Chapter 33
Hari Minggu paginya cuaca cerah. Langit begitu bersih tanpa ada segumpal awan pun. Benar-benar waktu yang cocok untuk berolahraga, Sakura membatin seraya menghirup udara pagi yang segar dalam-dalam. Tapi... brrr... tetap saja menjelang penghujung tahun. Dingin...
Gadis berambut merah muda itu menggosok-gosok lengannya yang dilapisi sweter berwarna marun sebelum kemudian menutup jendela kamarnya sebagian. Ia beranjak dari sisi jendela menuju meja riasnya untuk mengambil sikat rambut dan mulai menyisiri rambutnya yang panjang menjuntai sampai hampir mencapai pinggang. Barangkali lebih enak kalau digerai saja, pikirnya, lebih hangat.
Setelah selesai memasang bandana—yang juga berwarna marun—di atas rambutnya dan memoleskan lip balm di bibirnya, Sakura melangkah menjauhi cermin lalu tersenyum puas pada bayangannya. Gadis itu mengenakan jeans hitam dipadu sweter marun sederhana. Tidak berlebihan kalau kau akan datang ke tempat latihan sepakbola sahabatmu, bukan?
Ya, hari ini ia akan menonton latihan pertandingan Naruto di Stadion Konoha. Sebenarnya ini bukan yang pertamakalinya bagi tim inti Konoha High, tapi bagi Naruto yang baru saja terpilih bergabung di tim inti, ini adalah kali pertama. Dan setiap pengalaman pertama pasti terasa istimewa, begitu juga dengan Naruto, pikir Sakura. Dan dengan tindakan sederhana seperti menyambanginya, ia yakin itu akan lebih mendongkrak semangat Naruto. Itulah yang akan dilakukannya hari ini bersama Sasuke.
Sakura mengerling jam beker berbentuk Minnie Mouse di atas meja kecil di samping ranjangnya yang sudah rapi. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk pergi ke Stadion—dan memang bukan itu tujuannya bangun pagi. Karena ada yang harus dilakukannya sebelumnya.
Gadis itu beranjak ke meja belajar di salah satu sisi kamarnya di samping sebuah rak besar yang penuh dijejali buku. Ia lantas mengambil sebuah buku bersampul kulit berwarna hitam yang diletakkan di samping PC-nya. Itu adalah buku yang ditemukannya saat ia mengunjungi makam kakaknya tempo hari. Buku itu tergeletak begitu saja di dekat nisan kakaknya. Barangkali saja seseorang tidak sengaja menjatuhkannya di sana. Sakura belum sempat memeriksanya lagi—atau lebih tepatnya, sama sekali melupakannya—sampai tadi malam, saat ia sedang membongkar tas yang biasa dipakainya saat bepergian.
Pada awalnya, Sakura terkejut ketika menemukan nama salah satu teman seangkatannya—yang tidak disukainya—tertera di sudut atas sampul dalam buku itu. Sai. Bagaimana buku itu bisa sampai di dekat makam kakaknya, Sakura sama sekali tidak tahu. Yang ia tahu adalah, saat ia membacanya mendadak dadanya dipenuhi rasa bersalah dan kasihan. Gadis itu sama sekali tidak menyangka, cowok seperti Sai ternyata memiliki masalah yang begitu berat. Sakura bisa melihatnya di tulisan tangan cowok itu; kemarahan, sakit hati, kehilangan, kesedihan dan kesepian, bagaimana ia tertekan di rumah, tidak diterima di sekolah. Sakura tidak mengerti bagaimana Sai bisa menahan semua itu sendirian.
Sakura merasa ia harus membantu cowok itu. Menyingkirkan untuk beberapa saat perasaaan sakit hatinya atas ejekan Sai terhadapnya. Naruto pasti setuju, meskipun ia tidak begitu yakin Sasuke akan berpendapat sama. Karena ketika Sakura menceritakan apa yang dibacanya di dalam buku harian Sai padanya malam sebelumnya via telepon, mereka sempat berdebat sengit.
"Itu urusannya, bukan urusanku!" kata Sasuke saat itu. "Aku tidak mau ikut campur. Titik. Lagipula kau seperti orang kurang kerjaan saja membaca buku harian orang. Memangnya tidak ada buku lain yang lebih penting yang bisa kau baca? Dasar cewek tidak sopan!"
Oh, yeah. Sebagian kata-kata Sasuke memang ada benarnya, terutama soal 'membaca buku harian orang'. Sakura sempat malu juga saat itu. Tapi bukan Sakura Haruno namanya kalau kalah dalam perdebatan yang menghabiskan waktu semalaman itu. Akhirnya, setelah adu urat yang melelahkan, Sasuke setuju untuk menemani Sakura ke Rumah Sakit untuk menjenguk Sai sebelum mereka pergi ke Stadion Konoha.
"Hanya untuk mengembalikan buku," ujar Sasuke, menekankan tujuan mereka menyambangi Sai besok.
"Hanya untuk mengembalikan buku," ulang Sakura setuju.
