Chapter 45

Hari Senin paginya, Naruto sudah kembali ke sekolah diantar oleh ayahnya. Melihat gerbang Konoha High yang kian mendekat itu membuat semangatnya meletup-letup. Rasanya sudah lama sekali sejak ia terakhir kali masuk ke kelas, makan siang di kantin yang ramai, mengobrol seru dengan teman-temannya dan ikut kegiatan klub sepulang sekolah. Namun ada satu hal yang membuatnya merasa kehilangan… tidak akan ada Sasuke lagi di sana. Padahal hal yang paling sering dilakukan Sasuke adalah mencemooh dan mencibirnya, tapi tetap saja, membayangkan tidak akan melihat sosok jangkungnya yang pongah itu mondar-mandir di koridor sekolah membuatnya merasa sedikit kesepian.

"Sudah sampai," suara Iruka membuyarkan lamunan Naruto.

"Oh, yeah." Naruto buru-buru melepaskan sabuk pengamannya, mengenakan tas dan membuka pintu mobil.

"Hati-hati, Naruto," pesan Iruka ketika Naruto turun dari mobil dengan bertopang pada kruk-nya.

"Oke, Dad!" seru Naruto nyengir, lalu menutup pintu mobil ayahnya. Ia masih berdiri di depan gerbang, mengawasi sampai wagon ayahnya menghilang di ujung jalan. Dengan senyum lebar, Naruto berbalik memandang gedung sekolah yang sangat dirindukannya sambil menarik napas dalam-dalam. Udara pagi yang sejuk merasuk ke paru-parunya, membuat semangatnya kian terangkat.

Ko-High, I'm coming!!

Tepat saat itu, bus sekolah yang berwarna kuning berhenti di depan gerbang. Anak-anak berduyun-duyun turun dari bus sambil ramai mengobrol dan mengucapkan selamat pagi pada teman-teman mereka yang datang dengan berjalan kaki. Naruto melihat kapten tim sepakbolanya di pertandingan yang lalu, Lee, baru saja turun dari bus bersama sobat kentalnya, Neji Hyuuga. Seorang gadis berambut gelap panjang dengan tampang malu-malu turun di belakang mereka.

"NARUTO!!" sapa Lee penuh semangat sambil melambaikan tangannya.

"Pagi semua!" balas Naruto cerah. Ia bahkan bisa menoleransi ketidaksukaannya yang tak beralasan—sebenarnya sih beralasan—pada Neji dan menyapa cowok berambut cokelat gelap itu. Sepupu Neji yang pemalu, Hinata, agak terkejut melihat Naruto. Namun ia tetap menyunggingkan senyum cerah pada cowok pirang itu sambil menggumamkan selamat pagi.

"Bagaimana kakimu? Sudah mendingan?" tanya Lee. Mereka sekarang berjalan beriringan menuju bangunan kampus mereka. Hinata berjalan agak jauh dari mereka, mengawasi Naruto diam-diam dari sudut matanya.

"Yah, begitulah… Sebentar lagi aku akan terbebas dari tongkat ini dan bisa main bola lagi!" kata Naruto dengan nada ringan.

Lee tertawa, menepuk bahu Naruto keras-keras. "Jangan terburu-buru begitu, Naruto. Masih ada jeda beberapa bulan sebelum masuk musim pertandingan lagi." Cowok bermata bulat itu menghela napas keras-keras. "Tapi sayang sekali anak-anak kelas tiga sepertiku tidak bisa ikut main lagi. Kami harus berkonsentrasi pada ujian akhir. Kau tahu, kan..??"

Naruto nyengir diam-diam. Tentu saja ia tahu hal itu, karena itu artinya lebih banyak kesempatan untuknya bisa unjuk kebolehan lagi. Apalagi setelah kemenangan mereka di pertandingan persahabatan yang lalu. Kalau ia cukup beruntung kakinya bisa cepat sembuh, bisa dipastikan ia akan masuk ke dalam tim inti lagi, atau malah menjadi kapten tim! Ah, tapi Naruto tidak terlalu berminat menjadi kapten.

Mereka sedang menaiki undakan menuju pintu utama ketika Lee tiba-tiba bertanya, "Kau sudah dengar tentang audisi untuk drama tahunan klub teater?"

"Yap!" sahut Naruto seraya mencoba menahan keseimbangannya sementara kakinya yang sakit menapak di tangga –ia selalu mengalami sedikit kesulitan setiap kali naik tangga—"Aku dengar dari Sakura. Dia juga ikut soalnya."

"Aku juga akan ikut," cetus Lee riang. "Bagaimana menurutmu?"

Naruto tertawa, lalu melempar pandang sangsi pada Lee. "Kau? Yang benar saja. Memangnya kau bisa akting?"

"Siapa yang tahu kalau belum dicoba, kan?" kata Lee ringan sambil mengangkat bahunya. Mereka melangkah melewati pintu utama dan memasuki koridor depan yang sudah ramai. "Neji juga ikut."

Naruto tidak menanggapi ini. Tentu saja ia tahu Neji akan ikut audisi itu. Ia tahu kalau Neji adalah anggota tidak tetap klub tempat Sakura bergabung itu, dan mendapatkan peran di drama tahun lalu. Dan fakta itu entah mengapa membuatnya agak tidak senang. Alih-alih menanggapi hal itu, ia malah bertanya pada Hinata yang berjalan di samping kakak sepupunya, "Kalau kau ikut tidak, Hinata?"

Tiba-tiba ditanya seperti itu agaknya membuat Hinata terkejut. Wajahnya yang putih itu merona merah. Ia menunduk, tidak menatap Naruto ketika menjawab dengan suara pelan nyaris berbisik, "T-tidak."

"Wah, sayang sekali," ujar Naruto, tersenyum padanya. "Padahal kau cukup cantik untuk main di atas panggung."

