Hohoho… ternyata chapter ini malah lebih panjang dari yang sebelumnya. Sangat disarankan untuk menge-save di kompie dan membacanya offline. Biar hemat gitu loooh.. XD Enjoy!
Chapter 26
Blossoms Street No. 28
Sakura membuka jendela kamarnya lebar-lebar lalu meregangkan tubuhnya seraya menghirup udara dalam-dalam. Senyum mengembang di wajahnya. Pagi itu udara terasa sejuk segar, sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda akan turunnya hujan lebat seperti yang diramalkan di televisi. Cuaca yang benar-benar secerah yang diharapkannya.
Benar-benar sempurna, pikirnya sambil melambai riang, membalas sapaan tetangganya yang sepertinya baru saja selesai berjoging. Tapi kesempurnaan itu menjadi berkurang ketika ia teringat Ino yang terbaring di rumah sakit. Sakura menghela napas seraya bersandar pada kusen jendela, mengawasi seorang pria sedang berjoging dengan anjingnya melewati depan halaman rumahnya. Kalau saja Ino tidak sakit, mereka pastilah sedang lari pagi bersama-sama sekarang, gadis itu membatin sedih.
Ah, omong-omong soal Ino, Sakura baru ingat kalau semalam sahabatnya itu mengirimkan pesan singkat ke ponselnya. Sakura lantas bergegas meninggalkan sisi jendela dan berjalan mengitari ranjangnya untuk mengambil ponsel yang diletakkan di meja samping ranjang, lalu duduk di atas ranjangnya. Ia baru saja hendak membalas pesan Ino ketika didengarnya suara ibunya memanggilnya dari bawah.
"Sakura, sarapan dulu, sayang!"
"Ya, Bu. Sebentar lagi aku turun!" Sakura menyahut. Yah, nanti sajalah, pikirnya seraya melempar ponselnya ke ranjang dan beranjak menuju meja rias. Dengan cepat ia mengambil sikat rambut dan mulai menyisiri rambutnya yang panjang, menggulung dan menjepitnya di belakang kepala. Kemudian ia menyambar sweter longar yang disampirkan di punggung kursi belajar dan memakainya di atas piamanya sebelum melesat meninggalkan kamar.
Ayah dan ibunya sudah ada di sana ketika Sakura tiba di ruang makan. Hiroyuki sudah mengenakan seragam pilotnya—yang membuatnya tetap kelihatan gagah meski usianya sudah separuh baya—dan koper yang biasa dibawanya setiap kali berdinas ditaruh di dekat kursi. Ibunya tengah menuangkan secangkir kopi mengepul untuk ayahnya.
"Pagi, Yah, Bu!" sapa Sakura seraya berjalan mengitari meja untuk memberi ayah dan ibunya kecupan selamat pagi di pipi masing-masing sebelum duduk di kursinya yang biasa.
"Kau ada rencana apa hari ini, Sakura?" ayahnya menanyainya seraya mengambil wafel.
"Aku mau menjenguk Ino hari ini, Yah. Ayah tahu kan, dia dirawat di Rumah Sakit Konoha?" kata Sakura seraya mengambil wafel juga.
"Ya ya... Kakashi memberitahu ayah semalam. Salamkan dari ayah untuknya, ya, Sayang..." ucap Hiroyuki sambil tersenyum.
"Oke, Yah!" sahut Sakura ceria seraya mengacungkan ibu jari. Ia menuang madu banyak-banyak di atas wafelnya, lalu menyeruput sari jeruknya.
"Kau membesuk Ino sendirian nanti?" ibunya ganti menanyainya.
Sakura mengangkat bahu, lalu menjawab, "Belum tahu, Bu. Naruto tidak bisa, dia ada latihan bola. Barangkali aku mau mengajak Sasuke, tapi aku belum tanya dia bisa atau tidak."
"Sasuke? Pemuda tampan temanmu itu?" tanya Azami seraya menuang sari jeruk untuk dirinya sendiri. Matanya berkilat jahil ketika ia melirik sang putri.
Sakura menatap ibunya dengan kernyitan dalam menghiasi dahinya. "Kenapa sih, ibu selalu menyebut Sasuke 'pemuda tampan'? Menurutku dia biasa saja..."
"Lho, dia kan memang tampan. Ibu menyukainya..." kata Azami sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.
"Ayah, lihat tuh! Ibu mulai main mata dengan daun muda!" Sakura buru-buru mengadu pada ayahnya yang tertawa-tawa. Tentu saja Sakura tahu kalau ibunya tidak sungguh-sungguh, tapi Sakura selalu tidak tahan tidak menanggapi gurauan ibunya. Rasanya menyenangkan setiap kali ia bersenda gurau dengan keluarganya seperti ini, meski rasanya masih ada yang kurang.
"Yah... yah... mau bagaimana lagi?" kekeh ayahnya, dengan cepat menanggapi gurauan istrinya. "Ayah kan sudah tua sementara Sasuke masih muda dan segar."
"Ayah apaan sih?!" seru Sakura pura-pura cemberut. "Pokoknya bagiku tidak ada laki-laki yang lebih tampan dari Ayah! Hiroyuki Haruno adalah pria paling tampan nomor satu sedunia! Sasuke sih urutan ke sekian sekian sekian..."
Hiroyuki tertawa sampai tubuhnya berguncang-guncang. Kemudian ia mengulurkan tangan untuk menepuk puncak kepala putrinya penuh sayang. "Dan kau adalah gadis kesayangan ayah paling cantik nomor satu di dunia. Tapi bagaimana dengan Naruto? Dia juga menarik dan penuh semangat," ia menambahkan. Sakura bisa melihat kilau jahil di mata ayahnya. "Atau kau lebih suka Sasuke yang tampan itu?"
"Oh, mungkin pemuda Hyuuga yang pernah diceritakan Kakashi padaku..." timpal Azami.
"Hmm... mungkin kita perlu mengadakan semacam seleksi calon menantu," Hiroyuki meletakkan tangannya di dagu, seolah sedang berpikir, "Bagaimana dengan putra Tuan Nara? Dia juga lumayan..."
