Chapter 34

Naruto Uzumaki menolehkan kepalanya untuk kesekian kalinya ke arah pintu masuk stadion. Dan untuk kesekian kalinya pula ia terpaksa menelan kekecewaan saat dua orang yang sedari tadi ditunggunya tidak juga menahan diri. Meskipun sebenarnya ia tidak banyak berharap Sakura dan Sasuke akan datang karena kedua sahabatnya itu tidak berjanji akan datang. Tapi tetap saja, pikirnya cemberut, pasti akan sangat menyenangkan kalau mereka bisa datang menontonnya berlatih. Seperti teman-teman setimnya yang lain…

Pandangannya beralih pada rombongan gadis-gadis—yang dikenali Naruto sebagai pacar-pacar teman setimnya—yang duduk di salah satu sisi lapangan, menonton mereka berlatih. Ah, diam-diam Naruto jadi iri pada teman-temannya yang lain—minus Lee yang memang tidak—belum—punya pacar yang menemaninya berlatih. Andai saja Sakura—

Ah, tidak! Tentu saja tidak! Naruto memarahi dirinya sendiri dalam hati. Hubungannya dengan Sakura tidak akan menjadi seperti itu—meskipun sebenarnya sedikit banyak Naruto masih mengharapkannya…

DUAG!!

"Ouch!" Naruto terhuyung ketika bola sepak yang ditendang rekannya menghantam kepalanya dengan telak. "Oi! Hati-hati dong!" ia berteriak pada si penendang sambil menggosok-gosok pelipisnya yang terhantam bola. Tapi rupanya yang barusan menendang bola adalah sang ketua klub sendiri.

"Naruto! Jangan melamun saja dong!" tegur Temujin dengan tatapan galak. "Yang serius!"

Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, nyengir minta maaf. "Iya, iya… Sori!" Ia lantas kembali memusatkan perhatiannya pada latihannya.

Tapi sebelum ia berbalik, matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan mata lavender seorang gadis yang tengah berdiri di dekat bangku pelatih, di dekat seorang cowok berambut cokelat jabrik, Kiba Inuzuka, yang tengah asyik mengambil gambar kegiatan latihan mereka dengan kameranya. Naruto melempar senyum pada gadis itu—yang langsung berpaling dengan wajah merona merah dan kembali melanjutkan kegiatannya mewawancarai Pak Gai Maito bersama Shino Aburame.

-

-

-

"Kau seharusnya masuk juga menemuinya, Sasuke," kata Sakura pada Sasuke ketika keduanya tengah berjalan meninggalkan Rumah Sakit Konoha. Gadis itu melempar padangan mencela pada cowok yang berjalan di sampingnya itu. "Dia benar-benar sudah berubah, tahu!"

"Bicaramu seperti Naruto," gerutu Sasuke seraya membenamkan sebelah tangannya yang bebas tali Rufus ke dalam saku jaketnya, berlagak tidak peduli.

"Kau masih tersinggung karena Sai mengataimu homo, kan?" Sakura menebak dengan nada dingin dalam suaranya.

"Dia sudah menginjak-injak harga diriku sebagai laki-laki normal, Sakura!" Sasuke menukas kesal. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi Sakura. "Dan jangan mencoba membelanya sekarang! Aku sedang tidak ingin bertengkar," ujarnya dingin dengan nada mengakhiri berdebatan. Setelah memberi Sakura tatapan tajam memperingatkan, Sasuke berbalik dan berjalan mendahului gadis itu.

Sakura menghela napas. 'Tapi Sai ingin minta maaf padamu, Sasuke. Dan dia kelihatannya benar-benar menyesal,' gadis itu membatin sedih sembari menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh. 'Haa… dasar cowok. Memang susah kalau menyangkut harga diri…' Mengangkat bahu, gadis itu bergegas menyusul Sasuke, menyamai langkahnya yang lebar-lebar.

Jarak antara Rumah Sakit Konoha dan Stadion Olah Raga Konoha sebenarnya tidak begitu jauh. Memang sih, menjadi agak jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki, tapi terlalu dekat kalau kau menggunakan bus umum. Sasuke, yang selalu saja ingin semuanya berjalan cepat, mengusulkan untuk naik bus saja.

"Naik bus?" kata Sakura seraya menatap Sasuke dengan mata dibulatkan, seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Gadis itu mendengus mencemooh. "Yang benar saja, Sasuke. Jarak stadion dari sini tidak begitu jauh. Setengah jam berjalan kaki juga sampai—"

"Aku tidak suka buang-buang waktu," sela Sasuke.

Sakura memutar bola matanya. "Dasar manja. Bilang saja tidak mau capek," gerutunya pelan. "Kalau naik bus, tidak asyik. Rufus juga pasti lebih suka jalan kaki. Iya kan, Rufus?" gadis itu menanyai anjing Sasuke yang langsung menyalak riang. Sakura tersenyum seraya menggaruk belakang telinga anjing itu penuh sayang sebelum menatap Sasuke lagi. "Lagipula kau kan bisa sekalian melihat-lihat Konoha dari dekat. Kau kan pendatang di sini dan belum banyak melihat-lihat kecuali distrik perbelanjaan yang dulu itu. Banyak tempat-tempat yang menarik di dekat sini, lho. Aku bisa menunjukkannya padamu. Bagaimana?" Sakura tersenyum padanya juga. Mata hijaunya berkilat membujuk. Seolah tidak mau kalah, Rufus juga menengadahkan kepala menatap tuannya dengan matanya yang bulat gelap.

Sasuke menghela napas keras-keras seraya memutar matanya. Kenapa juga ia harus menghadapi dua jurus puppy-dog-eyes sekaligus? "Baiklah," ia menukas, membelalak pada Sakura. "Terserah kau sajalah."

"Yeah! Begitu dong… Ayo! Akan aku perlihatkan Konoha padamu!" cetus Sakura bak seorang pemandu wisata yang kelewat bersemangat. Senyumnya mengembang lebar. "Ayo, Rufus!"

Anjing Sasuke menyalak riang, melompat berlari mengikuti Sakura yang sudah melesat lebih dahulu di ke perempatan jalan, membuat Sasuke sekali lagi nyaris terseret-seret. Sakura berhenti dan berbalik di dekat lampu lalu lintas, menunggu mereka dengan wajah ceria. "Oh, ayolah, Sasuke," ujarnya terkekeh, "Jangan memasang tampang masam begitu. Jalan kaki tidak seburuk itu kok…"

"Bukan jalan kakinya," gerutu Sasuke ketika ia sudah dekat, "Bagaimana Naruto—"

"Oh, dia tidak akan keberatan," sela Sakura riang. "Lagipula ini kan hanya sebentar, tidak akan makan waktu seharian. Aku janji kita akan sampai di stadion sebelum latihan mereka selesai."

"Sebaiknya begitu," Sasuke bergumam.

