Chapter 39

Root Hills

Badai sudah sepenuhnya berhenti pagi itu. Sinar matahari pagi mengintip lewat awan-awan hitam sisa badai kemarin. Tidak sepenuhnya cerah—mengingat sebentar lagi akan memasuki musim dingin—tapi setidaknya cuaca sudah lebih baik dari hari sebelumnya. Dan cuaca yang bagus itu dimanfaatkan oleh Sai dan dan teman barunya dari Suna untuk berjalan-jalan pagi berkeliling halaman luas di rumah megah di Root Hills.

Dalam waktu singkat, sepertinya Sai dan Gaara sudah menjadi teman baik. Cowok Suna itu memang sedikit kaku dan dingin –terkadang sikap Gaara yang seperti itu mengingatkannya pada Sasuke—tapi ia juga teman yang sangat menyenangkan. Keduanya banyak bertukar cerita sejak hari sebelumnya. Sai banyak bercerita tentang sekolahnya yang sekarang dan teman-temannya sementara ia senang mendengarkan Gaara bercerita tentang Suna dan kakak-kakaknya. Mereka juga sempat berduet—Sai dengan pianonya dan Gaara dengan biolanya—dengan Danzou sebagai penontonnya setelah makan malam.

"Jadi hari ini kau belum masuk sekolah lagi, Sai?" tanya Gaara sementara mereka berjalan pelan melintasi jalan setapak di kebun mawar yang tertata dengan sangat apik.

"Belum," jawab Sai sambil merapatkan jaketnya untuk menahan udara dingin. "Mungkin besok. Siang ini aku harus check-up ke rumah sakit." Sai memang sudah menceritakan pada Gaara tentang peristiwa pengeroyokan yang menimpanya tempo hari.

"Kuharap kau cepat sembuh," ujar Gaara tulus.

"Terimakasih, Gaara," Sai tersenyum padanya.

"Siang ini aku akan melihat-lihat apartemen di sekitar KAA," kata Gaara kemudian seraya membenamkan kedua tangannya ke dalam saku mantel seragam baru KAA-nya. Mata hijau pucatnya mengawasi tukang kebuh yang sedang merapikan semak mawar di dekat pagar.

Sai menoleh cepat. "Maksudmu kau tidak tinggal di sini lagi?"

Gaara tertawa kecil. "Aku tidak mungkin selamanya merepotkan Profesor Danzou, Sai," ujarnya, menoleh pada Sai. "Aku akan pindah begitu mendapatkan apartemen yang cocok. Lagipula tidak enak kalau kakak-kakakku tiba-tiba datang. Dan katanya Kankurou mau ke Konoha setelah selesai mengurusi ijazahnya."

Sai tampak agak kecewa. "Padahal aku senang mendapat teman mengobrol sepertimu."

"Hei, kita kan masih bisa mengobrol. Aku sudah memberikan nomor ponselku, kan?" tanya Gaara.

"Oh, yeah, benar," Sai mengangguk.

Keduanya terdiam sementara melanjutkan berjalan-jalan. Kemudian supir Danzou muncul, memberitahukan kalau mereka akan segera berangkat.

"Aku berangkat sekarang kalau begitu, Sai," pamit Gaara pada Sai.

"Oke. Selamat bersenang-senang di sekolah baru!" ujar Sai.

"Yeah. Kuharap begitu. Sampai ketemu makan malam nanti." Dan Gaara pun segera berlalu mengikuti sang supir.

Sai menghirup udara segar dalam-dalam setelah punggung Gaara menghilang. Ia tersenyum teringat pesan singkat yang dikirimkan Sakura tadi malam. Hari ini Naruto akan keluar dari rumah sakit. Syukurlah, pikirnya. Barangkali ia bisa ikut menjemput Naruto setelah check-up-nya selesai.

---

Konoha High, siang harinya…

Untuk kesekian kalinya Sakura melirik ke arah bangku Sasuke ketika bel yang menandakan jam pelajaran selesai berbunyi. Melihat bangku yang kosong itu entah mengapa membuat hatinya resah. Sasuke tidak muncul di sekolah hari ini. Ia bahkan mematikan ponselnya dan tidak menjawab saat Sakura menghubungi telepon rumahnya. Apa mungkin Sasuke masih marah padanya gara-gara kemarin? Sakura bertanya-tanya dalam hati.

