Chapter 46

Koridor di dekat perpustakaan siang itu lebih penuh –jauh lebih penuh dari siang-siang biasanya—Anak-anak, terutama yang hari sebelumnya mengikuti audisi untuk pementasan drama festival sekolah nanti, tampak memenuhi koridor itu, berebut dan saling dorong untuk melihat ke papan pengumuman yang ada di salah satu sisi dindingnya.

Salah seorang gadis kelas tiga mendadak keluar dari kerumunan seraya menjerit-jerit kegirangan, lalu memeluk teman-temannya yang juga turut berteriak-teriak, membuat suasana koridor yang sudah ramai itu bertambah heboh. Jelas sekali apa yang terjadi, gadis itu pastilah lolos ke audisi tahap dua. Begitu juga dengan seorang cowok tinggi besar berambut cokelat yang namanya tercantum di daftar itu. Dengan senyum tenang ia meninggalkan kerumunan dan memberitahu temannya yang berambut biru kalau ia lolos sebelum keduanya melenggang santai ke kantin.

Reaksi anak-anak yang tidak lolos juga bermacam-macam. Ada yang keluar dari kerumunan dengan wajah lesu ketika mendapati nama mereka tidak tercantum di daftar itu, ada yang mengisak diam-diam, ada yang melontarkan suara-suara bernada tidak puas pada sang sutradara, sampai yang bersikap biasa saja, bahkan tertawa-tawa.

Sementara itu, Sakura Haruno, yang sejak tadi rupanya belum berhasil mendekati papan pengumuman, berdiri di dekat pintu perpustakaan seraya menjulurkan leher dengan tampang harap-harap cemas. Tapi tentu saja tidak terlihat dari jarak sejauh itu, belum lagi dengan anak-anak yang mengerumuni papan itu. Maka ia hanya berdiri saja di sana, menunggu sampai kerumunan itu menipis.

"Hah… kalau saja kakiku sedang tidak sakit…" keluh Naruto, cemberut memandang keributan di depannya. "Tapi aku yakin namamu pasti ada di sana, Sakura. Sai bilang aktingmu di audisi kemarin sangat hebat," katanya seraya mengerling gadis di sebelahnya.

Sakura mengulum senyum tidak yakin. "Tapi anak-anak lain banyak yang main bagus, Naruto."

Namun sepertinya Naruto tidak mendengarkannya karena tepat saat itu Ino muncul. Gadis mantan kapten tim cheerleaders itu berlari-lari kecil menghampiri mereka. "Bagaimana, Sakura? Kau masuk?" todongnya langsung pada Sakura.

Yang ditanya hanya mengangkat bahu. Gadis berambut merah muda itu mengendikkan kepalanya ke arah papan pengumuman yang dikerubuti anak-anak. Dan Ino segera mengerti. Ia kenal betul Sakura yang tidak terlalu menyukai sensasi berdesak-desakan dan saling dorong dengan orang-orang. Maka gadis itu pun mengambil inisiatif untuk maju, menerobos kerumunan untuk mendekati papan pengumuman.

"Benar-benar cewek tangguh," komentar Naruto seraya terkekeh melihat kepala pirang Ino yang semakin mendekat ke papan.

Beberapa menit kemudian, Ino kembali. Ekspresinya tidak terbaca, membuat Sakura cemas. Dan ketika ia benar-benar mengira ia tidak lolos, tiba-tiba Ino memekik seraya memeluknya. "KAU LOLOS, SAKURA!!" jeritnya sambil melompat-lompat girang.

"Yes!!" Naruto meninju udara seraya berseru senang untuk sahabatnya sementara Sakura sendiri rasanya belum percaya. "Sudah kuduga kau pasti lolos, Sakura!"

"Aku masuk?" Sakura tampak seperti orang linglung saking senangnya. "AKU MASUK!! YA, AMPUN… AKU MASUK!! KYAAA!!" gadis itu melompat-lompat kegirangan, membuat beberapa anak kelas tiga yang baru saja keluar dari perpustakaan melempar tatapan aneh padanya.

"Selamat, Sakura!! Kalau begitu kau harus bersiap untuk audisi nanti siang!" Ino tertawa gembira. "Oh, aku senang sekali! Harusnya kau tadi lihat tampang Karin. Dia tidak masuk dan sekarang sedang menangis di toilet cewek di lantai satu!"

Sakura menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawa. "Kau seharusnya tidak bicara begitu, Ino. Dia kan temanmu…"

"Tapi dia menyebalkan," kekeh Ino seraya mengibaskan tangannya dengan lagak tidak peduli. "Lagipula toilet itu sekarang memang sedang dipenuhi oleh cewek-cewek yang tidak lolos. Sebaiknya kau tidak ke sana kalau mau ke belakang."

"Yeah, sebaiknya jangan ke sana," timbrung Hokuto yang juga baru saja keluar dari keluar dari kerumunan. Gadis itu bergidik. "Mengerikan sekali. Aku tadi baru dari sana dan rasanya seperti masuk ke sarang banshee."

Mereka tertawa gelak-gelak, membuat petugas perpustakaan yang berkacamata supertebal keluar dan memarahi mereka karena ribut di depan perpustakaan.

"Jadi" kata Sakura dengan suara lebih pelan setelah petugas perpustakaan itu pergi, "kukira kau juga lolos, Hokuto?"

Gadis berkucir itu mengangguk, wajahnya berseri-seri. "Tapi sepertinya setelah ini kita harus bersaing untuk mendapatkan peran Violetta, Sakura."

