Chapter terancur. Aku bingung mau memunculkan Sai seperti apa dan bagaimana dia bisa masuk ke dalam persahabatan SasuSakuNaru. Huhu... jadinya malah gaje seperti ini deh. Gomenasai, ne... chapter ini tadinya mau dipost hari minggu kemarin, tapi berhubung inet lagi gak konek, jadi tertunda deh. Itu berarti jadi ada kesempatan buat benerin chapter ini. Tapi tetep aja hasilnya gaje. Hiks...

Disclaimer (untuk chapter-chapter sebelum dan setelah chapter ini) : Masashi Kishimoto, yang pasti bukan iputz. Hehe...


Chapter 22

Suara musik klasik mengalun lembut memenuhi ruangan beratap tinggi itu. Sesosok jangkung berambut hitam pekat berdiri di tengah-tengah ruangan, matanya terpejam sementara ia berkonsentrasi menangkap setiap nada yang mengalun di telinganya, mencoba mencari apa yang selama ini hilang dari jiwa seninya—sebuah inspirasi.

"Inspirasi bisa didapat dari mana saja, Sai," ia bisa mengingat ucapan sang kakak dengan baik. Kata demi kata. "Kau bisa mendapatkannya dari musik. Salah satu sumber inspirasi yang kusukai. Dengarkan harmonisasi nadanya, biarkan merasuk dalam otakmu, ke jiwamu. Mereka akan menuntunmu..."

Namun harmonisasi yang dimaksud sang kakak tidak kunjung merasuk ke dalam jiwanya. Segalanya tetap kosong baginya. Hampa.

Sai menggeram kesal. Kemudian dibukanya kelopak matanya, menampakkan bola mata kelam yang kosong. Tidak ada ekspresi, seolah mati.

Suara sang kakak kembali berdengung dalam kepalanya, tertawa. "Kau terlalu memaksakan diri. Inspirasi tidak selalu berasal dari musik. Bisa juga dari hal lain. Misalnya saja—seseorang yang penting bagimu..."

Lalu dalam kepalanya kembali berkelebat kejadian di sore hari yang cerah saat itu. Sesosok berambut cokelat muda sedang tersenyum padanya. Tangannya memegang palet dan di depannya, sebuah lukisan dalam kanvas yang sudah setengah jadi.

"Seseorang yang penting?" tanya sosok yang lebih muda, Sai, bingung.

"Bisa siapa saja," lanjut sang kakak, "Keluarga, sahabat atau orang kau cintai..." ia kembali menggoreskan kuasnya lagi. Gerakannya halus dan penuh perasaan, menghasilkan goresan yang juga selembut perasaan yang melingkupinya saat itu—saat ia menggoreskan dengan sempurna wajah sang bidadari.

Sai mengagguk-anggukan kepalanya mengerti. Lalu ia beranjak dari kursinya, mendekati kakaknya, mengintip dari atas bahunya. "Cantik," komentarnya.

"Hm.." gumam sang kakak sambil mengangguk. Tersenyum puas memandangi lukisannya. "Yang asli jauh lebih cantik."

"Jadi dia benar-benar ada?" Sai tersenyum. "Kau sedang jatuh cinta, Kak?"

Sang kakak tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum yang segera diasumsikan Sai sebagai 'ya'.

"Jatuh cinta itu... rasanya seperti apa, sih?" tanyanya lagi. Ingin tahu.

"Lebih baik—Jauh lebih menyenangkan dari membuat sebuah masterpiece," jawab kakaknya dengan senyum penuh arti. Ketika dilihatnya sang adik tidak begitu mengerti, ia menambahkan, "Kau akan tahu kalau sudah merasakannya sendiri."

"Jadi gadis ini..." ia mengerling ke arah lukisan kakaknya lagi, "yang menjadi inspirasimu selama ini?"

"Dia yang terbaik," sahut sang kakak lagi.

