Happy b'day 4 my sweet imouto (besok sih... 10 Nov)!! Wah... kamu udah 13 tahun... Perasaan baru kemarin ultah ke-lima. Hehe... –ditakol-
Untuk yang sudah membaca sampai sini, thanks banget ya. Aku sangat hargai lho... mudah-mudahan fic ini gak (begitu) mengecewakan. Untuk Ken, ah... gomen kalo jelek. Siap-siap kecewa lagi deh, karena Hinata mungkin akan sering nongol di beberapa chapter ke depan. Dia kan salah satu sumber konflik di sini, jadi mau gak mau harus muncul. Yah, habis baca chap ini, kamu bisa maki-maki Hinata sepuasmu deh. Tapi makasih sudah membaca, Ken-san. Buat Antlia, asli aku dibuat penasaran sama kamu. Kamu anak HPI bukan? Apa kita saling kenal? Kenapa pake anon? –dikepruks karena banyak nanya- Sai keluarnya nanti belakangan, untuk sekarang masih berkutat dengan SasuSakuNaru dulu, menguatkan hubungan mereka dulu. Bis itu baru deh Sai masuk dengan lidah tajamnya. Ino juga belum nongol lagi. Soal OOC, iya sih, aku juga ngerasa gitu. Habis susah sih membuat Sasuke on chara. Tapi kan udah diwarningkan di chapter awal –ngeles- Btw, makasih udah jadi pembaca setia... –peluk-peluk-
Ambu!! Tar iputz titip doa ya... apa aja deh... hihi... –ditakol Ambu-
Sengaja update cepet, mumpung masih libur. Hari senin udah mulai sibuk lagi deh! Udah ah mukadimahnya. Silakan menikmati sajian fanfic racikan MzProngs...
---
Chapter 10
Keesokan harinya, cuaca memburuk. Sejak semalam hujan badai menerpa Konoha dan belum berhenti hingga pagi menjelang. Karena cuaca buruk itu, banyak orang tua yang khawatir, memilih mengantarkan sendiri anak mereka ke sekolah dengan kendaraan pribadi ketimbang membiarkan mereka naik bus sekolah atau mengendarai sepeda seperti biasa.
Begitu juga dengan Sasuke, meskipun tentu saja bukan orangtuanya yang mengantarkannya ke sekolah melainkan sang kakak, Itachi, dengan BMW hitamnya. Mobil mewah itu memasuki halaman sekolah lalu berhenti tepat di depan gedung utama.
"Belajar yang benar, Sasuke," pesan Itachi, memainkan perannya sebagai kakak yang baik yang selalu mengingatkan adiknya.
"Hn," sahut Sasuke sambil melepas sabuk pengaman-nya lalu menyampirkan tas ke bahu sebelum keluar dari mobil sang kakak. Ia membanting pintu mobil menutup sebelum berlari menembus hujan menuju gedung sekolahnya.
Sasuke melepas jaketnya yang basah sesampainya di pelataran sekolahnya. Ia mengawasi mobil Itachi yang melaju perlahan meninggalkan halaman parkir Konoha High sejenak sebelum perhatiannya teralih pada sebuah bus yang berhenti tepat di depan gerbang utama Konoha High—bus khusus anak sekolah.
Anak-anak turun bergiliran dari dalam bus, terbungkus mantel atau jaket dan membawa payung, meski ada juga yang nekat berlari menembus hujan seperti yang barusan dilakukan Sasuke. Pelataran mendadak dipenuhi anak-anak yang kebasahan, namun Sasuke masih bertahan di sana karena matanya baru saja menangkap dua sosok itu mendekat, bernaung di bawah payung yang sama.
Hatinya tiba-tiba terasa panas. Sangat kontras dengan udara yang dingin berangin pagi itu. Dan saat berikutnya ia sudah melesat masuk ke dalam gedung, merasa tidak tahan kalau melihat pemandangan itu lebih lama.
---
Aktifitas pagi di kediaman Umino berlangsung seperti biasanya pagi itu, seolah tak terusik oleh hujan badai di luar. Meskipun tentu saja, menjadi lebih semarak dengan adanya suara air hujan yang menerpa kaca-kaca jendela salah satu rumah mungil di Fox Street itu dengan keras. Tapi itu tidak memengaruhi kehangatan di dalam rumah, termasuk di ruang makan, di mana dua orang itu sedang duduk menikmati sarapan mereka.
