Chapter 14
"Giliran siapa yang mengambil makanan hari ini?" tanya Naruto pada kedua rekannya ketika jam istirahat keesokan harinya di kantin. Naruto, Sakura dan Sasuke sudah sepakat untuk bergiliran mengambil makanan setiap harinya. Terpaksa, karena mereka hanya boleh menggunakan satu nampan untuk bertiga. Pasti akan tampak konyol kalau menggotong nampan kecil itu bertiga, kan?
"Giliranku," sahut Sakura tanpa semangat.
"Bisa aku minta ramen, Saku—"
"Tidak," gerutu Sakura sambil melangkah menuju konter.
Naruto langsung mengeluh. Sudah beberapa hari ini ia tidak makan ramen. Hari sebelumnya Sasuke yang mendapat giliran mengambil makanan dan ia terpaksa makan siang dengan menu serba tomat—sandwich ham dengan irisan tomat, salad tomat dan jus tomat. Omong-omong, Naruto benci tomat dan heran sekali ada orang yang suka sekali pada buah berasa asam-asam tidak jelas satu itu. Ah, pantas saja Sasuke selalu bermuka masam, seperti rasa tomat, pikir Naruto geli.
Cowok itu melangkah mengikuti Sasuke yang sudah terlebih dahulu menuju bangku mereka yang biasa. Berpasang-pasang mata menatap ke arah mereka ketika keduanya sudah duduk di sana, meskipun tidak sebanyak awal mereka mendapatkan 'tempat kehormatan' itu—tampaknya anak-anak sudah mulai bosan menontoni mereka, tapi tetap saja pandangan mereka membuat jengah.
Sementara itu Sakura sudah mencapai barisan anak-anak yang mengantri untuk mengambil makanan di konter. Ia berdiri tepat di belakang serombongan besar gadis penggemar Sasuke yang sedang ribut membicarakan cowok itu sambil sesekali mengarahkan pandangan mereka ke arah Sasuke duduk dengan Naruto, lalu menjerit tertawa.
"Matanya itu lho..." cekikik salah satu gadis berambut pirang keriting, "bikin meleleh..."
"Rambutnya juga..." desah gadis kedua, yang berwajah bulat, "kaya sutera hitam gitu... pasti lembut banget..."
"Kalau aku suka bibirnya," kata gadis lain yang bertubuh jangkung kurus—mungkin lebih jangkung dari Sasuke—sambil melirik ke arah Sasuke, "mengundang... Bagaimana ya, rasanya—"
Sontak mereka menjerit histeris lalu tertawa. Gadis yang lain mencubit lengan gadis ketiga sambil tertawa. "Dasar ngeres kamu!"
"Yee... gak apa-apa dong..." si gadis kurus membela diri seraya menjulurkan lidah pada temannya. "Memangnya kamu enggak kepingin?"
Tertawa lagi. Kini mereka sudah mendekati konter dan para gadis centil itu telah mengambil nampan masing-masing.
"Ih, kok makanannya gini sih... aku bisa gemuk nih!" seru si pirang keriting sambil menyendok pasta dengan ekspresi jijik. "Kalau gemuk bisa-bisa Uchiha tidak melirikku."
Sakura yang mendengarnya memutar matanya.
"Kalau begitu makan rumput saja kau! Dijamin tidak ada lemak!" tukas gadis penjaga kantin dengan geram.
Si pirang mencibirnya, lalu mengambil sedikit salad tanpa dressing dan sebotol air mineral. Sementara temannya yang berwajah bulat dengan cuek menyendok pasta banyak-banyak ke piringnya.
"Apa?" gadis itu menatap si pirang yang memicingkan mata memandang makanan yang diambilnya. "Aku tidak mau membuat diriku kelaparan, tahu! Setelah ini si Mitarashi!"
Kedua gadis itu mungkin akan memulai perdebatan tentang makanan kalau saja teman mereka tidak buru-buru mengalihkan pembicaraan. Dan apa lagi topik yang cukup kuat untuk menarik perhatian para gadis itu selain sang idola, Sasuke Uchiha?
"Omong-omong, beruntung sekali ya, si Sakura Haruno itu," ujarnya.
Sakura yang mendengar namanya disebut-sebut dalam pembicaraan—yang menurutnya—tidak bermutu itu mengerjap kaget. Sepertinya para gadis itu tidak menyadari orang yang mereka bicarakan ada di belakang mereka.