Tapi inspirasi terbaikmu tidak kutemukan, kak! batinnya marah ketika bayangan masa lalu itu mengabur, menampakkan masa sekarang, di mana tidak ada sosok sang kakak. Padahal aku sudah mencarinya kemana-mana—bahkan aku sampai pindah ke sekolah tempat gadis itu bersekolah! Aku mencarinya di tempatmu dulu biasa menghabiskan waktu. Tapi ia tidak kutemukan di mana-mana!

—Inspirasimu itu.

Matanya yang terpacang memandang kanvas kosong di depannya menyipit. Kosong seperti jiwanya yang hampa. Kosong sejak sang kakak meninggalkannya untuk selamanya, seolah ia telah membawa jiwa sang adik bersamanya—meninggalkannya dalam kekosongan yang mengerikan.

Namun Sai memilih untuk memaksakan dirinya saat itu. Dengan cepat, digoreskannya ujung pensil ke kanvas kosong itu. Satu garis. Dua garis. Tiga garis. Empat, lima...tapi semakin banyak yang digoreskannya semakin ia menyadari bahwa garis-garis itu tidak membentuk apa-apa. Garis-garis yang tidak berarti apa-apa. Ia mulai frustasi lagi saat ia menyadari bahwa sekali lagi ia hanya menghasilkan sampah yang tak berarti.

"Aaargh!" Sai melempar pensil di tangannya ke arah kanvasnya. Merasa belum puas, ia menyambar kanvas itu dari penyangganya lalu melemparkannya sekuat tenaga ke seberang ruangan, menabrak jatuh sebuah vas bunga keramik yang diletakkan di atas meja tinggi, menimbulkan bunyi 'prang' keras yang bergaung di ruangan beratap tinggi itu. Tapi ia tidak peduli—bahkan sekarang ia mulai menghancurkan yang lain dalam keputusasaannya. Lukisan-lukisannya yang setengah jadi. Ornamen-ornamen yang menghiasi ruangan itu. Tidak ada yang luput dari luapan kemarahannya.

Kecuali itu.

Terengah-engah, Sai mendekati sebuah lukisan besar yang dipajang di ujung ruangan. Masterpiece milik kakaknya. Lukisan yang menampakkan sesosok bidadari yang sedang tersenyum. Dengan gaun putihnya yang melambai, kulitnya yang seputih pualam, rambutnya yang berwarna keemasan berkibar dengan lembut membingkai wajahnya yang seolah memancarkan kecantikan sejati.

"Di mana kau sebenarnya, Bidadari?" engahnya seraya menatap dua warna saphire yang membentuk mata indah sang Bidadari. "Kau di mana?"

Namun sang Bidadari tetap bungkam, hanya tersenyum.

"KAU SEBENARNYA ADA DI MANA, HAH?!!" Sai berteriak pada akhirnya. Berpaling dari lukisan gadis yang dicintai sang kakak seraya mencengkeram rambut hitamnya dengan frustasi. Kata-kata kutukan meluncur dari bibirnya.

BRAK!

Pintu menjeblak terbuka. "Ada apa, Tuan Muda?!" seru seorang wanita muda berambut ungu panjang yang merupakan kepala pelayan di rumah besarnya sambil menghambur masuk. Mata wanita itu terbelalak tatkala ia memandang ruangan itu porak poranda. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan, lalu berpaling pada tuannya yang terengah-engah. "Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" tanyanya cemas.

Tapi Sai tidak mengindahkan pertanyaan maupun tatapan khawatir wanita itu. Masih dengan napas memburu, ia berbalik, berjalan cepat melewati pelayannya meninggalkan ruangan.

"Tuan Muda!" sang pelayan terperanjat. Lalu bergegas menyusul tuannya.

"Suruh mereka membereskan studio," kata Sai datar padanya.

