Satu lagi chapter gaje. Sumpah, gak puas banget sama yang satu ini.. Tapi ini yang terbaik yang bisa kuusahakan di antara hari-hari gila minggu ini! –sigh- Aku harap tidak mengecewakan, walaupun banyak kekurangan di sana sini.
Enjoy!
Chapter 21
Matahari sudah tinggi ketika Itachi terbangun keesokan paginya. Menggeliat dan menguap lebar, pria itu membuka matanya yang masih terasa berat perlahan, lalu mendorong tubuhnya ke posisi duduk. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu terjatuh dari bahunya dan terkejut ketika melihat selimut flanel yang semalam diselimutkan pada Sasuke kini tergeletak melorot di pangkuannya.
Sasuke?
Itachi menoleh ke sofa. Kosong. Kemana dia? Pikirnya sambil garuk-garuk kepala dan memandang berkeliling. Tidak biasanya Sasuke bangun lebih dulu dari aku. Terlebih ini... Ia kembali melirik ke arah sofa. Bantal-bantal sandaran kursi sudah dirapikan. Kaleng coke dan bungkus makanan kecil yang semalam berserakan di meja juga sudah tidak ada.
Aneh. Bukan hanya ini... Sejak tadi malam sikapnya memang agak aneh, lain dari biasanya. Tapi bukan berarti Itachi tidak menyukai perubahan ini, ia justru sangat senang. Ia tertawa kecil teringat perlakuan manis adiknya padanya malam sebelumnya.
Tapi kemana Sasuke? Kenapa rumah begitu sepi? Itachi membatin seraya beranjak dari kursi malas dan mulai melipat selimut flanelnya. "Sasuke?!" ia memanggil. Sunyi. Yang terdengar hanyalah suara anak-anak tetangga bermain di luar.
Mengangkat bahu, Itachi beranjak menuju tangga ke lantai atas. Barangkali Sasuke tidur lagi di kamarnya. "Sasuke?" ia mengetuk pintu kamar sang adik yang letaknya memang tepat di depan kamarnya. Tidak ada jawaban. Itachi mencoba memutar kenopnya, tapi dikunci. Sepertinya bocah itu memang benar sudah tidur lagi.
"Dasar tukang molor," gurutu Itachi geli seraya geleng-geleng kepala. Ia lantas menuju kamarnya untuk menyimpan selimut, lalu bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya yang biasa—cuci muka, sikat gigi, termasuk buang air.
Setelah selesai, Itachi kembali turun untuk membuat sarapan setelah sebelumnya kembali mengetuk kamar Sasuke untuk menyuruhnya segera bangun dan turun sarapan—yang masih saja tidak ada jawaban dari adiknya itu. Semalam ia kalah taruhan dan hukumannya adalah membuat sarapan. Yah, tidak begitu berpengaruh sebenarnya. Toh, setiap hari juga ia yang menyiapkan sarapan. Tapi rupanya ada yang berbeda kali ini.
Itachi terkejut ketika mendapati sepiring roti panggang, lengkap dengan telur mata sapi dan daging asap yang masih hangat terhidang di atas meja makan. Juga secangkir kopi hitam yang masih mengepul dan sebotol susu segar yang baru diantar. Serta tak lupa satu eksemplar surat kabar baru. Secarik kertas pesan terselip di bawah tatakan cangkir kopi. Ia mengambilnya, membacanya. Seulas senyum muncul di wajah tampannya ketika matanya menyusuri barisan kata-kata yang ditulis oleh sang adik,
Kak, aku pergi duluan, ada janji dengan Sakura. Sudah kubuatkan sarapan untukmu. Dimakan. Awas kalau tidak!
-Sasuke-
PS : Jangan berpikir macam-macam! Aku TIDAK kencan dengan Sakura!
PPS : Hari ini giliranmu pergi ke loundry!
PPPS : Terimakasih untuk semuanya, Kak..
---
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Sakura sudah berada di restorannya. Berhubung hari itu adalah hari libur, maka ia kembali ditugasi oleh orangtuanya untuk membuka restoran—sekaligus membiarkan mereka berduaan saja di rumah. Dasar orang tua! Tapi Sakura maklum saja karena ayah dan ibunya memang jarang menghabiskan waktu bersama.
Ia sedang membantu Ayame mengelap gelas-gelas do konter ketika ponselnya berbunyi. Sakura meletakkan lap-nya dan buru-buru merogoh ke dalam tasnya dan meraih ponselnya. Nama Ino tertera di layar. Sakura buru-buru menekan tombol answer.
"Ya, Ino?" sapa Sakura cerah, senang sahabatnya menelepon.
"Hai, Sakura!" balas Ino dari seberang. Suaranya yang terdengar tegang membuat Sakura mengernyitkan dahi.
"Hei, ada apa? Suaramu kedengarannya aneh," tanya Sakura sambil beranjak meninggalkan konter dan duduk di salah satu bangku yang baru saja dirapikan Izumo.
"Aku tegang sekali!" jerit Ino dengan suara melengking.
"Tegang kenapa?" tanya Sakura lagi, bingung.