Rona merah di wajah Hinata langsung menggelap. Neji berdehem pelan sambil menepuk pelan pundak adiknya itu. Seringai tipis menghiasi wajah cowok bermata lavender itu. Namun Naruto jelas-jelas tidak memperhatikan efek dari kata-katanya, karena saat berikutnya ia masih meneruskan ocehannya dengan nada riang, "Tapi sepertinya kau lebih senang menulis artikel tentang dramanya nanti, kan? Kau kan sangat pandai menulis, Hinata!"

Wajah Hinata kini menjadi sama merahnya dengan warna rambut Karin yang kebetulan saat itu berjalan melewati mereka menuju kamar mandi anak perempuan di ujung koridor. Hinata menggigit bibir bawahnya, menahan senyumnya agar tidak tampak berpuas diri. Wajahnya tampak berseri-seri.

Naruto dan Hinata berpisah dengan Lee dan Neji yang kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.

"K-Kalau begitu, N-Naruto tidak akan i-kut audisi drama n-nanti siang?" celetuk Hinata ketika mereka sudah tiba di depan loker Naruto.

Naruto tertawa kecil. "Sebetulnya ingin, tapi aku tidak ada bakat. Dari pada mempermalukan diri sendiri di depan umum, kan?" Ia membuka kombinasi kunci lokernya. "Lagipula aku sudah setuju bergabung dengan band di klub musik. Kau tahu kan, aku lebih suka main musik dari pada akting."

Hinata tersenyum. Tentu saja ia mengetahui bakat Naruto yang satu itu. "I-Iya…"

Naruto mengambil diktatnya untuk hari itu dari dalam loker, lalu menoleh pada Hinata. "Omong-omong, kalau band kami ikut di festival band di KCS nanti, kau mau kan membuatkan artikelnya?"

Tidak perlu tanya sebetulnya, karena itu adalah salah satu agenda klub jurnal sejak mereka mendengar kabar bahwa sekolah mereka akan mengikutkan beberapa band di ajang itu. "T-tentu saja…"

"Buatkan yang bagus seperti artikelmu tentang kami –aku, Sakura dan Sasuke—yang kau tulis waktu itu, ya!"

Sepertinya Hinata tidak bisa lebih gembira lagi saat itu. Diakui kelebihannya dalam bidang tulis menulis oleh cowok yang disukai, bagaimana ia tidak senang? Gadis itu lalu mengangguk cepat. Dan setelah berkata dengan gugup kalau ia hendak pergi ke lokernya sendiri, Hinata berbalik meninggalkan tempat itu dengan langkah ringan dan senyum terkembang.

Hinata masih belum terlalu jauh dari sana ketika Ino muncul mengagetkan Naruto. Cengiran lebar menghiasi wajah cantik gadis pemilik mata sewarna batu sapphire itu. "Akhirnya… pahlawan sepakbola sekolah masuk juga!" serunya sambil menyibakkan rambut pirangnya yang hari itu dibiarkan tergerai lepas dan hanya ditahan oleh jepit rambut sederhana di sisi kepalanya.

"Hai, Ino," balas Naruto sekenanya.

Ino terkekeh-kekeh. Dengan masih menyunggingkan senyum penuh arti, gadis itu bersandar di loker Sakura. "Dasar! Pagi-pagi sudah membuat anak orang terpesona ya, kau ini…"

"Eh—Apa?" tanya Naruto bingung. Tampaknya ia tadi tidak begitu menyimak kata-kata Ino karena terlalu sibuk menjejalkan buku ke dalam tasnya. "Apanya yang terpesona?"

Yang ditanya malah mengikik saja. Ino mengibaskan tangannya. "Ya sudahlah. Hei, hari ini ada latihan di studionya Shikamaru. Kau datang, ya."

"Sip!"

"Pagi!!" suara sapaan ceria membuat kedua remaja pirang itu menoleh. Sakura baru saja datang dari arah koridor depan bersama Sai. Ino segera menyingkir dari loker Sakura.

Sama seperti saat terakhir Ino bertemu dengan cowok itu, Sai terlihat tegang. Ia bahkan dengan sengaja tidak menatapnya dan langsung menuju lokernya sendiri. Ino mengernyitkan alisnya, tampak agak tersinggung, sebelum melempar pandang bertanya pada Sakura.

Sakura, yang sama tidak tahunya dengan Ino, hanya mengangkat bahu. Lalu mulai membereskan buku-buku yang diperlukannya untuk hari ini. Sejenak, mata hijaunya terarah pada loker di sebelahnya. Loker kosong itu tadinya milik Sasuke. Gadis itu menghela napas berat. Belum seminggu Sasuke pergi tapi rasanya sudah rindu…

"Jangan terlalu dipikirkan, Sakura," celetuk Naruto, yang rupanya menyadari perubahan ekspresi wajah Sakura, seraya mendorong pintu lokernya –yang sepertinya agak macet—menutup dengan susah payah. "Bisa-bisa nanti dia bersin-bersin di Oto."

Sakura mendengus tertawa seraya menggelengkan kepalanya. "Bisa saja kau, Naruto!"

"Omong-omong soal Sasuke," kata Ino yang masih berdiri di sana –sepertinya ia sudah memutuskan untuk mengabaikan sikap dingin Sai padanya barusan—Kedua tangannya terlipat di depan dada, memeluk buku. "Tega sekali dia pergi tidak pamit-pamit pada anak-anak yang lain. Taruhan, pasti fans club-nya nanti bakal heboh."

"Dan omong-omong soal heboh," sambung Naruto sambil nyengir lebar, "Ada kehebohan apa nih selama aku tidak masuk?"

"Oh, ada!" Ino terkekeh-kekeh. "Sleeping Beauty Sakura—Ouch!" gadis itu mengaduh ketika Sakura tiba-tiba mencubit pinggangnya keras. "Apaan sih?"

"Jangan mengingatkanku pada kejadian itu lagi, Ino!" Sakura pura-pura cemberut sebelum menutup pintu lokernya dengan keras. Diingatkan soal insiden ketiduran di kelas Kakashi selalu membuatnya malu.

"Kalau soal itu sih aku sudah tahu," kekeh Naruto. "Kalau selain itu?"

"Hmm…" Ino meletakkan telunjuknya di dagu, tampak berpikir. "Ah! Tentu saja audisi drama! Hari ini dimulainya, kan, Sakura?" gadis itu menoleh pada Sakura.

