Chapter 40

Sai meninggalkan ruang pemeriksaan dengan wajah berseri siang itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan kondisi kesehatannya, setidaknya itulah yang diberitahukan dokter yang memeriksanya barusan. Mereka hanya mengganti perban yang menutupi luka jahit di atas alisnya dengan perban yang lebih tipis dan setelah itu semuanya akan oke. Ia siap kembali ke sekolah besok.

Menghembuskan napas lega, Sai berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ia mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Seharusnya jam-jam segini sekolah sudah bubar, pikirnya. Sakura pastilah sedang dalam perjalanan kemari…

"Sai?" suara sapaan yang sudah sangat familier itu membuat cowok itu menoleh.

Dokter Kabuto Yakushi baru saja keluar dari pintu ruangan bagian pediatric. Ia tidak mengenakan jas dokternya melainkan pakaian santai dan ia membawa seorang batita laki-laki berambut cokelat tipis dalam gendongannya. Akio Yakushi, Sai mengenali bocah gembil yang sedang mengalungkan lengannya ke leher sang ayah. Matanya merah seperti baru menangis. Di belakang mereka, Michiko Yakushi, istri dokter muda itu muncul. Wanita itu masih sama anggunnya seperti yang ia ingat.

"Ah, selamat siang, Dokter Yakushi," balas Sai. Ia berjalan mendekat pada keluarga kecil itu. "Selamat siang, Michi, Akio," Sai membelai kepala lembut bocah dalam gendongan sang dokter.

"Sai," ucap Michiko sambil tersenyum. "Senang bertemu kau lagi."

"Aku juga," Sai membalas senyumnya.

"Baru selesai check up, kukira?" tanya dokter Yakushi. "Bagaimana kabarmu?"

"Sudah lebih baik, Dok. Mereka bilang aku sudah bisa mulai masuk sekolah besok. Aku sudah tidak sabar…"

"Itu bagus. Ah, kami baru saja mengimunisasikan Akio," dokter Yakushi mengerling ruangan bagian anak di belakangnya. "Kami berencana makan siang di Konoha City Square setelah ini. Kau berminat bergabung?"

"Terimakasih, Dok," tolak Sai halus seraya melempar senyum menyesal, "Pasti akan sangat menyenangkan. Tapi saya tidak bisa."

"Ah, kau ada rencana lain?" tebak sang dokter.

Sai mengangguk. "Saya harus menjenguk seorang teman."

Mendengar kata 'teman' dari mulut salah satu klien-nya yang antisosial itu membuat dokter muda itu menyunggingkan senyum. Sepertinya terapi yang diberikannya pada Sai memang membuahkan hasil yang sangat baik. Shin pastilah senang sekali kalau melihat ini dari atas sana, pikirnya.

"Sayang sekali, Sai," kata Michiko dari samping suaminya. "Tapi lain kali kau harus mampir ke rumah, ya. Akio pasti senang sekali kalau bisa bermain lagi denganmu." Wanita itu mengulurkan tangan membelai putranya dengan penuh cinta. Akio mengeluarkan suara manja seraya menggapai-gapai ke arah ibunya dari bahu ayahnya. Dokter Yakushi tertawa, lalu mencium lembut sisi kepala putranya. Akio tertawa kegelian.

Sai tersenyum melihat adegan sarat kasih sayang di depannya itu. Ini memang bukan pertama kalinya ia menyaksikan ini, tapi tetap saja, ada perasaan nyaman dalam hatinya. 'Apa ayah dan ibuku dulu juga begitu, ya?' ia bertanya-tanya dalam hati.

"Baiklah, Sai. Kalau begitu kami pergi dulu, ya," pamit sang dokter.

Kemudian keluarga kecil itu berjalan menjauh ke arah lift. Terdengar bunyi dentingan ketika lift itu membuka. Sai baru saja akan berbalik untuk melanjutkan perjalanannya ke kamar rawat Naruto ketika ia melihat seorang gadis berambut merah muda baru saja keluar dari lift. Gadis itu mengangguk sopan ketika berpapasan dengan dokter Yakushi sebelum akhirnya ia menoleh ke arah Sai.

Sakura Haruno tersenyum cerah. "Sai!" panggilnya seraya melambaikan tangannya. Gadis itu berlari-lari kecil ke arahnya. "Baru selesai check up?"

"Hmm," Sai mengangguk. "Aku sudah bisa mulai masuk sekolah lagi besok."

"Benarkah? Baguslah…" ucap Sakura berseri-seri.

"Bagaimana sekolah?" tanya Sai.

"Biasa saja," Sakura mengangkat bahunya, bibirnya agak mengerucut. "Agak sepi sebenarnya. Tidak ada Naruto, tidak ada Sasuke—"

"Sasuke tidak masuk?" tanya Sai heran.

"Ya begitu deh. Tidak tahu kemana orangnya…" Sakura menghela napasnya. Ia mengedarkan pandangannya sejenak sebelum kembali pada Sai. "Yuk, kita ke tempat Naruto. Bisa-bisa dia nanti ngambek kalau kita telat," guraunya seraya tertawa kecil.

Ruang rawat Naruto letaknya tidak jauh dari sana, di dekat bagian orthopedy. Mereka hanya butuh jalan sebentar menyusuri koridor itu sebelum berbelok ke koridor selanjutnya. Kamar Naruto terletak tepat di depan nurse station. Mereka mengetuk pintu geser itu pelan.

"Masuk!" terdengar suara Naruto dari dalam.

