Chapter 18
"Kau tidak akan jaga restoran lagi hari ini, Sakura?" tanya Isaribi keesokan harinya. Ia mengalihkan perhatiannya dari rollerblade yang sedang dipasangnya dan menoleh memandang Sakura yang duduk di sampingnya sambil mengernyit. "Ini sudah dua minggu sejak kau absen," protesnya.
Pagi itu keduanya sedang berada di ruang ganti karyawan di Blossom' Cafe. Sakura seperti biasa jika sedang akhir pekan bertugas untuk membuka kunci restoran keluarganya pagi-pagi sekali. Dan biasanya ia sudah mengenakan seragam restorannya itu dari rumah, tapi kali ini ia mengenakan training dan t'shirt untuk olahraga. Jelas sekali bagi Isaribi kalau untuk kesekian kalinya Sakura akan absen lagi.
"Tapi kan aku membantu sedikit semalam," Sakura membela diri sambil membetulkan tali sepatu olahraganya. Setelah selesai, ia menegakkan diri dan tersenyum minta maaf pada Isaribi. "Sori deh. Tapi hari ini aku sudah janji akan menemani Naruto latihan bola."
Isaribi menatapnya heran. "Aku bingung deh denganmu, Sakura. Beberapa waktu yang lalu kau kelihatannya benci sekali pada mereka. Kau tidak hentinya mengheluh tentang mereka. Tapi sekarang? Coba lihat... kau kelihatan... akrab sekali dengan mereka!"
Sakura beranjak dari kursi yang didudukinya dan melangkah mendekati cermin sambil tertawa kecil. "Yeah... mungkin karena aku sudah semakin terbiasa dengan mereka, jadinya kelihatan seperti itu. Tapi jangan salah, kadang-kadang kami masih sering berantem," kekehnya sambil menyibakkan rambut merah mudanya, menyatukan dan mengikatnya menjadi buntut kuda di belakang kepalanya.
"Aku masih tidak mengerti..." Isaribi mengangkat bahu, lalu meneruskan mengikat tali rollerblade-nya.
Sakura mengambil waktu untuk menjepit poninya sebelum berkata, "Yah, kurasa ini sama halnya sepertimu yang tadinya tidak menyukai Izumo dan Kotetsu yang menurutmu tidak pernah serius. Kalau kau sudah terlalu sering bersama mereka, kau akan terbiasa dan akhirnya kau bisa menolelirnya, bukan? Atau bahkan kau menyukainya." Mata hijau Sakura berkilat jahil, gadis itu berbalik, nyengir menatap Isaribi. "Sekarang beritahu aku, kau menyukai Izumo kan?"
Isaribi menegakkan diri. Ia menyambar handuk kecil Sakura yang disampirkan gadis itu di kursi yang tadi didudukinya dan melemparnya agak keras pada Sakura. "Aku tidak menyukai Izumo!" bantahnya. Tapi ketika ia menunduk lagi untuk membetulkan bagian ujung jeans-nya yang digulung, wajahnya merona merah. "Tidak seperti itu juga, sih. Izumo kan naksir Ayame..." ia menambahkan dalam gumaman pelan.
"Hei, kenapa jadi pesimis begitu sih? Kalau kau berusaha, Izumo pasti akan membalas perasa—"
Sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, Isaribi sudah menyerangnya dengan gelitikan gemas. "Iiih... kan sudah kubilang, perasaanku pada Izumo bukan seperti itu!!" gadis berambut pendek itu masih saja berkilah, padahal ekspresi wajahnya menyatakan sebaliknya.
Sakura tertawa-tawa kegelian, berusaha berkelit dari serangan Isaribi. "H-hentikan, Isaribi... haha..."
"Kau sendiri, berusahalah supaya bisa jadian dengan Naruto, ya!!" Isaribi membalas.
Sakura tertawa lagi sambil menjauh dari gadis itu. "Tidak berhasil!" serunya mengejek. "Karena aku dan Naruto memang tidak ada apa-apa."
"Oh, ada saja!" tukas Isaribi, kesal ketika menyadari ia kalah dari Sakura. "Atau kau suka dengan yang satunya?"
