Bab 12
Sehari lagi mereka jalani sebagai 'tahanan' sebelum akhir pekan. Selama seharian itu pula Sakura harus menahan diri untuk tidak mencincang kedua cowok sialan itu menjadi potongan kecil-kecil karena telah menyeretnya ke dalam situasi seperti itu.
Dan sepertinya Sasuke dan Naruto tidak puas hanya berkelahi sekali saja. Ada saja yang membuat emosi keduanya tersulut. Entah karena kekesalan Naruto atas sikap sok Sasuke atau kejengkelan Sasuke pada Naruto yang tidak beralasan—Sakura punya perkiraan ini ada hubungannya dengan Hinata Hyuuga. Setidaknya ia tahu kalau Hinata menaruh hati pada Naruto dan Sasuke pasti sudah tahu juga dan ia tidak senang—Betapa gesekan sedikit saja antara kedua cowok itu bisa menciptakan malapetaka. Atau setidaknya itu menurut Sakura.
Meskipun ia sudah berusaha membiasakan diri dengan kata-kata makian luar biasa dan sumpah serapah yang kerap keluar dari mulut kedua cowok itu sepanjang hari, tapi tetap saja itu membuatnya jengkel setengah mati. Sekali emosinya benar-benar meledak ketika di gesekan itu terjadi lagi di kelas pada jam terakhir sebelum pulang. Tapi saat itu bukan hanya Sasuke dan Naruto yang terlibat adu mulut, Sakura juga. Dan berakhir dengan insiden penamparan Sasuke oleh Sakura. Sasuke mungkin akan balas memukul gadis itu kalau saja Naruto tidak mendorongnya sampai menabrak bangku, membuat seluruh kelas ribut.
Sungguh sial bagi ketiganya karena tepat saat itu Pak Aoba Yamashiro, guru Geografi yang mengajar hari itu, masuk kelas dan menangkap basah mereka. Pria berkacamata itu menyeret ketiganya ke ruang BK dan... bang! Kakashi yang kebetulan saat itu sedang di sana menambahi hukuman mereka.
Yang benar saja, masa mereka harus makan dalam satu nampan! Aaaargh!
Gadis itu benar-benar merasa terjebak bersama mereka dan ia sama sekali tidak senang. Seharian penuh dijalaninya seperti di neraka. Benar-benar melelahkan.
Ketika akhir pekan tiba, Sakura merasa benar-benar bebas. Meskipun kekesalannya belum sepenuhnya terangkat, mengingat masih ada beberapa minggu lagi sebelum ia benar-benar terlepas dari hukuman tak masuk akal itu.
---
Blossoms' Cafe
"Aku tidak percaya Kakashi melakukan ini padaku!!" omel Sakura sambil memeriksa bayangannya di pantat panci baru yang mengilat. Bengkak di wajahnya akibat sodokan Naruto tempo hari sudah mengempis, tapi lebamnya belum sepenuhnya hilang. Dan masih terasa agak nyeri kadang-kadang. "Aku hanya korban! Lihat mukaku!"
Yamato yang sedang mengaduk sup di atas kompor menoleh. Senyum kecil tersungging di bibirnya ketika ia berkata, "Sudah tidak begitu kelihatan lagi kok."
Sakura menghela napas panjang. "Masalahnya bukan cuma ini, Yamato," keluhnya, menunjuk lebam samar di wajahnya, lalu meletakkan panci yang dipegangnya ke tempatnya semula di atas rak gantung, "Masalahnya karena dia sudah bersikap sangat tidak adil! Dan dia juga membuatku terjebak bersama dua cowok sialan itu!"
"Kakashi pasti punya alasan melakukan itu," kata Yamato kalem sambil berjalan ke arah oven untuk memeriksa ayam panggangnya.
"Memang ada!" sahut Sakura gusar, "tapi masalahnya, kenapa aku?!"
Yamato tertawa kecil. "Yah, mungkin karena kau adalah—"
"Yamato! Ayam panggang orientalnya satu lagi!" seru Izumo menyela mereka sambil menggantungkan kertas pesanan di atas jendela pesanan.