Sakura tersenyum padanya. "Kurasa begitu."

"Ah, persaingan sehat memang cerminan semangat masa muda yang membara!!" seru suara di belakang mereka. Lee baru saja mendekat bersama –Sakura merasakan seakan jantungnya melompat ke leher—Neji. "Semoga kalian berhasil di tahap ini, cewek-cewek!" ujarnya seraya memamerkan senyuman-iklan-pasta-gigi-nya.

"Kau lolos juga, kalau begitu, Lee?" tanya Naruto dengan ekspresi tertarik.

Lee tidak langsung menjawab. Ia memandang orang-orang di sana bergantian, nyengir. "Yah…" ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya tidak."

Naruto langsung tertawa terbahak-bahak sementara para gadis hanya mengikik tertahan. "Sudah kuduga kau memang hanya cocok dengan bola, bukannya akting, Lee!" ledek Naruto.

Tapi sepertinya Lee tidak terlalu kecewa ia tidak lolos karena mereka tidak melihat kekecewaan di wajahnya. Cowok pemilik rambut bob licin itu kemudian melempar lengannya untuk merangkul sobat kentalnya yang sedari tadi diam saja di sampingnya. "Tapi setidaknya Neji lolos," ucap Lee dengan ceria.

"Jangan berlebihan, Lee," ujar Neji sembari melepaskan diri dari cengkeraman ketiak sobatnya itu.

Lee tertawa ringan, lalu menoleh pada Sakura. "Maaf ya, Sakura. Sepertinya aku tidak bisa mendampingimu di atas panggung nanti."

"Eh?" Sakura menampakkan ekspresi terkejut.

Ino dan Hokuto mengikik di belakang punggung Sakura. Naruto mencibir. Neji memalingkan wajah, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.

"Tapi aku bisa tenang," lanjut Lee lagi, "Karena ada Neji yang menjagamu di atas panggung…"

Mendengar ini, wajah Sakura langsung merah padam. Gadis itu berpaling untuk melihat reaksi Neji. Namun ia tampaknya tidak begitu menghiraukan komentar Lee. Sebaliknya dengan cowok pirang yang berdiri di samping Sakura. Bibirnya terkatup rapat dan ia tampak tidak terlalu senang. Tapi nampaknya tidak ada yang memperhatikan ini, kecuali Ino.

"Baiklah, Sakura, sepertinya kita harus melatih dialogmu untuk audisi tahap kedua nanti," seru Ino mencoba mencairkan kekakuan tak nyaman yang mendadak tercipta di sana. Gadis itu melirik Sakura. "Bagaimana kalau—"

"Makan dulu di kantin?" sela Naruto keras seraya mengelus-elus perutnya. "Perutku lapar. Ingin makan ramen…"

"Baiklah, kalau begitu kami mau ke perpus dulu, ya!" dan saat berikutnya Lee dan Neji meninggalkan tempat itu dan menghilang di balik pintu perpustakaan.

"Aku juga harus pergi," kata Hokuto pada tiga yang lain, "Mizura…" gadis itu menggumam. Wajahnya tampak bersemu kemerahan ketika menyebutkan nama cowok kelas dua itu sebelum melesat pergi.

"Omong-omong, kemana Sai?" tanya Naruto sambil celingak-celinguk mencari sosok temannya yang satu itu di antara anak-anak berlalu lalang. Saat itu mereka sudah agak jauh dari koridor perpustakaan dan suasana lebih tenang di sana.

Sakura mengangkat bahu. "Barangkali sedang di ruang jurnal. Tahu kan, mereka memang sangat sibuk…"

"Atau sebenarnya Sai sedang menghindariku lagi?" ujar Ino dengan tampang lesu. Ia menyibak poni pirangnya ke belakang, lalu menghembuskan napas keras-keras. Ia mengedarkan pandangannya pada kepala anak-anak yang baru datang untuk melihat pengumuman, tapi tidak benar-benar melihat mereka. "Aku penasaran, sebenarnya aku pernah salah apa padanya?" ia bertanya, lebih pada dirinya sendiri.

Naruto dan Sakura bertukar pandang dan sama-sama sepakat kalau mereka juga tidak tahu menahu soal itu. Sai tidak pernah bicara apa pun tentang sikap lain-nya terhadap Ino pada mereka. Jadi mereka hanya bisa menduga-duga saja.

"Mungkin kita perlu bicara pada Sai," gumam Naruto pada Sakura ketika mereka sudah memasuki kantin yang ramai seperti biasa.

Sakura mengangguk setuju. "Dari kemarin juga sudah ingin menanyainya, tapi lupa terus."

Naruto menghela napas keras-keras seraya menatap punggung Ino yang berjalan di depannya. "Dugaanku sih, Sai sebenarnya ada hati pada Ino, tapi terlalu malu untuk mengakuinya," ujarnya.

"Tapi kan Ino sudah punya Idate," kata Sakura.

Naruto tidak menjawabnya, hanya mengulum senyum getir sebelum berjalan lebih cepat mendahului Sakura dengan kruk-nya. "Tapi tidak ada yang bisa mencegah cinta, Saku," gumamnya pelan sehingga Sakura tidak bisa mendengarnya. "Tidak Sai, tidak juga aku…"

-

-

Mereka tidak bertemu dengan Sai sampai akhirnya pelajaran terakhir selesai dan anak-anak mulai membanjiri koridor untuk bersiap pulang. Naruto dan Ino pergi terlebih dahulu untuk latihan band di studio klub musik –kali ini bukan di studio Shikamaru—sementara Sakura harus menuju gedung olahraga untuk audisi drama tahap dua.

