Chapter 38

Root Hills

Hujan yang mengguyur Konoha sejak pagi belum juga menampakkan tanda-tanda akan segera berhenti siang itu. Malah, nampaknya hujan yang tadinya tidak terlalu deras perlahan mulai bertransformasi menjadi badai yang sanggup menggetarkan jendela-jendela kokoh di salah satu rumah besar di Root Hills itu.

Sai menghembuskan napas panjang sambil menatap ke jendela tinggi kamarnya yang bergetar diterpa air hujan dan bayangan pohon besar yang bergoyang mengerikan di luar. Akhirnya ia kembali lagi di tempat ini, pikirnya. Rumah besar nan dingin yang telah ditinggalkannya selama beberapa minggu setelah pertengkarannya dengan sang kakek. Rumah penuh kenangan sekaligus rumah yang dibencinya—tapi sekarang sudah tidak lagi.

Ia tersenyum saat teringat pembicaraannya dengan sang kakek semalam. Pada awalnya Sai sempat tegang dan cemas kalau-kalau ia akan meledak emosi lagi. Tapi betapa terkejutnya ia—sekaligus senang—ketika obrolan yang awalnya kaku itu perlahan mencair. Sai tidak terlalu mengharapkan kakeknya berubah menjadi kakek-kakek pada umumnya, yang akan memeluk dan memperlakukan cucunya dengan penuh kasih sayang. Tapi setidaknya sekarang kakeknya itu sudah mau mendengarkan pendapatnya, alih-alih bersikap otoriter seperti sebelumnya. Ia juga tidak lagi memaksa Sai kembali ke Akademi dan menghargai keinginan cucunya itu untuk tetap bersekolah di sekolah umum. Dan yang paling mencengangkan Sai adalah ketika kakeknya itu meminta maaf padanya dengan mata agak basah—meskipun Danzou berusaha menutupinya dengan berpura-pura menunduk dan mengelap kacamata plusnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Sai melihatnya.

Sebenarnya semua perubahan itu mulai terlihat saat Sai masuk rumah sakit. Ia bisa melihat bagaimana sang kakek begitu mencemaskan keadaannya; meskipun ia lebih banyak diam dan hanya menanyakan, "Bagaimana keadaanmu?" setiap kali menjenguk, ia bisa melihat kecemasan itu dalam matanya. Dokter Yakushi juga memberitahunya bagaimana kakeknya itu memohon supaya Sai mendapatkan perawatan yang terbaik.

"Dia memang dingin kadang-kadang, Sai," kata dokter Yakushi saat itu, "Dan dia barangkali membuat kesalahan dengan tidak memperlakukanmu sebagaimana kau layak diperlakukan. Tapi dia tetap kakek-kakek biasa yang sayang pada cucunya. Percaya padaku, Sai. Dia menyayangimu."

Dan Sai kini sedang berusaha mempercayainya dengan sepenuh hati. Dengan semua perubahan itu, ia berharap hubungannya dengan sang kakek akan segera membaik. Ah, dan ia juga telah membuat catatan imajiner dalam kepalanya untuk mengucapkan terimakasih pada dokter Yakushi yang telah berperan besar dalam hal ini. Juga Naruto.

Danzou banyak menyebut mereka berdua dalam pembicaraan mereka semalam. Bagaimana dokter pribadinya itu tidak pernah berhenti memberinya kabar soal perkembangan Sai, juga membuatnya sadar kalau cucunya itu jauh lebih berharga dibandingkan gengsinya sebagai seorang seniman besar. Ia sudah kehilangan satu orang cucu yang sangat dikasihinya, dan betapa menakutkannya baginya menyadari bahwa satu-satunya penerusnya nyaris meninggalkannya juga.

Dan Naruto…

Sai sama sekali tidak menyangka kakeknya akan memerhatikan Naruto seperti itu. Padahal, sejauh yang ia tahu setiap kali Danzou dan Naruto bertemu di rumah sakit, kakeknya itu selalu bersikap dingin, bahkan seperti tidak memedulikan kehadiran Naruto di sana. Tapi rupanya tidak begitu.

