Chapter 15

Siang harinya hujan berangin kembali mengguyur Konoha. Latihan sepak bola yang biasanya dilaksanakan di lapangan luar terpaksa dipindah ke gedung olahraga di bagian belakang sekolah. Beruntung klub basket sedang tidak latihan siang itu, jadi mereka bisa memakai lapangan in-door yang cukup luas itu dengan leluasa.

Sasuke dan Sakura menempatkan diri di tribun sementara Naruto berkumpul dengan teman-teman klubnya di tengah lapangan. Naruto mengerling ke arah mereka sejenak sebelum perhatiannya teralih ke arah pelatih sekaligus guru olahraga mereka, Gai Maito.

"Oke, boys!" pria berambut bob itu memulai. Ia menepukkan kedua tangannya yang besar sementara matanya menatap anak didiknya yang tampak tegang satu per satu. "Mana semangatnya?! Ayo, tunjukkan semangat masa muda kalian! Jangan biarkan hujan badai merontokkan semangat kalian!" serunya memberi semangat pada mereka.

"Yeah!!" sahut Lee penuh semangat ditimpali sorakan setengah hati dari yang lain.

"Oke, tidak apa-apa. Mungkin kalian perlu pemanasan dulu," kata Gai tak kehilangan semangat. "Tapi sebelumnya aku ingin mengingatkan sekali lagi, pertandingan sudah semakin dekat dan kita masih perlu satu pemain inti lagi. Jadi bersiaplah untuk 'audisi' terakhir ini. Setelah itu besok tim inti yang terpilih akan mendapat kesempatan latihan di Stadion Konoha di pusat kota!"

Terdengar tepukan dan sorakan antusias dari anak-anak yang sudah terpilih menjadi tim inti, sementara yang lain yang belum terpilih, termasuk Naruto, tampak tegang tapi bersemangat. Naruto memainkan bolanya untuk menutupi ketegangannya.

"Baiklah," kata Gai setelah sorakan mereda, "Sekarang, kalian lari keliling lapangan ini dua puluh kali untuk pemanasan!"

Anak-anak, kecuali Lee, langsung mengeluh panjang. Gai memang gila-gilaan kalau melatih mereka. Meski begitu, nyatanya metode latihannya yang keras memang terbukti berhasil membentuk tim sepak bola sekolah mereka menjadi salah satu yang terkuat di Konoha.

Naruto menendang minggir bolanya, lalu menyusul yang lain yang sudah melesat terlebih dahulu, berlari mengitari lapangan yang cukup luas itu.

---

"Membosankan," gerutu Sasuke sambil mengangkat kakinya bersandar pada punggung bangku di depannya.

"Yeah," untuk kali ini Sakura setuju dengannya. Ia melipat lututnya dan bertopang dagu, mengawasi Naruto dan yang lain melakukan pemanasan sementara Sasuke sudah mengeluarkan buku bersampul putih yang tadi pagi dan mulai menenggelamkan diri di baliknya.

Sesekali, Sakura melirik ke arah cowok di sampingnya dan ucapan pamannya tempo hari terngiang lagi di telinganya,

"Dengar. Aku tahu ini berat untukmu, tapi aku benar-benar tidak bisa menolak permintaan temanku untuk... yah—menangani adiknya. Dan Sasuke memang bermasalah dari yang kulihat. Aku harap dengan cara ini sedikit banyak dia bisa berubah, bisa belajar dari kalian. Aku tahu Naruto dan aku yakin dia bisa membantu Sasuke. Kuharap kau mau melakukan hal yang sama untuk Sasuke, Sakura. Karena Naruto tidak mungkin melakukannya sendirian dengan tempramennya yang gampang panas itu."

Sasuke jelas punya masalah, pikir Sakura. Dia kasar, tidak bisa menghargai orang, terlalu memandang dirinya sendiri tinggi dan yang paling terlihat... ia sangat pencemburu. Sakura menghela napas dan berpikir, barangkali yang dikatakan pamannya benar. Barangkali saja ia dan Naruto bisa membantunya—entah dengan cara apa.

