Chapter 32

Kabar mengenai pengeroyokan yang terjadi pada Sai cepat sekali menyebar. Dalam waktu beberapa jam saja sejak kejadian, nampaknya hampir seluruh siswa Konoha High mengetahuinya. Meskipun kabar yang berhembus menjadi simpang siur dan melenceng dari kejadian yang sebenarnya. Misalnya saja, ada gossip yang menyebutkan bahwa yang dikeroyok bukan hanya Sai, tapi juga Sasuke—siapa yang peduli dengan Sai?—Dan yang lebih ngawur lagi, katanya Sasuke sampai masuk Intensive Care Unit segala. Hal ini tentu saja menimbulkan kehebohan terutama di kalangan para gadis penggemar Sasuke. Ponsel cowok itu tak hentinya berdering oleh nomor-nomor yang tak dikenal, yang tentu saja tidak digubris oleh yang bersangkutan.

Dan keesokan paginya adalah puncak dari segala kehebohan yang ditimbulkan oleh insiden pengeroyokan Sai; serombongan besar cewek-cewek yang banjir air mata bergerombol di depan loker Sasuke. Mereka semua menaruh bunga di depan loker cowok itu. Dan ketika sang pemilik loker datang, mereka semua langsung histeris dan menghambur ke arahnya. Mengerubunginya seperti semut mengerubungi gula. Hanya saja tidak ada semut yang sampai berair-air mengaharapkan sang gula—kalau kau tahu maksudku.

Usut punya usut, ternyata ada yang menyebarkan isu tidak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa Sasuke tidak tertolong dalam peristiwa itu alias sudah tamat riwayatnya.

Sungguh keterlaluan, pikir Sasuke seraya memijat kepalanya yang pening saat ia sudah aman berada di ruang guru—terimakasih pada Pak Ebisu yang sudah menyelamatkannya dari cewek-cewek berbahaya itu. Dan kecurigaannya bahwa kejadian pagi itu akan menjadi bahan olok-olok Naruto dan Sakura terbukti sudah ketika keduanya datang ke ruang guru untuk menjemputnya beberapa menit kemudian. Keduanya tertawa gelak-gelak seperti orang gila melihat tampang berantakan Sasuke, termasuk luka-luka cakaran di lengannya. Keduanya pastilah sudah mendengar yang terjadi pagi itu dari anak-anak lain.

Mereka juga mendapatkan kabar bahwa anak-anak yang telah mengeroyok Sai sudah tertangkap dan mereka telah mendapat hukuman skorsing atas perbuatan mereka, juga mendapatkan rehabilitasi remaja bermasalah dari kepolisian setempat.

"Yeah, mereka pantas mendapatkannya," kata Naruto ketika mereka berjalan di koridor untuk menujuan kelas pertama mereka hari itu; kelas Biologi. Cengiran masih menghiasi wajah cowok pirang itu.

"Meskipun aku tidak terlalu menyukai Sai, tapi apa yang mereka perbuat padanya benar-benar kejam," imbuh Sakura sambil menggelengkan kepala. "Dan omong-omong soal kejadian kemarin, bagaimana luka kalian?" ia menanyai kedua sahabatnya. Ia berhenti untuk memandang kedua temannya dengan teliti. Mata hijaunya menelusuri memar-memar di wajah Naruto sebelum kemudian beralih pada luka di bibir Sasuke.

"Luka seperti ini sih sudah biasa," kata Naruto enteng seraya menunjuk memar di atas matanya. "Mereka badannya saja yang besar, kekuatannya segini," ia menjentikkan ujung kecil kelingkingnya.

"Lalu bagaimana dengan bibirmu, Sasuke? Apa masih sakit?" Sakura menanyai Sasuke.

Sebelum Sasuke sempat menjawab Sakura, sesuatu di belakang gadis itu mengalihkan perhatiannya. Cowok itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat melihat seorang gadis berambut pirang panjang yang seingatnya belum pernah dilihatnya sebelum ini tengah berjalan mengendap-endap di belakang Sakura. Gadis itu mengedipkan mata ke arahnya, membuat isyarat dengan tangannya supaya Sasuke diam. Dan saat berikutnya, si gadis asing itu sudah mengulurkan kedua tangannya di depan mata Sakura, menutupnya rapat-rapat.

"Eek?!" Sakura berseru terkejut. Kedua tangannya otomatis mencengkeram kedua tangan yang menutupi kedua matanya. "Siapa ini?!"

Naruto yang juga baru menyadari keberadaan gadis itu langsung berseru, "Hei, I—" Tapi dengan cepat gadis itu mengedipkan mata ke arahnya juga, menyuruhnya diam. Naruto nyengir paham. Ia terkekeh-kekeh tanpa suara sementara menonton kedua gadis itu berkutat.

"Siapa sih ini?! Lepasin gak?!" tuntut Sakura, berusaha melepaskan tangan itu dari matanya.

"Guess who?" tanya si gadis pirang padanya.

Dan saat berikutnya, gerakan Sakura langsung terhenti begitu ia mengenali suara itu. "Ino? Ini Ino?!"

"Bingo!" seru si gadis pirang sambil tertawa. Ia lalu melepaskan tangannya dari mata Sakura, tersenyum lebar saat Sakura memutar tubuh mengahadapnya.

"INO-PIG!" seru Sakura, tampak sangat senang. Gadis berambut merah muda itu langsung memeluk sahabatnya, yang balas memeluknya hangat. "Jahat! Tidak bilang mau berangkat sekolah hari ini!"

"Aku mau buat kejutan, Forehead-girl!" ujar Ino sambil tertawa, melepaskan pelukannya.

"Dan kau selalu sukses membuatku terkejut," kata Sakura, balas tertawa.

Kemudian Ino berpaling pada Naruto. "Hei, apa kabar, Naruto?" tanyanya seraya menepuk lengan Naruto. "Ow, matamu kenapa? Habis berkelahi, huh?"

"Oh, ini," Naruto menyentuh memarnya, "Hanya luka kecil. Biasa, kepentok."

Ino tertawa renyah. "Kepentok masalah, maksudmu? Khas Naruto, eh?" ia tertawa lagi. "Hei, kau siap manggung lagi kan, Naruto?"