"Oke!" sahut Yamato cepat sebelum ia berpaling lagi pada sang putri pemilik restoran, "Maaf, Sakura. Tapi...'
"Baiklah baiklah..." sela Sakura, ketara sekali jengkel karena orang yang biasa mendengarkan keluh kesahnya selain Ino tak bisa membantunya sekarang. Gadis itu meninggalkan dapur dengan cemberut, bibirnya maju.
Seperti biasa, di akhir pekan Blossoms' Cafe selalu ramai. Hampir seluruh bangku terisi. Izumo, Kotetsu dan Isaribi sibuk melesat ke sana kemari melayani pelanggan, sementara ibunya dan Ayame sibuk berkutat di konter.
Sakura menghela napas lelah sekali lagi. Pagi itu ia sama sekali tidak bersemangat. Menghabiskan waktu bersama dua cowok menyebalkan yang kerap berkelahi dan berperang urat sehari sebelumnya sepertinya membuat energinya terkuras habis. Bahkan melihat suasana restoran yang ramai yang biasanya selalu berhasil mengangkat semangatnya tidak menarik minatnya kali itu.
Meski begitu, ia tetap menyambar lap di bawah meja konter dan segera meluncur dengan tidak bersemangat menuju meja di dekat pintu masuk yang baru saja ditinggalkan pelanggannya untuk membersihkan meja itu.
Gadis itu baru saja sampai di meja ketika pintu restoran berdenting terbuka. Ia menoleh. Seorang pria jangkung berambut keperakan dengan ekspresi wajah malas melangkah masuk.
"KAKASHI!!" seru Sakura, membuat kepala beberapa pengunjung restoran itu menoleh ke arahnya. Sakura mengabaikannya. Ia menjejalkan lapnya ke pelukan Izumo ketika pria itu melewatinya dengan membawa setumpuk piring kotor, lalu berjalan menghampiri Kakashi dengan mata menyala-nyala marah.
"Ah, Sakura," sapa Kakashi sambil tersenyum, "Selamat pagi."
Tanpa membalas sapaan pria itu, Sakura menyambar tangannya lalu menyeretnya ke meja yang kosong. Kakashi pasrah saja diseret-seret seperti itu, mengerti kalau Sakura mungkin masih marah padanya.
"Aku mau protes," Sakura memulai ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan. Pria itu menunggu sementara Sakura terdiam sejenak untuk mengatur emosinya. Sakura memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan, "Soal hukuman yang kau berikan padaku..."
"Padamu dan Sasuke dan Naruto," Kakashi menambahkan dengan ekspresi kalem.
"Padaku dan Sasuke dan Naruto," Sakura mengangguk setuju, "Itu sangat tidak adil. Aku tidak tahu menahu soal perkelahian mereka, Kakashi. Aku hanya melerai mereka tapi kenapa kau menghukumku juga?"
Kakashi menghela napas dalam dan berkata dengan penuh kesabaran, "Kita sudah membicarakan ini, Sakura. Aku sudah memberitahumu alasannya."
"Tapi kenapa aku?" tuntut Sakura putus asa. "Kenapa tidak orang lain saja?"
Kakashi menatap Sakura dengan pandangan lelah. Sejak kemarin, Sakura tidak pernah melewatkan kesempatan memojokkannya. Saat pelajaran usai, pulang sekolah sebelum sesi hukuman bersih-bersih, bahkan Sakura sudah menerornya via telepon malam sebelumnya. Jelas sekali ia berharap gurunya itu mau mencabut hukumannya. Tapi tentu saja tidak berhasil.
"Boleh aku memesan kopi dulu?" tanyanya.
"Tidak sebelum kau menjelaskan padaku!" kata Sakura keras kepala.
"Baiklah," pria itu mengalah pada akhirnya. Sesaat kemudian ia mulai melagukan kata-kata yang entah sudah berapa kali ia ulangi untuk Sakura. "...kau melibatkan dirimu, Saku—"
"Aku hanya melerai mereka!" sela Sakura dengan suara melengking tinggi.
