Sejauh ini, chapter inilah yang paling panjang. 4.731 kata belum termasuk author's note. Chapter pelampiasan stress pengajuan proposal dan ujian praktikum! Mudah-mudahan tidak bosan, ya… Waning OoC dan gaje dan aneh masih berlaku. Enjoy ur reading!


Chapter 20

Hari senin siangnya setelah sekolah usai, seperti biasa Naruto menuju lapangan untuk kembali ikut latihan bersama timnya. Siap menerapkan strategi dan taktik yang telah ia diskusikan bersama Sasuke beberapa hari sebelumnya. Hanya saja kali ini mereka tidak didampingi Pak Maito karena beliau sedang pergi ke Ame untuk menjenguk kontingen Konoha yang sedang berlaga di sana.

Dan Sakura dan Sasuke seperti biasa menempatkan diri mereka di bangku penonton, dan Sakura mulai mengeluarkan bukunya untuk mengantisipasi rasa bosan—mengingat gadis itu tidak begitu senang bola. Tapi sebaliknya dengan Sasuke. Cowok dingin itu tidak mengeluarkan buku kecil-bersampul-putih-polos-nya seperti yang biasa dilakukannya, melainkan memacangkan matanya, mengawasi latihan anak-anak klub sepak bola.

"Awas saja kalau masih tidak ada kemajuan," Sasuke menggumam dengan suara rendah. Tangannya yang saling mengatup diletakkan di depan bibirnya sementara matanya memicing mengikuti gerakan Naruto dan kawan-kawannya di lapangan.

Sakura mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya dan menoleh pada Sasuke. Alisnya bertaut. "Memangnya kenapa?" tanyanya keheranan.

"Karena kalau begitu aku sudah membuang-buang waktuku percuma," kata Sasuke tanpa memandang gadis di sebelahnya.

Sakura tertawa kecil. "Kau memang keras, seperti kata kakakmu," komentarnya sebelum kembali menatap deretan huruf di halaman yang tengah ditekuninya beberapa saat yang lalu.

Sasuke akhirnya mengalihkan perhatian dari lapangan dan menatap Sakura dengan dahi berkerut. "Apapun yang kau dengar dari kakakku, jangan percaya. Itu tidak benar," tukasnya. Ia pastilah membayangkan Itachi sudah bicara yang tidak-tidak tentangnya hari sebelumnya.

Sakura meledak tertawa. "Oh, yeah? Kalau begitu kata-kata kakakmu yang menyebutkan kalau kau sebenarnya orang baik itu tidak benar ya?" tanyanya meledek. "Kalau begitu yang benar apa dong? Oh, aku tahu! Ternyata Sasuke Uchiha yang jenius ini ternyata anggota komplotan kriminal kelas berat! Omong-omong, kau sudah pernah masuk penjara berapa kali?" gadis itu tertawa-tawa.

Sasuke memalingkan wajahnya lagi, merasa sebal sekaligus malu. "Diam kau!" gerutunya. Wajahnya memerah seiring dengan bertambah kerasnya tawa Sakura.

"Makanya, jangan berpikir negatif melulu," kekeh Sakura lagi, "Pantas saja mukamu itu selalu tampak stress. Hati-hati, bisa-bisa jadi gangguan jiwa lho."

"Aku bilang diam!" bentak Sasuke habis sabar.

"Ah, begitu saja marah," Sakura menepuk lengan Sasuke dengan bukunya sambil tertawa, "Aku kan cuma bercanda, Sasuke." Gadis itu berdeham pelan untuk menghentikan tawanya sebelum melanjutkan dengan nada sedikit mencibir, "Kau ini... Padahal kau punya kakak yang begitu baik. Kalau aku jadi kau, aku pasti bersyukur sekali."

Tentu saja aku bersyukur, Sasuke membatin. Siapa yang tidak bersyukur memiliki kakak sebaik Itachi? Hanya adik yang tidak tahu diri. Namun seperti biasa, ia tidak mau mengakuinya.

"Kalau melihat kakakmu, aku jadi teringat kakakku," celetuk Sakura kemudian dengan pandangan menerawang.

Sasuke menoleh menatap gadis di sebelahnya, agak terkejut mendengar informasi ini. Sakura tidak pernah sekali pun terdengar bicara kalau ia memiliki seorang kakak, dan dari yang Sasuke lihat semenjak mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama, sepertinya Sakura itu anak tunggal.

Seulas senyum sedih muncul di wajah Sakura. Lalu ia melanjutkan dengan suara lirih, "Dia... kakak perempuanku... sudah meninggal lima tahun yang lalu."

Sasuke tertegun. Bingung, tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menanggapi ini sebelum akhirnya ia berujar pelan, canggung, "Aku menyesal."

Sakura menoleh, balas memandangnya seraya tersenyum sedih—senyum yang entah mengapa membuat Sasuke merasa bersalah padahal ia tidak berbuat apa-apa. "Tidak apa-apa," gadis itu menyahut pelan.

Sasuke memalingkan wajahnya, berusaha mengabaikan ekspresi sedih Sakura dan berusaha memusatkan perhatiannya lagi pada latihan Naruto. Tapi tidak bisa... Suasana muram yang mendadak turun di antara mereka benar-benar mengganggunya. Tidak biasanya ia merasa seperti ini, Sasuke membatin. Biasanya ia tidak pernah ambil pusing akan kesedihan orang lain. Tapi melihat Sakura seperti ini membuat batinnya sedikit terusik.

