Happy B'day, Mom!! I love U...
---
Chapter 17
Sebetulnya Naruto menaruh curiga pada niatan Sasuke untuk membantunya berlatih sepakbola. Dan siapa pun tidak bisa menyalahkan Naruto atas kecurigaannya tersebut. Coba pikir, apa yang tiba-tiba membuat Sasuke Uchiha, si cowok baru kurang ajar yang telah menyerangnya tanpa alasan yang jelas beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja sekarang mengajukan diri untuk membantunya berlatih? Sangat mencurigakan bukan?
Tapi memilih antara kecurigaannya terhadap Sasuke dan menerima tawaran cowok itu untuk dilatih olehnya yang berarti ada kemungkinan untuk maju dalam latihannya, Naruto memilih dilatih. Betapa pun menyebalkannya pilihan itu, toh Naruto tetap melakukan apa yang disarankan Sasuke padanya untuk mengistirahatkan diri dari latihan fisik selama beberapa hari.
Selama absen latihan fisik, Sasuke menggantinya dengan sesi diskusi—yang menurut Naruto sangat membosankan sekaligus menjengkelkan mengingat lidah Sasuke yang setajam silet kalau berkomentar—yang membahas tentang beragam teknik dan strategi persepakbolaan. Naruto semakin menaruh curiga ketika menyadari Sasuke lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghinanya dibandingkan memberinya masukan yang berguna. Sampai-sampai hal ini meletuskan kembali pertengkaran sengit di antara kedua cowok itu yang nyaris membuat mereka berkelahi lagi. Dan itu mungkin akan terjadi kalau Sakura tidak ada di sana untuk melerai mereka.
Mungkin ini masih ada hubungannya dengan alasan tidak jelas di balik penyerangannya dulu, pikir Naruto geram.
Sementara itu, Sakura yang selalu bersama keduanya setiap saat setiap waktu—kecuali tentu saja kalau ke kamar kecil dan waktu pulang—juga mulai meragukan ketulusan Sasuke membantu Naruto. Merasa pusing dan tidak tahan lagi menghadapi hujan caci maki dan sumpah serapah di antara kedua cowok itu, Sakura tidak buang-buang waktu lagi. Ia menyambar kesempatan pertama saat Naruto sedang ke kamar kecil untuk memojokkan Sasuke.
"Sebenarnya apa tujuanmu sebenarnya di balik semua ini, eh?" desaknya pada Sasuke.
Cowok itu memberinya seringai tipis tanpa dosa yang membuat Sakura ingin sekali menonjok hidungnya. "Apa? Bukannya sudah jelas? Aku menghentikannya dari kegilaannya yang membuat kita harus menghabiskan waktu berjam-jam—"
Sakura mengibaskan tangannya tak sabar, menyelanya, "Oh, ngaku saja deh kau, Sasuke! Kau masih dendam padanya karena cewek itu kan?"
Ekspresi wajah Sasuke langsung berubah, kedua mata hitamnya menyipit. Dan ini semakin meyakinkan Sakura kalau kecurigaannya memang benar.
"Tahu tidak, aku pikir kau sudah berubah barang sedikit saja. Aku senang saat kau bilang kau akan melatih Naruto. Tapi nyatanya..." gadis itu mendengus, menatap Sasuke dengan pandangan kecewa dan tak habis pikir, "Kau malah memanfaatkan kesempatan untuk menyiksa Naruto, padahal dia sangat membutuhkan dukungan kita saat ini! Apa matamu tidak bisa dipakai untuk melihat itu, eh? Atau hatimu yang sudah mati?"
Sasuke mendengus kecil, lalu berpaling, menghindari tatapan gadis itu. "Aku tidak peduli..."
"Oh, terus saja tidak peduli!" Sakura menukas, suaranya gemetar menahan marah. "Aku tidak heran kalau Hinata tidak memedulikanmu, Sasuke."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang Hinata—" kata Sasuke.
"Aku mengenal Hinata cukup lama dan aku tahu kalau dia gadis paling penyabar yang pernah kukenal," sela Sakura, "Kurasa kalian bisa berteman semata-mata karena kesabarannya. Menghadapi orang sepertimu pastilah amat menyiksanya!"
"Tutup mulutmu, Haruno!!" desis Sasuke penuh ancaman.
"Oh, aku tidak akan tutup mulut sampai kau berhenti bersikap tidak adil pada Naruto!"
"Tidak adil padaku apanya, Sakura?" tiba-tiba saja Naruto muncul dari arah kamar mandi. Kedua alisnya terangkat ketika ia melempar pandang bertanya pada dua orang itu.