Seraya berpikir apa yang sebaiknya dilakukannya sebagai langkah pertama, ia memandang ke bawah, ke tempat Naruto dan kawan-kawan sedang melakukan pemanasan. Ah, mungkin dengan membuat mereka berdua akur terlebih dahulu bisa membuat segalanya lebih mudah! Lagipula ia memang sudah bosan mendengar pertengkaran mereka. Tapi… bagaimana caranya?

Dan nama itu muncul dalam kepalanya begitu saja. Hinata Hyuuga.

---

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya mereka selesai mengitari lapangan sebanyak dua puluh kali. Mereka banjir keringat, terengah-engah kehabisan napas, termasuk Naruto. Cowok itu menyandarkan punggungnya di dinding, mencoba mengatur napas sementara wajahnya merah padam, berkilau bersimbah keringat.

Mengherankan sekali. Padahal cuaca di luar sedang dingin dan berangin, tapi suhu udara di dalam sana tampaknya lebih tinggi.

"Lemaskan kaki kalian," instruksi Gai.

Naruto bersama anak-anak lain mulai melemaskan kaki mereka. Lalu memulai latihan mereka seperti biasa.

---

"Hei, Sasuke," panggil Sakura pada cowok di sampingnya setelah beberapa saat berlalu. Sebuah ide baru saja muncul dalam kepalanya, walaupun ia sebenarnya tidak begitu yakin juga. Berharap Sasuke mungkin akan mendengarkannya rasanya mustahil, tapi ia merasa harus mencobanya.

Sakura merasa kesal lagi ketika melihat Sasuke bergeming, tidak menanggapi panggilannya, terus saja membaca. Barangkali ia sengaja membuatnya kesal dengan pura-pura tidak mendengar, pikir Sakura jengkel.

"Sasuke!" panggil Sakura lagi, mulai tidak sabar. Kali ini sambil mengguncang bahu Sasuke.

"Apa!" bantak Sasuke kesal. Ia telah membanting bukunya menutup dan sekarang memelototi Sakura dengan ekspresi terganggu.

"Kau pura-pura tidak mendengarku!" tuduh Sakura.

"Kau hanya menggangguku saja. Lebih baik kau tutup mulut besarmu!" sahut Sasuke kasar.

"Mulai deh, emosian..." geram Sakura.

"Kalian yang selalu memancing-mancing emosiku!" tukas Sasuke sengit.

"Kami tidak memancing-mancing emosimu. Kau saja yang punya masalah dengan kontrol diri!" balas Sakura.

"Kau..." desis Sasuke. Namun detik berikutnya ia memutuskan untuk tidak membalas. Tidak ada gunanya. Ia menggeram, lalu mengalihkan pandangannya dari Sakura, menatap anak-anak yang berlatih di bawah sana sambil melipat tangan di depan dada. "Aku sedang tidak ingin membicarakan apapun," lanjutnya tanpa memandang Sakura, seakan ia tahu apa yang hendak dibicarakan cewek pink itu, "Apapun. Termasuk alasan perkelahianku dengan Naruto. Jadi sebaiknya kau tutup mulut."

Sakura tampak terkejut. Bagaimana cowok itu bisa tahu apa yang ingin dibicarakannya? tanyanya bingung dalam hati. Namun sikap Sasuke justru semakin meyakinkannya bahwa apa yang dipikirkannya tentang penyebab Sasuke menyerang Naruto waktu itu memang benar. Dan ini tidak bisa dibiarkan lama-lama tanpa penyelesaian, atau hubungan antara Sasuke dan Naruto tidak akan pernah membaik.

"Aku tidak mau tutup mulut soal ini, Sasuke," kata Sakura tegas, membuat cowok itu menoleh kembali padanya, mengernyit. Sakura menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Dengar, aku tahu alasanmu membenci Naruto, Sasuke. Ini... soal Hinata Hyuuga, bukan?"

