Chapter 16
Suara beker yang nyaring memecah keheningan pagi di kediaman Uchiha bersaudara. Sasuke menggerutu dalam tidurnya. Ia berguling di balik selimut, benar-benar merasa terganggu. Ia benci bangun pagi. Ia benci suara beker yang mengganggu tidurnya. Dan ia benci Itachi yang menaruh beker sialan itu di kamarnya.
Sasuke membuka matanya yang masih terasa berat sementara tangannya menggapai-gapai ke arah meja di samping tempat tidurnya, mencoba meraih beker yang masih berdering nyaring, lalu melemparkannya ke seberang kamarnya. Sang beker malang menghantam dinding dan terjatuh ke lantai dengan suara derak keras ketika beker kelima yang dibelikan Itachi terbelah menjadi dua bagian. Kamar kembali hening. Puas, Sasuke berguling lagi, bersiap tidur kembali.
"Sasuke! Sudah bangun belum?!"
Suara tak sabar sang kakak kini menggantikan beker membangunkannya, diselingi dengan gedoran keras di pintu. Sasuke menggerung pelan, menggumamkan sumpah serapah pada kakaknya. "Sebentar lagi..." gerutunya mengantuk.
"Sekarang atau kau akan terlambat ke sekolah!" teriak Itachi dari luar kamar.
Sasuke pikir ia akan bebas sejak tinggal bersama sang kakak. Tidak ada ibunya yang selalu ribut membangunkannya atau para pelayan yang heboh menyiapkan segala sesuatu untuknya. Tapi rupanya tidak. Itachi ternyata jauh lebih berdisiplin dari yang ia duga, dan ia betul-betul bawel. Sasuke bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya Itachi itu kakaknya atau ibunya sih?
Menggeram kesal, Sasuke menendang selimutnya menjauh dan mendorong tubuhnya ke posisi duduk dengan malas-malasan. "Iya, aku bangun..." sahutnya sambil menguap lebar-lebar.
Ogah-ogahan, Sasuke beranjak dari ranjangnya untuk melakukan ritual pagi; cuci muka, gosok gigi, ganti pakaian, membereskan kamarnya—jangan salah. Meskipun Sasuke kadang bisa sangat malas, ia termasuk orang yang bersih dan rapi. Kamarnya tidak pernah berantakan—lalu turun sarapan. Yah, sebenarnya ia hanya sarapan kalau ada Itachi saja karena ia tidak biasa menyiapkan sarapan sendiri.
Itachi sudah duduk di balakang meja, mengunyah roti, ketika Sasuke masuk ke dapur. Pria muda itu sudah mengenakan setelan kantornya, berupa celana bahan berwarna gelap dipadu kemeja biru tua dan dasi yang serasi, sementara jas-nya masih tersampir di punggung kursinya. Rambut gelapnya yang agak panjang, dikucir dalam ikatan longgar di belakang tengkuknya. Dan sepertinya ia baru saja bercukur, karena wangi aftershave yang segar menguar dari arahnya.
Menggumamkan selamat pagi dengan malas-malasan pada sang kakak, Sasuke menuju kulkas untuk mengambil kotak jus jeruk, lalu roti yang baru dipanggang di toaster. Ia mendudukkan diri di kursi di seberang Itachi dan mulai mengoles roti panggangnya dengan mentega.
"Rambutmu masih berantakan, Sasuke," tegur Itachi sambil mengangkat gelas jus jeruknya, menyeruputnya sedikit.
Sasuke menjatuhkan rotinya ke piring lalu mengangkat tangannya, menyisir rambutnya dengan jemarinya yang panjang.
"Kau tahu, ada penemuan baru bernama sisir yang—"
"Tidak ada yang peduli dengan rambutku, Itachi!" potong Sasuke jengkel sambil memelototi sang kakak.
