Aah... gomen atas update yang lama yah, teman-teman... Selain sibuk ngetik buat B'dayfic-nya Gaara, inet di rumah juga sempat bermasalah. –sigh-. Enjoy aja deh... ^^
Oia, ada satu pengumuman gak penting sih soal kakaknya Sai. Tadinya aku namain dia 'Kakeru' dan ternyata waktu aku googling, namanya 'Shin'. Jadinya namanya di fic ini aku ubah jadi 'Shin' sesuai nama canonnya. Bisi bingung... Udah diedit kok..
Chapter 28
"Selamat pagi, Sakura!" sapa Naruto cerah keesokan harinya di koridor. Cowok itu berjalan riang menuju gadis berambut merah muda yang tampak sedang sibuk di salah satu loker di sana sambil sesekali membalas sapaan anak-anak yang dilewatinya. Saat itu koridor sudah lumayan ramai—mengingat bel jam pelajarang pertama tinggal beberapa menit lagi.
Sakura yang sedang sibuk memilah-milah buku di lokernya menoleh dan tersenyum cerah pada Naruto. "Pagi, Naruto!" gadis itu membalas sapaannya ketika cowok pirang itu sudah berdiri di sampingnya. "Bagaimana latihanmu kemarin, eh?"
"Oke juga," sahut Naruto sembari membuka kombinasi kunci lokernya yang letaknya memang tepat di samping loker Sakura, "Latihannya benar-benar hebat." Setelah lokernya terbuka, cowok pirang itu mulai mengambil buku yang dibutuhkannya untuk pelajaran hari itu. "Bagaimana Ino?"
"Dia baik," jawab Sakura sambil tersenyum. "Ternyata benar, dia sama sekali tidak kelihatan sakit kecuali mukanya yang agak pucat. Dan katanya dalam waktu beberapa hari dia akan keluar dari rumah sakit."
Naruto membalas senyum Sakura dengan cengiran lebar khas-nya. "Benar kan? Mana ada kuman yang berani lama-lama dalam tubuh cewek galak macam dia?" sahutnya bergurau.
Sakura tertawa menanggapi gurauan Naruto. "Kau ini bisa saja, Naruto," kekehnya. "Oh ya, kemarin aku ketemu Sasuke waktu pulang dari rumah sakit."
"Hm..." Naruto mengangguk, wajahnya mendadak tampak masam ketika ia menarik keluar diktat Aljabarnya. Agaknya ia kurang senang mengetahui Sakura dan Sasuke menghabiskan waktu berdua saja tanpanya—Bagaimana kalau Sasuke berbuat macam-macam pada Sakura di belakangnya? "Kalian ngapain?"
Tapi rupanya, Sakura yang sama sekali tidak bodoh itu menyadari perubahan ekspresi Naruto, juga nada suaranya yang seperti menukas. Gadis itu mengernyitkan dahi. "Kau tidak berpikir kami melakukan hal yang tidak-tidak berdua kan?" tebaknya tepat sasaran, membuat Naruto gelagapan.
"T-tentu saja tidak," sahut Naruto. Cowok itu mengeluarkan tawa canggung, lalu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Jadi..." lanjutnya sambil memasukkan buku ke dalam tas, "Apa yang kalian lakukan kemarin?"
Sakura tersenyum puas melihat ekspresi Naruto kembali santai. Ia menutup lokernya perlahan, bersandar di pintu loker dan saat berikutnya ia sudah mengoceh tentang apa yang dilakukannya dengan Sasuke hari sebelumnya sementara Naruto sibuk dengan buku dan jadwalnya. Gadis itu masih asyik bercerita dan semakin bersemangat ketika Sasuke tiba.
Cowok berambut gelap itu mendengus keras seraya membuka kombinasi lokernya sendiri. "Yeah yeah... dan kau menjadikanku supirmu seharian. Ya kan, Sakura?" tukasnya.
"Tidak seharian, kok," Sakura membantahnya, pura-pura cemberut. "Salahmu sendiri menawarkan diri mengantarku pulang. Jadi sekalian saja," katanya dengan senyum jahil. "Lagipula kau kan sudah kutraktir makan di restoranku sesudahnya. Harusnya kau berterimakasih, bukannya malah memprotes."
"Oh yeah, aku lupa. Aku harus berterimakasih padamu karena berkat kau yang keasyikan berlama-lama di makam sampai-sampai aku dimarahi kakakku karena telat pulang. Dikiranya aku keluyuran kemana-mana dulu dan membiarkannya dan Rufus kelaparan—karena di rumah sudah tidak ada makanan lagi. Yeah benar, terimakasih banyak Sakura," tukas Sasuke sarkastis seraya membuka pintu lokernya dengan geram.
"Oh... benarkah? Wah, maafkan aku..." kata Sakura pura-pura menyesal. "Apa dia memukulimu? Atau mengurungmu di kamar mandi? Atau—"
"Kau tahu Itachi tidak akan melakukan hal seperti itu, Sakura!" sahut Sasuke kesal.