"Gimana, ya?" Naruto menggaruk belakang kepalanya, "Mungkin tidak dulu. Aku ada pertandingan bola soalnya…"

"Oh," Ino terlihat agak kecewa, namun dengan cepat ditutupinya dengan cengiran lebar. "Kalau begitu setelah pertandingannya selesai, kau harus bergabung lagi dengan InoShikaChou-ku. Tidak boleh tidak!" katanya pura-pura galak.

"Yeah. Terserah kaulah. Yang penting pembagian honornya adil," Naruto nyengir lebar. Cowok itu langsung mendapat pukulan main-main di lengannya dari Ino yang tertawa.

"Dan…" mata sapphire gadis itu kini beralih ke cowok terakhir yang sedari tadi diam saja, Sasuke, tampak tertarik. "Siapa si tampan ini? Rasanya aku belum pernah lihat…" tanyanya sambil meletakkan telunjuknya di dagu.

Naruto mendengus kecil, lalu memutar bola matanya. Si tampan, katanya?

"Oh, ini," kata Sakura sambil menarik lengan Sasuke, meliriknya sejenak sebelum berkata, "Dia adalah anak baru yang sering kuceritakan padamu, Ino. Dia ini yang namanya Sasuke Uchiha," ujarnya memperkenalkan mereka. "Sasuke, ini Ino Yamanaka, temanku yang selama ini mengikuti kejuaraan di Ame."

"Hai," Ino mengulurkan tangannya pada Sasuke yang disambut cowok itu dengan ragu-ragu. "Senang bertemu denganmu, Sasuke!"

"Sama-sama," gerutu Sasuke datar. Meski begitu, Ino tetap tersenyum lebar padanya. Sasuke menarik kembali tangannya dan dibenamkannya ke dalam saku jaketnya.

"Er—boleh aku pinjam teman kalian sebentar?" tanya Ino kemudian seraya menarik lengan Sakura ke dekatnya. Tanpa menunggu jawaban kedua cowok itu dan protes dari Sakura, Ino menarik sahabatnya menjauh dari sana. Dan ketika mereka sudah berada cukup jauh dari jarak pendengaran Naruto dan Sasuke, Ino berbalik menghadap Sakura, menatapnya dengan mata melebar.

Sakura balas menatapnya bingung. "Apa?"

"Kau bercanda, ya?" kata Ino dengan tatapan tidak percaya ke arah sahabatnya. "Dia!" ia menunjuk ke arah Sasuke ketika dilihatnya Sakura masih tidak paham. "Dia… cowok yang katamu selalu bersamamu? Yang dihukum bersamamu? Cowok yang katamu menyebalkan itu?"

"Tidak selalu, hanya kalau di sekolah saja," sahut Sakura mengoreksi. "Tapi, ya. Itu dia. Kenapa memangnya?" tanyanya bingung, jelas masih belum paham arah pembicaraan Ino.

"Kenapa memangnya?" Ino tampak kehabisan kata-kata selama beberapa saat. Ia hanya menggerak-gerakkan tangannya seolah dengan begitu Sakura akan mengerti. "Katamu dia lumayan tampan!"

Sakura terbengong selama beberapa saat. Lalu ia tertawa kecil. "Well, kurasa dia memang lumayan tampan."

"OH. MY. GOD!!! Kau sedang bergurau atau matamu memang minus?" Ino memegang bahu Sakura, lalu memutar tubuhnya dengan kasar sehingga ia bisa melihat Sasuke yang sekarang sedang bersandar di dinding dengan kedua lengan terlipat di depan dada, mengobrol dengan Naruto. "Lihat itu! Itu sih bukan lumayan tampan lagi. Tapi superduper tampan!" Ino berseru, melepaskan cengkeramannya pada Sakura. "Astaganagaulartangga… Dia cowok paling cakep yang pernah aku lihat seumur hidup! Kau beruntung banget sih bisa sama-sama cowok secakep itu, Sakura?"

Sakura tercengang menatap Ino. Ia lalu tertawa. "Kau terlalu berlebihan. Dia tidak sehebat itu kok," katanya dengan nada geli sambil melirik ke arah Sasuke lagi. Sepertinya ketampanan Sasuke sekali lagi memakan korban, pikirnya.

"Tapi… tapi…" Ino mengikuti arah pandang Sakura, lalu mendesah. "Lihat dia… jangkung, tegap, kulitnya bersih, tidak ada jerawat satu pun, tampan… dan, oh! Kau pernah bilang kalau dia sangat pintar kan?" gadis itu mendesah lagi, lalu meletakan kedua tangannya di atas dada. "Ya Tuhan… dadaku sampai berdebar-debar."

"Ino!" Sakura membelalak padanya, meskipun masih nyengir. "Kau sudah punya Idate Morino, ingat?!"

Ino langsung mengeluh keras. "Aah… kenapa kau mengingatkanku fakta itu sih?"

"Kau menyesal jadian dengan Idate?" Sakura menanyainya keheranan. Sebelah lengannya yang tidak memeluk buku diletakkan di pinggul.

"Tentu saja tidak," bantah Ino langsung. "Bagaimana pun, Idate tetap yang nomor satu. Tapi…" ia melirik nakal pada Sakura.

"Apa?" tanya Sakura, bingung dengan tatapan aneh sahabatnya. "Kenapa menatapku seperti itu?"

"Dengar, Sakura. Menurutku kau sebaiknya melupakan Hyuuga. Dia," Ino menunjuk Sasuke, "jelas sejuta kali lebih menarik dari pada Hyuuga. Lupakan yang jauh dan raih yang dekat. Kalau kau dan Sasuke bisa jadian, pasti hebat sekali, Sakura!"

Sakura tergagap selama beberapa saat sebelum ia kembali menemukan suaranya, "No way!" serunya keras. Tapi langsung memerah ketika anak-anak yang kebetulan sedang melintas melirik ingin tahu ke arahnya. Dengan suara lebih pelan, ia berkata, "Kau gila. Kami berteman, Ino. Gak mungkinlah kalau kami jadian. Lagipula aku… aku…"

"Masih teramat suka pada Neji?" tebak Ino, nyengir.

Sakura menelan ludah dengan susah payah, wajahnya merona merah. "Y-ya… maksudku… er… ya, seperti itu…" ia tergagap.

Ino tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya yang cantik. "Dasar cewek setia…" katanya.