Naruto sedang berjalan tertatih-tatih memutari ranjangnya dengan kruk menyangga ketiaknya ketika mereka menggeser pintunya terbuka. Cowok itu menoleh dan langsung nyengir lebar begitu melihat dua orang yang dikenalnya.

"Sakura!" sambutnya senang. "Sai!!"

"Un… halo," balas Sai agak canggung seraya melambaikan tangannya sedikit.

"Naruto!" seru Sakura seraya berjalan masuk untuk menghampiri temannya itu. "Kau sudah bisa turun?"

"Yeah, begitulah. Tapi harus pakai tongkat," Naruto menggoyangkan kruk di lengan kirinya dengan canggung. "Masih belum terbiasa, tapi kuharap ini tidak akan lama." Ia lalu melirik ke arah pintu yang baru saja ditutup Sai. Ada ekspresi kecewa samar di wajahnya. "Jadi Sasuke benar-benar tidak datang, ya?"

Sakura tersenyum lemah padanya. "Kan tadi sudah kubilang dia tidak masuk sekolah, Naruto. Atau kau pikir aku bohong?"

"Oh, bukan begitu," kata Naruto buru-buru. "Hanya heran saja, kenapa tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dihubungi juga tidak bisa," ia menggerutu jengkel. "Padahal katanya dia akan datang, kan?"

"Mungkin Sasuke ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan, dan dia lupa membawa ponselnya," usul Sai masuk akal.

"Yeah, mungkin saja," sahut Naruto, masih tampak agak kesal dengan ketidakhadiran salah satu karibnya itu. Ia berjalan tertatih ke arah tasnya yang diletakkan di atas bangku di dekat jendela dan mulai memasukkan barang-barangnya yang masih tercecer.

Sakura bergegas maju untuk membantunya. "Tidak apa-apa. Kan masih ada aku dan Sai."

Naruto menoleh menatap wajah gadis yang berdiri di sampinya. Seulas senyum muncul lagi di wajahnya. Benar juga, pikirnya. Bersungut-sungut seperti apa pun tidak akan membuat si bodoh Sasuke tiba-tiba muncul di sana. Masih ada gadis pujaannya, Sakura, dan Sai yang menjemputnya pulang. Tidak ada yang mesti dikeluhkan lagi. "Benar juga," ujarnya dengan nada kembali ceria.

"Um… ada yang bisa kubantu, tidak?" Sai bertanya ragu-ragu sembari menggaruk pipinya dengan sikap canggung.

Kedua temannya menoleh ke arahnya, menatapnya dengan pandangan aneh sejenak sebelum tawa mereka pecah berderai. Sai mengerutkan dahinya dengan bingung, bertanya-tanya sendiri apa ia telah melakukan sesuatu yang lucu sampai Naruto dan Sakura tertawa seperti itu.

"Um… bisakah kau mengambil komik yang di meja itu, Sai? Terimakasih…"

Tepat saat itu pintu kamar sekali lagi digeser membuka dan Iruka Umino muncul dengan membawa kertas admistrasi. "Oh, ada Sakura dan Sai rupanya," katanya pada kedua teman putranya.

"Selamat siang," sapa Sakura sopan. Sai mengangguk canggung pada Iruka. Pria itu balas mengangguk sambil melempar senyum hangat khas-nya.

"Mereka kan datang khusus untuk menjemputku, Pap!" gurau Naruto sambil nyengir lebar.

"Huu… ge-er!" Sakura meninju lengan Naruto main-main. Gadis itu terkekeh-kekeh.

Naruto tertawa sembari menutup ritsleting tasnya. "Bisa pulang sekarang, kan, Pap?" ia bertanya pada Iruka.

"Kalau kau sudah siap. Tidak ada yang ketinggalan, kan?"

"Yap. Semuanya sudah masuk!" Naruto menepuk tasnya.

Selang beberapa menit kemudian, keempatnya sudah berada di lapangan parkir, bersiap pulang. Naruto tampak sumringah dan bersemangat. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Sudah bosan rasanya ia terus-terusan berada di rumah sakit. Terlebih –ia melirik Sakura yang berdiri di dekatnya, hendak membantunya naik ke wagon cokelat milik Iruka—ini adalah kali pertama gadis yang disukainya itu mengunjungi rumahnya!

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Sakura keheranan.

"Tidak," sahut Naruto cepat-cepat, menyembunyikan cengirannya. "Tidak ada apa-apa, kok."

Sakura melempar pandang bingung padanya sejenak sebelum kemudian membantu Naruto naik ke bangku penumpang di depan sementara Iruka memasukkan barang-barang Naruto ke bangku belakang dengan dibantu Sai.

"Kalian berdua masuklah," kata Naruto pada kedua temannya seraya menunjuk ke bangku belakang mobil itu.

"Tidak perlu. Aku bawa mobil," sahut Sai sambil menunjuk Porsche merahnya yang kebetulan diparkirkan tepat di samping wagon Iruka. "Aku akan mengikuti kalian dari belakang."

"Eh?" Naruto dibuat tercengang melihat mobil milik Sai. Ia memang belum pernah melihat Porsche Sai sebelumnya, dan untuk beberapa saat ia hanya bisa melongo. "Wow…" desahnya terpesona. "Eeh.. tunggu dulu," katanya cepat-cepat pada Sakura yang hendak naik ke bangku belakang. "Sakura ikut Sai saja. Tidak enak kalau dia sendirian."

Sakura mengangkat alisnya. "Tidak apa-apa? Sai—" gadis itu melirik Sai.

Sai mengangkat bahunya. "Terserah kalian saja."

"Oh, oke." Sakura lantas menutup kembali pintu wagon itu.