Sakura nyengir lebar padanya. Beberapa saat kemudian, lampu lalu lintas untuk pejalan kaki menyala hijau, menandakan mereka sudah aman untuk menyeberang. Sepanjang jalan, Sakura terus saja berceloteh mengenai tempat-tempat yang mereka lewati. Mulai dari gedung kantor pos yang serbamerah, toko-toko kue yang terkenal, kedai es krim, toko kelontong yang menjual barang-barang murah, toko buku bekas, bioskop, taman kota, toko serba ada dan lain-lain. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah gedung megah bercat putih dengan tulisan 'MUSEUM KONOHA' terpampang di atas pilar gedung yang tinggi itu.

"Mampir, yuk," ajak Sakura sambil melirik Sasuke penuh harap.

Sasuke mendongak, memandang papan nama megah di atas mereka. "Museum?" Dahi Sasuke berkerut. "Membosankan."

"Kau belum melihat Konoha kalau belum mengunjungi tempat ini, Sasuke," ujar Sakura. Gadis itu lantas menarik lengan Sasuke. "Yuk, masuk."

Museum Konoha adalah tempat di mana kau bisa menemukan segala macam benda-benda peninggalan yang berhubungan dengan Konoha tempo dulu. Yang itu artinya, benda-benda yang ada di sana tidak jauh dari hal-hal yang berhubungan dengan perninjaan—berhubung dulunya Konoha adalah desa tersembunyi para ninja, Konohagakure no Sato. Kau bisa menjumpai bermacam-macam senjata khas ninja seperti kunai dan shuriken dengan berbagai jenis dan ukuran, katana dan bentuk senjata lain, juga gulungan-gulungan tersegel yang konon berisikan jurus-jurus terlarang. Kau juga bisa menemukan lukisan-lukisan dan foto-foto lama yang memperlihatkan Konoha era Shinobi dulu, juga patung-patung lilin yang sangat mirip dengan manusia asli—yang tentu saja menampakkan kehidupan para Shinobi tempo dulu.

"Yang ini agak mirip pamanku, ya?" Sakura terkekeh sambil menunjuk patung lilin seorang shinobi berambut keperakan dengan masker menutupi sebagian wajahnya. "Iya kan, Sasuke? Lho?" gadis itu celingukan mencari Sasuke yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya.

Rupanya ia sedang ada di bagian senjata, sedang memandangi sebilah kusanagi yang disimpan dalam kotak kaca berpengaman dengan ekspresi tertarik sementara Rufus dengan penuh semangat mengendus-endus di bawah meja pajangan. Sakura yang telah melihatnya, buru-buru menyusulnya.

"Kau lihat apa?" gadis itu bertanya. Ia melongok dari samping Sasuke untuk melihat apa yang sedang dilihat cowok itu. "Oh!"

"Pedang ini…" Sasuke menyentuh kotak kaca di depannya, memandang pedang di dalamnya dengan keheranan. Pedang itu sepertinya terasa tidak asing baginya. Padahal ini kali pertama ia melihatnya.

"Konon adalah pedang paling tajam sepanjang sejarah. Pemiliknya adalah seorang Shinobi dari klan… er… Uchiha?" Sakura membaca keterangan di bawahnya, "Well, kedengarannya seperti namamu, ya?" gadis itu menoleh pada Sasuke sejenak sebelum kembali memandangi kusanagi itu. "Waktu pertama kali mendengar namamu, aku memang merasa pernah mendengarnya entah di mana. Ternyata setelah kemarin aku membaca lagi buku Sejarah Konoha untuk bahan paper Kebudayaan Dunia-ku, aku menemukan nama itu lagi di sana. Uchiha. Nama salah satu pendiri Konoha."

"Aneh…" guman Sasuke.

"Tidak aneh kok. Soalnya banyak nama klan-klan yang masih ada sampai sekarang," sahut Sakura, mengalihkan pandangannya ke arah benda-benda lain, "Misalnya saja klan Hyuuga, Akimichi, Yamanaka, Nara, Inuzuka, Aburame dan banyak lagi. Semuanya di sebutkan di buku Sejarah Konoha."

"Tapi semua keluargaku di Oto," kata Sasuke.

Sakura tertawa kecil. "Hei, kenapa jadi serius begitu sih? Itu kan hanya sejarah. Barangkali saja keluargamu itu Uchiha yang lain yang bukan dari Konoha. Tidak usah terlalu dipikirkan begitu," ujarnya sambil bergerak ke arah deretan lukisan. "Hei, lihat ini, Sasuke," serunya pada Sasuke ketika ia berhenti pada sebuah lukisan tua megah yang sudah agak memudar.

Sasuke mengalihkan pandangannya dari kusanagi pada lukisan yang ditunjuk Sakura, mengernyit. Ia lantas mendekat untuk melihat lebih jelas. "Lukisan ini sudah rusak. Usianya pasti sudah tua sekali," komentarnya.

"Yeah, memang sih. Tapi tetap saja, ini adalah favoritku setiap kali datang kemari. Lihat baik-baik, deh. Kelihatan seperti siluet tiga orang, kan?" Sakura menunjuk. Lukisan itu memang sudah agak rusak sehingga kelihatan tidak jelas, tapi masih terlihat kalau itu adalah lukisan tiga orang yang mengesankan. "Pamanku selalu bilang kalau sosok ninja wanita yang di sebelah kiri itu seperti aku. Lihat, warna rambutnya merah muda, kan?"

Sasuke memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Sepertinya memang lukisan tiga orang, pikirnya. Hitam, kuning dan merah muda. Tapi tidak jelas, bagian wajah dan tubuhnya sudah memudar dan hanya tampak seperti bayangan tidak jelas. Sasuke memacangkan matanya pada sosok merah muda di sebelah kiri, lalu mendengus tertawa, "Yang benar saja... Maksudku, mungkin saja warna aslinya merah, lalu luntur menjadi merah muda. Mana ada Kunoichi—ninja wanita yang punya warna rambut merah muda."

Sakura langsung cemberut. "Jadi maksudmu warna rambutku aneh, begitu?!" ia menukas sambil beranjak dari sana, melihat-lihat yang lain.

Sasuke menyeringai kecil. 'Kau sendiri yang bilang begitu,' pikirnya sambil menggelengkan kepalanya, lalu bergegas menyusul gadis itu sambil menarik Rufus yang membandel masih ingin mengendus-endus. Tapi kemudian langkahnya kembali terhenti ketika matanya menangkap sebuah foto tua yang sudah menguning. Foto yang menampakkan sebuah distrik tua dengan lambang yang sepertinya tidak asing. Ia merasa pernah melihat lambang itu entah di mana.

"Sakura."

Sakura yang sedang mengamati lukisan lain, menoleh mendengar Sasuke memanggil namanya. "Apa?" balasnya agak menukas.

"Ini… tempat apa?" tanya Sasuke saat Sakura sudah mendekat seraya menunjuk foto itu.