Tepat saat itu, bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai berbunyi. Sakura menghembuskan napas lega. Dengan begitu Ino akan berhenti menyudutkannya. "Sudah bel. Kita harus masuk kelas." Gadis itu berbalik untuk bergabung dengan Naruto dan Sasuke menuju kelas Biologi. Ino yang juga mendapat jadwal Biologi yang sama dengan Sakura, mengikuti di belakangnya, masih terkekeh-kekeh.

Dan setelah mereka tiba di kelas, Ino dibuat keheranan ketika Sakura melewatinya dan duduk di barisan belakang bersama Naruto dan Sasuke. Setahunya, Sakura selalu duduk di barisan depan, kan? Tapi kemudian ia hanya mengangkat bahu dan duduk di bangku di sebelah bangku Shikamaru. Mendadak sisi kelas di mana Ino duduk menjadi teramat menarik bagi para cowok.

"Ino cewek paling popular di sini, Sasuke," Naruto menjelaskan pada Sasuke yang tidak peduli. Cowok bermata onyx itu mengeluarkan diktat Biologinya, sama sekali tidak mengacuhkan cowok-cowok yang berebut mengajak Ino mengobrol selagi Ibu Yuuhi belum masuk kelas.

"Dan paling cantik dan sarat prestasi. Dia mendapat perak di kejuaraan di Ame kemarin," Sakura menambahkan seraya melempar senyum bangga pada punggung Ino.

"Lalu hubungannya denganku apa?" kata Sasuke dingin.

Naruto mencondongkan tubuhnya ke bangku Sasuke dan berkata pelan, "Kalau Ino sampai naksir kau, kau bakal jadi cowok paling dibenci oleh cowok-cowok Konoha High. Jadi kau hati-hati saja. Hah… seharusnya mereka membuat obat pengurang kadar kegantengan. Itu berguna untukmu, Sasuke." Cowok itu memasang tampang serius yang tidak meyakinkan dan mengangguk pada Sasuke.

Sudut bibir Sasuke berkedut, dan ia terbatuk-batuk kecil untuk menyamarkan tawanya. Sementara itu Sakura, yang duduk di bangku depan Sasuke, segera menimpuk Naruto dengan gumpalan kertas yang ditemukannya tergeletak di atas mejanya.

"Mana ada obat macam itu. Ngaco!" katanya terkekeh-kekeh. "Lagipula, itu tidak akan terjadi, Naruto," lanjutnya sambil tersenyum. "Ino sudah jadian dengan orang lain. Anak kuliahan."

"Yang benar?" Naruto tampak penasaran, sementara Sasuke di sampingnya memutar bola matanya dan tidak berkata apa-apa.

Sakura diselamatkan dari kewajiban meladeni Naruto bergosip dengan kedatangan Ibu Kurenai Yuuhi. "Selamat pagi, anak-anak!" sapa wanita cantik itu.

"Selamat pagi, Bu…" balas anak-anak kompak.

Guru mereka meletakan buku dan tasnya di atas meja, dan berkata tegas, "Sekarang tutup buku kalian. Kita kuis!"

"Aaaaah…" murid-muridnya—kecuali yang belajar dengan benar malam sebelumnya—mengeluh keras-keras. Dan Naruto adalah salah satu yang mengeluh paling keras.

---

Rupanya hari itu bukanlah hari pertama masuk sekolah yang menyenangkan bagi Ino. Karena setelah kuis Biologi mendadak supersulit yang diberikan Ibu Yuuhi, mereka harus menghadapi kuis gila-gilaan lain yang diberikan Ibu Mitarashi di jam pelajaran berikutnya. Dan ketika bel istirahat berbunyi, tampang Ino tidak bisa lebih kusut lagi.

"Aargh! Sepertinya aku memilih hari yang salah untuk masuk sekolah!" gadis itu mengeluh keras sambil menjejalkan diktat-nya ke dalam tas dengan jengkel.

Sakura yang baru saja mendekat ke mejanya tertawa kecil. "Menurutku ini hari yang seru," ujarnya sambil mencangklengkan tas di bahu. Cengiran muncul di wajahnya ketika ia melihat serombongan cewek kelas satu bergerombol di dekat pintu, dengan heboh berusaha mengintip ke dalam kelas. "Setidaknya bagi Sasuke."

"Eh?" Ino mengangkat wajahnya. Melihat Sakura mengendikkan kepala ke arah pintu sambil nyengir, ia lantas mengikuti arah pandangnya. Alisnya terangkat. "Ngapain cewek-cewek itu kemari?" tanyanya heran.

"Barangkali mau melihat idola mereka," Sakura menjawab seraya menoleh ke arah Sasuke dan Naruto yang sedang mendekat. "Sasuke, penggemarmu tuh," katanya pada Sasuke sambil menunjuk ke pintu.

Mereka mendengar Sasuke menggerutu dan mengumpat pelan.

"Buruan ke kantin yuk. Lapar nih!" kata Naruto dari belakang Sasuke. Cowok pirang itu mengelus-elus perutnya.

"Tidak sebelum mereka semua menyingkir dari sana," gerutu Sasuke sambil menunjuk ke arah pintu, di mana serombongan gadis kelas satu—yang sepertinya tidak ikut ambil bagian dalam aksi pengeroyokan Sasuke di depan lokernya sendiri tadi pagi—berkerumun dan sibuk menjulurkan leher untuk mengintip ke dalam kelas.

"Jangan begitu, Sasuke," kata Sakura geli, "Mereka kan tidak bermaksud jahat. Mereka mengkhawatirkanmu, seharusnya kau berterimakasih."

"Yeah, terimakasih untuk ini," sahut Sasuke jengkel, menunjuk luka cakaran memanjang di lengannya yang putih.

Sakura dan Naruto tergelak mengingat kejadian tadi pagi sementara Ino menatap mereka keheranan. "Kalian ngomong apa sih?" tanyanya bingung sambil menutup kancing tasnya.

"Dasar!" kekeh Naruto sambil menggelengkan kepala. "Sini, biar kuurus." Dan saat berikutnya ia sudah melangkah ke pintu masuk dan menghampiri gadis-gadis yang penasaran itu sementara Sasuke mengawasinya dari kejauhan seraya berusaha menyembunyikan diri di belakang Sakura.

Ino melirik cowok itu keheranan sebelum melempar pandang bertanya pada Sakura.