"Temanmu itu, yang rambutnya pirang, sepertinya dia anak yang baik," Sai tersenyum ketika teringat kata-kata Danzou tentang Naruto semalam, "Selain dengan Shin, aku tidak pernah melihatmu tersenyum seperti itu. Tapi dengan anak itu—siapa namanya? Ah, iya, Naruto Uzumaki—aku seperti melihat kehadiran Shin kembali di sisimu." Sai hampir tidak percaya mendengar nada yang begitu tulus dari suara serak sang kakek, terlebih saat senyum tipis membayang di wajah tuanya yang dingin. "Undanglah dia ke rumah kapan-kapan, Nak."

Ah, betapa hidupnya mulai berubah belakangan ini, pikirnya senang sambil merebahkan diri di atas ranjangnya yang besar dengan kedua tangan menumpu di belakang kepalanya, menatap langit-langit kamarnya. Perasaan marah, kesepian dan frustasi yang selalu di pendamnya sejak kepergian sang kakak mulai sirna sejalan dengan berlalunya waktu. Hatinya kini sudah mulai merasakan ketenangan.

Dokter Yakushi benar; ternyata dengan membuka hati dan menjalin komunikasi dengan orang lain adalah obat yang paling mujarab atas masalahnya. Betapa Sai kini sangat mensyukuri hari di mana ia memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan Naruto dan yang lain—meski ia agak sedih juga memikirkan Sasuke yang masih saja tidak bisa menerimanya.

Dan omong-omong soal Naruto, Sai baru saja membaca dari situs berita lokal yang beberapa saat lalu di internet; tentang pertandingan persahabatan Konoha High melawan High School of North Iwa hari sebelumnya. Kemenangan ada di pihak Konoha dengan skor akhir 2-1—setelah gol yang diciptakan Naruto, tim sekolah mereka berhasil mempertahankan kedudukan sampai pertandingan berakhir. Naruto pastilah senang sekali sekarang.

Andai saja ia sudah diizinkan kembali ke sekolah hari ini, pasti sekarang ia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit bersama Sasuke dan Sakura untuk menjenguk Naruto yang dirawat di sana—beberapa menit yang lalu, Sakura baru saja mengirimkan pesan singkat lewat ponselnya, memberitahukan hal ini.

Sai kembali mengalihkan perhatiannya ke luar jendela, menatap bayangan samar-samar pepohonan di luar yang bergoyang diterpa badai. Diam-diam ia mulai mencemaskan Sakura dan Sasuke. Bagaimana mereka bisa menembus badai seperti ini untuk mencapai rumah sakit?

Sebuah ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Sai. Ia menoleh.

"Ya?"

"Tuan Muda," terdengar suara kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan kakeknya, Yuugao. "Ada tamu di bawah. Bisakah Anda turun menyambut?"

Sai mengangkat alisnya. Tamu? Siapa? Pikirnya heran. Jarang-jarang ada orang yang mengunjungi rumah besarnya itu. Biasanya mereka akan langsung pergi ke Akademi untuk menemui sang tuan rumah, Danzou. Atau biasanya mereka akan buat janji dulu sebelumnya. Tapi... sekali lagi Sai mengerling ke arah jendela. Siapa pula yang bertandang di tengah-tengah badai begini?

"Sebentar," sahut Sai akhirnya seraya bangkit dari ranjangnya dan meluruskan sweternya. Ia melirik cermin setinggi badan di samping lemari untuk memastikan penampilannya sudah cukup rapi—dan memastikan rambut hitamnya menutupi luka bekas jahitan di atas alisnya—sebelum mencapai pintu. "Tamu siapa?" tanyanya pada wanita berambut ungu itu.

"Saya baru mendapat telepon dari Tuan Danzou, katanya anak ini adalah siswa pertukaran dari Suna School of The Art," kata Yuugao. "Dia baru saja diantar oleh sopir dari Akademi kemari."

"Siswa pertukaran?" tanya Sai heran. Kakeknya sama sekali belum memberitahunya tentang ini sebelumnya. Ia lantas berjalan melewati Yuugao menuju lantai bawah. Wanita itu mengikutinya di belakang.

"Tuan Danzou meminta saya memberitahu Anda supaya menemaninya. Beliau masih ada rapat penting dengan staf pengajar di Akademi dan barangkali baru akan pulang setelah makan malam," lanjut Yuugao.