Sakura tertawa. Yeah, sebenarnya ia tahu kejadian Sasuke dimarahi Itachi. Karena kejadian itu terjadi di Blossom's Cafe tepat setelah mereka tiba di sana dan Sakura menawari Sasuke untuk mampir. Rupanya Itachi dan Rufus juga datang ke sana untuk makan siang—dan seperti kata Sasuke, karena ia telat pulang belanja dan di rumah tidak ada makanan, jadi Itachi yang sudah kelaparan akhirnya ke restoran di dekat sana sambil membawa Rufus—Memang sih, saat itu tampaknya Itachi agak kesal pada adiknya, dan ia melampiaskannya dengan menceritakan kekacauan-kekacauan Sasuke kalau sedang di rumah pada Sakura. Dan itu dengan sukses membuat suasana makan siang mereka penuh dengan gelak tawa—juga gerutuan dari Sasuke.
Naruto yang baru saja mengetahui hal itu dari Sakura ikut tergelak.
"Diam kalian berdua!" bentak Sasuke lagi pada kedua sobatnya.
Sakura dan Naruto bertukar cengiran. Wajah keduanya memerah akibat tertawa.
Sakura berdeham. "Oh, satu lagi yang kau lupakan dan itu adalah hal yang paling penting dilakukan saat ini," katanya dengan ekspresi serius di wajahnya.
Sasuke membelalakkan mata padanya. "Apa?"
"Kau belum mengucapkan selamat pagi."
Sasuke memutar bola matanya lalu menghela napas dengan suara keras. "Pagi," ia menggerutu.
Sakura terkikik. "Selamat pagi, Sasuke!"
"Oi, kau! Tidak mau menyapa orang keren?" kata Naruto, pura-pura jengkel seraya menepuk dadanya sendiri. "Hal paling penting sekali dilakukan setiap pagi, Sasuke! Kau tidak boleh lupa!"
Sasuke menggeram pelan. "Geez! Kalian berdua ini sama saja," katanya seraya memasukkan buku dengan geram ke dalam tas.
Sakura dan Naruto tertawa. Tepat saat itu, Kiba Inuzuka melewati mereka sambil berlari menyelap-nyelip di antara anak-anak. Tampangnya cemas.
"Oi, Kiba!" seru Naruto menyapanya. "Ngapain kau lari-larian di koridor pagi-pagi begini? Ditangkap Pak Sarutobi baru tahu!"
Kiba berhenti dan berbalik. "Mending ditangkap Pak Sarutobi deh daripada dikasih PR segunung sama si Monster PR. Oi Naruto, kau sudah mengerjakan soal PR Aljabar nomor 12 belum?"
Cengiran Naruto lenyap, digantikan tampang cemas yang identik dengan ekspresi Kiba. "Ha? PR Aljabar nomor 12?"
"Yang halaman 50, yang 15 soal Trigono supersulit itu—akh, sudahlah!" Kiba mengibaskan tangannya dan ketika dilihatnya seorang gadis berambut gelap panjang baru saja memasuki koridor loker, senyumnya langsung mengembang. "Oi, Hinata!!" dan cowok berambut cokelat jabrik itu pun bergegas pergi menghampiri Hinata—tidak diragukan lagi—untuk menanyakan PR.
Wajah Naruto langsung pucat pasi ketika ia ingat ia juga belum mengerjakan PR-nya. "Astaga!" serunya seraya menepuk jidatnya keras. Ia berbalik menatap kedua temannya yang balas menatapnya dengan alis terangkat. "Aku lupa bikin PR! Mana Aljabar jam pertama lagi! Mati aku!" ia menoleh pada Sakura, melempar pandang memohon. "Aku pinjam PR-mu ya, Sakura..."
"Tidak," tolak Sakura tegas, tangan yang bebas tas dan buku diletakkan di atas pinggul. "Bagaimana kau bisa maju di Aljabar kalau PR saja menyalin pekerjaan orang, Naruto?"
"Oh, ayolah..." Naruto memohon. "Aku benar-benar lupa. Semua latihan itu benar-benar menyita perhatianku, kau tahu kan? Please, bantu aku. Kalau tidak Pak Hatake akan menambahi PR-nya sejuta kali lipat. Kau tahu kan dia gila-gilaan kalau ngasih tugas? Monster PR—"
"Salahmu sendiri tidak bisa bagi waktu," omel Sakura. "Kalau kau begini terus bisa-bisa kau—"
Kata-katanya langsung berhenti ketika tiba-tiba Sasuke mengulurkan bukunya pada Naruto. "Lihat saja punyaku. Sudah selesai," ujarnya datar pada Naruto.
"Sasuke!" mata hijau Sakura melebar menatapnya—yang diabaikan Sasuke.
Naruto menatap cowok itu dan bukunya bergantian selama beberapa saat, tampak tidak yakin, sebelum akhirnya disambarnya juga buku itu. "Sasuke, kau penyelamat hidup!" desahnya penuh terimakasih. "Tendang bokongku kalau sampai aku mengataimu brengsek lagi."
"Hn. Akan kuingat itu," Sasuke menyeringai tipis ketika Naruto berbalik dan melesat menuju kelas Aljabar untuk menyalin PR-nya.
"Sasuke, kau—umph!"