"Tentu saja tegang, bodoh! Hari ini pertandingan final! Masa kau lupa sih?!"
"Oh!" Sakura tiba-tiba merasa tidak enak. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini sampai-sampai ia lupa soal pertandingan final sahabatnya. "Sori, aku lupa."
"Oh, tentu saja kau lupa!" tukas Ino, "Kalau tidak kau pasti sudah ada di sini sekarang, forehead girl! Kedua orangtuaku, Chouji dan Shikamaru saja sengaja terbang kemari untuk menontonku!"
"Ooh... Ino, aku benar-benar minta maaf..." ujar Sakura menyesal. "Ah, kenapa Chouji tidak mengingatkanku sih? Padahal beberapa hari yang lalu kami baru saja kerja kelompok, tapi dia tidak berkata apa pun tentang pertandingan finalmu. Kalau tahu kan aku bisa ke sana juga untuk menonton..."
Suara tawa Ino tiba-tiba saja terdengar dari seberang. "Oh, sudahlah. Aku mengerti. Lagipula aku sudah terlalu mengenalmu. Kalau kau kemari, kau otomatis harus bolos sekolah. Aku tahu kau. Kau lebih memilih menelan kodok daripada membolos, bukan?"
"Ha ha… lucu sekali, Ino," Sakura cemberut.
"Well," kata Ino setelah tawanya mereda, "Aku menelepon hanya untuk meminta dukunganmu, Sakura. Doakan aku, ya... Aku benar-benar grogi."
"Iya, ngerti. Aku juga pasti grogi kalau berada di posisimu sekarang. Tapi kau kan apa yang harus kau lakukan?" kata Sakura. "Tarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Kau tahu kau bakal hebat. Kuncinya kau harus tenang. Dan, yeah, tentu saja aku akan mendoakanmu."
Sakura bisa mendengar Ino menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Thanks, Sakura. Kau yang terbaik! Er... tidak juga sih. Kedua atau ketiga karena kau melupakan pertandingan pentingku!"
Sakura memutar matanya. "Iya deh, sori." Lalu ia tersenyum. "Do your best, dear! Ah, kalau saja aku bisa kesana…"
Sepertinya di seberang sana Ino juga sedang tersenyum. "Oh, ada satu lagi! Kalau kau nanti ketemu Naruto, sampaikan salamku untuknya ya! Bilang padanya, selamat ulang tahun dari Ino can—"
"Naruto ulang tahun?" Sakura menyelanya dengan terkejut.
"Tentu saja dia ulang tahun, ingat? Ulang tahunnya bertepatan dengan hari libur Konoha! Itulah kenapa aku selalu gagal mengerjainya, karena dia selalu berkeras menghabiskan waktu di panti asuhan setiap hari ulang tahunnya."
"Ya, ampun!" Sakura menepuk dahinya keras. "Aku tidak tahu..."
Ino tertawa lagi di seberang. "Astaga, Sakura... Sepertinya kepalamu itu terlalu penuh dijejali dengan pelajaran, ya. Beri ruang sedikit dong buat yang lain. Masa kau tidak mencari tahu? Padahal kata Shikamaru kalian belakangan ini dekat, bukan?"
Tapi tampaknya Sakura tidak terlalu mendengarkannya, karena tiba-tiba saja kepalanya dipenuhi hal lain. Naruto ulang tahun... Naruto ulang tahun... bagaimana aku bisa tidak tahu, dasar bodoh! Apa yang harus kulakukan? Ah, aku tahu! Aku harus memberikan sesuatu pada Naruto! Tapi—
"Sakura? Kau masih di sana?" suara Ino membuyarkan lamunan gadis itu.
"Eh, apa? Oh, yeah, aku masih di sini—"
Tiba-tiba saja ada suara orang memanggil Ino di seberang. "Iya sebentar, aku datang!" Ino menyahut suara itu, lalu kembali beralih pada Sakura, "Sakura, aku harus pergi sekarang. Er… doakan aku, ya!"
"Oh, yeah yeah, semoga sukses!" sahut Sakura cepat.
Sambungan terputus.
Tepat saat itu Yamato muncul dari pintu belakang, tampak keren dengan jaket kulitnya—sangat berbeda kalau dibandingkan dengan Yamato yang sudah mengenakan seragam BloCaf-nya—Ia membawa helm full face di tangannya.
"Pagi!" sapa Sakura cerah padanya sambil beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Pagi," balas Yamato sambil tersenyum, "Pagi, Ayame," ia menyapa Ayame di konter.
"Ah, pagi, Yamato…" Ayame membalas agak canggung. Wajahnya merona merah ketika ia menunduk lagi untuk mengelap gelas yang lain.
Sakura mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, mengernyit. "Tidak biasanya kau telat, Yamato. Paman Teuchi dan Iwashi sudah siap-siap dari pagi."
Yamato melempar senyum tidak enak padanya. "Maaf. Aku telat bangun." Lalu ia mengalihkan pandangannya pada jendela, menunjuk ke keluar. "Yang di luar itu bukannya temanmu, Sakura?"