"Begitu…" Sai mengangguk paham.

"Saya akan siapkan kamar untuknya dulu kalau begitu, Tuan Muda," kata Yuugao.

"Hn."

Yuugao membungkuk sekilas sebelum berbalik pergi, memanggil pelayan lainnya.

Sai melihat sosok anak laki-laki yang kira-kira sebaya dengannya sedang duduk di sofa di ruang tamu. Sang tamu menoleh dan beranjak dari posisi duduknya saat menyadari kehadiran sang tuan rumah. Seulas senyum ramah agak kaku muncul di wajahnya yang bersih. Sai menyadari tinggi anak laki-laki itu sedikit lebih pendek darinya ketika mereka sudah berdiri berhadapan. Ia memiliki wajah yang rupawan dengan garis mata gelap yang membingkai kedua bola matanya yang hijau pucat. Rambutnya yang berwarna merah gelap berpotongan pendek dibiarkan berantakan seperti tak tersisir. Tapi kesan slengean itu tertutupi oleh penampilan keseluruhannya yang bisa dibilang rapi, dengan celana bahan berwarna gelap dan blazer merah marun.

"Selamat siang," sapa sang tamu. Suaranya dalam dan berwibawa.

"Selamat siang," balas Sai seraya mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh sang tamu. Mereka berjabat tangan.

"Gaara. Gaara Sabaku," sang tamu menyebutkan namanya. "Salam kenal."

---

Rumah Sakit Konoha

"Na-ru-to…"

Suara anak perempuan yang amat dikenalnya itu memanggil namanya, membuat Naruto mengalihkan pandangan dari halaman komik yang tengah di bacanya. Senyumnya langsung mengembang lebar ketika melihat kepala berambut merah muda itu mengintip dari pintu kamar rumah sakit tempatnya menginap.

"Sakura!" Naruto berseru senang menyambut kedatangan sahabatnya.

Si gadis balas tersenyum sebelum menggeser pintunya lebih lebar dan masuk. Rambut merah muda yang menempel di dahinya tampak basah, begitu juga dengan mantel cokelat yang dikenakannya. Tas sekolah disampirkan ke bahu sementara tanganya membawa bungkusan berisi buah jeruk. Kemudian di belakangnya muncul sosok jangkung dengan rambut hitam yang membingkai wajahnya yang agak pucat. Sasuke tampak sama basahnya dengan Sakura.

"Yo, Sasuke," Naruto nyengir lebar padanya juga.

"Hai," balas Sasuke datar sambil menutup pintu geser di belakangnya.

Naruto buru-buru meletakkan komiknya di meja samping ranjangnya ketika Sakura dan Sasuke mendekat. "Kukira kalian tidak akan datang. Sedang badai begini…" katanya. Kedati demikian, ia tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya karena dua karibnya itu datang menjenguknya.

"Jangan bodoh! Tentu saja kami akan datang, Naruto," kata Sakura seraya meletakkan bawaannya di atas meja di samping ranjang, di sebelah komik yang dibaca Naruto tadi. "Bagaimana keadaanmu, eh?" gadis itu duduk di tepi ranjang dan menatap Naruto lekat-lekat.

"Oke juga. Meskipun alat ini menyebalkan juga," Naruto mengendik kesal pada alat yang terpasang di kaki kirinya yang menahannya supaya tetap lurus. "Aku tidak sabar lagi sampai aku bisa terlepas dari alat sialan ini."

"Tapi alat sialan inilah yang akan membantumu, supaya kakimu cepat benarnya," ujar Sasuke dingin dari bangku di sisi jendela. Ia menyapu rambut hitam basah yang terjatuh ke matanya dengan tangan. "Kalau tidak kakimu itu tidak akan bisa digunakan lagi."

Naruto melotot ke arahnya—yang diacuhkan Sasuke. Cowok bermata hitam itu menyandarkan punggungnya ke jendela dan melipat kedua tangan di depan dada. Sakura tertawa kecil.

"Sasuke benar, Naruto," ujarnya, "Yang penting kan kau cepat sembuh. Eh, tahu tidak, kau masuk Koran lho…" gadis itu lantas merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan surat kabar lokal yang ujungnya agak basah terkena air hujan, membuka halaman rubrik olahraga sebelum mengulurkannya pada Naruto.

