Minna-sama... Happy Iedul Adha 1429 H!!! Gimana kurban-nya?
Chapter 19
Blossoms' Café sedang ramai ketika ketiga remaja itu tiba di sana. Padahal saat itu waktu makan siang sudah lewat dan belum memasuki waktu makan malam. Sepertinya itu berkat ide brilian Yamato yang mengusulkan membuat menú ringan untuk menemani minum teh. Plus, kue-kue lezat buatannya benar-benar pas bila dipadukan dengan minuman racikan Ayame. Dalam waktu singkat, menú istimewa baru mereka menjadi primadona untuk menghabiskan waktu sore.
Tapi bukan itu yang membawa Sakura dan kedua temannya datang ke sana. Melainkan perut yang sudah menjerit minta diisi, dan sepertinya menu ringan tidak cukup untuk memuaskan rasa lapar mereka.
"Hari ini aku datang sebagai pengunjung ya!" seru Sakura pada Kotetsu ketika pria muda itu membukakan pintu bagi mereka.
Kotetsu memandangnya dengan bingung sejenak sebelum matanya beralih pada dua orang cowok di belakangnya. Mengangguk paham, ia berkata dengan lagak formal, "Oh, baiklah. Bagaimana kalau bangku di ujung sana, Nona Haruno?" Ia menunjuk bangku kosong di dekat panggung kecil di ujung ruangan.
"Tempat favoritku," kata Sakura sambil terkikik. Kemudian ia mengikuti Kotetsu menuju meja yang ditunjuknya tadi. Naruto dan Sasuke mengikuti di belakangnya.
Sepertinya ketiga remaja itu sedang kalap—atau kelaparan? Atau memanfaatkan situasi karena tawaran traktir dari Sakura?—karena saat berikutnya mereka sudah memesan banyak sekali makanan. Bahkan Sasuke, yang biasanya selalu menjaga image-nya sebagai cowok cool, memesan lebih dari satu jenis makanan, tentu saja kesemuanya mengandung tomat.
"Tidak pakai kopi asin, ya," katanya seraya mengembalikan buku menunya pada Kotetsu. Entah bagaimana caranya Sasuke bisa tahu kalau biang keladi di balik insiden kopi asin waktu itu adalah Kotetsu. Sakura mengikik lagi sementara Kotetsu nyengir salah tingkah.
"Kopi asin?" tanya Naruto bingung pada kedua temannya setelah Kotetsu pergi. Sasuke mengacuhkannya. Sakura tertawa lagi, sebelum kemudian menceritakan insiden menggelikan yang pernah terjadi beberapa minggu yang lalu di restoran itu. Naruto meledak tertawa, membuat banyak kepala menoleh ke arah bangku tempat ketiga remaja itu duduk.
Setelah kenyang makan dan minum, obrolan ringan mulai mengalir di meja mereka. Meskipun sebenarnya obrolan hanya antara Sakura dan Naruto—yang memang lebih banyak bicara—sementara Sasuke hanya mendengarkan. Sesekali ikut bicara kalau ditanya. Itu pun tidak lebih dari dua kalimat pendek. Lebih banyak ber-hn-ria.
Duduk santai bersama Naruto dan Sakura sambil mengobrol seperti itu, sungguh membuat Sasuke merasa agak aneh. Ia tidak terbiasa dengan situasi penuh keakraban seperti ini selain dengan kakak dan ibunya juga Hinata. Tapi sungguh, ia senang ketika mengetahui dirinya ikut terlibat di dalamnya—atau setidaknya, Sakura dan Naruto yang mencoba menariknya untuk terlibat. Meskipun ia masih merasa canggung, tapi ia tidak menampik bahwa ia merasakan sedikit kehangatan dalam hatinya, ia merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Bahkan ia tidak bisa menahan senyum tipis yang mengembang di bibirnya ketika Naruto menceritakan lelucon tentang rubah kebanyakan ekor pada mereka.
"Hei, Sakura," kata Naruto beberapa saat kemudian sambil menyeka air mata tawa diri sudut mata birunya. Ia mengerling panggung mini di dekat bangku mereka. "Panggung itu sebenarnya untuk apa sih?" tanyanya penasaran. "Pakai ada mike dan alat musik segala, tapi aku belum pernah melihat ada band yang manggung di sini."
