Chapter 36
Sepertinya gagasan Ino untuk mengirimi Sakura bunga atas nama Neji tidak begitu berjalan sukses, karena keesokan harinya, Sakura masih saja tidak masuk sekolah. Mereka juga sudah mencoba meneleponnya lagi. Tapi mereka terpaksa harus menelan kekecewaan sekali lagi saat Azami memberitahu mereka bahwa Sakura masih belum mau bicara.
"Haah… aku tidak tahu lagi harus bagaimana!" seru Ino frustasi sambil menjejalkan kembali ponselnya ke dalam saku jeansnya dengan gemas. Saat itu adalah jam istirahat dan ia sedang duduk di salah satu meja di kantin bersama Shikamaru, Chouji dan Naruto. "Kupikir ide mengiriminya bunga atas nama Neji bisa berhasil!"
Naruto langsung tersedak ramen yang tengah disantapnya. Terbatuk-batuk, ia menyambar botol air mineral dan menenggak isinya banyak-banyak. "K-kau mengiriminya bunga atas nama Neji?" sengalnya. "Neji Hyuuga?"
Ino memutar mata birunya. "Memangnya di sekolah ini ada berapa orang yang bernama Neji, huh?"
Naruto memelototi Ino, tampak gusar. Jelas sekali ia tidak menyukai ide itu dan pasti akan menentang habis-habisan kalau ia ada di sana saat Ino mencetuskan ide gila itu. Tapi kemudian seringai menggantikan ekspresi gusarnya. "Sakura akan tahu. Dia sudah hafal tulisanmu, Ino."
"Bukan aku yang menulis," sahut Ino enteng sambil mengibaskan tangannya. "Sasuke."
"SASUKE?!" Naruto mendengking keras, membuat kepala anak-anak yang berada di radius lima meter darinya menolehkan kepala, memandangnya mencela.
"Geez, Naruto. Bisa tenang sedikit tidak sih? Berisik, tahu. Merepotkan…" gerutu Shikamaru sambil mengusap-usap telinganya yang paling dekat dengan Naruto.
Naruto mengabaikannya. Ia terlalu sibuk mengutuki Sasuke atas pengkhianatannya. "Berani-beraninya kalian merencanakan sesuatu seperti ini tanpa sepengetahuanku," geramnya jengkel.
Ino menghela napas keras. "Ya ampun, Naruto. Itu kan hanya kebetulan saja. Kami bertemu di toko bungaku dan ide itu melintas begitu saja…"
"Ngapain Sasuke ke toko bungamu?" sambar Naruto. Barangkali dikiranya Sasuke datang ke sana untuk membeli bunga untuk Sakura atas namanya sendiri. Dan pikiran ini membuatnya gusar luar biasa. Mengetahui kalau Sakura dan Sasuke sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama tanpanya saja sudah membuatnya uring-uringan, apa lagi kalau… kalau… Akh, Naruto tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.
Rupanya kegelisahan Naruto itu tercermin jelas di wajahnya, karena saat berikutnya Ino berkata padanya, "Kau berpikir terlalu jauh, Naruto. Bisa kujamin tidak ada yang lebih di balik bunga itu. Lagipula yang mengirim bunga itu kan aku, bukan Sasuke. Dan kurasa Sasuke bukan tipe cowok yang suka memberi bunga untuk cewek—dia sama sekali tidak ada tampang romantis, kau tahu—Dia ke tempatku hanya mengantar kakaknya," ia menambahkan.
"Kukira Naruto sudah berhenti mengejar Sakura," celetuk Chouji dari atas mangkuk ramen keduanya.
"Pastinya tidak akan semudah itu, Chouji," gumam Ino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dengar, Naruto. Dari pada kau berpikir yang tidak-tidak mengenai Sasuke dan Sakura, lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya supaya Sakura tidak menarik diri terus dari kita."
Sekali lagi Naruto merutuk sebal, mengacak rambut pirangnya dengan sikap frustasi. "Yeah, aku tahu," ujarnya pelan, "Tapi masalahnya aku sama sekali tidak ada ide."
"Bagus," kata Ino mencela. "Dan kau malah marah-marah saat ada yang mencoba menghiburnya." Ia lantas mengaduk-aduk saladnya tanpa semangat setelah puas memelototi Naruto.
Naruto mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi sebal, tapi ia tidak membalas kata-kata Ino. Ia sadar kalau yang dikatakan gadis itu benar, dan ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa—sejauh ini.
"Nah, Shikamaru. Kau kan jenius. Ada ide tidak?" Ino ganti menanyai temannya yang terkenal jenius itu, Shikamaru Nara.
Shikamaru melirik Ino dengan tatapan malas, mendesah pelan. "Menurutku sih, biarkan saja dia. Nanti juga baik sendiri," jawabnya. Suaranya terdengar tidak bergairah seperti biasa.
"Yeah, ide brilian. Benar-benar membantu, Shika," kata Ino menyindir.
Tepat saat itu, Sasuke muncul di pintu masuk kantin. Mata hitamnya sejenak menjelajahi kantin sebelum akhirnya menemukan Naruto—ia tidak duduk di bangkunya yang biasa, melainkan di bangku lain di sudut—Sasuke seperti biasa mengacuhkan pandangan dan kikikan para gadis pengagumnya ketika berjalan ke meja itu.
"Dari mana saja kau?" tanya Naruto ketus—mengingat ia masih gusar dengan Sasuke yang mengirimi Sakura bunga tanpa sepengetahuannya—saat Sasuke baru saja menempelkan pantatnya ke bangku kosong di sampingnya.
Sasuke mengangkat alis padanya sejenak, terheran dengan nada ketus dalam suara karibnya itu. Tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya saja. "Baru dari kantor guru, menemui Pak Shiranui," ujarnya tenang. "Menanyakan sesuatu soal tugas Kimia yang kemarin," imbuhnya cepat-cepat ketika melihat gelagat Naruto yang hendak bertanya lagi.
"Oh," gumam Naruto sebelum kembali menekuni mangkuk ramennya, sama sekali tidak tertarik mencari tahu lebih lanjut tetang tugas Kimia Sasuke. Naruto mendorong mangkuk ramennya yang baru setengah dimakan menjauh. Ia tiba-tiba saja kehilangan selera makannya ketik pikirannya kembali dipenuhi oleh Sakura. Ia sudah mulai putus asa memikirkan cara apa lagi yang masih bisa dilakukannya untuk menarik kembali gadis pujaannya itu dari kubangan duka, sampai-sampai ia kehilangan minat pada pertandingan sepak bolanya yang akan dilangsungkan besok.
Ia lantas menghela napas keras-keras, lalu dengan tampang lesu, ia menopangkan kepala di lengannya yang terlipat.
Mulai lagi deh, pikir Sasuke. Ia miris juga melihat sahabatnya yang biasanya penuh semangat dan tak bisa diam itu berubah menjadi pemurung seperti ini. Dan tentu saja kondisi baru Naruto ini membuatnya khawatir juga.