"Kadang-kadang, kalau keluarga kami sedang berkumpul seperti saat ini, aku jadi kangen kakak," tutur Sakura kemudian dengan pandangan kembali menerawang. "Dulu, dialah yang paling antusias kalau ayah sedang tidak dinas," senyumnya mengembang lagi selagi ia mengenang masa-masa indah itu. "Kakakku koki yang sangat hebat. Dia akan mengeluarkan semua resep andalannya setiap ayah pulang." Sakura tertawa kecil, lalu melanjutkan, "Banyak orang yang bilang kalau kami amat sangat mirip, tapi anehnya kami jarang sekali akur. Kakakku gadis yang sangat periang dan lembut. Semua orang menyukai dan memperhatikannya. Mungkin itulah yang membuatku iri padanya." Tiba-tiba saja matanya memanas ketika air mata mulai mendesak di sudut mata hijau cemerlangnya. "Kalau diingat, rasanya menyesal sekali tidak berlaku lebih baik pada kakak. Aku kerap marah-marah padanya sementara dia... tidak melakukan hal lain selain menyayangiku dengan tulus." Sakura cepat-cepat menyeka air mata yang jatuh di pipinya.

Keheningan tidak nyaman menyusup di antara keduanya selama beberapa saat. Konsentrasi Sasuke sudah benar-benar teralih sepenuhnya dari kegiatan di lapangan sana ketika ia menoleh lagi. "Bagaimana dia bisa meninggal?" tanya Sasuke agak canggung.

"Sakit. Dia sakit sangat parah dan aku sama sekali tidak tahu sampai hari-hari terakhirnya, saat ia mulai sekarat..." ujar dengan suara Sakura tercekat. Air matanya mengalir lebih deras dan ia mulai mengisak, membenamkan wajah di tangannya. Bukunya tergeletak terlupakan di pangkuannya.

Beberapa saat, Sasuke tampak bingung harus menanggapi bagaimana. Belum pernah ada yang curhat padanya sebelumnya dan ini membuatnya canggung dan bingung. Terlebih melihat Sakura yang tiba-tiba emosional seperti ini. Jujur saja, Sasuke tidak suka melihat orang menangis. Sasuke yang normal pasti akan mengeluarkan kata-kata cemoohan, tapi ia tidak pernah merasa normal lagi kalau berada di dekat Sakura maupun Naruto—setidaknya beberapa hari belakangan ini. Kemudian Sasuke mengulurkan tangan ragu-ragu ke arah gadis itu, hendak membelai bahunya untuk menenangkan, tapi ia mengurungkan niatnya. Ditariknya kembali tangannya dan ia berpaling. Ia benar-benar merasa serba salah. Sebagai gantinya, cowok itu meremas-remas tangannya dengan sikap gelisah.

Entah perasaan aneh macam apa yang merasuk dalam hatinya saat itu, seperti ada sebagian kecil dirinya yang ikut merasa sakit mendengar cerita Sakura. Rasanya seperti tertohok ketika ia teringat lagi pada Itachi. Hubungan Sakura dan kakaknya sangat mengingatkan pada hubungannya sendiri dengan Itachi. Sasuke juga kadang merasa iri pada Itachi yang selalu menjadi kebanggaan ayah mereka, dan meskipun ia amat menyayangi kakaknya tapi perlakuannya pada Itachi tidak bisa dibilang baik.

Bagaimana kalau Itachi tiba-tiba saja meninggal seperti kakak Sakura? Meninggalkannya selamanya tanpa memberiku kesempatan untuk membalas semua yang telah dilakukannya kepadaku? Bahkan tanpa mengucapkan rasa terimakasihnya –Tidak! Tidak! Sasuke tidak ingin memikirkannya. Itu terlalu mengerikan... terlalu menyakitkan.

"Maaf..." kata Sakura setelah ia mulai tenang. Ia menyeka wajah dan matanya yang basah dengan lengan sweternya. "Tiba-tiba aku jadi emosional begini," ia memaksakan senyum.

"Aku mengerti," kata Sasuke pelan tanpa memandang gadis di sampingnya. "Tapi kau beruntung punya keluarga yang mendukungmu, Sakura."

"Hmm... Kau benar," Sakura mengangguk seraya melempar senyum berterimakasih pada Sasuke. "Kau juga pasti begitu juga, kan? Melihat kak Itachi yang seperti itu, keluargamu pastilah—"

Namun sebelum Sakura sempat menyelesaikan kalimatnya, Sasuke menyelanya dengan nada pahit, "Aku meragukannya."

"Kenapa?" Sakura bertanya keheranan.

Sasuke menelan ludah dengan susah payah. Entah apa yang mendorongnya melakukan itu, seakan ia sudah mempercayai gadis itu sepenuhnya. Tapi yang jelas, saat berikutnya semuanya meluncur begitu saja dari bibir Sasuke. Ia membiarkan dirinya terbuka ketika ia menceritakan segalanya pada Sakura, mengeluarkan unek-uneknya tentang keluarganya, berkeluh kesah tentang permasalahannya dengan sang ayah, semuanya.

Aneh. Padahal ia tidak pernah begitu terbuka soal perasaannya selain pada Itachi. Bahkan ia tidak pernah seterbuka ini pada Hinata Hyuuga yang notabene adalah orang luar keluarganya yang paling akrab dengannya. Tapi ia tidak peduli. Yang jelas ia merasa lega setelahnya, seakan sebagian bebannya telah terangkat.

