Pengumuman ulang (bisi bingung), setelah bergoogling ria, aku mendapatkan kalau nama kakak-nya Sai itu adalah Shin. Jadi untuk selanjutnya, nama kakaknya Sai di cerita ini adalah Shin, bukan Kakeru. Chapter-chapter yang lalu udah diganti kok. Enjoy!
Btw, chapter kemarin emang banyak terinspirasi dari Harpot! hahaha...
---
Chapter 29
Suasana ruangan itu benar-benar sunyi ketika dua orang itu saling bertatapan. Mata semua anak—termasuk Naruto, Sasuke bisa merasakannya—terarah pada mereka sekarang. Beberapa anak memandang tidak percaya pada Sasuke, beberapa berbisik-bisik.
Kemudian Temujin memecah keheningan dengan mendengus kecil dan berkata, "Maaf?" seakan ia tidak mempercayai pendengarannya barusan.
"Kau mendengarku, Kapten. Aku tidak bisa," kata Sasuke. Ada ketegasan dalam suaranya.
"Kau pasti bercanda," dengus Temujin. "Kau benar-benar tidak tertarik? Kami membutuhkanmu untuk posisi penyerang—"
"Aku sama sekali tidak tertarik," tegas Sasuke, kendati pun dengan ekspresi malas.
"Kau bodoh, kalau begitu," kata Temujin, mulai benar-benar jengkel. "Karena semua anak di klub ini menginginkan posisi yang kutawarkan padamu, Uchiha. Mereka semua berlatih keras untuk bergabung dalam tim inti ini dan—"
"Itulah masalahnya," sela Sasuke seraya memicingkan mata menatap Temujin. "Kenapa kau tidak memanfaatkan orang-orang yang sudah berlatih keras untuk mendapatkan posisi ini dan malah menunjukku yang jelas-jelas bukan bagian dari tim? Aku melihat mereka berlatih, melakukan yang terbaik. Kenapa kau tidak menghargai usaha mereka, eh?"
Wajah Temujin berubah merah ketika anak-anak lain mulai ribut berbisik-bisik lagi. Beberapa mendukung kata-kata Sasuke, sementara tidak banyak yang menganggapnya kurang ajar karena telah berani membantah kapten mereka. Sementara itu dari sudut matanya, Sasuke bisa melihat Naruto menatapnya dengan mata melebar, terpesona oleh kata-kata sahabatnya itu.
"Lihat mereka," kata Sasuke lagi seraya menunjuk ke arah anak-anak yang lain, "Kau bodoh kalau tidak melihat bakat dan kerja keras mereka. Mereka lebih pantas untuk posisi itu. Atau matamu yang terlalu silau oleh reputasiku? Kalau begitu aku minta maaf karena telah mengecewakanmu." Sasuke menghela napas keras. "Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku permisi." Sasuke berbalik, mendorong pintu hingga terbuka dan bergegas meninggalkan ruangan.
Ruangan itu langsung riuh oleh anak-anak yang berkomentar tentang kejadian barusan. Naruto, yang selama beberapa saat tadi tercengang melihat tingkah Sasuke, akhirnya tersadar dan buru-buru meninggalkan ruangan untuk menyusulnya. Sementara itu Temujin tampak luar biasa gusar. Wajahnya merah padam ketika ia berbalik menghadapi anak buahnya. "Semuanya bubar!" bentaknya.
Dan anak-anak langsung berhamburan meninggalkan ruangan, enggan berlama-lama seruangan dengan kapten mereka yang sedang marah. Tapi tidak begitu dengan Lee. Cowok itu masih bertahan di tempatnya semula. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Temujin, dengan lembut menepuk bahunya.
"Tidak perlu berkecil hati seperti itu, Temu..." ujarnya seraya tersenyum membesarkan hati. "Maaf aku bilang begini, tapi menurutku yang dikatakan Sasuke ada benarnya juga. Jujur saja, aku sepakat dengannya dalam hal ini. Kita seharusnya memilih salah satu dari tim kita. Yeah, aku tahu kalau Sasuke itu pemain hebat," ia menambahkan cepat-cepat ketika Temujin berbalik, hendak menyelanya. "Tapi kita juga punya sederet pemain hebat. Kau lihat Mizura yang handal dalam pertahanan, Naruto yang menurutku paling banyak mengalami kemajuan beberapa minggu ini. Dengar, kecelakaan yang menimpa Sumaru tidak lantas membuatmu panik sampai harus memilih orang di luar klub kita, kan?"
Temujin menatap rekannya selama beberapa saat lagi, lalu menghela napas, menghenyakan diri di kursi sebelah meja. "Aku tahu," katanya muram. "Aku memang tidak berpikir panjang, maafkan aku. Aku terlalu memikirkan bagaimana kita bisa menang nanti, Lee."
"Aku tahu, aku tahu," Lee menepuk-nepuk bahu rekannya lagi. "Tapi kita masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan pemain lain. Hei, bagaimana kalau kita adakan uji coba lagi, eh?"
Temujin tertawa kecil. "Yeah, kau benar. Kau tahu, seharusnya dari dulu kau yang dipilih jadi kapten," ujarnya.
