Mumpung sempet, update-nya agak cepet... ^_^ Happy reading!
Chapter 41
Senja sudah mulai turun di langit Konoha ketika Porsche merah itu berbelok ke jalur menuju Root Hills. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan dan Sai bisa melihat orang-orang di trotoar tampak berjalan terburu ingin segera sampai ke rumah mereka yang hangat.
Ah, cuaca seperti ini memang enak berada di dalam rumah yang nyaman sambil menikmati secangkir minuman hangat atau semangkuk sup ayam yang lezat—seperti saat ia menumpang di rumah dokter Yakushi beberapa waktu yang lalu. Tapi sekarang ia telah kembali ke rumahnya sendiri, yang kini terasa lebih hangat dan manusiawi setelah apa yang terjadi antara Sai dan kakeknya. Dan juga karena kedatangan seorang teman yang menyenangkan dari Suna.
Rasanya Sai tidak sabar ingin sampai di rumah dan menceritakan segala hal yang menyenangkan yang terjadi padanya hari ini pada teman barunya itu. Dan ia juga akan senang mendengar cerita Gaara tentang hari pertamanya di Konoha Art Academy.
Benar-benar hari yang menyenangkan, pikir Sai. Senyuman seakan enggan meninggalkan wajahnya ketika ia kembali mengingat apa yang terjadi sejak pagi tadi.
Sai menghentikan mobilnya tepat di belakang sebuah jeep hitam ketika lampu lalu lintas menyala merah. Ia mengulurkan tangan, hendak menyalakan tape mobilnya ketika matanya menangkap sesuatu teronggok di bawah jok penumpang. Sai mengernyitkan dahi, lalu mengambil benda itu. Sebuah dompet berwarna soft pink dengan gambar strawbery.
Dompet siapa?
Sai lantas membukanya dan melihat kartu pelajar atas nama Sakura Haruno terselip di antara kartu-kartu lain yang berjejalan di dalamnya, termasuk kartu telepon, kartu diskon, berlembar-lembar bon belanja, bahkan beberapa lembar karcis bioskop yang sudah terpakai—Sai sama sekali tidak mengerti mengapa Sakura tampaknya senang sekali mengumpulkan benda-benda seperti itu dalam dompetnya—Ah, pastilah terjatuh tadi, pikir Sai. Sejenak, ia menimbang-nimbang apakah akan mengembalikannya pada Sakura sekarang atau besok saja.
Sai membolak-balik dompet di tangannya beberapa saat. Ia pernah membaca di salah satu majalah lama di rumah dokter Yakushi dulu yang menyebutkan bahwa dompet adalah salah satu barang yang penting bagi perempuan. Kalau itu memang benar, Sakura pasti panik sekali kalau menyadari dompetnya hilang. Tidak peduli berapa pun jumlah uang di dalamnya—yang jelas jauh lebih sedikit dibanding isi dompet Sai.
Sai memandang ke luar jendela. Hari sudah terlalu sore kalau ia harus berputar balik ke Blossoms' Café untuk mengembalikan dompet itu sekarang, cowok itu membatin. Bahkan mungkin saja Sakura malah sudah pulang ke rumahnya—dan Sai tidak tahu rumah gadis itu ada di mana.
Ah, barangkali aku mau meneleponnya dulu, supaya Sakura tidak cemas…
Ia lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.
.
.
.
"Himeko, sarapan sudah siap, Sayang. Ayo cepat turun!" seru wanita berambut ikal yang sedang menuang telur dadar di atas piring di dapur.
Di meja makan, suami dan putri keduanya yang baru berusia sebelas tahun sudah duduk. Hiroyuki Haruno, sang suami, sedang membaca koran paginya sementara si kecil Sakura berusaha mengintip dengan penuh ingin tahu, apa yang sedang dibaca ayahnya. "Ayah, inflasi itu apa?" tanya Sakura setelah membaca satu kata yang tidak ia mengerti di sana.
Tapi sebelum ayahnya itu sempat membuka mulut untuk menjawab, sang ibu menyelanya, "Sakura, coba kau panggil kakakmu sana. Bilang sarapannya sudah siap," ujarnya seraya meletakkan piring berisi telur di atas meja, di samping piring lauk yang lain.
Sakura langsung pasang tampang cemberut. Ia paling tidak suka kalau disuruh memanggil kakaknya sarapan, karena biasanya Himeko senang sekali berlama-lama di dalam kamar, membuat adiknya kesal. Apalagi mereka habis bertengkar hari sebelumnya.
"Tidak mau! Kakak nyebelin sih. Tidak usah sarapan saja sekalian!"
Hiroyuki menurunkan korannya dan melempar pandang menegur pada putri kecilnya. "Jangan begitu, Nak. Bagaimanapun juga, dia itu kakakmu. Kau harus menghormatinya," lalu ia tersenyum lembut. "Lagipula, kakakmu itu sangat sayang padamu lho… Masih ingat kue yang dibuatnya untukmu?"
Sakura memutar bola matanya. Himeko memang sangat baik padanya, Sakura mengakui itu. Tapi justru sikapnya yang seperti itu yang membuatnya jengkel pada kakaknya. Semua orang jadi sayang pada Himeko dan menganggap Sakura sebagai yang kedua. Apa-apa Himeko. Himeko begini, Himeko begitu. Sakura iri pada kakaknya itu—tapi tentu saja ia tidak mengakuinya pada kedua orang tuanya.
"Ayo Sayang, panggil kakakmu," kata ibunya seraya menepuk lembut puncak kepala Sakura, senyumnya membujuk.
Sakura menghela napas keras. "Iya iya…"
Dan gadis cilik itu pun melompat dari kursinya dan berjalan ogah-ogahan menuju kamar Himeko yang letaknya persis di depan kamarnya.
"Kakak," panggilnya seraya mengetuk pintu kayu berpelitur itu. "Sarapannya sudah siap. Ibu menyuruhmu turun."
Tapi tidak ada jawaban dari dalam. Sakura mulai kesal.
"Kak, cepetan turun deh! Tidak usah pakai dandan segala!" Sakura menggedor pintu kamar kakaknya lebih keras.
Kali ini ia mendengar sesuatu dari dalam. Seperti suara rintihan, dan disusul oleh suara keras seperti ada sesuatu yang terjatuh dan pecah. Sakura mengernyitkan dahinya.
"Kakak? Kau baik-baik saja?" Sakura menggedor pintu lagi, mulai cemas. Tidak ada jawaban dari dalam. "Kakak, buka pintunya!"