"Yeah," sahut Sakura. Memikirkan soal audisi itu membuat perutnya sedikit menegang. Ia tidak tahu apa ia siap menghadapi audisi itu –terlepas dari kenyataan kalau ia sudah menghafal semua dialog dari naskah yang diberikan Tenten pada mereka.

"Oh, aku yakin sekali Sakura bisa mendapatkan peran lagi!" cetus Naruto, membuat gadis bermata zamrud itu tersenyum padanya, menggumamkan terimakasih. "Aku pasti akan menonton audisimu, Sakura!"

"Eh, kau lupa ya kalau hari ini kita ada latihan band?" Ino mengingatkannya.

Naruto langsung mengeluh. Sakura memaksakan diri tertawa. Yah, sebenarnya ia lebih suka audisi tanpa ditonton siapa pun. Tapi kalau tanpa ditonton, namanya bukan audisi. Gadis itu lalu menghela napas keras-keras, berusaha menghilangkan frustasi yang dirasakannya memikirkan nanti siang.

-

-

Seperti yang diramalkan Ino, gadis-gadis penggemar Sasuke langsung heboh begitu kabar soal kepindahan mendadak cowok pujaan mereka ke Oto menyebar. Dan tentu saja Sakura juga Naruto menjadi sasaran mereka. Sampai-sampai Sakura harus menahan diri pergi ke kamar kecil sendirian sampai jam makan siang. Pasalnya ketika ia hendak ke kamar kecil pada pergantian jam pertama, ia disudutkan oleh beberapa cewek kelas tiga. Terpaksa ia harus kabur dan tidak jadi ke kamar kecil.

"Sebenarnya mereka cuma ingin tahu alasan Sasuke pindah," ujar Naruto tenang saat jam istirahat. Mereka bertiga –ia, Sakura dan Sai—menghabiskan waktu mereka dengan makan siang di atap sekolah. Yah, lebih karena meraka merasa bosan makan siang di kantin yang penuh terus—atau menghindari serbuan para penggemar Sasuke yang penasaran? "Padahal tinggal dijawab saja kenapa dan mereka akan diam setelah itu."

"Yeah. Kurasa itu karena yang mereka tanyai adalah kau, Naruto. Kalau mereka bertanya padaku, akan lain lagi ceritanya," sungut Sakura seraya membuka lembar naskah dramanya, "Biasanya pertanyaannya akan melantur ke mana-mana dan ujung-ujungnya mereka mendesakku mengaku apakah aku berpacaran dengan Sasuke atau tidak. Itu kan menyebalkan…"

Naruto meledak tertawa. "Iya juga ya. Mana mungkin mereka mendesakku dengan pertanyaan seperti itu."

"Benar, kan?" Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mulai menyibukkan diri membaca naskahnya sambil mengunyah sandwich tunanya.

Naruto diam-diam mengawasi gadis itu dari sudut matanya ketika Sakura sedang berkonsentrasi membaca. Kedua alisnya bertaut, membentuk kerutan samar di antara keduanya. Naruto tidak tahan untuk tersenyum tipis. Sakura sangat manis kalau sudah serius begitu, pikirnya. Itulah sebabnya Naruto senang memandanginya setiap kali mereka di belajar di kelas. Baginya, tidak ada yang lebih manis daripada wajah Sakura yang berkerut berkonsentrasi.

Atau… itu hanya karena perasaannya yang sejak dulu dipendamnya untuk gadis itu belum berubah sedikit pun? Ah, ya. Barangkali memang karena itu.

"Audisi nanti siang," Sai yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba menyeletuk.

Sakura mengangkat wajahnya dari naskah yang sedang dibacanya. Naruto cepat-cepat mengalihkan pandangannya sebelum Sakura menangkap basah ia sedang memandanginya, lalu berpura-pura sibuk dengan sandwich-nya.

"Kau sudah coba melatihnya?" Sai melirik naskah di tangan Sakura.

"Um…" Sakura menarik napas dengan tegang. Tentu saja ia pernah melatihnya, seorang diri di depan cermin. "Sedikit."

"Kalau kau tidak keberatan, aku mau membantumu melatih dialognya –itu yang biasa kulihat dilakukan oleh anak-anak jurusan seni peran di KAA kalau akan mengadakan pertunjukkan," usul Sai.

"Kalian akan memainkan apa, sih?" Naruto –yang rupanya telah berhasil mengatasi perasaannya yang sempat menggila beberapa saat yang lalu—bertanya seraya melongokkan kepalanya untuk membaca judul naskah di tangan Sakura. Dahinya mengerut. "'Princess of Camelia'? Aku belum pernah dengar. Ceritanya tentang apa?"

"Singkatnya sih percintaan antara seorang pemuda dari keluarga baik-baik dan seorang wanita penghibur—"

"Wanita penghibur?" potong Naruto kaget. Mata birunya membulat. "Maksudnya Sakura akan memainkan seorang wanita penghibur?!"

"Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, Naruto!" tukas Sakura, cemberut. "Tidak akan ada adegan yang aneh-aneh kok… Lagipula ini kan hanya drama, bukan sungguhan," ia menambahkan ketika melihat Naruto hendak membuka mulut untuk bicara lagi.

"Ini tentang wanita tuna susila yang tobat," timpal Sai.

"Yeah, kurang lebih begitu." Sakura mengangguk setuju.

"Yah, kalo tobat sih tidak apa-apa deh." Naruto mengangkat bahunya, lalu memasukkan sisa sandwich tuna-nya bulat-bulat ke dalam mulut.

Sakura lalu menunduk untuk melihat kembali catatan yang telah dibuatnya saat memilih adegan mana yang ingin dimainkannya untuk audisi tadi malam. Ia sebenarnya menyukai adegan di babak pertama saat Alfredo menyatakan cintanya pada Violetta, tapi ia merasa belum cukup percaya diri untuk memainkannya. Namun itu tidak masalah, karena Sakura sudah menemukan adegan lain yang menarik perhatiannya.

