Update agak cepet lagi… ^_^
Chapter 42
Menjelang subuh, akhirnya Itachi tiba juga di Rumah Sakit Konoha. Pria muda itu langsung menuju ruang rawat yang diberitahukan oleh teman adiknya, Sai, yang meneleponnya. Sai juga telah memberitahunya tentang operasi pengangkatan usus buntu yang dijalani Sasuke tadi malam. Meskipun sudah diberitahu kalau kondisi adiknya itu sudah jauh membaik, tapi tetap saja Itachi merasa cemas—sekaligus kesal.
Mengapa Sasuke tidak memberitahunya kalau ia sakit? Mengapa justru ia mendengarnya dari orang lain?
Atau barangkali—Itachi merasa bersalah memikirkan ini—ia sendirilah yang kurang memerhatikan adiknya itu. Padahal seharusnya ia bisa melihat tanda-tandanya meskipun Sasuke tidak bilang—mengingat sifat adiknya tertutup dan cenderung memendam masalahnya sendiri. Seperti saat ia bermasalah dengan ayah mereka; Sasuke tidak pernah bilang apa-apa dan tahu-tahu saja ia sudah kabur dari rumah.
Omong-omong tentang rumah, Itachi juga belum menghubungi kedua orangtuanya di Oto setelah ia mendapatkan kabar terakhir dari Sai. Rencananya ia baru akan menghubungi rumah setelah memastikan kondisi Sasuke sendiri. Ia tidak ingin membuat orang tuanya cemas, terutama ibunya.
Ah, memikirkan orang tuanya, Itachi jadi agak bimbang juga. Bagaimana reaksi Sasuke seandainya orang tua mereka –terutama Fugaku—datang ke Konoha? Mengingat ia belum bicara dengan ayah mereka itu sejak ia meninggalkan rumah di Oto beberapa bulan yang lalu. Itachi hanya berharap, sakit hati Sasuke terhadap ayah mereka sudah meluntur.
Tapi dari pada mencemaskan hal itu sekarang, yang terpenting adalah kondisi Sasuke yang sudah membaik. Itachi sangat bersyukur Sasuke memiliki teman yang bersedia menolongnya saat dibutuhkan. Bahkan terus mendampinginya hingga saat ini…
Senyum tipis mengembang di wajah pria itu tatkala ia mendapati mereka ada di sana bersama Sasuke. Seorang gadis berambut merah muda yang tertidur di sofa. Juga seorang anak laki-laki sebaya Sasuke yang juga tengah terlelap di bangku sebelah sofa. Anak itu pastilah yang bernama Sai, yang meneleponnya tadi, pikir Itachi.
"Ah, Itachi. Kau sudah datang rupanya," kata sebuah suara dari arah pintu.
Itachi menoleh dan mendapati sosok orang yang dikenalnya sebagai guru adiknya di sekolah yang berambut keperakan, Kakashi Hatake. Pria itu berdiri di sana dengan tangan memegang gelas kertas berisi kopi yang mengepul.
"Kakashi? Aku tidak tahu kau juga di sini," kata Itachi sementara Kakashi berjalan masuk.
"Aku tidak mungkin membiarkan mereka mengurus semuanya sendiri, Itachi," sahut Kakashi dengan nada ringan. "Lagipula Sasuke itu muridku, dan Sakura adalah keponakanku."
"Oh!" Itachi agak terkejut. Ia sama sekali tidak tahu Sakura masih ada relasi keluarga dengan Kakashi. Mereka sangat tidak mirip, soalnya. "Bagaimana adikku?" Itachi berpaling pada Sasuke yang terbaring di atas ranjang, berjalan mendekat. Tangannya menyentuh kening Sasuke, mengusapnya dengan lembut sementara matanya mengawasi adiknya itu. Sasuke tampak tenang, dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang dalam dan teratur.
"Kata dokter yang mengoperasinya, keadaan adikmu sudah stabil. Apendisitis kronis. Adikmu pasti sering sakit perut sebelum ini," kata Kakashi.
Itachi menggeleng muram. "Sasuke tidak pernah mengeluh sakit apa-apa."
"Yah, mereka bilang gejalanya memang tidak khas. Barangkali Sasuke mengira itu hanya sakit perut biasa. Tapi yang penting sekarang dia sudah tidak apa-apa," kata Kakashi.
"Yeah, benar." Itachi menoleh memandang Kakashi. "Terimakasih sudah menjaga adikku, omong-omong," ucapnya.
"Berterimakasihlah pada mereka berdua," Kakashi memandang Sai dan Sakura yang tertidur.
Itachi juga memandang mereka, tersenyum. "Benar juga."
"Nah, karena kau sudah datang, aku pikir sebaiknya kami pulang. Mereka juga harus sekolah nanti," kata Kakashi sambil berjalan ke arah sofa. Ia menepuk pundak Sai yang tertidur di kursi sebelah sofa. "Sai, bangun…"
Tidak perlu waktu lama bagi Kakashi untuk membangunkan Sai, karena saat berikutnya ia sudah menggeliat bangun. Kakashi lalu ganti membangunkan Sakura. Gadis itu tampak kaget ketika bangun dan mendapati pamannya ada di sana.
"Kakashi—kena… Ah, Kak Itachi?" mata zamrudnya berpindah pada Itachi yang berdiri di samping ranjang Sasuke.
"Sakura," balas Itachi sambil tersenyum padanya.
"Kita pulang, Sakura?" kata Kakashi seraya membantu keponakannya itu bangun.