"T-tapi, Tuan—"

Sebelum wanita itu menyelesaikan kata-katanya, Sai sudah berbalik menghadapinya. Ekspresi keras sang tuan membuatnya berjengit. "KUBILANG SURUH MEREKA MEMBERESKAN STUDIO, SIALAN!" bentaknya membuat pelayannya terperanjat kaget.

Tepat saat itu, Sai merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Memaki pelan, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Rupanya hanya pesan pengingat jadwal terapi dengan dokter Kabuto Yakushi pukul sepuluh tigapuluh. Ia mematikan reminder-nya.

"Suruh supir menyiapkan mobilku, Yuugao," perintahnya pada wanita di depannya dengan nada lebih pelan.

"B-baik..." sahut sang pelayan terbata-bata. Tanpa berlama-lama, wanita itu bergegas menuju lantai bawah untuk menyuruh salah seorang supir menyiapkan mobil untuk Sai.

Sai mengangguk sekilas, lalu berbalik menuju kamarnya yang megah untuk mengambil jaket dan langsung keluar lagi. Mengabaikan gadis-gadis pelayan yang membungkuk memberi salam padanya, Sai memasukkan lengannya ke dalam lengan jaket jeans-nya. Langkah kakinya bergaung di penjuru aula bawah ketika ia menuruni tangga marmer menuju lantai dasar. Sebuah porsche merah sudah siap di depan pelataran rumah besar itu ketika Sai keluar. Seorang pria muda berseragam membungkuk padanya.

"Anda ingin diantar atau—"

"Aku pergi sendiri," sela Sai, lalu menyambar kunci mobil yang diulurkan sang supir. Tanpa mengucapkan terimakasih, ia langsung menuju mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil mewah itu sudah melaju melintasi halaman depan yang luas, melewati pagar dan meninggalkan rumah megah itu dengan kecepatan tinggi.

Ia membelokkan mobilnya mendadak ke arah rumah sakit Konoha, membuat suara berdecit mengerikan ketika bannya bergesekan dengan aspal. Terdengar suara klakson dan pengendara mobil lain yang memaki-maki, tapi Sai tidak memedulikan mereka. Bahkan ia tidak peduli seandainya mobilnya itu menabrak mobil lain. Masih dengan kecepatan tinggi, ia meluncur ke arah rumah sakit.

"Saya merasa marah sekali," kata Sai. Kedua tangannya saling remas dengan gelisah di atas pangkuannya dan pandangannya tak hentinya berpindah-pindah; dari jendela ke rak buku, lalu kembali ke jendela sebelum ia akhirnya menatap pria muda berambut keperakan dengan kacamata bulat yang duduk di depannya. "Semua ini membuat saya marah, Dokter. Saya tidak mengerti."

Saat itu ia sudah berada di ruang praktek dokter Yakushi Kabuto, dokter psikiatri yang juga dokter pribadi keluarganya. Sai duduk di kursi berlengan nyaman di ruangan yang sengaja diset supaya nyaman itu sementara sang dokter muda duduk di bangku yang lebih kecil di depannya. Buku catatan bersampul kulit dan sebuah pena siap di tangan.

Dokter Yakushi mengangguk, matanya menunjukkan pengertian seperti biasanya, lalu mencatat sesuatu di buku catatannya. "Bisa kau ceritakan padaku, Sai, apa tepatnya yang membuatmu marah?" ia bertanya tenang.

Sai tampak bingung sejenak, lalu kembali meremas-remas tangannya. "Saya tidak bisa memastikan, Dok. Tapi ini tentang kakak saya."

"Kau masih sedih dengan kematian kakakmu?"

"Dia membawa jiwa saya bersamanya, Dok," sahut Sai cepat. "Saya merasa kepala saya kosong. Saya tidak bisa melukis lagi dan..." ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "kakek berhenti bicara pada saya sejak itu. Saya pikir... saya pikir dengan menemukan gadis yang ada di lukisan kakak saya—gadis yang pernah saya ceritakan sebelumnya pada Anda—saya akan bisa melukis lagi. Tapi saya tidak bisa menemukannya. Saya rasa saya kehilangan sense melukis saya, Dok."