"Ini," Sakura melipat naskahnya dan mengulurkan halaman babak kedua pada Sai. "Waktu ayah tokoh utama pria meminta tokoh utama wanitanya untuk menjauhi tokoh utama pria. Bisa kau bacakan dialog Giorgio Germont?"

"Baiklah." Sai mengambil naskah itu dari tangan Sakura, lalu membacanya. Ia berdeham sebelum mulai membacakan dialog yang ditunjuk Sakura.

Sai membacakannya terlalu datar, pikir Sakura. Kurang memancing-nya untuk masuk ke dalam adegan. Tapi Sakura mencoba mengabaikannya saja dan berkonsentrasi pada karakter Violetta, mencoba mencapai emosi yang diinginkan dari peran itu. Ketidakberdayaan, kesedihan, keputusasaannya karena harus meninggalkan orang yang dicintainya…

"Masa lalumu sebagai wanita penghibur akan menodai nama keluarga kami dan kehormatan anakku. Aku minta pengertianmu..."

"TIDAK!" jerit Violetta sementara air mata mengalir dari pelupuk matanya. Gadis itu menatap pria di depannya dengan pandangan putus asa. "Anda tidak mengerti, ya? Betapa aku mencintai Alfredo... Aku menderita penyakit yang menakutkan... Sebentar lagi segalanya berakhir... Tapi... Dari pada harus berpisah dengannya, aku akan lebih bahagia kalau aku memilih mati saja!"

"Wow, itu tadi seperti sungguhan," kata Sai.

Sakura mengernyit. "Sai, kau mengacaukan dialognya."

"Ap—Oh!" seakan baru saja menyadari bahwa yang dikatakannya bukanlah dialog selanjutnya, Sai buru-buru membuka-buka naskah di tangannya. Bingung sendiri. "Mana yang selanjutnya..??"

Gadis di depannya menghela napas, lalu menghenyakkan diri di samping Naruto yang terkekeh-kekeh. "Sai payah nih..." katanya meledek. Ia lalu menoleh pada Sakura. "Dengan akting seperti itu, mereka sudah gila kalau tidak menerimamu, Sakura."

Sakura langsung berseri-seri. "Trims, Naruto. Tapi aku merasa aktingku masih terlalu datar..." keluhnya.

Naruto menyenggol lengan gadis di sebelahnya itu dengan sikunya, nyengir. "Jangan khawatir. Itu hanya karena lawan mainmu yang ini agak payah." Ia mengendikkan kepala ke arah Sai yang masih mencari-cari sampai di mana dialog terakhirnya tadi.

Sakura menepuk lengan Naruto main-main seraya terkekeh. "Jangan ngomong begitu, ah. Sai kan cuma ingin membantu. Iya kan, Sai?" Gadis itu tersenyum pada cowok berambut hitam itu.

"Apa—eh, i-iya..." Sai tersenyum malu-malu, membuat Sakura mengikik geli. Melihat wajah Sai yang seringkali menampakkan ekspresi malu-malu itu kadang membuat Sakura gemas.

"Rupanya kalian ada di sini." Suara yang datang dari arah pintu membuat ketiga sahabat itu menoleh. Mereka mendapati Ino berdiri di sana. Gadis pirang itu menutup pintunya dan berjalan ke arah mereka. "Tadi aku mencarimu, Sakura. Tapi kau tidak ada di mana-mana. Jadi kupikir kau pasti di sini. Dan ternyata tebakanku benar!"

Senyum di wajah Sai seketika lenyap melihat kedatangan gadis itu. Ekspresinya berubah kaku, mata onyx-nya bergerak-gerak gelisah. Tapi tampaknya tak ada satu pun dari mereka yang menyadarinya saat itu.

"Ino? Ngapain kau kemari?" tanya Naruto yang langsung disambut dengan cibiran Ino.

"Memangnya tidak boleh, ya?" sungutnya, pura-pura cemberut. "Kau jangan coba-coba menyabotase Sakura, Naruto! Dia kan temanku juga."

Sakura tertawa sementara Naruto memutar matanya. Sebelum ini, Sakura memang sangat dekat dengan Ino. Kemana-mana mereka nyaris selalu bersama-sama, sudah seperti saudara sendiri. Tapi sejak Ino pergi ikut kompetisi di Ame beberapa bulan yang lalu –dan berbagai peristiwa yang terjadi—Sakura otomatis jadi lebih dekat dengan cowok-cowok itu. Ino sebenarnya tidak begitu keberatan dengan itu mengingat ia memiliki jauh lebih banyak teman dari pada Sakura, tapi tetap saja ada waktunya ketika ia ingin curhat pada sahabatnya dari kecil itu. Seperti saat ini.

Ino mengedarkan pandangannya berkeliling, menghirup udara musim gugur yang sejuk dalam-dalam. "Wah, sudah lama tidak kemari..." Kemudian pandangannya terhenti pada Sai yang saat itu juga sedang memandang ke arahnya. Mereka bersitatap sejenal sebelum Ino melempar senyuman padanya. Gadis itu baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu padanya, tapi Sai menyelanya cepat,

"A-Aku harus pergi," Sai mengulurkan naskah di tangannya kembali pada Sakura. "Ada perlu—perpustakaan..." Dan cowok berkulit pucat itu pun bergegas pergi dari sana.

Ino menatap daun pintu yang berayun tempat Sai baru saja menghilang di baliknya, ekspresinya bingung. "Dia kenapa, sih?" tuntutnya dengan wajah cemberut. Dan ketika ia menoleh pada Sakura, wajahnya tampak gusar. "Memangnya apa salahku sampai-sampai dia begitu bencinya padaku?!"

"Apa? Tentu saja Sai tidak membencimu," sahut Sakura kaget melihat sahabatnya itu mendadak menjadi emosional.

"Tapi apa kalian tidak merasa, sejak kami bertemu sepertinya Sai menghindariku. Aku tidak bodoh, aku bisa melihat kalau dia tidak menyukaiku!"

"Mungkin dia malah menyukaimu," usul Naruto, mengangkat bahu, "Tapi dia terlalu gugup. Makanya jadi begitu."