Suara pintu mobil yang ditutup kembali mengalihkan perhatian Naruto. Rupanya Iruka juga sudah duduk di belakang kemudi dan sedang memasang sabuk pengamannya. Naruto cepat-cepat memakai sabuk pengamannya juga.

"Sampai ketemu di rumahku kalau begitu, Sakura, Sai," kata Naruto pada dua temannya.

"Kami duluan," kata Iruka sambil melambaikan tangan sekilas tepat sebelum Naruto menutup jendelanya. Wagon cokelat itu lalu melaju perlahan meninggalkan area parkir Rumah Sakit Konoha.

"Kau beruntung punya teman-teman yang baik seperti mereka, Nak," ujar Iruka sementara mobil mereka mulai memasuki lalu lintas kota Konoha yang padat.

Naruto menyeringai lebar mendengar komentar ayahnya. "Tentu saja, Pap. Aku adalah orang yang paling beruntung di dunia; mendapatkan teman baik seperti mereka dan punya ayah paling hebat sedunia seperti Pap."

Iruka tertawa. "Kau ini bisa saja, Naruto!"

.

.

.

"Sabuk pengaman?" Sai mengingatkan gadis yang duduk di sebelahnya ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.

"Oh, yah." Sakura segera memasang sabuk pengamannya sementara Sai menyalakan pemanas. Gadis itu seketika merasakan jok nyaman yang didudukinya menghangat, membuat tubuhnya yang tadi sempat sedikit menggigil karena udara dingin di luar menjadi lebih rileks. "Hangat sekali, Sai," komentarnya.

Sai hanya tersenyum kecil sembari menyalakan mesin mobilnya. Mesin mobil itu menyala dengan suara yang sangat minimal, bisa dibilang nyaris tak terdengar. Dan tak perlu waktu lama sebelum akhirnya Porsche itu melaju mulus mengikuti wagon yang sudah agak jauh di depannya.

Sakura mengedarkan pandangannya, mengagumi setiap detil interior mobil Sai. Kendaraan orang kaya memang berbeda, ia membatin. Sangat nyaman dan pastilah dirawat dengan sangat hati-hati dan mahal. Ah, rasanya tidak percaya bahwa ini adalah mobil yang sama dengan yang pernah nyaris menabraknya tempo hari. Dan pemiliknya… mata zamrudnya kini terarah pada cowok di belakang roda kemudi. Sai sudah banyak berubah sejak saat itu…

"Ada apa, Sakura?" suara Sai mengejutkannya. "Ada apa tersenyum sambil menatapku seperti itu?"

Sakura tertawa kecil. "Ah, tidak apa-apa," ujarnya sambil berpaling, menatap jalanan di depan mereka sesaat sebelum menatap Sai lagi, tersenyum. "Hanya teringat masa lalu. Kau pernah nyaris menabrakku dan Sasuke dengan mobil ini. Ingat?"

Sai tersenyum, kendati pun tatapannya masih terkonsentrasi ke depan. "Hn. Aku ingat. Maafkan aku."

"Kau sudah minta maaf, sebetulnya," kata Sakura mengingatkan.

"Tapi waktu itu kau dan Sasuke masih marah."

"Sekarang kan tidak lagi," ujar Sakura.

Wajah Sai tampak agak muram. "Tapi Sasuke tampaknya masih belum memaafkan aku."

Sakura tersenyum lemah. Ingin sekali ia mengatakan bahwa Sasuke telah memaafkannya, tapi ia tahu yang dikatakan Sai benar; Sasuke masih marah padanya. Gadis itu menghela napas, lalu berkata pelan, "Suatu saat nanti dia pasti akan memaafkanmu, Sai." Sakura mengulurkan tangannya, menepuk lengan Sai lembut. "Aku dan Naruto pasti akan membantumu. Jadi kau tenang saja, oke?"

Sai hanya melempar senyum berterimakasih pada gadis di sebelahnya. Kemudian mereka terdiam agak lama.

"Sai?" celetuk Sakura kemudian, saat mereka sudah memasuki wilayah yang lebih asri.

"Hn?" Sai melirik gadis di sebelahnya sekilas sebelum kembali menatap jalan di depan mereka.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu saja."

"Un… sebenarnya apa alasanmu pindah dari KAA ke sekolah umum?" tanya Sakura, menatap cowok di sampingnya. "Padahal setahuku sekolah itu sangat bagus, bukan?"

Sai tampak mempertimbangkan jawabannya selama beberapa saat. Ia menyapu rambut hitamnya yang terjatuh ke matanya sebelum menjawab, "Memang ada alasan khusus." Ia terdiam sejenak. "Aku mencari seseorang yang kupikir akan membantuku menyelesaikan masalahku."

Sakura mengangkat alisnya. "Apa kau menemukan orang itu?"

Sai menggeleng. "Tidak. Tapi aku menemukan yang jauh lebih baik. Kau, Naruto dan er—Sasuke." Ia menyebutkan nama terakhir lebih pelan. "Kau pasti sudah tahu masalahku dari buku harianku, bukan?"

Sakura merasakan wajahnya memanas. Diingatkan akan kelancangannya membaca yang bukan haknya membuatnya malu dan tidak enak hati. Tapi betapa herannya ia mendengar nada suara Sai yang biasa saja saat membicarakannya, seakan ia sama sekali tidak peduli.

"Um.. yeah," kata Sakura canggung.

Diam lagi.