Lee balas tertawa, seraya mengibaskan tangan meremehkan. "Omong kosong. Kau lebih hebat, semua orang tahu itu. Ya sudah, aku harus cepat ke Lab Biologi. Neji bisa membunuhku kalau aku telat."
"Oke. Sampai ketemu di Lab kalau begitu, teman. Aku harus menemui Pak Maito dulu untuk membicarakan uji coba ulang."
Sementara itu di koridor, akhirnya Naruto berhasil menyusul Sasuke ketika mereka sudah berada di koridor kelas Kimia. Setelah menyelap-nyelip di antara anak-anak, nyaris menabrak jatuh seorang cowok berkacamata tebal yang sedang membawa setumpuk tinggi buku dan menerima celaan dari serombongan besar cewek-cewek kelas tiga yang diterobosnya, akhirnya ia bisa menyamai langkah cepat Sasuke.
"Oi, Sasuke!" engahnya, seraya menangkap bahu sahabatnya, memaksanya berhenti.
"Hn," sahut Sasuke sambil berhenti, menoleh memandang Naruto yang terengah-engah dengan malas.
"Gila kau! Kenapa ditolak, eh?" tuntut Naruto setelah berhasil mengatur napasnya.
"Aku gila kalau menerimanya, Naruto!" Sasuke menukas kesal. "Aku orang luar klub kalian, mana bisa tiba-tiba saja aku jadi pemain inti tanpa perlu susah-susah berlatih keras seperti kalian! Itu ide gila yang sama sekali tidak masuk akal. Dan kau pikir aku tidak melihat bagaimana tampangmu tadi waktu Temujin mengajakku bergabung, eh? Dan tampang mereka semua?"
Naruto terperangah menatap Sasuke selama beberapa saat, menyadari kalau ia benar. Jujur, Naruto merasa agak sakit hati ketika Temujin mengatakan hanya Sasuke yang pantas menggantikan Sumaru di posisi penyerang, meskipun ia tentu saja tidak mau mengakuinya di depan Sasuke. Dan setelah beberapa lama, ia berkata lagi, "Tapi kami betul-betul membutuhkah pemain untuk menggantikan Sumaru. Dia mengalami kecelakaan dan kakinya patah, jadi—"
"Masih banyak yang lebih pantas, Naruto. Pemain di sini tidak hanya aku," kata Sasuke geram.
"Tapi kau hebat. Mereka semua tahu kau adalah the best—"
"Omong kosong!" Sasuke memotongnya, mendengus. "Itulah yang paling aku benci, Naruto. Mereka memandangku hanya karena titel itu, atau karena keluargaku atau segalanya yang bukan aku. Aku ingin dipandang hanya sebagai SASUKE!"
Naruto langsung gelagapan melihat wajah Sasuke begitu gusar. "M-maksudku bukan seperti itu, Sasu—"
"Dengarkan aku, Naruto. Sebaiknya kita tidak membicarakan ini lagi, oke? Dan kalau kau mau tahu pendapatku, ada orang lain yang jauh lebih pantas dengan posisi itu." Sasuke meletakan sebelah tangannya di bahu Naruto. "Itu adalah kau, tahu?"
Sekali lagi Naruto dibuat tercengang oleh perkataan Sasuke. Ia tahu Sasuke sudah banyak berubah sejak mereka dihukum bersama-sama. Tapi ia sama sekali tidak menyangka cowok menyebalkan yang sekarang menjadi sahabatnya ini begitu memikirkan dirinya. Ia baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu ketika Sakura muncul dari kelas Kimia. Gadis itu bersandar di pintu dengan kepala meneleng memandang mereka.
"Aku kira siapa yang berteriak-teriak. Ternyata kau, Sasuke," katanya pada Sasuke yang langsung menurunkan tangannya dari bahu Naruto. Sakura menaikkan sebelah alisnya ketika Sasuke menghela napas lalu berjalan melewatinya untuk masuk ke dalam kelas, sama sekali tidak menanggapinya. "Ada apa, Naruto?" gadis itu ganti menanyai Naruto dengan keheranan.
"Er... tadi Sasuke ditawari masuk ke tim inti untuk pertandingan nanti," Naruto menjawab sambil mengangkat bahu.
"Tidak!" kata Sakura terkejut. Gadis itu menegakkan diri dan mendekati Naruto, bertanya dengan suara pelan, "Lalu apa katanya?"
"Dia menolaknya," jawab Naruto sambil mengangkat bahu.
"Oh!" kata Sakura sambil tersenyum. "Keputusan bijak. Aku juga pasti akan menolak kalau aku jadi dia." Lalu ia berbalik dan menyusul Sasuke masuk ke dalam kelas.
"Kenapa?" tanya Naruto seraya menyusulnya.
"Oh, kenapa bertanya? Aku pikir kau lebih pantas. Setelah semua kerja keras itu, mereka pasti sudah gila kalau tidak mengajakmu," Sakura menjawab santai sambil berjalan di antara bangku-bangku menuju mejanya di depan meja Sasuke.