Sakura mengambil waktu menyeruput cappuccino hangat-nya sebelum menjawab, "Oh, itu milik ayahku. Hobinya memang main musik dan biasanya kalau ayahku pulang, dia akan mengadakan semacam konser kecil-kecilan. Tapi berhubung ayahku sering bepergian, jadi alat-alat itu lebih banyak berfungsi sebagai pajangan saja."
"Oh, ayahmu bernyanyi juga?" tanya Naruto, tampak tertarik.
"Yeah. Ayahku senang bernyanyi sambil bermainkan gitar kesayangannya. Kadang-kadang kalau temannya ikut datang, mereka ngeband kecil-kecilan. Waktu muda dulu, sebelum jadi pilot, ayahku kan pemain band," tutur Sakura sambil tersenyum memandangi peralatan band milik sang ayah.
"Aku juga main musik!" ujar Naruto sambil menepuk dadanya. Lalu ia menoleh pada Sasuke yang duduk di sebelahnya. "Apa kau juga main musik, Sasuke?"
Tapi sebelum Sasuke sempat membuka mulutnya untuk menjawab, seruan Izumo membuat perhatian mereka teralih.
"Nyonya Haruno, Sakura! Coba lihat siapa yang datang!" Izumo menunjuk ke arah lapangan parkir di luar, di mana sebuah taksi baru saja berhenti dan sesosok pria jangkung tegap mengenakan seragam pilot muncul dari dalamnya.
Sakura melompat dari kursinya dan memekik kegirangan, "AYAH! Ibu, itu ayah!" serunya pada Azami yang juga memekik senang dari balik konter.
Mengabaikan tatapan orang-orang di sana—termasuk Naruto dan Sasuke—kedua wanita itu berlari keluar restoran untuk menyambut kedatangan sang kepala keluarga.
Hiroyuki Haruno tersenyum lebar sambil melepas kacamata hitamnya, lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar sebelum Sakura masuk ke dalam pelukannya.
"Ayah! Ayah! Ayah! Kenapa tidak memberitahu kalau akan pulang hari ini? Jahat..." ucap Sakura setengah terisak saking senangnya. Suaranya sedikit teredam sementara ia memeluk ayahnya erat-erat.
"Ayah bermaksud memberimu kejutan, Sayang," ucap Hiroyuki seraya menepuk-nepuk punggung Sakura lembut, lalu mengecup puncak kepala putrinya itu penuh sayang.
"Kalau begitu ayah berhasil," Sakura melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar, "aku terkejut sekali."
Kini giliran Azami, sang istri, yang ganti memeluknya. "Apa kabar, Sayang?" tanya wanita itu sementara suaminya mencium keningnya dengan lembut, lalu kedua pipi dan sebuah kecupan singkat di bibir.
"Tidak pernah lebih baik dari sekarang, dear," jawabnya cerah. Lalu ia kembali menarik Sakura ke dalam rangkulannya sehingga sang putri juga istrinya berada dalam naungan lengan kuatnya yang hangat dan penuh perlindungan. "Dan kulihat kalian juga sangat sehat."
Sakura dan ibunya tersenyum ketika Hiroyuki menggiring keduanya kembali ke restoran. "Sengaja tidak langsung pulang ke rumah. Hari Minggu begini pastilah kalian berdua ada di restoran," ujar Hiroyuki, lalu ia berkata pada Izumo yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, "Ah, Izumo, tolong bawakan koperku ke dalam, ya."
"Baik, Tuan Haruno," sahut Izumo. Ia melebarkan pintu ketika keluarga kecil itu melewatinya, lalu bergegas menuju taksi untuk membantu sang supir mengeluarkan koper dan membawanya ke dalam.
Restoran mendadak ramai. Tuan Haruno dengan hangat menyapa para pengunjung restoran mereka yang ia kenal baik. Ayah Sakura memang dikenal sangat supel dan senang bergaul dengan siapapun. Hampir semua orang di Konoha mengenalnya, bahkan kalau kau bertanya pada Gubernur Sarutobi, beliau pasti akan langsung mengenalinya sebagai pilot ramah yang memiliki restoran mungil di pinggiran Konoha, yang dulunya adalah mantan pemain band yang cukup beken di eranya. Paman Teuchi, Yamato, Iwashi dan beberapa pekerja paruh waktu yang membantu di dapur, juga turut keluar kandang untuk menyambutnya.
"Apa kabar, Tuan Haruno?" sapa Yamato sambil menyalami pria itu, tersenyum.