"Yeah," sahut si pirang keriting diselingi gumaman setuju dari teman-temannya. "Kalau aku jadi cewek itu, aku pasti akan mengambil kesempatan pertamaku untuk menggaet Uchiha."
Sakura tercengang. Oh, apa sebenarnya yang ada di otak cewek-cewek ini? batinnya tak habis pikir. Apa tidak ada hal lain yang lebih berguna untuk dipikirkan selain cowok, cowok, cowok dan cowok? Dan kenapa juga aku pakai dibawa-bawa segala? Damn!
"Yeah. Tapi Haruno tidak cukup cantik untuk Uchiha," sahut gadis lain sambil tertawa mengejek, "Memang sih, dia pintar, selalu jadi murid kesayangan guru dan sebagainya. Tapi badannya kurang proporsional."
Mereka tertawa sekali lagi. "Kau benar, betisnya terlalu besar kalau kalian memperhatikan."
"Dan dadanya juga terlalu rata," timpal yang lain.
Sakura merasa telinganya memanas mendengar komentar mencemooh tentang tubuhnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan tubuhnya—justru mereka yang terobsesi dengan tubuh kurus dan mau saja kelaparan yang bodoh. Ia membelakakan mata dengan geram ketika gadis-gadis itu meninggalkan konter sambil cekikikan, menuju bangku mereka yang biasa, bangku cewek-cewek populer.
Sakura menyambar nampan dengan geram ketika ia mendengar suara lain dari belakangnya. "Aku juga penasaran. Bagaimana bisa si pecundang, si homo dan cewek jelek bisa disatukan begitu? Kelompok menyedihkan."
Sakura berbalik cepat dan langsung berhadapan dengan cowok jangkung berkulit pucat, cowok yang sama yang pernah membuatnya sangat kesal padahal ia anak baru. "Kau!" dengkingnya, jarinya menuding. "Kalau kau tidak tahu apa-apa sebaiknya tutup mulutmu, sialan!"
Cowok itu menyibak rambut hitamnya yang terjatuh ke matanya yang juga hitam sambil tersenyum. Oh, Sakura sangat membenci senyum itu. Palsu, dingin—mengerikan.
"Namaku Sai, Jelek, bukan Sialan," sahutnya tenang. "Bukankah aku sudah memberitahumu? Atau kau sebenarnya mengalami gangguan ingatan? Atau tuli?" Sai mengatakannya dengan nada datar tanpa dosa.
Sakura menggeram sebal lagi, lalu berbalik. "Sialan," desisnya. Kemudian ia menyendok kaserol ayam porsi tiga orang ke piringnya dan mengambil tiga kotak jus jeruk.
Sai mendengus di belakangnya. "Pantas saja badanmu gemuk. Makanmu barbar sekali," komentarnya.
Sekali lagi Sakura berbalik, dengan kesal menatap cowok itu. Mata hijaunya berkilat berbahaya. "Ini bukan untukku saja, tahu! Tapi juga untuk Naruto dan Sasu—"
"Satu piring tiga orang?" cemooh Sai masih dengan senyumnya yang menyebalkan. "Sungguh mengharukan. Kakashi Hatake memang sinting dalam memberikan huku—"
Sakura menjerit marah, memotong kata-kata Sai, "Jangan sebut pamanku sinting! Dia lebih waras dari kau, dasar gila!"
"Er... maaf, Sakura, Sai... yang lainnya sudah mengantri," kata gadis penjaga kantin, tampak gusar melihat dua orang itu bertengkar di depan konternya. Namun baik Sakura maupun Sai mengabaikannya.
"Oh, dia pamanmu, pantas saja," Sai tertawa mengejek.
Nampan di tangan Sakura sampai bergetar hebat saking emosinya gadis itu. "Sebenarnya apa masalahmu, eh? Mulutmu itu selalu saja mengatakan sesuatu yang menyakiti orang. Pantas saja kau tidak punya teman!" dengusnya. Matanya memicing saat ia melanjutkan, "Kalau kau menganggap kami menyedihkan, lalu kau sendiri apa? Tidak punya teman itu jauh lebih menyedihkan dari pada punya musuh. Kau menyedihkan!"
Dengan pandangan marah terakhir, Sakura berbalik meninggalkannya. Kakinya menghentak lantai.
"Mengapa semua orang memandangi kita?" keluh Naruto untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya juga, Sasuke tidak menggubris pertanyaan tolol cowok itu. Ia lebih memilih mengeluarkan buku bersampul putih polos dari tas selempangnya dan mulai membaca.
