Happy birthday, Naruto-kun!
Makasih yang sudah mereview. peluk-peluk
Chapter ini lebih menceritakan tentang Sakura. Lebih panjang dari chap yang lalu.
--
Chapter 5 : Sahabat dan Keluarga
Blossoms' Cafe
"Pai itu untuk dimakan, bukannya untuk ditusuk-tusuk, Sakura."
Suara ramah itu membuyarkan lamunannya. Gerakannya menusuk-nusuk pai berry-nya dengan garpu terhenti saat ia mengangkat wajah. Sakura membalas senyuman hangat pria muda yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya dengan cengiran setengah hati.
Sore itu Sakura langsung pergi ke restoran yang dikelola keluarganya sepulang dari sekolah, sekalian menunggu sepedanya yang sedang diperbaiki di bengkel dekat sana. Dan di sanalah ia sekarang, bersama pria muda berambut cokelat gelap yang bekerja paruh waktu di restoran keluarganya, Yamato, duduk di lantai di dapur restoran yang memang sedang lengang.
"Biar kutebak. Kau ada masalah di sekolah. Apa aku benar?" tanya Yamato kemudian.
Sakura menghela napas berat. "Hmm..." ia mengangguk pelan.
Pria itu tersenyum paham. "Apakah kali ini Uzumaki lagi?" tebaknya.
Sakura menggeleng pelan sambil memeluk lutut dan meletakkan dagunya di atasnya. Piring pai terlupakan di lantai.
"Kalau begitu apa?" tanya Yamato lagi. Kali ini dengan nada agak khawatir. Bertahun-tahun mengenal gadis itu, Yamato pastilah sudah mengetahui kebiasaan Sakura yang terkadang suka mendramatisir masalah. Tipikal gadis melankolis. Masalah kecil saja kadang kelihatan seperti masalah pelik kalau Sakura yang mengalaminya. Dan kali ini pun tampaknya seperti itu.
"Hei, sejak kapan kau beralih profesi jadi detektif, Yamato?" Sakura mengernyitkan alis. Yamato tertawa kecil. "Entahlah..." desah Sakura kemudian. Kemudian ia menghela napas sekali lagi sebelum melanjutkan, "Aku tidak mengerti, kenapa di dunia ini ada orang yang begitu menyebalkan."
"Naruto?" Yamato mengangkat alisnya.
Gadis itu menggeleng lagi, "Naruto tidak terlalu menyebalkan sebetulnya. Dia hanya... yah—maksudku bukan dia..."
"Lalu?" pancing Yamato sabar.
"Ada anak pindahan dari Oto," Sakura berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Tampan sih... tapi kelakuannya gak banget. Bicaranya kasar dan caranya menatap orang lain, seakan dia orang paling hebat sedunia. Meskipun yah... dia sangat pintar..."
"Kau ada masalah dengan itu, Sakura?"
Sakura tidak menjawab, cemberut. Diangkatnya garpu yang sedari tadi masih dipegangnya, lalu mengerigitinya. Ekspresinya tampak gusar.
"Dia... er... mengalahkanmu dalam pelajaran?" selidik Yamato.
Gadis di sampingnya hanya mengeluarkan suara gerutuan samar. Meskipun Sakura sama sekali tidak mengiyakan, namun Yamato cukup yakin tebakannya benar. Hal ini pernah terjadi sebelumnya saat Shikamaru mengalahkannya pada ujian kenaikan.
Tersenyum tertahan, Yamato mengangkat tangannya untuk menyentuh puncak kepala Sakura dengan lembut. "Tidak usah terlalu dipikirkan. Sekolah itu bukan tentang siapa yang menjadi terbaik di kelas, dear," ucapnya bijak, "Sekolah itu tentang bagaimana kita menuntut ilmu sebaik mungkin, belajar sebanyak mungkin tentang kehidupan. Sekolah juga tentang bersosialisasi dan berteman dengan sebanyak mungkin orang." Pria itu menurunkan tangannya dan tersenyum ketika Sakura menyandarkan kepala di bahunya yang bidang.
"Mungkin kau benar..." gumam Sakura. "Aku saja yang terlalu memikirkan. Tapi cowok itu benar-benar menjengkelkan! Okelah kalau dia memang mengalahkanku di kelas, tapi kan tidak perlu mengejek seperti tadi. Menyebalkan sekali," Sakura bersungut-sungut.