Hiroyuki mengibaskan tangannya yang tidak dijabat Yamato. "Berapa kali harus kubilang padamu untuk memanggilku 'Paman Hiro' saja, Nak?" katanya sambil tertawa. "Kudengar dari istriku, kau baru saja mengeluarkan menu baru, Yamato?"
"Dia koki terhebat di Konoha, Yah!" seru Sakura promosi. "Kau harus mencicipi ayam panggang buatannya!"
Wajah Yamato sedikit merona dan ia menggaruk belakang kepalanya dengan senyum canggung. "Ah, Sakura terlalu melebih-lebihkan. Masakanku biasa saja," ujarnya merendah.
"Bagaimana kalau kau buktikan saja dengan membuat satu untuk Paman Hiro, Yamato?" usul Azami yang langsung diangguki suaminya.
"Yeah yeah..." kata Hiroyuki sambil mengangguk. "Kebetulan sekali aku memang belum makan sejak siang. Buatkan satu untukku, ya!"
"Baik, Paman! Ayam panggang istimewa segera datang!" sahut Yamato cerah dan saat berikutnya ia sudah bergegas menuju dapur bersama yang lain untuk membuatkan menu spesial untuk tamu istimewa mereka.
"Paman Haruno?" suara Naruto terdengar menyapanya. Hiroyuki menoleh dan membalas senyum Naruto.
"Ah! Kau, Naruto Uzumaki?" tanyanya sambil tertawa-tawa. Ia mengulurkan tangan menjabat tangan Naruto yang tampak agak canggung. "Wah wah wah... aku pangling, Nak! Kau tambah jangkung saja sekarang, eh? Bagaimana kabar ayahmu? Dia masih mengajar?"
"Pap baik. Ya, dia masih mengajar," jawab Naruto dengan cengiran khasnya. Kecanggungannya dengan cepat menguap melihat sikap ayah Sakura yang begitu hangat padanya.
Kemudian, Hiroyuki menoleh pada putrinya sambil tersenyum, "Nah, Sakura, apa ini yang kudengar dari ibumu? Katanya kau sedang dihukum Kakashi, eh?"
Wajah Sakura langsung memerah dan ia cemberut pada ibunya. "Ibu cerita-cerita soal itu pada ayah juga?" gadis itu memprotes.
Azami terkekeh lembut ketika suaminya merangkul bahunya lagi. "Ibu tidak biasa menutupi sesuatu dari ayahmu, Sayang," ujarnya sambil melirik suaminya.
"Ya sudah, sudah…" sela Hiroyuki sebelum Sakura membuka mulutnya untuk memprotes lagi. "Dihukum juga tidak apa-apa. Yang penting kau masih bisa belajar dengan baik kan, Sakura? Dan yang lebih penting lagi, kau bisa belajar bergaul lebih luas lagi. Bukan begitu, Naruto?" ia menanyai Naruto.
Cowok itu agak terkejut tiba-tiba ditanya, tapi ia tetap menjawab mantap, "Tentu saja, Paman!"
"Kalau begitu, di mana pemuda yang satu lagi?" tanya Hiroyuki sambil mengedarkan pandangannya dengan penuh ingin tahu ke sekeliling restoran itu.
"Oh, dia duduk di sana, Paman," kata Naruto, menunjuk salah satu bangku di ujung ruangan dekat panggung. Di tempat Sasuke sedang duduk mengawasi mereka dari kejauhan. Sasuke buru-buru mengalihkan pandangannya ketika ayah Sakura melihat ke arahnya.
"Ah, bangku favoritku!" kekeh ayah Sakura. "Bagaimana kalau aku bergabung bersama kalian. Kalian tidak keberatan kan, Naruto, Sakura?" tanyanya.
Naruto dan Sakura bertukar pandang, ragu apakah Sasuke akan menyukai ide ini, mengingat sikap cowok itu yang agak sulit menerima orang baru dan kecenderungannya untuk bersikap dingin dan menolak. Di satu sisi Sakura takut sikap Sasuke yang seperti itu akan menyinggung ayahnya, tapi di sisi lain, ia benar-benar tidak bisa menolak permintaan sang ayah, karena saat berikutnya pria ramah itu sudah berjalan menuju bangku tempat Sasuke sedang duduk.
