Er… sepertinya update kali ini agak lama ya, teman? Gomenna, soalnya lagi ujian nih. Minggu ini baru selesai. Susah nyari waktu buat mengedit-edit chapter ini. Ada waktu juga aku malah keasyikan nonton film. Kekekek… XD. Dan ternyata susah banget ngedit chapter ini. Apalagi waktu di baca ulang. Huaa… KOK GAJE? –tepar- jadinya malah banyak bagian yang aku ubah deh. Huhu… Tapi ya udahlah. Berhubung aku udah stuck banget sama chap ini, jadinya inilah yang terbaik yang bisa aku kasih. Enjoy ya!

wa wa wa... sepupuku dapet beasiswa ke JEPANG!!! MAU IKUUUUUUT!!! -ngerengek sama Mbak Nu. Congrats ya, Mba... oleh-olehnya jangan lupa! heheh...-

Warning OoC-ness masih berlaku. Selalu untuk selamanya –halah!-


Chapter 27

Semilir angin dingin musim gugur bertiup perlahan, menggulirkan dedaunan kering di sekeliling kakinya. Tapi dia masih saja terdiam di tempatnya, tidak peduli pada apa pun di sekelilingnya. Dan yah… memang tidak ada yang patut untuk dipedulikan di tempat macam itu, tempat yang nyaris selalu senyap dari hiruk-pikuk. Kecuali kalau ada yang baru saja kehilangan seseorang yang berarti. Seperti dia… beberapa bulan yang lalu.

Dan sampai sekarang pun dia masih berkabung.

Sai menarik napas dalam-dalam, lalu menghebuskannya perlahan-lahan lewat mulut. Hal yang selalu dilakukannya setiap ia merasa tegang—hal yang diajarkan terapisnya. Perlahan, mata hitamnya membuka dan ia menunduk, menatap nisan pualan yang masih baru itu.

"Selamat pagi, Kakak," ucapnya lirih seraya berlutut di depan nisan sang kakak. Diletakkannya buket bunga lili putih yang dibawanya di depan nisan itu. Kemudian dengan jemari yang gemetar, Sai menyentuh ukiran nama kakaknya di sana. Shin. "Maafkan aku tidak pernah menjengukmu, Kak," lanjutnya, masih dengan nada lirih yang sama, "Tapi sekarang aku datang, kan? Jadi kau tidak perlu marah lagi padaku." Ia terdiam, matanya memanas. "B-bagaimana kabarmu, Kak?"

Ini adalah kali pertama Sai kembali mengunjungi makam Shin sejak kakaknya itu meninggal beberapa bulan yang lalu karena sakit. Selama ini, Sai selalu menolak pergi ke sana—tempat di mana kakak yang juga orang yang paling dekat dengannya, terbaring dalam tidur panjangnya yang damai. Masih terlalu berat baginya untuk mempercayai kalau kakaknya sudah pergi meninggalkannya, meninggalkan dunia, selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.

Dan hari itu, tidak tahan lagi menerima tekanan dalam dirinya sendiri, Sai memutuskan untuk menginjakkan kakinya lagi di tempat itu. Mencoba mencari sandaran pada sosok Kekeru yang pada kenyataannya sudah tidak ada lagi. Dan kenyataan ini kembali menghantamnya telak.

Tangannya gemetar mencengkeram sisi nisan Shin, kepalanya serasa berputar, jantungnya berdegup cepat. Sai mendudukkan diri samping makam sementara tangan merogoh ke dalam mantel hitamnya, mengambil sebuah botol kecil. Dikeluarkannya sebutir pil kecil dari dalam botol dan langsung ditelannya. Ia memejamkan mata, menunggu obatnya bereaksi.

"Kau bisa melihatku dari atas sana kan, Kak?" ucapnya parau selang beberapa lama setelah tubuhnya sudah lebih rileks. Ia membuka matanya lagi, mendongak, menatap awan putih yang berarak di atasnya. "Kau lihat, aku sangat kacau... Aku yang sekarang... membutuhkan obat sialan ini untuk mencegah kepalaku pecah. Dan ini semua karena salahmu. Kau lihat apa yang kau lakukan padaku, Kak? Kau pergi dan aku tidak bisa melukis lagi. Kau pergi dan hidupku menjadi tidak terkendali seperti ini. Dan..." suaranya memelan, nyaris berbisik, "kakek belum bicara lagi padaku."

Kenyataannya Sai memang menjadi sangat kesepian semenjak Shin meninggal—meskipun ia sama sekali tidak mengakui, bahkan menyadarinya pun tidak—Ia, yang selama ini nyaris tidak pernah bergaul dengan orang luar selain dokter dan keluarganya, tidak mengerti ketika perasaan kosong itu datang padanya. Kesepian itu sendiri sudah mengerikan, terlebih kalau tidak menyadari kalau kita kesepian. Dan menjauhnya seseorang yang merupakan satu-satunya keluarganya yang tersisa membuat segalanya menjadi lebih buruk.

"Kakak," suara Sai terdengar parau ketika ia bicara lagi, "beritahu aku, apa yang harus aku lakukan?"

"Untuk sementara aku ingin kau menuliskan semua yang kau rasakan—apa saja yang membuatmu tertekan, di buku harian." Ia teringat perkataan dokternya. Dan itulah yang ia lakukan kemudian, seperti yang sudah sering dilakukannya semenjak terapinya yang terakhir. Ia kembali merogoh ke dalam mantelnya dan menarik keluar sebuah buku kecil bersampul kulit serta sebuah bolpoint.

Ia membuka-buka buku yang telah dipenuhi tulisannya selama beberapa hari sejak terapi terakhirnya sebelum akhirnya menemukan sebuah halaman kosong, lalu mulai menulis segalanya yang mengganggu pikirannya. Segalanya yang membuatnya merasa tertekan, seperti yang dianjurkan oleh dokter Yakushi kepadanya. Segalanya tentang kakaknya, segalanya tentang kakeknya, segalanya...

Selewat beberapa menit saja, lembar itu sudah dipenuhi tulisan tangannya. Satu lembar tidak cukup, ia kembali memenuhi lembar berikutnya dan berikutnya dan berikutnya... seakan setiap lembar tidak cukup untuk menulis semua yang meresahkannya. Sai menatap kembali tulisannya, sudah merasa lebih lega sekarang. Barangkali apa yang diminta dokter Yakushi ini adalah salah satu dari terapi non-farmakologis untuknya.

