Yang sudah mereview chapter lalu, makasih banyak...


--

Chapter 3 : Murid Baru

--

Murid-murid sudah mulai berdatangan ketika sedan hitam itu memasuki gerbang kampus Konoha High. Beberapa anak memandang penuh ingin tahu ketika si pemilik mobil memakirkan kendaraannya tepat di bawah pohon besar di halaman gedung bercat krem itu. Setahu mereka tidak seorang guru pun yang memiliki kendaraan semewah itu.

Terdengar kikik dari serombongan besar gadis yang sedang bergerombol di dekat sana ketika dua pria tampan keluar dari dalam mobil.

"Nah, Sasuke. Inilah sekolah barumu," kata Itachi Uchiha sambil menunjuk gedung di depannya. "Gedungnya jelas lebih bagus dari yang di Oto. Dan aku jamin kurikulumnya juga tidak kalah bagus."

Sasuke Uchiha mengedarkan pandangannya, mengamati sekelilingnya. "Bagiku sama saja. Tidak ada yang istimewa," komentarnya datar. Pemuda itu mengeluh pelan ketika melihat gerombolan gadis yang mengikik dan menunjuk-nunjuk dirinya dan sang kakak. Yah, di manapun sama saja, kan?

"Yeah," Itachi menghela napas menghadapi reaksi dingin adiknya. "Tapi kuharap kau tidak membuat masalah di sini. Sebaiknya kita masuk sekarang," katanya sambil berjalan ke pintu utama Konoha High.

Sasuke mengikuti kakaknya. "Kita lihat saja nanti," gumamnya, mengacuhkan para gadis yang saling sikut dengan hebohnya ketika ia melewati mereka menaiki undakan depan.

Sama saja seperti di Oto, pikir Sasuke ketika ia memasuki gedung sekolah barunya. Koridor depannya juga mirip, hanya saja lebih bersih. Di mana-mana anak-anak sedang mengobrol dan saling sapa dengan teman mereka. Samar-samar, pemuda itu bisa menangkap pembicaraan mereka. Tentang liburan, model rambut terbaru, pakaian baru, pacar baru. Topik yang umum muncul di hari pertama sekolah. Sama saja.

BRUK!

"Aduh!" seruan anak perempuan sontak membuatnya menoleh pada sumber suara.

Seorang gadis baru saja menabrak kakaknya. Gadis itu tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak pendek. Tubuhnya ramping tapi berisi. Ia memiliki rambut berwarna merah muda yang aneh. Sebenarnya ia cukup cantik kalau saja wajahnya tidak seperti habis dipanasi, merah padam tidak jelas. Gadis itu terhuyung mau jatuh, tapi beruntung Itachi cukup sigap untuk menangkap tubuhnya sebelum membentur lantai. Seperti adegan di opera sabun, saat tokoh pria dan tokoh wanita utama bertabrakan, mereka saling tatap sejenak, tapi kali ini tanpa ada dramatisasi seperti yang di televisi. Dan Sasuke jelas ragu kakaknya akan jatuh cinta pada gadis aneh itu setelah ini—karena pink jelas bukan warna favorit Itachi, meskipun itu tidak ada hubungannya. Gadis itu buru-buru melepaskan diri sambil komat-kamit menggumamkan maaf.

"Tak apa, tak apa," balas Itachi kalem.

Wajah si gadis yang sudah merah bertambah merah. Entah karena malu atau terpesona oleh ketampanan Itachi. Sasuke bisa mendengarnya menggumamkan sesuatu tentang menabrak orang dua kali sebelum si gadis pink itu menggetok kepalanya sendiri. Gadis aneh.

"Kau... um... murid baru, ya?" si gadis pink bertanya selang beberapa saat pada Itachi.

"Oh, bukan," jawab Itachi. "Aku hanya mengantar adikku. Dia..." ia menarik Sasuke mendekat.

"Oh!" kata si gadis sambil menoleh pada Sasuke dengan ekspresi terkejut, seolah baru melihat pemuda itu tiba-tiba muncul di udara kosong. "Ya, tentu saja," lanjutnya sambil tersenyum. "Aku melihat fotomu di ruang guru," ujarnya ramah pada Sasuke sebelum beralih lagi pada Itachi. "Maaf, kukira Anda. Soalnya mirip sekali."

"Banyak yang bilang begitu," kekeh Itachi.

"Kelas dua juga kan?" gadis itu menanyai Sasuke yang sama sekali tidak tampak tertarik. "Kalau begitu kita satu angkatan. Aku Sakura Haruno," katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Sasuke mengacuhkannya, membuat gadis itu menaikkan alis.

Itachi menyikut adiknya sambil membeliak memperingatkan. Sasuke menghela napas, sebelum akhirnya menyambut tangan Sakura yang terulur, menjabatnya sekilas. "Sasuke Uchiha," gerutu Sasuke setengah hati.