"Tadi pagi dia dikerubuti cewek-cewek yang mengira dia sekarat di depan lokernya tadi pagi," Sakura menjawab pandangan Ino dengan nada geli.

"Sekarat?" Ino bertambah heran saja. Memang sih, ia melihat luka di bibir cowok itu. Tapi… sekarat? "Tunggu sebentar. Apa ini ada hubungannya dengan perkelahian yang aku dengar dari anak-anak tadi pagi?"

"Yeah, kurang lebih seperti itulah," sahut Sakura, mengangkat bahu, "Kemarin memang terjadi perkelahian. Pengeroyokan lebih tepatnya."

"Ya ampun!" seru Ino dengan ekspresi terkejut. Mata birunya melebar. "Kok bisa?" katanya sambil menoleh pada Sasuke. "Masalahnya apa sampai-sampai kau dikeroyok, Sasuke?"

Sasuke mengangkat alisnya pada Ino.

"Sebenarnya bukan Sasuke yang dikeroyok," jelas Sakura sambil tertawa kecil, "tapi dia dan Naruto menolong seseorang yang dikeroyok."

"Siapa?" tanya Ino lagi sambil kembali mengalihkan pandangannya pada Sakura, "Apa anak K-High juga?"

"Yeah," Sakura mengangguk pelan, "Anak baru yang satunya lagi, yang pindahan dari KAA, Sai."

"Ya, ampun… Kasihan sekali. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Ino bertanya lagi.

"Untungnya dia masih bisa selamat. Tapi lukanya lumayan parah juga," kali ini Naruto yang menjawab. Ia baru saja kembali dari 'mengurusi' pada penggemar Sasuke. "Sudah kubereskan, Sasuke," katanya sambil nyengir pada Sasuke, "mereka cuma ingin tahu keadaanmu. Mereka rupanya mengira kau kenapa-kenapa kemarin. Aku bilang saja kau sehat bugar dan menyuruh mereka tidak membuntutimu. Beres, kan?"

Sasuke menyeringai padanya. "Kau cocok jadi body guard, kau tahu?"

"Sialan kau!" cibir Naruto. "Ke kantin yuk. Keburu terlalu penuh nih!" katanya pada yang lain.

"Yuk," sahut Sakura riang. Lalu keempatnya berjalan meninggalkan kelas Budaya Dunia.

"Lalu kenapa bisa Sasuke yang dikira sekarat?" tanya Ino lagi ketika mereka sedang menyusuri koridor menuju kantin. Rupanya Ino masih penasaran dengan masalah ini.

Sakura tertawa. "Kau tahu lah… Gosip liar yang kerap beredar di sekolah ini acap kali simpang siur. Mereka bilang yang dikeroyok itu Sasuke, bukannya Sai. Dan yang paling parah, ada yang bilang kalau Sasuke..." gadis itu membuat isyarat dengan menggerakkan tangannya melintang di lehernya sambil sedikit menjulurkan lidah, "Kalau kau tahu maksudku," katanya sambil mengerling pada Sasuke yang tampaknya tidak memedulikan gossip apa pun yang beredar mengenai dirinya.

Ino ikut tertawa. "Wah, parah sekali…" Ia menoleh pada Sasuke yang berjalan di belakangnya. "Tapi kau harus maklum, Sasuke. Anak-anak di sini kadang-kadang bisa sangat sinting kalau membuat gosip. Waktu kami masih kelas satu dulu, Sakura pernah digosipkan hamil gara-gara mual-mual di toilet—padahal dia hanya masuk angin biasa," kata Ino terkekeh.

"Ino!" wajah Sakura memerah.

Namun Ino seperti tidak mendengarkannya. Rupanya ia terlalu bersemangat menceritakan kejadian memalukan setahun lalu itu pada Sasuke. "Waktu itu heboh sekali. Dia sampai dipanggil ke ruang BK segala dan harus membuat konfirmasi di mading untuk mencegah kehebohan yang lebih besar. Sudah seperti selebriti saja dia…"

"Ino, apaan sih! Gak penting banget cerita yang seperti itu!" Sakura menukas jengkel sambil mencubit lengan Ino.

"Iya, Ino tidak penting!" timpal Naruto, ikut-ikutan jengkel juga.

Ino mencibirnya. "Huh! Padahal dulu kau yang paling ribut. Ngamuk-ngamuk tentang siapa cowok yang berani mengham—mmph!"

Sakura telah memekapkan tangannya ke mulut gadis pirang itu. "Diam, tidak?!" katanya mengancam.

Ino melepaskan tangan Sakura yang memekap mulutnya, terkekeh-kekeh. "Iya deh, sori," katanya sambil menyilangkan jari di depan bibir, nyengir lebar.

Kantin sudah penuh ketika keempat remaja itu tiba di sana. Tapi seperti biasa, selalu ada meja kosong di tengah ruangan yang cukup luas itu untuk Sasuke, Sakura dan Naruto. Mereka sedang berjalan menuju meja itu ketika seorang gadis berkacamata dengan rambut merah yang dipotong asimetris menghampiri mereka.

"Hei, Ino!" panggilnya.

Yang dipanggil menoleh, tersenyum mendapati salah seorang rekannya di tim Cheers sudah berada di sampingnya. "Karin!"

Gadis itu kemudian melirik Sasuke dengan senyum genit—ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia melihat Sakura dan Naruto di sana—"Hai, Sasuke," sapanya. Suaranya mendadak menjadi sangat manis.

Sasuke mengacuhkannya dan berlagak seolah tidak mendengar apa-apa. Cowok itu terus saja berjalan menuju meja mereka yang biasa bersama Naruto. Tapi rupanya Karin tidak peduli ia diacuhkan atau tidak, matanya tetap mengikuti Sasuke, menatap punggung cowok itu penuh damba. Ino dan Sakura bertukar pandang melihat ini, lalu memutar bola mata mereka.

Ino berdeham keras, membuat Karin tersentak dari lamunannya. "Jadi, ada apa?" Ino mengangkat alisnya menatap si gadis kacamata.

"Oh!" Karin seakan baru ingat tujuannya menyapa Ino, "Gabung di meja kami yuk. Katanya kau ada yang ingin dibicarakan?" ia mengingatkan.