"Sasuke?" kekeh Sakura seraya mengibaskan tangannya. "Yang benar saja..."
"Dia kan keren..." Isaribi mendesah sambil tersenyum, matanya menerawang. Kedua tangannya mengatup di depan dada, dan kalau mereka sedang berada di satu adegan dalam komik, mata Isaribi pastilah sudah berubah menjadi gambar hati.
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Haaah... ternyata di mana-mana sama saja, ya.. "Yeah, memang sih dia keren," ujar Sakura mengakui.
"Akan kudukung kalau kau mau jadian dengannya!" cetus Isaribi kemudian.
"Oh, tidak, terimakasih banyak," Sakura menyahut sambil tertawa. "Dia bukan tipeku."
"Masa?" kata Isaribi tidak percaya. Lalu ia terkikik. "Cowok setampan, sekece dan se-cool itu?
Tepat setelah Isaribi mengatakan itu, pintu menuju ruang ganti membuka dan Kotetsu berjalan masuk, mengenakan jaket kulit hitam di atas seragamnya. Pria muda itu nyengir pada kedua gadis itu seraya melempar tas punggungnya ke lantai dekat lemari loker.
"Kalian sedang membicarakan aku, ya? Tadi aku dengar soal 'Tampan' dan 'Kece' dan 'Cool—"
Perkataannya langsung tenggelam dalam gelak tawa kedua gadis itu. "Dasar kau! Pe-de benar sih!" cibir Isaribi tertawa-tawa.
Kotetsu mengibaskan tangannya, "Pe-de itu wajib!" ujarnya. "Hei, sayangku Ayame belum datang, ya?"
Kedua gadis itu memutar mata mereka sambil tertawa lagi. Sedetik kemudian Izumo mendorong pintu masuk membuka dan langsung membeliak pada Kotetsu.
"Ayame bukan sayangmu. Dia sayangku!" tukasnya dengan ekspresi ngotot yang menggelikan. Sakura tidak kuat lagi. Gadis itu terbahak sampai terbungkuk-bungkuk ketika sepasang sahabat itu memulai pertengkaran konyol mereka. Isaribi juga tertawa, meskipun terdengar agak hambar.
Izumo dan Kotetsu masih meributkan siapa yang berhak menjadi 'sayang' Ayame ketika Sakura meninggalkan restoran. Sakura menghirup udara pagi yang segar dalam-dalam seraya meregangkan kedua tangannya. Cuaca pagi itu benar-benar cerah dan Sakura berharap akan terus begitu sepanjang hari mengingat beberapa hari sebelumnya Konoha selalu diguyur hujan. Ah... ia juga berharap suasana hati Naruto dan Sasuke sama baiknya dengan cuaca hari ini.
Sakura mengerling jam tangan sport pink yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih terlalu pagi dari jam janjiannya dengan Naruto. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk joging sebentar mengelilingi kompleks di dekat situ untuk membunuh waktu. Barangkali saja ia bisa bertemu Sasuke yang memang tinggal di dekat sana, jadi mereka bisa berangkat bersama-sama.
Setelah menyelipkan handuk kecil ke dalam saku celana trainingnya, gadis itu berlari-lari kecil meninggalkan lapangan parkir Blossoms' Cafe. Ia melambai dan menyerukan selamat pagi pada Teuchi dan Ayame yang baru saja melintas memasuki lapangan parkir dengan mobil tua mereka.
Akhir pekan memang selalu dimanfaatkan orang-orang di Konoha untuk berolahraga, begitu juga dengan di kompleks itu. Mulai dari anak-anak sampai para kakek dan nenek memenuhi sisi jalan untuk berjoging. Dengan riang, Sakura membalas sapaan beberapa orang yang dikenalnya dan ikut melompat sebentar ketika melewati sekelompok anak perempuan kecil yang sedang main lompat tali. Ia juga beberapa kali berhenti untuk menyapa dan mengobrol singkat dengan teman-temannya sesama siswa Konoha High.