Sakura tergagap. Tertangkap basah Naruto sedang membelanya sungguh membuat canggung mengingat selama ini ia juga banyak mengolok-oloknya. Tentu saja itu sebelum mereka banyak menghabiskan waktu bersama-sama dan sebelum Sakura menyadari bahwa sebenarnya Naruto itu bisa jadi teman yang sangat menyenangkan. Gadis itu berdeham kecil sebelum berkata canggung, "Ah, tidak ada kok, Naruto." Ia nyengir salah tingkah.
Naruto menatapnya selama beberapa saat lagi sebelum memutuskan untuk tidak mengambil pusing. Dan omong-omong soal pusing, kepalanya memang sedang pusing setelah sepanjang waktu makan siang dijejali Sasuke dengan kritik tajam seputar permainan sepakbolanya yang (menurutnya) sangat parah. Ia memijat keningnya dengan ekspresi lelah.
"Kalau begitu sebaiknya kita ke kelas selanjutnya saja!" ujar Sakura seraya mengamit lengan Naruto—yang diam-diam nyengir senang—dan menariknya ke kelas Budaya Dunia, mengacuhkan Sasuke yang entah mengapa wajahnya menampakkan ekspresi gusar.
Kata-kata Sakura beberapa saat yang lalu seperti menohoknya. Benarkah? batinnya galau. Benarkah kalau selama ini Hinata tersiksa menghadapi sifatku yang seperti ini? Egois... Kekanak-kanakan... Damn!
"Jangan tutup dirimu terus. Buka hatimu, biarkan orang-orang di sekelilingmu membantumu. Aku yakin Sakura dan Naruto bisa membantumu." Ia kembali teringat kata-kata Hinata beberapa hari yang lalu. Dan ketika melihat punggung kedua orang itu menjauh di depannya, ia membatin, apa benar mereka berdua bisa membantunya seperti kata Hinata? Tapi bagaimana caranya?
Sasuke merasa belum siap untuk membuka dirinya.
Meski begitu, tampaknya tudingan Sakura terhadap dirinya sudah memengaruhi Sasuke sedemikian rupa. Ia menjadi lebih pendiam dan serius selama beberapa hari berikutnya. Cemoohan yang biasa ia lontarkan tanpa pikir panjang pada Naruto sudah berkurang, digantikan dengan kritikan dan masukan yang lebih berbobot, yang tentu saja lebih bisa diterima oleh Naruto. Bahkan Sasuke telah memberinya latihan ringan sepulang sekolah pada akhir pekan mereka.
Sakura sendiri awalnya terheran-heran melihat perubahan ini, namun ia tetap menyambutnya sebagai kabar baik. Ternyata usahanya menjadi penjembatan antara kedua cowok yang bersaing—setidaknya secara sepihak—itu membuahkan hasil!
---
"Ya, begitu. Ah, tidak, yang itu bukan seperti itu, Chouji. Ada keterangannya di diktat. Ini..." Sakura mengulurkan diktat Biologinya pada Chouji Akimichi yang sedang mengutak-atik laptop-nya.
Malam itu mereka sedang mengerjakan tugas kelompok lab Biologi di Blossoms' Cafe. Sakura bersama Chouji Akimichi dan seorang gadis berambut merah berkacamata bernama Karin.
"Sakura... bisa kau ajari aku bagaimana menyelesaikan ini?" kata Karin sambil mengulurkan buku yang sedari tadi diorat-oretnya pada Sakura.
Sakura menoleh, mengerling buku yang diulurkan Karin padanya dan langsung menghela napas keras. Ia menatap temannya itu dengan tatapan lelah. "Karin, sekarang ini kita sedang mencoba menyelesaikan tugas Biologi, bukan Kimia," ujarnya sabar.
"Tapi ini benar-benar membingungkan!" keluh Karin sambil cemberut, mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja. "Si Shiranui itu tidak pandai menjelaskan."
"Apa yang dijelaskan Pak Shirahui kurasa sudah sangat jelas," tukas Sakura membela guru favoritnya kedua setelah Kakashi Hatake itu. Tidak ada yang salah dengan cara mengajarnya sebenarnya, yang salah adalah Karin sendiri yang Sakura tahu lebih senang berdandan di kelas daripada memperhatikan apa yang diajarkan guru mereka. Menghiraukan Karin, Sakura berpaling lagi pada Chouji untuk membantunya menyelesaikan pertanyaan berikutnya. Tapi rupanya Karin masih belum menyerah.
"Ayolah, Sakura... ajari aku," bujuknya seraya menarik-narik lengan sweter Sakura, melempar pandang memelas pada gadis berambut merah muda itu. "Kau kan pintar di kelas Kimia!"