"Kau mau diantar pakai mobil atau—" pertanyaan pria yang lebih tua, Iruka, segera disela oleh Naruto,
"Oh, tidak, Pap! Aku naik bus saja," jawabnya sambil menyuap sendok terakhir serealnya ke mulut. Bukannya ia tidak suka diantar oleh Iruka, hanya saja ia tidak ingin merepotkan ayah angkatnya itu, karena arah sekolah dasar tempat Iruka mengajar dan Konoha High berlawanan—Iruka harus putar balik setelah mengantar Naruto kalau mau ke tempat kerjanya.
"Kalau begitu kau harus cepat, Naruto," kata Iruka lagi sambil menyesap kopinya.
Naruto mengangguk, lalu menyampirkan ranselnya ke punggung. "Aku tahu. Aku berangkat sekarang, sudah telat nih!"
Tepat saat itu, sebuah bus melintas di depan rumah mereka, melambat ketika mendekati halte tak jauh dari sana, di tempat serombongan anak-anak sekolah berkerumun menunggu jemputan mereka.
"Aaah... Mereka sudah datang!" seru Naruto sambil melesat meninggalkan dapur. Dengan tergesa-gesa, ia memakai sepatunya. "Aku berangkat!!" Lalu terdengar suara pintu ditutup.
Iruka meletakkan cangkir kopinya, lalu beranjak untuk mengambil tas kerjanya. Ia juga harus bergegas berangkat. Memakai sepatunya, pandangan pria itu tertumbuk pada rak tempat payung. Astaga, Naruto lupa membawa payungnya.
Sementara itu di luar, Naruto berlarian menembus hujan mengejar bus yang sudah mulai bergerak meninggalkan halte. "OI!! BERHENTI!! BERHENTI!!" teriaknya mengatasi deru hujan sambil berlari, memukul-mukul badan bus dengan tinjunya supaya sang supir bisa mendengarnya. Sampai akhirnya bus itu berhenti, dan pintu bus membuka.
"Trims, Paman!" engah Naruto pada si supir yang tampak agak tidak senang ketika ia sudah aman berada di dalam bus. Bus perlahan mulai melaju lagi.
Naruto menyapu rambutnya yang basah dengan jemarinya sementara matanya mencari-cari bangku yang masih kosong. Bus itu nyaris penuh. Sepertinya anak-anak yang biasanya bersepeda ke sekolah serempak memilih naik bus hari ini—dan mungkin juga di hari-hari ke depan selama Konoha terus diterpa badai. Hanya ada beberapa bangku yang kosong yang salah satunya adalah bangku di sebelah cowok supergemuk—bahkan melebihi Chouji—yang bahkan memakan tempat kosong di sebelahnya.
—Sampai akhirnya mata biru Naruto tertumbuk pada satu bangku kosong di sebelah seorang gadis dengan rambut gelap panjang menjuntai dari balik topi rajutan yang menutupi kepalanya. Gadis itu tampak gugup ketika Naruto berjalan ke arahnya, wajahnya merona.
"Boleh duduk di sini, kan, Hinata?" tanya Naruto padanya. Tapi Naruto sudah mendudukkan diri di sampingnya sebelum Hinata sempat menjawab, maka gadis itu tak punya pilihan lain selain mengiyakan. Hinata menunduk malu ketika Naruto tersenyum padanya.
"Tumben naik bus. Tidak bareng Neji saja naik mobil?" Naruto membuka obrolan.
"K-kak Neji kena flu berat, jadi dia absen hari ini," sahut Hinata pelan.
"Ooh..." Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa tidak diantar supir saja?"
Hinata menggeleng pelan. "A-aku i-ingin naik bus saja."
"Hei, lukamu sudah baikan, kan? Tidak infeksi, kan?" cecar Naruto kemudian setelah ia mendapati plester di jari Hinata sudah diganti. Ia masih agak merasa bersalah karena sudah melukai gadis di sampingnya itu kemarin. Tidak secara langsung sih, tapi tetap saja kan?
"S-sudah tidak a-apa-apa kok. S-sebentar lagi p-pasti sembuh," jawab Hinata terbata. Ia tersenyum kecil malu-malu.
"Tapi kalau ada apa-apa, kau bilang padaku, ya!" cetus Naruto.
