Chapter terpanjang sejauh ini. Enjoy!
Chapter 25
Beberapa hari telah berlalu semenjak mereka merayakan ulang tahun Naruto yang ke-tujuhbelas di panti asuhan. Dan sejak saat itu, segalanya semakin membaik antara Naruto, Sasuke dan Sakura. Mereka sekarang bagaikan tiga sahabat yang tidak terpisahkan. Sumpah serapah, makian, kata-kata kasar dan ancaman yang dulu kerap terucap dari mulut ketiganya setiap mereka bersama-sama, tidak lagi sering terdengar. Memang sih, mereka tidak selamanya rukun. Ada beberapa kesempatan ketika mereka mulai bertengkar lagi, tapi yang terdengar sekarang bukan lagi cacian penuh kebencian seperti sebelumnya, melainkan lebih ke sindiran penuh persahabatan yang diakhiri dengan tawa geli.
Dan Kakashi Hatake, yang diam-diam selalu mengawasi ketiganya dari jauh, tentu saja merasa puas dengan kemajuan yang terjadi ini. Begitu juga dengan Itachi Uchiha, sang biang keladi—mengingat dia yang punya ide 'mengikat' adiknya bersama dua orang teman, menuruti ide gurunya ketika masih di sekolah menengah dulu—di belakang semua ini. Seperti kali ini, saat ia menerima laporan dari Kakashi.
"Adikmu tampak lebih santai sekarang, Itachi..." ujar Kakashi lewat ponselnya.
"Hmm… Hmm…" kepala Itachi terangguk-angguk di depan layar komputernya, sementara jemarinya dengan lincah menari di atas keyboard, mengerjakan laporan proyek untuk kantornya. Bibirnya menyunggingkan senyum puas mendengar laporan teman lamanya itu. "Sedang apa mereka?" tanyanya.
Seraya mengambil botol air mineral di konter, guru Aljabar itu melirik ke arah Sasuke, Sakura dan Naruto yang sedang duduk makan siang di meja mereka yang biasa di tengah kantin yang selalu riuh itu. Ketiganya sedang menikmati burger keju sambil mengobrol, tertawa-tawa—yah, meskipun yang tertawa hanya Sakura dan Naruto saja. Sasuke hanya menyeringai kecil, sesekali berdehem untuk menyembunyikan tawanya.
"Mereka sedang makan siang. Ah, kurasa Naruto sedang menceritakan leluconnya yang lain," kata Kakashi menahan tawa ketika meja anak-anak itu meledak dalam tawa riang.
Itachi tertawa kecil, jemarinya berhenti mengetik dan sekarang ia memutar kursinya, memandang ke langit di balik jendela di belakang meja kerjanya. "Wah, aku jadi ingin melihat adikku tertawa," ujarnya.
"Ck ck ck… sayang sekali Sasuke sedang tidak tertawa saat ini," sahut Kakashi seraya melambai ke sekelompok murid yang menyapanya.
Itachi mengeluh pelan, tapi kemudian senyumnya mengembang lagi. "Yah, setidaknya dia sekarang sudah jauh lebih gembira. Aku senang dia sudah mau bergaul."
"Yeah, kau benar," kata Kakashi. "Ya sudah, kurasa itu saja untuk hari ini."
"Baiklah," sahut Itachi, "Oh ya, siang ini apa mereka mau latihan sepakbola lagi?"
"Oh, entahlah. Karena hari ini tim yang dikirim ke Ame sudah pulang, barangkali mereka akan libur dulu."
"Oh, oke kalau begitu. Terimakasih banyak, Kakashi."
"Hn, sama-sama. Selamat siang."
Sambungan terputus.
Itachi menghela napas panjang. Senyum masih menghiasi wajahnya ketika ia mendengar suara memanggilnya, "Makan siang dulu, Itachi?"
Pria itu memutar kembali bangkunya yang mendapati seorang wanita muda berambut merah yang merupakan rekan kerjanya tersenyum padanya dari atas bilik tempat ia bekerja. "Ah, iya iya..." ia menyahut.
"Kau ini... selalu saja menelepon di jam makan siang begini. Menelepon siapa sih? Pacarmu?" tanya si wanita penasaran. Mata birunya berkilau antusias, berharap mendapat bahan gosip baru di kantor yang membosankan itu. Terlebih gosipnya tentang pria lajang paling tampan bermasa depan cerah yang juga merupakan pewaris perusahaan itu, Itachi Uchiha. Siapa sih yang tidak penasaran mengetahui siapa wanita beruntung yang akan menjadi istrinya kelak?
Itachi hanya tertawa kecil seraya mengibaskan tangannya. "Ah, kau ini bisa saja. Itu bukan pacarku. Aku belum punya pacar..." kekehnya. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke layar komputernya lagi untuk menyimpan pekerjaannya.
"Oh, kalau begitu aku mau jadi pacarmu, Tuan Uchiha," sahut wanita itu lagi seraya menyibak rambut merahnya yang panjang, tidak lupa dengan senyum menggoda.
Itachi mendengus pelan. Tidak jarang ia mendengar pernyataan langsung seperti itu dari rekan-rekan kerjanya yang wanita, jadi ia sudah tidak heran lagi. Ia mendongak, tersenyum simpul memandang wanita itu. "Terimakasih, kau baik sekali. Tapi aku sudah punya seseorang yang kusukai."
"Oh!" kata si wanita, jelas-jelas tampak kecewa. Ia hendak membuka mulutnya lagi untuk bicara, tapi Itachi keburu menyelanya.
"Maaf, tidak menerima wawancara lebih lanjut," kata Itachi dengan nada bergurau, tapi matanya menunjukkan kalau ia serius dengan perkataannya.
Wanita itu terkekeh janggal selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat bahu. "Baiklah kalau begitu. Aku duluan, ya..." ujarnya canggung.
"Hn," sahut Itachi seraya tersenyum sopan dan mengangguk ketika wanita itu bergabung bersama teman-temannya untuk makan siang.