"Oh, itu," ujar Sakura pelan. Ekspresi wajahnya langsung berubah muram. "Semacam distrik tua. Ada di dekat sini."

"Masih ada?" Sasuke menanyainya.

Sakura mengangguk. "Yeah."

"Bisakah kau menunjukkannya padaku?"

"Sebaiknya kita tidak ke sana," kata Sakura.

"Aku mau lihat tempat itu," tegas Sasuke sambil menatap gadis di sebelahnya.

Sakura balas menatap temannya itu, menimbang-nimbang. Kalau boleh memilih, Sakura tidak akan mau kembali ke tempat yang menyimpan kenangan menyakitkan itu lagi. Tapi tampaknya Sasuke begitu penasaran dengan tempat itu, entah mengapa. Sampai akhirnya Sakura berkata dengan agak enggan, "Oke… baiklah. Tempatnya tidak jauh dari sini."

Tidak perlu waktu lama bagi Sasuke dan Sakura menuju tempat itu dengan berjalan kaki, karena letaknya hanya beberapa blok saja dari Museum Konoha. Sasuke dibuat tercengang awalnya karena tampilan luarnya memang sudah sangat berubah dari yang di foto. Alih-alih sebuah perumahan tradisional seperti yang dilihatnya dalam foto, tempat itu lebih kelihatan seperti deretan pertokoan yang menjual barang-barang aneh. Tapi lambang kipas kertas itu masih ada di dindingnya.

"Mereka menyebutnya 'Distrik Berhantu'," Sakura memberitahunya, "Tapi orang-orang yang lebih tua lebih suka menyebutnya dengan namanya yang asli, 'Distrik Uchiha'." Gadis itu melirik Sasuke. "Lagi-lagi namamu."

"Kenapa kalian menamainya 'Distrik Berhantu'?" tanya Sasuke sambil memandang berkeliling. Perasaan tidak asing ganjil seperti saat melihat kusanagi di museum tadi kembali menyergapnya saat menatap gerbang depan distrik itu.

"Karena seram, barangkali?" usul Sakura, mengangkat bahu. "Menurut sejarah, di tempat ini pernah terjadi pembantaian berdarah. Satu klan terbunuh dalam satu malam. Konon hanya satu orang yang selamat, tapi tentang itu tidak pernah disebut-sebut lagi dalam buku, kecuali bagian orang-yang-selamat itu pergi meninggalkan Konoha. Katanya sejak saat itu sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh di sini… makanya mereka menamainya 'Distrik Berhantu'. Barangkali arwah-arwah korban pembantaian yang penasaran atau apa."

Sakura menggosok-gosok kedua lengannya yang merinding—bukan karena dingin, melainkan karena perasaan tidak nyaman, ngeri. "Jadinya, orang-orang dulu yang merasa terganggu dengan desas-desus itu, membersihkan tempat ini. Sebagian dijadikan kuil, sebagian lagi dijadikan toko antik atau jimat. Tapi pemerintah Konoha tetap membiarkan sebagian tempat ini tetap asli sebagai salah satu tempat bersejarah di Konoha."

"Begitu…" Sasuke melangkahkan kaki mendekati gerbangnya. Tapi sebelum Sasuke mencapai gerbang, ia merasakan tangan Sakura menyambar tangannya. Ia menoleh memandang gadis itu dengan agak terkejut. Tangan Sakura yang mencengkeram kuat tangannya gemetaran dan wajahnya tampak ketakutan.

Sakura menggelengkan kepala kuat-kuat, memohon tanpa kata supaya Sasuke tidak masuk ke sana. Sakura tidak suka, sama sekali tidak menyukai tempat itu—terlebih setelah peristiwa lima tahun lalu. Semakin cepat mereka meninggalkan tempat itu, semakin baik.

"Sakura, kau kenapa sih?" tanya Sasuke tak sabar.

"Please, Sasuke. Jangan masuk ke sana…" gadis itu memohon.

Sasuke mengangkat alisnya, keheranan melihat sikap Sakura yang mendadak berubah. Kemana perginya keceriaannya yang tadi? Mengapa wajahnya jadi pucat pasi begitu? Dia tidak—

"Kau tidak percaya pada cerita hantu itu, kan?" Sasuke menyeringai kecil.

Sekali lagi Sakura menggeleng. "Bukan itu…" katanya. "Hanya saja… firasatku selalu tidak enak setiap melihat tempat ini." Ia memandang ke belakang Sasuke, menelan ludah. "Aku tidak mau masuk ke sana."

"Kalau begitu kau tinggu di sini. Aku mau masuk," kata Sasuke keras kepala. Ia melepas paksa tangan Sakura yang mencengkeram tangannya. Tapi ketika ia hendak melangkah lagi, giliran anjingnya yang bertingkah aneh. Rufus tampak gelisah dan tidak mau bergerak. "Baiklah, sepertinya kau juga tidak mau masuk, kan?" Sasuke menghela napas, lalu menyerahkan tali anjingnya pada Sakura, "Kau pegangi dia sebentar. Aku tidak akan lama."

Sakura tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Sasuke masuk ke tempat itu. Gadis itu hanya bisa menatap punggung temannya itu sambil berdiri di depan gerbang. Ia tidak punya pilihan selain menunggu Sasuke di sana. Dalam hati berharap semoga tidak terjadi apa-apa padanya kali ini, terlebih pada Sasuke. Tapi entah mengapa, kali ini pun—sama seperti lima tahun lalu—firasatnya tidak enak.

Tapi cepat-cepat ditepisnya pikiran tidak enak itu dari benaknya.

"Ayo, Rufus." Ia lantas mengajak Rufus menuju bangku taman tidak jauh dari sana.

Sementara itu Sasuke yang penasaran mulai memasuki wilayah yang lebih dalam di distrik Uchiha. Tempat itu benar-benar membuatnya penasaran; mulai dari namanya yang sama dengan nama keluarganya, sampai lambang kipas yang rasanya tidak asing lagi baginya…

Benar yang dikatakan Sakura, tempat yang sepertinya dulu adalah perumahan untuk klan Uchiha telah beralih fungsi menjadi kuil dan tempat penjualan jimat dan benda-benda semacam itu. Untuk membuang sial barangkali, pikir Sasuke. Langkahnya terhenti ketika ia sampai di depan sebuah dinding dengan kipas kertas yang retak, berpikir sambil mengernyitkan dahi. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Ia memang pernah melihat lambang itu di suatu tempat. Di buku silsilah keluarganya.

Lambang itu adalah lambang keluarganya. Ya, tidak salah lagi. Tapi kenapa ada di Konoha? Jangan-jangan apa yang tercantum di buku silsilah itu yang menyebutkan kalau klan mereka berasal dari Konoha benar adanya. Tapi di generasi pertama yang tercantum di sana sudah ada di Oto, bukan di Konoha. Lagipula kan katanya semua klan Uchiha di Konoha sudah habis. Lantas kenapa ada klan Uchiha lain yang muncul di Oto yang menggunakan lambang yang sama? Sasuke benar-benar bingung.