Dan itulah yang akan mereka lakukan pagi itu sebelum pergi ke stadion; pergi ke rumah sakit untuk mengembalikan buku harian Sai.
Sakura menjejalkan buku itu bersama dengan ponsel dan dompet ke dalam tas selempangnya sebelum beranjak meninggalkan kamar.
Azami terlihat sedang asyik menelepon ketika Sakura tiba di ruang tengah. Dari ekspresinya, Sakura bisa menebak kalau ibunya itu sedang bicara pada ayahnya. Gadis itu tersenyum jahil, lalu berkata keras-keras supaya ayahnya bisa mendengar juga, "Duh... pagi-pagi sudah mesra-mesraan, nih!!"
Ibunya menoleh, lalu tertawa. "Tuh, dengar. Anakmu ini benar-benar mirip kau waktu muda, Hiro..." katanya pada suaminya di seberang.
Sakura pura-pura cemberut, kemudian ikut tertawa. Gadis itu bergegas mendekati ibunya, dan berbicara bersemangat, "Ayah apa kabar? Kapan pulang?"
Terdengar suara Hiroyuki tertawa dari seberang. "Kabar ayah baik, Sayang. Kalau pulang, ayah juga belum tahu. Hari ini harus terbang ke Iwa."
Sakura mengeluarkan suara memprotes keras-keras. Membuat ayah dan ibunya tertawa lagi. "Jangan lupa oleh-olehnya, Yah!" serunya kemudian.
"Sudah sana sarapan dulu," kata Azami sambil menutup gagang teleponnya dengan tangan. "Ibu sudah siapkan di meja makan."
Sakura pura-pura cemberut lagi. "Padahal bilang saja mau bicara berdua saja dengan ayah," ujarnya dengan nada jahil.
"Kamu..." Azami mencubit pipi putrinya dengan gemas sambil tertawa kecil. "Ayo sana sarapan dulu. Nanti keburu dingin supnya."
Gadis bermata zamrud itu nyengir lebar. Ia lantas menaruh tasnya di atas sofa lalu beranjak menuju ruang makan. Rupanya hari ini Azami sudah menyiapkan sarapan tradisional berupa semangkuk nasi, sup dan lauk. Sarapan favorit ayahnya, Sakura membatin sambil tersenyum. Ia duduk di salah satu kursi dan mulai makan.
Ia sudah menghabiskan setengah sarapannya ketika Azami masuk ke ruang makan sambil membawa gagang telepon wireless-nya. "Ayah mau bicara denganmu," beritahunya.
Sakura memekik senang. Ia meletakkan mangkuk supnya dan mengambil gagang telepon yang diulurkan ibunya. "Halo, Ayah?"
"Sakura, Sayang," sahut suara Hiroyuki dari seberang. "Kau sehat-sehat saja, kan?"
"Ayah kan tahu aku tidak gampang sakit," seloroh Sakura riang, "Aku seratus persen sehat!"
Hiroyuki tertawa kecil di seberang. "Syukurlah kalau begitu. Ayah dengar di Konoha sekarang sedang marak wabah flu. Ayah jadi kepikiran."
Memang sih, pikir Sakura. Teman-temannya di sekolah juga banyak yang absen karena kena flu musim gugur. "Tidak apa-apa kok, Yah," kata Sakura, "Aku akan jaga kesehatan, makan teratur, minum vitamin, pakai jaket kalau keluar, bawa payung kalau hujan—"
Pemaparan panjang Sakura soal segala macam 'tindakan pencegahan' disela oleh suara tawa dari seberang. "Iya iya... Ayah percaya sepenuhnya pada putri ayah yang pintar ini," kekeh Hiroyuki.
Sakura tertawa, sementara ibunya yang sekarang duduk sarapan di sampingnya tersenyum.
"Ah, lihat sudah jam berapa! Ayah harus cepat-cepat ke bandara!" kata Hiroyuki. "Sakura, Nak, Ayah titip ibumu, ya. Kau tahu kan ibumu itu gampang sakit, tidak sepertimu, jadi jangan sampai dia terlalu lelah. Dan..."
Sakura nyengir sendiri sementara ayahnya terus saja memberi wejangan yang intinya adalah supaya Sakura menjaga ibunya. "Baik, Yah. Aku tahu kok..."
"Kau juga jaga kesehatan, belajar yang rajin..." pesan Hiroyuki lagi.
"Aku tahu..." sahut Sakura.
"Ayah tahu, Ayah bisa mengandalkanmu, Nak." Ia terdiam sejenak. "Ayah harus berangkat sekarang kalau begitu. Salam buat orang-orang yang ada di sana, ya..."
"Oke, Yah!"
"Ayah sayang padamu, Nak,"
"Sakura juga sayang Ayah..." Sakura membalas sambil tersenyum.
Sambungan terputus. Sakura meletakkan gagang teleponnya di atas meja. "Ayah itu kelewat cemas soal ibu kena flu," beritahunya pada sang ibu yang langsung tertawa.
"Sama sepertimu kan, Sayang?"