Sementara itu, Sakura mulai mengerti apa yang membuat Sasuke menjadi pribadi yang seperti itu; arogan, dingin, sinis. Tekanan dalam keluarganya dan kehausan untuk diakui keberadaannya dalam keluarga pastilah sangat berat bagi Sasuke. Meskipun ia tidak setuju pada kata-kata Sasuke dalam beberapa bagian dalam ceritanya, namun ia menahan diri untuk tidak menginterupsinya. Itu pastilah ada hubungannya dengan harga diri Sasuke yang tinggi. Maka gadis itu membiarkan saja cowok itu mengeluarkan semuanya.

"Setidaknya masih ada yang bisa kau syukuri dari semua itu, Sasuke," kata Sakura sambil tersenyum kecil ketika Sasuke mengakhiri penuturan panjangnya.

Sasuke menatapnya dengan bingung. Sakura mengangguk singkat, lalu kepalanya menoleh ke arah anak-anak klub bola yang sedang berlatih. Ke arah Naruto yang sedang mengoper bola pada kawannya sementara mereka berlatih tanding.

"Kau masih punya keluarga yang utuh. Kau punya ayah, kau punya ibu. Kau juga punya saudara yang sayang padamu. Sementara ada orang yang tidak seberuntung itu," ujarnya lembut, matanya masih mengikuti Naruto yang berlarian di antara anak-anak di lapangan.

"Apa maksudmu?" Sasuke tampak bingung.

"Naruto," kata Sakura, "dia tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Dia yatim piatu sejak kecil. Tidak punya sanak saudara. Dia barangkali satu-satunya Uzumaki yang ada di dunia."

"Bukannya dia punya ayah?" tanya Sasuke, semakin bingung.

"Iruka Umino itu adalah pria baik yang kebetulan ditakdirkan untuk mengadopsi Naruto," jawab Sakura. "Dan lihat dia," ia menunjuk Naruto, "selalu penuh semangat. Dia mungkin tidak punya keluarga kandung, tapi ia memiliki banyak sekali orang yang menyayanginya. Naruto itu mudah sekali bergaul dengan orang-orang baru, pergaulannya sangat luas. Padahal dulunya, waktu masih kami masih sekolah dasar, dia selalu sendirian karena orang-orang menganggapnya seperti semacam... pembunuh."

Informasi ini kontan membuat Sasuke terkejut. "Bagaimana bisa?"

"Bagaimana ya..." Sakura tampak berpikir, mengingat-ingat kembali peristiwa bertahun-tahun silam itu, "Dulu di sekolah, anak-anak selalu mengolok-olok Naruto anak yatim piatu, yang tidak punya ibu dan ayah. Suatu hari, karena kesal lantas Naruto meminta ibu angkatnya—istri Pak Iruka saat itu—untuk datang ke sekolah, untuk menunjukkan kalau dia juga punya ibu yang sangat istimewa. Tapi malang bagi ibu Naruto saat itu, karena dalam perjalanannya menuju sekolah, bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan fatal. Menurut cerita, ia masih sempat bertahan beberapa lama, tapi sepertinya lukanya sangat parah sehingga akhirnya ia meninggal di rumah sakit. Plus, saat itu baru diketahui bahwa ia sedang mengandung. Pak Iruka jelas sangat terpukul, begitu juga dengan Naruto. Dia menjadi pendiam dan menarik diri selama beberapa lama sementara orang-orang menyalahkannya atas kematian wanita malang itu, menyingkirkannya dari kehidupan mereka. Tapi kemudian ia segera bangkit lagi, berusaha keras membuat semua orang kembali mengakui keberadaannya lagi setelah peristiwa naas itu. Dengan dukungan penuh ayahnya, tentu saja."

Sasuke tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka, Naruto Uzumaki, orang yang menurutnya pecundang berisik tidak berguna yang hanya omong besar itu ternyata memiliki masa lalu yang sangat tidak mengenakkan seperti itu. Sakura benar, ia lebih beruntung. Mungkin, jauh lebih berutung, ketimbang Naruto.

Dan ketika ia menoleh ke arah lapangan untuk melihat sosok Naruto yang dengan semangat tinggi berlarian bersama teman-teman satu tim-nya, tiba-tiba ia merasa sangat tolol, tidak dewasa dalam menghadapi hidup yang keras ini. Dibandingkan dengan Naruto, apa yang telah dilakukannya?

"Omong-omong tentang ibu Naruto, aku jadi ingat," Sakura melanjutkan sambil tersenyum, "Aku mengenal wanita itu, wanita yang sangat baik. Dia sering memanggilku 'anak manis' kalau kami bertemu, dan sering memberiku permen loli jeruk yang enak sekali. Anehnya, walaupun dia bukan ibu kandung Naruto, tapi mereka sangat mirip. Dia berambut pirang dan bermata biru seperti Naruto. Nama mereka juga mirip-mirip. Nama wanita itu Naru Umino. Kebetulan yang aneh ya?"

Well, sepertinya gadis berwarna rambut tidak biasa itu sedang mencoba menarik Sasuke keluar dari topik menyedihkan itu.

Sasuke mendengus kecil, "Di dunia ini, wanita berambut pirang dan bermata biru itu tidak hanya satu. Itu tidak aneh."

Sakura tertawa, "Iya juga sih. Ino juga berambut pirang dan bermata biru. Tapi hanya ada satu wanita bernama Naru yang mengadopsi anak laki-laki bernama Naruto," ujarnya tak mau kalah. Lalu, tiba-tiba saja ide itu melintas di kepalanya. "Oh ya, besok kan hari libur. Aku ingin menunjukkan suatu tempat padamu!"