"Hmm..." gadis itu mengangguk pelan. Jemarinya menyelipkan anak-anak rambut di belakang telinganya dengan gugup, lalu melihat ke arah jendela yang diterpa angin. Pemandangan di luar tampak kabur oleh terpaan air hujan, tapi terlihat indah di mata Hinata. Apapun tampak indah kalau ada orang yang disukai di dekat kita, bukan? Bahkan bahu Naruto yang menempel di bahunya yang terasa hangat dan nyaman. Hinata menggigit bibirnya, menahan senyum.
Naruto bersenandung kecil selama lima menit berikutnya perjalanan mereka, sampai akhirnya bus melambat dan berhenti tepat di depan gerbang utama Konoha High. Anak-anak mulai beranjak menuju pintu, beberapa menyiapkan payung.
Ya ampun, aku lupa bawa payung! Pantas saja tadi kok rasanya ada yang aneh. Aku merasa... basah... batin Naruto, geli akan kebodohannya sendiri.
Ia menoleh pada Hinata yang sedang menyiapkan payungnya. "Hei, Hinata," panggilnya.
Hinata menoleh. "Y-ya, Naruto?"
"Aku boleh nebeng payungmu?" tanya Naruto, membuat wajah Hinata memerah lagi.
"T-tentu..."
Lalu keduanya bergerak ke pintu, mengantre turun bersama yang lain di belakang seorang cowok berperawakan tinggi kurus yang memakai mantel hitam panjang—seperti mau ke pemakaman saja. Hinata membuka payungnya ketika sudah di ambang pintu. Jantungnya serasa melonjak ke leher ketika dirasakannya tangan Naruto menyentuh bahunya. Ia menoleh dan mendapati Naruto sedang tersenyum padanya.
"Biar aku saja yang pegang," kata Naruto, mengambil payung dari tangan Hinata.
"I-iya..." Hinata memalingkan wajahnya lagi untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Kemudian keduanya turun dari bus, langsung disambut oleh terpaan air hujan.
"Oops!" Payung yang dipegangnya sedikit oleng ketika menerima guyuran air hujan yang keras. Naruto mempererat pegangannya pada gagang payung Hinata, menahannya. "Hujannya deras sekali, ya..." kekeh Naruto pada gadis di sampingnya.
"I-iya..." balas Hinata.
"Yuk," Naruto agak mendorong Hinata pada bahunya ketika mereka mulai berjalan beriringan perlahan menuju gedung sekolah mereka.
Hinata merasakan dadanya berdebar-debar. Ia belum pernah merasa sedekat itu dengan cowok yang disukainya dan ini jelas membuat hatinya berbunga-bunga. Tangan Naruto yang berada di bahunya, kehangatan yang menguar dari tubuh cowok itu, semuanya. Ia ingin mengingatnya. Ia berharap momen ini tidak segera berakhir. Namun sepertinya harapannya tidak bisa menjadi kenyataan, karena tidak sampai dua menit kemudian mereka sudah menaiki tangga depan menuju pelataran sekolah yang dipenuhi anak-anak yang subuk mengeringkan diri sebelum masuk ke dalam gedung.
Naruto menutup payung Hinata dan menyerahkannya pada gadis itu. "Trims, ya," ucapnya sambil memamerkan seringai khasnya.
"T-tidak m-masalah, N-naruto..." Hinata membalas senyumnya, tapi matanya tidak sanggup menatap mata Naruto, melainkan menatap telinga cowok itu.
Naruto menyisiri rambut pirangnya yang menempel basah pada keningnya dengan jemarinya, menyibaknya ke belakang. Entah mengapa menyaksikan ini membuat debaran di dada gadis itu semakin cepat. Untuk kesekian kalinya Hinata memalingkan wajah.
"Yuk, kita masuk, Hinata," ajak Naruto kemudian sambil berbalik, menuju pintu utama. Kedua tangannya dibenamkan ke dalam saku jaketnya yang basah. Hinata mengikutinya.
---
Sasuke memandangi pantulan wajahnya yang basah di cermin di salah satu toilet anak laki-laki di dekat koridor loker. Air menetes-netes dari ujung rambut hitamnya yang juga basah. Matanya yang juga berwarna hitam menyala-nyala, merefleksikan perasaannya yang terasa terbakar saat itu. Menggeram rendah, ia sekali lagi meraup air dari keran dan membasuh wajahnya, berharap air yang dingin itu bisa mendinginkan hatinya juga.