"Masih ada satu orang yang selamat, ingat? Barangkali kau adalah cucu cucu cucu cucu cucunya orang itu," gumam Sakura ketika mereka sedang berjalan meninggalkan Distrik Uchiha menuju Stadion Konoha. Dan Sasuke baru saja menceritakan dugaannya pada gadis itu. "Oh, sudahlah, Sasuke. Tidak usah terlalu dipikirkan. Itu kan hanya sejarah…"

"Tapi itu bisa menjelaskan segalanya," kata Sasuke, masih tidak mau beralih dari topik itu. "Kalau yang kau katakan itu benar—bahwa keluargaku yang sekarang adalah keturunan dari klan Uchiha yang di Konoha. Barangkali itulah alasannya mengapa aku merasa tidak asing dengan segala sesuatu di kota ini, karena tempat ini adalah kampung halaman nenek moyangku."

"Hari ini kau banyak bicara, Sasuke," kata Sakura muram.

"Aku hanya penasaran," sahut Sasuke, mengangkat bahunya.

"Yeah, benar," gumam Sakura.

Sasuke menoleh memandang gadis yang berjalan di sebelahnya itu. Wajah Sakura tampak murung dan agak pucat. Ada apa dengannya? Sasuke bertanya-tanya dalam hati. Mengapa suasana hatinya bisa berubah sedrastis itu? Apa ada sesuatu yang sedang dipikirkannya?

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke kemudian.

"Hmm," Sakura mengangguk. Ia menoleh dan bertemu mata dengan Sasuke, terkejut sendiri ketika melihat kekhawatiran tersirat di mata cowok itu. Ia lantas memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja, kok."

"Kau tidak baik-baik saja," tegas Sasuke.

Sakura menghela napas. Sasuke bisa jadi sangat sensitif kadang-kadang. "Baiklah, Tuan Jenius, kau menang. Aku memang tidak baik-baik saja. Aku… um…" ia memalingkan wajah, menatap Rufus yang berjalan di depan mereka, ekornya bergoyang ke kanan ke kiri. "…tiba-tiba saja perasaanku tidak enak."

"Karena tempat tadi?"

Sakura tampak mempertimbangkan jawabannya sejenak. "Mungkin…"

Entah mengapa Sasuke menjadi merasa bersalah. Ia teringat bagaimana tampang Sakura tadi ketika ia hendak masuk ke tempat itu—gadis itu nyaris menangis. Mungkin ia memang punya kenangan tidak enak tentang tempat itu atau apa, pikirnya.

Sial, geram Sasuke dalam hati. Melihat Sakura yang murung seperti ini membuatnya tidak nyaman. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Sasuke bertanya-tanya sendiri. Ia tidak mungkin minta maaf, kan? Karena ia hanya penasaran, dan penasaran bukanlah suatu dosa—

"Maaf, ya."

Suara Sakura berikutnya membuatnya menolehkan kepala. Alisnya terangkat melihat Sakura tengah tersenyum padanya. "Membuatmu cemas begitu. Aku kadang-kadang bisa sangat moody, kau mengerti kan?"

"Hn," sahut Sasuke setelah beberapa lama.

Selama beberapa menit berikutnya, mereka berjalan perlahan dalam diam di trotoar jalanan Konoha yang mulai ramai menjelang tengah hari.

"Kenapa berhenti?" tanya Sasuke ketika Sakura berhenti di depan sebuah toko pakaian yang menyediakan jasa sablon.

"Mampir sebentar, yuk," ajak Sakura sambil tersenyum. Dan tanpa menunggu jawaban Sasuke, Sakura sudah membawa Rufus masuk bersamanya ke dalam toko.

"Selamat siang!" sambut seorang gadis berkacamata penjaga toko agak kelewat antusias. Gadis itu melompat mendekat ketika kedua remaja itu masuk. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya riang. Matanya berkilat ketika ia mengerling Sasuke yang masuk setelah Sakura.

"Kami ingin memesan t'shirt," sahut Sakura.

"Buat apa memesan t'shirt?" Sasuke bertanya dalam bisikkan dari belakang Sakura.

"Naruto," sahut Sakura, juga dalam bisikan, sebelum perhatiannya kembali pada si gadis penjaga toko.

"Mesan berapa stel?" si gadis penjaga toko bertanya lagi sembari berjalan ke meja konter untuk mengambil katalog.

"Er… boleh dua?"

Gadis penjaga toko itu menaikkan alisnya menatap Sakura agak terheran. Biasanya orang-orang datang ke tokonya untuk memesan kaus sablon setidaknya untuk sepuluh setel, tapi ini… hanya dua? Matanya lalu beralih pada si tampan di samping gadis berambut merah muda di depannya ini. Ah!

"Mau buat t'shirt pasangan dengan pacarmu ini, ya?" tanya si penjaga toko iseng.

Sasuke memutar bola matanya sementara Sakura buru-buru mengklarifikasi, "Bukan begitu. Lagipula dia bukan pacarku, kok!" Gadis itu tampak sedikit kesal. Kenapa sih orang-orang kalau melihat mereka jalan bareng hampir selalu mengira mereka pacaran, atau sedang kencan, atau… pokoknya yang tidak ada hubungannya? pikir Sakura jengkel. "Jadi, bisakah aku melihat katalognya sekarang?"

Sakura menghabiskan beberapa waktu untuk memilih-milih bahan dan warna sementara Sasuke berkeliling toko untuk melihat-lihat. Tapi selang beberapa menit, Sasuke sudah kembali ke sisi Sakura, duduk di sampingnya sementara gadis itu sibuk dengan katalognya. Bukannya apa-apa, hanya saja serombongan gadis yang masuk beberapa menit yang lalu terus saja menatap ke arahnya sambil berbisik-bisik dan mengikik. Membuatnya jengah. Maka Sasuke menyibukkan diri menggaruk telinga anjingnya yang kini tengah menaikkan dua kaki depan ke pangkuannya.

"Sudah selesai belum?" tanya Sasuke entah untuk keberapa kalinya.

"Sebentar. Aku sedang bingung nih. Menurutmu bagusan bahan yang ini," Sakura menunjuk salah satu bahan di dalam katalog pada Sasuke, "atau yang ini?" ia menunjuk bahan yang lain.

Sasuke menghela napas. "Mana kutahu yang seperti itu? Terserah kau sajalah," ujarnya. "Dan cepat sedikit," imbuhnya dengan nada bosan.

Sakura membutuhkan beberapa waktu lagi sebelum akhirnya memilih salah satu bahan yang direkomendasikan sang penjaga toko berwarna oranye cerah. Sasuke melirik bahan yang dipilih Sakura, lalu menghela napas. Dari semua warna yang ada, mengapa memilih warna norak seperti itu, sih? cowok itu membatin sebelum kembali menenggelamkan diri dalam bacaannya. Sementara itu Sakura mulai memilih-milih desain untuk sablonnya.

