Akhirnya ujian selesai juga... Ah, pelampiasan dendam nih! Buat yang menunggu update-an fic ini, gomen lama. Udah selesai sampe chapter 14 sih (chapter 15 in progress), tapi baru dipost sampe chapter ini. Abis, males ke warnet sih bo... XD Oke, enjoy deh!
---
Tring!
Pintu masuk yang berayun terbuka membuat bel di atasnya berbunyi. Keempat orang berseragam yang tengah duduk-duduk di konter langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Pelanggan pertama!" seru Sakura penuh semangat, namun senyumnya segera melorot dari wajahnya ketika dilihatnya siapa yang datang. "Kenapa dia terus sih yang datang pertama kalau aku yang jaga?" keluhnya pada ketiga temannya.
Ketiganya nyengir.
"Kan selalu begitu," kata Isaribi menahan geli melihat tampang gadis pink itu. "Ayo sana, layani mereka!"
"Kau sajalah, Izumo," kata Sakura pada Izumo.
Pria itu langsung memprotes, "Hei, urutannya hari ini kau yang melayani pelanggan pertama, Saku! Giliranku sudah kemarin."
Memang sudah menjadi kebiasaan di antara para pelayan restoran mungil itu setiap harinya; menggilir siapa yang medapatkan 'kehormatan' menyambut pengunjung pertama. Dan hari ini—hanya di akhir pekan saja—Sakura yang mendapatkan gilirannya. Namun sepertinya gadis itu tidak begitu senang dengan 'keberuntungan'nya kali ini.
"Ayolah, Izumo, please..." gadis itu memohon.
"Kotetsu saja," Izumo menunjuk Kotetsu yang langsung berkata,
"Aku melayani pelanggan kedua hari ini!" sambar Kotetsu langsung.
Izumo memberinya tatapan memangnya-ada-aturan-seperti-itu pada karibnya. Kotetsu mengangkat bahu.
"Pleaseee..." Sakura melempar puppy-dog-eyes andalannya pada Izumo.
Pria itu mengeluh pelan, "Baiklah… baiklah, Nona Haruno," katanya pada akhirnya. Ia lalu beranjak dan meluncur untuk menyambut pelanggan pertama mereka. Notes siap di tangan.
"Selamat pagi!" sapa Izumo ramah pada kedua orang itu. Yang satunya pria muda berambut cokelat dengan bekas luka melintang di wajahnya, dan yang satunya lagi pemuda dengan kupluk menutupi rambutnya yang pirang, dengan senyum luar biasa lebar di wajahnya.
"Pagi, Sakura!" sapa Naruto ceria sambil melambai ke arah putri pemilik restoran yang masih duduk di konter sementara ayah angkatnya mengikuti Izumo menuju salah satu kursi kosong di dekat jendela.
"Pagi, Naruto," balas Sakura dengan senyum yang tidak mencapai matanya. Ia bangkit dari kursi, begitu juga dengan Kotetsu dan Isaribi yang langsung menyambut pengunjung lain yang baru saja datang.
"Aku baru saja joging dengan Pap," beritahu Naruto penuh semangat ketika Sakura mendekat untuk menyambut pelanggan lain.
"Kedengarannya asyik," sahut Sakura datar. "Pagi, Pak Iruka," sapanya pada guru-nya zaman sekolah dasar itu sambil tersenyum sopan ketika ia melewati meja yang ditempati ayah angkat Naruto. "Tumben Anda ikut kemari?"
"Ah, Sakura! Selamat pagi," balas Iruka, membalas senyumnya. "Iya, sekali-sekali kan ingin sarapan di luar bareng anak," ia mengerling Naruto yang sudah duduk di kursi di seberangnya, tengah sibuk membuka-buka buku menu. "Wah, kau sudah jadi gadis sekarang, ya... Rasanya sudah lama sekali..." kekehnya.
Sakura tersipu. Dulu. Dulu sekali waktu dia masih di sekolah dasar, dia sempat naksir-naksiran dengan Pak Gurunya satu itu. Cinta monyet yang tak mungkin, yang selalu membuatnya tertawa sendiri kalau teringat lagi.
"Aku pesan miso ramen spesial porsi besar, ya!" seru Naruto pada Izumo sementara pria itu mencatat di notes-nya.