"Atau pemuda Aburame yang pendiam itu?" sekali lagi istrinya menimpali. Keduanya bertukar senyum sebelum melirik putri mereka yang semakin lama wajahnya semakin memerah.
"Idiiih... Apaan sih Ayah dan Ibu ini?! Apanya yang calon menantu?!" Sakura berseru memprotes seraya menggembungkan pipinya pertanda sebal, membuat kedua orang tuanya tertawa lagi. "Lagipula aku kan masih sekolah!"
"Iya iya, maaf... Ayah dan Ibu kan hanya bercanda, Sayang..." ujar Azami sambil tertawa. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk membelai pipi putrinya lembut.
"Enggak lucu!" Sakura memajukan bibirnya, pura-pura ngambek.
"Tuh tuh... mukanya jadi jelek kalau bibirnya maju begitu..." kata Azami terkekeh. "Kalau begitu mana ada cowok yang mau sama kamu..."
"Ayah, Ibu tuuuh..." Sakura mengadu lagi, cemberut pada ibunya.
"Ya sudah, ya sudah..." kata Hiroyuki setelah tawa di meja makan mereda. "Lebih baik kita sarapan saja, nanti keburu wafelnya dingin jadi tidak enak deh."
Dan saat berikutnya, keluarga kecil itu sarapan dengan tenang. Sakura mengawasi ayah dan ibunya dari sudut matanya dengan penuh rasa syukur. Meskipun mereka kerap kali menggodanya dengan hal-hal seperti itu, tapi itu tidak mengurangi rasa sayang Sakura terhadap kedua orangtuanya. Justru itu membuatnya semakin menyayangi mereka. Ah, kalau saja kakak masih ada, pasti tambah ramai... ramai berantem, maksudnya, Sakura membatin sambil tersenyum.
Limabelas menit telah berlalu sebelum Hiroyuki mengerling arloji di pergelangan tangannya. "Ah, sudah jam segini. Aku harus cepat-cepat ke bandara!" serunya sambil beranjak.
"Hm.." Azami mengangguk seraya menyeruput sari jeruknya. "Kalau begitu aku ambil kunci mobil dulu," dan wanita itu pun beranjak meninggalkan ruangan.
"Sudah mau berangkat sekarang?" tanya Sakura. Gerakannya mengumpulkan piring-piring kotor terhenti dan ia menatap ayahnya dengan ekspresi kecewa. Rasanya ia belum puas menghabiskan waktu bersama sang ayah, tapi beliau sudah keburu harus meninggalkan Konoha lagi.
"Apa boleh buat, Sakura..." Hiroyuki membelai lembut rambut merah muda putrinya, bibirnya menyunggingkan senyum menyesal.
Sakura meletakan piring kotor yang dipegangnya lalu melingkarkan lengan di sekeliling pinggang ayahnya, memeluknya erat. "Kalau bagitu Ayah hati-hati, ya... I'll miss you..."
"Hm... Ayah juga akan merindukanmu, Nak..." Hiroyuki membelai-belai punggung putrinya, lalu mengecup puncak kepalanya penuh sayang. "Ayah titipkan ibu padamu, ya."
Sakura mengangguk. "I love you, Dad..." bisiknya, masih memeluk ayahnya lebih erat. Ini bukan pertama kalinya mereka berpisah, namun Sakura merasa perpisahannya dengan ayahnya kali ini terasa agak aneh. Entah mengapa ia merasa tidak rela melepaskan ayahnya pergi kali ini. Tapi ia harus...
"I love you too, dear..." balas Hiroyuki sambil tersenyum. Lalu melepaskan pelukan putrinya.
Sementara itu, Azami yang tadi meninggalkan ruangan untuk mengambil kunci wagon mereka di kamar sudah kembali. "Ibu akan mengantar ayahmu ke Bandara, Sayang. Kau nanti hati-hati kalau ke Rumah Sakit ya.."
"Ya, Bu," sahut Sakura seraya menerima kecupan singkat dari ibunya di pipi.
"Setelah dari Rumah Sakit kau ke restoran, kan?"
"Hm..." Sakura mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu sampai ketemu di restoran, Sayang," ucap ibunya.
"Jaga dirimu, Sakura, Nak," pesan ayahnya seraya tersenyum, menepuk puncak kepala putrinya penuh sayang. "Dan jangan nakal!" ia mengedipkan sebelah mata.
Sakura tertawa. "Beres, Yah…" gadis itu menyahut. "Ayah juga hati-hati."
Sakura mengantar kepergian ayah dan ibunya sampai ke beranda depan, melambai ketika wagon yang dikendarai ibunya meninggalkan halaman rumah mereka. Gadis itu masih di sana beberapa saat setelah mobil mereka menghilang di belokan.
Ah, rumah sepi lagi deh, Sakura membatin sedih. Entah kapan ayahnya baru bisa pulang lagi... Tapi mudah-mudahan secepatnya, seperti yang sudah dijanjikannya.
Menghela napas, Sakura bergegas masuk kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan membereskan piring-piring bekas sarapan. Gadis itu dengan cekatan menumpuk piring-piring kotor dan membawanya ke mesin pencuci piring, gelas dan cangkir bekas kopi menyusul kemudian. Selesai. Ia lalu mencuci tangannya di wastafel dan mengeringkannya dengan serbet.
Ia mengerling jam dinding. Masih terlalu pagi untuk pergi ke rumah sakit, pikirnya. Kemudian ia teringat akan mengajak Sasuke untuk membesuk Ino. Gadis itu bergegas menuju ruang keluarga, meraih gagang telepon di meja, lalu menghempaskan dirinya di sofa sembari memencet-mencet nomor telepon Sasuke.
Sakura menempelkan gagang telepon ke telinganya, mendengar nada tunggu...
---
Crimson Drive No. 9
"Husy! Ke sana, Rufus! Ke Itachi saja sana!" Sasuke menggerak-gerakkan kakinya, mencoba menghentikan seekor anjing berlarian mengitari kakinya. Saat itu ia sedang mengumpulkan piring-piring kotor bekas sarapan, tapi Rufus, si Retriever tampan berbulu cokelat keemasan yang baru dibeli Itachi terus saja menempel padanya sejak kedatangannya pertama kali ke rumah itu.
