Chapter ini aku persembahkan untuk mengenang Shizune-chan. Aaargh! Shizu, kenapa dikau mateee??? Dirimu kan belum kawiiin... –digetok Genma- Huhuhu...
Chapter 23
"Dia itu..." geram Sakura saat mereka tengah menyusuri jalan menuju tempat tujuan mereka, "selalu saja bicara seenaknya seperti itu. Pernah diajari sopan santun tidak sih?"
Sasuke yang berjalan di sampingnya diam saja, tampak terlalu berang untuk menanggapi perkataan gadis itu. Ia masih tersinggung dibilang homo. Dan baru kali ini ada yang berani bicara seperti itu padanya.
"Pantas saja dia tidak punya teman! Damn! Aku benci padanya!" gerutu Sakura lagi seraya meringis menahan sakit di lutut kirinya yang terluka. "Aduh..." gadis itu mencengkeram lengan jaket Sasuke lebih kencang ketika ia sudah tidak tahan lagi. Bungkusan kado untuk Naruto meluncur jatuh dari pegangannya.
"Lututmu berdarah," kata Sasuke. Ia menangkap lengan Sakura saat gadis itu terhuyung mau jatuh.
Sakura menunduk memandang lutut kirinya. Ia tadi tidak begitu memperhatikan—rupanya lukanya cukup parah juga. Cairan merah mengalir dari bawah rok putihnya yang kini bernoda tanah dan sedikit terkoyak. Tidak deras, tapi cukup untuk membuatnya bergidik. "Aaaw..." ia merintih lagi, ngeri melihat darahnya sendiri. Tak sadar air matanya mengalir.
"Ah, cengeng. Begitu saja nangis," cemooh Sasuke sambil geleng-geleng kepala.
Sakura langsung memukulnya dengan tas selempangnya sambil melotot galak. "Diam kau! Sakit, tahu!" serunya. Tapi gadis itu segera terhuyung-huyung lagi ketika Sasuke melepaskan tangannya untuk menghindari pukulan berikutnya.
"Makanya, sakit kok galak," kata Sasuke dengan seringai mengejek ketika gadis itu mencengkeram lengannya lagi untuk berpegangan.
Sakura mendongak, membelalak sebal padanya. "Oh, yeah. Terus saja mengejekku, Meanie!" Dengan kasar, ia melepaskan pegangannya dari Sasuke dan berjalan menjauh dengan kaki menghentak. Kesalahan besar, karena dengan begitu lukanya terasa sakit lagi. Ditambah, gadis itu tidak melihat kerikil licin di depannya. "Whoa!" Ia tergelincir dan terjengkang dengan sukses.
Setengah mati Sasuke menahan tawa. Ia membungkuk untuk mengambil kado Naruto sebelum berjalan menghampiri gadis itu, menghela napas seraya menggelengkan kepala. "Dasar ceroboh. Sebaiknya duduk dulu deh." Cowok itu memandang berkeliling, lalu matanya melihat ada bangku taman di dekat sana. "Di sana. Masih bisa jalan, kan?" tanyanya seraya menawarkan tangannya untuk membantu gadis itu bangun.
Cemberut karena kesal sekaligus malu, Sakura menyambar tangan Sasuke, lalu menarik dirinya bangun. Ia terhuyung sedikit, tapi Sasuke dengan cepat memeganginya. "Lepaskan. Aku bisa sendiri," gerutu Sakura sambil berpaling. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan menuju bangku yang tadi ditunjuk Sasuke dan duduk di sana. Gadis itu menggigit bibirnya sementara ia melihat luka di lututnya.
Sasuke mengangkat bahu, lalu menyusulnya. "Lukamu sepertinya parah," komentarnya kemudian.
"Tidak usah dibilang aku juga sudah tahu," gumam Sakura. "Sakit banget..."
Sasuke berdecak tak sabar. "Kau sih, menyeberang jalan tidak lihat-lihat kanan kiri dulu!"
Sakura menggembungkan pipinya dan memberi cowok itu tatapan jengkel. "Jadi kau menyalahkanku?" ujarnya menukas.
"Jelas salahmu," Sasuke balas memandang gadis itu dengan sama galaknya, "Masih mau menyangkal?!"
"Haaah! Apa-apaan kau ini! Ini semua salah si Sai, tahu!" Sakura membuang muka dengan sebal.
"Dia juga salah!" sahut Sasuke. Ia lalu menghela napas, memandang kaki kiri Sakura yang berdarah-darah. "Sekarang apa?"
