Chapter 13
"Hari ini seharusnya penentuan pemain inti," keluh Naruto keesokan harinya. Saat itu ketiganya—ia, Sasuke dan Sakura, tentu saja—sedang membersihkan seluruh koridor di lantai dua. Naruto memandang rindu melewati salah satu jendela di koridor itu, ke arah lapangan di bawah sana, di mana teman-teman klub sepakbolanya sedang berlatih. "Tapi gara-gara hukuman sialan ini, aku jadi tidak bisa ikut serta," lanjutnya sambil melirik sengit ke arah Sasuke yang sedang mengepel tak jauh dari tempatnya.
Sasuke balas memandangnya tajam. "Kau menyalahkanku?"
"Menurutmu salah siapa kita dihukum begini, eh?" tukas Naruto panas. "Kalau kau tidak menyerangku tanpa alasan, ini tidak akan terjadi."
"Oh, yeah?" Sasuke menghentikan gerakan mengepelnya, "seingatku kaulah yang menyerangku duluan," ujarnya dingin.
Wajah Naruto langsung merah padam karena marah. Ia melempar tongkat pelnya ke lantai hingga menimbulkan bunyi kelontang keras di koridor kosong itu.
"CUKUP!" teriak Sakura. "Kalian ini kerjanya berantem saja terus!" geramnya sambil memandang kesal pada kedua temannya yang masih saling membeliak itu. Dari tadi Sakura menahan diri untuk tidak ikut campur dalam adu mulut mereka, namun ketika ia merasakan tanda-tanda bahaya, ia merasa harus mencegahnya. Gadis itu tidak mau mendapat masalah tambahan lagi gara-gara ulah emosional kedua cowok itu.
"Tch!" Sasuke memalingkan wajah, lalu berjalan ke ujung koridor yang berlawanan, meneruskan mengepel di tempat yang agak jauh.
"Dia itu brengsek!" gerutu Naruto sambil menyambar tongkat pel-nya lagi dari lantai dan mulai mengepel lagi dengan kegeraman yang tampak nyata.
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya dengan letih sambil sekali lagi menghela napas sementara gerakan Naruto terhenti dan matanya kembali memandang ke arah jendela. Ekspresinya cemberut.
"Kalau kau begitu ingin latihan, mengapa tidak bilang saja pada Pak Hatake, Naruto?" tukas Sakura, kesal karena Naruto hanya berdiri saja di dekat jendela. "Minggir minggir..."
"Oh, sori," Naruto nyengir minta maaf, lalu menyingkir dari sana sementara Sakura mengepel tempatnya berdiri barusan. Ia sendiri mulai membersihkan lantai yang masih kotor. "Kau tahu, Sakura? Aku memang merencanakan itu. Tapi aku tidak kunjung punya waktu untuk bicara pada Pak Hatake. Kau tahu kan kita harus selalu bersama-sama—kecuali ke kamar kecil—jadi mana sempat aku—"
"Ya ya ya... intinya karena terjebak bersama kami, kau jadi tidak bisa latihan kan?" sela Sakura. Entah mengapa gadis itu mejadi lekas marah kalau berhadapan dengan Naruto atau Sasuke. "Bilang saja kau menyalahkanku juga!"
Naruto melongo beberapa saat. "M-Maksudku bukan begitu, Sakura. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu, justru aku senang karena—"
"Ooh... jadi kau senang aku dihukum ya?" dengus Sakura.
Naruto tampak panik, serba salah. "Bukan begitu... aduh, bagaimana ya menjelaskannya..." Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kebingungan. "Intinya aku senang bisa menghabiskan banyak waktu denganmu, tapi bukan dalam situasi seperti ini..."
"Tapi masalahnya aku tidak senang menghabiskan waktu denganmu, Naruto," gerutu Sakura.
"Sakura..." kata Naruto lemas, "jangan ngomong seperti itu dong..."
Sakura mengacuhkannya.