Naruto tersenyum penuh haru mendengar jawaban yang hampir sama dengan jawaban Sasuke keluar dari mulut Sakura. Ia menatap punggung Sakura dengan penuh rasa terimakasih. Ia lantas melangkah untuk menyusul kedua sahabatnya dengan rasa sayang yang telah berlipat ganda terhadap keduanya.
"Ooh... kau benar-benar bijaksana, Tuan Jenius," Naruto bisa mendengar Sakura berkata pada Sasuke ketika ia meletakan tasnya di atas meja dan duduk di bangkunya yang biasa di sebelah bangku Sasuke. Ia melihat Sasuke membelalakkan mata pada gadis itu.
"Diam kau!" desisnya.
Sakura memutar bola mata hijaunya seraya tertawa. "Dasar! Masih sok cool begitu," ejeknya sambil menjulurkan lidah. Sasuke mencibirnya, sebelum ujung-ujung bibirnya berkedut, menahan senyum.
Naruto tertawa senang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kelas, ke arah anak-anak yang mulai berdatangan untuk mengikuti kelas Kimia hari itu. Tapi kemudian, Naruto merasa ada yang kurang. "Mana Sai?" tanyanya pada Sasuke dan Sakura yang masing-masing tengah sibuk mengeluarkan buku.
Sasuke dan Sakura bertukar pandang sekejap sebelum Sakura berkata dengan nada janggal, "Er... sepertinya dia ke toilet dulu tadi," dustanya. Tidak mungkin kan, kalau ia memberitahu Naruto bahwa ia dan Sasuke telah meninggalkan cowok menyebalkan itu di kantin? Untunglah tepat saat itu Sai muncul dari arah pintu. Dan sakura lega bukan main melihat tampang Sai yang masih penuh senyum. Sepertinya ia tidak marah karena ditinggal tadi—atau pura-pura tidak marah?
"Oi, Sai!" panggil Naruto seraya melambaikan tangannya. "Kemari! Duduk di sini!" ia menunjuk ceria ke bangku kosong di depan bangkunya, di samping bangku Sakura.
Baik Sasuke maupun Sakura langsung mengeluh pelan ketika Sai berjalan mendekat.
---
Sai melemparkan tasnya ke tempat tidur setibanya ia di rumah siang harinya. Ingatan tentang apa yang terjadi di sekolah hari ini dan hari sebelumnya terus saja memenuhi otaknya. Akhirnya setelah menghabiskan beberapa hari dengan berusaha mendekati ketiganya—yang selalu saja berakhir dengan keragu-raguan—Naruto dan yang lain mau juga berteman dengannya. Sai tidak mengerti dengan pasti apa yang dirasakannya saat itu.
Ia teringat lagi saat Naruto membelanya di kantin hari sebelumnya, saat pertama kali Naruto berkata kalau Sai adalah temannya. Lalu hari ini... saat mereka akhirnya mengajaknya bergabung bersama mereka di kantin. Duduk di dekat mereka saat di kelas Kimia. Sai tidak mengerti perasaan macam apa yang saat itu menyerangnya saat itu. Apakah mungkin... terharu? Tersentuh? Perasaan hangat macam apa itu?
Oh, mengapa aku bahkan tidak bisa mengontrol senyumku? Dan mengapa menahan tawa menjadi sedemikian sulit sampai terasa menyakitkan? Kak Shin, bisakah kau jelaskan perasaan macam apa ini?
Sai duduk di tepi ranjangnya, mengerling foto dirinya dan sang kakak yang diletakkan di meja samping tempat tidurnya. Ia tersenyum kecil, lalu menghela napas sebelum akhirnya merebahkan diri di atas ranjangnya yang hangat dan nyaman, memandang langit-langit tinggi kamarnya. Sekali lagi ia membiarkan perasaan asing yang menyenangkan itu menguasainya. Seperti inikah rasanya diterima dan punya teman?
Tapi ada satu hal yang mengganggunya. Sasuke dan Sakura. Sikap mereka yang masih sedingin es terhadapnya seakan mereka masih belum menerimanya dengan tangan terbuka. Apa ada yang salah? Apa aku melakukan hal yang salah sehingga mereka masih membenciku? Batin Sai mendadak resah lagi. Ia menyapu rambut yang terjatuh di dahinya ke belakang dengan sikap gelisah.
Debaran itu datang lagi. Napasnya bertambah cepat. Sekujur tubuhnya mulai gemetaran dan terasa dingin. Oh, sial! Ia merutuk sambil bangun dari posisi tidurnya. Dengan cepat membuka laci meja untuk mengambil botol obatnya—tapi ternyata botol itu kosong. Obatnya sudah habis. Sial, sial, sial!
Tenang, Sai... ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Tarik napas dalam-dalam... buang perlahan-lahan... tarik napas... buang... tarik... buang.. tarik... buang... dan perlahan degupan jantungnya kembali melambat. Sudah lebih baik sekarang—meskipun tubuhnya masih agak gemetaran, tidak seefektif kalau meminum obat.
Tiit... Tiit...Tiit...
Reminder di ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sai beranjak dari ranjangnya untuk mengambil ponselnya dari atas meja belajarnya. Jadwal terapi dengan Dokter Yakushi pukul enam sore. Sai mengerling arlojinya. Masih tiga jam lagi, ia masih punya waktu untuk mengisi buku harian.