"Itachi Uchiha," Itachi menyebutkan namanya ketika Sakura mengulurkan tangan padanya juga.

"Ehm... kalau begitu aku permisi dulu," ujar Sakura sambil tersenyum. "Semoga hari pertamamu menyenangkan, Sasuke," ia menambahkan pada Sasuke sebelum berbalik pergi.

"Gadis yang menarik," komentar Itachi setelah punggung Sakura menghilang di balik pintu utama. "Hei, apa aku pernah memberitahumu kalau gadis Konoha cantik-cantik?"

Sasuke menautkan alis menatap sang kakak. "Jangan bilang kau tertarik pada gadis aneh itu, Ita—"

"Kak Itachi?! Sasuke?!"

Suara yang lebih halus dan lembut praktis membuat keduanya menoleh lagi. Senyum lebar terkembang di bibir Itachi ketika dilihatnya gadis bertubuh mungil yang sudah dikenalnya berjalan mendekat. Rambutnya yang berwarna hitam kebiruan panjang berayun seirama dengan langkahnya yang anggun. Hinata Hyuuga.

"Hinata!"

"Y-ya ampun... S-sudah lama k-kita tidak bertemu ya..." ujarnya cerah. "A-apa kabar?"

"Kau belum berubah ya, Hinata. Masih gugupan seperti dulu," komentar Itachi terkekeh. "Kabar kami baik. Seperti yang kau lihat. Astaga, kau tambah cantik saja."

Hinata tersipu-sipu, wajahnya sedikit merona. "A-aku senang bertemu Kakak. Dan kau juga, Sasuke..." suaranya mendesah. "A-apa yang membuat kalian datang ke kota kecil ini?"

"Ah, aku kan memang bekerja di sini, Dear. Dan sekarang Sasuke pindah sekolah kemari juga. Kau tahu kan, dia buat masalah terus di Oto," Itachi menambahkan dalam bisikan yang cukup keras untuk didengar adiknya—Sasuke mencibirnya. "Tapi aku bisa tenang kalau ada kau di sini. Aku titip Sasuke, ya."

Hinata tersenyum lemah. "T-tapi kurasa S-Sasuke tidak akan suka diawasi. Bukan begitu, Sasuke?"

"Kau benar," timpal Sasuke sambil mendelik pada kakaknya. Kemudian ia memalingkan wajah saat merasakan tatapan gadis itu padanya. Tatapan Hinata dari dulu selalu membuat hatinya gundah. Dan ia tidak menyukai perasaan itu.

"Neji sekolah di sini juga kalau begitu?" pertanyaan Itachi membuat Hinata berpaling lagi padanya.

"Iya. Kak Neji pasti senang sekali kalau tahu kalian datang. Kurasa sekarang dia sudah naik ke kelas pertamanya," jawabnya sambil memamerkan sekali lagi senyuman lembutnya.

"Rajin seperti biasa," komentar Itachi sambil geleng-geleng kepala.

Hinata tertawa kecil sebelum berkata, "Kukira kalian perlu ke ruang tata usaha, kan? Mari kuantar..." gadis itu menunjukkan jalan bagi mereka berdua menuju ruang tata usaha di lantai dua.

"Dan kau masih menjadi gadis baik seperti dulu..."

"Kakak terlalu berlebihan."

--

Sakura berjalan cepat menuruni undakan depan menuju bangku taman tak jauh dari sana. Sesekali melambai pada anak-anak yang menyapanya, memaksakan senyum. Suasana hatinya sedang tidak menentu saat itu.

Gadis itu jelas masih kesal pada Naruto yang terus saja menggerecokinya. Tapi kejadian tadi mau tak mau membuatnya tidak tahan untuk tidak nyengir. Bertabrakan dengan dua pria dan dua-duanya sangat tampan. Tapi tentu saja bukan dengan orang kedua yang membuat hatinya membengkak dua kali lipat. Dia hanya orang asing yang baru dikenalnya. Itachi Uchiha? Ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Asing.

Tapi kalau Neji Hyuuga lain lagi ceritanya. Pemuda itu bukan orang asing bagi Sakura. Sama sekali bukan. Karena Sakura sudah mengenalnya dari sejak ia masih jadi bocah ingusan. Dan mungkin sudah selama itu pula gadis itu jatuh hati padanya. Ya, Neji adalah cinta pertamanya. Pemuda impiannya. Dan pagi itu ia merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia karena sudah berada begitu dekat dengan Neji, bahkan menyentuh tangannya!

Betapa pemuda Hyuuga sudah membuatnya tegila-gila (atau gila betulan?).

Sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunannya. Sakura menoleh dengan kesal untuk melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya, siap melabrak.

