Chapter 37

Sakura dan Ino terbangun agak kesiangan keesokan harinya. Barangkali mereka masih akan melanjutkan tidur sampai siang kalau saja Azami tidak membangunkan kedua gadis itu untuk sarapan. Sebabnya adalah mereka terlalu asyik mengobrol dan curhat sampai larut malam, menggosipkan setiap detil yang bisa digosipkan, lalu dilanjutkan dengan bermain gitar milik Sakura sambil bernyanyi—Ino adalah seorang pemusik dan Sakura lumayan bisa main gitar, diajari mendiang ayahnya—sampai waktu menunjukkan pukul setengah dua malam keduanya baru tertidur.

Setelah sarapan, mandi dan beres-beres, pukul setengah sembilan pagi kedua gadis itu sudah berada di kamar Sakura lagi, sibuk dengan sentuhan terakhir penampilan mereka. Ino tampak cantik dengan balutan celana jeans ketat dan kaus bola longgar bertuliskan 'Ino Ronaldo' di bagian punggungnya. Rambut pirangnya yang menjuntai sampai ke pinggang tergerai bebas. Gadis itu tertawa ketika melihat Sakura muncul dari kamar mandi dengan mengenakan t'shirt berwarna oranye cerah dipadu dengan jeans hitam yang agak gombrong.

"Naruto banget sih kau!" komentar Ino tergelak. Kepala pirangnya yang cantik menggeleng-geleng. "Kalau kau memakai ini waktu kita kelas satu, aku pasti mengira kepalamu itu sudah terbetur sesuatu, Sakura. Atau kau mendadak buta warna?" kekehnya.

"Bagus, kan?" Sakura nyengir. Gadis itu memutar tubuhnya di depan cermin, memeriksa bayangannya sendiri. "Aku sendiri yang mendesainnya."

"Oh," Ino mengangguk. "Pantas saja…" tambahnya, menyeringai.

"Jangan ngomong 'pantas saja' dengan tampang begitu dong," tukas Sakura tersinggung, menatap Ino dengan cemberut dari cermin, "Aku tahu warna rambutku tidak cocok dengan oranye—dan aku juga tidak terlalu suka warna ini, kecuali jeruk—tapi ini kan untuk Naruto."

"Aku mengerti," Ino mengangguk lagi, tertawa. Ia mengeluarkan lip gloss dari dalam tasnya dan mulai memoleskannya ke bibirnya yang tipis.

"Sasuke juga pakai kaus yang sama," ujar Sakura sambil menyematkan jepit untuk menahan anak rambutnya. Hari itu ia mengucir dua rambut merah mudanya.

Ino nyaris saja menjatuhkan tube lip gloss-nya saking kagetnya. "Hah? Sasuke—Maksudmu, dia memakai kaus yang sama denganmu? Dengan tulisan 'Naruto's Sister'? Ya ampun… kukira dia cowok!!"

Sakura menimpuk sahabatnya itu dengan sikat rambut, terbahak. "Ya enggak lah… Tulisan di kausnya, 'Naruto's Brother'."

Gadis berambut pirang itu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua ini ya, benar-benar—"

Kata-kata Ino terputus oleh suara dering ponselnya. Gadis itu buru-buru meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja belajar Sakura. Ada pesan singkat yang baru masuk. Ino membaca pesannya sementara Sakura melanjutkan berdandan.

"Ah!" seru Ino mengagetkan Sakura.

"Ada apa, Ino?" tanya Sakura heran, berpaling dari cermin untuk menatap gadisp pirang itu.

Ino menjatuhkan diri di kursi belajar sambil mengeluh. "Idate," ia memberitahu Sakura. "Dia bilang tim basketnya akan bertanding jam sebelas nanti di GOR Konoha University. Dia memintaku datang. Aaargh… Kenapa tidak bilang dari kemarin, sih?"

"Kenapa memangnya? Datang saja…" kata Sakura seraya melanjutkan acara dandannya.

"Tapi kan aku juga mau nonton pertandingannya Naruto."

"Kau bisa datang setelah menonton Naruto—"

"Tidak seru kalau hanya menonton setengahnya…" Ino menyelanya, tampak tidak senang.

"Kalau begitu bilang saja pada Idate kalau kau tidak bisa datang," usul Sakura.

Ino mengeluh lagi. "Aku tidak ingin mengecewakan dia, Sakura."

"Wah, susah kalau begitu. Tidak ada pilihan lain selain pergi di tengah pertandingan, kan?"

"Yeah, sepertinya begitu. Tapi…" Ino menunduk memandang kaus bolanya dengan sedih. "Aku salah kostum dong. Masa nonton basket pakai kaus bola."

"Dirangkap saja pakai jaket. Jangan dibuat repot begitu dong…" ujar Sakura sederhana.

Ino nyengir menatap Sakura. "Benar juga. Hah, bodoh sekali sampai tidak kepikiran!" ia menepuk dahinya sendiri atak kebodohannya, lalu mengambil jaketnya yang disampirkan ke punggung kursi belajar. Sementara Sakura juga mengeluarkan jaket olahraga Konoha High yang berwarna biru dongker dari dalam lemari pakaiannya, melepasnya dari hanger.