"Ya, tapi akan lebih mudah kalau kau mengadu pada guru, kan?" sahut Kakashi sabar, "Dengar. Aku tahu ini berat untukmu, tapi aku benar-benar tidak bisa menolak permintaan temanku untuk... yah—menangani adiknya. Dan Sasuke memang bermasalah dari yang kulihat. Aku harap dengan cara ini sedikit banyak dia bisa berubah, bisa belakar dari kalian. Aku tahu Naruto dan aku yakin dia bisa membantu Sasuke. Kuharap kau mau melakukan hal yang sama untuk Sasuke, Sakura. Karena Naruto tidak mungkin melakukannya sendirian dengan tempramennya yang gampang panas itu."
Pada akhirnya semua kesialan yang terjadi padanya gara-gara Sasuke Uchiha, pikir Sakura kesal. Dan sekarang Kakashi berharap Sakura akan bersedia membantu cowok itu? Ia pasti sedang mimpi.
"Kau pasti sedang bergurau, kan? Mana mungkin aku bisa membantunya. Aku tak mau ikut campur!" kata Sakura keras kepala. "Pokoknya aku tidak mau berurusan dengan cowok brengsek macam Sasuke Uchiha!"
Kakashi menghela napas panjang. "Aku yakin kau akan bilang begitu pada awalnya. Tapi aku yakin kau akan segera berubah pikiran. Aku tahu kau anak baik, Sakura. Walaupun kau tidak mau, pada akhirnya kau akan bersedia membantunya juga. Sekarang ini kau cuma masih dikuasai emosi," tuturnya.
Sakura mengeluh panjang. "Tapi ini benar-benar tidak adil..." ujar Sakura dengan suara serak, menahan isakan, "Kau tidak tahu betapa menyiksanya menghabiskan waktu bersama mereka..." Gadis itu membenamkan wajah ke tangannya yang dilipat di atas meja. "Tega sekali kau lakukan ini pada keponakanmu sendiri, Kakashi. Sebulan penuh! Ya ampun... Aku bisa mati lama-lama kalau begitu..." suaranya teredam dalam lipatan tangannya.
Kakashi tersenyum kecil mendengar keluh kesah keponakannya, lalu ia mengulurkan tangan menyentuh bahunya, membelai-belainya lembut. "Sebulan akan berlalu dengan cepat, Sakura. Semuanya akan selesai dengan segera dan kau tidak akan menyadarinya. Aku janji kau tidak akan menyesal. Hei, pernahkah aku memberitahumu sebelumnya? Metode ini sudah pernah digunakan sebelumnya lho."
Sakura mengangkat kepala dari tangannya untuk memberi Kakashi tatapan kau-pasti-bercanda.
"...dan berhasil. Meskipun sulit menyatukan sepuluh kepala sekaligus..."
"SEPULUH??!!!" Sakura tak percaya.
"Ya, sepuluh," Kakashi mengangguk, tersenyum ketika melihat perubahan ekspresi Sakura, "sedangkan kalian hanya bertiga."
"Apa yang terjadi?" gadis itu bertanya ingin tahu. Tercengang membayangkan sepuluh orang terjebak dalam hukuman konyol macam ini.
Kakashi tersenyum lebar. "Sekarang mereka menjadi tim paling solid yang pernah kulihat. Bahkan persahabatan mereka tetap terjaga hingga mereka dewasa."
Sakura menyeringai sangsi. Jelas gadis itu meragukan cerita paman sekaligus gurunya itu. "Kau berharap aku bisa bersahabat dengan Sasuke dan Naruto? Kau pasti bergurau." Membayangkan bisa bersahabat dengan dua cowok paling menyebalkan benar-benar tidak masuk akal baginya.
Kakashi hanya tertawa. "Oh, kau akan lihat nanti, dear."
Tepat saat itu, sebuah tangan dengan lembut menaruh secangkir kopi hitam ke meja di antara mereka. "Kopi pahit seperti biasa kurasa, Kakashi?" kata Azami Haruno sambil menaruh piring berisi wafel hangat di atas meja di sebelah cangkir kopi, "dan ini sarapanmu."