"Aku tetap merasa dia membenciku," Ino berkata keras kepala. "Ah, sudahlah." Ia mengibaskan tangannya, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan perlakuan Sai yang kurang menyenangkan padanya. Tapi gagal. Ia lalu menghenyakkan diri di samping Sakura, wajahnya memerah menahan emosi.

"Aku akan bicara pada Sai, Ino. Jangan khawatir..." hibur Sakura sambil menepuk-nepuk lengan sahabatnya itu.

Ino mendengus keras. Sepertinya bukan itu saja yang membuat Ino gusar, pikir Sakura. Ino bukan tipe orang yang mudah terpancing emosi apalagi hanya karena seorang cowok yang baru dikenalnya. Pasti ada alasan lain.

"Kau ada masalah?" Sakura bertanya lembut.

Ino tidak menjawab. Sakura mengangguk mengerti. Ia pun menoleh pada Naruto, melempar pandang bisa-kau-tinggalkan-kami-sebentar padanya.

Naruto menghela napas. "Baiklah... Ini pembicaraan antar wanita, kan?" Kemudian ia beranjak sambil membawa bungkusan sandwich yang sudah kosong untuk dibuang ke tempat sampah di dalam.

"Jadi..." Sakura memulai setelah Naruto baru saja menghilang di pintu, "Ada masalah apa?"

Dan kecurigaan Sakura memang benar, memang ada alasan lain. Rupanya Ino baru saja bertengkar dengan pacarnya, Idate Morino, via telepon.

-

-

Sepertinya Sakura benar-benar akan pergi audisi tanpa teman-temannya siang itu. Sai memberitahunya kalau ia ada kegiatan lain bersama klub jurnalnya sepulang sekolah dan langsung melesat pergi ke sekre Jurnal bersama Shino begitu bel pulang berbunyi. Begitu juga dengan Naruto.

"Semoga sukses dengan audisi-nya, Sakura!" ucap cowok pirang itu ceria pada Sakura yang tampak gugup. Cowok itu sudah membawa tasnya dan sedang berdiri di samping meja Sakura.

Sakura membalas dengan cengiran setengah hati. "Yeah, trims."

"Hah.. padahal aku ingin sekali melihat audisi-mu..." keluh Naruto seraya menghembuskan napas keras-keras. "Tapi aku juga harus latihan band."

"Tidak apa-apa," desah Sakura seraya mengusap rambutnya dengan sikap tegang.

"Jangan tegang begitu dong. Santai saja. Aku yakin kau pasti bisa!" seru Naruto menyemangati sambil menepuk bahu gadis itu.

Sakura mendongak menatapnya, tersenyum. Ia mengangguk. "Yeah. Aku tahu... Kalau begitu kau juga harus semangat latihan. Kapan-kapan kalau ada waktu, aku pasti akan nonton latihan kalian."

Naruto melempar cengiran lebar khas-nya. Tepat saat itu, salah satu anggota klub musik –yang juga personil The Glossy, Sasame Fuuma—menghampiri mereka.

"Hei, hari ini jadi latihan di tempat Shikamaru, kan?" gadis dengan rambut oranye panjang itu bertanya pada Naruto.

"Yap!" Naruto menyahut. Ia menoleh kembali pada Sakura. "Sakura, kami duluan, ya," pamitnya sebelum meninggalkan kelas bersama Sasame.

Ketegangan kembali mengusai Sakura setelah Naruto pergi. Jantungnya berdetak kencang dan ia merasakan tangannya mulai berkeringat. Dengan tegang, Sakura melirik arlojinya. Sebentar lagi akan dimulai, ia membatin. Gadis itu cepat-cepat membereskan buku-bukunya dan beranjak dari sana, bergabung bersama teman-teman sesama anggota klub teaternya menuju gimnasium sekolah, tempat di mana audisi akan diadakan.

Tempat itu sudah ramai ketika Sakura tiba. Gadis itu mengedarkan pandangannya dan melihat tribun sudah dipenuhi oleh anak-anak yang berminat mengikuti audisi itu. Sebagian sibuk menghafalkan naskah dan sebagian yang lain ramai mengobrol. Ia juga melihat meja di tengah-tengah lapangan in-door itu. Dua guru sekaligus pembina mereka, Kurenai Yuuhi dan Anko Mitarashi sudah berada di sana, tampak sedang berdiskusi dengan kedua sutradara, Tenten dan Yakumo. Dan ini tidak membuat segalanya lebih baik, sebaliknya, Sakura merasa lebih tegang.

Audisi di depan orang sebanyak ini...?? Sakura menelan ludah dengan susah payah.

Ia lalu bergabung bersama teman-temannya sesama anak kelas dua di salah sisi tribun di dekat pintu masuk. Dan seperti yang dilakukan sebagian besar anak-anak lain di sana, Sakura juga mengeluarkan naskahnya dan mencoba membaca ulang adegan yang akan dimainkannya nanti. Tapi ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Kepalanya serasa berputar saking tegangnya. Di sebelahnya, Hokuto tidak banyak bicara. Gadis itu tampak berkonsentrasi penuh dengan naskahnya.

Kebisingan yang tadinya memenuhi ruangan itu mereda ketika Tenten mengumumkan bahwa audisi akan segera dimulai. Raut ketegangan mulai tampak di wajah sebagian anak-anak ketika Tenten memberitahu mereka peraturan audisinya. Mereka akan dipanggil secara acak dan diminta untuk melakukan adegan yang sudah mereka latih sebelumnya dengan lawan main yang juga dipilih secara acak. Gadis bercepol itu kemudian mengambil daftar calon pemain yang diulurkan oleh temannya, Yakumo.

Sakura meremas-remas tangannya yang dingin dengan gelisah. Berharap siapa pun lawan main yang didapatkannya nanti, mereka bisa bekerjasama dengan baik.

"Terlambat lagi, Lee, Neji?" mereka bisa mendengar Tenten berkata ketika pintu gedung itu membuka lagi dan dua orang cowok masuk –Lee dan Neji.