Buku harian. Sudah beberapa hari ini Sai selalu lupa mengisi buku itu, barangkali ia terlalu sibuk mendekati Naruto dan kawan-kawan sampai lupa membuat catatan harian. Biar sajalah, toh Dokter Yakushi tidak akan marah, pikirnya. Tapi sekarang ia sedang ingin menulis, banyak sekali hal yang ingin diceritakannya di sana.
Tapi di mana Sai menyimpan buku itu? Ia telah mencari ke segala penjuru kamar, membongkar lemari dan laci-laci. Tapi buku itu tidak ditemukan di mana pun! Barangkali bukan di kamar, pikirnya. Ia lantas mulai mencari di luar kamarnya. Ia memulai di studio lukis—tempat yang paling sering dikunjunginya di rumah itu.
Ruangan itu sudah kembali seperti semula sejak Sai menghancurkannya tempo hari. Ornamen-ornamen baru sudah ditata sedemikian rupa, kanvas-kanvas kosong telah kembali menempati sudut ruangan, menanti untuk diisi. Sementara lukisan yang terlanjur rusak, telah disimpan di gudang. Dan lukisan Sang Bidadari masih terpajang di tempatnya semula. Tapi kali ini Sai sedang tidak berminat memandangi masterpiece milik Shin. Ia membongkar kotak peralatan, mencari di penjuru ruangan, di balik kanvas—bahkan ia telah memerintahkan semua pelayannya untuk ikut mencari buku bersampul kulit hitam itu—namun mereka tidak menemukannya.
Sialan! Di mana buku itu?!
Sai mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali ia menulis di buku itu. Kemarin? Tidak... Kemarin lusa? Sepertinya juga tidak... Tunggu dulu! Ingatan Sai melayang saat akhir pekan sebelum ini. Ya, tentu saja. Saat itu ia membawa bukunya ke makam. Barangkali masih ada di mantel yang ia kenakan saat itu.
Dengan pikiran seperti itu, Sai bergegas kembali ke kamarnya. Disambarnya mantel dari gantungannya dan mulai merogoh-rogoh setiap saku yang ada. Tapi hasilnya nihil. Barangkali bukan mantel yang ini.
"Yuugao!" ia berteriak memanggil pelayannya sambil berjalan keluar kamar lagi. "Yuugao!!"
Seorang wanita muda dengan rambut keunguan bergegas datang padanya dengan berlari-lari kecil. Napasnya terengah-engah. "Kami belum menemukannya, Tuan Muda," beritahunya.
"Cari di semua mantelku kalau begitu. Atau jaket—barangkali aku menyimpannya di sana," kata Sai sambil menyorongkan mantel panjang di tangannya pada sang kepala pelayan. "Suruh yang di bagian laundry juga untuk ikut mencari!"
Yuugao menatap Sai dengan bingung beberapa saat sebelum mengangguk patuh. "Baik, Tuan Muda," ujarnya, lalu berbalik pergi untuk mencari lagi. Sai bisa mendengarnya berkata pada beberapa pelayan untuk membantunya juga.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya suara serak dari belakang Sai.
Sai berputar cepat di tempatnya, terbelalak kaget mendapati sang kakek sudah berdiri di belakangnya dengan bertumpu pada tongkat berjalan di tangannya. Meskipun mereka tinggal dalam satu atap, namun Sai amat jarang berinteraksi dengan sang kakek yang supersibuk. Terlebih setelah kematian Shin yang agaknya telah membuat hubungan mereka yang memang kaku semakin kaku—bahkan ini adalah kali pertama sang kakek bicara lagi padanya sejak meninggalnya cucu pertamanya.
"Kakek," kata Sai agak terengah. Ia masih memandang kakeknya dengan tatapan terkejut. "Kau bicara padaku?"
Kakeknya tidak langsung menjawab, melainkan membalas tatapan Sai dengan sorot mata dingin. "Kau pikir siapa lagi yang kuajak bicara, Nak?" sahutnya datar. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Di perpustakaan, sekarang." Dan tanpa menunggu jawaban Sai, ia berbalik dan berjalan ke arah perpustakaan yang juga ruang kerjanya. Suara tongkat berjalannya yang beradu dengan lantai menggema di penjuru rumah besar itu.
Sai masih terpaku di tempatnya, terperangah menatap punggung sang kakek yang kian menjauh. Setelah sekian lama... apa yang hendak dibicarakannya? Dengan perasaan bingung bercampur penasaran, Sai mengikuti kakeknya.
Perpustakaan di mansion keluarga Sai merupakan sebuah ruangan luas beratap tinggi dengan sebuah kandil kristal besar tergantung di langit-langit. Beraneka macam buku tertata apik di rak tinggi sepanjang dinding. Sebuah perapian besar bergaya klasik di salah satu sisi dinding yang bebas buku, di dekatnya terdapat satu set sofa mewah yang nyaman. Dan ada sebuah rak kaca besar yang di dalamnya terdapat berbagai macam penghargaan untuk sekolah seni milik keluarganya, Konoha Art Academy, di dekat meja kerja kayu ek berpelitur.