"Kalau begitu aku permisi," pamit Sakura sebelum meluncur lagi. "Selamat pagi!" sapanya ramah pada dua pria paruh baya berpakaian olahraga yang baru saja memasuki restoran.
"Sakura!" gelegar salah satu pria yang berperut besar. "Sepertinya aku jarang melihatmu akhir-akhir ini, nak."
"Tentu saja, sekolah kan sudah dimulai," sahut temannya yang bertubuh jangkung kurus sambil tersenyum pada gadis itu. "Ibumu baik, nak?"
Sakura balas tersenyum, "Ibu baik, Paman. Er... meja yang biasa, kurasa?" tanyanya.
Dan saat berikutnya, ia mengantar kedua pria pelanggan setia restoran mereka ke meja yang biasa mereka tempati kalau dengan berkunjung, meja paling ujung, di dekat sebuah panggung kecil yang biasa dipakai sebagai tempat konser kecil-kecilan Hiroyuki Haruno kalau pria itu pulang. Ayah Sakura memang hobi bermusik dan kerap menghibur pengunjung restoran mereka dengan memberikan live music bersama beberapa temannya kalau ia sedang tidak bertugas.
Setelah mencatat pesanan kedua tamunya, Sakura segera meluncur ke arah jendela kecil yang menghubungkan dengan bagian dapur untuk menyerahkan catatan pesanan pada Iwashi. Kemudian ia mendekati konter tempat Ayame sedang mengelap gelas.
"Ayame, aku minta kopi dong. Gawat nih, aku ngantuk. Gara-gara semalaman nonton sampai lewat malam dengan Ibu."
"Bukannya itu ritual akhir pekanmu dengan Ino, ya?" tanya Ayame sambil menuang secangkir kopi untuk Sakura.
"Iya sih... Thanks," Sakura menerima kopi dari Ayame dan menyeruputnya.
"Tidak seenak Latte buatan Yamato sih..." keluh Ayame, namun cepat disela Sakura.
"Gak gak... buatanmu gak kalah enak kok," ujarnya sambil tersenyum, lalu meletakkan cangkirnya di konter dan menegakkan diri ketika dua orang ibu-ibu yang membawa kantung belanjaan mendekat dan duduk di kursi konter, memesan dua kopi dan roti isi pada Ayame.
Sakura menoleh ketika bel pintu berbunyi lagi, bersiap meluncur. Tapi manusia yang baru saja muncul di pintu membuat gerakannya terhenti. Ia mengeluh—lagi.
Sasuke Uchiha bersama seorang pria dengan rambut panjang yang diikat longgar di tengkuknya, yang wajahnya sangat mirip dengan Sasuke. Kakaknya, yang Sakura ingat bernama Itachi Uchiha.
Sakura mengerucutkan bibir. Ngapain si sombong itu kemari? pikirnya sebal. Gadis itu jelas masih marah pada Sasuke atas kejadian hari sebelumnya. Lalu ia melirik teman-temannya penuh harap, tapi kemudian langsung kecewa ketika dilihatnya Izumo, Kotetsu dan Isaribi, ketiganya sibuk mencatat dan mengantar pesanan.
Ia menghela napas berat. Terpaksa...
Gadis itu meluncur menuju meja yang baru saja ditempati kakak beradik Uchiha, tepat di sudut dekat jendela, tak jauh dari meja Naruto dan ayahnya. Ia berhenti di sampingnya. "Selamat pagi. Mau pesan apa?" sapanya, mencoba ramah.
Pria yang lebih tua, kakak Sasuke, mendongak. Mata hitamnya melebar ketika melihat Sakura. "Lho? Kamu yang di sekolah waktu itu, kan?" tanyanya. "Sakura?"
"Eh? I-Iya..." sahut Sakura, sedikit terkejut pria itu masih mengingatnya. Biasanya kan cowok ganteng sering lupa nama orang saking seringnya bertemu gadis-gadis baru. Maka Sakura memberinya senyum ramah sebagai bentuk penghargaannya.
Sasuke juga sudah mendongak dari menu yang sedang dibuka-bukanya, seringai kecil menghiasi wajah dinginnya ketika ia menatap Sakura. "Ah, jadi kau pelayan di sini, ya?" tanyanya.