"Oh yeah, benar." Ino berpaling pada Sakura. "Sori, Sakura. Aku gabung sama anak-anak ya."

"Oke," Sakura mengangguk. Kemudian Ino berlalu bersama Karin menuju meja tempat di mana anak-anak Cheerleaders biasa duduk, meja gadis-gadis populer. Sakura menghela napas, lalu berjalan menuju mejanya sendiri. "Jadi… sepertinya hari ini giliranku, kan?" tanyanya pada kedua sahabatnya yang sudah duduk manis di sana seraya meletakkan buku dan tasnya di kursi. "Kalian ingin makan apa?"

"Terserah kau saja," sahut Sasuke tanpa mengalihkan matanya dari buku putihnya yang biasa—sepertinya ia belum selesai-selesai membacanya dari dulu, atau memang diulang-ulang?

"Ramen? Kalau tidak keberatan…" Naruto memandangnya penuh harap.

"Sepertinya hari ini aku mau sandwich tuna saja deh," kata Sakura sambil melenggang pergi menuju konter makanan.

"Kalau begitu, kenapa tanya?" gerutu Sasuke sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara itu, Sakura dengan susah payah menembus kerumunan anak untuk bergabung dengan antrian. Tapi rupanya hari itu tidak semudah biasanya karena ia harus berhenti untuk membalas sapaan yang datang padanya dan menjawab bombardir pertanyaan soal perkelahian kemarin dari anak-anak yang penasaran. Akhirnya, setelah entah keberapa kalinya ia menjelaskan bahwa yang dikeroyok bukan Sasuke, gadis itu berhasil juga mendapatkan makan siangnya.

Setelah mengucapkan terimakasih pada gadis penjaga konter, ia berbalik sambil berusaha menjaga keseimbangan supaya botol-botol sari apel di nampannya tidak jatuh—agak sulit melakukannya mengingat ia juga harus menembus kerumunan. Hah… harusnya mereka memperluas kantin ini, pikirnya.

"Permisi… Permisi… Ouch!" Sakura terhuyung ketika kakinya tidak sengaja tersandung kaki-entah-siapa. Berusaha menjaga keseimbangan—tapi gagal—Sakura terhuyung menabrak orang di depannya. Orang itu berbalik dengan kaget karena tiba-tiba ditabrak, sikunya tidak sengaja menyenggol nampan yang dibawa Sakura. Nampan itu melayang dan terjatuh dengan bunyi berkelontangan. Sandwich-nya terjatuh dan botol-botol sari apelnya menggelinding ke segala jurusan. Sakura barangkali sudah tersungkur kalau saja orang yang ditabraknya itu tidak mengulurkan tangan menangkapnya, membantunya mempertahankan keseimbangan.

Dan ketika ia mendongak untuk meminta maaf pada orang yang ditabraknya, wajahnya langsung merah padam. Ia menahan napas demi memandang mata lavender milik cowok paling kece di kelas tiga itu balas menatapnya. Sakura merasa wajahnya sangat panas saat itu sampai-sampai ia tidak akan heran kalau ada uap panas yang keluar dari kedua telinganya. Ia begitu terpesona sampai lupa bernapas.

"Tidak apa-apa, kan?" tanya Neji Hyuuga padanya.

Mulut Sakura membuka dan menutup, tidak ada kata-kata yang jelas terucap mulutnya kecuali suara aneh seperti dengkuran rendah. Neji mengangkat alisnya. Sakura tersentak, mendadak sadar bahwa tangan mereka masih saling berpegangan. Gadis itu buru-buru menarik kembali tangannya dari pegangan Neji dengan gugup. Ia mengangguk.

"Baguslah," ujar Neji dengan senyum tipis. "Ah, makan siangmu," cowok itu menunduk, memandang sandwich yang berceceran di lantai.

"Ah!" Sakura tersentak lagi. Gadis itu buru-buru berlutut untuk membereskan makanan yang berserakan itu. Neji ikut berlutut bersamanya, membantunya mengumpulkan sisa sandwich yang sebagian rupanya telah terinjak-injak.

"Biar aku ganti," kata Neji sambil menaruh potongan roti yang sudah kotor ke atas nampan. "Yang ini dibuang saja. Sudah kotor."

"T-tidak usah," sahut Sakura cepat-cepat. Merasa sangat tidak enak hati—Sakura merasa ialah yang menabrak Neji, masa cowok itu yang menggantikan makanannya? "Aku bisa ambil sendiri, kok…" tambahnya pelan sekali.

Dan sepertinya Neji tidak mendengarnya. "Tiga sandwich, kan?" tanyanya. Dan tanpa menunggu jawaban Sakura, ia berbalik menuju konter—setelah sebelumnya membuang makanan yang sudah kotor ke tempat sampah.

Sementara Neji pergi ke konter untuk mengambil ganti makanannya, Sakura menepuk dahinya dengan geram, mengutuki kecerobohannya sampai ia menyusahkan orang lain seperti ini. Terlebih ini adalah... ehm... 'Sang Pangeran Berkuda Putih'? Kemudian ia teringat pada botol minumannya yang terjatuh. Sakura buru-buru menunduk lagi untuk mengambilnya. Tapi rupanya sudah ada sosok baik hati yang memungutkannya untuknya. Sakura mendongak.

"Minumanmu, kan?" tanya Lee sambil mengulurkan tiga botol sari apel pada Sakura. Cowok itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putih bersinar seperti iklan-iklan pasta gigi di televisi.

Sakura segera bangkit. "Ah, iya. Trims," Sakura membalas senyum Lee sambil menerima kembali minumannya.

"Kelihatannya sangat repot, ya? Kenapa tidak mereka saja yang mengambilkan makanan?" Lee mengerling meja tempat Naruto dan Sasuke sedang duduk. Pandangannya sedikit mencela melihat dua cowok itu enak-enakkan duduk sementara seorang gadis tidak berdaya mengambilkan mereka makanan.

"Kami menggilirnya dan hari ini giliranku mengambil makanan," Sakura buru-buru menjelaskan.

"Oh, begitu…" Lee tersenyum lebar lagi padanya, mengangguk paham.

Tepat saat itu, Neji sudah kembali dengan membawa senampan makanan baru untuk tiga orang. Sandwich tuna seperti tadi, plus salad dan kentang goreng. "Sebagai permintaan maafku karena telah menumpahkan makananmu," katanya.