Anak-anak yang mengikuti audisi tahap dua jauh lebih sedikit dari yang kemarin, meskipun ada beberapa anak yang tidak lolos memaksakan diri tetap datang. Barangkali berharap mendapatkan kesempatan untuk tampil, atau hanya sekedar memberikan dukungan pada teman mereka yang lolos. Meskipun lebih sedikit yang datang, namun Sakura merasakan aura ketegangan lebih pekat dari yang kemarin. Itu terlihat dari wajah anak-anak yang datang, semuanya tampak tegang –kucuali, tentu saja, sutradara dan anak-anak yang menjadi kru belakang layar—Mereka semua tampak serius dengan naskah masing-masing dan tidak banyak bicara. Begitu pula dengan Sakura.

Sai muncul di tempat audisi selang beberapa saat setelah Sakura tiba di sana. Cowok berkulit pucat itu mengedarkan pandangannya berkeliling lapangan in-door itu sejenak sebelum menemukan Sakura duduk sendirian di salah satu bangku di tribun paling atas, tampak berkonsentrasi dengan naskah di depan hidungnya. Sai lantas bergegas menghampirinya.

"Kuharap aku tidak mengganggu," ujarnya sebagai pengganti sapaan 'hai'. Sai lalu menempatkan diri duduk di samping gadis itu.

Sakura menoleh, agak terkejut melihat kehadiran cowok itu di sana. Sejenak itu membuatnya lupa dengan ketegangannya menghadapi audisi. "Dari mana saja kau? Aku tidak melihatmu sejak istirahat makan siang."

Sai tidak langsung menjawab, melainkan tampak sibuk merogoh-rogoh ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan sebuah handy-cam. "Um… aku ada urusan lain."

"Jurnal lagi?" tanya Sakura.

"Hmm.." Sai mengangguk sementara tangannya sibuk mengutak-atik handy-cam-nya.

"Kalian benar-benar klub tersibuk di sekolah ini, kau tahu?" komentar Sakura sembari mengawasi ketika Sai mengangkat kameranya yang sudah menyala dan mengarahkannya berkeliling ruangan itu. "Apa ini juga salah satu tugas dari Jurnal?" gadis itu mengangkat alisnya.

"Bisa dibilang begitu," sahut Sai, lalu ia menatap gadis di sebelahnya, "Lagipula kan kemarin aku sudah bilang akan membawa kamera."

"Jadi kau benar-benar berniat mengirimkan video untuk Sasuke, kalau begitu?" tanya Sakura sambil terkekeh-kekeh. Gadis itu lalu mendekat pada Sai, ikut mengawasi ketika kegiatan di bawah sana terpampang di layar handy-cam di tangan Sai, mengikik ketika tidak sengaja mereka menangkap seorang cowok yang sedang melintas di bawah sana tersandung debu atau apa dan jatuh. "Coba sorot cewek itu," Sakura mengarahkan tangan Sai agar kameranya menyorot pada seorang gadis kelas tiga berambut hitam pendek yang sedang melatih dialog tak jauh dari tempat mereka. "Reika Nishimura, primadona di klub Teater selain Yakumo Kurama, kandidat terkuat untuk memerankan Violetta Valery. Cantik ya, dia?"

Sai menoleh pada Sakura dengan alis terangkat. "Kukira kau primadonanya," katanya terheran.

Sakura tertawa kecil. "Kata siapa? Aku hanya anak kelas dua!"

"Tapi aktingmu paling bagus di audisi kemarin, Sakura," kata Sai tulus, membuat wajah sahabatnya itu merona kemerahan.

"Bisa saja kau…" Sakura terkekeh, meninju lengan cowok itu main-main. Gadis itu tersenyum pada Sai. Kalau saja ia melihat Sai bersikap semanis ini beberapa bulan yang lalu, ia pasti menganggap kepala cowok itu habis terbentur sesuatu, atau sedang kerasukan roh baik hati atau sejenisnya. Mengingat Sai yang dulu, rasanya orang di sampingnya sekarang ini adalah orang yang benar-benar berbeda, pikir Sakura. Meskipun sisi anehnya tetap ada kadang-kadang…

Omong-omong soal itu, Sakura teringat sikap aneh Sai terhadap Ino.

"Boleh aku tanya sesuatu padamu, Sai?" gadis itu bertanya.

"Hm?" Sai mengalihkan pandangannya dari kamera dan menatap Sakura.

"Soal Ino," Sakura memulai hati-hati sembari menatap cowok itu. Ia bisa melihat sedikit perubahan dalam ekspresinya, tapi ia tidak bisa memastikan apa itu. "Kuperhatikan sikapmu agak lain padanya. Kau tahu kan," jeda sejenak sementara gadis itu menarik napas, "kau seperti tegang dan selalu menghindarinya. Padahal seingatku saat pertama kali bertemu kalian baik-baik saja."

Bibir Sai berkedut sedikit. Ia berpaling, memainkan kamera di tangannya, seakan sedang memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Sakura setelah ini. Sejujurnya ia juga tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.

"Sai," gadis itu terdiam sejenak, memilih kata-kata yang tepat untuk mengutarakan pemikirannya –atau lebih tepatnya, kecurigaannya—"Apa kau… er… suka pada Ino?"

"Ha?" Sai menoleh, tampak bingung.

"Maksudku, er… apa kau naksir dia?"

Wajah Sai mengerut karena bingung. "Maksudmu… seperti jatuh cinta?"