"Nng…" Sakura mengusap matanya, menahan kuap. "Sasuke…?"
"Sudah tidak apa-apa," sahut Itachi. "Terimakasih banyak sudah membawanya kemari, Sakura. Dan kau juga, Sai," ia menoleh pada Sai, tersenyum padanya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada kalian berdua."
Kedua teman adiknya itu hanya mengangguk canggung.
"Kalau Sasuke sudah bangun, akan aku kabari, tenang saja…" kata Itachi.
"Baiklah," kata Kakashi kemudian. "Kalau begitu kita pulang sekarang. Besok kalian harus sekolah, kan?"
Dan ketiga orang itu pun pamit pada Itachi untuk pulang.
.
.
.
Langit masih tampak gelap ketika Sakura, Sai dan Kakashi turun ke lobby rumah sakit. Meski begitu, tampak para perawat dan dokter yang mendapat shift pagi mulai berdatangan menggantikan rekan mereka yang bertugas malam. Begitu juga dengan karyawan rumah sakit lainnya.
"Hati-hati menyetirnya, Sai," pesan Kakashi ketika mereka berpisah jalan dengan Sai di lapangan parkir.
"Baik, Pak," sahut Sai sambil mengangguk. Ia lalu masuk ke dalam Porsche-nya dan mobil mungil itu pun meluncur perlahan meninggalkan Rumah Sakit Konoha.
Sementara itu, Sakura dan Kakashi menuju sedan tua milik Kakashi yang diparkirkan di sisi lain lapangan parkir yang luas itu.
"Bagaimana kau bisa di sini, Kakashi?" tanya Sakura ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
Kakashi mengambil waktu menstater mobilnya dan memasang sabuk pengaman sebelum menjawab, "Ada seorang teman yang memberitahuku kalau ada muridku dioperasi malam ini. Dan ibumu juga meneleponku dan memberitahu kalau kau bersikeras menginap di rumah sakit. Ibumu cemas sekali, Sakura."
"Hmm… Ibu, ya?" Sakura menguap lebar-lebar. Rasa kantuknya kembali lagi. Ketika sedan tua itu meluncur meninggalkan rumah sakit, gadis itu sudah kembali tertidur. Dan baru terbangun saat mereka sudah sampai di Blossoms Street.
.
.
.
Root Hills
"Kau tidak pulang semalaman, Sai," kata Gaara beberapa jam kemudian. Saat itu Sai sudah berada di rumah besarnya di Root Hills, sedang duduk di belakang meja makan, sarapan bersama kakek dan teman barunya dari Suna.
"Hn.." Sai mengunyah roti panggangnya perlahan-lahan lalu menelannya. "Aku di rumah sakit."
"Yuugao memberitahuku kalau salah satu temanmu sakit. Benarkah itu, Sai?" tanya Danzou yang duduk di bangku utama di ujung meja makan panjang itu. Ia menyeruput kopi paginya.
"Ya, Kek. Sasuke harus dioperasi usus buntu semalam," sahut Sai.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Danzou bertanya lagi—membuat Sai sedikit terkejut. Biasanya sang kakek tidak pernah menaruh perhatian pada urusannya di luar bidang seni.
"Ah, dia sudah baikan," ujarnya.
"Hn." Lalu pria tua itu mengangguk, lalu kembali menekuni sarapannya.
"Aku tidak tahu kalau kau begitu perhatian pada temanmu, Sai," komentar Gaara dengan suara pelan. Sai menoleh padanya dan mendapati violinist Suna School of The Art pemilik rambut merah itu tersenyum simpul ke arahnya. "Kukira kau orang yang dingin seperti kata orang-orang di KAA."
Tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi komentar itu, Sai hanya tersenyum tipis. Ketiganya tidak bicara lagi sampai akhirnya piring mereka bersih dan siap berangkat. Mereka berangkat dengan mobil yang sama dan Danzou menyuruh sopir mereka untuk mengantar Sai terlebih dahulu ke Konoha High sebelum melanjutkan perjalanan ke Konoha Art Academy.
.
.
.
Konoha High
Murid-murid sudah mulai berdatangan dan sedang saling sapa dengan teman masing-masing ketika Sai melangkahkan kakinya ke koridor depan sekolahnya. Ia tersenyum, memandang berkeliling dengan perasaan rindu. Ia tidak menyangka kembali ke sekolah rasanya bisa sangat menyenangkan seperti ini.
"Hei!" sebuah tepukan di bahunya membuat Sai terlonjak. Ia menoleh dan mendapati Sakura sudah berdiri di belakangnya, tersenyum cerah meskipun wajahnya masih tampak lelah. Gadis itu memeluk beberapa buku di kedua tangannya. "Selamat datang kembali di sekolah, Sai!"
"Selamat pagi, Sakura," balas Sai.
"Ah, syukurlah hari ini aku tidak sendirian lagi," kata Sakura cerah. Lalu keduanya berjalan beriringan menuju koridor loker, sambil mengobrol ringan.
"Aku akan ke rumah sakit lagi setelah pulang sekolah," beritahu Sakura setelah mereka sampai di koridor loker. Keduanya berhenti di depan loker Sakura. "Kak Itachi tadi memberitahuku kalau Sasuke sudah sadar."
"Oh," kata Sai, tampak senang. "Itu bagus. Kalau begitu aku juga akan ke sana."
"Kita bisa bareng—"
"Sai?"
Sebuah suara lembut dari dekat mereka membuat perhatian kedua remaja itu teralih. Seorang gadis dengan rambut gelap dikepang longgar baru saja muncul di ujung koridor dan sekarang sedang berjalan ke arah mereka. "S-selamat pagi, Sai, Sakura," sapa Hinata Hyuuga sambil memamerkan senyum lembutnya yang biasa.