Tapi percuma saja. Ia masih merasakan rasa cemburu itu membakarnya dari dalam, membuatnya bingung. Sasuke belum pernah merasa seperti ini sebelumnya—Ia tidak merasa begini saat Hinata menyukai Itachi dulu. Mungkin itu karena ia tahu kakaknya itu hanya menganggap Hinata sebagai adik perempuan yang tidak pernah dimilikinya.
Membayangkan Naruto dan Hinata seperti tadi membuatnya ingin sekali menghancurkan sesuatu. Dan pintu bilik toilet itu tampak menggoda...
Tidak... tidak! Ia sudah janji pada kakaknya untuk tidak bertindak destruktif lagi, juga berjanji untuk tidak membuat masalah. Maka ia mencengkeram tepi wastafel erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih sebagai pelampiasan.
Tenangkan dirimu, brengsek! Sasuke memarahi dirinya sendiri. Ia memejamkan matanya rapat, mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Baiklah, ia sudah merasa sedikit lebih tenang sekarang. Sasuke membuka matanya dan langsung bertatapan dengan bayangannya sendiri. Ekspresinya sudah kembali mendingin seperti biasa. Ia menyapu rambut hitamnya dengan jari ke samping, lalu mengeringkan wajahnya sebelum melangkah meninggalkan kamar kecil yang kosong itu.
Koridor sudah mulai ramai oleh anak-anak ketika Sasuke melangkahkan kaki di koridor loker. Beberapa gadis saling sikut dan mengikik ketika ia melewati mereka—Sasuke tentu saja mengabaikannya. Ia terus melangkah menuju lokernya. Tapi lagi-lagi, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Naruto Uzumaki. Dan ia sedang bersama Hinata. Hinata Hyuuga-nya.
Hatinya kembali memanas, terbakar perasaan cemburu. Tangannya terkepal.
Ia melihat kedua sosok itu sedang berjalan beriringan memasuki koridor loker. Keduanya tampak dengan asyik mengobrol.
"...jadi majalah sekolah terbit akhir bulan ini?" Sasuke bisa mendengar Naruto menanyai Hinata.
Hinata mengangguk. "Iya..." jawabnya.
Naruto tertawa, lalu melirik gadis di sampingnya. Ekspresinya ingin tahu ketika ia bertanya, "Hei, siapa yang menjadi Student of The Month bulan ini?"
Hinata tertawa kecil, "I-itu... er... aku tidak bisa membocorkannya s-sekarang, N-naruto..."
Naruto tanpak agak kecewa, namun segera ditutupinya dengan cengirannya yang khas. "Aku juga kepingin sekali-sekali jadi Student of The Month. Bisakah kau mengusahakannya untukku?"
"Ah, i-itu..."
Kata-kata Hinata langsung tenggelam dalam gelak tawa Naruto. "Ha ha... tidak tidak, Hinata! Aku kan hanya bercanda. Kau ini selalu menganggap serius ya..." kekehnya.
Wajah Hinata memerah lagi ketika ia tersenyum malu.
Akhirnya mereka berhenti ketika sudah berada di depan loker Naruto.
"A-aku langsung ke ruang jurnal, ya, N-naruto," ucap Hinata.
Naruto melepas jaketnya, menampakkan kemeja kotak-kotak berwarna oranye-hitam di baliknya. "Oke. Tulis artikel yang bagus ya, Hinata!"
Hinata mengangguk, lalu beranjak dari sana.
"Oh ya, terimakasih tumpangan payungnya, ya!" seru Naruto pada punggung gadis itu.
Hinata menoleh, tersenyum. "Sama-sama," balasnya sebelum menghilang di belokkan, sementara Naruto mulai menyibukkan diri dengan mengambil buku-buku untuk pelajaran hari itu.
Sementara itu tidak jauh dari tempatnya, Sasuke sudah diselimuti aura kemarahan. Kecemburuan dan rasa dengki menggelegak di dasar hatinya seperti larva gunung merapi yang siap untuk meletus. Otot-otot di rahangnya berkedut-kedut berbahaya. Dan saat berikutnya ia sudah berjalan cepat ke arah lokernya yang berada satu loker dari loker Naruto, lalu membuka lokernya dengan kasar.
Naruto menoleh memandangnya, melempar pandang mencela. "Hei, kau bisa merusak properti sekolah kalau kasar begitu!" tegurnya.
Sasuke menoleh menatapnya setelah melempar tasnya dengan kasar ke dalam loker. "Oh, aku tidak tahu kalau sekolah ini milik nenek moyangmu," ia menukas. Nada bicaranya yang biasanya dingin mendadak dipenuhi emosi.