Sakura buru-buru barjalan cepat menyusul ayahnya dan mencapai tempat Sasuke terlebih dahulu. "Sasuke, please bersikaplah ramah pada ayahku!" desisnya pada cowok itu sebelum akhirnya ayahnya mencapai bangku mereka. Gadis itu menegakkan tubuh, tersenyum pada ayahnya. "Ayah, ini Sasuke Uchiha. Sasuke, ini ayahku," Sakura memperkenalkan mereka. Dengan gugup, gadis itu menyilangkan jarinya di belakang punggungnya, berharap kali ini Sasuke mau mengikuti permintaannya.
Sasuke terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan pada ayah Sakura. "Selamat sore, Paman Haruno. Nama saya Sasuke Uchiha, teman Sakura di sekolah," ucapnya sambil tersenyum sopan.
Sasuke tersenyum! Ini membuat Sakura lega bukan kepalang. Gadis itu menghembuskan napas lega sementara Naruto melempar senyum setuju pada Sasuke dari belakang ayah Sakura.
"Ah, Uchiha ya?" Hiroyuki tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat, "Apa kau masih berkerabat dengan pemuda yang tinggal beberapa blok dari sini, yang di Crimson Drive? Dia juga Uchiha, kan? Siapa namanya?" ia menoleh pada istrinya, "Hitachi?"
"Itachi," Azami membetulkan suaminya.
"Oh, ya benar, Itachi!"
"Itachi Uchiha itu kakak saya," terang Sasuke, mengangguk.
Hiroyuki mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tertawa, "Ah, kebetulan sekali. Aku sangat menyukai kakakmu itu. Anak muda yang agak pendiam, tapi menyenangkan."
Pendiam? Sepertinya Sasuke tidak sependapat dengan ayah Sakura dalam hal ini, tapi ia tetap membalas senyum pria itu dengan agak canggung.
Saat berikutnya mereka sudah menarik kursi tambahan bagi kedua orang tua Sakura dan mereka mulai mengobrol lagi selagi menunggu pesanan datang. Kali ini, Naruto-lah yang lebih banyak bicara, sesekali ditimpali Sakura, lalu mereka tertawa bersama. Diam-diam, Sasuke terkesan melihat betapa Naruto cepat sekali akrab dengan orang lain, kemampuan bersosialisasi yang tidak pernah ia miliki. Sasuke juga terkesan melihat keakraban dan kehangatan di keluarga Sakura. Melihat hubungan Sakura dengan ayahnya yang begitu dekat membuatnya sedikit tersentil. Ia sendiri tidak pernah sedekat dengan ayahnya. Meskipun mereka tinggal di bawah satu atap, tapi bagi Sasuke, ayahnya terasa begitu jauh, tak terjangkau olehnya.
Ayah. Betapa ingatan tentang beliau sangat menyakitkan bagi Sasuke. Ia tidak ingat kapan terakhir kalinya ia tertawa bersama ayahnya seperti yang kini dilakukan Sakura bersama ayahnya. Saling bicara pun sangat jarang, dan hal terakhir yang diingatnya adalah ketika sang ayah meneriakinya sebagai anak tidak tahu diri. Padahal saat itu ia hanya ingin menarik perhatian sang ayah yang nyaris tidak pernah memperhatikannya. Hanya saja cara Sasuke untuk menarik perhatian ayahnya yang mungkin salah—tentu saja salah kalau ia memutuskan kalau dengan membolos, membuat keributan dengan berkelahi, menentang semua aturan yang dibuat ayahnya untuknya dan minggat dari rumah akan membuat sang ayah memperhatikannya.
Sebuah tepukan lembut di bahunya, membuat Sasuke tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan matanya langsung bertatapan dengan mata cokelat muda milik Hiroyuki Haruno yang memancarkan kekhawatiran.
"Kau ada masalah, Nak?" pria itu bertanya lembut—dengan cara seperti yang seharusnya dilakukan seorang ayah terhadap putranya—"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu."
Sasuke tercengang beberapa saat. Ini benar-benar mengerikan. Seharusnya ayahnya lah yang bersikap seperti itu padanya, bukan ayah orang lain!
"Oh, tidak," jawab Sasuke cepat-cepat, "tidak ada apa-apa, Paman." Wajahnya sedikit memerah dan ia segera menutupinya dengan menyeruput sisa jus tomat dari gelasnya.
Langit di luar sudah mulai gelap setelah Hiroyuki Haruno menandaskan makanan di piringnya, dan sekarang obrolan yang sempat berhenti kembali berlanjut. Hiroyuki menyandarkan punggungnya dengan santai ke sandaran kursi dan memandang ke arah panggung dengan tatapan rindu.
"Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali berada di atas sana," desahnya.
"Panggung itu rasanya kosong kalau Ayah tidak ada," timpal Sakura, mengikuti arah pandang ayahnya, "paling-paling hanya Izumo dan Kotetsu yang kadang iseng memainkan salah satu alat musik kalau sedang tidak ada pengunjung."
"Hmm..." kepala Hiroyuki terangguk-angguk, "padahal bisa saja kau membuka lowongan pada band-band muda untuk manggung di sini, Azami," ujarnya pada sang istri yang tersenyum.
"Tapi panggung itu milikmu," katanya.
Hiroyuki tertawa renyah sambil mengibaskan sebelah tangannya. "Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan. Malah aku senang, karena dengan begitu akan membuka kesempatan bagi anak-anak muda untuk mengembangkan bakat mereka."
"Aku juga main musik," celetuk Naruto. Wajahnya sedikit merona saat ayah Sakura menoleh padanya dengan tatapan tertarik. "Er... kadang-kadang," ia buru-buru menambahkan.
"Kau ngeband, Nak?" pria itu bertanya.
"Yeah, tapi tidak begitu sering. Dan hanya sebagai additional player, kadang-kadang jadi backing vocal," ujar Naruto seraya menggaruk belakang kepalanya, nyengir salah tingkah.
"Naruto gabung dengan band-nya Ino, Yah," Sakura memberitahu ayahnya.
"Ah! InoShikaChou Jr, kan?" kata Hiroyuki sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Ayah-ayah mereka pemain band lokal yang terkenal sekali waktu aku masih muda," ia melirik Azami, "Kita dulu sering menonton mereka manggung kalau sedang kencan. Kau ingat, Azami?"
Istrinya tersenyum, "Tentu saja aku ingat. Heboh sekali..." tuturnya, mengenang masa muda mereka, "Terutama saat kau berkeras memakai topeng waktu nonton untuk menghindari para penggemar wanita-mu. Tapi pada akhirnya tetap saja ketahuan dan kau harus menarikku kabur."
Meja itu kembali riuh dengan gelak tawa—Sasuke hanya tersenyum simpul saja, terlalu canggung untuk ikut tergelak bersama yang lain.
"Bagaimana kalau kita memainkan beberapa buah lagu untuk para pengunjung?" usul Hiroyuki setelah tawa mereda sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju panggung. Pria itu mengambil satu dari beberapa gitar yang digantungkan di dinding.
"Itu ide yang bagus," kata Azami. Wanita itu tampak bersemangat akan melihat kembali permainan suaminya di atas panggung.
Hiroyuki menoleh pada Naruto. "Mau ikut, Naruto?"
"Tentu saja, Paman!" sahut Naruto langsung. Kapan lagi bisa main bareng mantan pemain band terkenal? Ia beranjak, menyusul ayah Sakura dan mengambil gitar yang disandarkan di drum. "Akustik saja ya, Paman. Aku tidak bisa main drum."
"Baiklah," sahut Hiroyuki. Lalu ia melirik Sasuke. "Mau bergabung juga, Sasuke?" tawarnya.
"Ah, tidak, Paman. Saya tidak main musik," tolak Sasuke halus.
"Sakura, mau jadi vocalist?" Hiroyuki menawari putrinya.
"Tidak ah, Yah. Aku mau mendengar suara Ayah saja," sahut Sakura seraya menopangkan dagunya dengan tangan, menonton sang ayah dan Naruto menyetel gitar mereka.
Para pengunjung lain juga sudah mulai berputar di kursi mereka untuk menonton. Izumo dan Kotetsu bergegas mengambilkan dua buah kursi tinggi bagi mereka sementara Hiroyuki menyetel mike-nya tidak terlalu keras di atas penyangga. Naruto duduk di kursi yang dibawakan untuknya, menyangga badan gitar pada pahanya, tampak agak gugup.