Itachi menghela napas panjang setelah punggung rekannya barusan menghilang di lift. Sepertinya ia harus cepat-cepat bergerak kalau tidak mau digerecoki terus oleh rekan-rekannya di kantor. Ya, tentu saja aku akan segera bergerak, pikirnya sambil tersenyum penuh arti.
Setelah meregangkan kedua tangannya yang terasa kaku, Itachi cepat-cepat mematikan komputernya, lalu beranjak dari sana setelah sebelumnya mengambil jas yang disampirkan ke punggung kursi kerjanya. Bersenandung riang, Itachi berjalan menuju lift.
Hari ini ada janji makan siang di luar, gumam Itachi riang di dalam hati seraya menekan tombol lift terbuka. Setelah itu pergi ke pet shop untuk beli anjing untuk Sasuke—atau untuk dia sendiri?—Hm... sebaiknya aku mengajaknya makan di mana, ya? Kira-kira dia suka seafood tidak? Itachi terus disibukan oleh pikirannya sendiri sementara lift membawanya turun perlahan.
---
Sakura memegangi sisi perutnya yang terasa nyeri akibat kebanyakan tertawa. "Ha ha... sudah cu-cukup, Naruto..." ucapnya di tengah-tengah tawa. "Kau bisa membuat semua orang mati tertawa kalau begini caranya."
"Oh, itu belum sampai ke bagian yang lucu, Sakura..." kekeh Naruto sambil menyeka air mata tawa dengan punggung tangannya. "Kemudian mereka—"
"Tidak tidak... cukup!" kekeh Sakura menyelanya. "Aku sudah tidak kuat, sungguh. Simpan itu untuk lain kali," ia terkikik lagi beberapa saat sebelum berdeham memaksa dirinya berhenti tertawa. "Lagipula sudah waktunya aku ke perpus. Ada buku yang harus kupinjam," katanya seraya mengeling arloji di pergelangan tangan kirinya, masih nyengir.
Mendengar ini, Naruto langsung mengeluh keras-keras, "Jangan perpus lagi..." cowok itu memang benci perpustakaan yang menurutnya adalah tempat paling membosankan yang pernah ditemukan di peradaban manusia.
"Otakmu itu perlu diisi dengan sesuatu yang berguna sekali-sekali, Naruto," sindir Sasuke, menyeringai pada cowok di sampingnya.
"Apa katamu?!" tukas Naruto pura-pura tersinggung. "Lelucon itu berguna juga tahu! Terutama untuk orang sepertimu. Mukamu itu bisa kaku lama-lama kalau tidak pernah dipakai tertawa."
Sakura tertawa lagi mendengar ini sementara Sasuke menggerutu pelan, "Tidak lucu."
Ketiganya lantas beranjak meninggalkan kantin menuju perpustakaan. Namun koridor depan siang itu terasa lebih penuh dibanding biasanya. Sepertinya semua anak mulai dari kelas satu sampai kelas tiga tumpah ruah di lantai dasar dan mereka semua berduyun-duyun menuju pintu utama.
"Ada apa sih?" Sakura bertanya pada kedua sahabatnya ketika mereka memasuki koridor depan yang nyaris macet.
"Entahlah," sahut Naruto keras, mengatasi suara bising anak-anak. Cowok pirang itu menjulurkan lehernya dan menengok ke sana kemari, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. "Oi, Kiba!" penggil Naruto keras pada seorang cowok berambut cokelat jabrik yang kebetulan melewati mereka. Cowok itu menoleh.
"Oi!" balasnya sambil mendekat. "Kalian tidak ke depan?"
"Ke depan? Ngapain ke depan?" tanya Naruto bingung. Begitu pula dengan dua orang yang lain. Sasuke dan Sakura bertukar pandang, lalu mengangkat bahu.
"Ngapain?" kata Kiba, menatap ketiganya seolah mereka orang bodoh. "Ya menyambut mereka lah. Kalian tidak tahu? Anak-anak yang pergi ke Ame akan datang hari ini."
"Ooh!!" seru Sakura antusias. "Yang benar?"
"Jadi kalian memang belum tahu?" tanya Kiba, menyeringai. "Halooo, kemana saja kalian?" ia menggelengkan kepala seraya terkekeh-kekeh.
"Cerewet kau!" tukas Naruto. Pantas saja Lee menyuruh mereka kumpul setelah pelajarang berakhir, rupanya karena ini, Naruto membatin.
Nyengir, Kiba mengangkat bahunya. "Kalau begitu aku duluan," katanya sambil mengangkat kemera yang menggantung di lehernya. "Cari berita buat majalah! Harus bergegas. Katanya bus mereka sudah sampai dekat sini."
"Hah! Dasar wartawan!" cibir Naruto pada punggung Kiba saat cowok itu berlari-lari kecil menuju pintu utama. "Jadi?" ia kembali berpaling pada kedua sahabatnya. Wajah Sakura tampak berseri-seri sementara Sasuke... datar seperti biasa. Hei, jangan menyalahkannya! Sasuke kan memang tidak mengenal siapa pun yang pergi ke Ame.
"Tentu saja kita juga harus ke depan menyambut mereka!" seru Sakura. Jelas sekali gadis itu telah melupakan tujuan awalnya ke perpus, kelewat bersemangat mendengar kedatangan teman-teman mereka yang berlaga di Ame, yang berarti juga kedatangan sahabatnya, Ino Yamanaka.
Dan tanpa berlama-lama lagi, ketiganya segera menggabungkan diri dengan anak-anak lain yang menuju pintu utama.
Di luar sama penuhnya seperti di dalam. Anak-anak memenuhi halaman sekolah sembari menunggu dengan perasaan gelisah sekaligus bergairah. Kepala sekolah Tsunade bersama jajaran staf guru juga ada di sana, menunggu dengan sama bersemangatnya. Ada juga rombongan dari sekolah lain yang datang untuk menyambut perwakilan mereka. Yang jelas mereka tidak pernah melihat halaman depan Konoha High sepenuh dan sebising itu sebelumnya.