Sai menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Mata hitamnya memandang berkeliling taman pemakaman yang luas itu. Ia melihat seorang penjaga makam berpakaian hitam sedang menyapu dedaunan kering di dekat patung batu malaikat. Sai buru-buru berpaling. Entah mengapa melihat patung itu membuatnya gelisah lagi—barangkali itu mengingatkannya pada lukisan kakaknya. Lalu pandangannya tertumbuk pada nisan batu tepat di depan makam kakaknya. Makam itu tampaknya sudah cukup lama, tapi sepertinya sering dikunjungi karena nisannya lebih bersih dari makam di kanan kirinya dan ada setangkai anyelir putih yang sudah layu di depannya. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Sai.

Sai memicingkan mata untuk melihat nama yang tertera di nisannya dengan lebih jelas. Ia bahkan sampai beranjak dari makam kakaknya dan mendekati makam asing itu. "Himeko Haruno," ia membaca nama yang terukir di sana. Dari yang tertera di sana, sepertinya Himeko Haruno meninggal lima tahun yang lalu di usia 18 tahun. Usia yang sama saat kakaknya meninggal. Tapi sekali lagi, bukan itu.

Haruno...

Seringai tipis menghiasi wajah pucat Sai ketika nama yang dibacanya di atas nisan itu mengingatkannya pada sesosok gadis berambut merah muda yang satu sekolah dengannya. Gadis galak kesayangan para guru yang mata hijau lebarnya selalu saja menatapnya dengan pandangan mencela setiap kali ada kesempatan.

"Kalau kau menganggap kami menyedihkan, lalu kau sendiri apa? Tidak punya teman itu jauh lebih menyedihkan dari pada punya musuh. Kau menyedihkan!"

Seringai di wajah Sai langsung lenyap begitu ia teringat kata-kata gadis itu yang dilontarkan dengan pedas padanya beberapa waktu yang lalu. Entah apa yang begitu mengganggunya saat ia teringat kembali kata-kata Sakura, padahal sebelumnya ia merasa biasa saja.

"Kau jelas membutuhkan seorang teman untuk masalahmu kali ini, Sai, atau beberapa. Setidaknya kalau dengan teman, kau bisa sedikit meringankan bebanmu. Kadang pergaulan itu bisa menjadi obat yang ajaib lho. Orang yang sakit saja bisa cepat sembuh kalau ditengok teman-temannya..."

Kata-kata dokternya terngiang lagi di kepalanya. Jantungnya mulai berdegup kencang, tapi kali ini berbeda dengan debaran yang selalu dirasakannya setiap kali merasa gelisah. Seperti... antusiasme? Sepertinya ia baru saja mendapatkan jawaban atas permasalahannya—atau setidaknya ia merasa begitu kali ini. Sai mengangkat kedua tangannya mencengkeram kepalanya selama beberapa saat, lalu kembali memandang berkeliling seperti orang linglung.

Teman... teman... support system yang ia butuhkan. Seperti yang diingatkan dokternya di setiap sesi terapi. Hal penting yang selama ini diabaikannya.

Tapi tidak untuk kali ini. Ia merasa tidak bisa terus-menerus bergantung pada obat yang diberikan dokternya untuk mengatasi masalah emosinya. Kalau 'teman' adalah yang terbaik yang bisa membantunya, ia harus mendapatkannya. Harus!

Sai kembali menatap makam Himeko Haruno, mencengkeram nisannya dengan satu tangan. "Terimakasih banyak," ucapnya. Dan saat berikutnya ia sudah melesat meninggalkan pemakaman itu menuju mobilnya—kali ini sebuah Mercedes Benz silver keluaran terbaru—yang diparkirkan tak jauh dari sana.

Sementara mobilnya melesat meninggalkan wilayah suram itu, bayangan gadis berambut merah muda itu kembali memenuhi pikirannya. Entah mengapa pikirannya jadi tertuju pada gadis itu. Pasti ada sesuatu, pikirnya. Dan memang seperti itu, karena mengingat Sakura Haruno berarti juga mengingat kedua pemuda yang selalu menyertainya. Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki. Entah mengapa, seberapa pun kerasnya ia memikirkan definisi dari pertemanan, yang muncul adalah nama ketiga orang itu.

Tiba-tiba ia teringat tugas rahasia yang diberikan Kakashi Hatake, pembina klub tempatnya bergabung, untuk mengawasi tiga orang itu dan membuat artikel tentang mereka di rubrik persahabatan untuk majalah sekolah edisi depan. Di mana Sai bertugas untuk mengambil foto kebersamaan mereka secara diam-diam. Ia masih ingat betul setiap foto yang pernah diabadikannya. Ingat setiap ekspresi dalam foto itu. Awalnya ia selalu menangkap ekspresi jengkel, marah, tidak puas dari ketiga orang itu. Tapi sekarang, ekspresi itu telah digantikan dengan senyuman, tawa dan momen yang menghangatkan hati. Seperti waktu itu...

Flashback—

Ia memandang air terjun yang spektakuler itu di depannya dengan pandangan kosong, memikirkan kembali sesi terapinya dengan dokter Yakushi sebelumnya. Tentang kelemahannya dalam berkomunikasi, semuanya... semuanya... benar-benar membuatnya pusing saja.

Lupakan... lupakan... ia memerintah dirinya sendiri dalam hati.

Sai menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, merasakan ketika angin basah yang menderu dari arah air terjun menerpa wajahnya. Rasanya menyegarkan. Dokter itu benar, pikirnya seraya mengambil napas dalam sekali lagi dan merasakan ketegangannya sedikit berkurang. Pantas saja orang-orang yang sedang stress senang pergi ke tempat-tempat seperti ini.

Barangkali seperti orang-orang itu, pikirnya sembari mengalihkan pandangannya ke sepanjang jembatan besar tempatnya berdiri sekarang. Ia bisa melihat orang-orang di sana; ada yang hanya menatap ke air terjun—seperti yang ia lakukan tadi—ada yang hanya mengobrol sambil bersandar di pagar pembatas jembatan, ada pasangan yang sedang bercengkerama mesra, juga ada serombongan anak muda yang asyik berfoto-foto dengan latar belakang air terjun Valley End yang indah.