Sakura buru-buru menepis perasaan itu. Gadis itu merasa tidak melakukan hal yang salah pada Sasuke, jadi tidak mungkin Sasuke marah padanya. Dan Sasuke setahunya juga bukan tipe cowok tukang ngambek seperti itu. Barangkali ia sedang ada keperluan mendadak yang tak bisa ditinggalkan dan lupa membawa membawa ponselnya.

Ya, pasti begitu.

Tapi mengapa perasaanku tidak enak begini, sih? Jangan-jangan terjadi sesuatu yang—

"Sakura!" suara keras Ino dan tepukan keras di bahunya membuat Sakura terlonjak kaget di bangkunya.

"Ino! Jangan tiba-tiba mengagetkan begitu dong!" kata Sakura mencela.

Ino tertawa-tawa, lalu menarik bangku kosong di meja yang biasa diduduki Sai dan duduk di sana. "Kau sih, melamun terus… Melamunkan apa, sih?" tanyanya.

"Bukan apa-apa," sahut Sakura sambil bergegas membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Ia terdiam sebentar. "Sasuke," katanya akhirnya, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, "Dia tidak masuk, tidak mengabari apa-apa. Ponselnya juga dimatikan. Kepikiran saja, kemana ya, dia?"

"Oh," Ino lalu menoleh ke bangku Sasuke yang kosong. "Kau bilang begitu aku baru sadar kalau dia tidak ada," ia berpaling lagi pada sahabatnya, nyengir, "Pantas saja rasanya ada yang kurang. Setelah beberapa minggu melihat kalian selalu bersama-sama, rasanya aneh melihatmu jalan sendirian di koridor. Kalian kan selalu menempel ke mana-mana."

Sakura tertawa mendengar perkataan Ino. "Kami tidak menempel ke mana-mana," kekehnya. "Memangnya kau yang menempel ke mana-mana dengan cowokmu itu? Setiap hari selalu saja dijemput. Kita nyaris tidak pernah pulang bareng lagi kan sejak kau masuk!"

Ino nyengir tidak enak. "Sori deh," katanya, "Habis, Idate selalu berkeras ingin menjemputku sih…" Ia menghela napas. "Padahal sudah kubilang tidak usah jemput. Eh, dia tetap nongol di gerbang."

"Memang susah punya cowok overprotektif, ya," komentar Sakura sambil terkekeh-kekeh.

Gadis pirang itu tertawa kecil. "Yah, mau bagaimana lagi. Tapi dia sangat memanjakanku, tahu. Memperlakukanku seperti seorang putri…" Ino mengatupkan kedua tangan di depan dada, mata sapphire-nya menerawang.

Sakura memutar bola matanya. "Iya deh, Tuan Putri…" katanya. Setelah selesai memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas, ia lantas beranjak dari bangkunya. Ino bergegas menyusulnya.

"Tapi ini agak aneh.." gumam Sakura ketika kedua gadis itu sedang berjalan di koridor yang ramai oleh anak-anak, "Sasuke tidak biasanya membolos begini."

"Dia membolos waktu dia dan Naruto ke rumahmu," kata Ino mengingatkan.

Sakura tersenyum sambil melirik gadis pirang di sebelahnya. "Yeah, yang itu sih tidak masuk hitungan. Soalnya dia punya alasan. Tapi sekarang," gadis berambut merah muda itu mengangkat bahunya, menghembuskan napas keras, "Tidak ada kabar sama sekali. Dan tidak bisa dihubungi juga. Dia seperti menghilang ditelan bumi."

"Aku yakin bumi akan senang kalau berhasil menelan cowok superkeren macam Sasuke," gurau Ino.

"Oh, ha ha.." Sakura tertawa dingin. "Dasar, dia itu keterlaluan sekali! Padahal kan kami sudah janji pada Naruto akan ikut menjemputnya dari rumah sakit hari ini," gerutunya. Gadis itu mendadak kesal pada Sasuke.

Mereka baru saja sampai di koridor menuju kantin ketika Sakura mendadak berhenti.

"Kenapa?" tanya Ino heran.

"Aku mau ke perpus saja deh.." sahut Sakura.

Ino mengangkat alisnya. "Tidak lapar?"

"Tidak terlalu." Sakura menepuk tasnya. "Ada buku yang mau kukembalikan."

"Dan ada yang ingin kau pinjam, bukan?" tanya Ino menebak.

