamu harus membujuk Pak Asuma Sarutobi kalau mau pindah loker, Haruno."

Sakura bergidik. "Ogah ah. Serem," katanya. Memang dari sekian banyak guru, pria berberewok itulah yang paling killer. Hampir semua anak takut padanya, termasuk Sakura.

"Kalau begitu jangan protes lagi dong. Lagipula Naruto Uzumaki itu anaknya baik kok..."

Sebelum Sakura sempat memprotes lagi, tiba-tiba pintu ruang guru terbuka. Seorang wanita cantik berambut hitam ikal memasuki ruangan. Wanita itu tersenyum melihat dua orang di ruangan itu.

"Selamat pagi, Haruno, Pak Hatake," sapanya ramah sambil meletakkan tas di meja kerjanya. "Wah wah wah... Pak Hatake pagi-pagi sudah kedatangan tamu nih."

"Pagi, Ibu Guru Yuuhi," balas Sakura sambil membalas tersenyum. "Er... kalau begitu aku pergi sekarang. Harus menyimpan barang di loker..." gadis itu pamit pada kedua gurunya sebelum melesat keluar.

"Kalian ini akrab sekali," komentar Kurenai Yuuhi sambil berjalan menuju dispenser untuk mengambil air. "Kalau aku tidak tahu hubungan kalian, aku pasti akan mengira ada apa-apa di antara kalian berdua," kekehnya.

Kakashi tertawa. "Jangan bercanda, Kurenai. Memangnya aku kelihatan seperti om-om senang yang menyukai gadis remaja?"

Kurenai tertawa renyah.

--

"Oi... Sakuraaaa!!"

Oh, tidak! Hati Sakura mencelos mendengar suara keras milik Naruto Uzumaki memanggilnya tak jauh dari ruang guru. Pura-pura tidak mendengar, Sakura mempercepat langkahnya menuju loker. Sialnya, Naruto berhasil menyusulnya beberapa detik kemudian.

"Hei, kau tambah segar saja, Sakura," katanya ceria sambil berjalan cepat merendengi gadis itu. "Tidurmu semalam pastilah sangat nyenyak. Aku benar, kan? Iya, kan?"

Sakura semakin mempercepat langkahnya, setengah berlari sekarang. Tapi rupanya Naruto tidak menyerah. Pemuda itu ikut berlari kecil bersamanya.

"Aw, kau semangat sekali sepertinya, Sakura!" seru Naruto, heboh sendiri. "Yap! Semester baru memang harus disambut dengan semangat masa muda! Yeaaah!!" pemuda itu menirukan gaya Rock Lee, anak kelas tiga yang juga teman Naruto di klub sepak bola. Sama-sama orang aneh yang kelewat bersemangat.

Sakura menggeram sebal. Enyahlah dari sini, Naruto! Kau merusak pagiku saja!

"Whoaa!!" Sakura menjerit ketika tubuhnya dengan keras menabrak sesuatu di belokan dan jatuh terjengkang dengan sukses ke lantai. Salah, bukan sesuatu, tapi seseorang. Seseorang yang pesonanya telah terbukti membuat banyak gadis di Konoha High mendapat serangan lemah saraf mendadak, termasuk Sakura. Gadis itu menahan napas ketika matanya menangkap sosok jangkung Neji Hyuuga menjulang di hadapannya, tas punggungnya tersampir di bahunya yang bidang.

"Kau tak apa-apa?" Oh, mengapa suaranya terdengar sangat merdu? Seperti alunan musik...

"Haruno?" Neji melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sakura. Hmmm... harumnya tangan itu...

"Sakura!! Oi!" Teriakan Naruto sukses membuyarkan lamunannya. Sakura mengerjap dengan kaget dan buru-buru menutup mulutnya yang rupanya tanpa sadar sedikit terbuka. Wajahnya merah padam.

"Kau tak apa-apa, kan?" ulang Neji, sedikit mengernyit.

"Ap--Oh, yeah. Aku tidak apa-apa," jawab Sakura dengan cengiran salah tingkah.

"Syukurlah. Kukira kau tiba-tiba kena ayan atau apa," ujar Neji sambil mengulurkan tangannya.

Ayan? Ya ampuuuuun... Mukaku pastilah tadi sangat konyol, batin Sakura malu. Dengan gugup gadis itu menyambut uluran tangan Neji, dalam hati berharap Neji tidak bisa merasakan degupan jantungnya yang menggila lewat tangan. Pemuda itu membantunya bangun.

"Lain kali sebaiknya jangan berlarian di koridor. Kalau Pak Ebisu melihat, pastilah beliau ngamuk," tegurnya kalem sambil melepaskan tangan Sakura.

"I-iya..." gadis itu membalas gugup. Wajahnya semakin memanas.

Tepat saat itu, Tenten dan Lee muncul mengacaukan suasana. Ah, tidak juga. Karena suasana memang sudah sangat kacau dan memalukan dari awalnya. Terimakasih banyak, Naruto!

"Oi, Neji!" sapa Lee kelewat bersemangat pada sahabatnya itu sambil menepuk bahunya agak terlalu keras, membuat Neji sedikit terhuyung. "Ya ampun, lama tidak bertemu rambutmu tambah panjang saja!"

"Hei, bagaimana liburanmu? Kau ke Suna, kan?" gantian Tenten yang bertanya antusias. "Baguskah di sana?"

"Lumayan, kalau kau suka panas dan suka pasir," sahut Neji datar sambil mengangkat bahu. "Tapi makanannya sangat enak. Kalian harus coba kapan-kapan..."

Dan segera saja Sakura terlupakan. Tanpa menoleh-noleh lagi, ketiga siswa senior itu berlalu meninggalkan Sakura yang terbengong bersama Naruto.

"Hei hei hei, Sakura," Naruto memecah keheningan. "Aku dengar ibu kantin membuat menu baru untuk makan siang. Bagaimana kalau kita mencobanya bersama-sama istirahat makan siang nanti?" tanyanya penuh harap.

Sakura menatap pemuda itu geram, matanya menyipit. Tapi anehnya, tatapan horor gadis itu malah membuat Naruto tersipu-sipu, salah tingkah.

"Aduh, Sakura! Jangan menatapku seperti itu dong," katanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya merona kemerahan. "Aku kan jadi malu... Umm... kalau begitu kau mau makan siang denganku, kan?"

"Gaaaah!! Naruto bego! Makan saja sana sendiri!" semprot Sakura kesal. Sebelum Naruto sembat bereaksi apa-apa, gadis itu segera berlari pergi ke arah berlawanan.

Naruto mengerjap kaget. "Lho, Sakura, bukannya kita mau ke loker bareng?" teriaknya ke punggung Sakura yang semakin menjauh. Ekspresinya berubah kecewa saat Sakura tidak menghiraukannya. "Dia masih marah padaku, ya?" tanyanya lesu, lebih ke dirinya sendiri.

--

TBC...

--

A/N : Jangan tanyakan hubungan Kakashi dan Sakura sekarang! hehehe... Btw, shaumnya masih semangat, kan? Ganbatte!!

--