"Aku mengerti," kata dokter Yakushi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya setelah Sai mengakhiri penuturannya. Ia diam sesaat seraya menaikkan posisi kacamata di atas hidungnya, lalu melanjutkan, "Sejauh ini, apa yang kau lakukan untuk mengatasi masalahmu?"

"Saya mencoba segalanya yang saya pikir akan membuat saya bisa melukis lagi, dan saya juga pindah sekolah," jawab Sai, wajahnya memerah ketika rasa kecewa dan marah itu merasuk lagi dalam hatinya. "Tapi aku tidak menemukannya, Dok!" katanya setengah berteriak, jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia mengatakan ini. "Dia tidak ada di mana-mana padahal saya tahu dia sekolah di sana!"

"Maksudmu, gadis yang ada di lukisan kakakmu?" tanya sang dokter dengan nada lembut.

"Ya, dia! Dan saya juga bergabung di salah satu klub untuk mengalihkan pikiran saya seperti yang Anda sarankan. Tapi rupanya itu juga tidak berhasil," jawab Sai resah. "Di sini," ia meletakkan tangan di dadanya, "tetap saja kosong."

"Hm..." Dokter Yakushi mengangguk, lalu menulis sesuatu di buku catatannya. "Lalu selama ini siapa yang membantumu? Maksudku, kau punya seseorang yang mendengarkanmu atau... membantumu dalam hal ini?"

Ia teringat kakeknya yang bahkan tidak pernah bicara lagi padanya. Dan ini membuat hatinya terasa pedih lagi. "Tidak."

"Bagaimana dengan teman-teman sekolahmu?"

Sai memalingkan wajah, terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

"Sai?" desak dokter Yakushi.

"Tidak," ujar Sai dengan nada pahit.

"Hmm..." dokter muda itu mengangguk. "Kau jelas membutuhkan support system yang lebih, Sai," komentarnya pelan.

"Kenapa jiwa saya selalu terasa kosong, Dok?" tanya Sai kemudian dengan nada putus asa, tidak mendengarkan komentar terakhir dokternya.

Dokter Yakushi menatap pasiennya sejenak, lalu menghela napas. "Kau terlalu tegang, Sai," ucap sang dokter, "alam bawah sadarmu barangkali belum menerima kehilangan orang yang penting bagimu—dalam hal ini kakakmu—mungkin itulah sebabnya. Pikiranmu masih terpusat pada kesedihan atas kematian kakakmu. Dan kau kesepian," ia menambahkan. "Sekarang cobalah untuk rileks dulu, sandarkan punggungmu—" Sai menurutinya, bersandar di punggung kursi, "—pejamkan matamu, tarik napas yang dalam... hembuskan perlahan-lahan lewat mulut... lakukan terus sampai kau merasa rileks..."

Sai menurutinya. Ia memejamkan matanya, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan lewat mulut. Perlahan, ia merasa tubuhnya mulai terasa lebih santai. Meskipun kemarahan dan kegelisahannya masih belum terangkat sepenuhnya, setidaknya sekarang ia bisa rileks.

"Sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya dokter Yakushi kemudian.

Sai membuka matanya, lalu mengangguk.

"Bagus," kata dokter Yakushi sambil tersenyum. Sai melihatnya menutup buku catatannya dan membungkuk ke arahnya, menatap matanya dalam-dalam seperti yang biasa dilakukannya setiap memberikan masukan atau nasihat pada pasien-pasiennya. "Dengarkan aku, Sai. Aku sudah lama menanganimu dan dari yang selama ini kuamati, kau memiliki masalah dengan pergaulanmu. Shin seringkali memberitahuku tentang tingkah lakumu di sekolahmu yang dulu, tentang kelemahanmu dalam menjalin komunikasi dengan orang-orang di sekelilingmu."