Sasuke, Sakura dan Naruto menempatkan diri di tangga pelataran bersama serombongan besar teman-teman Naruto di klub sepak bola. Menunggu sembari ribut mengobrol dengan nada bergairah.
Beberapa menit berlalu sampai...
"Ah, itu dia bus-nya datang!!" seru seorang cowok kelas tiga bertubuh tinggi besar sambil menunjuk ke arah gerbang.
Sakura menjulurkan leher agar bisa melihat lebih jelas dan memekik girang ketika melihat dua bus biru bertuliskan 'Konoha's Crew' memasuki gerbang utama dan bergerak beriringan menuju halaman sekolah. Jendela-jendelanya terbuka menampakkan kepala-kepala yang terjulur dan tangan-tangan yang melambai. Sampai kemudian bus berhenti tepat di depan pelataran sekolah.
Sorak sorai dan tepukan antusias anak-anak yang menyambut terdengar riuh rendah ketika pintu bus terbuka. Yang pertama turun adalah Pak Maito yang tersenyum luar biasa lebar, ketara sekali sangat senang. Tangannya melambai. Lalu disusul oleh anak-anak yang mewakili Konoha berlaga di Ame—baik yang bersekolah di Konoha High maupun dari sekolah lain—juga para guru yang mendampingi mereka. Mereka semua mengenakan jaket hijau lumut yang seragam dan wajah mereka tampak berseri-seri.
Beberapa anak menjerit senang ketika melihat sahabat mereka dan segera berlari menyambutnya. Anak-anak sepak bola bersorak dan bersuit-suit riuh ketika Temujin dan beberapa teman yang lain keluar dan berjalan ke arah mereka. Medali emas yang berkilauan tergantung di leher mereka. Sementara Sakura mulai cemas ketika Ino tidak kunjung muncul dari dalam bus. Bahkan sampai semua anak turun, Ino tidak juga muncul.
Tsunade menyampaikan pidato singkat sebagai sambutan dan ungkapan rasa bangganya atas prestasi anak-anak didiknya itu—karena kontingen Konoha berhasil menyabet gelar juara umum dalam kejuaraan kali ini—sebelum akhirnya memberi mereka kesempatan untuk beristirahat sejenak seraya melepas rindu pada sekolah yang sudah lumayan lama mereka tinggalkan.
"Ino mana sih?" Sakura bertanya-tanya cemas seraya menjulurkan kepala, berharap melihat rambut pirang sahabatnya di antara kepala anak-anak yang mulai berpencar-pencar. "Sasuke, Ino mana?"
Sasuke—yang tidak tahu siapa itu Ino dan tidak mengenal siapa pun yang baru datang itu—mengangkat bahu. "Mana kutahu... Siapa itu Ino?"
Sakura menoleh padanya sejenak sebelum menghela napas panjang. Tentu saja, bodoh, Sasuke kan belum pernah bertemu Ino sebelum ini. Mengibaskan tangan tak sabar, ia lalu beranjak menyeruak di antara anak-anak sepak bola untuk mencapai Temujin.
"Temujin!" panggilnya, sambil menepuk keras bahu cowok pirang itu. "Kau lihat Ino tidak?"
Temujin yang tengah disalami oleh sekelompok besar cowok kelas tiga menoleh. "Apa?!"
"Lihat Ino tidak?" ulang Sakura lebih jelas.
"Oh, dia," sahut Temujin. Entah mengapa ekspresi wajahnya tampak tidak senang, namun ia tetap menjawab, "Aku dengar dia sakit setelah pertandingan final. Orangtuanya membawanya pulang lebih dulu, jadi dia tidak ikut kami." Lalu ia kembali berbalik memunggungi Sakura, mengobrol dengan teman-temannya dengan suara keras.
Sakura langsung lemas. Ino sakit... Tapi kenapa tidak bilang aku? pikirnya cemas sambil menggigit bibir bawahnya—kebiasaannya setiap sedang cemas. Padahal waktu terakhir telepon dia masih baik-baik saja... Namun sebelum ia sempat menepuk bahu Temujin lagi untuk bertanya lebih lanjut, ia mendengar suara Naruto di belakangnya,
"Hei, aku belum lihat Ino. Kemana dia?" cowok pirang itu menjulurkan lehernya ke atas kepala anak-anak, mencari-cari sosok pirang lain di antara kerumunan cewek-cewek cheerleader tak jauh dari mereka.
Sakura menoleh padanya, "Kata Temujin Ino sakit," beritahunya dengan ekspresi cemas.
"Apa? Sakit apa?"
"Mana kutahu," sahut Sakura gusar. Gadis itu kemudian mengedarkan pandangannya pada anak-anak. "Oh, aku harap tidak parah. Harus tanya Shikamaru atau Chouji. Barangkali mereka tahu."
"Yeah," kata Naruto setuju. "Mungkin mereka di atap—"
"Mereka di sana," sela Sasuke dari samping Naruto, menunjuk ke arah rombongan anak-anak klub musik tak jauh dari tangga pelataran, tengah menyalami kawan mereka yang juga berhasil menyabet emas. Shikamaru dan Chouji ada di antara mereka, tapi sepertinya mereka hendak pergi.
Sakura dan Naruto langsung bergegas menghampiri kawan mereka itu. Sasuke mengangkat bahu tidak mengerti sebelum menyusul kedua temannya.
"Ino sakit kenapa tidak memberitahu aku?" suara Sakura terdengar agak melengking ketika ia melabrak Shikamaru. Cowok berkucir itu dan Chouji menoleh, mengangkat alis mereka ketika melihat Sakura mendekat dengan ekspresi gusar di wajahnya. "Pasti kalian sudah tahu kalau Ino pulang lebih dulu, kan?! Kalian kan ikut ke Ame saat pertandingan terakhirnya!!"
"Eh?" Chouji mengerjap. Ekspresi wajahnya seperti baru saja tertangkap basah sedang menyembunyikan sesuatu. Ia memandang Shikamaru dengan pandangan gugup, minta petunjuk.
"Heeh… perempuan memang merepotkan. Bisanya marah-marah melulu," keluh Shikamaru dalam bisikan sebelum berkata dengan nada malas, "Ino yang melarang kami memberitahumu."