"Selamat malam," ucap Hiroyuki lewat mike-nya. Ia tersenyum dan melambai kecil ketika beberapa orang membalas sapaannya. "Aku harap kalian menikmati makanan dan minuman yang kami sediakan. Senang sekali rasanya aku bisa kembali lagi ke Konoha dan bertemu dengan lingkungan yang ramah ini." Terdengar sahutan dari sana sini, beberapa mengangkat gelas minuman mereka. "Untuk itu, aku ingin memberi kalian semua sedikit hiburan, sebelum menghadapi hari Senin esok yang pasti sibuk." Terdengar suara tawa dari rombongan bapak-bapak yang duduk tak jauh dari sana. Hiroyuki mengangguk sopan pada mereka. "Tapi sebelumnya, mari kuperkenalkan pemuda penuh semangat di samping saya ini. Sahabat baik putri saya tercinta, Naruto Uzumaki."
Naruto nyengir gugup ke arah para penonton, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Kemudian Hiroyuki mencondongkan tubuh ke arah Naruto, membisikkan sesuatu padanya, "Kau bisa memainkan 'Have You Really Love A Woman'-nya Bryan Adams, Nak?"
Naruto tersenyum, lalu mengangguk. "Lagu favorit Pap. Kami sering berduet lagu itu."
Hiroyuki mengangguk, "Kita mainkan itu, ya," ujarnya pelan sebelum beralih lagi pada penonton. "Baiklah, untuk lagu pertama, aku persembahkan untuk wanita cantik yang duduk di sana," ia menujuk istrinya yang bersemu merah. "Terimakasih sudah mendampingiku selama hampir 25 tahun ini, Sayang. I love you." Ia mengedip pada sang istri.
Beberapa penonton yang lebih muda bersorak sambil bersuit-suit. Sakura terkikik melihat tingkah ayahnya yang seperti anak muda yang sedang kasmaran, sementara ibunya tersenyum malu-malu seperti anak gadis.
"Siap?"
Naruto mengangguk mantap. Hiroyuki memberi aba-aba pada Naruto sebelum ia mulai memainkan nada pembuka dengan gitarnya dan para pengunjung mulai bertepuk.
"/To really love a woman/To understand her/You gotta know it deep inside/Hear every thought, see every dream/N' give her wings when she want's to fly/Then when you find yourself lyin' helpless in her arms/You know you really love a woman/" Hiroyuki menyanyikan bait pertama dengan suaranya yang merdu.
Lalu Naruto mengikutinya dengan memainkan rhythm, mengiringi nyanyian Hiroyuki di bagian refrain.
"/When you love a woman you tell her that she's really wanted/"
Awalnya suaranya terdengar pelan dan ragu, tapi akhirnya Naruto memberanikan diri menaikkan suaranya, bernyanyi mengiringi suara ayah Sakura. Suaranya yang jernih dan tinggi berpadu dengan harmonis dengan suara serak-serak basah Hiroyuki. Pria itu tersenyum setuju padanya dan Naruto semakin semangat.
"/When you love a woman tell her that she's the one/She needs somebody to tell her/That it's gonna last forever/So tell me have you ever really/Really really ever loved a woman?/"
Sakura bertepuk lagi untuk kedua laki-laki di atas panggung bersama dengan yang lain sambil bersuit pelan. Gadis itu memandang kagum pada mereka, lalu menoleh pada Sasuke di depannya. "Aku tidak tahu suara Naruto bagus begitu," ujarnya setengah berbisik.
"Hn," Sasuke menanggapi singkat. Sebenarnya ia bukan penyuka musik, tapi ia bisa menikmati musik yang dimainkan Naruto dan ayah Sakura. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai pelan di bawah meja seiring dengan irama petikan gitar ketika ayah Sakura menyanyikan bait berikutnya secara solo.
"Ino pernah memberitahuku kalau Naruto pernah sekali menjadi lead vocal ketika dia sedang pilek. Tapi dia tidak memberitahuku kalau Naruto bisa bernyanyi sebagus ini," kata Sakura lagi.
"Yeah," sahut Sasuke sekenanya. Ia tidak tahu siapa itu Ino dan tidak pernah mendengar tentang band lokal Konoha manapun. Jawabannya tadi hanya karena ia tidak begitu memperhatikan pertanyaan Sakura, terlalu menikmati lagu yang dimainkan dua orang di atas panggung itu.
Sakura sendiri tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia sudah merindukan saat-saat seperti ini, saat ayahnya kembali lagi meramaikan BloCaf dengan suaranya yang merdu. Ia sudah tidak heran lagi mengapa dulu ibunya bisa jatuh hati pada ayahnya. Pria itu begitu sempurna—setidaknya itu di mata Sakura dan ibunya—meskipun sekarang garis wajahnya yang diwariskan pada sang putri sudah dihiasi kerut tipis dan rambutnya yang dulu berwarna cokelat keemasan kini sudah mulai ditumbuhi uban di sana sini.