Sakura mengangkat alisnya. Well, sepertinya terlalu cepat kalau dikatakan jatuh cinta. "Yeah, kurang lebih seperti itulah."

Sai tidak langsung menjawab, melainkan memain-mainkan kamera di tangannya. "Kalau saja aku tahu bagaimana jatuh cinta itu, barangkali aku bisa menjawab apa itu iya atau tidak."

Kini gantian Sakura yang bingung dengan jawaban Sai. "Ha?"

Sai mengangkat bahunya. "Tapi kurasa… itu suatu yang lain. Entahlah…" Ekspresinya kemudian mengeras sedikit. "Melihatnya… membuatku bingung. Seperti sudah menemukan sesuatu yang selama ini aku cari-cari, tetapi bukan."

Kata-kata Sai membuat Sakura semakin bingung. "Aku tidak mengerti," ujarnya.

Sai tertawa kecil. "Aku juga."

"Kalau begitu kau tidak membenci Ino, kan?"

"Benci? Tentu saja tidak. Aku tidak punya alasan untuk membencinya, Sakura," sahut Sai.

Sakura menghela napas lega. "Kalau begitu, bisakah kau tidak bersikap menghindar pada Ino?" Sakura melempar pandang memohon padanya, membuat Sai sedikit terkejut. Gadis itu kemudian melanjutkan, "Soalnya dia berpikir kau membencinya atau apa. Aku tidak suka melihatnya begitu, Sai. Dan aku tidak mau dua orang temanku bersikap seperti orang asing satu sama lain."

Sai tidak menjawab. Saat berikutnya lewat begitu saja dalam keheningan, yang terdengar hanya dengungan anak-anak yang sedang mengobrol. Sakura tidak tahu apa yang sedang dipikirkan cowok itu sebenarnya.

"Bisa kan, menyingkirkan perasaan bingung—apa pun itu—dan mencoba berteman dengannya?" gadis itu memohon. "Ino orangnya menyenangkan, kok…"

Sai menghela napasnya. "Akan kucoba," ujarnya pada akhirnya.

"Janji?" Sakura mengulurkan kelingkingnya pada Sai.

"Janji." Sai mengaitkan kelingkingnya sendiri ke kelingking Sakura. Mereka bertukar senyum.

Beberapa anak lagi telah masuk dan ruangan itu menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Beberapa anak laki-laki sedang memindahkan meja-meja yang hari sebelumnya digunakan untuk meja juri ke tengah ruangan sementara yang lain ada yang melatih beberapa adegan di tengah lapangan. Tenten dan Yakumo masuk tak lama kemudian dan anak-anak yang sedang berlatih langsung berhenti dan menyingkir ke tribun.

Tenten tampak sedang melihat ke arah jam di pergelangan tangannya sebelum berkata pada semua yang sudah datang. "Oke. Sebentar lagi akan dimulai. Tinggal tunggu Ibu Mitarashi dan Ibu Yuuhi saja. Mereka masih di ruang guru."

Tiba-tiba saja ketegangan yang tadi sempat memudar hadir lagi. Sakura menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Kakinya bergerak-gerak gelisah dan tangannya mulai berkeringat dingin.

"Santai saja, jangan tegang," ujar Sai menguatkan.

"Aku sedang mencoba, Sai," sahut Sakura pelan. Mata zamrudnya lalu mengikuti sosok jangkung Neji yang baru saja memasuki ruangan, tanpa sadar terus menatapnya sampai cowok itu menempatkan diri duduk di bangku tribun paling bawah, di mana teman-temannya sesama anak kelas tiga duduk. Sakura menghela napas panjang sekali lagi, lalu menyandarkan punggungnya dengan sikap tegang di sandaran kursi.

Ia menoleh ketika merasakan Sai menjawilnya.

"Katakan, 'Hai, Sasuke…'" kata Sai sambil melambaikan sebelah tangannya sementara sebelah lagi memegangi handy-cam yang terarah pada Sakura. "Sapa dia, Sakura. Sasuke pasti tertarik melihat ini."

Sakura tertawa tidak yakin. "Kayak dia bakal peduli saja."

"Kalau dia temanmu, dia pasti akan peduli," sahut Sai tenang.

Sakura terhenyak. Benar juga, pikirnya. Sasuke barangkali akan berlagak dingin dan masa bodoh, tapi ia tahu di dalamnya Sasuke selalu memperhatikan dia dan Naruto –dan sekarang, barangkali Sai juga—Gadis itu lalu tertawa kecil dan menatap langsung ke kamera.

"Eh, orang sombong," ia memulai, memasang tampang cemberut. "Jahat sekali kau tidak kasih-kasih kabar sejak pulang ke Oto! Kau pasti sedang enak-enakan di sana, ya? Kami semua di sini sedang sibuk, tahu tidak? Naruto sudah mulai ngeband lagi dan aku ikut audisi drama untuk festival sekolah nanti. Doakan aku, ya! –yah, meskipun aktingku tidak spektakuler seperti Nicole Kidman atau Anne Hathaway, sih…" Sakura terkekeh-kekeh sebelum kemudian tersenyum sedih. "Aku harap kau bisa di sini menonton kami nanti, Sasuke. Tapi ya sudahlah, kalau aku beruntung bisa memainkan drama ini, aku pasti akan minta Sai untuk merekamnya. Dan kuharap kau tidak muntah saat menontonnya.." Gadis itu nyengir. "Ya sudah, sekarang aku mau latihan dulu. Da dah…"

"Cut!" ujar Sai sambil memasang senyumnya yang biasa. Ia lalu mematikan kameranya.