"Kenapa memangnya?" tanya Sakura.
Namun kali ini, Chouji yang menjawabnya, "Ino tidak ingin membuatmu cemas, Sakura. Dia kan tahu kau panikan."
"Aku tidak panikan! Lagipula memangnya dia sakit apa sampai-sampai aku harus begitu cemas?" cecar Sakura lagi seraya berkacak pinggang dan memandang kedua cowok itu dengan pandangan kesal, marah karena mereka tidak memberitahunya sejak awal.
Shikamaru dan Chouji bertukar pandang sebelum Shikamaru berkata, "Sakit biasa, tidak terlalu parah."
Sakura menggeram, jelas tidak puas atas jawaban cowok berkucir itu. "Sakit apa?!" desaknya.
"Well, um..." Chouji tampak ragu-ragu sejenak. "Demam Typhoid?"
"Penyakit macam apa itu?" celetuk Naruto. Tapi tidak ada seorang pun yang menghiraukannya.
Sakura terdiam beberapa saat. "Oh, dan Ino tidak ingin aku cemas karena dia kena tifus?!" ia berseru. "Tentu saja aku tidak cemas!" tapi ekspresinya menunjukkan sebaliknya.
"Sakura memang seperti itu... gampang cemas," Naruto berbisik pada Sasuke di belakang Sakura.
"Aku tidak cemas!" Sakura—yang rupanya mendengarnya juga—membentaknya.
Shikamaru memutar bola matanya, lalu memandang Sakura dengan tatapan malas. "Kenapa perempuan selalu saja senang berpura-pura, eh?" gumamnya pelan. Dan sebelum Sakura membuka mulut untuk mencecarnya lagi, ia berkata, "Dengar, Ino sekarang memang sedang dirawat di Rumah Sakit Konoha. Tapi keadaanya sudah jauh membaik, jadi kau tidak perlu khawatir. Malah dia kelihatan sama sekali tidak sakit."
"Yeah. Barangkali dia sekarang malah sedang senang," timpal Chouji sambil nyengir.
"Chouji benar. Mana mungkin cewek itu tidak senang," kata Shikamaru seraya menaikkan posisi tasnya di bahu. "Kami tidak bisa lama-lama, Sakura. Cewek merepotkan itu—"
"Jangan panggil Ino seperti itu, Shikamaru," sela Chouji menegurnya.
Shikamaru hanya mengangkat bahu dengan malas seraya bergumam, "Merepotkan."
"Kami harus pergi, Sakura," Chouji yang mengambil alih. "Kau tidak usah terlalu khawatir. Ino pasti sembuh dalam waktu singkat. Sampai ketemu."
Dan kedua cowok itu pun berlalu.
"Syukur deh kalau dia baik-baik saja," kata Naruto kemudian. Kemudian ia menepuk bahu Sakura yang tampaknya masih cemas, "Tidak usah terlalu khawatir begitu, Sakura. Aku kenal Ino. Dia itu keras kepala, jadi mana mungkin ada kuman yang betah bertahan lama-lama dalam tubuhnya."
Sakura berbalik menghadapinya, "Yeah…" gadis itu memaksakan senyum. Walau sudah dibilang seperti itu, tetap saja ia cemas. Tapi barangkali yang dikatakan Naruto memang benar, pikirnya. Aku tidak seharusnya terlalu khawatir. Tapi bayangan kakaknya yang sakit parah beberapa tahun silam membuatnya menjadi sedikit paranoid... Ia selalu dilanda kekhawatiran berlebihan kalau orang-orang dekatnya jatuh sakit—walau hanya sakit flu biasa sekalipun.
Naruto yang menyadari gelagat Sakura yang agaknya masih cemas lantas berkata lagi, "Hei, kita bisa menjenguknya sekarang kalau kau mau!"
"Bukannya katamu kau ada rapat klub setelah ini?" Sasuke mengingatkannya.
Naruto mengeluh pelan. "Oh, yeah, aku hampir lupa. Tapi barangkali ini tidak akan begitu lama, Sakura!" ia menambahkan pada Sakura. "Dan setelah itu kita bisa ke rumah sakit menjenguk Ino. Oke?"
Sakura menatap cowok pirang di depannya itu. Naruto begitu peduli padanya, membuatnya merasa tidak enak. Gadis itu tersenyum. "Yeah, trims, Naruto," ucapnya. Terdengar suara Lee dari kejauhan, mengumumkan pada anak-anak klub sepak bola agak segera kumpul saat itu juga di sekre mereka. "Sebaiknya kau bergegas, bisa-bisa mereka memarahimu kalau telat!"
"Oh, oke." Naruto membalas senyumnya, lalu menoleh pada Sasuke. "Sasuke, kau jaga Sakura ya!"
"Hei, memangnya aku anak kecil yang harus dijaga?" kata Sakura seraya meninju bahu Naruto main-main, tertawa. Ah, Naruto selalu saja bisa membuatnya tertawa seperti itu.
Naruto juga tertawa sambil mengusap-usap tempat di mana Sakura baru saja meninjunya sebelum berbalik pergi bergabung dengan teman-teman klub sepak bolanya.
Namun sepertinya rapat klub sepakbola berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang sekretariat mereka sampai menghabiskan waktu sampai sore seperti itu. Sasuke dan Sakura yang masih 'terikat' pada Naruto terpaksa harus menunggu cowok itu sampai selesai. Berjam-jam mereka habiskan duduk di tangga depan pelataran sekolah, menunggu.
Sasuke mengawasi Sakura dari sudut matanya sesekali sementara ia membaca bukunya yang biasa. Gadis itu tidak banyak bicara seperti biasanya dan entah mengapa hal itu sedikit mengganggunya. Cowok itu sudah terlalu terbiasa dengan Sakura yang cerewet. Menghela napas panjang, Sasuke menutup bukunya, memasukkannya ke dalam tas selempangnya sebelum berkata, "Kalau kau begitu cemas, mengapa tidak menelepon temanmu itu saja, eh?"