Sasuke menggeram pelan. Kalau begini caranya, baru satu jam lagi ia baru bisa mencapai bak cuci piring.
Tepat saat itu, Itachi melintas menuju gudang. Rambut panjangnya yang masih agak basah—sepertinya ia baru saja selesai mandi—dibiarkan tergerai tanpa diikat seperti biasa. Pria itu tertawa melihat adiknya. "Sepertinya Rufus memang menyukaimu, Sasuke," kekehnya.
"Singkirkan dia dariku, Kak!" dengan susah payah, Sasuke baru bisa melewati Rufus yang tampak sedang sangat bergairah pagi itu. Tapi ketika ia menoleh lagi, Itachi sudah menghilang di gudang.
Sasuke baru akan berteriak memanggil kakaknya ketika ia mendengar telepon di ruang keluarga berdering. Rufus menyalak mendengar bunyi telepon—dia memang selalu begitu setiap telepon berdering—dan langsung melompat menuju ruang keluarga, menyalaki telepon. Sasuke menghela napas melihat tingkah anjingnya. Ia lantas meninggalkan tumpukan piringnya di wastafel dan bergegas menyusul ke ruang keluarga.
Rufus baru berhenti menyalak ketika Sasuke mengangkat gagang telepon. "Halo?" sapa Sasuke pada peneleponnya seraya mendudukkan diri di sofa.
"Halo, ini Sasuke?" Sasuke langsung mengenali suara Sakura.
"Hn. Sakura?"
Rufus ikut naik ke sofa dan sekarang tampaknya ia menjadi sangat tertarik pada telepon di tangan majikannya. Anjing itu menyalak lagi dengan kaki depan naik ke pangkuan Sasuke.
"Husy! Sana, Rufus! Kau anjing nakal!" desis Sasuke seraya mendorong anjingnya menjauh. Tapi Rufus tetap membandel.
"Sasuke? Apa itu anjing barumu yang kemarin kau ceritakan itu? Rufus?" tanya suara Sakura antusias.
"Yeah," sahut Sasuke. "Ada apa meneleponku?"
Namun Sakura mengabaikan pertanyaan Sasuke. Sepertinya ia lebih tertarik pada si anjing. "Oh, halo Rufus, kau bisa mendengarku?" Sakura menanyai Rufus.
Seakan bisa mendengar Sakura menyapanya, sekali lagi Rufus menyalak riang.
"Dasar bego!" kata Sasuke ke gagang telepon, "Tentu saja dia tidak bisa mendengarmu."
"Tapi dia menjawab sapaanku, tadi!" kilah Sakura. "Ya kan, Rufus?"
Sasuke memutar matanya. "Geez! Kukira kau menelepon bukan untuk bicara pada anjingku, eh?"
"Oh yeah, benar. Aku ingin tanya apa kau bisa menemaniku menjenguk temanku di rumah sakit hari ini? Aku sudah janji akan mengenalkanmu padanya kalau dia pulang."
"Apa ini Ino yang kemarin itu?" Sasuke bertanya. Rufus kini duduk tenang dengan mata gelapnya yang bulat berkilau seperti kelereng menatap sang majikan. Sasuke mengulurkan tangan untuk menggaruk belakang telinga anjingnya sebagai penghargaannya karena sudah bersikap lebih tenang.
"Ya, dia. Kau bisa?" Sakura menanyainya.
Sebelum Sasuke menjawabnya, Itachi muncul dari arah gudang, membawa kotak perkakas besar. "Sasuke, hari ini kau yang belanja ya! Keperluan dapur sudah hampir habis tuh!"
Sasuke menutup corong bicara gagang teleponnya dengan tangan, lalu menjawab kakaknya. "Kenapa tidak kau saja sih? Minggu ini kan giliranmu. Giliranku kan cuci piring dan ke laundry."
"Aku mau merakit rumah untuk Rufus," kata Itachi. "Apa kau mau tukar denganku? Kau yang rakit rumah, aku belanja."
Sasuke melirik Rufus yang kini sudah turun dari sofa dan sedang bermain-main dengan karpet, ekornya mengibas riang. "Tidak. Aku yang belanja. Tapi kau ke laundry!"
"Oke!" sahut kakaknya itu, nyengir. "Rufus!" Itachi memanggil anjingnya. Ia telah mengeluarkan sebuah biskuit anjing dari dalam sakunya dan menggoyangnya untuk menggoda Rufus. "Kemari, anjing pintar! Siapa yang mau biskuit lezat??"
Rufus dengan riang gembira menyalak dan berlari ke arah Itachi yang segera menyambutnya dengan garukan di belakang telinganya. Sasuke lantas kembali beralih ke teleponnya. "Sakura?"
"Kau ngomong sama siapa sih?" gadis itu bertanya. Suaranya terdengar agak jengkel—mungkin karena dicueki barang sebentar.
"Kakakku," sahut Sasuke singkat. "Soal yang tadi, sepertinya aku tidak bisa. Aku harus belanja."
"Oh," Sakura terdengar kecewa. "Ya sudah kalau begitu. Selamat berbelanja saja deh!"
"Hn."
"Bye."
Hubungan terputus. Sasuke meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula dan beranjak. "Kak!" panggilnya pada Itachi ketika kakaknya itu tengah mendorong pintu kasa menuju halaman belakang terbuka.
"Ya?" Itachi menoleh, membiarkan Rufus melewatinya keluar.
"Aku pinjam mobilmu."
"Hn. Kuncinya ada di meja di kamar. Ambil saja." Setelah berkata begitu, Itachi menghilang di balik pintu kasa. Sasuke bisa mendengar Rufus menyalak-nyalak riang dari luar.
Lega karena akhirnya terbebas dari si anjing, Sasuke bergegas menuju dapur lagi untuk melanjutkan tugasnya mencuci piring. Sejak beberapa hari belakangan ia memang tidak banyak mengheluh lagi soal pekerjaan rumah seperti ini, juga kekeraskepalaan kakaknya yang tidak mau memanggil pembantu. Barangkali ia sudah semakin terbiasa. Juga tekadnya untuk bersikap lebih baik pada Itachi.
Setelah selesai, Sasuke beranjak ke lantai atas ke kamar Itachi.