"Dulu aku ingin sekali bersekolah di Konoha Art Academy," celetuk Sakura tiba-tiba. "Itu sekolah impianku sejak kecil." Gadis itu tersenyum. "Dari dulu aku sudah jatuh hati pada dunia akting. Mungkin karena sejak kecil mendiang ayahku kerap membawaku menonton pertunjukan teater dan film di kota. Sejak saat itu aku bercita-cita ingin menjadi seorang aktris professional." Ia menoleh pada Sai. "Dan aku jadi ingin sekali belajar akting di KAA. Kudengar di sana banyak lahir aktris dan aktor hebat, bukan?"

Sai mengangguk. "Yeah. Tapi… kalau kau begitu ingin belajar akting di sana, mengapa tidak mendaftar saja?"

Sakura tersenyum lemah. "Karena biaya bersekolah di sana jauh lebih mahal dari pada di sekolah biasa. Aku tidak ingin merepotkan orangtuaku. Apalagi saat itu keuangan keluargaku terfokus untuk pengobatan kakakku."

Sai tidak menanggapi apa-apa. Ia sama sekali tidak tahu menahu soal biaya sekolah di KAA yang mahal, karena selama sekolah di sana, semuanya sudah terjamin untuknya selaku cucu dari pemilik sekolah seni bergengsi di Konoha itu.

"Ngomong-ngomong," kata Sakura kemudian. "Waktu di KAA, kau mengambil apa?"

"Aku di Departemen Seni Rupa," jawab Sai, "Divisi Lukis. Meski begitu kami juga tetap mendapat pelajaran-pelajaran seni dasar yang lain."

"Kedengarannya sangat keren," Sakura terkagum. "Aku ingin sekali ke sana kapan-kapan. Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat penjagaanya yang ketat."

Sai tertawa kecil. "Tidak juga kok. Aku bisa mengajakmu ke sana kalau kau mau."

Sakura mengangkat alisnya. "Tapi kau kan sudah bukan siswa di sana lagi. Mana bisa—"

"Bisa saja," sahut Sai enteng. "Karena kakekku ada pemilik tempat itu, jadi aku bisa bebas ke sana kapan saja aku mau."

Sakura tercengang. Sai tidak pernah sekali pun menyebut-nyebut soal keluarganya yang ternyata adalah pemilik KAA, dan informasi ini tentu saja membuatnya terkejut setengah mati. "Kau pasti bercanda, kan?!" tanyanya tak percaya.

Sai tertawa. "Aku serius. Kalau kau tidak percaya, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sana. Kau atur saja waktunya. Kau mau, kan?"

"MAU! Mau banget!" seru Sakura senang.

"Aku juga ingin memperkenalkanmu dengan temanku di sana. Dia pelajar pertukaran dari Suna School of the Art. Dia di Departemen Seni Musik, Divisi Biola."

"Sepertinya bakal menyenangkan, Sai. Trims, ya.."

Hujan mulai turun rintik-rintik ketika akhirnya mereka tiba di kediaman sederhana keluarga Umino di Fox Street tidak sampai dua puluh menit kemudian. Namun angin musim gugur yang bertiup dan udara yang semakin dingin tidak lantas menyurutkan niat beberapa tetangga Naruto di kompleks itu keluar untuk menyapa, sekedar menanyakan kabar atau memberi selamat atas kemenangan remaja berambut pirang itu di pertandingan tempo hari.

Benar-benar lingkungan yang ramah, pikir Sai takjub sembari membantu Iruka menurunkan barang-barang Naruto dari mobil, sementara Naruto membalas sapaan para tetangganya yang ramah. Sakura, yang notabene tinggal di lingkungan yang tidak jauh berbeda, tidak merasa heran lagi. Yang membuat ia terkejut adalah betapa populernya tampaknya Naruto di kompleks itu. Sampai-sampai, saat mereka sudah berada di dalam rumah yang hangat, para tetangga berdatangan silih berganti, membawakan sesuatu—termasuk sekeranjang roti kismis buatan sendiri yang masih hangat dan makanan kecil lain—untuk menyambut kepulangan Naruto dari rumah sakit. Tidak mengherankan Naruto sangat merindukan rumah selama ia dirawat.

Iruka juga telah menyuguhi kedua tamu putranya dengan sari jahe yang menghangatkan badan sementara mereka duduk-duduk di ruang keluarga yang hangat. Naruto bercerita dengan penuh semangat kepada Sai tentang detil pertandingan sepak bolanya sementara Sakura mengedarkan padangannya berkeliling.

Ruangan itu kecil, tapi sangat nyaman didominasi warna pastel. Satu set sofa tua berwarna cokelat gelap terletak di salah satu sisi ruangan di dekat rak buku dan di atasnya terdapat sebuah foto keluarga berukuran besar—Iruka yang lebih muda dari yang sekarang, merangkul seorang wanita mungil berambut pirang yang sedang menggendong Naruto yang masih kecil. Ketiganya tampak tertawa. Benar-benar memperlihatkan keluarga kecil yang bahagia—Di depannya, sebuah lemari tua berukir dengan sebuah televisi berukuran sedang. Pemanas listrik diletakkan di sudut ruangan, di dekat sebuah kursi berlengan di sisi jendela tinggi di mana sekarang Naruto sedang duduk nyaman. Sai duduk di bangku bundar kecil di depannya.

Sakura lantas mendudukkan diri dengan nyaman di atas sofa sambil menghirup minuman hangatnya, sesekali menanggapi obrolan seru kedua cowok itu, sebelum ia melihat majalah sekolah tergeletak di atas meja. Gadis itu lalu meletakkan cangkirnya dan mengambil majalah dengan sampul depan rombongan kontingen Konoha yang berlaga di kejuaraan olahraga dan seni di Ame beberapa minggu yang lalu. Dan seingatnya, edisi itu jugalah yang memuat artikel tentang ia, Naruto dan Sasuke.