Sekali lagi Sakura hanya mendengar erangan dari dalam. Jantungnya mulai berpacu cepat. Dengan panik, diputarnya kenop pintu kamar Himeko—yang rupanya tidak dikunci. Mata zamrudnya membeliak lebar ketika mendapati sosok kakaknya, masih terbalut gaun tidur, merintih kesakitan di atas tempat tidur. Wajahnya yang biasanya cerah tampak pucat pasi. Sebelah tangannya menggapai-gapai putus asa ke meja samping tempat tidurnya, mencoba meraih gelas yang kini sudah pecah berserakan di bawah ranjang, sementara tangannya yang satu lagi mencengkeram perutnya.
Mata hijau Himeko terarah pada sang adik yang hanya terpaku di pintu. Mata itu memandangnya dengan tatapan memohon.
"Sa—Sakura…" rintihnya. Dan saat berikutnya gadis itu mulai terbatuk. Himeko memekapkan tangannya ke mulut, tapi Sakura bisa melihatnya dengan jelas, cairan merah kental mulai berjatuhan dari sela-sela jarinya yang pucat dan kurus. Merah melebar di gaun tidur dan seprainya.
Sakura menjerit ngeri.
.
.
.
Bayangan masa lalu itu berkelebat di kepalanya ketika Sakura melihat sosok gelap Sasuke meringkuk di atas ranjang yang berantakan. Trauma itu kembali menghantamnya, membuat dadanya sesak. Cahaya temaram dari lampu jalan menerobos masuk ke ruangan gelap itu, menimpa profil Sasuke yang pucat dan seperti menahan sakit yang luar biasa.
"Sasuke!!" pekik Sakura sambil menghambur ke sisi ranjang. Gadis itu sama sekali tidak menyadari ketika cairan bening yang panas meluncur jatuh dari mata zamrudnya. Sementara itu Rufus bergerak-gerak gelisah di dekat sang tuan yang tegolek lemah.
Sasuke merintih pelan. Tangannya mencengkeram sisi kanan perutnya, kakinya tertekuk. Dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang cepat dan dangkal.
"Sasuke, kau kenapa?!" Dengan tangan gemetar, Sakura mendorong rambut hitam Sasuke dari keningnya dan merabanya. Kulit Sasuke terasa lembab oleh keringat di bawah tangannya. Ia semakin panik ketika mendapati suhu tubuh Sasuke yang abnormal. "Ya Tuhan! Tubuhmu panas!" bisiknya dengan suara bergetar.
Sasuke mengerang. Kedua matanya terpejam.
'Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?' Gadis itu membatin panik. Rasa takut yang menderanya rupanya telah membuatnya tidak mampu berpikir jernih. Dengan panik, Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang berpenerangan remang-remang itu, mencari-cari sesuatu yang ia pikir bisa membantu. Tapi ia tidak tahu apa yang dicarinya. Otaknya buntu!
Sasuke tiba-tiba saja berteriak.
"Sasuke!!" pekik Sakura ketakutan. Tangan gadis itu menemukan tangan Sasuke yang menggapai-gapai putus asa, menggenggamnya erat. "Kau bisa dengar aku? Yang mana yang sakit?"
Tapi Sasuke hanya mengerang-ngerang sambil mencengkeram sisi perutnya dengan tangannya yang bebas.
"Perutmu sakit?" tanya Sakura.
Sasuke menganggukkan kepala. Matanya perlahan terbuka, menatap Sakura dalam kegelapan. Hati Sakura mencelos. Tatapan Sasuke, sama seperti tatapan kakaknya saat itu. Memohon.
"Sa—Sakura…" rintih Sasuke.
"Iya, Sasuke, ini aku…" balas Sakura.
Sasuke mencengkeram tangan gadis itu lebih erat. "S-sakit sekali… Aku… tidak tahan lagi.."
"Tidak!" gadis itu menjerit. "Kau harus tahan! Dengar, kau tunggu di sini. Aku akan cari bantuan—"
Sakura hendak beranjak dari sana, tapi tangan Sasuke yang mencengkeram tangannya tidak mau lepas. Justru semakin erat.
"J-jangan pergi—"
"Aku tidak akan kemana-mana, Sasuke. Aku hanya pergi sebentar mencari bantuan. Ya.. Rufus akan di sini bersamamu."
Sasuke menggeleng lagi. "J-jangan pergi…"
"Sasuke," Sakura mengerang putus asa. "Dengar, kau harus ke rumah sakit sekarang juga."
"Jangan… tinggalkan aku…" cowok itu memohon. Sepertinya ia tidak tahu apa yang dikatakannya. "Aku sudah tidak—tahan…"
Sakura menggigit bibir bawahnya. Tangannya yang dicengkeram Sasuke terasa kebas, tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan adalah keadaan sahabatnya itu. Bagaimana caranya mencari bantuan tanpa meninggalkannya?
Tiba-tiba saja Sakura merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Cepat-cepat diambilnya ponselnya dari dalam saku dan lega luar biasa saat melihat nama yang dikenalnya di sana. Sai. Sakura cepat-cepat menekan tombol answer.
"SAI!" pekiknya.
"Hei, Sakura," kata suara Sai, "Aku cuma mau memberitahumu—"
"Sai, bisa kau kemari sekarang?" sela Sakura sebelum Sai menyelesaikan kalimatnya.
"Apa?"
"Sasuke sakit, Sai. Tolonglah, cepat kemari!"
"Eh? T-tapi—"
"SAI, PLEASE!! SASUKE SEDANG SAKIT SEKARANG! AKU MOHON DATANGLAH CEPAT KEMARI! PLEASE! PLEASE! PLEASE, SAI!!"teriak Sakura memohon.
Sai terdiam beberapa saat. "Baiklah. Kalian ada di mana sekarang?"
"Kami di rumah Sasuke."
"Bisa kau beritahu tepatnya rumah Sasuke di mana?"
"Crimson Drive. Tidak jauh dari restoranku. Rumah nomor sembilan."
"Aku segera ke sana. Kau tenanglah."
Sambungan terputus. Sakura kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Ia kembali menunduk pada Sasuke yang terbaring di ranjang, dengan tangannya yang bebas, disekanya keringat dari wajah sahabatnya itu. Selembut yang bisa dilakukan oleh tangannya yang masih gemetaran. "Dengar, Sasuke," bisiknya, "Sai akan segera datang dan kami akan membawamu ke rumah sakit. Kau tenang saja, ya… Jangan cemas..." Padahal ia sendiri yang cemas luar biasa.
Entah saat itu Sasuke mendengarnya atau tidak, tapi ia kelihatan jauh lebih tenang setelahnya. Sakura lalu duduk di sisinya. Dengan lengan setengah merangkul tubuh Sasuke yang lemah, ia menempelkan pipinya di kening cowok itu, merasakan kulitnya yang panas. Rufus juga telah duduk melingkar di kaki ranjang, dengan mata gelapnya yang seperti manik-manik terarah pada dua orang di dekatnya.