Wajah Naruto langsung berubah merah. "Kau ini kenapa sih? Dari kemarin tingkahmu aneh. Ada masalah denganku?!"
Sasuke membanting pintu lokernya menutup. Pintu itu memantul dengan bunyi 'brak' keras dan langsung terbuka lagi. Sasuke mengabaikannya. Sekarang ia menatap Naruto dengan mata dipicingkan. "Tentu saja ada, idiot! Muka jelekmu itu sangat mengganggu pemandangan, tahu. Jadi sebaiknya kau pergi dari sini!"
Wajah Naruto sekarang merah padam. Agaknya Sasuke sudah benar-benar memancing emosinya. "Eh, anak baru! Kalo ngomong hati-hati, ya! Aku lebih lama berada di sini daripada kau!" dengking Naruto terpancing emosi.
"Memangnya aku peduli siapa yang lebih lama di sini?" desis Sasuke.
"Kalau begitu bersikaplah tidak peduli seperti biasanya, Uchiha. Kau membuat kepalaku pusing," sahut Naruto sambil menutup pintu lokernya, menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat di belakangnya. "Pagi, Sakura!" sapanya dengan nada yang sama sekali berbeda dengan nada bicaranya pada Sasuke ketika melihat gadis berambut merah muda itu mendekat.
"Pagi," balas Sakura agak kurang bersemangat. Gadis itu baru akan mengulurkan tangan untuk mencapai lokernya ketika Sasuke melangkah maju, menghalangi lokernya. Cowok itu menatap Naruto tajam.
"Aku belum selesai bicara denganmu, Uzumaki!" bentaknya.
"Aku tidak tahu kalau mulutmu itu bisa dipakai bicara, Uchiha," balas Naruto sinis, mengungkit soal kecenderungan Sasuke untuk diam dan mengacuhkan orang lain sepanjang waktu.
"Ehm, maaf. Tapi kau menghalangi lokerku, Sasuke," kata Sakura. Sasuke tidak menggubrisnya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan dia?" tanya Sasuke pada Naruto. Suaranya dipenuh emosi tertahan.
Naruto menatapnya bingung. "Hubungan apa? Dia siapa—"
"Oh, berhenti berpura-pura!" sentak Sasuke, wajahnya yang biasanya pucat itu merah padam karena marah.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" teriak Naruto. "Dasar gila!"
Sakura berkacak pinggang dengan sebal menyaksikan pertengkaran kedua cowok itu. "Bisakah kalian mencari tempat lain untuk bertengkar? Kalian menghalangi lokerku."
"Menyingkir dari sana! Kau menghalangi loker Sakura!" Naruto mendorong Sasuke, tapi pemuda itu menepis tangannya dengan kasar. "Kau kenapa sih?!"
"Sasuke, please..." Sakura mulai kehilangan kesabaran.
"Diam kau, perempuan!" Sakura terkejut ketika Sasuke tiba-tiba membentaknya. Wajahnya ikut-ikutan merah padam seperti wajah kedua pemuda di depannya. "Ini bukan urusanmu!"
"Jangan berteriak pada Sakura seperti itu!" bentak Naruto marah.
"Aku tidak butuh pembelaanmu, Naruto!" entah kenapa Sakura jadi marah pada Naruto juga. "Dan kau—" ia menunjuk Sasuke, "—menyingkir dari lokerku sekarang juga!"
"Sayang sekali kau bukan bos di sini, keparat!"
Sakura tersentak. Brengsek! Gadis itu merasakan sesuatu dalam dirinya seperti terbakar mendengar kata-kata Sasuke. Berani-beraninya dia...
Ia baru saja hendak melayangkan tangan untuk menonjok cowok kurang ajar itu ketika terdengar jeritan keras anak perempuan di belakangnya. Sakura terkejut bukan main saat Naruto tiba-tiba saja menerjang Sasuke.
"Jangan berani-berani kau mengatai Sakura seperti itu, brengsek!!" Naruto meraung marah sambil membenamkan tinjunya ke sisi wajah Sasuke, membuat pemuda itu terjengkang. Naruto menyerangnya lagi dengan ganas dan kali ini Sasuke tidak diam saja. Ia melawan dengan sama ganasnya.