Tepat saat itu Kakashi Hatake muncul dari arah tangga. Tas kerjanya tersampir di bahu. Tampaknya guru mereka itu sudah bersiap pulang.
"Wah wah... lihat, koridor ini jadi bersih," kata Kakashi sambil memandang berkeliling koridor dengan tatapan puas.
Sakura mencibirnya. Tentu saja bersih, dasar bodoh, kalau ada tiga cleaning service tambahan yang dipekerjakan secara paksa di sini, gerutunya dalam hati. Jelas gadis itu masih sangat kesal pada paman sekaligus gurunya itu.
"Sore, Pak Hatake!" sapa Naruto. Sakura memandang pemuda itu heran. Bagaimana Naruto bisa seceria itu menyapa Kakashi padahal pria itulah yang sudah menjatuhkan hukuman menyebalkan itu pada mereka—dan yang paling penting, menyebabkan ia tidak bisa mengikuti latihan klub sepak bolanya.
"Sore, Naruto!" balas Kakashi sambil tersenyum. "Kalian bertiga kemari," ia memberi isyarat dengan tangannya agak ketiga muridnya mendekat. "Kau juga, Sasuke!" serunya pada Sasuke di ujung koridor yang satunya.
Sasuke menghentikan pekerjaannya, lalu menegakkan diri menatap sang guru dengan tatapan dingin. Mau apa lagi dia kali ini? batinnya kesal sebelum akhirnya menyeret kakinya mendekati Kakashi dan dua yang lain.
"Nah," Kakashi tersenyum sambil menepukkan kedua tangannya setelah mereka sudah berkumpul. Ia menatap ketiga muridnya bergantian sebelum berkata, "Kulihat kalian sejauh ini sudah melakukan tugas kalian dengan sangat baik, anak-anak. Kalian sudah tidak banyak bertengkar lagi, kan?"
Sasuke mendengus.
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Sakura sekali lagi mencibirnya, "Apanya?!"
Kakashi tersenyum lagi, lalu meneruskan, pura-pura tidak menyadari reaksi tidak setuju dari ketiga muridnya, "—kalau begitu, aku ingin mentraktir kalian makan malam. Kalian suka pizza?"
---
Dan setelah beberapa menit perjalanan yang tidak mengenakkan dengan mobil tua milik Kakashi—Sakura duduk di kursi depan sementara Sasuke dan Naruto di kursi belakang, saling membuang muka—akhirnya mereka sampai di kedai pizza tak begitu jauh dari Konoha High, Mitarashi's Pizza.
"Kedai pizza ini milik salah satu guru di sekolah kita juga," beritahu Kakashi sambil mengunci pintu mobilnya setelah memastikan ketiga remaja itu sudah keluar dari mobilnya, seolah informasi itu penting saja.
Sakura dan Sasuke yang tidak memedulikan perkataan Kakashi, langsung beranjak menuju restoran itu tanpa berkata apa-apa, sementara Naruto masih di sana, menatap bangunan di depannya dengan tatapan tertarik. "Apakah mereka akan memberi kita diskon khusus?" tanyanya penuh minat pada Kakashi.
Kakashi tertawa kecil. "Tergantung suasana hatinya. Ibu guru Mitarashi itu sangat moody."
Naruto nyengir, teringat pada guru Kebudayaan Dunia di sekolahnya itu dan sifatnya –yang menurut ayah angkatnya— yang agak mirip dengannya, ramai dan seperti kelebihan energi—dan sedikit aneh, agak nyentrik.
"Aku tidak tahu Ibu Guru Mitarashi bisa masak," selorohnya. Membayangkan Anko Mitarashi yang nyentrik itu memasak, rasanya di luar imajinasinya.
"Anko tidak masak. Dia yang punya modal, Naruto," kekeh Kakashi sambil beranjak, mengikuti Sasuke dan Sakura.