Air mata Sakura meluncur turun lagi dari sudut mata zamrudnya sementara ia terus berdoa, memohon supaya kondisi Sasuke tidak separah yang ditakutkannya. 'Semoga hanya sakit perut biasa,' gadis itu memohon dalam hati, 'semoga bukan penyakit berbahaya… Kumohon, jangan ambil temanku seperti KAU mengambil kakakku dulu…'
.
.
.
Gadis kecil dengan rambut merah muda berkucir itu berdiri gemetar di lorong rumah sakit, kedua lengannya yang mungil memeluk tubuhnya sendiri. Bayangan sang kakak yang berdarah-darah beberapa saat yang lalu masih membayang di depan matanya, membuatnya ngeri sekaligus takut, sangat.
Telinganya berdenging, dan suara kakaknya terngiang lagi, "Sa—Sakura…" Juga sorot matanya yang memohon…
'Kakak… Kakak… Apa yang terjadi dengan kakak sebenarnya?' Sakura terus bertanya-tanya dalam hati.
"Kanker liver stadium akhir? Tidak… Itu tidak mungkin!"
Sakura bisa mendengar suara ayahnya samar-samar dari celah pintu ruang dokter di dekat tempatnya berdiri sekarang, membuatnya tersentak kaget. Jantungnya berpacu cepat seiring dengan perasaan ngeri setelah mendengar kata-kata ayahnya barusan.
'Kanker Liver stadium akhir?'
Gadis itu menoleh, memberanikan diri mengintip ke dalam. Betapa pemandangan di dalam membuatnya terguncang. Ia tidak pernah melihat kedua orang tuanya seperti itu. Ayahnya yang biasanya tenang itu tampak murka sementara ibunya terisak hebat di sampingnya.
"Putri saya selama ini selalu sehat, Dok! Tidak mungkin dia menderita penyakit seperti itu!! Anda pasti salah mendiagnosa!!" ayahnya berteriak. "Dia masih sangat muda… Tidak mungkin dia sakit…" suaranya memelan dan pria itu terhenyak di kursi. Air matanya menderas di wajahnya. "Tidak mungkin…" Hiroyuki menyapukan tangannya ke wajahnya yang basah oleh air mata, tampak luar biasa terguncang.
"Kami benar-benar minta maaf, Tuan Haruno," ujar sang dokter dengan nada lembut. "Tapi kami sudah melakukan pemeriksaan ulang berkali-kali dan hasilnya tetap sama. Lagipula, putri Anda sudah menjalani terapi untuk penyakitnya sejak tiga bulan yang lalu. Tidakkah Anda tahu?"
Hiroyuki menggeleng. "Himeko tidak pernah bilang apa-apa. Dia tidak pernah mengeluh sakit…"
"Apakah selama itu…" kata Azami dengan suara tercekat, "Himeko berusaha menghadapi penyakitnya sendirian?"
"Saya rasa tidak begitu, Nyonya Haruno, Tuan," sang dokter menyahut, "Karena dia selalu ditemani seorang pemuda berambut gelap—"
"Yamato?" Hiroyuki tampak kaget.
'Yamato?' Sakura memekapkan tangan ke mulutnya.
"Adakah… yang bisa kalian lakukan untuk menyelamatkan putri kami, Dok?" tanya Hiroyuki kemudian. Nada suaranya terdengar putus asa.
"Operasi," kata dokter itu, tapi dari nadanya terdengar tidak begitu yakin. "Tapi kemungkinan berhasil sangat kecil, mengingat sel kankernya sudah menyebar ke organ-organ lain. Kami tidak berani menjamin, Tuan. Saya rasa yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang adalah membantunya menjalani saat-saat terakhirnya senormal mungkin…"
Sakura tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya, karena saat berikutnya gadis kecil itu sudah berlari meninggalkan tempat itu. Kedua matanya yang identik dengan mata sang kakak terasa panas dan perih sementara bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari sudutnya. Dadanya terasa sesak… 'Tidak… Tidak mungkin… Aku tidak mau ini! TIDAK MAU!! KAKAK!!'
Gadis itu baru berhenti ketika sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu kaca besar bertuliskan Intensive Care Unit. Dari salah satu jendela besarnya yang bekaca tebal, Sakura bisa melihat kakaknya terbaring di salah satu ranjangnya, tampak pucat dalam gaun rumah sakit. Alat-alat yang mendeteksi tanda-tanda kehidupannya terpasang di tubuhnya yang tampak ringkih. Sakura tidak pernah memerhatikannya sebelumnya, tubuh kakaknya itu tampak kurus kering dengan wajah tirus.
Memikirkan ini membuat dadanya sesak oleh penyesalan. Mengapa ia tidak memerhatikan kakaknya dari dulu? Padahal Himeko selalu memerhatikannya—gadis itulah yang selalu pertama kali menyadari setiap Sakura sakit—dan menyayanginya. Tapi yang diberikan Sakura pada kakaknya itu hanya luapan rasa irinya.
Suara langkah tergesa yang berasal dari ujung lorong itu membuat perhatian Sakura teralih. Ia menoleh dan mendapati Yamato sedang berlari ke arah ruang ICU dengan wajah pucat pasi. Tanpa pikir panjang, Sakura langsung menghambur ke arah Yamato, mendorongnya kuat-kuat, membuatnya terhuyung.
"KAU JAHAT!!" Sakura menjerit sambil terus memukuli mana saja bagian tubuh Yamato yang bisa diraihnya dengan tinjunya yang kecil. "KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHU KAMI KALAU KAKAK SAKIT PARAH?! AKU BENCI PADAMU!! AKU BENCI!!"
"Sakura!" Yamato tampak kaget, tapi tidak berusaha menghentikan gadis itu memukulinya. Air mata mulai jatuh dari matanya yang memerah.
Sakura terus memukuli Yamato untuk melampiaskan perasaannya sebelum akhirnya pukulannya melemah dan ia mulai terisak. Yamato segera menarik gadis yang sudah seperti adiknya sendiri itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat.
"Maafkan aku, Sakura…" bisiknya dengan suara serak di rambut merah muda Sakura. "Kau harus mengerti… Ini semua kulakukan demi kakakmu. Kau tidak tahu betapa aku ingin memberitahu orang tuamu dan juga kau. Tapi Hime memintaku bersumpah tidak memberitahukan pada siapa pun tentang kondisinya…"
"Kenapa?" Sakura menuntut di antara isak tangisnya.
"Karena kakakmu tidak ingin membuat semua orang khawatir," ujar Yamato sambil masih memeluk adik dari gadis yang sangat dicintainya. "Dia ingin semuanya berjalan normal sampai hari-hari terakhirnya. Untuk itulah ia menyembunyikan segalanya…"
.
.
.
'Tapi Sasuke sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari kami, bukan? Seperti halnya kakak…'
Sakura terlonjak kaget ketika ia mendengar bel pintu depan berbunyi. Begitu juga dengan Rufus. Anjing itu langsung melompat bangun dan menyalak keras.