"Yap," tukas Sakura dengan nada menantang. Ia tidak menyukai nada merendahkan dari suara Sasuke. "Mau pesan apa, Sasuke?"
"Hei, Sakura," suara Itachi membuat Sakura berpaling lagi padanya, "kau bisa merekomendasikan sesuatu untukku di sini? Menu sarapannya kelihatannya enak-enak semua..." ucapnya bingung sendiri.
"Mau sarapan yang seperti apa? Yang manis atau jenis roti atau omelet?" Sakura balik bertanya sopan.
"Apa saja sih... tapi aku ingin yang sehat," kata Itachi, membalik lagi halamannya.
"Yang sehat, ya? Hmm... coba kulihat..." Sakura menunduk memandang buku menu yang diulurkan Itachi padanya, membolak-baliknya. "Bagaimana kalau yang ini. Roti gandum panggang dengan telur, daging asap dan sayuran. Dijamin sehat!" katanya sambil menunjukkan salah satu menu sarapan di buku menu pada Itachi.
"Kelihatannya memang begitu," kekeh Itachi. "Ya sudah, aku pesan itu saja. Minumnya kopi pahit saja, ya."
"Baiklah..." Sakura mencatat di notes-nya.
"Hei, Pelayan," suara Sasuke membuat Sakura mendelik padanya. Ia bisa melihat Itachi melempar pandang menegur pada adiknya, namun sepertinya Sasuke tidak menyadarinya karena saat berikutnya ia berkata, masih dengan nada merendahkan seperti yang biasanya digunakannya kalau bicara dengan orang-orang di sekolah, "Aku mau omelet dengan ekstra tomat. Tidak Manis—aku benci makanan manis. Minumnya kopi juga. Diberi gula, tapi jangan terlalu manis. Jelas?"
"Baik!" geram Sakura. Menekankan pulpennya agak terlalu keras di atas notesnya, membuat kertas itu sedikit berkerut. "Ada lagi?"
"Tidak. Sebaiknya cepat, kami tidak suka menunggu," ucap Sasuke dingin sambil menutup buku menunya.
Sakura cepat-cepat pergi dari sana. Wajahnya sudah merah padam menahan emosi. Ia khawatir kalau terlalu lama di sana ia tidak bisa menahan diri untuk menonjok hidung cowok itu sampai patah. Dan itu jelas buruk untuk reputasi restoran keluarganya.
"Sasuke! Jangan bersikap seenaknya seperti itu bisa tidak sih?" tegur Itachi.
Sasuke mencibirnya. Itachi menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara itu, Sakura melesat menuju jendela dapur. Kali ini Yamato yang menerima catatan pesanannya.
"Baik-baik saja, Sakura? Pagi-pagi sudah cemberut begitu?" tanya Yamato yang rupanya menyadari ekspresi sebal Sakura. Ia menatap khawatir pada gadis itu.
"'Tau tuh! Sebel!" geram Sakura. "Cowok yang aku ceritakan kemarin. Dia datang dengan kakaknya! Kakaknya sih baik, tapi dia... uuurgh..." ia menggeram lagi, lalu memijit pelipisnya, "dia membuat kepalaku seperti mau pecah, tahu!"
Yamato tertawa kecil, "Ya sudah, jangan dihiraukan," katanya seraya menunduk membaca catatan pesanannya, lalu mengangguk. Sedetik kemudian ia sudah melesat untuk mengerjakan pesanannya.
Kemudian Sakura meluncur keluar ruangan untuk menyiapkan kopi pesanan bersama Ayame. "Dua kopi," beritahunya pada gadis berambut cokelat itu, "satu pahit, satu tidak terlalu manis."
Ayame dengan cekatan mengeluarkan dua cangkir porselen berwarna krem dan menuangkan kopi yang masih mengepul ke dalamnya. Ia menambahkan satu sendok teh gula pada salah satu cangkir dan mengoceknya. "Bad mood, Sakura?" tanyanya sambil tersenyum.
"Hmm.." Sakura menghirup sisa kopinya yang tadi, menghabiskannya dalam beberapa teguk.
Beberapa saat kemudian, pesanan Uchiha bersaudara sudah siap. Sakura menempatkannya ke dalam satu baki dan meluncur hati-hati ke arah meja mereka. "Roti gandum panggang dan omelet dengan ekstra tomat," ucapnya sambil meletakkan piring pesanan di depan masing-masing. "Dua kopi..." ia meletakkan kopinya.