Naruto mengikuti di belakangnya, tertawa. "Yeah, tentu saja..."
Sasuke dan Sakura sudah duduk di salah satu meja di dekat jendela ketika Kakashi dan Naruto masuk. Kedua remaja itu duduk sambil saling memalingkan wajah dan tangan terlipat di depan dada, jelas sekali sangat enggan berinteraksi satu sama lain. Kakashi menghembuskan napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala sebelum berjalan menuju meja itu bersama Naruto. Suasana hati mereka belum membaik juga rupanya, batinnya.
Naruto mengistirahatkan bokongnya dengan gembira di bangku sebelah Sakura—sepertinya memang hanya ia saja yang senang saat itu di antara ketiga remaja itu—dan langsung menyambar buku menu di meja, memilih-milih.
"Wah wah wah... lihat ini. Kakashi dan tiga murid paling beken di Konoha High!" seru seorang wanita dengan suara nyaring.
Kakashi dan ketiga muridnya menoleh untuk mendapati sang empunya restoran berdiri di samping meja mereka. Kedua tangannya di pinggul dan cengiran lebar menghiasi wajahnya yang sepertinya tidak pernah memperlihatkan ekspresi lelah sedikitpun itu. Anko Mitarashi.
"Sore, Ibu Guru Mitarashi," sapa Kakashi ramah.
Anko memutar matanya. "Ooh... Kakashi, sudah kubilang berapa kali untuk tidak memanggilku begitu di luar sekolah!" ia meninju bahu koleganya itu main-main, tapi cukup keras sampai-sampai Kakashi meringis kesakitan sambil menggosok-gosok tempat di mana tangan Anko baru saja menampolnya.
"Baik baik, Anko," kata Kakashi.
Anko menganggukkan kepalanya dengan puas sebelum mengalihkan pandangannya pada Sasuke, Sakura dan Naruto. Ia tertawa kecil, lalu berkata, "Rupanya setelah pulang sekolah pun, mereka masih dalam masa hukuman, ya?"
Kakashi ikut tertawa. "Bukan begitu. Aku bermaksud mentraktir mereka hari ini."
"Oh, tumben!" seru Anko dengan ekspresi terkejut yang agak berlebihan. "Biasanya kau pelit!" ia menambahkan sambil terkekeh. Kemudian ia memanggil salah seorang karyawannya yang bertubuh kurus kering untuk meminjam notesnya. "Oke. Kalian mendapatkan kehormatan hari ini, karena aku sendiri yang akan melayani kalian," katanya ketika karyawannya sudah pergi, "Mau pesan apa, Tuan-Tuan dan Nona?"
---
"Ini benar-benar konyol," dengus Sasuke tak habis pikir sambil menatap kertas kecil di tangannya. "Untuk apa ini tepatnya?"
Kakashi baru saja membagikan secarik kertas kecil yang ia sobek dari notes book-nya pada Sasuke, Sakura dan Naruto sementara menunggu pesanan mereka datang. Dan sekarang ia sedang memandangi ketiga muridnya itu dengan tatapan puas. "Aku ingin kalian menuliskan sesuatu, singkat saja, tentang dua teman kalian," katanya. "Sasuke, kau tulis pendapatmu tentang Sakura dan Naruto. Sakura, kau tulis tentang Naruto dan Sasuke. Dan Naruto—"
"Aku akan menulis tentang Sakura dan Sasuke, kan?" sela Naruto sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Betul," timpal Kakashi.
"Buat apaan sih?" tanya Sakura, mengulangi pertanyaan Sasuke.
"Yah, kita selalu ingin mengetahui apa pendapat teman kita tentang kita, bukan?" kata Kakashi santai.
"Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku," bisik Sakura kesal. Gadis itu memainkan kertas di tangannya, menerka-nerka sendiri dalam hati apa sebenarnya maksud Kakashi.