"Kalau begitu tunjukkan padanya kalau ejekannya itu tidak ada artinya apa-apa untukmu," kata Yamato, "kekesalanmu justru akan membuatnya puas."
"Benar juga..."
"Tentu saja aku benar..." kekeh Yamato. "Omong-omong, malam minggu begini biasanya kau bersama teman-temanmu, pergi menonton film atau apa. Hitung-hitung untuk menghilangkan stress."
"Aku biasa pergi dengan Ino. Tapi sekarang dia sedang di Ame, ikut Kejuaraan Olahraga dan Seni Nasional, dan tidak akan kembali setidaknya satu bulan ke depan..." keluh Sakura. "Dan dia selalu saja tidak bisa dihubungi," ia menambahkan dengan kesal.
"Apa tidak ada yang lain?"
"Banyak sih... tapi aku sedang malas..."
"Well, sepertinya moodmu sedang tidak bagus ya? Ayolah, Sakura, tersenyumlah sedikit... Kau jelek kalau cemberut," Yamato mencoba bergurau.
Sakura mengangkat kepalanya dari bahu Yamato dan menatap pria itu dengan cemberut, lalu meninju lengannya main-main. Setengah geli, setengah kesal—karena ia sudah mendengar orang mengatainya jelek dua kali minggu ini. "Enggak lucu!"
Yamato tertawa sebelum suara salah satu pagawai di restoran itu, Kotetsu Hagane, menyela mereka, "Sakura, itu sepedanya udah beres."
Keduanya menoleh dan mendapati pria dengan plester menempel melintang di hidungnya itu melongok di pintu dapur, serbet tersampir di bahunya.
"Baik. Thanks, Kotetsu!" Sakura bergegas berdiri dari lantai dan berkata pada Yamato sambil tersenyum, "Thanks, Yamato. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Dan... pai buatanmu enak!" Diletakkannya garpunya di piring pai, lalu berlari kecil meninggalkan dapur, mengikuti Kotetsu yang sudah meninggalkan dapur lebih dulu.
Yamato balas tersenyum, kemudian memandang piring pai yang tergeletak terlupakan di lantai di dekatnya. Painya bahkan belum dimakan, hanya bolong-bolong kena tusukan garpu. Geleng-geleng kepala, pria itu mengambil piring painya, "Sayang kalau tidak dimakan," katanya sebelum memasukkan sepotong kecil pai ke mulut dengan garpu dan mengunyahnya perlahan. Ia menghela napas panjang.
"Mau pulang sekarang, sayang?" tanya Azami Haruno, ibu Sakura, ketika melihat putrinya keluar dari dapur.
Sakura menghentikan langkahnya, menoleh memandang ibunya yang tengah mengobrol dengan salah satu pelanggan—seorang wanita tua yang Sakura kenali sebagai penghuni rumah mungil di ujung jalan dekat sana—di salah satu meja di dekat jendela. Sakura tersenyum padanya yang dibalas dengan anggukan kecil ramah. "Iya, Bu... Sudah kesorean nih," ia menjawab ibunya.
"Tidak makan dulu di sini bersama ibu? Biar kusuruh Yamato membuatkan sesuatu untukmu. Atau kau mau Paman Teuchi saja?" tawar Azami.
Sakura menggeleng. "Tidak usah, aku sedang tidak lapar, Bu," tolaknya, "Lagipula jam segini biasanya kan mulai ramai, nanti malah merepotkan semuanya."
Tepat saat itu serombongan besar mahasiswa memasuki restoran, mengobrol dan tertawa-tawa dengan berisik sementara mereka mencari meja yang cukup untuk delapan orang. Ayame dengan sigap langsung melesat dengan rollerblade-nya menghampiri meja mereka, membawa beberapa buku menu, pena dan notes.
Azami tampak agak kecewa, tapi buru-buru ditutupinya dengan senyum lembut. "Baiklah, sayang. Tapi kalau kau lapar, ada spagetti di kulkas. Kau bisa menghangatkannya dulu."
"Oke, Bu. Aku pulang dulu, ya..." pamit Sakura. Gadis itu berjalan menuju pintu.
