Chapter 43
Rumah Sakit Konoha…
Naruto langsung meluncur ke Rumah Sakit Konoha begitu mendengar kabar dari Sakura bahwa Sasuke sedang diopname karena usus buntu. Ia tidak tahu apakah harus bersimpati atau kesal mendengar kabar itu. Di satu sisi, Sasuke adalah sahabatnya, dan sebagai sahabat yang baik ia harus mendukungnya terutama di saat-saat yang sulit—seperti sakit, misalnya. Tapi di sisi lain, Naruto juga merasa kesal lantaran ia yang terakhir mengetahui tentang kondisi Sasuke. Padahal Sai, yang notabene orang yang tidak begitu dekat dengan Sasuke, tahu lebih dulu. Bahkan turut menemaninya di rumah sakit semalaman.
Naruto enggan mengakuinya—sedikit banyak, ia merasa tidak dianggap. Merasa bersalah karena tidak terlibat dalam aksi penyelamatan Sasuke. Dan ini membuatnya sangat gusar.
"Mengapa tidak ada yang memberitahuku?" tanya Naruto dengan nada gusar ketika ia sudah berada di kamar rawat Sasuke, menatap Sakura dan Sai bergantian dari kaki ranjang Sasuke di mana ia duduk sekarang.
Sakura dan Sai bertukar pandang dari sofa yang mereka duduki sebelum Sakura menjawab dengan ekspresi minta maaf, "Kami benar-benar lupa, Naruto. Sori… Semalam yang ada di pikiran kami hanya bagaimana caranya membawa Sasuke ke rumah sakit."
"Tapi kan—"
"Kau tidak tahu bagaimana kondisinya malam itu, Naruto," sela Sakura, mencoba meyakinkan kalau ia tidak bermaksud mengabaikan cowok itu. "Rufus tiba-tiba datang ke tempatku dan menyeretku ke rumah Sasuke. Dan aku menemukannya terkapar begitu saja, seka—maksudku, kesakitan. Saat itu aku benar-benar bingung dan tidak tahu harus melakukan apa," gadis itu melirik ragu-ragu pada Sasuke yang berbaring setengah duduk di ranjangnya, tidak berkata apa-apa. "Sai ada di sana juga karena kebetulan dia meneleponku saat itu. Jadinya aku minta bantuan padanya."
Naruto mencoba membayangkan situasi saat itu. Ia tahu sifat Sakura yang mudah panik dan rasanya masuk akal kalau gadis itu lupa sama sekali untuk menghubunginya. Dia pasti akan meminta tolong pada siapa pun orang pertama yang kontak dengannya—dalam hal ini, Sai. Meskipun ia masih merasa agak kesal, tapi semuanya toh sudah terjadi. Kesal lama-lama juga tidak ada gunanya. Ah, mendadak Naruto jadi merasa tidak enak karena sempat berprasangka yang tidak-tidak pada Sakura dan Sai.
"Lagipula kau kan baru pulang dari rumah sakit dan butuh istirahat, bukan?" imbuh Sai kemudian.
"Itu betul," Sakura menanggapi cepat-cepat sambil mengangguk. "Tapi yang penting sekarang, kondisi Sasuke sudah jauh lebih baik."
Naruto menghela napas, lalu menepuk-nepuk kaki Sasuke di atas selimut yang menutupi tubuhnya, nyengir. "Yeah, benar juga. Yang penting cowok merepotkan ini sudah baikan," ujarnya yang langsung disambut death glare dari Sasuke. "Bagaimana, eh? Perutmu sudah lebih baik sekarang, kan, Sasuke?"
"Hn," sahut Sasuke dengan ekspresi aneh di wajahnya, "Tapi tidak bisa dibilang baik juga." Ia meraba bagian abdomennya yang terasa sangat tidak nyaman. Rasanya tidak karuan, seperti kembung dan perasaan aneh lain. Selain itu, bibir dan kerongkongannya juga terasa kering.
"Ada yang tidak beres, Sasuke?" tanya Sakura khawatir. Gadis itu beranjak dari sofa dan mendekati cowok itu, meraba keningnya. Tidak panas.
"Bukan di situ," gerutu Sasuke seraya menyingkirkan tangan Sakura dari keningnya. "Perutku rasanya aneh."
"Barangkali saja dia sedang merindukan usus buntumu yang baru saja diangkat," gurau Naruto seraya nyengir lebar.
Sakura tertawa. Sai tersenyum dari sofanya. Bahkan Sasuke mendengus, bibirnya terkatup rapat menahan tawa.
"Jangan ditahan begitu, Sasuke," kata Naruto dengan ekspresi serius sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya pada Sasuke. "Tertawa itu baik untuk kesehatan. Bisa mempercepat proses penyembuhan, lho. Sudah ada penelitiannya," imbuhnya sok tahu.
Sekali lagi, ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa dan kali ini Sasuke pun ikut ambil bagian. Tapi ia segera berhenti ketika merasakan perasaan tidak nyaman lagi dalam perutnya. "Sialan kau," gerutu Sasuke sambil menyenggol Naruto dengan kakinya, "Gara-gara kau nih…" ia meringis, memegangi perutnya.
Naruto terkekeh-kekeh. "Sori.. sori… Oh ya, omong-omong aku membawakan sesuatu untukmu," Naruto merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebutir apel. "Sori aku cuma bawa satu. Hanya ini yang bisa kutemukan di dapur panti—karena kalian begitu mendadak memberitahuku sih," tambahnya pada Sakura dan Sai. Ia lalu melemparkan apel itu pada Sasuke yang langsung menangkapnya.
"Trims," Sasuke menyeringai tipis. Ia menimang-nimang apel merah itu di tangannya. "Tapi sayang sekali. Aku belum boleh makan apa-apa seharian ini."
"Eh? Kenapa?" tanya Naruto heran. Ia mengerling ke meja di samping ranjang. Biasanya jam-jam begini mereka sudah mengirimkan makan siang ke kamar-kamar, Naruto membatin, seperti saat ia dirawat kemarin. Tapi meja Sasuke kosong melompong.
Sasuke mengangkat bahunya. "Perawat yang merawatku yang bilang begitu. Dan kakakku langsung menyingkirkan semua makanan dari sini."
"Kalau begitu, ini juga harus disingkirkan," kata Sakura ceria sambil mengambil apel dari tangan Sasuke dan mengembalikannya pada Naruto yang nyengir lebar.
"Yeah. Ayo kita singkirkan…" dan Naruto langsung menggigit apel itu dalam potongan besar, mengunyahnya dengan nikmat seakan ia baru pertama kalinya makan apel. "Aah… 'Nak…" ujarnya dengan mulut penuh.
