Chapter 31
Tempat di mana Sai menjalani terapi kelompok adalah sebuah gedung tua bekas sekolah yang jaraknya hanya beberapa blok saja dari kediaman keluarga Yakushi. Tepat di tengah-tengah deretan apartemen asri di pinggiran Utara kota Konoha dengan lingkungan yang begitu ramah, di mana orang-orang berlalu-lalang di sepanjang trotoar yang lebar, saling sapa, mengobrol, menikmati cahaya matahari yang mengintip di sela-sela dedaunan yang berwarna kecokelatan di kanan kiri jalan. Tidak seperti rumah besar di Root Hills yang bernuansa dingin dan tidak ramah. Wilayah tenang yang benar-benar kondusif untuk terapi semacam itu. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh para peserta terapi, tidak terkecuali Sai.
Setiap kali selesai menjalani sesi terapi bersama orang-orang yang memiliki masalah serupa dengannya, Sai selalu merasa selangkah lebih baik. Terlebih setelah itu biasanya mereka mengadakan semacam acara ramah tamah seperti makan siang bersama atau hanya sekedar berkumpul di coffe shop untuk menikmati secangkir kopi hangat sambil mengobrol. Sai senang mengamati bagaimana orang-orang di sekitarnya itu saling berbicara dan berkomunikasi satu sama lain, termasuk mimik wajah dan intonasi saat berbicara. Sedikit banyak itu membantunya belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain. Begitu juga dengan kali ini. Sesi terapi sudah selesai sejak satu jam yang lalu dan kini Sai bersama dengan peserta terapi lain yang kebanyakan adalah orang-orang yang lebih dewasa darinya sedang berkumpul di Akado's, restoran plus coffe shop mungil di dekat sana untuk makan siang bersama.
Sai duduk di sudut bersama seorang pria berbadan besar yang paling ribut di rombongan itu. Jirocho, nama pria itu, adalah mantan peminum berat yang tadinya senang bicara kasar dan memaki orang—tapi sekarang sudah tidak lagi. Pria itu sudah jauh lebih lama mengikuti terapi ini dan sekarang sudah seperti senior bagi yang lain. Ia gemar sekali bercanda dan tertawa sampai badannya yang besar itu berguncang-guncang. Seperti yang dilakukannya sekarang ini.
Sai hanya tersenyum simpul saja sambil menyeruput kopinya melihat pria di sebelahnya ini terbahak-bahak setelah salah satu dari mereka menceritakan kisah—yang menurut Sai—tidak lucu tentang dirinya sendiri yang ditolak cewek.
"Itulah kalau kau terlalu lama menunggu, Nak," gelegar Jirocho sambil terkekeh-kekeh. Diikuti dengan tawa yang lain.
"Dia bilang tadinya dia suka padaku. Tapi karena kelamaan, dia jadi bosan," cowok bertubuh kurus kering sang empunya cerita menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Ia mengangkat cangkir kopinya ke bibir dan menenggaknya hingga tandas. "Cewek sialan itu mengataiku basi," tambahnya.
Jirocho terkekeh lagi, kali ini sambil mengayun-ayunkan telunjuknya pada si cowok kurus. "Ah, jangan menggunakan kata tidak sopan itu, Nak, karena tidak ada wanita yang sialan. Kalau tidak ada wanita, pria tidak ada gunanya. Benar kan, Sai?"
"Ha?" Sai terkaget sendiri ketika tiba-tiba ditanya. Dari tadi ia tidak menyimak pembicaraan mereka. Entah mengapa kali itu pikirannya terbang terus kemana-mana. Ia merasa telah melupakan sesuatu yang penting, tapi ia tidak ingat apa.
Untung saja Jirocho tidak benar-benar menginginkan jawaban dari Sai, karena saat berikutnya pria besar itu sudah berceloteh lagi. "Jadi moral yang bisa diambil kali ini adalah kalau kau jatuh cinta pada seseorang, cepat katakan sebelum semuanya terlambat! Jangan sampai seperti Tuan Akado ini," ia menunjuk pada Yoroi Akado, sang empunya restoran yang sedang mengantar sandwich tuna pesanan Sai ke meja mereka. "Lihat, karena patah hati sampai setua ini dia masih membujang."