Oh, baiklah, pikir Sakura kesal. Karin bisa sangat menjengkelkan kalau ia mau. Dan ia sepertinya tidak akan berhenti meneror Sakura selama keinginannya belum terpenuhi. Sakura mengalah juga pada akhirnya. "Baiklah, sebentar... Chouji, bisa kau salin jawaban yang sudah kubuat di sini di laporan?" Sakura menyerahkan buku catatan yang penuh tulisannya pada cowok chubby itu.
"Oke!" Chouji mengambil buku catatan Sakura dan mulai mengetik sementara gadis itu mencondongkan tubuh di atas meja, membantu Karin berkutat dengan soal-soal Kimia yang rumit.
Terdengar suara denting yang menandakan ada pelanggan yang baru datang selang beberapa menit kemudian. Sakura mendongak dan melihat sosok yang sudah sangat dikenalnya sedang melangkah memasuki restoran. Kepala cowok itu terbungkus kupluk wol yang menutup rambut pirangnya dengan sempurna dan ia memakai jaket oranye-hitamnya yang biasa untuk menahan udara dingin. Tas tersampir di bahunya.
"Hei, Naruto!" Sakura melambai pada cowok itu yang langsung balas melambai ceria. Naruto mendekati meja mereka dengan senyum lebar.
"Ngerjain tugas nih?" tanyanya ceria seraya mengerling buku-buku teks yang bertebaran di atas meja.
"Yeah," sahut Sakura. "Kau juga?"
"Yap!" Naruto lalu mengedarkan pandang ke sekeliling restoran itu, mencari. "Sasuke dan Juugo belum datang, ya?" –Sasuke dan Juugo adalah rekan sekelompok praktikum Biologi Naruto. Betapa tidak beruntungnya, pikir Naruto-
"Bel—"
"Sasuke?!" sambar Karin cepat, menyela Sakura. Tugas Kimia-nya segera saja terlupakan ketika ia mengangkat wajahnya memandang Naruto dengan mata berbinar. "Maksudmu Sasuke Uchiha?"
"Memangnya ada Sasuke lain di kelas kita?" kata Naruto, memutar matanya.
"Oh! Jadi dia juga akan kemari?" tanya Karin penuh semangat.
Dan panjang umur, sebelum Naruto sempat menjawab, orang yang dibicarakan menampakkan diri. Sosok jangkung berambut gelap itu baru saja memasuki restoran, tas laptop tersampir di bahunya yang bidang. Ia, seperti Naruto, terbungkus rapat jaket tebal berwarna hitam. Ia lantas memandang berkeliling.
"Oi, di sini!" panggil Naruto sambil melambaikan tangan.
Sasuke sudah melihatnya dan kini sedang berjalan mendekat. Karin buru-buru merapikan rambutnya, membetulkan letak kacamata di atas hidungnya, membasahi bibirnya—dan apapun yang terpikirkan untuk membuat penampilannya lebih menarik. Sakura mendengus pelan, geli sendiri melihat tingkah temannya itu. Dasar penggemar Sasuke!
"Kita mulai saja kalau begitu," kata Sasuke setelah mendekat, menunjuk bangku kosong yang letaknya beberapa bangku dari bangku yang ditempati kelompok Sakura.
Naruto mengeluh pelan, memandang sebal pada Sasuke. "Kau ini, tidak ada basa-basinya."
"Aku tidak suka buang-buang waktu," sahut Sasuke dingin sambil berlalu ke bangku yang ditunjuknya.
"Hei, kau harus pesan makanan kalau mau kerja kelompok di sini, Tuan Beruang-Kutub!" seru Sakura pada punggung cowok itu.
Naruto nyengir. "'Tuan Beruang-Kutub'? Panggilan yang menarik," kekehnya. Kemudian ia menyusul Sasuke.
Tak lama kemudian, satu orang lagi teman sekelompok Naruto, Juugo, si cowok bertubuh tinggi besar datang dan bergabung dengan kedua rekan sekelompoknya. Dengan berbalut jaket kulit berwarna cokelat tua, Juugo tampak seperti bapak-bapak dengan dua putranya –maksudnya tentu saja dengan Sasuke dan Naruto-
"Kau tahu, Sakura, kau beruntung sekali..." desah Karin kemudian. Ia sudah tidak memedulikan tugas Kimia-nya lagi dan sekarang lebih asyik mengawasi Sasuke dan membiarkan Sakura dan Chouji bekerja berdua.
"Ha?" sahut Sakura tak jelas, masih berkonsentrasi dengan tugas mereka, tidak benar-benar mendengarkan ocehan Karin.
Karin ganti memandangnya dengan pandangan heran. "Aku bilang kau beruntung sekali—maksudku, bisa bersama-sama Sasuke sepanjang waktu. Kau tahu kan, dia begitu digilai cewek-cewek. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu..."
