Chapter 44

Root Hills

"Serius sekali."

Suara dalam dari arah pintu membuat perhatian Sai teralih. Ia menoleh dan melihat Gaara berdiri sambil bersandar di pintu, kedua tangannya terlipat di depan dada. "Ah, Gaara. Sejak kapan kau di sana?"

"Hn. Sudah cukup lama juga," sahut cowok pemilik rambut marun itu sambil berjalan memasuki ruangan. Ia berhenti di sebelah Sai, turut memandangi objek yang sedari tadi begitu menyita perhatian temannya itu. Lukisan cantik 'Sang Bidadari'. "Sedang menikmati lukisan kakakmu sebelum dipindah ke sekolah, ya?"

Sai tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah untuk kembali menatap lukisan sang kakak. Hening sejenak sementara alunan piano sonata 'Pathetique' milik Ludwig Van Beethoven terdengar samar-samar dari ruang kerja Danzou.

"Hanya sedang memastikan, apakah dia gadis yang sama dengan gadis yang kutemui di sekolah hari ini," ujar Sai akhirnya.

"Ah, kau sudah bertemu dengan dia kalau begitu?" Gaara tampak sedikit tertarik. "Gadis yang menjadi alasanmu pindah ke sekolah umum."

Sai menghela napas, lalu mengangkat bahunya. "Entahlah. Dia memang sangat mirip dengan lukisan ini. Hanya saja aku ragu itu dia atau bukan. Kupikir mereka –Shin dan gadis ini—pastilah saling kenal. Tapi nyatanya… gadis di sekolahku tidak mengenali Shin. Mungkin memang bukan dia…"

"Atau mungkin…" kata Gaara sambil berpikir, "…dia memang gadis yang sama, hanya saja dia tidak mengenali kakakmu. Barangkali kakakmu memang tidak pernah memperkenalkan diri pada gadis itu, makanya dia tidak tahu namanya."

Sai berpikir kata-kata Gaara mungkin ada benarnya. Tapi tetap saja… ada perasaan aneh saat gadis itu berkata ia tidak mengenali Shin. Ah, mungkin ia hanya terlalu kaget bertemu dengan gadis itu –Ino Yamanaka.

Keduanya terdiam lagi, tapi segera terpecah ketika Sai mendengar temannya itu tertawa kecil. Sai menoleh.

"Ada apa, Gaara? Ada yang lucu?" tanya Sai keheranan.

"Ah, tidak," sahut Gaara cepat-cepat sembari tersenyum tipis. "Hanya saja, aku jadi teringat sesuatu. Kurasa kita ada kemiripan, Sai. Kau sampai pindah sekolah demi mencari gadis ini," ia mengendikkan kepala ke arah lukisan Shin, "Dan aku… kurang lebih alasanku ikut program pertukaran ke Konoha sama denganmu. Aku juga ingin menemui seorang teman yang pindah kemari."

"Dia di KAA?" tanya Sai ingin tahu.

Gaara mengangguk. "Aku dengar begitu. Tapi aku belum sempat mencarinya. Kau tahu kan, KAA sangat luas dengan bermacam-macam jurusan. Dia…" pandangan cowok pemilik mata hijau pucat itu menerawang, "…adalah adik kelasku di SSA."

Sai tersenyum. "Semoga kau lebih beruntung dari padaku, Gaara. Oh ya, kau jadi pindah minggu ini?"

"Hn."

.

.

.

Blossom's Street

Dua hari yang melelahkan telah berlalu sebelum akhirnya memasuki akhir pekan. Kejadian-kejadian heboh seminggu ini tak terasa telah menyita banyak waktu Sakura, sampai-sampai ia terkejut sendiri saat menyadari betapa tugas-tugas rumah yang belum dikerjakannya telah menumpuk mencemaskan. Belum lagi naskah drama yang harus dihafalnya untuk audisi hari Senin nanti –gadis itu tentu saja tidak mau kalah dari anak-anak kelas tiga!

Maka, dengan kalang kabut, gadis itu mencoba mengatur ulang jadwal hariannya. Sebagian besar waktu luang yang ia miliki, tentu saja ia habiskan dengan belajar dan mengerjakan PR yang menumpuk. Sebagian lagi untuk menghafal naskah dramanya –memilih peran apa yang nanti akan dicobanya. Memerankan Violetta kedengarannya sangat menantang, karena akan ada banyak scene yang mengharuskannya mengeksplor habis-habisan kemampuannya menguras emosi penonton. Meskipun tentu saja Sakura juga menghafal dialog tokoh lain, seperti Flora. Untuk jaga-jaga…

Bahkan ia juga tak punya waktu untuk membesuk Sasuke di rumah sakit! Gadis itu sampai tidak enak sendiri saat Naruto meneleponnya untuk menanyakan apa ia sudah membesuk Sasuke lagi atau belum. Nampaknya Naruto sendiri juga belum membesuknya lagi sejak kedatangannya yang pertama. Ayahnya telah melarangnya pergi-pergi dan menyuruhnya beristirahat total untuk kesembuhan lututnya. Naruto yang tak bisa diam, tentu saja mengeluh keras-keras soal peraturan baru ini. "Aku bosan di rumah terus-terusan, Sakuraaaaa…!!!"

"Yeah… aku tahu. Tapi kau kan memang butuh istirahat total, Naruto…" ujar Sakura dalam nada bosan lewat gagang teleponnya malam itu.

Gadis itu sedang duduk-duduk di sofa ruang keluarga setelah berjam-jam sebelumnya berkutat dengan buku-buku pelajaran dan notebook di kamar. Dan sekarang ia sedang mencoba menghafalkan naskah drama.

Naruto mengheluh pelan, tidak langsung menyahut. Ia tahu yang dikatakan Sakura benar –dan Iruka juga berkali-kali mengatakan hal yang sama padanya. "Yeah, memang," katanya akhirnya. "Aku benar-benar sudah tidak sabar menunggu saatnya aku bisa keluar dari rumah lagi. Besok Pap akan membawaku ke rumah sakit untuk mengecek lututku lagi, sekalian menjenguk Sasuke. Dia pasti kesepian tanpa kita, eh?"

Sakura tertawa. "Jangan bodoh, Naruto! Kan ada keluarganya yang menemaninya di sana, dia tidak akan kesepian. Aku bahkan ragu dia ingat pada kita."

Naruto juga tertawa di seberang. "Benar juga…" Mereka lalu terdiam selama beberapa saat. "Hei, kau berencana membesuk Sasuke besok, kan?"