"Sakura, kau di dalam?" terdengar suara Sai dari luar.
Sakura menghembuskan napas lega. Ia beranjak setelah dengan lembut melepaskan genggaman Sasuke yang sudah melonggar dan bergegas turun untuk membukakan pintu. Gadis itu menyalakan lampu ruang depan dan menyingkirkan tempat payung yang rubuh ke samping sebelum memutar kunci pintu depan. Ia sama sekali tidak menyadari hari sudah gelap sampai ia membukakan pintu bagi Sai.
"Syukurlah kau datang," ucap Sakura penuh syukur. Langsung saja ia menyambar lengan cowok itu dan menariknya masuk.
"Sasuke baik-baik saja?" tanya Sai kemudian.
Sakura menggeleng. "Suhu tubuhnya masih panas dan dia kesakitan."
Keduanya lalu bergegas menaiki tangga menuju kamar Sasuke di lantai dua. Mata Sasuke terpejam ketika Sai berjalan mendekat ke ranjangnya lalu berlutut di sisinya. Sakura juga berlutut di dekatnya, menggigit bibir. Sai mengulurkan tangan menyentuh kening Sasuke yang panas. "Sasuke, kau masih bangun? Kau bisa mendengarku?" tanyanya.
Sasuke hanya mengerang. "K-Kau—"
Mata hitam Sai sejenak memperhatikan tangan Sasuke yang mencengkeram sisi kanan tubuhnya, lalu kakinya yang tertekuk, sebelum berpaling pada Sakura. "Kurasa kita harus membawanya ke rumah sakit, Sakura."
Sakura mengangguk. "Kupikir juga begitu. Eh, ada apa?"
"Kau menangis?" tanya Sai dengan ekspresi wajah khawatir.
Gadis itu buru-buru menyekanya ketika menyadari wajahnya telah basah oleh air mata, memaksakan senyum, "A-aku tidak apa-apa… hanya… sedikit takut…"
Sai membalas senyumnya. "Jangan takut. Tenang saja, kau tidak sendirian sekarang." Mereka terdiam sejenak. "Kau sudah menghubungi keluarga Sasuke?"
Sakura tersentak. Ia baru menyadarinya sekarang; ia sama sekali melupakan Kak Itachi. Ia lantas menggeleng. "Belum."
"Kalau begitu kita harus menghubungi keluarganya secepatnya, lalu kita bawa Sasuke ke rumah sakit," kata Sai. Ia berpaling lagi pada Sasuke. "Sasuke, kami akan memanggil ambulance untuk membawamu ke rumah sakit sekarang. Tapi sebelumnya kami perlu menghubungi keluargamu dulu—"
"Aku akan hubungi Kak Itachi," sahut Sakura cepat. Gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya. Ia baru akan menghubungi nomor Itachi ketika tangan Sasuke menangkap pergelangan tangannya.
"K-Kakak… sedang tugas… di Ibu Kota…" kata Sasuke lemah. "Aku… tidak mau.. dia—cemas…"
Mendengar ini, Sakura langsung melompat berdiri seraya menyentakkan tangan Sasuke kasar. Ia memandang Sasuke dengan tatapan marah. "KAU INI BICARA APA, SIH?! TIDAK MAU MEMBUATNYA CEMAS, HAH?" gadis itu berteriak gusar. "DIA ITU KAKAKMU, SASUKE! BAGAIMANA MENURUTMU PERASAANNYA KALAU DIA TAHU KAU SAKIT TAPI KAU TIDAK MAU MEMBERITAHUNYA?!"
"S—Sakura…" Sai yang berada di sampingnya, terkaget melihat gadis itu tiba-tiba marah. Begitu juga dengan Sasuke.
Seakan baru menyadari apa yang barusan dilakukannya, Sakura memekapkan wajahnya ke kedua tangannya, berusaha menenangkan dirinya yang mendadak kalap. Gadis itu kemudian menjatuhkan diri kembali di sisi sofa. "M-maafkan aku…" bisiknya dengan suara parau. Ia mengusap air mata yang terjatuh lagi di pipinya. "Dengar, kita harus menghubungi Kak Itachi, Sasuke. Dia harus tahu kondisimu sekarang…" ujarnya kemudian dengan nada lebih lembut.
Sasuke memalingkan wajahnya beberapa lama, memikirkan kata-kata Sakura. Barangkali Sakura benar, pikirnya. Barangkali ia memang harus memberitahu kakaknya, meskipun sebenarnya Sasuke tidak ingin mengganggu konsentrasi bekerja Itachi hanya karena ia sakit. Apalagi saat ini Itachi sedang mengadakan pertemuan dengan klien penting. Tapi… kalau ia tidak memberitahu, Itachi pasti akan lebih khawatir lagi. Dan membuat kakaknya khawatir adalah hal terakhir yang ia inginkan sekarang.
"Sasuke?" Sakura mendesaknya.
Sasuke kembali berpaling pada gadis itu, kemudian mengangguk lemah.
"Biar aku saja," tawar Sai pada Sakura. "Er… bisa kau tunjukkan nomornya?"
Sakura menunjukkan nomor Itachi pada Sai yang langsung menghubunginya setelah sebelumnya menelepon nomor darurat untuk memanggil ambulance terlebih dahulu.
.
.
.
Ibu Kota…
"Tuan Uchiha?"
Itachi, yang sedari tadi tampak melamun sendirian sambil memandang ke langit malam Ibu Kota dari jendela besar di ruang rapat yang telah kosong semenjak setengah jam yang lalu itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut. "Hn?"
Wanita berkacamata tebal dengan rambut digulung ketat yang berdiri di pintu masuk ruangan tersenyum tipis. "Rapat sudah selesai dari tadi, Tuan," beritahu salah satu asisten kepercayaan Fugaku Uchiha itu, "Kami sudah menyiapkan makan malam untuk Tuan di bawah."
"Ah!" kata Itachi memutar kursinya dan beranjak. "Aku akan segera turun. Terimakasih banyak, Nona Tomoe."
Wanita itu mengangguk sekilas sebelum meninggalkan ruangan. Itachi buru-buru membereskan berkas-berkas di atas meja sebelum menyusulnya.
'Aneh,' pikir Itachi seraya menghembuskan napas lelah, menyapu rambut hitamnya ke belakang dengan tangannya yang bebas. Saat itu ia sedang berjalan menyusuri koridor menuju lift. 'Kenapa dari tadi pagi aku kepikiran Sasuke terus? Tidak biasanya begini…'
Ia baru saja akan mencapai lift ketika tiba-tiba saja ponsel di saku jasnya bergetar. Itachi segera mengambilnya, melihat nomor yang tidak dikenal tertera di layarnya.