Naruto cemberut. Rasanya ia rindu sekali makan bersama teman-temannya di klub sepak bola yang jelas lebih menyenangkan dibanding Sasuke. Yah, meskipun ia kadang diacuhkan dan lebih banyak betindak sebagai pendengar saja kalau duduk bersama mereka—tapi setidaknya mereka tertawa, hal menyenangkan yang tidak pernah dilakukan Sasuke.
Ia menatap meja tempat ia biasanya duduk dengan tatapan iri. Tempat itu penuh dan ribut. Barbar sekali. Mereka tertawa-tawa, saling melempar lelucon dan menyuiti cewek-cewek cheerleader yang duduk di bangku tidak jauh dari bangku mereka.
Menghela napas, mata birunya kembali mengarah ke Sasuke yang masih tenggelam dalam bukunya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, mata hitamnya kosong seperti goa hantu. Naruto mendadak nyengir. Entah mengapa ia jadi membayangkan seandainya cowok di depannya ini seperti teman-temannya yang lain; ribut, makan dengan suara keras, tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, lalu menggodai cewek-cewek. Sama sekali tidak cocok. Menggelikan.
"Apa?!" kata Sasuke tajam. Rupanya ia menyadari tatapan Naruto, dan cengiran cowok itu sepertinya membuatnya tidak senang.
"Tidak apa-apa," sahut Naruto, menahan tawa. "Kau ini sebenarnya berasal dari planet mana sih?" ejeknya.
"Bicara sekali lagi, akan kujejalkan buku ini ke mulutmu, Uzumaki!" ancam Sasuke sambil menutup bukunya dengan keras.
"Ow, aku takut!" cibir Naruto, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan membunuh Sasuke. "Hati-hati, Uchiha. Kalau kau melotot terus, matamu bisa melompat keluar."
Mata Sasuke berkilat berbahaya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kalau saja Sakura tidak segera datang.
"Aku harap tidak ada yang memulai pertengkaran lagi di sini!" hardik Sakura sambil membanting nampannya ke atas meja dan mendelik pada dua cowok itu. Ia menghembuskan napas keras sebelum menghenyakkan diri di kursinya dan mengambil kotak jus jeruknya.
Sasuke mendelik padanya juga sebelum kembali menenggelamkan dirinya sekali lagi di balik bukunya.
"Ada apa, Sakura?" tanya Naruto, bingung melihat wajah Sakura yang merah padam dan tampak emosi. Juga cemas, jangan-jangan ia sudah melakukan hal yang salah pada gadis itu.
"Ada orang sinting sialan jelek brengsek kurang kerjaan yang kerjanya hanya bicara sampah!" geram Sakura dengan gigi gemeletukan. Ia memelototi Sai ketika cowok itu melewati meja mereka untuk duduk di mejanya yang biasa—sendirian.
Naruto melongo mendengarnya, bahkan Sasuke yang biasanya tidak pedulian mengalihkan parhatian dari bukunya untuk menatap Sakura sekilas sebelum mendengus kecil. Sakura yang menyadari kedua cowok itu menatapnya buru-buru kembali mengatur emosinya. Ia memejamkan matanya, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Tenang, Sakura...
"Orang sinting brengsek blablabla yang kau maksud bukan kami, kan?" Naruto bertanya ragu-ragu, takut kalau-kalau Sakura meledak marah.
"Tentu saja bukan, bodoh!" sahut Sakura, setengah kesal setengah gemas memandang cowok pirang itu.
"Oh, oke!" kata Naruto kembali santai. Ia meraih sendok dan mengambil sesendok besar kaserol, memasukkannya ke dalam mulut.
Keheningan melingkupi meja mereka selama beberapa saat. Sakura yang masih agak kesal sudah mengeluarkan diktat Biologinya dan mulai belajar untuk menghibur diri—sungguh bentuk hiburan yang aneh mengingat anak lain pasti akan menghindari belajar kalau sedang stress—Sasuke juga masih tenggelam di balik bukunya, tidak menyentuh makanannya. Sementara Naruto yang tidak tahu harus berbuat apa selain makan, menatap kedua rekannya bergantian dengan bingung.