"Tentu saja kita harus segera ke tempat Naruto!" kata Sakura, masih tidak memandang Sasuke. "Aku bisa mengobati lukaku di sana."
"Apa masih jauh?" tanya Sasuke seraya memandang berkeliling, mengira-ngira di mana gerangan tempat yang dimaksudkan Sakura. Kawasan itu sangat nyaman sebetulnya, dengan pepohonan besar yang tumbuh di kanan kiri jalan dan rumput yang terawat rapi. Tapi begitu sepi. Sejauh ini Sasuke baru melihat seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan dari dedaunan yang gugur. Ah, mungkin mereka semua sedang menghabiskan waktu liburan mereka di kota atau bagaimana, pikirnya.
"Kira-kira lima menit lagi kalau berjalan kaki dari sini," sahut Sakura, masih dengan nada sebal yang sama seraya mencoba membersihkan noda tanah di sweternya.
"Kita jalan ke sana dengan kakimu yang seperti ini?" Sasuke menggeram pelan. "Lihat kakimu, Sakura! Kau kelihatannya seperti orang keguguran tahu!"
"Enak saja menyebutku seperti orang keguguran!" Sakura akhirnya berpaling menatap Sasuke. Tapi kemudian ia menyadari bahwa ucapan Sasuke mungkin benar. Lukanya mengalirkan cukup banyak darah. "Oh, baiklah, kau benar," katanya akhirnya. "Lalu sekarang bagaimana?"
"Tentu saja bersihkan kakimu dulu!" Sasuke lantas mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku celananya lalu berlutut di depan gadis itu dan menyambar pergelangan kakinya, lalu menariknya.
"Kau mau apa, pervert?!" Sakura mendengking kaget. Gadis itu menarik kembali kakinya dari pegangan Sasuke dan langsung disesalinya karena tiba-tiba lukanya berdenyut menyakitkan lagi. Ia mengernyit kesakitan. Wajahnya merah padam ketika ia memelototi Sasuke dengan galak.
"Apa kau tidak mendengarku tadi eh, Sakura Haruno? Kakimu perlu dibersihkan," jawab Sasuke seraya mendongak membalas tatapan galak gadis di depannya. "Aku tidak mau berjalan dengan orang yang kakinya berdarah-darah. Dan dengan pakaianmu yang kotor begitu, bisa-bisa mereka berpikir aku habis memperkosamu."
"Eeww!" Sakura berseru jijik. "Menyingkir dari sana. Aku bisa sendiri!" ia menyambar sapu tangan dari tangan Sasuke dan mulai menyeka darah yang mengalir di sepanjang betis kirinya.
Sasuke menghela napas, lalu berdiri dan duduk lagi di sebelah gadis itu, menunggunya membersihkan kaki. Ia mengernyit sedikit ketika merasakan lengannya yang tadi dipakainya menahan tubuh Sakura terasa panas dan perih, namun ia mencoba menghiraukannya. "Sebenarnya kau mau membawaku ke mana sih? Bukannya rumah Naruto di Fox Street dan bukannya di sini?" ia bertanya kemudian.
"Kau akan lihat nanti, Sasuke," jawab Sakura sok misterius. Beberapa saat kemudian kakinya sudah bersih lagi dan ia tengah melipat sapu tangan Sasuke, memakainya sebagai bebatan untuk menahan perdarahan di lukanya. "Nah, sudah selesai. Er... aku pinjam sapu tanganmu dulu ya, Sasuke?"
"Hn," sahut Sasuke sambil berdiri. "Kau bisa berdiri tidak?"
"Tentu saja bisa," kata Sakura seraya beranjak dari bangku taman, "Ini kan hanya luka kec—Aduh!" ia terhuyung lagi. Dengan cepat, disambarnya lengan Sasuke untuk berpegangan supaya tidak terguling ke tanah.
Sasuke tertawa mengejek. "Sok sih, makanya..."
Sakura membelalakkan mata padanya. "Diam kau!" Ia melepaskan pegangannya dari lengan Sasuke, berdiri dengan bertumpu pada satu kakinya yang sehat.
Sasuke memutar bola matanya. Ia lalu mengambil kado Naruto yang diletakkannya di bangku, menyerahkannya pada Sakura sebelum kemudian berlutut sekali lagi di depan Sakura—kali ini dengan punggung menghadap gadis itu.
Sakura melongo memandangnya. "Apa?"
"Naik ke punggungku. Kita lanjutkan perjalanan," sahut Sasuke dengan nada datar.
"Kau mau menggendongku?" tanya Sakura tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan dari mulut Sasuke.