Sasuke mendadak menegakkan diri, tampak terkejut. "Kau—"

Namun sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Sakura menyelanya, "Aku tahu soal kalian berdua. Aku pernah melihat kalian berdua di atap—"

"Oh! Jadi kau memata-matai kami?!" Sasuke mendadak marah. Ia memelototi gadis di depannya dengan pandangan berang.

"Perlu kau ketahui kalau aku sama sekali tidak tertarik dengan hubungan kalian berdua! Dan jangan menuduhku memata-mataimu! Seperti aku kurang kerjaan saja!" kata Sakura emosi. Ia terdiam beberapa saat untuk mengatur kembali emosinya. "Aku tidak sengaja ke sana. Sori. Tapi sekarang bukan itu masalahnya."

"Lalu apa?" Sasuke mengernyit.

"Masalahnya adalah kau dan Naruto. Kalian tidak bisa begini terus. Maksudku, bertengkar, lalu berkelahi—demi Tuhan, apa kalian tidak pernah capek?—Kuberitahu kau, Hinata menyukai Naruto itu sudah menjadi rahasia umum di sini. Hanya si bodoh Naruto yang tidak tahu—"

"Itu karena dia terlalu sibuk mengejarmu," cemooh Sasuke dengan seringai sinis.

Sakura memutar matanya, "Mungkin. Jadi kau tidak bisa menyalahkan dia mengenai ini. Aku tahu kau TIDAK SUKA," ia menekankan ketika Sasuke menampakkan tanda-tanda akan membantahnya. "Siapapun dalam posisimu pasti tidak akan suka, aku tahu. Menurutku kau perlu bersikap dewasa di sini, Sasuke Uchiha. Tentu saja kau bebas mau membenci Naruto atau tidak, hanya saja, bisa kan kau menahan emosimu? Tahan lidahmu dan bertindak dengan kepala dingin, bisa kan? Membuat Naruto marah hanya akan mempersulit kondisi kita sekarang. Dan tentu saja ini hanya akan menyiksa dirimu sendiri."

Sasuke memalingkan wajah. Ia tahu Sakura benar, tapi ia enggan mengakuinya. Ia benci kalau orang lain benar tentang dirinya. "Bicaramu kedengarannya seperti Hinata," gerutunya.

"Terserah," sahut Sakura sambil menghela napas. "Tapi tidak ada salahnya kan, bersikap sedikit lebih baik pada Naruto? Berpura-pura menjadi temannya tidak akan merugikanmu, Sasuke."

Tapi masalahnya, Sasuke masih belum siap menerima saingan cintanya ini sebagai teman. Hatinya masih dipenuhi kemarahan pada Naruto.

"Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya kukatakan padamu. Terserah kau mau menanggapi bagaimana. Ini demi kebaikan kita juga—selama kita menjalani hukuman ini tentu saja," kata Sakura sebelum gadis itu kembali menyandarkan punggungnya di bangkunya, lalu mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan mulai membaca.

Beberapa waktu berlalu dalam kesunyian, sementara Sasuke tampaknya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hanya suara anak-anak yang sekarang saling mengoper bola dan peluit Pak Maito yang terdengar memenuhi ruangan luas itu. Dan beberapa saat kemudian perhatian Sasuke telah teralih sepenuhnya pada pemandangan di lapangan sana. Dahinya berkerut dalam.

Hah?! Yang benar saja...

---

Latihan sepanjang sore itu terasa begitu menegangkan bagi Naruto. Tentu saja, karena hari itu mereka akan menentukan siapa yang berhak menempati satu tempat kosong sebagai pemain inti dan Naruto sangat menginginkan posisi itu. Kehausan untuk membuktikan diri membakarnya sampai sedemikian rupa.