Sakura tertawa renyah. Mata zamrudnya melembut menatap cowok yang duduk di sampingnya itu, ia tersenyum. "Trims, Sai…" ucapnya.

Sai mengerjap bingung. "Untuk apa?"

"Tidak.. tidak apa-apa…" sahut Sakura seraya berpaling, tersenyum dalam hati. Sai tampaknya benar-benar tidak menyadari betapa berubahnya ia sekarang. Sai yang sekarang… sangat manis.

Tepat saat itu kedua guru pembina klub teater pun akhirnya datang. Setelah mengucapkan maaf karena telah membuat semuanya menunggu, kedua guru wanita itu pun menempati bangku mereka sama seperti hari sebelumnya. Mereka berbicara dengan suara pelan sebentar dengan para sutradara sebelum akhirnya memulai audisi tahap dua.

"Teman-teman yang masih di luar atau duduk di atas, harap maju ke baris depan!" seru Yakumo dengan suaranya yang halus seraya melambaikan tangannya, memberi isyarat supaya mereka mendekat.

Sakura mencangklengkan tasnya ke bahu dan beranjak ke bangku depan, mengambil tempat sejauh mungkin dari Neji –duduk di dekat cowok itu hanya akan membuatnya lebih gugup. Sai mengikutinya. Ia duduk beberapa bangku di belakang Sakura, di dekat rombongan anak-anak yang hanya datang untuk menonton.

Rupanya audisi tahap ini aturannya lebih rumit dari audisi hari sebelumnya. Mereka tidak hanya diminta berakting sekali dengan adegan yang ditentukan oleh juri dan lawan main yang berbeda-beda. Entah apa tujuannya, yang pasti ini sangat merepotkan, pikir Sakura. Meskipun tidak banyak masalah baginya karena ia sudah mempelajari dan menghafal semua adegan dengan cukup baik. Masalahnya adalah bagaimana membangun chemistry dengan lawan mainnya nanti –dan sepertinya memang itu yang sedang dicari oleh Tenten dan Yakumo. Chemistry.

Audisi berlangsung lebih lama dan alot dari yang diperkirakan. Sakura sudah beberapa kali maju dan bermain dengan beberapa peran dan lawan main –begitu juga dengan yang lain—tapi sampai hari menjelang sore, para juri belum menemukan yang mereka inginkan. Bahkan sempat terjadi ketegangan antara Tenten dan Yakumo sebelum akhirnya Tenten mengangkat tangannya dan beranjak, tampak sangat frustasi.

"Aku menyerah. Terserah kau saja, Yakumo." Dan gadis itu pergi meninggalkan ruangan, diikuti oleh tampang tercengang anak-anak.

"Tenten! Hei—" Yakumo baru saja hendak beranjak untuk menyusul temannya itu. Tapi Kurenai segera menghentikannya.

"Biar aku saja yang bicara dengan Tenten. Kau lanjutkan saja, Yakumo…" ujarnya lembut. Lalu bergegas menyusul muridnya itu.

Yakumo menatap sedih ke arah pintu masuk, di mana Tenten menghilang tadi. Ia menghela napas letih, lalu kembali menghenyakkan diri di bangkunya, memijat pelipisnya yang terasa pening.

"Jangan khawatir, Nak. Kita pasti dapatkan pemeran yang tepat," hibur Anko pada siswinya itu seraya menepuk bahu gadis itu.

Yakumo memaksakan dirinya tersenyum dan mengangguki kata-kata gurunya sebelum kembali menunduk pada daftarnya, mencoretnya di beberapa bagian. Sementara itu anak-anak mulai saling berbisik-bisik gelisah sekaligus tak sabar di belakang mereka.

Sakura menoleh ke belakang, ke tempat Sai duduk. Dan ia mendapati cowok itu sudah terkantuk-kantuk di bangkunya. Barangkali ia akan jatuh tertidur kalau saja Naruto, Ino, Shikamaru dan Chouji tidak tiba-tiba muncul di pintu, menarik perhatian semua orang. Sepertinya mereka baru saja selesai latihan band, karena Shikamaru menggendong gitar di belakang punggungnya dan mereka kelihatan capek.

Ino melambaikan tangan pada Sakura yang dibalas oleh gadis itu. Ino bertanya tanpa suara apakah audisinya sudah selesai atau belum. Sakura menjawabnya dengan gelengan kepala dan memberi isyarat 'mungkin sebentar lagi' pada temannya itu. Sakura lalu melihat keempat temannya yang baru datang itu berjalan ke tempat Sai duduk sebelum berpaling.

Sementara itu, Sai yang sudah melihat mereka berempat juga tampak gugup. Punggungnya menegak dengan sikap kaku.

"Halo," sapa Ino padanya dengan senyum ragu-ragu, mengingat sikap Sai terhadapnya.

Sai melirik padanya sejenak, teringat kata-kata Sakura kepadanya beberapa jam yang lalu; "Kalau begitu, bisakah kau tidak bersikap menghindar pada Ino? Soalnya dia berpikir kau membencinya atau apa. Aku tidak suka melihatnya begitu, Sai. Dan aku tidak mau dua orang temanku bersikap seperti orang asing satu sama lain."

Gadis itu masih berdiri di sana, menunggu jawabannya seraya menyelipkan poninya yang panjang dengan gugup ke belakang telinganya.

Sai dengan susah payah menelan ludahnya, berusaha keras menepis perasaan ingin menghindar yang dirasakannya sejak Ino datang. Lagipula aku sudah janji pada Sakura…

"Halo," balas Sai akhirnya, tidak lupa dengan senyumnya yang biasa.