Kamar kakaknya itu berukuran lebih lebar dari kamarnya—wajar saja karena itu kamar utama sementara kamar Sasuke kan tadinya kamar tamu—dan Sasuke bisa merasakan aroma yang sama dengan kamar kakaknya di Oto. Aroma yang menyenangkan dan menenangkan. Itulah kenapa ia kerap menyusup ke kamar Itachi dan tidur di sana kalau sedang kangen dengan kakaknya itu ketika masih di Oto. Tapi ia kemari bukan karena itu.
Sasuke mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sebelum kemudian mendapati benda yang dicarinya tergeletak di meja kecil di samping tempat tidur. Ia bergegas mendekat untuk mengambil kunci mobil Itachi.
Tadinya ia mau langsung keluar setelah mendapatkan yang dicarinya, namun sesuatu tertangkap ekor matanya. Ia kembali menoleh untuk melihat lebih jelas. Secarik kertas seukuran foto terselip di antara pigura-pigura foto keluarga dan teman-teman yang berjajar di atas meja.
Didorong rasa penasaran, Sasuke meraih kertas itu yang rupanya sebuah foto. Foto itu menampakan seorang wanita berwajah manis dengan rambut cokelat yang digelung di belakang kepalanya dan berlatar belakang ruangan serba putih—seperti klinik. Wanita itu mengenakan jas panjang berwarna putih di atas blouse cokelat mudanya dan tengah menggendong seekor Chihuahua. Dan dari posenya yang seperti sedang bicara pada seseorang, sepertinya foto itu diambil diam-diam dengan menggunakan kamera ponsel. Sasuke mengernyit seraya memandangi foto itu dengan lebih teliti.
Siapa? Tidak kenal...
Sasuke membalik foto itu dan langsung mengenali tulisan tangan kakaknya di sana,
I've been looking for that special one
And I've been searching for someone to give my love
And when I thought that all the hope was gone
You smile, there you were and I was gone
Sasuke mendengus tertawa. Ia sama sekali tidak punya ide bahwa kakaknya bisa menggombal seperti itu. Sepertinya, siapa pun wanita di dalam foto itu, ialah yang menyebabkan Itachi begitu ceria akhir-akhir ini. Keceriaan yang tak bisa dijelaskan.
Hm...
---
Rumah Sakit Konoha
"Sakura!"
Suara seorang pria yang sudah sangat dikenalnya membuat Sakura menolehkan kepala. Gadis itu tersenyum lega ketika melihat Inoichi Yamanaka, ayah Ino, muncul di salah satu pintu ruang rawat di Rumah Sakit Konoha. Gadis itu bergegas menghampirinya. Akhirnya ketemu juga kamar rawat Ino!
"Selamat pagi, Paman Inoichi!" sapa Sakura cerah setelah mereka sudah dekat.
"Pagi. Mau membesuk Ino, kan?" pria berambut pirang panjang itu bertanya ramah yang langsung diangguki Sakura. "Ah, Ino pasti senang sekali. Dia terus-terusan mengeluh bosan. Barangkali kau bisa menghiburnya."
"Serahkan padaku, Paman!" sahut Sakura sambil tersenyum.
"Paman percaya padamu, Sakura," kata Inoichi, membalas senyum sahabat putrinya itu. "Paman harus pergi sekarang. Paman titip Ino, ya." Pria itu menepuk bahu Sakura pelan sebelum berlalu dari sana.
Sakura menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan sebelum mendekati pintu kamar rawat Ino. Ini pertamakalinya ia bertemu sahabatnya lagi setelah berminggu-minggu Ino pergi ke Ame. Rasanya ia bersemangat sekali. Ia mendorong pintu itu perlahan...
"Sakura!" seorang gadis berambut pirang yang sedang duduk di tempat tidur berseru ketika Sakura melangkah masuk.
"Ino!" Sakura balas berseru seraya mendekat ke arah ranjang, mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk sahabatnya penuh rindu. "Oh, Ino! Aku kangen sekali tahu!"
"So do I, dear..." Ino balas memeluknya erat. "Apa kabar?"
Sakura melepaskan pelukannya dan menatap sahabatnya. "Seharusnya aku yang tanya begitu," ujarnya.
Ino tertawa seraya mengibaskan tangannya yang bebas selang infus. "Ah, ya. Tentu saja, kau selalu tampak segar dan sehat."
Sakura menatap Ino selama beberapa saat lagi, mengamatinya. Rambut Ino yang pirang masih sama panjangnya seperti yang diingatnya, tapi kali ini tidak diikat ekor kuda tinggi, melainkan tergerai lepas membingkai wajahnya yang konon katanya—kata cowok-cowok, tepatnya—paling cantik di Konoha High. Wajahnya sedikit pucat dan matanya yang sewarna batu saphire agak meredup, mungkin karena ia sedang sakit.
"Kau tampak berantakan," komentar Sakura.
Ino menghela napas. "Tidak usah bilang aku juga sudah tahu." Gadis itu kembali menyadarkan punggungnya lagi ke bantal yang sengaja ditumpuk tinggi. "Ah... tidak adil! Padahal aku sudah menunggu-nunggu saat aku akhirnya bisa pulang ke Konoha. Eh, malah kena penyakit sialan ini!" ia bersungut-sungut.
Sakura tertawa kecil. Ia menarik sebuah kursi ke sisi ranjang Ino dan duduk di sana, "Omong-omong kenapa sih bisa kena tifus begini?" tanyanya.
"Aku tidak tahu," Ino menukas sebal, "Tanya saja sendiri sama kumannya! Barangkali mereka naksir aku. Kau tahu kan, semua makhluk pasti akan naksir kalau melihatku. Termasuk si salmonella (1)ini."
Sakura menjulurkan lidahnya, belagak muntah sebelum tawanya pecah. Ino memang punya selera humor yang bagus, sama seperti Naruto. "Salah makan mungkin," Sakura menebak-nebak setelah tawanya mereda.
"Entah deh," Ino mengangkat bahunya sekilas, lalu mengeluh panjang lagi. "Haa… aku sudah bosan di Rumah Sakit!!!"
