Chapter 9

Hari kamis pagi, hampir sama dengan hari-hari awal musim gugur lainnya, gelap dan mendung. Angin dingin yang bertiup cukup kencang terasa mengigit kulit. Flu mewabah di mana-mana. Belum lagi ramalan cuaca yang menyebutkan bahwa hujan berbadai akan menerpa Konoha dalam beberapa hari ke depan tidak membuat segalanya lebih baik.

Namun cuaca buruk itu tidak lantas melunturkan semangat dia. Dengan tubuh terbungkus rapat jaket tebal dan topi wol yang menahan udara dingin, ia tetap mengayuh sepedanya ke sekolah.

Bersenandung kecil, ia memarkirkan sepedanya di tempat favoritnya di lapangan parkir sepeda di Konoha High, tepat di bawah pohon birch besar. Belum banyak yang datang rupanya, karena lapangan parkir khusus murid itu masih cukup lengang. Ia mengunci sepedanya dan menuju gedung sekolahnya dengan berlari-lari kecil.

Yah, Naruto Uzumaki memang tidak pernah kehilangan semangat. Tidak peduli apapun yang telah terjadi hari sebelumnya.

"Oi, Naruto!" suara seseorang memanggilnya di kejauhan membuat cowok itu berhenti dan menoleh.

"Lee!" sapanya cerah pada senior sekaligus rekan setimnya di klub sepakbola, Rock Lee.

"Pagi," jawab Lee tak kalah semangat ketika pemuda yang selalu berpakaian hijau—hari ini kostumnya jeans hitam dipadu sweater tebal hijau lumut—itu mendekat. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju gedung bercat merah itu. "Sudah dengar berita dari Pak Guru Maito?" tanyanya ketika mereka menaiki undakan depan. Lee mendorong pintu kaca itu membuka dan mereka melangkah masuk ke koridor depan yang masih lengang.

"Berita apa?" Naruto balik bertanya.

Lee tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putih mengilap sambil mengacungkan ibu jarinya. "Kita akan ada pertandingan sepak bola melawan tim dari Iwa bulan depan!"

"Oooh!!" Naruto membelalakkan mata. "Kukira tim kita akan vakum selama Temujin mengikuti Kejuaraan di Ame!"

Lee menggelengkan kepalanya dengan dramatis, "Mana semangatmu, Naruto?! Tentu saja ketidakhadiran kapten tidak lantas membuat tim kita loyo, kan? Aku sudah memberitahu Temujin dan dia setuju kita bertanding tanpa dia." Lee mendorong pintu depan membuka dan melanjutkan, "Lagipula ini hanya pertandingan persahabatan. Oh, tapi bukan berarti kita meremehkan tim lawan! Tim Iwa sangat hebat, tentu saja. Kita tidak boleh lengah!"

"Kau benar," timpal Naruto mengangguk-angguk. "Jadi kapan kita mulai latihan?"

"Kalau itu belum ditentukan," kata Lee, tampak berpikir. "Kita belum mengumumkan pada anak-anak lain. Tapi lebih cepat lebih baik, kan?"

"Yeah, tentu saja," sahut Naruto bersemangat. Rasanya ia sudah kangen sekali berlaga di lapangan hijau. Tapi kemudian ia menjadi ragu sendiri. Ia merasa bukan yang terhebat di klub. Pemuda itu ragu akan terpilih menjadi tim inti. Dan rupanya kekhawatirannya tercermin di wajahnya.

"Jangan khawatir!" kata Lee sambil menepuk bahu adik kelasnya itu. "Kalau kau berusaha pasti akan terpilih di tim inti. Aku sudah melihatmu bermain sejak di Sekolah Menengah Pertama. Aku tahu kau bakal hebat!"

"Oh, thanks," Naruto merasa semangatnya kembali terangkat. Lee memang sangat ahli dalam hal mengobarkan semangat orang. Naruto tidak ragu menyebutnya sebagai orator sejati.

"Sampai ketemu di lapangan nanti siang, Naruto!" Lee menepuk bahu Naruto saat mereka sampai di belokan.

"Sampai ketemu," balas Naruto, tersenyum pada seniornya itu sebelum Lee menuju ke koridor loker untuk kelas tiga di lantai atas sementara ia sendiri menuju lokernya.

Seperti di luar, ternyata koridor loker pagi itu belum terlalu banyak orang. Hanya beberapa anak saja yang sudah datang dan sibuk mengaduk-aduk loker masing-masing, menyusun buku-buku, atau... mojok. Memanfaatkan waktu sebelum masuk kelas untuk berduaan bersama pasangan. Entah mengapa, melihat mereka selalu membuatnya jengkel—atau iri? Terutama pada dua orang yang kini sedang berkencan tepat di depan lokernya.