"Benar-benar tidak berguna," gerutu Sasuke pelan, namun cukup keras untuk didengar sang guru yang duduk tepat di sebelahnya. Kakashi menghiraukannya. Yah, Itachi memang sudah memberitahunya tentang sifat Sasuke satu itu.
Kebalikan dari reaksi Sasuke, Naruto tampak tertarik. "Wow, sepertinya bakal seru," ujarnya sambil membuka ranselnya dan mengambil penanya. Saat berikutnya ia sudah sibuk menulis. Sementara Sakura, gadis itu tidak berminat berkomentar lebih jauh atas kelakuan pamannya yang menurutnya tidak masuk akal itu. Ia menulis dalam diam.
Sakura dan Sasuke tidak membutuhkan waktu banyak untuk menulis, sementara Naruto, sampai pesanan mereka datang pun ia masih belum selesai menulis. Tampaknya ia memikirkan betul-betul apa yang ditulisnya.
"Selesai!" seru Naruto akhirnya. Ia mengulurkan kertasnya pada Kakashi—Sasuke dan Sakura sudah menyerahkan kertas mereka sejak tadi—lalu menyambar sepotong pizza dan menggigit dalam potongan besar.
"Baiklah. Um..." Kakashi membaca satu per satu tulisan ketiga muridnya. Dahinya berkerut. "Wah wah... sepertinya hukuman ini memang tepat sekali kuberikan pada kalian bertiga, ya..."
Sasuke memutar matanya, tak peduli. Ia menambahkan saus tomat banyak-banyak di atas potongan pizza-nya.
"Kenapa memangnya, Pak Guru?" tanya Naruto setelah menelan potongan pizza-nya dengan susah payah.
"Baiklah, akan kubacakan," Kakashi mengangkat salah satu kertas di tangannya dan mulai membaca, "Yang pertama, tulisan Sasuke. Dia menulis, 'Haruno : Jerk. Uzumaki : Jerk'."
"Heran, kenapa aku tidak terkejut ya?" tukas Sakura sarkastis. Meskipun dadanya panas dikatai seperti itu.
"Jerk!!" cibir Naruto sambil mengacungkan jari tengahnya pada Sasuke. Sakura segera menampar tangan cowok itu keras. Meskipun ia juga tidak menyukai Sasuke, tapi ia lebih tidak suka ada yang melakukan hal tidak sopan seperti yang dilakukan Naruto beberapa detik yang lalu. Cowok itu meringis padanya.
Kakashi mengabaikan lagi reaksi ketiga muridnya dan melanjutkan membaca kertas berikutnya. Kertas Sakura. "'Sasuke : Cowok paling sok dan paling-paling yang jelek-jelek lainnya. Pernah diajari menghargai orang tidak sih, dia? Naruto : Sebenarnya orangnya cukup menyenangkan, tapi nyebelin.'."
Sasuke tidak berkomentar apa-apa sementara Naruto tersedak pizza-nya. "Sakura..."
"Sekarang tulisan Naruto," kata Kakashi, mengangkat kertas terakhir. "Ah, yang ini agak panjang rupanya. Dia menulis, 'Sakura : Gadis pujaanku sejak kecil XD. Aku tidak pernah melihat gadis semenarik dia sepanjang hidupku. Mana cantik, pintar, penuh semangat, benar-benar tipe-ku. Sayangnya dia tidak menyadari ada pangeran berambut pirang tampan sedang menunggunya—" Sakura menjulurkan lidah dengan jijik pada bagian ini "—Kenapa sih selalu saja menolak ajakanku berkencan, Sakura? Padahal aku yakin sekali kita bisa menjadi pasangan sempurna. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggumu sesuai janjiku!'."
Sakura memberi Naruto yang mukanya dihiasi semburat kemerahan seulas senyum manis saat mendengar bagian itu. Bagus deh kalau dia sudah sadar. Sementara Sasuke mendengus menghina—Naruto langsung mendelik padanya. Menjijikkan!