"Pagi, Hinata," balas Sakura dan Sai bersamaan.
"A-aku senang melihatmu l-lagi, Sai," kata Hinata Hyuuga dengan senyum tulus pada Sai. "K-kau sudah baikkan, kan? M-maaf aku t-tidak sempat menjengukmu," ia menambahkan dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," sahut Sai.
Hinata tersenyum lagi padanya sebelum beralih pada Sakura yang sekarang sibuk menaruh bukunya di loker. "S-Sakura, b-bagaimana keadaan N-Naruto?" gadis itu bertanya malu-malu.
Sakura menoleh dan mendapati wajah Hinata sudah merona merah. "Oh, dia oke," jawab Sakura sambil tersenyum. "Naruto sudah pulang dari rumah sakit kemarin dan mungkin baru akan masuk sekolah beberapa hari lagi." Sakura berhenti dan mengamati wajah teman seangkatannya itu tersipu-sipu. Selalu seperti itu setiap kali nama Naruto muncul dalam obrolannya dengan Hinata yang memang terkenal pemalu ini. Dan Sakura mengerti itu dengan baik—mengingat ia juga mengalaminya setiap kali ada Neji—"Hei, mengapa kau tidak menghubunginya saja, Hinata?" usulnya kemudian.
Hinata tampak agak terkejut. Selama beberapa saat ia seperti tidak tahu harus berkata apa sementara rona di wajahnya yang putih susu semakin menggelap. "A-aku… Aku…" gagapnya.
Sakura tertawa kecil. "Tidak apa-apa kok. Naruto tidak akan menggigitmu," guraunya.
Hinata tertawa pelan, gugup. "M-mungkin juga…" ujarnya amat pelan sebelum ia beralih pada Sai lagi. "S-Sai, ada s-sesuatu yang mau kubicarakan d-denganmu. Soal p-proyek majalah bulan depan. B-bisa kau ikut aku ke sekre?"
"Tentu, Hinata," Sai menyahut. "Sakura, aku pergi dulu."
Hinata dan Sai pun segera berlalu dari sana. Punggung mereka baru saja menghilang di belokan di ujung koridor ketika Sakura mendengar suara keras yang sudah amat dikenalnya memanggil namanya. Ino sedang berlari-lari kecil ke arahnya dengan wajah cerah ceria.
"Coba tebak," seru Ino setelah ia sampai di dekat Sakura yang kembali sibuk dengan lokernya. "Aku, Shikamaru dan Chouji mendiskusikan ini semalaman; kami akan segera manggung lagi! Katanya akan ada festival band di Konoha Square dalam waktu dekat! Kami sudah mendaftar dan ini akan menjadi pertunjukan pertama band kami musim ini!"
"Wah, selamat," ucap Sakura sambil menutup pintu lokernya. Gadis itu melempar senyum cerah pada sahabatnya itu. "Aku sudah tidak sabar menonton aksi kalian lagi!"
Ino memekik girang lalu memeluk Sakura erat. "Kau memang temanku yang paling baik sedunia, Sakura…" ia melepaskan pelukannya. "Tapi… Naruto bisa ikut tidak dengan keadaannya yang sekarang, ya? Soalnya kami benar-benar kekurangan personil. Kalau dia bisa ikut, Shikamaru bisa pegang keyboard—kau tahu kan, keyboardist kami yang lama sudah lulus dan sekarang kuliah di Suna?"
"Kau tanyakan saja padanya," usul Sakura, "Tapi kurasa dia mau. Cedera tidak akan menghalanginya membuat orang jingkrak-jingkrak dengan permainan gitarnya."
Ino tertawa renyah. "Yeah. Kau benar. Dia memang biangnya bikin penonton jingkrak-jingkrak." Gadis pirang itu melangkah ke lokernya yang berjarak beberapa loker dari loker Sakura, tepat di samping loker kosong yang sekarang ditempati Sai dan mulai membereskan buku-bukunya juga. "Lagipula festival itu baru diadakan pertengahan bulan Desember. Jadi masih ada waktu sampai kaki Naruto sembuh."
"Yeah…" Sakura mengangguk setuju.
"Omong-omong, ngapain kau di rumah sakit semalam?" tanya Ino kemudian sambil menjejalkan diktat Bahasa Inggris ke dalam tasnya.
"Eh?" kata Sakura bingung. Bagaimana Ino bisa tahu semalam ia di rumah sakit, ia sama sekali tidak tahu.
"Aku menelepon ke rumahmu semalam. Kata ibumu kau ada di rumah sakit," kata Ino menjelaskan segalanya.
"Oh," Sakura mengangguk mengerti. "Sasuke. Dia mendadak sakit kemarin—kau tahu kan, dia sampai tidak masuk sekolah?—usus buntu. Semalam dia dioperasi—"
"Sasuke dioperasi?" sela Ino terkejut. Lokernya sejenak terlupakan. Mata birunya membulat. "Lalu bagaimana kondisinya sekarang?"
"Sudah lebih baik. Kata kakaknya, dia sudah bangun pagi ini."
Ino menghembuskan napas lega. Ia berpaling pada lokernya, memasukkan beberapa barang ke dalam tas sebelum menutup pintu lokernya dan berkata, "Syukurlah kalau begitu. Haaah… orang cakep memang selalu beruntung, ya," kekehnya.