"Libur?" sekali lagi Sasuke dibuat heran. Seingatnya besok bukan tanggal merah atau hari libur apapun.

"Kalau kau di Konoha, tanggal besok itu hari libur. Entahlah, aku juga tidak begitu mengerti, tapi itu sudah menjadi semacam tradisi selama berabad-abad di sini," jelas Sakura. "Bagaimana?"

Sasuke mengangkat bahu. "Terserah. Tempat apa memangnya?"

"Pokoknya ada deh! Kita ketemu besok di BloCaf jam sepuluh pagi, ya!"

"Hn," sahut Sasuke, meskipun sebenarnya ia agak malas. Tapi ia penasaran juga.

Sakura melempar senyum sekilas padanya sebelum kembali membuka buku yang tadi tergeletak terlupakan di pangkuannya dan mulai menenggelamkan diri kembali di baliknya. Sementara itu, Sasuke kembali mengalihkan perhatiannya untuk mengawasi latihan Naruto. Dan beberapa saat setelahnya, seringai puas terlukis di wajahnya.

Ah, sepertinya latihan Naruto sudah mengalami banyak kemajuan.

Lee yang beberapa waktu yang lalu meninggalkan lapangan karena ponselnya berbunyi, berlari-lari kecil kembali ke lapangan. Cowok jangkung kurus itu memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk berkumpul. Wajahnya menampakkan ekspresi kurang senang. Sepertinya berita apapun yang akan disampaikannya bukan berita baik.

"Ada apa sih?" tanya salah satu anak yang mukanya dipenuhi jerawat sambil menatap kapten sementara mereka dengan penasaran.

"Pak Maito baru saja menelepon," beritahu Lee, "Katanya pertandingan melawan salah satu tim Iwa ditunda selama satu atau dua minggu."

Terdengar keluhan dari anak-anak, termasuk Naruto yang paling keras mengeluh. Salah satu anak bertanya, "Memangnya ada apa sih pakai ditunda segala? Padahal kita sudah latihan mati-matian setiap hari!" dan langsung disambut dengan gumaman setuju dari teman-temannya.

"Katanya mereka kekurangan pemain karena sebagian besar pemain terbaik mereka dikirim untuk ikut kejuaraan di Ame," jelas Lee, "Sepertinya mereka menunggu sampai turnamen Olahraga dan Seni di Ame selesai."

Anak-anak langsung ribut ber-boo-ria. "Curang!" teriak salah satu anak.

"Mereka kan bisa cari pemain baru seperti kita!" timpal anak yang lain sama marahnya.

"Kalau begitu kita juga bisa pakai anak-anak yang dikirim ke Ame dong!" seru anak ketiga gusar. Kegusarannya segera menular ke anak-anak lain, terutama mereka yang sudah terpilih menjadi pemain inti. Kalau anak-anak yang dikirim ke Ame ikut diturunkan berarti tim baru yang sudah mereka bentuk kemungkinan akan di-split lagi.

Melihat kekecewaan di wajah rekan-rekannya, Lee menepukkan kedua tangannya keras, mencoba mengobarkan kembali semangat mereka. "Tidak perlu terlalu kecewa begitu, teman-teman!" serunya. "Aku yakin latihan kita tidak akan sia-sia. Anggap saja penundaan ini sebagai waktu tambahan bagi kita untuk berlatih lebih keras, oke?! Ayo, semangat! Semangat!"

Namun sepertinya kali ini pidato pengobar semangatnya tidak begitu berhasil karena kepala mereka sudah dipenuhi tentang penyeplitan tim sehingga tidak memperhatikan hal lain.

"Baiklah, sebaiknya latihan hari ini kita sudahi saja," kata Lee setelah menyadari tidak ada gunanya melanjutkan latihan kalau suasana hati timnya sedang kacau seperti ini. "Istirahatkan tubuh kalian beberapa hari. Kalian hebat, teman-teman!"

Menggerutu, mereka mulai membubarkan diri. Naruto menyambar tas olahraga bututnya dan langsung berjalan gontai menuju bangku tempat Sasuke dan Sakura duduk menunggunya.

"Naruto, ada apa?" tanya Sakura cemas melihat tampang kacau Naruto. Gadis itu sudah memasukkan buku bacaannya ke dalam tas dan melompat bangun menghampiri Naruto.

"Mereka menunda pertandingannya sampai turnamen olahraga di Ame selesai," sahut Naruto lesu seraya menaikkan tali tasnya ke bahu.

Sakura menatapnya tidak mengerti. "Memangnya kenapa?"

Namun bukan Naruto yang menjawabnya, melainkan Sasuke. "Itu berarti kemungkinan kalian akan menurunkan pemain-pemain terbaik kalian yang dikirim ke Ame."

Naruto mengangguk lesu. "Yeah. Dan kesempatanku untuk ikut main—meskipun hanya sebagai cadangan—akan semakin kecil."

"Oh!" kata Sakura bersimpati. Gadis itu mengulurkan tangannya membelai lengan Naruto, bermaksud menghiburnya. "Tapi aku yakin Pak Maito pasti tidak akan membiarkan latihan kalian selama ini menjadi sia-sia. Dia pasti akan melakukan sesuatu," hiburnya sambil tersenyum menguatkan, meski ia sendiri sebenarnya tidak begitu yakin.

