Ambu... peluk-peluk Thanks sudah menjadi satu-satunya pereview di chapter lalu. Wekekek... bener-bener penyemangat, dari pada gak direview sama sekali. peluk-peluk ambu lagi

Aaah ada kakkoii-chan juga ternyata. Arigatou XD

--

Chapter 6 : Akhir Pekan

Keesokan harinya...

Fox Street No. 10

Rumah Naruto

Matahari belum juga menampakkan diri pagi itu ketika suara senandung terdengar di salah satu kamar yang menyala di salah satu rumah mungil di perumahan itu. Sungguh aneh mengingat hari itu adalah akhir pekan, yang biasanya dimanfaatkan orang-orang untuk bangun lebih siang. Tapi itu rutinitas yang biasa bagi Naruto Uzumaki. Pemuda pirang itu bahkan sudah bangun sebelum para ayam jantan sempat berkokok.

Sekarang ia berdiri di depan cermin setinggi badan di kamarnya yang seperti kapal pecah, memandangi bayangannya. Ia tersenyum puas menatap jajaran otot yang menghiasi tubuh bagian atasnya yang terbuka. Tidak sia-sia rupanya latihan sepakbola yang dijalaninya dengan teman klub sepakbola-nya selama ini. Dan juga latihan tambahan angkat barbel di rumah.

"Bagaimana ya, kira-kira tanggapan Sakura kalau dia melihat tubuhku yang seperti ini?" ia bertanya pada dirinya sendiri, membayangkan wajah Sakura yang bercahaya penuh kekaguman dalam kepalanya. Naruto nyengir lebar. Lalu ia mengangkat lengannya, membuat bisepnya berkontraksi membentuk gumpalan otot macho di atas lengannya yang sebenarnya agak kurus. "Whihi... kau keren sekali, Naruto!"

Ia menoleh ketika telinganya menangkap suara tawa kecil dari ambang pintu. Ayah angkatnya, Iruka Umino, berdiri bersandar pada pintu yang dibiarkan terbuka oleh pemiliknya. Pria berwajah ramah itu tersenyum melihat tingkah anak adopsinya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Naruto buru-buru menurunkan tangannya. "Pap!" seru Naruto. Wajahnya memerah. "Sejak kapan ada di sana?"

"Sudah sejak tadi," sahut Iruka dengan nada geli.

Naruto langsung bersungut-sungut. Meskipun Iruka adalah ayah angkatnya dan mereka sudah tinggal satu rumah sejak ia kecil, tapi tetap saja—memalukan ditemukan sedang berada dalam posisi seperti itu.

"Kenapa mesti malu, Naruto?" kekeh Iruka sambil melangkahkan kaki ke dalam kamar putra angkatnya dan berjalan ke sisi Naruto, ikut menatap ke arah cermin. "Ow! Tinggimu hampir melebihiku!"

Masih cemberut, Naruto sekali lagi menatap cermin. Dan memang benar, tinggi mereka hampir sama kalau dilihat berdiri berdampingan seperti itu. Mereka lebih tampak seperti kakak-adik dibanding ayah-anak.

Kemudian Naruto menyadarinya. Ada lingkar hitam di bawah mata Iruka, dan wajahnya yang tampak agak cekung. Lelah.

"Aku membangunkanmu lagi, ya?" tanya Naruto agak merasa bersalah, mengingat betapa sibuknya ayah angkatnya itu seminggu belakangan. Pagi mengajar di sekolah dasar, pulang hanya untuk makan siang sembari memeriksa PR atau lembar ulangan murid-muridnya dan sorenya mengajar les. Belum lagi harus mengunjungi panti setidaknya tiga hari sekali. Tidak heran kalau wajah ramah itu hampir selalu tampak lelah.

"Tidak juga," sahut Iruka, senyuman masih tersungging di wajahnya. Namun Naruto tahu ayahnya berdusta. Iruka sangat peka terhadap suara sekecil apapun. Mendengar suara sedikit saja pasti akan membuatnya terbangun.

Naruto buru-buru melesat untuk mematikan tape-nya.

"Sori, Pap!" pemuda itu nyengir minta maaf.

"Tak apa," sahut Iruka.

Naruto makin merasa tidak enak. Ia merasa lebih baik kalau Iruka memarahinya karena berisik.

"Tidak usah khawatir. Aku sudah kebanyakan tidur kemarin," Iruka buru-buru menambahkan. Rupanya ia menyadari ekspresi tak enak Naruto. "Hei, bagaimana kalau kita joging? Sudah lama kan kita tidak joging bareng?" usulnya.