Sakura mengangguk sopan ketika Itachi mengucapkan terimakasih sementara Sasuke sama sekali tidak berkata apa-apa—peduli apa?—lalu beranjak dari sana. Baru beberapa bangku ia menjauh, Sasuke memanggilnya, "Oi, pelayan!"
Sakura menghela napas, lalu berbalik. "Ya?"
"Kau ganti kopi ini," kata Sasuke dengan nada memerintah, "terlalu manis."
Sakura membelalak padanya sebelum akhirnya menyambar cangkir yang diulurkan Sasuke. "Baik," geramnya, lalu membawa cangkir itu kembali pada Ayame. "Katanya kopinya terlalu manis, Aya," ia memberitahu gadis itu.
Ayame mengernyit. "Masa sih?" ia mencicipi kopi itu dan kernyitannya bertambah dalam. "Tidak manis kok..." tapi kemudian ia tetap mengeluarkan cangkir baru dan menuang kopinya, lalu menambahkan gula dengan takaran lebih sedikit dari yang tadi sebelum menyerahkannya pada Sakura.
Tapi rupanya Sakura harus bolak-balik tiga kali lagi setelah itu. Sasuke terus saja mengeluh kopinya terlalu manis. Hal ini jelas saja membuat Sakura jengkel setengah mati. Gadis itu nyaris membuat cangkir porselen itu pecah saat ia meletakkannya dengan kekuatan agak berlebihan ke konter untuk yang kesekian kalinya sambil mendesis, mengomeli Sasuke.
"Orang itu maunya apa sih?" kali ini Izumo yang berkata sebal sambil mendelik pada punggung Sasuke.
"Bocah sok seperti itu harusnya ditelikung saja biar kapok!" timpal Kotetsu, sama geramnya. "Sini, biar aku yang urus," ia mengambil cangkir yang baru diambil Ayame yang nyaris menangis. Kotetsu menuangkan kopi ke dalam cangkir dan mengambil—garam dan merica. Menuangnya banyak-banyak ke dalam cangkir kopi. Senyum jahil terlukis jelas di wajahnya.
"Kotetsu!" Ayame berseru kaget seraya melempar pandang tidak setuju pada pria itu.
"Ssst... kau diam saja, Aya," Izumo menepuk bahu gadis itu. Seringai di wajahnya sama dengan seringai Kotetsu—jahil.
"Kotetsu..." kata Sakura lemas, "kau bisa membahayakan restoran ini, tahu!"
"Ini tidak akan membahayakan siapa-siapa, termasuk pencernaannya, Sakura," katanya sambil mengedik ke arah Sasuke. Ia tersenyum geli sementara tangannya sibuk mengocek ramuan kopinya. "Ini," ia menyerahkannya pada Sakura.
Sakura menerima cangkirnya dengan ragu-ragu. Sebagian dirinya tidak setuju, tapi sebagian yang lain berpendapat kalau Sasuke layak menerima pelajaran sesekali. Ia menatap Kotetsu bimbang.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku yang tanggungjawab!" Kotetsu meyakinkan sembari menepuk dadanya.
"Aku tidak mau tahu, ya..." kata Sakura akhirnya. Ia membawa cangkir kopi ala Kotetsu ke meja Sasuke diikuti pandangan ketiga pegawainya.
Izumo dan Kotetsu mengawasi dari konter bersama Ayame ketika Sakura meletakkan kopi itu di meja pemesannya. Keduanya gemetar menahan tawa sementara Ayame menggigit bibirnya dengan gelisah. Tak lama kemudian—
"AAARGH!!! KOPI MACAM APA INI!!!" teriakan keras Sasuke membuat kepala semua orang di sana menoleh. Pemuda itu menyembur, terbatuk-batuk. Kopi membasahi bagian depan pakaiannya.
Izumo dan Kotetsu ber-high five penuh kemenangan. Keduanya terbahak-bahak sebelum sambitan lap kotor mampir ke kepala mereka dengan ganasnya.
"Oi!" dengking Izumo sambil mengusap-usap kepalanya.
