Masih lanjutan chapter kemarin. Enjoy!
Chapter 24
Bola sepak plastik yang mereka mainkan sudah tidak berbentuk lagi ketika Shizune muncul di pintu dan memanggil mereka untuk makan siang. Anak-anak langsung menyambutnya dengan riang, berlari berhamburan dari lapangan menuju gedung sambil tertawa-tawa. Sasuke, Sakura juga Naruto menyusul di belakang mereka, tampak sama riangnya.
"Kalian seharusnya tidak perlu repot-repot membuat ini semua," kata Naruto lemas ketika mereka tiba di ruang rekreasi. Ia memandang untaian kertas hias dan balon yang menghiasi ruangan itu dengan tatapan terharu, lalu ke arah papan tulis yang bertuliskan 'Happy Birthday, Kak Naruto!!' besar-besar dengan kapur warna-warni.
"Adik-adikmu yang ingin, Naruto," kata Genma sambil merangkul istrinya yang tersenyum melihat ekspresi tidak percaya Naruto. "Lagipula, kau tidak berulang tahun ke-tujuhbelas setiap tahun bukan? Kita harus membuatnya istimewa tahun ini!"
Sasuke dan Sakura bertukar pandang agak bingung. Bukankah sejak awal Naruto sudah berada di tempat ini? Bagaimana ia bisa tidak tahu mereka semua menyiapkan ini? Tapi mereka segera mendapatkan jawabannya ketika Iruka memberitahu mereka sambil tertawa bahwa Naruto kalau sudah bertemu adik-adiknya di panti suka lupa diri sehingga tidak memperhatikan apa-apa selain anak-anak itu.
Setelah ramai-ramai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Naruto dan memotong kue—Naruto memberikan potongan pertamanya pada Iruka, tentu saja—mereka melanjutkan dengan acara makan-makan. Memang, masakan yang dibuat Shizune sangat sederhana. Tapi makanan sederhana itu justru terasa sangat nikmat tatkala kau menikmatinya bersama orang-orang yang berarti. Setidaknya itulah yang dirasakan Sasuke saat itu.
Orang-orang yang berarti? Sasuke tiba-tiba saja tertegun. Benarkah—ia memandang Sakura yang tengah menuang limun ke gelas Naruto. Benarkah Sakura dan Naruto kini sudah menjadi orang-orang yang berarti baginya?
Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya. Ia mengerjap kaget ketika Sakura sudah duduk di sebelahnya di kursi di sudut ruangan, agak jauh dari Naruto dan adik-adiknya. Sakura membawa dua potong kue tart di atas piring kertas. Diulurkannya satu piringnya pada Sasuke.
"Kau sedang melamunkan apa sih?" gadis itu bertanya seraya memotong tart-nya dengan sendok lalu memasukkannya ke mulut. Mata hijaunya yang lebar menatap Sasuke penuh tanya.
"Tidak ada," sahut Sasuke pelan, memandang piring tart di tangannya.
Sakura memandangnya beberapa saat sebelum mengangkat bahunya dan melanjutkan menyantap tart-nya. "Kue-nya jangan dilihatin saja dong. Cobain deh. Enak..." katanya saat melihat Sasuke tidak menyentuh kue-nya.
"Aku tidak suka makanan manis," ujar Sasuke.
Sakura mengangkat alisnya. "Kau ini aneh. Mana ada orang yang tidak suka makanan manis," gadis itu terkekeh.
Sasuke hanya mengangkat bahunya.
Sakura kemudian menghela napas. "Setidaknya makan sedikit, untuk menghargai tuan rumah," ujarnya. "Lagipula makan kue tidak akan membuatmu mati," ia menambahkan dengan nada bergurau.
