Chapter 30
Konoha High, kelas Science
"Psst… Sasuke?" kepala berambut pirang itu meneleng ke bangku di sampingnya, ke tempat sahabatnya yang berambut hitam kebiruan itu duduk, mendesis pelan.
"Hn?" Sasuke menyahut pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya sementara bolpoint-nya tidak berhenti bergerak lincah di atas kertas, menulis berderet angka dan rumus rumit.
Si rambut pirang mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah bangku Sasuke. "Aku belum memberitahumu, kan? Siang ini akan ada uji coba untuk pemain inti lagi!" beritahunya dalam bisikan keras. Mata birunya bersinar-sinar antusias.
Sasuke menghela napas keras, lalu memutar bola matanya. "Kau sudah memberitahuku setidaknya duapuluh kali sejak pagi, Naruto!" ia balas mendesis, lalu kembali menunduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Naruto mengernyitkan alis. "Masa?" tanyanya pura-pura heran. Tentu saja ia ingat telah memberitahu Sasuke—dan Sakura—tentang berita itu. Hanya saja ia tidak bisa menahan diri untuk terus menyebut-nyebut soal 'kesempatan kedua'-nya itu. Ia terlalu bersemangat.
"Hn," gumam Sasuke tanpa mengalihkan perhatian dari bukunya. "Kalau sekali lagi aku mendengarmu ngomong lagi soal itu, aku bersumpah akan menjejalkan kertas ini ke mulutmu!" ia menambahkan seraya meremas kertas oret-oret-nya dengan sikap mengancam, tepat di saat Naruto baru saja akan membuka mulut untuk bicara lagi. Bukannya Sasuke tidak suka, hanya saja mendengar hal yang sama berulang-ulang—terlebih itu dilakukan oleh manusia superberisik seperti Naruto—lama-lama membuatnya sebal juga.
Ah, diam-diam ia merasa iri pada Sakura yang duduk sedikit lebih jauh dari Naruto sehingga tidak perlu merasa terganggu oleh ocehan cowok itu yang tanpa henti. Atau setidaknya, gadis itu bisa berkonsentrasi lebih baik menyelesaikan soal Science supersulit ini.
Naruto menutup mulutnya dengan tangan, nyengir. "Iya deh, sori. Habisnya ini kan kese—"
"Dari pada itu, lebih baik kau selesaikan soal-soalmu, Bodoh!" sela Sasuke dalam suara rendah.
Naruto mencibirnya, kesal dikatai bodoh. Ia kembali menunduk memandang buku soalnya dan langsung mengeluh pelan saat menyadari ia nyaris belum menjawab satu soal pun. Buku tulisnya hanya terisi 'diketahui' dan 'ditanyakan'. Praktis ia hanya baru menyalin soalnya saja.
Oh, kenapa manusia senang sekali merepotkan dirinya menghitung hal-hal seperti ini? Naruto membatin. Apa gunanya coba, menghitung berapa kekuatan bunyi yang sampai di telingamu? Bukankah kalau terlalu keras kita hanya tinggal menutup kuping? Habis perkara!
Mata birunya selama beberapa saat memandangi angka-angka memusingkan itu dengan pandangan kosong, tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan angka-angka itu. Sepertinya saat itu otak Naruto memang sedang tidak bisa diajak berkompromi untuk berkonsentrasi pada soal, karena tidak berapa lama kemudian pikirannya kembali pada uji coba ulang itu.
"Hei, Sasuke," ia berbisik ke bangku sebelah.
Sasuke menoleh dengan ekspresi jengkel di wajahnya. Cowok berambut hitam kebiruan itu melempar pandang ada-apa-lagi-sih! pada Naruto.
"Kau dukung aku, ya! Kali ini aku yakin bisa masuk!" bisik Naruto sambil nyengir.
Sasuke menggeram pelan. "Terserah kau saja lah!" tukasnya. Lalu ia kembali menekuni bukunya.
Tapi Naruto sepertinya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena saat berikutnya, cowok pirang itu bertanya lagi dengan nada antusias, "Hei, menurutmu apa aku cocok kalau jadi penyerang?"
"Kau cocok jadi bolanya," Sasuke menggerutu tanpa mengangkat wajah.
Naruto langsung mencibirnya. "Dasar kau ini! Aku kan cuma ta—"
BRAK! Sebuah penghapus papan tulis melayang ke mejanya, tepat mengenai bukunya yang langsung jatuh ke lantai. Naruto terlonjak—begitu juga dengan separuh isi kelas—dan matanya melebar. Dengan takut-takut, ia lantas menengadahkan kepala menatap wajah seram sang guru. Mata Pak Asuma Sarutobi berkilat-kilat penuh ancaman.