Well, Karin rupanya mulai ngoceh yang tidak-tidak, pikir Sakura kesal. Kenapa sih dia melakukan hal yang lebih berguna, membantu membuat tugas ini misalnya.
"...Oooh... lihatlah, bukankah dia sangat tampan?" desah Karin lagi, matanya menatap penuh damba ke arah Sasuke yang tampaknya sedang adu mulut lagi dengan Naruto.
Sakura memutar bola matanya. Yeah, memang. Tapi bukan itu yang penting sekarang, Karin. Yang penting adalah kau membantu kami mengerjakan tugas ini. Bukankah ini tugas kita bertiga?—bukan hanya aku dan Chouji??
"...dan dia juga sangat seksi..."
"Ha?" kata Sakura lagi, agak kaget dengan kosa kata satu itu. Sasuke memang amat tampan, Sakura mengakui, tapi tidak pernah sekalipun ia menggambarkan sosok cowok dingin itu dengan kata itu. Yah, meskipun bukan sekali ini ia mendengar cewek-cewek membicarakan Sasuke dengan cara seperti itu—di kantin, di toilet cewek, di ruang ganti olahraga—tapi tetap saja itu mengejutkannya.
Tanpa sadar kepalanya tertoleh ke bangku tempat Sasuke duduk bersama kelompoknya. Saat itu wajah Sasuke tenggelam di balik buku teks, yang kelihatan hanya matanya saja yang bergerak-gerak membaca setiap kata yang tertulis di sana. Lalu mata hijaunya beralih pada Naruto yang duduk di depan Sasuke. Cowok pirang itu sedang memandang ke arahnya juga, menampakkan ekspresi sangat jelek—ekspresi yang selalu muncul setiap kali ia sedang kesal pada Sasuke.
"Nyebelin..." Naruto menggerakkan mulutnya tanpa suara. Jarinya menunjuk Sasuke.
Sakura tertawa kecil melihat tingkah Naruto. Sepertinya kata-kata Naruto lebih tepat menggambarkan seorang Sasuke dibanding –er... seksi? Ya, ampun..
"Kau menertawakanku?" kata-kata Karin mengalihkan perhatiannya.
"Eh, apa? Oh, tidak... sori," sahut Sakura menahan tawa. Ia berdehem. "Naruto... dia lucu ya..." katanya seraya melambaikan pena di tangannya asal saja ke arah Naruto.
"Sudah selesai, Sakura!" seru Chouji menyela kedua rekannya. Cowok itu meregangkan tangannya yang gemuk, tersenyum cerah. "Tinggal kesimpulan saja! Er... tapi sebelumnya aku mau pesan makanan dulu. Lapar nih!" Ia mengusap-usap perutnya yang besar.
"Oke. Karin, sekarang giliranmu mengetik kesimpulan!" kata Sakura pada Karin, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari Sasuke. Ekspresi wajahnya tampak keberatan ketika Sakura memindahkan laptop Chouji ke dekatnya.
"Tinggal kesimpulan saja kan? Kenapa tidak sekalian saja Chouji yang mengetik, sih?" Karin memprotes.
Sakura memberinya tatapan tegas. "Kerena kau belum melakukan apa-apa sejak tadi, Karin, dear."
"Aku yang mengambilkan preparat waktu kita praktikum!" kilah Karin membela diri.
"Oh, yeah... Itu bantuan yang SANGAT signifikan. Terimakasih banyak, Karin," Sakura tersenyum dingin, membuat Karin cemberut berat. "Kau hanya perlu menyalin kesimpulan yang sudah kutulis di sini," ia menunjuk laptop Chouji, tampangnya gemas. "Tidak sulit, kan?"
"Baiklah... baik..." gadis berkacamata itu akhirnya mengalah, menyambar buku yang diulurkan Sakura yang bertampang puas dan mulai mengetik. Bibirnya maju beberapa senti, menggerutu sebal.
Sakura mulai membereskan buku-bukunya menjadi satu tumpukan dan memasukan alat tulisnya ke dalam kotak pensilnya sebelum kemudian berpaling lagi pada Chouji. "Kau mau pesan apa, Chouji?" tanyanya pada cowok itu.
"Aku mau ramen saja deh. Yang spesial porsi jumbo, ya... Ah, dan ekstra telur!" jawab Chouji.
"Ramen spesial porsi jumbo ekstra telur segera datang!" seru Sakura sambil melompat berdiri dan segera melesat ke arah dapur. Gadis itu melempar senyum sekilas ketika melewati meja Sasuke, Naruto dan Juugo.
Sakura mendorong pintu dapur membuka dan menerobos masuk. "Paman Teuchi, ramen spesial porsi jumbo ekstra telur satu, ya!" serunya pada sang koki spesialis ramen yang tengah berkutat di 'meja-kerja'-nya.