"Eh?" Sakura ikut mengintip ke jendela. Di luar tampak sesosok cowok jangkung berambut gelap dan memakai jaket hitam sedang berdiri di lapangan parkir yang masih kosong, bersandar pada tiang papan nama BloCaf sambil melipat tangan di depan dada. "Sasuke?"
Ini kan masih satu jam sebelum waktu perjanjian mereka. Rajin sekali cowok ini... Sakura bergegas keluar untuk menghampirinya sementara Yamato pergi ke ruang ganti karyawan.
"Kukira kau akan datang jam sepuluh!" kata Sakura sebagai pengganti ucapan selamat pagi.
"Kurasa datang lebih cepat lebih baik daripada terlambat," kata Sasuke datar sambil mengangkat bahu, "Atau kau lebih suka aku datang terlambat?"
"Tentu saja tidak!" sahut Sakura cerah. "Malah kebetulan sekali. Yuk, masuk dulu. Di luar dingin." Ia menarik lengan Sasuke, membawanya menuju restoran yang masih tutup. "Kau sudah sarapan?"
"Sudah," jawab Sasuke sedikit menggumam.
Sakura mendorong pintu restoran membuka lalu membawa Sasuke masuk bersamanya. Kotetsu yang sedang mengelap meja di dekat pintu menoleh ketika mereka lewat, agak tercengang ketika Sasuke menyapanya. Sakura yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Belum ada pengunjung?" Sasuke bertanya basa-basi.
"Kau tidak lihat tanda di pintu? Kalau tanggal merah kami selalu buka lebih siang," Sakura menyahut ceria. "Tapi kalau kau mau pesan sesuatu, berarti kau jadi pelanggan pertama kami hari ini. Kau ingin sesuatu?"
"Hn, tidak," cowok itu menjawab datar.
"Kalau begitu tunggulah sebentar. Aku mau siap-siap dulu," kata Sakura padanya, lalu ia melesat ke ruang ganti sementara Sasuke menuju ke salah satu bangku dan duduk di sana.
Yamato sedang memasukkan tasnya ke dalam loker ketika Sakura memasuki ruangan. "Absen lagi hari ini, Sakura?" tanyanya sambil tersenyum. Tidak perlu bertanya sebenarnya, karena Sakura tidak mengenakan seragamnya lagi hari ini.
"Ya," sahut Sakura seraya memeriksa bayangannya di cermin, merapikan poninya, lalu berbalik. "Bagaimana?"
Yamato berpaling dari lokernya untuk memandang gadis itu. Sakura tampak manis dengan rok putih selutut dipadu dengan sweter pink yang serasi dengan warna rambutnya yang dihiasi bandana putih. "Cantik," komentarnya sambil tersenyum, "Mau kencan ya?"
Pertanyaan usil pria itu kontan membuat wajah Sakura memerah. "Apaan sih?" Gadis itu pura-pura cemberut. "Tentu saja tidak!"
Yamato tertawa-tawa seraya kembali sibuk di lokernya. "Habis, tidak biasanya kau rapi seperti ini."
"Maksudmu, biasanya aku berantakan?" Sakura cemberut betulan. Kedua tangannya di pinggul.
"Bukan begitu..." kekeh Yamato lagi.
Hening lagi sementara Sakura kembali mematut dirinya di depan cermin dan Yamato mengeluarkan celemeknya dari dalam loker. Di balik cermin, Sakura bisa melihat gerakan Yamato tiba-tiba berhenti dan pria itu sedang menatap ke arahnya. Pandangannya hampa dan tampak terluka. Sakura mengernyit.
"Ada apa menatapku seperti itu, Yamato?" gadis itu bertanya.
Yamato mengerjap, lalu menyadari Sakura sedang menatapnya dari cermin. Ia buru-buru berpaling, menyibukkan diri memakai celemeknya. "Tidak. Tidak apa-apa," katanya. Sunyi sebentar sebelu pria itu melanjutkan perlahan, "Kau sangat mirip Himeko, Sakura. Apalagi kalau rambutmu digerai seperti itu."
Hati Sakura mendadak mencelos. Himeko, kakak perempuannya. Dulu, ia selalu membiarkan rambutnya yang panjang dan tebal tergerai bebas kalau sedang berada di luar dapur. Seperti yang Sakura lakukan pada rambutnya sekarang ini. Dan ketika ia menatap ke dalam cermin, ia seakan melihat bayangan kakaknya yang berwajah lembut balas menatapnya.
Sial!
Sakura merasakan matanya memanas. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menahan jatuhnya air mata sebelum buru-buru mencopot bandananya.
Yamato yang terperanjat melihat tingkah gadis itu buru-buru berkata, "Sakura, maafkan aku. Aku tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa," sahut Sakura tercekat, "Aku memang lebih suka rambutku diikat." Saat berikutnya, ia sudah mengumpulkan rambutnya di belakangan kepala, mengikatnya menjadi buntut kuda panjang seperti biasa. Dan ketika ia berbalik untuk menghadapi Yamato, wajahnya sudah berseri-seri lagi, "Kelihatan lebih 'Sakura', kan?"