Naruto memaksakan senyum padanya. "Thanks, Sakura."

Sasuke mendengus pelan. "Kalau Pak Maito benar-benar menginginkan tim sekolah ini menang, dia pasti akan menurunkan pemain-pemain terbaiknya. Yang lain biar saja menjadi pemandu sorak."

Sakura membelalakkan mata padanya, "Oh, kau benar-benar penghibur ulung ya, Sasuke," sindirnya pedas. Lalu ia cepat melirik pada Naruto, cemas kalau-kalau cowok itu terpancing emosi dan mereka mulai berkelahi lagi. Tapi tampaknya Naruto juga sedang tidak berminat menanggapi Sasuke. Cowok itu hanya mengibaskan tangannya sekilas.

Sasuke mengangkat bahu sebelum kemudian beranjak dari bangku yang didudukinya. "Sudah selesai kan? Kita pulang." Tanpa menunggu jawaban dari Sakura maupun Naruto, ia beranjak meninggalkan lapangan dengan kedua tangan tenggelam dalam saku jaketnya.

Sakura menghela napas menatap punggung cowok itu sambil menggelengkan kepalanya, lalu menoleh pada Naruto. "Yuk kita pulang, Naruto."

Naruto mengangguk dan saat berikutnya mereka berjalan beriringan menyusul Sasuke.

"Hei, Sasuke," panggil Naruto ketika mereka tiba di lapangan parkir sepeda siswa.

"Hn?" gerutu Sasuke untuk mengisyaratkan kalau ia mendengarkan seraya berjalan menuju sepedanya.

"Menurutmu bagaimana tadi permainanku? Ada kemajuan kan?" tanya Naruto ingin tahu, karena sejak di lapangan tadi, Sasuke tidak berkomentar apa-apa soal latihannya.

Sasuke mengambil waktu untuk membuka kombinasi kunci sepedanya sebelum menjawab dengan nada datar seperti biasa, "Lumayan."

Sakura yang sedang menaruh tasnya di keranjang depan sepedanya tertawa sementara Naruto mencibirnya. "Apaan tuh? Dari kemarin kau hanya bilang lumayan. Kurasa permainanku tadi sudah hebat."

"Yeah, hebat kalau dibandingkan permainan Sakura," sahut Sasuke seraya melangkah menaiki sepedanya. Matanya melirik Sakura sejenak sambil menyeringai kecil pada gadis itu.

"Hei!" seru Sakura tersinggung, cemberut pada Sasuke. "Apa maksudnya itu, Sasuke?!"

Tapi Sasuke keburu melaju menjauh dengan sepedanya. Seulas senyum tipis mengembang di bibirnya, namun ia tidak membiarkan kedua yang lain melihatnya. Ia mempercepat laju sepedanya menuju gerbang utama Konoha High.

"Dasar dia itu!" cibir Naruto pada punggung Sasuke. "Tidak usah dipikirkan, Sakura." Kemudian ia mengayuh sepedanya menyusul Sasuke. Menggeram kecil, Sakura menyusul keduanya.

"Selamat hari libur besok!!" seru Naruto ketika ketiganya berpisah jalan.

---

BMW hitam Itachi sedang melaju perlahan memasuki halaman rumah Crimson Drive No. 9 ketika Sasuke baru saja memasukkan sepedanya ke dalam garasi. Sasuke buru-buru menggeser posisi sepedanya di dalam garasi, memastikan ruang yang cukup supaya mobil Itachi tidak bergesekkan dengan sepedanya. Akan merepotkan kalau Itachi ngamuk gara-gara mobilnya lecet.

"Tumben pulang cepat," kata Sasuke sebagai pengganti ucapan 'selamat sore' ketika Itachi melangkah keluar dari mobilnya. Dasinya sudah terikat longgar di kerahnya, tapi ia tidak tampak lelah. Sebaliknya, ia tampak sumringah.

"Ow, judes banget sambutannya," kata Itachi setengah tertawa sambil mengunci mobil kesayangannya.

Sasuke memutar matanya, lalu berjalan menuju pintu masuk rumah. Itachi menyusul di belakangnya.

"Bagaimana sekolahmu?" tanya Itachi seperti biasa selagi menunggu Sasuke membuka kunci.

"Biasa saja," sahut Sasuke sambil membuka pintu. Ia membuka sepatunya, menaruhnya dengan rapi di rak dan melangkah masuk rumah. Tapi kemudian ia menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kak," katanya, nadanya agak canggung dan ragu-ragu.

Itachi yang sedang melepas kaus kakinya mendongak menatap sang adik, agak terheran dengan nada bicara Sasuke yang tidak biasa. Dan jarang-jarang adiknya itu memanggilnya dengan sebutan 'Kak', biasanya langsung panggil nama. "Ada apa, Sasuke?" tanyanya.

Sasuke baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun segera mengurungkan niatnya. "Er... tidak jadi," katanya sambil berbalik menuju ruang keluarga, ke arah tangga.

"Ya sudah," Itachi mengangkat bahu dengan lagak tidak peduli—padahal aslinya sangat penasaran—lalu melanjutkan kegiatannya membuka kaus kaki dan menjejalkannya ke dalam sepatu yang sudah diletakkan terlebih dulu di atas rak sepatu. "Oi, Sasuke, aku duluan yang pakai kamar mandi ya!" serunya tepat sebelum Sasuke melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju lantai dua.

"Hn," sahut Sasuke. Lalu ia menaiki tangga dan menghilang di kamarnya.