"Naruto." Sasuke menepuk pundak Naruto, membuat cowok pirang itu menoleh padanya, memandangnya dengan tatapan muram. "Sebaiknya kau tidak usah terlalu memikirkan Sakura. Kau konsentrasi saja pada pertandingan besok—"
Sasuke mendadak menyesali kata-katanya karena detik berikutnya Naruto berteriak menyelanya, "Tidak usah terlalu memikirkan Sakura, katamu?!" Ia telah melompat berdiri dari kursinya. Wajahnya tampak luar biasa marah dan ia memelototi Sasuke. "Kau menyuruhku tidak usah memikirkan Sakura supaya kau bisa mengurusnya sendiri, begitu, kan?"
"Naruto, kau kenapa sih?" Ino mendengking kaget karena Naruto tiba-tiba berteriak.
"Kau ini bicara apa?" Sasuke tampak bingung sejenak sebelum akhirnya ia mengerti apa yang membuat Naruto gusar. Ino pastilah sudah memberitahunya perihal bunga itu. "Naruto dengar, maksudku bukan seperti itu."
Tapi Naruto tampak tidak peduli, tidak mau mendengar penjelasan Sasuke. Ia hanya ingin marah-marah, melampiaskan segala frustasi dan sakit hatinya karena merasa telah gagal menolong Sakura. Belum lagi kenyataan bahwa Sasuke telah selangkah lebih maju dibanding dirinya dalam hal ini.
"Naruto, tenang dulu. Semua orang melihat ke arah kita," kata Sasuke.
Benar saja. Ketika Naruto mengedarkan pandang ke sekeliling kantin, hampir semua mata terarah ke meja mereka. Beberapa mulai berbisik-bisik seru. Naruto mendelik pada mereka semua. "KENAPA LIHAT-LIHAT? ADA MASALAH?!" teriaknya pada semua orang.
"Naruto, apa-apaan sih, kau?!" desis Ino seraya menarik-narik lengan jaket cowok itu, memaksanya duduk kembali. Tapi Naruto tetap keras kepala. Ia menyentak tangan Ino kasar.
"Oi, jangan kasar pada cewek dong!" teriak Chouji memrotes. Ia membelalak marah pada Naruto.
Tapi Naruto tidak mengindahkannya. Mata birunya kembali membeliak pada Sasuke. Sesaat sepertinya ia hendak meneriakkan sesuatu lagi pada Sasuke, tapi tidak jadi. Mendadak ia merasa sangat bodoh sudah membentak sahabatnya. Sasuke tidak salah, ia hanya ingin membantu. Rasanya tidak adil kalau Sasuke harus menerima luapan kemarahan—atau kecemburuan—nya saat itu. Marah pada dirinya sendiri, Naruto menggeram. Ia menyambar tasnya dan berbalik pergi meninggalkan kantin.
"Naruto!" panggil Ino.
Sasuke mengumpat pelan sebelum beranjak dan menyusul Naruto.
"Sasuke, kau mau ke mana?"
Tapi Sasuke tidak menghiraukan panggilan Ino. Ia tetap melesat mengejar Naruto sampai akhirnya punggungnya menghilang di pintu kantin. Ino menghela napas keras sambil menggelengkan kepala. "Hah… Dasar!"
'Mestinya kau lihat ini, Sakura,' Ino membatin sedih seraya menekuni kembali saladnya. 'Kedua suamimu itu sangat mengkhawatirkanmu sampai seperti itu. Apalagi Si Naruto itu. Cepatlah kembali ke sekolah…'
.
.
.
"Naruto!" Sasuke memanggil temannya yang kini berjalan cepat di depannya, menerobos koridor depan yang ramai. Tapi Naruto seperti tidak mendengarnya. Ia terus saja berjalan, bahkan tidak berhenti untuk meminta maaf pada seorang gadis kelas satu yang tak sengaja ditabraknya. Naruto tetap berjalan lurus dan cepat ke arah pintu utama.
Sasuke berdecak tak sabar. Ia lantas mempercepat jalannya dan akhirnya berhasil menyusulnya ketika mereka sudah sampai di pintu. Sasuke menangkap bahu Naruto, memaksanya berhenti. "NARUTO!"
Naruto menepis tangan Sasuke dengan kasar. Mata birunya mendelik. "Apa?!"
"Kau marah karena aku—dan Ino—mengirim bunga pada Sakura, eh?" tanya Sasuke dengan tatapan menyelidik.
Naruto tampak bimbang sesaat. "Tidak," jawabnya kemudian tanpa memandang mata Sasuke.
"Naruto?" kata Sasuke tajam. Lebih mendesak.
"Tidak," ulang Naruto lebih tegas. Dan kini ia memberanikan diri menatap mata hitam sahabatnya. "Dengar, aku hanya merasa… uh… bingung dan uh…" ia mengangkat tangannya, menyisiri rambut pirangnya dengan sikap gelisah. "Aku tidak tahu, Sasuke…"
Sasuke menurunkan tangannya dari bahu Naruto. "Aku mengerti."
"Tidak, kau tidak mengerti," Naruto menggeleng. "Karena perasaanmu pada Sakura tidak sama seperti perasaanku padanya. Kau tidak tahu, di sini," ia menunjuk dadanya, "Di sini rasanya sakit sekali melihat dia terus-terusan seperti itu. Kau sama sekali tidak mengerti bagaimana tersiksanya aku saat menyadari aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuatnya kembali tersenyum…"
Sasuke mengangguk. Ia paham betul bahwa Naruto sesungguhnya masih belum menepiskan perasaan 'khusus'-nya terhadap Sakura dan bagaimana Naruto masih menyimpan asa itu dalam hatinya. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka bersahabat sekarang. "Aku tahu."
"Aku sangat menyayangi Sakura, Sasuke… Lebih dari gadis mana pun…" bisik Naruto. Mata birunya basah.
Ini adalah kali pertama Naruto mengaku padanya tentang perasaannya pada Sakura. Sekali lagi Sasuke mengangguk. "Ya. Aku paham."
"Tapi aku tidak bisa menolongnya." Suara Naruto bergetar.
"Kita akan memikirkan sesuatu untuk itu," kata Sasuke. "Naruto, kau mau ke mana?" tanyanya karena tiba-tiba saja Naruto berpaling, mendorong pintu kaca itu dan melangkah cepat meninggalkan gedung. Sasuke bergegas menyusulnya.
"Aku mau ke rumah Sakura," kata Naruto tegas sementara ia berjalan cepat menuju lapangan parkir siswa.
"Ke rumah—Tapi setelah ini kita masih ada pelajaran!" kata Sasuke seraya berjalan merendengi Naruto.
Naruto tidak menggubrisnya.
Sasuke menggeram tak sabar. "Kau bisa ke tempatnya lain kali, tidak sekarang! Jangan bodoh!"
"Kalau begitu, tidak usah pedulikan orang bodoh!" Naruto menukas dingin.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Naruto!" seru Sasuke. "Kau harus latihan sepak bola hari ini. Pertandingannya besok!"
Naruto mendengus kasar. "Persetan dengan latihan! Aku tidak peduli. Sakura jauh lebih penting dari itu!"