Cowok itu menggeram tak sabar. "Tidak, aku akan melemparmu—ya iyalah, aku akan menggendongmu, bego!"
"He? Mau nolong kok malah ngatain bego?!" Sakura memprotes.
"Makanya jangan bawel. Dasar! Cepat naik atau aku akan pulang saja sekarang!" bentak Sasuke.
Sakura langsung manyun lagi. Tapi kemudian ia menyadari, barangkali Sasuke masih kesal dikatai homo oleh Sai, makanya ia jadi marah-marah begitu. Barangkali itulah sebabnya suasana hati mereka mendadak menjadi sangat jelek. Terimakasih banyak, Sai.
"Iya iya, aku naik." Gadis itu naik ke punggung Sasuke dengan satu lengan melingkar di sekeliling leher cowok itu untuk berpegangan sementara tangan yang lain mencengkeram kado Naruto supaya tidak jatuh.
"Lewat mana?" tanya Sasuke setelah ia berdiri dengan mudahnya—membuat Sakura terheran-heran sendiri. Apa bobot tubuhnya terlalu ringan atau Sasuke yang kuat menggendongnya?
"Er... ke sana. Lurus saja, nanti kuberitahu kalau sudah sampai," jawab Sakura seraya menunjuk ke sepanjang jalan itu.
Selama beberapa saat, mereka—tepatnya Sasuke saja—berjalan dalam diam. Situasi seperti itu mau tidak mau membuat Sakura gugup juga. Terlebih karena rambut Sasuke yang terasa lembut menggelitik pipinya dan aroma sampo plus parfum khas cowok yang segar berpadu harmonis menguar dari tubuh cowok itu, merasuk ke indera penciumannya. Sakura tersenyum tipis, bau bersih yang enak untuk dihirup ini mengingatkannya pada aroma yang biasa diciumnya saat berpapasan dengan Neji.
Ah, kalau saja yang menggendongnya saat ini adalah Neji, pastilah ia sudah terbang ke langit ketujuh. Tapi ini adalah Sasuke Uchiha, cowok yang selama beberapa minggu belakangan sudah menjadi temannya yang lumayan dekat. Gadis itu ingat betul seperti apa saat ia pertama kali bergaul dengan Sasuke, cowok sok yang egois dan menyebalkan—meskipun sekarang masih menyebalkan, tapi tidak separah dulu—Rasanya saat itu tidak mungkin Sasuke akan melakukan hal-hal seperti yang dilakukannya belakangan ini; membantu Naruto berlatih, mendengarkan curahan hatinya dan yang barusan—meloloskannya dari maut...
"Sasuke?" Sakura memecah keheningan.
"Hn?"
"Terimakasih ya sudah menolongku. Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah celaka tadi," ucap Sakura sambil tersenyum.
"Hn," sahut Sasuke. Seringai tipis muncul di bibirnya yang tentu saja tidak bisa dilihat Sakura.
"Kau bisa sangat baik kalau kau mau, Sasuke," kata Sakura dengan tawa kecil, "Aku jadi tidak sabar melihat kejutan-kejutan apa lagi yang akan kau perlihatkan pada kami nanti."
"Hn."
Sakura tertawa. "Haah... dasar kau ini. Kalau tidak sedang panas, pasti dingin banget..."
"Hn."
Sakura memutar matanya.
Sunyi lagi sebelum akhirnya memasuki jalan lain menuju sebuah perumahan kecil yang asri yang ditunjuk Sakura. Mereka berjalan kira-kira sejauh seratus meter lagi sebelum akhirnya melihat gerbang kayu yang dicat putih dilatarbelakangi sebuah bangunan yang lumayan luas yang juga bercat putih. Sebuah wagon tua berwarna cokelat terparkir di halaman parkirnya yang mungil. Juga sebuah volvo hitam.
Sasuke mendongak, memandang papan nama di atas gerbang.
Panti Asuhan Kasih Bunda Konoha
"Ini tempat Naruto sering menghabiskan waktunya," Sakura memberitahu Sasuke.
"Panti asuhan?" Sasuke bertanya bingung.
"Bukankah aku pernah bercerita padamu bahwa Naruto yatim piatu? Di tempat inilah dia dulu diasuh sebelum diadopsi orangtuanya yang sekarang," jelas Sakura sambil tersenyum. Mata hijaunya bersinar lembut menatap papan nama di depan mereka.
"Oh," Sasuke mengangguk mengerti, lalu membawa Sakura memasuki gerbang menuju pintu utama. Sakura menepuk bahunya agak keras ketika mereka sudah sampai di depan pintu.