Itachi menatap adiknya, menahan tawa. "Selalu ada yang peduli dengan cowok dengan sederet panjang penggemar wanita, adikku. Kemarin sore ada cewek yang menelepon kemari, menanyakanmu. Siapa itu Karin? Pacar barumu?"
Sasuke mendengus keras, mengacuhkan kakaknya yang sekarang sedang nyengir menggoda padanya. Damn, cewek-cewek Konoha! Mereka bahkan lebih agresif dari pada cewek-cewek Oto, batinnya. Omong-omong, ia telah menerima setidaknya dua puluh surat cinta—entah itu diserahkan secara langsung atau diselipkan di lokernya atau ditaruh di laci meja yang biasa didudukinya—selama ia pindah ke Konoha High, dan itu benar-benar membuatnya jengkel. Mereka lebih menjengkelkan dari pada Sakura dan Naruto digabungkan. Ia mengigit rotinya dengan geram.
"Nah," kata Itachi lagi beberapa saat kemudian, "coba ceritakan padaku soal Naruto dan Sakura."
Sasuke nyaris tersedak. Ia menatap kakaknya dengan bingung sejenak. Ia merasa tidak pernah bercerita apa-apa soal Naruto dan Sakura pada Itachi, termasuk hukuman bodoh dari guru Aljabar bego yang membuatnya terjebak bersama mereka berdua selama sebulan penuh. "Siapa yang memberitahumu?" selidiknya kemudian.
"Oh, gosip terkadang menyebar lebih cepat dari wabah penyakit, Sasuke," kekeh Itachi sambil berdiri. Ia sudah menyelesaikan sarapannya dan sekarang membawa piring kotornya ke bak cuci piring.
"Aku tidak tahu kau suka bergosip," cemooh Sasuke, mengigit sepotong besar lagi roti panggangnya.
Itachi hanya tertawa dengan komentar adiknya itu, lalu berbalik, bersandar pada wastafel dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Jadi... bagaimana?"
Sasuke menjawab dengan mengangkat bahu sekilas. "Aku sedang malas membahas soal mereka. Sudah cukup aku mengalaminya di sekolah, terimakasih banyak," sahutnya sinis.
"Khas-mu," kata Itachi dengan seringai tipis. Kemudian ia beranjak meninggalkan dapur. Sasuke bisa mendengar pintu depan dibuka ketika Itachi keluar untuk mengambil koran paginya. Itachi kembali ke dapur beberapa saat kemudian dengan membawa gulungan koran, menuang kopi untuk dirinya sendiri. "Hari ini kau akan latihan sepakbola lagi?" tanyanya sambil kembali duduk, membuka korannya setelah menaruh cangkir kopinya yang masih mengepul di atas meja makan.
"Aku tidak latihan sepakbola, Itachi. Hanya menemani, atau tepatnya, terpaksa menonton latihan tidak berguna itu," tukas Sasuke sembari menuang jus jeruk ke dalam gelas, menyeruputnya sedikit.
"Kukira kau suka sepakbola," kata Itachi keheranan.
"Itu dulu," sahut Sasuke. "Sekarang tidak lagi." Lalu ia memasukkan potongan terakhir rotinya ke mulut, mengunyahnya perlahan-lahan.
Itachi menghela napas, menatap adiknya dari atas korannya. "Menurutku kau butuh semacam pengalihan perhatian. Kau perlu menyibukkan dirimu sedikit supaya kau tidak terus-terusan dikuasai emosi seperti itu. Dan kurasa sepakbola sangat bagus untukmu. Kau berbaka—"
"Oh, diamlah!" potong Sasuke dengan nada kasar, "Semakin tua kau semakin bawel saja!" gerutunya sambil berdiri. Ia benci kalau Itachi mulai menguliahinya seperti ini. Meski agaknya pendapat kakaknya itu ada benarnya, emosinya yang kerap meluap-luap itu perlu pelampiasan yang sesuai. Tapi Sasuke tidak mengindahkannya—ia benci kalau Itachi benar tentang dirinya. "Aku berangkat sekarang!" Sasuke menyambar tasnya, lalu beranjak.