Sakura menoleh ke arahnya, mengerjap. Kemudian ia menepuk dahinya, geram atas kebodohannya sendiri. "Benar juga. Kenapa tidak kepikiran dari tadi sih?!" serunya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan langsung mengeluh. "Akh! Ponselku low batt!!"
"Pakai ponselku saja," kata Sasuke kemudian seraya mengeluarkan ponselnya. "Kau ingat nomornya, kan?
Sakura menoleh cepat ke arah cowok itu, menatapnya dengan terperangah ketika Sasuke mengulurkan ponselnya. Padahal ini bukan pertamakalinya, namun tetap saja Sakura—Naruto juga—sering terheran-heran kalau Sasuke sudah melakukan hal yang er... baik pada mereka. Sasuke yang barangkali sudah terbiasa dengan tatapan heran Sakura, mengabaikannya.
"Mau pakai tidak?" kata-kata Sasuke kemudian menyadarkan Sakura.
"Eh, i-iya..." gadis itu menerima ponsel Sasuke dan mulai memencet-mencet nomor ponsel Ino yang dihapalnya di luar kepala. Tapi rupanya nomor Ino sibuk terus. Sakura sudah mencoba mendialnya beberapa kali, tapi tetap saja ia selalu disambut dengan nada sibuk. "Nomornya sibuk terus," beritahu Sakura lesu selang beberapa saat kemudian. Gadis itu lantas mengembalikan ponsel Sasuke.
"Tidak coba lagi?" tanya Sasuke sambil menerima kembali ponselnya.
Sakura menggeleng pelan. "Tidak usah."
Sasuke memperhatikan ketika Sakura menyandarkan kepalanya di pegangan tangga. Wajahnya murung. Cowok itu menimbang-nimbang ponselnya selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba menghubungi nomor teman Sakura. Dan ternyata berhasil. Terdengar nada tunggu selama beberapa saat sebelum suara seorang gadis menyahut, "Halo?"
Sasuke menepuk lengan Sakura, membuat gadis itu menoleh padanya. "Ada apa?"
"Sudah tersambung," kata Sasuke seraya mengulurkan ponselnya.
"Ap—Oh!" gadis itu mengerti, lalu cepat-cepat mengambil ponsel Sasuke. "Halo?"
"Siapa ini?" terdengar suara Ino bertanya di seberang.
"Ino?"
"Sakura? Hei. Tadi kupikir aku mendengar suara cowok," kata Ino.
Sakura mengabaikannya. "Ino, bagaimana keadaanmu?" tanyanya cemas.
"Ah, Shikamaru pasti sudah memberitahumu, ya?"
Tapi lagi-lagi Sakura mengabaikannya. "Kau baik-baik saja, kan?" desaknya.
Ino menghela napas di seberang. "Hei, tenang dong. Yeah yeah... aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir belebihan begitu, oke?"
"Tapi kau dirawat!"
"Bukan berarti aku sekarat, kan?" gurau Ino sambil tertawa.
"Tidak lucu," Sakura menukas gusar.
Ino tertawa lagi. "Habis kau ini selalu saja panikan, Sakura," ujarnya, "Tapi yang penting kan sekarang kau sudah tahu aku baik-baik saja. Sebentar lagi juga sembuh kok. Jadi kau tenang saja, oke?"
"Baiklah..." sahut Sakura pelan. Tiba-tiba ia merasa malu sendiri. Terlebih ketika ia melirik ke arah Sasuke dan mendapati cowok itu tengah menatapnya. Barangkali Sasuke menganggapnya cewek aneh. Sinting karena cemas berlebihan. Sakura buru-buru memalingkan wajahnya lagi.
"Omong-omong, kau pakai nomor siapa nih?" Ino bertanya.
"Nomor temanku. Eh, sudah dulu ya. Enggak enak sama yang punya ponsel," kata Sakura.
"Oh, oke. Bye..."
Sambungan terputus.
Tepat ketika Sakura menurunkan ponsel Sasuke, Naruto muncul dari arah pintu utama. Wajahnya luarbiasa sumringah. "Hei!!" serunya keras sambil nyengir lebar. "Kalian lama menunggu?" Tidak perlu bertanya juga sudah tahu jawabannya. Dan ketika melihat tatapan kedua temannya itu, Naruto mengangkat tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal seraya tertawa canggung. "Hehe... beneran lama, ya? Sori..."
"Yeah yeah..." sahut Sakura. Gadis itu mengulurkan kembali ponsel Sasuke pada pemiliknya. "Trims, Sasuke," ucapnya pada cowok itu, tersenyum padanya. Tampaknya suasana hatinya sudah sedikit membaik setelah bicara langsung dengan Ino.
"Hn," sahut Sasuke seraya menerima ponselnya yang diulurkan Sakura dan memasukkannya kembali dengan aman ke dalam tas.
Sasuke dan Sakura beranjak dari posisi duduk tepat ketika serombongan besar cowok-cowok klub sepak bola muncul dari belakang Naruto, mengobrol dengan suara keras. Beberapa cowok yang baru saja datang dari Ame, termasuk Temujin, melirik Sasuke dengan pandangan tertarik ketika mereka lewat. Sasuke mengernyitkan dahi.
"Mengapa mereka menatapku seperti itu?" Sasuke bertanya pada Naruto ketika rombongan itu sudah agak jauh. Tampaknya ia agak terganggu dengan tatapan mereka barusan.
"Oh, aku memberitahu mereka kalau kau adalah the best player di kejuaraan sepak bola antarsekolah tahun lalu," jawab Naruto sambil menaikkan posisi tasnya.
Sasuke mendecakkan lidah, ekspresinya jengkel. "Kau ini. Informasi tidak penting seperti itu kenapa pakai disebarluaskan segala sih?!"
Naruto menaikkan alis menatap temannya satu itu. "Memangnya kenapa? Menurutku itu hebat."