Sakura tersenyum sendiri saat membaca kembali artikel yang ditulis Hinata itu. Entahlah, padahal sudah lebih dari dua kali ia membacanya, tapi tetap saja tidak bisa menahan diri untuk tertawa kecil, atau setidaknya tersenyum simpul. Terlebih saat melihat deretan foto di sana. Ia. Naruto. Sasuke.

Sasuke…

Gadis itu menghela napas. Ketidakmunculan Sasuke seharian ini membuatnya kembali kepikiran. Barangkali benar apa yang dikatakan Sai tadi, barangkali Sasuke ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggal. Tapi… Sakura tiba-tiba saja merasa gelisah. Mau tidak mau ia mulai mencemaskan Sasuke.

Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Sasuke? Sakura membatin. Namun dengan cepat ditepisnya pikiran tidak enak itu dari kepalanya dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Sasuke baik-baik saja.

Sakura dan Sai masih di sana sampai hujan akhirnya berhenti. Hari sudah hampir gelap saat itu.

"Kami pulang sekarang, Naruto," pamit Sakura seraya beranjak dari sofa. "Kau istirahatlah."

Naruto tampak agak kecewa, tapi cepat-cepat ditutupinya dengan cengiran lebar yang sudah menjadi ciri khasnya. "Oke." Ia lantas bangkit juga dari duduknya untuk mengantar kedua temannya sampai ke pintu depan. "Terimakasih sudah menemaniku hari ini, Sakura, Sai," ucapnya sambil tersenyum.

"Oh, ya!" Sakura nyaris saja melupakan sesuatu. Gadis itu buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku. "Aku sudah menyalinkan catatan dan PR untukmu selama dua hari ini, Naruto. Supaya kau tidak ketinggalan pelajaran," ia menambahkan ceria sambil mengulurkan buku itu pada Naruto yang tercengang.

Cowok itu tampaknya tidak tahu harus menanggapi apa atas kebaikan Sakura itu, mengingat ia tidak terlalu suka belajar. Tapi toh ia menerimanya juga seraya menggumamkan terimakasih.

"Lho, sudah mau pulang, ya?" tanya Iruka yang baru saja muncul dari arah dapur. Di tangannya, ia memegang sebuah mug kopi yang masih mengepulkan uap.

"Sudah sore, Paman," Sakura menyahut agak kaku—ia sedang membiasakan diri memanggil Iruka dengan sebutan 'Paman'—"Kami tidak ingin mengganggu istirahat Naruto."

"Ah, ya," kata Iruka sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan kalau begitu, Nak. Sai, jalan di pertigaan di depan agak licin kalau habis hujan. Sebaiknya kau menyetir pelan-pelan saja," ia menambahkan pada Sai yang sudah berdiri di pintu.

Sai mengangguk. "Baik. Terimakasih."

"Aku juga sudah mengopikan catatan pelajaran untukmu, Sai," kata Sakura pada Sai ketika keduanya sedang berjalan melewati halaman berumput rumah Naruto. "Tapi aku tidak membawanya sekarang. Kukira kita tidak akan bertemu hari ini."

Sai melirik Sakura, tampak terkejut sekaligus terharu. Meskipun ia tidak begitu membutuhkannya mengingat Yuugao telah menghubungi pihak sekolah untuk meminta copy mata pelajaran yang tertinggal selama Sai absen. Tapi rasanya tidak enak kalau harus menolak jerih payah Sakura untuknya. Ia merasa harus menghargainya juga. "Kau baik sekali, terimakasih."

Sakura tersenyum manis padanya. "Sama-sama. Itulah gunanya teman, bukan?"

"Ya. Kurasa begitu." Sai membalas senyumnya.

Mereka masih melihat Naruto berdiri di beranda rumahnya, mengawasi, ketika mereka sudah berada di dalam Porsche Sai, bersiap pulang. Sai menurunkan jendela dan mereka melambai ketika mobil itu melaju perlahan. Naruto balas melambaikan tangan.

Sudah beberapa hari setelah ia kembali bersekolah sejak ayahnya meninggal, Sakura selalu pulang ke Blossoms Café untuk makan malam di sana dan pulang bersama ibunya. Dan ke sanalah Sai mengantarnya. Restoran itu tampak sedang lengang ketika mereka tiba di sana. Sakura bisa melihat Izumo sedang membereskan salah satu meja di dekat jendela saat Sai menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu depan restoran.

"Tidak mau mampir dulu, Sai?" tawar Sakura.

Sai menggeleng. "Sudah terlalu sore. Aku harus pulang sekarang."

"Baiklah. Tapi lain kali kau janji mau mampir, kan?" kata Sakura. Sai tersenyum dan memberikan janjinya. "Terimakasih tumpangannya, Sai!" ucap Sakura ceria sebelum turun dari mobil. Gadis itu mengawasi di sana sampai akhirnya mobil Sai menghilang di ujung jalan.

"Ehem!" terdengar suara dari arah restoran. Sakura menoleh dan mendapati Kotetsu sedang berdiri di pintu, nyengir lebar. "Wah wah wah… sepertinya ada yang baru diantar pulang pangeran berkuda merah nih?" godanya.

Sakura memutar bola matanya dan tertawa. "Mana ada kuda merah, ngaco!" kekehnya sambil berjalan ke arah pintu masuk.