Sasuke dengan cepat memekapkan tangannya ke mulut Sakura, memblokir hujan kata-kata dari gadis itu dengan sukses, meski tidak bisa mencegahnya membeliak galak. "Oh, sudahlah, Sakura. Dia kan memang sangat sibuk belakangan ini. Kau sebagai temannya seharusnya mengerti dan mau membantunya."
Sakura menyingkirkan tangan Sasuke dari bibirnya dengan kasar. Ia tahu Sasuke benar soal itu, tapi ia sungguh tidak menyukai ide salin-menyalin PR ini. Gadis itu masih membelalakan mata pada Sasuke selama beberapa saat lagi sebelum akhirnya menghela napas panjang. Tidak ada gunanya memulai pertengkaran sepagi ini. "Baiklah. Tapi hanya sekali ini saja!"
Sasuke hanya mengangkat bahu sebelum beranjak dari sana, menyusul Naruto ke kelas Aljabar. Sakura yang masih cemberut berat mengikuti di belakangnya.
Sementara itu tak jauh dari mereka, tersembunyi di balik pintu lokernya sendiri, Sai mengawasi ketiganya sampai mereka menghilang di belokan menuju koridor kelas Aljabar. Cowok pucat itu mengangguk sementara tangannya sibuk mencatat di buku catatan barunya.
"Teman yang baik mengerti kondisi temannya dan mau membantu," ia mencatat kata-kata Sasuke. Setelah selesai, ia menutup bukunya, menyimpannya dengan aman ke dalam tas bersama buku-buku pelajaran, menutup lokernya sebelum melesat menuju perpustakaan untuk mencari referensi lain.
---
Beruntung bagi Naruto yang memiliki kemampuan menulis cepat kalau sedang kepepet, ia menyelesaikan menyalin PR Sasuke tepat beberapa detik sebelum Pak Hatake masuk kelas. Dan benar saja, guru mereka itu melipatgandakan PR-nya bagi siapa saja yang tidak menyelesaikan PR sebelumnya. Naruto menghela napas lega diam-diam seraya melempar pandang berterimakasih pada Sasuke yang duduk di sampingnya—juga menghindari tatapan mencela dari Sakura.
Dan hari-hari berikutnya setelah hari itu, Sakura menjadi punya kebiasaan mengingatkan Naruto membuat PR setiap ada kesempatan—dan setiap ia ingat, yang berarti sepanjang waktu; termasuk saat mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, Sakura tidak pernah lupa mengiriminya pesan singkat yang mengingatkan untuk bikin PR. Bahkan ia bersedia menyisihkan waktunya saat istirahat makan siang atau sepulang sekolah setelah latihan bola untuk membantu jika Naruto mengalami kesulitan dengan PR-nya—yang gawatnya, ia juga memaksa Sasuke melakukannya.
"Ini juga termasuk membantu," kilah Sakura ketika ia memberitahu Sasuke tentang kebiasaan barunya itu di kantin. Saat itu Sasuke baru saja mencemoohnya dengan mengatakan gadis itu kurang kerjaan. "Daripada membiarkannya menyalin terus, kan? Bisa jadi kebiasaan buruk tahu!"
"Tapi kenapa aku jadi ikut dibawa-bawa, eh?" gerutu Sasuke.
"Sasuke!" gadis itu melotot pada Sasuke. "Kau kan temannya! Dan sebagai temannya kau seharusnya—"
"Hah... terserah kau sajalah," sela Sasuke dengan nada malas. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Sakura karena ini sudah yang kesekian kalinya minggu ini. Gadis itu pastilah mau membalikkan kata-kata yang pernah diucapkannya tempo hari tentang seharusnya teman itu mengerti dan mau membantu. Menghela napas, Sasuke lalu menenggelamkan wajahnya di balik buku-bersampul-putihnya—yang sekarang benar-benar membuat Sakura penasaran, karena saat berikutnya gadis itu bertanya,
"Sebenarnya itu buku apa sih?" ia menunjuk ke buku di tangan Sasuke.
Entah Sakura salah lihat atau tidak, tapi sepertinya wajah Sasuke agak memerah. Namun sebelum cowok itu sempat berkata apa-apa, Naruto sudah membanting nampan yang penuh berisi sandwich ke atas meja. "Makan siang!!" serunya, membuat perhatian Sakura langsung teralih.
Sasuke menggunakan kesempatan ini dengan cepat-cepat menjejalkan bukunya ke dalam tas.
"Di buku disebutkan, yang dinamakan teman itu selalu bersedia berbagi dengan temannya," sebuah suara dalam membuat ketiganya menoleh. Ketiganya kompak mengangkat alis masing-masing ketika mendapati Sai sudah berdiri di sisi meja mereka, membawa sebuah buku di tangannya, wajahnya tersenyum. "Aku tidak mengerti," ujarnya, "Apakah itu termasuk makanan?"
Sakura dan Naruto melongo menatap cowok itu sementara Sasuke memicingkan matanya.
"Kau sebenarnya bicara apa?" Sakura memecah keheningan, menatap Sai dengan tatapan aneh.
Tapi Sai tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri saja di sana, membalas tatapan ketiganya dengan pandangan menilai. Senyumnya perlahan menghilang dan ia tampak bimbang. Sampai akhirnya ia berbalik pergi. Duduk di mejanya yang biasa di sudut, jauh dari keramaian kantin seraya menenggelamkan diri dalam bacaannya.