Itachi memandang punggung adiknya yang menghilang di balik pintu ketika Sasuke membanting pintu depan menutup. Ia menghela napas berat sebelum kembali menekuni koran paginya. Namun rupanya pikirannya masih mengikuti sang adik. Betapa ia sangat mencemaskan Sasuke. Emosinya yang sangat labil, gampang tersulut amarah, belum lagi masalah dengan ayahnya, dan teman-teman di sekolahnya. Ia hanya berharap usulannya pada Kakashi Hatake, yang dipercayanya untuk mengawasi sang adik di sekolah, bisa membawa perbaikan pada Sasuke. Dan ia juga berharap Naruto dan Sakura bisa membantu.
Seperti teman-temannya telah membantunya dulu.
Seulas senyum tipis mengembang di wajah tampannya ketika ia teringat masa-masa itu lagi. Masa ketika ia terjebak bersama sembilan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya seumur hidup ketika ia masih di sekolah menengah dulu. Orang-orang yang justru sekarang menjadi sahabat-sahabat terbaiknya.
---
Suasana hati Naruto rupanya masih belum membaik sejak kemarin. Ia jelas masih sangat kecewa karena tidak terpilih masuk ke dalam tim inti di pertandingan melawan Tim Iwa nanti. Dan ia melampiaskan rasa kecewanya dengan memacu dirinya berlatih agak terlalu keras. Bahkan ia masih bertahan untuk berlatih di lapangan sepak bola sekolahnya yang becek jauh setelah seluruh tim—atau tepatnya tim cadangan, karena tim inti yang telah terpilih sedang 'dibawa' oleh Pak Maito selaku pelatih ke stadion tempat mereka akan bertanding nanti—selesai berlatih. Hal ini tentu saja menjengkelkan kedua yang lain—Sasuke dan Sakura—karena itu artinya mereka juga harus bertahan di sana sampai sesore itu.
Langi sudah semakin memerah menandakan senja akan segera turun ketika Sasuke akhirnya kehilangan kesabarannya. Cowok itu melompat dari tempat duduknya dan menghampiri Naruto dengan mata menyala-nyala marah, lalu berteriak menyuruhnya berhenti. Dan seperti yang bisa diperkirakan, pertengkaran di antara dua cowok yang sama-sama keras kepala itu kembali pecah.
Sakura memijat pelipisnya dengan lelah sambil menatap kedua cowok itu saling adu teriak dari bangku penonton. Ia merasakan pening di kepalanya. Sudah cukup ia menyaksikan kekonyolan ini. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kedua cowok yang sepertinya nyaris akan berkelahi lagi itu.
"Kalau kau di sini hanya untuk menghinaku, lebih baik kau minggat saja!" Sakura bisa mendengar Naruto berteriak pada Sasuke. Mata biru cowok itu bersinar penuh kemarahan menatap Sasuke yang juga sama berangnya.
Sasuke tertawa menghina. "Yang benar saja. Biar kuperjelas sekali lagi, ini percuma saja. Sia-sia. Dasar bego!"
"Brengsek!" geram Naruto.
"Idiot!"
"Kepa—"
"Sudah cukup! Berhenti bertengkar kalian berdua!!" teriak Sakura menyela pertengkarang mereka. Lalu ia menoleh pada Naruto yang bertampang tidak puas. "Lebih baik kita pulang sekarang. Naruto, sudahlah. Latihan kan sudah berakhir dari tadi. Jangan memaksakan diri begitu dong..." ia menatap Naruto, memohon. "Lihat, hari sudah hampir malam."
"Aku belum lelah, Sakura..." sahut Naruto tanpa memandangnya, melainkan dengan bandel masih memainkan bolanya. "Aku masih ingin latihan. Kalian berdua pulang saja duluan.."