Sasuke mendengus pelan. Yeah, Sakura benar, pikirnya. Untuk menghormati tuan rumah—juga yang sedang berulangtahun. Ia membuat potongan kecil dengan sendoknya, membawanya ke mulut, mengulumnya perlahan-lahan, merasakan setiap butir rasa manis yang merasuk ke dalam indera perasanya. Rasa manis yang biasanya dibencinya, namun entah mengapa kali ini terasa begitu... lain. Ia menyukainya.
"Kalau kau merasakannya dengan sepenuh hati, makanan seperti apapun akan terasa enak. Itu kata kakakku," kata Sakura ceria dengan sebelah tangan diletakan di dada, tersenyum, sebelum memasukkan potongan lain kue tart ke mulutnya.
Sudut mulut Sasuke tertarik sedikit membentuk senyum tertahan. "Lumayan."
Sakura tertawa kecil. "Kata favoritmu lagi," kekehnya sembari menyikut lengan Sasuke main-main. Pelan saja sebenarnya, tapi entah mengapa cowok itu mengaduh kesakitan. Piring kertas berisi tartnya sampai nyaris tergelincir jatuh dari pegangannya.
"Sasuke, kau kenapa?" Sakura bertanya khawatir saat melihat wajah Sasuke tiba-tiba pucat dan ia memegangi lengan kanannya yang bergetar. "Tanganmu luka!"
Sasuke menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa—ouch!"
"Apanya yang tidak apa-apa!" seru Sakura cemas. Gadis itu meletakkan piring kertasnya dan milik Sasuke di bangku dan menyambar lengan cowok itu. "Mukamu sampai pucat begitu. Jangan-jangan… karena jatuh yang tadi, ya?"
Sasuke mencoba menarik lengannya dari pegangan Sakura tapi gadis itu berkeras memeriksanya.
"Buka jaketmu, Sasuke," desak Sakura.
Sasuke terpaksa menurut. Mengernyit menahan sakit, ia membuka jaketnya. Dan benar saja, lengan kanannya memar dan bengkak akibat benturan keras, belum lagi lecet-lecet berdarah di atasnya. Sakura menahan napas melihat lengan Sasuke yang seperti itu.
"Astaga... Kenapa tidak bilang dari tadi sih? Ini pasti sakit sekali..." gadis itu bergegas mengambil kotak P3K yang ditinggalkan Shizune di meja di sudut ruangan. "Setidaknya kita harus bersihkan luka lecetnya."
"Hn." Sasuke mengeluh pelan ketika Sakura menyentuh lecetnya untuk dibersihkan dengan cairan pembersih luka.
"Maaf, ya... Gara-gara aku, tanganmu jadi seperti ini..." ujar Sakura pelan sembari membersihkan luka di lengan Sasuke selembut yang ia bisa supaya tidak sakit.
Sasuke mendengus tak sabar. "Sudahlah... tidak usah diungkit-ungkit lagi yang tadi."
Sakura menatapnya beberapa saat, kemudian seulas senyum muncul di bibirnya.
"Apa?" tanya Sasuke keheranan. "Kenapa senyum-senyum?"
"Aku sungguh menyukaimu yang seperti ini, Sasuke," gadis itu menjawab dengan nada lembut.
Sasuke mendengus lagi. "Aku kira kau menyukai Neji. Cepat sekali hatimu berpal—OUCH!! Sakit tahu!!" desisnya sambil meringis kesakitan, memelototi gadis itu, karena Sakura baru saja menekan memarnya kuat-kuat dengan gemas.
"Bukan suka yang seperti itu, bego!" maki Sakura sebal.
"Dasar cewek kasar!" desis Sasuke lagi, mencemoohnya.
"Aargh! Kau ini baru saja dipuji, nyebelinnya sudah keluar lagi!" geram Sakura kesal. Meski begitu, ia tetap meneruskan membalut luka Sasuke, tapi tidak bicara apa-apa lagi. Sampai akhirnya ia mengencangkan ikatan perban yang terakhir dan kemudian membantu Sasuke memakai kembali jaketnya.