Sasuke menelan ludahnya, lalu memalingkan wajah. Melihat Naruto makan mendadak membuatnya menyadari kalau ia sangat lapar dan haus—yah, meskipun tidak disertai dengan suara gemuruh di perut yang biasa terdengar kalau seseorang sedang lapar.
"Naruto! Itu jangan sampai menetes ke kasur!" seru Sakura dengan ekspresi jijik di wajahnya. "Eew… kau ini jorok sekali!"
Naruto buru-buru menyeka dagunya. "Oops, sori…" kekehnya. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Naruto. Sementara cowok pirang itu melahap apelnya dengan nikmat, Sakura berpaling lagi pada Sasuke.
"Omong-omong, ke mana Kak Itachi?" tanyanya.
"Katanya dia ada perlu keluar," sahut Sasuke seraya berusaha tidak melihat ke arah Naruto. "Sepertinya sih pulang, tidur," ia menambahkan lebih pelan.
"Dan meninggalkanmu begitu saja?" kata Sakura tidak percaya. Sasuke hanya mengangkat bahunya. Sepertinya tidak begitu, pikir Sakura. Karena setahunya Itachi adalah tipikal kakak yang protektif. Dia tidak akan meninggalkan adiknya tanpa alasan…
Tepat saat itu, seorang perawat memasuki ruangan dengan membawa nampan berisi beberapa peralatan. Perawat itu berbeda dengan perawat yang diingat Sakura merawat Sasuke semalam. Sakura menyingkir dari sisi ranjang Sasuke ketika perawat berambut merah pendek itu mendekat.
"Bagaimana keadaanmu, Sasuke?" tanya perawat itu dengan senyum hangat. Ia meletakkan nampannya di meja dan mulai memeriksa botol infus Sasuke yang rupanya sudah nyaris habis. "Sudah merasa lebih baik?"
"Hn," sahut Sasuke singkat sementara sang perawat mematikan aliran infusnya dan mulai melakukan pemeriksaan standar. "Kapan saya boleh makan, Suster?"
Perawat itu menghentikan pekerjaannya sejenak dan menoleh pada Sasuke, tersenyum seperti seorang ibu tersenyum pada anaknya yang sedang sakit dan bertanya lembut, "Kau sudah kentut?"
Wajah Sasuke langsung merona merah mendengarnya. Ditanya soal kentut di hadapan teman-temannya adalah hal terakhir yang diinginkannya saat itu. Sementara itu Naruto langsung terbahak-bahak, Sakura dan Sai hanya tersenyum simpul, menahan tawa.
"Kenapa saya harus kentut dulu baru bisa makan?" gerutu Sasuke.
"Kau pasti pernah belajar tentang sistem pencernaan di sekolahmu, bukan?" tanya si perawat sabar. Sasuke mengangguk. "Nah, kau pasti tahu bahwa sistem itu tidak pernah berhenti bekerja, bukan? Selama operasi kemarin, sistem itu dihentikan sementara dengan obat anastesi sehingga sistem pencernaanmu tidak berfungsi untuk sementara waktu. Dan sekarang, kita hanya bisa menunggu sampai efek anastesi itu hilang dan sistem pencernaanmu siap untuk menerima makanan lagi," paparnya. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya menyiapkan botol cairan infuse baru untuk Sasuke.
"Lalu apa hubungannya dengan kentut, Sus?" kali ini Naruto yang bertanya penasaran.
"Yah, bisa dibilang kentut itu salah satu tanda kalau pencernaan sudah bekerja kembali," jawab si perawat sambil memasang infus set yang telah dicabutnya dari botol yang sudah nyaris kosong ke botol baru, lalu menuliskan sesuatu di sana. "Itupun, kita harus mengetesnya dulu dengan memasukkan makanan secara bertahap. Bisa kita coba dengan air dulu, lalu makanan yang lembut-lembut sebelum bisa makan makanan yang lebih keras…"
Naruto menganggukkan kepala mengerti.
"Apa yang terjadi kalau langsung makan makanan keras?" tanya Sakura, turut penasaran.
"Kau bisa mual dan muntah-muntah," jawab perawat itu ringkas. Ia kemudian memasang botol infus ke standard infuse sebelum mengalirkan kembali selangnya. Lalu menuliskan sesuatu di lembar dokumentasi catatan kesehatan Sasuke yang dibawanya. Sekali lagi ia memeriksa area tusuk IV catheter di lengan Sasuke. "Di sini sakit tidak, Sasuke?" tanyanya.
"Tidak," gerutu Sasuke.
"Luka operasimu sakit?"
"Tidak."
Perawat berwajah ramah itu menangguk, lalu mencontreng sesuatu di atas catatannya. "Sekarang aku suntikkan antibiotik untukmu, ya," ujarnya lagi seraya mengeluarkan sebuah spuit berisi antibiotik dari bungkusnya. Lalu menyuntikkannya ke salah satu bagian selang infuse Sasuke perlahan. Setelah selesai, ia membuang bekas spuit itu ke dalam bengkok sampah di tempat peralatannya. "Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Oh ya, dokter Rin mungkin akan memeriksamu lagi nanti bersama perawat yang shift malam, sekalian mengganti perbanmu. Kalau ada apa-apa, kau bisa panggil suster. Oke, Sasuke?"
Sasuke menggerutu lagi. Perawat itu melempar senyum terakhir padanya dan ketiga temannya yang lain sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah pintu kamar ditutup, Naruto langsung terbahak-bahak lagi. "Ya ampun… Aku baru tahu kalau kentut itu nikmat!" serunya girang.
"Naruto! Jangan coba-coba kentut di sini!" sambar Sakura langsung sambil membelalak pada cowok pirang itu.
Naruto terkekeh. "Yah, sudah terlanjur, tidak bisa ditarik lagi…"
Refleks ketiga temannya langsung menutup hidung masing-masing dengan diiringi protes Sakura. Sementara itu Sasuke mengambil tindakan nyata dengan menendang Naruto yang tertawa kegirangan, membuat cowok itu nyaris terjatuh dari kasur.
"Oi! Kalau kakiku patah betulan, kau tanggung jawab!" Naruto mendengking.
Sasuke mencibirnya.
Setengah jam berlalu, di luar mulai gelap. Bukan, bukan karena senja sudah turun, melainkan awan hitam pertanda akan segera turun hujan yang mulai menutupi langit Konoha. Sai berinisiatif menutup jendela kamar yang terbuka untuk mencegah masuknya angin dingin yang lembab ke dalam ruangan.
"Sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya kalian pulang saja," kata Sasuke pada ketiga temannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura.
"Aku bukan anak kecil yang harus ditunggui terus, Sakura," Sasuke berkata padanya.