Mereka mendengar suara mobil berhenti di depan rumah ketika Sakura sedang mengenakan jaketnya. Ia bergegas melongok ke jendela yang mengarah langsung ke halaman depan dan melihat Sasuke keluar dari mobilnya—cowok itu juga mengenakan jaket sekolah mereka di atas t'shirt-nya.

"Sasuke sudah datang," beritahu Sakura pada Ino sambil menyibak keluar rambut panjangnya yang tertahan jaket.

Ino ikut melongok ke jendela, menyeringai tipis ketika melihat sosok jangkung Sasuke berjalan melintasi halaman menuju pintu depan. "Wow. Kalian ini benar-benar kompak, ya," komentarnya pelan, merujuk pada jaket dan pilihan warna jeans yang mereka pakai—sama-sama hitam. Tapi tampaknya Sakura tidak benar-benar mendengarkannya karena saat berikutnya gadis itu sudah melesat keluar kamar.

"Aku akan turun menyambutnya, Ino!" seru Sakura dari pintu, "Kau cepatlah selesaikan dandanmu. Dia tidak suka menunggu lama," ia menambahkan sebelum benar-benar menghilang di koridor. Ino bisa mendengar suara langkah cepatnya menuruni tangga. Beberapa saat kemudian terdengar suara bel pintu, yang segera dijawab Sakura, "Tunggu sebentar!"

Ino buru-buru menyelesaikan acara dandannya—menyisir dan mengikat rambut pirangnya yang tebal menjadi buntut kuda panjang di belakang kepalanya.

"Hei, Tuan Tepat Waktu," sambut Sakura cerah sebagai pengganti ucapan selamat pagi pada Sasuke yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan tenggelam dalam jaketnya. Ia melirik ke belakang Sasuke. "Tidak ada Rufus?"

"Dia dibawa kakak jalan-jalan," jawab Sasuke singkat. "Siap berangkat?"

"Kau memakai t'shirt-mu, kan?" Sakura malah balik bertanya.

Sasuke menghela napas, lalu menurunkan seleting jaketnya, menampakkan t'shirt berwarna oranye cerah di baliknya sebelum menaikkannya lagi. Kelihatannya Sasuke tidak begitu nyaman dengan warna mencolok itu dan sejujurnya warna itu memang tidak begitu cocok dengannya. Tapi Sakura tetap tersenyum puas.

"Siap berangkat?" ulang Sasuke.

"Oke—Oh! Aku lupa tasku!" seru Sakura, teringat ia masih meninggalkan tasnya di ranjang di kamarnya. "Sebentar aku ambil dulu!"

Baru saja ia hendak berbalik kembali ke kamarnya, Ino muncul dari arah tangga. Gadis itu telah mengenakan jaket dan topi baseball-nya yang semalam. Ransel tersampir di bahunya sementara di tangannya yang lain ia membawa tas selempang Sakura. "Kau mencari ini?" tanyanya ketika sudah mendekat seraya mengulurkan tas selempang berwarna putih itu.

"Oh, thanks, Ino!" kata Sakura sambil mengambil tas yang diulurkan Ino padanya, tersenyum.

"Anytime," balas Ino. Ia lalu memandang Sasuke. "Pagi, Sasuke," sapanya ceria pada cowok itu.

"Hn. Pagi," balas Sasuke. "Berangkat sekarang kalau begitu?" katanya sebelum berbalik, menuruni undakan menuju BMW-nya.

Sakura mengunci pintu rumahnya terlebih dalulu—Azami sudah berangkat ke restoran—sebelum bersama Ino mengikuti Sasuke.

Cuaca hari itu mendung dan lebih berangin dari hari-hari sebelumnya. Namun sepertinya cuaca yang kurang mendukung itu tidak lantas menurunkan antusiasme anak-anak Konoha High untuk menyaksikan pertandingan persahabatan antara Konoha yang diwakili tim Konoha High melawan tim salah satu sekolah dari Iwa. Belum lagi keluarga para pemain yang ikut bertanding dan para supporter tim lawan yang jauh-jauh datang dari Iwa.

Itu terbukti dari antrian kendaraan di lapangan parkir Stadion Konoha yang lumayan panjang, meskipun tentu saja tidak sepadat kalau tim dari klub pro yang bertanding. Di mana-mana mereka melihat rombongan anak-anak Konoha High dengan spanduk yang bertuliskan dukungan atas tim kesayangan mereka. Juga rombongan supporter dari Iwa yang kompak mengenakan kaus berwarna cokelat-merah menyala dengan lambang berbentuk seperti batu di bagian dada.

Setelah beberapa menit mengantre, akhirnya Sasuke menemukan tempat parkir kosong di dekat bus sekolah mereka yang mengangkut tim Naruto dan kawan-kawan. Bus itu sudah kosong, hanya ada supir dan satpam sekolah yang sedang mengobrol di pintu bus. Sepertinya tim mereka sudah pergi ke ruang ganti.