Naruto berdehem keras, tapi sepertinya dua orang itu tidak mendengar. Mereka terus saja asyik bercengkerama. "Sori, kalian menghalangi lokerku!" geramnya sambil menepuk bahu si cowok keras. Cowok itu menoleh, tampak terganggu.

"Apa?"

"Kalian," Naruto menunjuk hidung si cowok, kemudian gadis di sebelahnya, "menghalangi lokerku," ia menunjuk loker di belakang mereka.

"Oh!" seru si cowok, nyengir. "Sori." Ia buru-buru menarik ceweknya yang terkikik-kikik dari sana. Mereka menghilang di belokan, mungkin mencari tempat lain untuk berduaan.

"Dasar!" gerutu Naruto sambil menggelengkan kepala sebelum ia membuka kombinasi kunci lokernya. Ia mengumpat keras ketika sebuah bola sepak terjatuh dari bagian atas lokernya, tepat mengenai kepalanya. Naruto buru-buru mengambil bolanya sebelum menggelinding lebih jauh dan menjejalkannya kembali ke dalam lokernya yang luar biasa berantakan—Ia memang jarang sekali membereskan isi lokernya, bahkan nyaris tidak pernah kalau saja Sakura tidak menegurnya suatu hari karena mencium bau tidak sedap dari loker bermasalah itu ("Aku curiga ada tikus yang terjepit di sana dan mati kehabisan napas," kata Sakura saat itu.).

Untuk kesekian kalinya Naruto mengabaikan barang-barang yang campur aduk berantakan di dalam lokernya dan memandang jadwal yang ditempelnya di bagian pintu. "Hmm... Kamis... Sejarah Dunia... Kebudayaan..." ia membaca. "Boring..." keluhnya, lalu mulai mencari buku-bukunya di tumpukan barang. Sepuluh menit penuh dihabiskannya untuk mengobrak-abrik lokernya sebelum menemukan buku yang diperlukannya di tumpukan paling bawah.

"Oh, bagus sekali," keluhnya lagi. Naruto menghabiskan lima menit berikutnya mencoba menarik keluar bukunya. Nampaknya buku itu tersangkut sesuatu di dalam. Habis sabar, ia menyentak bukunya dengan paksa. Akhirnya ia berhasil mengeluarkan bukunya. Tapi rupanya ia tidak hanya menarik keluar bukunya, tapi hampir seluruh isi lokernya ikut keluar, tumpah ruah ke lantai, menyebabkan bunyi berdebam yang bergaung di sepanjang koridor. Kepala semua anak di sana otomatis menoleh ke sumber suara. Naruto mengumpat keras.

"Sori-sori... salahku..." seru Naruto, mengatasi gelak tawa anak-anak. Ia buru-buru mengumpulkan kembali barang-barangnya. Menggerutu sendiri ketika menyadari tidak ada seorangpun yang berminat membantunya. Mereka lebih tertarik menonton Naruto merangkak di koridor, memunguti barangnya yang menebarkan diri ke segala arah. Gerakannya terhenti ketika ia melihat sepasang sepatu kets putih berhenti di depannya. Ia mendongak dan mendapati si pemilik sepatu berukuran mungil itu memeluk bola sepak miliknya.

"B-bolamu m-menggelinding, N-naruto..." suara lembut milik Hinata Hyuuga memberitahunya.

"Ah, Hinata. Trims." Naruto hendak mengambil bolanya dari tangan gadis itu, tapi Hinata tidak menyerahkannya dan malah ikut berlutut.

"B-biar aku bantu..." ujarnya sambil tersenyum gugup.

"Eh, tidak usah. Sudah hampir selesai kok," kata Naruto cepat-cepat ketika gadis itu mulai mengumpulkan buku-bukunya yang masih tercecer di lantai.

"Tidak a-apa-apa kok," sahut Hinata tanpa memandang Naruto. Semburat merah menghiasi wajahnya yang putih susu, senyum tipis tak lepas dari bibir mungilnya ketika ia memunguti buku-buku milik Naruto.

Naruto tersenyum padanya. "Yeah. Trims kalau begitu, Hina..." ujarnya seraya memperhatikan Hinata di depannya, menyusun buku-bukunya dalam tiga tumpukan rapi, memisahkan diktat dari buku catatan, juga mengurutkannya berdasarkan mata pelajaran, sosial dipisahkan dari eksak. Sementara ia sediri meraup barang-barang lain yang masih tercecer asal saja dan menjejalkannya di bagian bawah lokernya.