Sunyi melingkupi keduanya sementara mereka mengawasi Naruto dan anak-anak panti bernyanyi-nyanyi riang dengan diiringi petikan gitar yang dimainkan cowok pirang itu. Para orang dewasa mulai membereskan piring-piring dan gelas kotor.
"Kalau melihat mereka rasanya hati jadi hangat ya..." ujar Sakura memecah keheningan. Kekesalan yang sempat melandanya beberapa saat yang lalu seolah menguap begitu saja tatkala ia mata hijau cemerlangnya menatap orang-orang itu dengan tatapan lembut, bibirnya menyunggingkan senyum.
"Aa..." Sasuke tanpa sadar menggumamkan persetujuan. Pikirannya terbang entah ke mana.
Sakura menoleh memandang Sasuke, tersenyum padanya juga. "Aku mau bantu mereka beres-beres. Mau ikut?" tanyanya sambil beranjak.
"Hn. Nanti aku menyusul," Sasuke menyahut pelan.
Saat berikutnya Sakura sudah berjalan meninggalkannya. Gadis itu menaruh kotak P3K di tempatnya semula, lalu bergegas membantu Iruka mengumpulkan piring-piring kertas yang berserakan. Sementara itu, Naruto yang duduk di tengah aula dikelilingi anak-anak panti asuhan yang antusias mulai memainkan intro lagu lain dengan gitarnya. Dan segera saja alunan lagu 'I Have A Dream' yang dinyanyikan koor oleh Naruto dan anak-anak—yang hafal liriknya, tentu saja—memenuhi ruangan itu.
Sasuke melihat Sakura dan Shizune bergabung dalam kelompok itu tak lama kemudian. Shizune memangku seorang anak yang sepertinya paling muda di antara yang lain sementara seorang anak laki-laki kecil merangkak naik ke pangkuan Sakura yang langsung memeluknya seolah ia adiknya sendiri.
Sembari mengawasi semua kegiatan itu, Sasuke kembali memikirkan apa gerangan maksud Sakura mengajaknya ke tempat itu. Dan pikirannya segera tertuju pada pembicaraan mereka hari sebelumnya. Ya… mungkin masih ada hubungannya dengan itu. Keluarga…
"Setidaknya masih ada yang bisa kau syukuri dari semua itu, Sasuke," ia mengingat kata-kata Sakura hari sebelumnya. "Kau masih punya keluarga yang utuh. Kau punya ayah dan ibu. Kau juga punya kakak yang sayang padamu. Sementara ada orang yang tidak seberuntung itu."
Dan melihat pemandangan di depannya ini membuat hatinya tiba-tiba saja merasa tertohok. Naruto... juga anak-anak itu... mereka tidak lagi memiliki keluarga yang utuh. Tapi mereka semua tampak sangat bahagia seakan tidak memiliki beban. Tidak sepertiku, pikir Sasuke getir. Mengapa aku tidak bisa sebahagia itu? Apa yang salah denganku?
—Barangkali kau kurang bersyukur atas apa yang kau miliki, Sasuke, kata sebuah suara dalam kepalanya. Sasuke tertegun. Ya, mungkin memang seperti itu...
Suara orang memanggil dari seberang ruangan membuyarkan lamunan Sasuke. Ia mengerjap kaget, lalu melihat Sakura dan beberapa anak sedang melambaikan tangan ke arahnya, memintanya bergabung dengan mereka. Ia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya gadis kecil berambut pirang dikucir dua dengan hiasan kuping rubah—Usako—menghampirinya, mengambil tangannya lalu menariknya untuk bergabung dengan yang lain. Sasuke lalu menempatkan diri duduk di sebelah Sakura.
Sakura mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. "Jangan bengong terus. Tidak baik untuk kesehatan," bisiknya, nyengir. "Dan mukamu itu tidak cocok dipakai bengong."
Sasuke menyeringai padanya. "Bawel," ia mendesis.