Sakura menatap ayahnya dengan rasa sayang yang membuncah di dadanya. Seingatnya pria itu nyaris tidak pernah terlihat sedih, dan ia juga hampir tidak pernah marah. Sekali Sakura pernah melihat ayahnya begitu sedih dan putus asa; saat Himeko Haruno, putri sulungnya yang juga kakak perempuan Sakura pergi. Betapa menyakitkannya saat itu dan Sakura tidak ingin melihat wajah ayahnya yang seperti itu lagi. Maka gadis itu bertekad tidak akan membuat ayahnya bersedih, melakukan apapun untuk membuat ia bangga. Seperti yang dipesankan sang kakak padanya.
"/Just tell me have you ever really/Really really ever loved a woman?/" Hiroyuki menyelesaikan lirik terakhirnya dengan nada lembut sebelum kemudian mengakhirinya dengan petikan nada penutup.
Para pengunjung bertepuk riuh dan bersuit.
Hiroyuki dan Naruto memainkan dua buah lagu lagi sebelum mereka turun dari panggung. Wajah Naruto berkilau karena keringat tapi ia tampak sangat puas, begitu juga dengan ayah Sakura.
"Kau hebat, Nak!" puji Hiroyuki sambil menepuk bahu Naruto yang tak hentinya nyengir.
"Paman juga," balas Naruto, "Suara Paman bagus sekali."
Naruto kembali ke bangkunya semula bersama Sakura dan Sasuke sementara Hiroyuki menuju bar menyusul istrinya yang sedang membuatkan kopi untuknya. Naruto menyambar gelas limunnya dan menenggak sisanya sampai tandas, lalu menyeka bibirnya dengan lengan jaket.
"Aku tak tahu kau bisa nyanyi, Naruto!" seru Sakura kagum. Naruto membusungkan dadanya dengan bangga sambil nyengir lebar pada gadis itu. Kemudian Sakura melirik Sasuke yang duduk di sebelahnya, memandang ke luar jendela. "Kau juga sudah membuat Sasuke terkagum-kagum tadi. Ya kan, Sasuke?" ia menyenggol lengan cowok itu.
Sasuke yang sepertinya sejak tadi melamunkan sesuatu, agak tersentak ketika Sakura menyenggol lengannya. Ia menoleh dan mengangkat alisnya. "Apa?"
"Yeah, saking kagumnya dia sampai bengong begitu deh," kekeh Naruto sambil menggelengkan kepala.
Sasuke mendengus pelan dan menatap Naruto dengan tatapan dingin seperti biasa. "Aku? Kagum padamu? Ha ha. Lucu sekali leluconmu," desisnya. Padahal sejujurnya ia memang sedikit terkesan oleh kemampuan bermusik Naruto. Tapi mana mungkin ia mengakuinya kan? Apalagi di depan Naruto.
Sakura memutar matanya melihat kedua temannya mulai adu pelotot lagi. Dasar!
Beberapa menit kemudian, Sasuke memalingkan wajahnya sambil mendengus. Memperpanjang adu urat dengan Naruto tidak akan ada habisnya. Lalu ia mengerling arloji di pergelangan tangannya. "Sudah malam. Sebaiknya aku pulang," katanya sambil berdiri.
Naruto ikut melihat ke jam tangan sport-nya. "Oh, yeah. Aku tidak bilang Pap akan pulang setelah gelap. Mana aku tidak bawa ponsel lagi!" Ia lalu beranjak, tidak lupa memungut bola sepaknya yang tadi ditaruhnya di bawah kursi.
"Kalau begitu jangan buat dia khawatir," kata Sakura, ikut berdiri. "Yuk, sebaiknya kalian pamit pada orang tuaku dulu."
"Yeah," sahut Naruto sementara Sasuke hanya menggumamkan persetujuan.
"Oh, kalian sudah mau pulang?" tanya Hiroyuki ketika ketiga remaja itu menghampirinya di bar. Tangannya memegang secangkir kopi yang mengepul dan menguarkan bau harum yang khas. "Tunggulah sebentar lagi, akan kuantar kalian."
Mendengar perkataan suaminya, Azami bergegas merogoh ke dalam tasnya yang diletakkan di bawah meja konter untuk mengambil kunci wagon-nya.