"Ooh… jangan sebut-sebut masalah itu lagi, Tuan Jirocho! Itu karena aku belum menemukan yang cocok," kata Yoroi sambil menegakkan diri menatap pelanggan setianya itu. Meski begitu, dari ekspresinya sepertinya ia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang akan disampaikan oleh Jirocho, seakan itu memang sudah menjadi lelucon sehari-hari.
Jirocho mengibaskan tangannya yang besar sambil terkekeh-kekeh. Ia kemudian berputar di kursinya menghadap para pendengarnya yang ingin tahu, siap bercerita, "Dulu ada seorang gadis cantik bernama Nona Michiko Makino—ah! Kurasa sekarang kita harus memanggilnya dengan sebutan Nyonya Yakushi—yang tinggal di dekat sini. Setiap hari, setiap gadis itu pergi ke kampus, pria malang ini selalu saja memperhatikannya dari jauh tanpa melakukan apa-apa. Dan ketika akhirnya dia mendapatkan keberanian untuk mengajaknya berkencan, gadis itu malah berkata, 'Maaf, aku sudah bertunangan'."
"Tuan Jirocho… itu memalukan…" kata Yoroi sambil tersenyum menahan tawa sementara hampir seisi restoran tertawa, kecuali Sai yang hanya menyeringai kecil.
"Ooh… Jadi kau pernah naksir istrinya dokter Yakushi, Yoroi?" tanya seorang wanita yang duduk tidak jauh dari meja Sai penuh ingin tahu.
"Itu kan dulu, Nyonya Shijimi. Kurasa setelah dokter baik itu membantuku menyembuhkan encokku, aku harus mulai melupakan istrinya," sahut sang pemilik restoran enteng, membuat orang-orang tertawa lagi. Pria itu kembali menoleh pada Sai, menanyainya dengan suara rendah sopan, "Ada yang mau dipesan lagi, Sai?"
"Oh, tidak. Terimakasih," Sai membalas tersenyum sopan. Ia mengambil sandwich tuna-nya sementara Yoroi berjalan pergi.
Sementara Jirocho mulai berceloteh lagi tentang entah apa, Sai mengalihkan perhatiannya pada jendela besar tepat di samping mejanya sambil mengunyah sandwich-nya pelan-pelan. Mencoba mengingat-ingat apa gerangan yang dilupakannya sampai ia melihat serombongan remaja pria melintas di depan restoran, bercanda, saling pukul sambil tertawa-tawa. Ia tersentak.
Tentu saja. Bukankah hari sebelumnya ia sudah berencana untuk menemui tiga orang itu di sekolah?
Sai melihat arlojinya dan terkejut. Ia harus bergegas, kalau tidak mereka keburu pulang. Buru-buru diletakkannya sandwich yang baru setengah dimakan itu di atas piring dan beranjak.
Jirocho yang duduk di sebelahnya menolehkan kepala ke arahnya dengan terkejut. "Mau kemana, Sai?" tanyanya, "Kenapa begitu terburu-buru?"
"Saya ada keperluan lain," sahut Sai sambil mengeluarkan dompetnya dan meletakkan selembar uang kertas di atas meja. Ia lalu menyambar jaketnya yang disampirkan di punggung kursinya. "Saya permisi kalau begitu, Tuan Jirocho. Ah, Paman Akado, terimakasih makanannya," ia menambahkan pada sang pemilik restoran, lalu berbalik pergi meninggalkan restoran itu.
Sementara Sai berjalan menuju halte bus terdekat, ia kembali memikirkan rencananya kali itu, membayangkan bagaimana reaksi Naruto, Sasuke dan Sakura nantinya. Ia sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan Naruto. Yang ia khawatirkan adalah Sasuke dan Sakura. Ia belum melupakan fakta bahwa kedua orang itu sepertinya masih belum bisa menerimanya sepenuhnya. Meskipun sejak Naruto mengajaknya bergabung dalam kelompok mereka, ia kerap tidak menghiraukan dan berpura-pura tidak menyadarinya, tapi tatapan Sasuke dan Sakura yang dingin kadang membuatnya tertekan juga.