"Apakah itu salah, Dok?" Sai bertanya.

Dokter berambut keperakan itu menghela napas panjang sebelum menjawab, "Bukannya salah atau benar, Sai. Tapi ini adalah masalah untukmu. Selama ini kau hanya bisa berkomunikasi dengan baik dengan segelintir orang saja, dan kau juga terlalu bergantung pada kakakmu dan sekarang, setelah dia tidak ada, kau kehilangan peganganmu. Mengapa kau tidak mencoba membuka pergaulan dengan orang lain?"

Sai menunduk. "Saya tidak tahu caranya," gumamnya perlahan.

"Mengapa tidak mencoba untuk mempelajari caranya?" kata sang dokter sambil tersenyum. "Kau jelas membutuhkan seorang teman untuk masalahmu kali ini, Sai, atau beberapa. Setidaknya kalau dengan teman, kau bisa sedikit meringankan bebanmu. Kadang pergaulan itu bisa menjadi obat yang ajaib lho. Orang yang sakit saja bisa cepat sembuh kalau ditengok teman-temannya. Dan kalau kau tidak tahu," ia menambahkan dengan nada jenaka, "banyak para seniman hebat yang mendapatkan inspirasinya dari hal indah yang mereka sebut persahabatan."

"Saya akan mencobanya kalau begitu," sahut Sai setelah beberapa lama menatap dokternya dengan tatapan tidak yakin.

"Bagus kalau begitu," Dokter Yakushi tersenyum, "Sekarang aku akan meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk mengatasi keteganganmu," katanya sambil beranjak menuju meja kerjanya untuk mengambil buku resep. "Untuk sementara aku ingin kau menuliskan semua yang kau rasakan—apa saja yang membuatmu tertekan di buku harian. Dan aku ingin kau membawa catatan itu di setiap sesi terapimu," dokter muda itu memberi instruksi sementara ia menuliskan resep obat untuk Sai.

"Baik," sahut Sai pelan sambil beranjak juga dari kursi berlengan dan berjalan mendekati meja kerja sang dokter. Ia menerima secarik kertas resep yang diulurkan dokternya dan menggumamkan terimakasih.

Dari balik mejanya, dokter Yakushi mencondongkan tubuh ke arah Sai dan berkata lembut, "Ingat apa yang baru saja kukatakan padamu, Sai. Menurutku itulah terapi yang paling baik untukmu. Tapi kalau kau merasa belum bisa, kau bisa mencoba teknik napas dalam yang kuajarkan padamu setiap kau merasa tegang. Oke?"

Sai mengangguk pelan. "Baik, Dok."

"Dan untuk sekarang ini, kau perlu membuat dirimu santai dulu," lanjut dokter Yakushi seraya mengantar Sai menuju pintu ruang prakteknya yang luas. "Lupakan sejenak soal kakak, soal melukis, soal gadis misterius itu atau apapun, pikirkan saja tentang dirimu sendiri. Tidak ada salahnya bersenang-senang bukan? Bagaimana kalau kau pergi ke suatu tempat yang indah, mungkin Valley End atau tempat lain yang kau sukai?"

Dan itulah yang kemudian dilakukan Sai, menuruti nasihat dokternya. Meskipun ia sebenarnya tidak begitu yakin bahwa itu akan membantunya, tapi ia merasa harus mencobanya. Setidaknya untuk sekarang, ia harus mendinginkan kepalanya terlebih dahulu. Dan setelah mengambil obat yang diresepkan dokter Yakushi di apotek, ia segera meninggalkan rumah sakit.