Menjadi satu-satunya orang yang tidak begitu suka belajar di antara dua yang gemar membaca memang bikin keki. Tapi bukan Naruto namanya kalau tidak bisa mengatasi situasi tidak nyaman itu. Ia meletakkan sendoknya, menyeruput jus jeruknya, lalu menoleh menatap Sakura yang tampak berkonsentrasi. Ia berdehem kecil sebelum memulai,
"Well, Sakura," ia memulai, "Aku mau bertanya sesuatu padamu."
Sakura mengangkat wajahnya dan memandang Naruto dengan ekspresi agak terganggu. "Tanya apa?"
"Yah, er... aku hanya ingin tahu, apa sih sebenarnya yang dilihat cewek dari seorang cowok?"
Sejenak, Sakura tampak tercengang mendengar pertanyaan Naruto. Gadis itu melempar pandang aneh pada Naruto, tapi cowok itu tampak santai, bahkan ekspresinya ingin tahu. "Apaan sih, Naruto? Pertanyaannya tidak penting banget!" kata Sakura akhirnya.
"Oh, ayolah, Sakura... Aku mau tahu apa aku memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan di depan cewek..." desak Naruto dengan pandangan memohon.
"Dibanggakan?" dengus Sakura.
"Sakura..." Naruto memohon.
Gadis itu menatap geli pada temannya—yang menurutnya benar-benar konyol dan tidak penting—beberapa saat sebelum berkata, "Baiklah kalau kau memaksa."
Naruto langsung berseri-seri. Kemudian ia melipat tangannya di atas meja sambil memandang Sakura dengan tampang serius yang menggelikan—setidaknya itu menurut Sakura, soalnya biasanya orang serius tidak nyengir seperti yang dilakukan Naruto saat ini.
Sakura menghela napas, lalu berkata, "Hmm... apa ya?" mau tidak mau, ia berpikir juga. Dan yang pertama muncul dalam benaknya adalah sosok cowok impiannya, Neji Hyuuga. Gadis itu nyengir. "Ah, ya! Kurasa yang pertama adalah tampangnya, cewek biasanya menyukai cowok yang tampan dan keren, jangkung, putih. Cewek juga menyukai cowok yang pintar, baik hati, bersih, wangi, gentle, sedikit misterius dan..."
Semakin banyak Sakura menyebutkan, cengiran Naruto semakin tenggelam diganti oleh kernyitan yang semakin lama semakin dalam. Sampai akhirnya Naruto menyela pemaparan panjang gadis itu, tampak gusar, "Tunggu tunggu... Kalau cewek-cewek sukanya yang seperti itu, lantas cowok-cowok macam aku nasibnya gimana? Maksudku, lihat, tampangku pas-pasan, tinggiku biasa-biasa saja. Putih? Enggak—kulitku kan gelap terbakar matahari—Pintar? Enggak juga. Kaya? boro-boro... Misterius? Apa aku terlihat misterius?"
Kekesalan Sakura karena kejadian di konter sebelumnya segera menguap ketika ia mulai tertawa mendengar perkataan Naruto.
Sasuke mendengus di balik bukunya. "Bagus deh kalau sadar," katanya pelan.
Naruto mengabaikannya dan melanjutkan, "Tapi aku baik hati dan tidak sombong seperti orang ini!" ia mengedik kesal pada Sasuke.
"Yah, itu kan gambaran sempurnanya. Cewek-cewek kebanyakan memang suka yang seperti itu, tapi tidak semuanya. Selera orang kan macam-macam," lanjut Sakura sambil terkekeh-kekeh. Bukunya sudah tergeletak terlupakan di atas meja dan ia tampak menikmati diskusi-tidak-penting-nya dengan Naruto. Bahkan Sasuke juga tampak mendengarkan dari balik bukunya.
"Apa kau menyukai yang sepertiku?" tanya Naruto penuh harap.
Sakura hanya mengangkat bahu, menyeruput jus jeruknya. Gadis itu tersedak ketika dilihatnya tiga orang mendekati meja mereka sambil membawa nampan makan siang. Neji Hyuuga, Tenten dan Lee.
Sakura cepat-cepat mengambil bukunya dan menyembunyikan wajahnya yang memanas di balik buku. Jantungnya mulai berdentum-dentum tidak karuan di dadanya ketika ia mendengar kursi digeser dan ketiga orang itu duduk di bangku kosong tepat di samping meja mereka. Sakura bisa mendengar mereka mulai mengobrol.