"Hati-hati pulangnya, Sakura," ujar Azami tepat ketika putrinya membuka pintu.
Gadis itu menoleh lagi. "Sampai ketemu di rumah."
Udara sore yang sejuk langsung menerpa wajahnya ketika Sakura melangkahkan kaki keluar dari restoran yang hangat. Di luar, Izumo Kamizuki, sahabat Kotetsu yang juga pegawai di restoran keluarga Haruno, tampak sedang menjajal sepeda milik Sakura yang baru keluar dari bengkel di halaman parkir restoran. Sakura bergegas menghampirinya.
"Bagaimana?" tanyanya pada Izumo.
Pria muda itu nyengir, lalu mengacungkan ibu jarinya. "Sip! Sudah lancar lagi sekarang. Rem-nya juga sudah diperbaiki!" serunya sambil turun dari sepeda dan menyerahkannya pada pemiliknya.
Gadis itu tersenyum padanya. "Oke. Trims ya, Izumo. Omong-omong, kau sebaiknya cepat kembali ke dalam," ujar Sakura sambil mengerling ke arah restoran. Dari jendela tampak Kotetsu sedang (sok) sibuk membantu Ayame melayani rombongan lain yang baru datang. "Kalau tidak, kau bisa—" namun sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, Izumo memotongnya,
"Oh, tidak akan kubiarkan!!" geramnya. Dan tanpa menoleh lagi, Izumo berlari menuju restoran.
Sakura terkikik sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sudah menjadi rahasia umum di jajaran karyawan Blossoms' Cafe, bahwa dua pelayannya yang adalah sepasang karib, Izumo dan Kotetsu, saling bersaing untuk menarik perhatian gadis yang merupakan putri dari koki spesialis ramen di sana, Ayame. Namun gadis itu tampaknya tidak begitu tertarik. Sakura punya perasaan bahwa gadis manis berambut cokelat panjang yang selalu dibuntut kuda itu menyukai pria lain.
--
Bloosoms Street No. 28
Kediaman Haruno
Langit sudah mulai gelap ketika Sakura sampai di rumahnya. Gadis itu memarkirkan sepedanya di halaman dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Udara di luar sudah mulai dingin.
Kediaman keluarga Haruno hampir selalu sepi setiap hari. Ibunya hampir sepanjang hari berada di restoran, bahkan ketika akhir pekan seperti sekarang. Sementara ayahnya yang seorang pilot memang jarang sekali berada di rumah, selalu bepergian ke berbagai tempat, menjalankan tugas. Mereka hanya berkumpul kalau sang kepala keluarga sedang libur, dan itu adalah hal yang amat mewah bagi Sakura.
Tapi Sakura sama sekali tidak mengeluh. Karena ia sangat menyayangi kedua orangtuanya dan komunikasi mereka terjalin cukup baik. Dan tentu saja, ia bisa menguasai rumah. Haha...
Gadis itu menyalakan lampu halaman, lalu ruang depan. Segera saja ruangan mungil yang tertata apik bernuansa cokelat muda menampakkan diri. Wangi segar jeruk pengharum ruangan menerpa indra penciumannya. Sakura tersenyum. Suasana rumahnya selalu membuatnya merasa rileks. Home sweet home!
Sakura melepas sepatunya dan melemparnya asal saja ke rak sepatu sebelum berlari kecil melintasi ruang tamu, memasuki ruang tengah menuju dapur. Ia membuka lemari es untuk mengambil sekaleng diet coke, membukanya sebelum menghenyakkan diri di sofa di depan televisi di ruang keluarga. Ia menghirup coke-nya sambil melepaskan tali tas yang tersampir di bahunya, menyandarkan punggung di sofa yang nyaman.
Hari yang melelahkan, pikirnya sambil menghirup lagi diet coke-nya. Pikirannya melayang lagi pada kata-kata Yamato tadi. Benar juga, sekolah bukan berarti harus menjadi yang terbaik di sekolah. Tujuannya kan untuk mencari ilmu... dan bersosialisasi. Tapi kemudian ia terbayang lagi wajah menyebalkan Sasuke Uchiha dan ia menggeram pelan. Cowok itu benar-benar kurang ajar...