Sakura hanya tersenyum simpul, teringat pada hari sebelumnya saat pertama kali ia menemukan Sasuke yang terkapar. Saat itu Sasuke memohon-mohon padanya untuk tidak meninggalkannya. Tapi kondisi saat itu benar-benar berbeda. Malah, Sakura tidak yakin Sasuke ingat pernah berkata seperti itu padanya.
"Baiklah. Yah… kurasa memang sebaiknya kami pulang." Sakura mengangguk, lalu menoleh pada dua yang lain.
Sai sudah berdiri, begitu juga dengan Naruto yang telah turun dari tempat tidur dan memakai kruk-nya lagi. Naruto berjalan ke samping Sakura dan memandang Sasuke. "Benar, tidak apa-apa? Kurasa lebih baik kami di sini sampai Kak Itachi datang."
Sasuke mendengus tak sabar. "Sudah kubilang tidak apa-apa, kan? Lagipula aku tadi sendirian waktu Sakura dan um… Sai datang." Ia melirik ke arah Sai dengan ragu-ragu.
Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Sasuke memandang Sai, seakan menunggunya bicara sesuatu sementara Sai hanya tersenyum seperti biasa seraya menggaruk pipinya dengan jari—yang rupanya sudah menjadi kebiasaannya setiap kali ia merasa canggung. Naruto memandang keduanya temannya itu bergantian dengan ekspresi bingung. Di sebelahnya, Sakura tampak tersenyum paham. Sejak awal, Sai dan Sasuke memang tidak saling bicara secara langsung. Sai lebih banyak diam dan mendengarkan, sesekali ikut tertawa sementara Naruto, Sakura dan Sasuke asyik ngobrol. Sakura beberapa kali memergoki Sai membuka mulut seakan ingin ikut bicara, tapi selalu tidak jadi.
Dan Sasuke… ia tidak lagi berlagak sinis di depan cowok berkulit pucat itu. Ia juga tidak membuang muka seperti yang biasa dilakukannya setiap kali bertemu dengan Sai—meskipun sepertinya masih enggan memulai pembicaraan terlebih dahulu dengannya. Sasuke tentu saja masih ingat bagaimana Sai tetap berkepala dingin dan mengambil keputusan dengan tenang sementara Sakura panik ketika mereka membawanya ke rumah sakit hari sebelumnya. Sakura benar, jika tidak ada Sai, entah apa yang terjadi… Dan Sasuke berterimakasih padanya untuk itu.
"Hei…"
"Ano…"
Kedua cowok itu berkata bersamaan. Mereka berhenti dan bertukar pandang dengan alis terangkat. Naruto akan membuka mulutnya untuk berkomentar, tapi Sakura dengan cepat menyentuh lengannya, memberinya isyarat lewat tatapan untuk tidak ikut campur. Naruto mengangguk mengerti.
Sai tertawa canggung. Ia berjalan mendekati ranjang Sasuke. "Un…" ia memulai, "Aku dari dulu ingin sekali minta maaf padamu soal… yah.. kau tahu, kan?" Sekali lagi ia menggaruk pipinya.
"Hn," sahut Sasuke. Sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas. "Terimakasih juga… untuk yang kemarin."
"Ah," Sai mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu, kurasa kita impas, kan, Sasuke?"
Sasuke menyeringai. "Tentu, Sai."
Wajah Sai tampak berseri-seri ketika Sasuke mengulurkan tangan padanya. Sai langsung menyambutnya dan mereka berjabat tangan. Di dekat mereka, Sakura dan Naruto bertukar senyum puas. Dan keempat sahabat itu tertawa bersama.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Bukan perawat kali ini, melainkan sosok jangkung berambut hitam agak gondrong, kakak Sasuke. Pria muda itu masih mengenakan mantel panjang di atas kemejanya dan ia tersenyum pada ketiga teman adiknya. "Oh, ada tamu rupanya," sapanya sambil membuka pintu lebih lebar.
"Dari mana saja kau?" tanya Sasuke ketus pada kakaknya.
Itachi mengeluarkan seringai yang identik dengan seringai adiknya. "Apa-apaan itu sambutanmu, Sasuke? Tidak sopan. Malu tuh sama teman-temanmu."
Sasuke memutar bola matanya sementara Sakura, Naruto dan Sai hanya bertukar cengiran.
"Kami sudah mau pulang kok, Kak Itachi," kata Naruto pada kakak sahabatnya.
"Kenapa buru-buru?"
"Sudah mau hujan, Kak," Sakura kali ini yang menyahut. "Lagipula, kami pikir Sasuke pasti butuh istirahat."
"Oh, baiklah kalau begitu—"
Tapi sebelum Naruto, Sakura dan Sai sempat melangkah menuju pintu, dua sosok lain muncul dari sana. Sosok keduanya begitu anggun dan mengesankan sehingga hanya dengan melihat mereka saja, orang bisa tahu bahwa mereka berasal dari kalangan keluarga terhormat. Sosok pertama adalah seorang pria bertubuh tinggi besar berbalut mentel cokelat gelap panjang. Rambutnya yang berwarna hitam agak kelabu membingkai wajahnya yang bergaris tegas dan serius. Aura mengintimidasi menguar dari sosoknya sampai-sampai ruangan itu terasa sesak hanya dengan kehadirannya.
Sementara sosok yang berdiri di sampingnya sama sekali berbeda. Sosok wanita itu tampak masih sangat memesona dalam usianya yang sudah mendekati paruh baya—tinggi langsing dan cantik. Parasnya yang begitu lembut dan keibuan dibingkai rambut hitam kebiruan yang terjatuh dengan lembut sampai ke bawah tulang belikatnya—membuatnya tampak seperti wanita usia awal tigapuluhtahunan. Dan berbeda dari pria di sebelahnya, aura hangat menyenangkan menguar darinya.
"Ah, sebelum kalian pergi," kata Itachi, mengalihkan perhatian mereka dari kedua sosok yang baru muncul itu. Itachi menoleh pada kedua orang di sampingnya. "Ayah, Ibu, kenalkan. Mereka bertiga adalah teman-teman Sasuke di sekolah. Yang perempuan namanya Sakura," Itachi menunjuk Sakura yang langsung mengangguk sopan, "Yang pirang itu Naruto," Naruto juga mengangguk, tidak lupa dengan cengiran khasnya, "Dan yang berambut hitam itu, Sai." Dan Sai juga mengangguk sopan pada kedua orang tua Sasuke.
"Nah, Sakura, Naruto, Sai. Perkenalkan, mereka berdua ini adalah orang tua kami," kata Itachi memperkenalkan kedua orang tuanya.
Ibu Sasuke tersenyum hangat pada mereka sementara ayahnya hanya mengangguk singkat, dingin, seperti kesan yang selalu ditampilkan putra bungsu mereka.