Aduh, mengapa mereka duduk di situ sih? rintihnya dalam hati. Mengapa harus sekarang? Saat aku sedang duduk di kursi 'hukuman' bersama dua orang ini? Dan... Oh, mengapa mendengar suaranya saja sudah membuatku berdebar-debar begini? Damn!
"Hai, Sasuke," Sakura bisa mendengar suara Neji menyapa Sasuke.
"Hn, Neji," Sasuke membalas sapaannya datar.
Oh, mereka sudah saling mengenal rupanya. Tapi itu tidak lantas membuat segalanya lebih baik. Sakura masih menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Naruto yang menyadari perubahan sikap Sakura mendadak merasa gusar. Cowok itu sangat tahu apa atau tepatnya, siapa, yang membuat Sakura begitu gugup seperti saat ini. Tentu saja,
—Neji Hyuuga.
Ia semakin uring-uringan ketika menyadari bahwa ciri-ciri cowok idaman yang disebutkan Sakura tadi sangat pas menggambarkan sosok siswa teladan Konoha High itu—tampan, keren, bertubuh jangkung, berkulit putih bersih, pintar, kaya. Neji juga terkenal baik dan gentle di kalangan cewek-cewek—Rasanya bukan hanya pas, tapi ciri-ciri itu memang ditujukan untuk Neji Hyuuga.
Naruto melirik seniornya itu dengan perasaan cemburu. Yah, walaupun ia sudah berjanji tidak akan 'mengganggu' Sakura, tapi ia tetap tidak bisa begitu saja menepis perasaannya pada gadis itu. Tidak semudah itu, bukan?
"Hei, Naruto!" suara Lee membuyarkan lamunannya. Ia menoleh lagi ke meja mereka—berusaha tidak menatap Neji yang duduk di seberang Lee—dan menatap Lee. "Kau ketinggalan latihan sepak bola beberapa hari," seniornya itu berkata.
"Oh!" Naruto menggaruk belakang kepalanya, merasa tidak enak pada seniornya—dan perhatiannya sepenuhnya teralih dari Neji. "Sori, aku ada sedikit... er... halangan."
Lee tertawa. "Aku mengerti," katanya. "Pemain inti untuk pertandingan persahabatan sudah ditentukan kemarin. Tapi tenang saja, masih kurang satu pemain lagi, jadi kau masih punya kesempatan. Kalau kau bisa datang latihan siang ini, tentu saja," ia menambahkan, lalu memasukkan kentang goreng ke mulut.
"Tentu saja aku akan datang," sahut Naruto cepat. "Pak Hatake sudah mengizinkan aku ikut latihan!"
"Baguslah kalau begitu," seru Lee sambil tersenyum lebar. Lalu matanya beralih pada gadis berambut pink yang wajahnya tersembunyi di balik buku—yang sialnya, terbalik. Ia terkekeh lagi, "Sakura, bukumu terbalik tuh!"
Sakura terlonjak kaget. Bukunya terjatuh ke bawah meja, wajahnya bertambah merah. Merintih karena malu, Sakura menyusup ke bawah meja untuk memungut bukunya. Ia mengumpat, mengutuki kebodohannya sendiri sementara ia berlama-lama memungut buku. Ia merasa sangat malu. Kalau bisa, ia ingin sekali tidak keluar dari sana sampai jam istirahat berakhir. Aduh... Neji pasti menganggapku sangat konyol, batinnya.
Namun pada akhirnya, Sakura tetap merangkak keluar dari bawah meja dan langsung mendapati Sasuke sedang menatapnya. Seringai tipis menghiasi wajah dingin cowok itu, membuat Sakura kesal. Apa itu maksudnya? Apa dia sedang mengejekku atau apa? Sakura balas membeliak padanya.
Matanya tak sengaja terarah pada Neji. Kesalahan besar, karena Neji sedang memandang ke arahnya. Cowok itu tersenyum sekilas padanya sebelum perhatiannya kembali pada obrolannya yang terputus dengan Tenten. Sakura merasa wajahnya terbakar sebelum kembali menekuni makan siangnya—atau lebih tepatnya, mengaduk-aduk sisa kaserol di piring dengan gugup—dalam diam. Salah tingkah. Sementara Sasuke kembali tenggelam di balik bukunya sambil menyeruput jus jeruk.
"Kak Neji, boleh gabung? Tempat lain sudah penuh," suara lembut yang familiar itu membuat kepala Sasuke otomatis tertoleh pada sumber suara. Hinata Hyuuga, adik sepupu Neji berdiri di sisi meja yang ditempati Neji dan kedua sobatnya, membawa nampan makan siang. Bersamanya, Shino dan Kiba.