Sakura nyengir, karena apa yang dikatakan ibunya itu memang benar adanya. Sifat gampang cemas itu memang diwarisinya dari sang ayah. Hening sementara mereka melanjutkan sarapan. Setelah selesai, Sakura bertugas membersihkan piring-piring kotor sementara ibunya bersiap-siap. Hari ini mereka akan pergi ke restoran sama-sama naik wagon. Sakura dan Sasuke memang sudah janjian akan bertemu di sana, jadi Sakura bisa membantu sebentar di restoran sebelum pergi.
"Ibu, hari ini aku pergi ke kota, ya," celetuk Sakura ketika keduanya sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju menuju Crimson Drive. "Mau melihat latihannya Naruto di Stadion Konoha dengan Sasuke. Tapi sebelumnya aku mau ke rumah sakit dulu."
"Lho? Memangnya ada temanmu yang sakit?" Azami bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Siapa?"
"Sai. Itu lho, cowok baru yang pernah kuceritakan. Yang dikeroyok itu," jelas Sakura.
"Oh, dia... Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kurang tahu sih, Bu. Soalnya aku belum pernah menjenguknya lagi. Kata Naruto—karena memang dia yang paling rajin menjenguk Sai—sih, sudah jauh lebih baik. Aku ke sana sekalian mau mengembalikan bukunya yang terbawa olehku."
"Begitu... Boleh. Mudah-mudahan dia cepat sembuh, ya," kata Azami seraya membelokkan mobilnya ke arah kompleks Crimsons.
"Hmm..." Sakura mengangguk. Gadis itu menoleh ketika mobil mereka melintasi rumah Sasuke. Ia melihat kakak laki-laki Sasuke, Itachi, sedang memanaskan mobilnya di depan garasi ditemani Rufus si retriever tampan. Pria itu tampak sudah rapi dengan setelan blazer hitamnya—tampaknya ia mau pergi. Sementara itu Sasuke tidak tampak di mana pun.
Mau tidak mau, Sakura kembali kepikiran pembicaraan mereka semalam. Sasuke sepertinya sangat enggan berurusan dengan Sai. Jangan-jangan Sasuke malah membatalkan niatnya menemaninya ke rumah sakit hari ini, pikir Sakura gusar. Dan malah pergi dengan kakaknya ke tempat lain.
Namun cepat-cepat ditepisnya prasangka itu. Sasuke bukan orang yang seperti itu. Ia memang sangat menjengkelkan kadang-kadang, tapi bukan orang yang suka ingkar janji. Lagipula Sasuke tidak akan mengecewakan Naruto dengan membatalkan janjinya melihat latihan sahabatnya itu. Dengan pikiran itu, Sakura merasa lebih tenang.
Rupanya Izumo, Kotetsu, Yamato dan Iwashi sudah datang ketika Sakura dan ibunya tiba di restoran. Yamato dan Iwashi sedang membereskan dapur sementara Izumo dan Kotetsu menurunkan kursi-kursi. Beberapa hari kemarin Azami memang telah memberikan kunci cadangan restoran itu pada Yamato yang telah ia percayai sepenuhnya, setelah sebelumnya juga telah memberikannya pada Teuchi. Yang lain, termasuk para pekerja paruh waktu, datang beberapa menit setelah itu.
Seperti biasa, suasana pagi di restoran keluarga itu langsung ramai pengunjung tepat setelah dibuka. Kali itu Sakura membantu Ibunya dan Ayame di konter sementara Arashi Fuuma, kakak sepupu Sasame Fuuma, teman sekelasnya di sekolah, yang merupakan karyawan paruh waktu yang baru saja bekerja di sana mengambil alih tempatnya sebagai pelayan bersama Izumo, Kotetsu dan Isaribi.
Cowok yang menarik dan cukup tampan juga, pikir Sakura seraya memperhatikan Arashi yang sedang sibuk mencatat pesanan dari serombongan gadis yang dikenalnya sebagai mahasiswi Konoha University. Pantas saja restoran ini semakin ramai didatangi gadis-gadis. Terlebih ditambah dengan Izumo dan Kotetsu yang juga bisa dikategorikan sebagai 'cowok-lumayan-kece', sepertinya alasan orang—terutama para gadis—datang kemari bukan hanya karena urusan perut, tapi juga untuk cuci mata.
Perhatian Sakura langsung teralih begitu ia merasakan ponselnya bergetar. Sakura buru-buru meletakkan gelas yang sedang dilapnya dan merogoh saku jeans-nya untuk mengambil ponsel. Nama Sasuke tertera di layar. Sakura menekan tombol answer.
"Sasuke?"
"Aku sudah di luar,"terdengar suara dalam Sasuke di seberang.
Sakura menjulurkan leher untuk melihat ke arah jendela. Ia bisa melihat sosok jangkung Sasuke sedang berdiri di lapangan parkir bersama anjingnya. "Tunggu sebentar, aku segera kesana."
"Hn."
Setelah sambungan terputus, Sakura segera menyambar tasnya dari bawah meja konter. "Ibu, aku pergi sekarang, ya!" serunya pada Azami yang sedang sibuk menuang kopi untuk salah satu pelanggan.