"K-kalau begitu kami pulang dulu, Kak Itachi… Um… Paman dan Bibi Uchiha…"
Dan setelah acara pamit yang penuh kecanggungan itu, ketiganya bergegas meninggalkan ruangan, menutup pintu di belakang mereka perlahan.
Sasuke, yang dari tadi hanya bisa tercengang melihat kemunculan ayah dan ibunya di sana, akhirnya menemukan kembali suaranya. "I-Ibu…" bisiknya agak serak, "Ayah…"
Mata Sang Ibu langsung berkaca-kaca. Wanita itu bergegas menghampiri putra bungsunya tercinta. "Sasuke… Oh, anakku Sayang…" dan detik berikutnya Sasuke sudah tenggelam dalam pelukan Mikoto yang menangis bahagia karena bisa bertemu lagi dengannya. "Ibu rindu sekali padamu, Nak…" ia melepaskan pelukannya, membingkai wajah putranya itu dengan kedua tangannya yang lembut, memperhatikannya dengan seksama. "Kau kelihatan kurus, Sayang. Bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik, kan? Oh, maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa menjagamu…" Dan ia menciumi wajah si bungsu, membuat wajah Sasuke basah kerena air matanya.
"Aku tidak apa-apa, Bu…" sengal Sasuke. Lama tidak mendapatkan perlakuan seperti itu dari ibunya, membuatnya agak canggung juga. Terlebih ketika melihat sang kakak yang nyengir padanya dari atas bahu ibunya.
"Ibu cemas sekali waktu kakakmu memberitahu kau masuk rumah sakit," kata Mikoto seraya mengelus rambut hitam Sasuke.
"Mereka sudah merawatku dengan baik, Bu. Jangan khawatir," sahut Sasuke, tersenyum menenangkan pada ibunya.
Mikoto mengangguk, tersenyum lembut. "Ibu tahu. Kakakmu sudah cerita semuanya. Ibu senang kau mendapatkan teman-teman yang begitu baik di sini. Dan—" ia menoleh pada suaminya yang sejak tadi belum bergerak dari tempatnya, "Ayahmu juga mencemaskanmu, Nak.."
Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sang Ayah. Wajah itu masih sama tegas dan sangar seperti yang terakhir kali diingat Sasuke—saat mereka bertengkar hebat sebelum Sasuke kabur dari rumah. Namun entah bagaimana, Sasuke merasa ada yang berubah. Ini hanya perasaannya saja ataukah sorot mata hitam Fugaku Uchiha memang berubah? Seolah ia sedang menanggung beban yang sangat berat.
"A-Ayah…?" panggil Sasuke canggung.
"Sasuke…" Fugaku perlahan mendekat ke sisi ranjang. Mikoto mundur untuk memberi tempat pada suaminya. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanyanya agak kaku setelah berdiri di sisi putranya.
Sasuke mendongak memandang wajah sang ayah. Tenggorokannya tercekat ketika ia berkata, "Baik… Ayah…"
Sudut bibir Fugaku tertarik membentuk senyuman kaku. "Itu bagus."
Dada Sasuke tiba-tiba saja terasa sesak. Ia tidak pernah menyangka akan merasakan rindu seperti ini terhadap ayahnya. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak pernah benar-benar dekat, tapi dari dulu sosok Fugaku adalah sosok yang ia kagumi selain Itachi.
Fugaku kemudian duduk di sisi ranjang, menatap putra bungsunya lekat-lekat. "Ayah ingin minta maaf padamu, Sasuke. Atas semuanya. Mungkin kau membenci Ayah, tapi Ayah ingin kau tahu, Nak. Ayah sama sekali tidak pernah bermaksud membuatmu merasa diabaikan—"
Sasuke tersentak ketika melihat mata ayahnya mulai basah. Air mata tertahan di pelupuk matanya yang tebal.
"—Harusnya Ayah memberikan kesempatan padamu, Nak. Harusnya Ayah tidak memaksakan—"
"Ayah!" potong Sasuke. Ia tidak tahan lagi melihat sosok yang biasanya tampak tegas dan kuat di hadapannya itu mendadak menjadi sedemikian lemah dan tak berdaya seperti ini. Dan ingatan tentang kata-kata kurang ajar yang pernah dilontarkannya pada pria itu menghantamnya dengan telak, membuatnya merasa telah menjadi anak yang tidak tahu diri. "Ayah.. tidak begitu," ujarnya memohon, "Yang Ayah lakukan semua demi aku dan kakak—" dari atas bahu ayahnya, Sasuke bisa melihat Itachi telah merangkul Mikoto yang wajahnya berkilau karena air mata. Keduanya tersenyum seraya mengangguk setuju, "Akulah yang seharusnya minta maaf, Yah… Harusnya aku—"
Kata-kata Sasuke berikutnya langsung teredam begitu Fugaku memeluknya erat-erat. Sasuke balas memeluk ayahnya sama eratnya sementara cairan bening yang panas meluncur jatuh dari kedua mata onyx-nya. Sasuke tidak lagi bisa menahan emosinya. Ia menangis di bahu Fugaku.
Ayah… Maafkan aku…
.
.
.
Yang dikatakan Itachi pada Sasuke beberapa bulan yang lalu menang benar. Fugaku memang orang yang keras, tapi bukan berarti tidak bisa diajak berbicara. Dan di sanalah ia sekarang, duduk di sisi putra bungsunya, mendengarkannya, memperlakukannya sebagaimana Sasuke ingin diperlakukan. Sejajar, seperti orang dewasa.
.
.
.
Keesokan Harinya, Konoha High…
"Kau benar-benar pintar di pelajaran eksakta seperti ini, Sakura," ujar Sai sambil menutup buku catatannya, lalu menoleh dan tersenyum pada gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya di salah satu bangku kosong di perpustakaan. Siang itu, Sai baru saja selesai mendapatkan 'pelajaran Kimia tambahan' dari Sakura—atau lebih tepatnya, Sai lah yang meminta bantuan pada gadis itu untuk mempelajari beberapa bab di mata pelajaran Kimia yang tidak ia mengerti. "Terimakasih sudah membantuku mempelajari ini."
Sakura tertawa kecil. Wajahnya sedikit merona mendengar pujian Sai barusan. "Yeah. Sama-sama, Sai. Itulah gunanya teman, kan?"
"Benar," Sai mengangguk setuju. Seperti yang disebutkan dalam buku yang kerap dibacanya, seorang teman selalu membantu di saat seseorang mengalami kesulitan. Kalimat yang sudah dihafal Sai di luar kepala. "Dan terimakasih atas catatan yang kau buatkan untukku. Sangat membantu."
"Hmm…" Sakura mengangguk. Wajahnya berseri-seri. Ah, memang rasanya puas sekali kalau sudah membantu orang, gadis itu membatin. Sakura lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu. Kau mau ke kantin?"