"Sinting," kata Sasuke sambil geleng-geleng kepala. Ia mengambil sepotong sandwich dan menggigitnya.
"Yeah, kau benar," sahut Sakura setuju seraya mengambil sandwich juga.
Tapi Naruto masih tetap menatap Sai dari kejauhan. Mata birunya jelas menyiratkan rasa kasihan. Naruto bisa merasakan sejak pembicaraan mereka tempo hari, Sai terus memperhatikan mereka, mengamati gerak-geriknya bersama Sasuke dan Sakura, bahkan beberapa kali Sai tampak ingin mendekati mereka—seperti yang dilakukannya barusan—tapi selalu ragu-ragu. Barangkali ia takut ditolak atau bagaimana. Sejujurnya Naruto masih agak kesal pada cowok itu. Tapi melihat Sai yang sendirian terus seperti itu sangat mengganggunya. Ia seakan dihadapkan pada dirinya yang dulu—dan ini jelas membuatnya gusar.
"Menurutku dia mungkin kesepian sampai jadi seperti itu," ujar Naruto kemudian, membuat kedua temannya menoleh padanya. "Waktu aku latihan hari Minggu kemarin, dia datang. Dia tanya padaku apakah dia bisa jadi temanku."
"Dia mendatangimu?" Sakura tampak terkejut. "Lalu kau bilang apa?"
"Aku bilang, aku mau jadi temannya kalau dia tidak bicara kasar lagi," sahut Naruto, lalu menggigit sandwich-nya dan mengunyahnya perlahan-lahan. "Kurang ajar banget, masa kemarin dia mengataiku idiot!" Naruto menjadi kesal sendiri teringat saat itu.
Sakura tertawa kecil, "Tidak aneh. Dia juga mengataiku jelek dan Sasuke homo."
Naruto tersedak sandwich. Terbatuk-batuk, ia menyambar botol air mineral dan menenggaknya banyak-banyak. Matanya berair ketika ia mulai tertawa. "Homo? Kemarin dia bilang 'Rooster-head' untuk menyebutmu," ia melirik Sasuke yang mengacuhkannya, sama sekali tidak tampak tertarik membicarakan Sai. Naruto butuh beberapa waktu lagi sebelum akhirnya berhasil menguasai diri. "Tapi dari pada itu," lanjutnya, "sepertinya anak itu memang butuh seseorang untuk dijadikan teman. Lihat," ia mengedikkan kepala ke arah meja Sai, "dia sendirian terus begitu. Bisa sinting betulan lama-lama dia. Kasihan..."
"Bicaramu seperti Hinata," komentar Sasuke pelan sambil membuka botol airnya.
"Tapi masalahnya, dia kalau ngomong seperti tidak pernah dipikirkan dulu," kata Sakura, "kasar banget. Kemarin saja ada cewek yang nangis di kamar mandi karena Sai ngomong yang tidak-tidak padanya. Pantas saja kalau tidak ada yang mau dekat-dekat dia." Gadis itu mengangkat bahu.
"Memang, sih." Naruto kembali melirik Sai, lalu menghela napas. "Kalau begitu terus, dia bisa ditekan oleh orang-orang yang tidak suka. Kau tahu kan, orang-orang bisa jadi sangat kejam kalau mereka ma—"
Kata-kata Naruto langsung terputus karena saat itu terdengar suara meja digebrak dari sudut kantin dan semua kepala langsung tertoleh pada sumber suara, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sekelompok anak kelas tiga berbadan besar—yang terkenal sebagai berandal sekolah—sedang mengerumuni meja Sai. Salah satu dari mereka, yang wajahnya paling sangar dan bertubuh paling besar dan berbulu seperti gorila, telah mencengkeram kerah baju Sai dengan sikap mengancam dan mendesiskan sesuatu pada cowok itu.
"Baru saja dibilang," desah Naruto. Ia memasukan potongan terakhir sandwich-nya ke mulut, lalu beranjak.
"Naruto, kau mau apa?" tanya Sakura yang terkejut ketika dilihatnya Naruto berjalan ke arah gerombolan itu. Namun Naruto seperti tidak mendengarnya.
"Ck. Mau jadi pahlawan kesiangan rupanya dia," Sasuke mendengus keras sebelum ikut beranjak menyusul Naruto, berniat menghentikannya ikut campur, "Oi, Naruto!"
Tapi Naruto terlalu cepat. Dalam waktu beberapa detik saja ia sudah berdiri di sisi meja Sai. "Oi, Inui! Kalian mau apa?" tanyanya dengan nada menantang pada cowok-cowok itu. "Jangan ganggu dia."
Cowok yang mencengkeram kerah kemeja Sai melepaskannya dengan kasar, sehingga Sai terlempar ke bangkunya dan jatuh ke lantai, lalu menghadap Naruto. "Kau yang mau apa? Mau sok jadi pahlawan?"
"Aku tidak suka melihat ada orang yang seenaknya menindas yang lemah," balas Naruto seraya menatap mata lawan bicaranya tajam. "Pengecut!"
"Naruto..." Sakura yang rupanya telah menyusulnya, berkata memohon. Gadis itu menarik-narik lengan jaket Naruto, tapi cowok itu mengabaikannya.