Yamato tertawa kecil. "Yeah, memang. Sakura yang ceria dan penuh semangat. Tapi kau juga cantik dengan rambut digerai seperti tadi," ia menambahkan.
Sakura pura-pura cemberut. "Huh! Bilang saja kak Himeko lebih cantik. Lagipula aku tidak ingin kau naksir aku gara-gara aku mirip kakak!" ia menjulurkan lidah, pura-pura mengejeknya.
Sekejap wajah ekspresi aneh muncul di wajah pria itu sebelum ia tertawa lagi. "Kau ini ada-ada saja." Ia geleng-geleng kepala, lalu kembali sibuk memakai celemeknya.
Sakura bergegas mendekatinya. "Sini aku bantu pakai," tawarnya. Saat berikutnya ia sudah membantu Yamato memakai celemek seragamnya. Ia baru selesai mengikatkan ikatan terakhir celemek Yamato ketika Izumo masuk, membawa ember dan tongkat pel yang baru dipakainya untuk bersih-bersih.
"Ehem, yang mau kencan..." goda Izumo sambil terkekeh.
"Aku tidak kencan!" sergah Sakura langsung sambil memelototi pria muda itu. "Uuuh... kenapa sih kalian ini?" omelnya. "Kami hanya keluar untuk mencari—" tiba-tiba saja ia teringat kembali rencananya untuk mencari kado bagi Naruto. "Oh, yeah, aku mau tanya. Kalau cowok itu senangnya diberi apa sih kalau ulang tahun?"
"Kau mau memberi kado ulang tahun untuk cowokmu?" Izumo mengambil kesempatan untuk menggodai Sakura lagi. Tapi kali ini Sakura mengacuhkannya.
"Tergantung cowoknya seperti apa," kata Yamato. "Kalau aku, aku akan senang kalau mendapatkan satu set pisau baru. Yah, kurasa kau juga harus tahu apa yang disukainya. Atau hobinya."
"Hmm..." Sakura mengangguk-angguk, mengerti. Yang disukai Naruto... Ramen? Tidak tidak. Masa aku mengadoinya ramen? Kalau hobi... Naruto suka olahraga. Mungkin aku akan memberinya sesuatu yang ada hubungannya dengan olahraga saja. Ya, itu saja! "Oke. Thanks, Yamato!" serunya sambil tersenyum, kemudian berlari kecil meninggalkan ruang ganti.
Gadis itu menyambar tas selempangnya di meja konter, lalu menghampiri Sasuke. "Yuk, berangkat sekarang."
"Sebenarnya kau mau menunjukkan apa padaku?" Sasuke menanyai Sakura setelah keduanya meninggalkan restoran dan sedang berjalan menuju halte bus terdekat.
"Oh, ada sedikit perubahan rencana," sahut Sakura cerah, "Karena hari ini Naruto ulang tahun, jadi kita akan mencari hadiah untuknya dulu di kota sebelum ke tempat itu."
Sasuke mengangkat sebelah alisanya. Cowok itu juga sepertinya baru tahu kalau hari ini adalah hari jadi Naruto. "'Tempat itu' apa?" tanya Susuke kemudian.
Sakura menoleh dan tersenyum misterius padanya. "Kau akan lihat nanti. Yang penting sekarang, kita cari kado dulu!"
Kernyitan samar muncul di antara alis Sasuke. Kado? Bukankah hal seperti itu hanya untuk anak kecil? pikirnya. Ia baru akan membuka mulut untuk mengatakan itu tapi tidak jadi ketika dilihatnya Sakura yang begitu ceria di sampingnya. Sasuke menghela napas. Tahan mulutmu, Sasuke, ia berkata pada dirinya sendiri dalam hati.
Akhirnya ia hanya berkata, "Hn."
Mereka tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama di halte karena beberapa saat kemudian bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Sakura naik terlebih dahulu, disusul Sasuke, lalu keduanya duduk di salah satu bangku kosong. Dua orang gadis yang duduk di samping bangku mereka menunjuk-nunjuk Sasuke sambil terkikik. Wajah keduanya memerah. Sakura yang menyadarinya terkekeh geli.
"Kau ini di mana-mana ada saja penggemarnya, ya," bisiknya dengan suara rendah pada Sasuke.
"Hn," sahut Sasuke cuek. Ia memandang jalanan dari jendela, mengacuhkan dua gadis tadi.
Sakura tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar sok cool! Setengah perjalanan mereka lewati dalam diam sebelum Sakura bersuara lagi, "Hari ini kau agak lain, kau tahu? Kukira aku akan mendengarkan cemoohanmu waktu aku bilang akan mencari kado ulang tahun untuk Naruto."
Sasuke mendengus kecil, masih tidak mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Dan wajahmu kelihatan lebih cerah dari biasanya," lanjut Sakura sambil tersenyum. "Apa yang terjadi dengan Sasuke yang biasanya? Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu?"
Kali ini Sasuke mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap gadis di sebelahnya sebal. "Kau ini kedengarannya seperti Itachi. Apa aneh kalau aku mencoba bersikap lebih baik? Atau kau lebih suka aku mencemoohmu seharian, eh?"