Ekspresi Sasuke langsung berubah aneh ketika matanya bersirobok dengan mata lavender milik Hinata. Cewek itu langsung memalingkan wajah sementara mata Sasuke langsung beralih ke Naruto yang sudah terlibat obrolan seru tentang sepak bola dengan Lee.
"Tentu," kata Neji sambil bergeser, memberi tempat pada adik sepupunya itu duduk di sampingnya sementara Shino dan Kiba mengambil tempat di sebelah Lee.
"Halo, Hinata!" sapa Naruto cerah pada sepupu Neji. "Kiba. Shino."
"Ah, h-hai, Naruto..." balas Hinata malu-malu dengan wajah merona merah. Ia meletakkan nampan makan siangnya di sebelah nampan Neji, lalu mengambil air mineral, menyeruputnya perlahan.
Mata Sasuke memicing, menatap dua orang itu bergantian.
"Aku tidak tahu kau suka ramen," komentar Naruto sambil melirik iri pada mangkuk ramen yang mengepul di nampan Hinata. Cewek itu hanya tersenyum kecil, kepalanya tertunduk. Tangannya agak gemetar ketika membuka sumpitnya.
"Hinata kan sekarang jadi penggemar ramen," kata Kiba menimpali seraya nyengir pada temannya. "Benar kan, Shino?"
"Hn," sahut Shino datar, mengaduk saladnya.
"Oh, kalau begitu kau harus coba ramen Ichiraku di BloCaf kapan-kapan!" cetus Naruto penuh semangat. Ia memang selalu penuh semangat kalau ada hubungannya dengan ramen. "..ramen paling enak yang—"
"Aku sudah selesai!" potong Sasuke keras-keras sambil berdiri. Buku yang dibacanya sudah dijejalkan kembali ke dalam tas. Tanpa menunggu tanggapan dari kedua 'teman'nya ia langsung beranjak dari sana dengan langkah cepat.
"Hei, tunggu, Sasuke!" Sakura buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas dan beranjak dari kursinya. Senang karena punya alasan untuk cepat-cepat kabur dari sana. "Ayo, Naruto! Er... permisi," ujarnya pada yang lain seraya menghindari tatapan Neji, lalu berbalik untuk menyusul Sasuke.
Naruto memandang kedua rekannya keheranan sebelum beranjak juga dari kursinya. "Sampai nanti di kelas selanjutnya kalau begitu, teman-teman," katanya pada yang lain.
"Sampai ketemu di lapangan, Naruto!" kata Lee.
"Yo!" sahut Naruto padanya, berusaha tidak melirik Neji. Ia lalu turut menghilang di balik pintu keluar, menyusul Sakura dan Sasuke yang telah meninggalkan kantin lebih dulu.
"Kau ada masalah dengan Sasuke, Hinata?" tanya Neji dalam bisikkan pada adik sepupunya.
Hinata memandang kakaknya sejenak, menghela napas lalu mengangkat bahu. "M-mungkin dia m-masih tidak terima dengan yang kemarin, Kak."
Neji menggelengkan kepalanya. "Masih keras kepala seperti dulu rupanya," ujarnya pelan sambil menyendok nasi karinya.
---
TBC…
---
Sebuah chapter ringan tapi lumayan panjang. Aku harap kalian semua gak bosan, yah! Obrolan Sakura dan Naruto di kantin itu sebenarnya aku ambil dari kejadian nyata salah satu teman KKNM-ku. Obrolannya dudul-asli-gak-penting-banget. Tapi lucu, lebih lucu dari ini. Hehe...
Tadinya di chapter ini gak ada Sai, tapi berhubung kayanya Sai udah lama sekali gak ditampilkan—dan ada yang mengingatkanku lewat review. Hei, thanks, yah!—akhirnya aku munculkan juga dia. Gomen kalau Sai-nya OOC. Namanya juga fic full of OOC-ness. ^^ Dan juga sangat panjang. Curiga bakal sampai 30-an chapter atau lebih nih... –sigh-
Oia, maafkan atas kata-kata kasar yang ada di fic ini—barangkali ada yang merasa terganggu—tapi kata-kata semacam itu akan berkurang seiring bertambahnya chapter. Akhir kata, terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini, teman-teman!