Sasuke terdiam. Ia telah menghentikan langkahnya, menatap punggung Naruto yang semakin menjauhinya menuju tempat di mana sepedanya diparkirkan. Ia sama sekali tidak menyangka Naruto bisa sejauh itu mencemaskan Sakura, sampai-sampai ia tidak memedulikan hal lain lagi. Padahal sebelum ini, Naruto sangat menyukai sepakbola. Tapi semenjak masalah Sakura, Naruto seakan kehilangan semangat. Bukan hanya kehilangan semangat, Sasuke menyadari, tapi Naruto sama sekali tidak peduli lagi. Begitu mendalamkah perasaan Naruto terhadap Sakura?
"Kalau kau kemari hanya untuk menghentikanku, kau tidak akan berhasil, Sasuke," kata Naruto ketika ia melihat Sasuke berjalan mendekat.
"Aku tidak akan menghalangimu," sahut Sasuke dingin sambil berjalan melewati Naruto menuju sepedanya sendiri. Ia membuka kunci sepedanya. "Aku ikut. Jangan pikir hanya kau saja yang mencemaskan Sakura, bodoh! Dia juga temanku."
Sejenak, Naruto tercengang menatap sahabatnya itu sebelum seringai tipis muncul di wajahnya. "Terserah kau saja." Ia lantas melangkah naik ke atas sepedanya dan menggenjotnya ke arah gerbang, meninggalkan Konoha High. Sasuke mengikutinya di belakang.
.
.
.
Azami Haruno sedang ada di rumah ketika Sasuke dan Naruto tiba di kediaman keluarga Haruno. Wajah wanita itu masih belum banyak berubah ketika mereka melihatnya di pemakaman suaminya, duka yang ditinggalkan suaminya masih terpeta di wajahnya yang tampak pucat dan lelah. Meski begitu, toh ibunda Sakura itu tetap menyambut kedua teman putrinya itu dengan ramah.
"Sakura masih terus mengurung dirinya di kamar," beritahu Azami sambil mempersilakan Sasuke dan Naruto masuk. Ia menghela napas lelah, lalu melanjutkan dengan nada sedih yang sama, "Sakura hanya keluar kamar untuk makan. Itu pun hanya sedikit. Bibi khawatir dia bisa sakit nantinya."
Kedua cowok itu tidak tahu harus menanggapi bagaimana atas curahan kekhawatiran ibunda sahabat mereka, maka keduanya hanya bertukar pandang lalu mengangguk lemah.
"Bibi tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk Sakura," lanjut Azami ketika ia mengantar kedua teman putrinya itu ke atas, ke kamar Sakura, "Tapi bibi senang kalian mau datang kemari. Barangkali Sakura juga akan senang kalau melihat kalian."
"Untuk itulah kami kemari, Bi," sahut Naruto.
"Terimakasih, Naruto, Nak." Azami tersenyum pada Naruto.
Wanita itu berhenti ketika ia sudah sampai di depan pintu kamar putrinya dan berbalik. Matanya memandang Sasuke sejenak. Jelas sekali kalau ia masih belum lupa insiden pengusiran Sasuke oleh Sakura beberapa hari yang lalu. "Sasuke, Nak, Bibi minta maaf soal yang waktu itu…"
Sudut bibir Sasuke terangkat sedikit, membentuk senyum tipis sekilas. "Tak apa-apa, Bi. Aku mengerti."
Azami membalas senyumnya, lalu mengangguk. Ia kembali menghadap pintu kamar Sakura, mengetuknya perlahan. "Sakura, Sayang. Ini ada Naruto dan Sasuke datang." Tetapi tidak ada balasan dari Sakura sampai ibunya mengetuk dan memanggilnya berapa kali.
"Suruh mereka pulang, Bu," suara parau Sakura membalas dari dalam kamar pada akhirnya. "Aku tidak mau bertemu siapa pun."
"Jangan begitu, Nak. Mereka sudah jauh-jauh datang kemari untukmu. Masa kau tidak mau menemui mereka barang sebentar?"
"KALAU AKU BILANG TIDAK MAU, YA TIDAK MAU!" Sakura menjerit, membuat Naruto dan Sasuke terperanjat. Meski begitu, Azami tidak tampak terkejut. Sepertinya ia memang terbiasa dengan sikap Sakura yang seperti itu. Hanya saja ekspresi wajahnya tampak sedih.
"Sakura..."
Naruto tiba-tiba saja maju mendekati pintu. "Biar aku saja, Bi," katanya pada Azami. Kemudian ia mengetuk pintu di depannya agak keras. "Sakura, ini aku, Naruto."
"Pergi kau, Naruto!" pekik Sakura.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mau keluar menemui kami—tidak, sebelum kau berhenti bersikap seolah kau adalah orang yang paling menderita di dunia ini, Sakura!" kata Naruto tegas. "Kau tidak boleh begini terus, menghindari teman-temanmu. Kami sangat mencemaskanmu, tahu! Ino dan yang lain juga!" lanjutnya ketika tidak ada balasan dari Sakura. "Sakura, kau dengar aku tidak?!"
"Pergi! Pergi kalian!!" Sakura berteriak lagi. "Jangan pedulikan aku!"
"TIDAK! Tidak akan!" nada suara Naruto meninggi. "Kami tidak akan pergi kemana-mana!"
Sikap Naruto ini membuat Sasuke terperangah, karena setahunya selama ini Naruto tidak pernah bersikap kasar pada Sakura. Ia sama sekali tidak menyangka Naruto berani berteriak pada Sakura seperti ini. Tapi kemudian ia mengerti bahwa Naruto tahu apa yang dilakukannya dan Sasuke percaya sepenuhnya pada temannya itu. Maka ia memutuskan untuk tidak ikut campur kali ini. Ia menyerahkannya sepenuhnya pada Naruto.
"Kau sama sekali tidak mengerti, Naruto!" kata Sakura parau di sela isakan. Sepertinya ia mulai menangis di dalam. "Kau tidak tahu rasanya. Aku telah kehilangan ayahku dan—"
Naruto menyela ucapan Sakura dengan dengusan keras. "Kupikir kau adalah gadis yang paling pintar, Sakura. Ternyata aku salah, kau bodoh! Kalau kau menganggapku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat aku sayangi, kau salah besar! Aku memang tidak pernah kehilangan ayah, tapi aku pernah kehilangan ibuku. Aku tahu rasanya sangat menyakitkan, Sakura. Rasanya ingin mati saja."
Tidak ada jawaban dari Sakura.
"Seharusnya kau bersyukur atas semua yang masih kau miliki, Sakura. Kau masih punya ibumu yang memerhatikanmu, yang sayang padamu. Kau juga masih punya kami, teman-temanmu. Aku, Sasuke, Ino, Pak Hatake dan yang lain… Kami semua menyayangimu, Sakura. Dan aku yakin, ayahmu juga akan bersedih di atas sana kalau beliau melihatmu seperti ini."
Lama mereka terdiam. Azami telah mengisak tanpa suara di sebelah Sasuke yang menatap ke arah pintu yang masih bergeming itu. Sekali lagi Naruto mengetuk pintu itu.
"Sakura, please…" suara Naruto melembut. "Ini bukan dirimu. Sakura yang kukenal adalah gadis yang ceria dan tegar. Tolong keluarlah, Sakura. Biarkan kami membantumu. Ya?"
Dan kali ini, pintu itu akhirnya membuka perlahan.