"Baik!" sahut sang koki.
"Maaf, Nona. Tapi ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh karyawan saja." Seorang pria muda berambut cokelat gelap yang memakai seragam koki tiba-tiba muncul dari pintu ruang tempat penyimpanan bahan-bahan, membawa sekeranjang sayuran.
"Aaaah... Yamato! Aku kan juga terhitung karyawan di sini..." sahut Sakura, pura-pura sebal. Tapi ekspresinya dengan cepat berubah ketika ia memberi pria itu senyum lebar.
Yamato membalas senyumnya, dan ketika Sakura melompat merangkul lengannya, ia berseru, "Hei, jangan begitu... sayurnya tumpah nih!"
"Biarin! Biar kau dimarahi ibu!" Sakura menjulurkan lidah padanya, lalu tertawa. "Oh, Yamapi, aku kangen sekali padamu!"
Yamato terkekeh. Ia meletakkan keranjang sayurnya di atas konter setelah Sakura melepaskannya. "Apa itu 'Yamapi'?" tanyanya, terkekeh-kekeh. "Kau jarang kelihatan belakangan ini, Sakura. Kemana saja kau?" tanyanya lagi seraya membuka keran air dan mulai mencuci sayuran.
"Yeah, tanyakan saja pada pamanku. Dia yang membuatku jarang main kemari lagi. Pulang malam terus belakangan ini. Capeeek..." Sakura mulai berkeluh kesah. Gadis itu memang jarang mengunjungi restorannya lagi semenjak dihukum bersama Sasuke dan Naruto—khususnya saat ia harus menemani Naruto berlatih—Bahkan ketika Naruto beristirahat, Sakura belum pernah 'main' ke restoran keluarganya lagi. Ia terlalu sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang keteteran selama ia menghabiskan waktu dengan dua cowok itu.
"Tapi kau tidak kelihatan capek tuh. Lihat, sekarang saja kau masih kerja kelompok, padahal sekarang kan malam Minggu," kata Yamato sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Rajin sekali anak sekolah jaman sekarang."
"Kau sedang menyindirku, ya?" sahut Sakura seraya meninju lengan pria yang sudah ia anggap kakak sendiri itu main-main. "Kan sudah kubilang, aku nyaris tidak punya waktu untuk mengerjakan tugas kelompok!"
"Ooh, kukira kau jarang kemari karena sibuk pacaran," goda Yamato.
"Apaan sih? Aku kan tidak punya pacar!" protes Sakura, ekspresinya kesal. Yamato terbahak lagi.
"Yang di luar itu, cowok yang tempo hari bikin masalah dengan kopi asin kan?" tanya Yamato sambil mulai meniriskan sayuran yang baru dicuci, lalu memasukkannya ke dalam wadah.
Sakura mengambil potongan wortel dari keranjang sayuran yang siap diolah, mengigitnya dan mengunyahnya pelan-pelan sebelum menjawab, "Iya. Tapi sekarang dia sudah jadi temanku."
"Bagaimana ceritanya?" tanya Yamato, tampak tertarik.
Namun sebelum Sakura menjawab, paman Teuchi menyela mereka, "Sudah, nanti saja ngobrolnya. Sakura, ini pesanannya." Pria paruh baya itu menyorongkan semangkuk ramen mengepul di atas nampan pada gadis itu, yang langsung menerimanya.
"Trims, Paman!" Sakura menghirup dalam-dalam aroma lezat ramen di tangannya, "Hmm... kelihatannya lezat. Paman, aku mau deh dibuatkan satu lagi. Tapi porsinya sedang saja, ya!"
"Baiklah..." Paman Teuchi mulai mengolah semangkuk ramen lagi untuknya.
Sakura berpaling lagi pada Yamato. "Aku harus mengantar pesanan. Lain kali kita ngobrol lagi ya. Banyak yang ingin kuceritakan padamu!" katanya sebelum melesat meninggalkan dapur, kembali ke bangku tempat Chouji sudah menunggu pesanannya.
"Trims, Sakura!" kata Chouji cerah sambil memindahkan mangkuk besar ramennya dari nampan ke meja, lalu menyeruput kuahnya dengan sendok. "Aaah... 'nak..."
Karin membutuhkan waktu beberapa saat lagi sebelum menyelesaikan ketikannya. Tanpa berlama-lama lagi, ia langsung pamit pulang setelahnya. Barangkali ia ingin cepat-cepat kabur sebelum Sakura menemukan sesuatu yang lain yang perlu dikerjakan dan Karin tidak mau disuruh-suruh lagi—dasar malas! Padahal kan ia yang paling sedikit kerja di antara mereka bertiga!—Tentu saja ia tidak melewatkan kesempatan bagus untuk menarik perhatian Sasuke sebelumnya dengan menyapanya dengan suara nyaring yang terdengar agak genit. Tapi sepertinya Sasuke tidak terlalu memperhatikannya karena tepat saat itu Naruto tidak sengaja menyenggol jatuh jus tomat-nya.