"Iya. Hati-hati, Nak..." sahut Azami.
"Oke!" Gadis itu bergegas meninggalkan konter dan menuju pintu keluar. Ia berlari-lari kecil menghampiri Sasuke. "Kenapa tidak masuk saja?" tanyanya ketika sudah dekat.
Sasuke menunjuk anjingnya yang sekarang menyalak riang pada Sakura. "Anjing tidak boleh masuk ke restoran, kan?"
Sakura tertawa kecil. Waktu itu saat Itachi membawa Rufus ke Blossom's Cafe juga begitu; mereka makan di dalam sementara membiarkan Rufus bermain-main di luar bersama Izumo. "Benar juga. Hai, Rufus..." ia berlutut, lalu menggaruk leher anjing Sasuke yang tak kalah tampan dari pemiliknya itu. "Sepertinya kali ini kita jalan-jalan bertiga, ya?"
Rufus menyalak riang menanggapi kata-kata Sakura, mengibaskan ekornya.
"Kita berangkat sekarang?" kata Sasuke seraya menarik tali leher anjingnya.
"Yuk," sahut Sakura sambil menegakkan diri. Kemudian mengikuti Sasuke yang berjalan lebih dulu meninggalkan lapangan parkir.
Mereka berangkat menuju kota dengan menggunakan bus dari halte di dekat sana, halte yang sama tempat mereka menunggu bus beberapa minggu yang lalu. Tapi kali ini bus yang mereka tumpangi jurusannya berbeda, bukan langsung ke pusat kota seperti dulu. Mereka menghabiskan hampir sepuluh menit menunggu sebelum bus yang akan membawa mereka ke rumah sakit Konoha datang.
"Bus jurusan ini jumlahnya memang lebih sedikit," jelas Sakura pada Sasuke ketika keduanya sudah duduk nyaman di dalam bus yang untungnya tidak terlalu penuh sehingga mereka tidak sulit membawa Rufus naik.
Dan rupanya Rufus bukan satu-satunya anjing yang ada di bus itu. Di belakang mereka, ada seorang cowok berjaket abu-abu dan berambut cokelat jabrik juga membawa seekor anjing putih besar. Sakura langsung mengenali cowok itu. "Hei, Kiba!" sapanya riang.
Kiba, yang sedang melihat ke luar jendela menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. "Oi, Sakura!" balasnya. Alisnya terangkat ketika melihat sosok yang duduk di sebelah gadis itu. "Sasuke Uchiha, eh?"
"Inuzuka," balas Sasuke, mengendikkan kepalanya pada Kiba.
"Berdua saja? Mau kencan, nih?" tanya Kiba kemudian dengan seringai menyebalkan di wajahnya.
Sasuke tidak menanggapinya, cowok itu memilih memandangi jalan—barangkali mau menghafal rute atau apa. Sakura lah yang menjawabnya dengan nada kesal, "Ngaco kamu! Tentu saja tidak! Kami mau ke rumah sakit, lalu ke Stadion Konoha."
Kiba terkekeh. "Wah wah wah... trio terkenal seantero Konoha High memang tidak terpisahkan, ya," komentarnya sambil nyengir. "Tidak salah Pak Hatake meminta kami menulis artikel persahabatan tentang kalian—yah, tidak kami semua sih. Hinata yang menulis artikelnya. Yang lain mengambil foto." Ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah, membuat gerakan seakan sedang mengambil foto dengan kamera.
"Kalian anak-anak jurnal memang berbakat jadi paparazi," ujar Sakura dengan nada agak sinis, merujuk pada foto-foto mereka yang diambil tanpa izin beberapa waktu yang lalu.
Kiba terkekeh-kekeh lagi. "Aku anggap itu sebagai pujian, Sakura. Terimakasih." Mata hitamnya kemudian beralih pada si retriever di sebelah Sasuke. "Anjing bagus, Uchiha."
"Hn. Thanks," sahut Sasuke yang akhirnya mengalihkan pandangannya dari jendela dan melirik anjing putih milik Kiba. "Punyamu juga bagus."
"Akamaru," kata Kiba, menggaruk belakang telinga anjingnya dengan sikap bangga, "adalah anjing paling keren se-Konoha." Akamaru menyalak seakan menyetujui perkataan tuannya.
Sasuke mencibirnya sementara Sakura tertawa. "Omong-omong, kau mau ke mana sih?" gadis itu bertanya pada Kiba.
"Biasa..." jawab Kiba sambil menepuk-nepuk tas kamera di pangkuannya, "Cari berita untuk jurnal sekolah. Sepertinya nanti kita akan ketemu lagi di Stadion Konoha. Shino barangkali sudah di sana."