Itachi melongo menatap tangga tempat tadinya adiknya beberapa saat yang lalu berada. Aneh, pikir Itachi keheranan. Biasanya Sasuke tidak semudah itu mengalah padanya. Sasuke yang biasa pasti akan berkeras ia duluan yang memakai kamar mandi dan baru mau mengalah kalau ia sudah kalah suit—itu juga dengan menggerutu. Ada apa dengan Sasuke? Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu?

Itachi mengangkat bahu sekali lagi, berusaha tidak terlalu memikirkan sikap aneh adiknya. Kemudian ia ikut naik ke kamarnya sambil bersenandung pelan. Sepertinya ia sedang senang.

---

Pembicaraannya dengan Sakura siang tadi kembali memenuhi kepalanya sementara ia berendam dalam air hangat yang nyaman. Tentang kenangan gadis itu tentang kakaknya yang telah tiada, tentang penyesalannya, juga tentang ketidakberuntungan Naruto. Betapa itu sangat mengganggunya saat itu, membuatnya berpikir tentang keluarganya.

Sasuke menghela napas panjang dan mencoba menyamankan diri dengan menyandarkan punggungnya yang terasa sedikit pegal ke bak mandi yang hangat, memejamkan mata.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ia memang lebih beruntung. Keluarganya masih lengkap, tidak seperti Naruto, dan tidak seperti Sakura, ia masih memiliki kakak yang menyayangi dan selalu menjaganya. Tapi kenapa? Ia bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ia selalu merasa kurang, tidak puas? Bersikap seolah-olah ialah orang yang paling menderita. Padahal ia memiliki segalanya yang tidak dimiliki Sakura dan Naruto.

Dahinya berkerut dalam. Berpikir...

Ia memikirkan Naruto. Wajahnya yang nyaris selalu dihiasi cengiran lebar, seakan tidak mempunyai beban berat dalam hidupnya. Padahal ia memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan. Bagaimana kalau Sasuke yang berada di posisi Naruto saat itu? Mungkin ia tidak akan sekuat anak itu. Dia juga penuh semangat, pantang menyerah, dan selalu haus untuk membuktikan diri dalam keterbatasannya. Dan sifat alaminya yang mudah bergaul dengan orang-orang baru, sesuatu yang tidak pernah dimiliki Sasuke.

"Dan kau juga akan bisa melihat nanti, alasan mengapa aku menyukai Naruto. Kau akan mengerti." Kata-kata Hinata tempo hari terngiang lagi di telinganya. Dan Sasuke tampaknya sudah mulai bisa melihat sisi istimewa itu dari seorang Naruto Uzumaki. Pantas kalau kau lebih menyukainya dibanding aku, Hina... pikirnya pedih.

Sasuke mengguyurkan air hangat ke kepalanya, berharap bisa membasuh perasaan tidak enak dalam hatinya ketika ia mulai memikirkan Sakura.

Ia tidak bisa melupakan senyum gadis itu saat berkumpul bersama keluarganya hari sebelumnya. Senyum paling bahagia dan tulus yang pernah dilihatnya. Senyum yang tidak pernah muncul di wajah Sasuke kalau berhadapan dengan keluarganya sendiri. Sasuke merasa... iri. Juga kebesaran hatinya. Padahal jelas-jelas Sakura tadinya tidak menyukai Naruto, tapi toh sekarang ia mendukung dan memperhatikan cowok itu. Dan jelas-jelas tadinya ia membenci Sasuke, tapi ia tetap mendengarkan dengan penuh kesabaran ketika Sasuke menumpahkan segala keluh kesahnya pada gadis itu.

Dan tentang penyesalan Sakura...

"Kalau diingat, rasanya menyesal sekali tidak berlaku lebih baik pada kakak. Aku kerap marah-marah padanya sementara dia... tidak melakukan hal lain selain menyayangiku dengan tulus."

Itachi... dia juga begitu, Sasuke membatin. Tidak ada yang dilakukan kakaknya itu selain menyayangi dan melindunginya dengan tulus. Tiba-tiba saja hatinya terasa pedih ketika ia menyadari bahwa ia belum melakukan apa pun untuk membalas kebaikan sang kakak. Justru hanya merepotkannya saja.

Ah, entah mengapa ia merasa tidak berarti kalau dibandingkan dengan mereka bertiga—Itachi, Naruto dan Sakura? Tidak! Tentu saja ia berarti sesuatu—kalau saja ia mau membuka hatinya untuk melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain. Meski sulit, Sasuke merasa harus mencobanya. Mungkin bisa dimulai dengan sesuatu yang kecil, seperti... bersikap lebih baik pada kakak.

Sasuke menyudahi acara mandinya. Ia keluar dari bak, mengosongkannya, mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya, lalu memakai kaus oblong usang dan celana pendek untuk tidur sebelum melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk masih tergantung di lehernya.

Itachi sedang berada di ruang keluarga ketika Sasuke turun, duduk santai sembari menonton televisi.

"Kakak sudah makan belum?" Sasuke menanyai kakaknya sambil lewat di belakangnya menuju dapur.

"Belum," sahut Itachi tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi sementara tangannya sibuk memencet-mencet tombol remote untuk mengganti channel. "Kenapa? Mau masakin?" godanya.