Sakura tertawa. Lalu kedua gadis yang bersahabat baik sejak kecil itu berjalan meninggalkan koridor loker menuju kelas mereka masing-masing.
"Aku ke kelas Inggris dulu ya, Sakura," kata Ino kemudian setelah mereka sampai di depan kelas pertama Sakura, Aljabar, "Sampai ketemu jam istirahat nanti!" dan gadis pirang itu melenggang menuju kelas Bahasa Inggris.
Sakura berjalan memasuki ruang kelasnya. Beberapa anak sudah ada di sana sementara ia melangkah menuju bangkunya yang biasa, di dekat jendela di barisan kedua dari belakang. Sakura meletakkan buku dan tasnya di atas meja dan duduk. Kepalanya menoleh ke bangku di barisan di belakangnya—barisan bangku Sasuke dan Naruto—dan menghela napas. Sepertinya hari ini dua bangku itu bakal kosong lagi.
Ah, tiba-tiba saja Sakura merasa agak kesepian. Biasanya kan pagi-pagi begini kalau sedang berkumpul, mereka sudah meributkan sesuatu—dari yang penting, seperti pe-er yang lupa dikerjakan, sampai tidak penting, seperti Naruto yang lupa menyisir rambutnya (tidak akan membuat perbedaan berarti sebenarnya)—Tapi sekarang kan masih ada Sai, pikirnya sambil mengerling bangku yang biasa diduduki Sai di kelas ini—di barisan dekat pintu. Tapi ia tidak tahu apakah Sai akan tertarik meributkan hal-hal semacam itu atau tidak.
Sakura tertawa sendiri dan menggelengkan kepala memikirkan itu.
Sai masuk kelas tak lama kemudian. Cowok itu kemudian melangkah, bukan ke bangkunya yang biasa, melainkan ke bangku Sakura. "Hinata memintaku membantunya mengedit foto-foto untuk majalah bulan depan," beritahunya sambil duduk di bangku di sebelah bangku Sakura. "Sepertinya istirahat makan siang nanti bakal sibuk."
Sakura tersenyum padanya. "Itu bagus, Sai. Dari pada bengong, kan?"
Sai menatap gadis di sebelahnya, tampak agak khawatir. "Tapi kita jadi tidak bisa makan siang bersama. Kau nanti sendirian."
Sakura tertawa kecil. "Tidak masalah. Aku bisa makan siang bersama Ino—Oh, jangan pikir temanku hanya Naruto dan Sasuke saja, Sai. Aku lumayan populer, lho…" guraunya.
Kedua alis Sai berkerut. "Ino? Dia temanmu?"
"Tentu saja," sahut Sakura sambil memutar bola matanya. "Siapa lagi?"
Tepat saat itu bel tanda pelajaran akan segera dimulai. Anak-anak yang masih berada di luar kelas bergegas masuk dan menempati bangku masing-masing sambil mengobrol. Tapi obrolan mereka langsung terputus begitu guru Aljabar mereka, Kakashi Hatake, masuk kelas. Tumben, pikir mereka. Karena biasanya Pak Hatake akan masuk paling tidak setengah jam setelah bel berbunyi.
"Selamat pagi," sapa pria berambut keperakan itu pada seisi kelas sambil meletakkan diktatnya di atas meja guru. "Silakan buka diktat kalian halaman 150. Hari ini kita akan belajar Integral."
.
.
.
Kakashi Hatake tidak tahu apakah kelasnya terlalu membosankan, atau udara yang terlalu dingin dan lembab sampai-sampai aura lelah terasa di kelasnya. Tidak seperti biasanya, murid unggulannya—sekaligus keponakannya—Sakura Haruno, tidak banyak bertanya hari ini. Ia perhatikan, gadis itu lebih banyak menunduk memandang bukunya sambil menopangkan kepala pada tangannya. Dan betapa terkejutnya ia tatkala menyadari bahwa gadis itu ternyata tertidur, karena saat berikutnya kepala Sakura sudah merosot ke meja.
Kakashi tersenyum kecil melihat ini sebelum melanjutkan mengawasi murid-muridnya mengerjakan soal. Dibiarkannya saja gadis itu tidur di kelasnya. Barangkali Sakura kelelahan karena semalam, pikirnya. Tidur di rumah sakit tentunya tidak senyaman tidur di kamar sendiri, kan?
Tapi rupanya Sakura tidak sendirian. Seorang murid yang duduk di bangku di sebelahnya juga tampak sama lelahnya. Kepala anak itu juga terangguk-angguk sepanjang pelajaran. Mata hitamnya tampak sayu. Ia baru benar-benar tersadar ketika bel istirahat berbunyi dan anak-anak mulai ribut meninggalkan kelas.
Tidak sepertinya Sakura tidak menyadari keributan mendadak itu. Gadis itu tetap saja terlelap di mejanya, sama sekali tidak terpengaruh oleh Sai yang mencoba membangunkannya.
"Biarkan saja, Sai," kata Kakashi sambil melangkah ke bangku Sakura. Mata kelabunya melembut menatap sang keponakan yang tertidur. "Kita pindahkan saja dia ke ruang kesehatan. Bisa tolong bereskan buku-bukunya?"
"Baik," sahut Sai. Ia langsung melakukan apa yang diperintahkan gurunya itu, menjejalkan semua barang-barang Sakura ke dalam tas.