Ia merasa telah melakukan segalanya yang terbaik yang bisa dilakukannya saat Pak Maito mengetes mereka yang belum terpilih dengan pertandingan kecil sementara yang lain menonton di pinggir lapangan. Ia berhasil menyarangkan satu gol di gawang lawan.

"Permainan bagus, Naruto!" seru Lee ketika Pak Maito meniup peluitnya sebagai pertanda pertandingan berakhir sambil menepuk bahu cowok pirang itu.

"Yeah, thanks," sahut Naruto, agak terengah. Ia menyeka peluh di pelipisnya dengan lengan kaus olahraganya, nyengir pada seniornya.

Kemudian ia dan anak-anak yang lain menuju tribun tempat yang lain sudah menunggu. Naruto mengambil botol airnya dari dalam tas olahraganya, menenggaknya banyak-banyak. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Sasuke dan Sakura sudah berdiri dari tempat duduk mereka dan bergerak menuju tribun yang lebih dekat. Ia melambai pada mereka—tepatnya hanya pada Sakura. Tapi gadis itu tidak membalasnya. Mungkin ia sedang tidak melihat.

"Pertandingan yang bagus, anak-anak!" seru Pak Maito yang berdiri di tengah-tengah anak-anak yang duduk kelelahan di sekelilingnya. Senyum lebar masih menghiasi wajahnya yang sepertinya tidak pernah kehilangan semangat itu. "Kalian lelah?" tanyanya.

Terdengar gerutuan dari segala arah. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab sebenarnya. Sudah jelas, kan?

"Jadi, sekarang saatnya untuk mengetahui siapa yang berhak menempati tempat terakhir sebagai anggota tim inti!" katanya sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan sikap antusias.

Anak-anak yang sudah terpilih tampak bergairah sementara yang belum tampak tegang. Punggung mereka menegak, menatap guru mereka dengan serius.

"Setelah melihat latihan kalian dan pertandingan barusan, aku sudah menentukan satu nama yang kurasa pantas," kata Gai, puas dengan reaksi murid-muridnya yang tampaknya semakin bersemangat untuk mengetahui siapa satu yang beruntung ini. "Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya pada kalian lebih dulu. Menurut pendapat kalian siapa yang kelihatannya pan—"

Dengungan anak-anak langsung terdengar, menyuarakan pendapat mereka bahkan sebelum Gai menyelesaikan kalimatnya. Dengungan baru berhenti setelah Gai mengangkat kedua tangannya, menyuruh mereka tenang. "Baiklah," katanya kemudian sambil menoleh ke arah Lee yang duduk tepat di sampingnya, "Nah, Lee. Menurutmu siapa yang kau lihat pantas?" Gai menanyainya.

Lee tampak berpikir sejenak sebelum berkata, "Sebenarnya ada dua orang yang aku rasa pantas, Pak," ia memulai. Gai menangguk-anggukkan kepala setuju sambil tersenyum. "Naruto dan Sumaru bermain sangat bagus tadi," ia berhenti sejenak, lalu menatap kedua cowok yang disebutkan namanya barusan. Ia meletakkan telunjuk di dagunya, dahinya berkerut selama beberapa saat, menimbang-nimbang. Kemudian ia menghela napas dan mengangkat bahu, menoleh pada gurunya. "Aku tidak bisa memutuskan siapa yang lebih baik."

Terdengar gumam setuju dari sana sini, membuat harapan Naruto melambung. Sumaru yang duduk tak jauh darinya juga tampak berseri sekaligus tegang. Naruto mengalihkan perhatiannya pada sang guru lagi, menunggu. Ia punya harapan, batinnya berulang-ulang.

"Baiklah, aku juga setuju dengan Lee," kata Gai kemudian sambil menatap Naruto dan Sumaru. "Kalian bermain sangat bagus, Naruto, Sumaru," ia tersenyum lebar. "Tapi pada akhirnya, hanya satu yang bisa menjadi pemain inti terakhir di tim kita. Dan aku sudah memutuskan," ia berhenti sejenak. Naruto, Sumaru dan hampir semua anak menahan napas tagang.