Sakura tampak lebih berantakan dari yang selama ini pernah mereka lihat. Rambut merah mudanya yang panjang terjurai berantakan di sisi wajahnya yang pucat. Matanya merah dan bengkak, dan pipinya berkilau oleh air mata. Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya memandangi ketiga orang itu dengan matanya yang sembab, susah payah menahan isakan.
"Sakura…" Lidah Naruto terasa kelu melihat kondisi Sakura yang seperti itu.
Sekali lagi pertahanan gadis itu runtuh ketika ia menjatuhkan diri di pelukan sahabatnya. Sakura menangis sejadi-jadinya di bahu Naruto, membasahi jaket cowok itu dengan air matanya. "Kau benar. A-aku bodoh sekali. M-maafkan aku…" ujarnya dengan suara tercekat di antara isak tangisnya.
"Tak apa, Sakura. Tak apa…" Naruto mempererat pelukannya, lalu membisikkan kata-kata penghiburan dengan lembut di telinga Sakura sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu, menenangkannya.
Sasuke berpaling ketika ia mendengar Azami mengisak kecil di sampingnya. Wanita itu menutupi wajahnya dengan tangan sebelum berbalik meninggalkan koridor itu. Sasuke baru saja hendak memanggilnya ketika ia mendengar Sakura menyebut namanya. Ia berpaling lagi dan mendapati Sakura telah melepaskan diri dari pelukan Naruto, tangan gadis itu terjulur padanya. Sasuke tak punya pilihan lain selain menyambutnya.
Pada awalnya Sasuke bingung harus berkata apa. Sejujurnya ia tidak terbiasa mengucapkan kata-kata penghiburan—dan ia mengakui dengan enggan kalau Naruto lebih ahli dalam hal ini dibanding dirinya. Sampai akhirnya ia hanya meremas lembut tangan Sakura dalam genggamannya untuk menunjukkan kalau ia peduli dan berkata pelan, "Pokoknya, jangan lakukan ini lagi."
.
.
.
Ketiganya menghabiskan waktu duduk-duduk di atas karpet di kamar Sakura siang itu. Sebagian waktu mereka dihabiskan dalam diam, seakan sama-sama tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Tapi suasana segera mencair ketika Naruto mulai menceritakan leluconnya yang biasa. Memang sih, Sakura tidak menanggapinya dengan tawa keras seperti biasa—hanya senyum tipis dan tawa tertahan—tapi setidaknya gadis itu sudah bisa tersenyum lagi walaupun sedikit.
"Terimakasih sudah datang kemari, teman-teman," ujar Sakura setelah beberapa saat mereka terdiam lagi. Naruto tampaknya sudah kehabisan bahan lelucon. "Tingkahku seminggu ini pastilah sangat bodoh dan kekanak-kanakan. Dan menyebalkan…"
"Yeah, tidak apa-apa," sahut Naruto, nyengir. "Kami mengerti kok—meskipun jujur saja itu memang sangat mengesalkan."
Sakura melempar senyum tipis padanya. Lalu berpaling pada Sasuke. "Sasuke, maaf waktu itu aku mengusirmu."
"Hn." Sasuke mengangguk singkat. Bibirnya membentuk senyum tipis, bukan seringai, yang membuatnya tampak semakin tampan.
Sakura mendengus tertawa. "Jangan sok cool begitu. Aku tahu kau marah."
Senyum Sasuke seketika berubah menjadi seringai. "Kalau begitu pastikan kau tidak bertingkah seperti orang kehilangan akal lagi, Sakura."
"Hei, jangan menyebut Sakura kehilangan akal dong!" Naruto memrotes. Kedua alisnya berkerut saat menatap Sasuke.
Sasuke mencibirnya. "Kau sendiri mengatainya bodoh, Naruto!"
"Hei, itu kan—"
"Itu kan, apa?!"
"Sudah, sudah. Kok malah berantem sih?" sela Sakura dengan ekspresi setengah jengkel setengah geli saat memandang kedua sobatnya itu bergantian. "Dasar cowok!"
Naruto dan Sasuke masih saling membeliak selama beberapa saat. Sakura menghela napas. Tapi tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. "Ah, iya, Naruto!" ia menoleh pada Naruto, menatap cowok pirang itu dengan matanya yang bengkak. "Bagaimana dengan pertandingan sepak bolamu. Seharusnya tinggal beberapa hari lagi, bukan?"
Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Yeah, sebenarnya pertandingannya besok…"
"BESOK?!" teriak Sakura serak, terkejut. Rupanya berkubang dalam suasana duka seminggu ini sudah membuatnya lupa segalanya—yah, tidak segalanya sih—termasuk waktu pertandingan Naruto. "Kenapa tidak memberitahu—Oh!" gadis itu mendadak melempar pandang galak pada Naruto. Kedua tangan di pinggulnya. Sepertinya ia telah menemukan kembali kegalakannya. "Apa yang kau lakukan di sini, kalau begitu, Naruto?! Kau kan seharusnya latihan, dan—Ya ampun! Kalian MEMBOLOS?!!"
Naruto tertawa gugup, serba salah. "Yeah. Apa boleh buat, kan?"
"Apanya yang apa boleh buat?" Sakura melompat berdiri. Gadis itu memandang Sasuke sama galaknya. "Sasuke, kenapa kau tidak mencegahnya bolos, sih?"
Sasuke hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu mengangkat bahu.
Sakura menggeram. "Kalau begitu kalian harus kembali ke sekolah sekarang, ayo!" gadis itu menarik lengan kedua cowok itu, memaksa mereka berdiri. "Naruto, kau seharusnya latihan yang benar!"
"Uh… yeah, tapi—"
"Naruto! Pertandingannya BESOK! Awas saja kalau kau sampai kalah, aku tidak akan memaafkanmu!" Sakura mendelik padanya, membuat Naruto menelan ludah. Sakura bisa sangat menakutkan kalau disiplinnya sudah keluar begini. "Sasuke, kau temani Naruto!"
"Eh? Kenap—Oh, baiklah…" ujar Sasuke dengan nada malas ketika melihat tatapan tajam Sakura.
Saat berikutnya, Sakura sudah menggiring kedua cowok itu meninggalkan kamarnya.
"Lho, sudah mau pulang?" tegur Azami ketika mereka melintasi ruang tengah. Wanita yang saat itu sedang duduk di sofa depan televisi beranjak dari duduknya ketika ketiga remaja itu lewat.
"Kami permisi dulu, Bibi Azami…" seru Naruto pamit.
Sakura mengawasi Naruto dan Sasuke ketika keduanya menaiki sepeda mereka. Seulas senyum terlukis di wajahnya ketika ia memandang punggung kedua cowok itu perlahan menghilang di kejauhan. Sebelah tangannya diletakkan di atas dadanya, merasakan luka yang selama beberapa hari belakangan ini menganga di sana perlahan mulai menutup.
"Kau sangat beruntung memiliki teman seperti mereka, Nak." Suara ibunya membuyarkan lamunan Sakura. Gadis itu menoleh dan tersenyum ketika mendapati ibunya sudah berdiri di sampingnya di beranda.
"Ya, Bu. Aku memang beruntung," ujarnya.
"Kau seharusnya bersyukur," kata Azami lembut seraya meletakkan tangannya yang hangat di bahu sang putri.