Sakura terkekeh-kekeh sebelum kemudian si anak laki-laki kecil yang duduk di pangkuannya menarik-narik lengan sweternya. "Ya, Sayang?" tanya Sakura padanya.
"Kakak Sasuke itu pacarnya Kakak Sakura ya?" anak itu bertanya polos.
Sakura tertawa renyah, lalu memeluk bocah itu gemas. "Bukan, sayang. Kakak Sasuke itu temannya kakak Sakura," jawabnya dengan nada geli.
"Kalau begitu Kakak Sakura pacarnya Kakak Naruto dong..." kata bocah itu lagi.
"Itu juga bukan," gadis itu menyahut lagi, masih dengan tawa renyah dan tatapan gemas. "Kami bertiga hanya berteman. Kamu ini, masih kecil kenapa bertanya seperti itu, hm?"
Anak itu menolehkan kepala lalu mendongak untuk menatap Sakura dengan mata hitamnya yang bulat lebar. "Soalnya aku kepingin sekali punya papa yang lucu seperti kakak Naruto dan mama yang baik seperti kakak Sakura. Nanti kan kalau kakak Naruto dan kakak Sakura menikah, kalian bisa mengadopsiku..."
"Kalau aku, kalau aku..." sahut Usako yang kini sudah duduk menyelip di antara Sakura dan Sasuke seraya mengacungkan tangan antusias, "Aku mau punya papa yang cakep seperti kakak Sasuke saja, dan mama yang cantik kaya kakak Sakura..."
Sakura dan Sasuke bertukar pandang sejenak sebelum Sakura berpaling seraya tertawa kecil sementara Sasuke hanya menyeringai tipis. Pikiran polos anak kecil memang ada-ada saja...
"Aku mau punya papa seperti Ayah Iruka saja!" anak perempuan berambut gelap, yang dikenali Sakura bernama Kaede, ikut nimbrung.
"Kalau aku mau Ayah Genma dan Bunda Shizu aja!" timpal anak laki-laki kecil berkacamata dengan penuh semangat.
Segera saja Sakura dan Sasuke dikelilingi oleh anak-anak yang ribut mengungkapkan orangtua seperti apa yang mereka inginkan, membuat perhatian anak-anak itu teralih sepenuhnya dari Naruto. Iruka, Genma dan Shizune hanya tertawa saja melihat polah anak-anak itu, sementara Hayate hanya mengulum senyum.
Sasuke menatap anak-anak yang ribut berceloteh itu dengan perasaan tidak karuan. Lihat betapa mereka menginginkan keluarga, Sasuke? ujar suara dalam kepalanya lagi. Tiba-tiba saja ia merasa sangat... sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang.
"Hee~ Aku kok malah dicueki sih?" terdengar suara memprotes dari Naruto. Ia telah berhenti memainkan gitarnya dan cemberut melihat adik-adiknya malah ribut mengerumuni kedua temannya.
Namun tampaknya anak-anak itu tidak mendengarkan Naruto. Mereka masih riuh ingin mengungkapkan unek-unek mereka, tentang sosok seperti apa yang mereka inginkan untuk mengadopsi mereka—dan sejauh ini tampaknya Iruka-lah yang menjadi ayah favorit dan Shizune di posisi ibu, tentu saja, karena mereka berdualah yang paling sering menghabiskan waktu bersama anak-anak itu.
"Sudah sudah, anak-anak," Iruka mencoba mengatasi keributan mendadak itu dengan sabar, meskipun ekspresi wajahnya menunjukkan rasa geli, "Yah, kita berdoa saja supaya nanti kalian akan mendapatkan orang tua seperti yang kalian inginkan, ya..."
"Iya, Ayah Iruka!!!" seru anak-anak itu kompak.