Sai membawa mobilnya memasuki antrian kendaraan yang bergerak perlahan menuju arah perbatasan Konoha. Jalanan kota hari itu memang lebih ramai dari biasanya mengingat hari itu adalah hari libur Konoha. Di trotoar sepanjang jalan, ia bisa melihat orang-orang berlalu lalang membawa berkantung-kantung belanjaan—pasti ada obral besar-besaran di distrik pertokoan dekat sana karena Sai juga sempat melihat spanduk-spanduk beraneka warna dan ukuran yang bertuliskan 'BIG SALE'. Ia menghentikan mobilnya ketika sebarisan panjang anak-anak TK menyeberang ke arah Museum Konoha dengan didampingi oleh seorang polantas dan dua orang wanita yang sepertinya guru mereka. Anak-anak itu memakai hiasan kepala berbentuk kuping rubah dan hiasan semacam ekor berjumlah sembilan buah yang diikatkan di sekeliling pinggang mereka—kostum khas hari libur sepuluh Oktober.

Melihat mereka, Sai jadi teringat masa kecilnya. Setiap tanggal sepuluh Oktober, kakaknya selalu saja mendandaninya dengan kostum konyol itu. Sai kecil yang tidak suka, berlarian ke penjuru rumah besar mereka untuk menghindari serangan sang kakak yang berkeras memasangkan ekor di bokongnya. Tapi pada akhirnya kakaknya itu selalu berhasil menangkapnya dan Sai terpaksa terperangkap dalam kostum rubah oranye seharian sementara sang kakak, dengan tampang puas, mengambil fotonya sambil tertawa-tawa.

Kenangan yang indah, sebetulnya. Tapi Sai tidak merasa demikian karena saat berikutnya ia merasakan perasaan kosong mengerikan itu lagi dalam dadanya. Perasaan hampa yang selama ini meresahkannya, membuatnya marah.

Sial!

Suara klakson tak sabar yang datang dari belakang mobilnya membuyarkan lamuannya. Sai mengerjapkan mata dan menyadari mobil di depannya sudah jauh. Ia segera memasukkan perseneling dan porsche merah itupun melaju, menyusuri jalan meninggalkan pusat kota yang hiruk pikuk.

Sai menambah kecepatan mobilnya ketika sudah meninggalkan kota dan mulai memasuki kawasan yang lebih lengang. Di mana gedung-gedung pertokoan yang berderet sudah digantikan dengan perumahan yang agak jarang, lalu perlahan pemandangan berganti menjadi deretan pepohonan yang meranggas, memenuhi jalanan dengan daun-daunnya yang keemasan. Pemandangan khas musim gugur.

Salah satu objek favorit sang kakak untuk dilukis.

Sial!

Lukis! Lukis! Lukis! Lupakan soal melukis, sialan!

Porsche itu semakin melaju kencang seiring dengan emosi sang pemilik yang kian meletup, membuat dedaunan berwarna keemasan yang dilewatinya berhamburan di udara. Sai memijit pelipisnya yang berdenyut menyakitkan dengan satu tangan sementara tangan yang lain tetap mencengkeram roda kemudi. Stress yang dialaminya memang kerap menimbulkan rasa pening di kepalanya.

Perasaan tidak enak di kepalanya itu sangat mengganggu konsetrasinya menyetir sampai-sampai ia tidak sadar ketika ada sesosok gadis sedang menyeberang di jalan di depan sana. Ia baru menyadarinya ketika ia sudah dekat. Sai terkesiap.

Ia mengumpat keras-keras seraya menginjak pedal rem dalam-dalam lalu membanting setir ke arah kiri.

Suara decitan menyeramkan terdengar memenuhi jalanan yang kosong itu saat mobilnya berputar berbalik arah. Samar-samar Sai bisa mendengar suara laki-laki berteriak dan suara jeritan anak perempuan di antara suara decitan ban mobilnya yang bergesekan dengan aspal. Dan sosok gelap yang tiba-tiba menyambar tubuh gadis tadi ke arah tepi jalan.