"Hmm…" Sakura bergumam mengiyakan sambil membalik halaman naskahnya. "Tapi barangkali agak siang. Karena besok aku harus ke restoran dulu. Kau tahu, kan?"

"Aku harap kita bisa bertemu di rumah sakit nanti. Ajak Sai juga!"

Sakura mengalihkan pandangannya dari deretan kalimat yang tengah dibacanya dan menghela napas. Omong-omong soal Sai membuat gadis itu kepikiran. Sudah dua hari ini tingkahnya agak aneh, terutama setiap kali bertemu dengan Ino. Memang sih, Sai tidak banyak bicara seperti biasanya, hanya saja ia kelihatan lebih tegang kalau ada Ino, belum lagi Sakura kerap memergokinya mencuri-curi pandang ke arah gadis itu dan langsung berpaling begitu Ino menoleh padanya. Dan biasanya setelah itu Sai akan segera pergi begitu saja dari sana.

"Sakura? Kau masih di sana?"

Suara Naruto membuat Sakura tersadar dari lamunannya. "Eh—Apa?"

"Kenapa kau tiba-tiba diam begitu?" tuntut Naruto. "Ah, sudahlah. Kau pasti sudah ngantuk. Aku juga sudah mau istirahat."

Sakura mengerling jam burung hantu di atas lemari perabot. Sudah larut. Pantas saja otaknya sejak tadi sudah susah diajak berkonsentrasi. "Ya."

"Kalau begitu sampai ketemu besok," kata Naruto, "'Met tidur, Sakura. Sweet dream…" lanjutnya manis.

Sakura tersenyum. Dulu barangkali ia akan pura-pura muntah setiap kali Naruto berlaku sok manis seperti ini, tapi sekarang Sakura sudah terbiasa. "Yeah, kau juga."

Sambungan terputus.

Sakura meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya, lalu menggeliat dan menguap lebar-lebar. Sudah waktunya tidur, pikirnya seraya beranjak dari sofa. Gadis itu pergi ke dapur dulu untuk membuang kaleng kosong diet coke yang tadi diminumnya sebelum kembali ke kamar dengan berjingkat-jingkat, berusaha tidak membuat suara yang mungkin membuat ibunya terbangun. Sakura kemudian meletakkan naskahnya di atas meja belajar dan berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur –termasuk cuci muka, cuci kaki dan gosok gigi—Setelah selesai, gadis itu membuka gulungan rambutnya dan langsung menyusup ke bawah bed-cover-nya yang nyaman.

Tidak butuh waktu lama sampai mata zamrud itu menutup dalam tidur yang nyenyak.

.

.

.

Keesokan harinya…

Sakura turun dari bus di halte dekat rumah sakit saat waktu menunjukkan pukul duabelas siang keesokan harinya. Ia baru saja selesai 'bantu-bantu' di restoran keluarganya dan sesuai janjinya ppada Naruto malam sebelumnya, sekarang ia tengah berjalan dengan langkah ringan menuju gerbang gedung megah itu sambil membawa sebuah bungkusan di tangannya.

'Mudah-mudahan saja Sasuke menyukai kue yang kubawa ini,' Sakura berkata riang dalam hati. Gadis itu sengaja membawakan sesuatu untuk Sasuke, hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena tidak menjenguknya dua hari berturut-turut. Dan sepertinya kue-bertekstur-lembut-yang-mudah-dicerna adalah pilihan yang tepat.

Sakura berpapasan dengan dokter yang mengoperasi Sasuke ketika ia baru saja memasuki lobby rumah sakit. Dokter Rin tidak mengenakan seragam medisnya, melainkan pakaian sehari-hari yang membuatnya tampak lebih anggun. Rambutnya yang berwarna keunguan juga dibiarkan tergerai bebas. Sebenarnya Sakura ingin sekali menyapanya lebih lama, hanya saja sepertinya wanita muda itu sedang terburu-buru.

Ia bertemu dengan Itachi ketika hendak naik lift menuju kamar rawat Sasuke di lantai tiga. Kakak Sasuke itu kelihatan amat tampan dengan kaus polo dipadu blazer berwarna gelap dan jeans, sementara rambutnya yang hitam panjang diikat rapi di belakang tengkuknya seperti biasa. Menambah kesempurnaan penampilannya, Itachi tersenyum pada Sakura.

"Sakura?" sapanya setelah melangkah keluar dari lift. "Mau menjenguk Sasuke?"

Sakura membalas senyumnya. "Iya, Kak. Sasuke ada di kamarnya, kan?"

"Ah, untunglah kau belum sempat ke atas," kata Itachi. "Sasuke sekarang sedang ada di halaman belakang rumah sakit dengan Naruto." Ia menunjuk ke arah pintu kaca menuju halaman belakang yang letaknya tidak jauh dari sana.

Sakura menoleh ke arah yang ditunjuk Itachi. Ia bisa melihat seorang perawat sedang mendorong kursi roda seorang pasiennya menuju ke sana, sebelum mengalihkan perhatiannya pada kakak Sasuke lagi. "Naruto sudah datang, kalau begitu?" tanyanya, teringat pembicaraannya semalam dengan cowok pirang itu.

"Yap. Sudah cukup lama juga. Mereka sedang asyik ngobrol sepertinya," beritahu Itachi. "Kau ke sana saja. Kurasa mereka juga sudah menunggumu."

Sakura mengangguk. "Baiklah. Terimakasih, Kak Itachi." Dengan anggukan sopan terakhir, Sakura segera berlalu dari sana. Gadis itu berlari-lari kecil menuju pintu kaca yang mengarah langsung ke halaman belakang rumah sakit yang hijau, rambut merah mudanya yang dikucir panjang berayun di punggungnya.

Itachi masih berdiri di sana seraya menatap sosok gadis teman adiknya itu semakin menjauh sampai akhirnya menghilang di pintu. Ia menghela napas, ekspresinya tidak bisa ditebak. 'Mudah-mudahan Sasuke bisa mengatasi ini,' ia membatin. Pria itu kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju lapangan parkir.

.

.

Cuaca hari itu lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Langit bersih tanpa segumpal awan pun yang menghalangi sinar matahari, membuat suhu udara yang biasanya dingin menjadi lebih hangat dan kering. Aroma tanah dan rumput basah yang menyenangkan sisa hujan hari sebelumnya memenuhi udara, membuat perasaan menjadi lebih rileks. Sungguh cuaca yang sangat bagus kalau kau ingin sekedar berjalan-jalan menghirup udara segar di luar –dan itulah yang coba dimanfaatkan oleh beberapa pasien di rumah sakit terbesar di Konoha itu. Mobilisasi dengan melakukan kegiatan luar ruangan yang menyenangkan, dipadu dengan udara yang bagus adalah terapi yang baik untuk mempercepat proses kesembuhan.