"Selamat pagi, Nona Haruno!" gadis itu mendengar suara seseorang menyapanya saat ia sedang melintasi Crimson Drive. Sakura berhenti berlari dan menoleh. Ia tersenyum cerah ketika melihat seorang pria muda berambut gelap agak panjang melambai padanya dari ujung jalan.
"Ah, Kak Itachi! Selamat pagi!" Sakura balas melambai padanya sementara kakak Sasuke yang tampaknya juga sedang joging itu berlari-lari kecil ke arahnya. "Joging juga?" tanyanya cerah kemudian sambil menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya.
Wajah Sakura agak memerah melihat ini. Whew... cowok yang lebih dewasa memang menarik, ya? Terlebih ini adalah kakak Sasuke, dan jelas tidak kalah tampan dengannya. Apalagi ia baik dan sopan. Kalau Sakura tidak sedang tergila-gila pada Neji Hyuuga, gadis itu pastilah sudah naksir pada pria yang sedang berdiri di depannya ini.
"Yap!" sahut Sakura sambil tersenyum riang. Lalu meregangkan kedua tangan dan kakinya, membuat gerakan senam sederhana.
Itachi juga ikut meregangkan kedua tangan dan kakinya seraya membalas senyum gadis itu. "Kau rajin sekali. Tidak seperti Sasuke. Dia sih agak susah bangun pagi."
Sakura mengangkat alisnya. "Benarkah?" tanyanya, tertarik mendengar informasi mengejutkan dari tangan orang pertama ini. Sasuke yang selalu tampak mengesankan itu—sekaligus mengesalkan—susah bangun pagi? Rasanya kok bukan-Sasuke-banget ya?
Tepat saat itu, mereka mendengar suara menyapa. Keduanya menoleh dan melihat Naruto sedang berlari-lari kecil ke arah mereka, memakai training hitam dan jaket parasut warna oranye-hitam di atas kaus tanpa lengan yang warna hitamnya sudah agak memudar, handuk kecil putih menggantung di lehernya. Ia juga membawa sebuah bola sepak bersamanya.
"Naruto!" sapa Sakura ketika cowok itu mendekat.
"Hai, Sakura!" balas Naruto ceria, lalu ia mengernyit memandang pria di sebelah Sakura. "Kau…"
"Itachi Uchiha," Itachi mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.
"Dia kakaknya Sasuke," Sakura menjelaskan pada Naruto yang tampak bingung. Mungkin karena wajah Itachi yang teramat mirip dengan seseorang yang sangat menyebalkan yang mereka kenal.
"Oh!" Naruto akhirnya mengerti. Ia buru-buru membalas uluran tangan Itachi. "Pantas saja rasanya aku pernah melihatmu. Kau pasti yang bersama Sasuke di restoran Sakura waktu itu, kan?" tanyanya. Yang dimaksud Naruto pastilah saat ia nyaris menghajar Sasuke saat mereka tidak sengaja bertemu di Blossoms' Cafe berminggu-minggu yang lalu—dengan alasan yang sama dengan alasan Sasuke menyerang Naruto di koridor loker waktu itu.
"Ya, itu aku. Kau pastilah anak yang sedang dilatih sepakbola oleh adikku, kan? Sasuke memberitahuku kalau kalian berencana berlatih sepak bola bersama hari ini, benar?"
Wajah Naruto agak memerah ketika ia mengangguk. Setengah kesal, setengah malu membayangkan kemungkinan Sasuke telah mengolok-olok kepayahannya dalam bermain bola di depan kakaknya. Tapi Itachi tetap tersenyum hangat padanya. Tidak ada ekspresi meremehkan seperti yang selalu muncul di wajah Sasuke. Dan entah bagaimana caranya, hal itu sedikit membesarkan hati Naruto.
"Adikku itu memang agak keras kadang-kadang, mirip ayah kami. Tapi dia orang baik, kok," lanjut Itachi.
Naruto dan Sakura bertukar pandang, lalu nyengir tidak yakin. Mereka belum melihat kebaikan Sasuke selain ketampanan wajahnya. Oh, dan otaknya yang luar biasa cerdas... juga kehebatannya dalam olahraga. Ah... sebenarnya banyak kebaikan yang dimiliki Sasuke, hanya saja tertutupi oleh sifatnya yang angkuh dan sombong itu.