Mereka bertemu dengan Pak Shiranui dan ayah angkat Naruto, Iruka Umino, di pintu masuk stadion. Betapa tercengangnya Sakura dan Ino ketika melihat di belakang kedua pria itu; lautan oranye yang dibentuk oleh serombongan bocah berisik yang mengenakan t'shirt yang sama dengan yang Sakura dan Sasuke pakai, bocah-bocah yang dikenali Sakura sebagai anak-anak panti asuhan. Tidak semua, tentu saja, hanya yang sudah cukup besar.

"Kakak Sasuke!" seru gadis kecil berambut kucir pirang sambil menghambur ke arah Sasuke, menubruk memeluk pinggang cowok itu, membuatnya sedikit terhuyung. Si gadis kecil mendongakkan kepalanya, nyengir pada Sasuke yang tampak kikuk dipeluk anak kecil di depan umum. "Makasih kausnya, ya Kak! Usako suka banget!"

"Er… iya," sahut Sasuke, seraya menepuk-nepuk puncak kepala Usako pelan ketika gadis kecil itu melepaskan pelukannya sambil memekik girang—karena berhasil memeluk si kakak cakep—dan berlari ke arah teman-temannya yang mulai ribut menyapa dan merubungi ketiga remaja itu.

Sakura menelengkan kepala mencoba melihat tulisan yang di dada masing-masing t'shirt yang dipakai anak-anak itu. Sekali lagi gadis itu dibuat melongo. Tulisan 'Naruto's Brother' tertulis di setiap t'shirt anak laki-laki dan 'Naruto's Sister' di t'shirt anak perempuan. Mata Sakura langsung mencari sang tersangka utama yang tampaknya menghindari tatapannya; Sasuke Uchiha.

"S-Sasuke," ujar Sakura terbata seraya memandang cowok itu dengan mata berbinar, "Ini semua… kau yang…" ia tampaknya tidak sanggup berkata-kata saking terharunya.

Setelah beberapa saat, akhirnya Sasuke membalas tatapannya dengan agak kikuk. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut menjawab Sakura, Iruka menyelanya.

"Genma—maksudku, Pak Shiranui—memberitahuku kau yang mengajak anak-anak menonton, Sasuke," ujarnya pada Sasuke dengan wajah cerah penuh senyum, "Mereka senang sekali, terlebih saat kau memberi mereka kaus ini. Terimakasih, Nak. Ah, tenang saja, aku belum memberitahu Naruto. Ini kejutan, kan?" ia menambahkan seraya mengedipkan sebelah matanya.

"Um… yeah," gumam Sasuke dengan senyum sekilas, "Sama-sama."

Iruka tersenyum padanya, lalu menepuk lengan cowok itu sebelum menggiring anak-anak panti masuk ke dalam stadion bersama Pak Shiranui. "Ayo masuk, anak-anak. Yang tertib, ya. Hati-hati… Udon, jangan dorong-dorongan begitu, Nak."

Sasuke baru akan bergerak mengikuti Iruka dan rombongan saat Sakura menyambar lengannya. Gadis itu menatapnya dengan alis terangkat, menunggu penjelasan dari Sasuke. Cowok itu menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "Aku hanya mengkhawatirkan Naruto yang tampaknya kehilangan semangat semejak kau tidak masuk, Sakura. Kupikir dia akan senang kalau adik-adiknya ikut datang untuk mendukungnya. Dan kaus itu—um… aku meminjam idemu."

"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?" tuntut Sakura, merasa bersalah karena tidak ikut ambil bagian dalam rencana ini.

"Karena kondisimu juga sudah cukup buruk tanpa ditambahi dengan memikirkan masalah Naruto," jawab Sasuke lugas. "Dan ini juga kejutan untukmu. Bukankah kau menyukai mereka?" ia menambahkan, meletakkan tangannya sekilas di lengan Sakura sebelum berbalik untuk menyusul yang lain.

Sakura masih berdiri di sana selama beberapa saat, sama sekali tidak menyangka Sasuke sedalam itu mengkhawatirkan Naruto dan dirinya, dan bisa bertindak sampai sejauh ini untuk mereka. Membuat t'shirt-t'shirt itu untuk menyemangati Naruto dan… Gadis itu teringat malam sebelumnya, saat Sasuke datang untuk mengantarkan sendiri t'shirt itu untuknya ke rumah dan bersedia meluangkan waktu untuk menemaninya. Padahal saat itu pastilah ia sedang lelah, ke kota untuk mengurus t'shirt pesanan, lalu—barangkali—pergi ke panti asuhan untuk mengajak anak-anak datang ke pertandingan Naruto. Dan semua itu dilakukannya untuk Naruto dan Sakura. Dan Sakura belum lupa dengan kiriman bunga 'dari Neji' tempo hari.

"Sakura!"

Suara Ino membuatnya tersentak, membuyarkan lamunannya. Rupanya Ino tadi mengikuti Iruka dan barangkali baru tersadar kalau Sakura tidak ada di sampingnya. Sakura menoleh dan mendapati Ino melambai padanya dari pintu masuk.

"Sedang apa kau di sana? Ayo cepat masuk!" panggilnya.

"I-iya, aku datang!" Sakura bergegas menyusulnya.