Dan rupanya Sasuke adalah salah seorang pasien yang tidak menyia-nyiakan cuaca bagus itu.

Sakura menemukannya sedang duduk di salah satu bangku kayu di dekat pohon maple besar yang meranggas. Ia memakai mantel tebal di atas piama rumah sakitnya untuk menahan udara dingin. Duduk di sampingnya, seorang cowok dengan rambut pirang jabrik –siapa lagi kalau bukan Naruto. Kruk-nya disandarkan ke bangku dan ia tampak sedang terbahak, menertawakan sesuatu di tangannya, entah apa itu. Tapi yang jelas, apapun yang sedang ditertawakan Naruto, Sasuke sama sekali tidak menyukainya.

"Berheti tertawa, atau—"

"Hei, Sakura!!" Naruto yang telah melihat Sakura datang, langsung berseru menyapanya dengan riang sambil melambaikan tangannya, dengan sengaja mengacuhkan ancaman Sasuke. Sakura balas melambai, lalu berjalan mendekat.

Sasuke turut menoleh ke arah pandang Naruto. Sudut bibirnya tertarik sedikit ketika ia melihat Sakura mendekat.

"Hei," sapa Sakura agak terengah sambil duduk di sebelah Sasuke, menatap kedua sahabatnya bergantian, tersenyum cerah. "Kalian sudah lama?"

"Cukup lama juga," sahut Naruto.

Sakura lalu berpaling pada Sasuke, menatapnya lekat-lekat. "Bagaimana perasaanmu, Sasuke? Sudah lebih baik?" tanyanya.

"Lumayan," Sasuke menyahut datar.

Sakura mengawasinya beberapa saat, lalu tersenyum puas padanya. Wajah Sasuke memang sudah tampak lebih cerah sejak terakhir kali Sakura melihatnya –meskipun tentu saja ekspresi wajahnya masih sama datar dan bosan seperti biasa—dan ini berarti kondisi kesehatannya sudah jauh membaik.

"Baguslah kalau begitu."

"Hei, Sakura," suara Naruto membuat gadis itu berpaling padanya. Cowok itu menunjuk sesuatu di tangannya –yang rupanya ponselnya sendiri—sambil menyunggingkan cengiran lebar. "Aku baru saja menunjukkan sesuatu yang menarik pada Sasuke. Coba lihat…" Naruto mengulurkan ponselnya.

"Naruto! Hei—" Sasuke mencoba merebut ponsel dari tangan Naruto, tapi cowok pirang itu dengan cepat menangkis tangan Sasuke yang menghalanginya.

"Bisa diam tidak, sih!" tukas Naruto dengan ekspresi geli. "Kita harus berbagi kesenangan dengan teman. Jangan disimpan sendiri dong…"

Sasuke membelalak marah padanya, tapi Naruto tidak menghiraukannya. Ia sudah berpaling lagi pada Sakura yang kini tampak penasaran dengan 'kesenangan' yang dimaksudkan Naruto.

"Kalian ngomongin apa, sih?" Sakura bertanya penasaran seraya melirik Sasuke yang tampak gusar, lalu ke ponsel di tangan Naruto.

"Tidak penting," geram Sasuke.

"Oh, penting banget…" ujar Naruto meyakinkan –meskipun dari caranya menyeringai jahil menyatakan sebaliknya, tetap saja Sakura penasaran.

Gadis itu mengambil ponsel Naruto, lalu melirik ke layarnya. Dan Sakura bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Foto yang diambil dari kamera ponsel Naruto; menampakkan tulisan cakar ayam warna-warni yang digoreskan di papan tulis. Tidak hanya satu, dua, tapi beberapa di tempat yang berbeda. Dan jelas itu ditulis oleh anak kecil.

"Kakak Sasuke cakep banget"

"Hotaru cinta Kak Sasuke!!"

"Moegi mau jadi pacarnya Kakak Sasuke"

Dan banyak lagi kata-kata semacam itu.

"Itu semua kerjaan adik-adikku di panti," beritahu Naruto sambil terkekeh-kekeh. "Aku ambil fotonya waktu main ke sana beberapa hari yang lalu."

Sakura tertawa geli. "Ya ampun… Dasar anak jaman sekarang! Kecil-kecil sudah ngerti cinta-cintaan…"

"Dan kau tahu, Sakura? Sasuke menyimpannya di ponselnya! Katanya untuk kenang-kenangan!" seru Naruto gembira. Ia tertawa-tawa.

Sasuke membelalak sadis padanya. "Oi! Tadi kan kau yang memaksaku menyimpannya!"

Tapi Naruto menghiraukannya dan ia berbisik dengan suara keras pada Sakura, "Pssst… padahal cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia di sekolah dicuekkin. Ternyata dia sukanya sama anak ke—ADUH! SAKIT, BEGO!!" dengkingnya pada Sasuke yang telah menghadiahinya dengan jitakan telak di kepalanya.

"KAU YANG BEGO!! Terus saja ngomong begitu, aku akan menjejalkan sandal ini ke mulutmu!" desis Sasuke penuh ancaman sambil menggoyang-goyangkan sandal di kakinya.

Kedua cowok itu saling membeliak beberapa saat, sebelum akhirnya Naruto tidak tahan untuk tertawa lagi. Tubuhnya berguncang-guncang. Mata birunya berair, entah karena kebanyakan tertawa atau jitakan Sasuke yang terlalu keras. Sakura hanya mengikik geli melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Yah, meskipun Sasuke dan Naruto kerap berantem seperti itu –atau lebih tepatnya, Naruto yang tak hentinya membuat lelucon yang membuat Sasuke kesal—tapi Sakura bisa merasakan ikatan persahabatan antara mereka yang sedemikian erat, seperti saudara. Dan itu menghangatkan hatinya.

"Sudah, sudah, kalian ini ribut melulu" ujar Sakura geli seraya mengibas-ibaskan tangannya dengan tak sabar. "Naruto, jangan ganggu Sasuke terus, dong. Dia kan baru sembuh…" tegurnya pada Naruto. "Ah, tuh kan, gara-gara kalian aku hampir saja lupa!" Ia membuka bungkusan yang sedari tadi diletakkannya di pangkuan. "Sasuke, aku bawakan sponge cake untukmu. Ini lembut lho…" gadis itu mengulurkan sepotong cake yang sudah dialasi tisu pada Sasuke.