"Aku sudah dengar itu dari ayahmu," kata Sakura sambil tersenyum, "Itulah kenapa aku membawakanmu ini." Gadis itu merogoh isi tasnya dan mengeluarkan barang yang dibawanya. "Kau suka?"
Ino mengangkat alisnya tinggi-tinggi ketika sahabatnya itu mengulurkan beberapa buah buku padanya. Kemudian ia terkekeh-kekeh menerimanya. "Ya, ampun... buku ya? Sakura banget. Tapi..." ia membolak-balik buku di tangannya, "kukira buku pelajaran."
"Kau kira aku tidak tahu kau benci baca buku pelajaran?" kekeh Sakura. "Jadinya aku bawakan novel dan majalah."
"Tapi ini novel romance! Membosankan, tahu! Kenapa tidak bawa Sherlock Holmes atau Harry Potter sekalian? Itu lebih seru."
Sakura menghela napas. "Harry Potter terlalu tebal dan aku tidak punya Sherlock Holmes. Lagipula berat kalau bawa banyak-banyak, jadi aku bawa yang tipis-tipis saja."
Ino mengibaskan tangannya lagi. "Ah, biasanya juga kau kuat membawa buku-buku berat dari perpustakaan, Miss Granger (2)," ledeknya.
"Oh, ha ha. Lucu," Sakura menukas. "Bukannya berterimakasih, kau malah meledekku."
Ino tertawa. Tangannya mulai membuka-buka majalah di pangkuannya. "Iya iya.. Terimakasih, ya!"
"Hmm..." Sakura mengangguk.
Lalu ia beranjak menuju jendela yang terbuka sementara Ino mulai membaca majalahnya. Ia memandang ke halaman belakang rumah sakit yang luas. Tempat yang cukup luas dengan tanaman dan pepohonan yang terawat baik. Seperti pemandangan pada umumnya di musim gugur seperti ini, segalanya berwarna merah dan cokelat keemasan. Indah sekali... Dari sana ia juga melihat beberapa pasien yang ditemani perawat mereka, sedang berjalan-jalan atau sekedar duduk-duduk di taman. Beberapa sedang diterapi. Benar-benar tempat yang cocok untuk tempat pemulihan.
"Kau belum cerita soal pertadinganmu, Ino," Sakura menyeletuk kemudian, masih memandang ke luar.
"Hm?" Ino mendongak dari majalahnya untuk menatap punggung Sakura. "Oh, itu..." ia tersenyum kecil sebelum mengalihkan pandangannya lagi ke majalah, membalik halamannya. "Yah, tidak buruk juga. Aku dapat perak. Tapi aku sama sekali tidak mengeluh lho. Kontingen Suna itu memang hebat sekali. Aku sudah cerita tentang gadis bernama Temari, kan?"
"Yang katamu galak itu?" tanya Sakura sambil memutar tubuhnya, bersandar di jendela. Ino mengangguk seraya membalik lagi majalahnya ke halaman selanjutnya. Hening lagi.
"Aku berniat mundur dari tim Cheerleaders," kata Ino setelah diam lama. Dan informasi ini benar-benar mengejutkan Sakura.
"Tidak!" katanya, beranjak dari jendela dan kembali duduk di kursinya semula. Mata hijaunya melebar menatap Ino tidak percaya. "Kau kan kaptennya!"
"Oh, siapa pun bisa jadi kapten," Ino menyahut enteng seraya mengibaskan tangannya. "Lagipula tim cheers kan banyak peminatnya, jadi kurasa tidak akan ada masalah kalau satu anggotanya keluar, kan?"
"Tapi... kenapa?"
"Well," Ino menutup majalahnya, menghela napas, "Kupikir selama ini aku terlalu banyak kegiatan. Kau tahu kan? Cheerleader, Gymnastic... lalu ngeband. Capek. Untuk sekarang, aku ingin fokus ke satu kegiatan saja. Aku ingin serius dengan InoShikaChou-ku. Lagipula, aku lebih suka nyanyi daripada nari." Ia mengangkat bahu.
"Jadi mau serius di band saja?"
"Maunya sih begitu. Siapa tahu band kami nanti bakal beken seperti The Beatles. Lagipula kalau ngeband kan bisa dapat honor, lumayan buat tambah-tambah uang jajan. Tanya saja Naruto. Dia kan yang paling girang kalau dapat honor." Tiba-tiba saja cengiran muncul di wajah gadis itu. "Omong-omong soal Naruto, aku jadi ingat. Cowok yang dihukum denganmu selain Naruto itu... si anak baru yang katamu tampan itu bukan?"
"Kau sudah pernah tanya soal itu, Ino," Sakura mengingatkannya. "Yeah, dia."
"Mana? Katanya mau kau kenalkan padaku..."
Sakura menghela napas. "Tadinya mau kuajak hari ini, tapi dia tidak bisa. Mau belanja katanya."
"Oooh... cowok rumahan ternyata," Ino terkekeh-kekeh.
Sakura memutar matanya. "Apanya yang rumahan? Kau belum kenal dia sih."
"Kalau begitu ceritakan soal si Sasuke Uchiha yang misterius ini, Sakura!"
Dan saat berikutnya, obrolan mengenai Sasuke mengalir seru di antara dua gadis itu.
---
Konoha Department Store
"Aachooo!"
Sasuke menggosok-gosok hidungnya dengan tangan. Entah mengapa hidungnya tiba-tiba saja terasa gatal. Ah, mudah-mudahan saja bukan pertanda akan kena flu. Bisa gawat, pikirnya seraya memasukkan kunci mobil Itachi ke dalam saku jeans-nya.
Saat itu ia baru saja memarkirkan BMW hitam yang dibawanya di halaman parkir salah satu toko serba ada terbesar di pinggiran kota Konoha. Sasuke memandang berkeliling. Lapangan parkir yang luas itu tidak terlalu penuh. Sepertinya setelah obral besar-besaran beberapa hari yang lalu, minat orang-orang untuk berbelanja sedikit berkurang. Yah, kecuali mungkin untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Seperti ia sekarang ini.