Sai memejamkan mata rapat-rapat, menanti benturan keras yang mungkin akan terjadi sementara kakinya masih menginjak pedal rem dalam-dalam. Tapi nyatanya benturan itu tidak terjadi. Ia membuka matanya kembali ketika mobilnya melonjak berhenti. Jantungnya berdentum-dentum keras di dalam rongganya, napasnya terengah-engah dan tangannya yang mencengkeram roda kemudi gemetar hebat.

Nyaris saja, pikirnya sembari menghela napas lega.

Ia memandang berkeliling dan mendapati mobilnya sudah berbalik arah dengan sempurna. Ia juga bisa melihat bekas hitam seperti terbakar melingkar di jalan tempat ban mobilnya tadi menggesek aspal. Dan di seberang sana, orang yang nyaris ditabraknya. Si gadis jatuh dalam posisi menelungkup dengan sebelah tangan teman lelakinya setengah memeluknya, melindungi kepalanya dari benturan dengan aspal.

Sai bergegas keluar dari mobilnya, berlari-lari kecil menyeberangi jalan untuk menghampiri kedua orang itu.

"Kalian tidak apa-apa?" ia bertanya dengan suara bergetar.

Kedua sosok itu bergerak. Mula-mula yang laki-laki, yang rambut hitamnya mencuat di bagian belakang. Ia telah menarik dirinya bangun, melepaskan pegangannya pada temannya, lalu membantunya berdiri pada lengannya.

"Tidak apa-apa, Sakura?" tanyanya pada si gadis yang merintih.

"Ouw... sepertinya lututku luka," jawab si gadis seraya merintih pelan. Rambutnya yang berwarna merah muda dibuntut kuda terjatuh ke bahunya ketika ia mencoba menarik tubuhnya berdiri dengan dibantu temannya.

"Geez. Yang penting bukan kepalamu," gerutu si laki-laki. "Bisa berdiri, kan?"

Sai merasakan hatinya mencelos. Matanya melebar. Sepertinya ia mengenali profil dua orang itu. Dan ketika keduanya mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya, ia tahu kalau perkiraannya benar. Mereka, Sakura Haruno dan Sasuke Uchiha. Dua orang yang dikenalnya sebagai rekan satu sekolahnya. Sedang apa mereka di tempat seperti ini?

"Kau!" dengking si gadis sambil melempar pandang murka pada Sai ketika ia berhasil berdiri dengan terhuyung-huyung, jarinya menuding. "Ternyata kau! Bisa menyetir tidak sih? Kau nyaris membunuh kami, tahu!"

Ekspresi kaget Sai seketika digantikan oleh senyum palsu yang biasa ditampakkannya ketika melihat dua orang yang dikenalnya itu. "Ah, halo, Jelek," sapanya pada Sakura sebelum menoleh pada Sasuke yang sedang mengibas-ibaskan tanah dari lengan jaketnya, "dan si Homo."

Perhatian Sasuke langsung teralih saat itu juga, wajahnya merah padam dan ia tampak marah. "Siapa yang kau bilang homo?"

Sai tertawa datar. "Memangnya ada orang lain selain kau di sini yang pantas disebut homo? Dan kurasa itu tidak salah kan?" katanya enteng dengan senyum yang sama.

"Kau—" Sasuke mungkin sudah akan melompat menghajar Sai kalau Sakura tidak buru-buru memegangi lengannya kuat-kuat.

"Sudahlah, Sasuke. Orang bermulut seperti sampah macam dia tidak usah dipedulikan!" kata Sakura seraya membelalakkan mata pada Sai. "Orang ini memang tidak tahu caranya bersikap pada orang lain. Bukannya minta maaf karena hampir menabrak orang malah bicara kotor!"

"Oh, jadi kau ingin aku meminta maaf padamu, jelek?" balas Sai. "Kalau begitu aku—"

"Masa bodoh!" Sakura menyelanya kasar. "Ayo, Sasuke, kita pergi dari sini!" gadis itu menarik tangan Sasuke dan menyeretnya dari sana setelah sebelumnya memungut bungkusan yang terlempar dari tangannya ketika mereka jatuh tadi.