Sasuke tampak agak gusar beberapa saat, namun Naruto tidak ambil pusing. Sepertinya ia sedang sangat senang saat itu. "Dengar teman-teman, aku punya berita bagus," katanya cerah seraya menggosok kedua belah tangannya, "Temujin bilang, kami tidak perlu mengganti formasi pemain untuk pertandingan nanti. Jadi anak-anak yang dari Ame tidak akan ikut bertanding. Itu berarti aku masih bisa main jadi cadangan!!"
"Oh, Naruto, itu bagus!" seru Sakura, turut gembira untuk Naruto.
"Hn, baguslah," ujar Sasuke. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Trims, teman-teman," Naruto menyahut, wajahnya berseri-seri. Lalu ia menoleh pada Sakura. "Kita ke rumah sakit sekarang, Sakura?"
Sakura mengerling arlojinya, wajahnya kembali muram. "Entahlah, Naruto. Sudah terlalu sore sekarang. Aku juga belum memberitahu orangtuaku. Aku tidak ingin mereka cemas."
"Hmm..." Naruto mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu bes—Ah!" ia tiba-tiba menepuk keningnya sendiri, lalu melempar tatapan menyesal pada Sakura. "Maaf, besok aku tidak bisa. Ada latihan bola!"
"Tak apa. Aku bisa sendiri kok," sahut Sakura, "lagipula aku sudah bicara dengan Ino tadi. Kau benar, dia tidak kedengaran sedang sakit."
"Baguslah," Naruto membalas senyumnya sekilas. Meski begitu tetap saja ia merasa tidak enak. Cowok itu memang paling benci mengecewakan orang lain, terlebih ini adalah Sakura, gadis yang sangat istimewa baginya.
"Sudahlah, Naruto," kata Sakura sambil tersenyum tipis ketika ia menyadari perubahan ekspresi Naruto, "Tidak apa-apa. Lagipula aku kan bukan anak kecil yang kemana-mana harus dikawal. Iya, kan?"
"I-iya juga sih," sahut Naruto. Cengiran khas muncul lagi di wajahnya ketika ia merasa sedikit lebih lega. "Kita pulang sekarang, kalau begitu?"
Sakura tersenyum padanya, lalu mengangguk. Lantas ketiganya bergegas menuju lapangan parkir karena hari sudah semakin sore.
---
Kecemasan Sakura tentang keadaan sahabatnya sudah hampir sepenuhnya terkikis ketika ia sampai di rumahnya. Ia terkejut ketika mendapati ruang makan keluarganya telah ditata sangat apik, sampai ada lilin hias segala.
"Pulang sore lagi, sayang?" kepala Azami mengintip dari pintu dapur.
Sakura bisa membaui aroma lezat. Sepertinya ibunya sedang masak masakan istimewa malam ini. Dengan penasaran, Sakura segera menyusul ibunya ke dapur. Gadis itu tercengang melihat rupa-rupa makanan yang tengah dimasak ibunya. "Wow, sepertinya lezat."
Azami tersenyum kecil seraya memeriksa sesuatu yang sedang dipanggangnya di dalam oven. Lalu ia berbalik menatap putrinya. "Bagaimana sekolahmu hari ini?" wanita itu bertanya lembut.
"Oh, seperti biasa... guru-guru memberi setumpuk PR, kuis, dan sebagainya... dan sebagainya..." jawab Sakura riang seraya mencomot sebutir stroberi dan mengigitnya. Ia menyandarkan diri di meja konter, mengawasi ibunya yang sibuk memotong-motong sayuran. "Sebenarnya hari ini pulang cepat, Bu. Tapi aku harus menunggui Naruto rapat dulu dengan klub-nya. Ibu tahu kan?" katanya setelah menghabiskan stroberinya.
Azami terkekeh kecil. "Kenapa kau tidak melamar jadi menejer klub-nya Naruto saja, Sayang? Kan bisa sekalian..."
"Tidak berminat ah, Bu!" sahut Sakura, sekali lagi mencomot stroberi lain, "malas mengurusi cowok-cowok bau keringat seperti itu. Lagipula, kalau aku gabung di klub bola, teater-ku mau di kemanakan?"
"Iya deh..." sahut Ibunya, masih terkekeh-kekeh.
Hening sejenak sementara Sakura menghabiskan stroberi-nya. "Ino sakit, Bu..." gadis itu memberitahu ibunya kemudian sambil beranjak menuju kulkas untuk mengambil botol air mineral.
"Oh!" kata Azami dengan nada menyesal. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menoleh untuk memandang putrinya. "Bagaimana keadaannya?"
"Sepertinya sudah membaik. Aku meneleponnya tadi," jawab Sakura, menuang air dingin ke dalam gelas yang baru saja diambilnya dari rak, lalu menenggaknya.
"Syukurlah kalau begitu... Kau tidak pergi menjenguknya?" tanya Azami seraya kembali menyibukan diri dengan memotong-motong brokoli.
"Rencananya sih besok aku mau menjenguknya," Sakura menghela napas, "Haaah... dasar! Baru datang dari Ame malah langsung sakit begitu!" keluhnya sambil geleng-geleng kepala. Ia menaruh gelas yang baru dipakainya ke atas meja konter.
Azami tertawa lagi. "Ya sudah. Dari pada itu, sebaiknya sekarang kau mandi. Nanti malam kita akan ada acara makan malam keluarga. Paman Kakashi juga akan datang, lho.."
"Makan malam dalam rangka apa sih?" Sakura bertanya.
"Ayahmu kan besok harus pergi dinas lagi, ingat?"
"Ayah sudah mau pergi lagi?" Sakura langsung cemberut. Ia hampir lupa ayahnya harus akan pergi dinas lagi besok. "Padahal ayah belum lama di sini!"
Terdengar suara ayahnya tertawa dari arah pintu dapur. "Apa boleh buat, sayang. Itu kan tuntutan tugas ayah sebagai pilot."
Sakura memutar tubuhnya untuk menatap sang ayah seraya berkacak pinggang. "Ayah seharusnya mengambil cuti lebih panjang," ujarnya memprotes. Kemudian ia berjalan mendekati pria yang paling disayanginya itu. "Aku kan masih merindukan Ayah..."