"Boleh."
Dan keduanya bergegas mengumpulkan barang-barang mereka dan pergi ke meja pustakawan untuk meminjam beberapa buku sebelum meninggalkan perpustakaan. Entah hanya perasaan Sakura saja atau memang benar, sepertinya mata hampir semua anak—atau yang mengenal mereka berdua saja—mengarah padanya dan cowok di sampingnya sementara mereka berjalan di koridor menuju kantin. Bukan hanya itu, tapi mereka juga mulai berbisik-bisik. Dan rupanya bukan hanya Sakura saja yang menyadarinya.
"Sepertinya semua orang tidak senang melihatku bersamamu," celetuk Sai kemudian. Suaranya terdengar sedih.
Sakura tampak terkejut. "Kau ngomong apa, sih? Tentu saja tidak."
Sai tersenyum pahit ke arahnya. "Kau tahu kan, aku tidak disukai anak-anak lain karana kelakuan burukku dulu. Sementara kau… bintang kelas dan segala macam—"
"Oh, jangan pedulikan mereka," Sakura mengibaskan tangannya tidak sabar, "Kau yang sekarang berbeda dengan kau yang dulu. Kau yang sekarang… jauh lebih baik," ia menambahkan dengan senyuman. Lalu menepuk lengan cowok itu pelan. "Jangan khawatir, Sai. Nanti juga mereka akan menerimamu setelah mereka mengenalmu lebih jauh—seperti Sasuke. Teman-temanmu di Jurnal juga baik padamu, kan?"
"Kurasa itu karena Hinata yang meminta mereka bersikap begitu," sahut Sai mengangkat bahu.
"Hinata memang gadis baik," komentar Sakura. "Dia selalu bisa melihat kebaikkan dalam diri semua orang. Sifatnya itu agak mirip Naruto." Mereka melewati serombongan besar gadis kelas satu yang baru saja keluar dari kantin. "Sepertinya bukan hanya Hinata kok," kata Sakura setelah mereka memasuki kantin, "Aku pernah mendengar Kiba dan teman-temannya memuji karikatur yang kau gambar untuk majalah bulan lalu."
"Benarkah?" tanya Sai heran. Meski begitu, ia tampak lebih riang setelahnya.
Kedua remaja itu mengambil makan siang di konter, lalu mencari bangku kosong di kantin yang ramai itu. Mereka akhirnya menemukan bangku kosong di dekat jendela tinggi, di dekat bangku yang diduduki serombongan besar gadis kelas tiga.
"Hei, Sakura!" salah satu gadis dari meja itu melambai padanya ketika ia dan Sai lewat. Tenten.
"Ya, Tenten?" sahut Sakura seraya memaksakan senyum kaku. Sakura masih mengingat pembicaraan Tenten dan Yakumo yang tidak sengaja ia dengar hari sebelumnya di kantin.
"Nanti siang kita kumpul, ya… Ada yang mau dibicarakan. Ajak yang lain kalau kau ketemu. Aku tadi sudah ajak Hokuto dan Mizura."
"Oh, oke!" Sakura mengangguk, lalu pergi ke meja yang ditujunya bersama Sai. Sakura meletakkan nampannya di atas meja dan menghela napas.
"Kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Sai seraya melempar pandang khawatir pada gadis di depannya.
"Hm?" Sakura yang sedang mengunyah suapan pertama makaroninya hanya mengangkat alisnya dengan bingung.
"Wajahmu kelihatan agak pucat," kata Sai. Ia merobek roti isinya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Sakura menelan makaroninya, lalu tersenyum lemah. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."
"Kalau begitu sebaiknya kita tidak usah membesuk Sasuke dulu hari ini. Kau istirahat saja di rumah setelah kumpul," ujar Sai. "Lagipula sudah ada keluarganya yang menungguinya. Seharusnya kita tidak perlu terlalu khawatir lagi," ia menambahkan cepat-cepat ketika Sakura hendak membuka mulut untuk membantahnya. "Cuaca buruk begini, kita harus pandai-pandai jaga kesehatan. Sasuke juga pasti tidak ingin kau sakit."
Sakura menghela napas lagi. "Yeah, kau benar. Kita selalu pulang malam beberapa hari ini, kan?" katanya seraya menyendok makaroninya lagi. Tapi sebelum suapan itu sampai di mulutnya, gadis itu mendadak tertawa. "Kudengar si Naruto juga dimarahi ayahnya gara-gara berkeliaran kemarin, bukannya mengistirahatkan kakinya itu—Sai? Kenapa kau?" tanyanya keheranan ketika tiba-tiba cowok yang duduk di depannya itu bengong. "Haloo?" Sakura melambaikan tangannya di depan wajah Sai, tapi cowok itu tetap bergeming.
Mata hitamnya terus memandang ke arah pintu masuk kantin tanpa berkedip. "Sang Bidadari…" ia berbisik.
"Ha?" Sakura menurunkan tangannya dan menoleh ke arah pandang Sai sambil mengernyit bingung. Dua orang gadis kelas satu sedang mengobrol di dekat pintu—tapi kemudian pandangannya langsung beralih begitu ia melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang melambai penuh semangat ke arahnya.
"Sakura!" seru Ino sambil berjalan cepat ke meja mereka. Wajahnya cerah ceria seperti biasanya.
"Hei," sapa Sakura begitu Ino tiba di mejanya, menarik kursi kosong dan duduk. "Kukira kau bakal di studio seharian?"
"Jadi kau tidak suka melihatku, eh?" tukas Ino dengan bibir dikerucutkan. Ia menggeser nampan makan siang Sakura ke depannya dan dengan lahap menyantap macaroni Sakura tanpa permisi.
"Lapar atau doyan?" ledek Sakura terkekeh-kekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
Ino nyengir, lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Sori. Habis dari tadi lapar sekali... Ternyata ngomong itu butuh ener—" kata-kata Ino terputus. Ia seperti baru menyadari kehadiran orang lain yang asing di meja itu. "Halo," sapanya ramah. "Er…" gadis itu melirik Sakura.
"Oh," Sakura berseru. Terkejut sendiri ketika menyadari kenyataan bahwa Sai dan Ino belum pernah bertemu sebelumnya. "Ino, kenalkan, ini Sai. Anak pindahan dari KAA yang pernah kuceritakan padamu itu." Ia menoleh pada Sai. "Sai, ini temanku, Ino Yamanaka."
"Halo, Sai. Salam kenal," kata Ino ceria seraya mengulurkan tangannya pada Sai.
Tapi Sai seperti tidak mendengarnya. Cowok itu terus saja menatap Ino dengan pandangan aneh, seperti terpana.