Mata biru Naruto melebar ketika ia melihat fotonya yang sedang berlaga di lapangan hijau hari sebelumnya, bersama Lee dan pemain dari Iwa. Artikel yang tertulis di bawahnya memberitakan tentang kemenangan tim Konoha atas Iwa di pertandingan persahabatan kemarin. "Keren banget…"

"Dan berita yang kemarin juga sudah dipajang di mading sekolah," Sakura menambahkan dengan senyum lebar, "Kau dan timmu jadi semacam pahlawan untuk anak-anak lain. Mereka membicarakanmu juga lho. Dan kalau cuaca hari ini bagus, mereka pasti akan berbondong-bondong datang kemari. Ya, kan, Sasuke?" gadis itu mengerling Sasuke.

"Hn," sahut cowok itu datar.

"Wow…" desah Naruto takjub. "Ngomong-ngomong soal datang berbondong-bondong, semalam Temujin dan yang lain datang kemari setelah kalian pulang. Mereka tinggal hampir semalaman, membicarakan kemenangan kami," ia tertawa sebelum melanjutkan, "Kami benar-benar berisik, membuat para perawat kesal. Mereka baru pulang setelah ditegur karena mengganggu pasien lain." Ia melambaikan tangan ke meja di sudut. Diletakkan di atas meja, berkantung-kantung cemilan dan minuman ringan, juga bertumpuk komik. "Mereka juga nyampah di sini," kekehnya.

"Kedengarannya asyik," komentar Sakura sambil tertawa. Gadis itu mengambil sebutir jeruk dari dalam kantung yang dibawanya tadi dan mulai mengupasnya. "Kau benar-benar keren kemarin, Naruto," ujarnya tulus.

Wajah Naruto merona merah mendengar pujian Sakura. Ekspresinya tersipu-sipu saat menerima jeruk yang sudah dikupaskan Sakura untuknya.

"Kau tidak cemas?" celetuk Sasuke kemudian.

Naruto menoleh padanya dengan alis terangkat. "Cemas kenapa?"

"Bagaimana kalau kakimu yang cedera itu tidak bisa dipakai lagi untuk bermain bola untuk kejuaraan nanti, eh?"

Naruto mengibaskan tangannya dan berkata enteng, "Kejuaraan kan masih musim semi nanti. Masih lama, masih ada waktu sampai kakiku bisa sembuh. Para dokter dan perawat sudah memberitahuku kalau aku hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja sampai aku bisa jalan dengan normal lagi. Lagipula kenapa harus begitu cemas? Toh, hidupku tidak akan berakhir hanya karena aku tidak bisa main bola—terlepas dari kenyataan kalau aku mencintai olahraga satu itu—aku masih bisa melakukan hal lain. Misalnya saja," ia mengerling pada Sakura, "Aku bisa gabung lagi di band-nya Ino."

"Aku akan nonton kalau kalian manggung lagi," sahut Sakura cerah.

"Meskipun—yeah, agak menyebalkan saat memikirkan aku harus berkeliaran dengan menggunakan tongkat selama beberapa minggu," Naruto mengangkat bahu, lalu memasukkan jeruk ke mulutnya, mengunyahnya perlahan. "Tapi aku tidak punya pilihan lain selain mempercayakan semuanya pada dokter-dokter itu, kan? Buat apa mereka sekolah tinggi-tinggi kalau tidak bisa menyembuhkan yang seperti ini?" ia mengendikkan kepala ke arah kakinya.

Sakura tersenyum padanya. "Itu betul, Naruto," katanya. Gadis itu menoleh pada Sasuke. "Benar kan yang kubilang tadi, Sasuke? Naruto adalah orang dengan optimisme besar, tidak sepertimu—"

"Apa itu maksudnya?" Sasuke mendelik pada Sakura.

Sakura memutar bola matanya, lalu tertawa renyah. "Sepertinya yang cemas di sini adalah kau, bukan Naruto."

"Oh, tutup mulutmu!" gerutu Sasuke sambil memalingkan wajah.