Sampai...

"Sumaru, kau akan bergabung dengan tim inti!" seru Gai.

Hati Naruto mencelos mendengar keputusan gurunya. Jelas sekali ia sangat kecewa, sampai-sampai rambutnya yang biasanya tegak saja tampak layu. Sementara itu Sumaru bersorak gembira, wajahnya berseri-seri menerima tepukan salut di punggungnya dari anak-anak lain.

"Sudah kuduga," dengus Sasuke pelan ketika anak-anak klub sepak bola sudah mulai mengumpulkan barang-barang mereka, bersiap pulang. Ia bersama Sakura berada di bagian atas tribun tak jauh dari mereka, bersandar pada pagar pembatas.

"Aku tidak mengerti," kata Sakura sambil menatap ke anak-anak di bawahnya, tepatnya ke arah Naruto yang jelas sekali tampak muram. Cowok pirang itu masih belum bergerak dari tempatnya semula, memainkan botol air mineralnya yang sudah kosong. "Padahal kurasa Naruto bermain bagus. Sumaru bahkan tidak menggolkan satu angka pun!"

Sasuke tertawa dingin. "Yah, lebih bagus dibanding permainanmu, mungkin," ujarnya sambil menyeringai mengejek. "Kau mungkin pintar dalam pelajaran tertulis, Haruno, tapi kau bego dalam olahraga, apalagi sepak bola. Kau tak tahu apa-apa."

Sakura membelalak kesal padanya. "Enak saja mengataiku bego!" tukasnya.

"Sepak bola itu adalah permainan yang mengandalkan kerja sama tim. Sehebat apapun kau bermain, kalau tidak bisa bekerjasama dengan yang lain, sama saja dengan nol besar," ujar Sasuke. Ia kembali menatap anak-anak yang sudah mulai bergerak meninggalkan gedung. "Permainan Naruto tadi terlalu individual."

Sakura tercengang. Wow! Sasuke bicara tentang kerjasama tim? Sakura takjub sekali, mengingat betapa individualisnya Sasuke selama ini. "Aku tidak tahu kau mengerti tentang hal-hal seperti itu, Sasuke," katanya sambil menatap cowok di sampingnya itu, tersenyum kecil.

Sasuke menoleh padanya, membalas senyumnya itu dengan seringai kecil. "Kau sedang menyindirku?"

"Whatever!" dengus Sakura, memutar bola matanya. "Yuk, kita ke bawah." Lalu ia turun ke tribun bawah ke arah Naruto. Sasuke mengikuti di belakangnya, tangan tenggelam di saku jaket biru dongker-nya.

"Kau tidak pulang, Naruto?" Lee menepuk bahu Naruto.

Cowok itu menggeleng lesu. "Nanti saja," katanya.

Lee menghela napas, lalu duduk di sebelahnya. "Dengar, kau tidak boleh putus asa seperti ini dong. Masih ada kesempatan lain, percaya deh!"

"Yeah..." sahut Naruto pelan tanpa memandang seniornya itu.

"Aku tahu kau kecewa. Yang lain juga banyak yang seperti itu. Tapi itu jangan membuatmu jadi patah semangat. Kau masih harus berlatih terus," kata Lee dengan senyum menghibur.

"Aku tahu. Kalian masih butuh cadangan, kan?" kata Naruto kering.

"Hei, menjadi pemain cadangan bukan berarti menjadi pemain kelas dua!" kata Lee sambil menepuk bahu Naruto. "Ayolah, kemana Naruto Uzumaki yang aku kenal selalu bersemangat itu? Ayo, semangat! Semangat!" Lee mengacung-acungkan tinjunya.