Segera saja terjadi baku hantam di antara kedua pemuda yang sedang kalut itu. Mereka berguling-guling di lantai, saling melayangkan tinju sementara anak-anak lain yang mulai berdatangan berkerumun di sekitar mereka untuk menonton sambil bersorak sorai menyemangati. Tidak ada seorangpun yang tampaknya berminat untuk menghentikan tontonan gratis itu.
Tidak ada, kecuali Sakura yang sekarang sudah kehabisan kesabaran. "BERHENTI BERKELAHI KALIAN BERDUA!!!" teriaknya mengatasi sorak-sorai anak-anak. Tapi sepertinya baik Naruto maupun Sasuke tidak mendengarkannya. "Siapapun hentikan mereka!!" Sakura berteriak marah pada anak-anak yang sepertinya juga tidak mendengarnya, terlalu sibuk menyoraki kedua orang itu, mengabaikannya.
Tidak adakah yang bersikap masuk akal di sini? pikir Sakura marah. Gadis itu menggeram.
"STOP!! HENTIKAN!!" Sakura meraung lagi, kali ini ia maju dengan nekat dan menarik bagian belakang kemeja Sasuke, memaksanya mundur. Tapi pemuda itu terlalu kuat. Sakura terhuyung. "NARUTO, PLEASE!!" ia mencoba menarik Naruto, memisahkan keduanya. Dan... "Aaargh!" siku Naruto tanpa sengaja malah menghantam wajah Sakura yang mencoba menariknya dengan keras, membuat gadis itu terjengkang jatuh ke belakang, menabrak loker dengan bunyi 'brak' keras.
"Sakura!" seru Naruto kaget. Akhirnya ia melepaskan Sasuke dan terhuyung-huyung menghampiri Sakura. Lebam-lebam menghiasi wajahnya. Sasuke yang sama berantakannya menggunakan kesempatan ini untuk menerjang Naruto lagi. Sakura yang masih terpuruk langsung terlupakan.
"Hajar dia Naruto!!" teriak salah satu anak memprovokasi.
"Piting dia, Sasuke! Tonjok!!" pendukung Sasuke tak mau kalah.
Sorak-sorai semakin manjadi-jadi dan anak-anak perempuan menjerit-jerit. Koridor semakin dipenuhi anak-anak yang berdesakan ingin menonton. Setidaknya itu sebelum sosok tinggi besar itu tiba-tiba saja menyeruak di antara kerumuan anak-anak. Mendadak sorak-sorai anak-anak mereda, seperti radio yang mendadak dikecilkan volume-nya, digantikan dengan bisik-bisik. Tapi dua sosok yang sedang bergumul itu sepertinya tidak menyadari perubahan atmosfer yang mendadak itu.
"UZUMAKI! UCHIHA! BERHENTI BERKELAHI SEKARANG JUGA!!!" teriakkan Asuma Sarutobi menggetarkan seluruh koridor. Anak-anak langsung memucat. Beberapa langsung melesat kabur dari sana. "BERHENTI SEKARANG JUGA!!" pria tinggi besar itu maju, menarik kerah baju kedua pemuda itu dengan kasar, memisahkan keduanya dengan begitu mudahnya seperti boneka. "KALIAN PIKIR LUCU MEMPERTONTONKAN ADU JOTOS BEGITU?! KALIAN PIKIR INI ARENA SMACKDOWN ATAU APA, HAH?!!"
Naruto dan Sasuke masih saling melotot, terengah-engah. Wajah mereka babak belur. Mata Naruto bengkak dan bibir Sasuke robek. Tapi rupanya itu tidak menghalangi keduanya untuk saling melempar tatapan membunuh.
"Dia yang mulai duluan, Pak Sarutobi!!" raung Naruto penuh kemarahan, jarinya menuding.
"APA?! Kau yang menyerangku duluan!!" teriak Sasuke tak mau kalah.
"Dia menghina Sakura!" jerit Naruto.
"DIAM! DIAM!! DIAAAAAM!!!" raungan Pak Sarutobi sukses membuat keduanya terdiam, meskipun masih saling melempar pandang benci satu sama lain.
Tepat saat itu, muncul dua guru lagi menerobos kerumunan. Yang satu berambut keperakan dan yang satunya lagi berambut hitam licin model bob.
"Astaga! Apa-apaan ini?!" Kakashi Hatake berseru kaget. Pria itu bergegas menghampiri Sakura yang terhuyung bangun, tampak pusing sambil memegangi hidungnya yang berdarah, dan memapahnya. "Kau tidak apa-apa, Haruno?"