"Isaribi, apa-apaan sih kau?!" Kotetsu membelalak pada Isaribi yang tampak luar biasa marah.
Isaribi memicingkan matanya menatap kedua rekannya yang jahil itu, kedua tangan di pinggul. "Apa-apaan? Kalian berdua yang apa-apaan, dasar bego! Kita semua bisa kena masalah, tahu!!" omelnya.
Kedua pria itu mengacuhkannya, memutar-mutar mata mereka, membuat gadis itu tambah jengkel.
"Sudah, sudah," lerai Ayame sebelum Isaribi mulai ngomel-ngomel lagi. "Kalian berdua, ada pelanggan datang lagi tuh..." katanya pada Izumo dan Kotetsu yang langsung melesat pergi sambil masih terkekeh-kekeh. Senyum keduanya terlalu lebar ketika mereka menyambut pelanggan yang baru datang.
"Kau mau membunuhku?!" Sasuke meneriaki Sakura yang setengah mati menahan tawa, mempertahankan ekspresinya tetap dingin.
"Lho, benar kan?" sahutnya membela diri, "Kau bilang kau benci makanan manis. Jadi kubawakan yang asin!"
Ia mengerling Itachi takut-takut. Khawatir pria itu marah karena ia telah mengerjai adiknya. Tapi nyatanya Itachi malah tersenyum geli padanya. Sakura kembali menatap Sasuke yang memerah saking marahnya.
"Kau..." desis Sasuke penuh ancaman. Namun sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Isaribi datang menyelamatkan suasana. Gadis itu meletakkan secangkir kopi baru di meja Sasuke dengan botol kecil berisi gula.
"Ini kopi pesanan Anda. Silakan takar sendiri gulanya. Maafkan kelalaian kami..." kemudian ia meminta diri sambil mengamit lengan Sakura, membawanya menjauh dari sana. "Izumo dan Kotetsu benar-benar sialan," gerutunya sebal, memelototi kedua pria yang tengah mencatat pesanan untuk serombongan besar mahasiswa, "nanti biar kuadukan mereka pada Azami."
"Jangan!" cegah Sakura, tak bisa menahan cengiran. "Yang tadi itu brilian, Isaribi, sungguh. Jangan adukan mereka pada ibu, ya... Please?"
Isaribi memandang Sakura dengan dahi berkerut beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas. "Yah... terserah kau sajalah, Sakura," lalu ia melesat untuk membereskan piring-piring kotor dari meja yang baru saja ditinggalkan.
"Hei, Sakura!"
Sakura menoleh ketika ia merasakan ada yang menangkap lengannya. "Naruto?"
Naruto telah beranjak dari kursinya. Kupluknya sudah dilepas, menampakkan rambut pirang berantakannya yang agak basah. Sakura bisa mencium bau ramen menguar dari mulutnya.
"Apa yang dilakukan orang itu di sini?" Naruto mengedikkan kepalanya ke arah punggung Sasuke, menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Oh, dia hanya sarapan," jawab Sakura sambil berusaha melepaskan cengkeraman Naruto pada lengannya. "Bisa lepaskan aku sekarang, Naruto?"
Naruto melepaskan lengan Sakura, mengernyit curiga. "Benarkah? Tapi kulihat dia terus-terusan memanggilmu ke mejanya," katanya gusar sambil menatap Sakura. "Ada apa sih?"
"Tidak ada apa-apa, hanya—er..." Sakura balas menatap Naruto. Kerutan samar munjul di kedua alisnya. "Kenapa juga aku harus menjelaskannya padamu?"
"Aku hanya ingin tahu," sahut Naruto. Sakura terkejut mendengar nada suaranya saat itu. Ia belum pernah mendengar Naruto bicara dengan nada serius seperti itu. "Kalian berdua—sebenarnya ada apa?"
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa. Kau ini kenapa sih?" Sakura menatapnya bingung. Ada apa sih dengan Naruto?
Naruto mengabaikan pertanyaan Sakura. "Kau selalu memperhatikannya di sekolah. Dan sekarang—"
"Ooh!" Sakura akhirnya mengerti mengapa pemuda di depannya ini begitu gusar. Dia mungkin... cemburu? "Jangan berpikir yang macam-macam, Naruto. Kami tidak ada apa-apa. Dan aku sama sekali tidak selalu memperhatikannya di sekolah. Memangnya aku kurang kerjaan—Hei!"