"—nya..." Naruto menelan ludah dengan susah payah. Cowok itu tampak mengkeret di bangkunya saat guru yang terkenal galak seantero Konoha High itu mendekat ke mejanya dengan wajah garang. Sementara itu, kepala seisi kelas menoleh padanya, memandang ngeri.
"NARUTO UZUMAKI!!" gelegar sang guru. "Sudah berapa kali aku tekankan bahwa tidak ada murid yang boleh mengobrol di kelasku kecuali untuk membicarakan pelajaran!"
"Sa-saya membicarakan pelajaran kok, Pak…" cicit Naruto.
"Oh, ya?" tanya Pak Sarutobi dengan nada sanksi dalam suaranya. "Apa tepatnya?"
Naruto menelan ludah sekali lagi seraya melirik pada Sasuke yang duduk di bangku di sebelahnya, mendesiskan "Tolong aku, please..." tanpa suara. Sasuke hanya membelalakkan mata padanya, melempar pandang salahmu-sendiri-ribut!
"UZUMAKI!" bentak Pak Sarutobi, sekali lagi sukses membuat Naruto terlonjak dari bangkunya—begitu juga dengan beberapa anak yang duduk tidak jauh dari mejanya.
"Nomor 27. Saya sedang bertanya tentang soal nomor 27 di diktat, Pak!" ceplos Naruto tanpa pikir panjang. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Pak Sarutobi menyipitkan mata menatap Naruto, menimbang-nimbang apakah anak didiknya itu sedang berbohong atau tidak. Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata tegas, "Kalau begitu kerjakan soal nomor 27 di papan!" Ia mengulurkan marker ke depan hidung Naruto.
Tangan Naruto gemetaran ketika ia mengambil marker itu. Gawat, boro-boro sampai nomor itu, batinnya kecut seraya mengutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Dan ketika gurunya berbalik, ia segera mengambil kesempatan untuk berbisik pada Sasuke, "Tolong aku!"
Sasuke mendengus pelan. Sesaat Naruto mengira sahabatnya itu tidak mau membantunya kali ini. Tapi ia segera dibuat tercengang ketika Sasuke dengan cepat menyambar buku Naruto yang masih bersih, lalu menjejalkan buku pekerjaannya sendiri ke tangan cowok itu.
Naruto mengerling buku Sasuke di tangannya sementara ia berjalan menuju papan tulis. Wah, beruntung sekali. Karena soal nomor 27 adalah soal terakhir yang dikerjakan Sasuke di bukunya. Dengan tangan gemetaran, Naruto menyalin pekerjaan Sasuke di papan. Berharap dengan sepenuh hati supaya jawaban Sasuke benar.
---
Kantin Konoha High
"Wow!" ucap Sakura terkagum saat istirahat makan siang di kantin. "Kau tadi hebat sekali, Naruto! Soal nomor 27 itu kan soal yang paling sulit! Aku saja kesulitan mengerjakannya!"
Naruto nyengir bangga sementara Sasuke mendengus ke piring kaserolnya.
"Aku tidak kepikiran langkah mengerjakannya seperti itu. Wah, kau ternyata pintar juga ya..." puji Sakura lagi. "Tapi aku tidak mengerti. Kenapa setelah itu Pak Sarutobi memberimu tugas ekstra?" tanyanya sambil menatap Naruto dengan tangan diletakkan di dagu, seakan sedang berpikir.
Cengiran di wajah Naruto langsung lenyap digantikan dengan rona merah yang dengan cepat menjalar sampai telinganya. Sasuke tertawa mengejek. Tak perlu dikatakan lagi bahwa Naruto ketahuan hanya menyalin pekerjaan Sasuke.
"Terimakasih banyak, Sasuke," Naruto menggerutu sinis pada Sasuke yang masih mengeluarkan tawa kecil mengejek. Ia menghela napas, menoleh pada Sakura. "Paman galak itu rupanya tahu kalau buku yang kubawa tadi buku Sasuke, bukannya bukuku sendiri."
Sakura tertawa. "Sudah kuduga!" kekehnya. "Kau sih, cari gara-gara di kelas Pak Sarutobi. Kau kan dia tahu orangnya gimana... Superdisiplin."
"Gak lagi-lagi deh," gumam Naruto. Ia meraih botol jus apel, menyeruputnya banyak-banyak. "Tapi kalian tidak bisa menyalahkanku. Soalnya aku antusias banget dengan uji coba ulang ini—tapi bukan berarti aku senang Sumaru patah kaki lho," ia buru-buru menambahkan.