"Cool," komentar Sakura. Gadis itu memang kerap dibuat terkagum dengan kinerja anak-anak jurnal yang selalu serius menggarap majalah sekolah sampai rela bersusah payah demi menghasilkan artikel bagus. Benar-benar klub binaan Kakashi Hatake, pamannya tersayang. Klub tersibuk dan tereksis di Konoha High, dan banyak mendapat penghargaan juga di tingkat Konoha. Bahkan Hinata Hyuuga, yang sekarang menjabat sebagai wakil ketua klub itu, pernah mendapatkan penghargaan atas artikel yang ditulisnya tentang lingkungan hidup dari Gubernur Sarutobi waktu mereka masih kelas satu.
Kiba dan Akamaru turun lebih dulu saat bus berhenti di halte tepat di seberang Stadion Konoha beberapa menit kemudian. Dari jendela, Sakura dan Sasuke bisa melihat bus sekolah mereka yang dipakai untuk mengantar anak-anak klub sepakbola berlatih di sana terparkir di halaman stadion.
Tidak sampai lima menit kemudian, bus kembali berhenti di halte dekat Rumah Sakit Konoha. Di sanalah Sakura dan Sasuke turun.
"Kau yakin buku yang kau ceritakan semalam itu milik Sai yang kita kenal?" Sasuke menanyai Sakura ketika keduanya sedang berjalan menuju rumah sakit terbesar di Konoha itu. Rufus berlari-lari kecil di depan mereka. Ekornya mengibas riang.
"Yap," jawab Sakura.
"Bagaimana kalau ternyata itu buku milik Sai yang lain?" kata Sasuke lagi. "Nama Sai di dunia ini bukan cuma satu, Sakura," lanjutnya, membenamkan sebelah tangannya yang tidak memegang tali leher anjingnya ke dalam saku celana.
"Tapi aku yakin kok. Soalnya ada nama Kakashi, namamu, namaku, Naruto dan semua yang semua tulisan di sana merujuk pada Sai yang kita kenal! Dan siapa Sai yang bermasalah dengan Inui selain Sai yang ini?"
"Bagaimana buku itu bisa sampai di pemakaman, kalau begitu?" dengus Sasuke. "Ini tidak akan jadi cerita seram, kan?"
Sakura memukul lengan sahabatnya itu main-main sambil tertawa. "Ha ha ha... lucu sekali, Sasuke. Aku tidak tahu kau bisa bergurau," ujarnya. Gadis itu lalu menghela napasnya. "Tapi tidak tahu juga sih. mungkin dia menjatuhkannya saat sedang mengunjungi makam seseorang di sana. Soalnya dia banyak menyebut-nyebut soal kakaknya yang sudah meninggal di buku itu."
Sasuke tidak menanggapi. Jelas sekali kalau ia tidak tertarik. Cowok itu mempercepat langkahnya menuju gerbang Rumah Sakit Konoha. Sakura berlari-lari kecil merendengi langkah cepat Sasuke.
"Jalannya jangan cepat-cepat dong," Sakura memprotes ketika mereka sudah berada di lobby rumah sakit yang luas. Gadis itu menyambar lengan jaket Sasuke, memaksanya berjalan lebih lambat.
"Lebih cepat menyelesaikan urusan kita di sini lebih baik," geram Sasuke sementara mereka berjalan menuju meja resepsionis.
"Kamar berapa?" tanya Sakura selang beberapa menit kemudian. Mereka sudah berada di salah satu lorong rumah sakit yang serba putih. Gadis itu menolehkan kepala ke sana kemari, meneliti setiap pintu yang mereka lewati. Di mana-mana terlihat para dokter dan perawat yang berlalu lalang. Kesemuanya tampak sibuk dan terburu-buru. "Tempatnya benar di sini, kan?"
"Tidak salah lagi," sahut Sasuke dari sampingnya sambil menunjuk tanda 'kelas satu' di dekat sana, "Kamar nomor dua tujuh," ia menyebutkan nomor kamar Sai yang diketahuinya dari petugas resepsionis.
"Ini kamar dua satu..." Sakura mengerling ke kamar yang dilewatinya. "Berarti di depan sana..." Keduanya kembali berjalan menyusuri koridor itu. "Ah, itu dia!" Kamar yang mereka tuju ternyata adalah kamar paling ujung di koridor itu.
"Tunggu, ada yang keluar," Sasuke menangkap pergelangan tangan Sakura tepat ketika pintu kamar nomor dua tujuh bergeser membuka. Mereka menghentikan langkah dan mengawasi ketika seorang pria tua berwajah angkuh berjalan keluar dengan bertumpu pada tongkat berjalannya. Menyusul di belakangnya, seorang wanita dengan setelan jas rapi. Rambutnya yang berwarna keunguan digelung rapi di belakang kepalanya. Kemudian seorang pria berkacamata yang mengenakan jas dokter menyusul keduanya, menutup pintu di belakangnya.
"Mereka keluarga Sai?" Sakura bertanya pada cowok di sampingnya. Sasuke hanya mengangkat bahu sekilas.