"Oke!" sahut Naruto cepat sambil menyambar kaus oblong hitam bergambar spiral di bagian dadanya. "Aku memang mau joging," tambahnya sambil menjebloskan kausnya yang sudah agak melar itu ke kepala.

"Baiklah. Aku ganti baju dulu," Iruka hendak beranjak dari sana, tapi tidak jadi. "Omong-omong, kamu tambah gagah saja, Naruto," komentarnya sambil tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar.

Naruto nyengir lebar atas komentar ayah angkatnya. Lalu ia berjalan menuju lemarinya, mengaduk-aduknya sebelum menarik sehelai handuk kecil dan kupluk dari dalamnya. Dipakainya kupluknya hingga menutupi rambut pirangnya yang belum tersisir sementara sang handuk menerima nasib dijejalkan dengan brutalnya ke saku belakang training yang dipakai pemiliknya. Naruto berlari kecil melintasi kamar menuju pintu...

GUBRAK!!

Naruto jatuh terjerembab dengan sukses ke lantai, mengumpat keras. Ia baru saja terserimpet kemeja kotor yang ia ingat dilemparnya asal saja sepulang sekolah hari sebelumnya. Pemuda itu bangkit berdiri sambil meringis kesakitan sebelum menyambar si kemeja sialan dan menjejalkannya ke keranjang pakaian kotor di sudut kamar yang sudah nyaris penuh. Sepertinya ia sudah perlu ke laundry.

Iruka sudah menunggu di ruang depan ketika Naruto keluar dari kamarnya. Naruto buru-buru mengambil jaketnya dari gantungan mantel di ruang keluarga sebelum menyusulnya.

"Habis joging kita sarapan di restorannya Sakura, ya, Pap!" kata Naruto penuh semangat. Sebenarnya memang itulah tujuan utamanya bangun bagi hari itu; joging sebentar, lalu mampir ke Blossoms' Caffe setelahnya. Kegiatannya nyaris setiap akhir pekan, menjadi pengunjung pertama restoran mungil itu.

"Ya... Terserah kau saja, Naruto."

--

Crimson Drive No. 9

Keidaman Uchiha bersaudara

Matahari sudah mulai meninggi ketika BMW hitam itu memasuki halaman depan rumah bercat marun itu. Dua orang gadis kompleks yang kebetulan sedang melintas untuk berjoging berhenti sejenak untuk sekedar mengucapkan selamat pagi pada pria tampan yang baru saja keluar dari mobil.

Itachi Uchiha membalas sapaan mereka sekilas sebelum menutup pintu mobilnya—yang dengan sukses membuat kedua gadis itu bersemu merah dan terkikik—Walaupun dengan tampang berantakan, jaket hitamnya tersampir di lengan, dasinya sudah terikat longgar di kerah kemejanya, sulung dari Uchiha bersaudara itu masih tampak memesona.

Mengabaikan kedua gadis tadi yang tampaknya memutuskan untuk 'menikmati pemandangan pagi' lebih lama sambil saling sikut dan cekikikan, Itachi segera mengunci mobilnya lalu berjalan menuju pintu depan… yang rupanya masih dikunci. Pria itu merogoh-rogoh jaketnya, mengeluarkan kunci cadangan dan memasukkannya ke lubang kunci. Tapi rupanya tidak bisa. Sepertinya kuncinya dibiarkan menggantung dari dalam.

Menghela napas lelah, Itachi terpaksa berjalan memutar ke bagian samping rumah menuju jendela kamar yang ditempati Sasuke. Mungkin adiknya itu masih tidur.

"Sasuke!!" Itachi menggedor-gedor jendela yang memang masih gelap itu. Tidak ada jawaban. "Sasuke, buka pintunya!!" ia memanggil lebih keras.

"Baru pulang, Itachi, Nak?" suara serak seorang wanita membuat pria itu menoleh. Serta merta ia tersenyum ketika dilihatnya wanita tua dengan rambut seputih kapas yang merupakan tetangganya sedang melongok memandangnya dari beranda rumahnya yang dipenuhi pot-pot tanaman hias.

"Selamat pagi, Nek," sapa Itachi.

"Kenapa berteriak-teriak pagi-pagi begini, dear?" tanya si nenek ramah.

"Sasuke mengunci rumah dari dalam," sahut Itachi, kembali mengetuk jendela Sasuke.

Si nenek mengangkat alisnya tinggi. "Siapa Sasuke?" tanyanya.