"Iya iya, tahu kok," sahut Sakura. Gadis itu mengulurkan tangan, menepuk-nepuk bahu Naruto menyemangati. "Selamat berjuang nanti siang kalau begitu, Naruto!"
Cengiran khas Naruto merekah lagi di wajahnya ketika ia menatap gadis pujaannya itu. "Trims, Sakura! Eh, omong-omong," kata Naruto seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin yang ramai, mencari sesuatu. "Perasaan sejak pagi aku belum lihat Sai. Kemana dia, ya?"
Sasuke dan Sakura bertukar pandang, lalu sama-sama mengangkat bahu. "Sakit, kali," jawab Sakura asal. Jelas sekali kalau ia dan Sasuke masih belum bisa menerima Sai. Hal yang tentu saja disadari Naruto, tapi ia pura-pura tidak menyadarinya, berharap sikap kedua sahabatnya itu bisa berubah seiring waktu.
Namun siang harinya, saat Naruto menjalani uji coba ulang di lapangan—dengan kedua sobatnya yang dengan setia menontonnya dari bangku penonton, tentu saja—cowok itu merasa bersemangat bukan kepalang dan ketidakhadiran Sai di sekolah langsung terlupakan. Uji coba ulang hari itu benar-benar luar biasa, setidaknya itu menurut Naruto yang memang berada dalam kondisi puncak. Cowok itu tidak tampak tegang seperti uji cobanya yang dulu dan ia juga jauh lebih percaya diri.
Sakura bertepuk riuh sambil melompat-lompat ketika Naruto menggolkan bola ke gawang dalam satu sesi latih tanding. Naruto, yang bermandikan peluh, balas melambai pada gadis itu, lalu mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Sasuke.
"Naruto kelihatan hebat!" seru Sakura. "Yeah, meskipun aku tidak begitu mengerti sepak bola," ia menambahkan sambil nyengir. Lalu kembali duduk di bangkunya semula.
"Permainannya memang sudah banyak kemajuan," kata Sasuke yang duduk di sebelahnya, "dia jelas yang terbaik di lapangan hari ini. Aneh kalau dia sampai tidak diterima lagi."
Sakura melempar senyum padanya. "Ow, apakah kau benar-benar Sasuke?" godanya.
Sasuke mencibirnya, membuat gadis itu tertawa-tawa geli. Lalu Sakura bertepuk lagi, berteriak memberi semangat pada Naruto di lapangan sana.
Uji coba baru selesai ketika hari sudah mulai gelap. Anak-anak langsung berhamburan meninggalkan lapangan, termasuk Naruto yang langsung menghampiri kedua temannya di bangku penonton dengan kaus menempel di tubuhnya, basah karena keringat.
"Sori lama," katanya seraya menyambar handuk dari dalam tas dan mulai menyeka peluh dari wajah dan lehernya. "Temujin benar-benar ingin melihat kemampuan maksimal kami. Dia kadang-kadang bisa lebih gila dari Pak Maito, kalian tahu?"
"Lalu bagaimana hasilnya?" Sakura bertanya seraya mengulurkan botol air mineral pada Naruto.
Naruto mengambil botol airnya, membuka lalu menenggaknya banyak-banyak sebelum menjawab Sakura, "Belum tahu. Mereka masih mempertimbangkan," ia mengangkat bahu, "Mungkin besok atau lusa baru keluar hasilnya. Oh, aku benar-benar berharap diterima setelah uji coba gila-gilaan tadi."
"Yeah, berharap saja," desah Sasuke seraya bangkit dari duduknya tepat saat Temujin dan beberapa anak kelas tiga lainnya melewati mereka. Temujin mengangguk singkat dengan ekspresi dingin pada Sasuke—agaknya sang kapten masih tersinggung atas perlakuan Sasuke padanya hari sebelumnya—yang juga membalas dengan sama dinginnya.
"Temujin sepertinya masih marah padamu, eh?" kata Naruto seraya memandang punggung seniornya itu menghilang ke arah gerbang utama.
"Apa peduliku?" tukas Sasuke.
Sakura menepuk lengan Sasuke agak keras. "Tunjukkan sedikit rasa hormatmu pada senior, Sasuke," ujarnya menegus. "Lagipula Temujin itu bukan orang yang seperti itu, kok. Benar kan, Naruto?"
"Yeah. Dia orangnya baik. Mungkin kemarin dia sedang panik karena Sumaru tiba-tiba kecelakaan," Naruto mengangkat bahunya.