Sakura tertawa kecil. "Bukannya seperti itu," katanya sambil menepuk lembut lengan Sasuke, "Hanya saja agak tidak biasa. Tapi bukan berarti buruk, lho," ia buru-buru menambahkan. "Justru kau kelihatan jauh jauh lebih baik begini." Ia tersenyum.
Menahan keinginan untuk tersenyum, Sasuke berkata pelan, "Kalau begitu jangan protes lagi."
Sakura memutar matanya. "Baiklaaaah..." katanya sambil menyilangkan kedua telunjuknya di depan bibir.
Beberapa menit kemudian bus berhenti di halte tujuan mereka. Sakura dan Sasuke turun bersama beberapa orang ibu-ibu yang sepertinya hendak berbelanja, lalu mereka berjalan kaki menuju distrik pertokoan tidak jauh dari sana. Sasuke mengedarkan pandangannya ke deretan pertokoan, ke kaca-kaca etalase yang memajang beragam barang dagangan. Pemandangan ini sungguh mengingatkannya pada Oto, hanya saja di Konoha ini lebih teratur dan lingkungannya juga jauh lebih bersih.
"Baru pertama kali ke kota, ya?" tebak Sakura ketika mereka serombongan besar anak SD melewati mereka dengan berisik. Sebagian besar mereka memakai telinga rubah palsu berwarna oranye cerah di atas kepala.
"Hn," Sasuke mengangguk singkat. Sudut matanya mengawasi anak-anak tadi sampai mereka menyeberang jalan.
"Belum pernah melihat-lihat Konoha sejak pindah?" tanya Sakura lagi.
"Hn, belum." Sasuke menenggelamkan kedua tangan ke saku jaketnya.
"Kalau begitu kau harus jalan-jalan keliling Konoha lain kali," cetus Sakura ceria, "Kau akan tahu kalau Konoha itu kota yang hebat sekali!"
"Hn." Terserahlah.
Hanya perasaannya saja atau semua orang di Konoha senang dengan warna-warna cerah? Di mana-mana semua orang mendekorasi toko mereka dengan warna dominan oranye dan merah. Dan apa maksudnya kostum aneh itu? Sekali lagi, Sasuke melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang digandeng oleh ayah dan ibunya memakai kuping rubah palsu berwarna oranye melewati mereka.
"Sebenarnya sekarang hari libur apa sih?" Sasuke tidak bisa menahan diri untuk bertanya akhirnya ketika Sakura berhenti untuk melihat-lihat etalase.
Sakura mengalihkan pandangannya dari etalase, tampak berpikir. "Er... sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti. Tapi dari yang aku dengar dari cerita orangtuaku dan dari yang kubaca di buku Sejarah Konoha, dulu sekali, waktu Konoha masih jadi desa shinobi, pernah ada monster yang menyerang. Menurut legenda, waktu itu Konoha nyaris hancur, tapi seorang shinobi berhasil mengalahkan monster itu dan menyegelnya di tubuh seorang anak kecil. Dan tanggal sepuluh Oktober dijadikan hari libur Konoha untuk menghormati shinobi dan anak kecil itu."
Sasuke mengangguk singkat. "Monster yang menyerang Konoha, apakah itu monster rubah?"
Sakura mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin saja. Kau bisa baca sendiri di buku Sejarah Konoha kalau kau begitu ingin tahu. Ada di perpustakaan sekolah. Oh, lihat boneka beruang yang besar itu!" Sakura menunjuk etalase toko yang memajang boneka-boneka dengan berbagai ukuran. "Imut sekali yaa..."
Sakura butuh waktu beberapa saat sebelum memutuskan untuk berhenti mengagumi sang boneka beruang dan beralih ke toko lain untuk melihat-lihat. Gadis itu menyeret Sasuke ke sana kemari. Sepertinya ia sudah melupakan tujuan mereka sebelumnya datang ke tempat itu.
"Bukankah kita kemari mau mencari kado untuk Naruto?" Sasuke mengingatkannya dengan jengkel ketika Sakura sedang mencoba-coba kaca mata hitam yang sedang diskon.
"Oh, yeah, kau benar! Aargh... aku sampai lupa begini!" Sakura nyengir minta maaf pada cowok itu. Ia buru-buru meletakkan kaca mata hitam yang sedang dijajalnya di tempat pajangannya semula. "Kalau begitu ayo kita cari toko olahraga!"
Sekali lagi, Sakura menyambar cepat pergelangan tangan Sasuke dan menyeretnya ke toko olahraga yang letaknya hanya beberapa toko dari sana. Sasuke menghela napas. Dasar cewek! Kalau sedang melihat-lihat barang diskon suka lupa diri!
Sakura dan Sasuke menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk memilih-milih dan berdebat mengenai barang yang kira-kira cocok untuk Naruto. Sakura berkeras ingin membeli sebuah tas olahraga berwarna hitam-oranye, karena tas olahraga Naruto yang lama sudah hampir putus talinya. Sementara Sasuke mengusulkan untuk memilih bola sepak baru saja, karena menurutnya bola sepak lama Naruto sudah tidak layak pakai.