"Sori, Tenten!" sahut Lee, nyengir minta maaf. "Baru dari perpus!"

Tenten hanya mengibaskan tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, sebelum kembali berpaling pada daftar di tangannya. Kedua cowok yang baru datang itu kemudian mengambil tempat di tribun di dekat pintu masuk.

Sakura merasakan organ-organ tubuhnya menggeliat-geliat tidak karuan ketika Neji menempatkan diri duduk tepat di sebelahnya. Oh, astaga...

"Hai," Neji menyapanya, lengkap dengan senyum tipisnya yang menawan. Sakura merasa mau pingsan.

"H-hai..." balas Sakura gugup, berusaha untuk tidak menatap cowok itu. Ia menunduk menatap naskahnya, tapi tak satu kalimat pun di sana yang masuk ke otaknya.

Gadis itu melihat dari sudut matanya ketika Neji mulai membuka-buka naskah yang dari tadi tergulung di tangannya dan berhenti di halaman 'Babak Dua, Adegan Dua'. Sakura mencoba menebak-nebak peran apa yang akan coba didapatkan cowok itu. Alfredo Germont... atau Baron Douphol?

"Sakura akan memainkan apa?" suara Lee membuat Sakura terlonjak kaget.

"Apa?" Sakura terdengar seperti membentaknya saking terkejutnya tiba-tiba ditanya. Dan ketika ia menyadarinya, wajahnya langsung merona merah. Tapi sepertinya Lee tidak terlalu mengambil hati.

"Sakura mau memaikan peran apa?" cowok itu mengulangi, masih dalam nada sopan, tampak penasaran.

Sakura tampak ragu-ragu sebelum menjawab pelan, "A-aku ingin mencoba Violetta... atau Flora..."

Lee tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih. "Violetta saja! Kau pasti akan jadi Violetta yang hebat!" cetusnya lugas. "Aku akan mencoba Alfredo. Babak pertama, saat Alfredo menyatakan cintanya pada Violetta. Menurutmu bagaimana?"

"Um..." Sakura tidak tahu harus menanggapi bagaimana selain, "Kurasa itu bagus," seraya menyunggingkan senyum yang tampak membuatnya seperti orang sakit gigi.

"Neji juga akan mencoba Alfredo." Lee mengerling Neji yang tampaknya tidak menghiraukannya. "Tenten meminta Neji mencoba peran itu, soalnya. Jadi kami terpaksa saingan. Tapi aku pasti akan mengalahkannya kali ini!"

Neji mendengus pelan, matanya masih tertuju pada naskah di tangannya.

"Baiklah, kita mulai sekarang, teman-teman!" seru Tenten dari dekat meja juri. Ia menunduk memandang daftarnya. "Yang pertama, Karin!"

Terdengar sorakan dan suitan iseng dari rombongan cowok-cowok yang duduk di tribun paling atas ketika gadis berambut merah asimetris itu maju dengan penuh percaya diri ke depan meja juri. Ia melambaikan tangan sekilas pada cowok-cowok itu, membuat sorakan untuknya semakin menjadi-jadi. "Whoa!! Karin! Karin! Karin!!"

"Kau mau memainkan adegan yang mana?" Yakumo menanyainya.

"Babak satu, saat Alfredo menyatakan cintanya padaku—maksudku, Violetta," jawab Karin.

Yakumo mengangguk, lalu menoleh pada Tenten yang menyerahkan daftar lain padanya. "Baiklah," katanya. "Um... Lee, bisa mainkan Alfredo untuk Karin?"

Seisi ruangan langsung ribut lagi dalam sorakan. "Sikat saja, Lee!!" "Hajar, bleh!" "Gool!! Lho, salah ya?!"

"Waduh, cepat sekali giliranku!" keluh Lee. Dan cowok itu beranjak ke depan meja juri.

Audisi berjalan sangat heboh. Rupanya tidak semua yang datang benar-benar berniat mendapatkan peran. Ada beberapa orang—terutama cowok-cowok—yang hanya iseng dan datang untuk mengganggu yang lain (dan membuat Tenten jengkel setengah mati). Ada yang terlalu gugup sampai tidak bisa berkata apa-apa di depan. Dan beberapa, seperti Hokuto, yang bermain bagus dan mendapat aplaus meriah dari yang lain.

Sampai akhirnya tiba giliran Sakura untuk diaudisi.

"Santai saja, Sakura. Jangan tegang. Semoga beruntung," ucap Hokuto menyemangati saat Sakura beranjak dari duduknya.

Sakura menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan untuk menenangkan dirinya, lalu maju ke depan meja juri.

"Mau memainkan yang mana, Sakura?" Tenten menanyainya.

Sakura berdeham pelan, lalu menjawab dengan gugup, "Um... babak dua. Saat ayah Alfredo mendatangi Violetta."

"Pilihan yang bagus," komentar Tenten sebelum kemudian memanggilkan Juugo untuk menjadi lawan main bagi Sakura.

Cowok itu maju ke depan meja juri diiringi sorakan dan suitan iseng anak-anak lain –yang diabaikan oleh yang bersangkutan—Setelah diberitahu adegan dan tokoh apa yang akan dimainkan, Juugo membuka-buka naskah yang sudah kusut di tangannya dan berhenti di adegan yang dimaksud.

Sakura mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu sejenak sebelum memejamkan matanya, mencoba mengabaikan berpasang-pasang mata yang sekarang terarah padanya dan mencoba masuk pada karakter Violetta. Dan ketika ia membuka matanya, ia melihat sosok Giorgio Germont di depannya, bukan Juugo.

Beruntung bagi Sakura, Juugo cukup baik memerankan ayah Alfredo itu –sangat baik malah. Suaranya yang berat dan pendalamannya pada karakter pria terhormat sekaligus ayah yang sangat mementingkan kehormatan keluarga memancing akting Sakura sampai begitu rupa. Permainan mereka berpadu dengan baik dan emosi yang ingin disampaikan dari adegan itu membuat penonton terhenyak...