Di sanalah sang kakek sekarang duduk, di belakang meja kerjanya, menanti cucunya dengan kedua tangan mengatup di depan dagu, seperti sedang berdoa. "Duduk, Sai," perintahnya ketika Sai mendekat.
Sai menurut. Ia mendudukkan diri di kursi di seberang meja, menatap kakeknya, menunggu. Lama keduanya terdiam sementara mata hitam sang kakek tidak pernah lepas meneliti wajah Sai.
"Dokter Yakushi sudah bicara padaku," kata sang kakek setelah beberapa lama keheningan yang tidak nyaman—setidaknya bagi Sai—"tentang masalahmu."
Sai mengangguk untuk menunjukan kalau ia mendengarkan. Tuan Danzou tidak suka disela, Sai tahu itu dengan baik. Dan di sanalah ia, duduk diam dan mendengarkan sementara sang kakek melanjutkan,
"Dan menurutnya, terapimu belum banyak mengalami kemajuan," Danzou menurunkan kedua tangannya dan membungkuk, menatap cucunya. Tatapan yang dihindari Sai karena tepat saat itu ia memalingkan wajahnya. Danzou menghela napas berat. "Adakah yang ingin kau katakan padaku, Nak?"
Sai menatap lantai dengan bimbang. Tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada sang kakek. Ini sungguh sangat aneh bagi Sai yang terbiasa diabaikan oleh kakeknya. "Tidak, Kek," ia menggumam.
"Dokter Yakushi memberitahuku barangkali dengan mengajakmu bicara akan sedikit membantu terapimu. Kau yakin tidak ada yang ingin dibicarakan?" tanya Danzou lagi.
Well, kenapa baru sekarang peduli? Sai membatin. Apa kau tidak bisa melihat, Kakek Danzou, aku sangat sakit. Tiba-tiba saja Sai merasa marah pada kakeknya. Ia lantas mengangkat wajah membalas tatapan sang kakek dengan sama dinginnya.
"Tidak," ujarnya lebih tegas.
Danzou mengangguk, lalu menghela napas. Ia kembali menyandarkan punggung di punggung kursi berlengannya, masih menatap Sai. "Baiklah, kalau begitu," katanya dengan suara berat. Kedua tangannya kembali terkatup. "Sekarang kita akan membicarakan hal penting yang menyangkut masa depanmu."
Sai mengerutkan alis dengan bingung. "M-menyangkut masa depan? Apa maksud Kakek?"
"Beberapa kolegaku bertanya mengenai dirimu, Nak," Danzou memulai. "Mereka menyayangkan pengunduran dirimu dari Akademi tanpa alasan yang jelas, padahal menurut mereka kau sangat berbakat. Kau ingat Tuan Mizuno dari Suna School of the Art? Beliau sangat tertarik dengan permainan pianomu saat perjamuan makan malam kemarin, dan katanya ingin mengajakmu bergabung di perusahaan musiknya kalau kau mau ikut serta dalam showcase (1) nanti."
"A-apa maksud Kakek?" ulang Sai, seakan ia tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan kakeknya.
"Maksudku adalah kau sebaiknya melupakan soal melukis," kata Danzou.
Sai merasakan hatinya mencelos. "A-apa?"
"Aku bilang kau sebaiknya melupakan soal melukis," Danzou mengulangi. Ada ketidaksabaran dalam suaranya. "Kembali ke Konoha Art Academy secepatnya. Aku sudah mengurus kepindahanmu dari Departemen Seni Rupa ke Departemen Musik, divisi piano."
"Kakek tidak bisa seenaknya memutuskan sepihak seperti itu!" ujar Sai keras. Emosinya terpancing. Bisa-bisanya dia menyuruhku melupakan dunia lukis di saat aku hampir berhasil mendapatkan sense-ku kembali! pikirnya marah. Bisa-bisanya dia memintaku melupakan dunia yang dicintai Kak Shin hanya karena perkataan tolol koleganya? "Aku tidak akan pernah meninggalkan dunia lukis!"
"Lupakan," tegas Danzou tajam, "Kau tidak lagi bisa menghasilkan apa pun di sana. Bukankah kau sendiri yang bilang pada Dokter Yakushi kalau kau sudah kehilangan sense-mu? Jadi lupakan saja. Masih banyak cara yang bisa kau lakukan untuk menjadi seniman—"
"Tidak!" sela Sai, melompat berdiri. Jantungnya berdetak cepat dan napasnya mulai memburu saat kemarahan kembali menguasainya. "Aku sedang mencoba mendapatkan kembali sense-ku, Kek! Aku tidak bisa berhenti begitu saja. Akan kubuktikan kalau aku bisa menjadi kebanggaanmu seperti kakak!"
"Itulah masalahnya, Sai," kata Danzou seraya ikut berdiri, berjalan tertatih mengitari meja, "karena selama ini yang mendorongmu melukis adalah Shin, dan setelah dia tidak ada kau jadi kehilangan kemampuanmu. Dan apa yang kau lakukan sekarang tidak ada gunanya."