Sakura memberinya anggukan dan senyuman singkat sebagai jawaban sebelum ia melesat menuju koridor perpustakaan. Ino menghela napas memandang punggung sahabatnya menghilang di antara anak-anak. Gadis itu tahu betul kegemaran Sakura terhadap buku. Ia selalu berpendapat bahwa Sakura pasti belum merasa puas kalau belum melahap semua buku yang ada di perpustakaan sekolah mereka.

Seperti biasa, perpustakaan adalah salah satu ruangan yang paling tenang seantero Konoha High—itulah sebabnya Sakura sangat menyukai tempat itu. Semua orang di sana tampak tenang membaca dan hanya bicara seperlunya, dan itu pun dilakukan dengan suara rendah. Kalau pun ada yang ingin melakukan belajar kelompok, pihak sekolah sudah menyediakan ruang khusus di perpustakaan yang bisa digunakan tanpa mengganggu yang lain. Dan ruangan itu biasanya digunakan oleh anak-anak kelas tiga yang banyak mengerjakan proyek ini itu untuk tugas akhir mereka.

Sakura menyimpan tasnya di loker khusus sebelum menuju ke meja pustakawan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya hari sebelumnya. Setelah itu, ia langsung melesat ke deretan rak-rak buku-buku science. Ia membutuhkan bahan untuk paper Kimia-nya. Ia tengah asyik memilih-milih buku ketika telinganya tidak sengaja menangkap pembicaraan seseorang di balik lorong tempatnya berdiri.

"…menurutku naskah yang kemarin itu sudah bagus," kata suara lembut seorang gadis berbisik.

"Yeah, Bu Yuuhi juga sudah setuju," sahut suara gadis kedua, juga dengan bisikan. "Ibu Mitarashi juga suka sekali waktu dia membacanya." Terdengar suara tawa teredam. "Kau tahu dia kan, tanggapannya heboh sekali. Dia berpendapat drama tahun ini bakal hebat."

Gadis pertama ikut tertawa kecil. "Aku juga berpendapat begitu, Tenten."

Sakura mengambil salah satu buku di rak. Dari celah di rak itu, Sakura bisa melihat Tenten, ketua klub teater tempatnya bergabung, dan seorang gadis yang rambut cokelat panjangnya menjuntai sampai ke pinggang, yang dikenali Sakura sebagai mantan kekasih Neji, Yakumo Kurama.

"Kurasa sudah waktunya menentukan pemain," kata Tenten dalam bisikan sementara tangannya sibuk membuka-buka buku.

"Betul," sahut Yakumo sambil mengangguk setuju.

Sakura pura-pura menundukkan kepala untuk membaca ketika mata gadis itu melintas ke arahnya. Ia bisa mendengar Yakumo menarik salah satu buku dari rak.

"Pertama-tama kita harus menentukan dua pemain utama," kata Yakumo.

"Tiga sebenarnya," koreksi Tenten, "Soalnya ayah tokoh utama pria juga termasuk main character di sini."

"Hmm.." Yakumo bergumam. Terdengar suara kertas yang dibalik. "Tapi tetap saja kan, lebih susah mencari untuk Alfredo dan Violetta. Soalnya mereka harus punya chemistry yang pas, karena mereka yang menentukan berhasil tidaknya drama ini."

Kedua gadis itu terdiam beberapa saat. Demikian juga dengan Sakura. Mata hijaunya menatap tempat yang sama di halaman buku yang terbuka di tangannya tanpa bergerak. Telinganya terpasang. Mendengar soal drama itu membuatnya penasaran. Bukannya apa-apa, tapi mendapatkan peran di drama tahunan itu bagi anggota klub teater seperti ajang pembuktian kemampuan akting mereka. Setidaknya itulah yang dirasakan Sakura.

"Sebetulnya…" suara Tenten terdengar hati-hati, "Aku sudah menentukan siapa pemeran Alfredo dan Violetta, Yakumo."

Sakura bisa merasakan kekecewaan samar merasuk dalam hatinya. Rupanya sang ketua telah memilih dua tokoh utama, yang berarti kandas sudah kesempatannya untuk mendapatkan peran utama. Tapi ia masih bisa menjadi pemeran pembantu, pikir Sakura menghibur diri. Ia kembali memasang telinga, ingin tahu siapa dua orang yang beruntung itu.

"Oh, ya? Siapa?" tanya Yakumo ingin tahu.

Mau tak mau Sakura mengangkat wajahnya, mencuri pandang pada kedua gadis kelas tiga yang berdiri di balik rak itu. Kedua gadis kelas tiga itu saling pandang selama beberapa saat. Tenten tampak sedang tersenyum memohon pada Yakumo.