"Tentu saja aku bersyukur…" Sakura lalu melingkarkan lengannya di pinggang ibunya, lalu merebahkan kepala di bahu wanita yang paling disayanginya itu. "Aku juga bersyukur masih punya ibu yang sayang padaku." Ia terdiam sesaat. "Maafkan Sakura, Bu…"
Azami memeluk putrinya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Manis. Ibu mengerti."
Sakura memejamkan matanya, menikmati kahangatan pelukan ibundanya. Ketika ia kembali memikirkan kata-kata Naruto dan sikapnya selama satu minggu belakangan ini, rasanya dadanya begitu sesak karena penyesalan. Betapa bodohnya, pikirnya. Naruto benar, seharusnya ia lebih menghargai apa yang masih dimilikinya sekarang ketimbang terus-terusan terpuruk memikirkan yang sudah tidak ada. Ayah, juga kakaknya pasti tidak akan suka kalau melihat orang yang mereka sayangi seperti itu.
Dan ibunya… Sakura mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sang ibu. Wajah sudah dihiasi kerut-kerut tipis itu tersenyum lembut padanya, tatapannya meneduhkan. Sakura kembali teringat bagaimana ibunya dengan sabar membujuk dan meladeni sikapnya yang pastilah sangat menjengkelkan selama seminggu ini. Bagaimana wanita itu mencoba menjadi sandaran yang kokoh yang dibutuhkan putrinya menghadapi masa sulit itu. Padahal ia sendiri juga pastilah sangat berduka atas kepergian suami tercintanya.
Bagaimana bisa aku menyia-nyiakannya begitu saja, Sakura membatin sedih. Kedukaan mendalam itu rupanya telah membutakan matanya. Sekarang mereka hanya tinggal berdua saja, hanya tinggal Sakura dan ibundanya. Dan Sakura tidak ingin lagi melihat wajah sedih ibunya. Kini adalah gilirannya untuk menjadi lebih tegar, menjadi sandaran bagi wanita yang telah mengandungnya selama Sembilan bulan itu.
"Terimakasih untuk semuanya, Bu. Aku mencintaimu."
Ah, dan terimakasih juga untuk Naruto dan Sasuke yang telah membukakan mataku. Aku sayang kalian…
.
.
.
Mata zamrud Sakura melebar ketika ia melihat panggilan yang terjawab di ponselnya malam harinya setelah makan malam. Ada seratus lebih panggilan tak terjawab. Selama ini Sakura mengabaikan saja ketika ponselnya berbunyi, ia tidak menyangka akan sebanyak itu. Ia melihat deretan nama orang-orang terdekatnya; Ino, Naruto, Sasuke, Kakashi, Yamato dan beberapa teman sekolahnya. Bahkan Sai yang tidak begitu dekat dengannya juga telah beberapa kali meneleponnya ke nomor itu. Belum lagi deretan pesan-pesan singkat yang belum dibacanya.
Tiba-tiba saja hatinya terasa hangat, ia sangat terharu sampai-sampai matanya terasa basah lagi. Ternyata begitu banyak orang-orang yang mengkhawatirkannya…
Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamarnya dengan perasaan terharu. Matanya langsung tertuju pada buket mawar putih yang diletakkan di meja samping tempat tidur. Buket itu didapatkannya kemarin malam. Tadinya ia tidak begitu memedulikannya, tapi sekarang ia jadi penasaran. Ia lantas beranjak mendekati meja itu dan duduk di tepi ranjangnya. Diambilnya buket itu, lalu dihirupnya dalam-dalam wanginya yang semerbak.
Siapa ya yang mengirimnya, gadis itu bertanya-tanya dalam hati sebelum melihat kartu yang tersemat di salah satu tangkai mawarnya. Diambilnya kartu itu, lalu dibacanya. Seulas senyum muncul di bibirnya saat ia membaca deretan kata yang tertulis di kartu itu.
"…Neji Hyuuga," Sakura membaca nama yang tertera di bagian bawah kartu.
Sejenak, ia memperhatikan nama itu, membacanya berulang-ulang. Mendadak ia tertawa. Dasar, mereka itu…
Gadis itu menoleh ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. "Sakura, kau sudah tidur?"
"Belum, Bu," jawab Sakura, "Ada apa?"
"Ada Sasuke di bawah mencarimu," beritahu suara ibunya.
Sakura mengangkat alisnya, bertanya-tanya sendiri apa yang diinginkan Sasuke malam-malam begini? Bukankah tadi siang mereka baru saja bertemu?
"Iya, Bu. Aku segera turun," sahut Sakura kemudian. Ia meletakkan kembali buket yang dipegangnya di atas meja, memakai jaket longgar di atas gaun tidurnya dan bergegas turun. Benar saja, Sasuke—dengan pakaian yang sama dengan yang dipakainya tadi siang—sedang berdiri memunggungi pintu di teras, menunggunya.
"Sasuke?"
Cowok berambut hitam itu berbalik. Sakura bisa melihat ia membawa bungkusan berwarna cokelat di tangannya. "Hei," balasnya. "Apa aku mengganggu?"
"Hmm…" Sakura menggeleng, tersenyum tipis. "Ada apa malam-malam begini?" tanyanya.
"Aku hanya ingin mengantarkan ini," ujar Sasuke seraya mengulurkan bungkusan yang dipegangnya pada Sakura.
Sakura menatap bungkusan di tangannya. "Apa ini?" ia bertanya sambil berjalan ke kursi di ujung teras, lalu duduk di sana. Sasuke mengikutinya, duduk di sebelahnya sementara Sakura membuka bungkusannya dengan penasaran. Sakura terperangah ketika melihat apa isinya. "Sasuke… Ini kan…"
"Pesananmu. Kupikir kau pasti lupa," kata Sasuke.
"Yeah, memang," Sakura mengangguk. Tersenyum lebar ketika ia mengangkat benda itu dari bungkusnya dan memeriksanya dengan teliti. Sepasang matanya zamrudnya berbinar. "Terimakasih, Sasuke."
"Tidak masalah," Sasuke menyahut.
Sakura menoleh untuk menatap cowok yang duduk di sampingnya itu. "Aku akan pakai ini besok. Kau juga akan memakai punyamu, kan?"
Sasuke mendengus kecil. "Tidak tahu juga…"
"Sasuke…" Sakura melempar pandang memohon padanya.
Sasuke memutar bola matanya. Kalau bisa sih, sebenarnya ia tidak ingin memakainya. Tapi untuk kali ini, ia merasa tidak sampai hati menolak permintaan Sakura. Lagipula ini juga untuk Naruto. "Er—akan kupikirkan," ujarnya akhirnya.
Meskipun Sasuke tidak memberi pernyataan yang pasti, Sakura tahu cowok itu akan melakukannya untuknya dan Naruto. Maka ia pun memberi Sasuke senyum lebar berseri-seri yang dibalasnya dengan seringai tipis.
"Kalau begitu aku pulang sekarang, Sakura," kata Sasuke setelah agak lama keduanya terdiam. Ia berdiri. "Sudah malam, kau butuh istirahat." Ia baru saja akan beranjak pergi ketika dirasakannya tangan Sakura menangkap pergelangan tangannya. Sasuke menoleh, sebelah alisnya terangkat.
"Maukah kau menemaniku sebentar lagi?" gadis itu bertanya. Tatapannya memohon.