"Adikku. Dia tinggal di sini juga," jawab Itachi agak heran. Padahal kepindahan Sasuke sudah lebih dari seminggu, tapi kenapa tetangganya itu belum tahu?

"Oh," nenek itu mengangguk-angguk. "Kukira di rumahmu tidak ada orang..." selorohnya sambil tertawa-tawa. Itachi ikut tertawa. "Aku baru saja membuat kare. Kau mau mampir dulu? Kau bisa mengajak adikmu juga," tawarnya kemudian. Kerut-merut di wajah tuanya semakin dalam ketika ia tersenyum hangat pada Itachi.

"Oh, tidak usah, Nek," Itachi menolak halus, seraya membalas senyuman sang nenek. "Kami masih punya roti. Mungkin lain kali..."

Nenek itu tampak agak kecewa, tapi tidak memaksa. Sudah menjadi rahasia umum di kompleks itu kalau si nenek sudah menganggap Itachi sebagai putranya yang sudah meninggal bertahun-tahun silam. Itachi, meskipun kadang agak jengah terutama saat sang nenek tiba-tiba menghampiri dan mencubit pipinya atau memeluknya erat-erat di depan umum, sama sekali tidak keberatan. Justru ia senang karena merasa seperti punya nenek lagi (neneknya yang asli kedua-duanya sudah meninggal).

Perlu sepuluh menit ekstra bagi Itachi sampai ia berhasil membangunkan adiknya (Sasuke memang bukan tipe orang yang suka bangun pagi, terlebih di akhir pekan seperti ini). Dengan tampang awut-awutan, Sasuke membuka jendela kamarnya.

"Apa-apaan sih pagi-pagi sudah berisik!" hardiknya marah.

"Kau yang apa-apaan! Matahari sudah tinggi begini masih tidur. Dasar tukang molor!" omel Itachi, "sekarang buka pintunya!"

Sasuke berdecak sebal. "Kau kan bawa kunci cadangan."

"Yeah. Masalahnya adikku yang malas ini membiarkan kunci tergantung di dalam," sahut Itachi sebal. "Sudah, jangan banyak cing cong. Sekarang buka pintunya supaya aku bisa menghajarmu!" ancamnya. Yah, orang yang sedang lelah terkadang emosinya gampang terpancing. Tapi tentu saja Itachi tidak serius kali itu. Mana tega ia menghajar adik tersayangnya.

"Ck. Ya sudah. Tunggu sebentar," kuap Sasuke. Pemuda itu membiarkan jendelanya tetap terbuka sementara ia meninggalkan kamarnya untuk membukakan pintu bagi sang kakak yang baru pulang dari dinas luar kota.

Beberapa saat kemudian akhirnya pintu depan dibuka juga. Itachi buru-buru masuk dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia merasa sangat-sangat lelah. Sudah beberapa hari ini atasannya telah membuatnya bekerja gila-gilaan di Iwa. "Akhirnya di rumah lagi..." desahnya lega. "Oi, Sasuke," panggilnya pada sang adik.

"Apa?" sahut Sasuke yang setengah jalan kembali ke kamarnya sambil menoleh.

Itachi menghela napas. "Jangan bilang kalau kau mau tidur lagi!" ujarnya agak galak, "Kemari kemari... aku mau ngobrol sebentar." Itachi menepuk space kosong di sofa di sampingya.

Sasuke mengeluh pelan, tapi menuruti kemauan kakaknya. Ia duduk di tempat yang ditunjuk Itachi. "Mau ngobrol apa?" suaranya masih dibebani kantuk.

"Aku ingin dengar ceritamu tentang sekolah barumu. Bagaimana? Kau betah?" tanya Itachi sambil melepas dasinya dan membuka beberapa kancing paling atas kemeja birunya.

"Lumayan," gumam Sasuke singkat.

Itachi memutar mata. "Tidak ada kata lain selain 'lumayan'?"

"Tidak," sahut Sasuke dingin. "Dan kalau kau hanya ingin membicarakan sekolah, lebih baik aku tidur lagi. Jangan berlagak peduli. Tidak mempan padaku!"

"Eh, tunggu dulu!" Itachi menarik Sasuke duduk lagi ketika pemuda itu hendak berdiri. Pria itu tertawa kecil. "Bilang saja kalau kau ngambek aku tinggal sendirian di Konoha di hari-hari pertamamu, eh?"

Semburat merah muncul di wajah Sasuke. Hanya sekejap, sebelum kembali pucat dan ekspresi dingin kembali tergambar di wajah berantakan namun tampan itu. "Tidak," geramnya, meskipun nada suaranya menyatakan sebaliknya.