Sasuke memandangi cake itu sejenak, dan dengan tenang berkata, "Aku tidak makan makanan yang manis-manis."

Serta merta Sakura terdiam. Senyuman merosot dari wajahnya ketika ia mendengar kata-kata Sasuke –Ia bahkan bisa merasakan Naruto ikut terdiam. Gadis itu menurunkan lagi kuenya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. Bagaimana aku bisa lupa, dasar bodoh!! "Maaf, ya…" gumamnya, lalu menengadahkan wajahnya lagi. Ia nyengir minta maaf. "Aku lupa!"

"Ouch!" seru Naruto sambil melempar pandang mencela pada Sasuke. "Kau ini benar-benar tidak tahu terimakasih! Jangan bikin seorang gadis tersinggung dong! Dasar cowok nggak peka!"

"Tidak apa-apa, Naruto," kata Sakura cepat-cepat. "Salahku. Aku yang lupa…"

Seakan tidak mendengar perkataan Sakura, Naruto menyambar kotak kue di pangkuan gadis itu. "Kalau Si Sialan ini tidak mau, biar aku saja yang makan!" cetusnya sambil membuka kotaknya, mengambil sepotong dan dimasukkannya bulat-bulat ke mulutnya, menyantapnya dengan nikmat. "Enak begini, tidak mau… Dasar! Jangan mentang-mentang sudah kentut, kau pilih-pilih makanan begitu, Sasuke!"

"Naruto…" Sakura menatap cowok pirang itu, tercabik antara geli dan terharu. Naruto selalu saja bisa membuatnya merasa lebih baik, terutama dalam situasi seperti barusan.

Selama beberapa saat, Sasuke tidak berkata apa-apa. Agaknya ia juga terkejut ketika menyadari kata-katanya tadi mungkin menyinggung Sakura, karena saat berikutnya ia melempar pandang hati-hati pada gadis di sebelahnya itu sebelum mengambil kembali kotak kuenya dari tangan Naruto. "Kue ini buatku, Naruto!" katanya.

Naruto mencibirnya dengan mulut penuh.

"Oh ya, omong-omong, kenapa aku tidak melihat Sai?" tanya Naruto kemudian setelah menelan makanan di mulutnya dengan susah payah. Matanya menjelajah ke sekeliling mereka, seakan berharap melihat Sai tiba-tiba muncul dari balik pohon atau apa.

"Sepertinya dia akan datang terlambat," sahut Sakura. Naruto berpaling padanya. "Aku sudah menghubunginya tadi pagi. Katanya hari ini dia harus mengantar temannya yang dari Suna pindahan dulu, baru bisa kemari."

"Begitu…" Naruto mengangguk-anggukkan kepala, lalu tersenyum. "Wah… asik sekali punya teman dari luar kota, ya…"

Tepat saat itu, ponsel di tangan Naruto berdering nyaring. Ia lalu mengangkatnya.

"Halo, Pap? Eh, sudah di rumah sakit? Hm… oke, sekarang Pap ada di mana? Aku di taman belakang. Yeah yeah… aku akan segera ke sana." Naruto memutuskan sambungannya. Ia memasukkan kembali ponselnya dengan aman ke dalam saku celananya.

"Teman-teman, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sudah waktunya cek!" kata Naruto pada Sasuke dan Sakura. Ia lalu beranjak dari bangku dengan bertumpu pada kruk-nya.

"Lho? Aku kira kau sudah cek," kata Sakura keheranan.

Naruto nyengir padanya. "Belum. Tadi pagi Pap ada sedikit pekerjaan, baru bisa siang. Tapi aku berhasil membujuknya supaya mengizinkanku pergi duluan," ujarnya seraya mengedipkan matanya. "Yuk. Aku duluan…."

Ia baru saja berbalik, tapi langkahnya terhenti dan ia menoleh lagi pada kedua temannya yang masih duduk di bangku. Mata birunya menatap Sasuke sejenak, ekspresinya agak aneh saat itu. "Er… Sasuke, sebaiknya kau beritahu Sakura sekarang."

"Aku tahu," Sasuke mengangguk.

Naruto lalu mengalihkan pandangannya pada Sakura, tersenyum padanya sebelum berbalik pergi.

Setelah Naruto pergi, Sakura menoleh pada Sasuke, melempar pandang bertanya pada cowok itu. "Memberitahu aku apa, sih?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia malah menyibukkan diri dengan membuka kotak kue dari Sakura, mengambil sepotong cake dari dalamnya.

"Kau tidak perlu memakannya kalau kau tidak suka," kata Sakura.

Sasuke menyeringai tipis. "Jangan menahan diri, Sakura. Kalau aku jadi kau, aku akan marah kalau ada orang tidak tahu terimakasih yang menolak kue yang aku bawakan."

Sakura mendengus kecil. "Benar juga," kekehnya. Gadis itu lantas meninju lengan Sasuke main-main. "Aku memang kesal padamu, rasanya ingin menjejalkan sesuatu di mulutmu yang lancang itu, Sasuke. Kalau kau begitu lagi lain kali, aku akan memukulmu sampai matamu bengkak!"

Sasuke memandang Sakura dengan tatapan bosan. "Hn. Begitu lebih baik."

Sakura tertawa. Ia mengambil sepotong cake dari kotak di tangan Sasuke dan menggigitnya. "Dan lain kali aku akan membawakanmu kue yang gurih."

"Tidak sabar menunggu," gumam Sasuke. Ia mengangkat cake-nya ke mulut dan mengigitnya sedikit. Rasa manis langsung menyebar ke mulutnya, tapi anehnya, tidak membuatnya muak. Sama seperti sensasi yang dirasakannya saat ia memakan kue tart di ulang tahun Naruto beberapa minggu yang lalu. Sepertinya itu karena perasaannya saat itu dan saat ini sama. Hangat. Ya, barangkali memang karena itu.

"Omong-omong, di mana ayah dan ibumu?" tanya Sakura, memecah keheningan sementara mereka makan cake bersama. Mengawasi para perawat yang berlalu lalang sambil mendorong kursi roda pasien-pasien mereka.

Sasuke mengambil waktu menelan potongan cake di mulutnya sebelum menjawab, "Mereka di hotel, sedang beristirahat."