"Kau bisa menurunkanku sekarang, Sasuke," katanya.
Sasuke menekuk lututnya sedikit sementara Sakura melepaskan pegangannya dan melompat turun dengan sedikit terhuyung. Gadis itu berjalan tertatih mendekati pintu, lalu menekan belnya.
Tidak perlu waktu lama bagi keduanya untuk menunggu, karena pada bunyi bel kedua pintu itu terbuka, menampakkan seorang pria berwajah ramah di baliknya.
"Ah, Sakura! Ini kejutan yang menyenangkan!" sapa Iruka Umino hangat seraya membuka pintu lebih lebar.
"Selamat siang, Pak Umino," balas Sakura, tersenyum sopan pada gurunya saat di sekolah dasar itu.
Iruka membalas senyumnya sebelum matanya beralih ke Sasuke dengan dahi berkerut penuh tanya.
"Ini Sasuke Uchiha," Sakura memperkenalkan Sasuke, "Teman Naruto di sekolah juga," ia menjelaskan.
"Ah, ya. Tentu saja," sahut Iruka seraya mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Sasuke. "Naruto sering sekali membicarakanmu, Nak. Aku Iruka Umino, ayah Naruto," ujarnya ramah.
"Salam kenal, Pak Umino," kata Sasuke sopan.
"Ya ya... Mari masuk. Naruto pasti senang sekali melihat kalian datang," pria itu minggir untuk memberi jalan bagi kedua remaja itu. "Kakimu kenapa, Sakura?" ia menanyai Sakura ketika gadis itu tertatih-tatih masuk.
"Ah, tadi aku jatuh," jawab Sakura, "terpeleset. Hanya luka kecil," ia buru-buru menambahkan sambil nyengir tidak enak ketika melihat ekspresi cemas di wajah Iruka.
Iruka tampak tidak begitu yakin ketika melihat noda tanah di rok putih Sakura dan bebatan sapu tangan bernoda merah di bawahnya. Tapi ia tidak mendesak gadis itu. Ia hanya berkata lembut, "Luka kecil bisa jadi masalah kalau tidak dibersihkan, Nak. Ayo masuk. Kita bisa membersihkannya di dalam."
Sakura dan Sasuke kemudian mengikuti Iruka menyusuri koridor panjang itu menuju ke aula utama. Sakura yang kakinya masih sakit berjalan sedikit tertatih dengan berpengangan pada lengan Sasuke.
Aula utama merupakan ruangan yang cukup luas yang berada tengah-tengah bangunan panti asuhan satu-satunya di Konoha itu. Ruangan itu bernuansa sangat anak-anak, dengan dinding berlukiskan pemandangan warna-warni dan bangku-bangku mungil beraneka warna yang jumlahnya hampir limapuluh buah. Sebuah papan tulis besar tertempel di salah satu dindingnya, bertumpuk-tumpuk kardus berisi mainan sumbangan diletakan di salah satu sudutnya, rak-rak buku di sudut yang lain di sebelah sebuah televisi tua dan sebuah meja panjang dengan sebuah wadah besar berisi minuman dan beraneka ragam makanan—termasuk sebuah kue tart cokelat yang di atasnya tersemat dua buah lilin yang membentuk angka tujuhbelas.
Tiga orang dewasa lagi yang sedang berada di sana bersama beberapa orang gadis kecil, sibuk mendekorasi ruangan dengan hiasan sederhana dan balon-balon. Sakura bisa mengenali pria jangkung yang sedang memasang pita di sudut ruangan sebagai guru Kimia-nya di sekolah, Pak Genma Shiranui. Pria itu menoleh ketika mereka tiba dan berseru senang. "Ah, ada tamu rupanya!"
"Wah, sepertinya bakal ramai," timpal seorang wanita berambut hitam pendek yang sedang menata makanan di meja sambil tersenyum hangat. Wanita itu menaruh piring terakhir yang sedang ditatanya di meja lalu mendekati mereka.
"Oh ya, kenalkan, ini Shizune Shiranui," kata Iruka memperkenalkan wanita berwajah ramah itu. "Dia yang mengurus panti asuhan ini bersama suaminya. Kalian tentunya sudah kenal Genma Shiranui, bukan?"
Sakura dan Sasuke mengangguk. Genma melambai singkat dari seberang ruangan sebelum salah seorang gadis kecil mengalihkan perhatiannya. "Ayah Genma, Ayah Genma, balon yang di sana jatuh!"