"Aku sedang mencoba!" raung Sai lepas kendali. Ia mulai berjalan mondar-mandir dengan sikap gelisah. "Aku yakin akan menemukan sesuatu di sekolahku yang sekarang! Dokter Yakushi memberitahuku—"
"Tapi seperti itu tidak berjalan sesuai keinginanmu, Nak," kata Danzou dengan helaan napas lelah. "Dari dulu kau adalah orang yang antisosial, jadi percuma saja bergaul dengan anak-anak biasa itu. Kau tidak akan dapat apa-apa. Kau tidak akan menghasilkan apa-apa lagi kecuali sampah. Tapi lihat... kau punya masa depan bagus di dunia musik!"
Sai terkesiap. Ia telah berhenti mondar-mandir dan sekarang memandang kakeknya dengan tatapan marah. "Sampah, eh?" desisnya seraya berjalan menuju meja. "Jadi itulah penilaianmu terhadapku selama ini? Sampah?"
"Sudah tidak ada waktu lagi. Dalam beberapa bulan ke depan showcase akan segera diadakan dan kau harus ada di sana," kata Danzou tenang seakan ia tidak mendengar apa-apa.
"AKU TIDAK AKAN PERGI KE SHOWCASE SIAL ITU!!" Sai berteriak lepas kendali. "AKU TIDAK AKAN KEMBALI KE AKADEMI! AKU TIDAK AKAN PINDAH DARI MANA-MANA! KAU DENGAR AKU, KAKEK SIALAN?!"
"Sai!" sang kakek melotot kaget. "Kau yang akan mendengarkanku! Aku akan kembali ke akademi secepatnya! Kau benar-benar anak bikin malu—"
"Oh!" sahut Sai dramatis, jarinya yang menuding gemetaran. "Jadi sekarang aku anak bikin malu? Tidak bisa mendatangkan kebanggaan padamu seperti kakak, eh? Kau egois!"
PLAK!
Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Sai. Kakeknya telah memukulnya dengan punggung tangan, membuat cucunya itu terhuyung menabrak kursi. Sai merasakan perih di sudut bibirnya, dan saat ia menyekakan tangannya ke sana, ia melihat cairan merah. Asin. Darah. Ia lalu mengakkan diri dengan bertumpu pada pegangan kursi, memandang wajah murka kakeknya dengan tatapan penuh kebencian.
"Anak tidak tahu diri," desis Danzou dengan suara bergetar, "Sudah bagus aku masih memikirkan masa depanmu. Setelah kakakmu meninggal, aku benar-benar berharap kau bisa menggantikannya—"
"Jadi benar, kan?" dengus Sai pelan, nyaris berbisik, "Selama ini kau hanya menganggapku sebagai pengganti kakak," ia tertawa getir, matanya basah karena perih di pipi, juga hatinya, "kalau begitu aku minta maaf sudah mengecewakanmu, Kakek Danzou! Aku menyerah menjadi cucumu." Ia lantas berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah cepat, membanting pintu di belakangnya.
Sai berjalan cepat menjauhi perpustakaan, mengabaikan teriakan mengutuk kakeknya, mengabaikan para pelayan yang dilewatinya. Ia terlampau marah untuk memedulikan apa pun saat itu. Ia sudah tidak tahan lagi. Bisa-bisa ia menjadi sinting betulan kalau lama-lama berada di tempat ini.
Dengan pikiran seperti itu, Sai melangkah keluar dari rumah besarnya. Mengabaikan panggilan para pelayannya yang berusaha mengejarnya, ia mempercepat langkahnya sampai akhirnya ia berlari. Jantungnya berdentum-dentum dalam rongga dadanya, napasnya memburu. Sai berlari terus, semakin lama semakin cepat dan jauh meninggalkan rumah. Tidak memedulikan klakson mobil ketika ia menerabas jalanan yang macet dan makian orang-orang yang ditabraknya, ia terus berlari. Membiarkan terpaan angin dingin di wajahnya menghapus rasa frustasinya sedikit demi sedikit.
Hari sudah gelap ketika ia mulai kelelahan. Peluh mengucur deras di tubuh dan wajahnya, dan ia mulai menggigil kedinginan. Langkahnya mulai melambat dan gontai. Napasnya terengah-engah. Dengan bingung, ia memandang berkeliling. Rupanya tanpa sadar kakinya telah membawanya ke kota Konoha.
Tidak mungkin... Bagaimana aku bisa sampai di sini? pikirnya bingung seraya mencengkeram kepalanya yang terasa sakit.
"Sai?" tiba-tiba terdengar suara yang sudah sangat familiar tertangkap telinganya.
Sai menoleh. Penglihatannya mulai mengabur. Samar-samar ia bisa melihat bayangan orang dengan mantel panjang mendekat padanya. Ia tersenyum lemah ketika mengenali profil orang itu.
"Dokter Yaku—" kata-katanya terputus. Tubuhnya melemah. Ia roboh.
"Astaga, Sai! Kau kena..." suara dokter itu seakan berasal dari tempat yang sangat jauh sebelum Sai akhirnya benar-benar jatuh ke dalam kegelapan.
---
Entah sudah berapa lama waktu telah berlalu sejak ia pingsan. Yang Sai ketahui sekarang, ia sedang berbaring di sebuah kasur empuk yang hangat dan nyaman. Sai bergerakan kepalanya dan langsung mengernyit ketika rasa pusing itu menderanya lagi.