"Naruto, sudahlah. Jangan ikut campur," timpal Sasuke.
Rombongan itu tertawa mencemooh. "Kenapa kau tidak mendengarkan teman-temanmu, eh, Uzumaki? Jangan ikut campur. Ini bukan urusanmu."
Naruto yang sekali lagi mengabaikan Sakura maupun Sasuke membalas dengan berani, "Oh yeah? Bukan urusanku, eh? Asal kalian tahu saja, akan jadi urusanku kalau kalian menyakiti teman-temanku."
"Oh, jadi orang brengsek ini temanmu?" tanya Inui, si cowok kekar, kasar seraya mengedikkan kepala ke arah Sai.
"Ya, dia temanku," kata Naruto tegas. "Jadi jangan sampai aku melihat kalian mengganggunya lagi, mengerti?!"
"Uh, aku takut," cemooh Inui yang langsung disambut tawa kroni-kroninya. Matanya berkilat berbahaya. Ia maju sehingga jaraknya dengan Naruto hanya beberapa senti, namun Naruto sama sekali tidak tampak takut meski cowok itu tampak menjulang di depannya. "Kalau begitu, ajari temanmu untuk menjaga mulut kotornya," ia mendesis.
Tepat saat itu pintu kantin membuka dan dua orang guru, Pak Namiashi dan Pak Shiranui, masuk. Rombongan Inui langsung tempak gelisah, mereka membisiki cowok yang menjadi pemimpin mereka itu seraya mengendik ke arah para guru. Kedua guru yang rupanya telah menyadari ada yang tidak beres dengan melihat anak-anak yang berkerumun segera mendekat.
"Ada yang tidak beres di sini, anak-anak?" tanya Pak Shiranui kalem sambil menatap ke arah Naruto dan Inui yang berdiri berhadapan.
"Tidak ada apa-apa, Pak," Inui cepat-cepat menjawab sambil memasang tampang tak bersalah. Teman-temannya mendukungnya.
Namun Pak Namiashi yang telah melihat Sai masih terpuruk di lantai, menatap Inui dengan curiga. Tidak heran, karena salah satu muridnya itu dikenal sebagai tukang bikin masalah di sekolah. "Kau tidak sedang berbuat onar lagi kan, Inui?"
"T-tidak! Tentu saja tidak, Pak! Kami tadi sedang bercanda dan Sai jatuh terpeleset saking bersemangatnya membacakan lelucon. Tapi Uzumaki rupanya salah paham," Inui mengerling Naruto, tatapannya licik. "Dia mengira kami berkelahi dan dia—"
"Aku tidak mengira mereka berkelahi!" potong Naruto marah. "Mereka memang—"
"Tanya saja pada Sai kalau kau tidak percaya, Uzumaki," Inui menoleh pada Sai, melempar pandang mengancam pada cowok itu.
"Sai, benar yang dikatakan Inui?" Pak Namiashi menanyainya dengan mata menyipit curiga.
Sai menelan ludah. "I-iya..." jawabnya parau. Ia bergegas berdiri dan merapikan pakaiannya lagi.
"Benar, kan?" kata Inui dengan seringai puas.
Sebaliknya Naruto, ia tampak marah sekali. Namun sebelum ia membuka mulutnya untuk memprotesnya, ia merasakan Sakura menarik-narik lengan kausnya lagi. "Sudahlah, Naruto. Jangan cari ribut..." bisiknya mendesak.
"Baiklah kalau begitu," kata Pak Shiranui sambil tersenyum—meskipun seperti koleganya, ia juga nampaknya masih menaruh curiga pada Inui—sebelum kemudian ia memandang berkeliling pada anak-anak yang menonton, "Dan kenapa kalian tidak menikmati saja makan siang kalian. Jangan sampai ibu kantin kecewa, anak-anak."
Anak-anak yang lain buru-buru membubarkan diri dan kembali menyibukkan diri dengan makan siang masing-masing.
"Silakan dilanjutkan bercandanya, kalau begitu," kata Pak Namiashi, "Tapi jangan keterlaluan. Inui, kalau kau begitu kelebihan tenaga, lebih baik kau salurkan di klub gulat-mu. Ayo, Genma. Makan siang kita keburu dingin nanti."
Dan kedua guru itu pun berlalu menuju konter untuk mengambil makan siang mereka. Meski begitu, mereka tampaknya masih mengawasi Inui dan kroni-kroninya.
"Sialan!" maki Inui pelan. "Kau sedang beruntung hari ini, brengsek!" cowok itu mendesis pada Sai sambil menunjuk wajahnya sebelum berbalik pergi, diikuti teman-temannya.
Naruto mengawasi punggung cowok-cowok itu sampai mereka menghilang di balik pintu sebelum mengalihkan pandangannya pada Sai, menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya, eh?"
"A-aku hanya—" Sai menelan ludah dengan susah payah. Kejadian barusan tampaknya membuatnya bingung dan terguncang, mengingat ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu di sekolah lamanya dan ini adalah pertamakali untuknya.