"Aku kan sudah minta maaf!!" kata Naruto pada Sasuke yang tampak kesal. Saat itu kerja kelompok mereka juga sudah selesai dan Juugo sudah pulang bersama Chouji. Restoran sekarang sudah mulai lengang mengingat malam yang sudah semakin larut. "Kau kenapa sih? Itu kan cuma buku..."
Sasuke memandang Naruto dengan kesal, tapi tidak berkata apa-apa lagi sementara ia sibuk mengeringkan buku kecil bersampul putih polos yang kini bernoda merah dengan tisu.
"Kalau itu begitu berharga, kenapa tidak disimpan saja di rumah? Kenapa juga pakai dibawa-bawa segala?" gerutu Naruto sambil mengambil gelas minuman cokelatnya yang tinggal seperempat dan mereguknya sampai tandas.
"Bukan urusanmu!" tukas Sasuke. Lalu ia memasukkan buku mungilnya dengan aman ke dalam tas laptopnya.
Naruto memutar matanya.
"Hei!" sapa Sakura cerah sambil mendudukkan diri di bangku di sebelah Sasuke yang tadinya ditempati Juugo. Ia baru saja selesai menghabiskan ramennya dan membantu Isaribi meletakkan piring-piring kotor ke bak cuci piring di dapur. "Tidak sedang berantem lagi kurasa?" tanyanya agak curiga ketika melihat tampang masam Sasuke.
"Dia ngambek gara-gara aku tidak sengaja menumpahkan jus tomat ke bukunya," kata Naruto mencibir.
"Tutup mulutmu! Aku tidak ngambek!" sahut Sasuke panas seraya memelototi Naruto. Wajahnya agak memerah.
Sekali lagi Naruto mencibirnya. Sakura tertawa geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga buntut kudanya bergoyang di belakang kepalanya. "Sudahlah, kalian berdua. Selalu saja susah akur," kekehnya. Mereka terdiam beberapa saat sebelum Sakura melanjutkan lagi, "Well, omong-omong kerja kelompok kalian cepat sekali? Aku, Chouji dan Karin saja dari sore baru selesai tadi."
"Yeah, itu karena si rajin Juugo sudah mengerjakan separuh sebelumnya," jawab Naruto. Tangannya memainkan gelasnya yang sudah kosong, memutar-mutarnya.
Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jelas sekali Juugo lebih rajin dari si Karin," katanya. Cengiran muncul di wajahnya ketika ia melirik Sasuke yang duduk di sampingnya. "Omong-omong soal Karin, dia tadi bilang kau seksi, Sasuke. Sepertinya dia naksir kau!"
Sasuke mengibaskan tangannya dengan sikap meremehkan seperti biasa. "Kalian perempuan memang menyebalkan," dengusnya sambil memandang Sakura dengan tatapan menyebalkan, "Memangnya tidak ada hal lain yang lebih penting dari pada mengejar laki-laki?"
"Yeah," balas Sakura dengan senyum licik, "Sama halnya dengan orang yang sedang cemburu, kan? Memangnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memukul—"
Wajah Sasuke langsung merah padam. "Diam kau!" bentaknya sambil memelototi Sakura.
Gadis itu terkekeh-kekeh sambil memutar-mutar bola matanya.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Naruto bingung seraya menatap kedua orang yang duduk di depannya itu.
"Tidak ada," sahut Sasuke dan Sakura serempak. Mereka saling pandang sejenak sebelum Sasuke membuang muka sementara Sakura mendengus tertawa. Dari semua orang yang ada di Konoha High, kenapa harus gadis menyebalkan seperti Sakura Haruno yang mengetahui rahasianya? pikir Sasuke kesal.
Tiba-tiba saja kesunyian tidak nyaman turun di meja mereka. Sasuke masih enggan memandang kedua orang itu, entah mengapa ia merasa begitu canggung. Akan lebih baik kalau Sakura atau Naruto mulai mengoceh seperti biasa. Tapi kali ini, ia merasa mereka sedang menunggunya bicara sesuatu. Seperti menunggunya untuk membuka diri...
Tidak tidak... Sasuke cepat-cepat menepis perasaan itu. Sudah beberapa hari belakangan, pikiran tentang lebih membuka diri pada Sakura dan Naruto terus saja menghantuinya. Tapi ia belum juga merasa siap. Dan ketika ia memberanikan diri menoleh kembali pada mereka, ia melihat Naruto tengah menatap ke arahnya dengan alis terangkat. Hal yang sama terjadi saat ia menoleh pada Sakura—gadis itu telah melipat sebelah tangannya di atas meja sementara sebelahnya lagi menopang dagunya dan ia juga sedang menatapnya.