Dengan tangan masih terulur pada Sai, Ino melirik pada Sakura dan melempar pandang 'dia-kenapa?'.
Sakura memutar bola matanya. Ino memang sangat cantik dan menarik, tapi rasanya reaksi Sai ketika melihatnya terlalu berlebihan. "Sai," gadis itu menegur, menyenggol tangan Sai yang tergeletak di atas meja.
Sai tersentak, seakan baru tersadar dari lamunannya. Ia memandang Sakura sekilas sebelum kembali menatap Ino. "Oh, maaf!" serunya seraya buru-buru menyambut tangan Ino yang dari tadi terulur padanya, tersenyum kaku. "Aku Sai. Salam kenal."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ino kemudian seraya menatap Sai dengan tatapan ingin tahu. "Rasanya wajahmu familier."
Sai menggaruk pipinya dengan jari. "Aku rasa tidak," gumamnya. Ia terdiam sejenak, tampak berpikir. "Tapi mungkin kau pernah bertemu dengan orang yang mirip denganku. Kau kenal cowok bernama Shin?"
"Shin?" Ino mengerutkan dahi sementara ia mencoba mengingat-ingat nama deretan cowok yang pernah ia kenal –atau yang mengajaknya kenalan—tapi ia tidak mengingat ada cowok dengan nama Shin. "Sepertinya aku tidak kenal nama itu."
"Tidak?" Ekspresi wajah Sai terlihat aneh. Ia menatap Ino dengan mata dilebarkan selama beberapa saat, membuat gadis itu jengah, sebelum berpaling. "Tidak. Ini pasti salah… Bukan dia…" ia bergumam, lebih pada dirinya sendiri.
Ino melempar pandang bertanya pada Sakura. Gadis bermata hijau itu hanya mengangkat bahu, sama bingungnya. Sakura baru saja akan membuka mulut untuk bertanya apa yang terjadi, tapi Sai tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya.
"M-maaf…" Sai tampak seperti orang bingung. "Maaf…" dan ia pun berjalan meninggalkan bangku itu dan keluar dari pintu kantin.
Baik Sakura maupun Ino dengan sukses dibuat bengong oleh tingkah aneh Sai barusan.
"Kenapa sih, dia?" Ino lah yang pertama kali memecah keheningan.
"Entahlah…" Sakura sekali lagi mengangkat bahu. Ia menyeruput air mineralnya. "Barangkali dia memang begitu kalau bertemu orang baru."
"Tapi sepertinya dia tadi baik-baik saja—Ah, sudahlah," kata Ino seraya mengibaskan tangannya, memutuskan untuk tidak ambil pusing. "Dengar, aku ada penawaran menarik untukmu, Sakura."
"Penawaran menarik?" Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Apa?" Ia menyuap seseondok penuh macaroni ke mulutnya lagi.
Ino melipat kedua lengannya di atas meja seraya melempar pandang memohon pada sahabatnya itu. "Kau mau tidak, menjadi second vocalist di band-ku?"
Sakura tersedak. Ia terbatuk-batuk. Disambarnya botol air mineralnya dan menenggak isinya banyak-banyak. Matanya berair. "Aku?" Sakura tertawa sangsi. "Mana bisa…"
"Bisa saja. Suaramu kan lumayan," sahut Ino enteng. "Ayolah… The Glossy dan Alpha Band –band yang baru dibentuk klub musik untuk diikutkan dalam Festival Band nanti—juga punya dua vocalist," ujarnya memohon.
Sakura mengunyah suapan terakhir makaroninya perlahan-lahan lalu menelannya sebelum menjawab, "Sepertinya benar-benar tidak bisa, Ino. Sori. Soalnya nanti aku bakal sibuk dengan drama untuk festival sekolah. Kau tahu kan, ini penting sekali…"
Ino tampak kecewa, tapi tidak memaksanya. "Aku mengerti…"
"Lagipula kau kan bisa duet dengan Naruto. Kau lupa ya, dia kan pernah jadi vocalist menggantikanmu waktu kau kena flu berat tahun lalu? Dan suaranya tidak buruk, kan?" Sakura mengingatkannya.
Gadis pirang itu nyengir. "Oh yeah, aku lupa. Benar juga ya. Naruto… Ooh… aku benar-benar ingin sekali mengalahkan KAA tahun ini—mereka kan langganan juara tiap tahun!"
"Yeah.. yeah… semoga sukses kalau begitu," kata Sakura menyemangati.
"Kau juga," kata Ino, nyengir, "Kau harus mendapatkan peran utama di drama tahun ini, Sakura! Awas kalau tidak!"
Sakura langsung mengeluh keras-keras. Mengingat drama itu membuatnya frustasi sendiri. Membayangkan harus berkompetisi dengan selusin lebih cewek—terutama yang kelas tiga—untuk mendapatkan peran utama membuatnya mual.
Memangnya aku bisa?
.
.
.
Kelakuan Sai mendadak aneh sepanjang siang. Cowok itu jadi sering tampak asyik sendiri dengan pikirannya dan tak hentinya berguman "..bukan dia…" atau "..salah orang…" dan kata-kata semacam itu. Sai bahkan sempat ditegur guru mereka karena tidak berkonsentrasi di kelas dan ini membuat Sakura khawatir juga.
'Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan Sai?' Sakura bertanya-tanya dalam hati. 'Jangan bilang kalau ini gara-gara pertemuannya dengan Ino tadi? Jangan bilang kalau Sai—'
"…Kalian cari literature tentang tradisi-tradisi kuno di era shinobi," suara guru Kebudayaan mereka, Anko Mitarashi, membuat perhatian Sakura teralih. "Kalian buat ringkasannya dan dikumpulkan minggu depan."
Tepat saat itu bel tanda jam pelajaran terakhir usai berbunyi dan anak-anak langsung ribut membereskan barang-barang mereka. Sakura buru-buru mencatat PR-nya di buku catatan dan menandainya besar-besar dengan spidol merah.
"Sekian pelajaran hari ini. Selamat siang." Dan guru wanita yang terkenal nyentrik itu pun segera meninggalkan kelas.
Sementara anak-anak lain mulai meninggalkan kelas dengan suara gaduh, Sakura menoleh ke meja Sai. Cowok itu tampak sedang terburu-buru membereskan bukunya, menjejalkannya asal saja ke dalam tas bersama alat-alat tulisnya.
"Kau baik-baik saja, Sai?" tanya Sakura, heran dengan perubahan sikap Sai yang biasanya tampak tenang itu menjadi sedemikian gelisah.
"Hn? –Oh, yeah. Tentu," sahutnya sambil menyampirkan tasnya ke bahu. "Aku duluan, Sakura." Dan cowok itu langsung melesat meninggalkan kelas, nyaris bertabrakan dengan Ino di pintu masuk. Keduanya bersitatap sesaat sebelum Sai akhirnya berpaling dan segera menghilang di koridor.