"Terserah deh," sahut Sasuke, berlagak tak peduli. Ia lalu berjalan meninggalkan lapangan. "Kita pulang sekarang."
Sakura mengangguk, lalu mengikutinya menuju lapangan parkir yang semakin gelap.
"Hei, tunggu aku!" seru Naruto seraya buru-buru menjejalkan handuknya kembali ke dalam tas, lalu mencangklengkannya ke bahu sebelum berlari-lari kecil menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu mencapai lapangan parkir.
---
Kediaman Dokter Yakushi
Sementara Naruto dan kedua yang lain sibuk dengan kegiatan rutin mereka di sekolah, Sai banyak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mengikuti terapi. Dokter Yakushi telah membawanya ke semacam perkumpulan, tempat orang-orang yang memiliki masalah yang hampir sama dengannya. Di tempat itu ia belajar bagaimana mengendalikan emosinya, sekaligus belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dengan orang lain—meskipun tidak sepenuhnya bisa diharapkan, karena di kelompok itu juga banyak terdapat orang yang senang menggunakan kata-kata makian dan sejenisnya. Tapi setidaknya ia bisa belajar terbuka, sharing dengan orang-orang itu.
Setelah mengikuti sesi terapi, biasanya Sai akan langsung mendekam di perpustakaan kecil di rumah dokter Yakushi, menenggelamkan diri membaca berbagai macam buku yang sekiranya bisa membantu kemajuan terapinya; mulai dari buku-buku supertebal yang berhubungan dengan psikologis sampai buku budipekerti. Dan setiap ada yang tidak ia mengerti, ia akan menanyakan dan mendiskusikannya pada sang dokter ketika beliau pulang dari rumah sakit.
Sai jelas merasa jauh lebih nyaman dan betah tinggal di rumah dokternya itu. Belum lagi istrinya yang baik selalu sabar meladeninya. Ia juga telah mengizinkan Sai bermain dengan Akio, putranya yang masih batita. Walau terkadang Sai—yang masih belum sepenuhnya bisa berinteraksi dengan baik dengan orang lain—merasa tidak begitu yakin apakah ada perkataannya yang telah menyinggung perasaan wanita itu atau tidak, kerena Michiko Yakushi beberapa kali tiba-tiba meninggalkannya di tengah obrolan dengan ekspresi terluka di wajahnya.
"Sepertinya saya salah bicara lagi pada istri Dokter lagi," ujar Sai pelan dengan kepala menunduk suatu malam. Saat itu, ia dan dokter Yakushi sedang duduk di kursi malas di perpustakaan dan mereka baru saja menyelesaikan diskusi superlama yang lain berkaitan dengan masalah Sai. "Tadi sepertinya saya telah membuatnya menangis."
Dokter muda itu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Sai. Orang paling jenius sekalipun ada kalanya keseleo lidah, bukan?" ujarnya kalem.
Sai mengangkat wajahnya, terheran melihat ekspresi tenang dokter Yakushi. Padahal ia barangkali telah melukai perasaan orang yang disayanginya. Bukankah biasanya reaksi orang akan marah? Seperti Inui waktu itu, saat Sai mengatai pacarnya 'ja***g'.
"Tapi kalau keseleo lidah terus-menerus—"
"Kau sedang belajar supaya tidak begitu, aku mengerti," sela sang dokter, masih dengan nada ringan, "dan Michi juga pasti akan mengerti."
"Saya minta maaf, Dok," kata Sai, tidak tahu lagi harus berkata apa. Dan minta maaf sepertinya baik untuk situasi seperti ini.
"Permintaan maaf diterima, Nak," sahut dokter Yakushi riang.
Merasa lega, Sai menyunggingkan senyum. Permintaan maaf, ya... mendadak ia teringat pada Naruto, Sakura dan Sasuke. Rasa bersalah kembali menyergapnya saat itu. Mungkin mereka juga sama seperti Nyonya Yakushi? Tersinggung dengan kata-katanya—meski Sai sendiri tidak begitu yakin kata-katanya waktu itu ada yang salah, ia tidak ingat. Tapi kalau begitu... mengapa mereka malah mau berteman denganku? Terutama Naruto...
"Dok," Sai berkata setelah sunyi beberapa lama.
"Ya, Sai?"
"Besok, setelah sesi terapi kelompok, bolehkan saya pergi ke sekolah?" tanya Sai, "Ada beberapa orang yang ingin saya temui," ia menambahkan.