"Halo?"
"Selamat malam," sapa suara asing di seberang. "Apa saya sedang bicara dengan Itachi Uchiha?"
Itachi mengerutkan dahi. "Ya, benar. Siapa ini?"
"Saya Sai, teman sekolah Sasuke. Saya ingin memberitahu kalau adikmu sekarang ini sedang sakit."
"APA? SASUKE SAKIT?!" Langkah Itachi mendadak berhenti. Matanya melebar dalam keterkejutan mendengar kabar yang baru saja didengarnya dari teman adiknya itu. 'Pantas saja dari pagi tadi perasaanku tidak enak.'
"Aku akan segera pulang ke Konoha sekarang juga. Aku mohon, lakukan apa pun yang kau bisa untuk membantunya."
"Kami akan segera membawanya ke Rumah Sakit Konoha."
"Ya ya… Bawa dia ke rumah sakit. Ya Tuhan, Sasuke…" Itachi memutuskan sambungan. Dengan langkah cepat, ia langsung menuju ke arah pintu lift. Setelah sampai di lobby, Itachi tidak menuju restoran untuk makan malam, tetapi langsung keluar menuju lapangan parkir. Ia bahkan tidak menyadari ketika asisten ayahnya, Nona Tomoe, memanggil-manggilnya. Ia tarus saja menuju tempat BMW-nya diparkirkan dan langsung melesat meninggalkan gedung itu—pulang ke Konoha.
.
.
.
Ambulance yang akan membawa Sasuke ke Rumah Sakit Konoha tiba di Crimson Drive beberapa waktu kemudian. Petugas medis yang datang langsung mengangkut Sasuke ke atas brankar sebelum menaikkannya ke ambulance. Beberapa tetangga yang penasaran telah keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi, termasuk nenek yang tinggal tepat di samping rumah Uchiha bersaudara itu.
"Apa yang terjadi?" tanya sang nenek pada salah seorang wanita paruh baya tetangganya.
"Anak laki-laki yang tinggal di sini, adiknya Itachi, jatuh sakit," jawabnya dengan nada menyesal. Saat itu petugas rumah sakit yang datang sedang mendorong brangkar yang mengangkut sosok lemah anak laki-laki berambut hitam ke ambulance. Sakura dan Sai berjalan di belakang mereka, bersama seekor anjing retriever yang berlari-lari kecil. "Untung saja temannya segera menemukannya. Anak yang malang…" ia menggeleng sedih.
"Benarkah?" kata si nenek. "Padahal tadi siang aku ke rumahnya untuk menawari kari buatanku, tapi tidak ada yang menjawab. Kupikir sedang tidak ada orang…"
Sementara itu Sasuke telah dinaikkan ke atas ambulance dan salah satu petugas rumah sakit bersiap menutup pintu belakangnya.
"Sakura, kau temani Sasuke. Aku akan mengikuti dari belakang," kata Sai pada Sakura. Gadis itu mengangguk, lalu naik ke ambulance. Dengan sirine meraung-raung, ambulance itu meluncur meninggalkan Crimson Drive.
.
.
.
Perlu beberapa menit lebih lama bagi Sai untuk menyusul Sakura ke Rumah Sakit Konoha—mengingat jalanan Konoha yang padat dan ambulance yang mengikuti jalur khusus emergency yang bebas hambatan. Setelah memarkirkan mobilnya di lapangan parkir, Sai langsung menuju ke Emergency Unit. Ia menemukan Sakura duduk di ruang tunggu, tampak gelisah.
"Bagaimana?" tanya Sai sambil duduk di sebelah gadis itu.
Sakura menggeleng pelan, kedua tangannya saling remas di pangkuannya. "Mereka masih memeriksanya," jawabnya dengan suara serak.
Sai memerhatikan profil Sakura beberapa saat. Wajah gadis itu tampak pucat dan lelah. Kedua tangannya yang saling remas agak bergetar di pangkuannya, menunjukkan kalau ia sedang cemas luar biasa. Sai lantas menulurkan tangannya menyentuh bahu gadis itu. "Jangan khawatir," ujarnya lembut. "Sasuke akan baik-baik saja."
Sakura menoleh, mendapati Sai sedang tersenyum menenangkan padanya. Gadis itu mengangguk, lalu balas tersenyum lemah. "Terimakasih," bisiknya.
Sai melepaskan tangannya dari bahu Sakura, dan berkata, "Aku menitipkan si anjing pada tetangga, apa itu tidak apa-apa?"
Sakura mengangguk perlahan. "Kurasa tidak apa-apa."
Sai lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam dan kunci rumah, lalu mengulurkannya pada Sakura. "Ini barang-barang Sasuke yang kurasa penting. Aku temukan di meja di kamarnya tadi. Ponselnya mati, jadi tidak kubawa. Kurasa itu sebabnya dia tidak menjawab telepon…"
Sakura tersenyum lemah, menerima barang-barang itu. "Kau memikirkan semuanya dengan tenang, Sai. Aku mungkin masih akan di sana, menangis, seandainya kau tidak datang. Terimakasih."
Cowok itu tertawa kecil. "Itulah gunanya teman, bukan? Lagipula kalau kau tidak meneriakiku saat aku meneleponmu, barangkali aku tidak akan datang." Tiba-tiba saja ia seperti teringat sesuatu. "Ah, ya. Hampir saja lupa. Dompetmu tertinggal di mobilku tadi. Ini…" ia mengulurkan dompet mungil bergambar strawberry yang baru diambilnya dari saku celananya kembali pada pemiliknya.
"Trims," sekali lagi Sakura tersenyum padanya, mengambil kembali dompetnya. Keduanya lalu terdiam.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter wanita berseragam biru tua dengan label 'Emergency Medical Service, Konoha Hospital' di bagian punggungnya keluar dari ruang Emergency. Rambutnya yang berwarna ungu gelap pendek diikat rapi di belakang kepalanya dan sebuah stetoskop melingkar di lehernya."Keluarga atau yang mengantar Tuan Sasuke Uchiha?" ia bertanya.
Sakura dan Sai bergegas beranjak dari kursi mereka dan menghampiri dokter itu. "Keluarganya masih dalam perjalanan, Dok. Kami teman-temannya," kata Sai cepat.
Dokter itu mengangguk. Ia baru saja akan membuka mulut untuk berbicara, tapi Sakura menyelanya.
"Bagaimana keadaan teman kami, Dok? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak kena penyakit berbahaya kan, Dok? Bukan kanker, kan?" cecar gadis itu.
Dokter muda itu tampak agak kaget, tapi dengan cepat menguasai diri. Ia lantas menggeleng sambil tersenyum menenangkan, "Bukan. Bukan kanker. Teman kalian mengalami peradangan di apendiks—usus buntu—nya. Tidak akan membahayakan kalau kita segera menanganinya."