Beberapa menit berlalu…

"Bagaimana, Sasuke?" kata Sakura, membuat cowok di sampingnya mengalihkan pandangannya dari buku ke layar laptop di meja konter tempat mereka membuat desainnya. "Ini untukmu," Sakura menunjuk ke gambar kaus yang lebih besar, "dan yang ini untukku," ia menunjuk ke gambar di sebelah gambar yang pertama. "Bagus, kan?"

"Hell NO! AKU TIDAK MAU MEMAKAI YANG SEPERTI ITU!!"

Semua kepala dalam toko itu otomatis menoleh ke arah sumber suara. Rufus menyalak keras karena terkejut mendengar tuannya tiba-tiba berteriak. Sementara Sakura membelalak kaget, nyaris terjungkal dari kursi tinggi yang didudukinya.

-

-

-

"Reaksimu berlebihan," kata Sakura dengan nada kesal pada Sasuke ketika keduanya baru saja keluar dari toko tadi. Rufus yang kini sudah berpindah tangan kembali pada Sasuke menyalak, seakan menyetujui apa yang dikatakan gadis itu.

"Baju itu norak, kalau kau tidak tahu," kata Sasuke sambil membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.

"Oh, begitu," dengus Sakura tersinggung, "Apa kau bermaksud mengatakan seleraku payah?"

Sasuke menoleh pada Sakura yang berjalan agak di belakangnya, menyeringai tipis. "Kau sendiri yang bilang seperti itu, bukan aku."

Sakura memutar bola matanya. Memang susah bicara dengan orang jenius, pikirnya kesal. Sasuke bisa sangat menjengkelkan kalau ia mau. Dan kalau sisi dirinya yang itu keluar, rasanya lebih sulit bagi Sakura menahan diri untuk menjitak kepalanya yang besar itu. Menyebalkan, tapi dalam waktu bersamaan, menggemaskan. Tanpa sadar gadis itu tersenyum memandang punggung tegap cowok yang berjalan di depannya. Lalu senyumnya perlahan berubah menjadi tawa kecil, teringat kejadian barusan di toko.

Ia tidak menyangka orang sedingin Sasuke bisa bereaksi seperti itu.

"Aku dengar kau menertawakanku, Sakura!" hardik Sasuke tanpa menoleh memandangnya.

Sakura mencibir ke punggung Sasuke, lalu tertawa lagi sambil berlari kecil menyusul cowok itu.

-

-

-

Sasuke tersenyum tipis mendengar tawa Sakura di belakangnya. Sepertinya suasana hatinya sudah membaik lagi, Sasuke membatin.

Baguslah…

-

-

-

"Mampir dulu, yuk," ajak Sakura ketika mereka melewati sebuah warung mobil yang menjual nasi daging bakar.

"Kita baru akan sampai di stadion besok kalau kau mampir-mampir terus, Sakura!" gerutu Sasuke.

"Hei, sekarang kan sudah siang. Memangnya kau tidak lapar?" balas Sakura. "Aku mau sekalian bawa untuk Naruto. Kalau kau tidak mau, ya sudah…" Gadis itu lantas melenggang mendekati kedai. "Paman, pesan nasi daging bakarnya dua dibungkus, ya," serunya pada paman pemilik kedai.

"Baik, Nona," sahut paman pemilik kedai dengan senyum lebar.

Sasuke menggeram jengkel ketika menyadari yang dikatakan gadis itu benar—perutnya baru saja berkeriuk keras sekali. Sakura nyengir padanya ketika cowok itu menyusulnya kemudian.

"Paman, nasi daging bakarnya dibungkus satu lagi," kata Sasuke pada pria bercelemek putih itu.

"Mohon tunggu sebentar," paman itu menyahut lagi.

Sasuke lalu menempatkan diri di sebelah Sakura yang duduk di bangku yang disediakan penjual nasi daging bakar untuk pelanggan yang mau makan di tempat. Mereka duduk-duduk di sana sementara menunggu pesanan mereka jadi. Rufus membaringkan diri di bawah meja di dekat kaki tuannya.

"Buku itu lagi," keluh Sakura ketika melihat Sasuke telah mengeluarkan sebuah buku misteriusnya yang biasa dari dalam saku jaketnya. "Perasaan dari dulu dibaca tidak habis-habis. Buku apa sih?" Gadis itu lantas melongokkan kepalanya mendekat dengan penasaran. Hendak mengintip.

Tapi Sasuke dengan cepat menarik bukunya menjauh dari Sakura. "Kau tidak perlu tahu ini buku apa," cowok itu menukas.

Sakura kembali dibuat terheran dengan rona merah tipis yang muncul di wajah Sasuke. Selalu saja begitu setiap kali ditanya soal buku misterius-nya. Memangnya ada apa dengan buku itu? Jangan-jangan… Sakura teringat buku yang sering dibaca pamannya. Gadis itu terkikik.

"Apa?" Sasuke mengangkat alis padanya.

"Tidak," kekeh Sakura geli, "Hanya menebak. Jangan-jangan itu buku pssst… pssst… pssst…"

Wajah Sasuke langsung merah padam. "NO WAY!! Aku TIDAK baca buku yang seperti itu!" bantahnya.

Sakura tertawa. "Habis…" kata-katanya terputus ketika ia tertawa lagi.

Sasuke mengacuhkannya. Cowok itu menggeser duduknya menjauh dari Sakura dan melanjutkan membaca. Tapi rupanya ia sedang tidak beruntung saat itu, karena beberapa saat berselang tiba-tiba saja Rufus yang dari tadi duduk dengan kalemnya di dekat kakinya, tiba-tiba saja melompat berdiri dan berlari—sepertinya ada sesuatu yang tiba-tiba saja menarik perhatian anjing itu—Sasuke yang sedang memegangi tali Rufus dari Sakura langsung terseret oleh anjingnya. Bukunya tergelincir jatuh dari tangannya.

Sakura tertawa-tawa melihat Sasuke mencoba mengejar Rufus yang berlarian ke sana kemari, melompat-lompat seperti hendak menangkap sesuatu di udara—sepertinya seekor kupu-kupu—sambil menyalak riang. "Rufus! Anjing nakal! Berhenti sekarang juga!" gadis itu bisa mendengar Sasuke berseru.

Perhatian Sakura langsung teralih begitu mata zamrudnya menangkap buku Sasuke yang tergeletak di lantai. Dengan penasaran dipungutnya buku itu dan dibolak-baliknya buku yang disampul dengan kertas putih polos itu. Kenapa pakai disampul pakai kertas segala, sih? Apa yang ingin Sasuke sembunyikan dari bukunya? Dan kecurigaannya bahwa di tangannya itu adalah buku macam-macam, semakin menguat.