"Salam kenal Ibu Shiranui, saya Sakura Haruno," Sakura memperkenalkan diri sopan sambil membungkuk sedikit, lalu menoleh pada Sasuke, "Dan ini Sasuke Uchiha."—Sasuke juga mengangguk sopan.
Shizune tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya, "Panggil Shizune saja."
"Dan yang di sana itu," Iruka menunjuk seorang pria berpakaian serba hitam yang tampangnya pucat seperti orang sedang sakit, "Namanya Hayate Gekko. Dia pengawal cucu Gubernur Sarutobi, Konohamaru, yang memang sering main kemari. Dia juga relawan di sini."
Pria itu mengangguk singkat pada mereka sebelum melanjutkan kegiatannya membantu Genma memasang kertas hias bernuansa oranye dan merah—sesuai dengan tema liburan.
"Anak-anak," panggil Iruka seraya menepukkan tangannya. Anak-anak di sana, yang sebagian besar adalah anak perempuan yang kira-kira berusia sekitar empat sampai duabelas tahun, langsung bergegas mendekat mendengarkan panggilan Iruka. "Nah, hari ini kita kedatangan tamu. Perkenalkan, kakak-kakak ini adalah temannya kakak Naruto di sekolah. Yang perempuan ini namanya Kak Sakura Haruno," Iruka menunjuk Sakura yang tersenyum gugup.
"Salam kenal, Kakak Sakura!!" sapa anak-anak itu kompak.
"Er... salam kenal..." balas Sakura seraya melambaikan tangannya ke arah anak-anak itu.
"Nah, kalau yang laki-laki ini, namanya Kak Sasuke Uchiha," kata Iruka lagi seraya menunjuk Sasuke yang mengangguk singkat.
"Salam kenal, Kakak Sasuke!!" seru mereka lagi lebih riuh.
"Naruto ada di lapangan belakang kalau kau ingin menemuinya," beritahu Shizune seraya menunjuk ke arah pintu ganda menuju bagian belakang panti sementara Iruka sudah pergi untuk membantu Genma mendekorasi ruangan.
"Tapi sebelumnya, boleh kami meminjam kotak P3K?" tanya Sasuke, "Kaki Sakura terluka."
"Oh! Ya, ampun... Kenapa bisa luka begitu?" Shizune juga telah melihat robek di bagian bawah rok Sakura dan bebatan saputangan Sasuke.
Sakura nyengir tidak enak. "Yah, tadi saya kepeleset dan—"
Sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Shizune dengan sigap memapahnya ke salah satu bangku. Sasuke mengikuti mereka. "Biar kuobati, ya... Jangan dibiarkan, nanti bisa infeksi. Kaede, sayang, tolong ambilkan kotak P3K di lemari obat, Nak," perintahnya pada salah satu anak.
"Baik, Bunda Shizu!" jawab gadis kecil berambut gelap manis. Ia melesat meninggalkan aula untuk mengambil kotak P3K dan kembali beberapa saat kemudian.
Saat berikutnya tampaknya Sakura dan Sasuke sudah menjadi pusat perhatian anak-anak itu. Sebagian besar mereka yang lebih muda berkumpul mengerubungi bangku tempat Shizune mengobati luka Sakura sementara sebagian yang lain mengamati Sasuke dengan ekspresi polos penuh minat. Sebagian yang lebih tua lebih memilih membantu kedua 'ayah' mereka dan Paman Hayate mendekor ruangan.
"Kakak Sakura," panggil salah satu anak berkepang pirang dengan bando telinga rubah.
"Ya?" jawab Sakura setengah mengernyit karena rasa perih di lukanya yang sedang dibersihkan.
Gadis kecil itu menunjuk bungkus kado yang diletakkan di dekat kaki Sakura. "Itu hadiah untuk kakak Naruto, ya?"
Sakura tersenyum padanya, "Iya, anak manis. Itu untuk kakak Naruto."
"Kalau situ aku simpan di sana saja ya, Kak. Biar ngumpul sama kado yang lain!" si gadis kecil menunjuk ke arah meja kecil di sudut. Sakura bisa melihat tumpukan kecil kado beraneka bentuk dan ukuran di sana.
"Baiklah," kata Sakura.
Si gadis kecil langsung berseri-seri. Bersama salah satu temannya, ia menggotong kado yang memang berukuran agak besar dan menyimpannya di meja itu, di tumpukan paling atas. Tapi rupanya mereka agak terlalu antusias meletakkan sehingga tumpukan itu terguling jatuh.