Sakura mengerang dalam hati. Ya ampun, ya ampun, ya ampun… Baik sekali dia... Ia nyengir tidak enak pada cowok itu. "Harusnya aku yang minta maaf..." desahnya sambil mengambil nampan yang diulurkan Neji kepadanya.

"Kan tadi tanganku yang memukul nampanmu," sahut Neji, tersenyum tipis. Lalu ia menoleh pada Lee. "Siap mengerjakan proyek lagi, kan?"

Lee mengeluh pelan. "Ke perpus?"

"Tenten barangkali sudah di sana," kata Neji.

"Baiklah..." Lee menggerutu, lalu berbalik meninggalkan kantin.

Neji menoleh lagi pada Sakura yang masih terbengong di tempatnya. "Yuk, Sakura," katanya, sekali lagi memberi gadis itu senyum tipisnya yang memesona. Cowok itu mengangguk, lalu berbalik pergi menyusul Lee.

"Ya... Trims..." Sakura mendesah. Pandangannya mengikuti punggung cowok itu sampai ia benar-benar menghilang di pintu kantin. Ya ampun! Apa tadi dia baru saja memanggilku SAKURA?!

Perasaannya mendadak menjadi seratus kali lebih riang ketika ia berjalan ke arah meja tempat Sasuke dan Naruto telah menunggu makan siang mereka. Rasanya bibirnya tidak bisa berhenti nyengir.

"Kenapa senyum-senyum, Sakura?" Naruto menanyai gadis itu keheranan ketika Sakura datang dan meletakkan nampan mereka di atas meja.

"Hm?" Sakura tersenyum padanya, "Oh, tidak kenapa-kenapa, kok," sahutnya ceria. "Yuk, dimakan. Enak, lho…" Ia lalu mengambil sandwich, lalu menggigitnya, mengunyahnya perlahan-lahan. Dengan sepenuh hati.

Naruto menatapnya keheranan selama beberapa saat lagi sebelum menoleh pada Sasuke, melempar pandang ada-apa-dengan-Sakura yang langsung dijawab cowok itu dengan bahu yang terangkat. Tanpa ambil pusing dengan sikap Sakura yang mendadak menjadi sangat riang, Sasuke juga mengambil sandwich-nya dan mulai makan.

"Kalian bertiga pasti bercanda, kan?"

Suara seorang gadis beberapa menit kemudian membuat ketiganya menoleh. Ino sudah berdiri di samping meja mereka dengan satu tangan memegang botol sari jeruk sementara tangan yang lain memegang sesuatu yang sepertinya sebuah majalah. Ekspresinya geli.

"Ng?" Sakura menatap Ino dengan alis terangkat. Mulutnya penuh daun selada.

Ino menarik sebuah kursi ke meja mereka dan duduk. Ia mengulurkan majalah yang dibawanya pada Sakura, "Majalah sekolah yang baru saja terbit. Baru dapat dari Kiba. Ada artikel tentang kalian bertiga di dalamnya."

Sakura menelan saladnya dan buru-buru membuka-buka majalah di tangannya. Naruto dan Sasuke yang juga penasaran menjulurkan leher mendekat untuk ikut melihat. Artikel itu ada di rubrik persahabatan. Sakura, Sasuke dan Naruto dibuat tercengang dengan foto-foto yang ada di sana. Beberapa foto yang menampilkan Sakura, Sasuke dan Naruto sedang bertengkar di koridor, saat awal-awal mereka bersama dalam hukuman konyol itu. Lalu foto-foto lain yang ketiganya tidak punya ide sama sekali kapan mereka mengambilnya. Bahkan foto saat mereka merayakan ulang tahun Naruto di panti asuhan juga ada.

"Keren… Dari mana mereka mendapatkan ini?" Naruto bertanya takjub sementara matanya tidak lepas memandangi deretan foto-foto itu.

Namun Ino mengabaikan pertanyaannya dan berkata. "Baca bagian ini. Tadinya aku tidak percaya, tapi setelah lihat sendiri..." ia menunjuk di bagian bawah artikel. Ketiga yang lain merapat untuk membacanya,

"...Ikatan persahabatan antara Naruto uzumaki, Sakura Haruno dan Sasuke Uchiha sepertinya memang tidak bisa diputus dengan mudahnya hanya dengan masa hukuman yang berakhir. Buktinya, setelah beberapa minggu sejak masa hukuman mereka berakhir, ketiganya masih kerap terlihat bersama. Nona penjaga kantin mengatakan bahwa ketiganya masih memesan makan siang dengan satu nampan. Juga para anggota klub sepak bola yang memberitahu kami bahwa Haruno dan Uchiha selalu datang saat latihan rutin. Pak Kakashi Hatake selaku pembimbing BK yang berperan dalam 'penyatuan' ini mengatakan bahwa beliau sangat senang dengan..."

"Tidak..." Sakura mendesah, menggelengkan kepalanya. Naruto dan Sasuke juga sudah mengangkat wajah mereka dan kini bertukar pandang.

"Ini sudah hampir dua minggu sejak hukuman itu berakhir, kan?" kata Ino seraya melirik ke nampan makan siang mereka, "dan kalian masih..."

Seakan tidak mendengarkan kata-kata Ino, ketiga remaja itu serempak berdiri, menyambar tas mereka dan berlari bergedebukan meninggalkan kantin.

"...makan dalam satu nampan." Ino menghela napas. Ia lalu membuka botol sari jeruknya. "Dan tahu tidak, mereka semua ternyata mengajakku bergabung di meja mereka hanya untuk mencecarku soal gosip aku pacaran dengan anak kuliahan. Mereka sama sekali tidak memberiku kesempatan bicara soal pengunduran diriku dari klub cheers. Yah, dari pada bosan ditanyai ini itu, aku pergi saja bergabung dengan kalian. Terimakasih sudah bertanya..." Ino menyeruput sari jeruknya dengan tenang dan damai.

"Ngomong-ngomong, boleh aku minta kentang gorengnya?"

-sigh-

"Great…"

---

Kantor Guru...

Kakashi Hatake sibuk menenangkan ketiga muridnya yang ramai berteriak-teriak memprotes. Meski begitu ia tidak tampak marah pada ketiganya yang jelas-jelas membuat keributan di ruang guru. Sebaliknya, ekspresi pria itu tampak geli—seakan ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.