"Bagaimana kalau kalian mampir sebentar ke rumah?" tawar Itachi kemudian. "Supaya kalian bisa berangkat bersama-sama."
Bertukar cengiran, Sakura dan Naruto mengangguk. Tapi sebelum itu, mereka berjoging mengelilingi Crimson Drive selama beberapa waktu lagi. Matahari sudah semakin tinggi ketika Itachi bersama kedua teman adiknya memasuki pekarangan rumah Uchiha bersaudara.
"Aku pulang!" seru Itachi sambil membuka pintu depan rumahnya yang tidak dikunci. Sunyi. Tidak ada yang menyahut. Itachi menoleh ke arah Naruto dan Sakura yang berdiri di belakangnya. "Sepertinya dia belum bangun. Yuk, masuk," Itachi minggir, memberi jalan bagi keduanya untuk masuk ke dalam rumah sebelum menutup pintu di belakang mereka.
Naruto bersiul kecil ketika memandang sekeliling ruang depan, terkesan oleh penataan barang-barang di sana. Ruangan itu mirip seperti rumahnya di Fox Street, hanya saja sedikit lebih besar dan lebih bergaya. Itachi mempersilakan mereka duduk di ruang keluarga sementara ia menuju kamar Sasuke di lantai atas.
"Sasuke!" panggilnya sambil mengetuk pintu kamar sang adik. Terdengar erangan pelan dari dalam. "Sasuke, kau sudah bangun belum?" sekali lagi Itachi mengetuk pintunya.
"Ya yaaa..." Sasuke menyahut. Suaranya masih dibebani kantuk. Sepertinya ia memang baru bangun. Beberapa saat kemudian pintu membuka, menampakkan Sasuke yang bertampang awut-awutan, mata setengah terpejam. Tapi rupanya itu tidak mengurangi energinya untuk mengomel pada sang kakak, "Apaan sih?! Ini kan hari Minggu!"
Itachi menghela napas. "Katanya mau berlatih sepak bola? Cepat sana cuci muka dan ganti baju, nanti Naruto dan Sakura kelamaan nunggu!"
"Ck!"
Meski kerap mengomel dan marah-marah pada Itachi, Sasuke bukan tipe adik yang suka membantah apa kata sang kakak—meski dengan menggerutu, tentu saja. Buktinya, sesaat kemudian ia sudah bergerak melaksanakan perintah kakaknya. Disambarnya celana training dan kaus dari lemari sebelum meninggalkan kamar.
"Kau ini cerewet sekali!" gerutunya pada Itachi ketika ia melangkah melewati kakaknya itu menuju kamar mandi di ujung koridor. Namun langkahnya segera terhenti ketika telinganya menangkap ada suara orang mengobrol dari arah lantai bawah. Ia berbalik, mengernyit pada sang kakak yang masih berdiri di tempatnya semula. "Siapa itu?" tanyanya.
"Naruto dan Sakura," jawab Itachi enteng. Ia tersenyum sekilas, lalu berbalik menuju tangga dan kembali ke bawah untuk menemui dua tamu mereka.
Dengan hati mencelos, Sasuke buru-buru menyusul kakaknya. Ia mengintip ke lantai bawah. Naruto dan Sakura tampak sedang mengobrol di sofa di ruang tengah. Naruto tampak memainkan bola sepak di tangannya.
Sialan! Ngapain mereka pakai kemari segala?!
Tepat saat itu, Naruto dan Sakura menoleh ke arah tangga. Mereka berdua nyengir melihat Sasuke yang masih berantakan. "Pagi!" sapa mereka ceria sambil melambaikan tangan.
Mengumpat pelan, Sasuke segera menarik kepalanya, lalu melesat menuju kamar mandi. Ketika ia turun beberapa menit kemudian—sudah rapi dengan training dan kaus hitam lengan panjang—ia melihat Itachi sudah menyuguhi kedua tamu mereka dengan jus jeruk dan biskuit dan mereka sedang mengobrol sekarang.