Sai memperhatikan rombongan yang asyik berfoto. Ia melihat salah seorang gadis di antara mereka yang berambut hitam keriting, menarik dua teman laki-lakinya, merangkul bahu merekadengan kedua tangan sampai wajah mereka saling menempel. Ketiganya nyengir lebar sementara teman mereka yang lain membidik momen itu dengan kamera. Melihat itu, Sai mendengus tertawa. Entah mengapa mereka mengingatkannya pada trio konyol di sekolahnya, Naruto, Sakura dan Sasuke.

Dan omong-omong soal foto dan tiga orang itu, Sai jadi teringat tugas yang diberikan klub jurnal padanya untuk mengambil foto mereka untuk artikel majalah sekolah edisi bulan depan—Huh! Pembina klub kurang kerjaan macam apa yang menyuruhnya jadi paparazi dadakan?—Dan kebetulan sekali ia baru bertemu Sakura dan Sasuke di dekat sana.

Yah, berhubung ia juga sedang malas pulang ke rumah besarnya yang hanya akan membuatnya semakin frustasi, sebaiknya ia mencari mereka saja. Hanya Sasuke dan Sakura juga tidak apa-apa, Kakashi tidak menyebutkan harus bertiga, kan? Tapi kemudian ia ingat tidak membawa kamera-nya. Tak apalah, pikirnya kemudian, toh ia punya ponsel canggih yang hasil fotonya juga lumayan.

Dengan pemikiran seperti itu, Sai lantas beranjak menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia harus melewati serombongan besar para pencari sensasi yang sedang melakukan bungee jumping di jembatan yang konon katanya, terpanjang dan tertinggi se-Hi Country.

"Oi, Boy! Mau coba?" seorang pria kekar berkepala botak menawarinya seraya mengangkat sebuah tali bungee.

"Ah, tidak," sahut Sai sambil lalu, tak lupa dengan senyum palsunya yang biasa. "Saya belum mau mati," ia melanjutkan datar seraya meneruskan perjalanannya menuju porsche-nya, meninggalkan pria itu terbengong di tempatnya.

Sai memutar mobilnya menuju arah Konoha, tepatnya ke tempat di mana ia nyaris saja menabrak Sakura dan Sasuke tadi. Tidak perlu waktu lama untuknya sampai di sana, dalam beberapa menit saja ia sudah melihat bekas hitam terbakar di jalan. Ia melambatkan laju mobilnya dan memandang berkeliling. Mengira-ngira kemana dua orang tadi perginya. Kemudian ia melihat sebuah belokan menuju sebuah perumahan kecil. Tadi sepertinya mereka akan menyeberang ke sana, ia membatin sebelum memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke sana.

Porsche merah itu melaju perlahan-lahan sementara pemiliknya mencoba menerka-nerka kemana perginya dua orang tadi. Namun Sai tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari mereka dengan berjalan kaki. Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sebelum mulai menelusuri perumahan asri itu.

Tak lama kemudian, pencariannya berakhir di sebuah gedung panti asuhan tua, dan gedung itu adalah batas dari jalan itu. Di belakangnya sudah hutan. Tadinya Sai hendak menyerah saja. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya tepat ketika ia akan berbalik. Suara anak-anak terdengar dari arah belakang gedung. Tapi bukan itu, melainkan suara berisik yang tidak asing di telinganya. Ia bisa mengenali suara Naruto Uzumaki, berbaur dengan suara anak-anak.

Akhirnya ketemu juga! Mereka pasti ada di sana!

Dengan langkah hati-hati, ia memasuki halaman panti asuhan itu. Bukan—bukan untuk menuju pintu masuknya, melainkan memutar langsung ke arah halaman belakangnya. Ternyata di belakangnya terdapat lapangan yang cukup luas yang dibatasi oleh pagar kawat yang cukup tinggi. Dan Sai bisa melihat mereka dari balik pagar, serombongan anak-anak yang sepertinya penghuni panti, sedang bermain bola di sana. Sosok Naruto yang menjulang ada di antara bocah-bocah itu. Tidak hanya Naruto, sosok jangkung lain yang berambut gelap, Sasuke Uchiha, juga ada. Betapa herannya Sai melihat ekspresi wajah cowok yang biasa tampil dingin itu begitu ceria.

Ia nyaris saja melupakan tujuannya ke tempat itu sebelum akhirnya ingat untuk meraih ponsel ke dalam saku celananya. Cowok itu segera menyiapkan kamera ponselnya dan mulai mengambil gambar secara diam-diam. Ia sedang menjepret gambar untuk yang kesekian kalinya ketika sebuah suara membuatnya terlonjak kaget. Sai buru-buru menyembunyikan diri di balik dinding ketika sosok gadis berambut merah muda muncul dari pintu dan Naruto berlari ke arahnya.

Sai sempat mengambil gambar ketika Sakura memeluk Naruto sebelum ia kembali menyembunyikan diri lagi. Kepala Naruto baru saja menoleh ke arahnya. Sai menghela napas lega ketika Naruto kembali memutar tubuhnya untuk bergabung dengan anak-anak panti sekali lagi—kali ini dengan mengajak Sakura juga. Nyaris saja ketahuan.

Ia kembali memberanikan diri mengintip. Gambar yang sempurna, pikirnya sambil sekali lagi memotret mereka diam-diam.

Naruto, Sasuke dan Sakura berbaur dengan anak-anak itu, tertawa-tawa sembari mengejar bola yang terpantul tak tentu arah. Ia bisa melihat Sakura sedikit kesulitan karena kakinya yang terluka, namun Naruto dan Sasuke bergantian menangkap tubuhnya setiap gadis itu terhuyung mau jatuh, lalu berakhir dengan tawa riang.

Sai menurunkan ponselnya. Entah perasaan hangat aneh macam apa yang merasuk di hatinya melihat pemandangan itu.

Flashback End—

Beberapa menit berselang sebelum akhirnya mobil Sai memasuki halaman Konoha High. Entah apa yang mendorongnya datang ke sana, padahal ia tahu sekarang hari libur. Dan ia juga tidak merasa heran ketika mendapati tempat parkir murid tidak kosong. Ah, firasatnya memang terkadang sangat tajam.

Sai memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mobil, lalu keluar dan menyeberangi lapangan parkir, memutari gedung menuju lapangan sepakbola di halaman belakang sekolah—firasatnya yang sekali lagi menuntunnya ke sana. Dan benar saja. Ia melihat anak-anak klub sepakbola sedang berlatih, dan itu berarti ada Naruto bersama mereka. Sai memandang berkeliling, ke arah bangku penonton, mengernyit. Tapi tidak ada Sasuke maupun Sakura.