Senyum Ino melebar, lega karena tidak lagi mendengar nada kaku dalam suara cowok itu. "Boleh aku duduk di sini, Sai?" tanyanya. Nada suaranya berubah ringan.

"Tentu saja. Silakan," sahut Sai. Dan Ino pun duduk di sampingnya dengan senang sementara Shikamaru dan Chouji menempatkan diri di sebelah gadis itu.

"Bagaimana audisinya?" tanya Naruto yang sudah duduk di sisi lain Sai. Kruk-nya disandarkan ke bangku di sebelahnya lagi, dan cowok pemilik mata sewarna langit itu menatap ke tribun bawah, tempat Sakura sedang duduk.

"Sejauh ini bagus. Sakura bermain oke," jawab Sai.

Naruto lalu melirik handy-cam di tangan Sai. "Kau merekam semuanya, kalau begitu?" tanyanya sambil nyengir.

"Tentu saja," Sai menyahut. "Kau bisa melihatnya nanti."

"Asyik…!!" seru Naruto antusias sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Lalu perhatiannya kembali tercurah pada kegiatan di bawah.

Mereka belum memulainya lagi semenjak Tenten meninggalkan ruangan. Yakumo tampak kebingungan membuka-buka catatan di mejanya sementara anak-anak sudah gelisah menunggu siapa lagi giliran berikutnya. Tapi kemudian guru pembimbing mereka, Anko, menunjuk sesuatu di catatan Yakumo.

"Bagaimana kalau ini dan ini? Mereka belum pernah dicoba dipasangkan, kan?" usulnya.

Yakumo membaca baik-baik nama yang ditunjukkan sang guru. Benar juga, pikirnya. Ia belum menandainya. "Um… Menurut Ibu pakai adegan yang mana?"

Anko tersenyum –atau lebih tepatnya, menyeringai—lalu berkata, "Tentu saja adegan babak satu. Itu yang paling baik untuk melihat chemistry, kan? Dari tadi juga Tenten banyak menggunakan adegan itu."

Wajah Yakumo merona sedikit. "Benar juga," ujarnya. Gadis itu lalu menoleh ke arah anak-anak. Ia berdeham. "Um… Sakura Haruno, bisa maju ke sini?"

Sakura menegakkan tubuhnya dengan kaget. Ini sudah kesekian kalinya ia dipanggil ke depan –dan jujur saja ini membuatnya mulai bosan juga—Seraya bertanya-tanya dalam hati peran apa dan adegan apa yang akan dimainkannya, Sakura turun dari tribun menuju ke depan meja juri.

"Bisa kau mainkan adegan babak satu? Setelah adegan bersulang?" tanya Yakumo.

Yang berarti adegan saat Alfredo menyatakan cintanya pada Violetta, Sakura membatin. Ia sudah memainkannya beberapa kali sebelum ini dengan partner yang berbeda-beda. Otomatis ia berpaling ke bangku tempat anak-anak menunggu –berusaha tidak melihat ke arah Neji, ia tidak mau berharap, omong-omong—bertanya-tanya dalam hati siapa yang akan jadi lawan mainnya kali ini?

"Oke," sahut Sakura kemudian.

Yakumo mengangguk. "Dan lawan mainmu.. um…" ia menoleh lagi, menatap salah satu cowok yang duduk di tribun bawah itu lurus-lurus, "Neji, bisa kau maju lagi?"

OMG...

Hati Sakura langsung mencelos. Wajahnya mendadak panas ketika jantungnya memompa darah lebih cepat. Dan gadis itu langsung menundukkan wajah untuk menutupinya. 'Aduuuh… bagaimana ini? Memainkan adegan itu… dengan Neji?'

Ia bisa mendengar Neji berjalan mendekat. Bahkan ia bisa mencium aroma tubuhnya yang maskulin saat cowok itu sudah berdiri di sampingnya. "Hn," cowok itu menyahut dengan suaranya yang dalam. "Adegan apa?"

"Babak satu," jawab Yakumo. Suara gadis itu terdengar agak kaku.

"Baiklah.." Neji menoleh pada Sakura. "Kau sudah siap, Sakura?"

"Eh?" Sakura gelagapan. "I-Iya…"

Lalu keduanya mengambil posisi. Sakura merasakan dadanya berdegup keras sekali dan ia mulai cemas ia akan mengacaukan dialognya saking gugupnya. Tapi kemudian ia mendengar suara teriakan dari bangku penonton.

"AYO, SAKURA!! KAU PASTI BISA!! SEMANGAAAAT!!!" Itu suara Naruto –ditimpali oleh kikikan penonton, tapi ia tampak tak peduli.

Kepala Sakura otomatis mengarah padanya dan ia mendapati Naruto berdiri timpang di atas sana. Cowok itu mengacungkan dua ibu jarinya. Dan di sampingnya, Sai, Ino dan yang lain tampak memberinya semangat. Entah mengapa hatinya merasa lebih tenang melihat itu. Gadis itu pun tersenyum, lalu mengangguk mantap. Dengan berani, ia menatap Neji.

Sakura mencoba mengatur napasnya, lalu memejamkan mata sejenak. Meresapi setiap dialog yang harus diucapkannya, memasuki karakter sang wanita penghibur yang harus dilakoninya. Violetta yang sedang jatuh cinta, tetapi bimbang karena merasa tidak layak menerima kebahagiaan di dunia ini. Kebahagiaan yang ditawarkan pria di depannya itu. Alfredo –bukan Neji.