Dari mukanya saja sudah ketahuan kalau cowok itu menyebalkan! Heran, kok banyak sih cewek yang suka dengannya?
"Dengar ya, Haruno. Kurasa sebaiknya kau menggunakan waktumu untuk hal-hal yang lebih berguna daripada mencoba menggodaku. Bagaimana kalau kau belajar saja? Kulihat caramu menjawab pertanyaan tadi sangat payah." suara Sasuke tadi siang terngiang lagi.
Sakura menggertakkan gigi. Selalu saja merendahkan orang. Sombong! Dan apa dia pikir aku suka padanya? Najis! Aku tidak sudi.
Menghela napas, Sakura meletakkan kaleng coke-nya yang sudah setengah di meja kopi di samping sofa. Ngapain juga aku mikirin cowok itu? ia memarahi dirinya sendiri. Dia tidak cukup berharga untuk dipedulikan. Kalau dia tidak suka padaku, itu masalahnya, bukan masalahku. Dengan pikiran seperti itu, Sakura beranjak dari sofa menuju lantai dua, ke kamarnya. Ia memutuskan untuk berendam air hangat malam itu.
--
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Sakura keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambut panjangnya yang basah. Ia mengencangkan ikatan jubah mandinya sambil melangkah ke tempat tidurnya yang bernuansa putih-pink lembut.
Sudut matanya menangkap foto berbingkai yang diletakkan di meja samping tempat tidurnya. Gadis itu tersenyum melihat dua sosok yang tengah tertawa di dalam foto. Sosok yang satu, yang berambut pirang panjang dan memakai seragam cheers sekolah mereka yang berwarna biru dan putih, sedang memegangi sebuah piala besar, sementara sosok yang satu lagi, yang berambut merah muda, berdiri di sebelahnya. Foto itu diambil saat tim cheerleader Konoha High memenangkan turnamen cheers antar sekolah. Tim cheers kebanggaan yang dikapteni sahabatnya sejak kecil, Ino Yamanaka.
Ah, jadi kangen...
Sudah lama tidak ada kabar dari Ino sejak gadis itu pergi ke Ame. Bukannya Sakura tidak menghubunginya, tapi ponsel Ino selalu tidak aktif setiap kali ia ingin meneleponnya. Ino memang pernah memberitahunya bahwa mungkin akan sulit menghubunginya. Tapi ini sudah terlalu lama. Rasanya sudah berbulan-bulan sejak mereka terakhir menghabiskan waktu akhir pekan dengan bergosip sampai larut malam. Rasanya kangen sekali...
Sakura menimbang-nimbang beberapa lama sambil melirik pesawat telepon di dekat foto itu. Yah, tidak ada salahnya dicoba, kan? Barangkali sekarang hari keberutungannya.
Sakura meraih gagang telepon dan memencet nomor ponsel Ino yang sudah dihafalnya di luar kepala. Ia menunggu...
Gadis itu nyaris terlonjak kegirangan ketika nada tunggu terdengar. Berarti Ino mengaktifkan ponselnya! Tidak lama kemudian suara Ino terdengar di seberang,
"Halo, Sakura?" suara Ino terdengar senang.
"INO!" jerit Sakura.
"Hey, forehead girl! Apa kabar? Aku baru saja mau meneleponmu!" seru Ino dari seberang.
"Ino, pig! Kabarku biasa saja. Kau? Oh, ya ampun... Ino..."
"Yeah... kau kan tahu kabarku selalu baik. Aku baru saja menelepon keluargaku, lalu Shikamaru dan Chouji.."
"Dan kau meneleponku setelah Shika-Chou... Oh, kau tega sekali..." protes Sakura sambil menjatuhkan diri di ranjangnya.
"Aku meneleponmu dulu tahu!" sahut Ino membela diri, "tapi kau tidak mengangkat!"
"Oh!" Sakura langsung merasa tidak enak, "mungkin aku sedang mandi waktu kau menelepon."
"Kalau begitu jangan salahkan aku, Nona!"
"Baiklah baiklah. Sori..." sahut Sakura. "Jadi... Ceritakan pengalamanmu di Ame. Bagaimana pertandinganmu? Apa kau bertemu atlit tampan di sana?"