"Kalau begitu beli saja kedua-duanya, habis perkara," kata Sasuke habis sabar setelah perdebatan yang alot dengan Sakura.
Sakura menatapnya dengan pipi digembungkan, pertanda sebal. "Tapi uangku tidak akan cukup kalau membeli dua-duanya, Sasuke! Dan bola sepak yang kau pilih itu mahal!"
"Ck!" Sasuke mengibaskan tangannya, mengacuhkan protes gadis itu. "Pak, tolong bungkus bola dan tasnya."
"Eh, tunggu dulu!" seru Sakura memprotes seraya menarik kembali bola sepak yang baru saja diulurkan Sasuke pada sang penjaga toko sambil membeliak pada cowok itu. "Aku tid—"
"Aku yang akan bayar bolanya, kau yang bayar tasnya. Impas kan?" Sasuke menyelanya. Ia mengambil kembali bola dari tangan Sakura dan mengembalikannya pada si penjaga toko yang kini sudah memasang tampang bosan melihat perdebatan mereka dari tadi. "Pak, bungkus dua-duanya."
Sakura mengerjap. "Oh!" katanya, senyumnya terkembang. "Kalau begitu baiklah. Kukira kau tidak mau memberi sesuatu pada Naruto."
"Memangnya tidak boleh?" tukas Sasuke jengkel. Mengapa sih semua orang selalu heran kalau melihatnya melakukan sesuatu yang benar? Kemarin Itachi, sekarang Sakura.
"Tentu saja boleh. Naruto pasti senang," ujar Sakura cerah.
Dan setelah transaksi selesai, keduanya segera meninggalkan toko dan menuju toko stasionary yang menyediakan jasa bungkus kado.
"Kau mau menuliskan sesuatu, Sasuke?" ia menanyai Sasuke seraya menawarinya kartu ucapan yang baru dipilihnya.
"Tidak. Kau saja."
"Baiklah," Sakura mengangkat bahu, lalu mulai menuliskan sesuatu di kartu ucapan,
Happy sweet seventeen, Naruto!
Kami harap kau menyukai hadiah kami
Wish U all the best
-Sakura & Sasuke-
Lima belas menit kemudian keduanya sudah berada di atas bus lagi, kali ini bus yang menuju perbatasan Konoha. Wajah Sakura tampak puas ketika ia memeluk kotak yang lumayan besar berbalut kertas kado—hadiahnya dan Sasuke—di pangkuannya.
"Kalau kau begitu peduli pada Naruto," celetuk Sasuke setelah keduanya diam cukup lama, "kenapa kau tidak menerima saja ajakannya berkencan?"
Sakura menoleh cepat pada cowok yang duduk di sebelahnya itu. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Sasuke?" gadis itu malah balik menanyainya.
"Hanya ingin tahu," sahut Sasuke. "Tapi kalau kau tidak ingin menjawab juga tidak apa-apa."
Sakura tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawabnya, "Kurasa itu karena aku melihat Naruto bukan dengan cara seperti itu, kalau kau mengerti maksudku. Aku memedulikannya sebagai seorang teman, tidak lebih. Lagipula kalau aku menerima ajakan kencannya, itu sama saja dengan membohonginya dan aku tidak suka melakukan hal kejam seperti itu. Itu tidak adil untuk Naruto," ia menambahkan.
Kata-kata gadis itu membuat Sasuke tertegun. Mungkinkah apa yang dipikirkan Hinata terhadapnya sama seperti yang dipikirkan Sakura terhadap Naruto? Atau ada alasan lain—seperti orang ketiga?
"Kau menyukai orang lain, kan?"
Sakura mengangkat alisnya. "Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan kehidupan asmaraku, Sasuke?" tanyanya heran.
Sasuke buru-buru memalingkan wajahnya, "Jangan berpikir macam-macam. Aku tid—"
Kata-kata Sasuke terputus oleh tawa renyah Sakura, "Tentu saja aku tidak berpikir kau mungkin menyukaiku, Sasuke," ujarnya menahan tawa, "Karena bagimu, seorang gadis hanya Hinata Hyuuga, kan?"
Sasuke tidak menjawab dan Sakura segera tahu kalau perkataannya memang benar.
"Kalau kau ingin menceritakan sesuatu padaku, ceritakan saja," ujarnya. Gadis berambut merah muda itu memandang Sasuke sambil tersenyum. Sasuke tampak agak gelisah saat itu, dan Sakura mengerti, pastilah ada hal yang tiba-tiba mengganggunya. Dan ia memilih menunggu Sasuke mengatakan sesuatu alih-alih menanyainya macam-macam. Cowok biasanya merasa jengah kalau ditanyai seputar masalah sensitif seperti itu.