"Usako, sayang. Hati-hati, Nak," tegur Shizune pada si gadis kecil pirang. Beberapa anak tertawa melihat teman mereka, tapi saat berikutnya mereka sudah bergegas membantunya.
"Kakak Sasuke," kali ini giliran seorang gadis kecil berambut merah dikucir dua menarik-narik ujung jaket Sasuke, menarik perhatiannya.
Sasuke yang bingung harus bersikap bagaimana di depan anak kecil, melirik pada Sakura meminta petunjuk. Tapi gadis itu hanya tersenyum padanya seolah mengatakan, 'lakukan apa yang menurutmu benar.' Menghela napas, akhirnya ia menunduk seraya memaksakan senyum termanis yang bisa diusahakannya. "Ya?"
"Kakak cakep sekali," cetus si gadis kecil polos seraya nyengir, memamerkan dua gigi depannya yang tanggal. "Kaya gambar pangeran yang ada di buku cerita yang biasa dibacakan Bunda Shizune sebelum tidur."
Sakura yang mendengarnya, cepat-cepat mengatupkan tangan di depan mulut untuk menyembunyikan kikiknya. Shizune juga tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namanya juga anak-anak. Ceplas ceplos.
Sasuke yang tidak tahu harus menanggapi bagaimana, hanya nyengir setengah hati. "Er... trims," ucapnya canggung.
"Sasuke, kau ke balakang saja menemui Naruto," kata Sakura padanya.
Shizune yang sedang melipat kasa untuk menutup luka Sakura mendongak padanya sambil tersenyum, "Naruto pasti senang kalau tahu temannya datang," ujarnya, "Hotaru, sayang, kau antarkan kakak Sasuke ke lapangan ya..."
Gadis kecil berambut hitam legam sebahu menyahut cepat, "Iya, Bunda! Yuk, Kak!" Dan dengan sikap riang gembira, Hotaru mengambil tangan Sasuke dan menariknya menuju pintu. Beberapa anak mengikuti mereka sambil berlari-lari kecil.
"Anak-anak itu," kata Shizune lembut, "senang sekali kalau ada orang-orang baru yang datang kemari. Seperti kemarin-kemarin saat kakak beradik Hyuuga datang kemari, mereka gembira sekali."
"Hyuuga?" perhatian Sakura teralih sepenuhnya pada topik ini. Jadi Neji juga pernah kemari? Wow, bertambahlah alasan Sakura begitu menyukai cowok itu. Ternyata Neji selain baik juga berjiwa sosial.
"Hmm..." Shizune mengangguk. Tangannya dengan cekatan menggunting perban. "Neji Hyuuga dan kedua adik perempuannya. Hanya saja yang paling sering main kemari itu adiknya, Hinata."
"Ooh..." Sakura mengangguk-anggukan kepalanya. Apa kata Sasuke kalau ia tahu Hinata sering kemari, ya? Sakura bertanya-tanya dalam hati.
"Nah, sudah selesai!"
Sementara itu, Sasuke bersama Hotaru dan beberapa anak yang membuntuti mereka tiba di halaman belakang. Ada semacam lapangan berumput kecil yang dikelilingi pagar kawat yang agak tinggi yang membatasi halaman belakang gedung itu dengan hutan di belakangnya—pagar itu dimaksudkan supaya anak-anak tidak masuk ke dalam hutan dan tersesat atau mencegah masuknya hewan-hewan liar dari hutan—dan di sanalah mereka, Naruto bersama dengan beberapa anak laki-laki penghuni panti asuhan dan seorang anak laki-laki yang sepertinya bukan anak panti dilihat dari pakaiannya yang lebih bagus dari yang lain, sedang bermain sepak bola dengan bola plastik sambil tertawa-tawa gembira.
Hotaru melepaskan tangan Sasuke dan berseru ke arah lapangan, "Kakak Naruto!!"
Naruto yang tampak menjulang di antara bocah-bocah mungil itu menoleh. Peluh mengalir di pelipisnya, meski begitu wajahnya tampak cerah ceria. Ketara sekali kalau suasana hatinya sedang sangat gembira. "Ya, Hotaru, sayang?"
"Ada teman Kakak nih!" seru Hotaru lagi seraya menunjuk Sasuke.
Naruto berhenti. Salah seorang anak berambut gelap yang mengenakan syal panjang yang-sepertinya-bukan-anak-panti mengambil kesempatan untuk merebut bola dari Naruto dan menggiringnya ke gawang kecil di ujung lapangan diiringi sorak sorai anak-anak perempuan kecil yang menonton. Tapi Naruto tidak memperhatikannya karena saat itu ia tengah sibuk memicingkan matanya, mencoba mengenali profil sosok berjaket hitam itu dari jauh.