"Kalian ngapain sih kemari?!" hardik Sasuke jengkel, menyela obrolan mereka. Ketiganya menoleh.
"Wah wah, Sasuke," kata Itachi dengan nada menegur, "jangan begitu dong. Masa pagi-pagi sudah marah-marah. Nanti kau cepat tua lho."
Sasuke mengabaikan kakaknya, masih mendelik pada Naruto dan Sakura. Bukannya apa-apa. Tapi dua orang yang sekarang tengah duduk di sofa-nya—sofa Itachi—itu sudah berhasil membuatnya insomnia semalaman. Bagaimana ia tidak kesal ketika melihat mereka tiba-tiba nongol di rumahnya?—er... rumah kakaknya.
"Kalau kami tidak kemari, taruhan, kau pasti masih tidur," ledek Naruto sambil nyengir.
"Dasar! Ternyata Sasuke si jenius pemalas juga ya," timpal Sakura tertawa-tawa.
"Diam kalian berdua!" bentak Sasuke dengan wajah memerah. "Kita berangkat sekarang!" katanya sambil melesat menuju pintu. Ketara sekali masih kesal atas kedatangan Naruto dan Sakura yang tak diharapkan ke rumahnya.
"Tidak sarapan dulu, Sasuke?" Itachi menanyainya.
"Tidak," Sasuke menukas. Ia menyambar sepatu kets-nya di rak sepatu agak terlalu kasar sampai menyenggol jatuh sepatu Itachi di sebelahnya.
"Haah… dasar. Ngambek lagi deh," keluh Naruto sambil beranjak dari sofa setelah sebelumnya menenggak habis jus jeruknya. Lalu ia menyusul Sasuke.
"Apa Sasuke dari dulu memang gampang marah?" tanya Sakura pada Itachi.
Itachi tertawa kecil. "Tidak juga. Dulu dia manis sekali," ujarnya sambil tersenyum memandang punggung adiknya. Sakura melongo sejenak, sulit membayangkan Sasuke dalam sosok yang manis. Tapi kemudian ia tersenyum. Tentu saja, seorang kakak selalu menganggap adiknya makhluk yang paling manis, betapa pun menjengkelkannya adiknya itu.
Melihat perlakuan Itachi pada Sasuke, ia jadi teringat pada kakaknya sendiri. Dan itu membuat hatinya berdecit sakit. Tapi lekas-lekas ia menepis perasaan tidak nyaman itu.
"Kami pergi sekarang kalau begitu, Kak," ucap Sakura sambil beranjak. "Terimakasih atas jus jeruk dan biskuitnya."
Sasuke menghabiskan waktu sepanjang siang melatih Naruto. Cowok itu melatih Naruto agak terlalu keras—sepertinya ia memang menggunakan kesempatan itu untuk menyalurkan energi kekesalan yang sudah dipendamnya sejak pagi. Ia menyuruh Naruto berlari puluhan putaran mengelilingi lapangan yang luas itu sebagai pemanasan, sebelum melakukan latihan inti yang luar biasa melelahkan.
Sakura hanya menonton saja di bangku di pinggir lapangan. Tadinya, seperti yang ditawarkannya pada Naruto sehari sebelumnya, ia mengambil posisi sebagai kiper saat mereka mulai latih tanding. Tapi gadis itu menyerah ketika bola hasil tendangan Sasuke menghantam dahinya dengan telak. Membuatnya pusing.
"Kau sengaja, ya?!" teriak Sakura, terhuyung-huyung berpegangan pada tiang gawang saat itu. Ia mengusap-usap dahinya yang memerah. Sasuke memberinya seringai khasnya. Menyebalkan sekali.
"Kalau begitu kau duduk saja menonton," katanya dengan nada meremehkan. Sakura mencibirnya, namun ia tidak punya pilihan lain selain menuruti Sasuke. Toh, ia juga tidak terlalu mahir main bola. Bisa-bisa malah hanya mengganggu saja.
"Kalau kau menguasai bola terus-terusan, bagaimana aku bisa latihan!" giliran Naruto yang berteriak frustasi. Peluh mengalir deras di pelipisnya. Napasnya terengah-engah.