"Hm.." Sakura menganggukkan kepalanya. Ia mengangkat tangannya untuk menyelipkan anak rambut merah mudanya ke belakang telinga. Gadis itu tersenyum ketika teringat pertemuannya dengan kedua orang tua Sasuke dua hari yang lalu. "Kau sangat mirip ibumu, ya?" ujarnya kemudian.

"Banyak yang bilang seperti itu," sahut Sasuke dengan seringai samar.

Sunyi lagi antara mereka berdua sementara Sasuke menghabiskan potongan cake terakhirnya.

"Sai memberitahuku kalau kau dua hari ini sibuk di sekolah," kata Sasuke.

Sakura menatapnya dengan kedua alis dinaikkan. "Sai?" tanyanya heran. "Memangnya dia kemari?"

"Ya. Kemarin dia kemari." Sasuke mengangguk.

Sakura mengernyitkan dahi. Sai tidak berkata apa-apa ataupun memberitahunya kalau ia berencana membesuk Sasuke kemarin. "Oh ya? Kenapa dia tidak mengajakku?" tanyanya, lebih pada dirinya sendiri.

"Menurutnya kau sudah sangat kelelahan tanpa ditambah dengan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjengukku. Dia sudah cerita soal kau ketiduran di kelas Kakashi." Sasuke menyeringai lagi.

Sakura tertawa, setengah geli setengah malu mengingat saat itu. "Itu sangat memalukan, tahu," ujarnya seraya menatap Sasuke yang sedang menyisiri rambut hitamnya ke belakang –tapi kemudian anak-anak rambutnya dengan bandel tetap kembali jatuh ke matanya—Sakura tersenyum. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka Sai berani mendatangimu seperti itu. Sepertinya dia memang benar-benar ingin menjadi temanmu."

Sasuke balas menatapnya. Sudut bibirnya tertarik sedikit. "Hn."

Sekali lagi kesunyian menyusup. Sakura mengambil kotak kue yang sudah kosong dari tangan Sasuke dan membuangnya di tempat sampah tidak jauh dari tempat mereka duduk.

"Sebenarnya aku sudah boleh pulang sejak kemarin," kata Sasuke selang beberapa lama. Ia tidak memandang lawan bicaranya. Matanya tampak menerawang.

"Benarkah?" Sakura bertanya heran. "Lalu kenapa kau masih di sini?"

"Karena aku menunggu kalian –kau dan Naruto—datang kemari. Ada sesuatu yang harus kuberitahukan pada kalian berdua."

"Beritahu—apa itu ada hubungannya dengan kata-kata Naruto tadi?" tanya Sakura. Mendadak perasaannya menjadi tidak enak. Gadis itu menegakkan punggungnya dan duduk menghadap Sasuke, menatapnya. "Kau sebenarnya mau memberitahuku apa?"

Sasuke menoleh, balas menatap gadis itu. "Sebelumnya, sori kalau ini begitu mendadak—"

"Kau mau memberitahuku apa, Sasuke?" sela Sakura mulai tak sabar –dan mulai takut.

Sasuke tidak langsung menjawab. Mata hitamnya menatap lurus ke mata Sakura selama beberapa saat lagi –seakan sedang menguatkan diri. Sejenak ia tampak ragu, tapi kemudian ia menyadari bahwa cepat atau lambat ia harus mengatakannya pada gadis itu –seperti ia telah memberitahu Naruto pagi tadi, dan juga Sai sebelum ini. "Aku… akan kembali ke Oto."

Sakura terhenyak. Sejenak ia terdiam. "Berapa lama kau di Oto? Kau akan… " ia membasahi bibirnya yang entah mengapa mendadak terasa kering, "…kembali ke Konoha setelah itu, kan?"

"Aku akan kembali ke Oto," ulang Sasuke lebih mantap, "Aku akan meninggalkan Konoha dan melanjutkan pendidikanku di sekolahku yang lama di Oto."

"T—tapi…" kata-kata Sakura terhenti saat ia mulai memahami apa yang dikatakan Sasuke. Sahabatnya itu akan pergi… pulang ke Oto, meninggalkannya, meninggalkan Naruto dan Sai, meninggalkan sekolah, meninggalkan Crimson Drive. Meninggalkan Konoha.

Sakura lalu memalingkan wajah, tidak tahu harus berkata apa. Perasaannya tidak karuan. Membayangkan tidak akan bertemu Sasuke lagi membuat hatinya sakit. Gadis itu lantas menundukkan wajahnya dalam-dalam, menghindari tatapan Sasuke. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat sementara air matanya tertahan di pelupuk mata.

"Kapan kau berangkat?" suara Sakura seperti tercekat.

"Nanti malam."

Sakura dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah Sasuke, memandangnya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Secepat itu?"

"Sebetulnya, kami sudah menundanya sejak kemarin."

Sakura kembali menundukkan wajahnya.

"Jangan menangis," Sakura bisa mendengar Sasuke berkata.

Sakura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menangis!" sangkalnya. Tapi tubuhnya sendiri mengkhianatinya, karena sedetik setelah itu cairan panas yang sedari tadi ditahannya meluncur jatuh dari kedua mata zamrudnya. Gadis itu buru-buru menghapusnya.

Sasuke berdecak tak sabar. "Masih mau menyangkal lagi?" tanyanya dengan nada dingin yang terdengar agak aneh.

Tidak ada tanggapan dari Sakura. Keduanya kembali terdiam sementara Sakura berusaha menenangkan dirinya. Di sebelahnya, Sasuke mengawasinya dengan perasaan tidak karuan. Ia sungguh sangat membenci situasi seperti ini; saat ia harus melihat orang menangis di depannya. Terlebih ini adalah gadis yang juga sahabat baiknya. Sekuat tenaga Sasuke menahan diri untuk menarik gadis itu dalam rengkuhannya. Ia lantas berpaling.

Sangat-bukan-Uchiha-sekali.

"Naruto sudah tahu tentang ini?" Sakura bertanya dengan suara parau.

"Hn." Sasuke mengangguk samar.

"Apa katanya?"

Sasuke menghela napas berat. "Naruto sangat marah pada awalnya. Tapi kemudian dia mengerti. Suasana hatinya cepat sekali berubah, kau tahu kan?"

Sakura tersenyum kecut. Ia bisa membayangkannya. Tentu saja, reaksi Naruto yang emosian itu ketika mengetahui sahabatnya akan pergi jauh. Pastilah sangat sulit…

"Sai? Bagaimana dengan dia?"

"Sai juga sudah tahu. Bahkan dia yang pertama kuberitahu."