"Terimakasih, Azami," ucap Kakashi, membalas senyum hangatnya, "Kelihatannya lezat."
"Sakura sudah menceritakan tentang kejadian di sekolah padaku, Kakashi. Dan kurasa sekarang kalian juga sedang membicarakannya, kan?" tanya Azami sambil duduk di samping putrinya. Mata hijau cemerlang yang diturunkannya pada sang putri menatap Kakashi, tapi sama sekali tidak ada tatapan menyalahkan di sana. Sebaliknya, tatapan itu tampak jenaka. "Benarkah yang kudengar kalau putriku yang cantik ini terjebak bersama dua pemuda tampan?"
"Ibu apa-apaan sih?" protes sang putri. Kata-kata ibunya tentang 'terjebak bersama dua pemuda tampan' kontan membuat wajahnya memerah. Kakashi tertawa. "Mereka tidak tampan!" gerutunya sambil cemberut.
"Lho? Bukankah kau pernah memberitahu ibu kalau pemuda bernama Sasuke Uchiha itu sangat tampan? Dan Naruto itu keren juga lho..."
Sakura bergidik. "Idih, selera ibu aneh banget sih?" rengutnya pada sang ibu, membuat wanita berwajah teduh itu terkekeh.
"Satu lagi keuntungannya, Sakura," Kakashi menyambung, "tidak ada ruginya kan terjebak bersama dua pemuda tampan?" ia terkekeh-kekeh.
Sakura mengerucutkan bibirnya, lalu beranjak dari kursinya dengan kaki menyentak. "Udah deh! Kalian berdua kompak sekali kalau menggodaku!" protesnya. Mengabaikan gelak tawa ibu dan pamannya, Sakura segera berlalu dari tempat itu sambil menggerutu.
"Omong-omong, Kakashi," kata Azami kemudian, "Apa kata murid-muridmu nanti kalau mereka melihatmu membaca buku macam itu?" wanita itu mengedikkan kepala ke arah buku kecil bersampul oranye yang baru saja dikeluarkan Kakashi dari saku celananya.
Pria itu terkekeh lagi. "Menurutmu?"
---
White Hills, Hyuuga Mansion
Sudah sejak tadi cowok berambut hitam itu berjalan mondar-mandir di depan pintu gerbang salah satu rumah megah yang berderet apik di kawasan Konoha yang dikenal mentereng itu sambil berkali-kali melirik ponselnya dengan gelisah. Sesekali ia menoleh ke arah rumah besar itu, seperti sedang menunggu seseorang keluar dari sana.
"Cepatlah keluar, Hinata..." katanya dalam bisikan rendah. Tangannya mengacak rambut hitamnya dengan frustasi.
Siapapun yang mengenalnya tahu betul kalau Sasuke Uchiha sangat benci menunggu. Namun entah apa yang membuatnya rela menunggu kali itu. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana dan kesabarannya sudah hampir habis ketika sosok yang sedari tadi ditunggunya akhirnya muncul juga.
Hinata Hyuuga baru saja keluar dari pintu ganda rumah megahnya dan sedang berlari-lari kecil menuju gerbang utama. Rambut hitamnya yang panjang dan dibuntut kuda berayun seiring langkah kakinya. Gadis itu mengenakan celana putih selutut dan kaus olahraga yang juga putih bersih. Topi baseball yang berwarna senada menutupi puncak kepalanya membentuk bayangan yang sedikit menutupi wajahnya. Meski begitu, Sasuke masih bisa melihat ekspresi wajah gadis itu tidak selembut biasanya. Ekspresi itu masih sama seperti yang dilihatnya di kantin dua hari yang lalu.
"Akhirnya kau keluar juga," kata Sasuke ketika Hinata sudah sampai di gerbang, mendorong terbuka pintu samping yang lebih kecil.
"Kenapa kau begitu keras kepala, Sasuke?" suara Hinata sedikit terengah ketika ia menutup kembali pintu itu di belakangnya.