"Dasar bego!" cemooh Sasuke seperti biasa sambil berkacak pinggang dengan gaya sok. "Sebagai pemain, kita bukan cuma harus bisa mempertahankan bola, tapi juga merebut bola dari lawan. Sekarang coba kau rebut bola ini dariku!" Lalu ia mulai menggiring bola dengan kakinya yang lincah, menjauhi Naruto.
Menggeram pelan, Naruto mengejarnya. Cowok itu tampak kesulitan. Jelas sekali Sasuke lebih piawai darinya dalam mengolah bola. Sasuke berkelit ke sana kemari, menghindari serangan Naruto tanpa sekalipun melepaskan bola dari giringan kakinya. Naruto baru bisa merebut bola dari Sasuke sekitar dua puluh menit kemudian. Dengan ekspresi penuh kemenangan, Naruto menggiring bola ke gawang dan menggolkannya.
Terengah-engah, ia menoleh pada Sasuke, tampak puas. "Lihat aku! Hebat kan?"
Sasuke membuka mulutnya, sejenak tampak ragu sebelum akhirnya mengangkat bahu. "Yah. Lumayan..." komentarnya singkat. Tadinya ia hendak melontarkan komentar tajam menyengat seperti biasa, tapi entah apa yang membuatnya mengurungkan niat busuknya itu. Ia menyapu rambut hitamnya yang terjatuh menutupi matanya dengan tangan seraya menghela napas panjang, lalu berbalik menuju bangku tempat Sakura duduk bertopang dagu dengan dahi masih merah. "Kita istirahat dulu."
Naruto menatap punggungnya tak percaya. "Hah? Hanya lumayan?" dengkingnya tidak senang. Sasuke mengabaikannya.
"Aku tidak mengerti stamina laki-laki," komentar Sakura setelah Sasuke menempatkan diri duduk di sampingnya, meregangkan kaki. Gadis itu mengulurkan botol air mineral yang baru dibelinya di minimarket dekat sana pada Sasuke.
"Laki-laki memang lebih kuat dibanding perempuan," kata Sasuke, menerima botol air mineral yang diulurkan Sakura padanya tanpa mengucapkan terimakasih, lalu membukanya dan menenggak isinya banyak-banyak sebelum mengguyurkan sisanya ke kepalanya.
Sakura mencibirnya. "Pernah dengar tentang Laila Ali? Aku berani taruhan dia bisa menghajarmu sampai jadi bubur dalam hitungan detik."
"Oh, ha ha... Lucu sekali," cemooh Sasuke dengan seringai garang sambil menyisir rambut hitamnya yang basah ke belakang dengan jari.
Naruto bergabung dengan mereka tak lama kemudian. Napasnya terengah-engah, wajahnya tampak kelelahan tapi ekspresinya puas. Yah, meskipun Sasuke meneriakinya sepanjang hari selama latihan—Pak Maito saja tidak pernah meneriakinya seperti yang dilakukan Sasuke—tapi Naruto merasa telah mendapatkan banyak hal yang berguna dalam latihannya dengan Sasuke kali itu. Setelah melempar senyum singkat pada Sasuke—yang pura-pura tidak melihat—Naruto menyamankan diri duduk di sisi lain Sakura, lalu meregangkan kakinya juga.
"Minum, Naruto?" Sakura menawarinya air mineral.
"Trims, Sakura," ucap Naruto seraya mengambil air mineralnya, lalu membukanya, mereguk isinya sampai tandas sebelum melemparnya ke tempat sampah tak jauh dari tempatnya. Ia menyandarkan punggungnya, lalu mendongak, menatap langit berawan di atas mereka. "Pertandingan tinggal sebentar lagi. Aku sudah tidak sabar."
"Aku senang melihatmu semangat lagi seperti ini, Naruto," ujar Sakura tulus. "Padahal kamarin dulu kau terpukul sekali hanya ditunjuk sebagai pemain cadangan."