Sementara itu, Kakashi mulai mengangkat tubuh Sakura ke dalam gendongannya—Sakura sama sekali tidak terbangun—dan membopongnya meninggalkan kelas dengan Sai mengikutinya di belakang, membawakan tas Sakura. Kikikan dan bisik-bisik anak-anak yang melihat mengikuti ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang kesehatan. Beberapa guru malah menyarankan supaya Sakura dibawa saja ke rumah sakit—jelas mereka mengira gadis itu mendadak sakit di kelas.
"Dia hanya kelelahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Kakashi pada salah satu koleganya, Raidou Namiashi, yang kebetulan lewat saat mereka sudah berada di depan ruang kesehatan.
Kakashi lalu membaringkan Sakura di atas salah satu ranjang berseprai putih di ruangan yang agak berbau alkohol itu. Sakura menggeliat dalam tidurnya, tapi tidak terbangun, bahkan ketika pamannya itu menyelimutinya dengan selimut tipis putih-biru. Gadis itu tampak lelap sekali.
"Sai—" Kakashi menoleh ke belakangnya, ke arah Sai yang membawakan tas Sakura, "Taruh saja tasnya di situ, Nak. Terimakasih," ujarnya sambil menunjuk meja kecil di sisi ranjang yang ditempati Sakura.
Sai bergegas menuruti perintah gurunya; menyimpan tas temannya itu di atas meja dengan hati-hati sementara Kakashi membenahi selimut Sakura.
"Kalau begitu aku tinggal dulu ya, Sai," kata Kakashi pada Sai kemudian. Guru Aljabar itu lalu melangkah ke arah pintu, lalu berhenti. Ia menoleh ke arah meja perawat sekolah. "Suster Airi, aku titip Sakura ya. Biarkan dia tidur sebentar di sini. Kelihatannya dia agak kelelahan," katanya pada Airi Tenou, perawat sekolah yang bertugas hari itu.
"Oh, baik, Pak Hatake," gadis itu menyahut. Lesung pipi muncul di kedua pipinya saat ia melempar senyum hangat pada sosok pria yang diam-diam dikaguminya itu.
Kakashi mengangguk singkat ke arahnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang kesehatan. Airi kembali melanjutkan kegiatannya membereskan obat-obat yang baru datang di kotak obat setelah Kakashi pergi.
Sai masih tinggal di sana menemani Sakura beberapa lama sebelum ia tiba-tiba saja teringat ada sesuatu yang harus dikerjakannya saat itu. Ia lantas buru-buru beranjak dari sana. "Suster Airi, tolong jagakan Sakura, ya," katanya sebelum melesat meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya.
Airi tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu menghela napas, menutup kotak obat yang selesai dibereskannya dan meletakkannya di lemari persediaan. "Pacar yang baik…" gumamnya sambil kembali duduk di mejanya. Ia membenahi letak kacamatanya sebelum mengambil bolpoint dan buku laporan harian. "Andai saja aku punya pacar yang perhatian seperti bocah tadi…"
Ruangan itu sunyi selama beberapa saat. Yang terdengar hanyalah suara-suara samar obrolan anak-anak yang kebetulan melintas di koridor dan derit ranjang setiap kali Sakura bergerak dalam tidurnya. Tiba-tiba saja pintu ruang kesehatan kembali terbuka dan seorang gadis berambut pirang panjang masuk.
"Suster Airi, apa Sakura ada di sini?" tanyanya.
Airi mengangkat wajahnya dari buku laporan yang sedang dikerjakannya. "Ada. Dia di dalam. Kebetulan sekali, Nona Yamanaka. Pacarnya tadi baru saja pergi."
"Ha?" Ino mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Jelas terkejut dengan perkataan perawat sekolahnya itu. "Masa sih? Sakura kan tidak punya pacar, Suster."
"Tapi tadi ada anak laki-laki yang menemaninya di sini," sahut Airi seraya mengangkat bahu.
"Siapa?" tanya Ino penasaran. Setahunya Sakura tidak dekat dengan cowok mana pun kecuali Naruto dan Sasuke. Tapi… kedua cowok itu kan sedang tidak masuk sekolah.
"Hmm…" perawat muda itu tampak berpikir sejenak. "Aku lupa namanya. Rambutnya hitam dan wajahnya cukup tampan juga."
Ino pura-pura mencibirnya, lalu tertawa, "Ah, Suster Airi ini hobinya kan memang ngecengin brondong."
Airi menanggapinya dengan tawa renyah. "Pemandangan bagus tidak boleh dilewatkan begitu saja, Nona Yamanaka," ujarnya sambil lalu.
Ino memutar mata birunya sambil tertawa. Ia lalu bergegas masuk menuju tempat Sakura tidur. Gadis itu mendecakkan lidah, menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya itu meringkuk di atas ranjang. Rasanya sulit dipercaya, Sakura Haruno yang dikenal luas di kalangan anak kelas dua sebagai calon kuat pelajar teladan angkatan mereka bisa tertidur di kelas seperti itu. Biasanya gadis pemilik mata hijau zamrud itu paling anti dengan yang namanya ngantuk di kelas, bahkan di pelajaran paling membosankan sekalipun.
Tapi sekarang…
Ino menghembuskan napas keras, lalu menepuk-nepuk bahu Sakura. "Sakura.." panggilnya.
"Nng…" Sakura bergerak dalam tidurnya, tapi matanya tidak terbuka.
"Sakura, bangun…" Ino mengguncang tubuh gadis itu lebih kuat, menepuk-nepuk pipinya.