"Ah, dia sudah sadar!" terdengar suara seorang wanita. Ia merasa ada yang menyentuh keningnya, lalu sentuhan itu menghilang sama cepatnya dengan datangnya. Kemudian ia mendengar suara langkah bergegas meninggalkan ruangan.
Sai membuka matanya perlahan dan memandang berkeliling dengan bingung. Ruangan itu sama sekali bukan kamarnya. Ukurannya jauh lebih kecil dari kamarnya yang asli, tapi terasa hangat. Sai sedang mencoba untuk menarik tubuhnya bangun ketika terdengar suara dari arah pintu,
"Sebaiknya kau jangan bangun dulu, Sai."
Sai mengangkat wajahnya dan melihat dokter Yakushi sedang berjalan ke arahnya. Dokter muda itu tidak mengenakan jas dokternya, melainkan pakaian santai berupa sweter cokelat berkerah tinggi dipadu jeans biru tua. Ekspresinya cemas ketika ia duduk di tepi ranjang tempat Sai berbaring. Seorang wanita dengan rambut cokelat ikal membingkai wajah lembutnya berdiri di sisinya. Ekspresinya sama cemasnya dengan pria di sampingnya.
"Bagaimana perasaanmu?" dokter Yakushi menanyainya.
"Tidak terlalu baik, Dok," jawab Sai dengan suara lemah.
Dokter itu menghela napas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jelas sekali, Sai. Kau kelihatan sangat kacau," katanya seraya mengambil stetoskop dan penlight yang diletakkan di meja sebelah ranjang lalu mulai melakukan pemeriksaan standar. "Apa yang terjadi?" tanyanya setelah selesai memeriksa.
"Saya lari dari rumah," jawab Sai pelan. "Maksud saya, benar-benar berlari."
"Astaga," desah wanita di samping dokter Yakushi sambil memekap mulutnya, "Itu kan jauh sekali jarak dari Root Hills kemari."
"Saya baru saja bertengkar dengan kakek," beritahu Sai, tapi dokter muda itu cepat-cepat menggeleng, menyuruhnya berhenti bicara.
"Nanti saja kita bicara, Sai. Sekarang yang kau butuhkan adalah istirahat. Michiko—ah, hampir lupa. Sai, ini istriku, Michiko—" wanita itu mengangguk sambil tersenyum hangat, yang dibalas Sai dengan anggukan singkat. "Michiko, tolong kau siapkan makan malam untuk Sai."
"Baiklah," sahut Michiko. Wanita itu bergegas meninggalkan kamar untuk menyiapkan makan malam bagi Sai.
"Bagaimana lukamu?" dokter Yakushi bertanya lagi sambil menunjuk ke sudut bibirnya sendiri.
"Oh, ini," Sai menyentuh sudut bibirnya. Lukanya masih terasa amis di mulutnya, tapi sudah tidak begitu perih lagi. "Sudah tidak apa-apa, Dok." Meski begitu, hatinya terasa sakit saat teringat penamparan yang dilakukan sang kakek terhadapnya.
"Baguslah," kata sang dokter sambil tersenyum lega.
"Dok," kata Sai kemudian, teringat buku hariannya. "Saya kehilangan buku harian saya."
"Tidak masalah," sahut dokter Yakushi lembut, "Kau bisa menulis di buku yang lain, Sai."
Tepat saat itu terdengar suara tangisan bayi dari kejauhan, membuat dokter muda itu menoleh. "Ah, anakku," ia memberitahu Sai dengan senyuman minta maaf. "Dia memang sedang rewel-rewelnya. Aku tinggal dulu kalau begitu. Kau istirahat saja. Anggap saja rumah sendiri, oke?"
Sai mengangguk. Dan ketika dokter Yakushi meninggalkan kamar, ia kembali menghenyakkan diri di bantalnya. Segala frustasi dan pertengkarannya dengan sang kakek siang itu kembali berputar-putar di kepalanya, menyiksanya lagi. Ia harus bicara pada dokter Yakushi malam ini, pikirnya, sekalian memenuhi sesi terapinya.
Dan itulah yang dilakukannya malam itu. Setelah menghabiskan makan malam yang disediakan nyonya Yakushi—berupa bubur dan sup ayam hangat—Sai minta bicara pada dokternya. Dokter itu langsung menyanggupi dan saat berikutnya ia sudah membiarkan Sai bicara panjang lebar tentang masalahnya, termasuk pertengkarannya dengan kakeknya siang tadi.
Dokter Yakushi menghela napas panjang setelah Sai menceritakan kegundahannya. Pria itu menaikkan posisi kacamata di atas hidungnya dan berkata dengan nada lembut, "Pernahkah kau berpikir kemungkinan lain mengapa kakekmu bicara seperti itu, Sai? Maksudku, barangkali saja ia terlalu mengkhawatirkanmu sehingga menyuruhmu berhenti melukis."
Sai mendengus sangsi. "Kakek hanya mementingkan gengsinya saja. Dia tidak suka saya bersekolah di sekolah umum."