"Ini b-buku untuk pelajaran hari ini," Hinata menyerahkan diktat Sejarah Dunia dan Kebudayaan pada Naruto, masih tidak memandangnya, melainkan memandang tangannya sendiri sebelum kembali mengambilkan tumpukan buku-buku Naruto yang lain.

"Eh, tidak usah. Aku saja yang masukkan," kata Naruto ketika Hinata mulai menyusunkan buku-bukunya di dalam lokernya. Ia cepat-cepat memasukkan buku-nya ke dalam tas dan bergegas membantu gadis itu. "Aduh, kau ini repot-repot saja," ujarnya tidak enak. Hinata hanya tersenyum simpul.

"Aduh!" Hinata menjerit kecil ketika tangannya tak sengaja teriris sesuatu yang tajam di dalam loker Naruto saat ia memasukkan tumpukan kedua buku pemuda itu. Naruto otomatis menoleh padanya.

"Kenapa?" tanyanya sambil membawa tumpukan buku terakhir. "Ya ampun! Tanganmu berdarah!" Naruto buru-buru menaruh bukunya dan mengambil tangan Hinata yang berdarah. Sebelah tangannya merogoh-rogoh tasnya dan menarik keluar sehelai saputangan, lalu dengan lembut menyeka darah dari ujung telunjuk gadis itu. "Sakitkah?" tanyanya cemas.

Hinata menggeleng pelan. Wajahnya sudah semerah tomat ranum.

"Pasti sakit," Naruto menoleh memandang lokernya sendiri. "Akh! Dasar bodoh! Seharusnya cutter patah itu kusingkirkan sejak dulu," ia mengambil patahan pisau cutter yang mengiris jari Hinata dari lokernya dan membuangnya di tempat sampah di dekat sana. "Maaf ya, Hinata... Gara-gara aku tanganmu jadi luka," kata Naruto kemudian sambil mengambil sesuatu dalam lokernya.

"Tidak apa-apa, kok. H-hanya luka k-kecil..." ujar Hinata pelan.

"Tidak apa-apa apanya? Pisau itu sudah berkarat. Kalau infeksi bagaimana?" Naruto mengambil lagi tangan Hinata yang terluka, lalu tanpa berpikir menghisap luka di ujung jari mungil gadis itu dengan mulutnya.

"N-naruto..." Hinata memekik kaget, tapi tak kuasa menarik tangannya. Wajahnya sudah tidak bisa lebih merah lagi ketika Naruto melepaskan jarinya dan mulai menutul-nutulnya dengan obat merah yang diambilnya dari loker sebelumnya. Gadis itu menahan diri supaya tangannya tidak terlalu gemetar dalam pegangan Naruto.

"Nah, sudah selesai!" kata Naruto setelah selesai memasang plester di jari Hinata. Ia tertawa kecil, "Yah, begini deh kalau jadi anggota klub bola. Sering luka, jadi barang-barang seperti ini wajib punya. Eh? Kenapa wajahmu memerah? Kau sakit?" pamuda itu mendorong poni Hinata ke belakang dan meraba keningnya. Tampang Hinata seperti mau pingsan.

"Hinata?"

Suara dalam dari belakang mereka membuat Hinata menoleh. Gadis itu buru-buru menarik tangannya yang masih dalam pegangan Naruto. "S-shino?" balasnya pada pemuda berkacamata itu. "A-ada apa?"

"Ada yang ingin kudiskusikan denganmu. Tentang majalah," sahut Shino. Ia melirik Naruto, lalu jari Hinata yang diplester. Tapi ia tidak berkomentar apapun. "Aku tunggu di ruang jurnal," katanya sambil berbalik pergi.

Hinata berpaling lagi pada Naruto. "A-aku harus pergi, N-naruto. Em... sampai ketemu di kelas," ucapnya sebelum menyusul Shino sambil berlari kecil.

"Terimakasih bantuannya, Hinata!" seru Naruto pada punggung gadis itu. Hinata menoleh dan tersenyum padanya sebelum menghilang di belokan.

Sementara itu, tidak jauh dari sana, sepasang mata onyx mengawasi mereka dari tadi. Tatapannya menyiratkan ketidaksukaan yang teramat sangat.

---

Jadi itu alasannya, pikir Sasuke gusar. Alasan yang membuat Hinata selama ini menolak menganggapnya lebih dari sekedar sahabat sejak kecil.

—Naruto Uzumaki.

Sasuke sudah cukup mengenal Naruto selama beberapa minggu ia bersekolah di Konoha High. Bagaimana tingkah cowok itu mengejar-ngejar cewek berambut pink menyebalkan, sok keren dan cari perhatian di kelas olahraga—yang mungkin adalah satu-satunya mata pelajaran yang benar-benar ia kuasai—juga bagaimana Naruto lebih banyak melamun dan menguap saat di kelas ketimbang memperhatikan guru.