Sasuke melambaikan tangan sekedarnya dan Naruto langsung tersenyum lebar.
"Oi, Sasuke!!" seru Naruto cerah seraya membalas melambaikan tangannya. Ia menepuk kepala salah satu anak yang berlari melewatinya, lalu bergegas menghampiri Sasuke. "Wow! Ini kejutan!"
"Well," kata Sasuke seraya mengangkat bahu dengan lagak cuek, "Sakura yang mengajakku kemari."
Cengiran Naruto bertambah lebar. "Benarkah?" tanyanya senang, "Kalau begitu Sakura juga ada di sini?"
"Yeah. Dia ada di dalam," Sasuke menunjuk ke pintu di belakangnya dengan ibu jari, "sedang mengobati lukanya."
"Dia luka?" Naruto tampak terkejut.
"Tadi terjatuh. Tidak membahayakan hidup. Cewek ceroboh, kau tahu kan?" sahut Sasuke datar. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan, ke arah anak-anak yang sepertinya sedang menunggu kakak Naruto mereka bergabung kembali dalam permainan sepak bola bersama mereka. "Sepertinya mereka menunggumu," katanya seraya mengedikkan kepala ke arah anak-anak itu.
Naruto menoleh dan melambai ketika mereka memanggilnya untuk segera bergabung sebelum kembali memandang Sasuke. "Hei, bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?" usulnya.
"Oh, aku tidak," tolak Sasuke seraya menggeleng. Tapi Naruto rupanya tetap berkeras supaya Sasuke ikut dengannya.
"Ayolah. Mereka pasti senang bermain dengan pemain hebat sepertimu!" serunya membujuk.
Sasuke mengerjap. Baru kali ini Naruto memujinya dan ini membuatnya agak terkejut juga. Lebih terkejut lagi ketika ia menyadari perasaan hangat yang tidak biasa di dasar hatinya. Ia senang Naruto memujinya.
"Baiklah..." sahut Sasuke akhirnya. "Ayo!"
Kemudian keduanya berlari-lari kecil melintasi halaman berumput untuk bergabung dengan anak-anak panti bermain bola. Pertandingan kecil itu berlangsung heboh mengingat mereka bermain bersama bocah-bocah kecil, bahkan beberapa anak perempuan yang tadi mengikuti Sasuke ikut ambil bagian. Mereka tertawa sementara berbondong-bondong berebut bola plastik yang semakin lama dipakai semakin tidak karuan bentuknya—tapi mereka tidak peduli.
—Dan Sasuke juga tidak peduli. Entah bagaimana, ia yang biasanya sulit menerima orang baru, bisa begitu mudahnya bermain dengan anak-anak yang asing ini. Perasaan nyaman karena dianggap sebagai kakak oleh mereka, semuanya... terasa begitu membuatnya gembira. Dan kekesalannya tadi sudah sepenuhnya menguap.
"Hei kalian!" seruan anak perempuan membuat mereka semua menoleh. Gadis berambut merah muda tengah berjalan mendekati mereka dengan senyuman cerah. Sakura. "Sepertinya kalian bersenang-senang tanpaku, eh?"
"Sakura!" seru Naruto agak terengah. Cowok pirang itu berlari-lari kecil menghampirinya. "Oh, aku benar-benar senang kau datang! Kata Sasuke kau luka?"
"Oh, ini," Sakura menunjuk lututnya yang sudah dibalut rapi, menggerak-gerakkannya. "Sudah tidak apa-apa lagi kok!"
"Syukurlah kalau begitu!" ujar Naruto senang.
"Oh ya, tadi pagi Ino telepon. Katanya dia titip salam padamu. Dia bilang selamat ulang tahun!" gadis itu memberitahunya sambil tersenyum. "Selamat ulang tahun, Naruto!" ucapnya lagi seraya mengulurkan tangan memeluk Naruto hangat.
Naruto dengan cepat mengatasi keterkejutannya karena pelukan Sakura yang tiba-tiba lalu membalas memeluk gadis itu sama hangatnya. "Trims, Sakura."
Sakura lalu mengerling ke arah Sasuke. Cowok itu balas memandangnya. Ia baru akan membuka mulut hendak mengatakan sesuatu tetapi anak-anak yang mengelilinginya keburu menariknya lagi untuk bermain bersama mereka.
"Kakak Sasuke jangan ngelamun dong! Ayo main lagi!"