"Kalau bisa begitu, aku pasti sudah pulang dari tadi," dengus Sasuke sambil mengernyit, sementara Sakura tampaknya kadar kesabarannya sudah semakin menipis.
Menggeram pelan, gadis itu berjalan cepat mendekati Naruto, lalu menendang bola yang sedang dimainkan cowok itu sampai melambung tinggi sebelum mendarat ke sisi lain lapangan, membuat Naruto terperangah kaget.
"Kau pikir kau akan terpilih menjadi pemain inti di timmu dengan membuat dirimu kelelahan begini, eh? Tidak, Naruto! Kenapa tidak terima nasib saja sih?!" katanya dengan suara melengking. Ia menaik lengan Naruto. "Sekarang kita pulang!"
Tapi Naruto dengan cepat melepaskan diri dari cengkeraman Sakura. "Tidak!" katanya keras kepala. "Permainanku bahkan belum cukup baik untuk jadi cadangan, Sakura," ia menambahkan dalam suara rendah, getir.
Sakura memandangnya dengan tak percaya. "Kau terlalu berlebihan, Naruto. Mereka bilang kau salah satu yang terbaik. Apa itu masih belum cukup? Kenapa sih kau?!" tukasnya tak habis pikir. "Yang lain yang tidak terpilih tampak biasa-biasa saja kalau kau tidak tahu!"
Naruto menunduk memandang sepatunya. Kau tidak tahu, Sakura, batinnya pahit. Ini semua tentang pembuktian diri, supaya mereka semua mengakui kemampuanku, dan tidak hanya memandangku sebelah mata. Kau tidak tahu bagaimana cara mereka semua memandangku sejak dulu. Harus dengan susah payah baru bisa diterima...
Tiba-tiba saja Sasuke mendengus tertawa, membuat dua yang lain menoleh memandangnya. "Kau tahu, kau benar," katanya dengan nada menghina, "Permainanmu memang belum cukup baik bahkan untuk cadangan. Dengan kata lain, payah. Teknikmu buruk, kerjasamamu dengan pemain lain juga parah. Mana bisa pemain seperti itu diakui, eh?"
"Apa?!" Naruto kembali meradang, terpancing emosi mendengar penuturan Sasuke. Ia maju mendekati cowok itu, mencengkeram kerah kemejanya. "Memangnya tahu apa kau tentang sepakbola, eh?"
"Apa yang kutahu tidak ada sangkut pautnya denganmu, bodoh!" kata Sasuke dingin sambil melepaskan cengkeraman tangan Naruto di kerah kemejanya dengan kasar. "Tapi yang jelas kau payah."
"Kalau begitu kenapa tidak kau tunjukkan caranya padaku?" tantang Naruto.
"Bukannya sudah, ya?" Sasuke tersenyum sinis.
Wajah Naruto merah padam. Tentu saja ia ingat saat Sasuke dengan penuh keangkuhan berhasil memecundanginya di depan anak-anak saat pelajaran Olahraga tempo jari. Sasuke cukup jago sepakbola, Naruto mengakui. Dan fakta ini tidak membuatnya senang sama sekali, malah membuatnya semakin tertekan. Ia berpaling, mengumpat Sasuke pelan.
"Kalau begitu kita pulang sekarang?" ucap Sakura penuh harap seraya memandang ke arah langit yang mulai menggelap. Lampu-lampu di sekeliling lapangan sudah mulai dinyalakan dan udara semakin dingin.
"Baiklah," kata Naruto akhirnya. Setengah hati.
---
Namun hal itu terulang kembali keesokan harinya, dan besoknya, dan besoknya lagi. Sakura sendiri sudah tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan Naruto menyiksa dirinya sendiri dengan berlatih tiada henti seperti itu. Selain itu, ia juga mulai mencemaskan kesehatan Naruto yang sepertinya menurun belakangan ini. Cowok itu juga jadi semakin sering tertidur di kelas. Jelas sekali kalau ia kelelahan.