Hiroyuki tertawa. Dengan lembut, ia mengulurkan tangan untuk menarik putri kesayangannya itu ke dalam dekapannya, memeluknya hangat. "Ayah juga masih merindukanmu, Nak. Begini saja, setelah ini Ayah janji akan mengambil cuti lama untukmu, oke?"
"Ayah janji?" Sakura tersenyum, mendongak memandang ayahnya.
"Ayah janji," timpal Hiroyuki seraya menepuk-nepuk punggung putrinya penuh sayang. Kemudian ia melepaskan pelukannya. "Sebaiknya kau mandi dulu sana. Pamanmu akan datang sebentar lagi!"
Sakura tertawa. "Ah, Kakashi sih, paling juga telat!"
"Paman Kakashi, Nak," tegur Azami.
"Yeah, Paman Kakashi Hatake tersayang si tukang telat." Sakura memutar matanya.
Hiroyuki tertawa lagi. "Itulah mengapa ayah menyuruhnya datang jam empat sore."
Sakura mengerling arlojinya. Hampir pukul enam. Terkikik, ia mengacungkan kedua ibu jari pada ayahnya. "Jenius, Yah!"
"Ya, sudah. Mandi dulu, sana," kata ayahnya terkekeh-kekeh. Sakura segera melesat naik ke kamarnya, bersenandung kecil.
Setengah jam kemudian, Sakura turun dengan dandanan sederhana tapi rapi untuk menghormati makan malam keluarga yang memang selalu diadakan setiap ayahnya akan pergi dinas. Ia mengenakan sweter cokelat muda dipadu dengan rok selutut kotak-kotak berwarna senada. Ia juga telah memilin rambut merah mudanya yang panjang menjadi kepang longgar di belakang tengkuknya.
Sakura tengah membantu ibu dan ayahnya mengatur meja makan untuk empat orang ketika bel pintu berbunyi.
"Aku yang buka!" seru Sakura, meletakkan piring terakhir di atas meja lalu bergegas menuju ruang depan untuk membukakan pintu. "Kakashi, kau telat parah!" sambut Sakura sambil membukakan pintu. Kakashi Hatake berdiri di depan pintu, mengenakan setelan sederhana tapi rapi di bawah mantel bepergiannya.
Pria itu tersenyum simpul. "Yah, maaf... maaf..."
Sakura nyengir pada pamannya. "Yah, karena hari ini aku lagi baik, kau kumaafkan," katanya sambil membuka pintu lebih lebar dan minggir untuk memberi pamannya itu jalan sebelum kembali menutup pintu di belakangnya perlahan. "Tapi lain kali jangan telat lagi ya..."
"Baik... baik..." Kakashi terkekeh seraya melepas mantelnya.
"Sini, aku taruhkan mantelnya," Sakura mengulurkan tangan, menerima mantel pamannya yang berat lalu menggantungnya di gantungan mantel di dekat pintu masuk.
"Terimakasih," ucap Kakashi.
"Aa..." sahut Sakura seraya tersenyum lebar. "Yuk, masuk. Ayah dan ibu sudah menunggu dari tadi." Sakura mengamit lengan pamannya dan membawanya ke ruang makan.
Seperti pada acara-acara makan malam keluarga sebelum ini setiap Tuan Haruno akan pergi dinas, makanannya benar-benar enak. Azami memang sengaja membuatkan makanan favorit setiap orang di keluarga kecil itu, mulai dari appetizer, main course sampai desert. Semuanya lezat.
Setelah desert berupa puding karamel favorit Sakura disajikan, obrolan ringan mulai turun di meja itu. Awalnya sedikit membosankan bagi Sakura ketika para orang dewasa membicarakan pekerjaan masing-masing, tapi begitu obrolan beralih pada sekolah Sakura, gadis itu menjadi bersemangat. Gadis itu tak hentinya berceloteh tentang kedua sahabat barunya. Tentang pertengkaran-pertengkaran seru yang pernah terjadi di antara mereka, sesi latihan bola Naruto, perubahan sikap Sasuke sampai soal ulang tahun Naruto di panti asuhan beberapa hari yang lalu. Tidak perlu menjadi orang jenius untuk mengetahui betapa Sakura sangat menyukai ikatan indah yang baru didapatkannya dengan Sasuke dan Naruto. Meskipun Sakura menceritakannya dengan berapi-api di beberapa bagian seperti orang marah.
Ketiga orang dewasa itu tertawa keras ketika Sakura selesai bercerita.
"Aku senang kau akhirnya akur dengan mereka berdua, Sakura," komentar Kakashi setelah tawanya mereda seraya menyendok pudingnya lagi.
Keponakannya itu tertawa kecil. "Yah, tadinya aku juga gak nyangka bisa seperti ini. Tapi yah... ternyata mereka cukup baik juga. Meskipun agak sulit menghadapi Sasuke pada awalnya."
Kakashi mengangguk-anggukkan kepala sementara ia menelan pudingnya. "Kau dan Naruto jelas membawa perubahan baik bagi Sasuke. Ternyata metode itu sekali lagi berhasil." Pria itu tersenyum puas.
"Idemu itu ada-ada saja, Kakashi," kekeh Hiroyuki menimpali.
"Oh, sebenarnya ini bukan sepenuhnya ideku, Hiro," sahut Kakashi, "Aku hanya menerapkan apa yang pernah aku lihat saat masih menjadi mahasiswa praktek di salah satu sekolah asrama di Oto. Waktu itu ada sepuluh orang dan itu heboh sekali."
Ketiga yang lain tertawa mendengar ini.
"Sudah kubilang kan, Sakura? Kau tidak akan menyesal," Kakashi berkata pada keponakannya.
Sakura tersenyum malu-malu dan berkata, "Yeah, memang. Dan untuk itu aku ingin berterimakasih pada pamanku tersayang. Kau yang terbaik," gadis itu mengangkat gelas limunnya seperti sedang bersulang pada Kakashi. Pria itu balas tersenyum seraya mengangkat gelas anggurnya.