"Kalau kau mencemaskanku, bilang saja, Sasuke," kekeh Naruto. Sasuke mengacuhkannya.

"Biarkan saja dia," bisik Sakura pada Naruto seraya melirik Sasuke, "Dia memang selalu begitu, kan? Sok dingin padahal—"

"Aku dengar itu, Sakura!" sela Sasuke, tampak jengkel.

Sakura mengikik, lalu melanjutkan kegiatannya mengupas jeruk. Sakura sangat telaten dalam hal ini, sampai serat-seratnya juga dibersihkan.

"Ngomong-ngomong, Sai sudah kembali ke sekolah lagi belum?" Naruto bertanya setelah beberapa lama.

"Belum," sahut Sakura sambil mengulurkan jeruk yang sudah dikupasnya pada Sasuke, lalu berpaling pada Naruto, "Katanya dia harus beristirahat dulu di rumah beberapa hari sebelum bisa bersekolah lagi. Kemarin juga kelihatannya dia belum sehat betul, kan?"

"Hmm…" gumam Naruto. Ia teringat saat melihat Sai hari sebelumnya di stadion; ia memang kelihatan belum terlalu sehat, wajahnya pucat dan luka jahit di atas alisnya masih ditutup perban. Naruto tersenyum kecil. Sai pastilah memaksakan diri datang hanya untuk memberikan dukungan untuknya, pikirnya. Diam-diam ia merasa terharu juga. Siapa sangka Sai yang pendiam itu bisa begitu manis? "Mudah-mudahan dia cepat kembali ke sekolah."

"Yeah," Sakura mengangguk setuju.

Sasuke yang memang masih tidak begitu menyukai Sai tidak menanggapi apa-apa. Ia mengunyah jeruknya perlahan-lahan sambil menatap ke jendela yang mengabur karena diterpa air hujan.

"Aku juga sudah tidak sabar kembali ke sekolah," kata Naruto mengeluh, "Rumah sakit sangat membosankan, soalnya…"

"Tenang saja, Nak. Kau akan segera kembali ke sekolah," kata suara seorang pria dari arah pintu. Ketiga remaja itu menoleh dan mendapati seorang pria berwajah ramah baru saja memasuki ruangan. Iruka Umino, ayah Naruto. Pria itu tersenyum pada Sakura dan Sasuke. "Ah, ada tamu rupanya. Selamat siang."

"Selamat siang, Pak Umino," sapa Sakura pada guru sekolah dasarnya itu. Sasuke hanya membalas dengan anggukan sopan.

"Pap!" seru Naruto. "Kukira Pap baru kemari nanti sore."

"Aku izin tidak mengajar di tempat les hari ini," ujarnya sambil berjalan menghampiri ranjang Naruto. Sakura bergegas berdiri dan pindah ke sisi Sasuke untuk memberi ruang untuk Iruka. "Coba tebak, aku baru saja bicara dengan dokter yang menanganimu. Katanya besok kau sudah boleh pulang."

"Yay!" Naruto berseru kegirangan.

"Tapi kau harus istirahat di rumah beberapa hari sebelum kembali ke sekolah," lanjut Iruka—dengan sukses membuat Naruto lemas lagi—"Yang penting kan kau bisa pulang dulu, Nak," kata Iruka sabar. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. "Adik-adikmu mengirimkan ini untukmu." Ia mengulurkan beberapa lembar kertas gambar yang dilipat pada putranya.

Naruto membuka lipatan kertas itu dengan penasaran dan langsung dibuat terharu lagi. Di atas kertas putih itu, salah satu adiknya telah menggambar sosok berambut kuning berdiri sedang bermain bola di lapangan berumput dengan latar belakang langit biru dan matahari yang tersenyum. Belum lagi pesan-pesan dengan tulisan cakar ayam khas anak kecil dalam setiap lembarnya.

"Semoga cepat sembuh, Kakak Naruto.." ia membaca di kertas terakhir dengan mata basah.

"Mereka kangen padamu, Nak," beritahu Iruka, "Mereka selalu bertanya, 'Kapan Kakak Naruto main lagi ke panti?'"