Akhirnya Sakura membuka matanya juga perlahan. Gadis itu mengerjap menatap Ino yang membungkuk di atasnya. "I—Ino?" kuapnya. Pandangannya lalu berpindah, ia memandang berkeliling ruangan yang didominasi warna putih itu. Sakura tampak bingung sesaat, sebelum tiba-tiba ia teringat apa yang terjadi. Mendadak ia bangun ke posisi duduk—membuat Ino terkaget. Bahkan Airi yang berada agak jauh dari mereka, ikut menoleh—Mata hijaunya membelalak. "Aaahh!!!" ia berteriak histeris.
"Sakura, kau kenapa sih?" dengking Ino kaget.
"Aaahh!!!" teriak Sakura lagi. "AKU KETIDURAN DI KELAS!! TIDAAAAK!!!"
"Oi, tenang dulu dong…" Ino berusaha menenangkan sahabatnya yang histeris.
"Sakura?" Airi tergopoh-gopoh mendekati kedua gadis itu, tampak cemas. "Kau tidak apa-apa?"
"Oh, tidak…" Sakura meratap. "Kakashi pasti marah sekali padaku. Aku harus minta maaf… Aku harus minta maaf…" ia hendak turun dari tempat tidur, tapi Airi menahannya.
"Justru Pak Hatake sangat mengkhawatirkanmu," katanya menenangkan, "Bahkan beliau sendiri yang membawamu dari kelas kemari."
"Seperti yang kudengar dari anak-anak," guman Ino, nyengir.
"Menurutnya kau kelelahan dan butuh istirahat. Dan menurutku dia benar, Nona Haruno…" ujar Airi lagi, tersenyum lembut. "Menurutku sebaiknya kau tidak usah ikut pelaran berikutnya dan istirahat saja di sini."
Sakura bergidik ngeri. "Aku tidak mau!" bantahnya keras kepala. Rupanya bayangan membolos dari pelajaran berikutnya terlalu menakutkan—mengingat ia sudah pernah membolos beberapa hari semester ini.
Airi menghela napas, mengalah. "Ya sudah. Tapi jam istirahat ini kau harus tetap di sini, setelah itu kau boleh ke kelasmu lagi," katanya, lalu berbalik menuju mejanya lagi.
"Aku tidak percaya aku bisa ketiduran di kelas Aljabar…" Sakura berkata gusar sambil memukul kasur dengan kekesalan luar biasa.
"Ya sudahlah," kata Ino seraya mendudukkan diri di atas ranjang di samping Sakura. "Yang penting kan sekarang kau sudah bangun." Ia mengikik. "Tapi anak-anak ngomongin kau tadi."
"Baguslah," tukas Sakura sinis. "Benar-benar hari yang sempurna."
"Sepertinya kita harus menuntut pertanggungjawaban suamimu dalam hal ini, Sakura," kata Ino sambil nyengir, "Karena menjaga dia semalaman, kau jadi seperti ini, kan?"
Sakura menatap Ino dan berkata tajam, "Aku tidak akan menyalahkan Sasuke, Ino. Dan dia bukan suamiku," ia menambahkan galak.
Ino tertawa. "Aku kan cuma bercanda, Sakura. Geez.." Ia lalu mengambil tasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. "Ini aku bawakan roti isi dan air dari kantin untukmu. Kupikir setelah kau bangun, kau pasti lapar."
Baru saja dibilang seperti itu, perut Sakura sudah berbunyi keras sekali. Dan mendadak rasa kesalnya segera digantikan oleh rasa terimakasih pada sahabatnya itu. "Tahu saja kau ini. Trims, ya." Sakura merobek bungkus roti isinya dan menggigitnya.
"Omong-omong," kata Ino kemudian sambil melirik Sakura. "Kata Suster Airi kau punya pacar, ya?" tanyanya dalam suara rendah.
Sakura yang sedang mengunyah rotinya langsung tersedak. Ia buru-buru meminum air yang diulurkan Ino padanya banyak-banyak. "Aku tidak punya pacar!" sengalnya. "Kau tahu itu kan?"
"Yeah, memang," Ino mengangguk. "Tapi katanya, tadi ada anak laki-laki yang menemanimu di sini. Rambutnya hitam dan—"
"Maksudmu Sai?" celetuk Sakura.
"Sai?" Ino menaikkan alisnya. "Oh, maksudmu cowok yang pernah kau ceritakan itu? Yang pindahan KAA? Oh, rupanya dia sudah mulai masuk, ya?"
"Yeah, dia," sahut Sakura. Ia menggigit rotinya lagi, mengunyah lalu menelannya sebelum menambahkan, "Tapi dia bukan pacarku." Sakura menoleh ke arah meja perawat yang tersekat tirai dari ranjang yang didudukinya dan berkata keras, "Suster Airi jangan menyebar gossip begitu dong! Please deh…"
Terdengar suara tawa perawat muda itu. "Iya iya…"
Ino juga ikut tertawa. "Begitu saja sewot. Aku tahu kok, tidak ada cowok yang kau inginkan menjadi pacarmu di dunia ini selain Tuan Muda Hyuuga, kan?"
Sakura mencibirnya, meskipun rona di wajahnya terlihat jelas. Ia segera menutupinya dengan menggigit lagi rotinya. "Bukannya seperti itu…" gumamnya pelan. Meskipun dalam hatinya mengiyakan.
Ino, yang mengenal betul sahabat sejak kecilnya itu hanya memutar bola matanya. Dasar…
.
.
.
Panti Asuhan Kasih Bunda Konoha
"Naruto! Astaga…" wanita berambut hitam pendek yang baru saja membukakan pintu depan panti asuhan itu berseru kaget.