Akhirnya Naruto mengangkat wajahnya, menoleh memandang seniornya itu. Melihat senyum lebar Lee membuat Naruto merasa tidak enak. Ia tampaknya terlalu memperlihatkan kekecewaannya sehingga membuat Lee menghiburnya seperti menghibur anak kecil seperti itu. Untungnya Lee tidak sampai menawarinya balon. Naruto nyengir setengah hati.

"Nah, begitu dong!!" seru Lee, tertawa. Lalu perhatiannya teralih oleh dua orang yang baru saja turun dari tribun. "Ah, teman-temanmu datang, Naruto!"

"Sudah selesai?" tanya Sakura agak terengah, tersenyum sopan pada Lee.

"Hai, Sakura!" sapa Lee cerah pada cewek itu, "Sasuke!" ia melirik cowok di belakang Sakura.

Sasuke mengacuhkannya. Sakura menyodok pinggangnya keras. "Hai," gerutu Sasuke sambil membeliak pada Sakura.

"Sudah sore. Kalian mau pulang, kan?" tanya Lee sambil berdiri, mengambil tas olahraganya. "Bagaimana kalau bareng saja?" tawarnya sambil menyampirkan tas di bahunya.

"Ah, er..." Sakura melirik Naruto.

"Kami nanti," sahut Naruto pada seniornya.

"Oh, baiklah. Aku duluan kalau begitu. Sampai ketemu besok!" kata Lee, kemudian ia berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan ketiga juniornya. Ia menoleh lagi setelah sampai di dekat pintu. "Oh, ya. Beritahu Pak Ebisu kalau kalian mau pulang, ya!" serunya.

"Oke!" sahut Naruto sambil mengacungkan ibu jarinya.

Lee mengangguk, lalu menghilang di balik pintu.

Keheningan melingkupi tiga remaja itu selama beberapa saat setelah Lee pergi. Naruto masih menolak menatap dua yang lain yang sekarang sedang menatapnya. Ia menyibukkan diri dengan mengumpulkan barang-barangnya, menjejalkannya asal saja ke dalam tas olahraganya.

Sakura belum pernah melihat Naruto murung seperti ini sebelumnya. Biasanya Naruto kan selalu ribut, dan ia heran sendiri ketika menyadari bahwa kemurungan Naruto ini membuatnya merasa tidak enak. Katakan sesuatu untuk menghiburnya, Sakura, pikirnya.

"Yang tadi itu hebat, Naruto!" katanya. Dan langsung menyesalinya. Bodoh! Bagaimana kalau Naruto mengira yang hebat itu saat ia tidak diterima dalam tim inti?

Naruto tertawa kering. "Tidak perlu menghiburku seperti itu, Sakura." Ia masih menolak memandang cewek itu. "Aku tahu aku payah..."

"Naruto..."

"Jelas sekali kau payah," dengus Sasuke, cukup keras untuk didengar Naruto.

"Apa?!" Naruto mengangkat wajahnya memandang cowok itu dengan mata disipitkan. Tersinggung.

Sasuke tertawa mengejek. "Selain payah, ternyata kau juga tuli rupanya."

Naruto menegakkan diri, melempar tasnya ke bangku. "Jaga mulutmu, brengsek!"

Sakura menghela napas lelah. Mulai lagi deh... "Sudahlah, Naruto..." katanya pada Naruto, lalu menoleh memandang Sasuke dengan jengkel, "Bisa tidak sih tidak bicara nyelekit?" tanyanya sebal pada cowok itu. Sasuke mengabaikannya.

"Kuberitahu ya, bodoh, kalau cara mainmu begitu. Kau tidak akan pernah diterima dalam tim inti manapun," ujarnya dingin pada Naruto.

Wajah Naruto memerah karena marah. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. "Oh, yeah? Kalau kau begitu hebat kenapa tidak gabung saja di klub ini, Tuan Sempurna?"

"Aku tidak tertarik bergabung dengan klub payah ini. Percayalah, aku belum pernah melihat tim separah ini," cemooh Sasuke.