Dengan perasaan agak kecewa ia lantas duduk di bangku penonton yang paling jauh, mengawasi anak-anak klub sepak bola berlatih.

---

Rumah Sakit Konoha

"Sudah mau pulang sekarang?" Ino bertanya cemberut ketika melihat Sakura sudah beranjak dari tempatnya duduk dan tengah mengancingkan tasnya lagi.

Sakura tersenyum pada sahabatnya. "Sudah siang, Ino. Aku harus ke restoran sekarang," ujarnya sambil mencangklengkan tali tas ke bahunya, "Lagipula katamu kan pacarmu mau datang membesuk siang ini. Aku tidak mau ganggu."

"Oh, tinggallah lebih lama, Sakura. Aku ingin mengenalkannya padamu..." bujuk Ino.

Sakura mengerling arlojinya dan berkata, "Lain kali saja deh. Nanti aku bisa didemo anak-anak BloCaf kalau absen lagi."

Ino manyun. "Padahal kau mau absen kalau untuk dua temanmu yang lain," rajuknya.

Sakura menghela napas. Ia meletakan sebelah tangannya di bahu sahabatnya dan berkata sabar, "Bukannya begitu. Tapi kurasa kau juga butuh istirahat. Barangkali kau bisa tidur dulu sebelum Idate datang, bukan?"

"Iya deh. Kau benar," kata Ino akhirnya, meskipun ia masih tampak tidak puas.

"Tentu saja aku benar," sahut Sakura sambil tertawa, "Ya sudah, aku pulang dulu, ya! Cepat sembuh!"

"'Kay," gerutunya. "Hei, trims buku dan majalahnya ya, Forehead Girl!" seru Ino kemudian ketika Sakura sudah berada di depan pintu kamar rawat, hendak keluar.

Sakura menoleh, mendapati sahabatnya sedang nyengir padanya. "Sama-sama. Ino-pig!" sahutnya seraya membalas cengiran Ino sebelum kemudian menutup pintu kamar rawat perlahan.

---

White Hills

"Terimakasih sudah mengantarku pulang, Sasuke," ucap Hinata ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gerbang utama sebuah mansion mewah di salah satu kawasan perumahan mentereng di pinggiran Konoha.

"Hn," sahut Sasuke. Keduanya terdiam selama beberapa saat di dalam mobil. Hinata memandang ke arah gerbang rumah besarnya selama beberapa saat sebelum pandangannya beralih pada Sasuke.

"Senang bisa ngobrol lagi denganmu," kata Hinata tulus kemudian, "Aku harap lain waktu kita bisa mengobrol lebih banyak seperti tadi."

Sasuke tersenyum tipis. "Aku juga berharap begitu," katanya.

Dan setelah melempar senyum berterimakasih terakhir, gadis manis berambut panjang itu membuka pintu mobil dan keluar sebelum kemudian menutupnya lagi. Sasuke membuka jendela mobil ketika dilihatnya Hinata membungkuk.

"Sampai ketemu besok di sekolah, Sasuke. Hati-hati di jalan..." Hinata tersenyum seraya melambaikan tangannya.

"Hn," Sasuke mengangguk singkat sebelum menutup kembali jendelanya. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan gerbang Hyuuga Mansion.

Hinata masih berdiri di sana, mengawasi sampai BMW hitam itu menghilang di tikungan. Gadis itu menghembuskan napas lega sambil tersenyum sebelum berbalik dan berlari-lari kecil masuk ke rumah besarnya.

---

Jarak antara White Hills dan kompleks di mana Sasuke tinggal memang cukup jauh. Kau harus melintasi kota Konoha yang selalu sibuk itu dulu sebelum bisa mencapai Crimson Drive. Dan di sanalah Sasuke sekarang, mengemudikan mobil kakaknya perlahan-lahan di tengah kemacetan kota.

Itachi sudah meneleponnya beberapa saat yang lalu, menanyakan mengapa adiknya itu begitu lama belanjanya. Tapi ia mengerti ketika Sasuke memberitahunya bahwa ia ada sedikit urusan dengan Hinata. Dan omong-omong soal Hinata, Sasuke merasakan seakan belenggu yang selama ini mengikat hatinya pada gadis itu perlahan-lahan telah melonggarkan ikatannya. Membuatnya merasa bebas—dan bisa menjalin pertemanan dengan Naruto dengan tenang, tanpa diusik oleh perasaan cemburu.

Hiruk-pikuk kendaraan mulai melengang ketika Sasuke sudah memasuki kawasan pinggiran kota di dekat rumah sakit. Ketika mata hitamnya melihat bangunan putih megah di sisi jalan itu, ia teringat sesuatu. Bukankah Sakura sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk temannya? Dan benar saja. Ia baru saja melihat sosok yang sudah sangat familiar keluar dari gerbang rumah sakit.

Seorang gadis berambut merah muda panjang itu kini sedang berjalan menuju halte bus tidak jauh dari rumah sakit.

Sasuke melambatkan laju mobilnya dan menepi, mendekati si gadis yang langsung terlonjak kaget ketika Sasuke menekan klakson mobilnya. Dengan cepat gadis itu berbalik, siap melabrak siapa pun orang iseng yang telah membunyikan klakson padahal jelas-jelas ada rambu-rambu yang menyatakan 'dilarang membunyikan klakson'. Namun ekspresi wajahnya langsung berubah riang ketika ia mengenali BMW hitam yang sudah berhenti di sampingnya itu.

"Sasuke!"

Sasuke menurunkan kaca jendela dan memberi isyarat dengan tangan supaya Sakura mendekat. Gadis itu bergegas mendekat dengan berlari-lari kecil lalu menunduk.

"Hai," sapanya cerah. "Kukira kau sedang belanja."

"Yeah, memang. Baru saja," sahut Sasuke. "Sudah selesai membesuk temanmu? Mau pulang?"

"Hmm..." Sakura mengangguk. "Tidak pulang ke rumah juga sih. Aku mau ke restoran."

"Hn. Kalau begitu masuklah. Kita bisa sekalian," Sasuke memberinya isyarat supaya Sakura masuk ke dalam mobil.

Sakura langsung berseri-seri. Wah, Sasuke baik, pikirnya senang. Kan lumayan buat menghemat ongkos bus. Dan dengan riang gembira, gadis itu segera melompat masuk—tentunya setelah membuka pintunya terlebih dahulu.