"Suatu saat nanti, Tuhan akan membalas air matamu itu..." Giorgio meletakkan tangannya di punggung wanita yang sedang terisak-isak di depannya. Wajahnya mengekspresikan penghormatan dan rasa terimakasih yang teramat dalam atas pengorbanan wanita itu. "Dan Tuhan juga akan melimpahkan kebahagiaan untukmu..."

Wanita itu, Violetta, tampak begitu hancur dan terluka oleh keputusan yang diambilnya demi kepentingan pria yang dicintainya. "Kumohon, jangan lupakan... bahwa aku berpisah dan mengorbankan perasaanku demi cinta... Dan kumohon ingatlah pengorbanan perasaanku ini..."

Ruangan itu senyap beberapa saat, sebelum akhirnya Ibu Mitarashi berdiri dari kursinya dan memberikan aplaus keras, dan langsung diikuti oleh Ibu Yuuhi dan anak-anak yang lain. Bahkan rombongan cowok-cowok di atas sana bersorak dan bersuit untuk mereka. "Bagus! Bagus sekali, Sakura. Juugo!"

Sakura cepat-cepat menegakkan diri lagi dan mengusap air mata yang membanjir di wajahnya. Masih tidak percaya baru saja mendapatkan aplaus meriah dari penontonnya, gadis itu tersenyum gugup pada semua orang. Ia merasakan wajahnya memanas seperti terbakar. Sakura lalu menoleh pada Juugo yang juga menyeringai lebar, mengulurkan tangan padanya. "Terimakasih, Juugo," ucapnya sambil nyengir.

Juugo menjabat tangannya mantap. "Yang tadi itu hebat sekali, Sakura."

"Yang berikutnya..." Tenten mulai memanggil peserta audisi berikutnya. Sakura bergegas kembali ke bangkunya sementara seorang gadis kelas tiga berambut pendek menggantikannya maju.

"Wow, itu keren banget, Sakura!" kata Hokuto berseri-seri ketika Sakura sudah duduk di tempatnya semula.

"Kau juga hebat, Hokuto," sahut Sakura cerah. Ketegangannya yang tadi sudah sepenuhnya terangkat dan sekarang ia bisa lebih santai. Ah, akting memang menyenangkan...

"Impresif!" Sakura menoleh saat mendengar suara dari sampingnya. Dan wajahnya langsung merah padam begitu ia melihat bahwa Neji-lah yang mengatakan itu. "Boleh juga, kau..."

Sakura tersenyum malu-malu pada cowok itu. "Trims, Neji..."

"Luar biasa!" kata Lee dari sebelah Neji. "Kita pasti bisa jadi pasangan yang hebat di atas panggung, Sakura!!"

Sakura tidak tahu harus menanggapi apa selain mengulum senyum. Dengan gugup, ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, lalu mengalihkan perhatiannya pada audisi di depan. Gadis itu nyaris melompat karena kaget ketika ia merasakan ada yang menjawil bahunya dari belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Sai duduk di tribun di belakangnya bersama Shino, dan ada Hinata juga.

"Coba tadi aku bawa kamera," ujar Sai dengan senyumnya yang biasa.

"Sai! Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Sakura terkejut.

"Tadi waktu kau maju, mereka datang," Hokuto lah yang menjawabnya.

"A-Aktingmu seperti sungguhan, Sakura," puji Hinata yang duduk di samping Sai dengan suaranya yang lembut. Matanya lavendernya yang lebar tampak agak basah. "K-Kak Neji, jangan kalah, ya!" gadis itu berkata pada Neji. Ia pastilah sengaja datang untuk memberi dukungan pada kakak sepupunya itu, pikir Sakura.

"Aa.." Neji menyahut singkat.

Beberapa menit berselang, aplaus meriah kembali memenuhi ruangan itu ketika gadis kelas tiga yang maju setelah Sakura menyelesaikan audisinya. Tinggal beberapa orang lagi dan audisi ini berakhir, pikir Sakura sambil memandang berkeliling. Beberapa anak yang sudah selesai diaudisi sudah tampak meninggalkan ruangan, sementara sisanya yang lain masih bertahan untuk menonton –atau mengganggu?—teman mereka.

"Neji Hyuuga," panggil Tenten kemudian.

"Yosh! Giliranmu, teman!" seru Lee seraya menepuk bahu Neji keras. "Perlihatkan kebolehanmu, Buddy!"

"Hn." Neji lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja juri. Ia tampak sangat tenang, sama sekali tidak terlihat tagang atau gugup. Salah satu sisi dari seorang Neji Hyuuga yang sangat Sakura kagumi.

Di sana, Neji tampak sedang memberitahu Tenten adegan apa yang akan ia coba mainkan. Babak dua adegan dua, Sakura bisa menebaknya. Sejak tadi memang tidak ada yang mencoba adegan itu dan ini menjadi sangat menarik. Benar saja, karena beberapa saat kemudian Tenten memanggil Suigetsu untuk menjadi lawan main Neji sebagai Baron Douphol. Tapi masalahnya adegan itu tidak cukup hanya dimainkan dua orang saja. Terjadi sedikit perdebatan di depan sebelum akhirnya Yakumo, yang tampak tidak puas, meninggalkan meja juri untuk bergabung dengan Neji dan Suigetsu. Gadis itu akan memerankan Violetta untuk Neji.

Sakura menggigit bibirnya. Melihat adegan di depannya membuat dadanya terasa panas. Terlebih pengalaman Neji dan Yakumo sebagai pasangan –baik di atas panggung maupun dunia nyata—sudah memastikan chemistry yang terjadi antara mereka tidak diragukan lagi. Dan Sakura ingat Tenten awalnya memang menginginkan mereka berdua yang memainkan tokoh utama drama ini. –Bahkan adegan ketika Alfredo (Neji) murka dan melempar lembaran uang untuk menghina Violetta (Yakumo) tidak bisa meredam perasaan cemburu dalam hati Sakura. Gadis itu pun memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat lagi.

"Kau kenapa?" tanya Sai yang rupanya sudah pindah duduk di bangku yang tadinya diduduki Neji, tampak cemas melihat tampang Sakura.