Pria tua bertongkat itu kini sedang berbicara dengan suara rendah dengan sang dokter sementara wanita di sebelahnya hanya diam mendengarkan. Sepertinya, siapa pun pria tua itu, adalah orang yang terpandang jika dilihat dari cara dokter berkacamata dan wanita di sebelahnya bersikap di depannya. Jelas sekali kalau kedua orang itu sangat menghormati si pria tua. Tak lama mereka bicara, sang dokter mengangguk sopan sebelum si pria tua dan wanita berambut ungu berjalan menjauhi pintu kamar ke arah Sasuke dan Sakura sedang berdiri sekarang, sementara dokter tadi kembali masuk ke dalam kamar rawat. Pria tua bertongkat itu melirik sekilas ke arah mereka sementara mereka berpapasan. Pandangannya dingin, membuat Sakura bergidik.
"Agak mirip Sai tidak, sih?" Sakura berkata pada Sasuke dalam suara rendah ketika pria tadi sudah cukup jauh dari mereka. Mata zamrudnya masih memandangi punggung pria itu sampai akhirnya menghilang di lift.
"Tidak salah lagi," sahut Sasuke. Ia lalu berpaling pada Sakura. "Kalau begitu sebaiknya kau bergegas."
"Oh, yeah," Sakura mengangguk. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan menuju kamar Sai.
"Aku tidak masuk," kata Sasuke ketika Sakura hendak mengetuk pintunya.
"Eh?" Sakura menoleh dan memandang Sasuke keheranan. "Kenapa?"
Sasuke memberinya tatapan aku-tidak-ingin-bertemu-dengannya.
Sakura memutar bola matanya. Ia sudah menduganya. "Baiklah. Kau mau tunggu di sini?"
"Aku tunggu di lobi saja dengan Rufus."
"Oh, oke." Sakura menunduk untuk menggaruk belakang telinga Rufus sebelum anjing itu dan tuannya berbalik dan beranjak dari sana. Setelah Sasuke pergi, Sakura kembali menoleh pada pintu di depannya, memandang nomor dua tujuh yang terpampang di depannya. Gadis itu menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu itu sebelum menggesernya terbuka.
Dokter Yakushi mengangkat kepalanya dari catatan kesehatan milik Sai ketika ia mendengar pintu bergeser terbuka. Pria berambut keperakan itu tersenyum pada gadis berambut merah muda yang mengintip takut-takut di pintu. "Masuklah, Nona," katanya. "Kau mencari Sai, bukan?"
Sakura mengangguk. Lalu dengan senyum gugup, ia melangkah masuk lalu menutup pintu perlahan di belakangnya.
"Nona Sakura Haruno?" sang dokter bertanya ramah saat gadis itu sudah mendekat.
"Eh?" Sakura menatapnya bingung. Ia memang telah beberapa kali melihat dokter itu di rumah sakit ketika ia menjenguk Ino dulu, tapi seingatnya ia belum pernah memperkenalkan diri pada dokter itu.
Tapi rupanya dokter muda itu paham kebingungan yang tercermin di wajah Sakura, karena saat berikutnya ia berkata ramah, "Sai sering bercerita tetang teman perempuannya yang memiliki rambut merah muda. Gadis cerdas bernama Sakura Haruno. Kukira itu adalah Nona di depanku ini."
Wajah Sakura seketika merona. Benarkah Sai berkata seperti itu? Ia membatin seraya melayangkan pandangannya pada sosok yang terbaring di atas satu-satunya ranjang di sana. Wajah Sai yang tertidur tampak damai. Dadanya naik turun seiring dengan irama napasnya yang teratur. Meski begitu, sepertinya kondisinya belum sepenuhnya pulih jika dilihat dari perban yang masih terpasang di beberapa bagian tubuhnya, termasuk di kepalanya. Infus-set juga masih terpasang di lengan kirinya.
"I-iya, itu saya, Dokter... er..." Sakura melirik name tag di bagian depan jas putih yang dikenakan sang dokter, "...Kabuto Yakushi."
Dokter Yakushi tersenyum, lalu ia mengerling ke belakang Sakura, seakan sedang mencari sesuatu. "Kukira kau akan datang dengan temanmu yang lain, Sasuke Uchiha? Atau dengan anak muda penuh semangat yang sering datang kemari..." ujarnya sambil memasukkan bolpoint yang tadi dipakainya ke dalam saku jas.
"Sasuke ada di bawah," Sakura menyahut, "Kalau Naruto... dia sedang ada latihan sepak bola hari ini. Jadi tidak bisa menjenguk."
"Begitu," dokter Yakushi mengangguk, lalu melirik ke arah jam yang terpasang di salah satu dinding putih, "Kalau begitu aku tinggal dulu, Nona Haruno. Permisi." Dan dengan senyum terakhir, dokter muda itu pun berlalu dengan membawa catatan kesehatan Sai.
Sakura bergerak lebih dekat ke sisi ranjang Sai setelah dokter Yakushi pergi, mengamati wajahnya yang pucat. Perasaan bersalah mendadak menyergap dalam hatinya melihat Sai terbaring lemah seperti itu. Padahal ia tahu Sai seperti ini bukan karena salahnya. Lebih dari itu, padahal sebelum ini ia tidak begitu peduli dengan keadaan Sai. Entahlah, gadis itu membatin. Barangkali karena apa yang telah dibacanya dalam buku harian cowok itu malam sebelumnya.