Namun cepat-cepat ditepisnya pikiran tidak enak itu. Yang ada harus ia pikirkan sekarang adalah menemui mereka dan bicara baik-baik. Meminta maaf…
Tepat saat itu, sebuah bus kota yang menuju kawasan dimana sekolahnya berada berhenti di halte tidak jauh dari sana. Sai bergegas berlari dan segera naik tepat sebelum pintu bus tertutup.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Sai sudah sampai di depan gerbang Konoha High yang sudah diramaikan oleh anak-anak yang baru saja pulang. Rupanya ia datang tepat pada waktunya, ia membatin lega seraya mengedarkan pandangannya berkeliling, mencari sosok tiga orang itu. Ah, barangkali mereka masih di dalam... atau ke lapangan belakang seperti biasa.
Sai baru saja melangkahkan kaki memasuki halaman depan sekolah yang sudah menjadi tempatnya menuntut ilmu sejak beberapa bulan belakangan itu ketika ia merasakan sebuah lengan besar dan berat mengalungkan diri di pundaknya, menahan langkahnya.
"Ah, rupanya teman kecil kita ini sudah punya nyali kembali ke sekolah," kata suara berat orang yang merangkulnya.
Sai menoleh. Hatinya mencelos ketika mendapati orang yang merangkulnya adalah cowok berperawakan tinggi besar berwajah sangar yang nyaris saja menghajarnya tempo hari di kantin. Inui. Kemudian ia mendengar suara tawa mengejek dari arah belakangnya dan sedetik kemudian rombongan itu muncul. Mau apa lagi mereka?
Sai mencoba melepaskan lengan Inui dari bahunya. "Maaf, aku tidak punya waktu meladenimu," ucapnya dengan suara yang diusahakannya terdengar dingin dan biasa, meskipun sebenarnya jantungnya sudah berpacu cepat.
"Tentu saja kau punya waktu, keparat!" Inui menyambar belakang kerah jaket Sai, menariknya, lalu kembali merangkulnya dengan lengannya yang mematikan. "Urusan kita belum selesai, ingat?" cowok itu mendesis di telinga Sai.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Inui," balas Sai. Suaranya kali ini agak bergetar, napasnya mulai bertambah cepat.
"Oh, jangan pura-pura tidak mengerti, brengsek," kata Inui dengan tawa mengejek sementara cowok-cowok lain sudah merapat merubungi mereka, menyeringai sadis. "Mata dibalas mata. Kau telah membuat cewekku menangis dan aku pastikan kau menangis darah untuk membayar perbuatanmu."
"Kau mau apa?" desis Sai.
Inui tertawa dingin. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang jauh lebih menyenangkan, eh? Di sini terlalu ramai, tidak asyik." Sebelum Sai sempat melawan, Inui dan gerombolannya sudah menggiringnya menjauh dari sana.
Sementara itu tidak jauh dari sana, tepatnya di lapangan parkir siswa Konoha High, Naruto dan kedua sahabatnya sedang bersiap untuk pulang.
"Untunglah sekarang tidak ada latihan bola, jadi aku ada waktu menyicil paperku," kata Sakura ceria sembari meletakkan tasnya di keranjang sepedanya, lalu membungkuk untuk membuka kunci rantai sepedanya. "Tapi bukan berarti aku keberatan menemanimu latihan lho, Naruto," ia menambahkan sambil tersenyum pada Naruto.
Naruto tertawa ringan. "Yeah yeah. Aku juga kadang-kadang ngerasa gak enak sama kalian berdua," ujarnya sambil melepaskan rantai di roda sepedanya, lalu menjejalkannya ke dalam tas. "Tapi siap-siap aja, besok pasti tambah gila-gilaan latihannya."
"Latihan segitu saja sudah dibilang gila-gilaan," gumam Sasuke—yang ternyata cukup keras untuk didengar Naruto, yang kontan saja langsung menyahut sengit,
"Hah! Kau yang kerjanya cuma duduk menonton tentu saja tidak tahu rasanya!"
Sasuke mendengus kecil seraya mengibaskan tangannya tidak peduli. "Terserah kau sajalah," katanya cuek sembari melangkah menaiki sepedanya, mengayuhnya menjauh. "Haah... yang penting sekarang aku punya waktu luang, dari pada harus melihat si bodoh ini latihan..." imbuhnya dengan seringai mengejek ke arah Naruto yang langsung meradang.
"SASUKEEEE!! AWAS KAU!!" Naruto menggenjot sepedanya mengejar sahabat sekaligus rivalnya itu, berusaha menendangnya jatuh, tapi tidak berhasil. Sasuke terlalu gesit.