"Ah, tidak usah, Paman. Tidak perlu repot-repot. Lagipula rumah saya dekat sini," kata Sasuke buru-buru, merasa tidak enak. Sudah ditraktir Sakura, diantar oleh ayahnya pula.
"Yeah. Paman kan juga baru pulang, pasti lelah. Kami tidak apa-apa kok," Naruto menimpali.
Hiroyuki menatap kedua teman putrinya itu sambil tersenyum. "Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hatilah. Salam untuk keluarga kalian di rumah."
Dan setelah menemani Sasuke dan Naruto berpamitan pada kedua orang tuanya, Sakura lantas mengantar mereka sampai ke halaman parkir. "Sampai ketemu besok di sekolah," ucapnya sambil tersenyum.
"Sampai ketemu besok, Sakura!" balas Naruto. "Terimakasih sudah mentraktir! Lain kali aku akan ganti mentraktirmu deh!"
"Hn," Sasuke membenamkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan berjalan menjauh. "Terimakasih," ia bergumam pelan, yang tentu saja tidak didengar Sakura maupun Naruto.
Sakura kembali masuk ke dalam restoran ketika kedua cowok itu berpisah jalan. Sasuke berbelok ke jalan menuju kawasan Crimson Drive sementara Naruto berlari-lari kecil menuju halte bus tak jauh dari sana. Ia harus naik bus sebentar ke arah kota untuk mencapai Fox Street.
---
TBC...
---
Disclaimer : 'Have You Really Love A Woman' © Bryan Adams. Suka banget sama lagu ini euy… ada yang tahu?
---
Ini update-an terakhir sebelum kembali ke kampus lagi. Gak tahu chapter selanjutnya bakal di-update. Gomen ne… lagi banyak banget tugas dan ujian. Tapi mudah-mudahan ada waktu luang nanti.
Mau ngobrol dikit ah~ soal ponsel, aku selalu memilih menggunakan kata 'ponsel' dalam setiap ceritaku dari pada 'hp'. Kenapa? Soalnya telepon genggam kan telepon selular, disingkat ponsel. Di film-film barat juga dibilangnya 'cellphone' bukan 'handphone'. Gitu… -ah, gak penting!-
Dilia-chan : Wah, syukurlah kalau ada yang suka humor ringan yang aku selipkan di akhir itu. Soalnya tadinya scene itu gak ada. Ah~ aku juga suka banget scene-scene friendship seperti itu. Thanks, ya, dear…
Hayouky-chan : Makasih… soal scene romance SasuSaku…er… untuk sekarang, mungkin scene friendship dulu kali yah. Belum benar-benar menyentuh area romance soalnya.
Chika : Suka ItaSaku? Sama dong… -ditampol- Wah, sepertinya dirimu teliti sekali menganalisis emosi setiap tokohnya, ya? Gimana dong, ini kan fic full of OoCness… XD
Eceu Blacklicious : Eceuuuuu!!!! –lari-lari lebay, peluk-peluk- Ah, kupikir dirimu sedang sibuk banget, jadi gak promosi. Bisi ganggu. Hehe.. Haduh, sampe ngebut gitu bacana. Tararengkyu ya, ceu. –blushing… blushing… blushing… berasep-
PinkBlue Moonlight : Setuju! Kakak kita-kita satu itu emang keren bgt dah! Hihi..
Mayu : Thanks. Doakan supaya gak jadi membosankan yah…
Kakkoii-chan : Beneran bikin penasaran? Masa sih? –takjub sendiri- Aku udah main ke fic-mu kok. Yang Saku jd guru tea kan? Tapi belum review euy. Suka bingung kalo mau review. –ditakol-
KushinaHeroine (gitu aja yah, nulisna. Susah soalna) : Waduh, awal review apa itu artinya? Maap, gak bisa jepangan –ditimpuks- Konflik terberat? Pairing? Uwaaa… itu mah spoiler dunks. Liat aja tar yah..
Heri : Iya juga ya, teamwork. Tapi kan Sasu gak ikut tim, cuma ngelatih doang dia… Tapi makasih sarannya! –bowed-
Buat Antlia, Catt-chan, Ambudaff (Ambu!!! Gimana kurban di Mekkah? Pingiiiiiin~), kangen sama review kaliaaan… Yang lainnya juga… -ditakol, ditimpuks, dianiaya- Makasih banyak banyak banget buat yang udah mengikuti sampai sejauh ini. Sangat berarti buatku..
Ja…