"Hanya apa?" sela Naruto tak sabar, "Kau ingat yang kubilang kemarin, Sai? Tentang lidah yang terkadang lebih tajam dari pedang? Lihat, sekarang pedang itu sudah menggoresmu. Kalau kau tidak hati-hati, mereka bisa menusukmu. Tahu? Jangan harap aku mau membantumu lagi kalau kau tidak juga mengubah kebiasaan mulut kotormu itu, Sai!"
Sai mengerjap. Ia tampak memikirkan kata-kata Naruto selama beberapa saat sebelum senyumnya mengembang. "K-kau... membantu? Seorang teman itu seharusnya mau mengerti kondisi temannya dan mau membantu. Dan kau tadi bilang aku temanmu, kan? Jadi kau sekarang menerimaku menjadi temanmu, begitu?"
Kini giliran Naruto yang mengerjap bingung. Ia hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia malah mengeluarkan geraman tidak sabar seraya mengibaskan tangannya. "Akh! Percuma, kau sama sekali tidak mengerti!" Ia pun segera berbalik meninggalkan kantin.
Sakura yang masih berdiri di sana melempar pandang mencela pada Sai sebelum berbalik menyusul Naruto sembari menarik pergelangan tangan Sasuke, menarik cowok itu bersamanya.
"Kenapa Naruto?" Sasuke menanyai Sakura ketika mereka sudah berada di koridor, menyusul Naruto yang berjalan cepat di depan mereka menuju koridor perpustakaan.
Sakura menggelengkan kepala. "Aku juga tidak begitu mengerti, tapi sepertinya dia teringat saat itu."
"Saat itu apa?" tanya Sasuke lagi. Mereka sudah berada di koridor perpustakaan sekarang, tapi rupanya Naruto tidak bermaksud ke perpus, melainkan terus saja menuju tangga.
Sakura menoleh pada Sasuke dan saat ia bicara, wajahnya tampak sedih. "Naruto dulu juga pernah mengalami yang seperti tadi—kau tahu kan, dijauhi, disudutkan, malah kadang-kadang mengalami kekerasan dari anak-anak lain. Ia pasti tidak suka melihat ada kejadian seperti itu lagi menimpa orang lain."
"Tapi Sai memang brengsek," kata Sasuke tidak mengerti.
Sakura berhenti dan menatapnya tajam. "Kau pikir ada orang yang pantas menerima perlakuan seperti itu, Sasuke?"
Sasuke terkesiap. Ia terdiam sejenak sementara membalas tatapan gadis itu. Rahangnya mengeras. "Tidak," ujarnya pelan.
"Aku pikir juga begitu," kata Sakura. Gadis itu lalu berbalik lagi dan menyusul Naruto menaiki tangga menuju atap.
Sasuke menatap punggung gadis itu selama beberapa saat. Informasi barusan mau tak mau membuatnya terkejut juga. Betapa masa lalu Naruto sangat berat, pikirnya. Tidak punya orang tua sejak kecil, kehilangan sosok ibu dengan cara yang tragis, dikucilkan orang-orang, belum lagi kekerasan yang dialaminya. Mengapa ada orang yang bernasib begitu malang seperti ini?
Menghela napas berat, Sasuke lantas menyusul kedua temannya ke atap. Naruto sedang duduk membungkuk di bangku semen yang dingin dengan Sakura yang duduk di sampingnya ketika ia tiba di atap.
"Baik-baik saja, Naruto?" ia bisa mendengar Sakura menanyai Naruto lembut. Tangannya menepuk-nepuk punggung cowok itu, menenangkannya.
Naruto tidak menanggapinya selama beberapa saat, tampak masih terguncang. Sasuke menempatkan diri duduk di sebelah Naruto, bertukar pandang dengan Sakura dari atas punggungnya. Sakura menggelengkan kepala. Tapi kemudian, Naruto menegakkan diri.
"Maaf," ujarnya pelan. "Aku cuma..." kata-katanya terputus dan tampaknya Naruto bingung mau bicara apa.
"Sedikit terguncang?" kata Sasuke.
Naruto mendengus pelan. "Yeah, bisa dibilang seperti itu."
"Kami mengerti, Naruto," kata Sakura lembut seraya membelai-belai lengan Naruto. Cowok itu tersenyum padanya.
"Thanks, Sakura."
"Tidak masalah. Itulah gunanya teman, bukan?"
"Hm.." Naruto mengangguk. "Itulah yang tepatnya dibutuhkan Sai sekarang. Kurasa kita harus membantunya."
Sasuke dan Sakura bertukar pandang lagi, tidak yakin. "Maksudmu, berteman dengannya?"
Naruto mengangguk mantap, menatap kedua sahabatnya bergantian. "Aku merasa harus mencegahnya. Aku tidak mau hal seperti itu sampai terjadi lagi pada orang lain, termasuk Sai."
"Tapi..."
"Aku tahu ini tidak akan mudah, Sakura," Naruto menyelanya, "Tapi ini sama halnya dengan kita bertiga."
"Aku tidak yakin," kata Sasuke dingin. Rahangnya berkedut. "Dia mengataiku homo, ingat?"
"Dan dia mengataiku jelek," timpal Sakura.