Sasuke tidak menjawab kakaknya. Ia membuka pintu kulkas dan mengeluarkan dua bungkus pasta beku, lalu memanaskannya di microwave. Ia bisa mendengar gelak tawa kakaknya dari arah ruang keluarga—mungkin Itachi sedang menonton acara komedi yang kelewatan lucunya atau apa, tapi yang jelas Sasuke belum pernah mendengarnya tertawa sekeras ini.

Sembari mengunggu pasta matang, Sasuke mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas dan membawanya ke ruang keluarga. Itachi melongo ketika Sasuke meletakkan botol-botol itu di atas meja di depannya sebelum kembali ke dapur. Pria itu kembali dibuat tercengang ketika Sasuke kembali tak lama kemudian, membawa dua piring pasta hangat.

"Sebentar sebentar," kata Itachi, menatap adiknya yang kini sudah mendudukkan diri di sampingnya di sofa keheranan, "Kau Sasuke kan? Sasuke Uchiha?"

"Memangnya siapa lagi?" balas Sasuke, sebal dengan pandangan heran kakaknya.

Itachi mengeluarkan tawa tidak yakin. "Adikku yang asli tidak akan memasak sesuatu untukku. Dia kan Tuan Besar! Oh, kau pasti alien yang menyamar jadi Sasuke dan bermaksud menculikku kan?"

"Ha ha... lucu sekali," cibir Sasuke, tambah sebal.

"Kalau kau benar-benar Sasuke... Astaga! Ada apa denganmu, darling? Apa kepalamu baru terbentur sesuatu? Atau kau kena demam tinggi sampai otakmu rusak?" guraunya sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi Sasuke.

Sasuke yang bergidik dipanggil darling, dengan cepat menepis tangan kakaknya. "Berhenti menggodaku, Kak! Kalau kau tidak mau, biar aku makan saja dua-duanya!" ia menukas.

Sasuke hendak mengambil kembali piring pasta yang diletakkannya di depan Itachi namun dengan cepat ditahan kakaknya itu. "Iya iya, maaf..." katanya sambil terkekeh. "Habis tidak biasanya kau jadi baik begini sih. Trims ya, Sasuke." Ia mengambil piring pastanya dan mulai menyantapnya. "Hmm... masakan adikku enak sekali..."

Sasuke memutar matanya. Keluar deh penyakit noraknya. Itu kan hanya pasta beku yang dihangatkan...

Setelah piring bersih, Sasuke buru-buru membawa piring-piring kotor itu ke bak cuci piring. Sekali lagi ia dibuat sebal oleh padangan heran Itachi. Memangnya aneh ya kalau sesekali Sasuke ingin berbuat sesuatu yang benar? Seperti menyenangkan kakaknya, misalnya. Kemudian ia menemani Itachi menonton televisi—hal yang jarang dilakukannya—sambil sesekali mengobrol ringan tentang sekolah Sasuke.

"Lihat itu! Restoran kami di Kiri sedang diliput!" seru Itachi sambil menujuk layar televisi penuh semangat. Seorang reporter acara kuliner tampak sedang meliput salah satu restoran beken di Kiri. Tampak sebuah bangunan berbata hitam dengan tulisan "Akatsuki Cafe" putih di atas awan merah yang dilatari lampu menghiasi dindingnya. Di pelatarannya terdapat beberapa bangku yang sengaja disediakan untuk pengunjung yang ingin makan di luar.

"Kakak punya restoran. Aku baru tahu..." komentar Sasuke sambil menatap reporter di layar televisi membawa mereka masuk ke bagian dalam restoran yang juga didominasi warna merah dan hitam yang elegan.

"Bukan milikku pribadi. Kami—aku dan teman-temanku—patungan untuk berbisnis restoran. Berkat otak bisnis si Kakuzu juga," jawabnya sambil terkekeh. "Juga tangan dingin cheff Kisame."

Kernyitan samar muncul di dahi Sasuke ketika ia mencoba mengingat-ingat siapa itu Kakuzu. Mungkin salah satu dari teman-teman Itachi yang superaneh-bin-ajaib itu. Entahlah. Dari mereka semua, Sasuke hanya mengingat Kisame Hoshigaki yang paling sering berkunjung ke rumah mereka di Oto. Tapi ia sama sekali tidak tahu kalau orang aneh itu seorang cheff.

"Kisame? Koki?" Sasuke bertanya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Itachi tertawa lalu mengibaskan tangan. "Tidak juga sih. Dia memang suka masak dan suka makan. Dia juga tahu mana makanan enak, mana yang tidak enak."

Sasuke mangangguk-anggukan kepalanya mengerti, lalu menenggak air mineralnya.

"Aah! Deidara bego! Kenapa patung norak itu ditaruh di sana? Mengganggu pemandangan saja!" komentar Itachi ketika kamera melewati sebuah patung berbentuk aneh di sudut ruangan. Setengah jam berlalu dihabiskan Sasuke untuk mendengarkan Itachi mengomentari teman-temannya yang muncul sekilas-sekilas di televisi sebelum akhirnya acara itu selesai.

"Sasuke, menurutmu bagaimana kalau kita memelihara anjing?" celetuk Itachi kemudian. Ia telah mengganti channel ke acara berita malam.

"Buat apa?" Sasuke menanyainya heran. Rasanya aneh tiba-tiba kakaknya itu ingin memelihara anjing.

Itachi tampak memikirkan alasannya selama beberapa saat. Sasuke tidak tahu apakah itu karena permainan cahaya atau apa, tapi sepertinya wajah Itachi agak memerah. "Yeah, well. Anjing sangat berguna kalau ada maling," ujarnya kemudian. "Lagipula kau jadi tidak kesepian di rumah kalau aku dinas di luar kota."