"Ah," gumam Yakumo sambil memalingkan wajah. Ekspresinya tidak bisa ditebak. "Maaf, tapi itu tidak mungkin, Tenten."

"Oh, ayolah, Yakumo…" Tenten memohon padanya, "Kalian hebat waktu memainkan 'The Sound of The Music' tahun lalu."

Yakumo terdengar menghela napas. "Kenapa tidak kau saja?" ia balik bertanya.

"Aku?" Tenten tertawa pelan. "Aku lebih suka bekerja di belakang layar. Lagipula aku kan sutradaranya."

"Aku asisten sutradara, kalau kau lupa," tukas Yakumo, tampak agak kesal. Gadis itu lantas berbalik dan meninggalkan Tenten.

Tenten yang tampak terkejut beberapa saat sebelum bergegas menyusulnya. Sakura bisa mendengar kedua gadis itu meneruskan perdebatan mereka dalam bisikan keras sementara mereka meninggalkan perpustakaan. Sakura menutup bukunya—mendadak ia kehilangan minat pada buku—lalu menyandarkan diri di rak sementara ingatannya melayang ke drama tahunan yang dimainkan klubnya setahun sebelumnya.

Ia ingat Yakumo ikut ambil bagian dalam drama musikal itu. Bukan sebagai peran utama—karena tokoh utama diperankan oleh anak kelas tiga saat itu, dan Yakumo baru kelas dua. Yakumo berperan sebagai Liesl von Trapp, putri sulung dari tokoh utama pria. Dan ia ingat siapa yang menjadi lawan mainnya di drama itu, siapa yang menjadi Rolf Gruber, the messenger boy.

Sakura menggigit bibir bawahnya ketika pikiran itu terlintas di kepalanya. Hatinya mencelos. 'Mungkinkah… Tenten berusaha menyatukan mereka kembali?' Tanyanya resah dalam hati. 'Aku harus bicara pada Ino!'

Cepat-cepat Sakura mengambil beberapa buku yang diperlukannya di rak dan melesat ke meja pustakawan. Beberapa menit berikutnya, gadis itu sudah berada di kantin. Mata zamrudnya menjelajah ke segala jurusan, mencari-cari sosok Ino di antara anak-anak yang sedang asyik makan siang. Ia melihat Shikamaru dan Chouji bersama beberapa anak klub musik di meja sudut yang biasa, tapi Ino tidak ada di antara mereka. Rupanya hari ini ia duduk di meja gadis-gadis Cheerleader—meskipun Ino sudah resmi mengundurkan diri dari klub itu, tapi ia tetap berkawan baik dengan mereka—tampak asyik bergosip sambil makan.

Sakura bergegas menghampiri sahabatnya itu. "Ino!" panggilnya ketika ia sudah dekat.

Ino menoleh. Sebelah alisnya terangkat, tampak heran ketika melihat Sakura mendekat dengan napas tersengal dan wajah memerah. Ia mengambil waktu mengunyah dan menelan salad di mulutnya sebelum membalas, "Sakura? Katanya kau ke perpus?"

"Sudah," sengal Sakura seraya melambaikan buku di tangannya asal.

"Kau kenapa, Sakura?" tanya gadis berambut merah berkacamata yang duduk di sebelah Ino dengan senyum mengejek. "Habis ikut marathon? Sukses membakar lemak di kakimu?" Sebagian besar gadis-gadis di meja itu tertawa nyaring, kecuali Ino.

Ia membelalak galak pada gadis itu. "Bisa tidak sih tidak menjelek-jelekkan Sakura terus, Karin?"

Karin malah cekikikan. Gadis itu mengangkat bahu, lalu berpaling untuk melanjutkan acara bergosipnya dengan teman-temannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Karin sangat menyukai Sasuke Uchiha, bahkan bisa dibilang memujanya. Dan fakta bahwa Sakura memiliki hubungan yang bisa dibilang cukup dekat dengan cowok pujaannya itu membuatnya tidak senang. Tidak peduli mereka berada dalam satu kelompok di laboratorium Biologi, Karin tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjelek-jelekkan teman seangkatannya itu—yang tentu saja tidak dipedulikan oleh yang bersangkutan.