"Yeah," sahut Naruto sambil tersenyum kecil, "Tapi kan cadangan juga ikut main. Dan aku bertekad memberikan yang terbaik untuk tim-ku. Jadi kurasa, jadi cadangan juga tidak begitu buruk. Iya kan, Sasuke?" cowok itu menoleh pada Sasuke, minta persetujuan.
"Cadangan atau bukan, itu bukan urusanku," Sasuke berkata dingin tanpa memandang Naruto.
Sakura memukul lengan cowok itu dengan botol air mineralnya yang tinggal separuh. "Kau ini bisa tidak sih ngomong yang membesarkan hati orang sesekali? Dasar!" omelnya, setengah geram setengah geli.
Sasuke mengusap-usap lengannya yang tadi dipukul Sakura, tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba ia merasa aneh. Ada apa dengan dirinya? ia bertanya-tanya dalam hati. Biasanya ia tidak suka orang lain selain keluarganya menyentuhnya—bahkan walau untuk main-main. Tapi kali ini, saat Sakura yang melakukannya, ia merasa tidak terlalu keberatan. Dan lebih aneh lagi, ketika Naruto mengeluarkan perkataan yang biasanya pasti akan memancing emosinya.
"Biarkan sajalah, Sakura," katanya sambil mengibaskan tangannya, melirik kesal pada Sasuke. "Dia kan memang tidak bisa kalau tidak ngomong dengan nada dingin seperti itu."
Oh, well. Sasuke selalu benci kalau ada orang yang berkata benar tentang dirinya. Dan apa yang dikatakan Naruto barusan memang benar. Tapi mengapa, ia membatin bingung. Mengapa kali ini ia tidak merasa keberatan? Alih-alih merasa begitu, Sasuke justru merasa... er... senang? Riang? Entahlah... Cowok itu berpaling untuk menutupi ekspresi bingung di wajahnya.
Damn!
"Oh, jadi begitu bicaramu setelah aku membantumu latihan, eh?" kata Sasuke beberapa saat kemudian setelah berhasil menguasai diri.
"Habis kau ngomongnya kasar sih!" timpal Sakura sambil menjulurkan lidah mengejek padanya.
"Dan latihan yang kau berikan kurasa tidak banyak berbeda dengan yang diprogramkan Pak Maito," kata Naruto.
Sasuke mendelik padanya. "Itu karena kau belum menerapkannya di latihan sebenarnya. Latihan yang sebenarnya adalah dengan tim-mu secara utuh. Karena intinya adalah kerjasama tim. Semua taktik yang telah kutunjukkan padamu tidak akan ada gunanya kalau mainmu tetap individualis. Itulah yang membuatmu tidak diterima dalam tim inti, betapapun hebatnya kau bermain."
Naruto terdiam. Yang dikatakan Sasuke memang benar, pikirnya. Ia memang selalu kesulitan untuk bekerjasama dengan yang lain. Pinginnya selalu menjadi yang terhebat sendirian. Kalau saja waktu itu ia bisa bekerjasama dengan yang lain, seperti halnya Sumaru yang piawai memberi umpan pada pemain lain dan pandai membuka celah bagi rekannya untuk menyerang. Kalau saja...
"Hei, jangan lesu begitu," ucapan Sakura kemudian membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapati gadis bermata hijau itu tengah tersenyum padanya. "Kau pasti bisa kok, Naruto!" ucap gadis itu menyemangati.
Naruto membalas senyumnya, lalu mengangguk mantap. Ya! Aku pasti bisa! Tiba-tiba saja semangatnya terangkat lagi.
"Yeah. Awas saja kalau kau sampai kalah nanti!" kata Sasuke.
Dahi Naruto berkerut mendengar ini. "Memangnya kenapa, eh?"
"Itu artinya kau membuatku menghabiskan waktu sia-sia melatihmu. Dan kalau itu sampai terjadi, aku bersumpah akan menendang bokong besarmu!"
"Eh, ngancem?" Naruto menukas sebal.
Sakura mengibaskan tangannya dengan sikap tak sabar. "Sudahlah, Naruto... Kan barusan kau bilang orang ini memang tidak bisa bicara tanpa nada dingin," ujarnya sambil mengedikkan kepala ke arah Sasuke. "Kau juga, Sasuke," gadis itu menyikut lengan Sasuke, menyeringai kecil padanya, "kalau mau mendukung Naruto, ngomongnya jangan kasar begitu dong. Naruto kan tidak mengerti."