Itachi tertawa lagi. Ia mengacak rambut Sasuke yang sudah berantakan sehingga semakin berantakan dan beranjak dari sana. "Tadi aku bertemu nenek tetangga kita. Katanya dia tidak tahu kau ada di sini. Memangnya kau tidak memperkenalkan diri?" tanyanya pada sang adik sambil berjalan menuju dapur.

Sasuke bisa mendengar keran wastafel dibuka sementara ia meraih remote televisi dan menyalakannya. "Tidak. Apa perlunya?" ujarnya tak peduli.

Itachi mencuci tangannya di bawah pancaran air wastafel sambil berkata menegur, "Bersopansantunlah sedikit, Sasuke. Bagaimanapun juga dia tetangga kita. Kalau ada apa-apa kan, tetanggalah yang paling dekat untuk dimintai tolong." Ia menutup keran, lalu mengeringkan tangannya dengan serbet.

"Kau sok tua," komentar Sasuke.

"Aku memang lebih tua darimu," sahut Itachi gemas, "kau ini kalau dibilangin suka susah ya. Bagaimana kau bisa mandiri kalau bersosialisasi saja tidak mau?" ia menghela napas. Lalu menuju lemari pendingin, membukanya. Dan langsung tercengang. "Astaga Sasuke! Kenapa isi kulkas kita jadi miskin begini?!" dengkingnya.

Lemari pendingin itu nyaris kosong. Bahkan botol air mineral pun kosong melompong. Tidak ada susu, tidak ada jus jeruk atau telur atau sekotak sereal yang biasanya selalu ada di sana. Tidak ada apapun selain sebutir tomat yang tergeletak kesepian di sudut.

"Apa?" Sasuke beranjak menghampiri kakaknya dan ikut melongok ke dalam kulkas mereka.

"Kau tidak pernah belanja ya?" tanyanya selang beberapa lama.

"Tidak," sahut Sasuke enteng.

"Terus kalau mau sarapan bagaimana?"

"Aku tidak pernah sarapan selama kau pergi," sahutnya cuek.

"Makan malam?"

"Makan tomat. Itu yang terakhir," Sasuke menunjuk tomatnya.

"Lalu selama aku pergi kau tidak makan apa-apa, begitu?" ia mengetahui kebiasaan adiknya yang tidak suka makan di kantin sekolah.

"Makan di sekolah. Ada yang membawakanku makan siang," jawab Sasuke, mengambil tomat dan menggigitnya.

Itachi menutup lemari pendinginnya dan menatap Sasuke tajam.

"Apa?"

"Kau ini benar-benar..." Itachi geleng-geleng kepala. "Kalau begitu caranya kau bisa sakit! Ayah dan ibu pasti akan marah besar padaku kalau itu terjadi, idiot! Nanti dikiranya aku tidak memberimu makan."

"Aku tidak akan sakit!" ujar Sasuke gusar, sakit hati dimarahi oleh kakaknya seperti itu.

"Jangan membantah!" bentak Itachi. "Sekarang kau cuci muka dan ganti baju. Kita akan sarapan di luar, setelah itu belanja! Kau harus belajar mengurus dirimu sendiri mulai sekarang!" ia menyeret adiknya yang memprotes keras ke kamar mandi untuk cuci muka.

"ITACHI, AKU BISA CUCI MUKA SENDIRI!!" raungan Sasuke menggema di kamar mandi. Itachi baru saja membanjur kepalanya dengan air dingin.

--

Blossoms' Cafe

Sakura menegakkan diri setelah selesai mengikatkan ikatan terakhir pada rollerblade-nya dan tersenyum pada gadis di depannya. "Gimana?"

Ayame membalas senyumnya lalu mengacungkan kedua ibu jarinya. "Sudah oke, Sakura!"

Tepat saat itu, seorang gadis lain masuk dengan terburu-buru dari pintu belakang, menyenggol Kotetsu yang sedang mengelap meja di dekat sana. "Oops! Sori, Kotetsu!" katanya terengah pada pria itu sebelum berlari kecil memasuki konter, menghampiri Ayame dan Sakura. Napasnya masih terengah-engah. Sepertinya tadi gadis itu baru saja berlari kemari.

"Kukira kau belum masuk hari ini," tegur Ayame pada temannya yang baru saja datang, Isaribi.

Gadis itu hanya nyengir sebelum mendorong pintu menuju ruang belakang untuk mengambil celemek dan rollerblade-nya di loker. "Kau menyumpahiku supaya sakit terus, Aya?" katanya.