Gadis itu merengut, tiba-tiba saja merasa kesal. "Jadi aku yang terakhir diberitahu?" ia menukas.

Sasuke menoleh padanya, mengernyit. "Kau marah?"

"Tidak," sahut Sakura cepat-cepat. Rasanya tidak bijaksana kalau harus kesal di saat-saat seperti ini. "Apa kata Sai?" ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sasuke mendengus kecil. "Biasa saja. Dia hanya terkejut sedikit dan berkata, 'Setidaknya masih ada telepon'. Dia juga bertanya apakah aku masih bisa menjadi temannya meskipun aku di Oto?"

Sakura mengeluarkan tawa tertahan, membayangkan bagaimana situasi saat itu. Sai benar-benar masih polos kalau berkaitan dengan hal-hal seperti itu, pikirnya.

Melihat Sakura sudah sedikit lebih santai membuat Sasuke lega. Meskipun matanya masih merah dan basah oleh air mata, tapi setidaknya gadis itu sudah berhenti menangis. Sasuke merasakan sentakan kecil aneh di dasar perutnya saat Sakura menengadahkan wajah ke arahnya sambil tersenyum.

"Kau pasti berpendapat aku sangat cengeng kan, Sasuke?"

Sasuke mengerjap, entah terkejut karena ditanya seperti itu atau karena perasaan aneh yang tiba-tiba menyerangnya barusan. "Apa? Oh—" sejenak cowok itu tampak canggung. Tapi dengan cepat ia menguasai diri dan menemukan kembali keangkuhannya. "Yeah, memang. Kau orang paling cengeng yang pernah kutemui."

Sakura mengernyitkan dahi ke arahnya, meski begitu, ia tidak tampak marah. "Kau selalu berkata jujur, ya?"

"Berbohong itu dosa," sahut Sasuke lugas. Sudut bibirnya tertarik, membentuk seringai, sementara gadis di sebelahnya tertawa serak.

"Kau ini mulai ketularan Naruto," komentar Sakura di antara kekehannya.

Sasuke tidak menanggapinya. Hatinya tiba-tiba saja diserang perasaan aneh yang membuatnya merasa teramat berat meninggalkan Konoha –lebih berat dari yang dirasakan sebelumnya. Dan Sasuke sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaan itu bisa datang di saat-saat terakhir seperti ini, saat ia telah menyetujui permintaan ayahnya untuk ikut dengannya ke Oto. Ia lalu menghela napas panjang, sekedar untuk meredam perasaan baru yang membuatnya tidak nyaman itu.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" usulnya seraya beranjak. "Pegal rasanya duduk terus."

"Oke." Gadis yang duduk di sampingnya itu turut berdiri.

Udara terasa sejuk segar sementara keduanya berjalan-jalan dalam diam, menyusuri jalan setapak melingkar di taman itu. Di mana-mana tampak pasien sedang bercengkerama dengan keluarga mereka atau dengan perawat atau dokter mereka, tampak menikmati hari yang cerah dan jarang menjelang musim dingin itu. Di dekat air mancur, tampak seorang pria muda sedang mendorong kursi roda yang sedang dinaiki seorang kakek –yang sepertinya ayahnya—seraya saling mengobrol dan tertawa dalam suasana yang sangat akrab dan hangat. Sakura tersenyum.

"Mudah-mudahan saja dengan kembali ke Oto, hubunganmu dengan keluargamu semakin membaik," ujar Sakura tulus. "Itu kan, alasanmu kembali ke Oto?" ia melirik sahabatnya, tatapannya melembut.

Sasuke tertegun sejenak. Rupanya seperti Naruto saat ia memberitahunya rencananya untuk pulang ke Oto sebelum ini, Sakura juga bisa melihat alasan di balik itu.

"Ya," sahutnya akhirnya. Sasuke berjengit ketika ia merasakan tangan Sakura menyusup ke celah di sikunya. Ia menoleh dan mendapati gadis itu sedang mendongak dan tersenyum padanya. Desiran aneh itu terasa lagi sementara gadis di sebelahnya itu menggandeng lengannya, tapi Sasuke mencoba mengabaikannya saja.

"Kalau begitu, aku, Naruto dan Sai pasti akan mendoakanmu. Kami pasti akan merindukanmu juga."

Tanpa sadar, Sasuke tersenyum. "Aku sudah tahu. Naruto dan Sai sudah bilang begitu padaku."

Sakura tertawa lagi. Setitik air matanya terjatuh lagi dan ia langsung menyekanya dengan lengan sweter wol-nya. "Maaf," bisiknya parau. "Aku hanya—tidak tahan memikirkan tidak akan melihatmu di sekolah lagi. Aku pasti akan merindukan saat-saat mendengar kau dan Naruto bertengkar di bangku belakang…" Gadis itu menunduk, terdiam selama beberapa saat sementara mereka berjalan perlahan melewati seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya makan di salah satu bangku taman. "Sekolah pasti sepi tanpamu, Sasuke. Cewek-cewek penggemarmu akan berhenti menggerecokiku kalau kau tidak ada."

"Bukannya itu bagus?" dengus Sasuke. Yah, karena Sakura memang kerap kali mengeluh soal ini; dipojokkan oleh gadis-gadis penggemar Sasuke setiap kali ia berkeliaran sendirian di sekolah, terutama kalau ia sedang pergi ke kamar kecil.

Sakura tertawa kecil. "Benar juga, ya." Ia menghela napas seraya menatap ke arah langit yang bersih dengan pandangan menerawang, bibirnya menyunggingkan senyuman. "Tapi tetap saja—semua akan lain tanpamu."

"Jangan melebih-lebihkan," gumam Sasuke. "Kalian semua baik-baik saja sebelum aku menginjakkan kaki di Konoha, dan akan tetap begitu setelah aku pergi. Kau terlalu melankolis, Sakura."

"Dan kau begitu dingin," Sakura menanggapi seraya memukul lengan Sasuke yang digandengnya main-main.

Keduanya lantas tertawa, dan segalanya terasa lebih mudah bagi Sasuke. Kalau pun ia harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya, ia tidak menginginkan perpisahan yang berurai air mata.

Sasuke tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Sakura otomatis turut berhenti. Gadis itu melempar tatapan bertanya seraya melepaskan tangannya dari lengan Sasuke, sementara cowok itu mengambil sesuatu dari dalam saku mantelnya. Sebuah buku berukuran mungil dengan sampul indah bertuliskan 'Love Story'. Sasuke mengulurkan buku mungil pada Sakura.