"Whoa! Tunggu dulu!" sela Ino sambil tertawa. "Sudah dua minggu lebih aku meninggalkan Konoha, aku bahkan tidak mengikuti hari pertama di sekolah!—Oh, kau tidak tahu bertapa aku merindukan Konoha, Sakura!—Sekarang giliranmu dulu yang bercerita. Bagaimana sekolah? Kudengar dari Shikamaru ada anak cowok pindahan dari Oto dan KAA ya? Apa mereka tampan?" Ino memberondongnya.
Sakura memutar mata. "Tapi kan kau pasti sudah mendengar semuanya dari Shikamaru dan Chouji.."
"Oh, ayolah..." bujuk Ino, "mengobrol dengan cowok berbeda dengan mengobrol dengan cewek," ia diam sejenak sebelum melanjutkan, "kau tahu Shikamaru, kan? Dia cerita seperti orang gak niat gitu. Males-malesan. Dia cuma bilang, sekolah biasa-biasa saja, PR dan guru-gurunya merepotkan seperti biasa. Sedangkan Chouji, makanan melulu yang dibicarakannya. Dia bilang di kantin ada menu baru, bla bla bla... Ayolah, masa kau tega membiarkanku hanya tahu tentang itu saja..."
"Baiklah..." kata Sakura akhirnya. "Dari mana dulu ya? Hmm... yah, seperti kata Shika, sekolah biasa-biasa saja—"
"Aku sudah dengar bagian itu," sela Ino tak sabar. "Ceritakan tentang cowok pindahan itu!" gadis itu kedengarannya sangat bersemangat.
Sakura menghela napas, dan detik berikutnya ia mulai mencerocos, menceritakan segalanya mengenai dua murid pindahan, Sasuke Uchiha dan Sai. Tentu saja dari sudut pandangnya sendiri yang berarti dalam hampir tigapuluh menit berikutnya, Ino dijejali cerita tentang betapa menjengkelkannya kedua cowok itu.
"Hmm... kedengarannya mereka sangat menyebalkan, ya..." Ino sepertinya mulai kehilangan minat.
"Yeah..." keluh Sakura.
"Tapi katamu mereka tampan," ujar Ino.
"Yeah, memang. Tapi kalau kelakuannya minus kan sama saja bohong. Langsung turun pasaran," sahut Sakura.
"Kau benar..." Sakura bisa mendengar Ino menghela napas di seberang. "Ya sudah, lupakan saja tentang mereka. Bagaimana dengan kemajuanmu dengan Neji Hyuuga?" pertanyaan Ino berikutnya kontan saja membuat wajah Sakura merona merah—Sakura bersyukur Ino tidak bisa melihatnya memerah sekarang, kalau tidak ia pasti akan meledeknya habis-habisan.
"Kemajuan apaan sih?" Sakura mencoba berkelit dari topik berbahaya ini, "Hei, aku mau dengar tentang penga—"
"Jangan mengubah topik pembicaraan dong!" protes Ino. "Bagaimana kemajuanmu dengan si tampan Neji Hyuuga itu, Sakura?"
Sekarang Sakura bisa membayangkan senyum penuh arti sahabatnya di Ame sana. Gadis itu menghela napas berat. "Aku tidak tahu... Gak ada kemajuan apa-apa kurasa," sahut Sakura pelan.
"Gak ada kemajuan? Ya ampun Sakura! Kalian kan sama-sama di teater (meskipun Neji tidak begitu aktif di teater, ia lebih aktif di klub-komputer-nya). Pastinya gampang dong kau mendekatinya. Ajak dia ngobrol waktu kalian sedang berkumpul, supaya dia tahu kau naksir dia..." nasihat Ino panjang lebar.
Yah, Ino memang sangat ahli dalam hal yang ada kaitannya dengan cowok. Gadis itu selalu punya seribu satu cara untuk menaklukkan cowok yang diinginkannya, dan ia sama sekali tidak pelit berbagi tips dengan siapapun. Tapi masalahnya, sejauh ini di Konoha High tidak ada cowok yang membuatnya benar-benar tertarik, jadi ilmunya itu malah kurang berguna untuk dirinya sendiri.
"Gampang kau ngomong begitu, Ino. Dia kan selalu bersama Lee dan Tenten," keluh Sakura lagi.