Pintu otomatis terbuka dengan suara mendengung ketika Sasuke mendekat, dan udara dingin dari pendingin ruangan langsung menerpanya begitu ia melangkahkan kaki masuk. Cowok itu sedikit menggigil. Ia menyesal tidak bawa jaket tadi. Ia hanya mengenakan jeans yang sudah belel dan kaus biru lengan panjang yang digulung sampai siku. Mengabaikan rasa dingin itu, Sasuke segera beranjak untuk mengambil troli.
Pertama-tama ia harus ke bagian yang menjual sabun dan peralatan mandi. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Sasuke berjalan pelan-pelan menyusuri rak-rak pajangan sembari mengingat-ingat lagi apa yang kiranya mereka perlukan. Sekotak sereal? Makanan anjing? Minuman—
"Ouch!" ia mendengking ketika seorang anak laki-laki kecil mendorong kereta belanja sambil berlarian tak keruan menyenggolnya keras, nyaris membuatnya terjungkal. "Hei, hati-hat—" namun sebelum ia selesai berteriak, anak itu sudah melesat menghilang di belokan menuju rak makanan kecil. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar anak-anak, nakalnya bukan main. Tapi kemudian ia menjadi geli sendiri ketika teringat dirinya juga seperti itu ketika kecil dulu. Ingat ketika ibunya memarahinya ketika ia tidak sengaja menabrak jatuh tumpukan kaleng minuman.
Ah, Ibu... Kira-kira dia sedang apa sekarang, ya? Sasuke membatin.
Lalu ia membelokkan keretanya ke arah rak yang memajang sayuran dan buah-buahan, melewati seorang penjaga toko yang sedang asyik menyemprot sayur-sayuran supaya terlihat berkilauan sambil bersenandung sendiri. Sasuke lalu merobek sehelai plastik dan mulai memilih-milih buah favoritnya, tomat. Tapi kemudian, perhatiannya langsung teralih begitu mendengar suara yang sudah sangat familiar di telinganya dari ujung koridor.
"Kita masih butuh jamur shitake dan daging," suara lembut itu terdengar di antara hingar bingar toko, "lalu buncis. Ah, ya, paprika juga. Mika, kau yang pilih dagingnya ya. Pastikan dagingnya masih segar."
"Baik, Nona!"
Sasuke menoleh ke arah sumber suara, dan benar saja. Ia memang sosok yang sudah dikenalnya dengan baik. Hinata Hyuuga, tengah berbelanja dengan ditemani dua orang pelayannya—yang satunya sudah pergi ke rak daging.
"Hinata!" sapa Sasuke.
Hinata menoleh cepat ke arah suara Sasuke memanggilnya, lalu tersenyum cerah. "Ah, halo, Sasuke."
---
Setengah jam kemudian keduanya sudah duduk di coffe shop di dekat sana. (Hinata sudah menyuruh kedua pelayannya untuk pulang duluan dengan supir)
"Jadi kau berbelanja juga, Sasuke?" Hinata mengerling kantung belanjaan penuh yang ditaruh Sasuke di bangku kosong di samping bangkunya.
"Yeah. Apa boleh buat, kan?" sahut Sasuke seraya mengaduk-aduk kopinya, mencampurnya dengan sejumput gula. Tidak menatap lawan bicaranya. "Kalau kau hanya tinggal berdua saja dengan kakak laki-lakimu, semuanya harus digilir dengan adil, termasuk urusan belanja keperluan rumah."
Hinata tertawa kecil. Gadis itu mengambil waktu menyeruput cappuchino-nya sebelum berkata, "Sudah lama ya rasanya, semenjak kita terakhir kali duduk-duduk seperti ini, mengobrol santai?"
"Hn," Sasuke mengangguk. Tiba-tiba ia teringat obrolan terakhirnya dengan Hinata yang tidak bisa disebut sebagai 'obrolan santai', 'sangat tidak mengenakan' lebih tepat. Diam-diam ia merasa malu pernah berteriak seperti itu pada gadis yang sekarang duduk di depannya ini. Cemburu buta kadang memang membuat orang bertindak tanpa berpikir, dan Sasuke menyesalinya sekarang. Manatap mata Hinata saja, rasanya ia tidak berani. "Maaf soal yang waktu itu, Hinata."
Hinata menatapnya selama beberapa saat, tampak tidak mengerti. Tapi selang beberapa saat sepertinya gadis itu mengerti apa yang dimaksud Sasuke. Mata lavendernya melembut. "Tidak apa-apa. Aku mengerti," ujarnya lembut.
Lama keduanya terdiam.
"Kau banyak berubah, Sasuke," Hinata berkata kemudian, dengan nada lembut yang sama.
"Hn. Banyak yang bilang begitu," Sasuke menyahut, tersenyum sekilas—benar-benar sekilas sampai hampir tidak nampak sama sekali kalau ia baru saja tersenyum. "Dan aku juga merasakan banyak perubahan dalam hidupku. Menjadi lebih baik, kurasa..."
"Aku senang kau merasa seperti itu," kata Hinata tulus. "Itu berarti baik."
"Tapi aku merasa tidak enak padamu. Aku tahu aku egois, kekanak-kanakan dan macam-macam lagi yang barangkali itu semua membuatmu terluka. Maafkan aku," ujar Sasuke lagi, masih tidak berani menatap Hinata.
Hinata tersenyum lembut. Gadis itu mengulurkan tangannya di atas meja untuk menyentuh tangan sahabatnya, menggenggamnya. "Tidak masalah buatku, Sasuke, sungguh. Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."
Sasuke akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap mata gadis itu. Perlahan, ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. "Terimakasih, Hinata." Ia meletakkan sebelah tangannya yang bebas di atas tangan Hinata yang menggenggam tangannya, mereka bertukar senyum selama beberapa saat.
Dengan lembut, Hinata menarik kembali tangannya. "Aku benar-benar tidak menyangka Naruto dan Sakura bisa mengubahmu sebanyak ini," ujarnya. Tapi kemudian ia menggeleng pelan, "Ah, tidak. Kurasa 'mengubah' bukan kata yang tepat. Mengembalikanmu menjadi Sasuke yang dulu barangkali lebih tepat. Dingin di luar, tapi hangat di dalamnya."