"Aku ingin kau memiliki ini."

"S-Sasuke.. tapi ini, kan.." Sakura menatap buku yang diulurkan Sasuke padanya, tercengang. Ia masih ingat saat-saat di mana Sasuke selalu membawa-bawa buku itu ke mana pun ia pergi. Kalau dilihat dari cara Sasuke memperlakukan buku itu, sepertinya itu benda yang penting baginya. Sakura sama sekali tidak mengerti mengapa Sasuke memberikannya begitu saja padanya.

"Sudahlah, jangan banyak omong. Terima saja." Sasuke kedengarannya agak memaksa.

"Baiklah…" Sakura menerima buku itu akhirnya. Sejenak, ia membolak-balik buku itu di tangannya. Mendadak ia nyengir. "Tidak menyampulnya lagi?"

"Kurasa aku tidak perlu berpura-pura lagi di depanmu," sahut Sasuke datar.

Sakura terkekeh-kekeh. "Benar juga, ya…"

"Simpan itu baik-baik," Sasuke bergumam padanya.

"Akan kusimpan. Trims, Sasuke…" sahut Sakura sungguh-sungguh sambil memeluk buku itu di dada. Tiba-tiba saja ia merasakan perasaan menyesakkan itu lagi, terlebih ketika ia mendongak dan memandang wajah sahabatnya yang tampan itu. Membayangkan tidak akan bisa mengobrol seperti ini lagi membuat hatinya terasa sakit. Sakura melangkah maju.

Sasuke terkejut bukan kepalang ketika gadis itu tiba-tiba mengulurkan kedua tangan ke sekeliling lehernya dan memeluknya erat-erat. Ia merasakan ujung sampul buku yang dipegang Sakura menekan bagian kecil di bahunya, dan dagu gadis itu yeng menempel di bahunya yang sebelah lagi.

"Jahat sekali…" bisik Sakura dengan suara teredam di bahu Sasuke. "Padahal aku baru saja menemukan seorang teman yang sangat baik, tapi dia secepat ini dia direnggut dari sisiku. Rasanya tidak rela…"

Sejenak, Sasuke tidak tahu harus berkata apa. Sampai akhirnya ia mengankat tangannya dengan kikuk untuk membalas pelukan itu, membelai rambut merah muda yang terjuntai di punggung Sakura. Seraya berharap gadis itu tidak bisa merasakan degupan jantungnya yang mendadak menggila sejak ia memeluknya tadi, Sasuke berkata dengan nada –yang dipaksakan—mencemooh, "Dasar cengeng. Memangnya kau tinggal di jaman batu atau apa? Tidak tahu ya kalau ada teknologi bernama telepon dan email?"

Tawa Sakura terdengar parau. Sasuke bisa merasakan gadis itu mempererat pelukannya sekilas. "Sudah mau berpisah masih saja menghina orang."

"Ehem!"

Kedua remaja itu langsung melepaskan diri dan menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Sai sudah berdiri tepat di sebelah mereka dengan senyumannya yang biasa. "Halo, apa aku mengganggu?"

"Sai!" tegur Sakura. Nadanya terdengar begitu ceria, sama sekali tidak terlihat canggung. "Tidak—tentu saja tidak. Kau sudah lama?"

"Baru saja," sahut Sai tenang.

Berbeda dengan Sakura, Sasuke mendadak tampak canggung dan salah tingkah –yang untungnya, baik Sakura maupun Sai tidak menyadari ini—Kalau bisa memilih, Sasuke tidak akan memilih ditemukan Sai dalam keadaan sedang berpelukan dengan siapa pun –terutama dengan Sakura. Dan Sasuke menutupi kegugupannya itu dengan memalingkan wajah, perpura-pura mengawasi sepasang kakek nenek yang sedang bercengkerama di bangku taman dekat sana –yang rupanya juga mengawasi mereka dari tadi.

"Kau melihat anak-anak itu tadi, Sayangku? Mesra sekali, ya… Ah, aku jadi ingat masa-masa muda kita dulu…"

Wajah Sasuke memanas mendengar ini, sementara Sakura sepertinya sama sekali tidak menyadarinya. Gadis itu tampak asyik mengobrol dengan Sai.

.

.

.

Pesawat yang akan membawa Sasuke beserta kedua orangtuanya ke Oto akan berangkat pukul delapan malam dari Hidden Leaf International Airport. Dan di sanalah Naruto, Sakura dan Sai berada saat ini. Berdiri di depan jendela superbesar yang langsung menghandap ke landasan berlatar belakang langit malam bertabur bintang, menatap ke arah pesawat ber-titel Konoha Air itu meluncur di landasan, lepas landas menuju Oto.

Naruto menghembuskan napas keras-keras seraya menatap pesawat itu kian menjauh membawa sahabatnya kembali ke kampung halamannya, membentuk embun di kaca lebar di depannya. Sorot mata biru langitnya tidak bersinar penuh gairah seperti biasanya, melainkan meredup. Dan ekspresi kehilangan dengan jelas terpeta di wajahnya yang kecokelatan terbakar matahari.

"Tidak menyangka dia akan pergi seperti ini," gumamnya dengan bibir sedikit dimajukan, "Padahal rasanya baru kemarin Pak Hatake menghukum kita karena berkelahi di koridor."

Sakura yang juga teringat saat-saat itu, tertawa pelan seraya menghapus air mata yang terjatuh ke wajahnya. "Yeah, waktu itu kalian benar-benar menyebalkan. Terutama si Sasuke itu…"

"Sasuke memang menyebalkan," dengus Naruto, setengah kesal setengah geli. "Enak saja dia… datang seenaknya, pergi juga seenaknya…"

"Sasuke bahkan belum ikut ujian semesteran," celetuk Sai, membuat kedua temannya menoleh padanya. Cowok itu menampakkan ekspresi bingung saat Sakura dan Naruto meledak tertawa. "Apa aku mengatakan hal yang salah?" tanyanya bingung.

"Tidak," sahut Sakura, terkekeh-kekeh. "Sasuke memang belum ikut ujian semesteran. Tapi kurasa bukan itu intinya, Sai…" gadis itu menatap gemas pada Sai.

"Hm?" Sai mengangkat alisnya tinggi, menatap kedua temannya dengan bingung.