Tribun bawah tempat di mana anak-anak panti asuhan bersama kedua pengasuh mereka dan Sasuke berada nyaris penuh. Tersandung-sandung, Sakura dan Ino berjalan menuju tempat mereka. Sesekali berhenti untuk membalas sapaan teman-teman mereka, termasuk ketika mereka melewati Hinata yang duduk bersama sepupunya, Neji—yang membuat perasaan Sakura jungkir balik—dan beberapa anak kelas tiga, pasang pose ketika mereka bertemu Kiba dan rombongan anak-anak Jurnal yang sedang jepret sana jepret sini mengambil foto. Mereka juga bertemu dengan Shikamaru—yang terkantuk-kantuk padahal sedang berada di tengah keramaian—dan Chouji yang membawa sekantung penuh keripik kentang.

Sasuke sudah membuka jaket Konoha High-nya ketika kedua gadis itu tiba di dua bangku kosong yang sengaja disisakan Sasuke untuk mereka. Ia tampaknya tidak begitu menghiraukan kikik orang-orang yang melihatnya. Sakura yang tadinya merasa agak malu juga, akhirnya membuka jaketnya juga. Tidak usah pikirkan kata orang, pikirnya sambil mengikatkan lengan jaketnya ke pinggang—seperti yang dilakukan Sasuke—ini untuk Naruto.

Saat Sakura menoleh untuk memandang Sasuke, cowok itu juga sedang menatap ke arahnya. Mereka bertukar seringai. Sekarang rombongan mereka tampak mencolok dengan warna oranye cerah di antara lautan manusia.

"Naruto benar-benar beruntung," komentar Ino sambil geleng-geleng kepala, tersenyum lebar. "Beneran deh, pertandingan persahabatan saja sudah seheboh ini. Apalagi turnamen betulannya musim semi nanti…"

Penonton bersorak dan bertepuk riuh ketika kedua tim akhirnya memasuki lapangan. Anak-anak panti dengan ribut meneriakkan nama kakak tersayang mereka, Naruto, ketika mereka melihat sosok cowok berambut pirang jabrik dengan nama Uzumaki dan nomor punggung 10 tersemat di bagian punggung seragam Hijau-Hitam—seragam tim Konoha High.

Naruto, yang merasa namanya dipanggil-panggil, menoleh. Cowok itu sesaat tercengang melihat rombongan oranye di antara para penonton, tercengang melihat adik-adiknya dari panti asuhan di sana, padahal seingatnya ia tidak pernah meminta mereka datang. Ia juga bisa melihat Sasuke, Sakura, Ino, ayahnya dan guru Kimianya di antara rombongan itu. Mereka semua melambaikan tangan ke arahnya.

Naruto balas melambai pada mereka semua. Ia mendadak diserang rasa haru yang menyesakkan ketika matanya samar-samar membaca tulisan di dada mereka. "Kalian…"

"Wow, rombongan penggemarmu, tuh?" komentar sang kapten, Lee, sambil nyengir pada Naruto. "Mereka benar-benar niat, eh? Semangat masa muda mereka benar-benar bagus! Yosh! Aku juga jadi semangat nih!"

"Yeah!" seru Naruto setuju. Ia melakukan gerakan pemanasan dengan melompat-lompat kecil di tempat, merasa semangatnya terangkat berkali-kali lipat.

Pertandingan pun dimulai setelah kedua tim saling berjabat tangan dan pluit dibunyikan.

Pertandingan berlangsung seru selama babak pertama. Kedua tim menyerang dan bertahan sama kuatnya. Jelas sekali kalau tim dari Iwa juga telah melatih diri sama kerasnya dengan tim dari Konoha. Tapi ada kalanya pertahanan yang kuat itu berhasil ditembus, meskipun tidak selalu berhasil menyarangkan gol ke gawang lawan.

Begitu pula dengan para supporter. Mereka tak kalah bersemangat meneriakkan dukungan dan yel-yel untuk menyemangati tim masing-masing. Berteriak-teriak sampai serak ketika ada salah satu pemain yang nyaris menggolkan bola. Termasuk Sakura, dalam waktu beberapa menit saja tenggorokkannya sudah terasa sakit akibat kebanyakan berteriak. Tapi ia tidak menghiraukannya, bahkan menambahinya dengan melompat-lompat di bangkunya bersama Ino. Sama sekali tidak Nampak kalau gadis itu baru saja melewati masa berduka selama berhari-hari.

Sementara itu, Sasuke yang biasanya tidak banyak berkomentar ketika menyaksikan latihan Naruto, tampak tidak bisa menahan diri untuk ikut bersorak menyemangati—meskipun tentu saja tidak seheboh dua gadis yang duduk di sebelahnya. Beberapa kali ia meneriakkan kata-kata seperti, "Bagus!", "Tengah kosong!" dan kata-kata semacam itu. Sakura dan Ino bahkan dibuat tertawa ketika Sasuke berteriak geram, "Tendang saja bokongnya, Naruto! KARTU MERAH!!" ketika seorang pemain Iwa yang kelewat agresif melakukan pelanggaran—menjegal Naruto dengan sengaja ketika ia menyerang gawang Iwa.