Naruto mendadak menjadi sangat merindukan adik-adiknya. Ia teringat saat sedang bertanding hari sebelumnya, sorakan adik-adiknya lah yang paling jelas terdengar oleh telinganya dibanding sorakan penonton lain, menyuntikkan semangat lebih untuknya saat itu. "Aku juga kangen sekali pada mereka," bisiknya.

---

Root Hills

"Ini kamarmu, Gaara," kata Sai ketika ia sedang menunjukkan kamar yang sudah disiapkan para pelayan untuk Gaara. "Kau menyukainya?"

Gaara berjalan memasuki kamar yang luas itu, mengedarkan pandangannya. Kamar itu jelas lebih luas dari kamarnya di rumahnya di Suna. Dengan langit-langit tinggi, ranjang queen size, dan penataan perabot yang sangat apik, mengindikasikan bahwa sang pemilik rumah memiliki sense of art yang tinggi. Gaara tak henti-hentinya dibuat terkagum sejak ia menginjakkan kaki di rumah besar itu.

"Aku suka sekali," katanya sambil berpaling pada Sai, "Terimakasih."

Sai tersenyum padanya. Lalu ia berjalan menuju salah satu jendela tinggi yang menghadap ke taman, membuka gordennya yang berwarna krem. "Ah, kalau cuaca sedang cerah, kau bisa melihat kebun bunga dari sini," ujarnya. "Sayang sekali sekarang hanya bisa melihat hujan."

"Aku suka hujan," sahut Gaara. Ia juga sudah mendekat ke arah jendela dan sedang menatap pemandangan hujan di luar. "Di tempat asalku nyaris tidak pernah hujan."

"Ah," Sai mengangguk. Tentu saja, pikirnya, karena setahunya Suna adalah daerah gersang.

Saat itu, seorang pelayan pria masuk membawakan koper besar milik Gaara dan meletakkannya di dekat ranjang. Gaara mengucapkan terimakasih padanya sebelum pelayan itu pergi, lalu berjalan mendekati ranjang dan meletakkan tas biola yang sedari tadi dibawanya ke atas ranjang.

"Kau main biola di sekolah?" Sai menanyainya.

"Ya," jawab Gaara, menoleh lagi pada Sai. Sudut bibirnya tertarik sedikit membentuk senyum tipis yang entah bagaimana sangat mengingatkan pada Sasuke. "Kudengar dari Profesor Danzou, kalau kau selain jago melukis juga mahir memainkan piano."

Sai tersenyum, tidak bisa menahan rasa bangganya mendengar kakeknya telah memujinya di depan orang lain. "Hanya sedikit," ujarnya merendah, "Tidak bisa dibilang mahir, karena itu bukan bidangku di Akademi dulu."

"'Dulu'?" Gaara mengernyit. "Kalau begitu kau sudah tidak di Akademi lagi?"

"Yeah. Kurang lebih seperti itu," kata Sai.

Gaara menatapnya selama beberapa saat dengan matanya yang hijau pucat. "Kau sudah berhenti melukis?" ia bertanya hati-hati.

Sai tampak terkejut tiba-tiba ditanya seperti itu. Dan setelah diingat lagi, entah sudah berapa lama sejak terakhir kali ia menyentuh kanvas. Rasanya ia sudah tidak memikirkannya lagi selama berminggu-minggu. Barangkali ia masih takut dengan perasaan kosong yang menyiksanya setiap kali ia mencoba melukis sesuatu, khawatir kehilangan kendali atas dirinya lagi. Meski begitu, ia bisa merasakan perasaan rindu di hatinya. Bagaimanapun Sai sangat mencintai dunia seni rupa, terutama seni lukis.

"Um…" gumamnya, sekali lagi berpaling menatap ke luar jendela, tampak mempertimbangkan jawabannya. "Kurasa aku memang berhenti untuk sementara waktu. Tapi tidak menutup kemungkinan aku akan melukis lagi."

Keduanya terdiam agak lama sebelum Sai memecah keheningan, "Kau mau melihat studio lukisku? Di sana juga banyak lukisan-lukisan karya mendiang kakakku. Kau akan menyukainya, Gaara."

"Tentu," sahut Gaara.