"M-maksud Dokter?" tanya Sakura.
"Kita harus segera mengoperasinya untuk mengangkat usus buntunya," sahut sang dokter.
Sakura langsung lemas. "O—operasi, Dok?"
"Bukan operasi besar," kata dokter muda itu menenangkan. "Jadi kalian tidak perlu terlalu khawatir. Teman kalian juga sudah setuju untuk operasi. Tapi sebelumnya kami membutuhkan identitasnya untuk melengkapi prosedur."
"Sakura, dompet Sasuke," Sai meminta kembali dompet Sasuke. Sakura buru-buru menyerahkan kembali dompet Sasuke pada Sai. "Aku akan mengurus administrasinya, kau pergilah temani Sasuke," ujarnya pada Sakura sebelum menoleh lagi pada dokter wanita itu. "Boleh kan, Dok?"
"Tentu, tentu saja boleh. Silakan…"
Sakura bergegas masuk ke dalam ruang Emergency setelah mengucapkan terimakasih pada dokter itu, mendapati Sasuke terbaring miring dengan lutut menekuk di salah satu ranjang yang disekat tirai. Selang infus terpasang di salah satu lengannya.
"Sasuke…" panggil Sakura setelah ia berada di sisi ranjangnya, membungkuk supaya posisi mereka sejajar.
Sasuke membuka matanya yang tadi terpejam. "Sakura…" ucapnya dengan suara lemah.
"Apa masih sakit?" tanya Sakura.
"Rasanya seperti di neraka saja…" Sasuke mendesis.
Sakura mengulurkan tangannya, dengan lembut menyingkirkan rambut hitam Sasuke yang terjatuh ke matanya. "Yang penting itu bukan kanker," ujarnya, tersenyum tipis. "Mereka bilang kau akan segera sembuh kalau kau dioperasi."
Sasuke mengangguk lemah. "Aku tahu. Mereka juga sudah memberitahuku." Ia terdiam beberapa saat. "Jadi dari tadi kau mengira aku kena kanker, begitu?"
"Kurang lebih seperti itu," Sakura mengakui, agak malu.
Sasuke mendengus tertawa, tapi detik berikutnya ia mengaduh, "Uurgh…" matanya terpejam rapat dan tangannya mencengkeram sisi kanan tubuhnya.
"Sasuke?!" pekik Sakura cemas. Gadis itu menyambar tangan sahabatnya yang bebas, menggenggamnya erat-erat.
"Aku tidak apa-apa," Sasuke agak terengah.
"Mengapa kau tidak memberitahu kalau kau sakit, sih?" tanya Sakura gusar. "Kalau kami tahu sejak awal, kau bisa cepat mendapat pertolongan."
"Mana kutahu aku akan sakit seperti ini," Sasuke menyahut, terdengar agak jengkel. "Aku pikir tadinya hanya sakit perut biasa dan akan hilang kalau istirahat sebentar. Tapi sakitnya semakin lama semakin menjadi-jadi…"
"Lalu kenapa ponselmu kau matikan?" tuntut Sakura.
"Low-batt, aku lupa men-charge-nya—jangan bertampang seperti itu, Sakura!" ujar Sasuke ketika melihat ekspresi ketakutan di wajah gadis di depannya itu.
"Kau membuatku takut," Sakura berbisik. Gadis itu buru-buru menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir ke pipinya dengan tangannya yang bebas.
Sasuke mengeluh pelan. "Dasar cengeng. Menangis saja bisanya kan, kau ini? Huh?"
Mereka terdiam agak lama.
"Bagaimana Naruto?" tanya Sasuke kemudian, memecah keheningan.
"Dia sudah pulang ke rumahnya," Sakura menyahut pelan. "Kelihatannya dia senang sekali sudah keluar dari rumah sakit."
Sudut bibir Sasuke tertarik sedikit. "Baguslah. Tapi sepertinya dia terpaksa harus kembali lagi ke tempat ini sebentar lagi, eh?"
Sakura memaksakan dirinya tertawa kecil. "Sai sedang mengurus administrasi untukmu," ia memberitahu Sasuke.
Sasuke terdiam. Bola mata hitamnya bergerak-gerak gelisah.
"Kalau tidak ada Sai, kita mungkin tidak akan sampai di sini, Sasuke," ujar Sakura.
"Aku tahu," sahut Sasuke setelah beberapa lama. Tanpa sengaja, pandangannya terjatuh pada sesuatu di lengan Sakura yang terbuka. "Lenganmu kenapa?"
Sakura melirik lengannya, agak terkejut juga mendapati darah kering di sana yang rupanya mengalir dari luka di sikunya. Ia sama sekali tidak menyadarinya. "Ah, tadi aku jatuh saat memanjat pagar belakang rumahmu," ujarnya, lalu cepat-cepat menyembunyikan lengannya dari pandangan Sasuke. "Tidak apa-apa, tidak sakit, kok," tambahnya ketika melihat dahi Sasuke mengerut menatapnya.
"Kau memanjat pagar belakang?" tanya Sasuke. "Dasar cewek liar. Bagaimana kalau ada yang melihatmu, eh? Kau bisa dikira maling."
Sakura cemberut mendengar perkataan temannya itu. "Apa boleh buat, kan? Pintu depan rumahmu terkunci dari dalam dan aku tidak muat masuk dari jendela. Lagipula, kalau aku tidak memanjat, aku tidak akan menemukanmu—" ia menelan ludah, "sakit seperti ini."
Sasuke terdiam. Mata hitamnya menatap gadis di sampingnya itu, tampak tidak tahu harus mengatakan apa selama beberapa saat. "Obati," ujarnya kemudian. "Kalau infeksi bisa repot—"
Tepat saat itu dokter wanita yang tadi masuk ke ruangan bersama salah seorang perawat yang membawa catatan kesehatan di tangannya. Sakura buru-buru menegakkan tubuhnya dan mundur setelah melepaskan tangan Sasuke yang sejak tadi digenggamnya. "Dokter?"
Sang dokter tersenyum sekilas padanya sebelum menatap Sasuke. "Sudah siap, Sasuke?" ia bertanya lembut.
Sasuke mengangguk lemah.
"Tapi sebelumnya kami minta tanda tanganmu untuk persetujuan operasi." Dokter itu menoleh pada perawat di sampingnya. Perawat yang sepertinya sebaya dengan dokter itu mengangguk.
"Tanda tangan di sini ya, Sasuke…" ujarnya dengan nada lembut sambil mengulurkan bolpoint dan memegangi papan yang menyangga dokumen persetujuan itu sementara Sasuke menandatanganinya. Setelah selesai, Sasuke mengembalikan bolpointnya pada perawat itu.