"Apanya yang tidak mengerti?" sambar Naruto bingung. Cowok itu memandang Sakura dan Sasuke dengan dahi berkerut.
Sakura tertawa, lalu mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Naruto. Sementara itu, Sasuke kembali membuang muka. Bibirnya berkedut menahan senyum.
Lama ketiganya duduk di sana sambil menatap awan yang berarak di atas mereka, meresapi perasaan nyaman aneh yang melingkupi hati mereka saat itu. Sebelum akhirnya Sasuke memecah keheningan.
"Sebaiknya kita sudahi latihan hari ini," katanya sambil berdiri, melempar botol kosongnya ke tempat sampah. "Sudah hampir sore."
"Sudah hampir sore? Wah, pantas saja rasanya aku lapar sekali. Kita melewatkan makan siang!" keluh Naruto seraya mengelus-elus perutnya yang berkeriuk keras.
Sakura ikut berdiri. "Bagaimana kalau kita ke restoranku?" usulnya sambil tersenyum. "Aku yang traktir!"
"Wah, asyik!" seru Naruto yang selalu semangat mendengar kata 'traktir'. "Tapi apa restoranmu menerima pelanggan yang berkeringat dan er..." ia mengangkat lengannya, mengendus, "Bau?"
Tawa renyah meluncur lagi dari bibir Sakura. Gadis itu mengibas-ibaskan tangan di depan hidungnya. "Eew..." ia terkekeh. "Tapi tenang saja, restoranku menerima pelanggan manapun tanpa pandang bau. Ayo Naruto, Sasuke!"
Gadis itu berjalan meninggalkan lapangan. Naruto menyambar jaket dan bolanya, kemudian menyusulnya. Sasuke di belakang mereka, mengikuti dengan kedua tangan terbenam dalam saku training-nya.
"Hei, hei, Sakura," kata Naruto dengan suara pelan pada Sakura. "Apa benar bokongku besar?"
Untuk kesekian kalinya hari itu, Sakura tertawa lepas.
---
TBC...
---
Aaaah... aku gak ngerti sepak bola. Toloooong!! –ditakol- Aduh, aku ngerasa chap ini aneh banget deh. –getok-getok 'pala sendiri- Apa kalian merasakan hal yang sama? Kamsud-ku, agak aneh dan maksa gitu.
Oia, aku sengaja update cepat. Mumpung lagi liburan dan bisa pake inet di rumah. Hehe. Sekalian menghabiskan L'aPT 10 chapter kedua yang mendekati akhir, juga karena chapter ini dan chapter depan timeline-nya masih sama, masih satu hari itu juga. –kebiasaan bikin alur superlambat bak siput kejepit- Juga masih berkutat dengan perkembangan karakter Sasuke.
Chika : Sai-nya tungguin aja ya, say. –ditakol krn SKSD- btw, makasih masukaannya yah. Mudah-mudahan chapter depan lebih oke deh.
Dillia : Dillia-chaaaaan... ya ampun ya ampun ya ampun... –lebay ah- Makasih banget udah mereview satu-satu. Jadi gak enak krn ngerasa belum pernah mereview fic-mu satu pun. Tapi percayalah, aku baca kok. –peluk-peluk-
Kakkoi-chan : Kalo rencana sampe bab berapa tamat-nya, aku sendiri juga belum tahu tuh. Tapi sejauh ini aku sedang menulis 10 chapter ketiga. Mudah-mudahan gak bosan yah. Tenang aja, Hinata pasti akan muncul lagi. Dan yah... sejauh ini kan Naruto masih ada 'rasa' sama Sakura. Tunggu aja perjalanan cinta mereka seperti apa nantinya! –halah!-
KusH1naHeRoine : Wah, masa sih? –blushing- Makasih sudah mengikuti dari awal.
Mayu : Makasih.. -bowed- memang akan panjang. Mudah-mudahan tidak bosan membaca...