"Dia juga menyebutku idiot," kata Naruto, mendengus tertawa, "Tapi sepertinya dia tidak bermaksud kasar. Kalau kalian memperhatikan ekspresi wajahnya, sepertinya ia hanya mengatakan apa yang terlintas di otaknya—"
"—ada yang tidak beres dengan otaknya, kalau begitu—" gumam Sasuke, yang diabaikan Naruto.
"—dan dia tidak mengerti kalau itu salah. Sepertinya dia memang bermasalah dengan pergaulannya."
Hening sejenak sebelum Sakura berkata pelan, "Menurutmu, apa yang harus kita lakukan untuk membantunya, Naruto?"
Naruto memandangnya lagi, tersenyum lemah, "Aku belum tahu. Mungkin dengan mengajaknya bergabung bersama kita?"
Dan itulah yang mereka lakukan keesokan harinya, mengajak Sai bergabung bersama mereka. Meskipun Sakura dan Sasuke melakukannya dengan sangat enggan ketika Naruto menarik sebuah kursi tambahan di meja mereka di kantin. Obrolan yang biasanya melingkupi meja itu mendadak lenyap, digantikan dengan kesunyian tidak menyenangkan karena baik Sasuke maupun Sakura menolak berinteraksi dengan Sai. Tampaknya mereka memang masih sakit hati pada sebutan Sai pada mereka, tapi nampaknya Sai tidak begitu terpengaruh dengan itu. Ia tetap menampakan senyumnya yang biasa.
Dia sebenarnya makhluk dari planet mana sih? Sakura bertanya-tanya dalam hati seraya menyeruput minumannya sementara Sasuke menenggelamkan diri di balik bukunya. Naruto sendiri tampaknya jadi bingung sendiri harus berbuat apa.
Ia baru akan membuka mulut untuk memecah keheningan tidak nyaman itu ketika Sora, rekan klub sepak bolanya, memanggilnya, "Oi, Naruto! Temujin menyuruh kita semua kumpul di sekre. Sekarang!" dan cowok berambut gelap itu langsung melesat meninggalkan kantin.
"Well," kata Naruto pada ketiga rekannya seraya beranjak, "Aku pergi dulu kalau begitu."
Dan setelah Naruto pergi, suasana menjadi sangat canggung. Sasuke dan Sakura bertukar pandang tidak nyaman sementara Sai tersenyum di antara mereka.
Oh, bagus, gerutu Sakura dalam hati. Sekarang kami harus duduk seperti orang bego bersama orang aneh yang hobinya ngomong kasar dan senyum-senyum tidak jelas yang tidak tahu apa itu maksudnya. Naruto... kenapa kau harus pergi saat kami benar-benar membutuhkanmu? Sementara itu, di sampingnya, rahang Sasuke sudah berkedut-kedut, sepertinya menahan diri dengan susah payah untuk melabrak Sai karena telah mengatainya yang tidak-tidak tempo hari.
Merasa tidak tahan dengan situasi tidak mengenakkan ini, Sakura beranjak dari kursinya dan melesat kabur dari sana.
"Wah, sekarang tinggal kita berdua ya, gay-buddy," kata Sai pada Sasuke yang langsung merah padam saking jengkelnya. Oh, ternyata Sai belum juga bisa melepaskan kebiasaannya berkata kotor.
"Sekali lagi aku mendengarmu memanggilku seperti itu, aku akan—" Sasuke menggeram marah, lalu mengibaskan tangannya sebelum kabur juga dari sana, menyusul Sakura. Meninggalkan Sai seorang diri melongo di sana.
"Geez, Sakura. Kau kabur duluan," semprot Sasuke jengkel ketika ia menghampiri Sakura yang ternyata sudah melesat menuju kelas mereka selanjutnya. Ruangan itu masih sepi dan hanya ada Sakura yang duduk sendirian di bangku belakang. Sasuke berjalan ke arahnya dan duduk di bangkunya yang biasa, membeliak pada Sakura yang nyengir minta maaf padanya.
"Sori," ucap gadis itu, "habis aku tidak tahan sih. Kau lihat tampangnya?"
"Hn," Sasuke menyahut. "Naruto sudah gila mau berteman dengannya."
"Oh, aku tidak tahu itu," Sakura mengangkat bahunya seraya mengeluarkan diktat kimia dari dalam tas dan mulai membaca. "Aku rasa dia memang lumayan," ujarnya kemudian dari atas bukunya, "tapi menyebalkan," ia buru-buru menambahkan ketika ia merasakan tatapan Sasuke.
"Menyebalkan," geram Sasuke. Ia baru akan mengeluarkan bukunya ketika pintu kelas berderit membuka lagi. Keduanya menoleh dan mendapati Lee sedang mengintip di pintu.
"Sasuke Uchiha, bisa bicara sebentar?" tanyanya dari pintu.
Sasuke melempar padang bingung pada Sakura yang hanya mengangkat bahu kembali menoleh ke arah pintu untuk menanyai cowok berambut bob itu, "Ada perlu apa?"
"Um…" kata Lee sambil tersenyum canggung, "Bisa kita bicara di sekre klub sepak bola saja?"
Sasuke mengernyit. "Kenapa tidak bicara di sini saja?" tanyanya, bertahan di tempatnya. Entah mengapa ia merasa enggan pergi ke tempat itu.