Setelah berminggu-minggu mengenal gadis itu, Sasuke sudah tahu kalau di samping sifatnya yang tempramen, Sakura bisa jadi sangat periang. Maka sekarang, ketika melihat temannya itu bersikap seperti itu, Sasuke sudah tidak merasa aneh lagi.

"Thanks, ya!" seru Sakura setelah menutup pintu mobilnya.

"Hn." Sasuke kembali menjalankan mobilnya.

Keheningan menyusup—sebenarnya tidak hening juga sih. Karena Sasuke, atas bujukan Sakura, telah menyalakan tape mobilnya, dan sekarang alunan 'She's The One'milik Robbie Williams terdengar dari sound system di belakang—selama beberapa saat sementara mereka sudah mulai memasuki kawasan perumahan.

"Bagaimana kabar temanmu?" tanya Sasuke basa-basi, cukup keras untuk mengatasi suara musik.

"Eh?" Sakura menatapnya sesaat, terkejut karena tiba-tiba Sasuke bertanya seperti itu. Biasanya kan cowok itu tidak pedulian. "Oh, yeah. Ino baik-baik saja. Sepertinya sakitnya memang sudah membaik."

"Baguslah," komentar Sasuke datar, "Dengan begitu kau tidak perlu khawatir berlebihan seperti kemarin lagi."

Sakura tertawa kecil. Gadis itu melirik cowok di sampingnya sambil nyengir. "Kau mencemaskanku, Sasuke?"

Sasuke mendengus. "Aku? Mencemaskanmu? Yang benar saja…" sahutnya membantah.

"Dasar! Begitu saja tidak mau mengaku!" kata Sakura. Ia menjulurkan lidah mengejek pada cowok itu, lalu tertawa. "Padahal kan wajar saja kalau kau mencemaskan temanmu. Kita teman, kan? Atau kau menganggapku lebih dari itu?" godanya.

"Dalam mimpimu," gerutu Sasuke, setengah kesal setengah geli. Tentu saja ia tahu kalau Sakura hanya bergurau dengan kata-katanya barusan karena saat begikutnya gadis itu sudah tertawa lagi. "Bisa diam tidak sih?" gerutunya lagi.

"Iya deh, sori," kata Sakura setelah tawanya mereda. Wajahnya merah padam. "Begitu saja marah." Keduanya terdiam lagi selama beberapa saat. "Maaf ya, kalau kelakuanku kemarin membuatmu cemas—itu juga kalau kau mencemaskanku, lho, Sasuke—aku memang jadi agak paranoid kalau ada temanku yang sakit. Kau tahu kan, sejak kakakku…"

"Aku mengerti," sela Sasuke, jelas sangat enggan memasuki topik menyedihkan itu lagi. Selain karena membuat suasana menjadi tidak enak, ia juga tidak ingin melihat wajah sedih Sakura. Ia paling benci melihat orang menangis. Terlebih ini adalah Sakura Haruno, gadis yang telah banyak memengaruhi hidupnya belakangan ini.

Sunyi lagi sementara Robbie Williams melantunkan lirik penutup,

I was her, she was me

We were one, we were free

If there's somebody calling me on

She's the one…

If there's somebody calling me on

She's the one...

"Aku bertemu dengan Hinata tadi," kata Sasuke setelah mereka terdiam cukup lama. Entah mengapa ia merasa perlu memberitahukan ini pada Sakura. Dari sudut matanya, Sasuke bisa melihat gadis itu menoleh padanya dengan kepala sedikit meneleng, seakan menunggunya meneruskan. Sasuke kembali memusatkan perhatiannya pada jalan di depannya, berdeham. "Kami bicara banyak tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini di antara kami, dan…" kata-katanya terputus. Sasuke menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "Aku sudah mengambil keputusan, aku akan melepaskannya."

Sakura tersenyum. "Kau merasa lebih lega sekarang?"

Sasuke melirik sekilas padanya, lalu mengangguk pelan, "Yeah."

"Itu keputusan yang sangat berani, Sasuke," ujar Sakura tulus seraya mengulurkan tangannya menepuk lengan Sasuke penuh salut. Cowok itu menyeringai kecil.

Mobil mereka berhenti di lampu merah. Sakura mengawasi serombongan pejalan kaki sedang menyeberang di depan mereka sementara Sasuke mengetuk-ngetukkan jarinya yang panjang di roda kemudi, mengikuti irama musik dari sound system.

"Latihan Naruto bagaimana ya?" celetuk Sakura kemudian ketika lampu lalu lintas sudah menyala hijau dan Sasuke mulai menjalankan mobilnya lagi perlahan. Gadis itu melirik Sasuke. "Bagaimana menurutmu?"

Sasuke hanya mengangkat bahu, tidak berkata apa-apa. Matanya menatap lurus ke depan.

Sakura mengernyit. Sikap Sasuke yang tidak pedulian itu kadang-kadang bisa sangat menjengkelkannya. "Kau ini cuek banget sih. Kau kan yang melatihnya. Seharusnya kau memperhatikan perkembangannya dong!"

"Tidak perlu lagi," kata Sasuke, menghela napas. "Dia sudah mengalami banyak kemajuan. Mainnya sudah semakin bagus dan kerjasamanya dengan pemain lain juga sudah o—apa?" ia mengangkat alis ketika mendapati Sakura sedang tersenyum padanya.

"Rasanya baru kali ini aku mendengarmu memuji Naruto," katanya seraya tertawa kecil.

"Jangan beritahu dia aku bicara seperti ini!" kata Sasuke cepat-cepat.

"Yeah yeah... aku tahu," kekeh Sakura. Tapi kekehannya langsung berhenti ketika ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh ya, aku baru ingat. Sebelum ke restoran, aku ingin pergi ke suatu tempat dulu. Kau mau mengantarku?"

"Ke mana?" Sasuke menanyainya. Mata hitamnya masih berkonsentrasi pada jalan.

"Ke taman makam Konoha. Aku ingin mengunjungi makam kakakku," sahut Sakura santai seraya memandang ke jendela di sampingnya.

Sasuke menoleh cepat ke arahnya, mengernyit. "Ngapain ke taman makam?"

Sakura mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap Sasuke, tersenyum. "Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-23 dan aku selalu mengunjungi makamnya setiap tahun." Tapi ketika dilihatnya ekspresi wajah Sasuke tampak agak tidak senang, Sakura langsung pasang tampang memelas. "Oh, ayolah, Sasuke. Pleaseeee?" gadis itu memohon seraya mengatupkan kedua tangannya.