"Hn. Terserah Kakak sajalah..." sahut Sasuke datar setelah sebelumnya melempar pandang aneh pada Itachi. Seingatnya, ia baik-baik saja selama ini tanpa ditemani seekor anjing kalau kakaknya itu dengan tidak di rumah. Tapi kali ini, ia menahan diri untuk membantahnya. Tidak masalah memelihara anjing selama kakaknya itu senang, pikirnya.

"Wah, adikku baik," kata Itachi senang. "Kau suka apa? Husky, Retriever, Buldog, Peking atau Chihuahua? Atau kau lebih suka Puddle?"

"Chihuahua tidak bisa menangkap maling," kata Sasuke. Ia bergidik memikirkan akan menggendong Chihuahua kemana-mana seperti Elle Woods di film Legaly Blonde—er... apa Sasuke menonton film macam itu, ya? "Apa saja asal jangan Chihuahua atau Puddle."

Itachi tertawa lagi seraya menepuk bahu Sasuke. "Baiklah…"

Sunyi beberapa saat sementara Itachi tampak serius menyimak berita tentang kenaikan harga minyak dunia.

"Main PS yuk, Kak," giliran Sasuke yang menyeletuk.

Itachi mengalihkan perhatiannya dari layar televisi untuk menatap adiknya dengan heran. "Tahu tidak, Sasuke? Hari ini tingkahmu aneh sekali. Lain dari biasanya."

"Kalau tidak mau ya sudah, aku mau tidur saja," sahut Sasuke kesal sambil berdiri. Kenapa sih pakai heran segala?

"Baiklah baiklah, kita main PS," tawa Itachi seraya menangkap pergelangan tangan Sasuke, menariknya duduk lagi. "Tapi taruhan ya. Yang kalah bikin sarapan besok pagi!"

Maka mereka menghabiskan malam itu dengan bermain PS sampai larut, yang berakhir dengan kekalahan Itachi. Sasuke tampak sangat senang dan puas—bukan karena ia telah mengalahkan Itachi, melainkan karena kebersamaan mereka. Ia tidak pernah merasa segembira itu menghabiskan waktu bersama sang kakak. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam sampai akhirnya Sasuke jatuh tertidur di sofa. Tampaknya ia kelelahan.

Itachi menatap wajah damai adiknya yang tertidur sambil tersenyum lembut, kemudian mengulurkan tangan untuk menyibak rambut hitam Sasuke yang terjatuh menutupi matanya yang terpejam. Sepertinya adik laki-laki kecilnya yang manis, yang dulu selalu menempelnya kemana-mana sudah kembali. Entah apa yang mengubah adiknya, yang jelas ia sangat bersyukur atas malam menyenangkan itu.

Ia membaringkan Sasuke di sofa—tentu saja ia tidak kuat kalau harus mengangkat adiknya itu ke kamarnya di lantai dua, lagipula ia tidak tega membangunkannya—mengambil selimut flanel hangat dari kamarnya dan menyelimutkannya pada Sasuke. Itachi menguap lebar-lebar sambil mematikan televisi. Merasa tidak tega meninggalkan Sasuke tertidur sendirian di ruang keluarga, Itachi memutuskan untuk menemaninya. Ia lantas menyamankan diri di kursi malas di dekat sofa.

Tidak butuh waktu lama baginya sebelum akhirnya jatuh tertidur, memenuhi ruangan mungil itu dengan suara dengkuran rendah.

---

TBC...

---

Gimana?

Ah, gomen! Aku ngerasa chapter ini teramat sangat aneh dan sok melow dan maksa abis. Huhu... –gegulingan- Oia, buat nama ibu angkatnya Naruto... aku comot dari salah satu manga favoritku jaman SD, Sailor Moon. Kemarin pas buka-buka lagi tuh komik jadul, ketemu si Naru ini, dan pair canon Naru yang namanya Umino. Aku pikir kok kaya Iruka, ya... Jadi iseng-iseng aja dimasukkin pair ini, meski orangnya beda (Naru di SL rambutnya cokelat, bukannya pirang). Haha... Luv UminoNaru! Btw, pair ini milik Naoko Takeuchi (bisi butuh disclaimer juga).

Karena terlalu panjang, jadi review gak dibales satu-satu ya. Buat Antlia... ah, ternyata dirimu menyadari kesalahanku yang satu itu ya. Haha... aku juga baru nyadar waktu dibaca ulang. Makasih udah ngingetin, dan makasih udah ngasih motivasi, kawan! Kalau soal Naruto yang bisa bermusik, udah ada hint-nya di prolog kok. Baca lagi deh yang teliti –digetok krn malah nyuruh baca ulang- Ditunggu aja kemunculan Sai di chapter gaje lain, yah. Buat Catt-chan yang penting banget... aaah~ gomen ne. Aku baru nyadar kamu review chap 19 waktu udah ngepost chap 20. –peluk-peluk-

Untuk semua yang udah membaca dan mereview, makasih banget... Dan maafin karena untuk sementara ini gak bisa baca n review fanfic dulu –melirik ngeri ke arah tumpukan buku yang harus dibaca, format-format praktikum yang harus dipelajari, jurnal yang harus diubek n direview. Huaaa... tolong!-

Untuk chapter depan, gak tahu kapan diupdate. Minggu depan bener-bener minggu tegang euy! Doakan aku, minna-samaaa.....