"Yang tadi itu pacarmu?" tanya Kotetsu ketika Sakura berjalan masuk melewatinya. Kotetsu lalu melepaskan pegangannya pada pintu, membiarkan pintu itu berayun menutup.

"Sembarangan saja ngomong!" sembur Sakura sambil mencubit lengan Kotetsu keras-keras sampai cowok itu meringis kesakitan. "Dia itu temanku, tahu!"

"Hoho… ternyata Nona Sakura teman cowoknya bertambah lagi, ya?" timbrung Izumo ketika ia lewat sambil membawa setumpuk piring dan gelas kotor. Ia terkekeh-kekeh. "Padahal kan dulu kayaknya anti banget main sama cowok."

"Izumo, apaan sih!" Sakura cemberut padanya juga. Kalau saja Izumo tidak sedang membawa tumpukan piring, Sakura pastilah sudah menyerangnya juga.

"Jangan dengarkan mereka, Sakura," kata Isaribi yang baru saja selesai mengantar pesanan. Gadis itu melempar pandang galak pada kedua rekannya yang memang terkenal jahil itu. "Kotetsu, cepat antarkan pesanan ke meja nomer sepuluh!" katanya pada Kotetsu. "Izumo—"

"Iya iya, beres, Bos!" potong Izumo seraya melesat ke arah dapur bersama Kotetsu.

Isaribi menghela napas keras-keras dengan lelah, mengangkat tangannya untuk menyeka rambut yang terjatuh ke pelipisnya. "Harap maklum, Sakura. Mereka berdua habis ditolak lagi oleh Ayame. Makanya bawaannya ingin mengganggu orang terus. Kau tahu, kan?"

Sakura tertawa kecil. "Lalu kenapa tidak kau hibur saja…" ia memberi Isaribi tatapan nakal tapi penuh arti, "Si Izumo. Mungkin setelah itu dia akan—"

Tapi sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, Isaribi segera menyambar lengan gadis itu. "Ssstt… jangan keras-keras. Nanti kalau ada yang dengar bagaimana?" desisnya dengan wajah merah padam. Membuat Arashi Fuuma yang kebetulan lewat melempar pandang ingin tahu pada kedua gadis itu. Sakura hanya mengikik geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Iya iya…" Sakura menyilangkan jadi di depan bibirnya yang terkatup menahan senyum. "Sudah ah. Aku mau ke ibu dulu. Sana kerja lagi!"

Isaribi mendadak memasang tampang seperti seorang dayang kerajaan yang anggun. "Baik, Tuan Putri…" ujarnya sambil sedikit menekuk lututnya. Kemudian berlalu dari sana, meluncur untuk menyambut tamu yang baru datang. Sakura tertawa melihat tingkah salah satu karyawan ibunya itu.

"Sakura, sayang?"

Sakura segera menoleh ke sumber suara. Ibunya telah memanggilnya dari konter. Wanita itu melambai ke arahnya dari samping seorang gadis berambut cokelat berkucir yang sedang menuangkan kopi ke cangkir salah satu tamu mereka, Ayame.

"Ibu!" balas Sakura sambil berjalan menghampiri meja konter.

"Sudah pulang? Bagaimana kabar Naruto?" tanya Azami setelah putri tunggalnya itu duduk di bangku tinggi di belakang meja dan melepas tas yang dicangklengkan ke bahunya.

"Sudah lebih baik. Tapi dia masih perlu dibantu kruk kalau berjalan," sahut Sakura seraya mengulurkan tasnya pada sang ibu, yang segera menyimpankan tasnya di bawah meja.

Azami tersenyum simpul. "Yah, mudah-mudahan dia cepat sembuh," ujarnya. "Kau mau makan sekarang, Nak?"

Sakura menggeleng. "Belum terlalu lapar, Bu. Nanti saja bareng Ibu."

Gadis itu kemudian memutar kursinya membelakangi konter sementara ibunya kembali sibuk dengan pelanggan yang baru saja memesan secangkir kopi. Sakura mendesah sambil mengedarkan pandang ke sekeliling restoran yang telah dikelola keluarganya selama lebih dari dua dekade itu. Sakura sangat menyukai restoran keluarganya ini, selain suasananya sangat ramah dan hangat, banyak juga kenangan manis yang terjadi di sini.

Dulu, mendiang kakaknya, Himeko Haruno, senang sekali bereksperimen di dapur bersama Yamato. Tidak peduli mereka sering dimarahi Azami karena seringnya gagal dan membuat dapur berantakan. Tapi dua sejoli itu tidak pernah kapok, sampai akhirnya mereka berhasil menciptakan resep-resep andalan di restoran itu. Meskipun dulu mereka seringkali bertengkar, toh Sakura tetap merindukan keberadaan sang kakak yang berperangai lemah lembut itu mondar-mandir di restoran.

Lalu pandangannya jatuh pada panggung kecil di ujung. Alat-alat musik milik band ayahnya dulu—termasuk beberapa buah gitar, bass dan sebuah drum—masih bertengger manis di sana. Juga music box peninggalan ayahnya pun masih melantunkan lagu-lagu lawas yang terdengar samar-samar di sudut, tampak tua dan tidak dipedulikan. Padahal Kotetsu dan Izumo pernah beberapa kali mengutak-atik mesin itu supaya suara yang keluar lebih keras, tapi sepertinya mereka tidak begitu berhasil.

Meski begitu Sakura masih bisa mendengar lantunan Unchained Melody milik Elvis Presley mengalun merana dari alat itu,

Lonely rivers flow to the sea, to the sea..