Bukannya Sasuke tidak mau mengantar Sakura ke sana, tapi ia tidak begitu menyukai tempat-tempat seperti itu. Auranya terlalu menyedihkan—dan suasana hatinya sedang tidak ingin bersedih-sedih hari ini. Tapi akhirnya Sasuke setuju juga untuk mengantarnya. Menghela napas keras-keras, cowok itu berkata, "Tapi kau tunjukan jalannya."

Sakura langsung berseri-seri. "Wah, baiknya! I love you, Sasuke!" pekiknya senang seraya melempar ciuman jarak jauh pada temannya itu.

Sasuke pasang tampang jijik. "Eew..." katanya yang langsung disambut tawa renyah dan tinju main-main di bahu oleh Sakura.

"Tapi sebelumnya, kita ke toko bunga dulu ya," kata Sakura setelah tawanya mereda.

"Terserah kau sajalah," Sasuke menyahut dingin, merasa ia akan menjadi supir gadis berambut merah muda ini sepanjang hari. Tapi ia tetap mengulum senyum supertipis seraya mengangguk ketika gadis itu mengucapkan terimakasih padanya.

"Oke. Setelah pertigaan di depan, belok kanan!"

---

Konoha High

Naruto membungkuk dengan tangan bertumpu pada lututnya, mencoba mengatur napasnya lagi. Latihan yang benar-benar gila, pikirnya seraya menyeka keringat di matanya. Ia bisa merasakan kausnya menempel di tubuhnya karena basah oleh keringat. Kalau begini caranya, bisa-bisa ia masuk angin.

Tapi bukan Naruto namanya kalau mengeluh soal latihan. Ia kembali menegakkan diri dan bergabung dengan yang lain. Hari ini, Pak Maito mengkhususkan latihan mereka pada team work. Itu berarti, Naruto bisa menggunakan apa yang telah dipelajarinya dari Sasuke soal kerjasama tim.

Oh, thanks, Sasuke, latihan denganmu benar-benar berguna!

Tapi sepertinya ada sedikit yang mengusik konsentrasi Naruto pada latihan kali itu. Ia berkali-kali melirik ke arah bangku penonton, ke arah sesosok cowok berambut gelap yang entah sejak kapan duduk di sana, mengawasi latihan mereka. Seorang diri. Ini tidak biasanya, pikir Naruto. Biasanya anak-anak yang datang menonton latihan mereka datang berkelompok, atau kalau pun hanya sendirian, biasanya anak perempuan yang menunggui pacarnya latihan. Tapi ini cowok. Tidak mungkin kan dia menunggui pacarnya? Yang benar saja. Dan setahunya, yang datang latihan hari ini semuanya adalah cowok.

Setelah beberapa lama mengamatinya, Naruto akhirnya bisa mengenali profil jangkung kurus berbalut mantel dan syal itu dari kejauhan.

"Sai?" gumamnya. "Apa yang dilakukannya di sini?"

Ia sudah banyak mendengar soal cowok satu itu dari teman-temannya yang lain. Sejauh ini yang dia dengar hanyalah betapa menyebalkannya cowok itu—meskipun Naruto tidak begitu yakin apakah ada orang yang lebih menyebalkan dari Sasuke. Dulu—mereka membicarakan soal mulutnya yang kurang ajar dan tidak berperasaan. Dan Naruto juga kerap memperhatikan, Sai selalu sendirian kemana-mana. Sepertinya ia tidak punya teman.

Diam-diam, Naruto merasa kasihan juga padanya.

"Siapa dia?" suara seseorang yang datang dari belakangnya membuat Naruto menolehkan kepala. Sora, rekan satu timnya, sudah berdiri di sampingnya, napasnya terengah. Ia rupanya juga menyadari keberadaan Sai. Dari suara dan kernyitan tidak senang di wajahnya, sepertinya ia merasa terganggu dengan kehadiran cowok berkulit pucat yang sedang mengawasi mereka dari bangku penonton.

"Dia Sai," jawab Naruto.

"Siapa? Bukan mata-mata tim lawan yang sedang mengawasi latihan kita, kan?" Sora tampak gusar.

"Bukan. Dia juga siswa di sini kok. Siswa pindahan," jelas Naruto.

"Oh..." Sora mengangguk-anggukan kepala. "Heh... banyak sekali siswa pindahan tahun ini, ya," ujarnya. Yah, wajar saja kalau ia baru tahu. Karena Sora merupakan salah satu perwakilan ke Ame yang baru saja datang hari sebelumnya.

"Tidak banyak. Hanya dua orang. Yang satu pindahan dari Oto dan dia, yang duduk di sana itu, pindahan dari K—" Tapi rupanya Sora tidak mendengarkan kata-kata Naruto selanjutnya karena cowok itu sudah keburu melesat lari. "OI, SORA! KALAU ADA ORANG NGOMONG JANGAN MAIN KABUR BEGITU SAJA DONG!!" teriak Naruto jengkel yang langsung disambut tawa mengejek dari cowok itu. Yah, Sora memang hobinya membuat orang jengkel.

Naruto menghela napas keras-keras, lalu melirik sekilas sekali lagi ke arah Sai lagi sebelum berlari untuk bergabung kembali dengan latihan timnya.

Semua anak bersorak senang ketika Pak Maito memperbolehkan mereka untuk beristirahat sejenak. Mereka langsung berpencar. Beberapa menuju minimarket untuk membeli minuman ringan, beberapa menyerbu kedai hotdog untuk makan siang, beberapa hanya duduk-duduk saja mendiskusikan strategi dengan pembimbing mereka dan sisanya, termasuk Naruto, langsung melesat lari, pontang-panting menuju kamar kecil untuk mengikuti panggilan alam.

"Haah... lega!" seru Naruto ketika 'ritual'nya selesai dan ia tengah melangkah keluar dari toilet laki-laki yang ada di lantai dasar gedung sekolahnya. Teman-temannya yang lain sudah duluan kembali ke lapangan. Hanya tinggal ia dengan seorang anak kelas dua berperawakan kecil—yang masih sibuk di bilik toilet—yang tertinggal di gedung sepi itu.

Benar-benar sepi, pikir Naruto seraya mengedarkan pandangan di koridor yang gelap itu. Suasananya benar-benar berbeda kalau dibandingkan saat hari-hari biasa, dimana koridor itu selalu dipenuhi oleh anak-anak. Menyeramkan. Naruto menggosok-gosok kedua lengannya, berusaha mengusir rasa dingin ganjil yang tiba-tiba saja menyergapnya ketika melihat koridor gelap yang kosong di depannya.