"Selamat pagi, Nona," seorang pemuda kurus berambut hitam dan berkulit putih pucat bak pualam menyapanya dengan senyum aneh, seperti tidak ikhlas.

Sakura menaikkan alisnya. Pemuda itu jelas bukan siswa Konoha High seperti dirinya, tapi Sakura merasa sepertinya pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Dan tiba-tiba ia teringat. Tentu saja. Murid baru itu.

"Ya?" balas Sakura, mencoba beramah tamah seperti pada murid baru yang sebelumnya. Kita harus selalu menampilkan kesan baik di awal perkenalan, bukan?

"Perkenalkan, namaku Sai," kata si pemuda sambil mengulurkan tangan yang langsung disambut Sakura. Sepertinya anak ini cukup ramah. Tidak seperti Sasuke Uchiha yang kelihatan sombong sekali. "Aku siswa baru di sini. Dan namamu?"

"Sakura Haruno," jawab Sakura segera.

"Ah, ya. Nona Haruno." Sai lagi-lagi tersenyum aneh. "Um... bisakan aku minta tolong tunjukkan di mana ruang tata usaha?"

Sakura beranjak dari duduknya. "Tentu saja. Mari ikut aku..."

Dan keduanya berjalan menuju pintu utama.

"Kau yang dari Oto atau KAA?" tanya Sakura saat mereka menaiki undakan depan.

"Aku dari KAA," jawab Sai dari belakangnya.

"Hmm... keren," komentar Sakura terkesan. Sejak dulu Sakura ingin sekali masuk di sekolah seni bergengsi itu dan mendalami hobinya berakting—alasan mengapa ia bergabung di klub teater—namun sayangnya orang tuanya tidak mampu membiayai. Sekolah itu sangat mahal dan hanya yang dari kalangan tertentu saja yang bisa masuk ke sana. "Baguskah di sana, Sai?" Pertanyaan yang tidak perlu sebenarnya. Karena Sakura sudah banyak mencari tahu tentang sekolah itu dan ia tahu kalau bukan hanya kualitasnya yang bagus, tapi juga arsitektur bangunannya sangat indah. Klasik.

"Yeah. Lebih bagus dari di sini." Jawaban yang wajar, tapi terkesan menyombong. Sakura memaksakan senyum.

"Kenapa kau pindah kemari?" tanya Sakura kemudian. Ingin tahu.

"Kurasa alasan kepindahanku ke sekolah ini bukan urusanmu, Nona," jawab Sai setelah beberapa lama. Sakura berjengit, kesal. "Jadi bisakah kau tutup mulutmu dan tunjukkan saja jalannya?" lanjutnya datar.

Kurang ajar, batin Sakura. Wajahnya merah padam. Meski begitu, ia mencoba menahan diri. Ia sedikit menghentakkan kakinya saat menaiki tangga menuju lantai dua.

"Ini tempatnya," tukas Sakura sambil menunjuk pintu berpapan nama 'tata usaha' tepat di samping tangga. "Kuharap hari pertamamu menyenangkan," katanya sedikit menggeram melihat wajah si anak baru yang masih juga tersenyum.

"Yeah, trims. Sepertinya akan menyenangkan bersekolah di sini," tutur Sai. "Murid-muridnya sepertinya baik. Kau juga..." Sakura sedikit tersanjung. "Aku sungguh menyukai gadis jelek yang ramah sepertimu."

Brengsek.

"Apa kau punya masalah dengan wajahku?!" kemarahan Sakura meledak.

"Sejujurnya ya. Terutama rambut merah mudamu yang mengganggu pemandangan itu. Tapi kurasa itu bukan masalah besar," ujar Sai tenang. Sakura ingin sekali mencakar wajahnya.

"Atau kau punya masalah dengan mulutmu, brengsek!" geramnya.

Sai mengangkat sebelah alisnya. Namun sebelum ia sempat menjawab, pintu ruang tata usaha terbuka.

"Ada masalah, anak-anak?" Pak Guru Sarutobi muncul dari dalam ruangan. Dahinya berkerut berbahaya membuat Sakura dalam sekejap merasa ciut.

"T-tidak ada, Pak," gagap Sakura sambil memaksakan senyum. "Hanya mengantar siswa baru," ia menunjuk Sai yang (masih) tersenyum tanpa dosa.

Pria berewokan itu menatap Sai dari atas sampai bawah sebelum mengangguk, menyuruhnya masuk. Lalu ia menoleh lagi pada Sakura. "Kau sebaiknya cepat masuk ke kelas pertamamu. Sebentar lagi jam pertama dimulai."

"B-baik, Pak Guru," sahut Sakura cepat.

Gadis itu sempat melihatnya sekilas, sesaat sebelum pintu ruang tata usaha ditutup, Sasuke Uchiha. Pemuda itu setengah hati menyalami Sai.

--

TBC...