Sakura mengangguk. Matanya basah sementara ia menahan sakit di hidungnya.
"Kedua anak ini rupanya memutuskan untuk menjadikan koridor sekolah sebagai arena bertinju, Pak Hatake," geram Pak Sarutobi sambil menjewer telinga kedua muridnya. Mereka mengaduh. Beberapa anak mengikik tertahan, tapi segera berhenti saat Pak Sarutobi memelototi mereka.
"Astaga, anak-anak..." Gai Maito, sang guru olahraga menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. "Semangat masa muda kalian seharusnya tidak dilampiaskan dengan cara seperti itu."
"Tapi dia duluan—" protes Naruto keras, jarinya menuding lagi.
"Tidak! Kau yang—" Sasuke menukasnya sengit.
"CUKUP!!" Kakashi berkata tegas, menyela protes dari kedua muridnya. Tangannya masih memegangi bahu Sakura. "Uzumaki, Uchiha, kalian berdua ikut ke kantor BK. Dan Sakura..." Kakashi memandang berkeliling, kemudian menunjuk seorang gadis berambut oranye panjang, "ah, Fuma, tolong kau antar Sakura ke ruang kesehatan."
"B-baik, Pak Hatake," sahut Sasame Fuma, agak terkejut ketika gurunya itu tiba-tiba menunjuknya. Tapi gadis itu tetap maju mendekati Sakura.
Kemudian Kakashi menepuk bahu Sakura, "Setelah itu kau juga harus ke kantor BK, ya."
Sakura baru akan memprotes ketika tiba-tiba otot wajahnya berdenyut menyakitkan lagi. Maka ia hanya bisa meringis, memegangi bagian wajahnya yang nyeri. Kenapa aku juga harus ikut ke kantor BK? pikirnya sebal.
"Yuk, Sakura," Sasame mengamit lengan Sakura lembut, membawanya menjauh dari kerumunan yang masih menonton. Sakura tidak punya pilihan lain selain mengikuti desakan lembut teman seangkatannya itu.
"Kalian menonton apa?!" hardik Pak Sarutobi pada kerumunan anak-anak, membuat mereka terlonjak. "Sekarang bubar! Bubar!"
Terdengar nada-nada kecewa ketika kerumunan membubarkan diri dan mulai melanjutkan aktifitas pagi mereka sebelum bel tanda jam pertama dimulai berbunyi. Beberapa menuju loker, beberapa sudah beranjak menuju kelas pertama mereka sambil mengobrol. Aktifitas normal yang biasa. Seperti tidak pernah terjadi peristiwa yang menghebohkan di sana.
Meskipun tetap saja, bisik-bisik mengikuti langkah ketiga guru dan dua murid bermasalah ketika mereka beranjak ke ruang BK.
---
TBC...
---
Putz sez...
Ah, gomen! Aku ngerasa chapter ini gak terlalu bagus. –emang yang lainnya bagus?— Alasan Sasuke menyerang Naruto sepertinya terlalu klise ya. Hanya karena terbakar cemburu. Tapi terkadang orang cemburu itu suka melakukan tindakan tidak masuk akal lho—lirik-lirik temen. Ampuuun! Hihi..- Apalagi tipe yang emosian (wah, Sasu benar-benar OOC. Tapi tar ada prosesnya dia menjadi sosok yang cool kok).
Dan, kenapa Kakashi hanya menyuruh Sakura ke UKS sementara Sasuke dan Naruto yang jelas-jelas babak belur enggak? Karena saat itu Sakura mimisan kena sodok Naruto. Perdarahannya harus dihentikan dulu, kalo enggak dia bisa pingsan. Kalo Sasuke dan Naruto mah cuma lebam-lebam doang, bisa nahan bentar lah... Poor Sakura...jadi korban dia... =hajar Sasuke dan Naruto=
Dan seperti chapter kemarin, chapter ini juga awalnya sangat pendek, tapi membengkak jadi 3ribuan kata. Haha... Kan aslinya chapter 9 dan 10 itu satu chapter.
Yang suka nonton anime-nya Naruto pasti tahu Fuma Sasame, kan? Dia bukan OC. Aku malas menghadirkan OC, pake aja tokoh yang udah ada. Dan tentu saja aku akan menghadirkan yayangku, Shiranui Genma. Khukhukhu... –Genma fangirl mode: ON!-