Selanjutnya giliran Genma yang bicara. "Nah, tadi siapa yang bilang sama Ayah Genma dan Ayah Iruka mau nyanyi untuk Kakak Naruto?" ia menanyai anak-anak dengan nada riang—yang membuat Sakura bertambah kagum pada gurunya itu. Ternyata selain piawai dalam bidang Kimia, pria itu juga pandai berinteraksi dengan anak-anak. Tidak mengherankan kalau desas-desus yang menyebutkan bahwa ia disukai banyak wanita, terutama ibu-ibu, benar adanya.
"Aku! Aku!" seorang anak laki-laki bersyal panjang yang duduk di dekat Naruto mengacungkan tangan dengan penuh semangat. Lalu ia berdiri. Anak itu berpakaian lebih bagus dari anak-anak lain—pastilah anak ini yang cucu Gubernur Sarutobi itu, yang juga keponakan salah satu gurunya yang paling killer. Anak itu menunjuk gadis kecil sebayanya yang duduk di sebelah Shizune. "Sama Moegi juga. Udon juga..." ia menunjuk anak laki-laki berkacamata di sebelah si gadis kecil.
"Kalian mau nyanyi untukku?" tanya Naruto dengan nada terharu ketika ketiga anak itu bangkit dan maju ke tengah-tengah lingkaran. "Mau nyanyi apa?"
Naruto baru akan bersiap untuk memainkan gitarnya lagi, tiba-tiba saja anak bersyal panjang mengambil gitar itu dari tangannya. "Kakak Naruto duduk saja sama yang lain. Ayah Iruka yang main gitarnya."
Naruto keheranan pada awalnya, tapi kemudian ia mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, Konohamaru. Tapi kalian nyanyinya harus bagus, ya!" Kemudian ia beranjak dari tempatnya duduk dan bergabung dengan yang lain, menyelip duduk di antara Shizune dan Sakura. Sementara itu, Iruka sudah mengambil tempat Naruto semula.
Setelah memberi aba-aba pada ketiga anak itu, Iruka mulai memainkan nada pembuka. Tiba-tiba saja tenggorokan Naruto serasa tercekat. Ia tahu lagu itu. Tidak, bukan hanya sekedar tahu, tapi lagu itu seolah sudah menjadi bagian dari dirinya. Yang menyimpan kenangan manis yang tidak akan pernah ia lupakan. Manis, tapi dalam waktu bersamaan, membuat hatinya sakit.
"/Somewhere out there/Beneath the pale moonlight/Someone's thinking of me/And loving me tonight…/" Moegi menyanyikan bait pertama dengan suara agak cempreng, tapi menggemaskan. Lalu Konohamaru melanjutkan menyanyikan bait kedua,
"/Somewhere out there/Someone's saying a prayer/That we'll find one another/In that big somewhere out there.../"
"/And even though I know how very far apart we are/It helps to think we might be wishing on the same bright star/" Udon melanjutkan.
Namun bait selanjutnya terdengar samar-samar bagi Naruto.
Segalanya tampak kabur ketika air mata mulai membayang di mata biru Naruto. Kabur… sampai akhirnya sekonyong-konyong segalanya berubah di depan matanya. Ruangan luas yang dipenuhi anak-anak perlahan mengabur, digantikan dengan pemandangan lain yang terasa familier—ruang keluarga rumahnya di Fox Street.
Pencahayaan remang-remang yang hanya berasal dari perapian yang menyala tidak menghalangi pandangannya dari seorang wanita bertubuh mungil yang sedang duduk di kursi goyang di dekat jendela tinggi. Rambut wanita itu yang berwarna pirang, berkilauan tertimpa cahaya bulan purnama dari luar jendela. Begitu juga dengan rambut anak dalam pangkuannya yang berwarna sama. Duduk di kursi rendah di depan mereka, seorang pria berambut cokelat yang sedang memegang sebuah gitar tua di pangkuannya, memainkan nada-nada pelan yang terasa akrab di telinga.