Gol pertama disarangkan ke gawang tim Konoha oleh tim Iwa. Supporter Konoha mengeluarkan teriakan mengeluh sementara supporter tim Iwa bersorak gegap gempita. Tapi gol pertama itu tidak lantas membuat semangat tim Konoha luntur. Mereka terus mengejar, bertahan dan menyerang sampai akhirnya berhasil menyamakan kedudukan dengan sundulan keras dari Lee langsung ke gawang Iwa. Kini giliran supporter Konoha yang bersorak.

Kedudukan masih sama kuatnya, 1-1, ketika pluit tanda babak pertama berakhir berbunyi. Para supporter bertepuk sementara para pemain menyingkir ke pinggir lapangan.

"Pertandingan yang bagus." Mereka bisa mendengar Pak Shiranui berkata pada ayah Naruto sambil bertepuk sementara anak-anak asuhnya—terutama yang laki-laki—mulai ribut mengomentari pertandingan barusan, berlagak jadi komentator seperti di televisi.

Sementara itu, Sakura menoleh pada Sasuke dan berseru mengatasi suara bising di sekeliling mereka, "Wow! Sebenarnya aku tidak begitu mengerti, tapi yang tadi itu seru banget!"

"Yeah," Sasuke menganggukkan kepala tanda setuju.

"Naruto keren banget, ya!" kata Sakura seraya memperhatikan Naruto yang sedang beristirahat sambil mendiskusikan taktik berikutnya di pinggir lapangan bersama teman setimnya sementara Pak Maito tampak memberikan nasihat-nasihat dan dorongan semangat pada mereka.

"Hn."

Sakura menoleh ketika ia merasakan Ino menjawilnya. "Sepertinya aku harus pergi sekarang, Sakura," beritahu Ino sambil menunjuk arlojinya. Sudah pukul setengah sebelas, setengah jam sebelum pertandingan basket pacarnya dimulai.

"Oh, oke," sahut Sakura.

Ino beranjak dari bangkunya, memakai jaketnya kembali dan mencangklengkan ransel di bahu. "Sampai ketemu kalau begitu, Sakura, Sasuke."

"Hati-hati, Ino-Pig!" seru Sakura ketika pada punggung Ino. Gadis pirang itu membalasnya dengan lambaian tangan sementara ia menyelap-nyelip melewati orang-orang. Sakura masih mengawasinya sampai akhirnya punggungnya menghilang di pintu utama stadion.

"Mau kemana dia?" Sasuke menanyainya.

"Ke GOR KU. Pacarnya ada pertandingan basket di sana," jelas Sakura.

"Oh…" Sasuke lantas mengeluarkan botol minum yang tadi di belinya sebelum masuk ke stadion dan menenggak air banyak-banyak untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

Selewat beberapa menit kemudian, Sasuke dan Sakura dibuat terkejut ketika mendengar suara orang yang terdengar tidak asing dari belakang mereka, "Anu… Apa bangku di sini kosong?"

Kedua remaja itu menoleh dan tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka melihat sosok cowok berambut hitam kelam yang membingkai wajahnya yang tampan walaupun agak pucat. Wajah itu tersenyum sampai matanya tinggal segaris.

"SAI?!" seru Sakura, terkejut sekaligus senang. Sementara Sasuke langsung memalingkan wajahnya kembali ke lapangan, tampak kurang senang dengan kehadiran Sai yang tak terduga.

"Er… aku boleh duduk di sini?" tanya Sai sambil menunjuk bangku kosong yang baru saja ditinggalkan Ino, tampak ragu-ragu.

"Oh, tentu, tentu. Duduklah," sahut Sakura langsung. "Bagaimana keadaanmu? Kukira kau akan langsung istirahat di rumah begitu keluar dari rumah sakit," tanyanya setelah Sai duduk.

"Harusnya seperti itu," kata Sai, masih sambil tersenyum, "Tapi aku berhasil membujuk Dokter Yakushi supaya mengizinkanku menonton pertandingan ini."

"Kau seharusnya tidak perlu memaksakan diri begitu, Sai," Sakura membalas senyumnya.

"Apa boleh buat. Aku sangat ingin menonton pertandingan Naruto," Sai sekali lagi melirik Sasuke yang duduk di samping Sakura. "Hai, Sasuke," sapanya.

Tapi Sasuke mengacuhkannya, bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. Ia tetap memacangkan matanya ke lapangan yang kosong.

"Sasuke," tegur Sakura sambil menyikut lengan Sasuke. Tapi cowok itu juga mengacuhkannya. Sakura memutar bola matanya, lalu kembali berpaling pada Sai. Ia merasa tidak enak ketika menyadari ekpresi Sai yang agak kecewa menghadapi sikap Sasuke. "Maaf, ya," bisik Sakura padanya.

"Tak apa-apa," Sai mengangguk paham. Suasana terasa canggung selama beberapa saat. "Kaus bagus," kata Sai kemudian, mengomentari t'shirt yang dikenakan Sakura—juga orang-orang di belakangnya.