Namun betapa tercengangnya Sakura ketika ia membuka halaman pertama bukunya, membaca judul yang terpampang di sana. Merasa tidak yakin, gadis itu mengerjapkan matanya sekali. Dua kali. Tiga kali… Aku tidak salah lihat, ia membatin. Tapi… yang benar saja!

"'Love Story'," Sakura membaca judulnya dengan nada tidak percaya. Yeah, 'Love Story'. Ia barangkali masih percaya kalau itu adalah 'Lord of the Rings', 'Star Wars', 'Sherlock Holmes' atau buku-buku semacam 'LOVE STORY'!!! Rasanya sulit membayangkan cowok dingin macam Sasuke Uchiha senang membaca novel romance seperti itu. Sama sekali tidak cocok dengan tampangnya. Sakura tersentak ketika Sasuke tiba-tiba saja merampas buku di tangannya. Gadis itu mendongak dan mendapati wajah cowok itu merah padam.

"Puas?" ia mendesis.

Sakura mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil—tepatnya, setengah mati menahan tawa. "Well, yeah," sahutnya.

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Sasuke yang kemudian duduk kembali di bangkunya semula tidak berkata apa-apa, melainkan mengawasi Rufus—rupanya ia telah melepaskan tali anjingnya—yang sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil yang kebetulan lewat di tak jauh dari tempat mereka. Cowok itu memasang tampang dingin seperti biasa, tapi rona kemerahan samar di wajahnya jelas menunjukkan kalau ia er—malu?

Sementara itu, si gadis merah muda di sampingnya juga sudah memerah. Hanya saja bukan karena malu, melainkan karena menahan tawa. "Er… aku pernah menonton filmnya," ujarnya memecah keheningan.

Sasuke tidak menanggapinya.

"Ceritanya memang bagus, ya," kata Sakura lagi, akhirnya berhasil menahan diri untuk tidak tertawa. "Well, aku tidak menyangka kau suka cerita-cerita romance seperti itu, Sasuke. Aku punya banyak novel seperti itu di rumah, omong-omong. Kau boleh meminjamnya kapan-kapan." Gadis itu tersenyum.

Keduanya terdiam selama beberapa saat, canggung. Sebelum akhirnya Sasuke memecah keheningan lagi, "Kau mengejekku," ujarnya dengan nada sedingin es.

"Tentu saja aku tidak mengejekmu," bantah Sakura cepat-cepat. Cemas dengan kemungkinan ia telah membuat Sasuke tersinggung. "Menurutku itu menunjukkan kalau kau punya sisi sensitif. Tidak ada salahnya kok cowok suka novel romance. Salah satu pengarang novel romace favoritku juga cowok."

"Ini satu-satunya yang aku punya. Aku tidak baca yang lain," gumam Sasuke.

"Oh," Sakura mengangguk, meskipun ia tidak begitu yakin Sasuke mengatakan yang sebenarnya padanya. Ia memperhatikan ketika Sasuke memasukkan kembali novelnya dengan hati-hati ke dalam saku jaketnya. Entah mengapa Sakura merasakan ada sesuatu yang istimewa dalam novel itu, sampai-sampai Sasuke membawanya kemana-mana seperti itu. Tapi kalau Sasuke tidak ingin orang lain tahu ia membaca buku semacam itu, mengapa tidak meninggalkannya saja di rumah. Bukankah itu akan lebih aman?

Namun belum sempat Sakura menanyakan itu pada Sasuke, paman penjual nasi daging bakar menghampiri meja mereka dengan membawa kantung berisi tiga kotak berisi makan siang mereka. "Tiga nasi daging bakar," katanya dengan senyum ramah khas pedagang.

"Terimakasih, Paman." Sakura merogoh tas selempangnya, lalu mengeluarkan dompet. Tapi sebelum ia menyerahkan uangnya, Sasuke sudah mendahuluinya membayar. "Eh? Patungan, kan?"

"Tidak perlu. Aku yang bayar," Sasuke memasukkan kembali dompetnya ke dalam celana.

Sakura mengangkat alisnya. "Apa kau sedang menyuapku, hm?"

Sasuke mendengus kecil. "Terserah kau mau bilang apa—"

Perkataan Sasuke segera disela Sakura dengan tawa ringan. "Kalau kau begitu khawatir aku akan membocorkan soal buku itu, kau tenang saja. Rahasiamu aman di tanganku!" Cengiran tipis menghiasi wajah gadis itu. "Tapi, trims traktirannya ya, Sasuke."

Sasuke nyaris tersenyum padanya. "Hn," balasnya sambil berpaling. Ia tahu ia bisa memercayai Sakura, pikirnya sambil beranjak untuk memasangkan tali lehernya lagi. Pada gadis itulah Sasuke pertama kali mau membuka diri soal perasaannya pada Hinata dulu, seharusnya kali ini ia juga bisa membuka diri soal ini padanya. Tapi entah mengapa, sebagian dirinya masih ingin menyimpannya sendiri dulu. Setidaknya sekarang… ia masih tidak begitu yakin. Belum.

"Setelah ini lewat mana?" Sasuke menanyainya setelah keduanya tiba di persimpangan jalan.

"Belok kiri," Sakura menunjuk ke arah kirinya dengan tangannya yang tidak memegang bungkusan. Jalanan di sana bertrotoar lebih luas dengan sebuah toko buku besar berdinding bata merah. Sebuah coffe shop outdoor berkanopi putih terletak tepat di sebelahnya. Ini adalah salah satu tempat favorit Sakura—toko buku paling lengkap dan coffe shop yang menjual cappuccino favoritnya adalah perpaduan yang bagus. Rasanya sudah lama sekali tidak kemari, sejak semester baru dimulai.

Gadis itu sedang mengedarkan pandangannya berkeliling ketika ia melihat sosok itu baru saja melangkah keluar dari pintu kaca berpelitur toko buku di depannya. Langkahnya terhenti seiring dengan jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup lebih kencang. Sosok cowok jangkung berambut cokelat gelap itu pun telah menoleh ke arahnya, dan ketika mata mereka bertemu, Sakura merasakan tubuhnya membeku di tempat. Neji Hyuuga tampak SANGAT keren dalam balutan jeans hitam yang dipadu dengan blazer berwarna krem tua. Dan menambah sempurna penampilannya, ia melempar senyum tipis yang mematikan.

"Sakura," sapanya dengan suaranya yang dalam. Mata lavendernya beralih. "Sasuke," ia menyapa orang yang berdiri di sebelah Sakura.

"Neji," Sasuke membalas.

"H-hai," Sakura tergagap-gagap saking gugupnya.

"Kalian berdua… mau ke mana?" ia bertanya.

Hati Sakura langsung mencelos. Oh, jangan sampai dia mengira aku dan Sasuke sedang berkencan… Tidak, jangan… Sakura memohon dalam hati.