Sakura yang ada di belakang mereka menghela napas sambil menggelengkan kepala melihat kedua cowok itu berkejaran dengan sepeda seperti anak kecil. Dasar cowok! Sebentar rukun, sebentar berantem, gadis itu membatin gemas seraya bergegas menyusul kedua cowok itu mengayuh sepedanya menuju gerbang utama.
"Hei, berhenti kalian berdua!" seru Sakura, setengah kesal setengah geli melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. "Kalau menabrak orang, baru tahu rasa!"
Naruto langsung berhenti, tampak jengkel sementara Sasuke menyeringai tipis padanya. Seringai yang dengan sukses membuat gadis-gadis yang kebetulan melintas di dekat mereka terpesona, sampai-sampai salah satu dari mereka menabrak dinding pos satpam. Dengan wajah merah padam, gadis itu buru-buru melesat pergi, diiringi kikikan teman-temannya. Tapi tentu saja Sasuke tidak menghiraukan itu semua. Cowok itu lebih memilih melanjutkan mengayuh sepedanya dengan Naruto dan Sakura menyusul di belakangnya.
Belum jauh mereka mengayuh sepeda meninggalkan halaman Konoha High, tiba-tiba saja Naruto menghentikan sepedanya, dahinya berkerut dan ia tampak sedang berusaha mendengarkan sesuatu. Hanya perasaannya saja atau ia memang mendengar suara orang berkelahi?
"Ada apa?" tanya Sasuke yang juga telah menghentikan sepedanya di sebelah Naruto.
"Kau dengar itu, Sasuke?" Naruto balik bertanya.
Sasuke mengernyitkan dahi, lalu menajamkan pendengarannya. Sepertinya ia juga mendengar suara-suara itu sekarang, seperti suara teriakan yang teredam yang diselingi dengan suara orang memaki-maki.
"Sepertinya ada yang berkelahi," kata Naruto seraya melangkah turun dari sepedanya. Ia bergerak ke arah dari mana suara itu berasal. Tidak jauh dari dinding pagar sebuah gedung tua, di sebuah gang kecil di dekat sebuah deli yang sepi.
"Kau mau apa, Naruto?"
Naruto meletakkan telunjuk di bibirnya, "Aku mau melihat."
"Jangan bodoh!" geram Sasuke ketika Naruto malah semakin mendekat ke arah sumber suara. Namun Naruto mengabaikannya.
"Ada apa sih?" Sakura yang baru saja berhasil menyusul mereka bertanya pada Sasuke.
"Sepertinya ada yang berkelahi di sana," jawab Sasuke seraya turun dari sepedanya juga, menyusul Naruto.
Sakura memekapkan tangan ke mulutnya ketika ia mendengar suara teriakan orang yang sepertinya sedang disiksa. Mata hijaunya membulat ketakutan. "Ya ampun..."
"Tetap di sana, Sakura!" Sasuke memperingatkannya ketika gadis itu juga ikut turun dari sepedanya. Sakura mengangguk dan tetap di tempatnya sementara Sasuke menyusul Naruto yang semakin mendekat ke sumber keributan.
Dan Naruto bisa melihat dengan jelas sekarang; segerombolan cowok yang dikenalinya sebagai anak-anak kelas tiga yang sering membuat onar sedang mengeroyok seseorang berjaket hitam yang tergeletak di tanah, babak belur.
"Oi!" Naruto berteriak, ketika menyadari siapa yang mereka keroyok. Cowok pirang itu sudah mau melompat maju, tapi Sasuke keburu menariknya.
"Jangan ikut campur, Naruto!" kata Sasuke, "Kau bisa kena masalah!"
"Tapi itu teman kita!" seru Naruto keras kepala, "Kita harus menolongnya."
"Laporkan saj—" kata-kata Sasuke terputus ketika dengan kasar Naruto menepis cengkeramannya dan melompat maju. Sasuke mengumpat keras.
"LEPASKAN DIA!!" Naruto meraung, membuat gerombolan itu menoleh.
"Oh, ada yang mau ikut campur lagi rupanya," kata salah satu dari mereka—yang tampangnya paling sangar. "Uzumaki, eh? Mau bergabung di pesta kami?" lanjutnya dengan seringai sadis.