Sang pendatang hanya memamerkan cengiran superlebar melihat kekagetan di wajah wanita itu. "Selamat siang, Bunda Shizune…" sama Naruto cerah. Ia bergegas berjalan masuk dengan kruk menyangga tubuhnya ketika Shizune yang masih tercengang membuka pintunya lebih lebar. "Jangan melihatku seperti itu dong, Bunda. Aku kan jadi malu…" kekeh Naruto seraya menggaruk belakang kepalanya, pura-pura malu.
"Kata ayahmu kau harus istirahat total di rumah beberapa hari," kata Shizune heran.
"Ah, Bunda ini seperti tidak tahu aku saja. Aku kan paling tidak betah kalau disuruh berbaring diam di rumah tanpa melakukan apa-apa," sahut Naruto enteng sambil berjalan menyusuri koridor menuju aula utama.
Shizune buru-buru menutup pintu dan menguncinya sebelum menyusul Naruto. Wanita itu mengernyitkan dahi, menatap Naruto dengan curiga. "Apa ayahmu tahu kau kemari?"
Naruto berhenti dan menoleh menatap wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu, nyengir tidak enak. "Er… sebenarnya tidak. Tapi aku akan bilang nanti, janji deh!" ia mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Pap kan kerja, aku tidak mau mengganggunya," tambahnya berkilah.
Shizune menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini. Nanti kalau kakimu yang sakit itu kenapa-kenapa bagaimana? Nanti aku yang dimarahi ayahmu."
"Dan Pap akan dimarahi Pak Shiranui kalau dia berani melakukan itu," gurau Naruto, nyengir. "Iya kan, adik kecil?" Naruto agak membungkukkan badannya, mengelus perut Shizune yang sudah agak membuncit.
Seulas senyum seketika muncul di wajah Shizune dan detik berikutnya ia sudah mengeluarkan tawa kecil. "Baiklah…" ujarnya sambil tersenyum. "Tapi kau harus janji tidak melakukan hal-hal yang aneh."
"Siap, Bunda!" seru Naruto bak seorang prajurit pada komandannya.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju aula utama yang nyaris kosong. Tidak mengherankan sih, mengingat jam-jam begitu biasanya anak-anak panti masih berada di sekolah. Hanya beberapa anak yang masih terlalu kecil untuk bersekolah saja yang masih tinggal di panti. Dan mereka kini tampak sedang asyik bermain menyusun balok di atas karpet puzzle warna-warni di aula utama.
Anak-anak itu menoleh ketika ia mendengar ada orang yang masuk dan langsung memekik girang ketika tahu bahwa kakak tersayang mereka, Naruto, yang datang. Mereka melompat berdiri dan langsung menyerbu Naruto yang tertawa-tawa senang, berebutan memeluknya sambil berseru, "Kakak Naruto datang! Kakak Naruto datang!"
"Hati-hati, sayang," kata Shizune mengingatkan anak-anak asuhnya yang kelewat bersemangat mengerubungi Naruto. "Kaki Kakak Naruto kan masih sakit. Jangan sampai dia jatuh—"
"Tidak apa-apa, Bunda," sahut Naruto menenangkan sambil mengelus-elus kepala adik-adiknya penuh sayang bergantian. "Hei, kalian… apa kabar?"
"Kakak Naruto kakinya kok pincang?" salah satu adiknya bertanya polos.
Naruto tertawa kecil. "Bukan pincang, Moe sayang… Ini cuma luka sedikit. Nanti juga bisa jalan biasa lagi, kok."
"Tapi Kakak sekarang jadi pakai tongkat jalannya. Kayak kakek yang tinggal di ujung jalan," celetuk yang lain seraya menunjuk kruk Naruto.
Naruto hanya tertawa lagi seraya menepuk-nepuk puncak kepala bocah itu. "Bagaimana kalau sekarang kita main saja?" usulnya kemudian, yang langsung disambut sorak anak-anak itu. Mereka langsung menggiring Naruto menuju kotak mainan mereka—yang kebanyakan adalah bekas pakai dan sudah usang. "Un… kita main apa, ya?"
Shizune tersenyum lembut melihat pemandangan ini. Selalu saja seperti itu setiap Naruto berkunjung; ramai dan penuh tawa. Barangkali pembawaan Naruto yang ceria sudah menular pada adik-adiknya.
"Naruto," panggilnya kemudian.
Naruto mengangkat wajahnya. "Ya, Bunda?"
"Aku ke belakang sebentar ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja," kata Shizune.
"Oke, Bun," Naruto menyahut sebelum melanjutkan bermain. Namun ada sesuatu yang tertangkap oleh mata birunya. Papan tulis besar di salah satu sisi ruangan itu tidak lagi kosong, melainkan sudah penuh oleh tulisan-tulisan dengan kapur warna-warni. Seringai lebar menghiasi wajah cowok itu saat membaca salah satu—atau salah banyak—tulisan yang digoreskan adik-adiknya di sana.
.
.
.
Konoha High
Akhirnya bel tanda pelajaran telah berakhir berbunyi juga. Setelah mati-matian menahan kantuk di pelajaran Sejarah, akhirnya Sakura bisa menghembuskan napas lega. Anak-anak mulai bergerak meninggalkan kelas sementara Sakura membereskan barang-barangnya.
"Kita langsung ke rumah sakit, kalau begitu?" tanyanya pada cowok berambut hitam yang duduk di bangku sebelahnya.
Tapi belum sempat Sai membuka mulut untuk menjawabnya, suara dari sudut kelas memanggilnya. Ia menoleh dan mendapati Kiba dan Shino sedang memberinya isyarat supaya mendekat. Urusan Jurnal lagi nampaknya. "Sebentar, Sakura," kata Sai pada Sakura, sebelum kemudian ia mendatangi dua cowok Jurnal itu.