"Kalau kau mau bermain baik, kau harus menjaga kondisimu juga, Naruto!" omel Sakura habis sabar suatu hari. Saat itu, Naruto tumbang setelah berlatih sepanjang siang. Cowok itu berbaring kelelahan di lapangan rumput yang becek. "Jangan berbaring di situ! Kau bisa sakit!" Sakura lantas menarik tangan Naruto, memaksanya berdiri, lalu memapahnya ke bangku penonton, di dekat Sasuke yang tampak bosan duduk.
Setelah melempar pandang kesal pada Sasuke yang sama sekali tidak membantu, Sakura membukakan sebotol air mineral dan mengulurkannya pada Naruto, membantunya minum. Lalu mengambilkan handuk kering untuk menyeka keringatnya.
"Aku sama sekali tidak mengerti, untuk apa sebenarnya kau berlatih begitu keras? Aku tidak melihat kemajuan apa-apa dalam latihanmu," cemooh Sasuke seperti biasa.
Naruto yang tampaknya sudah mulai terbiasa dengan sifat Sasuke yang satu itu hanya mendengus sinis. "Bukan urusanmu."
"Kalau kekeraskepalaanmu hanya akan merepotkan saja, tentu saja itu akan menjadi urusanku," balas Sasuke dingin.
"Oh, memangnya apa yang akan kau lakukan, Tuan Bisa Segala?" ejek Naruto. "Mau melatihku? Yang benar saja..."
Sasuke membuang muka. Sebenarnya ia sudah memikirkan ini selama beberapa hari belakangan—didorong oleh ucapan Itachi beberapa hari yang lalu soal pengalihan perhatian, juga karena sedikit pengaruh desakan non-verbal dari Sakura yang tampaknya menginginkan ia melakukan sesuatu untuk menghentikan kegilaan Naruto—melatih si bodoh ini.
Akh, aku pasti sudah sinting! ia membatin. Tapi apa boleh buat, dari pada membuang-buang waktu duduk bengong sepanjang siang menunggui si bodoh ini latihan. Lagipula lumayan buat berolahraga, dan... ah! Aku jadi punya alasan untuk memakinya kalau ia salah kan? Memikirkan ini, seringai menyebalkan muncul di wajah Sasuke.
"Lihat, senyum-senyum sendiri. Sudah gila kan dia?"
Suara Naruto yang bernasa mengejek segera menghempaskan Sasuke dari khayalan menyenangkan tentang ia yang memaki dan menyiksa Naruto sampai puas ke alam nyata. Seringainya langsung lenyap.
Namun sebelum ia sempat membuka mulut hendak membalas Naruto, Sakura sudah berkata dengan nada tidak sabar, "Sudahlah kalian berdua... kenapa sih susah sekali akur? Menyebalkan, tahu!!"
Sasuke memandang Sakura sesaat sebelum berpaling lagi. Sialan! Mana mungkin aku akan melatih si bego ini? Berada di dekatnya hanya akan membuat kepalaku mau pecah saja. Namun suara lain dalam kepalanya mendorongnya untuk tetap melakukan niatnya semula, apapun motivasinya. Dan ia memilih untuk mengikuti suara kedua...
Sasuke menarik napas dalam-dalam, meyakinkan dirinya sendiri dengan susah payah bahwa yang akan dilakukannya setelah ini bukan untuk membantu Naruto—ia tidak tahan memikirkan akan membantu saingan cinta-nya ini—melainkan untuk kepentingannya sendiri. Lalu menoleh menatap cowok pirang dan berkata dengan nada agak berat, seakan setiap katanya mengandung resiko nyawa seseorang bisa melayang—ah, hiperbolis!—"Ya, aku akan melatihmu."
Sakura dan Naruto tercengang beberapa saat. Dan saat berikutnya seulas senyum tipis muncul di wajah Sakura ketika ia berpikir bahwa mungkin situasi sudah mulai membaik antara dua cowok itu pada akhirnya. Tapi kebalikan dari Sakura, Naruto malah meledak tertawa.