"Apa yang kau tertawakan, sialan?!" desis Naruto pada Sasuke. Cowok dingin itu mengacuhkannya.
"'Sasuke : Tidak pernah melihat orang semenjengkelkan manusia satu ini. Omong-omong dia manusia apa bukan sih? Manusia kan harusnya punya hati, sementara dia tidak. Atau dia manusia kutub yang kelamaan di daerah yang beku sehingga hatinya mati kedinginan? Memang sih dia jenius dalam pelajaran dan olahraga, tapi bukan alasan menganggap remeh orang lain dong. Merasa dirinya paling hebat sedunia kali. Sombong. Sok. Ke laut saja deh kau! Oh, satu lagi, kau brengsek!'."
"Cheers," sahut Sasuke dengan nada sinis sambil mengangkat gelas jus tomat-nya. "Memangnya aku peduli kata-kata idiot sepertimu, eh?"
"Memangnya aku peduli kau peduli atau tidak?" balas Naruto sengit. Ia menjulurkan lidah mengejek padanya.
"Aaargh! Bisa tidak sih tidak berantem sedetik saja?!" teriak Sakura habis sabar. "Kalian berdua benar-benar menjengkelkan!"
Kedua cowok itu masih saling membeliak beberapa saat. Jelas sekali masih sangat jengkel satu sama lain—ah, omong-omong mereka memang selalu jengkel satu sama lain setiap detik. Dan ulah Kakashi kali itu tampaknya semakin memperuncing perasaan itu. Namun sepertinya guru mereka satu itu tidak berpendapat demikian. Dia tentu saja punya alasan.
Alasan yang belum ingin dia beritahu pada ketiga muridnya saat itu, karena saat Sakura bertanya lagi padanya setelah piring mereka bersih, pria itu hanya tersenyum simpul dan berkata, "Nanti kalian juga akan tahu."
—Membuat Sakura sebal. Ia benci sekali kalau pamannya itu sudah mulai sok misterius seperti itu.
"Er... Pak Hatake," kata Naruto ketika mereka sudah berada di dalam mobil tua Kakashi lagi. Pria itu berbaik hati untuk mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing karena langit sudah semakin gelap dan hujan mulai turun dengan derasnya.
"Ya, Naruto?" sahut Kakashi, tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan yang mengabur karena air hujan yang membanjur ke bagian depan kaca mobilnya—wiper hanya sedikit membantu mengingat derasnya hujan. Air seakan diguyurkan begitu saja dari langit.
"Anda pasti tahu kalau kejuaraan sepak bola antar sekolah akan segera dimulai," Naruto memulai, melirik gurunya itu dari kaca spion.
"Hm," Kakashi mengangguk. Bagaimana ia tidak tahu kalau setiap hari Gai selalu saja mengoceh tentang itu di ruang guru. Ribut sendiri siapa yang sebaiknya diturunkan sebagai pemain utama mengingat sang kapten tim dan beberapa pemain andalan tim mereka sedang mewakili Konoha di Kejuaraan Olahraga di Ame.
"Aku hanya ingin tahu, apakah aku bisa mendapat dispensasi sepulang sekolah agar bisa ikut latihan? A-aku ingin sekali diikutkan dalam pertandingan soalnya..." Naruto berkata penuh harap. Ia menyilangkan jarinya di dalam saku jaketnya, mengharap kemujuran. Mudah-mudahan gurunya itu mengizinkan.
"Well," kata Kakashi setelah beberapa lama berpikir, "yah, baiklah. Pak Maito juga sudah beberapa kali membicarakan ini denganku."
"Jadi?" Naruto harap-harap cemas.
"Baiklah. Nanti aku akan beritahu Pak Ebisu kalau kalian bertiga sudah tidak akan ikut bersih-bersih sekolah lagi mulai besok," kata Kakashi.
"Hell yeah!!" Naruto bersorak kegirangan. "I love you, Mr Hatake!!"