Sakura menghela napasnya, lalu mengancingkan tasnya. Sebaiknya ia menunggu di luar saja, pikirnya sembari beranjak dari bangkunya. Ia bertemu dengan Ino tepat setelah melangkahkan kaki keluar kelas. Gadis itu tampak terburu-buru.
"Hei, Sakura," sapanya terengah. "Hah… sepertinya kita hari ini tidak bisa pulang bareng lagi."
"Tidak apa-apa. Lagipula aku mau ke rumah sakit menjenguk Sasuke siang ini," sahut Sakura seraya tersenyum maklum. "Kau dijemput cowokmu lagi?"
"Kali ini tidak," sahut Ino, nyengir. "Idate ada kuliah sampai sore. Bukan itu. Hari ini aku ada kumpul dengan anak-anak klub musik. Shikamaru punya ide untuk mengajak mereka turut serta di festival band nanti, mewakili nama sekolah."
"Sepertinya bakal ramai, eh?" komentar Sakura.
"Semakin ramai semakin bagus. Lebih bagus lagi kalau kita mengirimkan lebih dari satu band. Kau tahu kan, anak-anak kelas satu banyak banget yang berbakat. Tidak boleh disia-siakan begitu saja," kata Ino, tersenyum puas. "Lagipula sudah saatnya klub musik bikin bangga sekolah, kan? Kami tidak mau kalah dengan klub-klub olahraga dan Jurnal yang udah beken di mana-mana itu."
"Itu bagus," kata Sakura. "Aku jadi tidak sabar menonton."
Ino nyengir lebar. "Kalau begitu aku pergi sekarang, ya. Mereka pasti sudah mulai ngumpul di sekre. Bye, Sakura. Sampaikan salamku untuk Sasuke, ya!" Dan gadis itu pun berlalu.
Punggung Ino baru saja menghilang di belokan ketika Sai muncul dari kelas. "Kita berangkat sekarang?" tanyanya sambil menaikkan posisi tasnya di bahu.
"Oh, oke," Sakura mengangguk. Kemudian keduanya berjalan menuju koridor depan. "Yang tadi itu, urusan Jurnal lagi?" tanyanya kemudian setelah mereka keluar dari pintu utama Konoha High.
"Yeah. Jurnal sedang banyak sekali kerjaan bulan ini. Mereka sedang berencana membuat proposal untuk pembuatan televisi sekolah," kata Sai.
"Cool," komentar Sakura.
"Sebenarnya itu sudah direncanakan bertahun-tahun yang lalu," jelas Sai. "Mereka sudah mulai mempersiapkannya dari dulu, tapi belum juga disetujui. Kurasa karena dananya kurang. Tapi katanya Hyuuga Corp sudah bersedia menjadi sponsor, jadi tidak ada masalah. Hanya menunggu sampai pemilihan ketua OSIS yang baru nanti, baru kami bisa mengajukan proposal. Kau tahu kan, OSIS yang sekarang menolak mentah-mentah proposal kami. Alasannya sih karena mereka terlalu banyak yang harus dikerjakan."
"Hmm…" Sakura hanya bisa mengangguk-angguk. Menurutnya urusan seperti itu memang memusingkan. Dan Sakura tidak heran OSIS yang sekarang menolaknya, karena mereka memang sedang disibukkan dengan persiapan ujian akhir, proyek tugas akhir, pendaftaran ke Universitas, festival sekolah—yang merupakan agenda akhir OSIS—dan—Sakura sering mendengar anak-anak kelas tiga meributkan soal ini—buku tahunan dan prom. Yah, walaupun sebenarnya prom adalah salah satu tugas awal dari kepengurusan OSIS yang berikutnya.
"Kau tahu, Sai," celetuk Sakura sementara keduanya sedang berjalan menuju halte bus terdekat, "Sepertinya kita sudah melupakan sesuatu."
"Eh?" Sai mengangkat alisnya menatap gadis di sampingnya. "Apa?"
Sakura menghentikan langkahnya ketika ia ingat apa yang dilupakannya. Gadis itu menepuk keningnya sendiri atas kebodohannya. "ASTAGA! KITA LUPA MEMBERITAHU NARUTO!" pekiknya. Ia buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel. "Gawat… Dia bisa ngamuk-ngamuk nih kalau tidak diberitahu Sasuke masuk rumah sakit…"
Sai hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga sama lupanya dengan Sakura.
---
TBC…
---
Um.. gomen na, chapter ini rasanya agak gak penting yah. Cuma kepingin maparin sedikit kegiatan-kegiatan apa aja yang ada dan bakal mereka lakuin di chapter-chapter mendatang selain festival sekolah; akan ada festival band gitu. Yah, udah pasaran ah festival band mah. Hihi… Dan Sai yang mulai sibuk dengan kegiatannya… Ah, sudah sembuh dari antisosial sepertinya dia..
Aw.. ada yang bisa melihat self-insert di sini? XD
Gomen lagi Naruto-nya dikit, dan Sasuke nongol lagi bobo doang. Dan Sai dan Ino… sinetron banget seeeh?? Hihi… -digebuk masa-
Thanks buat yang sudah mereview… kakkoii-chan, Primrose Violett, Uci-chan, Aika-chan, Ambu, Teh Bellatrix, Luna-chan, Arai-chan dan Bundo Ricca yang mereview di belakang layar..
Luv U all…