Sasuke menatapnya selama beberapa saat sampai akhirnya ia mengangguk dan kembali duduk.
---
Rumah Sakit Konoha
Sai sedang duduk di tepi ranjangnya di rumah sakit malam itu. Ia baru saja selesai menjalani pemeriksaan. Kondisinya sudah jauh membaik sekarang—setidaknya mereka sudah melepas infusnya—meskipun kadang-kadang kepalanya masih pusing dan beberapa bagian tubuhnya masih terasa nyeri. Besok ia sudah diizinkan pulang. Baguslah, pikir Sai, karena ia sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Mendapatkan fasilitas terbaik tidak lantas membuatnya betah berlama-lama tinggal di rumah sakit.
Terlebih, sudah beberapa hari ini Naruto tidak menjenguknya lagi, sejak ia memberitahukan tentang kecelakaan yang menimpa ayah Sakura.
"Kau tahu tentang kecelakaan pesawat di Iwa?" tanya Naruto siang itu.
"Ya. Aku melihatnya di televisi," jawab Sai sambil melambaikan tangannya ke arah televisi kecil di depan ranjangnya. "Mengerikan sekali. Tidak ada yang selamat, kan?"
Naruto mengangguk perlahan. "Yeah, mengerikan…"
"Memangnya kenapa?" tanya Sai sambil menatap Naruto dengan bingung. Sepertinya peristiwa itu begitu memengaruhi Naruto. Apa ada anggota keluarganya di sana?
Naruto terdiam beberapa saat, seakan sedang menahan emosinya. Ia menunduk sementara kedua tangannya saling remas. "Ayah Sakura adalah pilot pesawat itu. Dia…"
Sai tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan Naruto lebih lanjut. Kini ia paham mengapa wajah Naruto tampak lebih murung dari biasanya. Dan alasan mengapa ia mengenakan pakaian serba hitam. Ditatapnya temannya itu sementara ia mencoba memahami perasaan sesak aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.
"B-bagaimana… Sakura?"
Naruto mengangkat wajahnya menatap mata hitam Sai. Dan ketika ia berbicara lagi, suaranya parau, "Aku tidak pernah melihat dia sehancur itu…"
Sejak saat itu, pikiran Sai hampir selalu tertuju pada Sakura. Mencemaskan bagaimana keadaan gadis itu. Ia telah beberapa kali menelepon dan mengiriminya pesan singkat, tapi sejauh ini tidak mendapatkan tanggapan gadis itu menghilang ditelan bumi saja. Dan Naruto juga belum memberinya kabar apa-apa. Naruto pastilah sibuk berlatih untuk pertandingannya besok, pikirnya. Sebenarnya ia ingin menanyai Sasuke juga. Tapi mengingat sikap Sasuke yang belum berubah terhadapnya, Sai mengurungkan niatnya.
Sai menghela napas panjang kemudian. Mengira-ngira bagaimana kabar Sakura sekarang? Cowok itu lantas mengambil ponselnya yang diletakkan di meja samping ranjangnya. Siapa tahu sekarang Sakura mau mengangkat teleponnya, kan?
---
"Bagaimana latihan Naruto?" Sakura bertanya pada Sasuke setelah beberapa waktu mereka mengobrol tentang apa yang terjadi di sekolah selama Sakura absen.
"Um…" Sasuke berpikir sejenak, memutar kembali setiap sesi latihan Naruto yang disaksikannya—yang menurutnya benar-benar parah—dalam ingatannya. "Tidak begitu bagus," jawabnya.
"Apa maksudmu?" Sakura mengerutkan kening.
Sasuke menghela napas sebelum menjawab, "Dia tidak berkonsentrasi dengan baik, kurasa. Sering melamun di lapangan dan performanya benar-benar terjun bebas, kalau kau tahu maksudku. Dia juga jadi langganan dimarahi si kapten."
"Oh, pasti gara-gara aku," kata Sakura dengan nada bersalah.
"Tapi tadi dia sudah kembali bermain bagus tadi," Sasuke menambahkan cepat-cepat. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
Sakura tersenyum padanya. "Syukurlah kalau begitu."
Sasuke mengangguk pelan. "Naruto mungkin akan mengundurkan diri dari tim kalau saja kau masih tidak mau bicara hari ini."
"Kenapa?" tanya Sakura, tampak bingung.
Sasuke terdiam sesaat, seakan sedang memikirkan jawabannya. "Dia sangat mengkhawatirkanmu, Sakura, sampai-sampai tidak memedulikan hal lain. Dia bilang, kau jauh lebih penting baginya dibanding pertandingannya. Padahal selama ini Naruto sudah mati-matian hingga mencapai posisinya yang sekarang."
Sakura memalingkan wajahnya dan menunduk. Kedua tangannya saling remas di pangkuannya. Ia tidak berkata apa-apa.
"Kurasa dia memang sangat menyukaimu, Saku—"
"Hari ini kau banyak bicara, Sasuke," sela Sakura pelan. "Apa kau sedang membujukku supaya menerima Naruto?"
Sasuke tampak kaget. "Kupikir kau—"
"Bukankah dulu aku pernah bilang padamu? Aku akan bersikap sangat kejam kalau menerima Naruto seperti itu. Kau pikir bagaimana perasaanmu kalau gadis yang kau sukai menerimamu sebagai kekasihnya, tapi ia menyukai pemuda lain? Itu jauh lebih menyakitkan dari pada ditolak. Dan aku tidak mau Naruto merasakan yang seperti itu, itu tidak adil." Sakura mengangkat wajahnya, menatap Sasuke. "Lagipula aku sangat senang dengan hubunganku dengan Naruto yang sekarang. Aku menyayanginya seperti saudara laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Untuk itulah aku membuat ini," gadis itu menepuk bungkusan di pangkuannya. "Aku tidak mau kehilangan persahabatanku dengannya hanya itu."
Sasuke membalas tatapannya. "Kau benar," ujarnya kemudian.
Sakura tersenyum padanya.
Ponsel di saku jaket Sakura tiba-tiba berdering, membuat perhatian Sakura teralih. Gadis itu buru-buru merogoh saku jaketnya dan melihat nama Sai tertera di layar ponselnya. "Dari Sai," beritahunya pada Sasuke—yang langsung ber-'hn' dan memalingkan wajah—sebelum menekan tombol answer.
"Halo, Sai?"
"Sakura. Ah, syukurlah kau mengangkat teleponku," terdengar suara lega Sai di seberang.
Sakura tersenyum tidak enak hati—yang tentu saja tidak bisa dilihat Sai—"Maafkan aku soal itu…"
"Hn. Naruto sudah menceritakannya padaku beberapa hari yang lalu. Aku… turut berduka cita, Sakura."
"Terimakasih."
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau baik-baik saja?"
"Yeah. Aku baik. Bagaimana denganmu?"
"Syukurlah… Aku juga. Aku sudah boleh pulang besok."
"Baguslah kalau begitu. Aku senang mendengarnya," kata Sakura tulus.
"Hmm…" Sai terdiam beberapa saat. "Kau pergi ke pertandingan Naruto besok?" tanyanya.
"Ya, aku akan datang dengan Sasuke."