"Oh, ini…" Sakura tertawa kecil, "Yeah. Thanks…" Saat berikutnya, mereka mulai mengobrol ringan. Sakura menceritakan jalannya pertandingan babak awal pada Sai yang mendengarkannya dengan penuh minat, tapi terpotong ketika mendengar suara pluit tanda babak berikutnya segera dimulai berbunyi. Keduanya segera mengalihkan perhatian mereka kembali ke lapangan.

Babak kedua berlangsung lebih panas dan brutal dari sebelumnya. Pada menit-menit awal saja sudah beberapa pemain yang melakukan pelanggaran yang berakibat dikeluarkannya beberapa kartu kuning—bahkan salah satu pemain Iwa ada yang sudah kena kartu merah. Tampaknya kedua tim mulai terbakar tekad untuk memenangkan pertandingan, begitu juga dengan supporter mereka yang lebih heboh berteriak dibanding sebelumnya.

Sakura bersama supporter tim Konoha, termasuk anak-anak panti asuhan, melompat berdiri sambil berteriak-teriak menyemangati ketika Naruto berhasil merebut bola dan sekarang tengah bahu-membahu dengan rekan setimnya menembus pertahanan Iwa.

Di lapangan, Naruto berkelit dari serangan pemain belakang Iwa lalu mengoper bolanya pada Lee yang langsung menggiringnya ke arah gawang. Tapi pemain belakang Iwa tentu saja tidak membiarkan Lee menembus mereka dengan mudah. Satu, dua pemain belakang mereka berusaha menjegalnya—yang langsung dihindari Lee dengan melakukan manuver berbahaya. Sedikit terhuyung, Lee berhasil mempertahankan keseimbangan sekaligus bolanya. Melihat di depannya kosong, Lee langsung melayangkan tendangan keras langsung ke arah gawang. Sayang sekali bola berhasil dihalau oleh kiper Iwa. Bola memantul dari tangannya, bergulir menjauh. Si kiper yang terguling dalam usahanya melindungi gawangnya baru saja hendak mengulurkan tangan, tapi Naruto lebih cepat darinya. Ia menyambut bola itu dengan tendangan ke arah sudut gawang…

"GOOOLL!!!"

Sang kiper gagal menggapai bola yang melayang di atasnya.

Para supporter Konoha meledak dalam sorakan sementara Naruto berlari mengitari lapangan bersama Lee, mengacungkan tinjunya penuh kemenangan sementara teman-teman setimnya berebut memeluknya, mengacak-acak rambut pirang Naruto sambil berteriak-teriak senang. Sekarang Konoha unggul 2-1 atas Iwa.

"NARUTO KEREEEN!!" teriak Sakura.

Seakan mendengar teriakan Sakura, Naruto melambaikan tangan ke arah gadis itu duduk bersama Sasuke dan Sai, nyengir lebar. Sasuke dan Sai di kanan-kiri Sakura sudah berdiri dari bangku mereka juga, bertepuk penuh salut bersama yang lain.

"Bagus, Naruto!" seru Sasuke sambil bertepuk. Wajahnya memerah karena kebanyakan berteriak tadi.

Pertandingan berikutnya berlangsung semakin seru, sekaligus semakin liar dan brutal saja. Beberapa kali mereka harus time out karena ada gesekan-gesekan tidak menyenangkan antar pemainnya, diselingi teriakan-teriakan mencemooh dari para penonton yang tidak puas ketika salah satu pemain Konoha dikenai kartu kuning. Dan tampaknya keunggulan tim Konoha membuat tim Iwa bermain semakin ganas. Puncaknya adalah ketika sekali lagi Konoha berhasil menembus pertahanan Iwa, salah satu pemain belakang Iwa yang berbadan tinggi besar dengan sengaja menjegal Naruto dengan keras, membuat striker Konoha itu terjatuh dalam posisi yang tidak menguntungkan—bagian lutut terlebih dahulu membentur tanah dengan keras sebelum tubuhnya ikut tersungkur.

"NARUTO!!" jerit Sakura ngeri ketika melihat Naruto jatuh terguling di rumput. Teriakkan hampir bersamaan dengan teriakan Sasuke dan Sai, juga para suporter Konoha yang lain.

"KAK NARUTO!!" anak-anak panti asuhan juga turut berteriak.

Naruto berguling di rumput sambil memegangi lututnya. Wajahnya menampakkan kesakitan dan ia tampaknya tidak sanggup berdiri. Rekan-rekan setimnya langsung berhamburan menghampirinya dengan tampang cemas sementara wasit memberikan time out. Para petugas medis dengan tandunya datang tak lama kemudian, membawa Naruto meninggalkan lapangan. Sakura, Sasuke dan Sai mengawasi ketika para medis itu melintasi lapangan dengan membawa Naruto di atas tandu menuju pintu keluar.

"Sasuke, kita harus ke Naruto!" seru Sakura pada Sasuke yang langsung mengangguk, tampak sama cemasnya. "Ayo, Sai!" Sakura mengajak Sai juga.