Dan kedua remaja itu meninggalkan kamar dengan Sai sebagai penunjuk jalan. Ruang studio tempat ia dan mendiang Shin letaknya tidak jauh dari kamar Gaara. Sai merasakan dadanya berdebar ketika tangannya mencapai kenop pintu ganda itu. Rasanya sudah lama sekali sejak ia terakhir memasuki ruangan itu—seingatnya, sejak ia mencari buku hariannya yang hilang, yang untungnya sekarang sudah ketemu.

Ruangan itu masih sama seperti yang diingatnya. Lukisan-lukisan berpigura memenuhi setiap dindingnya, tumpukan kanvas lukisan yang sudah jadi dan setengah jadi, ornamen-ornamen, sketsel dan tempat penyimpanan alat-alat lukis, semuanya masih berada di tempatnya semula.

Sai menyalakan lampu kandil—mengingat cahaya matahari yang biasanya menjadi sumber pencahayaan utama ruangan itu di siang hari terhalang awan gelap—dan masuk. Gaara menyusul di belakangnya. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa pelajar pertukaran dari Suna itu sekali lagi dibuat terkagum. Matanya tidak puas-puasnya mengamati setiap lukisan di sana. Dan ia berhenti di depan lukisan paling besar di sana, yang menampakkan sesosok memesona seorang gadis dengan rambut keemasan. Gaara menatapnya agak lama sebelum matanya beralih ke bagian bawah lukisan untuk membaca judulnya.

'Sang Bidadari'

"Ini adalah masterpiece milik kakakku," beritahu Sai yang rupanya sudah berdiri di samping Gaara.

Gaara kemudian melihat nama yang tertera di sudut bawah lukisan, 'Shin'. Ia mengangkat wajahnya lagi untuk mengamati wajah Sang Bidadari yang tersenyum sekali lagi. Ia mengernyit. "Rasanya aku tidak asing dengan wajah ini," ujarnya.

"Eh?" Sai tampak terkejut. "Benarkah kau pernah melihatnya?"

Gaara menatap Sai heran. "Entahlah…" jawabnya lambat-lambat. Ia sendiri tidak begitu yakin karena hanya mengingatnya samar-samar saja. "Bukankah kau sendiri mengenal modelnya?" ia bertanya.

"Uh… sebenarnya tidak," sahut Sai. "Yang menjadi model adalah gadis yang dicintai kakakku. Aku tidak mengenalnya." Ia mengangkat bahu.

"Begitu, ya…" Gaara kembali menatap lukisan di depannya. "Kakakmu melukisnya seindah ini. Dia pastilah sangat mencintai gadis itu."

Sai tersenyum pahit. Ya, pikirnya getir, tapi gadis itu sama sekali tidak tahu kalau ia diam-diam dicintai dengan begitu dalam oleh Shin. Kalau saja Sai bertemu dengan gadis ini suatu hari, ingin sekali ia menyampaikan perasaan kakaknya ini padanya. Tapi Sai tidak yakin akan bertemu dengan gadis itu. Ia sudah lama menyerah mencarinya.

---

Rumah Sakit Konoha

Senja mulai turun dan hujan sudah mulai menampakkan tanda-tanda akan segera berhenti ketika Sasuke dan Sakura pamit pulang pada Naruto sore itu.

"Kami akan kemari mengantarmu pulang besok, Naruto," janji Sakura sambil memakai kembali mantelnya dan mencangklengkan tasnya ke bahu, "Kau pulang agak sore, kan, besok?"

"Yap, setelah mereka melakukan pemeriksaan terakhir pada kakiku ini," sahut Naruto. "Tapi bukannya kau ada kegiatan klub Teater besok, Sakura?"

Sakura nyengir padanya. "Bolos saja. Lagipula sekarang kegiatannya masih seputar anak-anak yang baru bergabung, belum sampai membahas drama untuk festifal sekolah nanti. Mereka belum selesai menggodok skenarionya soalnya."

"Begitu. Oke, kalau begitu kutunggu kalian besok," kata Naruto dengan nada ceria seperti biasa.

"Tenang saja. Salamkan untuk Pak Umino ya, Naruto…"

Dan gadis itu pun meninggalkan kamar rawat Naruto dengan Sasuke di belakangnya, menutup pintu. Langkah kaki mereka bergema di lorong rumah sakit yang lengang itu sebelum akhirnya mencapai lift. Sakura melirik Sasuke ketika mereka sudah berada di dalam lift yang kosong. Entah hanya perasaannya saja atau Sasuke memang kelihatan lebih pucat dari biasanya? Dan ia juga jadi lebih pendiam.