Buku harian. Sakura nyaris saja melupakan tujuan utamanya mengunjungi Sai hari ini.
Gadis itu merogoh ke dalam tas selempangnya dan menarik keluar buku kecil bersampul kulit hitam, buku harian Sai. Yang kemudian diletakkannya di atas meja di samping ranjang, di sebelah keranjang buah.
Gadis itu kembali menatap Sai selama beberapa saat, tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dikatakannya seandainya Sai dalam keadaan sadar sekarang. Entahlah, pikirnya. Karena selama ini ia belum pernah terlibat obrolan dalam suasana menyenangkan dengan Sai. Yang ada ia seringkali kesal dan marah setiap kali berhadapan dengan cowok itu. Entah karena senyum palsunya yang menyebalkan atau mulut kotornya.
Tapi sekarang... Sakura merasa ingin sekali membicarakan sesuatu yang menyenangkan dengan cowok di depannya ini. Barangkali untuk menebus prasangka buruknya selama ini, menggantikan setiap situasi tidak menyenangkan yang pernah tercipta di antara mereka.
Dengan lembut, gadis itu mengulurkan tangannya menyentuh lengan Sai terjulur di atas selimut, menyentuhnya. Kulitnya memang berwarna pucat, tapi terasa hangat. Sakura tersenyum.
"Hei, bagaimana keadaanmu?" gadis itu bertanya dalam bisikkan. "Kuharap kau sudah jauh lebih baik sekarang."
Ia terdiam cukup lama di sana, masih dengan tangan memegangi lengan Sai. Sampai akhirnya ia menghela napas, teringat ia tidak bisa berlama-lama di sana. Sasuke menunggunya. Naruto juga. Ia melepaskan lengan Sai, lalu berbalik. Tapi betapa terkejutnya gadis itu ketika dirasakannya ada yang tiba-tiba menangkap tangannya. Sakura menoleh. Matanya melebar ketika mendapati Sai tengah memegangi tangannya, menahannya.
"S-sai?" Sakura terperangah.
"Tadinya aku tidak percaya ketika dokter Yakushi memberitahuku kalau dia melihat kau dan Sasuke ada di depan kamarku," bisik Sai seraya membuka matanya perlahan, senyumnya tersungging. Bukan senyum palsu seperti yang biasa ditampilkannya, melainkan lebih lembut, tulus, membuat gadis di sebelahnya sedikit gugup. "Aku kira dia pastilah salah lihat. Tapi setelah melihat sendiri, aku baru percaya." Ia memandang ke arah belakang Sakura dengan agak mengernyit. "Tapi aku tidak melihat Sasuke."
Sakura memutar tubuhnya menghadap ranjang Sai lagi sementara Sai melepaskan tangannya. "Sasuke… um… dia ada di luar. Dia…"
"Sudah kuduga," sela Sai pelan, menghela napas. Ia tampak agak kecewa. "Dia masih membenciku, bukan?"
"Dia tidak membencimu," sahut Sakura cepat-cepat. Melihat ekspresi wajah kecewa Sai yang seperti itu sungguh membuatnya tidak enak hati. Bagaimana caranya menjelaskan pada Sai tentang absennya Sasuke tanpa menyakiti perasaannya? gadis itu membatin. "Dia hanya… um… masih sedikit kesal."
"Begitu, ya…" gumamnya. Ia tampak gelisah untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Naruto juga sering bicara seperti itu tentang kau dan Sasuke setiap kali dia datang membesuk." Nadanya kembali ringan dan sekali lagi Sai menyunggingkan senyum. "Kalau begitu, kau sudah tidak kesal padaku lagi?"
Sakura tertawa gugup. "Aku rasa begitu," ujarnya.
Sai mengeluarkan tawa kecil sampai kedua mata hitamnya menjadi segaris. "Syukurlah…" Ia lalu menggeliat, mencoba duduk. Sakura bergegas membantunya bangun dan bersandar pada bantal yang telah ia tinggikan sebelumnya.
"Terimakasih," ucap Sai setelahnya. Keduanya terdiam selama beberapa saat, masih sama-sama canggung, tidak tahu apa yang harus dibicarakan satu sama lain.
Kemudian Sakura memecah keheningan itu dengan menunjuk ke arah buku harian Sai yang telah ia letakkan di atas meja di sisi ranjang. "Aku datang kemari untuk mengembalikan bukumu. Er… itu milikmu, bukan?"
Sai menoleh ke arah yang ditunjuk Sakura. Ia lantas mengulurkan tangannya mengambil buku bersampul hitam itu dan tersenyum. "Ah, buku ini rupanya ada padamu, ya?"
"Aku menemukannya saat mengunjungi makam kakakku," kata Sakura.
"Rupanya terjatuh di sana," kata Sai. Ia lalu teringat nama Haruno yang ia temukan di salah satu nisan di sana. "Rupanya dia kakakmu."