Mereka menoleh ke arah Iruka sejenak, melihat pria itu tengah sibuk menenangkan adik-adik Naruto yang khawatir dengan keadaan kakak mereka bersama guru Kimia-nya, sebelum bergegas menyeruak di antara para penonton, lalu turun menuju tribun paling bawah. Mereka berlari menuju pintu ke mana para medis tadi membawa Naruto.

Para petugas medis sedang memeriksa kaki Naruto di ruangan dalam stadion yang digunakan sebagai ruangan kesehatan ketika tiga remaja itu tiba di sana. Wajah Naruto tampak merah padam karena sakit yang dirasakannya, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, membasahi kaus yang dipakainya. Meski begitu, cengiran lebar yang menjadi ciri khasnya tetap mengembang di wajahnya tatkala ia melihat Sakura, Sasuke dan Sai mendekat ke arahnya dengan tampang cemas.

"Hei," sambutnya pada ketiga sahabatnya ketika mereka sudah mendekat. Nadanya tampak riang, meskipun wajahnya meringis, menahan sakit. "Kenapa kalian semua bertampang seperti itu, eh?" tanyanya, tertawa kecil.

"Naruto…" bisik Sakura sambil berlutut di sisi Naruto.

Naruto tersenyum padanya, lalu beralih ke Sasuke yang berdiri di belakang gadis itu, sebelum akhirnya mata birunya menatap Sai yang berdiri agak jauh dari mereka—tampak sangat canggung. "Kau sudah sembuh, Sai?" Naruto menanyainya.

"Ya," jawab Sai dengan senyumnya yang biasa.

"Syukurlah…"

"Naruto, kau oke?" Sakura bertanya cemas. "Apakah sakit?" Mata hijau gadis itu beralih pada kaki Naruto yang sedang diperiksa oleh petugas medis.

"Lumayan," sahut Naruto. Tapi tiba-tiba saja ia mengumpat keras dan berteriak kesakitan. Sakura refleks memegangi tangan Naruto erat-erat. "T-tidak apa-apa, kok," ujarnya kemudian sambil meringis menahan sakit. Tangannya yang bebas menepuk-nepuk pelan punggung tangan Sakura yang menggenggam tangannya.

"Geez, masih saja ngomong seperti itu. Padahal jelas-jelas sakit," gerutu Sasuke. Meski begitu, wajahnya masih tampak sama cemasnya dengan Sakura.

Naruto tertawa kecil mendengar komentar Sasuke, lalu meringis ketika rasa sakit di lututnya terasa lagi. Kemudian ekspresinya berubah dan ia memandang Sasuke ingin tahu. "Bagaimana permainanku tadi, Sasuke?"

Sudut bibir Sasuke tertarik sedikit. "Bagus," katanya, terdengar tulus, "Permainanmu hebat."

Naruto nyengir senang pada Sasuke. "Aku tahu kau bakal ngomong seperti itu," ujarnya setengah tertawa. Tapi tiba-tiba saja ia berteriak lagi, "OUCH! Oi, hati-hati dong!" hardiknya pada petugas medis yang sedang memeriksanya.

"Sepertinya benturan tadi cukup keras, eh?" kata petugas medis itu. Kepalanya menggeleng-geleng. "Sepertinya tulangmu mengalami dislokasi," katanya tak yakin pada Naruto, "Kita harus memeriksanya lebih lanjut di rumah sakit. Kami khawatir ada tulang yang patah."

Naruto yang tidak punya ide sama sekali apa itu dislokasi tulang, mendengking kaget—lebih karena mendengar kata 'rumah sakit'. "Apa? Kalian akan membawaku ke rumah sakit?! Tidak mau!"

"Tentu saja kau akan ke rumah sakit, Nak!" petugas medis itu menegakkan diri, meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap pasiennya dengan galak.

Naruto balas memelototi pria itu. "T-tapi pertandingannya belum selesai—"

"Apa kau bermaksud berkata kau akan bertanding dengan kaki seperti ini?" sela sang petugas medis tak sabar. "Kau harus ke rumah sakit. Serahkan sisa pertandingan pada tim-mu. Mereka semua hebat, kau tidak perlu terlalu khawatir, Uzumaki," ia menambahkan lebih lembut.

"Dia benar, Naruto. Kau harus ke rumah sakit," dukung Sakura. Sasuke dan Sai mengangguk setuju di belakangnya.

Tepat saat itu, Iruka Umino memasuki ruangan bersama pelatih sekaligus guru olahraga mereka, Pak Maito. Keduanya tampak cemas. Iruka bergegas mendekat ketika melihat putra angkatnya. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya pada si petugas medis.

"Dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga," petugas medis itu menjawab. "Kakinya cedera cukup parah."

Iruka mengangguk paham, lalu menunduk memandang Naruto. "Kau tidak apa-apa, kan?"

"Yeah, Pap," sahut Naruto. "Cuma sakit sedikit," tapi ekspresi wajahnya menunjukkan sebaliknya.

"Permainan yang bagus sekali, Naruto!" puji Pak Maito dari samping Iruka, tersenyum lebar.

Naruto nyengir pada gurunya itu. "Terimakasih, Pak!"

"Kalau begitu lebih cepat lebih baik," kata si petugas medis. "Ambulance sudah disiapkan."