"Kita harus bicara, Hinata," Sasuke menghampiri gadis itu, menarik tangannya. Namun Hinata menarik kembali tangannya dari cengkeraman cowok itu.
"Itu tidak ada perlunya," ujarnya. Ada ketidaksabaran dalam suaranya yang lembut.
"Tentu saja perlu," balas Sasuke gusar sambil sekali lagi menarik tangan Hinata, mencengkeramnya kuat-kuat dan menariknya dari sana menuju BMW hitam milik Itachi yang diparkir tak jauh dari sana. Hinata memberontak, namun tidak kuasa melapaskan diri. Cengkeraman Sasuke terlalu kuat.
"Sasuke, lepaskan tanganku!" protesnya.
Sasuke mengabaikannya. Ia baru melepaskan pegangannya ketika mereka sudah sampai di sisi mobil. Ia membukakan pintu penumpang bagi Hinata. "Masuklah."
Hinata bertahan di tempatnya, menatap pemuda itu dengan pandangan kesal. "Kita bicara di sini saja. Aku tak bisa lama-lama. Kak Neji sudah menungguku."
"MASUK KATAKU!" bentak Sasuke. Rahangnya mengeras dan buku-buku jari yang mencengkeram pintu memutih.
Hinata berjengit. Meski sakit hati atas perlakuan kasar pemuda itu, toh ia mengalah juga. Tidak ada gunanya ribut-ribut dengan Sasuke yang sedang marah, pikirnya ketika ia masuk ke dalam mobil.
Sasuke menutup pintunya keras dan berjalan mengitari mobil, lalu masuk dan duduk di bangku belakang kemudi, menutup pintunya juga. Mereka terdiam selama beberapa waktu sebelum Sasuke menoleh memandang Hinata yang rupanya menolak menatapnya, melainkan menatap jalanan di depannya dengan tatapan gusar.
"Kau menghindariku terus sejak kemarin," Sasuke memulai. "Kau tidak mau memandangku, kau tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesan instanku. Kau marah padaku?"
Hinata tidak menjawab. Sasuke mendengus kasar. Tentu saja ia marah, dasar bodoh!
"Kau marah sejak aku memukulnya, Hinata," pemuda itu melanjutkan dengan suara rendah dan bergetar. "Itu kan alasanmu menolakku selama ini?"
Hinata masih tidak menanggapi. Gadis itu terus saja memandang jalan.
"Naruto Uzumaki. Benar kan?" tanya Sasuke dengan suara rendah, menekan emosinya sekuat mungkin.
Gadis di sampingnya kali ini memalingkan wajahnya dan masih tidak menjawabnya.
Sasuke menggertakkan gigi. "Aku melihatmu dengannya. Kau jadi lebih gugup kalau dekat dengannya, mukamu memerah..." diam sejenak. Ia memejamkan matanya dan ketika ia membuka matanya kembali, mata itu tampak terluka. Dan kata-kata berikutnya yang keluar dari bibirnya seakan menyakitinya lebih dalam lagi, "...dan caramu menatapnya, sama seperti caramu menatap Kak Itachi dulu. Kau... menyukainya, kan?"
Akhirnya Hinata menoleh padanya juga, namun masih tidak berkata apa-apa.
"Kau menyukai Naruto Uzumaki. Benar kan?" tanya Sasuke lebih mendesak.
"Itu sama sekali tak ada kaitannya denganmu," jawab Hinata dingin.
"JAWAB PERTANYAANKU, HINATA HYUUGA!!" Sasuke berteriak lepas kendali. Pertahanannya jebol. "KAU MENYUKAINYA, KAN?!"
"Astaga, Sasuke, kendalikan dirimu," seru Hinata kaget. Mata lavendernya melebar, terkejut melihat kemarah Sasuke yang tiba-tiba seperti itu. Karena sebelumnya, Sasuke tidak pernah marah apalagi membentaknya seperti yang dilakukannya hari ini.