"Kalau begitu ajak mereka ngobrol juga—tapi tentu saja kau harus berfokus pada Neji—katamu mereka bukan orang yang sulit diajak bergaul kan?"
"Iya sih.. tapi..."
"Kau pasti bisa, Sakura! Percaya deh! Si Kurama saja bisa, kan? Ayolah... Aku sudah memberitahumu sejak Kurama putus dari Hyuuga, ini kesempatanmu. Cowok itu sudah kosong!"
"Entahlah... aku tidak percaya diri..." ujar Sakura pelan, tidak yakin akan dirinya. Jemarinya memainkan kabel telepon.
"Ya ampun... kenapa tidak? Kau pintar, cantik dan penuh semangat. Apa lagi?"
"Kau terlalu berlebihan, Ino..." meski begitu Sakura merasa tersanjung.
"Aku bicara kenyataan. Oh, kau akan terkejut mengetahui banyak cowok yang rela mengantre untuk sekedar keluar denganmu. Kau sudah melihat Naruto—"
"Yeah, hanya Naruto..."
Diam sejenak, sebelum terdengar geraman gemas dari seberang.
"Aduh, aku gak tahu lagi deh harus ngomong apa tentang ini. Aku gak mau tahu, pokoknya kau harus membuat progres saat aku kembali nanti. Minimal jadianlah... Kalau bisa tunangan..."
"INO!"
Ino terbahak di seberang. Sakura menggerutu sebal. Ia kesal sekali kalau Ino sudah main memutuskan seenaknya seperti itu.
"Sekarang giliranmu bercerita!" tukas Sakura.
Saat berikutnya, giliran Ino yang mengoceh tentang kehidupannya di Ame selama dua minggu ia mengikuti Kejuaraan Olahraga dan Seni Nasional tingkat sekolah menengah di kota itu, bagaimana sesi latihan yang dijalaninya, pertandingan yang sudah dilewati dan teman-temannya (baik baru maupun lama) di asrama. Rupanya Ino sedang dekat dengan seorang cowok dari Konoha High juga bernama Temujin yang merupakan kapten tim sepakbola dari kontingen Konoha—Ino sendiri perwakilan dari cabang gymnastic.
"Temujin benar-benar manis! Dia memijat kakiku yang terkilir waktu latihan kemarin. Dan kami sering makan malam bersama di asrama," beritahu Ino sambil terkikik. Jelas sekali kalau Temujin naksir Ino. Hampir semua cowok di Konoha High naksir Ino.
Dan Ino juga bercerita tentang kenalan barunya, seorang gadis cantik tapi galak dari kontingen Suna. "Namanya Temari. Aku ingin tahu pendapat Shikamaru kalau dia ketemu cewek itu," Ino tertawa, sepertinya membayangkan ekspresi malas Shikamaru, "pasti dia akan bilang, 'what a drag!'. Dan ADIKNYA! Oh, kau harus ketemu adiknya yang paling bungsu, Sakura! Namanya Gaara. Dia cute bangeeeet...".
Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam ketika akhirnya Sakura menutup teleponnya. Gadis itu mendengar suara mobil ibunya memasuki halaman, lalu ia ingat belum memasukkan sepedanya ke garasi. Sakura buru-buru melepas handuk dan jubah mandinya, menggantinya dengan piama. Ia menyambar jaket dan memakainya di atas piama sebelum melesat keluar kamar.
"Ibu sudah pulang?" sambutnya ketika ia sudah sampai di lantai bawah. Ibunya yang sedang mengambil air di lemari pendingin menoleh dan tersenyum.
"Belum tidur, Nak?" tegurnya.
Sakura menggeleng. "Aku lupa memasukkan sepeda ke garasi," ujarnya sambil berjalan menuju pintu. Ia merapatkan jaket ketika melangkah ke udara malam musim gugur yang dingin dan berangin.
Sakura menghela napas lega ketika beberapa menit kemudian kembali berada dalam rumahnya yang hangat. Ia masuk melalui garasi langsung menuju dapur, tempat ibunya sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan kertas alumunium foil.
"Kau belum makan kan?" tanya Azami ketika putrinya mendekat.