"Sebenarnya aku..." Sasuke memulai, tampak tidak yakin pada awalnya, namun kemudian ia melanjutkan dengan cukup mantap. Untuk kedua kalinya dalam seminggu ini ia menunjukkan kepercayaannya terhadap gadis itu ketika ia mulai menceritakan perasaannya terhadap Hinata Hyuuga, betapa ia sudah menyukai gadis itu sejak masih jadi bocah ingusan. Kemarahannya ketika ia tahu Hinata menyukai Naruto. Ini benar-benar menimbulkan kegelisahan dalam dirinya. Di satu sisi, ia masih menginginkan gadis itu, tapi di sisi lain, ia tidak ingin menyakiti hatinya dengan memaksakan perasaannya lagi.
Belum lagi tentang Naruto, bagaimana ia dulu sangat membenci cowok itu, tapi sekarang, sejak ia bergaul dan mengenal Naruto lebih dalam, penilaiannya mulai berubah. Dan ia juga mulai merasa... bahwa Naruto memang lebih pantas untuk Hinata dibandingkan dirinya. Dan ini terasa menyesakan bagi Sasuke.
"Wah, rumit juga ternyata kalau dipikir-pikir," komentar Sakura setelah Sasuke mengakhiri ceritanya. Dahi gadis itu berkerut ketika ia berpikir. "Tapi menurutku sih, itu tergantung kau sendiri, Sasuke," ujarnya. "Kalau kau menyuruh Naruto menjauhi Hinata, Naruto barangkali akan mendengarkanmu, tapi itu malah akan melukai Hinata. Tapi kalau kau memilih diam, ada kemungkinan mereka akan bersama—karena sedikit banyak, aku juga merasa Naruto ada sedikit rasa pada gadis itu—dan itu tentunya akan melukaimu. Kau tahu kan, setiap pilihan punya konsekuensi sendiri-sendiri."
"Hn. Entahlah..."
Keheningan turun di antara keduanya selama beberapa saat sementara Sasuke kembali merenungi kata-kata Sakura. Namun sepukan lembut di lengan Sasuke membuatnya terlonjak, membuyarkan lamunannya seketika. Sasuke menoleh dan mendapati Sakura sedang tersenyum padanya, mata hijaunya memancarkan pengertian.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Untuk sementara ini, biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Nanti juga kau akan tahu jawabannya."
Mengalir sebagaimana adanya. Mungkin yang dikatakan Sakura memang benar, pikir Sasuke. Tapi tetap saja ia merasa bingung. "Sakura," celetuknya lagi.
"Hm?"
"Kalau kau ada di posisiku sekarang ini, apa yang akan kau lakukan?"
Sakura tampak berpikir selama beberapa saat, sebelum akhirnya tawanya pecah. "Kalau aku... mungkin aku akan sok jadi gentleman. Seperti di drama-drama televisi, aku akan melepaskan tanganku, membiarkan orang yang kusukai mencintai orang yang diinginkannya, membiarkannya menemukan pelabuhannya sendiri. Kalau perlu, aku akan membantunya mencapai itu."
Melepaskan tanganku, lalu membiarkan Hinata mencintai Naruto. Kalau perlu, membantunya—akh! Mengapa begitu sulit? Sasuke membatin. Ah, sudahlah. Aku tidak ingin memikirkannya sekarang. Berusaha melupakan pembicaraan mereka sebelumnya, sebentuk seringai tipis menghiasi wajah cowok itu. "Cih! Kata-katamu jadi sok bijak begitu."
"Biarin!" Sakura menjulurkan lidah ke arahnya, lalu ia tertawa. "Haaah... Sasuke tetap saja Sasuke yang hobinya ngomong ketus."
"Hn," sahut Sasuke sambil memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum tipis di wajahnya. Dan ketika ia menoleh pagi pada Sakura, wajahnya sudah kembali dingin. Tapi hatinya entah mengapa terasa lega dan menghangat melihat gadis di sebelahnya tertawa. Mungkin inilah rasanya berbagi dengan seorang sahabat? Bukan hanya di saat senang, tapi kau juga bisa membagi bebanmu bersama sahabatmu. Dan rasanya begitu menyenangkan.
—Sahabat? Kata itu terdengar asing bagi Sasuke. Tapi saat ia bersama Sakura atau Naruto, kata itu serasa nyata baginya. Nyata.. dan terasa benar.
Begitu juga dengan Sakura. Ia belum pernah merasa seperti ini selain dengan keluarganya dan Ino Yamanaka, sahabatnya sejak kecil. Selama ini ia merasa hanya Ino sahabatnya yang sejati. Tapi dengan Sasuke menumpahkan keluh kesah padanya hari ini dan hari sebelumnya dan dengan Naruto yang selalu membelanya juga menghargai dukungannya, ia merasa berarti, dibutuhkan—dan dipercaya. Hei, bukankah kepercayaan adalah hal yang sangat vital dalam sebuah persahabatan? Apakah ia juga telah menemukan seorang sahabat baru dalam diri kedua cowok itu?—siapa yang tahu?
Dan sebuah kepercayaan pula yang sudah tumbuh di hati Sakura terhadap Sasuke ketika ia juga menceritakan hal sensitif itu padanya. Tentang Neji Hyuuga.
"Sudah kuduga kau menyukainya," kata Sasuke dengan seringai kecil.