To the open arms of the sea

Lonely rivers sigh, wait for me, wait for me..

I'll be coming home, wait for me

Sakura ingat betul lagu ini. Karena ayah dan ibunya sering berdansa diiringi lagu ini. Ah, tiba-tiba saja ia jadi sangat merindukan sang ayah, sampai-sampai tidak menyadari matanya basah. Gadis itu mengerjap kaget ketika ibunya menegurnya dan bertanya apa ia baik-baik saja. Sakura buru-buru menyeka basah di matanya lalu mengangguk cepat. Tepat saat itu Kotetsu muncul dari arah dapur, tampak kepayahan membawakan pesanan. Sakura bergegas maju untuk membantunya, menggunakan kesempatan itu supaya ibunya tidak mulai mencemaskannya lagi.

"Matamu basah," celetuk Kotetsu ketika mereka baru saja meninggalkan meja nomer sepuluh dan sekarang sedang berdiri di dekat pintu kaca, menunggu kalau-kalau ada pelanggan yang datang. Bola mata gelap Kotetsu sedikit menyipit, mengawasi Sakura. "Kau baik-baik saja?"

Sakura tidak langsung menjawab, melainkan menari-narik ujung rambut merah mudanya yang terjatuh di bahunya. "Aku cuma sedang teringat kakak dan ayah," ujarnya kemudian.

"Hmm…" Kotetsu mengangguk mengerti. "Siapapun akan kehilangan mereka. Himeko gadis yang sangat menyenangkan dan Tuan Haruno… beliau sudah seperti ayah bagi kami semua di sini." Ia terdiam sejenak. "Mungkin kau tidak tahu, tapi tempat ini," ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran, "pernah mengalami masa-masa berkabung setelah mereka pergi. Orang-orang menjadi tidak banyak bicara, bertampang sedih dan segala macam lagi—kalau kau mengerti maksudku."

"Ya. Aku tahu," sahut Sakura. Tentu saja, karena Ino yang pernah datang di masa-masa itu, menceritakan semuanya padanya.

Ah, kenapa tiba-tiba saja suasananya menjadi mellow seperti ini, sih? Sakura membatin. Dan mengapa hatiku mendadak berdebar-debar begini? Perasaanku tidak enak…

"Ah, dia datang lagi," ujar Kotetsu seraya menoleh ke luar, memandang ke lapangan parkir depan.

Sakura mengikuti arah pandangnya dan melihat seekor anjing berbulu kecokelatan muncul dari ujung jalan, berlarian ke arah lapangan parkir sambil menggonggong keras. Kening gadis itu berkerut. Sepertinya anjing itu tidak asing baginya.

"Anjing itu kelihatan gelisah, kan? Kasihan. Mungkin dia kehilangan majikannya.." Kotetsu menggeleng-gelengkan kepala.

"Rufus," celetuk Sakura. Ia akhirnya mengenali anjing itu. Retriever tampan berbulu cokelat milik Sasuke, tidak salah lagi. Tali lehernya yang berwarna hitam juga sama.

"Apa?" Kotetsu memandang gadis di depannya bingung.

"Rufus," ulang Sakura, "Anjing temanku. Apa yang dilakukannya di sini?" Gadis itu lalu beranjak dari sana, mendorong pintu kaca itu terbuka dan melangkah ke arah lapangan parkir yang lengang.

Seakan melihat ada yang dikenalnya, si anjing segera berlari menghampirinya. Melompat-lompat ke arahnya.

"Hei, Rufus," sapa Sakura sambil berlutut, menggaruk leher anjing yang tampak luar biasa gelisah itu. "Ada apa?"

Rufus menyalak keras lalu berjalan mondar-mandir.

"Rufus?" Sakura mulai merasa aneh dengan tingkah anjing itu. Dan setelah ia menegakkan diri, Rufus melakukan gerakan aneh, lalu mulai menyundul-nyundul kaki Sakura, seakan mendesaknya untuk bergerak.

"Kurasa dia ingin kau mengikutinya," kata Kotetsu dari pintu. "Kalau kau memang mengenalnya, kurasa dia dari tadi mondar-mandir kemari untuk mencarimu, Sakura."

"Dia mondar-mandir kemari dari tadi?" Sakura bertanya.

"Yeah. Dari tadi siang tepatnya," sahut Kotetsu.

Sakura menggigit bibir bawahnya. Apa yang membuat Rufus begitu gelisah sampai mondar-mandir mencarinya—kalau memang anjing itu mencarinya—seperti itu? Apakah ada hubungannya dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba melandanya? Apa ada sesuatu terjadi pada Sasuke?

"Ayo, Rufus!" seru Sakura kemudian. Gadis itu bergegas berlari melintasi lapangan parkir, mengikuti Rufus yang berlari di depannya. Sama sekali tidak menghiraukan Kotetsu yang memanggil-manggilnya dari arah restoran.

Jantungnya berdegup semakin cepat sementara ia berlari bersama Rufus memasuki Crimson Drive. Bayangan mengerikan mulai berkelebat di otak gadis itu seiring dengan semakin dekatnya mereka dari rumah nomor sembilan. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Rumah Sasuke kerampokan? Kebakaran? Atau… telah terjadi pembunuhan?!!

Oh tidak! Jangan yang terakhir…

Rumah nomor sembilan itu tampak gelap. Lampunya tidak dinyalakan padahal hari sudah mulai gelap dan para tetangga sudah mulai menyalakan lampu rumah mereka. BMW hitam yang biasanya terparkir di halaman tidak tampak. Perasaan gelisah Sakura semakin menjadi-jadi. Gadis itu bergegas menghambur ke arah pintu sementara Rufus melompat masuk lewat jendela ruang keluarga yang terbuka.