"Tidak kenapa-kenapa," sahut Sakura cepat.

Sai menatapnya selama beberapa saat lagi, sebelum akhirnya berpaling untuk melihat audisi Neji di depan sana. "Drama ini sepertinya akan seru," ujarnya dengan suara rendah. "Yang menonton nanti bukan hanya siswa sini saja, kan?"

Sakura, yang senang punya alasan untuk tidak menatap Neji dan Yakumo, segera menyambar topik ini. "Tentu saja. Festival sekolah dibuka untuk umum setiap tahunnya dan drama dari klub teater selalu menjadi acara yang paling ditunggu."

"Hmm..." Sai mengangguk. "Waktu masih di KAA aku juga sering dengar soal festival sekolah Konoha High, dan mendiang kakakku pernah datang beberapa kali untuk menonton. Dengar-dengar memang ramai sekali. Pantas saja mereka meminta bantuan Jurnal untuk promosi ke luar."

"Memangnya kau belum pernah datang?" tanya Sakura.

Sai menggeleng. "Aku tidak begitu tertarik." Ia tertawa kecil, pandangannya menerawang. "Berbeda dengan Shin yang selalu tertarik dengan segala hal. Dia senang sekali berkeliaran kemana-mana. Datang ke Festival Kyuubi, Festival kembang api musim panas, Festival Band di Konoha City Square, Festival di sekolah-sekolah..."

Sakura tersenyum memandang temannya itu. Ia selalu bisa merasakan kelembutan dalam ekspresi maupun nada bicara Sai setiap kali ia membicarakan tentang mendiang kakaknya. Dan melihat itu entah mengapa terasa menghangatkan hati. "Festival memang menyenangkan. Kau harus merasakan sekali-sekali, Sai," kata Sakura sambil menepuk lengan cowok itu lembut.

"Tentu saja. Aku akan ikut ambil bagian kali ini. Kedengarannya memang menyenangkan, eh?" Sai menyahut sambil membalas senyumnya.

Kemudian terdengar aplaus meriah. Neji sudah menyelesaikan audisinya.

Hari sudah semakin sore ketika akhirnya anak terakhir selesai diaudisi. Semua anak sudah hendak meninggalkan ruangan ketika Tenten mengumumkan akan ada audisi babak kedua besok. Gadis bercepol itu juga memberitahu bahwa nama-nama peserta yang lolos bisa dilihat di papan pengumuman pada jam istirahat makan siang besok.

"Dengan aktingmu yang tadi, aku yakin kau akan lolos, Sakura," ujar Sai ketika mereka baru saja beranjak dan bergabung dengan kerumunan anak-anak yang akan keluar dari gimnasium.

"Trims, Sai." Sakura nyengir padanya.

"Besok aku akan bawa kamera," kata Sai lagi.

Sakura tertawa kecil. "Kau terlalu berlebihan."

"Sasuke juga pasti ingin tahu, kan? Aku barangkali akan mengirimkan video audisi-mu padanya," kata Sai. "Dia pasti senang."

Sakura menanggapinya dengan senyuman. Gadis itu sebenarnya ragu Sasuke akan senang menerima video itu –kalaupun benar Sai akan mengiriminya video—Sakura nyaris bisa membayangkannya dalam kepalanya; Sasuke, dengan tampang dinginnya itu berkata dalam nada mencemooh, "Apa-apaan video ini! Jangan bangga dulu sebelum aktingmu sekelas dengan Nicole Kidman!"

Yah, Sasuke kadang-kadang bisa menjadi orang yang sangat prefeksionis dan menyebalkan. Atau malah sebaliknya, ia sama sekali tidak peduli. Terbayang lagi tampang dingin Sasuke, dan ia berkata dengan nada datar, "Ngapain pakai kirim-kirim video tidak jelas begini? Penting, ya?"

Membayangkan itu, membuat Sakura tidak bisa menahan tawanya.

"Ada apa tertawa, Sakura?" Sai bertanya bingung. Saat itu mereka sudah meninggalkan gedung sekolah dan sedang berjalan di halaman. Langit di luar sudah berwarna kemerahan pertanda senja akan segera turun.

"Tidak ada apa-apa.." Sakura menyahut cepat-cepat, tampangnya geli. "Omong-omong soal Sasuke, apa dia sudah menghubungimu, Sai?"

"Belum. Tapi aku dan Naruto sudah mengirimkan sms padanya, tapi belum dibalas. Barangkali dia masih sibuk dengan urusan kepindahan sekolahnya," jawab Sai masuk akal.

Sakura hanya mengangguk. "Mungkin saja," gumamnya seraya menghela napas panjang. Cowok itu memang menyebalkan kadang-kadang, tapi ngangenin, pikir Sakura.

Mereka kemudian berpisah jalan. Sakura menuju tempat parkir siswa, di mana ia memarkirkan sepedanya sementara Sai menuju halte bus.

---

TBC...

---

Ya ampun... udah sampe chapter segini aja. Panjang amat, yak... ^_^ Alurnya superlambat, jadi maaf kalo membosankan. Kalo dicepetin takutnya malah terkesan buru-buru n maksa..

Buat yang udah review, Bunbun-chan, Ambu, Uci-chan, Tobi-Luna-chan, Lawra-chan, Furu-chan, Emi-chan, Aika-chan, Kakkoii-chan, Dilia-chan, Catt-chan, Erri-chan (Adeeek~~ akhirnya review sendiri dikau!), Vana, Mayura n Antlia (Aah... kemana saja dirimu??)... makasiiiih pisan udah ngikutin sampe sejauh ini. Jadi terhura saya... Hihi.. XD

Upsie! Banyak yang protes Saskey pergi yah. Ahahaha... Gomen! Tapi dia harus pergi, gimana dong~~

Terus... soal orang yang dicari Gaara... siapa ya? Hayo tebak... –sok misterius-

Oia, mau numpang promo dikit. Kalo ada waktu, RnR 'Kisah Kita' by Mrs Shiranui juga dongs... Itu tadinya akun Ototou-ku, tapi skarang udah jadi milikku!! Mwahahaha... –dibekep-