Dokter Yakushi tampak berpikir sejenak. "Yah, sepertinya kondisimu memang sudah memungkinkan untuk kembali ke sekolah, Sai," katanya sambil tersenyum. "Lagipula batas waktu izinmu juga sudah mau habis. Ya, aku rasa tidak apa-apa."
Sai tersenyum lagi. "Terimakasih, Dok," ucapnya.
"Ah, lihat, sudah jam berapa ini!" seru dokter muda itu kemudian sambil melihat ke arah jam burung di atas rak buku. Tanpa terasa rupanya sudah hampir tengah malam. "Tidak terasa sudah begini larut. Sebaiknya kau tidur sekarang, Sai."
Sai mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. "Selamat malam kalau begitu, Dokter," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Ia berpapasan dengan Michiko Yakushi di koridor menuju kamar tamu. Wanita itu membawa dua cangkir teh hijau mengepul di atas nampan.
"Lho? Sudah mau tidur, Sai?" ia bertanya ramah. Sepertinya ia sudah tidak marah lagi pada Sai—kalau benar ia marah tadinya.
"Iya. Sudah larut," balas Sai sama ramahnya sambil menahan kuap, namun gagal.
Michiko tertawa kecil. "Ya sudah, sepertinya kau juga sudah mengantuk."
Sai mengangguk. "Selamat malam," ucapnya sebelum beranjak menuju kamarnya.
"Malam..." balas Michiko. Ia masih berdiri di sana mengawasi Sai sampai akhirnya Sai menutup pintu kamarnya perlahan. Wanita itu kemudian menghela napas, menunduk memandang cangkir di nampan yang dibawanya. Mengangkat bahu, ia berbalik menuju ruang kerja suaminya.
Kabuto tengah mengembalikan buku-buku yang tadi digunakannya untuk berdiskusi dengan Sai ke tempatnya semula di rak ketika Michiko memasuki ruangan. Ia menoleh dan tersenyum memandang istrinya yang mendekat. "Belum tidur?" tanyanya.
"Belum begitu mengantuk," sahut Michiko sambil meletakkan nampannya di atas meja, lalu bergegas membatu sang suami merapikan buku. "Kukira diskusi kalian masih lama, jadi kubuatkan teh," ujarnya setelah meletakkan buku terakhir di atas rak.
Kabuto duduk kembali di sofa, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya, memberi isyarat supaya istrinya duduk di sampingnya. Michiko menuruti panggilan suaminya. Wanita muda itu duduk, lalu mengambil satu cangkir teh dari atas meja dan menawarkannya pada sang suami. "Sayang kalau dibuang-buang, kan?"
"Benar juga." Kabuto lantas mengambil cangkir yang diulurkan padanya, menyesapnya perlahan. "Terimakasih, Sayang," ucapnya sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. Ia mengerutkan alisnya tatkala mendapati Michiko sedang mengamatinya dengan ekspresi khawatir. "Ada apa?"
Michiko mengambil tangan besar suaminya dan menggenggamnya di antara kedua tangannya yang lebih kecil. "Aku mengkhawatirkanmu. Kau tampak lelah akhir-akhir ini, Kabuto."
Kabuto tersenyum seraya mengulurkan sebelah tangannya yang tidak digenggam sang istri, lalu membawanya merapat di dadanya. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja selama ada kau yang memperhatikanku," bisiknya lembut. Ia menghela napas, lalu melanjutkan, "Lagipula, kau tahu resiko pekerjaanku, kan? Aku dokter yang sudah disumpah..."
"...yang harus selalu siap kapan pun pasien membutuhkan bantuan, hm?" sambung Michiko sambil tersenyum sedih. Ia memejamkan mata sementara suaminya memeluknya, merasakan detak jantungnya, juga dagunya yang menempel di puncak kepalanya. "Aku tahu. Tapi dokter juga manusia biasa yang butuh istirahat."
"Kau tidak sedang menyalahkan Sai, bukan?" tanya Kabuto.
"Tidak," sahut Michiko cepat-cepat. Ia hendak melepaskan diri dari pelukan suaminya, tapi Kabuto mendekapnya lebih erat, tidak mengizinkannya menjauh. Michiko lantas menghela napas dan berkata pelan, "Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, kok..."
Pria itu tersenyum. "Michi?"
"Hm?"
"Aku minta maaf kalau Sai merepotkanmu, ya," ujar Kabuto.
"Aku tidak merasa direpotkan," kata Michiko. "Lagipula anak itu cukup menyenangkan. Akio juga cepat akrab dengannya. Walaupun kadang-kadang dia agak... er..."