"K-kami mau ke stadion," sahutnya cepat. "Mau memberi dukungan untuk Naruto. Iya, kan, Sasuke?" ia menoleh pada Sasuke.

"Hn."

"Ah," kata Neji sambil tersenyum paham, "Tentu saja. Bagaimana kalau kita bareng saja? Aku juga sekalian mau menjemput Hinata di sana."

Sakura bisa merasakan tatapan Sasuke padanya sekarang.

-

-

-

Berjalan sejauh beberapa blok tanpa saling bicara barangkali adalah sesuatu yang sangat membosankan. Tapi lain ceritanya kalau kau berjalan dengan seseorang yang kau sukai. Rasanya menyenangkan bisa jalan berdua, walaupun dalam diam, merasakan setiap desir yang terasa di dada, menghirup aromanya yang terbawa angin sampai ke hidung. Rasanya ingin sekali jalanan itu bertambah panjang dengan cara yang ajaib, supaya bisa berjalan lebih lama di sampingnya.

Itu jugalah yang dirasakan Sakura saat itu. Yah, meskipun secara teknis ia tidak jalan berdua dengan Neji, melainkan bertiga. Ah, anggap saja Sasuke adalah manusia tak kasat mata—atau bagian dari jalan. Rasanya bibirnya tak mau berhenti menyunggingkan senyum. Dan ketika akhirnya mereka sampai dan bertemu dengan Hinata yang telah menunggu kakak sepupu tercintanya itu, Sakura merasa sedikit kekecewaan di hatinya.

"Kalau kau sudah selesai, lebih baik kita cepat ke dalam," kata-kata Sasuke membawanya kembali ke bumi.

Sakura mengalihkan pandangannya dari punggung Neji yang menjauh menuju lapangan parkir di mana Jaguar silvernya diparkirkan. "Oh, um… yeah. Yuk." Ia melempar pandang sekali lagi ke arah Hyuuga bersaudara itu sebelum mengikuti Sasuke memasuki pintu utama stadion.

Memandang berkeliling, mereka melihat rupanya bukan mereka saja yang datang ke sana untuk menonton latihan tim sepak bola Konoha High. Mereka bisa melihat rombongan gadis-gadis yang kelihatannya menemani pacar mereka yang menjadi anggota tim duduk bergerombol di bangku bawah, ribut mengobrol sendiri—jelas sekali mereka bosan yang lebih tertarik bergosip dari pada menonton jalannya latihan. Mereka juga bisa melihat Shino Aburame dan Kiba Inuzuka di bawah.

Dan ketika mereka memandang ke lapangan, mereka mendapati salah satu pemain dengan rambut pirang berdiri sedang melambaikan tangan depan penuh semangat pada mereka. Wajahnya tampak sumringah. Ia pastilah terkejut dan senang melihat kedatangan dua sahabatnya yang tadinya tidak berjanji akan datang—pada awalnya ini membuatnya kecewa juga.

Sakura membalas melambaikan tangan padanya sementara Sasuke hanya melihatnya sekilas sebelum mendudukkan diri bangku terdekat yang bisa ditemuinya—yang cukup jauh juga dari cewek-cewek berisik di tribun bawah. Sakura menyusul duduk di bangku kedua setelah bangku yang diduduki Sasuke dan meletakkan kotak makan siang di bangku kosong antara mereka. Rufus juga telah memposisikan diri berbaring nyaman di dekat kaki Sasuke, sepertinya siap tidur.

Beberapa menit berselang setelah mereka datang, Pak Maito Gai selaku pelatih meniup pluit pertanda istirahat. Semua anggota tim langsung berhamburan menuju pacar masing-masing, sementara yang tidak ada yang menunggui hanya duduk saja di bangku pemain, mengeluarkan bekal yang mereka bawa. Di bawah sana, mereka bisa melihat Naruto langsung mengambil tas olahraga dan handuknya, dan langsung berlari-lari kecil menaiki tribun menuju tempat Sasuke dan Sakura duduk.

"Teman-teman!" serunya cerah. "Kukira kalian berdua tidak akan datang!"

Sakura tersenyum padanya. "Tentu saja kami datang, Naruto! Kami tidak akan melewatkan ini."

Naruto tampak berseri-seri. "Yeah. Meskipun kalian datang agak terlalu siang."

"Yang penting kan kami datang. Jadi jangan banyak protes," kata Sasuke. "Bagaimana latihannya?"

Naruto nyengir ke arahnya. "Oke juga." Mata birunya kemudian beralih pada Rufus yang berbaring di lantai. "Ow, inikah anjingmu, Sasuke? Si Rufus?" ia berlutut dan menggaruki leher retriever itu—yang langsung menyalak senang. Naruto tertawa. "Anjing pintar!" pujinya pada si anjing sebelum kembali menegakkan diri dan duduk di bangku kosong di sebelah Sasuke, menyeka peluh di wajahnya dengan handuk yang disampirkan ke bahunya. Lalu mengambil botol air dari dalam tas, menenggak isinya banyak-banyak.

"Kami tadi ke rumah sakit dulu sebelum kemari, menjenguk Sai," beritahu Sakura.

"Kalian menjenguk Sai?" Naruto tampak terkejut, sekaligus senang. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia oke juga. Tapi kelihatannya belum sepenuhnya baikkan. Masih kelihatan lemas, soalnya," jawab Sakura. "Oh ya, kami bawa makan siang untukmu, Naruto." Gadis itu membuka salah satu kotak nasi daging bakarnya dan mengulurkannya pada Naruto. Dan satu lagi untuk Sasuke.

"Wow, kalian baik sekali! Terimakasih, ya!" seru Naruto girang. Ia lalu mengambil hand sanitizer dari dalam tas, menuangkannya sedikit ke telapak tangannya, lalu menawarkannya pada Sasuke yang langsung mengambilnya. Naruto menggosok-gosok kedua tangannya, kemudian mulai membuka bungkus sumpitnya. "Sebenarnya aku bawa biskuit. Tapi nasi daging bakar lebih enak! Selamat makan!"

Sementara mereka menyantap nasi kotak, Naruto mulai mengoceh menceritakan tentang latihannya. Betapa ia sangat senang bisa berlatih di tempat yang begitu keren dan merasa seperti sudah menjadi pemain pro. Ia juga sudah tidak sabar ingin segera bertanding. Setelah Naruto selesai bercerita, giliran Sakura yang berceloteh tentang acara 'mampir-mampir'-nya bersama Sasuke—kecuali bagian mereka mampir ke toko pakaian sablon—Dan gadis itu juga menepati janjinya untuk tidak memberitahu soal novel Sasuke.

"Ini sudah tiga kali kalian pergi berdua saja tanpa aku," kata Naruto memprotes, "Lain kali aku HARUS ikut!"

Sakura tertawa kecil. "Iya, iya. Lain kali kau pasti akan ikut juga. Kita bertiga akan jalan-jalan bareng," ujarnya.

"Berempat, dengan Sai," koreksi Naruto.