Ino menggeram pelan. "Jangan dengarkan dia, Sakura," ujarnya pada Sakura. "Hei, ada apa?" tanyanya ketika menyadari eskpresi wajah Sakura yang lain dari biasanya. Seperti ekspresinya setiap kali ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Mata Sakura sejenak melirik ke arah gadis-gadis di meja itu sebelum kembali menatap Ino. Tidak memerlukan waktu lama sampai Ino akhirnya paham. Gadis itu mengangguk, lalu mengambil nampan makan siangnya dari meja dan beranjak.

"Yuk, kita cari meja lain," ajaknya pada Sakura.

Mereka menemukan meja kosong di dekat jendela—meja yang dulu sering diduduki Sai seorang diri—Ino lantas meletakkan nampannya di atas meja dan duduk di salah satu bangkunya. Sakura duduk di bangku di seberangnya, meletakkan bukunya di atas meja.

"Nah, jadi ada kejadian apa barusan yang membuatmu bertampang aneh begitu, Sakura?" tanya Ino langsung sembari mengaduk-aduk saladnya dengan garpu. Sementara mata birunya menatap Sakura yang tampak agak gelisah penuh selidik.

Sakura tidak langsung menjawab, melainkan menarik napas dalam-dalam, seakan sedang berusaha menenangkan diri dulu. "Neji," ia memulai.

Ino menaikkan alisnya, tampak bingung. Mata birunya otomatis terarah pada bangku yang biasa diduduki anak-anak kelas tiga. Di sana, duduk Neji Hyuuga. Cowok itu tampak tenang mengunyah sandwich-nya sambil membaca buku, seakan tidak terganggu oleh kebisingan yang diakibatkan teman-temannya di bangku itu.

"Neji?" tanya Ino dengan dahi berkerut.

Sakura mengangguk. "Aku dengar pembicaraan Tenten dan Yakumo Kurama di perpus tadi."

Ino menjauhkan mangkuk saladnya dan mengambil botol sari jeruk. "Apa yang mereka bicarakan—Oh, jangan bilang Tenten membujuk Yakumo untuk jadian lagi dengan Neji!" Mata Ino membulat. "Atau Yakumo yang memohon-mohon supaya bisa balikan lagi sama Neji?"

Sakura mendesah pelan. "Bukan itu, sih…" ujarnya.

Ino memutar bola matanya yang berwarna biru. Tadinya ia mengira akan mendengar kabar yang lebih seru. Misalnya saja putri tunggal keluarga Kurama itu tiba-tiba ingin jadian lagi dengan mantan-nya, mengingat ia-lah yang memutuskan hubungan dengan Neji secara sepihak—beberapa bulan yang lalu, gosip tetang putusnya pasangan itu sempat heboh, terutama di kalangan gadis-gadis yang mengincar Neji (termasuk Sakura).

"Lalu?" Ino menyeruput sari jeruknya.

"Ini soal drama untuk festival sekolah tahunan," kata Sakura. Ia terdiam sejenak. "Tenten sepertinya berniat memasangkan mereka di drama itu. Kau tahu, kan? Mereka pernah dipasangkan di drama tahun lalu…"

"Lalu kenapa kalau mereka dipasangkan lagi?" tanya Ino dengan cengiran jahil di wajahnya. Sepertinya ia mulai mengerti apa yang meresahkan sahabatnya itu. Ia tertawa kecil. "Dipasangkan belum tentu jadian lagi, kan? Lagipula, mereka berdua memang bermain bagus di drama tahun lalu. Tidak ada salahnya, kan?"

Sakura tampak gusar. "Tapi kan mereka sudah pernah jadian…" gerutunya tanpa memandang Ino.

Bingo!

Ino terkekeh-kekeh. "Ya ampun, Sakura. Kau cemburu, ya? Sampai panik seperti itu mendengar Neji akan dipasangkan lagi dengan Yakumo."

Wajah Sakura langsung berubah merah. "Aku tidak cemburu," sangkalnya dengan suara amat pelan.

"Oh, jelas sekali kau cemburu," Ino menukas, setengah jengkel setengah geli mendengar penyangkalan Sakura—padahal sudah jelas. "Kalau kau tidak peduli, buat apa coba kau sampai buru-buru memberitahuku dengan tampang panik seperti itu? Padahal belum tentu kan, Tenten bermaksud membuat mereka jadian lagi? Maksudku, mungkin saja dia berharap drama tahun ini bisa sukses besar dengan memanfaatkan chemistry di antara Neji dan Yakumo—Oh, akui saja, mereka berdua memang sangat serasi di atas panggung, Sakura!"