"—minta maaf..." Namun baik Sakura maupun Sasuke terlalu marah untuk mendengarnya. Selama beberapa saat, Sai masih berdiri di sana, menatap punggung kedua orang itu menjauh. Sakura yang berjalan dengan tertatih-tatih, menyeret lengan Sasuke yang tampak tidak puas.

"Dengarkan aku, Sai. Aku sudah lama menanganimu dan dari yang selama ini kuamati, kau memiliki masalah dengan pergaulanmu. Shin seringkali memberitahuku tentang tingkah lakumu di sekolahmu yang dulu, tentang kelemahanmu dalam menjalin komunikasi dengan orang-orang di sekelilingmu." Sai teringat lagi kata-kata dokternya.

Apakah ini yang dimaksudkannya? Sai membatin bingung. Yang ia tahu, ia hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya. Sai menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak mengerti.

---

TBC...

---

Aargh… buat fans-nya Sai, maaf sudah membuat Sai menjadi pasien dokter jiwa. Wekekek…Tapi bukan berarti dia sakit jiwa lho, hanya butuh terapi saja. Jujur aku bingung banget mau bikin masalah yang dialami Sai seperti apa. Masalah emosi? Depresi? Akhirnya aku milih masalah sosialisasi yang ada hubungannya dengan kesulitan berkomunikasi. Ditambah kehilangan orang yang penting dan nyambung ke stress karena gak bisa melukis lagi. hue… poor Sai! Kompleks banget masalah dia…

Aaargh! Apa-apaan itu sesi terapinya!! Grrrr!!!

Gomen kalau salah ya. Untuk yang punya pengetahuan lebih soal kesehatan psikiatri, aku mohon bantuan dan masukannya. Meski udah sambil nyontek ke buku-buku jiwa, tetap saja sulit menerjemahkannya ke dalam bahasa fiksi narasi. Hiks… bukan penulis pro sih…hanya penulis iseng. Dan gomen kalo chap ini lebih pendek. haha..

Furukara : Thanks sudah mereview ya, Mayu. Tebakanmu bisa dilihat di chapter ini, kan?

Kakkoii-chan : Haha... aku memang iseng sekali menghubungkan dunia modern dan ninja-ninjaan. Bisa dilihat lagi hint-nya di chapter-chapter mendatang. Makasih sudah membaca...

Chika : --peluk-peluk balik—aku memang suka banget sama scene-scene friendship mereka. Jarang soalnya, kebanyakan romance. Hehe... Iya, itu soal Kyuubi. Terus baca lanjutannya ya, dear...

Uzumaki Khai : Ketabrak kah? Hehe... udah ada di atas. Makasih udah mereview, Khai-san...

PinkBlue Moonlight : Akatsukinya ditungguin aja yah... Kalau soal calon ceweknya Itachi... er... siapa? Haduh, jadi penasaran sama pendapat kamu, sama gak sama planing aku dan hint yang udah aku kasih? Tapi gomen tak sempat ber-PM. Hiks...

Dilia-chan : Ah~ makasih... Haha... Sasuke kalau gak nyebelin gak asyik sih. Biarkan dia berubah, tapi nyebelinnya masih ada. XD.

Aika-chan : Haha... gak papa kok, salah nyapa juga. Btw, ini udah kedua kalinya ada yang salah nyapa pen-name-ku. Ini udah diupdate, kan? Makasih lho udah membaca...

Minna-sama, makasih sudah mengikuti sampai sejauh ini. Aku harap kalian semua gak bosan dengan fanfiction berpuluh chapter ini, karena masih banyak misteri yang belum terungkap dan hint-hint yang belum diperjelas. Dan pairingnya... Siapa nantinya sama siapa? Masih belum ada hint ke arah sana... eh, ada ketang. Yang mana? Rahasia dunks.. Haha.. *ketawa setan*

Sampe ketemu di chapter mendatang..