Tak berapa lama kemudian datang beberapa orang perawat lagi yang membatu membawa ranjang Sasuke ke ruang operasi. Sakura mengikuti di belakang mereka. Ia bertemu Sai yang telah menunggu di depan ruang Emergency, dan mereka mengikuti sampai di depan ruang operasi. Sebelum pintu itu ditutup, Sakura bisa melihat Sasuke tersenyum tipis padanya. Bibirnya bergerak, mengucapkan 'terimakasih' tanpa suara.
"Sakura." Sai menarik lengan gadis itu, membimbingnya duduk di ruang tunggu operasi. "Jangan khawatir. Mereka bilang ini bukan operasi besar."
Sakura mengangguk. "Ya. aku sudah tahu." Kedua tangannya mulai saling remas lagi.
"Dokter yang mengoperasi Sasuke, dokter yang tadi. Namanya dokter Rin," beritahu Sai. "Dia dokter bedah lulusan terbaik dari Ame Medical School. Kau tenang saja, Sakura. Sasuke berada di tangan ahlinya."
Sakura menatap cowok itu sambil tersenyum lemah, sekali lagi mengangguk. "Aku tahu, Sai," ujarnya.
"Tanganmu luka," celetuk Sai kemudian. Ia juga sudah melihat darah kering di lengan Sakura. "Sebaiknya diobati. Ayo." Sai lantas membawa gadis itu ke nurse station yang ada di dekat sana.
Beberapa menit berselang keduanya sudah kembali duduk di ruang tunggu, dengan perban membalut lengan Sakura yang terluka.
"Aku pergi sebentar. Kau tunggulah di sini," kata Sai setelah beberapa lama keduanya duduk dalam diam. Sakura mengangguk.
Sementara Sai pergi, Sakura mendapat telepon dari ibunya yang menanyakan keberadaannya. Sakura memberitahu ibunya apa yang terjadi dan setelah beberapa lama berdebat, akhirnya Azami mengizinkan putrinya itu menemani sahabatnya.
Sai kembali tak lama kemudian. Rupanya tadi ia pergi ke kafetaria untuk membeli makanan untuk mereka berdua. Ia mengulurkan sebungkus bungkus roti isi dan sebotol air mineral pada Sakura. "Makanlah. Kau membutuhkan tenagamu," ujarnya.
Sakura menerimanya seraya mengucapkan terimakasih.
Lama keduanya menunggu, sampai waktu menunjukkan lewat tengah malam. Sakura yang sudah kelelahan, nyaris tertidur. Kepalanya sudah terkulai ke bahu Sai yang masih bertahan duduk di sampingnya.
Sai menepuk lengan Sakura untuk membangunkannya ketika dokter Rin akhirnya keluar dari kamar operasi. Wajahnya tampak cerah. "Operasinya berjalan lancar," beritahunya pada kedua kawan pasiennya yang cemas. "Sasuke akan segera dipindahkan ke ruang rawat, kalian bisa menemuinya di sana. Tapi mungkin dia baru akan bangun besok pagi. Dia butuh istirahat."
Sakura menghembuskan napas lega. "Syukurlah…" ucapnya seraya meletakkan tangannya di dada. Ia menoleh pada Sai yang berdiri di sampingnya. "Dia akan sembuh, Sai," katanya pada cowok itu. Lalu berpaling lagi pada dokter Rin. "Terimakasih banyak, Dok."
Dokter muda itu mengangguk sambil tersenyum. Ia menepuk lembut bahu Sakura. "Itu sudah menjadi tugasku, Nona Haruno. Kalau begitu aku permisi." Dan wanita itu pun berlalu meninggalkan mereka.
Sakura sejenak merasa bingung. Bagaimana dokter Rin bisa tahu namanya, padahal seingatnya ia belum pernah memberitahukan namannya. Tapi ia cepat-cepat menepisnya karena ia harus bergegas menuju kamar tempat Sasuke dirawat sekarang.
Seorang perawat sedang mengecek kembali kondisi Sasuke ketika Sakura dan Sai memasuki ruangan. Perawat itu menoleh. "Kalian pasti teman-teman Sasuke, bukan?" ia bertanya ramah yang dijawab kedua remaja itu dengan anggukan. "Keluarganya sudah dihubungi?"
"Kakaknya sedang dalam perjalanan kemari," sahut Sai.
Perawat itu mengangguk, lalu kembali memeriksa infus Sasuke. Setelah memastikan semuanya dalam keadaan baik, perawat itu berpaling lagi pada Sakura dan Sai. "Kalian akan menginap di sini?" tanyanya.
"Sepertinya begitu, Sus," kata Sakura, mengangguk. Gadis itu mendekati ranjang Sasuke, mengamatinya. Wajah Sasuke yang tertidur tampak tenang seperti anak kecil dan ia juga sudah mengenakan pakaian rumah sakit.
"Kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa, kalian bisa menekan tombol ini," perawat itu menunjuk tombol dengan lambang perawat yang ada di sisi ranjang Sasuke, "Atau bisa datang di nurse station di depan."
"Baik, Sus," kedua remaja itu menyahut berbarengan.
Perawat itu tersenyum ramah pada keduanya, lalu merapikan selimut Sasuke sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Setelah pintu menutup, Sakura menarik sebuah kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras ke sisi ranjang dan duduk di sana, mengawasi Sasuke.
"Kau pasti lelah, Sakura. Istirahatlah di sofa," kata Sai kemudian seraya menunjuk sofa di belakangnya.
"Iya, sebentar lagi, Sai…"
Sejenak, Sai hanya berdiri di sana, memperhatikan Sakura yang sedang duduk di sisi Sasuke yang tertidur. Gadis itu dengan lembut merapikan selimutnya –hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena perawat yang barusan keluar tadi sudah melakukannya—menyingkirkan anak-anak rambut yang terjatuh ke dahi Sasuke.
Seulas senyum muncul di wajah Sai menyaksikan ini. Sakura benar-benar mengkhawatirkan Sasuke, pikirnya. Dan ia juga teringat saat Naruto cedera. Sakura juga menampakkan kekhawatiran yang sama padanya. Sakura benar-benar gadis penyayang, Sai membatin. Dan sifatnya itu mengingatkannya pada seseorang.
Shin…
Sai teringat saat kakaknya itu dengan sabar menemaninya di rumah sakit ketika ia menjalani operasi usus buntu beberapa tahun silam. Dan sekarang, ia menyaksikan Sakura melakukan hal yang sama untuk Sasuke.
Ah, tiba-tiba saja Sai merasakan kantuk mulai menyerangnya. Menahan kuap, berjalan ke meja di sisi tempat tidur dan meletakkan dompet Sasuke di sana, lalu berkata pada Sakura, "Aku keluar sebentar, ya."
"Hmm…" Gadis itu hanya mengangguk.