Sakura semakin merah padam, mata zamrudnya membeliak. "Aku tidak panik—"

"Tapi takut Neji disambar cewek lain?" goda Ino. "Ya ampun, Sakura. Kalau kau begitu menyukai Neji, bergerak dong. Kau dari dulu beraninya hanya melihatnya dari jauh. Kalau aku jadi kau, aku akan mendekatinya. Masuk klub komputer atau apalah supaya bisa menghabiskan banyak waktu dengannya. Kalau kau tidak cepat-cepat, cowok itu bisa diambil cewek lain betulan, lho. Neji kan banyak sekali yang mengincar."

Argh! Sakura benci sekali kalau Ino sudah berhasil memojokkannya seperti itu. Tapi yang dikatakan Ino memang ada benarnya, pikir Sakura. Neji memang hampir selalu dikelilingi gadis-gadis yang mengaguminya –gadis-gadis yang jelas memiliki keberanian lebih dari pada Sakura untuk mendekati cowok yang juga pelajar teladan di Konoha High itu. Entah itu pura-pura minta diajari pelajaran atau hanya cekakak cekikik di dekatnya, berusaha mendapatkan perhatiannya.

Sakura menghela napas. Ia menoleh ke meja di mana Neji sedang duduk bersama teman-temannya. Ia merasa tidak yakin bisa melakukan apa yang Ino bilang barusan, mengingat perasaan tidak karuan seperti mau pingsan yang selalu menderanya setiap kali berdekatan dengan cowok itu. Padahal Sakura adalah tipikal gadis yang banyak bicara, tapi ia mendadak menjadi sangat pemalu seperti Hinata setiap kali ada Neji.

"Atau…" suara Ino membuat Sakura berpaling padanya lagi. Ino tersenyum penuh arti. "Bagaimana kalau kau berusaha mendapatkan peran utama di drama nanti? Siapa tahu—kalau kau beruntung—kau akan berpasangan dengan Neji."

Sakura mendengus sangsi. "Tidak mungkin, Ino. Tokoh utama biasanya diperankan oleh anak kelas tiga. Anak kelas dua dan satu—itu pun kalau mereka cukup beruntung—barangkali hanya mendapatkan peran pembantu saja atau menjadi tukang angkut-angkut properti panggung."

"Kau terlalu pesimis, Sakura. Aktingmu hebat kok. Buktinya tahun lalu kau juga mendapatkan peran, kan?"

Sakura tidak menanggapi. Yah, gadis itu memang mendapatkan peran sebagai adik bungsu Yakumo di pementasan drama tahun lalu, prestasi yang bisa dibilang cukup bagus mengingat Sakura saat itu masih kelas satu. Dan memikirkan untuk mendapatkan peran utama tahun ini rasanya memang menyenangkan, tapi kemungkinannya sangat kecil. Sakura tidak ingin terlalu berharap…

"Dan sebelum itu terjadi," kata Ino dengan cengiran jahil, "bagaimana kalau kau berlatih dulu?"

"Apa?" Sakura tampak bingung ketika Ino beranjak dari duduknya, berjalan mengitari meja dan menarik Sakura supaya berdiri. Ino memutar tubuh Sakura dengan paksa sehingga menghadap meja anak-anak kelas tiga.

"Sekarang kau coba hampiri dia," bisik Ino.

"Apa?" Jantung Sakura mendadak berpacu cepat di rongganya, memompa darah lebih banyak ke sekitar wajah dan lehernya, membuatnya terasa panas.

"Hampiri dan sapa dia. Sekarang!"

"T-tunggu dulu, Ino!"

Tapi Ino sudah keburu mendorongnya maju. Agak terlalu keras, sampai nyaris membuat gadis itu jatuh tersungkur. Tapi Sakura dengan cepat mendapatkan keseimbangannya kembali. Kini meja Neji hanya berjarak dua meter darinya.

Sakura bisa melihatnya dengan jelas. Neji sedang menunduk membaca textbook yang terbuka di atas meja sementara tangannya memainkan botol air mineral yang isinya sudah separuh, sama sekali tidak menghiraukan gadis-gadis yang cekikikan di dekatnya. Rambutnya bagian depannya terjatuh dengan luwes ke keningnya, sedikit menutupi mata lavendernya. Hanya dengan melihatnya seperti itu saja, Sakura sudah merasa seperti meleleh.