"Memangnya apa kualifikasimu sehingga berani menawarkan diri menjadi pelatih, eh?" tanyanya mencemooh.
Wajah Sasuke memerah karena jengkel. "Asal kau tahu saja, aku mantan kapten tim sepak bola sekolahku di Oto!"
"Oh, kedengarannya sangat hebat," ejek Naruto lagi.
Sasuke melompat berdiri dari bangkunya, napasnya memburu dan ia tampak sangat marah sekarang. Sakura melempar pandang menegur padanya, namun Sasuke mengacuhkannya. "Kau mengikuti Kejuaraan Sepakbola Tingkat Sekolah Menengah antar-kota tahun lalu?"
"Tidak, tapi aku menontonnya," jawab Naruto, tawanya sudah mulai mereda dan kini melempar pandang bertanya pada Sasuke. "Kenapa memangnya?"
"Kau tahu, pemain yang mendapatkan penghargaan The Best Player saat itu?" geram Sasuke lagi.
Cengiran Naruto lenyap saat itu juga. Yang ia tahu, The Best Player tahun lalu adalah salah satu pemain dari kontingen Oto. Tapi ia tidak tahu kalau dia...
"Itu aku!" kata Sasuke.
Kali ini Naruto benar-benar dibuat tercengang. Ingatan saat ia menonton pertandingan penentu itu melayang lagi di kepalanya. Pertandingan antara tim Konoha High melawan tim salah satu sekolah dari Oto yang berakhir dengan kekalahan tim sekolahnya. Ia masih ingat betapa hebatnya pemain berseragam hitam-hitam itu di lapangan, padahal menurut rumor yang beredar, ia baru kelas satu. Tapi ia sama sekali tidak tahu dan tidak menyangka kalau pemain yang dikaguminya itu adalah orang yang sama dengan orang menyebalkan yang kini sedang berdiri ponggah di hadapannya... Sasuke Uchiha.
"Kau pasti bercanda, kan?" tanya Naruto sangsi.
"Apa aku kelihatan seperti sedang bergurau?" tantang Sasuke.
Mereka saling tatap beberapa saat. Terjadi perang batin dalam diri Naruto. Di satu sisi, ia merasa gengsi dilatih oleh orang yang telah merendahkannya, namun di sisi lain, Sasuke adalah pemain hebat dan ia—walaupun sangat enggan mengakui—ingin sekali bisa belajar banyak darinya. Setelah diam beberapa lama sambil berpikir, akhirnya Naruto berkata, "Baiklah, aku bersedia kau latih." Lalu ia membuang muka.
Sasuke mendengus, "Bagus. Tapi pertama-tama kau perlu memastikan kondisimu benar-benar fit," ujarnya. Lalu ia menendang pelan kaki Naruto, membuat cowok itu mengaduh.
"Ouch! Sakit tahu!" Naruto mendengking keras, memelototi Sasuke sambil mengusap-usap kakinya yang baru ditendang cowok itu.
"Jelas sakit. Karena kau dengan cerobohnya membuat otot kakimu bekerja lebih keras dari seharusnya," kata Sasuke dengan senyum sinis. "Kau perlu mengistirahatkan kakimu beberapa hari sampai tidak terasa sakit lagi. Sementara itu, kita bisa mendiskusikan permainanmu. Teknik dan strategimu masih payah dan kau—"
"Mulai deh menghina-hina," sela Naruto tidak sabar.
"Kau mau maju tidak?!" Sasuke menukas.
"Baik baik! Tuan Pelatih!!" Naruto membelalakan matanya.