"Baiklah, berempat dengan Sai kalau dia sudah sembuh," sahut Sakura setuju.

Sasuke menghela napas keras-keras sambil menggelengkan kepala. Sai lagi…

Sepuluh menit kemudian, Pak Maito Gai membunyikan pluit lagi pertanda latihan kembali dilanjutkan. Naruto yang baru kembali dari membuang kotak makan mereka yang sudah kosong langsung mengambil kembali tas dan handuknya dari bangku. "Aku latihan lagi, teman-teman," katanya pada kedua karibnya.

"Semangat!" seru Sakura seraya mengepalkan tangannya, tersenyum.

"Hn," Sasuke mengangguk padanya, sudut bibirnya tertarik sedikit.

Naruto merasa semangatnya kembali terangkat dan rasa lelah yang tadi sempat menyergapnya setelah latihan dari pagi langsung menguap begitu saja. Dengan cengiran lebar terakhir, cowok pirang itu berlari turun menuju lapangan, siap berlatih lagi.

"Kalau semangat seperti itu, Naruto kelihatan keren, ya," ujar Sakura seraya memandangi Naruto bersama anggota tim yang lain memulai latihan mereka di lapangan.

"Yeah," gumam Sasuke di sebelahnya, membuat Sakura menolehkan kepala ke arahnya. "Apa?" tanya Sasuke heran ketika mendapati gadis itu tengah tersenyum kepadanya.

"Kau juga kelihatan keren kalau menunjukkan sikap peduli seperti ini, Sasuke," ketulusan dalam suara Sakura membuat Sasuke agak salah tingkah.

Rrr… Rrr…

Sakura merasakan ponsel di saku jeans-nya bergetar. Gadis itu buru-buru merogoh sakunya, menarik keluar ponselnya. Rupanya ibunya menelepon. Sakura menekan tombol answer.

"Ya, Ibu?"

Di seberang, suara ibunya terdengar serak. Bukan… bukan hanya serak, tapi ia jelas sedang menangis. Entah mengapa Sakura merasakan jantungnya mulai berpacu cepat dan firasat tidak enak yang melandanya saat di Distrik Uchiha kembali menyerangnya, membuatnya was-was bukan main.

"Ibu, ada apa? Kenapa menangis?" Sakura bertanya cemas.

Ibunya mengatakan sesuatu di antara isak tangisnya. Tapi Sakura tidak bisa menangkap satu patah kata pun saking hebatnya isakan sang ibu. Gadis itu mulai panik. Setahunya, ibundanya itu jarang sekali menangis. Wanita itu sangat tegar bagaikan batu karang. Sekalinya Sakura melihatnya menangis, adalah saat kakak perempuannya, Himeko, menghembuskan napas trakhirnya beberapa tahun lalu. Tapi kali ini…

Apa?

"Ibu? Ibu kenapa?! Apa yang terjadi?!" gadis itu tak sadar suaranya berubah melengking.

Sasuke yang berada di sampingnya, mengalihkan pandangannya dari lapangan dan menatap Sakura dengan alis bertaut. "Sakura, ada apa?" tanyanya hati-hati, ada kekhawatiran dalam suaranya. Namun Sakura sepertinya tidak mendengarnya.

"Ibu, bicara yang jelas! Kau membuatku takut!" Sakura menjerit.

Ya, takut. Ia merasa takut kali ini. Sangat…

"Sa.. Sakura.. S-sayang…"

"Iya, Bu?"

"S-Saku… A-ayahmu, Nak.."

Sakura merasa hatinya mencelos. Ada apa dengan ayah? Apa yang terjadi? Oh, semoga tidak seperti yang aku takutkan… Tuhan, jangan…

"Ayahmu…" ibunya terisak hebat lagi, sebelum melanjutkan, "…"

Sakura melompat berdiri, begitu mendadak sampai-sampai Rufus mendengking kaget. Mata zamrudnya membulat. Udara seakan menguap, lenyap, tersedot habis. Gadis itu merasa dadanya sesak, perutnya mual. Dunia terasa berputar di sekelilingnya. Air matanya mengalir tanpa suara di pipinya yang mendadak pucat pasi.

Ponsel yang digenggamnya meluncur jatuh dari tangannya, membentur lantai semen dengan keras dan langsung mati. Tapi Sakura tidak memedulikannya.

Tidak… tidak mungkin… ini tidak mungkin terjadi… Tolong, jangan terjadi… Tolong…

Tapi ia tahu pasti semuanya sudah terjadi. Ini kenyataan. Kenyataan… Ibunya baru saja memberitahunya.

Perlahan, tarikan napasnya berubah menjadi isakan. "Tidak… Tidak… Tidak…" bisiknya di sela isakan. Kepalanya menggeleng, menolak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

Sasuke yang telah benar-benar khawatir, ikut berdiri, mendekati gadis itu dan memegangi lengannya yang mulai gemetar dengan lembut. "Sakura, apa yang terjadi?"

Tapi Sakura terus saja menggelengkan kepalanya. Air matanya membanjir ketika ia mulai histeris. "TIDAK!! TIDAK MUNGKIN!!"

"Sakura…"

"TIDAK!! AYAAAH!!!" gadis itu menjerit. Ia menangis sejadi-jadinya sebelum akhirnya terjatuh ke pelukan Sasuke. Tidak sadarkan diri.

"Oh, tidak, SAKURA!!" Dengan sigap Sasuke menahan tubuhnya agar tidak merosot ke lantai. "NARUTO!!"

---

TBC…

---

Gggrrr…. Gaje sekaleee… hiksu… Maafin yah, aku agak sulit ber-angsty ria. Haha… Ah, akhirnya beberapa prediksi teman-teman mulai terjawab deh. Gimana?

Makasih buat semua yang udah mereview. Gomen, gak bisa dibales satu-satu sekarang.

Buat Hikari hoshizora, gak apa-apa kok... Manusia kan memang tempatnya keliru. haha...

Buat Ambu, iya juga yah. Tapi iputz lagi males ngedit lagi nih, Mbu, gomen. Tapi kemaren abis nonton animenya lagi, si Akamaru boleh masuk kok. Malah naik ke kasur segala. hihi... -ngeles mode:ON- Dan RS kayaknya gak steril-steril amat kok, Mbu. Soalnya banyak terjadi infeksi nosokomial di sana, alias banyak kumannya. pis ah!

Buat Luna-chan, meskipun dirimu tidak mereview ya, dear... Makasih buat dukungannya kemaren. Huah... bener-bener panik kemarin teh, bener-bener mengacaukan mood. Jadinya hasil editan gaje gini deh...

Buat yang lain; Chika-chan, Aika Uchiha, Uci-chan, Cherry, Kakkoii-chan, Lovely Lucifer, Dilia-chan, Catt-chan, Teh Bella... Makasih pisan... -peluk-peluk semuanya- Maaf, chap ini mengecewakan...