Sakura menatap Sai dengan bingung selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Ada hal lain yang mengganggunya saat itu—atau lebih tepatnya, membuatnya tidak enak. "Sai, maaf. Aku sudah membaca buku harianmu. Tapi aku benar-benar tidak berniat—"
"Kalau itu membuatmu datang kemari, aku sama sekali tidak keberatan, Je—ah, maksudku, Sakura," sela Sai sambil tersenyum.
Sakura menghembuskan napas lega. Tadinya ia mengira Sai akan marah atau apa…
"Aku juga ingin minta maaf," kata-kata Sai berikutnya membuat Sakura menaikkan alisnya, "atas kata-kata kasarku pada kalian selama ini. Itulah sebenarnya alasanku datang ke sekolah waktu itu, saat kalian menemukanku babak belur dihajar Inui."
"Kau mencari kami untuk minta maaf?"
Sai mengangguk. "Kau pasti sudah tahu masalah yang kualami dari buku ini," ia mengangkat bukunya, membuat Sakura nyengir tidak enak padanya dengan wajah merona. "Dan sejak aku sakit beberapa hari yang lalu, aku selalu memikirkan kalian. Aku ingin bertemu dengan kalian." Sai terdiam selama beberapa saat. "Aku begitu ingin berteman dengan kalian."
"Sai…" Sakura tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi, jadi ia hanya tersenyum.
"Kau mau memaafkanku, bukan?" tanya Sai sambil menatap gadis itu penuh harap.
Sakura mengangguk. "Tentu. Tentu saja…"
"Terimakasih." Sai lantas mengulurkan tangannya ke arah Sakura. "Kau mau berteman denganku, kalau begitu, Sakura?"
Sakura menyambut uluran tangan cowok itu. "Teman."
---
TBC…
---
Minna-sama, gomen, lama update-nya. Padahal chapter ini udah kutulis dari jaman kapan. Hanya saja aku ngerasa banyak yang gak pas dan kerasa maksa, jadinya diedit habis-habisan dan banyak bagian yang dipangkas. Hampir 1000 kata yang aku potong dari versi awalnya. Dan lagi banyak tugas juga akhir-akhir ini –melototin proposal penelitian yang masih kacau beliau- Mudah-mudahan yang ini gak mengecewakan, yah!
Chika-chan : Aaah~ Chika orang Sunda kah? Makasih ya. Ini udah update. Maaf lama…
Asano-chan : Aku juga kurang suka ama Sasuke –tos sama Asano-chan-, tapi dia emang ganteng, mau gimana lagi dong. hihi.. Ditunggu update-an fic-mu yang 'itu' yah!! Ganbatte!!
Dilia-chan : Waktu Saku patah hati, tentu saja semua ngehibur dia. Cuma waktu itu ada masalah-masalah lain yang… yah… kalo dilanjutin nambah spoiler atuh.
Cherry89 : Cerita yang 'Kisah Kita' ya? Gimana ya?? Kayaknya hiatus dulu—padahal plotnya udah ada. Ya gitu deh kalo nulis fic dengan genre yang aku kurang suka. Gak terlalu suka dengan yang mellow dan mendayu-dayu. Selalu gatel pingin nyisipin humor ringan, tapi gak masuk di fic itu. hihi… gomen ne?
Furukara Kyu : Waduh! Sampe mereka punya anak? –guling-guling- Btw, thanks banget ya… -peluk-peluk balik-
Kakkoii-chan : Neji memang gentleman. –nemplok ke Neji. Di-Jyuuken langsung nyusruk- Kakashi memang guru PB merangkap guru MTK. XD
Aika Uchiha : Ekskul Sasu ya? Er… dia belum nentuin tuh. Mungkin nanti dipikirin lagi. Aika maunya Sasu ikut ekskul apa?
Teh Bella : Akatsuki nongolnya belakangan tuh, Teh. Mungkin aku akan munculin Kisame duluan kali yah…
Ambu… er.. pake –chan gak ya?? Hihi.. : -baca review Ambu, langsung guling-guling, jungkir balik- Snape fic? Love In Summer? Aaargh!! –frustasi- Terus… pertanyaan nomer satu udah dijawab sendiri. Hihi… pertanyaan nomer dua jawabannya udah ada di chapter ini. Pertanyaan nomer tiga ada di chapter
Uci-chan : Telat review? Gak papa. Ini juga telat ngupdate, kok. Hihi…
Emi-chan : Haduh, pertanyaanmu spoiler tuh, Em… Orang yang berarti bagi Sakura bisa siapa aja. Tebak aja sendiri yah.. XD. Kalo pair akhir Sakura sama siapa, ada deeeh… Tapi bakal ada banyak hint ke arah sana. Bisa di antara ketiga sohibnya, atau Neji, atau Gaara, atau salah satu dari Akatsuki… -nah lo…- Silakan menebak, Emi-chan!
Arai-chan : Arai-chan… lama tak bersua! –peluk-peluk- Gak apa-apa kok. Thanks ya udah ngikutin..
Emilia : Eh? Mirip KKHH di bagian mananya ya?