"KENDALIKAN DIRI?! KAU PIKIR AKU BISA MENGENDALIKAN DIRIKU MELIHATMU MENYUKAI ORANG LAIN, HAH?! TIDAK, HINATA! TIDAK!!"
"S-sasuke..."
"BIAR KUPERJELAS. KAU HANYA MILIKKU! MILIKKU!! KAU DENGAR ITU?!"
"Sudah cukup, Sasuke! Kau sudah keterlaluan—"
Sasuke menyambar bahu Hinata, mencengkeramnya lalu mengguncangnya kasar. "KAU TIDAK BOLEH MENYUKAI ORANG LAIN SELAIN AKU! KAU MENGERTI?!"
"Tidak! Aku tidak mengerti, Sasuke! Aku benar-benar tidak mengerti ada apa denganmu! Lepaskan aku, please?" gadis itu memohon sampai akhirnya Sasuke melepaskan cengkeramannya, berteriak frustasi. "Sasuke, please, tenanglah. Kau membuatku takut."
"Memangnya apa bagusnya dia sampai kau menyukainya seperti itu, Hina...?" tanya Sasuke dengan suara lebih pelan, terdengar putus asa. "Apa lebihnya idiot itu?"
"Naruto tidak idiot, Sasuke," tegur Hinata, "sama sekali tidak idiot. Dia orang paling luar biasa yang pernah kukenal."
Sasuke menatapnya tajam. "Jadi kau benar menyukainya, kan?"
Hinata menghela napas panjang, lalu menjawab mantap, "Aku tak pernah menyukai orang lain sedalam aku menyukai Naruto. Dan itulah alasan aku marah padamu—ya, aku marah padamu, Sasuke—karena kau memukulnya."
Sasuke menggeram. Kedua tangannya mencengkeram rambut hitamnya dengan frustasi, membuatnya semakin berantakan. Perkataan Hinata barusan seakan menghujamnya, membuat dadanya terasa sesak oleh rasa kecewa.
Tiba-tiba saja Hinata merasa iba padanya.
"Tolong jangan begini, Sasuke," Hinata mengulurkan tangan menyentuh bahu cowok di sampingnya. Kemarahannya pada Sasuke tadi telah bertransformasi menjadi rasa kasihan. "Bisa kan, kau melupakannya? Maksudku, ayolah... itu hanya permainan antara dua anak kecil. Jangan dianggap serius, oke? Dengar, aku benar-benar minta maaf, tapi yang namanya perasaan itu tidak bisa dipaksakan."
Sasuke menoleh menatapnya. "Mengapa, Hina? Padahal aku sudah menunggumu sampai kau melupakan perasaanmu pada kakakku. Padahal aku—mengapa sekarang kau malah menyukai orang lain? Mengapa bukan aku?"
Hinata memberinya tatapan menyesal, "Maafkan aku..." lirihnya.
"Apa kau tidak bisa mencobanya?"
Hinata menjawab dengan gelengan sedih. "Tetap tidak bisa, Sasuke. Aku sedah terlanjur menganggapmu seperti kakakku sendiri, seperti perasaanku pada Kak Neji, seperti pada Kak Itachi juga."
"Tapi aku mencintaimu, Hinata. Dan aku ingin kau mencintaiku juga—bukan sebagai kakak!" seru Sasuke keras kepala.
"Kalau begitu kau egois. Dewasalah sedikit, Sasuke," sahut Hinata seraya menghela napas. "Hatiku bebas menyukai siapa pun. Kau tidak punya hak apa-apa untuk melarangku. Begitu juga dengan hatimu. Kita sudah berkali-kali membicarakan ini kan, Sasuke? Tolong mengertilah..." gadis itu terdiam sebentar, menatap Sasuke dengan tatapan memohon. "Please jangan membuat dirimu sendiri tersiksa dengan membelenggu hatimu padaku. Ya?"
Pemuda itu terdiam, lalu memalingkan wajah, menghindari tatapan gadis itu. Mungkin Hinata benar, pikirnya, mungkin aku memang sedang menyiksa diriku sendiri.