"Aku tahu, aku tahu... Terimakasih, Dear..." Kabuto mengangguk mengerti, lalu mengecup puncak kepala istrinya sebelum melepaskan pelukan. "Akio sudah tidur, kan?"
"Hm..." Michiko mengangguk, lalu tertawa kecil. "Tidur setelah lelah merengek-rengek ingin digendong ayahnya," ia menambahkan. Tepat saat itu, jam burung hantu berbunyi, menandakan waktu sudah menginjak tengah malam. "Sebaiknya kita tidur sekarang. Sudah larut," ujar Michiko. Wanita itu hendak beranjak ketika suaminya menangkap pergelangan tangannya, menahannya.
Michiko melempar pandang bertanya.
Kabuto menatap mata istrinya dalam-dalam. "Aku sedang berpikir," ujarnya dengan senyum penuh arti, "Sepertinya memberi adik untuk Akio secepatnya adalah ide bagus. Supaya dia ada teman..."
"Eh?"
---
Konoha High
Klub sepak bola Konoha High belum juga mengumumkan hasil uji coba untuk pemain inti sampai beberapa hari kemudian. Sepertinya Temujin benar-benar senewen menghadapi pertandingan yang akan dilangsungkan sebentar lagi itu—meskipun dia tidak turun main—sehingga membuatnya bingung sendiri memilih siapa sebaiknya yang akan diturunkan untuk menggantikan posisi Sumaru. Sementara itu, ketidaksabaran mulai merasuki anak-anak yang belum terpilih. Mereka kerap kali berkasak-kusuk tidak puas karena ketua mereka belum juga mengumumkan siapa yang terpilih.
"Memangnya gampang memilih pemain?!" raung Temujin habis sabar ketika ia tidak sengaja melewati sekelompok anak kelas satu yang sedang membicarakannya di koridor dekat kantin saat jam istirahat. Membuat kepala hampir semua anak di koridor itu menoleh padanya.
Lee, yang saat itu sedang berada di sana bersama Neji, langsung menghampiri temannya itu. "Sudah, Temu... Biarkan saja mereka," katanya sementara anak-anak kelas satu itu melesat kabur dengan wajah ketakutan.
"Kau tidak dengar sih," Temujin menukas kesal, "Mereka ngomongin aku."
"Selalu ada yang tidak suka pada kita, Temu," kata Neji dari belakang Lee, "kalau kau merasa sudah mencoba yang terbaik untuk klubmu, abaikan saja mereka."
Temujin menghela napas dengan letih. "Tapi pemilihan ulang ini benar-benar bikin stress. Aku pikir formasi yang dulu sudah sempurna."
"Tapi kau bilang kau sudah menentukan pengganti Sumaru, kan?" tanya Lee.
"Yeah, memang," sahut Temujin, "Kita akan umumkan sepulang sekolah. Suruh mereka semua kumpul, Lee."
"Beres! Ah, hei, Naruto!" serunya pada seorang cowok berambut pirang berantakan yang baru saja keluar dari kantin bersama kedua temannya. Naruto menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. "Kemari!" Lee memberinya isyarat supaya Naruto mendekat.
"Ada apa?" tanya Naruto ceria setelah ia mendekat. Sakura dan Sasuke mengikuti di belakangnya.
"Beritahu anak-anak lain yang bisa kau temukan, kita akan kumpul setelah jam terakhir selesai. Kita akan mengumumkan pemain yang terpilih," beritahu Lee.
"Benarkah?" tanya Naruto antusias, "Siapa yang terpilih?" ia menoleh pada Temujin.
"Nanti," kata Temujin. Ia mengerling ke arah Sasuke sekilas sebelum berbalik pergi seraya mendengus kecil.
"Suasana hatinya memang sedang tidak bagus," kata Lee dengan tawa kecil. Ia lalu menyapa kedua teman Naruto, "Hai, Sakura, Sasuke!"
Sakura yang sedari tadi sibuk menetralisir degupan jantungnya yang tak karuan karena kehadiran Neji Hyuuga di dekat sana, terlonjak kaget. Wajahnya merah padam ketika ia membalas sapaan Lee, "H-hai, Lee."
"Hn," Sasuke membalas datar.
"Haruno," sapa Neji, dengan sukses membuat gadis itu terlonjak lagi. "Aku jarang melihatmu di ruang klub teater akhir-akhir ini," katanya dengan senyum tipis.
"Ah," sahut Sakura gugup. Ia memaksakan senyum—yang jadinya malah seperti orang sakit gigi—dan berkata sangat pelan, nyaris berbisik, "I-iya. Maaf... sibuk..." Ia menunduk dalam-dalam. Wajahnya tidak bisa lebih merah lagi.