Dan Sakura mengerahkan kemampuan aktingnya semaksimal mungkin untuk itu. Bukan hanya melafalkan dialog yang sudah dihafalnya, tapi juga diiringi dengan bahasa tubuhnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika merasakan akting Neji menyatu dengan baik dengannya. Caranya bicara, gestur tubuh dan tatapan matanya seakan menyatakan kalau cowok itu sedang jatuh cinta setengah mati padanya, membuat Sakura terpancing untuk mengeluarkan yang lebih lagi. Tubuhnya sampai gemetar. Baru sekali itu ia merasakan reaksi seperti itu saat sedang berakting. Neji benar-benar membuatnya menyatu dengan karakter Violetta.

.

.

"...kehidupanku ada di pesta ini.." Violetta berusaha mengelak. Tapi Alfredo tetap bersikukuh.

"Justru, cinta adalah kehidupan..." ujarnya sembari menatap wanita di depannya dalam-dalam, menyatakan kesungguhan hatinya.

Violetta tertawa, berpaling. "Aku tak tahu apa itu cinta..."

Alfredo menangkap lengan Violetta yang hendak menghindar, membuat wanita itu menatapnya lagi. "Tidak, justru cinta adalah nasib yang menyatukan kita berdua..."

Keduanya bertatapan agak lama. Violetta merasakan hatinya bergetar kala itu. Dan tiba-tiba saja ia merasa bimbang. Perasaan apa sebenarnya ini? Tiba-tiba saja hatinya seakan dipenuhi dengan harapan dan kegembiraan. Namun di sisi lain... ia merasa ia tidak layak mendapatkannya. Terlebih dari pria terhormat seperti Alfredo.

"Kalau memang betul-betul mencintai aku, kumohon jangan dekati aku lagi... Aku hanya bisa memberikan persahabatan untukmu.."

Alfredo menggeleng. Tidakkah Violetta mengerti betapa Alfredo mencintainya? "Seperti denyut alam yang bergelombang..."

"Kumohon, lupakanlah aku..."

Pria itu tetap berkeras. Ia meraih kedua tangan Violetta, menggenggamnya dengan lembut di dadanya. "Misteri kekuatan dan keagungan cinta.. Di dadaku ini penuh... kegembiraan dan penderitaan..." lalu ia mengecup kedua tangan itu dalam-dalam. Mata mereka tidak pernah lepas satu sama lain.

Dan saat itu Violetta menyadari, ia juga telah jatuh cinta pada pria ini.

.

.

"Cukup!"

Sakura dan Neji saling melepaskan diri, lalu berpaling. Sakura masih merasakan dadanya berdetak sangat kencang dalam rongganya. Ia masih bisa merasakan hangat yang menguar dari tubuh Neji tadi dan itu membuatnya seperti meleleh. Ia tidak pernah sedekat itu dengan Neji –dan wajah mereka tadi sudah nyaris bersentuhan.

Berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh dalam kepalanya, Sakura memusatkan perhatiannya pada Yakumo dan guru pembimbing mereka sekarang. Dan ia kemudian menyadari kalau ruangan itu sunyi senyap. Ia bahkan bisa melihat beberapa anak yang duduk di barisan depan bengong. Ia juga melihat Naruto di tempat duduknya, mulutnya menganga, seakan terpana.

'Apa yang terjadi?' batin Sakura bingung.

Yakumo seakan tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Namun wajahnya perlahan berubah berseri-seri. Ia tersenyum lebar pada dua orang di depannya itu. "Tenten harus lihat ini.. Oh, dia harus lihat—" dan tanpa mengatakan apa-apa, gadis itu beranjak dan berlari menuju pintu. Memanggil-manggil Tenten.

Sakura terbengong melihat tingkah gadis itu, begitu juga dengan yang lain, termasuk Neji.

Anko lah yang pertama kali memecah keheningan. "Well..." ujarnya memulai, senyumnya lebar, "Yang tadi itu menarik. Sangat... menarik. Kalian berdua... Wow! Bravo!" Ia lalu bertepuk tangan keras, diikuti oleh sebagian anak-anak yang menonton. Mereka bersorak dan bersuit-suit. Meskipun ada beberapa anak kelas tiga yang tampak cemberut berat.

Wajah Sakura langsung merah padam. Dan ketika ia menoleh pada Neji, cowok itu sedang tersenyum padanya. "Aktingmu bagus sekali, Sakura," pujinya tenang. Dan Sakura tidak bisa lebih senang lagi. Susah payah ia menahan diri untuk melonjak-lonjak kegirangan.

Tak lama kemudian, Yakumo datang bersama Tenten yang tampak penasaran, dan Kurenai di belakang mereka. Dengan berseri-seri, Yakumo meminta Neji dan Sakura mengulang adegan tadi.

Tidak sulit bagi Sakura dan Neji memainkan lagi adegan yang sama. Bahkan chemistry di antara mereka semakin terasa. Tidak hanya itu, mereka juga mencoba adegan yang lain... Dan Tenten terlihat amat puas.

"Sepertinya kau baru saja mendapatkan peran utama, Sakura!!" seru Ino girang setelah audisi resmi ditutup. Mereka sedang berjalan menyusuri koridor sepi menuju pintu utama gedung itu.

"Kau jelas memiliki kelebihan menjalin chemistry dengan lawan mainmu, Sakura. Waktu kau bermain dengan Suigetsu, kalian juga main bagus. Juga waktu dengan Juugo," timpal Sai, yang diangguki oleh Ino.