"Aku tahu ini menyakitkan, aku juga pernah mengalaminya saat aku harus melupakan perasaanku pada Kak Itachi dulu. Tapi aku yakin kau pasti bisa melakukannya, Sasuke. Jangan tutup dirimu terus. Buka hatimu, biarkan orang-orang di sekelilingmu membantumu. Aku yakin Sakura dan Naruto bisa membantumu."
"Jangan sebut-sebut tentang mereka," gerutu Sasuke. Menyebut kedua orang itu mengingatkannya pada hukuman menyebalkan yang harus dijalaninya sebulan penuh. Dan itu membangkitkan lagi kejengkelannya.
Hinata tersenyum lembut, masih menepuk-nepuk bahu Sasuke. "Kenapa? Menurutku itu bagus untukmu. Dan kau juga akan bisa melihat nanti, alasan mengapa aku menyukai Naruto. Kau akan mengerti."
Sasuke mendengus. "Bagiku dia tetap idiot bodoh!"
Hinata menarik tangannya dari bahu Sasuke, tersenyum kecut. "Aku harus pergi sekarang, Sasuke. Kak Neji bisa marah kalau aku terlalu lama."
Gadis itu baru saja akan membuka pintu mobil ketika tangan Sasuke menangkap pergelangan tangannya, menahannya. "Satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu sebelum kau pergi, Hinata."
Hinata mengangkat alisnya heran. "Apa itu?"
Sasuke menatap matanya dalam-dalam. "Apa kau pernah... sedikit saja... ada perasaan sayang padaku?"
Hinata membalas tatapannya sambil tersenyum tulus. Lalu menjawab dengan suaranya yang lembut, "Aku selalu menyayangi sahabatku. Itu tidak akan berubah sampai kapanpun."
Dengan senyum terakhir, ia membuka pintu mobil dan beranjak. Meninggalkan Sasuke dengan perasaannya yang masih kacau balau. Meski begitu, ia merasa sedikit lega. Setidaknya Hinata sudah mau bicara lagi padanya—meskipun ia tidak minta maaf, dan ia memang tidak menyesal telah memukul Naruto. Atau lebih tepatnya belum.
---
Fox Street No. 10
"Jadi selama dua hari ini kau tidak bisa latihan sepak bola?" Iruka bertanya sembari memecahkan telur terakhir dan menuangkannya ke dalam wadah berisi sedikit tepung dan sayuran, lalu mengelapkan tangannya yang sedikit kotor ke celemek kotak-kotaknya sebelum mulai mengaduk adonan omeletnya.
"Yap. Benar-benar merepotkan. Padahal pertandingan dengan tim Iwa sudah dekat. Bagaimana aku bisa terpilih jadi pemain inti kalau tidak latihan?" keluh putra angkatnya yang baru saja memasuki dapur, membawa botol susu yang baru diantar. Ia menaruh botol itu di atas konter dan berjalan menuju rak untuk mengambil dua buah gelas, lalu menuang susu ke dalamnya. "Yang benar saja. Masa aku harus meninggalkan timku dan menjadi cleaning service dadakan." Pemuda pirang itu mereguk susunya perlahan, menciptakan sebentuk kumis putih di atas bibirnya sebelum mengusapnya dengan punggung tangan.
"Kalau begitu mengapa tidak minta dispensasi pada guru BK-mu?" usul Iruka sambil masih mengaduk adonannya.
Naruto mengeluh pelan. "Besok aku akan menemui Pak Hatake kalau si Uchiha sialan itu tidak buat masalah." Ia bergerak lagi kembali menuju rak, mengambil penggorengan, menuang sedikit minyak di atasnya lalu memanaskannya di atas kompor.
"Jangan berkelahi lagi. Bengkak di matamu itu belum kempis lho," nasihat Iruka sambil tersenyum.
"Aku tahu, Pap!" jawab Naruto sedikit menggerutu. Tangannya meraba bengkak di matanya, lalu berjengit ketika bengkak itu berdenyut menyakitkan. "Memangnya enak punya bengkak di mata? Susah melek!"