Sai lalu berjalan menuju pintu, lalu menutupnya perlahan di belakangnya ketika ia sudah melangkah keluar. Ia menyusuri lorong rumah sakit yang kosong menuju kafetaria. Rumah sakit di malam hari terasa jauh lebih lengang. Ia hanya melihat beberapa perawat berjaga di nurse station sambil minum kopi dan mengobrol dengan suara rendah, beberapa dokter jaga dan petugas keamanan yang tugas malam.
Begitu juga dengan kafetaria di lantai paling atas rumah sakit. Ruangan luas yang menghadap ke halaman belakang rumah sakit yang asri itu juga sama lengangnya. Jendela-jendela raksasa yang biasanya menjadi sumber penerangan alami di siang hari, sekarang menampakkan bulan purnama dilatarbelakangi langit gelap berawan.
Sai melangkah menuju mesin penjual kopi otomatis di sudut kafetaria. Setelah mendapatkan kopinya, Sai kemudian duduk di dekat beberapa orang yang sedang duduk sambil menikmati kopi di salah satu bangku yang menghadap jendela. Sementara ia mendengarkan obrolan orang-orang itu, Sai kembali memikirkan apa yang telah terjadi sepanjang sore sampai sekarang.
Meskipun sangat melelahkan, tapi ada perasaan aneh yang menyusup. Entah mengapa ia merasa senang; senang karena telah menolong Sasuke, senang karena telah mendampingi Sakura, senang karena menyadari bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang benar—dan baik.
.
.
.
Sesosok pria jangkung berambut kelabu sedang berdiri di depan kamar rawat Sasuke ketika Sai kembali, tampak sedang berbicara dengan suara rendah dengan dokter Rin. Ia mengenali sosok itu sebagai salah satu gurunya di sekolah, Kakashi Hatake.
"Pak Hatake?" sapa Sai keheranan.
Pria itu menoleh. "Ah, Sai," balasnya sambil tersenyum hangat ketika melihat salah seorang muridnya itu berjalan mendekat. "Aku baru saja diberitahu kalau Sasuke dioperasi," ujarnya sebelum Sai sempat membuka mulut untuk bertanya.
"Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu, Kakashi," ucapan dokter Rin mengalihkan perhatian pria itu.
"Oh, ya, ya. Terimakasih banyak bantuannya, Rin," sahut Kakashi.
Dokter Rin mengangguk sambil tersenyum lembut. "Sudah menjadi kewajibanku." Dan dokter muda itu pun berlalu dari sana, kembali menuju tempatnya bertugas.
Rupanya Sakura juga telah menyerah terhadap rasa lelah. Gadis itu telah tertidur dengan kepala menelungkup di sisi ranjang Sasuke ketika Kakashi dan Sai masuk.
Kakashi lantas membungkuk di samping keponakannya itu, menepuk bahunya perlahan. "Sakura…" ia mencoba membangunkannya. Tapi Sakura tidak terbangun. Kakashi menghela napas. "Sepertinya dia kelelahan," ujarnya pada Sai.
Selembut mungkin supaya tidak membangunkannya, Kakashi memindahkan keponakannya itu dan membaringkannya di sofa. Ia lalu melepas jaketnya dan menyelimutkannya pada Sakura.
"Kau juga sebaiknya istirahat, Sai," Kakashi berkata pada Sai. "Biar aku yang jaga."
Dan sepertinya kopi yang diminum Sai tadi juga tidak sanggup membuatnya terjaga lebih lama. Karena selang beberapa menit setelah ia duduk di kursi di dekat sofa, Sai sudah jatuh tertidur. Saat itu waktu menunjukkan pukul dua pagi.
.
.
.
TBC…
.
.
.
MzProngs sez' : Aaah… gaje sekali di atas itu… Chapter ini sebagian besar aku ambil dari pengalamanku waktu nemenin temen kosan masuk UGD beberapa minggu yang lalu, tapi temenku itu bukan usus buntu sih… Waktu pertama kita (aku dan teman-teman lain) nemuin dia sakit di kamarnya panik banget, soalnya dia histeris gitu. Dan dengan sotoy-nya aku bikin Sasuke juga agak histeris waktu pertama Sakura nemuin dia. Ehee~ Aku rasa sih wajar kalo takut, apalagi –kata temenku yang pernah ngalamin- radang usus buntu itu sakitnya gak ketulungan. Tapi setelah sampe di UGD, temenku itu agak tenangan, malah pake acara ketawa ketiwi segala waktu nungguin dipindahin dari UGD ke kamar rawat biasa. Tapi ada sesi nangisnya juga sih. Dan ternyata nginep di RS itu capek banget, apalagi kalau pakai acara 'melantai' a.k.a tidur di lantai segala. Hihi.. XD
Terus, yang dialog Sai n Saku ama perawat itu aku ambil dari kejadian waktu itu juga. Tapi gak pake logat Jawa –perawat yang ngerawat temenku itu orang Jogja, Jawanya medhok banget bo..-
Buat semuanya yang penasaran ama Sasuke, tenang aja, dia gak akan kenapa-kenapa kok… ^_^ Sakuranya aja yang lebay, karena trauma nemuin dia dengan kondisi hampir sama dengan waktu dia nemuin mendiang kakaknya, minus muntah darah.
Dan Sai… dia aku buat tanang di sini, soalnya kalo sama-sama panik, gak akan jalan. Jadi harus ada yang tetep berkepala dingin dalam kondisi yang stressfull kaya gitu –menurutku-
Satu lagi. Aku gak tahu yang benernya di rumah sakit kaya gimana, tapi anggap aja Sasuke bisa ngambil keputusan buat operasi sendiri tanpa harus ada keluarganya. Toh, dia udah 17 tahun dan punya kartu penduduk sendiri –dan tentunya punya asuransi kesehatan sendiri juga—Huaa~~ binun, ah…
Slight KakaRin di sini aku spesialin buat imoto-ku, Tobi-Luna-chan. Tadinya mah gak ada Kakashi di chapter ini, lho. Jadi yang namanya Tobi-Luna wajib review! Mwahahaha… XD
Special thanks to :
Bundo Hiryuka Nishimori, Aika Uchiha-chan, Primrose Violet, Cattleya Queen (Drama beneran? O.o), Lawra-chan (Tenang, Sasuke gak kenapa-kenapa kok..), Ambudaff (Ambu~~ -lebay- Sasu-kun gak berdarah kok.. ^^), Dilia-chan (Ah, Sai emang awesome sekali… XD), M4yura (Typo udah dibenerin. Thanks dah ngasih tahu..), Arai-chan (NaruGaaSakuSasuNeji? O.o), Nana YazuChi (iya, ini gak lama kok..), kakkoii-chan (un… kapan ya, ketemunya?? Ehehe…) n Uci-chan (ini updatenya udah cepet belum?)…
Review chap ini juga yah… ^_^