Hiroyuki tertawa senang. Ia mengulurkan tangannya untuk membelai kepala putrinya penuh kebanggaan.
"Tapi sebenarnya..."
"Hm?" Semua kepala menoleh ke arah Kakashi, melempar pandang bertanya.
Kakashi terdiam sejenak, matanya menatap sang keponakan. Kemudian senyum lembut muncul di bibirnya ketika ia berkata sambil menggeleng pelan, "Ah, tidak. Tidak ada apa-apa."
Sakura masih menatap pamannya selama beberapa saat dengan bingung sebelum akhirnya mengangkat bahu. Ia kemudian mulai membantu ibunya membereskan meja makan ketika semua piring sudah bersih beberapa waktu kemudian, sementara Kakashi dan ayahnya pergi ke ruang keluarga sambil melanjutkan obrolan mereka. Dan ketika Sakura dan ibunya sudah bergabung dengan mereka limabelas menit kemudian, mereka memutuskan untuk bermain kartu, permainan yang biasa mereka mainkan kalau sedang berkumpul seperti ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Sakura menguap lebar. Ia baru saja memenangkan lima ronde berturut-turut dan tampak sangat puas. Namun rupanya rasa kantuk berhasil mengalahkannya kali itu.
"Sudah malam. Kau tidur saja sana," Azami membelai rambut putrinya ketika gadis itu mengusap-usap matanya yang berair akibat menguap kelewat lebar.
Hiroyuki tertawa kecil. "Iya tuh. Matamu saja sudah merah begitu..."
Sakura menguap sekali lagi sebelum menyahut, "Iya deh." Gadis itu lalu beranjak setelah meletakkan tumpukan kartunya di karpet tempat mereka duduk. "Malam, Yah, Bu..." ia menoleh pada pamannya, "Paman Kakashi..."
"Malam..." sahut ketiganya berbarengan.
Sakura lantas meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya di lantai atas. Setelah melakukan ritual sebelum tidur—cuci muka, sikat gigi dan lain-lain—ia berganti piama Hello Kitty berwarna pink kesayangannya dan segera naik ke ranjang. Namun tiba-tiba mata hijaunya menangkap sesuatu ketika ia mengerling ke arah meja samping tempat tidurnya di mana ia meletakkan ponselnya. Ada satu pesan yang baru masuk. Sakura cepat-cepat meraih ponselnya. Ternyata dari Ino.
Forehead-girl, sori sudah membuatmu cemas tadi. Aku benar-benar merasa tidak enak. Di rumah sakit sangat membosankan. Datanglah besok menjengukku, ya! Aku tunggu! ;p
Sakura kembali menguap lebar. Besok sajalah membalasnya, pikirnya mengantuk seraya meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula lalu menarik selumutnya yang hangat sampai ke leher. Sudah saatnya terbang ke alam mimpi.
Selamat malam, Sakura...
---
TBC...
---
Haduh… maafkan chapter kacau ini, teman-teman… Padahal makan waktu agak lama ngedit chapter ini, bingung sih. Hah~ kenapa ya, aku selalu ngerasa gak puas dalam menulis? Ya sutralah. Saatnya balas review-an para reader-ku yang baik!
Tapi disatuin aja deh. Wah, aku gak nyangka chapter kemarin disukai. Padahal menurutku kacau banget—tapi aku suka bagian ItaSasu-nya. Hehe—makasih banget buat Chika, hiryuka nishimori (Aaah, makasih semangatnya!), dilia-chan (Iya nih, konfliknya masih banyak. Huhu), uchietam, Uzumaki Khai (dialog SasuMiko-nya kalo dilanjutin bakal jadi panjang. Bayangkan sendiri aja yah! –ditimpuks-), Antlia (Liaaaaa! –dikepruks karena SKSD- akhirnya review lagi. Selalu nunggin review-mu lho. Btw, thanks udah mereview APIM. Fic itu miskin review soalnya. Sepertinya jarang yang suka warfic yah), Furukara kyu (tips? Apa yah? Gak tahu tuh. Diriku kalo nulis emang suka kelabasan sih), PinkBlue Moonlight (Ah~ kamu tahu lagu itu juga? Lagu fave-ku tuh. Liriknya suka. Sering dipake di film animasi kan? Di Lion King ada, di A Land Before Time juga dipake), Catt-chan (Ah, makasih masukannya. Aku memang agak susah bikin kalimat bagus sepertimu sih. Jadinya malah kalimat majemuk yang gaje gitu. Mau ngajarin aku taks? XD. Dan soal lirik, enaknya gitu yah? Hm… tar dipertimbangin lagi deh. ^^), kakkoii-chan dan Mbak Bellatrix (Jadi SasuSaku gak yah? Hehe… Wah, makasih banget udah di-alert! Tuh, Kang Kakashi nongol bentar di chap ini.)
Merci d'avant... that's really means a lot to me....
Oia, kalo ada waktu, mampirlah di fic "Kisah Kita" di account orokchimaru (duh, namanya gaje banget!) yah. Itu account milik otouto-ku. Fanfic itu sebenarnya tulisanku yang udah lama banget ngendap di kompie. Jauh sebelum L'aPT ditulis, pas lagi suka-sukanya sama SasuSaku. –saking lamanya sampe berjamur deh. Haha…- Kalau udah kenal tulisanku, barangkali bisa melihat kemiripan gaya bahasa di fic itu dengan style menulisku. Kenapa aku pake account milik adik? Karena biar account yang udah lumayan lama itu guna. Abis masa dia daftar di FFN cuma buat ngereview doang. Itu juga baru dipake ngereview satu kali! Pake anon kan juga bisa! –grrr…- eman-eman kan? Otouto-ku itu sebenernya nulis juga, tapi karyanya gak mau dipublish.
Dan kenapa aku menggunakan 'senpai' di fic itu? Soalnya aku selalu merasa kouhai, sih… enak jadi kouhai. Haha..
Review juga yah… hehe… -perasaan fic yang kutulis di luar L'aPT belakangan ini selalu sepi review. Gak mutu sih.. Hiks…-