Neji mengerutkan dahi, sepertinya ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan gadis itu mengingat suasana bising di koridor dan suara Sakura yang terlampau pelan. Tapi kemudian cowok berambut cokelat gelap itu berkata lagi, "Sebaiknya kau sering-sering datang ke klub, Haruno. Tenten mulai menyeleksi pemain untuk drama pensi nanti."
"B-baik..." sahut Sakura gugup. Tanpa sadar, ia mencengkeram lengan Sasuke yang saat itu berdiri di sampingnya kuat-kuat.
Neji mengangguk singkat padanya, lalu pada dua yang lain. Ia melempar senyum tipis pada Sasuke sebelum berbalik menuju tangga menuju lantai dua.
"Oke, kalau begitu aku duluan," kata Lee sebelum berbalik juga, menyusul Neji.
"Sekarang kau bisa lepaskan tanganmu," geram Sasuke pada Sakura.
"Eh? Apa?" gadis itu mengerjap, dan detik berikutnya ia baru menyadari tangannya yang mencengkeram lengan Sasuke. Dengan cengiran minta maaf, ia melepaskan cengkeramannya. "Sori."
Damn! Sepertinya cewek ini tidak menyadari kekuatannya sendiri, pikir Sasuke sambil menggosok-gosok lengannya yang terasa kebas setelah dicengkeram begitu erat oleh Sakura.
Naruto yang sedari tadi berpura-pura tidak melihat ekspresi Sakura ketika ada Neji—padahal hatinya terasa panas saat melihatnya—tidak bisa menyembunyikan ekspresi gusarnya lagi ketika ia berkata agak keras, "Kita jadi ke perpustakaan dulu, kan?"
Yah, meskipun mereka bersahabat sekarang, namun tidak mudah bagi Naruto untuk menyingkirkan perasaannya pada Sakura dan diam-diam masih berharap gadis itu akan menjadi gadisnya suatu saat nanti. Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi untuk sekarang ini, karena ia lebih takut kehilangan Sakura sebagai sahabat dibandingkan hal lainnya. Dan ia juga harus berkonsentrasi pada pertandingan sepak bola nanti.
Sepertinya memang harus seperti itu, karena siang harinya setelah kumpul klub untuk mendengarkan pengumuman siapa yang akan diturunkan menjadi pemain inti menggantikan Sumaru sebagai penyerang, Naruto melangkah keluar ruang klubnya dengan wajah luar biasa sumringah.
"Coba tebak," seru Naruto ketika ia sedang menghampiri kedua sahabatnya di koridor loker. Sasuke dan Sakura berpaling dari kegiatan mereka beres-beres buku dan menoleh dengan ekspresi bertanya pada Naruto. Cowok pirang itu tertawa-tawa senang selama beberapa saat sebelum berteriak kegirangan, "AKU DITERIMA JADI PEMAIN INTI MENGGANTIKAN SUMARU!!"
"Oh, Naruto, selamat!" pekik Sakura. Gadis itu buru-buru meletakkan tumpukan buku yang digendongnya ke loker, lalu memberikan pelukan selamat pada sahabatnya itu dengan suka cita. "Aku tahu kau akan berhasil!"
"Thanks, Sakura!" balas Naruto berseri-seri.
"Selamat, Naruto," ucap Sasuke yang tidak bisa menahan rasa senangnya, meskipun dengan gaya cool tentu saja.
"Yeah, thanks. Tidak akan berhasil tanpamu, Tuan Pelatih Galak!" sahut Naruto, nyengir. Sasuke mendengus tertawa. Lalu kedua cowok itu melakukan high five.
"Tapi meski begitu," kata Sakura kemudian sambil menjejalkan buku-buku tebal yang dipinjamnya dari perpustakaan saat jam istirahat tadi ke dalam tas, "kau jangan lupa mengerjakan tugas paper Biologi dari Bu Guru Yuuhi."
Naruto tertawa. "Tentu saja aku tidak lupa kalau ada gadis cantik yang selalu mengingatkanku bikin PR," guraunya.
"Gombal!" seru Sakura seraya menimpuk cowok itu dengan ia ikut tertawa. Sasuke yang menyaksikannya, hanya menyeringai kecil, lalu melanjutkan membereskan buku.
"Omong-omong, setelah ini aku akan ke rumah sakit menjenguk Sumaru. Kalian mau ikut?" tanya Naruto pada kedua sahabatnya seraya menyandarkan punggung ke pintu loker.