"Tenang dulu, Sakura, Naruto, Sasuke..." ujarnya sabar sembari mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan ketiga muridnya.

"Seharusnya Anda memberitahu kami—" Sasuke memprotes.

"Hukuman kami sudah selesai tapi Anda—" Naruto berteriak.

"Kau tega sekali, Kakashi—" siapa lagi kalau bukan Sakura.

"Ssh... pelankan suara kalian, anak-anak..." Kakashi berkata geli seraya mengedarkan pandang ke sekeliling ruang guru, melempar pandang minta maaf kepada kolega-koleganya yang ada di sana. "Ini ruang guru. Lihat tuh, Bapak dan Ibu Guru kalian tampak terganggu..." ia kedengarannya seperti guru TK yang sedang menenangkan murid-muridnya yang kelewat histeris tidak kebagian kue.

Kurenai Yuuhi dan Anko Mitarashi yang kebetulan ada di sana terkikik melihat kelakuan guru dan murid itu.

"Baiklah, kalau kalian bertiga ingin bicara. Kita pindah ke ruang BK."

Kakashi lantas beranjak dari mejanya, berjalan menuju pintu dan pergi ke ruang BK. Sakura, Naruto dan Sasuke mengikuti di belakangnya, tampang mereka tidak puas. Entah mengapa Kakashi merasa deja vu dengan kejadian hari itu. Ini situasinya hampir mirip dengan sebulan lebih yang lalu, saat pertama kali ia menjatuhkan hukuman bagi ketiga murid-nya ini. Hanya saja kali ini Sasuke dan Naruto tidak berusaha saling cekik.

"Silakan masuk," kata Kakashi kalem seraya mendorong pintu ruang BK membuka dan ia minggir untuk memberi ketiga muridnya masuk terlebih dahulu.

Tanpa disuruh dua kali, Sasuke, Sakura dan Naruto masuk dan langsung mengambil tempat duduk di depan meja guru pembimbing BK—yang saat itu kosong—dengan posisi persis seperti saat pertamakalinya mereka duduk di sana; Sakura di tengah sementara dua cowok lainnya duduk di kanan kirinya. Kakashi tersenyum kecil, lalu melenggang duduk di kursi di balik meja.

"Jadi..." ia memulai dengan ekspresi kalem. Tapi Sakura dengan cepat menyelanya,

"Mengapa kau tidak langsung memberitahu kami begitu masa hukuman selesai, Kakashi?"

Kakashi tertawa kecil. "Pak Hatake, Nona Haruno. Tapi yah... aku akui memang aku sengaja tidak memberitahu kalian."

"Kenapa?" tuntut Sasuke geram.

"Aku kira kalian pasti menghitung setiap hari yang kalian jalani—sebagai hukuman?" Kakashi mengangkat alis menatap ketiga muridnya.

Sasuke dan Sakura langsung membuang muka dengan wajah merona, sementara Naruto tampak bingung. Naruto barangkali tidak, tapi baik Sakura dan Sasuke melakukan hal yang dikatakan guru mereka barusan. Hanya saja, entah karena lupa atau apa, selang dua minggu setelah hukuman dijalankan mereka berhenti melakukannya—menghitung hari, maksudnya. Mengherankan betapa murid cemerlang seperti mereka berdua bisa menjadi pelupa seperti itu.

"Dan aku memang tidak tega memisahkan kalian. Sepertinya kalian sudah sangat lengket satu sama lain, jadi... kupikir tidak ada salahnya membiarkan kalian, kan?" lanjut Kakashi sambil tersenyum.

Sasuke, Sakura dan Naruto bertukar pandang. Dalam hati membenarkan ucapan gurunya itu. Tapi tetap saja mereka kesal karena merasa sudah ditipu mentah-mentah oleh sang guru.

"Tapi, Pak," kata Naruto, kembali memandang gurunya yang mengangkat alis padanya, "Kan kasihan Sasuke dan Sakura, harus menemaniku latihan bola setiap hari padahal seharusnya sudah tidak perlu lagi. Sakura juga sudah bolos klub teaternya..."

"Apa kau tidak senang ditemani Sasuke dan Sakura?" tanya Kakashi tenang, "Atau Sasuke dan Sakura merasa keberatan menemanimu latihan?" ia memandang dua yang lain.

Ketiganya terdiam selama beberapa saat. Naruto menundukkan kepala, merenungi setiap sesi latihan yang ia habiskan bersama Sasuke dan Sakura. Rasanya baru kali itu ia merasa begitu gembira dalam latihan. Belum lagi kenyataan bahwa ia menemukan sosok sahabat yang diidamkannya dalam diri Sasuke dan Sakura.

Di samping Naruto, Sakura menoleh sedikit ke arahnya, berpikir. Ia memang keberatan pada awalnya, tapi toh lama-lama ia menikmatinya juga. Menyenangkan bisa menggali sisi lain dalam diri Naruto dan Sasuke. Dan ia juga jadi tahu banyak soal persepakbolaan tanpa harus banyak baca buku.

Sementara Sasuke... menemani Naruto latihan sudah menjadi semacam rutinitas baginya. Dengan semua latihan itu, ia merasa telah melakukan sesuatu yang berguna, dan itu terasa sangat menyenangkan—meskipun ia sangat enggan mengakuinya secara lisan, terlebih di depan Naruto.

"Aku senang kok," jawab Naruto pelan, nyaris berbisik. Sementara itu Sakura dan Sasuke menggeleng pelan yang menunjukkan bahwa mereka tidak keberatan menemani latihan Naruto.

"Kalau begitu, seharusnya tidak perlu diributkan lagi," kata Kakashi ceria. Ia memandang ketiga muridnya bergantian. "Tapi sekarang semuanya terserah kalian bertiga saja. Aku tidak melarang kalian makan dalam satu nampan lagi lho... Dan, ah! Sebentar..." ia membuka salah satu laci meja dan menarik tiga helai kertas kosong, lalu mengangsurkannya pada ketiga muridnya. "Coba kalian tuliskan di kertas itu, bagaimana perasaan kalian pada dua yang lain selama sebulan belakangan."

Ketiganya bertukar padang keheranan lagi. Ini seperti waktu itu...

"Bisa dimulai sekarang," kata Kakashi sembari menyodorkan tiga bolpoint pada mereka.