Sakura tertawa kecil melihat ketidakberdayaan Sasuke menolak desakan anak-anak itu. "Dia memang cepat sekali populer ya. Bahkan anak kecil pun terpesona olehnya."
"Yeah," Naruto mengangguk sambil tersenyum, "Aku juga agak terkejut melihat dia cepat akrab dengan adik-adik."
"Sasuke sudah banyak berubah," desah Sakura seraya menatap cowok itu dengan senyum manis, "Meskipun sifat menyebalkannya masih ada."
Naruto tertawa. "Hei, bagaimana kalau kau juga ikut main bersama kami?" dan saat berikutnya, Naruto sudah menarik Sakura bergabung bersama yang lain. Tapi sebelum ia mencapai mereka, mata birunya mendadak menangkap sesuatu di dekat pagar. Ia berhenti untuk melihat lebih jelas. Aneh, rasanya ia tadi melihat seseorang berdiri di sana.
"Ada apa, Naruto?" suara Sakura membuatnya tersadar lagi.
"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Naruto cepat-cepat seraya tersenyum pada gadis itu. Rupanya ia sudah memutuskan kalau bayangan itu mungkin hanya khayalannya saja—hah! Siapa suruh menonton film thriller malam sebelumnya?
Dan selama beberapa saat berikutnya, Naruto dan Sakura sudah bergabung dengan Sasuke dan ketiga remaja itu menghabiskan waktu bermain bola bersama anak-anak panti asuhan dengan riang. Tertawa bersama-sama seolah tidak pernah ada konflik panas yang terjadi antara ketiganya.
---
TBC…
---
Gimana? Ini chapter hiburan saja. lagi kepingin bikin fluff SasuSaku, tapi bukan romance. Ingatlah, Sasuke masih suka sama Hinata dan Sakura masih menaruh hati pada Neji. Haha.. Ada beberapa OC di sini. Usako dan Hotaru aku pinjam dari SM-nya Naoko Takeuchi. Aku suka banget sama karakter Hotaru. Agak mirip Sasuke di manganya.
PinkBlue Moonlight : Kakaknya Sai tuh yang di anime itu tuh. Tapi berhubung karena aku gak tahu namanya, jadi Kakeru aja deh. Cewek yang dilukis kakaknya Sai siapa yah? Tar dijelasin lagi kok. Tunggu aja yah!
Dilia-chan : Makasih banget ya, Non, koreksinya. Udah langsung aku benerin kok. –peluk-peluk- Kamu teliti sekali!
Catt-chan : Makasih... soal lukisan itu, idem sama yang di atas yah. Btw, mudah-mudahan kamu suka SasuSaku di sini.
Kakkoii-chan : Iyah, Sai emang lebih nyebelin dari Sasuke! –timpuks Sai- -ditimpuk fans-nya Sai-
Ceu Arya : haha... Review-mu udah aku kasih lihat ke si otouto dan dia langsung ngakak gitu, ceu. Semalem dia nginep gitu di kosan. Lumayan, ada yang bantuin cuci piring. –ditakol otouto- Iya tuh, si Sai parah banget. Nantikan keparahannya yang lain.
Uzumaki Khai : Really? Ow, thanks yah... –peluk-peluk-
Hiryuka nishimori : Wah, makasih udah mereview… dan selamat datang di kegilaan fic sayah!
Chika : Kan ini fic OoC, tentunya Sai gak lepas juga sama ke-OoC-an. Di depan Ino juga dia emotionless kok kalo di canon mah.
Furukara : Aduh, jangan panggil senpai dong. Ngerasa belum pantas disebut gitu. Aku kan newbie sepanjang masa. Hehe.. SasuSaku mau ke mana, udah ketahuan kan di chap ini?
Uchietam : Makasih udah mereview ya... -bowed-
LadyBellatrix : Kyaa!! Ada teh Bellatrix! Aargh! Aku ngefans SEMUA Kakashi fic-mu lho, apalagi yang "Finally We See His Face". Termasuk fic Naruto pertama yang aku baca. Er.. kalo Sakura yang pingin jadi aktris, karena aku maunya begitu. Haha. Namanya juga fic AU, teh…Kalo Kakashi, tunggu aja yah. Btw, makasih banget sudah mereview!
Rie-s4n : Salam kenal juga Rie. Awalnya aku ngira kamu teh adekku, habis nick-nya mirip sih. Haha…Makasih udah mereview…
Minna-sama, makasih semua, yah... Kalian bener-bener penyemangatku.