Sakura terkejut ketika tiba-tiba Naruto bergerak mendekati meja Sasuke. Gadis itu buru-buru mengejarnya. "Naruto! Kau mau ap—" namun sebelum Sakura sempat menyelesaikan kata-katanya, Naruto sudah lebih dulu mencapai meja Sasuke.
"Kau!" hardik Naruto sambil menuding Sasuke. Pemuda bermata onyx itu mendongak dari omeletnya yang sudah hampir habis, menatap Naruto. "Kau mau apa di sini?"
Mata hitamnya menyipit sebelum ia menjawab dengan nada sedingin es, "Kukira ini tempat umum dan siapa pun berhak datang kemari termasuk aku. Oh, aku ingat kau. Kau pecundang yang kukalahkan di pelajaran olahraga tempo hari, kan?" tanyanya dengan senyum sinis. "Idiot yang selalu kena marah guru di kelas?"
"Sasuke!" tegur Itachi.
"Tutup mulutmu breng—"
"Naruto, cukup!" Sakura menarik tangan Naruto yang sepertinya hendak memukul Sasuke. "Kularang kau membuat keributan di restoranku!" katanya tegas.
"Tapi, Sakura—"
"Kubilang hentikan," Sakura menarik Naruto menjauh dari Sasuke. "Tolong jangan buat masalah di sini, Naruto."
"Tapi dia—"
"Aku tahu dia membuatmu jengkel," sela Sakura tak sabar. "Tapi bisa kan, kau menahan dirimu sekali ini?"
Naruto baru akan membuka mulutnya untuk membantah, namun mengurungkan niatnya. Membuat Sakura marah adalah hal terakhir yang ia inginkan terjadi sekarang. "Baiklah. Sori," katanya akhirnya. Ia menyunggingkan senyum ragu. "Hei, kau mau tidak keluar denganku hari ini? Kita bisa nonton dan—"
"Setelah kau nyaris membuat keributan di sini?" sahut Sakura sambil menghela napas, "kurasa tidak..." dan ia pun berbalik pergi meninggalkan Naruto yang tampak kecewa.
Naruto kembali ke mejanya dengan lesu, menghenyakkan diri di kursinya.
"Ada apa, Naruto?" tanya Iruka, menatap putranya itu penuh khawatir. "Ada masalah?"
"Tidak. Tak ada apa-apa, Pap," jawabnya lesu.
"Mau pulang sekarang?" tanya Iruka setelah membayar tagihan pada Izumo.
"Yeah," dengan langkah gontai, Naruto mengikuti ayah angkatnya meninggalkan restoran.
Sementara itu di meja kakak beradik Uchiha, Itachi sedang menguliahi adiknya.
"...bagaimana kau bisa mendapatkan teman kalau caramu bersikap seperti itu, Sasuke!" Itachi mengakhiri ceramahnya dengan helaan napas panjang.
Sasuke pura-pura tidak mendengarkannya.
"Dasar keras kepala!" Itachi menggeleng-gelengkan kepala.
---
TBC...
---
A/N :
Aaargh! Apa-apaan chapter ini?! Sakuranya terlalu Hermione, Sasuke terlalu Draco, Izumo dan Kotetsu terlalu Fred dan George dan... Naruto... er... terlalu Ron? hihi...
Yang ngusulin nama ayahnya Sakura, gomen gak dipake. Abis, asa gak pas sih... Nama Hiroyuki itu aku ambil dari nama salah satu aktor yang berperan sebagi Nephrite, salah satu dari Shitennou (empat pengawal Prince Endymion) di live action-nya Sailor Moon --yang suka SM pasti tau lah...--, Hiroyuki Matsumoto. Hiroyuki Haruno lumayan pas kan? hehe... XD Ketahuan nih, fans-nya Sailor Moon. I luv Shitennou, abis ganteng-ganteng sih... gak kalah sama pangerannya. Apalagi si Jadeite. Kyaaa!!! -dikepruks-
Btw, aku baru kena musibah nih. hiks... ATM-ku tercinta 'ketelen' mesin ATM!! Tidaaaak!!!
Pelampiasan stress. Makannya gaje…Tambah stress, tambah gaje… -sigh- Gomenasai ne...