"Hn..." Sasuke menyeruput sedikit kopinya, berpikir. Menyebut soal Naruto, ia jadi teringat sesuatu. Sesuatu yang dulu sempat membuat hatinya sangat sakit. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap menerima terpaan perasaan panas dalam hatinya seperti dulu ketika berkata, "Soal Naruto. Sekarang aku mengerti mengapa kau begitu menyukainya, Hina..."
Ia bisa melihat Hinata menelengkan kepalanya sedikit sambil tersenyum. "Benarkah?" tanyanya dengan wajah berseri-seri.
Sasuke tertegun. Aneh. Apa yang terjadi? Tadinya ia menyangka hatinya akan terbakar mengungkit-ungkit hal ini lagi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan di hatinya ketika melihat wajah Hinata begitu berseri saat nama Naruto muncul di antara mereka. Apakah ini artinya, ia sudah siap untuk melepaskan tangannya? Membiarkan Hinata menemukan pelabuhannya sendiri. Seperti kata Sakura...
"Ya. Dan kau benar, Hina. Dia orang yang luar biasa."
Dan saat mengatakan itu, hatinya merasa bebas.
---
Rumah Sakit Konoha
Suara tawa dari kedua gadis yang bersahabat itu pecah berderai memenuhi ruang rawat Ino. Sakura baru saja bercerita padanya soal hari-harinya terjebak bersama Sasuke dan Naruto.
"Kalau dipikir-pikir memang lucu," kata Sakura sementara Ino masih tertawa-tawa geli.
"Yeah," sahut Ino seraya menyeka air mata tawa di mata birunya, "Tapi kedengarannya sangat asyik. Sasuke Uchiha itu, sepertinya tidak se-cool yang aku bayangkan, ya."
"Oh, tidak tahu juga. Kau kan belum bertemu dengannya," Sakura tertawa lagi. Ia meraih majalah di meja samping ranjang Ino, membuka-bukanya, sekedar untuk membuat tangannya sibuk.
"Dan Naruto sepertinya tambah kocak saja," Ino berkomentar. "Ah, aku jadi kangen mendengar lelucon-lelucon gilanya."
Sakura mengangkat bahu sekilas sambil tersenyum. "Sepertinya dia benar-benar senang mendapatkan teman seperti Sasuke."
"Oh, dan dia juga pasti senang bisa dekat-dekat dengan cewek yang ditaksirnya, eh?" goda Ino.
Sakura mengibaskan tangannya, tertawa selama beberapa saat. "Aku berharap perasaannya padaku bisa berubah," ujarnya setelah tawanya mereda. "Aku benar-benar senang dengan hubungan kami yang sekarang."
"Hm... aku mengerti," Ino mengangguk seraya melayangkan senyuman penuh arti pada sahabatnya. "Sakura tidak bisa dialihkan dari pangeran berkuda putihnya, Neji Hyuuga, kan?"
"Apaan sih?!" Sakura meninju bahu sahabatnya main-main. Wajahnya merona merah.
Ino terkekeh-kekeh. "Ayolah, Sakura... Masa sampai saat ini masih belum ada kemajuan apa-apa sih? Kalau kau bisa jadian dengan Neji kan kita bisa double date."
"Aku selalu bersama Naruto dan Sasuke di sekolah, jadi tidak ada kesem—tunggu!" Sakura tiba-tiba menyadari sesuatu. "Kau bilang tadi double date?" gadis itu membelalakan mata ketika melihat Ino tersipu-sipu, wajahnya merona merah. "Ah! Jangan bilang kau sudah jadian!" tudingnya.
"Hmm... bagaimana ya?" Ino pura-pura melihat ke arah lain. Wajahnya masih dihiasi senyum malu.
"Aaaah... Ino! siapa? Siapa cowok itu?" cecar Sakura.
Ino mengikik. "Kalau kuberitahu juga kau tidak akan percaya."
"Oh, coba saja!" Sakura tampak antusias, penasaran dengan cowok misterius yang sudah berhasil menaklukan hati sahabatnya ini.
"Oke," Ino berdeham. Wajahnya semakin merona—membuatnya sama sekali tidak tampak sedang sakit—ketika ia berkata, "Dia... Morino—"
"BOHONG!" seru Sakura tak percaya. "Ya ampun, Ino... Aku tidak percaya kau kencan dengan om-om! Ibiki Morino yang kepala kepolisian Konoha itu kan?"
"Bukaaaan... Kau ini! Memangnya aku cewek macam apa mengencani pria beristri? Tidak, bukan dia. Tapi adiknya, Idate Morino (3)," Ino menjelaskan.
"Oh, aku kira Morino yang itu..." Sakura mengangguk-angguk, nyengir. Ino menimpuknya dengan majalah, yang langsung ditangkap Sakura sambil tertawa. "Ciee... yang pacaran dengan anak kuliahan.." mendadak ia teringat sesuatu. "Ah, pantas saja Temujin kelihatan tidak senang saat aku menanyakanmu padanya."
Ino menghela napas sebelum berkata pelan, "Yeah, dia juga sempat bilang kalau dia menyukaiku sih. Tapi apa boleh buat, aku terlanjur menyukai orang lain dan sepertinya dia tidak suka ditolak. Sayang sekali, padahal aku senang berteman dengannya. Dia baik."
"Tapi Idate ini lebih baik?"
Ino tersenyum. "Entahlah... Tapi yang kutahu dia sering menyambangiku di asrama, tidak pernah melewatkan pertandinganku, mengirimiku bunga dan kartu ucapan semoga sukses. Dan macam-macam lagi yang akan membuat hati cewek manapun luluh. Dan dia juga tampan dan baik," ujarnya dengan tatapan menerawang.
Sakura senang melihat Ino bisa tersenyum seperti itu lagi—bukannya Ino jarang tersenyum. Hanya saja senyum 'lain' seperti yang muncul di wajahnya sekarang ini sudah lama menghilang. Sejak secret admirer-nya lenyap entah kemana beberapa bulan yang lalu, padahal Ino sudah berharap banyak pada cowok misterius itu. Syukurlah, Ino...
"Hei, kau belum cerita soal cowok baru yang satunya," kata-kata Ino selanjutnya membuyarkan lamunan Sakura.