Naruto membuat gerakan seakan ia akan menyerang cowok itu, tapi buru-buru ditahan Sakura. Cewek itu melangkah di antara Naruto dan Sasuke, mencengkeram lengan Naruto kuat-kuat. "Jangan dengarkan dia, Naruto. Dia memang belum puas kalau tidak menghina orang," katanya sambil melempar pandang memperingatkan pada Sasuke. Baru saja dibilangin, kan?

Naruto menggeram marah.

Sasuke menatap Naruto tajam. Lalu mendengus. Ia tidak habis pikir. Kenapa Hinata bisa tertarik dengan orang seperti ini? Sudah bodoh, payah, sama sekali tidak sepadan dengan sosok Hinata yang sempurna di matanya. Sasuke tidak bisa melihat apapun yang bisa dibanggakan dari sosok Naruto. Selera Hinata seharusnya jauh lebih baik dari ini. Dan Hinata telah menolaknya demi cowok payah macam itu? Sasuke merasa direndahkan.

"Payah," ia mendesis. Lalu berpaling dan berjalan menuju pintu.

Sakura akhirnya melepaskan pegangannya pada Naruto setelah Sasuke menghilang di pintu, menghela napas lega. Ia melirik Naruto yang masih tampak gusar. "Kita pulang sekarang, Naruto?"

---

TBC...

---

Wekekek… Sasuke penghibur ulung! –timpuks Sasuke!- Btw, makasih banget ya udah meluangkan waktu membaca fic gaje ini dan memberi review! Luv u all!

Mayu : Iya sih, mungkin lebih seru kalau Sakura memukul Sai, tapi aku pikir, belum saatnya Sai masuk terlalu jauh di chapter kemarin. Masih berkutat di SasuSakuNaru untuk sementara ini.

Chika : Hehe… iya juga yah, baru nyadar. Thanks koreksinya. Tapi menurutku masih ada yang gak sesuai sama Sasuke tuh, kan Sasu di sini gak baik dan gentle. Iya, konflik SasuHinaNaru diketahui Neji. Kan dia yang jadi tempat curhatnya Hina. Hehe… OOC deh! ^^;

Catt-chan : Aah~ makasih udah mereview, teman! –blushing- gak tau deh mau komentar apa baca review kamu. Ehehe…

Kakkoi-chan : Setuju! –jitak Sai sampe benjol gede- Shika? –"Shika… di mana dirimu?" nyari-nyari Shika di kolong meja. hehe- Kayanya Shika bakal lama sekali baru muncul lagi. Gomenna.

Arai-chan : Thanks! –blushing lagi- Untuk sementara belum ada romance-nya. Masih memantapkan ikatan antara SasuSakuNaru dulu, baru deh memunculkan slight romance. Tapi pastinya akan ada NEJISAKU! Fufufu… Soal Sasu suka tomat, aku juga gak tahu pasti sih. Tapi dari yang aku baca di fic-fic english sih kebanyakan gitu. Ikutan aja deh. Lumayan buat seru-seruan.

Antlia : Love SasuSakuNaru juga! ^^ Wah, syukur deh kalau chemistrynya udah mulai kerasa. Sejarah gimana nih maksudnya? Mereka memang sekelas kok, cuma gak begitu disebutin. Pertama mereka ketemu kan pas hari pertama sekolah, yang Saku nganterin Sai ke TU itu lho...

Sekali lagi thanks ya. Kalian benar-benar penyemangatku! Aku usahakan update-nya gak lama-lama... er... maaf atas alur yang sangat lambat dan maksa ini. Aku gak tahu apa-apa soal sepakbola kecuali si ganteng Christiano Ronaldo! Toloooong!!! –disambit pake duit-

Satu lagi, menurut kalian chapter segini udah lumayan panjang atau masih kependekan? Habis, rasanya gak puas kalau belum melewati 9 halaman word per chapter.. –sigh-