"Iyashi, sudah selesai belum?!" Naruto memanggil adik kelasnya, mulai was-was.

"Sebentar lagi!" Iyashi balas berteriak. Suaranya teredam dalam bilik toilet.

"Cepetan! Yang lain sudah ke lapangan tuh!" teriak Naruto. Tapi kali ini Iyashi tidak menjawabnya. "Iyashi?!" suaranya menggema di sepanjang koridor.

Naruto menelan ludah. Mendadak ia teringat film horor berlatarbelakang sekolah yang pernah ditontonnya bersama ayahnya baru-baru ini. Di salah satu adegannya, seorang gadis berlari ketakutan di sebuah koridor kosong di sekolah, dan koridor itu dalam keadaan sepi seperti saat ini, kemudian tiba-tiba saja bayangan gelap muncul dari salah satu loker. Dengan rambut hitam yang menjuntai ke mana-mana, sosok itu merayap di tembok, mengejar si gadis yang...

"Whoa!!"

Sebuah tepukan keras di bahunya membuatnya terlonjak kaget. Naruto dengan cepat berputar di tempatnya dan berhadapan langsung dengan seraut wajah pucat pasi yang dibingkai rambut hitam yang sebagian menutupi matanya.

"Aargh!!" Naruto melompat mundur. Jantungnya berpacu lebih cepat, seakan mau melompat dari tempatnya. Mata birunya membelalak ngeri menatap sosok di depannya.

"Hai," sapa sosok itu dengan suara rendah.

"SAI!" dengking Naruto, lega bukan kepalang ketika mengenali sosok salah satu teman seangkatannya itu. "Kau mengangetkanku, tahu!"

"Ah, maaf," ujar Sai dengan senyum palsunya yang biasa.

Terdengar suara toilet disiram di dalam, disusul suara derit pintu, lalu suara keran wastafel yang dibuka. "Naruto! Ada apa teriak-teriak?!" tanya suara Iyashi dari dalam.

"T-tidak ada apa-apa!" jawab Naruto. "Sebaiknya kita cepat ke lapangan!"

"Sebentar. Tidak sabaran banget sih!" Selang beberapa detik pintu toilet terbuka dan seorang cowok bertubuh pendek dengan rambut supercepak muncul. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya ketika ia menatap Naruto dengan jengkel. "Jangan bilang kau melihat han—" kata-katanya terputus, matanya beralih pada sosok yang berdiri di depan rekan setim-nya, "—tu. Oh, kau," katanya dengan nada dingin. Matanya menyipit. "Ngapain kau kemari?"

Sai tersenyum padanya. "Sepertinya apa yang aku lakukan di sekolahku sama sekali bukan urusanmu, Pendek," katanya tenang.

Wajah Iyashi langsung merah padam. "Mayat hidup!" balasnya. Ia lalu mengerling Naruto, "Kita ke lapangan sekarang, Naruto." Cowok itu pun berbalik menuju pintu utama.

Naruto yang sedari tadi tercengang di tempatnya, mengerjap, lalu buru-buru mengikuti Iyashi setelah melempar pandang aku-duluan-ya pada Sai.

"Naruto," panggil Sai sebelum Naruto pergi terlalu jauh. Yang dipanggil berhenti dan menoleh. "Boleh kita bicara?"

"Eh?" Naruto menaikkan sebelah alisnya, tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingung dari wajahnya.

"Naruto! Ke lapangan tidak?" teriak Iyashi tidak sabar dari pintu utama.

Naruto menoleh padanya. "Kau duluan saja."

"Ya sudah," kata Iyashi seraya mengibaskan tangannya tak peduli. Saat berikutnya Naruto bisa melihatnya berlari-lari kecil menuju lapangan.

Naruto kembali menoleh pada Sai yang rupanya telah berjalan mendekat. "Mau bicara apa?" tanyanya heran. Rasanya baru kali ini mereka bicara satu sama lain dan tahu-tahu Sai mengajaknya bicara—yang dari ekspresi wajahnya, sepertinya apa pun yang ingin dibicarakannya dengan Naruto adalah sesuatu yang serius dan penting. "Dengar, aku harus segera kembali ke lapangan," ia memberitahu Sai. "Kalau kau ingin bicara, sebaiknya—"

"Ini tidak akan lama," sela Sai datar. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel yang dikenakannya.

Naruto menatapnya dengan bingung selama beberapa saat. "Oke. Sebaiknya kita bicara sambil jalan ke lapangan."

"Oke..." Sai mengangguk.

"Jadi," kata Naruto sementara mereka berjalan di koridor menuju pintu keluar, "apa yang ingin kau bicarakan denganku, huh?"

"Aku hanya ingin tahu," sahut Sai, "apakah aku bisa menjadi temanmu?"

Naruto menoleh, menatap Sai dengan alis terangkat. Ia tampak bingung selama beberapa lama sebelum tertawa kecil. "Well," katanya, "Jujur saja ini agak aneh, kau tahu? Selama ini kau tampak menarik diri dari orang-orang dan sekarang, kau datang padaku dan bertanya apakah kau bisa jadi temanku." Ia tertawa lagi seraya mendorong pintu kaca dan melangkah ke pelataran belakang gedung sekolahnya.

"Apa kau sedang mengejekku?" tanya Sai, menyusulnya keluar. Kadua alisnya bertaut.

"Bukan begitu," kata Naruto cepat-cepat. "Maksudku, kita kan tidak pernah bicara sebelum ini. Tapi kenapa kau tiba-tiba saja ingin menjadi temanku?"

Sai terdiam selama beberapa saat, berpikir, sementara mereka mulai menuruni tangga dan berjalan menuju lapangan. "Dokterku bilang aku membutuhkannya," jawabnya sambil mengangkat bahu. "Aku juga sudah memperhatikan kalian bertiga sejak lama. Kau, si Pinky dan si Rooster-head. Dan kurasa aku jadi tertarik berteman dengan kalian bertiga..."

Naruto berhenti mendadak, nyengir tidak yakin. "Kau bilang apa tadi? Pinky? Rooster-head?"

"...sepertinya memang akan membantu kalau aku bisa berteman dengan idiot sepertimu," lanjut Sai dengan nada datar.