"Oh, dia," entah mengapa Sakura menjadi kesal kalau teringat sosok cowok pucat berperawakan kurus itu. "Namanya Sai. Percayalah, dia cowok paling menyebalkan yang pernah eksis di Konoha High."
Ino mengangkat alisnya tinggi. "Masa sih?"
"Dia nyaris membuatku dan Sasuke celaka tempo hari, dan dia sama sekali tidak meminta maaf," gadis berambut merah muda itu menjelaskan perihal kejengkelannya pada cowok itu, "Dan mulutnya benar-benar kotor. Sepertinya dia tidak pernah diajari sopan santun atau apa."
"Yang benar?" Ino tampak sangsi. "Kupikir pindahan dari Konoha Art Academy pastilah keren sekali."
"Sama sekali tidak," Sakura mendengus.
---
KDS Coffe Shop
"Setiap melihatmu, Naruto dan Sakura bersama-sama, aku selalu merasa damai di sini," tutur Hinata seraya meletakkan tangan di dada. "Ternyata persahabatan itu bisa begitu mempengaruhi orang ya..."
"Yeah," timpal Sasuke seraya memutar-mutar cangkir kopinya yang sudah kosong. "Dan aku salah satu yang terpengaruh oleh aura itu."
"Hm.." Hinata mengangguk setuju. Gadis itu menarik napas panjang seraya memandang ke sekelilingnya sebelum berpaling lagi pada Sasuke. "Kalau saja Sai juga bisa seperti kalian..."
"Sai?" Sasuke terkejut. Dahinya berkerut dalam. Mengapa tiba-tiba Hinata mengungkit-ungkit soal cowok sialan itu? pikir Sasuke bingung. Dan ia baru menyadari setelahnya bahwa Sai bergabung di klub yang sama dengan Hinata.
Hinata mengangguk lagi. "Dia... kelihatannya selalu kesepian. Tidak ada yang mau bergaul dengannya dan sepertinya dia juga tidak tahu caranya bergaul. Dia selalu berkata kasar, padahal sepertinya dia tidak memaksudkannya begitu." Gadis itu menghela napas sebelum melanjutkan. "Aku sudah beberapa kali mencoba bicara dengannya, tapi dia menghindar terus dan berkata yang menyakitkan. Kurasa dia benar-benar membutuhkan seorang teman yang bisa membantunya. Mungkin kalau dia bisa bergabung dengan kalian, dia juga bisa berubah sepertimu."
"Aku tidak yakin," kata Sasuke. Ia masih kesal lantaran Sai mengatainya homo dan tidak ingin memikirkan kemungkinan cowok itu dekat-dekat dengannya lagi.
"Kalau Naruto, kira-kira dia mau tidak ya membantu Sai?"
"Tidak tahu." Sasuke mengangkat bahu.
Hinata menghela napas lagi. "Sai... pemuda yang malang."
Oh, sepertinya Sasuke tidak begitu setuju dengannya kali ini.
---
TBC…
Disclaimer : I own nothing, termasuk potongan lirik lagu "One In a Million" yang ditulis Itachi-kun di belakang foto gebetannya. Itu milik Kang Bosson. (Aw! Suka banget sama lagu itu!) Itachi-kun-nya sendiri milik Kang Masashi Kishimoto. –sigh-
Keterangan :
(1) Salmonella adalah jenis bakteri penyebab penyakit typhoid abdominalis atau yang lebih dikenal sebagai demam typhoid atau tifus.
(2) Hermione Granger adalah tokoh di novel Harry Potter (novel fave aku lho…), salah satu sahabat Harry Potter yang kutubuku banget.
(3) Morino Idate adalah adik Morino Ibiki. Dia nongol di filler sebelum Sasuke kabur dari Konoha. Menurutku dia lumayan lucu.
Well, chapter ini sepertinya hanya berisi dialog. Tapi tak apalah. Yay! Akhirnya masalah SasuHina terselesaikan sudah! Gimana menurut kalian?
Sekarang aku akan menjawab beberapa pertanyaan reader-ku tersayang :
1. Yang dicari Sai itu Ino bukan?(uchietam) Ino bukan yah? Kalau dijawab jadi spoiler dong… hehe…-sama aja gak ngejawab-
2. Itachi suka sama siapa? (Furukara Kyu) Sama siapa yah? Yang pasti bukan OC. Mudah-mudahan chapter ini bisa membantu menebak-nebak –lirik-lirik PinkBlue Moonlight-
3. SaiIno kapan muncul? (Furukara Kyu, Uzumaki Khai) Pada berharap ada SaiIno kah, minna-sama? Gimana atuh? Ino kan udah punya cowok… ^^;
4. Sai kapan nongol? (Kakkoii-chan) Di chapter ini dia belum nongol tuh, baru disebut namanya doang. Chapter 27 insyaALLAH dia nongol. Tunggu aja yah!
5. Kok Itachi kenal ma Kakashi? (Teh Bellatrix) Ceritanya Kakashi dulu pernah jadi mahasiswa praktek di tempat Itachi sekolah. Mereka kenal dari sana. Rencananya aku akan bikin sidestory-nya biar jelas. Tapi gak tahu deh…
6. Sepuluh orang yang pernah 'diikat' seperti SasuSakuNaru, apakah Akatsuki? (Teh Bellatrix) Menurutmu? –kok malah nanya balik?- kayaknya sih iya…XD
Hehe… sepertinya banyak yang menunggu kemunculan Sai lagi yah? Gomenna, tapi dia akan segera keluar kandang kok. Buat Dilia-chan dan Catt-chan, thanks banget koreksinya. Untung kalian ngasih tahu. Hihi... diriku ceroboh sekali yak. Antlia, aaargh! Ternyata dirimu juga ngikutin fic Harry Potter-ku? –tersanjung nih. Hihi…- Dan buat yanh lain, makasih banget ya buat atensi dan review-nya, maaf gak dibalesin satu-satu. Habisnya tar jadi panjang banget deh…
The last… aku mau nanya nih… kalian terganggu gak sih dengan banyaknya OC yang aku tampilin di fic ini? Soalnya kan banyak banget OC-nya, walaupun gak buka lowongan (perasaan sih...)