"Apa?" tanya Sasuke risih.
"Kau kelihatan gelisah akhir-akhir ini, tahu tidak?" kata Sakura.
"Yeah. Dan kau juga jadi lebih pendiam," timpal Naruto sambil mengangguk. "Tapi bagus juga sih. Jadi tidak perlu makan hati terlalu banyak," tambahnya terkekeh.
Sasuke mengerjap. Ia terkejut dan tidak menyangka kedua orang di depannya ini menyadari perubahan sikapnya. Mau tidak mau Sasuke merasa sedikit... diperhatikan. Hal yang tidak pernah didapatnya dari orang-orang yang selama ini menyebut dirinya 'teman' di tempat asalnya di Oto sana. Tapi seperti biasa, Sasuke enggan mengakuinya, walaupun hanya di dalam hati.
Lantas ia mendengus pelan dan berkata dingin, "Jangan bercanda."
Ia melihat Sakura dan Naruto bertukar pandang, lalu mengangkat bahu. "Terserah kau sajalah. Tapi sekarang, aku menunggumu mengatakan sesuatu soal rencana latihanku. Besok jadi kan?"
"Apa?" Jelas sekali Sasuke tidak ingat.
"Sepertinya pikiranmu sedang tidak berada di sini," kata Sakura sambil menghela napas. "Tadi siang kau bilang mau membicarakan rencana latihan sepakbola Naruto setelah kerja kelompok. Ingat?"
"Dan katanya kau mau memberitahuku apa di mana letak kelemahanku supaya aku bisa menganalisis sendiri sebelum latihan besok," timpal Naruto. "Sekarang ngomong saja. Aku sudah siap lahir batin mendengar ocehan pedasmu, Tuan Pelatih." Naruto meletakkan sebelah tangannya di dada dengan sikap yang sama-sekali-bukan-Naruto.
Sakura tertawa melihat ini. Gadis itu mengulurkan tangan meninju lengan Naruto main-main. Naruto juga tertawa.
Lagi, untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini, Sasuke merasa gelisah melihat keakraban Naruto dan Sakura. Seakan ada sebagian—sebagian yang sangat sangat kecil—dirinya yang ingin terlibat di dalam suasana penuh keakraban itu. Tapi lagi-lagi Sasuke segera menepis perasaan itu.
"Jadi bagaimana?" tanya Naruto lagi, kembali memacangkan perhatiannya pada Sasuke.
Sasuke buru-buru memalingkan wajah. "Besok saja," sahutnya sambil berdiri, "Aku mau pulang."
"Kau kenapa sih? Marah pada kami?" Sakura bertanya keheranan. Gadis itu ikut berdiri.
"Tidak," sahut Sasuke singkat seraya mencangklengkan tasnya ke bahu.
"Tapi bagaimana dengan—"
Tapi Sasuke buru-buru menyela perkataan Sakura, melempar pandang gusar pada gadis itu. "Sudahlah. Bisa tidak sih tidak mendesakku, kau menyebalkan!"
"Oi, kau kok jadi mengatai Sakura sih!" seru Naruto. Ia melompat berdiri, lalu memelototi Sasuke.
"Sudahlah, Naruto. Tidak apa-apa," kata Sakura mencoba bersabar, sebelum beralih pada Sasuke, "Sepertinya malam ini kau sedang lelah, jadi kurasa besok saja kita bicarakan lagi. Oke?"
"Hn," kata Sasuke singkat sebelum berbalik menuju pintu, melangkah ke udara malam musim gugur yang dingin sambil merapatkan jaketnya.
Sakura dan Naruto mengamati cowok itu melintasi lapangan parkir, menuju trotoar ke arah Crimson Drive yang mulai sepi sebelum akhirnya menghilang di kegelapan malam—Blossoms' Cafe letaknya memang hanya beberapa blok dari kompleks tempat Sasuke dan kakaknya tinggal, jadi Sasuke tidak perlu berjalan terlalu jauh.
"Kalau dia tidak benar-benar hebat, aku tidak akan mau dilatih olehnya, sungguh," ujar Naruto beberapa saat kemudian sambil menghela napas, "Dia benar-benar orang aneh. Sebentar diam sebentar marah. Tidak bisa ditebak."