"Ya bukannya begitu... Aku kan hanya mengkhawatirkanmu saja," sahut Ayame.

Isaribi kembali, sudah membawa semua atributnya dan tersenyum pada sahabatnya itu. "Ow, kau sangat manis. Thanks, Aya. Pagi, Sakura!" sapanya ceria pada Sakura yang dibalas gadis itu dengan tak kalah semangat. "Pagi, Paman Teuchi! Pagi, Yamato! Pagi, Iwashi!" sapanya sambil melongok ke arah dapur, tempat ketiga pria itu sedang sibuk mempersiapkan 'arena pertarungan' mereka hari itu. Ketiganya membalas sapaannya. "Pagi, Izumo, Kotetsu!" ia menyapa kedua pria yang-seperti-kembar-padahal-bukan yang sedang mengelap meja-meja. Keduanya juga membalas sambil melambaikan lap mereka.

Ayame maju untuk membantu Isaribi memakai celemeknya. Seragam pegawai di Blossoms' Cafe termasuk sederhana. Hanya celana jeans yang dipadu kaus berkerah warna marun dengan celemek hitam yang ada sulaman daun maple warna merah di bagian dada. Meski sederhana, Sakura sangat menyukai seragamnya. Dan kali ini ia menambahkan bandana marun di atas rambut merah mudanya yang panjang dan dibuntut kuda seperti biasa.

"Oke, semua sudah siap, kan?" teriak Sakura pada semua 'karyawan'-nya yang langsung menyahut semangat. "Bagus!" Lalu gadis itu meluncur mengitari meja konter menuju pintu masuk yang tandanya masih 'tutup' dan berbalik. Ayame sudah bersiap di konter dan Isaribi sudah bergabung dengan Izumo dan Kotetsu.

"Dapur sudah siap, Sakura!" kepala Yamato nongol dari pintu dapur. Pria kalem itu tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya. Sakura bisa mendengar Paman Teuchi dan Iwashi sudah mulai memotong-motong sesuatu di dalam. Ia mengangguk.

Sakura melirik arloji di pergelangan tangannya, menunggu...

Sudah pukul 08.30 tepat saat ia mendongak. "Yak, selamat bekerja semua! Semangat!!" serunya sebelum berbalik untuk memasang tanda 'buka'.

"Yosh!"

--

TBC...


A/N :

Karyawan Blossoms' Cafe; Teuchi, Ayame, Yamato, Izumo dan Kotetsu. Udah pada tahu kan kelima orang ini? Sedangkan yang dua lagi; Isaribi dan Iwashi Tatami. Isaribi adalah tokoh filler di beberapa episode anime fillernya Naruto, itu lho... yang cewek monster ikan (kayaknya cocok deh dipasangin sama Kisame. Wekekek...). Sedangkan Iwashi, dia itu chunin seperti Izumo, Kotetsu dan Iruka. Pertama muncul waktu ujian chunin dan dia juga anggota tim Shizune bareng Raidou dan Genma. Aku males menghadirkan OC sih, kecuali untuk ortunya Sakura. Gak ada pilihan lain selain membuat OC untuk dua posisi itu.. (sigh) Er... ada yang punya ide untuk nama ayahnya Sakura? Silakan kasih masukan via review ya... ngarep mode: on

Tentang alamat...

1). Fox street No. 10 untuk rumah Naruto. Kenapa? Pasti udah pada ngerti kan? Foxrubah, bijuu-nya Naruto. No. 10, soalnya ultahnya my dear Naruto-kun tanggal 10 Oktober!

2). Crimson Drive No. 9 untuk rumah Uchiha Sibling. Kenapa? Crimson adalah tulisan di cincin Akatsuki Itachi dan No. 9 aku ambil dari ultah Itachi yang tanggal 9 Juni. Kenapa Itachi, bukannya Sasuke? Karena secara teknis rumah yang mereka tinggali adalah milik Itachi, Sasuke hanya numpang.

3). Blossoms Street No. 28 untuk kediaman keluarga Haruno. Ini mah udah jelas banget... Tadinya mau Spring Street, tapi gak enak banget dibacanya... Tahu kan, Haru dari kata Haruno artinya 'Musim Semi'?. 28 dari ultah Sakura tanggal 28 Maret (Hyaaa! deket ultahku!—gak penting)

Btw, nulis tentang Iruka kok rasanya deja vu nulis tentang Remus yak? –peluk-peluk Remus-