Dari semua itu, Sasuke dapat mengambil kesimpulan tentang perasaannya pada cowok itu; ia tidak menyukainya. Tapi sekarang, ia bukan hanya tidak menyukainya, ia membencinya, atau tepatnya—cemburu padanya.

Sasuke tidak habis pikir, apa yang dilihat Hinata dari orang macam Naruto?

Dengan hati panas, ia melirik ke bangku tepat di samping bangkunya. Ke tempat seorang cowok berambut pirang berantakan sedang menguap lebar-lebar sebelum kembali menopangkan kepalanya dengan tangan, menatap kosong ke arah papan tulis sementara ocehan guru mereka di depan bagaikan dongeng sebelum tidur baginya.

Kalian lihat wajah begonya itu? Dan Hinata lebih menyukai itu dibanding seraut wajah tampan yang selalu dielu-elukan kaum hawa milik Sasuke. Yang benar saja. Sasuke mendengus pelan. Pelan—tapi cukup keras untuk didengar Naruto yang memang hanya berjarak setengah meter dari tempatnya.

Naruto mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Sasuke. Alisnya mengernyit mendapati cowok bermata onyx itu sedang menatapnya. Naruto tidak menyukai tatapan itu. "Apa lihat-lihat?" desisnya.

"Ada masalah?" Sasuke balas mendesis sinis.

"Aku tidak suka tatapanmu," tukas Naruto.

Sebelum Sasuke sempat membalas, ada suara lain yang mengalihkan perhatiannya. "Hei, kalian yang di belakang! Tolong perhatikan kalau ada guru yang bicara!!" tegur sang guru Sejarah, Pak Raidou Namiashi, tajam.

"I-iya, Pak. Maaf..." kata Naruto sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, nyengir minta maaf pada guru mereka sebelum Pak Namiashi mulai melanjutkan ocehan membosankannya tentang 'Era Shinobi di Konoha'.

Sasuke mencibirnya, lalu berpaling. Kemarahannya meletup. Rupanya melihat Naruto membuatnya sangat muak sampai-sampai ia ingin sekali menonjok hidungnya, menghilangkan cengiran menyebalkan itu dari wajahnya. Cengiran yang mungkin saja telah memikat Hinata-nya.

"Baiklah, sekarang kita kuis!" kata Pak Namiashi di akhir sesi ceramahnya yang bikin ngantuk. Seluruh kelas langsung ribut mengeluh. Keluhan yang diabaikan guru mereka itu, karena saat berikutnya Pak Namiashi sudah mengeluarkan setumpuk kertas kuis dari dalam tas kerjanya. "Haruno, Hyuuga, tolong bagikan kertas ini ke teman-teman kalian," katanya pada dua muridnya yang duduk di bangku barisan paling depan.

Terdengar suara berderit ketika kedua gadis itu berdiri dari kursi mereka untuk membatu sang guru membagikan kertas kuis. Hinata mulai membagikan di sisi kelas di mana Naruto dan Sasuke duduk sementara Sakura membagikan di sisi lain kelas.

"K-kertasmu, Sasuke," ujar Hinata padanya sambil meletakkan kertas itu di meja Sasuke. Gadis itu tersenyum sekilas membalas tatapan Sasuke sebelum berpaling pada bangku di sebelahnya.

Sasuke masih mengawasinya dan ia gusar sekali ketika melihat perubahan ekspresi Hinata, dan wajahnya yang memerah. "K-kertasmu, N-naruto..." desahnya terbata-bata sambil menyerahkan kertas terakhir yang dipegangnya pada Naruto.

"Trims, Hinata," kata Naruto sambil nyengir, mengambil kertas yang diulurkan padanya oleh tangan Hinata yang sedikit bergetar. "Bagaimana lukamu?" Naruto bertanya dalam bisikan.

"S-sudah tidak apa-apa, trims..." balas Hinata dengan ekspresi wajah malu-malu, tanpa sadar ia membelai plester Naruto yang melingkar di atas jarinya yang terluka.

"Baguslah," kata Naruto.

Hinata tersenyum, lalu berbalik kembali ke bangkunya dengan berlari-lari kecil.

Kemudian terdengar suara 'brak' keras ketika tiba-tiba saja Sasuke melompat berdiri, membuat kursinya terguling ke lantai. Kepala semua anak otomatis tertoleh ke arahnya. Napasnya memburu ketika ia menatap sengit ke arah Naruto yang tampak bingung.