Iruka terkekeh-kekeh geli melihat tampang berantakan putra angkatnya. Ia bergerak mendekati kompor dan mulai memasak omelet di penggorengan yang sudah dipanaskan Naruto. "Tapi hukuman yang diberikan gurumu ini tidak biasa, ya?"
"Yeah, Pak Hatake memang sudah sinting. Kepalanya itu sudah kebanyakan dijejali rumus dan angka-angka, kayaknya," Naruto mengangguk-anggukkan kepala. Iruka tertawa mendengar komentar putranya itu. "Tapi ada bagusnya juga sih," lanjut Naruto sambil nyengir sementara semburat kemerahan muncul di wajahnya yang masih agak lebam, "aku jadi bisa dekat-dekat dengan Sakura. Siapa tahu nanti dia jadi naksir aku," ia terkekeh-kekeh sendiri.
"Dasar kau ini. Cewek saja yang dipikirin," kata Iruka sambil tertawa.
"Yah, habis mau gimana lagi. Sakura kan cantik dan menarik," Naruto mengangkat bahu, menyandarkan diri ke konter. "Tapi si Uchiha sialan itu benar-benar menyebalkan. Haaah... Kenapa juga aku harus dihukum bersamanya?"
"Mungkin itu supaya kalian berdua bisa akur," usul Iruka.
Naruto mengangkat bahu. "Memangnya aku peduli? Tapi tak apalah, toh aku sudah terbiasa dihukum. Karena ayahku satu ini juga hobinya menghukumku saat aku masih di sekolah dasar," lanjutnya sambil melirik Iruka.
Iruka meledak tertawa. "Itu karena kau sangat badung, Naruto! Kau selalu saja membuat keributan di sekolah. Tentu saja aku harus menghukummu!" katanya sambil membalik omelet. "Tumben hari ini kau tidak ke restorannya Sakura."
"Sekali-sekali pingin juga dong, makan bareng Pap di rumah. Lagipula masakan Pap tidak kalah enak dengan yang di BloCaf. Hmm... harum sekali..." Naruto menghirup aroma yang menguar dari masakan ayah angkatnya dalam-dalam, "kelihatannya enak."
"Dasar kamu. Padahal ada alasan lain kan?"
"Iya sih," Naruto nyengir. "Biar Sakura tidak bosan melihat mukaku yang cakep ini terus. Kami kan akan bersama-sama sepanjang hari selama sebulan penuh. Lagipula sepertinya dia masih emosi. Aku tidak ingin mendapat bengkak tambahan darinya, Pap. Terimakasih banyak. Aaah... harusnya kau melihatnya ketika Sakura memukul Sasuke kemarin. Mantap sekali..." ia tertawa-tawa puas sementara Iruka menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nanti siang kita jadi ke panti kan?" tanya Iruka kemudian ketika omeletnya sudah matang dan ia sedang menuangkannya ke atas piring.
"Tentu saja. Aku sudah kangen main sama adik-adik di sana!" sahut Naruto ceria. "Konohamaru masih suka main ke sana juga, kan?"
"Masih," Iruka memotong omeletnya menjadi dua bagian, kemudian ia melirik Naruto. Seulas senyum tipis penuh arti menghiasi wajahnya ketika ia berkata, "Teman sekolahmu juga ada yang sering datang, lho. Katanya dia senang berada di sana, main dengan anak-anak dan mendongengi mereka. Tapi kurasa, ada sesuatu yang lain yang dicarinya di sana."
Naruto memadang Iruka dengan bingung. Alisnya berkerut dalam. "Eh? Siapa?"
---
TBC...
---
Putz sez..
Aku kok ngerasa deja vu waktu nulis bagian SasuHina, yah? –garuk-garuk- Sasuke dan Hinata OOC banget di sini. Hina lancar amat ngomongnya di depan Sasuke.
Hubungan Kakashi dan Sakura sudah jelas kan? Mereka adalah paman dan keponakan, tapi mengapa nama belakang mereka berbeda? Masih banyak kemungkinan. Aaah... gak sabar memunculkan ayah Sakura!
---