Kedua orang dewasa itu saling bertukar senyum penuh arti tatkala tangan si wanita dengan lembut memeluk si anak. Si wanita melantunkan lagu dengan suaranya yang lembut penuh kasih, "/And when the night wind start to sing a lonesome lullaby/It helps to think we're sleeping underneath the same big sky…/"
Anak di pangkuannya bergerak pelan dalam tidurnya. Wanita itu mengecup lembut puncak kepalanya untuk menenangkannya sebelum melanjutkan, "/Somewhere out there/If love can see us through…/"
Sebuah senggolan di lengannya membuyarkan ingatannya pada masa itu. Naruto mengerjap, menoleh pada Sakura yang tengah menatapnya dengan pandangan bertanya. Dan Naruto menyadari sekejap kemudian. Wajahnya basah karena air mata.
"/Than we'll be together/Somewhere out there/Out where dreams come true.../" suara Konohamaru, Udon dan Moegi berpadu menyanyikan bait terakhir, menggantikan suara lembut ibunya angkatnya.
Anak-anak dan para orang dewasa—termasuk Sasuke dan Sakura—bertepuk ketika ketiga anak itu mengakhiri lagu mereka.
"Baik-baik saja, Naruto?" Sakura menanyainya khawatir.
Naruto buru-buru menyeka basah di wajahnya dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja…"
Namun sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya, Konohamaru sudah menyambungnya, "Kata Ayah Iruka, lagu itu lagu favorit kakak Naruto. Bagaimana, Kak? Kakak suka tidak?"
"Suka," sahut Naruto dengan suara tercekat, nyaris mengisak. "Suka sekali. Terimakasih semuanya… Itu—sangat indah..."
Dan saat berikutnya cowok itu sudah tidak kuat lagi, ia terisak. Sakura yang duduk di sebelahnya, berdiri untuk memberi tempat ketika adik-adik Naruto bergerak mendekat untuk memberinya group-hug. Naruto tampak tenggelam di antara mereka yang beberapa di antaranya ikut menangis.
"Kakak Naruto jangan nangis..." isak salah seorang anak perempuan sambil membelai-belai sisi wajah Naruto, mengusap air matanya.
Sakura yang terharu melihat adegan sarat emosi itu mendekati Sasuke—yang juga telah berdiri—menyembunyikan wajahnya di lengan cowok itu, terisak pelan. Shizune menangis terharu di pelukan suaminya. Iruka menyeka air mata yang membayang di matanya dan tersenyum memandang mereka. Sementara Hayate, pengawal Konohamaru, menghilang entah kemana. Barangkali tidak tahan melihat situasi mengharukan seperti itu.
Dan ketika Sasuke berjalan menyusuri jalanan itu sekali lagi bersama Sakura untuk pulang sore harinya, ia tidak henti-hentinya memikirkan kejadian hari itu. Sekali lagi, Naruto juga Sakura telah menunjukkan sesuatu padanya, mengajarkannya tentang ketulusan, persahabatan, juga pentingnya arti sebuah keluarga.
Ayah… Ibu… mungkin aku telah salah. Mungkin aku tidak melihat lebih dalam pada diri kalian. Maafkan aku yang tidak bersyukur ini, Yah... Bu... Mudah-mudahan masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya.
Sebuah bus yang datang dari arah perbatasan melambatkan lajunya sebelum berhenti di halte tempat Sasuke dan Sakura menunggu. Mereka lalu naik, Sakura lebih dulu, lalu Sasuke menyusul di belakangnya. Mereka mengambil tempat di bangku paling depan.
"Sakura," panggil Sasuke setelah bus melaju lagi.
"Hm?" gadis berambut merah muda itu menoleh.
"Terimakasih sudah mengajakku ke tempat itu," ucap Sasuke agak canggung. Tapi saat berikutnya seulas senyum tipis tergambar di bibirnya dan ia tidak berusaha menyembunyikannya kali ini.
Sakura membalas senyumnya. "Ya, Sasuke. Sama-sama." Ia menepuk lengan Sasuke pelan.