"LEPASKAN SAI! JANGAN GANGGU DIA!!" teriak Naruto lagi, wajahnya merah padam saking marahnya.
"Naruto," desis Sasuke di belakangnya. "Sudah cukup." Namun sekali lagi Naruto mengabaikannya. Ia malah berjalan lebih dekat. Matanya terpacang pada Sai yang terpuruk di tanah, tampak parah.
"Jangan ganggu dia..." ulang Naruto lebih pelan, suaranya bergetar sekarang.
"Bagaimana kalau kami menolak?" terdengar tawa mencemooh. "Kau mau apa? Mengadu pada guru? Atau mau jadi sok pahlawan?"
Sai berteriak lagi ketika ada salah seorang dari mereka menendang tubuhnya. Naruto terkesiap melihat ini dan tanpa pikir panjang, ia menerjang gerombolan itu, mencoba menghentikan orang-orang itu menganiaya Sai. Sasuke yang terlambat mencegahnya, mengumpat keras. Ia juga melompat maju untuk membantu sahabatnya.
Sedetik kemudian, terdengar jaritan melengking anak perempuan. Sakura yang penasaran ternyata sudah mendekat juga. Gadis itu menjerit ngeri melihat perkelahian tidak seimbang itu. Terlebih ketika ia melihat Sai yang sudah terkapar di tanah; darah mengucur dari hidung dan mulutnya.
"Sakura! Cari bantuan ke sekolah! Cepat!" Sasuke berteriak padanya sementara ia mencoba untuk menarik Naruto dari tengah-tengah baku hantam. Tapi sebuah kepalan kuat menghantam pipinya dengan telak, membuat cowok itu terhuyung. Bibirnya berdarah.
"SASUKE! NARUTO!" Sakura menjerit lagi, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia kebingungan selama beberapa saat saking ketakutannya, sebelum akhirnya ia berlari kembali ke arah sekolah—ia sama sekali melupakan sepedanya. Mengabaikan pandangan orang-orang yang dilewatinya, Sakura terus berlari. Yang ia tahu, ia harus mencari bantuan dan orang pertama yang terlintas di kepalanya adalah pamannya.
Sementara itu, teriakan Sakura tampaknya telah menarik perhatian anak-anak yang kebetulan melintas. Mereka berduyun-duyun mendekat untuk melihat. Beberapa anak laki-laki yang cukup berani, maju untuk melerai—tapi malah kena hantam juga. Dan anak-anak perempuan yang melihat mulai menjerit-jerit, berlari menjauh.
Dengan napas terengah-engah, akhirnya Sakura sampai di depan gerbang sekolahnya. Dengan panik, matanya mencari-cari. Gadis itu lega bukan kepalang ketika melihat Kakashi masih berada di lapangan parkir guru Konoha High, bersiap pulang. Dan tidak hanya ia sendiri, tapi juga beberapa guru lain. Tanpa pikir panjang, Sakura langsung berlari ke arah pamannya.
"Sakura, ada apa?" Kakashi bertanya kaget saat keponakannya itu tiba-tiba menghambur, mencengkeram lengannya. Wajahnya tampak tegang dan ketakutan.
Sakura tampaknya tidak mampu berkata-kata. Gadis itu hanya menunjuk-nunjuk ke arah gerbang sementara sebelah tangannya menarik-narik lengan kemeja sang paman, air matanya mengalir, bercampur dengan keringat di wajahnya.
"Tenang, Sakura," kata Kakashi, kedua tangannya memegangi bahu Sakura, "atur napasmu, lalu ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi."
Sakura mencoba mengatur napasnya sementara para guru—termasuk Pak Shiranui, Pak Namiashi, Pak Maito, Pak Sarutobi dan Ibu Yuuhi—mendekat, melempar pandang bertanya pada kolega mereka. "S-Sai..." Sakura berkata terbata-bata.
"Ada apa dengan Sai?" tanya Kakashi.
"Sai? Bukannya dia sedang izin sakit?" kata Ibu Yuuhi bingung.
Sakura menggeleng kuat-kuat, "S-Sai... dikeroyok. Naruto dan Sasuke mencoba menolongnya, tapi mereka juga malah dipukuli."
Para guru itu saling pandang. "Kita harus hentikan mereka!" Sakura bisa mendengar Pak Sarutobi berseru yang langsung disambut dengan gumam setuju dari guru-guru lain.