Sakura masih menatap tempat di mana Sasuke menghilang tadi selama beberapa saat. Rasanya ia bisa merasakan kegelisahan Sasuke lebih baik dari Naruto. Sepertinya bukan lagi karena Hinata dan Naruto, Sakura membatin. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih kompleks dari sekedar kecemburuan terhadap Naruto. Sepertinya apa yang dikatakan pamannya memang benar, Sasuke memang butuh bantuan.
Kemudian ia kembali menoleh pada Naruto. "Tidak usah terlalu dipikirkan bagaimana sifatnya, Naruto," ujarnya sambil tersenyum. "Yang penting ia mau membantu latihanmu dan kau bisa mendapatkan banyak ilmu darinya. Benar kan?"
"Yeah, kau benar. Tapi tetap saja menyebalkan," keluh Naruto. "Haah... yang benar saja. Masa besok aku harus berlatih berdua dengannya sih!!"
Sakura tertawa kecil. "Kau tenang saja. Besok aku akan ikut dengan kalian. Kurasa kalian butuh orang untuk jadi kiper kan?" Sebetulnya bukan itu tujuannya, tapi lebih karena didorong rasa cemas kalau-kalau kedua cowok itu berkelahi lagi kalau ditinggal berdua—mengingat lidah tajam Sasuke dan sifat Naruto yang gampang panas itu.
Naruto mengernyit sedikit memandangnya. "Kenapa kau sekarang jadi baik sekali padaku, Sakura?"
Sakura menaikkan alisnya. "Tentu saja. Kupikir kau sedang membutuhkan dukungan sekarang ini."
Naruto langsung berseri-seri dan saat berikutnya ia sudah berjalan mengitari meja yang memisahkan mereka, membuka kedua tangannya hendak memeluk Sakura. "Oh, terimakasih banyak Sak—"
"Eeeh... tidak pakai peluk-peluk!" Sakura langsung mendorongnya menjauh, mengernyit.
"Oops! Sori. Hehe..." Naruto menggaruk belakang kepalanya, nyengir salah tingkah. Dikiranya ia bisa mengambil kesempatan memeluk Sakura selagi ia lengah. Sepertinya ia tidak tahu kalau gadis itu tidak pernah lengah saat berdekatan dengannya. Ha!
---
TBC...
---
Waah... ternyata ada perubahan dari rencana awal. Chapter ini jadi kurombak habis-habisan deh jadi lebih panjang. Er… 12 halaman word sudah lumayan panjang kan? Gomenna kalau aneh ya… Sasuke mulai bingung nih. Haha..
Mayu : Ah, gomen. Penindasan Sasuke gak dijelasin gamblang. Aku skip aja. Soalnya bakal lama lagi kalau ditulis.
Kakkoi-chan : Wah, tunggulah NejiSaku-nya. Kekekek… XD
Catt-chan : haha… habisnya aku gemes sih liat name reviewmu. Dirimu kan gak payah, bu. Sebenernya bukan Kakashi secara langsung sih yang menyatukan Akatsuki, dia hanya 'saksi mata' yang akhirnya menerapkan hal yang sama pada SasuSakuNaru.. Halah! Ah~ ternyata dirimu bisa merasakan hint SasuSaku yah!
Myuuga Arai : Ah~ makasih masukkannya, Arai-chan. Aku memang agak lemah dalam hal jelas menjelaskan. Hehe. Neji-nya ditunggu aja yah!
Dillia gak aneh kok XD : Aduuh… makasih udah menyediakan waktu mereview satu-satu. –terharu- Aku sangat menikmati membaca reviewmu, Dillia-chan! Er… ficnya dibaca pelan-pelan aja yah, terus review lagi deh. Haha. –ditakol- Inget dong… kan kita pernah saling kirim comment via fs, bukan? ^^
Ana-chan : Arigatou... –bowed- gak apa-apa kok. Aku juga sering baca tanpa mereview. –ketahuan belangnya-
PinkBlue Moonlight : ahaha... gomen kelewatan pertanyaannya. Er... kalo dikasih tahu di sini jadi spoiler atuh.. –tetep aja gak ngasih jawaban- Tapi tar bakal ada hint-nya kok tentang siapa sih cewek-cewek beruntung itu. XD
Antlia : Hayoh, chapter ini udah cukup panjang belum? Karakter Itachi itu seperti karakter yang aku pinginin kalo punya kakak laki-laki—yang sayangnya gak mungkin karena aku anak sulung. –sigh- Buku Sasu keluar lagi dikit di chap ini! ;p
Chika : Er... soal OoC kan udah diwarningkan dari awal. Makasih udah membaca... -peluk-peluk-
Minna-sama, thanks banget udah membaca sampai sejauh ini, juga yang sudah bersedia mereview! Sangat berarti buat aku... Review kalian bener-bener bikin aku blushing nih. Haduh... gak nyangka fic gaje proyek egois aku ini ada yang menyukai. Ja...