Dokter Yakushi menggelengkan kepala. "Kakekmu juga kerap bercerita tentangmu padaku, Sai. Dan pendapatmu tentangnya, menurutku tidak sepenuhnya benar," lanjut dokter Yakushi seraya tersenyum, "Cobalah untuk bicara lagi padanya. Ya ya, aku tahu itu mungkin terlampau sulit karena kondisi psikismu yang masih belum stabil," ia menambahkan cepat-cepat ketika melihat gelagat Sai yang akan menyelanya. "Itu bisa dilakukan lain waktu, jadi kau santai saja. Oke?"
Sai mengangguk perlahan. Tiba-tiba saja ia seperti teringat sesuatu. "Dok, sepertinya saya sudah mendapatkan apa yang Anda sarankan pada saya."
Dahi dokter muda itu berkerut ketika ia menatap bingung pada Sai. "Apa maksudmu, Sai?"
"Saya akhirnya mendapatkan teman," kata Sai, tidak bisa mencegah nada riang dalam suaranya.
"Itu bagus," sahut sang dokter dengan senyuman di wajahnya.
"Salah seorang anak di sekolah saya mengajak saya bergabung dengan kelompoknya. Dia juga membela saya dan bersikap baik pada saya," tutur Sai lagi. Ia kemudian meletakkan sebelah tangannya di dada. "Di sini, saya merasakan ada yang aneh. Rasanya aneh tapi menyenangkan, hangat. Apakah ini rasanya memiliki teman, Dok?"
Dokter Yakushi tampak berpikir sejenak sebelum berkata, "Aku rasa, ya, memang seperti itu rasanya. Perasaan diterima oleh orang lain yang disebut teman selalu membuat kita merasa aman dan hangat, juga ada perasaan gembira saat kita menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman kita."
"Apakah benar perasaan itu semua pasti bisa menumbuhkan sense melukisku lagi?" Sai bertanya antusias.
Dokter muda itu tertawa kecil. "Aku tidak pernah bilang pasti bisa, Sai," ia berkata sabar. "Tapi aku percaya keajaiban bisa terjadi dalam persahabatan yang tulus. Tulus, berarti tanpa pamrih. Cobalah untuk tidak memikirkan soal menumbuhkan sense saat bersama mereka, karena itu bisa termasuk pamrih juga."
Sai mengangguk paham. "Satu hal lagi, Dok," ujarnya lagi. Wajahnya berubah muram. "Kenapa orang-orang sulit sekali menerima saya? Maksud saya, mereka selalu berkata mulut saya seperti sampah. Saya tidak mengerti..."
"Itu karena kau memang bermasalah dengan cara berkomunikasimu, seperti yang aku katakan sebelum ini, Sai. Tapi kau tidak perlu terlalu khawatir. Kau bisa mempelajarinya pelan-pelan. Begini saja, aku punya buku panduan berkomunikasi di perpustakaan. Aku bisa meminjamkannya padamu. Dan aku juga merekomendasikan terapi kelompok untukmu, karena yang punya masalah seperti ini bukan hanya kau. Bagaimana?"
Sai mengangguk cepat. "Terimakasih, Dok."
"Baiklah, kalau begitu," dokter Yakushi beranjak dari duduknya di kursi sebelah ranjang Sai. "Sudah larut, sebaiknya kau tidur. Untuk sementara, kau bisa tinggal di sini. Tadi aku sudah memberitahu kakekmu kalau kau ada di sini, supaya dia tidak cemas. Dan—ah! Sebaiknya kau tidak perlu masuk sekolah dulu selama beberapa hari. Aku akan mengurus surat izin untukmu supaya kau bisa istirahat."
Sai mengangguk lagi.
"Selamat malam, Sai," ucap sang dokter ketika ia sudah sampai di ambang pintu.
"Malam, Dok," balas Sai.
Dokter Yakushi kemudian menutup pintu di belakangnya perlahan.
---
TBC...
---
(1) Istilah showcase aku pinjam dari film Step Up yang pertama. Showcase itu istilah di MSA (sekolah seni di film itu) semacam acara tahunan tempat ajang para murid tingkat akhir unjuk kebolehan mereka dalam berseni, seperti ujian di sini biasanya 'orang-orang penting' yang hadir bisa 'menarik' anggota dari acara ini atau memberi semacam beasiswa untuk ngelanjutin sekolah. Kurang lebih gitu deeeh...
Satu lagi OC untuk istrinya Kabuto, Michi~ Aku ambil dari nick-name teman kampusku. Gyaaa... –ditimpukin Michi karena udah seenaknya nyomot nama dia- Btw, Kabuto-kun OoC bangeeets... dia jadi kayak bokapnya Sai deh. Haha...
Ah, sepertinya cerita ini mulai membosankan dan gak jelas yah? Atau aku-nya ajah yang lagi gak bersemangat? –sigh- Liat aja tuh, chap ini isinya cuma dialog doang. –gegulingan di kasur- XD
Buat semua yang udah membaca dan mereview, makasih banyak yah... –peluk-peluk Ambu, Chika, Uci-chan, PinkBlue Moonlight, Kakkoii-chan, Uzumaki Khai dan Antlia sekaligus-