Sakura menuang air dari lemari pendingin ke dalam gelas untuk dirinya sendiri. "Hm?" ia meneguk airnya sedikit, alisnya terangkat.
"Spagetti-mu belum dimakan," ujar Azami, menjawab tatapan bertanya putrinya. Ia meneruskan mengeluarkan bungkusannya yang ternyata berisi...
"Ayam panggang bumbu oriental!" seru Sakura ketika melihat isi bungkusan yang dibawa ibunya. Itu adalah makanan favoritnya. Gadis itu menghirup aroma lezat yang menguar dari bungkusan itu dalam-dalam, "Hmm... kelihatannya enak sekali, Bu!"
"Yamato yang masak lho. Katanya itu menu baru yang akan diajukannya sebagai menu istimewa minggu depan," beritahu Azumi sambil mengambil piring dari rak dan mengeluarkan ayam panggang beraroma lezat itu lalu meletakkannya di atas piring.
Sakura tertawa kecil. "Yamato memang pandai sekali masak! Wanita yang jadi istrinya nanti pastilah bakal keki."
"Bisa saja kamu," kekeh Azami sambil geleng-geleng kepala. "Kau mau coba?" tanyanya pada sang putri tepat ketika perut Sakura berkeriuk keras sekali.
Sakura langsung menyambar piring. "Tentu saja aku mau!" katanya sementara ibunya memotongkan beberapa bagian ayam untuknya. Sakura mencicipinya sepotong. "Hmm... enak banget... Wah, pasti bakal laku banget. Yamato pasti senang sekali!" serunya riang. Ibunya hanya tersenyum sambil memotong untuk dirinya sendiri.
"Sakura, bagaimana kalau kita makannya sambil nonton film?" usul Azami beberapa saat kemudian setelah ia membungkus kembali sisa ayam dengan kertas alumunium foil.
"Pasti asyik!" sahut Sakura cepat. Gadis berambut pink itu membawa piringnya dan melesat ke ruang keluarga. "Ibu mau nonton film apa?" Azami bisa mendengar Sakura mulai mengoprek rak koleksi DVD mereka.
"Terserah kau saja, sayang," sahut sang ibu sambil memasukkan bungkusan itu ke lemari pendingin, lalu mengambil botol air mineral. "Kau mau minum apa?"
"Tidak usah. Aku masih ada diet coke di sini," jawab Sakura. Tersenyum, akhirnya ia menarik satu keping DVD dari dalam rak. Judul yang kerap ia tonton bersama Ino. Film favorit mereka.
"Film apa?" Ibunya melongok dari atas bahunya.
Sakura menunjukkan DVD di tangannya; 'The Sisterhood of the Traveling Pants'.
"Plilihan bagus, Sakura," komentar Azami. Lalu ia duduk di sofa sementara Sakura menyetel DVD player.
--
Malam itu mereka menghabiskan waktu menonton DVD, makan dan mengobrol sampai larut. Dan kekesalan yang sempat melandanya seharian menguap begitu saja. Kehadiran keluarga dan sahabat memang selalu bisa membuatnya gembira.
--
TBC...
A/N :
1. Temujin adalah tokoh di Naruto the movie 2. Cowok pirang cakep yang di badannya ditanam batu galel (kalo gak salah). Di sini dia itu semacam fanboy-nya Ino.
2. Kurama Yakumo adalah tokoh di salah satu filler Naruto sebelum shippuden. Cewek berambut cokelat panjang, berkulit pucat (seperti Sai), genjutsu master dan jago melukis. Menurutku dia manis sekali. Di sini aku menjadikan dia mantannya Neji. Sepertinya sekarang aku lagi dikuasai kegilaan mengobrak-abrik pairing yang sudah ada. Tunggu saja pairing kejutan lainnya. Muahahaha... ketawa setan
3. Yang gak suka NejiSaku, gomen! Soalnya aku diam-diam terobsesi sama pairing satu itu. Hehe.. Sampe koleksi fic dengan pairing mereka segala.
4. Nulis chap ini bikin aku kangen Mum. Tapi biasanya kalo kita nonton bareng, Mum selalu ketiduran. Jadinya nonton sendirian dech...
5. Nama ayahnya Sakura enaknya siapa ya? Gak ada ide nih. Beri pendapatmu lewat review! Thanks!
--