---
"Kakak…" panggil Sasuke pada Itachi malam harinya, ketika kakak beradik itu sudah berada di ruang makan rumah mereka lagi di Crimson Drive.
Itachi yang tengah menikmati makan malamnya mendongak. "Hn?"
Sasuke mengaduk-aduk stew hambar buatan Itachi dengan gugup sebelum bertanya ragu-ragu, "Bagaimana kabar ayah dan ibu?"
Itachi memandang Sasuke selama beberapa saat, lalu tersenyum kecil. "Kenapa tiba-tiba menanyakan mereka, hm? Ini tidak biasa."
"Aku…" Sasuke tampak ragu-ragu lagi. Tapi kemudian ia mengangkat bahu sekilas, berpura-pura bersikap biasa. "Aku… kepikiran mereka saja."
"Kangen?" tanya Itachi dengan tatapan menyelidik.
"Entahlah," kata Sasuke, gagal menyembunyikan kegelisahannya di depan sang kakak. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Itachi. "Mungkin..."
Itachi mengangguk paham. Barangkali kekerasan hati adiknya itu sudah mulai meluntur, ia membatin. "Mau bicara dengan ayah?"
Sasuke menusuki potongan tomatnya dengan garpu, tampak gelisah. "Aku belum siap," gumamnya.
"Hm..." Itachi mengangguk lagi sementara mengunyah makanannya perlahan-lahan. "Kalau dengan ibu?"
Sasuke tidak menjawab. Itachi tersenyum lagi, lalu bangkit dari bangkunya dan meninggalkan ruang makan. Sementara Sasuke menghabiskan makan malamnya dengan perasaan gelisah, Itachi menelepon entah pada siapa di ruang keluarga. Beberapa saat kemudian, ia kembali, membawa gagang telepon bersamanya, mengulurkannya pada Sasuke.
"Bicaralah pada ibu, Sasuke."
Sasuke menatap kakaknya ragu selama beberapa saat. Tapi pandangan kakaknya segera meyakinkannya. Ia mengambil gagang telepon yang diulurkan Itachi sebelum beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan. Dan dengan suara bergetar, ia berkata, "H-halo?"
Terdengar suara isakan dari seberang, dilanjutkan dengan suara lembut yang membuat dadanya sesak dipenuhi oleh rasa rindu. "Sasuke? Oh, Sasuke, putraku… Kau baik-baik saja, Nak? Ibu rindu sekali padamu…"
"A-aku juga… Ibu…"
---
TBC...
---
Gomenna, chapter ini sungguh tidak jelas, pendek dan tidak memuaskan. Tadinya mau double post dengan chapter 25, tapi gak jadi. Lagi gak semangat banget nih ngeditnya... Ada yang berminat ngasih aku semangat? –ditakol-
Buat yang udah berbaik hati mereview; Chika (sepertinya selalu ada bagian yang agak mengecewakan, ya? Haha XD), hiryuka nishimori (gomen belum bisa mereview dalam waktu dekat. insyaALLAH kalo inetnya udah bener, ya), uchietam, dilia-chan (yang selalu ngasih koreksi bagus. Thanks, huny!), Furukara (NejiSaku ditungguin aja, yah!), Eceu Arya (SEMANGAT! SEMANGAT! SEMANGAAAAAT!!! N Happy B'day! Gomen, telat. Hehe..), kakkoii-chan (Neji-kun tungguin aja kemunculannya!), Teh Bellatrix –Lestrange?XD- (Ah, ada penggemar Sailor Moon juga ternyata! Haha), Uzumaki Khai (Haduh, gausa panggil senpai ya. Iputz ajah ;)) dan Rie-s4n... MINNA-SAMA, MAKASIH BANGET SUDAH MEMBACA SAMPAI SEJAUH INI!! –kasih big-hug-
Btw, seandainya fic ini sampai berpuluh-puluh chapter, apakah ada yang mau ngikutin terus ceritanya?