"Bagus," gumam Sasuke sambil menyeringai puas. Membayangkan akan melampiaskan kekesalannya dengan cara yang sah pada cowok yang telah merebut Hinata darinya terasa menyenangkan. Namun ketika ia berpaling dan bertemu pandang dengan mata hijau milik Sakura, mendadak hatinya diliputi keraguan. Wajah gadis itu tampak berseri, ia tersenyum pada Sasuke, menyatakan tanpa kata kalau ia sangat senang dan setuju pada usulannya untuk melatih Naruto. Apa yang dikatakannya nanti kalau gadis itu sampai tahu apa motivasi dibalik usulannya? Tapi cepat-cepat ditepisnya perasaan itu.
Kenapa juga aku memikirkan apa kata Haruno? Memangnya siapa dia? Hanya cewek bosy tukang ikut campur urusan orang...
Dengan pikiran seperti itu, Sasuke memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Sakura.
---
TBC...
---
Wew... Sasuke is soooo evil! –grin- Chapter ini agak lebih pendek dari chapter sebelumnya yah… 9 halaman kurang. Tapi ada chapter berapa gitu… sampe 5ribuan kata. Haha…Sejujurnya aku agak bingung di chapter ini. Sasukenya agak gak konsisten, tapi kupikir itu untuk menunjukkan kalau dia sudah mulai terpengaruh oleh NaruSaku –ngeles- Tapi yah, mudah-mudahan kalian bisa menangkap yang tersirat di chapter ini!
Aika-chan : Iya, memang agak kasar. Gomen ne! Don't try this at home ya.. hehe…
Mayu : Aaargh! Spoiler! Hehe…Belum sampe NejiSaku tuh, mungkin nanti mereka akan ada scene berdua. Gyah… aduh, sampe mereview beberapa kali gitu. Thanks a lot udah jadi pembaca setia fic ini yah. Gomen kalo updatenya lama. Aku kan juga harus kuliah dsb, apalagi minggu depan bakal sibuk ujian praktikum. Harus belajar..
Chika : Thanks atas koreksinya. Haha… saya memang agak susah kalau nulis yang terlalu mendrama, plus aku sangat lemah dalam deskripsi –ngorek-ngorek tanah di pojokan- Lee memang bijak, aku suka sama karakter dia –peluk-peluk Lee-
Antlia : Thanks banget... –blushing- Iya, aku memang sengaja membuat karakter mereka di sini gak bisa segala. Gak selamanya tokoh utama hebat, kan? Semua karekter utama di sini, aku bikin punya sisi lemah masing-masing. Btw, ternyata ada yang nyadar juga ya tentang buku yang dibaca Sasuke. Haha... kirain gak akan ada yang sadar... Penjelasan buku itu nanti ada sesinya, kok.
Kakkoi-chan : Ah, Sakura kan memang pintar... –peluk-peluk Sakura- Wah, kenapa ya... sepertinya karena Sasuke punya Sharingan jadi bisa tahu –digeplok!- Jawabannya ada di chapter ini. Sasuke kan pemain bola juga, jadi dia tahu mana yang main bagus mana yang individual. Gitu... Kalo romance, mungkin nanti akan ada. Gak rame kalo gak ada romance. Hint-nya udah ada kok di chapter-chapter awal.
Heri : Sai masuk kelompoknya belakangan, untuk saat ini masih belum. Thanks udah membaca yah...
PinkBlue Moonlight : Makasih... –blushing lagi-
Catt-chan sama sekali gak payah, malah keren banget (wew, namanya jadi panjang… XD) : Iya bener banget. Tapi susah nulis perkembangan karakter, kalau terlalu terburu-buru malah terasa maksa. Apalagi kalau yang nulis sering kehabisan kata-kata seperti diriku. Ah, maafkan alur yang berjalan bak siput ini, jeung. Semoga suka ItaSasu di awal chap ini!
Wah, balasan review makan tempat sampe 3ratusan kata nih, maafkan…Akhir kata, makasih banyak sudah menyediakan waktu membaca dan mereview. Sangat berarti buat aku! –peluk-peluk semuanya-
Sampe ketemu di chapter selanjutnya… Ja!