"Sasuke?"

Sasuke mengerling ke arahnya. Wajahnya memang kelihatan agak pucat, pikir Sakura.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Hn," jawab Sasuke singkat seperti biasa.

"Sungguh?" Sakura tampak tidak yakin.

"Ya. Dan jangan tanya-tanya lagi. Aku capek!"

Nada bicara Sasuke yang tiba-tiba meninggi membuat Sakura kaget. Mata hijaunya memebelalak menatap Sasuke. "Kau ini kenapa sih?! Aku kan cuma bertanya!" ia menukas kesal. 'Apa-apaan sih, Sasuke,' pikirnya bersungut-sungut, 'aku kan hanya mengkhawatirkan keadaannya saja? Kenapa marah?'

Menyadari perkataannya barangkali membuat gadis di sampingnya itu tersinggung, Sasuke mendadak merasa tidak enak. "Maaf…" gumamnya.

Tapi Sakura tidak membalasnya, jelas sekali masih jengkel karena tiba-tiba dibentak.

Pintu lift membuka di lantai berikutnya. Beberapa orang berseragam dokter dan perawat masuk sambil membicarakan sesuatu dengan suara rendah—sepertinya mereka membicarakan kondisi pasien tertentu. Sakura dan Sasuke mundur untuk memberi mereka tempat. Sakura melihat salah satu dokter wanita menatapnya beberapa saat sebelum berpaling pada rekannya dan melanjutkan berbicara. Sakura mengawasi dokter itu. Sepertinya ia pernah melihat wanita itu di suatu tempat, tapi ia tidak bisa mengingatnya di mana. Wanita itu berparas lembyt dengan rambut ungu gelap sebahu dan mata cokelat besar.

Rombongan itu turun di lantai selanjutnya. Sang dokter wanita menoleh pada Sakura lagi, tersenyum padanya sebelum akhirnya keluar dari lift bersama rekan-rekannya, membuat Sakura terheran-heran. Apa mereka saling kenal sebelumnya? Rasanya tidak…

Kedua remaja itu turun di lantai dasar dan langsung menuju pintu utama. Sasuke memanggil taksi untuk mereka berdua. Mereka tidak saling bicara lagi sampai akhirnya Sakura turun lebih dulu di Blossoms' Street.

---

TBC…

---

Kolom curhat :

Rasanya chapter ini lebih pendek dan kurang penting dari chapter-chapter lalu –emang chapter lalu penting, ya? XD- Cuma nyeritain sedikit banget. Tapi ya sudahlah, aku juga bingung mau nulis apa di chapter ini. Ha~~ author payah…

Omong-omong, aku sedang dilanda krisis pede parah banget sehubungan dengan fic ini. Setelah baca forum ini itu dan obrolan sana-sini, aku sempat berpikir untuk menghapus fic ini saja saking gak pedenya. Tapi udah berjalan sejauh ini, rasanya sayang banget. Ya sudahlah, nekat saja. Walaupun fic AU highschool –katanya- pasaran, membosankan, dsb. Apalagi yang mendrama seperti fic aku ini. Rasanya terlalu menyinetron, ya?

Tapi…. Setelah membaca catatan dari author senior yang udah aku anggap sebagai mentorku dalam menulis fic –halah-, semangatku langsung muncul lagi. Yeah!! –Ambuuuu… kenapa aku gak bisa ninggalin komen di FB-mu? Sedih…-

Maaf yah, kali ini aku gak bales komen satu-satu. Yang jelas makasih banget sudah meluangkan waktu membaca dan mereview. Bundo, makasih banget udah bersedia menjadi tumpahan curhatan gak pentingku. Luna-chan, imouto virtual tercintaku, beneran deh, kamu tuh bener-bener pelipur lara yang paling ampuh. –halah- Setiap ngobrol ma kamu, sesumpek apa pun aku, selalu berakhir dengan ngakak abis-abisan. –peluk-peluk Tobi-Luna- XD

Gitu aja deh… Ja ne…