"Kau belum selama kami mengenal Sasuke, Sai. Kami mengenalnya sejak ia masih brengsek—Ouch!" Naruto menggosok-gosong lengannya yang baru ditinju Sakura, lalu melempar cengiran minta maaf pada gadis itu. "Kami melihatnya berubah dari orang yang sangat egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri menjadi Sasuke yang –yah, meskipun terkadang masih agak menyebalkan juga dan dingin dan sok—lebih baik. Dia yang sekarang adalah teman yang sangat baik. Sahabat yang menyenangkan…" Mata Naruto menerawang dan seulas senyum sedih terpahat di wajahnya. Ia menghela napas panjang. "Aku sangat kehilangan dia."

"Aku juga.." gumam Sakura seraya mengangguk setuju.

"Untuk itulah aku sangat berterimakasih pada kalian," terdengar suara berat dari belakang mereka.

Ketiga remaja itu menoleh dan melihat Itachi Uchiha, kakak laki-laki Sasuke, sudah berdiri di belakang mereka sambil tersenyum hangat. Kedua tangannya tenggelam dalam saku jeansnya.

"Aku tidak pernah melihatnya begitu gembira saat masih di Oto dulu, begitu optimis dan perhatian dan memandang segalanya dari sudut pandang berbeda. Adikku sudah banyak berubah dan itu karena kalian. Aku sangat berterimakasih…"

Pria muda itu menelengkan kepalanya dengan penuh salut pada ketiga karib adiknya itu.

"Kak Itachi…"

"Kalau begitu, izinkan aku mentraktir kalian malam ini. Kalian mau, kan?" Itachi mengedipkan matanya.

"Wuah! Kak Itachi baik!!" seru Naruto. Mendengar kata 'traktir' selalu membuatnya kegirangan. "Baiklah, aku akan bilang Pap kalau pulang terlambat!" ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya.

Sakura melempar senyum minta maaf atas kelakuan temannya itu pada Itachi. "Terimakasih banyak, Kak…"

"Maaf merepotkan," ujar Sai dengan senyumnya yang biasa.

.

.

.

"Sasuke?"

Suara lembut sang ibu yang menegurnya membuat Sasuke tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke bangku sebelah, di tempat ibunya duduk. "Ya, Bu?"

"Kau tidak apa-apa, Sayang? Dari tadi ibu perhatikan kau melamun terus." Wajah wanita itu tampak khawatir.

Sasuke melempar senyum menenangkan pada ibunya. "Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir."

Mikoto tersenyum lembut padanya, lalu membelai rambut putra bungsunya itu penuh sayang. "Kalau begitu sebaiknya kau tidur saja ya, Nak. Besok pagi kita sampai di Oto."

"Baik, Bu…" sahut Sasuke. Kemudian ia kembali memandang ke arah jendela pesawat, menatap pemandangan benderang kota Konoha di bawahnya yang semakin lama semakin menjauh. Sasuke menghela napas panjang perlahan-lahan.

Konoha… Aku pasti akan merindukan tempat itu. Dan orang-orangnya… Sakura… Naruto… Aku pasti akan selalu mengingat kalian berdua…

.

.

Ah, dan Sai juga…

.

.

.

Sahabat itu seperti bintang. Walau jauh, ia tetap bercahaya. Meski kadang menghilang, ia tetap ada. Tak mungkin dimiliki, tapi tak bisa dilupakan dan selalu ada dalam hati.

.

.

.

TBC...

.

Yosh! Chapter yang aneh sekali… '=.=

Habisnya aku memang gak berniat membuat chapter perpisahan yang berurai air mata sih. Sangat-tidak-Sasuke-sekali… Jadinya begitu deh, teman. Maafkan yah… Oia, kemarin the lupa kasih tahu, band The Glossy dan Alpha Band itu aku ambil dari nama band sekolahku. Alpha isinya cowok semua dan Glossy itu personilnya cewek semua. Alpha udah bubar, gak tau dengan Glossy. Mereka dulu eksis jadi band café n ikutan festival sana-sini sih… Terus, yang foto tulisan cinta-cintaan anak kecil itu aku ambil dari kejadian nyata pas KKN. Ahahaha~~ Ada anak SD yang kita ajar, naksir berat ama salah satu anak KKN –cowok, tentunya- n nulis-nulis begituan di dinding sekolah. Kita ketawa-ketawa aja ngeliatnya. Cowok yang ditaksir malah asik moto-moto tuh tulisan buat dikasih lihat ke pacarnya –dasar!-

Bunbun-chan : Udah diupdate. Gomen lama, Bun… lagi banyak tugas sih. Hehehe… -ngeles- Dramanya tunggu aja, ya…

Dilia-chan : Diliaaa~~ jarang sekali dikau mampir, Neng. -peluk-peluk-

Ambu : LEO KIMIA??? –guling-guling- Ahahaha… Neji-kun emang aku suruh ngapalin tuh, Mbu. XD –peluk-peluk Neji- Buat Devina yang mau ujian, semangat yah…!!! –peluk-peluk Devina ama Ambu sekaligus-

Lawra-chan : Iya tuh, susternya cablak. Hahaha… Makasih ya. ^_^

kakkoii-chan : Neji emang keren sangat.. Un.. pertanyaanmu mengarah ke spoiler semua. Hihi.. tunggu aja yah.

Uci-chan : Udah update!

Aika-chan : Escul? Maksudnya Ekskul?? Wah, kalo udah pindah kayanya ikutan ekskul apa gak ngaruh tuh.. ^_^

Tobi-Luna : Ahahahaha~~ guling-guling baca review-mu, mouto.. Sampe speechles, gak tau harus bales apaan. Gomen ne.. –peluk-peluk Tobi-Luna yang kenceng-

Furu-chan : … speechless juga. Un… rambutnya Neji yah? Karena ini AU, rambutnya gak jadi gak sepanjang di anime or manga aslinya. Apalagi ini set-nya anak sekolahan. Tapi gak pendek juga. Gondrong dikit n diiket rapi gitu.

Rie-Teuk : Ahaha… dasar fans-nya Ee Teuk! O.o dibuat sinet?? Jadi ceritanya menyinetron nih? Ini udah diupdate. Ah, dirimu mah meneror terus. Hihi… btw, temen-temen, kenalin. Rie-Teuk ini adiknya Iputz yang bungsu lho. XD

Catt-chan : Huhu… episot Ita 'pergi' itu emang nyedihin banget tuh… Dramanya tunggu aja ya.. ^_^

Credit buat sobatku tersayang, Echa a.k.a earth_chloe, buat quote-nya untuk fic ini. Waktu pertama kali baca sms-nya, aku sampe speechless, Cha! -peluk2 Echa-