"Sakura dengar," kata Kakashi pada keponakannya sementara para guru pria sudah berlari menuju tempat yang ditunjuk Sakura, "Kau tunggu di sini sementara kami mencoba menghentikan mereka. Oke?"
Namun Sakura sekali lagi menggeleng kuat-kuat. "Aku gak mau ninggalin Naruto dan Sasuke. Aku mau susul mereka," isaknya.
"Baiklah," kata Kakashi mengalah, "Tapi kau bersama Ibu Yuuhi, ya." Pria itu menatap salah satu koleganya yang mengangguk.
"Aku akan jaga Haruno," kata Kurenai.
Dan dengan anggukan terakhir, Kakashi berbalik dan bergegas menyusul guru-guru lain yang sudah lebih dulu pergi bersama satpam yang sedang bertugas. Sakura masih sesegukan sementara guru Biologinya membelai-belai lengannya, mencoba menenangkannya. Setelah Sakura sudah merasa lebih tenang, keduanya segera menyusul.
Gerombolan Inui langsung berhamburan, lari tunggang langgang meninggalkan arena perkelahian ketika para guru berdatangan. Pak Sarutobi, Pak Namiashi, Pak Maito dan satpam sekolah mengejar mereka sementara yang lain membantu yang terluka. Keadaan Naruto maupun Sasuke tidak begitu parah. Naruto hanya mengalami memar di beberapa bagian sementara Sasuke luka di bibir dan pelipisnya. Yang paling parah adalah Sai—wajahnya babak belur tak karuan. Matanya terpejam.
"Sai… Sai… Kau tidak apa-apa? Jawab aku!" Naruto terhuyung berlutut di sampingnya, menepuk-nepuk pipinya. Ia menghembuskan napas lega ketika mengetahui Sai masih sadar, meski tidak sepenuhnya.
Sudut bibir Sai tertarik sedikit membentuk senyum lemah ketika matanya yang bengkak melihat Naruto di sampingnya. "N-Naru…to…" ucapnya tak jelas.
"Kau baik-baik saja, Sai?" tanya Naruto dengan ekspresi cemas.
"M-ma…af…" dan setelahnya, kepala Sai langsung terkulai tak sadarkan diri.
"Panggil bantuan!" teriak Kakashi sementara ia memapah Sasuke. Pak Shiranui yang juga sedang berlutut di sisi Sai, segera menelepon nomor darurat. Kakashi yang tengah membantu Sasuke juga telah mengeluarkan ponselnya, menelepon pihak tata usaha yang masih ada di sekolah untuk segera menghubungi keluarga Sai.
Sakura dan Ibu Yuuhi datang tak lama kemudian. Mereka menerobos kerumunan orang-orang yang menonton. Kedua wanita itu terkesiap melihat pemandangan di depan mereka. Sakura segera melepaskan diri dari gurunya dan menghampiri Sasuke, memapahnya ketika Kakashi beralih untuk membantu anak-anak lain yang ikut terluka.
"Mengerikan... mengerikan..." bisik Sakura dengan isakan lemah. "Kalian tidak apa-apa, kan?" ia menoleh pada Sasuke, membantunya menyeka darah dari sudut bibirnya.
"Tidak apa-apa," kata Sasuke, meringis menahan perih. Sementara itu Naruto masih bertahan di sisi Sai.
Ambulance datang tidak lama kemudian. Mereka langsung mengangkut Sai dan anak-anak yang terluka ke Rumah Sakit Konoha. Sakura turut serta bersama mereka—gadis itu menolak pulang dan berkeras ingin menemani kedua temannya.
Mereka langsung membawa Sai ke Emergency Unit setibanya di Rumah Sakit. Sementara anak-anak yang terluka, termasuk Naruto dan Sasuke, juga langsung mendapatkan pertolongan pertama. Dan setelah beberapa saat mereka menunggu dengan cemas—terutama Naruto yang tak hentinya berjalan mondar-mandir—akhirnya salah satu dokter jaga memberitahu mereka bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan keadaan Sai. Secara umum keadaannya sudah stabil. Ia mengalami gegar otak ringan dan luka dalam di beberapa bagian tubuhnya—tapi untungnya tidak sampai membahayakan hidup.