"Begitu." Diam lagi. "Kalau begitu aku tutup dulu, ya. Kau istirahatlah.."
Sakura tertawa kecil. "Seharusnya aku yang bilang begitu, Sai."
"Bye."
"Bye."
Sambungan terputus. Sakura menurunkan ponselnya, tersenyum.
"Apa maunya?" tanya Sasuke, gagal menyamarkan nada tidak suka dalam suaranya.
Sakura menatapnya dengan dahi berkerut. "Dia hanya menanyakan keadaanku, Sasuke," katanya, "dan memberitahu kalau besok dia sudah boleh pulang dari rumah sakit."
"Oh."
"Kau masih tidak menyukainya, ya?" tanya Sakura menyelidik.
Tapi sebelum Sasuke sempat mejawab pertanyaan gadis itu, ponsel Sakura berdering lagi. Kali ini nama Ino yang tertera di layar. Sakura menekan tombol answer sekali lagi.
"Halo, Ino?" sapanya.
"Forehead-girl!! Aaargh! Akhirnya kau angkat juga teleponku! Dasar kau ini, bikin cemas orang saja! Naruto baru saja memberitahuku kalau dia sudah ketemu kau siang ini. Ha ha ha… Kedua suami-mu itu nekat sekali kabur dari sekolah hanya untuk menemuimu, Forehead! Aku jadi iri—"
"Whoa! Tunggu dulu, Ino-pig! Kasih kesempatan aku ngomong dong…" sela Sakura sambil tertawa.
Di seberang telepon, Sakura bisa mendengar Ino juga tertawa. "Habisnya…"
"Iya iya, maaf deh…"
"Hm… Ya sudah, nanti saja kita ngobrol lagi. Aku punya banyak bahan gosipan baru nih. Aku menginap di rumahmu malam ini, ya?!"
"Er… oke. Tapi besok pagi—"
Ino menyelanya dengan tawa renyahnya lagi. "Aku tahu kok. Kalau begitu kita bisa sekalian. Aku juga mau nonton pertandingannya Naruto!"
"Baiklah," sahut Sakura cerah.
"Kalau begitu sudah diputuskan. Aku mau siap-siap dulu. Sampai ketemu di rumah!" dan Ino langsung memutuskan sambungan telepon.
"Ino akan menginap malam ini," kata Sakura kemudian sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Baguslah. Kurasa kau memang butuh teman ngobrol," kata Sasuke.
Sakura menoleh padanya lagi sambil tersenyum. "Kau juga teman ngobrol yang baik, Sasuke. Siapa yang menyangka cowok yang irit omong sepertimu bisa menjadi sangat cerewet."
Sasuke mendengus, "Aku tidak cerewet."
Sakura tertawa. "Setidaknya hari ini kau tidak hanya bilang 'hn' kan? Untuk ukuran Sasuke, itu termasuk cerewet."
Sasuke melempar pandang kau-ini-ngomong-apa-sih pada Sakura yang terkekeh-kekeh, tidak berkata apa-apa. Biar saja ia tertawa, pikirnya. Sakura memang butuh tertawa sekarang setelah berhari-hari menangis. Dan Sasuke merelakan dirinya—sebenarnya tidak terlalu rela juga, sih—menjadi bahan tertawaan Sakura. Sasuke memalingkan wajahnya, tersenyum diam-diam.
Sasuke agak terkejut ketika merasakan Sakura menyandarkan kepala di bahunya. "Eh—"
"Tidak keberatan, kan? Hanya sebentar, kok…" sela Sakura tanpa memandangnya.
Sasuke menolehkan kepalanya sedikit untuk memandang gadis di sebelahnya. Dari posisi mereka sekarang, Sasuke hanya bisa melihat sebagian wajah Sakura, namun cukup untuk membuatnya tahu bahwa suasana hati gadis itu telah berubah sendu lagi. Maka ia membiarkan saja Sakura bersandar di bahunya. Rambut merah muda Sakura menggesek pipi Sasuke dengan lembut ketika cowok itu memalingkan wajah lagi, memandang ke arah Blossom's Street, mengawasi satu dua mobil yang melewati depan rumah itu. Keduanya terdiam. Hanya terdengar suara televisi dari dalam rumah dan kerikan jangkrik.
"Sasuke?" tanya Sakura setelah keduanya terdiam lama.
"Hn?"
"Kau masih ingat waktu kita mengunjungi Distrik Uchiha di kota?"
"Ya." Dan Sasuke juga ingat Sakura yang begitu ketakutan saat itu.
"Tahu tidak, mengapa aku tidak begitu suka tempat itu?"
"Karena ada hantunya?" Sasuke menebak asal.
Sasuke merasakan Sakura menggeleng di bahunya. "Bukan," ujarnya pelan. "Waktu kecil aku pernah ke sana sekali dengan teman-temanku. Ada yang bilang ada peramal yang sangat hebat di sana, ramalannya selalu tepat. Aku dan teman-temanku datang ke sana karena penasaran ingin diramal, terutama soal asmara—kau tahu kan, anak perempuan?" ia terdiam sejenak. "Ketika tiba giliranku diramal, peramal itu memperingatkanku untuk bersiap-siap, karena sebentar lagi aku akan kehilangan orang yang amat kusayang. Dan kau tahu apa yang terjadi?"
"Apa?" Sasuke merasakan firasat tidak enak mengenai jawaban Sakura selanjutnya.
"Seminggu kemudian kakakku meninggal karena sakit." Sakura menggeser tangannya, mencengkeram lengan jaket Sasuke erat-erat, seakan mencari pegangan. "Dan kemarin—"
"Sudah, jangan dilanjutkan," sela Sasuke tegas. Mendadak ia menyesal telah meminta Sakura menemaninya ke sana. "Maaf."
Sakura tidak menanggapinya. Sasuke merasakan tangan Sakura yang mencengkeram lengannya bergetar. "Jangan menangis."
"Aku tidak menangis," ujar Sakura dengan suara parau. Ia tertawa serak. "Teman-teman klubku selalu bilang aku jago akting, tapi sepertinya sekarang kemampuanku aktingku merosot tajam." Gadis itu lalu mengangkat kepalanya dari bahu Sasuke dan menatap cowok itu. Benar saja, wajahnya telah dibasahi air mata.
Sasuke mendengus. Melihat gadis itu menangis membuatnya tidak nyaman. "Mukamu jelek kalau menangis seperti itu, tahu?" Entah apa yang mendorong Sasuke berbuat begitu, tapi yang jelas saat berikutnya ia sudah mengulurkan tangan, mengusap basah di wajah Sakura.
Sakura langsung cemberut, menyingkirkan tangan temannya itu dari wajahnya. "Lembut sedikit dong," protesnya, "Caramu itu seperti cara orang mengelap meja saja."
Mau tak mau Sasuke tertawa. Sakura juga ikut tertawa bersamanya.
"Sasuke?" kata Sakura lagi setelah tawanya mereda.
"Ya?"
"Terimakasih atas bunganya, ya."
"Apa?" Sasuke mengerjap kaget.
"Aku tidak sebodoh itu, Sasuke," Sakura tertawa lagi, "Neji tidak akan mengirimiku bunga seperti itu. Lagi pula aku kenal betul tulisannya—dan tulisanmu juga. Aku bisa membedakan."