Bahkan Sakura yang duduk di bangku depan juga tampak senang—Sasuke tidak bereaksi apa-apa. Cowok itu duduk diam menatap jalanan dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Kami bertiga? Itu berarti kami tidak perlu tinggal di sekolah setelah jam sekolah kan?" tanya Sakura penuh semangat.
"Oh, kurasa tidak, Sakura," kekeh Kakashi sambil membelokkan mobilnya memasuki Fox Street.
Senyum gadis itu langsung lenyap. Bahkan Sasuke sampai mengalihkan pandangannya dari jalanan. Kedua alisnya berkerut menatap belakang kepala gurunya.
"Kalian bertiga tentu saja masih harus tinggal di sekolah setelah jam sekolah," lanjutnya. "Kau dan Sasuke harus menemani Naruto berlatih."
"Geez!" Sasuke mendengus kesal.
"No way!!" jerit Sakura. "Ooh, Kakashi, yang benar saja. Aku bisa melakukan hal yang lebih berguna dibanding menemani Naruto latihan sepak bola!" gadis itu tampak frustasi.
"Kalian bertiga masih dalam masa hukuman, ingat?" Kakashi mengingatkan.
Sasuke dan Sakura menggerutu sementara Naruto tampak gembira. Itu berarti ia bisa mempertontonkan kebolehannya di depan gadis impiannya. Masa bodoh dengan Sasuke. "Hei, pasti akan menyenangkan, Sakura!"
Sakura mengacuhkannya, masih asyik bersungut-sungut sendiri atas ketidakberuntungannya. Kapan sih aku bisa lepas dari mereka berdua? pikirnya sebal.
Beberapa saat kemudian Kakashi menghentikan mobilnya di tepat di depan rumah Naruto. Hujan masih turun, bahkan bertambah deras.
"Salam untuk ayahmu, Naruto!" seru Kakashi mengatasi deru hujan ketika Naruto membuka pintu mobil.
"Oke. Trims, Pak! Sampai ketemu besok, Sakura!" seru Naruto pada Sakura—Ia mengacuhkan Sasuke—lalu membanting pintu menutup. Cowok itu melindungi kepalanya dari terpaan air hujan dengan tas sementara ia berlari ke arah rumah. Ia berbalik ketika sudah di depan pintu dan melambai pada mobil tua gurunya yang mulai melaju pelan meninggalkan Fox Street.
Tak lama kemudian, mereka berhenti lagi di Crimson Drive, tepat di depan halaman kediaman Uchiha bersaudara. BMW hitam milik Itachi terparkir di halaman, di depan garasi.
"Salam untuk kakakmu, Sas—" tapi sebelum Kakashi menyelesaikan kata-katanya, Sasuke sudah keluar dan membanting pintu menutup, tidak mengatakan apa-apa lagi. Bahkan berterimakasih pun tidak. Kakashi menghela napas sambil menggelengkan kepala.
"Oh, sopan sekali!" tukas Sakura pedas, mendelik pada punggung Sasuke yang berlari-lari kecil menghindari hujan, lalu menoleh untuk menatap pamannya, "dan kau berharap aku tahan bersama dengan orang macam itu?!"
"Seiring waktu, sikapnya yang seperti itu akan berubah, Sakura. Percayal—"
"Oh, baiklah!" sela Sakura, melipat lengannya di depan dada dan menatap jalanan di depannya dengan pandangan marah. "Aku. Sangat. Percaya. Padamu," geramnya. Meskipun nada bicaranya menyatakan sebaliknya.
Kakashi tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut pink keponakannya. Sakura menepis tangannya cepat, masih cemberut.
"Bisakah kau mengantarku pulang saja sekarang?" tukasnya.
"Baiklah, Tuan Putri," kekeh Kakashi. Dan mobil tua itu melaju meninggalkan Crimson Drive.
---
TBC...
---