"Ada apa, Uchiha?" tanya Pak Namiashi dari depan kelas.

Pelipis Sasuke berkedut-kedut. Dadanya terasa panas. "Aku izin ke kamar kecil," katanya dengan suara rendah, lalu beranjak dari sana, mengabaikan kursinya yang terguling di lantai, juga tatapan anak-anak ketika ia berjalan cepat ke arah pintu.

"Jangan lama-lama, kuis segera dimulai!" seru Pak Namiashi yang diabaikan Sasuke.

Dan ia masih belum kembali ke kelas setelah kuis selesai dan bel istirahat berbunyi.

---

Suara derit pintu dibuka tidak membuatnya memalingkan wajahnya. Sasuke masih terlalu sibuk menetralisir suasana hatinya yang mendadak menjadi sangat buruk hari ini, dan cara terbaik baginya adalah dengan menyendiri di tempat favoritnya di gedung Konoha High, di atap gedung tepat di atas perpustakaan sekolah.

"Kenapa tadi tidak kembali ke kelas? Kau ketinggalan kuis," suara Hinata terdengar dari arah pintu.

Sasuke tidak menanggapinya, menolehpun tidak.

Hinata menghela napas, lalu berjalan mendekati Sasuke yang duduk memunggungi arah datangnya. Tangannya memeluk kotak makan siang yang dibungkus serbet linen putih sementara jaket hitam klub Jurnal Konoha High tersampir di lengannya. "Di luar mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan. Sebaiknya kau masuk dan makan di dalam saja."

Sasuke masih bergeming di tempatnya. Berkeras tidak mau menatap Hinata. Bahkan tidak juga ketika Hinata mendudukkan diri di sampingnya.

"Baiklah kalau kau memang lebih suka makan di sini. Tapi jangan sampai masuk angin. Kulihat kau tidak bawa jaket, jadi kubawakan untukmu," kata Hinata sambil mengulurkan jaketnya. Sasuke menghiraukannya. Hinata menatapnya dengan bingung sejenak sebelum meletakkan kotak bekalnya lalu menyelimutkan jaketnya di bahu Sasuke. "Setidaknya dengan ini kau tidak kedinginan," ujarnya sambil tersenyum.

Sasuke masih diam.

"Ini aku bawakan makan siang untukmu," Hinata mengulurkan kotak bekal yang dibawanya pada Sasuke, namun lagi-lagi ia mengabaikannya. Akhirnya Hinata mengembalikan kotaknya ke tempatnya semula di samping Sasuke. "Nanti kau makan ya. Er... maaf, hari ini aku tidak bisa menemanimu makan. Di klub sedang sangat sibuk. Kau tahu kan, majalah sekolah edisi pertama sebentar lagi terbit."

"Hn," akhirnya Sasuke menanggapi, tapi dengan tidak memandang lawan bicaranya.

Hinata memberinya tatapan khawatir, bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang sedang mengganggu pikiran sahabat sejak kecilnya itu. Kalau bisa, ia ingin sekali bertanya. Meskipun sebenarnya ia punya perkiraan apa yang membuat Sasuke begitu. Tapi mudah-mudahan perkiraanku salah, pikirnya. Hinata mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia sedang tidak bisa lama-lama. Shino, Kiba dan yang lain sudah menunggunya. Ia pun beranjak dari duduknya.

"Aku harus pergi sekarang. Yang lain sudah menungguku," katanya, lalu berjalan menuju pintu. Hinata berhenti ketika mencapai pintu dan berbalik, menatap punggung sahabatnya dengan tatapan cemas. "Aku mengkhawatirkanmu, Sasuke. Kalau kau ada masalah, kau bisa cerita padaku..." bisiknya.

.

.

.

Tapi masalahnya, kaulah yang telah membuat Sasuke seperti itu, Hinata. Kau dan Naruto.

.

.

.

"Hinata, sebenarnya—" Sasuke menoleh, namun Hinata sudah tidak ada. Ia menatap nanar pintu yang masih berayun pelan itu.

---

TBC...

---

Ugyaa... kok malah SasuHina?? Hihi... Sebenernya chapter ini sangat pendek, tapi waktu baca review dari Ambu, iputz jadi terpancing untuk memperpanjang dan akhirnya jadilah chapter ini membengkak, nambah 1022 kata! –peluk-peluk Ambu-

Tapi chapter 10 masih sangat pendek euy... pingin diedit lagi ah~

Penghargaan terbesar untuk yang sudah membaca sampai sejauh ini, dan tentunya yang sudi meluangkan waktu mengetik beberapa kata untuk mereview fic ini. Luv u all...