Itachi Uchiha—yang ternyata juga dihubungi pihak Tata Usaha sekolah—datang tak lama kemudian. Pria muda itu cemas bukan kepalang karena dikiranya adiknya yang masuk Emergency Unit. "Aku tidak apa-apa, Kak!" garutu Sasuke risih ketika Itachi berkeras memeriksa keadaan adiknya itu sendiri, supaya yakin. "Ini hanya luka kecil!"
Iruka Umino juga datang hampir bersamaan dengan Itachi. Hanya saja pria itu tampak lebih tenang dibanding Itachi. "Putramu baik-baik saja," Kakashi memberitahunya, "Hanya saja agak terguncang."
"Aku mengerti," Iruka mengangguk, lalu menghampiri Naruto, membawanya duduk di sampingnya. Dan Naruto pun sepertinya menjadi lebih tenang dengan kehadiran ayahnya itu.
Sementara itu, Sakura langsung menjatuhkan kepalanya dengan letih di bahu pamannya ketika Kakashi mendudukkan diri di sampingnya. Pria berambut keperakan itu mengulurkan lengannya, merengkuh bahu sang keponakan, menepuk-nepuknya lembut. "Kalau kau sudah lebih tenang, kita pulang, ya..."
Sakura mengangguk pelan. Air matanya mengalir lagi tanpa suara. Berharap dengan sepenuh hati, semoga ia tidak akan melihat yang seperti ini lagi...
---
TBC...
---
Fuih… setelah masa editing yang memusingkan –halah- Tapi beneran, chapter ini paling susah dieditnya. Akhirnya kelar juga satu chapter payah. Gak tau deh bagus enggaknya, pusing booo… Karena chapter-chapter sebelumnya banyak mengalami perubahan dari versi asli yang aku tulis, jadinya berdampak juga untuk chapter ini. Huaaa… tolong…
Emi-chan : Aih aih… dibaca dulu atuh, baru komen.-lho, kok kayanya pernah baca kalimat ini di manaaa gitu- Haha… But, thanks a lot, dear.. XD
PinkBlue Moonlight : Yeah, hidup SasuSakuNaru friendship! Mereka emang ditakdirkan jadi BFF. Btw, Sai udah hampir sembuh kok… hihi…
Furukara-kyu : Iya deh, maaf… Tapi chap yang ini juga banyak bagian orang luarnya tuh… Buat pengisi aja sih, dan buat penjelas situasi dalam fic ini. er… ngerti gak? Aku juga gak ngerti… -ditimpuks-
Chika-chan : Aaah… makasih masukkannya, dear… Iya deh, tar lebih didalami lagi ceritanya… ^^
Kakkoi-chan : Tenang… NejiSaku pasti ditambah… tapi belum dalam waktu dekat, ya. Soalnya masih ada konflik yang ingin aku munculkan lagi sebelum masuk scene yang romance-romance. Hihi..
Lady Bellatrix : Wah, abis wisuda. Selamat ya, Teh… -peluk-peluk- Udah mau profesi jadi apoteker dong? ^^ Iya nih, Sai dikasih obat apa yah? Obat anemia mungkin? –mentang-mentang Sai pucet-Hihi… Itachi nongol dikit di chapter ini.
Ambu : Aaargh… kalo dijelasin, nanti… nanti… nanti… -ditakol- Tebakkannya bisa dilihat di sini, Ambu… Gak begitu meleset kok. ^^
Uci (yang ganti nama lagi) : Eh, kalimat yang ganjil? Yang mana? Yang mana? –buka-buka chapter 30 lagi dengan penasaran-
Dilia-chan : Ah, gomen gomen kalau gak masuk di cerita. Haha… -menggetok kepala sendiri- Ah, aku juga cinta Saske di fic ini! –bukan yang di canon-
Khai : Sai udah banyak kemajuan di chap ini kok. Kalo soal kelas, udah disebutin di chapter-chapter awal kok. Mereka kelas 2 SMA atau kalo sekarang mah, kelas 11. Setahun di bawah Neji dkk.
Antlia : Hoo?? o.O Kenapa deg-degan? Apa aku menulis sesuatu yang ganjil di sana? Aku berusaha senatural mungkin nulis adegan itu. Gimana sih kalau cewek innocent ketemu sama cowok yang ditaksirnya?
Minna-sama, makasih sudah membaca…