Sakura menoleh dan mendapati Ino sedang memberi isyarat dengan penuh semangat supaya Sakura melanjutkan. Sudah kepalang tanggung, pikir Sakura sambil menelan ludah. Nekat sajalah…

Gadis itu lantas melangkah. Satu langkah lagi… Dua langkah… Tiga… Neji semakin dekat. Dia sedang membalik halaman bukunya, sama sekali tidak mengangkat wajah.

Sakura menelan ludah dengan susah payah. "H-Ha—"

"Sakura!" suara lain dari samping Neji menyapanya dengan penuh semangat.

Ouch!

Sakura mengerjap. Pandangannya beralih pada cowok jangkung kurus berambut bob yang duduk di sebelah Neji. Cowok itu nyengir lebar, memamerkan gigi-giginya yang putih berkilau bak bintang iklan pasta gigi seraya melambaikan tangan ke arahnya. Rock Lee, wakil ketua klub sepak bola tempat Naruto bergabung. Sakura memaksakan senyum kikuk padanya.

"Hei, bagaimana kabar Naruto? Kau sudah menengoknya lagi, kan? Aku dengar dia sudah boleh pulang hari ini, benar?" Lee mencecarnya dengan pertanyaan, membuat Sakura bingung mau menjawab yang mana dulu.

"Er… Ya, dia um…"

"Ah, sudah kuduga!" Lee tertawa menggelegar. "Dia memang tidak gampang menyerah, kan?"

Sakura memaksakan diri tertawa. "I-iya… un.. aku ke konter dulu. Permisi…" dan gadis itu segera berlalu.

Neji mengangkat wajahnya dan melirik sekilas ketika Sakura melewatinya. Hanya perasaannya saja atau ia memang merasakan panas menguar dari tubuh gadis itu ketika ia lewat, Neji tidak tahu. Cowok itu hanya tersenyum tipis sebelum kembali menenggelamkan diri pada bacaannya.

"Sakura itu… gadis yang manis, ya?" tanya Lee sambil menatap punggung Sakura bergerak menuju konter.

"Hn."

"Kurasa aku menyukainya," cetus Lee tanpa beban. "Bagaimana menurutmu?"

Neji mendengus pelan. "Hn."

Sementara itu Sakura sibuk mengutuki dirinya sendiri dalam hati. Ah, Ino lebih pantas disalahkan atas semua ini, pikirnya geram. Sakura menyambar sari apel kotak kecil dari konter sebelum kembali ke bangku Ino. Ia kesal bukan kepalang melihat temannya itu malah menertawakannya.

"Berhenti tertawa!" hardik Sakura sambil duduk. Tangannya yang memegang kotak sari apel bergetar saking jengkelnya.

"S-sori.." ujar Ino dengan wajah merah menahan tawa. "Ah, bukannya berhasil ngobrol dengan sang pujaan hati, malah disapa oleh Lee! Kasihan deh.."

"Diam!"

"Lee lumayan kok," kekeh Ino. "Lumayan aneh, maksudnya."

"Oh, ha ha.. Lucu sekali, Ino!" Sakura tertawa sinis. Ia mencobloskan sedotan dengan geram ke kotak sari apelnya dan menyedotnya dengan bernafsu seakan salah sari apelnyalah Neji mengacuhkannya.

Kedua gadis itu duduk dalam diam selama beberapa saat. Ino kembali melanjutkan acara makan siangnya sambil mendengarkan musik dari Ipod barunya sementara Sakura telah menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan bukunya. Gadis itu berkali-kali menghela napas seperti nenek-nenek, tampak luar biasa lesu.

Kalau begini terus, tidak akan berhasil, Sakura membatin suntuk. Ino benar, kalau tidak bergerak, bagaimana Neji bisa tahu ada seorang gadis adik kelasnya yang memerhatikannya dari dulu? Aaaargh…

Getaran ponsel dari saku celananya membuat lamunan Sakura buyar seketika. Gadis itu mengangkat kepala, buru-buru merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Rupanya ada satu pesan singkat masuk. Dari Naruto.

'Sakura, kau jadi menjemputku ke rumah sakit hari ini, kan?'

"Dari Sasuke?" tanya Ino seraya menarik lepas earphone dari telinganya.

"Bukan. Naruto," Sakura menyahut sambil menekan tombol reply. "Oh ya, Ino. Kau mau ikut ke rumah sakit menjemput Naruto tidak?"