"Begitu, ya?" Sasuke agak menyesal juga menyetujui usul Ino tempo hari. Harusnya ia tahu kalau tipuan itu akan ketahuan dengan mudah, terlebih oleh gadis dengan otak cemerlang seperti Sakura.
"Tapi aku suka sekali bunganya," kata Sakura sambil tersenyum.
"Yamanaka yang memilihkannya untukmu," sahut Sasuke.
"Kalau begitu kalian berdua bersekongkol?"
"Tanya saja sendiri sama orangnya. Tuh," Sasuke mengendikkan kepala ke arah halaman depan rumah Sakura. Sebuah motor Harley dengan dua orang penumpang baru saja berhenti tepat di depan halaman, di dekat BMW Sasuke. Sosok yang duduk di belakang bergegas turun, mencopot helmnya dan rambut pirangnya yang panjang langsung tersibak.
"Ino!" seru Sakura sambil beranjak untuk menyambut sahabatnya.
Dari halaman, Ino balas melambai padanya. Ia lalu berbalik lagi menghadap cowok yang memboncengnya, berbicara sesuatu sebelum menunduk untuk mengecup pipi cowok itu—Sakura mengangkat alisnya ketika melihat adegan ini. Sepertinya cowok itu pacar Ino yang diceritakannya tempo hari—Dan ketika cowok itu sudah pergi dengan Harley-nya, Ino bergegas mendekati Sakura, memeluknya hangat.
"Oh, aku senang sekali kau sudah oke lagi, Sakura!" serunya sambil melepaskan pelukannya dan mengamati wajah sahabatnya itu lekat-lekat. "Kau masih kelihatan pucat."
"Mukaku kan memang seperti ini, Ino," kata Sakura sambil tersenyum.
"Ah, tidak juga kok. Mukamu merah berseri-seri kalau ada Neji Hyuuga—ouch!"
Sakura telah menyerang sahabatnya itu dengan gelitikan. "Kau ini… bisa tidak sih tidak menggodaku terus. Dasar!"
Ino tertawa-tawa, melepaskan diri dari serangan gelitikan Sakura. Kemudian mata birunya beralih pada sosok cowok jangkung yang sedang berdiri di beranda. Alisnya terangkat, terkejut melihat cowok itu di sana. "Lho, Sasuke?"
Yang dipanggil hanya menganggukkan kepala. Sasuke lalu berjalan menuruni undakan untuk menghampiri kedua gadis itu. "Kalau begitu aku pulang dulu. Kau sudah ada teman, kan?" katanya pada Sakura.
"Oke. Trims, Sasuke," Sakura tersenyum padanya.
"Aa. Besok kujemput jam sembilan."
"Baiklah," Sakura mengangguk.
Kedua gadis itu mengawasi ketika Sasuke beranjak ke mobilnya—mobil kakaknya—dan masih di sana ketika mobil itu akhirnya menghilang di ujung jalan.
"Jadi…" Ino berpaling pada Sakura, nyengir. Mata birunya berkilat jahil, "Apa sebenarnya yang dilakukan Sasuke di sini?"
Sakura yang memahami arti cengiran sahabatnya itu tertawa. "Jangan berpikir macam-macam. Sasuke hanya mengantarkan sesuatu untukku. Dan kami sedikit mengobrol," ia menambahkan ketika dilihatnya Ino memasang tampang tidak percaya. "Hanya itu. Dan jangan menatapku seperti itu, Ino!"
Ino terkekeh. "Iya deeeh…" katanya sambil menaikkan posisi tali ransel di bahunya. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Pangeran Hyuuga-mu itu, kan?"
Sakura berpaling, menyembunyikan senyum dan rona merah di wajahnya. "Sudah ah. Yuk, masuk."
"Tapi omong-omong, Sakura," lanjut Ino ketika mereka menaiki undakan depan, "Menurutku kau dan Sasuke serasi, lho."
Sakura memutar bola matanya. "Sama seperti waktu kau bilang aku serasi dengan Izumo, kan? Dasar! Udah deh, tidak usah berlagak jadi mak comblang begitu…" keluhnya. Ia menuju kursi di beranda untuk mengambil bungkusan dari Sasuke sebelum mengajak Ino masuk.
Pintu depan menutup di belakang mereka. Meski begitu, suara tawa kedua gadis itu masih terdengar, membawa suasana yang berbeda dari yang mereka rasakan selama seminggu terakhir. Perlahan tirai gelap kedukaan yang selalu menyelimuti rumah keluarga Haruno sepeninggal sang kepala keluarga mulai terangkat.
---
TBC…
---
Huaaah… no komen untuk chapter ini deh! Cuapek mbikinnya. Romance NaruSaku kembali diangkat di bagian awal dengan sedikit fluff friendship mereka dan SasuSaku! Hahaha… Un… gimana? –gak pe-de mode:ON-
Makasih banyak buat yang udah membaca dan mereview, membaca saja, mereview saja (?) –peluk-peluk semuanya- bener-bener penyemangat deh! ^^
Mayura : Iya, aku memang ngebayangin Sasuke inget pernah nonton adegan itu di Full House. Hihi… XD
Furu-chan : Makasih. Ini udah update.
Uci-chan : Yang kemarin memang bernuansa muram. Yang ini sudah cukup ceria belum, Ci?
Aika-chan : Kemarin aku juga liat note-mu waktu mau ngupdate. Kebetulan banget ya…
Cherry : Saku sama Sai nongol di chapter ini tuh. Soal pertanyaanmu, itu udah bisa dilihat di chapter ini. Sepertinya bukan itu maksud Sakura di suratnya –bukan email- Soal update, gak mesti seminggu sekali kok. Sesukaku aja. Hihi… XD
Arai-chan : Ah! Arai ngereview lagi, senangnya!! ^^ Iya, yang kemarin emang settingnya muram. Tapi yang ini udah mulai ceria lagi kok..
Emi-chan : Yep, Sakura memang –seharusnya- tabah. –peluk-peluk Sakura- Lho, ngerokok kok keren? Yosh! Lain kali kita ngobrol lagi yah…
Kakkoi-chan : Iya tuh, soalnya Sakura kan deket banget ma Bokapnya. Enggak ada masalah kok sama bunganya, Sakura malah seneng-seneng aja tuh…
Dilia-chan : Ah, Dilia… gak apa-apa kok~ -peluk-peluk- ups! Kehilangan adik? Sakura kan anak bungsu..
Catt-chan keren : Nyaaaa~ Ita-kun berpaling ke Catt!!! Tidaaaak~ -lebay ah!-
Ambu : hehehe… emang lagi musim tuh Mbu, couple t'shirt gitu. Di nangor aja sering ngeliat cowok wara wiri make kaos yang tulisannya 'I LOVE MY WIFE' hehehe… XD
Antlia : huhu… garing ya? Gomen na… Tapi di chap ini Saku-chan nongol lagi tuh… mudah-mudahan kemunculannya gak mengecewakan.
Gina : Iya, Dear.. Aku inget kok. ^^ Makasih udah membaca…
Yang mereview di belakang layar, Hiryuka Nishimori-chan, makasih banget ya~. Dan imouto-ku Asano-chan… ditunggu ilustrasinya lho~