"Dari mana kau tahu?" tanya Sakura sambil mengernyit.
"Kau itu mudah dibaca seperti buku yang terbuka, Sakura. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui kalau kau naksir dia. Matamu, bahasa tubuhmu, dan tingkahmu yang konyol setiap kali kalian bertemu," kata Sasuke dengan seringai tipis.
"Aku tidak konyol!" sangkal Sakura langsung. Wajahnya merah padam.
"Muka merah yang bego, menyusup ke kolong meja seperti waktu di kantin tempo hari. Apa itu bukan konyol namanya?" dengus Sasuke yang langsung disambut dengan tinju pelan di bahu oleh Sakura.
"Hah! Jahat!" gadis itu bersungut-sungut. Tapi kemudian ekspresinya berubah serius. "Kalau kau mengenal keluarga Hyuuga dengan baik, kau pasti juga mengenal Neji kan? Menurutmu, apakah dia baik?"
"Hn. Lumayan," sahut Sasuke datar.
"Lumayan," Sakura cemberut lagi, jelas tidak puas dengan jawaban Sasuke karena menurutnya Neji lebih dari sekedar lumayan. Neji segalanya yang ia inginkan dari seorang cowok. "Sepertinya itu memang kata favoritmu ya, lumayan."
"Hn," sahut Sasuke lagi, membuat Sakura menggeram gemas.
Bus yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan perbatasan yang asri. Daun-daun keemasan yang gugur menyelimuti jalan beterbangan saat bus itu melintasi jalan yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan tua yang meranggas, membentuk semacam terowongan keemasan di sepanjang jalan itu.
"Oh, aku suka sekali setiap kali lewat jalan ini!" kata Sakura sambil memandang kagum pemandangan yang didominasi warna cokelat keemasan—warna khas musim gugur—di luar jendela. "Pemandangannya bikin hati damai. Apalagi kalau musim semi. Lihat itu!" ia menunjuk ke arah jendela di sampingnya. Bus yang mereka tumpangi sedang melewati sebuah lapangan yang cukup luas di dekat danau berwarna biru kehijauan yang dilatarbelakangi hutan keemasan. Ada dermaga kecil dan perahu yang sepertinya sudah tak terpakai juga di sana. "Kalau musim semi lapangan itu dipenuhi bunga dandelion. Indah sekali..."
Dan saat berikutnya Sasuke membiarkan gadis yang duduk di sebelahnya itu berceloteh tentang tempat-tempat indah lain di Konoha. Termasuk museum, distrik-distrik yang terkenal, dan air terjun yang katanya sangat bersejarah yang terletak di ujung Konoha. Sampai akhirnya bus berhenti dan keduanya turun di sebuah halte kecil yang sepi di dekat sebuah pohon yang kelihatannya sudah tua.
Sasuke menghirup udara dalam-dalam. Wangi segar khas musim gugur langsung menerpa indera penciumannya. Dan udaranya juga sangat sejuk.
"Sekarang tinggal jalan sedikit ke arah sana!" ujar Sakura sambil menunjuk belokan di seberang jalan. "Yuk!"
Gadis itu berlari kecil menyeberangi jalanan yang diselimuti dedaunan kering ketika tiba-tiba saja sebuah porsche merah muncul di dari arah kota. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Sakura baru menyadari keberadaan mobil itu ketika Sasuke berteriak keras,
"SAKURA! AWAS!!"
Lalu terdengar suara berdecit mengerikan ketika mobil itu mengerem mendadak.
---
TBC...
---
Ah~ gomen kalo aneh ya… Aku ngerasa kok banyak banget kurangnya di chap ini dan aku gak akan heran kalau ada yang memberi flame. Tolooong…-getok-getok kepala sendiri- ehm, sekarang balasan review. Disekalianin aja yah.
Pertama, makasih banget yang udah membaca dan mereview chapter sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnya lagi! –peluk-peluk- kalian benar-benar penyemangatku! Maafkan buat kesalahan, keanehan, kegajean dan segudang typo yang tersebar di chapter kemarin, yah. Makasih banget koreksinya. Kalau ada waktu akan aku perbaiki deh.
Kalo buat Akatsuki Café, jujur aja itu iseng banget. Aku pingin Akatsuki muncul di fic ini sebagai figur 'kakak' untuk keempat bocah Konoha itu. Oia, Akatsuki Café mungkin memang milik Akatsuki, tapi bukan berarti mereka jadi pelayan dan tukang masak lho. Mereka yang punya modal, otomatis mereka yang jadi bos. Yang jadi pelayan mah orang lain. Selain itu mereka juga punya kerjaan sendiri-sendiri di tempat lain. Nanti akan ada saatnya mereka diceritain deh... ;p
Ingatlah ini fic OoC, teman-teman. Makasih sudah mengikuti ceritanya sampai sejauh ini. Luv U all!
PS : Untuk Rie-chan, imoutoku yang ngikutin cerita ini di FFN tapi gak pernah bilang-bilang, kalau mau fanfic Akatsuki, BIKIN NDIRI!! Huehehehe.... XD –ditimpuks ade-