"Sai kelihatannya buru-buru sekali," komentar Ino ketika ia berjalan menghampiri bangku Sakura.
Sakura mengangkat bahunya, memasukkan buku terakhir yang muat ke dalam tasnya dan mengancingnya. "Entahlah. Dari tadi siang dia memang agak aneh. Sejak bertemu denganmu, tepatnya," imbuh Sakura dengan seringai jahil. "Hei, jangan-jangan Sai naksir kau!"
Ino tertawa ringan seraya mengibaskan tangannya. "Yang benar saja. Kami kan baru pertama kali bertemu."
Sakura memutar bola matanya. "Love at the first sight kan mungkin saja terjadi, Ino," godanya.
"Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama, Sakura. Perasaan seperti itu butuh proses," tandas Ino serius.
Sakura hanya tertawa. Ia menggendong beberapa buku yang tidak muat di dalam tas di dadanya dan mereka bergerak menuju pintu.
"Omong-omong, kau melihat Chouji dan Shikamaru tidak?" tanya Ino ketika keduanya sedang menyusuri koridor kelas yang penuh dan bising.
Sebelum Sakura sempat menjawabnya, kedua cowok yang dimaksud Ino muncul di ujung koridor, bersama beberapa anak klub musik yang lain. Sepertinya mereka baru saja dari ruang sekretariat klub musik –yang juga berfungsi sebagai studio mereka.
"Hei, Shikamaru!" panggil Ino keras sambil melambaikan tangannya pada rombongan itu. Salah satu cowok bertampang ngantuk dan berkucir tinggi menoleh ke arah sumber suara. Shikamaru balas melambai dengan malas-malasan.
Ino menoleh pada Sakura. "Hari ini adalah latihan kami yang pertama di studio Shikamaru. Tidak lengkap, sih. Tapi lumayanlah…" beritahunya.
"Semoga sukses latihannya kalau begitu," ujar Sakura menyemangati.
Ino nyengir padanya. "Yeah. Sampai ketemu, kalau begitu, Sakura!" Dan gadis itu bergegas menghampiri rombongan Shikamaru.
Sebuah tepukan di bahunya membuatnya Sakura menoleh dan mendapati Hokuto, teman di klub teaternya, sudah berdiri di sebelahnya. Ia nyaris saja lupa kalau klub teater harus berkumpul siang itu kalau saja Hokuto tidak mengingatkannya. Gadis itu lalu mengajak Sakura bersama-sama menuju ruang klub teater.
Ruangan itu sudah ramai ketika mereka datang. Sepertinya semua anggota—termasuk anggota yang tidak begitu aktif, atau malah bukan anggota sama sekali—mulai dari kelas satu sampai kelas tiga ada di sana. Kesemuanya tampak bergairah. Dari tahun ke tahun, daya tarik drama tahunan memang begitu besar. Biasanya kalau kau mendapatkan peran, kau bisa mendadak jadi selebriti di sekolah. Bahkan kalau kau beruntung, fotomu akan muncul di surat kabar lokal.
Hokuto menemukan (menurut gossip) pacarnya, Mizura, duduk di rombongan cowok kelas dua, lalu mengajak Sakura duduk di sana juga bersamanya.
"Oke, teman-teman!!" seru Tenten keras dari atas podium kecil di ujung ruangan, mencoba meredam kebisingan yang ditimbulkan anak-anak di ruangan itu. Setelah ruangan itu lebih tenang, ia baru melanjutkan, "Terimakasih banyak sudah datang! Senang sekali melihat antusiasme kalian semua!"
Beberapa anak mulai bertepuk dan bersiul. Tenten mengangkat tangannya, meminta mereka tenang lagi.
"Seperti yang kalian tahu, kita akan menampilkan drama tahunan untuk Festival Sekolah nanti. Dan aku harap, drama tahun ini akan menyamai kesuksesan—bahkan melebihi—drama tahun-tahun yang lalu!"
Terdengar teriakan setuju dan sorakan dari segala arah, membuat Tenten tambah semangat.
"Aku percaya di antara kalian semua—"
Kata-kata Tenten terputus ketika pintu tiba-tiba terbuka dan menampakkan beberapa cowok kelas tiga, termasuk Lee dan—jantung Sakura terasa berjumpalitan di rongganya ketika melihatnya masuk—Neji Hyuuga. Tenten meletakkan tangannya di pinggul dan melempar pandang menegur pada cowok-cowok itu. Sebagian anak-anak—terutama cowok-cowok—ber-boo-ria pada mereka.
"Tenang-tenang!!" seru Lee sambil mengangkat tangannya, "Selebriti sudah datang! Tenang saja, semua bakal kebagian tanda tangan!!"
"BOOOO!!!" seisi ruangan langsung heboh. Bahkan Tenten tertawa dari atas podium. Neji hanya menyeringai, lalu menempatkan diri bersandar di dinding dekat pintu sambil melipat kedua lengannya di depan dada—karena tempat itu sudah penuh sesak dan tidak ada tempat lagi untuk duduk.
"Oke oke! Teman-teman, mohon perhatiannya!!" seru Tenten lagi seraya membuat isyarat dengan tangannya supaya anak-anak tenang. "Seperti yang tadi kukatakan, aku percaya di antara kalian semua, ada bakat-bakat hebat yang terpendam. Jadi kuharap kita bisa bekerjasama dengan baik untuk menyukseskan drama—"
"Drama apa tahun ini, Ten?" teriak seorang cowok kelas tiga dari belakang, menyela Tenten.
"Katanya 'Romeo and Juliet' ya?" celetuk yang lain. "Asiik… bakal ada adegan kissing, nih!"
Anak-anak langsung ribut lagi membicarakan kemungkinan ini. Si anak yang menyeletuk tadi mendapat tampolan di kepala oleh teman yang duduk di sampingnya.
"Tapi 'Romeo and Juliet' kan sudah pernah.." sambung yang lain—anak perempuan kali ini. "Tiga tahun yang lalu. Aku nonton dengan kakakku yang alumni sekolah ini.."
"Kalau aku suka 'Sound of the Music', tapi itu kan drama tahun kemarin…"
"'Hamlet' saja…"
"Bagaimana kalau 'Panthom of the Opera'?"
Anak-anak terus saja meneriakkan usula-usulan mereka, sebelum sekali lagi Tenten mengangkat tangannya, meminta mereka tenang. "Aku dan beberapa teman sudah selesai membuat naskahnya dan sudah disetujui oleh pembimbing kita, Ibu Mitarashi dan Ibu Yuuhi. Tahun ini kita akan memainkan 'Princess of Camellia'."