Lee melangkah masuk ke kelas, berdeham. "Kita akan bicara yang ada kaitannya dengan sepak bola, Sasuke," diam lagi sebelum ia melanjutkan, "Lagipula yang mau bicara padamu itu sebenarnya kapten tim kami."
"Kalau dia yang ada perlu denganku, kenapa tidak dia saja yang datang padaku?" kata Sasuke menantang.
Sakura memberinya tatapan menegur. "Sudahlah, Sasuke. Tidak sopan melawan senior. Sana pergi..." bisiknya pada Sasuke.
Sasuke menggeram jengkel lagi, lalu menggerutu pelan, "Baiklah..." lalu beranjak.
Lee tersenyum puas padanya sebelum berbalik meninggalkan kelas dengan Sasuke mengikuti di belakangnya.
"Naruto sudah banyak bercerita tentangmu, Sasuke," kata Lee ketika mereka berjalan melintasi koridor yang ramai menuju sekre klub sepak bola di dekat gedung olahraga. "Dia bilang, kau yang melatihnya kalau sedang tidak latihan bersama kami. Dia bilang kau hebat."
"Hn," kata Sasuke pelan. Entah mengapa ia merasakan perasaan yang kurang enak mengenai ini—atau tepatnya, apa yang akan mereka bicarakan kalau sudah sampai di sekre nanti.
"Dan Naruto memang mengalami banyak kemajuan, terutama dalam hal berkerjasama dengan yang lain," kata Lee sambil tersenyum. Mereka berbelok ke lorong menuju gedung yang khusus disediakan untuk klub-klub ekstrakulikuler.
"Itu memang kelemahannya," kata Sasuke sambil lalu.
Lee mengangguk setuju. Mereka tidak bicara apa-apa lagi sampai akhirnya mereka tiba di ruangan klub sepak bola. Ruangan itu cukup luas sebenarnya, tapi kelihatan sesak karena banyaknya barang-barang yang berjejalan di sana, belum lagi banyaknya anak-anak yang sedang berkumpul yang membuat ruangan itu kelihatan lebih kecil dari ukurannya yang sebenarnya. Obrolan ramai anak-anak itu langsung berhenti ketika Lee melangkah masuk diikuti Sasuke. Semua kepala menoleh ke arah mereka dengan penasaran, bahkan ada yang menjulurkan leher untuk bisa melihat lebih jelas.
Sasuke yang merasa jengah ditatap seperti itu, mengedarkan pandangannya dan melihat Naruto duduk di antara cowok berambut gelap, yang dikenalinya bernama Mizura dan seorang cowok lagi yang tidak dikenalnya. Naruto mendongak membalas tatapannya, tersenyum sekilas sebelum menundukan kembali kepalanya. Sasuke semakin merasa ada yang tidak beres di sini.
Seorang cowok jangkung berambut pirang berdiri dari tempatnya duduk di kursi di depan meja besar di tengah-tengah ruangan. Cowok itu berjalan mengitari meja menuju Sasuke lalu menjabat tangannya mantap.
"Namaku Temujin, ketua klub ini," kata cowok pirang itu sambil tersenyum.
"Sasuke Uchiha," balas Sasuke datar.
Temujin tertawa kecil. "Yeah yeah, aku tahu," katanya. "Naruto sudah cerita banyak soal kau, Uchiha," ia mengulangi kata-kata Lee.
"Hn. Aku tahu," gerutu Sasuke.
"Aku mengenali profilmu dan penghargaan the best player di kejuaraan sepak bola antar sekolah tahun lalu. Dan kau juga yang sudah membantu Naruto dalam latihanny—"
"Langsung saja kalau begitu," sela Sasuke tidak sabar.
Senyum Temujin lenyap selama beberapa saat—sepertinya ia agak kesal juga dengan perlakuan adik kelasnya yang agak kurang ajar itu—sebelum memaksakan senyumnya lagi. Ia menarik napas panjang, menggosok-gosok kedua tangannya seraya menatap Sasuke. "Kau mau bergabung dengan tim kami? Kau bisa bergabung dengan tim inti untuk pertadingan persahabatan nanti. Kau tertarik?"
Sasuke langsung mencari-cari mata Naruto, tapi sahabatnya itu rupanya tidak mau memandangnya, melainkan memandang sepatunya. Kedua tangannya saling remas. Sampai akhirnya Naruto menangkat wajahnya. Mata mereka bertemu selama beberapa detik sebelum Naruto kembali memalingkan wajahnya. Rahang Sasuke mengeras ketika ia memandang ke arah Temujin lagi.
"Maaf. Aku tidak bisa."
---
TBC...
---
Gimana? Agak aneh ya? Cerita awalnya lebih aneh lagi, yang ini sudah aku edit sana-sini, tapi gak tahu deh. Haha... Makasih buat semua yang udah mengikuti, membaca, mereview dan menunggu-nunggu seri ini yah! Hehe... –kege-eran deh XD- Kalian penyemangatku! Yeah! Buat Ambu... –peluk-peluk- akhirnyaaaa dapet review dari Ambu lagi!! –lebay ah!- Ambu, iputz kok belakangan ini bawaannya ngantuk melulu yah? -gak penting ah!-
'Kay! Thanks udah membaca, minna-sama!!