Ketiganya mengangguk, lalu mulai menulis. Berbeda seperti yang dulu, kali ini baik Sasuke, Sakura dan Naruto agaknya membutuhkan lebih banyak waktu untuk menulis. Jelas bagi Sasuke, satu kata saja tidak akan cukup untuk mewakili apa yang ia rasakan selama ini terhadap Sakura dan Naruto.

Kakashi tersenyum puas ketika membaca tulisan ketiga anak didiknya. Tapi alih-alih membacanya keras-keras seperti dulu, kali ini ia membiarkan ketiga muridnya itu membaca sendiri apa yang ditulis teman mereka tentang diri mereka. Dan pada akhir sesi, Naruto—yang memang paling mudah terharu di antara ketiganya—tidak bisa membendung air mata harunya membaca apa yang ditulis Sasuke dan Sakura tentang dirinya. Wajah Sakura merona merah dan ia menarik-narik rambutnya, seulas senyum terlukis di bibirnya. Sementara Sasuke, ia hanya menunduk, tidak tahu harus berkata apa.

Kakashi lalu merogoh saku jasnya, menarik keluar tiga carik kertas yang dilipat. Dibukanya lipatan kertas itu, kemudian diangsurkannya ke depan ketiga muridnya. "Sekarang coba kalian bandingkan," ujarnya, "Renungkan kembali. Kalian bisa menyimpannya sebagai pengingat, bahwa persahabatan itu jauh lebih menyenangkan daripada permusuhan. Kalian mengerti, kan?"

Ketiga remaja itu mengambil kertas masing-masing, membaca kembali dan mendadak menjadi malu sendiri. Terlebih Sasuke. Ia menatap tulisan tangannya sendiri di carikan kertas lamanya, masing-masing satu kata untuk Sakura dan Naruto. Ia mendengus tertawa. Kata itu sebenarnya lebih pantas ditujukan pada dirinya sendiri dulu. Ah, bukankah manusia itu ibaratnya sebuah teko? Teko hanya memuntahkan apa yang ada di dalamnya. Kalau di dalamnya air bening, maka yang keluar akan bening juga. Kalau di dalamnya kotor, maka kotorlah yang keluar. Begitu juga dengan ia.

Dan ketika Sasuke menolehkan kepala menatap Sakura dan Naruto yang duduk di sampingnya, ia tersenyum tipis. Sepertinya kalian berdua telah berhasil membersihkan satu teko yang teramat kotor, teman-teman...

---

Seperti yang ditulis dalam artikel di majalah sekolah, ikatan persahabatan yang tercipta antara Sasuke, Sakura dan Naruto memang tidak tidak bisa putus begitu saja hanya dengan masa hukuman yang telah berakhir. Memang mereka tidak lagi selalu bersama-sama. Misalnya saja sekarang setiap pulang sekolah Sakura sudah jarang terlihat menemani latihan Naruto. Gadis itu memilih bergabung kembali di klub teater yang dicintainya. Tapi semua itu tidak lantas membuat ketiganya menjauh. Justru persahabatan itu sendiri tampaknya telah mempererat ikatannya pada tiga remaja tanggung itu.

---

TBC...

---

Banyak adegan yang aku potong di chap ini. Apa ada potongan yang terlihat jelas sampai jadi aneh gak? Er… gomen, Sai gak dimunculin di chap ini. Biarkan dia bobo dulu di RS sampe sembuh. Hihi… Btw, kalo ada yang inget pas chapter Kakashi makan malam di rumah Sakura, Kakashi kan pernah mau ngomong sesuatu sama Sakura tapi gak jadi. Sebenarnya waktu itu dia mau ngasih tahu kalau masa hukuman mereka udah habis.

Haduh, ngelantur deh… Buat yang udah review, seperti biasa, makasiiih banget!! –peluk2 semuanya-

Furukara Kyu : Lho, kok malah berharap gak pernah tamat? –nangis kejer- Iya, chap kemarin pendekan soalnya pecahan dari chapter 30. Kalo panjang-panjang mulu kan cape bacanya.. ^^ Romance-nya tungguin aja yah. –peluk2 Furu-chan yang kenceng- btw, makasih masukkannya…

Kakkoii-chan : Semakin akrab gak ya? Liat aja nanti ya, Dear..

Dilia-chan : -speechless lagi- Siapa bilang ripiu gak penting? Penting bangeeet~ -peluk2 Dilia-

Uci-chan : Waduh, putz gak ngerencanain Sai amnesia tuh. Lagian sudah ada fic lain yang nyeritain tentang amnesia. Gak asik kan kalo sama.. ^^

Antlia : Aaah, begitu penasarannya dirimu dengan buku putih Sasuke? Hihi… -ditakol- Di chapter 34 insya Allah dibahas buku apa sebenarnya itu, tapi gak keseluruhan. Jadi sabar aja ya, Bu… XD

Cherry89 : Tanya? Boleh dong… Oh, yang itu yah? Hehe… gomen, putz gak nyebutin timeline-nya jadi agak bikin bingung. Jadi, tadinya Naruto mikir kalo dia akan ke rumah sakit nengokin Sumaru sendirian, tapi tahu-tahu ada kejadian Sai dikeroyok. Jadinya malah ke rumah sakitnya rame-rame. Gitu…

Ambu : Ambu… chapter-chapter abis ini kok semakin susah ditulis yaa??? –lho, kok malah curhat?- Putz baru nonton 'perfume' nih –merinding- puas deh mantengin Pakde Rickman. Hihi… XD

Teh Bella : hehe… iya yah, jadi inget itu. Inui emang rese banget tuh, Teh. Hayo bantai sama-sama! XD

Chika-chan : Hyaaah, makasih… -peluk2- ini update-annya, hun!

Catt-chan : Aduh, makasih udah review satu-satu gitu, Catt-chan. Komenmu bikin speechless deh. XD

Uzumaki khai : hehe… haduh, jangan gitu dong… Jadi gak tega nih sama anaknya. Ini udah diupdate, say..

Eceu Arya : Eceu… -peluk2- Haduh, meuni sibuk, nya? Hihi… komenmu bikin senyum-senyum sendiri deh. Iya nih, Sai mulai diekspos. Tapi begitu diekspos, dianya malah masuk rumah sakit. Hihi…