Sakura menekan bel. "Sasuke? Kau ada di dalam?"

Tidak ada jawaban, bahkan setelah Sakura menekan bel beberapa kali. Ia lantas menghantamkan tinjunya ke pintu, menggedornya dengan keras sambil memanggil-manggil Sasuke. Tapi tetap saja tidak ada jawaban—yang menjawab malah gonggongan keras Rufus. Kemudian Sakura mendengar pintu seperti digaruk dari dalam. Rufus sedang berusaha membuka pintu dengan kaki depannya. Tapi sepertinya tidak berhasil. Sakura mencoba memutar kenopnya, tapi rupanya terkunci dari dalam.

Sakura memandang berkeliling dengan bingung. Apa yang harus aku lakukan? Pikirnya panik. Lalu ia melihat jendela ruang keluarga yang terbuka—jendela yang dipakai Rufus masuk tadi. Gadis itu cepat-cepat bergerak ke sana. "Sasuke?!" ia memanggil.

Samar-samar, Sakura melihat bayangan gelap Rufus memasuki ruangan. Anjing itu menyalak padanya sebelum berlari menaiki tangga menuju lantai dua dan menghilang.

"Sasuke, kau di dalam? Kau bisa mendengarku?!" Sakura mengetuk-ngetuk daun jendela keras-keras. Tidak ada jawaban. Gadis itu mendongak ketika ia mendengar gonggongan Rufus dari atas. Sakura mundur dan melihat Rufus dari jendela atas yang terbuka. Anjing itu mengeluarkan suara-suara gelisah seakan sedang meminta Sakura naik ke sana. Lalu terdengar suara mengerang samar…

Sasuke..?? Dia ada di atas!

"Sasuke!! Kau bisa mendengarku?!"

Tidak ada jawaban dari Sasuke. Lagi-lagi Sakura hanya mendengar rintihan samar, membuat hati Sakura mencelos. Kalau benar itu suara Sasuke, sepertinya kondisinya sedang tidak baik.

"Sasuke!! Bisa kau bukakan pintu depan? Aku mau masuk!" teriak Sakura lagi.

Hanya Rufus yang membalas dengan gonggongan keras. Sakura bisa mendengar anjing itu menjauhi jendela dan beberapa saat kemudian ia melihat si anjing sudah melompat keluar dari jendela tempatnya masuk tadi. Anjing itu lalu berlari ke arah belakang rumah, membuat gerakan supaya Sakura mengikutinya. Gadis itu lantas bergegas menyusulnya. Ia lalu melihat Rufus melompati pagar samping yang tidak terlalu tinggi.

Sakura mengumpat pelan. Ooh, dia benci sekali kalau harus melakukan ini. Tapi ia harus melakukannya! Rufus sudah menyalakinya lagi dan… Sasuke. Entah apa yang terjadi padanya di atas. Akhirnya, dengan mengabaikan kemungkinan tertangkap basah tetangga Sasuke dan diteriaki maling, Sakura nekat memanjat. Sepatunya tersangkut ketika ia memanjat, membuat gadis itu terguling jatuh ke seberang.

"Aww…" rintihnya seraya bangkit berdiri. Sikunya terasa perih, tapi ia mengabaikannya saja.

Sakura menghembuskan napas lega ketika mendapati pintu kasa belakang yang terhubung dengan dapur tidak terkunci. Rufus masuk mendahuluinya lewat pintu itu dan anjing itu segera menghilang di kegelapan.

"Sasuke?" ia memanggil lagi, meraba-raba dalam kegelapan, mencari sakelar lampu. Sakura mengerjapkan matanya, mencoba membiasakan diri dengan cahaya yang tiba-tiba membanjir di ruangan itu. Gadis itu memandang berkeliling. Ruangan itu rapi, sama sekali tidak ada tanda-tanda kerampokan atau apa—Suara gonggongan Rufus menyadarkannya lagi dan Sakura bergegas mengikuti arah suara itu.

Dari lantai dua!

Sakura menaiki tangga kayu itu dengan tergesa-gesa. Koridor di depannya tampak gelap, tapi gadis itu segera menemukan sakelar dan menyalakan lampu. Salah satu pintu di koridor itu terbuka. Gelap.

"Sasuke, kau di dalam?" panggilnya ragu-ragu.

Cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menerobos masuk lewat jendela yang terbuka. Sakura menangkupkan tangan ke mulutnya, matanya melebar.

"SASUKE!!"

---

TBC…

---

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Unchained Melody © Elvis Presley

---

Oke, yang di atas itu lebay nan maksa… Ahahaha… Aku sudah membuat Sakura-chan manjat-manjat pager rumah orang dengan gaya maling jemuran gitu. Pake acara jatoh segala lagi! *disambit Sakura-chan*Uh oh… Sasuke kenapa tuh? O.o

Special Thanks to:

, Aika Uchiha, dilia shiraishi, Bunbun-chan a.k.a Hiryuka Nishimori, M4yura, Uci-chan, kakkoii-chan, Arai-chan, Nana YazuChi, Tobi-Luna a.k.a PinkBlue Moonlight, Ms. Vana.

Dan semua yang baca aja juga makasih banget~~

---

Pojok Iklan :

Temen-temen, baca fic ini yah:

'Kisah Kita' by Mrs Shiranui

'Natsuzora Gravity' by PinkBlue Moonlight

'Threat's Red Thread' by Sagashita

^_^