"Aku setuju dengan Sai," ujar Ino. "Apalagi waktu dengan Neji. Aku sampai merinding... Iya, kan, Naruto?" gadis itu menoleh ke belakang.

Naruto hanya mengulum senyum tipis. "Yeah. Kurasa begitu," gumamnya. Tapi kemudian ia menyadari Sakura sedang menatapnya juga dan ia buru-buru memasang cengirannya yang biasa. "Kau sangat hebat, Sakura! Aku yakin banget kau yang terpilih."

"Aku tidak ingin berharap terlalu tinggi dulu, Naruto. Tapi..." Sakura tersenyum pada sahabatnya itu. "...aku benar-benar berterimakasih padamu. Teriakanmu tadi menyemangatiku. Itu sangat berarti..."

Naruto tercengang mendengarnya. Tapi kemudian ia tertawa. "Yeah, tentu saja. Aku kan ahli dalam hal seperti itu!"

Koridor itu pun langsung dipenuhi suara tawa.

Sementara mereka berjalan meninggalkan sekolah, Sakura menunduk, memandangi punggung tangannya. Seulas senyum muncul di bibirnya. Tadi, di situ... bibir Neji baru saja menyentuhnya...

.

.

.

Keesokan harinya, koridor di depan perpustakaan kembali diserbu oleh anak-anak. Tepat ketika pihak Klub Teater memasang pengumuman siapa saja yang akan berperan dalam drama tahun ini. Tidak seperti kemarin, kali ini Ino menyeret paksa Sakura menerobos kerumunan, sampai akhirnya mereka tiba di depan papan pengumuman. Terpampang di sana, lembar pengumuman berukuran A2 yang bertuliskan...

KLUB TEATER KONOHA HIGH SCHOOL

Mempersembahkan

DRAMA TAHUNAN FESTIVAL SEKOLAH

Giuseppe Verdi's

"Princess Of Camellia"

Directed by

Tenten & Yakumo Kurama

Cast:

Sakura Haruno as Violetta Valery

Neji Hyuuga as Alfredo Germont

Juugo as Giorgio Germont

Reika Nishimura as Flora Bervoix

Hokuto as Annina

Suigetsu as Gastone

Motoki Furuhata as Barone Douphol

Ryo Urawa as Marchese d'Obigny

Shingo Tsukino as Dr Grenvil

Kyusuke Sarashina as Giuseppe

Ryuta Tasaki as Flora's servant

Keiichi Nanba as Commissioner

Sakura memekapkan tangannya ke mulut memandang pengumuman itu. Matanya menelusuri kata demi kata, seakan tidak mempercayai namanya tercantum di sana. Sebagai salah satu pemain. Tidak, tapi sebagai pemain utama!

Dan…

Lawan mainnya… Neji Hyuuga!!

Aku tidak percaya… Aku tidak percaya…

Air mata haru mengalir dari pelupuk matanya. Lututnya mendadak lemas…

"SAKURA! KAU KENAPA??!!" pekik Ino kaget.

Sakura telah limbung, jatuh pingsan ke lantai. Tanpa ia menyadari bahwa Neji Hyuuga berdiri tepat di belakangnya.

-

-

TBC…

-

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Beberapa nama di cast list, aku ambil dari manga SAILOR MOON © Naoko Takeuchi. Ehehe…

La Traviata © Giuseppe Verdi

-

MzProngs sez'

Um… mau nanya, Slight NejiSaku n NaruSaku-nya kerasa gak ya? Apa malah maksa..? –cemas mode- Haduh, maap pisan kalo dramanya abal.

Buat yang udah review chap kemarin, makasih pisan..

Uci-chan : Yap, feelingmu terbukti, dear. Ahahaha… Iya ya, Saku sendirian gitu jadi inget Sasu. Terus… Soal SaiIno, Saku ama Naru udah nyadar kok.

Aika-chan : Iya, Sasuke gak muncul. Kan dia udah pulang ke Oto. Makasih udah review…

Good Boy Hakanai : Masalah 'Sang Bidadari' akan dijelasin nanti. Ehee~~ btw, makasih udah mampir..

The Sun_fic : -speechless n blushing parah- Haduh, nggak tau mau nanggepin apa atas review kamu. Tapi… Makasih banget atas atensinya, yah.. ^_^

Kakkoii-chan : NejiSaku-nya udah kerasa belum di sini? ^_^ Aku juga suka banget NejiSaku.

Ambu : Ambu~~ yang bener pongah, ya? –cepet2 benerin- ^_^ Hahaha… IdaIno masih berlanjut kok, Mbu. Masih belum merencanakan romance buat SaiIno. APIM?? Mukyaaa!!! –pingsan-

-bangun lagi-

Adekku : Mana?? Katanya mau review kalo udah dengerin Suju? Aku kan udah donlot segala… Hihi… Dasar nih, mau mengontaminasi kakaknya dengan virus-virus Super Junior. XD Gimana dong? Aku sukanya sama Rein n Jo In-sung (Kyaaa! In-sung!!) –tapi gak nolak kalo disodorin LeeTeuk ama Si Won- Ahahaha… XD

Dan buat semua yang udah baca... makasih banyak yah. Jujur, Putz kaget plus seneng banget waktu ada reader fic ini yang menghubungi via fb dan friendster. Gak bisa dikatakan betapa terharunya waktu tahu fic ini bisa diterima. Walaupun gak review, tapi dukungan kalian berarti banget buatku. Merci... -bowed-

Oke deh. RnR, please…???