Ino tampak berpikir sejenak. "Ingin sih… Tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa. Aku sudah janji akan menemani Idate ke toko buku."

"Sayang sekali," kata Sakura, mengangkat bahu. "Aku jadi pergi sendirian deh. Lagian, kemana sih perginya Si Sasuke?" gerutunya. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan untuk Naruto.

'Iya, jadi. Kau tenang saja dan tunggu aku di sana, ya! Btw, Sasuke menghubungimu tidak?'

Tidak perlu menunggu lama sampai Naruto membalas pesannya.

'Tidak. Memangnya kenapa dia?'

Sakura kembali mengetikkan jawabannya.

'Dia tidak masuk hari ini. Aku tidak bisa menghubunginya'

Kali ini Naruto tidak membalas. Dan tepat saat itu bel tanda jam pelajaran berikutnya dimulai berbunyi. Anak-anak yang kebetulan masih berada di kantin yang mulai lengang, termasuk Sakura dan Ino, bergegas meninggalkan kantin dan menuju kelas mereka berikutnya.

---

Root Hills

"Tuan Muda yakin mau berangkat ke rumah sakit sendiri?"

Sai, yang tengah mengancingkan mantelnya, menoleh untuk menatap sang kepala pelayan yang tampak sangat khawatir. "Tidak apa-apa, Yuugao. Aku masih bisa menyetir sendiri."

"Tapi Tuan Muda, bukankah lebih baik Anda diantar supir?" tanya Yuugao lebih mendesak.

Sai tersenyum padanya. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."

"Tapi kata Tuan Danzou—"

"Beliau akan mengerti," sela Sai, mulai tak sabar. "Aku sudah bilang pada kakek dan dia setuju aku pergi sendiri," ujarnya berbohong sambil memalingkan wajah dan kembali menyibukkan diri dengan kancing mantelnya, menghindari tatapan wanita yang sudah seperti bibinya sendiri itu. "Bisakah kau suruh supir menyiapkan mobil untukku?"

Yuugao tampak akan membantahnya. Jelas tidak yakin pada apa yang dikatakan tuan mudanya itu. Tapi kemudian akhirnya ia mengalah juga. "Baiklah, Tuan…" Ia lantas berbalik pergi.

Sai menghela napas lega setelah punggung Yuugao menghilang di balik pintu. Kepala pelayannya itu memang sangat cerewet kalau sudah mulai mencemaskannya seperti ini. Sikapnya ini seperti seorang ibu yang overprotektif terhadap putra tersayangnya, begitulah setidaknya yang dikatakan Gaara melihat sikap Yuugao pada Sai. Bukannya Sai tidak senang—ia malah sangat berterimakasih pada Yuugao yang sudah menjaganya selayaknya seorang ibu—tapi ada saatnya di mana sikapnya itu membuat Sai tidak sabar. Ia kan juga ingin melakukan semuanya sendiri, tidak melulu harus dilayani seperti orang sakit. Lagipula ia merasa kondisi tubuhnya sudah cukup baik untuk bisa pergi sendiri.

Setelah selesai merapikan pakaiannya, Sai mengambil dompet dan ponselnya, kemudian bergegas meninggalkan kamar. Porsche merahnya sudah siap ketika ia turun. Seorang supir dengan sopan mengulurkan kunci mobil yang dipegangnya pasa Sai.

"Terimakasih," ucap Sai seraya mengambil kunci mobilnya.

Beberapa saat kemudian, mobil mungil berwarna merah menyala itu melesat meninggalkan kompleks perumahan mentereng itu menuju kota. Tepatnya menuju Rumah Sakit Konoha.

---

TBC

---

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

The Sound of the Music © Maria Von Trapp

---

Satu lagi chapter datar yang gak bagus. –sigh- Tapi mudah-mudahan yang tersirat untuk konflik ke depannya udah bisa mulai kelihatan. Silakan menebak-nebak.. –gak penting-

Makasih buat Furukara Kyu (udah keselip belum romance-nya? XD), Gondez dan Kucluk (wah, kalian berdua, makasih udah mampir…), Dilia-chan, Aika-chan, Uci-chan (makasih koreksinya. Udah dibenerin kok), ryoko namikaze, Senritsu no Kaze, kakkoi-chan (jleb jleb… XD), Yuu Akihina, Tobi-Luna of Sagashita ^^, Auferiee (wah, makasih lho review jujurnya…^^) dan Bundo-chan yang mereview lewat PM..

See ya!