Naruto mengeluh pelan. Sakura melepaskan genggamannya dan berdiri menjauh ketika para petugas medis yang lain mendekat untuk membawa Naruto ke ambulance.

"Kami ikut," kata Sakura segera ketika para petugas medis itu akan memapah Naruto naik ke atas brangkar ambulance.

Naruto menggeleng. "Tidak. Kalian di sini saja. Tolong lihatkan pertandingan untukku, kalian bertiga." Ia tersenyum pada ketiga temannya. "Tidak usah khawatir, Sakura. Aku akan baik-baik saja. Oke?"

Sakura mengangguk.

Naruto kemudian menoleh pada Sasuke, tersenyum padanya. "Hei, terimakasih, Sobat. Aku tidak akan sampai sejauh ini tanpa kau." Ia mengulurkan tangannya yang terkepal ke arah Sasuke.

"Hn. Sama-sama, Naruto. Kau hebat," puji Sasuke dengan seringai tipis. Ia juga mengulurkan tinjunya, menyentuhkannya dengan tinju Naruto.

"Sai," Naruto berpaling pada Sai kemudian. "Terimakasih sudah datang, Teman."

Sai tersenyum padanya, lalu mengangguk. Tidak berkata apa-apa.

"Omong-omong," kata Naruto, nyengir lebar pada Sasuke dan Sakura, "Kaus kalian keren banget."

---

TBC


Aaargh… maafkan, aku gak bisa mendeskripsikan jalannya pertadingan sepak bola nih. Huhu… tolong… Secara aku jarang banget nonton bola. Kalau pun nonton senengnya nyorakin aja. Un… ada yang nyadar Sai dan Ino nyaris ketemu di sini? Mereka barangkali malah gak nyadar berpapasan di pintu masuk. Hehehe…

Lovely Lucifer : Iya, Sai sama Ino sengaja gak dipertemukan dulu untuk sekarang ini, sih. Haha…

Gina-chan (SKSD mode:ON) XD : Makasih lho… Puanjang banget kaya kereta yah?

Arai-chan : Un… NejiSaku yah? Masih dalam proses tuh.. ^^ Tunggu aja yah. Bumbu-bumbu langka? –jadi berasa kaya koki sayah. Haha..-

Teh Bella : Kakashi dan keluarga Haruno yah? Tunggu aja, Teh. Mereka pasti keluar kok… nanti, belum tahu kapan. Tapi plotnya udah ada kok.

Furu-chan : -ngasih karangan bunga dari Furu ke Sakura- Tapi kan SasuSaku yang kemarin bukan romance lho~ Tapi reader senang, author pun senang. Mwahahaha… Kontak? Bisa ditanyakan via PM aja yah… ^^

Kakkoi-chan : haha… Sejauh ini perasaan Sasuke ke Sakura masih sebatas rasa sayang pada sahabat, kok. Nejinya ntar ada gilirannya kok. Kalo sekaligus konfliknya, kan diriku bingung nulisnya. Er.. siapa yang jadian?

Aika-chan : LOWONGAN OC???? –pingsan- -bangun lagi- sejauh ini aku selalu buat OC sendiri tuh, Ai… Susah kalau OC-nya dari luar, apalagi kalau pingin dipasangin dengan chara ini atau chara itu, kecuali kalau kamu mau bantu hanya sebatas nama. Karakternya aku yang buat. ^^ -lirik-lirik Luna-

Luna-chan : Wehehehe… akhirnya dirimu mereview juga, Imouto-ku~ -peluk-peluk- ChouIno? Hahaha… aku emang ngerasa kalau Chouji emang suka sama Ino di canon. Jadi aku masukin aja deh. Tapi gak tau nanti akan jadi ChouIno atau enggak. Hehe… Ups! Nyaris spoiler tuh… XD

Primrose Violett : Waduh… SasuSaku yang banyak dan romantis? Tar jadi fic SasuSaku dong… ^^

Uci-chan : SasuSaku kaya yang pacaran ya? –guling-guling- padahal kamsud hati bukan begitu. Tapi ya sutralah. Mungkin karena aku suka SasuSaku jadi kebawa deh…

Emi-chan : Wuah, makasih udah mereview.. Buat kemunculan Sai, tar juga porsinya membesar kok. Btw, semangat ya ujiannya, Bu.

Catt-chan : Wuah, makasih, Catt-chan! –peluk-peluk yang kenceng- Tetep ngikutin yah…

Bundo Rika yang mereview di balik layar –halah- : Makasih ya, Bun… Gimana kabar papi Kakuz? Belum dapet jatah buat ultah nih. –mikirin duit mulu- Hehehe… XD

Semuanya, makasih banget review dan waktunya untuk membaca cerita gaje ini. Buat update-an selanjutnya, Putz gak tau akan cepat atau lama, soalnya Putz harus konsentrasi sama yang lain juga. Ada kemungkinan fic ini akan hiatus sementara dulu. Tapi gak tau juga ketang. Soalnya godaan menulis fic itu besar sekali!! Tapi tenang, masih punya cadangan sampe chapter 40 kok.. hihi.. XD