Naruto mengerjap kaget. Namun ia segera menguasai diri lagi. "Geez!" dengusnya, "Selama ini aku banyak mendengar orang-orang membicarakan kalau mulutmu sangat kasar, kau tahu? Tadinya aku tidak percaya. Tapi ternyata itu benar."

Sai mengangkat kedua alisnya, tampak bingung. "Apakah itu menganggu?" ia bertanya polos.

"Tentu saja mengganggu!" Naruto menukas, mulai jengkel dengan kelakuan aneh cowok di depannya itu. "Karena lidah kadang lebih tajam dari pedang. Kau bisa melukai orang dengan itu, tahu! Jadi kau sebaiknya berhati-hati kalau tidak mau kena masalah!"

"Tapi kurasa itu tidak masalah untuk orang bodoh sepertimu, kan?"

"Eh, orang aneh! Hati-hati ya kalau ngomong!!" Naruto benar-benar terpancing emosi kali ini.

Dan sepertinya Sai memang benar-benar orang aneh, karena bukannya meminta maaf atas perkataan kurang ajarnya, cowok itu malah memamerkan senyum polos tanpa dosa seakan ia sama sekali tidak merasa bahwa perkataannya barusan sangat menyinggung. "Kau ternyata juga sama pemarahnya dengan si jelek berambut pink dan si Rooster-head aneh dari Oto, ya," ia terkekeh sendiri.

Darah Naruto serasa mendidih mendengar ini. Ia maju dan menarik kerah baju Sai dengan kasar. "Dengar ya, Sai. Jangan sampai aku mendengarmu bicara seperti itu lagi tentang teman-temanku. Kau brengsek!"

Sai melepaskan cengkeraman Naruto dari kerahnya, masih tersenyum. "Aku sudah sering mendengar orang mengatakan itu padaku," katanya dengan tawa kecil, seolah itu adalah hal biasa yang sangat lucu. "Jadi, Uzumaki, apakah aku bisa jadi temanmu?"

Naruto mendengus kasar. "Setelah apa yang kau katakan tadi? Kurasa tidak." Kemudian ia berbalik, meninggalkan Sai dengan langkah cepat saking kesalnya.

Namun sepertinya Sai tidak menyerah begitu saja. Cowok itu menyusulnya, merendengi langkahnya. "Kalau begitu, beritahu aku. Apa yang harus aku lakukan supaya bisa jadi temanmu?"

Naruto berhenti lagi, napasnya memburu dalam kejengkelan luar biasa saat menatap wajah pucat Sai. Wajah penuh senyum yang tampak kosong dan dingin. "Baiklah," geramnya, "Aku mau berteman denganmu kalau kau berhenti bicara kasar."

Kemudian Naruto berbalik dan berlari menuju lapangan, meninggalkan Sai berdiri tercenung di sana.

Dasar orang aneh!

---

TBC...


Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto; She's The One © Robbie Williams


Gimana? Gimana? Gimana?

Haduuuuh… aku teh udah gak tau mau memunculkan Sai kaya gimana lagi. Dan dari review yang masuk, banyak yang menanyakan cowok kece satu itu. Aku harap gak terlalu mengecewakan yah.

Gyaaa!! Kok banyak yang minta spoiler siiih? -pingsan- ehm… makasih buat yang udah baca dan review yah. Yang baca aja, makasih juga. Yang udah masukin ke list fave story juga makasih… -bowed-

KusH1naHeRoine : Soal nama Rufus, aku terinspirasi nama salah satu musuhnya SL. Kebetulan sama dengan nama depan-nya Menteri Sihir tea yah? ^^ Gomen belum mereview fic-mu, Non. Udah di-save sih, tapi baru dibaca bener-bener sampe chapter 3 –jujur amat- Sekali lagi sori dori stroberi ya! Jadi gak enak.. Tar deh kalo ujian udah beres semua dan udah bisa ngenet dengan nyaman di rumah.

Chika-chan : Hua… aku gak tahu harus gimana biar dapet feel yang pas, Dear… gomen! Tapi kayaknya chap yang kemarin tuh ringan deh, gak berat. Buat pertanyaannya, (1) foto yang di Itachi? Er… kalo kakaknya Sakura, aku bikin rambutnya pink juga kaya adeknya. Jadi bukan… (2) Crack pairing? Tergantung. Berhubung aku bukan penyuka yaoi, jadi sukanya crack yang straight. Lagi suka HidanHina. Haha… bertolak belakang sekaleee.

Teh Bella : Waduh, reveiewnya sampe dua tu teh… Kucing ya? Yah, habisnya aku udah punya rencana plot tersendiri dengan si dogy. Asa kurang keren kalo pake kucing XD. Kalo masalah Kakashi, itu juga tar ada plotnya tersendiri yang menjelaskan hubungan Kaka-kun sama keluarga Haruno. Tunggu aja ya, Teh. Btw, teteh orang farmasi ya? Adikku juga anak farmasi loh. –gak penting-

Kakkoii-chan : Yang disukai Itachi itu… TENTU SAJA AUTHORNYA!! –digaplok- Harry Potter? Bukan suka lagi, tapi udah addict. Fanfic pertama yang aku tulis kan dari fandom HP. Jadi sedikit banyak fic ini terinspirasi dari sana. Suka banget friendship Harry-Ron-Hermione (dibacanya Her-ma-yo-ni. Atau kalau kata Victor Krum mah, Herm-ayon-nini. XD) dan The Marauders.

Uchietam : Haduh, gak ngena yah? Gomenna.. Kalo cerita tentang proses dihukumnya 10 orang kayanya cuma disebutin aja deh. Tar jadi panjang banget kalo diceritain. -pingsan-

Furukara : Ah! –hehehehe- FL Uchiha SasuSaku? –pingsan di tempat-

Antlia : Ah –lagi-! Speechless baca reviewmu. –peluk-peluk-

PinkBlue Moonlight : Lha? Iya nih, Sai banyak yang ngepens. Ini update-annya!

Uzumaki Khai : jengjengjeng juga… -nyengir lucu- Wah, makasih. Idenya biasa aja kok, Khai… (jadi malu) Kamu juga pasti bisa! ^^

Dilia-chan : Hoaaaa… -dibekep- bingung mau nanggepin apa. Hehehe… -peluk-peluk-

Chibi Asuka : Wah, ada HarPot freaks juga selain aku di sini! Makasih udah mampir…

Catt-chan : Aaaargh! –guling-guling- speechless lagi deh! –peluk-peluk Catt-