Sakura menutup pintu loker dan menguncinya sebelum menoleh pada Naruto, menghela napas dengan ekspresi menyesal. "Maaf, Naruto. Tapi aku harus ke restoran malam ini. Sudah janjian dengan ibu."
"Aku juga tidak bisa," kata Sasuke. "Kakakku lembur malam ini dan dia tidak ingin Rufus dititipkan lama-lama di rumah nenek Tomoe. Kalian tahu, kakakku itu tidak suka merepotkan orang lain—kecuali adiknya."
"Maksudmu, kak Itachi senang merepotkanmu?" tanya Sakura terkekeh.
"Hn," sahut Sasuke singkat seraya membanting pintu lokernya menutup.
Sepertinya ia memang harus ke rumah sakit sendirian kali itu, pikir Naruto sedikit kecewa. Tapi ia sama sekali tidak tahu, bahwa setelah ini ia tidak akan sendirian menuju rumah sakit.
---
TBC...
---
Chapter ini lebih pendek dari chapter sebelumnya. Tadinya panjang, sekitar 6ribuan kata. Tapi berhubung bagian terakhirnya aku ngerasa kurang oke dan terkesan terburu-buru kalau digabung dengan chapter ini, jadinya aku penggal. Dan itu berarti chapter 31 akan lebih pendek dari ini. –sigh-
Cerita Sai dan SasuSakuNaru masih terpisah, nih... Maaf kalo mengecewakan, yah. Terus... aaaah... aku menyelipkan sedikit fluff KabuOC di sini! Hehe... biar gak bosen aja. –melarikan diri dari FG-nya Kabuto- Dan sedikit—banget—hint NejiSaku.
Sekarang ngebalesin review...
Furukara Kyu : haha... iya nih, Sai merana mulu. Tapi setelah itu kan ada manisnya. Kalau soal romance, sedikit-sedikit akan aku keluarkan kok. Tenang aja, oceh!
Ambu : Soal obat itu ya, Mbu? Iputz juga gak begitu tahu soal obat-obatan untuk gangguan kejiwaan sih, Mbu. (Hyaa... Sai sakit jiwa?) Tapi putz pikir obat yang dikasih Kabu ke Sai itu fungsinya hanya seperti sugesti aja. Soalnya pernah punya pengalaman yang agak-agak mirip sih. Jadi orang itu dikasih obat—yang sebenernya cuma vitamin biasa, atau malah obat kosong—dan setelahnya dia langsung tenang gitu. Katanya sih itu obat pura-pura buat sugesti aja. Dan gejala yang aku kasih ke Sai itu lebih ke gejala yang biasa timbul kalau emosi sedang meluap-luap kaya takut, marah, gelisah dsb. haha... haduh! Gak ilmiah banget nih... Maaaaaap...
PinkBlue Moonlight : Cha! Sepertinya chapter ini mengecewakan buat fans-nya Kabuto deh. Gomenasai, ne...? Er... kalo ngefans sama Izumo (yang emang lucu, imut, kakoii dan mata sendunya bikin klepek-klepek XD), ada tuh fic aku yang tentang dia dan Kotetsu. Judulnya 'Musim Cinta'. Tapi dia dipair sama Hana. Haha... -dilempar-
Uzumaki Khai : Apdetan yang ini cepet juga gak yah??
Uci (yang ganti pen-name lagi) : Sasu emang dingin-dingin empuk. Sikapnya dingin, tapi care banget sama Naruto n Sakura.
Dilia-chan : Aih aih... reviewmu bikin speechless deh. Thanks, ya! –peluk-peluk Dilia-
Antlia : Wah, syukur deh kalau suka. Susah tuh, bikin adegan kaya gitu. Kebiasaan bikin yang WaFF sih. Buku-buku itu akan segera keluar di chapter-chapter depan!
Kakkoii-chan : Sai emang gitu.. tapi cuma di cerita ini aja, kok. Kan ini fic OoC. Heheh..
Chika-chan : Haha... suka keki sama Chika nih. Habis kayaknya sering mengecewakan dengan 'feel' dan 'emosi' yang kurang dapet yah? Sejujurnya itu emang kelemahanku kalo nulis, mendeskripsikan perasaan karakter. Gomen ne? Barangkali Chika mau mengajari?
Emi-chan : Sama-sama, Emi-chan... Aku juga masih belajar, jadinya belajar sama-sama yuuuuk~. Hayu atuh Y!Man lagih!
Minna-sama... yang membaca dan mereview, juga yang baca aja tapi gak mereview, makasih banget atas atensinya, yah... Jangan ragu-ragu ngasih kritik dan masukan untuk fic ini... Luv U All!!