Seisi ruangan terdiam sesaat, karena mereka sebagian besar belum pernah mendengar judul itu, termasuk Sakura. Tapi beberapa yang lain—yang pernah dengar, tentu saja—langsung bergumam mengomentari ini.
"Ceritanya seperti apa, Tenten?" tanya salah satu anak yang tidak tahu.
"Er… tentang seorang wanita tuna susila—"
Ruangan itu meledak lagi dalam kebisingan. Anak-anak ramai bersorak dan bersuit-suit hanya karena mendengar kata-kata 'wanita tuna susila'.
"Tenten, apa kita tidak akan dirajam Pak Sarutobi kalau memainkan yang ada seperti itu-nya?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu dong… Tidak akan ada adegan yang aneh-aneh dalam drama ini!" tegas Tenten yang langsung disambut oleh komentar heboh—terutama dari barisan cowok-cowok yang memang sudah berpikiran yang tidak-tidak dari tadi. Dasar ngeres!
"Ini diangkat dari opera 'La Traviata' karya Giuseppe Verdi," Neji yang sedari tadi diam saja tiba-tiba angkat bicara. Kepala semua anak langsung menoleh padanya. "Atau 'Wanita Yang Salah Jalan' dalam bahasa kita. Ber-setting di Paris, Perancis abad ke-19. Drama tiga babak ini menceritakan tentang seorang wanita muda bernama Violetta yang karena nasibnya, terpaksa menjadi wanita tuna susila kelas atas. Dia lalu jatuh cinta pada salah seorang tamunya yang adalah pemuda dari keluarga baik-baik bernama Alfredo. Violetta sangat berharap dapat memperbaiki kehidupannya dan hidup hanya dengan mencintai Alfredo. Tapi ayah sang pemuda tidak merestui hubungan mereka karena takut latar belakang Violetta akan merusak masa depan Alfredo dan nama baik keluarga mereka. Maka ayah Alfredo meminta Violetta untuk menjauhi putranya.
Walaupun Violetta sangat mencintai Alfredo dengan segenap hatinya, Violetta menyadari bahwa dirinya adalah wanita yang tidak mempunyai hak untuk meraih kebahagiaan. Walaupun dia harus menerima kebencian Alfredo yang menganggapnya mengkhianatinya, Violetta tetap pada keputusannya untuk menarik diri. Sampai kemudian Violetta meninggal karena penyakit ganas yang dideritanya. Bukan begitu, Tenten?" Neji mengakhiri penuturannya.
Tenten tersenyum padanya. "Ya, kurang lebih seperti itu. Terimakasih, Neji."
Anak-anak langsung ber-ooooh… ria.
"Dari mana kau tahu, Neji?" tanya Lee pada sobatnya itu.
"Aku pernah nonton operanya sekali," jawab Neji sederhana. "Dan Hinata punya novel terjemahannya."
"Ooh… sepertinya drama yang menyedihkan sekali…" kata seorang gadis yang duduk di barisan depan. "Memerankan Violetta yang malang pastilah sangat sulit." Temannya mengangguk setuju.
Tapi banyak dari mereka yang cukup percaya diri untuk berseru, "Aku pasti akan mendapatkan peran Violetta itu!" atau "Aku yakin aku bisa jadi Alfredo yang keren!"
"Oke, teman-teman. Karena kalian semua sudah tahu apa yang akan kita mainkan tahun ini, sekarang aku akan membagikan naskahnya pada kalian. Audisi untuk peran-peran itu akan diadakan mulai hari senin nanti. Yang akan memutuskan nanti selain aku dan Yakumo sebagai sutradara, adalah Pembina klub kita, Ibu Yuuhi dan Ibu Mitarashi. Jadi aku harap kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin! Teman-teman kelas satu dan dua, jangan patah semangat dulu. Tidak menuntup kemungkinan kalian yang akan mendapatkan peran utama kalau kalian berpotensi untuk itu!"
Anak-anak kelas tiga langsung berteriak mencemooh, yang diabaikan Tenten. Dia dan beberapa senior klub teater kemudian mulai membagi-bagikan naskah drama mereka ke masing-masing anak.
"Apa menurutmu kita bisa mendapatkan peran utama, Sakura?" tanya Hokuto pada Sakura seraya mengulurkan naskahnya.
"Yah. Kita harus berusaha dulu sebelum tahu hasilnya, kan?" kata Sakura, meskipun ia sendiri agak sangsi, mengingat biasanya yang mendapatkan peran utama adalah anak kelas tiga. Gadis itu menunduk memandang naskah di tangannya, membaca sampulnya,
Naskah Drama Tahunan Konoha High
"Princess of Camellia"
Sutradara :
Tenten
&
Yakumo Kurama
---
TBC…
---
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
La Traviata © Giuseppe Verdi
---
-Lirik-lirik ke atas- Kok jayus yak? XD. Yang drama di atas itu, aku comot dari opera 'La Traviata' yang terkenal banget. Yang penasaran, silakan lihat di yutub. Hihi..
Uci-chan : Sai n Ino udah ketemu kan di chapter ini. Sasu juga udah ketemu ma papahnya…
Teh Bellatrix : Un.. iyah, si suster yang jaga di UKS. Ahahaha… -blushing- Ah, enggak selalu kok Teh. Temenku yang gitaris malah yang paling pecicilan kalo manggung, ngalahin vokalisnya. Mbikin penontonnya sweatdropped. XD
Aika-chan : Yupsie! Viva SaiSaku friendship!
Ambu : Ahahaha~~ iputz mah emang gak bisa dilepasin dari harpot, Mbu! Da awalnya kan emang dari sana –jadi inget fic 'Freaky Friday' yang gaje abis XD-
Kakkoii-chan : Un… Gaara emang gak akan banyak-banyak nongol kok. Gomen ne? Dia di sini hanya 'guess star' aja. Tapi kemunculannya bukan tanpa alasan kok.
Bunbun-chan : Kan 'penyatuan SasuSakuNaru' berkat sekongkolannya Kakashi ama Itachi. Ada kok scene mereka ngobrol via telepon. ^_^ Kakashi tadinya pernah jadi guru praktek di sekolahnya Itachi dulu waktu masih jadi mahasiswa. Gitu…
Catt-chan : Hihihi~~ dirimu baru tahu sisi lain dari seorang 'MzProngs' yah? Narsis itu emang perlu. Tapi karakter Airi mengganggu gak menurutmu, Catt-chan? –cemas-
Safira (yang review via FB ^_^): Ohoho~~ pairing ya? Udah kok… siapa-siapanya, ada deeeeh~~ ^_^
Temen-temen yang besok akan menghadapi ujian nasional, semangat ya!! GANBATTE KUDASAIII!!!
